Anda di halaman 1dari 6

Pembangunan Ekonomi

dan Kaitannya dengan Neo-Liberalisme

Kelompok Pembangunan Ekonomi

Anggota Kelompok :

Fadilla 1906384623 [2019]

Marsyaa Ramadhani 1906384724 [2019]

Wahyudi 1906485033 [2019]

Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok

2019
Latar Belakang
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan riil
perkapita penduduk suatu negara meningkat dalam jangka panjang yang disertai dengan
perbaikan sistem kelembagaan (Baldwin & Meijer). Definisi ini menyiratan bahwa
pembangunan ekonomi mempunyai tiga fase penting, yaitu suatu proses yang berarti
perubahan terus-menerus, usaha untuk meningkatkan pendapatan perkatpita, dan kenaikan
pendapatan perkapita itu harus terus berlangsung dalam jangka panjang. Pembangunan
ekonomi bergantung pada pertumbuhan ekonomi dimana pembangunan ekonomi mendorong
tumbuhnya ekonomi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output perkapita dalam


jangka panjang (Boediono, 1985). Kata “Perkapita” menunjukkan dua sisi yang perlu
diperhatikan, yaitu sisi ouput total-nya Gross Domestic Product (GDP) dan sisi jumlah
penduduk. Proses kenaikan output perkapita, tidak bisa tidak, harus dianalisa dengan jalan
melihat apa yang terjadi dengan output total disatu pihak, dan jumlah penduduk dilain pihak.
Sehingga menjelaskan apa yang terjadi pada GDP total dan apa yang terjadi pada jumlah
penduduk 1

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan prediksi ekonomi


indonesia akan melambat sampai 4,6 persen sampai 2022. Tahun 2019 ini ekonomi indonesia
juga sudah dipastikan oleh Kementrian Keuangan dengan perkiraan 5,08 persen. Sementara
itu Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan pertumbuhan
ekonomi tahun ini masih bisa mencapai 5,2 persen jika terdapat perbaikan kinerja investasi
pada smester II/2019 meski berada pada target awal Pemerintah yaitu 5,03 persen.2 Tekanan
yang dihadapi Indonesia berasal dari arus modal asing yang keluar, pelemahan kurs, koreksi
pasar modal, dan penurunan cadangan devisa. Proyeksi tersebut disampaikan Bank Dunia
dalam laporan prospek ekonomi global yang dirilis pada selasa, 8 Januari 2019 di
Washington DC (Republika, 14 Januari 2019).

1
Daniel Sitindaon, “Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Demak” (Skripsi Sarjana
Universitas Negri Semarang, Semarang, 2013)
2
G.F.K. Lawi, “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diproyeksi 5,06 Persen”
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190913/9/1148196/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2019-diproyeksi-
506-persen, diakses 12 November 2019
Mentri Keuangan, Sri Mulyani menegaskan bahwa ketidakpastian perekonomian
global tahun ini berpotensi mengoreksi sebuah asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) 2019. Tekanan perekonomian global menjadi faktor dominan
yang dapat memicu volatilitas perekonomian domestik yang berdampak pada pertumbuhan
ekonomi. Dalam asumsi APBN 2019 disebutkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% .

Berkaitan dengan pembangunan ekonomi, juga tak lepas dari adanya Neo-
Liberalisme. Membahas neoliberalisme akan sulit jika kita tidak menyinggung apa itu
liberalisme. Paham liberalisme berkonotasi luas, dapat mengacu pada paham ekonomi
maupun paham politik. Liberalisme merupakan ideologi kaum borjuasi kota. Dalm arti luas,
liberlisme adalah paham mempertahankan ekonomi individu melawan intervensi komunitas.
Liberalisme dapat terjadi pada sektor-sektor ekonomi maupun pada sektor-sektor lain.

Liberalisme ekonomi berkembang menjadi neo-liberalisme. Paham ini pada intinya


memperjuangkan persaingan bebas, yakni paham yang memperjuangkan hak-hak atas
pemilikan dan kebebasan individual. Mereka percaya kekuatan pasar dapat menyelesaikan
masalah sosial ketimbang melalui regulasi Negara. Berikaitan dengan neo-liberalisme,
hampir setiap hari kita menyaksikan proses dehumanisasi dan proses pemiskinan disekitar
kita, baik melalui layar televisi maupun melalui kasat mata. Kaum miskin kota, fakir miskin,
dan anak jalanan yang seharusnya dilindungi dan dipelihara Negara, dikejar-kejar dan
ditangkap serta diperlakukan layaknya seorang kriminal. Kekayaan negara yang seharusnya
digunakan untuk mensejahterakan rakyat dijual bahkan dikorupsi oleh segelintir orang.
Kebijakan deregulasi ini hanya merupakan salah satu unsur utama dalam paket kebijakan
yang lebih luas yang mengglobal atau liberlisasi ekonomi.

Pernahkah disadari bahwa mulai bangun tidur, beraktivitas, hingga tidur kembali
semuanya dikuasai asing. Lihat saja ketika bangun tidur, minum Aqua (74% sahamnya
dikuasai Danone asal Perancis) atau minum teh Sariwangi (100% sahamnya milik Unilever
Inggris), minum susu produk Sari Husada (82% sahamnya dikuasai Numico Belanda) atau
bahkan susu Nestle (100% Australia). Begitu juga ketika mandi, sebagian besar
menggunakan sabun, shampo, sikat gigi produk Unilever. Makan nasi, makan buah, minum
manis pakai produk impor. Belum lagi tempe/tahu yang dipatenkan Jepang. Berangkat kerja
memakai batik yang juga dipatenkan Malaysia, naik mobil, bus, motor semuanya merek
asing.3 Untuk itu, tulisan ini akan mengkaji tantangan apa saja yang dihadapi dan bagaimana

3
Etty Soesilowati, “Neoliberalisme: antara mitos dan harapan”. Vol 2. No. 3. (september 2009), hlm. 126-128
prospek perekonomian Indonesia menghadapi resiko perekonomian global di tahun 2019
serta apa saja sektor strategis yang dikuasai asing dan bagaimana seharusnya intelektual
menyikapinya?

ISI
Tantangan perekonomian indonesia pada tahun 2019
Asisten Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, irwan mengungkapkan
ada tiga tantangan perekonomina indonesia di tahun 2019. Pertama, ekonomi global
melemah sehingga berdampak terhadap ekspor Indonesia yang melemah. Kedua, defsit
transaksi berjalan mencapai 3% dari PDB. Ketiga, permasalahan hilirisasi industri yang harus
segera mulai (Bisnis Indonesia, 14 Januari 2019). Lebih lanjut Jusuf kala menyebutkan
perekonomian indonesia pada tahun 2019 masih menghadapi ancaman perang dagang antara
Amerika Serikat-China, konflik TimurTengah, dan pelemahan perekonomian China yang
berdampak terhadap penurunan ekspor dan pertumbuhan ekonomi (Kompas, 12 Januari
2019).

Sementara itu Mentri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution


menyebutkan ada tiga faktor utama risiko dari pelemahan perekonomian global yang dapat
berdampak terhadap perekonomian indonesia pada tahun 2019. Ketiga faktor tersebut adalah
perang dagang dan proteksionisme antara Amerika Serikat dan China, normalisasi suku
bunga The Fed, serta volatilitas harga komoditas. Ketiga resiko ketidakpastian perekonomian
global berdampak kepada risiko perekonomian Indonesia melalui jalur perdagangan transmisi
dan keuangan yang berujung pada defisit transaksi berjalan, penurunan ekspor, serta fluktuasi
nilai tukar rupiah (Kementrian Keuangan, 2019).

Prospek Perekonomian Indonesia pada Tahun 2019


Berdasarkan paparan diatas, permasalahan yang membayangi Indonesia pada tahun 2019
adalah adanya ancaman dari risiko ketidakpastian perekonomian global yang terjadi pada
tahun yang sama. Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian mengeluarkan strategi
kebijakan untuk mendorong daya saing perekonomian Indonesia, melalui strategi jangka
pendek dan strategi jangka panjang, strategi jangka pendek antara lain adalah perbaikan iklim
usaha, pemberian fasilitas insentif perpajakan, prosedur mengurangi biaya ekspor serta
pemilihan komoditas ekspor unggulan. Sementara itu untuk jangka panjang dibutuhkan
infrastruktur dan pembangunan Sumber Daya Manusia secara berkelanjutan(Kemenko
Bidang Perekonomian, 2019) . 4 Selanjutnya sektor-sektor yang dikuasai asing dan
bagaimana seharusnya intelektual menyikapinya.

Suka tidak suka harus diakui bahwa sistem ekonomi indonesia yang dikehendaki
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 adalah sistem ekonomi sosialis. Barangkali karena
phobia menyebut sosialis, maka dipopulerkannya istilah pengganti yaitu “ekonomi
kerakyatan” atau “demokrasi ekonomi”. Penegasan sistem ekonomi sosialis inipun tertera
dalam pasal 33 UUD 1945. Namun ironisnya, sekalipun konstitusi kita mengusung pasal 33,
negara Indonesia tidak pernah mengimplementasikan pasal 33 secara nyata. Sektor-sektor
tersebut adalah peerbankan, infrastruktur telekomunikasi, dan sumberdaya kelistrikan.

Sebagai kaum intelektual, tugas kita memang bukan hanya sekadar memberi makna
terhadap realitas sosial globalisasi, menguatnya neo liberalisme, dan meratapinya. Tugas kita
adalah ikut menciptakan sejarah dengan membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis
untuk memberi makna atas masa depan kita sendiri. Gerakan counter hegemony harus
disusun sebagai bagian dari strategi gerakan sosial merespon kebijakan neoliberal.

Akhirnya, masih banyak pekerjaan rumah agar negri ini berjaya. Pertama,
mengembalikan negara untuk menjadi penjaga dan pelindung hak ekonomi, budaya, dan
sosial warga. Kedua, terus melaukan protes sosial untuk mengubah kebijakan negara dan
mencermati setiap kesepakan negara dengan negara lain. Ketiga, melakukan pengembangan
kapasitas counter discourse and hegemony atas dominasi neo liberalisme5

Penutup
Kondisi pereonomian global yang sedang bergejolak berdampak terhadap
perekonomian Indonesia. Beberapa risiko ketidakpastian perekonomian global, yaitu
kenaikan tingkat suku bunga The Fed, perlambatan perdagangan internasional, dan votalitas
harga minyak bumi yang di prediksi menggangu perekonomian Indonesia. Adapun langkah-
langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam mengatasi hal tersebut, diantaranya adalah
perubahan struktur perekonomian dan perbaikan iklim investasi serta tindakan antisipatif dari
Bank Indonesia terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

4
Ari Mulianta Ginting, “tantangan dan prospek perekonomian indonesia tahun 2019 di tengah perlambatan
pertumbuhan ekonomi global” kajian singkat terhadap isu aktual dan strategis Vol. XI No. II, Januari 2019, hlm.
20-23
5
Etty Soesilowati, Neo-liberalisme : antara mitos dan fakta, hlm 131-133
Serta Neo-liberalisme membawa dampak yang signifikan bagi Indonesia. Berbagai
sektor-sektor yang bahkan bersifat fundamental telah dikuasai asing, diantaranya perbankan,
infrastruktur ekonomi, dan sumberdaya kelistrikan. Adapun prospek perekonomian Indonesia
melalui para intelektual dalam menyikapi hal ini adalah ikut menciptakan sejarah dengan
membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis untuk memberi makna atas masa depan
kita sendiri. Gerakan counter hegemony harus disusun sebagai bagian dari strategi gerakan
sosial merespon kebijakan neoliberal tersebut.

Daftar Pustaka

Sitindaon, Daniel. “Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten


Demak” (Skripsi Sarjana Universitas Negri Semarang, Semarang, 2013)

Soesilowati, Etty. “Neoliberalisme: antara mitos dan harapan”. Vol 2. No. 3. (september
2009), hlm. 126-128

Ginting, Ari Mulianta. “tantangan dan prospek perekonomian indonesia tahun 2019 di
tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global” kajian singkat terhadap isu aktual dan strategis
Vol. XI No. II, Januari 2019, hlm. 20-23

Lawi, G.F.K. “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diproyeksi 5,06 Persen”


https://ekonomi.bisnis.com/read/20190913/9/1148196/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2019-
diproyeksi-506-persen, diakses 12 November 2019

Anda mungkin juga menyukai