Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH

ANCAMAN MASUKNYA VIRUS PENYAKIT MULUT DAN KUKU


MELALUI DAGING ILLEGAL DI PERBATASAN
DARAT INDONESIA MALAYSIA



Disusun oleh:
Anata Amalia Amran B94191025


Pembimbing:
Dr Med Vet Drh Hadri Latif, MSi



PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2020
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) adalah penyakit hewan yang


dapat menimbulkan kerugian ekonomi, keresahan masyarakat, dari/atau kematian
hewan yang tinggi. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular
Strategis (PHMS), terdapat 22 jenis PHMS yang sudah ada di Indonesia. Jenis
PHMS yang belum ada di Indonesia adalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),
Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), dan Rift Valley Fever (Kepmentan
2013). Penyakit Mulut dan Kuku merupakan salah satu penyakit hewan menular
strategis dan masih dinyatakan bebas di Indonesia. Penyakit ini merupakan
penyakit yang dapat ditemukan di banyak negara di dunia dan dapat menular
dengan sangat cepat. Transmisi dilaporkan terjadi melalui kontak langsung
dengan hewan terinfeksi, aerosol, dan produk makanan terutama pada hewan
berkuku belah (Gelolodo 2017). Penyakit ini dapat ditemukan pada hewan sapi,
babi, kambing, domba, dan kerbau (Nuradji et al. 2017).
Fenomena kebutuhan dan kekurangan daging sapi setiap tahun selalu terjadi.
Hal ini disebabkan meningkatnya jumah penduduk dan meningkatnya pendapatan
masyarakat serta terjadi peningkatan konsumsi menjelang hari-hari besar
keagaman seperti Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari lainnya (Rusdiana 2019).
Kesadaran masyarakat akan pangan asal daging meningkat untuk memenuhi gizi
yang baik. Kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di
Indonesia salah satunya dengan cara impor. Indonesia adalah pasar terbesar untuk
sapi yang berasal dari Australia, mengimpor lebih dari 700.000 ekor. Namun,
dalam beberapa tahun terakhir, harga daging sapi Australia meningkat, mencapai
harga yang tinggi dan tidak dapat diterima (Idris 2019). Hal ini mendorong
pemerintah Indonesia melakukan pemasukan daging dari negara yang belum
bebas PMK.
2

Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia adalah


Malaysia. Status Malaysia belum seluruhnya bebas terhadap PMK, masih ada
beberapa zona endemis PMK. Menurut OIE (2019), Malaysia sampai saat ini
belum dinyatakan bebas PMK seluruhnya, masih ada satu atau lebih zona dengan
gejala klinis PMK. Saat ini, produk hewan berupa daging dimasukkan secara
ilegal atau tidak melalui prosedur yang telah ditetapkan dari Malaysia ke
Indonesia. Masuknya produk hewan ilegal tersebut melalui tempat-tempat yang
belum ditetapkan atau tidak resmi di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia.
Sehingga hal ini dapat menjadi suatu ancaman bagi Indonesia dengan masuknya
virus PMK melalui daging impor ilegal.

Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui ancaman risiko masuknya virus
Penyakit Mulut dan Kuku ke wilayah Indonesia melalui daging ilegal di
perbatasan darat Indonesia-Malaysia. Serta menjadi informasi untuk melakukan
tindakan pencegahan penyebaran penyakit.

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Hewan Menular Strategis

Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) merupakan penyakit hewan


yang berdampak pada kerugian ekonomi tinggi karena bersifat menular, menyebar
dengan cepat sehingga angka morbiditas dan mortalitasnya tinggi, atau berpotensi
mengancam kesehatan masyarakat. Menurut Adji dan Sani (2005), terdapat tiga
kriteria penggolongan PHMS. Pertama, secara ekonomis penyakit tersebut dapat
mengganggu produksi dan reproduksi ternak (secara signifikan) dan
mengakibatkan gangguan perdagangan. Kedua, secara politis penyakit itu dapat
menimbulkan keresahan pada masyarakat, umumnya dari kelompok penyakit
zoonosis. Ketiga, secara strategis penyakit ini dapat mengakibatkan mortalitas
yang tinggi, dan penularannya relatif cepat, sehingga perlu pengaturan lalu lintas
ternak atau produknya secara ketat.
3

Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013


tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), terdapat 22
jenis PHMS yang sudah ada di Indonesia. Penyakit-penyakit tersebut adalah
Anthrax, Rabies, Salmonellosis, Brucellosis (Brucella Abortus), Highly
pathogenic Avian Influenza dan Low pathogenic Avian Influenza, Porcine
Reproductive and Respiratory Syndrome, Helminthiasis, Haemorrhagic
Septicaemia/Septicemia Epizootica (SE), Nipah Virus encephalitis, Infectious
Bovine Rihnotraceitis (IBR), Bovine Tuberculosis, Leptospirosis, Brucellosis
(Brucella suis), Penyakit Jembrana, Trypanosomiasis (Surra), Paratubercilosis,
Toxoplasmosis, Clasical Swine Fever (CSF), Swine Influenza Novel (H1N1),
Campylobacteriosis, Cysticercosis dan Q Fever (Kementan 2013). Jenis PHMS
yang penyakitnya belum ada di Indonesia adalah Penyakit Mulut dan Kuku
(PMK), Bovine Spongtform Encephalopathg (BSE), dan Rift Valley Fever (RVF).
Penyakit tersebut berpotensi masuk dan menimbulkan kerugian ekonomi,
kesehatan manusia, lingkungan, dan menimbulkan keresahan masyarakat.

Penyakit Mulut dan Kuku

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit hewan menular yang
disebabkan oleh virus PMK, bersifat akut dan menular sangat cepat pada sapi,
kerbau, babi, kambing, domba dan hewan berkuku genap lainnya. Kementan No.
3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit
Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa, PMK
digolongkan sebagai Hama Penyakit Hewan Karantina Golongan I. Golongan I
mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, dapat
membahayakan kesehatan manusia, menimbulkan dampak sosial yang
meresahkan masyarakat, dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi
(Kementan 2009).
Penyakit ini disebabkan oleh Aphthovirus yang merupakan family dari
Picornaviridae. Ada tujuh tipe virus PMK, yaitu: A, O, C, Asia 1, South African
Teritory (SAT) 1, 2, dan 3. Setiap tipe virus PMK masih terbagi lagi menjadi
beberapa sub tipe dan galur (OIE 2018). Penularan virus ini umumnya terjadi
secara kontak langsung dengan hewan yang teinfeksi, lewat makanan, minuman,
4

atau alat yang tercemar virus. Hewan ternak yang tertular mengeluarkan virus
dalam jumlah sangat banyak lewat ekskreta (feses dan urine), terutama air liur.
Gejala awal hewan terlihat lemas muncul demam yang sangat cepat diikuti
munculnya lepuhan berupa tonjolan bulat yang berisi cairan limfe pada rongga
mulut, lidah sebelah atas, bibir sebelah dalam, gusi, langit-langit, lekukan antara
kaki dan di ambing susu. Lepuh pada bagian lidah pecah kemudian terjadi
hipersalivasi berwarna bening menggantung pada bibir. Pada saat demikian sapi
tidak mau makan dan akhirnya terjadi penurunan bobot badan yang drastis
(BBALITVET).

Gambar 1 Lesi terbuka antara teracak ternak (A) dan lesi terbuka pada bantalan gigi
kerbau penderita PMK (B)

Menurut Balai Besar Penelitian Veteriner, kerugian ekonomi yang


disebabkan PMK meliputi penurunan produktivitas kerja ternak, penurunan bobot
hidup ternak yang menderita PMK dikarenakan sulit mengonsumsi, mengunyah
dan menelan pakan, bahkan pada kasus yang sangat parah, ternak tidak dapat
makan sama sekali. Akibatnya, cadangan energi tubuh akan terpakai terus hingga
akhirnya bobot hidup menurun dan ternak menjadi lemas. PMK dapat menganggu
fertilitas ternak produktif yang akan kehilangan kemampuan untuk melahirkan
setahun setelah terserang penyakit tersebut. Ternak baru dapat beranak kembali
setelah dua tahun kemudian. Jika pada awalnya seekor ternak mampu beranak
lima ekor, karena penyakit ini kemampuan melahirkan menurun menjadi tiga ekor
atau kemampuan menghasilkan anak menurun 40%. Kerugian ekonomi akibat
penutupan pasar dan rumah potong hewan pada daerah tertular PMK
mengakibatkan pekerja di pasar hewan dan RPH, pedagang ternak, serta
5

pengumpul rumput akan kehilangan mata pencaharian selama jangka waktu yang
tidak menentu. Berkurangnya sumber devisa negara karena hilangnya daya ekspor
ternak, maka penyakit ini perlu mendapat perhatian pemerintah untuk
mempertahankan status bebas.
Kejadian PMK di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1887 di
Malang. Penyakit ini kemudian menyebar ke Sumatera, Jawa, Sulawesi,
Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara (Soehadji dan Setyaningsih 1994). Untuk
mengendalikan penyakit PMK tersebut ditempuh dengan dua cara yaitu
melakukan vaksinasi masal terhadap hewan yang rentan dan mengontrol jalur
perpindahan hewan serta produk asal hewan terutama yang berasal dari daerah
tertular. Pada tahun 1990, penyakit tersebut benar-benar dinyatakan bebas secara
resmi di Indonesia dan telah diakui oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia atau
Office International des Epizooties (OIE). Keberhasilan Indonesia bebas dari
PMK merupakan hasil kerja keras berbagai pihak dalam penanggulangan wabah
PMK.

Gambar 2 Sapi penderita PMK yang tidak mampu menelan air liurnya.
6

PEMBAHASAN

Daging ilegal merupakan daging yang tidak disertai dengan sertifkat


kesehatan/sanitasi, tidak dilaporkan dan diserahkan ke petugas karantina serta
tidak melalui tempat-tempat yang sudah ditetapkan. Hal ini susai dengan Pasal 5
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina
Hewan, Ikan, dan Tumbuhan menyatakan bahwa setiap orang yang memasukkan
media pembawa ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib
dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal bagi hewan dan produk hewan,
masuk melalui tempat pemasukan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, dan
dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan
untuk keperluan tindakan karantina dan pengawasan (Deptan 2019).
Kawasan perbatasan darat menjadi pintu masuk utama importasi daging
ilegal ke Indonesia. Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia
adalah Malaysia. Status negara Malaysia belum seluruhnya bebas PMK, masih
ada beberapa zona endemis PMK. Menurut OIE (2019), Malaysia sampai saat ini
belum dinyatakan bebas PMK seluruhnya, masih ada satu atau lebih zona dengan
gejala klinis PMK. Zona yang dinyatakan bebas sampai saat ini adalah Sabah dan
Serawak. Malaysia juga negara pengimpor daging dari India dan negara-negara
lain yang statusnya belum bebas terhadap PMK.
Kalimantan merupakan pulau yang langsung berbatasan darat dengan
Malaysia, seperti Tarakan (Kalimantan Utara), Nunukan (Kalimantan Utara), dan
Entikong (Kalimantan Barat). Letak geografis yang berbatasan darat langsung
membuat impor daging secara ilegal memiliki resiko yang tinggi. Menurut
Silitonga (2016), daging ilegal yang masuk ke Entikong dari Malaysia rata-rata
berasal dari Australia, Serawak, India, Semenanjung Malaysia, Brunei
Darussalam, dan Thailand. Daging ilegal yang masuk melalui Entikong
diperkirakan sebanyak 65% berasal dari negara/zona yang tidak bebas PMK dan
diperkirakan 35% berasal dari negara/zona bebas PMK. Kondisi ini
menggambarkan bahwa daging ilegal yang masuk sebagian besar berasal dari
negara/zona endemis PMK. Hal ini memberikan peluang risiko terhadap ancaman
masuknya PMK ke Indonesia.
7

Daging ilegal yang masuk ke Indonesia melalui jalur darat dapat


menggunakan non-kendaraan (dipikul, ditenteng, didorong) dan kendaraan besar
(truck, mobil box) maupun kecil. Daging yang diangkut tersebut harus melalui
pemeriksaan oleh pos pemeriksaan lintas batas setempat untuk diperiksa
sertifikat/surat kesehatan hewan dari negara asal. Akibatnya daging yang diangkut
menggunakan kendaraan sangat kecil kemungkinannya untuk lolos. Pengangkutan
daging melalui jalur non-kendaraan (dipikul, ditenteng, didorong) yang
volumenya kecil namun frekuensinya lebih sering, selain itu pada jalur tersebut
jarang dilakukan pemeriksaan oleh petugas sehingga memungkinkan daging bisa
lolos masuk ke Indonesia. Berdasarkan jalur pengangkutan maka jalur yang paling
berisiko terhadap masuknya virus PMK melalui pemasukan daging ilegal adalah
menggunakan non-kendaraan dibandingkan dengan menggunakan kendaraan.
Pertimbangan jalur non-kendaraan lebih tinggi risikonya, karena meskipun
volume daging yang diangkut dengan menggunakan non-kendaraan adalah kecil
tetapi frekuensinya sering. Akibatnya secara keseluruhan volume daging ilegal
yang masuk melalui jalur non-kendaraan diperkirakan lebih banyak.
Menurut Silitonga (2016), jenis daging ilegal yang masuk dari Entikong
yang merupakan perbatasan darat Indonesia-Malaysia, yaitu daging beku tanpa
tulang, tanpa limfo glandula (frozen meat deboned, deglanded), daging dingin
tanpa tulang, tanpa limfo glandula (chilled meat deboned, deglanded), daging
beku bertulang, tanpa limfo glandula (frozen meat bone-in, deglanded), dan jeroan
beku (frozen liver), tanpa limfo glandula (frozen offal deglanded). Menurut OIE
(2018), daging sapi maupun kerbau segar (tidak termasuk kaki, kepala, dan
jeroan) direkomendasikan diimpor dari negara/zona terinfeksi PMK yang sedang
dilakukan program pengendalian secara resmi dengan persyaratan tertentu.
Persyaratannya meliputi telah divaksinasi setidaknya dua kali dengan vaksinasi
terakhir tidak lebih dari enam bulan, hewan dipelihara selama 30 hari terakhir di
suatu peternakan yang tidak terdapat PMK dalam radius 10 km atau ditempatkan
di karantina, diangkut dalam kendaraan yang telah dibersihkan dan didesinfeksi,
disembelih di dalam rumah potong hewan, telah dilakukan pemeriksaan ante dan
post mortem dalam waktu 24 jam sebelum dan sesudah disembelih dan tidak ada
bukti kejadian PMK. Pengangkutan jenis daging beku bertulang tanpa limfo
8

glandula dan jeroan beku tanpa limfo glandula memiliki risiko yang paling tinggi
dibandingkan dengan jenis daging lainnya melalui jalur non-kendaraan (Silitonga
2016). Hal ini disebabkan virus PMK masih ditemukan di dalam jaringan tulang
dan di dalam frozen liver selama 4 bulan setelah pengolahan dan pematangan
(Paton et al. 2010).
Daging ilegal yang masuk ke Indonesia dan mengandung virus PMK aktif
dapat menjadi pemicu munculnya PMK. Daging mentah yang terkontaminasi jika
diberikan sebagai campuran pakan babi dapat menjadi salah satu faktor risiko
penularan virus PMK ke hewan rentan lain seperti sapi, kambing, dan domba,
terutama peternakan babi yang berskala kecil. Sementara pemberian sisa daging
matang atau dalam bentuk yang diolah kepada ternak babi kemungkinan virus
PMK sudah inaktif. MacDiarmid dan Thompson (1997), pengolahan daging untuk
menonaktifkan virus PMK yaitu dengan memasak hingga suhu 70°C selama 30
menit, atau dengan pengawetan (curing) pada pH rendah. Virus PMK sangat
sensitif terhadap kondisi asam (pH <6.0) dan temperatur yang tinggi. Wabah
PMK yang terjadi di Great Britain (Inggris Raya) tahun 2001, diperkirakan karena
pemberian pakan babi dari sisa makanan yang mengandung daging. Pemberian
pakan jenis ini diperkirakan sejak tahun 2000 terhadap 82 000 babi (1.4%
populasi babi) di Inggris Raya. Sejak kasus PMK di Inggris Raya tahun 2001
diberlakukan larangan untuk tidak memberikan sisa makanan yang mengandung
daging atau produknya sebagai pakan babi dan unggas untuk mengurangi risiko
penularan virus PMK.
Hewan rentan di suatu peternakan yang terinfeksi virus PMK sering
dimusnahkan untuk memberantas penyakit tersebut (Muroga et al. 2012). Hal ini
menyebabkan masalah ekonomi yang serius bagi para peternak, baik dari kerugian
langsung maupun penghentian perdagangan internasional produk-produk hewan.
Wabah PMK skala besar terjadi di Miyazaki Jepang pada April 2010. Perpindahan
atau pengiriman hewan, kendaraan, dan orang-orang di sekitar peternakan yang
terinfeksi dibatasi, namun tindakan ini tidak dapat mencegah penyebaran PMK.
Diperkirakan sebanyak 292 peternakan dipastikan terinfeksi virus PMK dan
banyak ternak yang dimusnahkan (Muroga et al. 2013). Secara umum, strategi
pemberantasan utama untuk PMK di Jepang adalah memberantas penyakit dan
9

membatasi perpindahan atau pengiriman hewan (Muroga et al. 2012). Desinfeksi


area yang terinfeksi, orang-orang, dan kendaraan yang masuk keluar area yang
terinfeksi agar tidak menyebarkan virus PMK penting untuk dilakukan. Pemberian
desinfektan asam etanol efektif untuk digunakan di lingkungan yang terinfeksi
untuk mengendalikan wabah PMK (Harada et al. 2015).
Morbiditas penyakit ini sangat tinggi tetapi mortalitasnya rendah dan sangat
cepat menular (highly contagious) (Rushton dan Knight 2013). Meskipun PMK
tidak mengakibatkan kematian tinggi pada hewan dewasa, akan tetapi angka
mortalitas yang tinggi pada hewan muda. Kerugian karena adanya infeksi
membuat penurunan berat badan, penurunan produksi susu, dan hilangnya seluruh
tenaga dan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya produktivitas untuk waktu
yang cukup lama. Selain dampak langsung dari penurunan produksi peternakan
dan pembatasan perdagangan internasional, infeksi PMK juga memberikan
dampak yang serius bagi aspek sosial ekonomi dan industri pariwisata (Gelolodo
2017).
Menurut Tawaf (2016), dampak yang terjadi akibat masuknya virus PMK
lewat daging ilegal asal Malaysia melalui jalur darat berupa dampak langsung dan
tidak langsung. Dampak langsung meliputi: 1) pengaruh langsung kepada sistem
produksi ternak seperti ternak tidak mau makan, penurunan berat badan,
penurunan produksi susu, kematian hewan/keguguran dan penurunan
produktivitas tenaga kerja ternak, 2) dampak yang mempengaruhi perdagangan
(kehilangan peluang ekspor produk hewan misalnya kulit) dan pengendalian lalu
lintas daging dan hewan berisiko PMK, dan 3) dampak terhadap kesehatan
masyarakat. Dampak tidak langsung dari masuknya virus PMK akibat pemasukan
daging ilegal meliputi: 1) dampak peningkatan biaya eradikasi penyakit
monitoring dan surveilans pada hewan (biaya pemotongan/pemusnahan, biaya
kompensasi, biaya pengawasan lalu lintas dan tindak karantina, biaya vaksinasi),
2) dampak perdagangan dan lalu lintas daging antar negara dan dampak
lingkungan (penurunan pendapatan pelaku perdagangan daging). Konsekuensi
akan adanya kejadian PMK adalah diberlakukannya pelarangan pemasukan dan
pengeluaran hewan rentan PMK.
Program pemerintah yang telah berjalan sejak Indonesia dinyatakan bebas
10

harus terus dilakukan, sehingga virus PMK tidak akan masuk ke dalam wilayah
Indonesia sebagai negara dengan status bebas PMK dan status ini tetap dapat
dipertahankan. Program pemerintah Indonesia untuk mempertahankan status
bebas PMK terutama difokuskan pada pencegahan, pengawasan, kesiapan darurat,
dan kesadaran masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan Indonesia seperti
pemeriksaan yang lebih ketat pada semua jalur pengangkutan, pemusnahan
terhadap daging ruminansia ilegal yang masuk dari Malaysia ke Indonesia,
sosialisasi mengenai PMK kepada semua pihak terkait, dan surveilans dan
monitoring di tempat-tempat beresiko tinggi. Upaya-upaya tersebut dipertahankan
dan dikembangkan terus-menerus serta harus diwaspadai agar kejadian PMK
jangan sampai terjadi sebagai akibat dari pemasukan daging ilegal. Oleh karena
itu, ancaman masuknya virus PMK melalui daging ilegal di Indonesia harus
menjadi perhatian. Perlu adanya upaya untuk mengurangi risiko, seiring dengan
berjalannya waktu, perkembangan transportasi, dan globalisasi.

SIMPULAN
Daging ilegal yang masuk ke Indonesia melalui jalur darat di perbatasan
Indonesia-Malaysia berisiko sebagai sumber infeksi PMK. Jalur non-kendaraan
(dipikul, ditenteng, didorong) memiliki risiko yang tinggi untuk masuknya PMK
ke Indonesia. Upaya untuk mempertahankan status Indonesia sebagai negara
bebas PMK harus terus dilakukan diantaranya melalui tindakan pencegahan,
pengawasan, kesiapan darurat, dan kesadaran masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
[BBALITVET] Balai Besar Penelitian Veteriner. Mengenal lebih jauh penyakit
mulut dan kuku [internet]. [diunduh 2020 Februari 16]. Tersedia pada:
http://203.190.36.42/publikasi/wr266046.pdf. Bogor (ID): Pustaka Litbang.
[DEPTAN] Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2019. Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan
dan Tumbuhan. Jakarta (ID): Deptan.
[Kementan] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2009. Keputusan Menteri
Pertanian Nomor: 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-
jenis Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Penggolongan dan
Klasifikasi Media Pembawa. Jakarta (ID): Kementan.
11

[Kementan] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2013. Keputusan Menteri


Pertanian Nomor 4026/Kpts.OT.140/3/2013 tentang Penetapan Jenis
Penyakit Hewan Menular Strategis. Jakarta (ID): Kementan.
[OIE] Office International des Epizooties. 2010. Animal Health Information.
[internet]. [diunduh 2020 Februari 16]. Tersedia pada:
https://www.oie.int/animal-health-in-the-world/official-disease-
status/fmd/list-of-fmd-free-members/. Paris (FR): World Organization for
Animal Health.
[OIE] Office International des Epizooties. 2018. Foot-and-mouth disease. OIE
Technical Disease Card. [internet]. [diunduh 2020 Februari 16]. Tersedia
pada: https://www.oie.int/en/animal-health-in-the-world/animal-diseases/
Foot-and-mouth-disease/. Paris (FR): World Organization for Animal
Health.
Adji RMA, Sani Y. 2005. Ketersediaan Teknologi Veteriner dalam Pengendalian
Penyakit Strategis Ruminansia Besar. Bogor (ID): Balai Penelitian Veteriner.
Gelolodo MA. 2017. The role of molecular approach in foot and mouth disease
eradication program. Jurnal Kajian Veteriner. 5(2): 21-42
Harada Y, Lekcharoensuk P, Furuta T, and Taniguchi T. 2015. Inactivation of
foot-and-mouth disease virus by commercially available disinfectants and
cleaners. Biocon. Sci. 20(3):205-208.
Idris M. 2019. Dampak kerjasama perdagangan Indonesia-India dalam produk
daging kerbau pada tahun 2016-2018. JOM FISIP. 6(1): 1-12.
MacDiarmid SC, Thompson EJ. 1997. The potential risks to animal health from
imported sheep and goat meat. Rev Sci Tech Off Int Epizoot. 16:45-56.
Muroga N, Hayama Y, Yamamoto T, Kurogi A, Tsuda T, Tsutsui T. 2012. The
2010 foot-and-mouth disease epidemic in Japan. J. Vet. Med. Sci. 74(1):
399-404.
Muroga N, Kobayashi S, Nishida T, Hayama Y, Kawano T, Yamamoto T, Tsutsui
T. 2013. Risk factors for the transmission of foot-and-mouth disease during
the 2010 outbreak in Japan: a case-control study. BMC Vet. Med. 9(1):1-9.
Nuradji H, Adjid RMA, Nirmalasanti N, Khadijah S, Sekarwati HD, Widyasari D.
2017. Evaluasi tiga prosedur penyiapan sampel daging untuk deteksi
penyakit mulut dan kuku dengan uji RT-PCR. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner. 158-165.
Paton DJ, Sinclair M, Rodriguez R. 2010. Qualitative assessment of the
commodity risk for spread of foot-and-mouth disease associated with
international trade in deboned beef. Transbound. Emerg. Dis. 57:115–134.
Rusdiana S. 2019. Fenomena kebutuhan pangan asal daging dapat dipenuhi
melalui peningkatan usaha sapi potong di petani. Journal on Socio-
Economics of Agriculture and Agribusiness. 13(1): 61-83.
Rushton J, and Knight-Jones TJD. 2013. The impact of foot-mouth-disease. Rev
sci tech Off int Epiz. 1(1):1-27.
12

Silitonga RJP, Soejoedono RD, Latif H, Sudarnika E. 2016. Ancaman Masuknya


Virus Penyakit Mulut dan Kuku Melalui Daging Ilegal di Entikong,
Perbatasan Darat Indonesia dan Malaysia. Jurnal Sain Veteriner. 34(2):
147-154.
Soehadji, Setyaningsih H. 1994. The experiences of Indonesia in the control and
eradication of foot-and-mouth disease. Proceedings of an International
Workshop, Lampang, Thailand, 6-9 September 1993. 51:64-69.
Tawaf R. 2016. Dampak sosial ekonomi epidemi penyakit mulut dan kuku
terhadap pembangunan peternakan di Indonesia. Prosiding Seminar
Nasional Agroinovasi Spesifik Lokasi Untuk Ketahanan Pangan Pada Era
Masyarakat Ekonomi ASEAN. 1535-1547.