Anda di halaman 1dari 147

PENGARUH PEMBERIAN JUS PEPAYA TERHADAP

PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA


HIPERTENSI DI RT/RW 02/05 KELURAHAN PONDOK
KACANG TIMUR TAHUN 2016

SKRIPSI

Disusun Oleh

Retno Sri Yulianti

201340010

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

TANGERANG SELATAN

TAHUN 2016
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul :

PENGARUH PEMBERIAN JUS PEPAYA TERHADAP PENURUNAN


TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RT/RW 02/05
KELURAHAN PONDOK KACANG TIMUR TAHUN 2016

Yang dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi sarjana keperawatan


pada Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC
Bintaro, sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau publikasi dari
skripsi yang sudah di publikasikan dan pernah di pakai untuk mendapatkan gelar
kesarjanaan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC Bintaro maupun di perguruan
tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya di
cantumkan sebagaimana mestinya.

Tangerang, 29 April 2017

Retno Sri Yulianti


NPM 201340010

i
ii
iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Retno Sri Yulianti
NPM : 201340010
Program Studi : SI Keperawatan
STIKes : STIKes IMC Bintaro
Jenis Karya : Skripsi
Dengan ini menyetujui untuk memberikan ijin kepada pihak STIKes IMC Bintaro
Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-exlusive Royalty-Free Right) atas
skripsi saya yang berjudul : PENGARUH PEMBERIAN JUS PEPAYA
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA
HIPERTENSI DI RT/RW 02/05 KELURAHAN PONDOK KACANG
TIMUR TAHUN 2016.
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). STIKes IMC Bintaro berhak
menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan
data, mendistribusikan dan menampilkan atau mempublikasikan di internet atau
media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak
cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Tangerang Selatan, 29 April 2017

Retno Sri Yulianti


NIM : 201340010

iv
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis
dapat menyelesaikan tepat pada waktunya.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016” ini ditulis untuk memenuhi tugas akhir yang
merupakan satu syarat di dalam menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan di
STIKes IMC Bintaro.
Pada kesempatan yang baik ini, izinkan penulis menyampaikan rasa
hormat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang tulus ikhlas telah
memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini terutama kepada :
1. Bapak Ir. Peters M Simanjuntak, MBA selaku ketua STIKes IMC Bintaro.
2. Ibu Ns. Dewa Ayu Saraswati, S. Kep, M. Kes selaku ketua program studi S1
Keperawatan STIKes IMC Bintaro.
3. Ibu Ns. Lisna Agustina, M. Kep selaku dosen pembimbing.
4. Para Dosen dan Staf STIKes IMC Bintaro.
5. Bapak Jamaluddin selaku ketua RT/RW 02/05.
6. Orang tua dan saudara-saudara ku yang selalu memberikan support dan doa
yang tulus.
7. Rekan se-almamater angkatan 2013 S1 Keperawatan STIKes IMC Bintaro.
8. Semua pihak yang ikut membantu baik langsung maupun tidak langsung
dalam pembuatan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna baik
bentuk, isi maupun teknik penyajian. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun dari berbagi pihak. Semoga skripsi ini
memenuhi sasarannya.
Tangerang Selatan, April 2016

Penulis

v
MOTTO

“Jika kamu berani BERMIMPI. Maka mulailah berani

menentukan TUJUAN HIDUPmu sendiri. Siap untuk

menghadapi dan mengambil RESIKO yang muncul. Jalani

dengan penuh OPTIMIS dan semangat baru. BerDOAlah

pada Allah SWT. Yakin suatu hari nanti semua impian pasti

menjadi KENYATAAN ”

Skripsi ini

Ku persembahkan untuk

Alm Bapak, Mama, Kakak–kakak ku dan Adik ku tercinta,

Serta sahabat-sahabat terbaiku.

vi
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

Retno Sri Yulianti Pembimbing

NIM 201340010 Ns. Lisna Agustina, M. Kep

PENGARUH PEMBERIAN JUS PEPAYA TERHDAP PENURUNAN


TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RT/RW 02/05
KELURAHAN PONDOK KACANG TIMUR TAHUN 2016

VI BAB + 90 halaman + 35 tabel + 3 bagan + 1 gambar + 13 lampiran

Abstrak

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan satu tantangan besar bagi
Indonesia. Seseorang yang mengalami hipertensi jika sudah tidak terkontrol akan
menyebabkan beberapa penyakit berbahaya bahkan kematian. Berdasakan hasil
data tahun 2016 di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Kecamatan
Pondok Aren Kota Tangerang Selatan terdapat 58 orang atau sekitar 25,8 %
penderita hipertensi. Salah satu penangan hipertensi yang telah banyak dilakukan
adalah asupan kalium yang tinggi. Pepaya merupakan makanan sumber kalium.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian jus pepaya terhadap
penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain
quasy eksperimental pre and post test with non equivalent control group, yang
dilakukan pada 36 penderita hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
pengaruh yang signifikan antara tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian
jus pepaya dengan hasil uji statistik menggunakan paired t-test sebesar 0.000 <
0,05. Rekomendasi pada penelitian ini yaitu, agar jus pepaya dapat di terapkan
pada masyarakat untuk mengontrol hipertensi.

Kata Kunci : Tekanan Darah, Hipertensi, Jus Pepaya


Daftar Pustaka : 42 Buku + 18 Jurnal + 8 Skripsi + 8 Website

vii
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO

NURSING DEPARTEMEN

Retno Sri Yulianti Counsellor

NIM 201340010 Ns. Lisna Agustina, M. Kep

THE EFFECT OF PAPAYA JUICE ON THE DECREASE IN BLOOD


PRESSURE FOR HYPERTENSIVE PATIENT AT PONDOK KACANG
TIMUR RT/RW 02/05 IN 2016

IV Chapters + 90 pages + 35 tables + 3 structures + 1 picture + 13 attachment.

Abstract

Hypertension or high blood pressure is a big challange for a doctor in Indonesia.


Person who has uncontrol hypertension will cause some dangerous disease even
death. Based on data result at Pondok Kacang Timur RT/RT 002/05, Pondok
Aren, South Tangerang In 2016, is found 58 people or around 25,8% hypertensive
patients. One of handling which has been done a lot is high potassium intake.
Papaya is a food source of potassium.
The purpose of this study was to determine the effect of papaya juice on the
decrease in blood pressure in hypertensive patients in RT/RW 02/05 Pondok
Kacang Timur. This type of research is quantitative with quasy experimental pre
and post test with non equivalent control group design, conducted on 36 patients
with hypertension. The result showed that there was a significant influence
between blood pressure before and after papaya juice administration with
statistical test result using paired t-test of 0.000 < 0,05. Recommendation in this
research is, for papaya juice can be applied to society to control hypertension.

Keywords : Blood Pressure, Hypertension, Papaya Juice


Bibliography : 42 books + 18 journals + 8 thesis + 8 websites

viii
DAFTAR ISI

PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................................i

LEMBAR PERSETUJUAN ...............................................................................ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................iii

KATA PENGANTAR .......................................................................................v

MOTTO ..............................................................................................................vi

ABSTRAK .........................................................................................................vii

DAFTAR ISI .......................................................................................................ix

DAFTAR TABEL ..............................................................................................xi

DAFTAR BAGAN ............................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xvi

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xvii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar belakang ........................................................................................1


B. Rumusan masalah ...................................................................................4
C. Tujuan penelitian ....................................................................................5
D. Manfaat penelitian ..................................................................................6
E. Ruang lingkup penelitian .......................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi ..............................................................................................7
1. Pengertian Hipertensi .......................................................................7
2. Klasifikasi Hipertensi .......................................................................8
3. Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi ...........................................9
4. Patofisiologi Hipertensi ....................................................................11
5. Penanganan Hipertensi .....................................................................12
a. Pengendalian Faktor Risiko .......................................................12
b. Terapi Farmakologis ..................................................................13
c. Terapi Non Farmakologis ..........................................................14
d. Terapi Komplementer ................................................................15

ix
B. Tekanan darah ........................................................................................20
1. Pengertian Tekanan Darah ...............................................................20
2. Klasifikasi Tekanan Darah ...............................................................21
3. Cara Pengukuran Tekanan Darah .....................................................22
C. Penelitian terkait .....................................................................................24
D. Kerangka teori .........................................................................................25

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep ...................................................................................26


B. Definisi Operasional ...............................................................................27
C. Hipotesis Penelitian ................................................................................29

BAB IV METEDOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian ....................................................................................30


B. Tempat & Waktu ....................................................................................31
C. Populasi & Sampel .................................................................................32
D. Teknik Pengumpulan Data .....................................................................34
E. Instrumen Penelitian ...............................................................................35
F. Etika Penelitian ......................................................................................36
G. Analisa Data ...........................................................................................37

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Lokasi Penelitian .....................................................................................40


B. Analisa univariat .....................................................................................41
C. Analisa Bivariat ......................................................................................65
D. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................................73
E. Keterbatasan Penelitian ..........................................................................86

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................87
B. Saran .......................................................................................................90

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................91

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kandungan Gizi Dalam 100 Gram Pepaya .......................................... 17

Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Dewasa ≥ 18 Tahun ....................... 21

Tabel 3.1 Definisi Operasional ............................................................................ 28

Tabel 4.1 Jadwal Penelitian .................................................................................. 32

Tabel 5.1 Karakteristik Responden ...................................................................... 40

Tabel 5.2 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol ..................................................... 43

Tabel 5.3 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah Intervensi Pada
Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol ............................................................................. 44

Tabel 5.4 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum Intervensi Pada
Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol ............................................................................. 45

Tabel 5.5 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah Intervensi Pada
Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol ............................................................................. 46

Tabel 5.6 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol ..................................... 47

Tabel 5.7 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol ..................................... 48

xi
Tabel 5.8 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum dilakukan
Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol ..................................... 49

Tabel 5.9 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol ..................................... 50

Tabel 5.10 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Perempuan Kelompok Kontrol ................................................... 51

Tabel 5.11 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Perempuan Kelompok Kontrol ................................................... 52

Tabel 5.12 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Perempuan Kelompok Kontrol ................................................... 53

Tabel 5.13 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Perempuan Kelompok Kontrol ................................................... 54

Tabel 5.14 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol ...................................................................... 55

Tabel 5.15 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol ...................................................................... 56

Tabel 5.16 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol ...................................................................... 57

xii
Tabel 5.17 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah dilakukan
Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol ...................................................................... 58

Tabel 5.18 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Sebelum
Diberikan Intervensi .......................................................................... 59

Tabel 5.19 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Sesudah
Diberikan Intervensi .......................................................................... 60

Tabel 5.20 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Awal
Kelompok Kontrol ............................................................................. 61

Tabel 5.21 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Akhir
Kelompok Kontrol ............................................................................. 62

Tabel 5.22 Hasil Uji Normalitas Shapiro Wilk Pada Tekanan Darah Sistolik
dan Diastolik Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ............ 63

Tabel 5.23 Hasil Uji Homogenitas Pada Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ................................... 64

Tabel 5.24 Hasil Uji Paired T-Test Pada Tekanan Darah Sistolik Sebelum dan
Sesudah Dilakukan Intervensi ........................................................... 65

Tabel 5.25 Hasil Uji Paired T-Test Pada Tekanan Darah Diastolik Sebelum dan
Sesudah Dilakukan Intervensi ........................................................... 66

Tabel 5.26 Hasil Uji Paired T-Test Pada Tekanan Darah Sistolik Awal dan
Akhir Kelompok Kontrol .................................................................. 67

Tabel 5.27 Hasil Uji Paired T-Test Pada Tekanan Darah Diastolik Awal dan
Akhir Kelompok Kontrol .................................................................. 68

Tabel 5.28 Hasil Uji independent T-Test Pada Tekanan Darah Sistolik Sebelum
Dilakukan Intervensi Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok
Kontrol .............................................................................................. 69

xiii
Tabel 5.29 Hasil Uji independent T-Test Pada Tekanan Darah Sistolik Sesudah
Dilakukan Intervensi pada Kelompok Intervensi dan Kelompok
Kontrol .............................................................................................. 70

Tabel 5.30 Hasil Uji independent T-Test Pada Tekanan Darah Diastolik
Sebelum Dilakukan Intervensi Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol ............................................................................. 71

Tabel 5.31 Hasil Uji independent T-Test Pada Tekanan Darah Diastolik
Sesudah Dilakukan Intervensi pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol ............................................................................. 72

xiv
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori ................................................................................... 25

Bagan 3.1 Kerangka Konsep ................................................................................ 26

Bagan 4.1 Desain Penelitian ................................................................................ 31

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Cara Pengukuran Tekanan Darah ..................................................... 22

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

Lampiran 2 Informed Consent

Lampiran 3 Lembar Observasi dan Instrumen

Lampiran 4 Surat Balasan dari RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang


Timur

Lampiran 5 Lembar Konsul

Lampiran 6 Standar Operasional Prosedur

Lampiran 7 Lampiran Data Tekanan Darah

Lampiran 8 Distribusi Frekuensi

Lampiran 9 Deskripsi Rata-rata

Lampiran 10 Uji Normalitas

Lampiran 11 Uji Homogenitas

Lampiran 12 Uji Paired T-tes

Lampiran 13 Uji Independent T-tes

xvii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Kartasurya dan Daniati (2015) hipertensi merupakan
suatu kondisi dimana aliran darah secara konsisten memiliki tekanan yang
tinggi pada dinding arteri. Hal itu diperjelas oleh Paramita (2015) bahwa
hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Seseorang yang mengalami
hipertensi jika sudah tidak terkontrol akan menyebabkan beberapa
penyakit berbahaya bahkan kematian.
Gejala hipertensi menunjukkan gejala yang bervariasi pada
masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya.
Penderita sering tidak memperdulikan gejala tersebut dan beranggapan
bahwa hipertensi tidak mengancam jiwa. Namun begitu penyakit ini
diderita, tekanan darah pasien harus dipantau dengan interval teratur. Oleh
karena itu hipertensi sering dikenal sebagai silent killer (Situmorang,
2015).
Prevaleni hipertensi di dunia berdasarkan data WHO tahun 2012
yang dipaparkan oleh Pondang, dkk (2015) sedikitnya sejumlah 839 juta
kasus hipertensi dan diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025
atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana penderitanya lebih
banyak pada wanita 30% dibanding pria 29%. Dan sekitar 80% kenaikan
kasus hipertensi terjadi terutama di negara-negara berkembang.
Melihat tingginya angka hipertensi di dunia yang semakin tahun
terus meningkat, menurut Depkes RI tahun 2013 hipertensi merupakan
tantangan besar bagi Indonesia. Sesuai dengan Rikesdas tahun 2013,
hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi
yaitu sebesar 25,8%.

1
2

Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia


dengan prevalensi hipertensi cukup tinggi. Salah satunya di Kabupaten
Tangerang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang
tahun 2010, hipertensi merupakan penyakit dengan urutan 5 tertinggi yang
diderita oleh masyarakat di Kabupaten Tangerang pada tahun 2010 dan
menjadi penyebab kematian ibu hamil terbanyak karena hipertensi
sebanyak 10 orang (32%). Karena akibat serius yang ditimbulkan, maka
penyakit hipertensi memerlukan perhatian khusus.
Berdasakan hasil data tahun 2016 di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan
terdapat 224 orang dengan usia 30-60 tahun dan yang menderita hipertensi
sebanyak 58 orang atau sekitar 25,8 %. Rata-rata tekanan darah mereka
berkisar antara : tekanan darah sistolik 140-180 mmHg dan tekanan darah
diastolik 90-120 mmHg. Dari data tersebut, masalah hipertensi di RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Kecamatan Pondok Aren Kota
Tangerang Selatan tergolong tinggi (Yulianti, 2016).
Dampak dari hipertensi tersebut, penderitan sering mengeluhkan
beberapa gejala. Gejala yang dirasakan seperti, berdebar-debar, nyeri di
bagian dada, sakit kepala, perasaan tidak nyaman di tengkuk, mudah lelah
ketika berjalan, dan kesemutan. Hal itu seperti yang dijelaskan oleh
Beavers (2008) bahwa dampak dari hipertensi dapat menyebabkan rasa
sakit di dada akibat darah tidak dapat mencapai otot jantung secara efisien
karena penyempitan arteri. Jantung sulit memompakan darah secara
efisien sehingga nafas menjadi pendek. Pasokan darah dan oksigen ke otak
juga tidak berjalan lancar sehingga menyebabkan sakit kepala dan bahkan
stroke. Pada pembuluh darah yang lebih kecil di kaki juga dapat rusak,
sehingga darah yang menuju kaki berkurang dan mengakibatkan rasa sakit
pada otot betis ketika berjalan. Dampak serius yang dapat ditimbulkan dari
hipertensi adalah kematian.
Hipertensi dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Onibala, dkk
(2015) hipertensi sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi dan
aktivitas yang berlebihan. Raharjo (2010) juga mengatakan bahwa asupan
3

makanan perlu diperhatikan bagi penderita hipertensi, makanan dengan


sumber kalium yang mempunyai potensi yang sangat baik untuk
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.
Menurut Anggraini dalam Nugroho (2014), mengonsumsi pepaya
matang dapat meningkatkan kalium pada penderita hipertensi, karena
dengan memakan pepaya pencernaan menjadi bagus, dapat melancarkan
buang air besar dengan membuang semua toxin dan zat tidak diperlukan
oleh tubuh, sehingga pembuluh darah menjadi sehat dan aliran darah
menjadi lancar. Aliran darah yang lancar dapat membuat tekanan darah
stabil.
Di Indonesia penelitian mengenai penangan hipertensi telah
banyak dilakukan. Termasuk penelitian terhadap buah pepaya yang
bermanfaat bagi penderita hipertensi. Buah pepaya merupakan bahan
makanan yang murah, mudah didapat, mudah diolah, dan lunak.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan observasi kepada 10
orang penderita hipertensi di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur, 6 orang mengatakan cara mereka mengatasi hipertensi yaitu
dengan mengkonsumsi obat-obatan dari puskesmas dan 4 orang
mengatasinya dengan cara mengkonsumsi obat tradisional seperti ramuan
daun ciplukan, jus buah mengkudu, jus buah belimbing dan jus mentimun.
Dari hasil studi pendahuluan tersebut, belum ada satupun yang
menggunakan jus pepaya sebagai salah satu alternatif dalam menangani
gejala hipertensi. Bahkan mereka mengatakan belum mengetahui bahwa
pepaya dapat bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah.
Penelitian yang dilakukan oleh Mariani dan Isnawati (2007)
mengenai pengaruh pemberian jus pepaya terhadap penurunan tekanan
darah menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah sistolik dan
diastolik sebesar 12,4 ± 2,4 mmHg setelah diberikan jus pepaya selama 5
hari. Kemudian tekanan darah subyek diukur 5 menit sebelum dan 60
menit setelah perlakuan.
4

Penelitian selanjutnya tentang pengaruh pemberian jus pepaya


terhadap penurunan tekanan darah juga telah dilakukan oleh Nugroho
(2014) dengan hasil percobaan menunjukkan bahwa lebih dari sebagian
besar mengalami penurunan tekanan darah sebanyak 63,2%. Dengan
kesimpulan terdapat pengaruh jus pepaya terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi primer di Desa Sukoanyar Kecamatan Turi
Kabupaten Lamongan.
Dalam penelitian ini, intervensi dilakukan dengan cara yang sama
seperti yang telah dilakukan penelitian sebelumnya. Namun karakteristik
responden yang berbeda dari responden penelitian lain diharapkan dapat
memperkuat hasil-hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan. Agar
dapat terbukti dengan jelas bahwa jus pepaya dapat menurunkan tekanan
darah pada penderita hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk
mengetahui “Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh peneliti di RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur prevalensi hipertensi cukup tinggi yaitu
sebanyak 25,8 %. Beberapa hasil penelitian baru-baru ini tentang
penanganan hipertensi menggunakan jus pepaya. Penanganan hipertensi
menggunakan jus pepaya juga belum diketahui oleh masyarakat di RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur sehingga penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut :
“Apakah Terdapat Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016”.
5

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Pengaruh
Pemberian Jus Pepaya Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada
Penderita Hipertensi Di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016”.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik responden (usia, jenis kelamin,
asupan makanan, pola hidup, IMT/BMI)
b. Untuk mengetahui tekanan darah pada masyarakat yang menderita
hipertensi pada kelompok intervensi pemberian jus pepaya
sebelum diberikan jus pepaya di RT/RW 02/05 kelurahan Pondok
Kacang Timur tahun 2016.
c. Untuk mengetahui tekanan darah pada masyarakat yang menderita
hipertensi pada kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi di
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur tahun 2016.
d. Untuk mengetahui tekanan darah pada masyarakat yang menderita
hipertensi pada kelompok intervensi pemberian jus pepaya sesudah
pemberian jus pepaya di RT/RW 02/05 kelurahan Pondok Kacang
Timur tahun 2016.
e. Untuk mengetahui tekanan darah pada masyarakat yang menderita
hipertensi pada kelompok kontrol sesudah dilakukan intervensi di
RT/RW 02/05 kelurahan Pondok Kacang Timur tahun 2016.
f. Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus pepaya terhadap
penurunan tekanan darah pada masyarakat yang menderita
hipertensi sebelum dan sesudah pemberian jus pepaya di RT/RW
02/05 kelurahan Pondok Kacang Timur tahun 2016.
6

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi institusi pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
bagi mahasiswa keperawatan khususnya dalam penambahan wawasan
dan pemahaman guna memberikan asuhan keperawatan terhadap
penderita hipertensi.

2. Manfaat bagi masyarakat RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang


Timur
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai terapi non
farmakologi dengan menggunakan jus pepaya sebagai alternatif untuk
mengatasi masalah hipertensi.

3. Manfaat bagi peneliti selanjutnya


Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber untuk
memperkaya khasana ilmiah untuk terus berkarya dalam penelitian
selanjutnya. Khususnya pengembangan ilmu keperawatan dalam
pemberian asuhan keperawatan pada hipertensi.

E. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Jus
Pepaya Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016.
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari responden
dengan desain penelitian quasi eksperimental desain dengan rancangan
pre and post test with non equivalent control group. Penelitian ini
memberikan intervensi kepada responden yang akan dilakukan tindakan
dan membandingkan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.
7

BAB II
Tinjauan Pustaka

A. Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Kata atau istilah hipertensi bukanlah sesuatu yang baru. Kata
hipertensi dikenal secara luas. Pembahasan hipertensi menurut para ahli
hampir semua memiliki pemahaman yang sama. Seperti yang dikatakan
oleh Dr. Genis Ginanjar Wahyu (2009), Hipertensi adalah suatu kondisi
tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik melebihi batas
normal yang berlangsung dalam jangka lama dan menetap yang
mengakibatkan kerusakan pada dinding arteri sehingga menggangu
aliran darah ke otak.
Menurut Nurdin dan Lavinea (2015) hipertensi merupakan suatu
gejala yang ditandai dengan tingginya tekanan darah seseorang
sehingga mengakibatkan gizi-gizi dan oksigen yang dibutuhkan oleh
tubuh tidak dapat dipenuhi dengan sempurna. Hal tersebut diperjelas
oleh Riskesdas (2013) bahwa hipertensi sebagai suatu keadaan ketika
tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut
terjadi karena jantung bekerja keras memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh.
Menurut Baradero, dkk (2008) hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
labih dari 90 mmHg. Diagnosis hipertensi tidak didasarkan pada
peningkatan tekanan darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus
diukur dalam posisi duduk atau berbaring. Hal itu juga diperjelas oleh
Infodatin (2014) bahwa pengukuran tekanan darah pada penderita
hipertensi dilakukan pada dua kali pengukuran dengan selang waktu
lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal dengan penyakit darah
tinggi adalah Penyakit kronik yang diakibatkan oleh tekanan darah yang
8

berlebihan dan hampir konstan yang menyebabkan jantung bekerja


lebih kuat memompa darah melebihi batas normal.

2. Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan pemaparan Depkes (2006), Penyakit hipertensi
berdasarkan penyebabnya dapat menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Hipertensi primer
Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya
hidup seperti kurang bergerak dan pola makan. Terjadi pada 90 %
penderita hipertensi. (Infodatin, 2014)
Pada sebagian besar pasien, kenaikan berat badan yang
berlebihan dan gaya hidup yang tampaknya memiliki peran yang
utama dalam menyebabkan hipertensi. Kebanyakan pasien
hipertensi memiliki berat badan yang berlebihan dan penelitian
pada berbagai populasi menunjukkan bahwa berat badan yang
berlebih (obesitas) memberikan risiko 65-70% untuk terkena
hipertensi primer (Guyton, 2008).
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang diketahui
penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi,
penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu (Infodatin, 2014)

Berdasarkan pemaparan Infodatin (2014), bentuk hipertensi


digolongkan menjadi 3 yaitu,
a. Hipertensi diastolik
Hipertensi diastolik merupakan peningkatan tekanan diastolik
tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda. Hipertensi diastolik terjadi
apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal,
9

sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang


melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya (Andrea,
2013).
b. Hipertensi sistolik
Hipertensi sistolik merupakan peningkatan tekanan sitolik
tanpa diikuti tekanan diastolik dan umunya ditemukan pada usia
lanjut. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada
arteri apabila jantung berkontraksi. Tekanan sistolik merupakan
tekanan maksimum dalam arteri dan tercermin pada hasil
pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya
besar (Andrea, 2013).
c. Hipertensi campuran (diastolik dan sistolik)
Hipertensi campuran merupakan peningkatan pada tekanan
sistolik dan diastolik (Andrea, 2013).

3. Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi


Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya
interaksi berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang. Menurut
Nuraini (2015), pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab
yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac
output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain :
a. Genetik : adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi.
Orang tua dengan hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar
untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai
keluarga dengan riwayat hipertensi.
b. Obesitas : berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan
darah pada kebanyakan kelompok di semua umur. Perubahan
fisiologi menjelaskan hubungan antara kelebihan berat badan
dengan tekanan darah, yaitu terjadinya resistensi insulin dan
10

hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan sistem renin


angiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal.
c. Jenis kelamin : prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama
dengan wanita, namun wanita lebih terlindungi dari penyakit
kardiovaskuler sebelum manopause.
d. Stres : stres dapat meningkatkan tekanan darah sewaktu. Hormon
adrenalin akan meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa
mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat sehingga
tekanan darah pun meningkat.
e. Kurang olahraga : kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko
tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk bertambah
gemuk. Orang yang tidak aktif cenderung memiliki detak jantung
yang lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras
pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus
memompa semakin besar pula kekuatan yang mendesak arteri.
f. Pola asupan garam dalam diet : konsumsi natrium yang berlebih
menyebabkan konsentrasi natrium dalam cairan meningkat.
Meningkatnya volume cairan tersebut menyebabkan meningkatnya
volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.
Kadar yang direkomendasikan adalah sekitar 2,4 gram sodium atau
6 gram garam.
g. Kebiasaan merokok : zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan
karbon monoksida yang dihisap melalui roko yang masuk ke dalam
aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri,
sehingga mengakibatkan proses aterosklerosis dan tekanan darah
tinggi.
Sesungguhnya gaya hidup merupakan faktor terpenting yang
sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Gaya hidup yang tidak
sehat, dapat menyebabkan terjadinya hipertensi, misalnya makanan,
aktivitas fisik, stres, dan merokok (Puspitorini, 2009).
11

4. Patofisiologi Hipertensi
Menurut (Lumbantobing, 2008) , beberapa mekanisme fisiologis
terlibat dalam mempertahankan tekanan darah yang normal, dan
gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hipertensi
esensial. Faktor yang telah banyak diteliti ialah : asupan garam,
obesitas, restensi terhadap insulin, sistem renin-angiotensin dan sistem
saraf simpatis. Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa
faktor sebagai berikut :
a. Curah jantung dan tahanan perifer
Mempertahankan tekanan darah yang normal bergantung
kepada keseimbangan antara curah jantung dan tahanan vaskular
perifer. Sebagian besar pasien dengan hipertensi esensial
mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya
meningkat. Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar
atau kapiler, melainkan oleh arteriola kecil, yang dindingnya
mengandung sel otot polos. Kontraksi sel otot diduga berkaitan
dengan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler
Kontraksi otot polos berlangsung lama diduga menginduksi
perubahan struktural dengan penebalan dinding pembuluh darah
arteriola, mungkin dimediasi oleh angiotensin, dan dapat
mengakibatkan peningkatan tahanan perifer yang irreversible. Pada
hipertensi yang sangat dini, tahanan perifer tidak meningkat dan
peningkatan tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya curah
jantung yang berkaitan dengan overaktivitas simpatis. Peningkatan
tahanan perifer yang terjadi kemungkinan merupakan kompensasi
untuk mencegah agar peningkatan tekanan tidak disebarluaskan ke
jaringan pembuluh darah kapiler, yang akan dapat mengganggu
homeostasis sel secara substansial.
b. Sistem renin-angiotensin
Sistem renin-angiotensin mungkin merupakan sistem endokrin
yang paling penting dalam mengontrol tekanan darah. Renin
disekresi dari aparat juxtaglomerular ginjal sebagai jawaban
12

terhadap kurangnya perfusi glomerular atau kurang asupan garam.


Ia juga dilepas sebagai jawaban terhadap stimulasi dan sistem saraf
simpatis.
Renin bertanggung jawab mengkonversi substrat renin
(angiotensinogen) menjadi angiotensin II di paru-paru oleh
angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin II merupakan
vasokontriktor yang kuat dan mengakibatkan peningkatan tekanan
darah.
c. Sistem saraf otonom
Stimulasi sistem saraf otonom dapat menyebabkan konstriksi
arteriola dan dilatasi arteriola. Jadi sistem saraf otonom mempunyai
peran yang penting dalam mempertahankan tekanan darah yang
normal. Ia juga mempunyai peran penting dalam memediasi
perubahan yang berlangsung singkat pada tekanan darah sebagai
jawaban terhadap stress dan kerja fisik.
d. Peptida atrium natriuretik (atrial natriuretic peptide/ANP)
ANP merupakan hormon yang diproduksi oleh atrium jantung
sebagai jawaban terhadap peningkatan volume darah. Efeknya ialah
meningkatnya ekskresi garam dan air dari ginjal, jadi sebagai
semacam diuretik alamiah. Gangguan pada sistem ini dapat
mengakibatkan retensi cairan dan hipertensi.

5. Penanganan Hipertensi
a. Pengendalian Faktor Risiko
Menurut Depkes (2006), pengendalian faktor risiko hipertensi
dapat dilakukan dengan usaha-usaha sebagai berikut :
1) Mengatasi obesitas
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi, akan tetapi pravelensi
hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Beberapa studi
menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai berat badan
lebih dari 20% dan hiperkolestrol mempunyai risiko yang lebih
besar terkena hipertensi (Rahajeng, 2009)
13

2) Mengurangi asupan garam didalam tubuh


Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dirasakan.
Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per
hari saat memasak (Depkes, 2006)
3) Ciptakan keadaan rileks
Pada saat tekanan darah meningkat, hormon adrenalin akan
dilepaskan. Adrenalin akan meningkatkan tekanan darah
melalui kontraksi arteri dan peningkatan denyut jantung,
dengan demikian orang akan mengalami stres. Jika stres
berlanjut, takanan darah akan tetap tinggi sehingga orang
tersebut mengalami hipertensi (Junaidy, 2010). Oleh karena itu
sangat penting untuk membuat keadaan menjadi rileks.
4) Melakukan olahraga teratur
Kegiatan olahraga secara teratur terbukti dapat membantu
menurunkan hipertensi, oleh karena itu penderita hipertensi
dianjurkan untuk berolahraga secara teratur (Wolf, 2008).
5) Hentikan kebiaasan merokok
Kebiasaan merokok dapat menyebabkan penyakit hipertensi.
Rokok berperan membentuk arterosklerosis dengan cara
meningkatkan penggumpalan sel-sel darah (Dalimartha, 2008).

b. Terapi Farmakologis
Depkes (2006), penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan
untuk mengendalikan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit
hipertensi dengan cara seminimal mungkin menurunkan gangguan
terhadap kualitas hidup penderita. Pengobatan hipertensi dimulai
dari pemberian obat antihipertensi. Beberapa prinsip pemberian
obat hipertensi sebagai berikut :
1) Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan
penyebab hipertensi
14

2) Pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk menurunkan


tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan
mengurangi timbulnya komplikasi.
3) Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan
menggunakan obat antihipertensi.
4) Pengobatan hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang
bahkan pengobatan seumur hidup.
Menurut Yugiantoro (2006), terapi farmakologis yaitu obat
anti hipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika,
terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta
blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonis,
Angiotensin converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II
Receptor Blocker atau AT 1 Receptor Antagonist/Blocker (ARB)
diuretik tiazid (misalnya bendroflumetiazid).

c. Terapi Non Farmakologi


Pada hipertensi esensial ringan, penggunaan asupan garam dan
upaya penurunan berat badan dapat digunakan sebagai langkah awal
pengobatan hipertensi. Anjuran penggunaan asupan garam sebanyak
60 mmol/hari, berarti tidak ada penambahan asupan garam waktu
makan, memasak tanpa garam, menghindari penggunaan makanan
yang sudah diasinkan, menggunakan mentega yang bebas garam,
merupakan pengurangan garam dengan ketat dan akan
mempengaruhi kebiasaan makan penderita secara drastis, sehingga
hal ini akan sulit dilaksanakan (Djunaedi, dkk, 2013).
Pengobatan non farmakologi yang lain, yaitu menghindarkan
faktor risiko seperti merokok, minum alkohol, hiperlipidemia, dan
stres. Merokok dapat meningkatkan tekanan darah, walaupun pada
beberapa survei di dapat pada kelompok perokok, tekanan darahnya
lebih rendah dari pada kelompok yang tidak merokok. Alkohol
diketahui dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga menghindari
alkohol berarti menghindari kemungkinan hipertensi. Olahraga yang
15

teratur dibuktikan dapat menurunkan tekanan perifer, sehingga


dapat menurunkan tekanan darah. Dengan olahraga, akan timbul
perasaan santai, dapat menurunkan berat badan, sehingga dapat
menurunkan tekanan darah (Rudianto, 2013)
Memodifikasi gaya hidup dapat mempunyai pengaruh yang
mendasar terhadap morbiditas dan mortalitas. Diet yang kaya buah-
buahan, sayuran dan rendah lemak serta rendah lemak jenuh dapat
menurunkan tekanan darah. Dengan terapi tambahan dapat
mencegah atau mengurangi terjadinya hipertensi.

d. Terapi Komplementer
Menurut peneliti, pada penderita hipertensi juga bisa di berikan
terapi non farmakologi berupa pemberian terapi komplementer.
Penggunan herbal dan bahan alami sudah banyak dilakukan oleh
masyarakat untuk mengontrol dan mengobati penyakit, begitu pula
dengan hipertensi. Oleh karena itu penelitian kali ini akan meneliti
pemberian terapi komplementer yaitu dengan pemberian jus pepaya.

1) Pepaya
a) Deskripsi dan Taksonomi Pepaya
Pepaya termasuk buah yang manis, lunak, dan
menyegarkan. Buah ini berasal dari Amerika, namun kini
telah menyebar ke berbagai benua, terutama di negara-
negara beriklim tropis, termasuk Indonesia. Buah pepaya
kerap dimakan segar sebagai buah meja. Tak jarang pula
dikonsumsi sebagai sayuran dan obat (Hamzah, 2014).
Pepaya termasuk dalam golongan buah tunggal
yaitu buah yang terdiri dari bunga dengan satu bakal buah
saja. Pepaya juga termasuk golongan buah buni yaitu buah
yang dagingnya mempunyai dua lapisan. Lapisan luar
yang tipis agak menjangat atau kaku seperti kulit dan
lapisan dalamnya yang tebal, lunak dan berair. Pepaya
16

termasuk buah buni yang berdinding tebal dan dapat


dimakan (Muslimah, 2012).
Pemaparan klasifikasi ilmiah tanaman pepaya
menurut mardiana (2012) :
Kingdom : Plantae,
Divisi : Spermatophyta,
Sub-divisi : Angiosperma,
Kelas : Dicotyledonae,
Ordo : Caricales,
Famili : Caricaceae,
Spesies : Carica Papaya L
Buah pepaya memang tergolong buah yang
populer, yang dikenal dan digemari oleh hampir seluruh
penduduk dunia. Daging buah pepaya memiliki rasa
manis, enak, dan menyegarkan, serta dapat melegakan
dahaga. Warna daging buah bervariasi, ada yang berwarna
merah, ataupun kuning. Dagingnya juga lunak dan
mengandung banyak air. Nilai gizi pepaya juga cukup
tinggi karena banyak mengandung pro-vitamin A, vitamin
C, dan mineral kalsium (Warisno, 2007).

b) Kandungan Kimia dalam Buah Pepaya


Disamping gizinya yang tinggi, pepaya adalah
buah yang memiliki kandungan tinggi antioksidan. Antara
lain vitamin C, flavonoid, folat, vitamin A, mineral,
magnesium, vitamin E, kalium, serat dan vitamin B.
Antioksidan memerangi radikal bebas dalam tubuh dan
menjaga kesehatan sistem kardiovaskular (Superkunam,
2010)
Buah pepaya yang sudah masak memiliki
kandungan gizi yang baik. Kandungan yang ada
didalamnya antara lain gula, protein, lemak, vitamin C,
17

asam organik, protase, enzim renin, alkalin pepaya dan


karpein. Karpein adalah jenis alkaloid yang terkandung
dalam pepaya yang berkhasiat untuk mengurangi
gangguan jantung, antimuba, dan obat peluruh kencing
(Utami, 2006).

Tabel 2.1 Kandungan gizi dalam 100 gram pepaya masak


menurut Ruslianti (2007)
Komponen gizi Jumlah per 100gr
Vitamin A 142 SI/UI
Vitamin B1 0,03 mg
Vitamin B2 0,05 mg
Niasin 0,3 mg
Vitamin C 62 mg
Kalsium 25 mg
Fosfor 16 mg
Zat Besi 1,4 mg
Natrium 14 mg
Kalium 135 gr

Dari segi kandungan mineral, buah pepaya masak


memiliki kandungan kalium sebesar 257 mg/100 g dan
sangat sedikit natrium sebesar 3 mg/100 g (Suryani, 2011).
Kalium adalah mineral yang ditemukan dalam makanan
yang dapat melindungi pembuluh darah dari penumpukan.
(Mulyadi, 2015). Di dalam tubuh, kalium berperan dalam
metabolisme sel dan fungsi sel saraf. Konsentrasi kalium
yang terlalu tinggi dan terlalu rendah bisa menyebabkan
masalah yang serius, seperti irama jantung atau denyut
jantung yang berhenti. Kalium yang disimpan di dalam sel
membantu memelihara konsentrasi kalium dalam darah
tetap konstan (Ali, 2006).
18

Menurut Fachlevy, dkk (2016) Kalium dapat


menurunkan tekanan darah dengan mengurangi natrium
dalam urine dan air dengan cara yang sama seperti
diuretik. Kalium mempunyai fungsi meningkatkan
keteraturan denyut jantung. Mengaktifkan kontraksi otot,
dan membantu menstabilkan tekanan darah. Konsumsi
kalium yang memadai dapat mengurangi efek natrium
dalam meningkatkan tekanan darah dan memberikan
kontribusi terhadap penurunan risiko serangan dan stroke.
Konsumsi ekstra kalium sebanyak 400 mg tiap hari dapat
mengurangi kemungkinan mendapat penyakit jantung dan
pembuluh darah (Harlinawati, 2008).

c) Manfaat Buah Pepaya


Keistimewaan buah pepaya sebagai buah
dianjurkan untuk dikonsumsi selama detoksifikasi. Karena
pepaya mengandung enzim papain. Enzim papain
mempunyai kemampuan dalam memecah protein dan
berperan aktif sebagai penghancur bahan sisa. Selain itu
papain juga sangat baik dalam metabolisme asam amino
arginin. Arginin mampu meningkatkan kerja sama nitrat
dalam tubuh untuk merelakskan otot-otot di sekitar
pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar
(Ramayulis, 2014)
Menurut Dalimartha dan Adrian (2011), buah
pepaya matang berkhasiat memacu enzim pencernaan,
peluruh empedu, menguatkan lambung, dan anti scorbut.
Selain itu buah pepaya masak digunakan untuk mengatasi
gangguan pencernaan, sakit maag, tidak nafsu makan,
sariawan dan sembelit.
19

Kandungan kalium dalam pepaya sangat


bermanfaat bagi penderita hipertensi. Kalium merupakan
zat gizi yang sangat berperan dalam penurunan tekanan
darah. Kalium berperan dalam memperbesar ukuran sel
endotel dan meningkatkan produksi nitric oxide yang akan
memicu reaksi dilatasi dan reaktivasi vaskuler yang akan
menurukan tekanan darah (Safitri, 2015).
Selain itu menurut Kumalaningsih dalam Farwati
(2012), pepaya juga mengandung antioksidan yang tinggi
yaitu vitamin C. pepaya merupakan sumber vitamin C
yang baik, sehingga mampu mencegah kerusakan sel yang
disebabkan oleh radikal bebas dan sebagai donor elektron.
Kerja sama vitamin E, vitmin C dan betakaroten didalam
pepaya akan mempermudah pelumpuhan radikal bebas.
Menurut Marelli (2008) di dalam 100 g pepaya matang
mengandung vitamin c sebesar 70,2 mg dan mengandung
betakaroten sebesar 20,773 µg.

d) Jus Pepaya
Jus pepaya adalah minuman yang terbuat dari
campuran buah pepaya dan air yang dihaluskan
menggunakan blender. Mengonsumsi pepaya yang sudah
dibuat jus akan lebih cepat dicerna dibandingkan
memakan langsung. Penyerapan kandungan nutrisi akan
menjadi lebih optimal ketika jus pepaya dicerna dengan
cepat (Agustina, 2017).
Seperti yang diketahui bahwa buah pepaya
mengandung banyak sekali nutrisi yang bermanfaat bagi
tubuh. Jus pepaya diketahui mengandung antioksidan yang
mampu mengikat dan membuang radikal bebas, limbah
yang dihasilkan dari proses pencernaan makanan, dan zat
racun. Selain itu jus pepaya sangat potensial untuk
20

mengobati penyakit tekanan darah tinggi. Semakin sering


mengonsumsi jus pepaya maka manfaat yang diterima
tubuh akan sangat baik (Wibowo, 2017).
Cara membuat jus pepaya sangatlah mudah.
Memotong pepaya menjadi bagian-bagian kecil kemudian
dicampur air dan dimasukan kedalam blender. Pepaya
akan dihaluskan menggunakan blender. Setelah itu dapat
dikonsumsi dalam bentuk jus (Yulianti, 2016).

B. Tekanan Darah
1. Pengertian Tekanan Darah
Menurut Gunawan (2007) Tekanan darah adalah kekuatan yang
diperlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan
beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia. Darah yang lancar
beredar ke seluruh bagian tubuh berfungsi sangat penting sebagai media
pengangkut oksigen serta zat-zat lain yang diperlukan bagi kehidupan
manusia.
Tekanan darah merupakan salah satu parameter hermodinamika
yang sederhana dan mudah dilakukan pengukurannya. Tekanan darah
menggambarkan situasi hemodinamika seseorang saat itu.
Hemodinamika adalah suatu keadaan di mana tekanan darah dan aliran
darah dapat mempertahankan perfusi atau pertukaran zat di jaringan
tubuh (Muttaqin, 2009)
Sedangkan menurut Kowalski (2010), tekanan darah adalah
tekanan dari aliran darah dalam pembuluh nadi (arteri). Jantung yang
berdetak lazimnya 60 hingga 70 kali dalam 1 menit pada kondisi
istirahat (duduk atau berbaring), darah dipompa menuju pembuluh
darah melalui arteri. Tekanan darah paling tinggi terjadi ketika jantung
berdetak memompa darah, yang disebut tekanan sistolik. Tekanan darah
menurun saat jantung rileks diantara dua denyut nadi, yang disebut
tekanan darah diastolik. Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik
pertekanan darah diastolik.
21

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan


bahwa tekanan darah adalah tekanan dari aliran darah yang mengalir ke
seluruh tubuh. Tekanan darah ditentukan oleh jumlah darah yang
dipompa oleh jantung dan tahanan terhadap aliran darah di arteri. Hasil
pemeriksaan tekanan darah memiliki dua angka yaitu tekanan sistolik
dan diastolik.

2. Klasifikasi Tekanan Darah


Klasifikasi tekanan darah oleh JNC 7 yang dipaparkan
DEPKES tahun 2006, untuk pasien dewasa (umur ≥ 18 tahun)
berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua
kunjungan klinis (Tabel 2.2). Klasifikasi tekanan darah mencakup 4
kategori, dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120
mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD) < 80 mmHg. Pre hipertensi
tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasikan
pasien-pasien yang tekanan darahnya cenderung meningkat ke
klasifikasi hipertensi di masa akan datang. Ada dua tingkat (stage)
hipertensi, dan semua pasien pada kategori ini harus diterapi obat.

Tabel 2.2 Klasifikasi Tenakan Darah untuk dewasa umur ≥ 18 tahun


menurut JNC
Klasifikasi tekanan Tekanan darah Tekanan darah
darah sistolik (mmHg) diastolik (mmHg)
Normal <120 Dan <80
Prehipertensi 120-139 Atau 80-90
Hipertensi stage 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi stage 2 ≥ 160 Atau ≥100
22

3. Cara Pengukuran Tekanan Darah


Berdasarkan pemaparan Gunawan (2007), urutan pengukuran
tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dilakukan dengan cara
sebagai berikut :

Gambar 2.1 Tensimeter terpasang pada lengan atas


a. memasang manset di lengan atas, kira-kira 4 cm di atas lipatan
siku.
b. Jari tanga kiri diletakan di lipatan siku untuk meraba denyut
pembuluh nadi,
c. Kemudian pompa karet ditekan dengan tangan kanan agar udara
masuk ke dalam, sampai denyut pembuluh tidak teraba lagi.
d. Lalu stetoskop dipasang di lipatan siku sambil ventil putar dibuka
sedikit demi sedikit secara perlahan untuk menurunkan tekanan
udara dalam manset.
e. Dengan memperhatikan turunnya air raksa pada silinder petunjuk
tekan manometer (yang menunjukkan tekanan dalam manset).
f. Telinga mendengarkan bunyi dengan denyut nadi dengan bantuan
stetoskop.
g. Pada saat tekanan udara dalam manset naik sampainilai tekanan
lebih dari tekanan darah, maka suara denyut pembuluh nadi
menghilang.
h. Dengan dikeluarkannya sebagian udara dalam manset, tekanan
udara dalam manset akan turun sehingga pada saat akan mulai
23

terdengar suara denyut pembuluh nadi. Sehingga angka


manometer itu menunjukkan nilai tekanan darah yang disebut
tekanan sistolik.
i. Dengan tetap terbukanya ventil, air raksa pada silinder akan turun
terus dan pada saat bunyi pembuluh nadi akan menghilang lagi.
Saat itu angka manometer menunjukkan tekanan darah yang
disebut tekanan diastolik.
Dalam pengukuran tekanan darah ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu sebagai berikut (Gunawan, 2007) :
a. Pengukuran tekanan darah boleh dilaksanankan pada posisi duduk
atau berbaring. Namun yang penting, lengan tangan harus dapat
diletakan dengan santai.
b. Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk akan memberikan
angka yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi
berbaring, meskipun selisihnya relatif kecil.
c. Tekanan darah juga dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada
orang yang baru bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah
paling rendah, yang dinamakan tekanan darah basal. Tekanan
darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktivitas fisik lain
akan memberi angka yang lebih tinggi dan disebut tekanan dara
kasual. Oleh karena itu, sebaiknya pengukuran tekanan darah,
orang sebaiknya beristirahat duduk santai minimal 10 menit.
d. Pada suatu pemeriksaan kesehatan, sebaiknya tekanan darah
diukur 2 atau 3 kali berturut-turu. Jika hasilnya berbeda, maka
nilai yang dipakai adalah nilai yang terendah.
e. Ukuran manset harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang
mengembang harus melingkari 80 % lengan dan mencakup 2/3
dari panjang lengan atas. Untuk itu, sebaiknya digunakan ukuran
manset yang berbeda untuk anak, dewasa, dan orang gemuk.
24

C. Penelitian Terkait
Penelitian tentang jus pepaya dilakukan oleh Mariani (2007) dengan
jumlah subyek penelitian sebanyak 47 orang dengan tekanan darah sistolik ≥
140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg dengan jenis perlakuan pemberian jus
pepaya, jus semangka dan jus melon dengan kandungan kaliun buah pepaya
sebanyak 500,2 mg selama 5 hari. Tekanan darah subyek diukur 5 menit
sebelum dan 60 menti setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan
terdapat penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah perlakuan
pada ketiga kelompok besar 16,1±2,9 mmHg dan 12,4±2,4 pada kelompok
pepaya. Kesimpulan pemberian jus pepaya berpengaruh terhadap penurunan
tekanan darah sistolik maupun diastolik.
Penelitian selanjutnya tentang pengaruh pemberian buah pepaya
terhadap tekanan darah penderita hipertensi dilakukan oleh Farwati (2012)
di Wilayah Kerja Puskesmas Ngampilan Yogyakarta dengan jumlah sampel
10 orang tanpa kelompok kontrol. Hasil penelitian tersebut menunjukan
nilai p untuk tekanan darah sistolik yaitu 0,019 dan nilai p untuk tekanan
darah diastolik yaitu 0,496 dengan taraf signifikan 0,05. Kesimpulan yang
diperoleh yaitu pemberian buah pepaya dapat menurunkan tekanan darah
sistolik, namun tidak dapat menurunkan tekanan darah diastolik.
Penelitian lainnya yang mendukung mengenai pemberian jus pepaya
terhadap penurunan tekanan darah dilakukan oleh Nugroho (2014) di Desa
Sukoanyar Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, dengan jumlah sampel
sebanyak 38 pasien dengan menggunakan pendekatan one group pre and
post design. Dengan hasil penelitian menunjukkan lebih dari sebagian besar
mengalami penurunan tekanan darah sebanyak 24 responden (63,2%).
Yang diberikan pada tanggal 24 Maret – 17 April 2014.
25

D. Kerangka Teori
Berdasakan sumber dari Infodatin (2014) dan Depkes (2006), maka
disusunlah kerangka teori sebagai berikut :
Kerangka Teori
Bagan 2.1

Penatalaksaan Hipertensi :

Farmakologi :

Pemberian obat hipertensi (jenis


thiazide (Thiaz), beta blocker,
calcium chanel blocker,
Hipertensi
Angiotensin converting Enzyme
Hipertensi adalah Inhibitor (ACEI), Angiotensin II
peningkatan tekanan Receptor Blocker atau AT 1
darah sistolik lebih Receptor Antagonist/Blocker
dari 140 mmHg dan (ARB) diuretik tiazid.
tekanan darah
diastolik labih dari 90
mmHg pada dua kali
pengukuran dengan
selang waktu lima
menit dalam keadaan Penatalaksaan Hipertensi :
cukup istirahat atau Non Farmakologi
tenang. (Pengendalian risiko) :

Sumber :
a. Mengatasi obesitas
Infodatin (2014) b. Mengurangi asupan garam
didalam tubuh
c. Ciptakan keadaan rileks
d. Melakukan olahraga teratur
e. Hentikan kebiaasan merokok
f. Pengaturan asupan
makanan dan modifikasi
diet (Pemberian jus
pepaya).
BAB III
KERANGKAN KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Konsep adalah abstraksi dari suatu realistis agar dapat
dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan
antara variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang yang tidak diteliti).
Kerangka konsep sendiri diartikan sebagai konsep yang dipakai sebagai
landasan dalam kegiatan ilmu (Nursalam, 2008). Kerangka konsep
merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang
peneliti menyusun atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang
dianggap penting untuk masalah (Hidayat, 2008).
Di dalam kerangka konsep tersebut ada dua konsep utama yang akan
diteliti, yaitu jus pepaya dan perbedaan tekanan darah pada penderita
hipertensi. Suatu konsep mempunyai variabel sebagai indikasi pengukur
untuk setiap konsep tersebut. Variabel bebas (independent) dalam penelitian
ini adalah jus pepaya (X1). Sedangkan variabel terikat (dependent) dalam
penelitian ini adalah tekanan darah pada penderita hipertensi (Y).

Bagan 3.1
Kerangka konsep

(Variabel independent) (Variabel dependent)

Tekanan Darah pada


Jus Pepaya Penderita Hipertensi

Keterangan :
: diteliti
: diteliti dan dihubungkan

26
27

B. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara
operasional berdasarkan karakteristik yang diamati sehingga memungkinkan
paneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap
suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2008). Mendefinisikan variabel secara
operasional bertujuan untuk membuat variabel menjadi lebih konkrit dan
dapat diukur (Dharma, 2011). Definisi operasional ditentukan berdasarkan
parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian, sedangkan cara
pengukuran merupakan cara di mana variabel dapat diukur dan ditentukan
karakteristiknya (Hidayat, 2008)
1. Variabel bebas
Menurut Sugiyono (2011) Variabel bebas merupakan variabel yang
mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah status
pemberian jus pepaya .

2. Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat
karena adanya variabel bebas (Aziz, 2007). Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah tekanan darah pada penderita hipertensi.
28

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Hasil Skala
Variabel Definisi operasional Alat ukur Cara ukur
ukur ukur
Jus Jus pepaya adalah Gelas Jus pepaya diberikan
pepaya minuman yang terbuat ukur, dengan dosis 250 ml,
dari campuran buah timbangan yang dibuat dari 150
pepaya dan air yang yang gr pepaya diblender
dihaluskan sudah dalam air 100 ml.
menggunakan blender. dikalibrasi Pemberian intervensi
(Agustina, 2017) dilakukan kepada
kelompok intervensi
dilakukan 1 kali sehari
pada pagi hari selama
14 hari. Jus harus
dihabiskan sekaligus.
Tekanan Tekanan yang Sphygmo- SOP pengukuran Rerata Rasio
darah dihasilkan oleh darah mano- tekanan darah nilai
terhadap pembuluh meter (lampiran) tekanan
darah dengan tekanan darah
paling tinggi disaat
ventrikel kontraksi
adalah sistolik dan
tekanan paling rendah
disaat ventrikel
berlelaksasi adalah
diastolik yang diukur
sebelum melakukan
terapi, dan
membandingkan
dengan hasil tekanan
darah setelah terapi.
(Pratama, 2014)
29

C. Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan kerangka teori yang dikemukakan, maka hipotesis yang
diajukan adalah :

Ha : Terdapat pengaruh pemberian jus pepaya tehadap penurunan tekanan


darah pada penderita hipertensi.

Ho : Tidak terdapat pengaruh pemberian jus pepaya tehadap penurunan


tekanan darah pada penderita hipertensi.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk
menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan
yang mungkin timbul selama proses. Hal ini penting karena desain
penelitian merupakan strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan
untuk keperluan pengujian hipotesis atau untuk menjawab pertanyaan
penelitian dan sebagai alat untuk mengontrol variabel yang berpengaruh
dalam penelitian (Sugiyono, 2010).
Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy
eksperimental pre and post test with non equivalent control group, dimana
penelitian quasy eksperimental bertujuan untuk mengungkapkan hubungan
sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping
kelompok eksperimen (Sukardi dalam Sugiar, 2013). Pre and post tes
bertujuan untuk mengetahui kelompok yang masing – masing mendapatkan
perlakuan berbeda (Fahdah, 2014). Sedangkan with non equivalent control
group merupakan metode yang tanpa memilih secara random baik
kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan sehingga hasil perlakuan
dapat diketahui lebih akurat (Sugiyono, 2010).
Dalam penelitian ini pengelompokan anggota sampel terdiri dari
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol
diberikan observasi awal (pre test) dengan mengukur tekanan darah
menggunakan tensi meter, kemudian setelah 60 menit diobservasi kembali
(post test) dengan mengukur tekanan darah menggunakan tensi meter. Pada
kelompok perlakuan sebelum diberikan jus pepaya akan diobservasi terlebih
dahulu (pre test), kemudian setelah perlakuan dilakukan observasi kembali
(post test) untuk mengetahui hasilnya. Hasil observasi kemudian
dibandingkan dari sebelum jus pepaya dengan hasil observasi yang sudah
diberikan jus pepaya. Pemberian Berikut desain penelitian dalam penelitian
ini:

30
31

Bagan 4.3
Rancangan pre-test dan post-test with non equivalent control group

INPUT OUTPUT PROSES

R1 : 01 X1 02

R2 : 03 X0 04

Keterangan :
R : Responden penelitian
R1 : Responden kelompok intervensi jus pepaya
R2 : Responden kelompok kontrol
01 : Pre-test pada kelompok jus pepaya sebelum intervensi
02 : Post-test pada kelompok jus pepaya setelah intervensi
03 : Pre-test pada kelompok kontrol
04 : Post-test pada kelompok kontrol
X1 : Uji coba/intervensi pada kelompok 1 penelitian sesuai protokol
X0 : Tidak diberikan intervensi pada kelompok kontrol

B. Tempat dan waktu


Pemilihan penelitian di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Kecamatan Pondok Aren – Tangerang Selatan karena banyak
ditemukan warga yang menderita hipertensi yang disebabkan banyak faktor
yang dialami oleh masyarakat sekitar. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan
pada bulan Oktober 2016 sampai Februari 2017. Adapun perinciannya
sebagai berikut :
32

Tabel 4.1
Jadwal Penelitian

Deskripsi Oktober November Desember Januari Februari Maret April


No.
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persetujuan
1
judul
Penyusunan
2
proposal
Sidang
3
Proposal
Persiapan
4
eksperimen

5 Eksperimen

6 Tabulasi data
Pengolahan
7
data
Laporan
8
penulisan

9 Sidang akhir

C. Populasi dan sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti dalam
suatu penelitian. Penetapan suatu objek penelitian merupakan suatu
hal yang harus diperhatikan agar dapat mengambil kesimpulan secara
menyeluruh. Seperti yang dikatakan Winarsunu (2006), bahwa
populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti, dan
yang nantinya akan dikenai generalisasi. Populasi dalam penelitian
kali ini adalah semua penderita hipertensi di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur sejumlah 58 responden.
33

2. Sampel
Menurut Riduwan (2010) sampel adalah bagian dari populasi
yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Hal
ini berarti sampel harus diperoleh dari populasi yang akan diteliti,
sehingga diperlukan suatu cara untuk menentukan sample yang akan
diberi perlakuan dari populasi yang ada.
Pengambilan sample pada penelitian ini dilakukan dengan non
probability sampling dengan cara purposive sampling yang didasarkan
pada pertimbangan peneliti sendiri. Dimana hal itu juga dijelaskan
oleh Notoadmodjo ( 2010) bahwa purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel yang berdasarkan atas suatu pertimbangan
tertentu seperti sifat-sifat populasi ataupun ciri-ciri yang sudah
diketahui sebelumnya.
Sampel yang diteliti harus memenuhi kriteria yang sudah
ditetapkan peneliti, kriteria tersebut sebagai berikut :
a. Inklusi
- Responden yang menyukai jus pepaya
- Berusia ± 30 – 60 tahun
- Mengalami hipertensi
- Belum pernah mendapatkan terapi pemberian jus pepaya
- Responden berasal dari RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur
- Bersedia menjadi responden

b. Eksklusi
- Tidak bersedia menjadi responden
- Responden yang mempunyai penyakit penyerta lainya
seperti jantung, stroke, dan penyakit ginjal.
- Responden yang mengonsumsi obat hipertensi
- Klien yang mengalami gangguan jiwa
- Tidak sedang mengalami diare
34

Berdasarkan teknik purposive sampling didapatkan 36 orang


yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kemudian pengambilan
sampel dibagi menjadi 2 kelompok, dengan rincian 18 orang sebagai
kelompok intervensi dan 18 orang sebagai kelompok kontrol. Namun
untuk mengetahui besar sampel minimal maka peneliti menggunakan
rumus :
𝑍1 − 𝛼/2𝑃 (1 − 𝑃)
𝑛=
𝑑
Keterangan :
n = jumlah sampel minimal
Z1- 𝛼/2 = Nilai Z pada derajat 95 % (1,96)
P = Proporsi 36/58 = 0.62 (62%)
d = derajat penyimpangan terhadap proporsi 5% (0.05)

𝛼
𝑍1 − 2𝑃 (1 − 𝑃) 1,96 . 0.62 (1 − 0.05)
𝑛= = = 23,08
𝑑 0.05
23,08 dibulatkan menjadi 23 sampel .

Maka besar sampel minimal penelitian ini adalah 23.

D. Teknik Pengumpulan Data


1. Pengumpulan data
Merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data
ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah menggunakan
rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang dihasilkan
(Setiadi, 2012). Pengumpulan data dalam penelitian ini diambil
melalui hasil observasi, kemudian dilakukan pre test terhadap
penderita hipertensi dengan di lakukan intervensi terhadap tekanan
darahnya. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah pra –
eksperimental.
Dalam pengumpulan data dilakukan setelah responden yang
memenuhi syarat menyatakan bersedia menjadi responden. Kemudian
dilakukan intervensi dengan selalu dihitung tekanan darah sebelum
35

dan sesudah diberikan jus pepaya untuk mengetahui apakah ada


perbedaan sebelum dan sesudah diberikan jus pepaya dengan dosis
250 ml yang diberikan 1 kali sehari selama 2 minggu berturut-turut.

2. Metode pengumpulan data


a. Data primer
Untuk melakukan pengumpulan data penelitian menggunakan
lembar observasi dan hasil pengukuran tekanan darah yang
dilakukan oleh peneliti sendiri yang dilakukan pada penderita
hipertensi di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur.

b. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dengan cara mengutip catatan medik
responden yang meliputi : nama, usia, jenis kelamin, asupan
makanan, pola hidup, berat badan.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan peneliti untuk
mengobservasi, mengukur atau menilai suatu fenomena, data yang diperoleh
dari suatu pengukuran, kemudian dianalisi dan dijadikan sebagai bukti
(evidence) dari suatu peneliti (Dharma, 2011). Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan instrumen penelitian jenis instrumen fisiologi yang telah
terstandarisasi, meliputi : sphygmomanometer jarum, timbangan buah,
timbangan berat badan dengan kapasitas 120 kg dan gelas ukur.
Data responden dikumpulkan dengan menggunakan instrumen
berupa kuisioner yang meliputi karakteristik data demografi : nama, usia,
jenis kelamin, asupan makanan, pola hidup, berat badan, tempat
pemeriksaan, jenis pengobatan yang semuanya tidak dipublikasikan dan
akan dirahasiakan oleh peneliti. Sementara itu, data dalam penelitian ini
diambil dengan cara mengukur tekanan darah menggunakan
sphygmomanometer jarum dan hasil dari pengukuran langsung dicatat di
lembar observasi.
36

F. Etika Penelitian
Penelitian keperawatan yang menggunakan manusia sebagai subjek
perlu menggunakan etika dalam penelitiannya. Etika dalam penelitian
diperlukan untuk memberikan jaminan bahwa keuntungan yang didapat dari
penelitian lebih besar dari pada efek yang ditimbulkan (Dharma, 2011)
Peneliti harus memegang teguh sikap ilmiah serta menggunakan
prinsip-prinsip, etika penelitian yang dikemukakan oleh Putra (2012), yaitu :
1. Prinsip manfaat
Penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat untuk pasien
penderita hipertensi yang dilakukan pemberian jus pepaya di wilayah
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur.

2. Prinsip Menghormati Manusia


Prinsip ini bertujuan bahwa responden memiliki hak untuk
memilih antara mau dan tidak menjadi subjek penelitian, dan pilihan
tersebut harus dihormati setelah responden mendapat penjelasan
penelitian. Penjelasan penelitian tersebut meliputi tujuan, informasi
kerahasiaan, data yang akan diambil dan persetujuan informed
consent. Responden memiliki hak untuk mengundurkan diri atau
menolak jika merasa tidak nyaman dengan penelitian ini.

3. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan yang dilakukan adalah dengan menghargai hak
atau menjaga privasi dari kerahasiaan. Hal ini dilakukan secara merata
ke semua responden agar tidak ada perlakuan yang berbeda di antara
responden.
Beberapa etika penelitian yang harus diperhatikan menurut
(Putra, 2012) dan (Hidayat, 2008) adalah :
a. Informed consent, yaitu suatu bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responen penelitian dengan memberikan lembar
persetujuan sebelum penelitian dilakukan.
37

b. Anonymity (tanpa nama). Pengunaan subjek penelitian dilakukan


dengan cara tidak mencantumkan atau memberikan nama
responden pada alat ukur, dan hanya menuliskan kode pada
lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan
disajikan.
c. Confidential (kerahasiaan). Semua informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya
kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

G. Analisa data
1. Analisa normalitas univariat
Uji normalitas univariat digunakan utnuk mengetahui distribusi
dan frekuensi data responden seperti usia, jenis kelamin, asupan
makanan, pola hidup, berat badan. Dan untuk mengetahui normal atau
tidaknya dari variabel independen (jus pepaya) dan variabel dependen
(tekanan darah). Untuk melakukan analisa univariat peneliti
menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampelnya yang < 50
(Suryana, 2015). Jika nilai sig. > 0,05 maka data berdistribusi normal
dan jika nilai sig. < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. Uji
Shapiro-Wilk dilakukan menggunakan program Statistical Package
for Sosial Science (SPSS) 22.0 for windows.
Selain uji normalitas data, peneliti juga melakukan uji
homogenitas untuk mengetahui bahwa data bervarian sama atau beda.
Jika nilai sig. > 0,05 maka data bervarian sama dan jika nilai sig. <
0,05 maka data bervarian tidak sama. Uji homogenitas dilakukan
menggunakan program Statistical Package for Sosial Science (SPSS)
22.0 for windows.
38

2. Analisa bivariat
Analisa bivariat merupakan analisa yang dilakukan terhadap dua
variabel yang diduga berhubungan (Notoatmojo, 2010). Setelah
dilakukan uji normalitas maka akan dilakukan uji paired t-test dan Uji
independent t-test. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui adanya
pengaruh pemberian jus pepaya terhadap tekanan darah pada penderita
hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur.

a. Uji Paired T-test


Uji paired t-test merupakan prosedur yang digunakan
untuk membandingkan rata-rata dua variabel dalam satu
kelompok yang kemudian akan dibandingkan rata-rata dari
sampel tersebut antara sebelum dan sesudah perlakuan. Dalam
penelitian ini dilakukan untuk menganalisa perbedaan rata-rata
tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah
diberikan jus pepaya.

Rumus paired t-test (Saputra, 2014) adalah sebagai berikut:

Σd
t= √ n ( Σd2) - (Σd)2
N-1
Keterangan :
t = t-test d = selisih nilai pre dan post-test
Σ = jumlah n = jumlah sampel

Uji paired t-test dilakukan menggunakan program


Statistical Package for Sosial Science (SPSS) 22.0 for windows.
Dengan pedoman jika nilai signifikan (2 tailed) < 0,05 maka
terdapat pengaruh pemberian jus pepaya terhadap tekanan darah
pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan
39

Pondok Kacang Timur. Namun jika signifikan (2 tailed) > 0,05


maka tidak terdapat pengaruh pemberian jus pepaya terhadap
tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur.

b. Uji Independent T-test


Uji Independent T-test adalah uji yang digunakan untuk
menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan
memiliki rata-rata yang berbeda. Prinsip dari uji independent t-
test yaitu :
a. telah dilakukan uji normalitas data dan hasilnya harus
berdistribusi normal
b. telah dilakukan uji homogenitas dengan hasil data harus
homogen.
Dalam penelitian uji independent t-tes dilakukan
menggunakan program Statistical Package for Sosial Science
(SPSS) 22.0 for windows. Untuk uji independent t-test jika nilai
signifikan (2 tailed) < 0,05 maka terdapat perbedaan antara rata-
rata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah
pemberian jus pepaya terhadap kelompok intervensi dan
kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur. Namun jika signifikan (2
tailed) > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan antara rata-rata
tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah
pemberian jus pepaya terhadap kelompok intervensi dan
kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini adalah uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang
ditinjau berdasarkan literatur atau penelitian sebelumnya terkait dengan variabel-
variabel yang diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian tentang pengaruh
pemberian jus pepaya pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur Kecamatan Pondok Aren – Tangerang Selatan
pada tahun 2016 dengan sampel sebanyak 36 responden dengan rincian 18 orang
menjadi kelompok intervensi dan 18 orang menjadi kelompok kontrol. Selain
membahas tentang hasil penelitian, bab ini juga membahas keterbatasan
penelitian.

A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Kecamatan Pondok Aren – Tangerang Selatan. Wilayah
RT/RW 02/05 terletak di kelurahan Pondok Kacang Timur dan berbatasan
dengan kampung Kebon Manggis serta Komplek Pondok Kacang Prima.
RT/RW 02/05 terletak di kelurahan Pondok Kacang Timur Kecamatan
Pondok Aren.
Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur terdiri
dari 148 kepala keluarga sampai tahun 2016. Dengan jumlah masyarakat
sekitar 617 jiwa. Masyarakat di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur adalah masyarakat yang majemuk. Berbagai macam status sosial ada
di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur.
Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur rata-rata
masyarakat mayoritas bekerja sebagai wiraswasta. Ada yang bekerja sebagai
buruh, laundry pakaian, penjahit, warung warung makan, tukang ojek,
punya kontarakan rumah petak, les private, dan lain-lain. Adapun yang
bekerja sebagai pegawai negeri sipil sebagai guru, satpol pp, pemadam
kebakaran. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai swasta. Rata-rata
masyarakat muda menjalani pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

40
41

B. Analisa Univariat
Analisa univariat ini bertujuan untuk menggambarkan hasil dari
pengambilan data responden. Pre test dan post test kelompok pemberian jus
pepaya dan kelompok kontrol dilakukan di salah satu rumah responden.
1. Karakteristik Responden
Pengambila data dilakukan sejak bulan November 2016 sampai
dengan Februari 2017. Pre-test dilakukan setiap jam 08.00 dan post-
test dilakukan kurang lebih pada jam 09.00. Jumlah responden yang
berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 36 orang yang dibagi
menjadi 2 kelompok, 18 orang kelompok intervensi dan 18 orang
kelompok kontrol. Dimana responden merupakan masyarakat yang
mengalami hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur.

Tabel 5. 1
Karakteristik Responden di RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur.

No Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%)


1 Usia
30 tahun – 40 tahun 5 13,9
41tahun – 60 tahun 31 86,1
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 12 33,3
Perempuan 24 66,7
3 IMT
Normal 19 52,8
Berlebih 17 47,2
4 Mengkonsumsi makanan
berlemak
Ya 36 100
Tidak 0 0
42

5 Mengkonsumsi garam berlebih


Ya 29 80,6
Tidak 7 19,4
6 Mengkonsumsi buah dan sayur
yang mengandung serat
Ya 25 69,4
Tidak 11 30,6
7 Mengkonsumsi obat hipertensi
Ya 0 0
Tidak 36 100
8 Berolahraga
Ya 15 41,7
Tidak 21 58,3

9 Kurang istirahat
Ya 23 63,9
Tidak 13 36,1
10 Stress
Ya 7 19,4
Tidak 29 80,6
Jumlah 36 100

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa hasil penelitian 86,1 %


responden berusia 41 tahun – 60 tahun, 66,7 % berjenis kelamin
perempuan, dan 52,8 % memiliki indeks masa tubuh normal. Selain
itu 100% responden mengkonsumsi makan berlemak, 80,6 %
mengkonsumsi garam berlebih, 69,4 % mengkonsumsi buah dan sayur
yang mengandung serat, 100% tidak mengkonsumsi obat hipertensi,
58,3 % tidak berolahraga, 63,9 % kurang istirahat, dan 80,6 %
mengalami stres.
43

2. Distribusi Rata-rata

Tabe 5.2 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum dilakukan


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin
Tekanan Darah Perempuan Kelompok
Sistolik Sebelum Intervensi dan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sebelum 1,000 -,265
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan -,265 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sebelum . ,105
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,105 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sebelum 24 24
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan 24 24
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,105 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.2).
44

Tabel 5.3 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah Intervensi


Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin
Tekanan Darah Perempuan Kelompok
Sistolik Sesudah Intervensi dan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sesudah 1,000 ,500
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,500 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sesudah . ,006
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,006 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sesudah 24 24
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan 24 24
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,006 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan kelompok
kontrol (Lihat tabel 5.3).
45

Tabel 5.4 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin
Diastolik Perempuan Kelompok
Sebelum Intervensi dan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sebelum 1,000 ,190
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,190 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sebelum . ,187
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,187 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sebelum 24 24
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan 24 24
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,187 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.4).
46

Tabel 5.5 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah


Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin
Diastolik Perempuan Kelompok
Sesudah Intervensi dan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sesudah 1,000 ,669
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,669 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sesudah . ,000
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan ,000 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sesudah 24 24
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan 24 24
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,000 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan kelompok
kontrol (Lihat tabel 5.5).
47

Tabel 5.6 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin
Tekanan Darah Perempuan Kelompok
Sistolik Sebelum Intervensi dan Laki-laki
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sebelum 1,000 -,123
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
-,123 1,000
Laki-laki Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sebelum . ,302
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,302 .
Laki-laki Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sebelum 20 20
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
20 20
Laki-laki Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,302 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan
laki-laki kelompok kontrol. (Lihat tabel 5.6).
48

Tabel 5.7 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin
Tekanan Darah Perempuan Kelompok
Sistolik Sesudah Intervensi dan Laki-laki
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sesudah 1,000 ,561
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,561 1,000
Laki-laki Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sesudah . ,005
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,005 .
Laki-laki Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sesudah 20 20
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
20 20
Laki-laki Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,005 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan laki-laki
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.7).
49

Tabel 5.8 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin
Diastolik Perempuan Kelompok
Sebelum Intervensi dan Laki-laki
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sebelum 1,000 ,367
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,367 1,000
Laki-laki Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sebelum . ,056
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,056 .
Laki-laki Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sebelum 20 20
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
20 20
Laki-laki Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,056 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan
laki-laki kelompok kontrol (Lihat tabel 5.8).
50

Tabel 5.9 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Perempuan Pada Kelompok
Intervensi dan Laki-laki Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin
Diastolik Perempuan Kelompok
Sesudah Intervensi dan Laki-laki
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sesudah 1,000 ,710
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,710 1,000
Laki-laki Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sesudah . ,000
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
,000 .
Laki-laki Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sesudah 20 20
Intervensi
Jenis Kelamin Perempuan
Kelompok Intervensi dan
20 20
Laki-laki Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,000 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin perempuan kelompok intervensi dan laki-laki
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.9).
51

Tabel 5.10 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Perempuan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin Laki-laki
Tekanan Darah Kelompok Intervensi
Sistolik Sebelum dan Perempuan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sebelum 1,000 -,307
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
-,307 1,000
Perempuan Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sebelum . ,124
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,124 .
Perempuan Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sebelum 16 16
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
16 16
Perempuan Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,124 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan
perempuan kelompok kontrol (Lihat tabel 5.10).
52

Tabel 5.11 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Perempuan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata Jenis Kelamin Laki-laki
Tekanan Darah Kelompok Intervensi
Sistolik Sesudah dan Perempuan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sesudah 1,000 ,426
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,426 1,000
Perempuan Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sesudah . ,050
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,050 .
Perempuan Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sesudah 16 16
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
16 16
Perempuan Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,050 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sesudah
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan
perempuan kelompok kontrol (Lihat tabel 5.11).
53

Tabel 5.12 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Perempuan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin Laki-laki
Diastolik Kelompok Intervensi
Sebelum dan Perempuan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sebelum 1,000 ,182
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,182 1,000
Perempuan Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sebelum . ,250
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,250 .
Perempuan Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sebelum 16 16
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
16 16
Perempuan Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,250 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan
perempuan kelompok kontrol (Lihat tabel 5.12).
54

Tabel 5.13 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Perempuan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang
Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin Laki-laki
Diastolik Kelompok Intervensi
Sesudah dan Perempuan
Intervensi Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sesudah 1,000 ,594
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,594 1,000
Perempuan Kelompok
Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sesudah . ,008
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
,008 .
Perempuan Kelompok
Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sesudah 16 16
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan
16 16
Perempuan Kelompok
Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,008 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan perempuan
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.13).
55

Tabel 5.14 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin Laki-laki
Sistolik Sebelum Kelompok Intervensi
Intervensi dan Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sebelum 1,000 -,194
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan -,194 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sebelum . ,272
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,272 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sebelum 12 12
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan 12 12
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,272 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.14).
56

Tabel 5.15 Korelasi Rerata Tekanan Darah Sistolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah Jenis Kelamin Laki-laki
Sistolik Sesudah Kelompok Intervensi
Intervensi dan Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Sistolik Sesudah 1,000 ,505
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,505 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Sistolik Sesudah . ,047
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,047 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Sistolik Sesudah 12 12
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan 12 12
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,047 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah sistolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan kelompok
kontrol (Lihat tabel 5.15)
57

Tabel 5.16 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sebelum


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah
Diastolik Jenis Kelamin Laki-laki
Sebelum Kelompok Intervensi
Intervensi dan Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sebelum 1,000 ,336
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,336 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sebelum . ,143
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,143 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sebelum 12 12
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan 12 12
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,143 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi
yang signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sebelum
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan
kelompok kontrol (Lihat tabel 5.16).
58

Tabel 5.17 Korelasi Rerata Tekanan Darah Diastolik Sesudah


dilakukan Intervensi Pada Jenis Kelamin Laki-laki Pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016

Correlations
Rata-rata
Tekanan Darah
Diastolik Jenis Kelamin Laki-laki
Sesudah Kelompok Intervensi
Intervensi dan Kelompok Kontrol
Pearson Rata-rata Tekanan Darah
Correlation Diastolik Sesudah 1,000 ,658
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,658 1,000
Kelompok Kontrol
Sig. (1- Rata-rata Tekanan Darah
tailed) Diastolik Sesudah . ,010
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan ,010 .
Kelompok Kontrol
N Rata-rata Tekanan Darah
Diastolik Sesudah 12 12
Intervensi
Jenis Kelamin Laki-laki
Kelompok Intervensi dan 12 12
Kelompok Kontrol

Hasil korelasi menunjukkan bahwa signifikan (1-tailed) menunjukkan


0,010 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang
signifikan antara rata-rata tekanan darah diastolik sesudah intervensi
dengan jenis kelamin laki-laki kelompok intervensi dan kelompok
kontrol (Lihat tabel 5.17).
59

Tabel 5.18 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan


Diastolik Sebelum Diberikan Intervesi Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)
Std.
Minimum/ 95 %
Variabel Mean SD Error
Maximum CI
of Mean
TD Sistolik 154, 08 9,60 140,36 2,26 149,31
Sebelum / –
173,93 158,86
TD Diastolik 95,83 4,47 88,57 1,05 93,60
Sebelum / –
105,00 98,06

Hasil analisis data univariat menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan


darah sistolik sebelum diberikan intervensi adalah 154,08 mmHg,
dengan standar deviasi 9,60 mmHg. Hasil tekanan darah sistolik
terendah sebesar 140,36 mmHg dan tekanan darah tertinggi sebesar
173,93 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah sistolik sebelum
adalah antara 149,31 mmHg sampai dengan 158,86 mmHg.
Sementara itu, nilai rerata tekanan diastolik sebelum dilakukan
intervesi adalah 95, 83 mmHg dengan standar deviasi 4,47 mmHg.
Hasil tekanan darah diastolik terendah sebesar 88,57 mmHg dan hasil
tekanan darah tertinggi sebesar 105,00 mmHg. Dari hasil estimasi
interval dapat disimpulkan bahwa 95 % rerata dari hasil pengukuran
tekanan darah diastolik sebelum adalah antara 93,60 mmHg sampai
dengan 98,06 mmHg (Lihat tabel 5.18).
60

Tabel 5.19 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan


Diastolik Sesudah Diberikan Intervesi Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Std.
Minimum/ 95 %
Variabel Mean SD Error
Maximum CI
of Mean
TD Sistolik 140,07 9,54 126,43 2,24 135,33
Sesudah / –
157,50 144,82
TD Diastolik 86,03 5,09 77,14 1,20 86,03
Sesudah / –
96,43 91,10

Hasil analisis data univariat menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan


darah sistolik sesudah diberikan intervensi adalah 140,07 mmHg,
dengan standar deviasi 9,54 mmHg. Hasil tekanan darah sistolik
terendah sebesar 126,43 mmHg dan tekanan darah tertinggi sebesar
157,50 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah sistolik sesudah
adalah antara 135,33 mmHg sampai dengan 144,82 mmHg.
Sementara itu, nilai rerata tekanan diastolik sesudah dilakukan
intervesi adalah 86,03 mmHg dengan standar deviasi 5,09 mmHg.
Hasil tekanan darah diastolik terendah sebesar 77,14 mmHg dan hasil
tekanan darah tertinggi sebesar 96,43 mmHg. Dari hasil estimasi
interval dapat disimpulkan bahwa 95 % rerata dari hasil pengukuran
tekanan darah diastolik sesudah adalah atara 86,03 mmHg sampai
dengan 91,43 mmHg (Lihat tabel 5.19).
61

Tabel 5.20 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan


Diastolik Awal Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Std.
Minimum/ 95 %
Variabel Mean SD Error
Maximum CI
of Mean
TD Sistolik 150,49 6,47 142,14 1,52 147,27
Awal / –
162,14 153,71
TD Diastolik 98,45 5,58 90,00 1,31 95,67
Awal / –
107,14 101,22

Hasil analisis data univariat menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan


darah sistolik awal pada kelompok kontrol adalah 150,49 mmHg,
dengan standar deviasi 6,47 mmHg. Hasil tekanan darah sistolik
terendah sebesar 142,14 mmHg dan tekanan darah tertinggi sebesar
162,14 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah sistolik awal adalah
antara 147,27 mmHg sampai dengan 153,71 mmHg. Sementara itu,
nilai rerata tekanan diastolik awal pada kelompok kontrol adalah
98,45 mmHg dengan standar deviasi 5,58 mmHg. Hasil tekanan darah
diastolik terendah sebesar 90,00 mmHg dan hasil tekanan darah
tertinggi sebesar 107,14 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat
disimpulkan bahwa 95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah
diastolik awal adalah atara 95,67 mmHg sampai dengan 101,22
mmHg (Lihat tabel 5.20).
62

Tabel 5.21 Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan


Diastolik AkhirKelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Std.
Minimum/ 95 %
Variabel Mean SD Error
Maximum CI
of Mean
TD Sistolik 149,67 7,15 135,29 1,68 146,12
Akhir / –
161,43 153,23
TD Diastolik 95,20 5,97 87,86 1,40 95,20
Akhir / –
108,57 101,14

Hasil analisis data univariat menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan


darah sistolik akhirl pada kelompok kontrol adalah 149,67 mmHg,
dengan standar deviasi 7,15 mmHg. Hasil tekanan darah sistolik
terendah sebesar 135,29 mmHg dan tekanan darah tertinggi sebesar
161,43 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah sistolik akhir adalah
antara 146,12 mmHg sampai dengan 153,23 mmHg. Sementara itu,
nilai rerata tekanan diastolik akhir pada kelompok kontrol adalah
95,20 mmHg dengan standar deviasi 5,97 mmHg. Hasil tekanan darah
diastolik terendah sebesar 87,86 mmHg dan hasil tekanan darah
tertinggi sebesar 108,57 mmHg. Dari hasil estimasi interval dapat
disimpulkan bahwa 95 % rerata dari hasil pengukuran tekanan darah
diastolik akhir adalah antara 95,20 mmHg sampai dengan 101,14
mmHg (Lihat tabel 5.21).
63

Tabel 5.22 Hasil Uji Normalitas Shapiro Wilk Pada Tekanan


Darah Sistolik dan Diastolik Kelompok Intervensi (1) dan
Kelompok Kontrol (2) Pada Penderita Hipertensi Di wilayah
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun
2016
(n = 36)

Kolmogorov-
Shapiro-Wilk
Kelompok Smirnova
Stat. Df Sig. Stat. Df Sig.
TD Sistolik 1 ,130 18 ,200* ,953 18 ,478
Sebelum
Dilakukan 2 ,142 18 ,200* ,926 18 ,164
Intervensi
TD Sistolik 1 ,153 18 ,200* ,924 18 ,152
Sesudah
Dilakukan 2 ,117 18 ,200* ,964 18 ,683
Intervensi
TD Diastolik 1 ,096 18 ,200* ,977 18 ,916
Sebelum
Dilakukan 2 ,149 18 ,200* ,925 18 ,161
Intervensi
TD Diastolik 1 ,167 18 ,199 ,951 18 ,444
Sesudah
Dilakukan 2 ,147 18 ,200* ,959 18 ,582
Intervensi
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Hasil analisis data univariat Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa nilai


signifikan tekanan darah sistolik sebelum dilakukan intervensi pada
kelompok pemberian jus pepaya (1) adalah 0,478, pada kelompok
kontrol adalah 0,164. Nilai signifikan tekanan darah sistolik sesudah
dilakukan intervensi pada kelompok pemberian jus pepaya (1) adalah
0,152, pada kelompok kontrol adalah 0,68. Nilai signifikan tekanan
darah diastolik sebelum dilakukan intervensi pada kelompok
pemberian jus pepaya (1) adalah 0,916 pada kelompok kontrol adalah
64

0,161. Nilai signifikan tekanan darah diastolik sesudah dilakukan


intervensi pada kelompok pemberian jus pepaya (1) adalah 0,444,
pada kelompok kontrol adalah 0,582 (Lihat tabel 5.22).

Tabel 5.23 Hasil Uji Homogenitas Pada Tekanan Darah


Sistolik dan Diastolik Kelompok Intervensidan Kelompok
Kontrol Pada Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016
(n = 36)

Levene Statistic df1 df2 Sig.


Tekanan Darah Sistolik Sebelum Dilakukan
3,649 1 34 ,065
Intervensi
Tekanan Darah Sistolik Sesudah Dilakukan
3,806 1 34 ,059
Intervensi
Tekanan Darah Diastolik Sebelum Dilakukan
2,980 1 34 ,093
Intervensi
Tekanan Darah Diastolik Sesudah Dilakukan
1,508 1 34 ,228
Intervensi

Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa nilai signifikan tekanan


darah sistolik sebelum dilakukan intervensi pada kelompok pemberian
jus pepaya dan kelompok kontrol adalah 0,065. Nilai signifikan
tekanan darah sistolik sesudah dilakukan intervensi pada kelompok
pemberian jus pepaya dan kelompok kontrol adalah 0,059. Nilai
signifikan tekanan darah diastolik sebelum dilakukan intervensi pada
kelompok pemberian jus pepaya dan kelompok kontrol adalah 0,093.
Nilai signifikan tekanan darah diastolik sesudah dilakukan intervensi
pada kelompok pemberian jus pepaya dan kelompok kontrol adalah
0,228 (Lihat tabel 5.23).
65

C. Analisa Bivariat

Tabel 5.24 Hasil Uji Paired t-test Pada Tekanan Darah


Sistolik Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Pada
Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Paired Differences
95%
Confidence Int.
Std. of the Sig.
Std. Error Difference (2-
Mean Dev. Mean Lower Upper T df tailed)
Tekanan Darah
Sistolik Sebelum
dan Sesudah 14,008 2,303 0,542 12,862 15,153 25,804 17 ,000
Dilakukan
Intervensi

Rata-rata perubahan tekanan darah sistolik dari responden sebelum


dan sesudah dilakukan intervensi adalah 14,008 dengan standar
deviasi sebesar 2,303. Hasil uji t-tes menunjukkan nilai signifikan (2
tailed) adalah 0,000 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat
pengaruh yang signifikan antara tekanan darah sistolik pada penderita
hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (lihat tabel 5.24).
66

Tabel 5.25 Hasil Uji Paired t-test Pada Tekanan Darah


Diastolik Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Pada
Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Paired Differences
95%
Confidence
Std. Interval of the
Std. Error Difference Sig. (2-
Mean Dev. Mean Lower Upper T df tailed)
Tekanan Darah
Diastolik
Sebelum dan
7,261 2,404 0,566 6,066 8,457 12,815 17 ,000
Sesudah
Dilakukan
Intervensi

Rata-rata perubahan tekanan darah diastolik dari responden sebelum


dan sesudah dilakukan intervensi adalah 7,261 dengan standar deviasi
sebesar 2,404. Hasil uji t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)
adalah 0,000 atau p < 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat
pengaruh yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (lihat tabel
5.25).
67

Tabel 5.26 Hasil Uji Paired t-test Pada Tekanan Darah


Sistolik Awal dan Akhir Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Paired Differences
95%
Confidence
Std. Interval of the
Std. Error Difference Sig. (2-
Mean Dev. Mean Lower Upper T df tailed)
Tekanan Darah
Sistolik
Kelompok 0,817 2,287 0,539 -0,320 1,954 1,516 17 0,148
Kontrol Awaldan
Akhir

Rata-rata perubahan tekanan darah sistolik awal dan akhir dari


responden kelompok kontrol adalah 0,817 dengan standar deviasi
sebesar 2,287. Hasil uji t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)
adalah 0,148 atau p > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi (lihat tabel 5.26).
68

Tabel 5.27 Hasil Uji Paired t-test Pada Tekanan Darah


Diastolik Awal dan Akhir Kelompok Kontrol Pada
Penderita Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016
(n = 18)

Paired Differences
95%
Confidence
Std. Interval of the
Std. Error Difference Sig. (2-
Mean Dev. Mean Lower Upper t df tailed)
Tekanan Darah
Diastolik
Kelompok 0,278 0,853 0,201 -0,145 0,703 1,386 17 0,184
Kontrol Awal
dan Akhir

Rata-rata perubahan tekanan darah diastolik awal dan akhir dari


responden kelompok kontrol adalah 0,278 dengan standar deviasi
sebesar 0,853. Hasil uji t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)
adalah 0,184 atau p > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi (lihat tabel 5.27).
69

Tabel 5.28 Hasil Uji Independent t-tes Pada Tekanan Darah


Sistolik Sebelum Dilakukan Intervensi pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 36)

t-test for Equality of Means


95%
Confidence
Std. Interval of the
Sig. (2- Mean Error Difference
T df tailed) Diff. Diff. Lower Upper
Tekanan Darah
Sistolik Sebelum 1,315 34 0,197 3,590 2,729 -1,957 9,138
Dilakukan Intervensi

Hasil uji independent t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)


adalah 0,197 atau p > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistolik pada penderita
hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
sebelum dilakukan intervensi (lihat tabel 5.28).
70

Tabel 5.29 Hasil Uji Independent t-tes Pada Tekanan Darah


Sistolik Sesudah Dilakukan Intervensi pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 36)

t-test for Equality of Means


95%
Std. Confidence
Error Interval of the
Sig. (2- Mean Differe Difference
t df tailed) Diff. nce Lower Upper
Tekanan Darah
Sistolik Sesudah -3,415 34 0,002 -9,600 2,811 -15,31 -3,887
Dilakukan Intervensi

Hasil uji independent t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)


adalah 0,002 atau p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat
perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistolik pada penderita
hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
sesudah dilakukan intervensi (lihat tabel 5.29).
71

Tabel 5.30 Hasil Uji Independent t-tes Pada Tekanan Darah


Diastolik Sebelum Dilakukan Intervensi pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 36)

t-test for Equality of Means


95%
Confidence
Std. Interval of the
Sig. (2- Mean Error Difference
T df tailed) Diff. Diff. Lower Upper
Tekanan Darah
Diastolik Sebelum -1,553 34 0,130 -2,620 1,687 -6,048 0,808
Dilakukan Intervensi

Hasil uji independent t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)


adalah 0,130 atau p > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sebelum dilakukan intervensi (lihat tabel 5.30).
72

Tabel 5.31 Hasil Uji Independent t-tes Pada Tekanan Darah


Diastolik Sesudah Dilakukan Intervensi pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Penderita
Hipertensi Di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur Tahun 2016
(n = 36)

t-test for Equality of Means


95%
Confidence
Std. Interval of the
Sig. (2- Mean Error Difference
t df tailed) Diff. Diff. Lower Upper
Tekanan Darah
Diastolik Sesudah -5,192 34 0,000 -9,602 1,849 -13,36 -5,843
Dilakukan Intervensi

Hasil uji independent t-tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed)


adalah 0,000 atau p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat
perbedaan yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sesudah dilakukan intervensi (lihat tabel 5.31).
73

D. Pembahasan Hasil Penelitian


1. Karakteristik Responden
a. Usia
Responden diambil dari masyarakat RT 02/RW 05 Pondok
Kacang Timur yang menderita hipertensi sebanyak 36
responden. Pada populasi penelitian ini menunjukkan responden
dengan proporsi yang lebih besar ada pada usia 41 tahun – 60
tahun sebanyak 31 responden atau sekitar 86,1 %. Hal ini
dikarenakan semakin tua usia semakin tinggi resiko hipertensi.
Karena penuaan adalah proses menghilangnya secara perlahan-
lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri, mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
mempertahankan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Bandiyah, 2009). Konsep ini mendukung hasil
penelitian ini yang secara statistik membuktikan bahwa usia
merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian
hipertensi.
Raharjo (2010) juga menyatakan bahwa kejadian
hipertensi ternyata tidak hanya ada pada usia lanjut, namun juga
pada usia dewasa sekitar 30 tahun. Peningkatan kejadian
hipertesi yang dipengaruhi bertambahnya usia terjadi secara
alami dalam proses menua yang didukung oleh faktor ekternal.
Hal itu berkaitan dengan kemampuan jaringan-jaringan di dalam
tubuh semakin menurun dalam mempertahankan fungsinya.
Termasuk pada fungsi organ kardiovaskuler.
Dengan bertambahya usia organ jantung akan mengalami
perubahan dengan dinding vertikal kiri dan katup jantung
menjadi semakin menebal yang menyebabkan pembuluh darah
menurun. Terutama pada usia dewasa dan diiringi dengan pola
hidup tidak sehat. Sehingga menyebabkan meningkatnya
tekanan darah sistolik dan diastolik yang berdampak pada
kejadian hipertensi.
74

b. Jenis Kelamin
Pada populasi penelitian ini, untuk jenis kelamin
responden penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur yang terbayak adalah
responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 26
responden dengan proporsi sebesar 66,7% dan responden laki-
laki sebanyak 12 responden dengan proporsi sebesar 33,3 %.
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, di
mana pria lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan
dengan perempuan, dengan rasio sekitar 2,29 untuk peningkatan
tekana darah sistolik. Laki-laki diduga memiliki gaya hidup yag
cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan
dengan perempuan. Namun setelah memasuki manopause,
pravelensi hipertensi pada perempuan meningkat. Bahkan
setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita lebih
tinggi dibandigkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor
hormonal. Di Indonesia prevalensi yang lebih tinggi terjadi pada
perempuan (Depkes, 2010).
Selain didukung oleh teori di atas, penelitian ini
meunjukkan angka terbanyak pada jenis kelamin perempuan
dengan presentase sebesar 66,7 % dikarenakan jumlah
responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi lebih
banyak berjenis kelamin perempuan. Di mana beberapa
responden yang berjenis kelamin perempuan mengalami
penurunan hormonal karena sudah mengalami manopause.

c. Indeks Masa Tubuh (IMT)


Pada populasi penelitian ini, untuk Indeks Masa Tubuh
(IMT) pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur yang terbanyak adalah
responden yang memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) normal
sebanyak 19 responden dengan proporsi sebesar 52,8 %.
75

Dimana seseorang dikategorikan memiliki IMT normal


memiliki batas ambang 18,5 – 25,0 sedangkan untuk kategori
memiliki IMT berlebih memiliki batas ambang > 25,0.
Menurut Widharto (2007), orang yang kelebihan berat
badan atau obesitas, tubuhnya bekerja lebih keras untuk
membakar kelebihan kalori yang masuk. Pembakaran kalori ini
memerlukan suplai oksigen dalam darah yang cukup. semakin
banyak kalori yang dibakar, semakin banyak pula pasokan
oksigen dalam darah. Banyaknya pasokan darah tentu
menjadikan jantung bekerja lebih keras dan berdampak pada
tekanan darah cenderung menjadi lebih tinggi.
Walaupun di dalam penelitian ini, jumlah terbanyak
adalah responden yang memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT)
normal sebanyak 19 responden dengan proporsi sebesar 52,8 %.
Namun responden dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) berlebih
hanya memiliki selisih 2 responden yaitu sebanyak 17
responden atau 47,2 %. Hal itu mungkin dipengaruhi oleh faktor
inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini.

d. Mengkonsumsi Makanan Berlemak


Pada populasi penelitian ini, responden yang
mengkonsumsi makanan berlemak sebanyak 36 responden atau
100% dari responden mengkonsumsi makanan berlemak. Mulai
dari gorengan, santan, makanan cepat saji, dan lain-lain.
Menurut Gunawan (2007), membatasi konsumsi lemak
dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi. Kadar
kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya
endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Lama-
kelamaan, jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat
pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. Dengan
demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak
langsung memperparah hipertensi.
76

Selain itu lemak tak sehat mangacau keseimbangan


hormonal. Kekacaua hormonal menyebabkan sistem pengaturan
tekanan darah hingga menyebabkan tekanan darah meningkat.
Sebagian orang peka terhadap lemak tertentu. Tekanan darahnya
akan meningkat saat mengkonsumsi lemak yang direspon
negatif olehnya. Namun tidak semua penderita hipertensi
mengalami hal demikian karena setiap orang memiliki respon
yag berbeda-beda (Lingga, 2012).
Berdasarkan jumlah responden dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa 36 responden atau 100 % responden
mengkonsumsi makanan berlemak, maka dapat disimpulkan
bahwa responden memiliki respon yang negatif terhadap lemak.
Respon tersebut menyebabkan endapan kolesterol dalam
dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan darah
tinggi.

e. Mengkonsumsi Garam Berlebih


Pada populasi penelitisan ini, untuk penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur yang
mengkonsumsi garam berlebih adalah sebanyak 29 responden
dengan proporsi 80,6 %. Berdasakan hasil wawancara pada
beberapa responden, mereka terbiasa mengkonsumsi makanan
dengan kandungan garam yang berlebih dengan alasan yang
beragam.
Garam atau natrium sebenarnya merupakan mineral
penting bagi tubuh. Normalnya, ginjal akan mengatur kadar
natrium yang beredar dalam tubuh, dan membuang kelebihan
natrium melalui air seni. Akan tetapi, apabila kadar natrium
tubuh terlalu tinggi, ginjal tidak sanggup mengeluarkan
seluruhnya sehingga natrium akan beredar di dalam pembuluh
darah. Natrium memiliki sifat menarik air ke dalam pembuluh
darah sehingga volume darah meningkat dan terjadilah kenaikan
77

tekanan darah. Sebagian orang sangat sensitif terhadap kenaikan


kadar natrium, sehingga cepat menyebabkan kenaikan tekanan
darah. Orang dengan tekanan darah tinggi, sebaiknya tidak
mengkonsumsi garam lebih dari 2.300 mg atau sekitar satu
sendok per hari (Bahren, dkk 2014).
Dalam beberapa penelitian bagi penderita hipertensi
sangat dianjurkan untuk menghindari dan membatasi makanan
yang dapat meningkatkan kolesterol darah dan meningkatkan
tekanan darah, sehingga penderita hipertensi tidak mengalami
stroke atau infak jantung.

f. Mengkonsumsi Obat Hipertensi


Obat antihipertensi biasanya diresepkan oleh dokter untuk
penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi biasanya ditujukan
untuk mencagah mobiditas dan mortalitas akibat hipertensi.
Pilihan obat masing-masing penderita bergantung pada efek
samping metabolik dan subjektif yang ditimbulkan. Adanya
penyakit penyerta lainnya yang mungkin diperbaiki atau
diperburuk untuk antihipertensi yang dipilih dan adanya
pemberian obat lain yang mungkin berinteraksi dengan
antihipertensi yang diberikan (Ikawati, dkk, 2008)
Pada populasi penelitisan ini, penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur yang
mengkonsumsi obat hipertensi tidak dipilih sebagai responden.
Hal itu disebabkan agar efek samping pemberian hipertensi
tidak mempengaruhi terhadap efek kerja pemberian jus pepaya.

g. Berolahraga
Pada populasi penelitisan ini, untuk penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
sebanyak 21 responden dengan proporsi 58,3 % tidak
78

melakukan olahraga. Sedangkan 15 responden atau sekitar 41,7


% melakukan olahraga namun belum rutin.
Aktivitas fisik diketahui sebagai alat yang efektif dalam
pencegahan primer terhadap kejadian hipertensi. Aktivitas fisik
atau olahraga sangat berguna bagi pasien hipertensi. Pasalnya,
aktivitas fisik berguna untuk melebarkan pembuluh darah
sehingga aliran darah menjadi lancar. Saat berolahraga seluruh
otot di dalam tubuh menjadi aktif memompa darah ke seluruh
tubuh. Mekanisme inilah yang menyehatkan organ jantung
sehingga tekanan darah tetap dalam kondisi normal
(Prasetyaningrum, 2014).
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan
darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan aktivitas fisik
cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih
tinggi karena terjadinya penyempitan pembuluh darah sehingga
aliran darah menjadi tidak lancar. Hal tersebut mengakibatkan
otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Semakin
keras jantung memompa darah, semakin besar pula tekanan
yang dibebankan pada dinding arteri sehingga menaikan tekanan
darah. Selain itu kurangan aktifitas fisik juga dapat
meningkatkan resiko kelebihan berat badan yang akan
menyebabkan risiko hipertensi.

h. Kurang Istirahat
Berdasarkan tabel karakteristik responden pada bab V
menunjukkan hasil penderita hipertensi di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur yaitu mengalami
kurangnya istirahat sebanyak 23 orang dengan proporsi 63,9 %.
Kurang istirahat terutama tidur merupakan salah satu masalah
global yang banyak dialami oleh masyarakat, namun juga paling
sering tidak disadari oleh penderitanya. Meskipun masalah ini
terkesan sederhana, kurang tidur yang berlangsung terus-
79

menerus diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit


kronis seperti serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi,
dan diabetes mellitus (Putri, 2014).
Hubungan antara tidur dan hipertensi telah diketahui.
Sebuah penelitian pernah mempelajari efek dari kurang tidur
pada sukarelawan sehat dan telah meneliti pola tidur penderita
hipertensi. Hasilnya menunjukkan bahwa tidur yang cukup
dapat mengurangi resiko hipertensi. Data dari beberapa studi
menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam
setiap malam, 20% lebih mungkin untuk mengalami tekanan
darah tinggi.
Kurang tidur juga meningkatkan jumlah hormon tiroid
pada orang yang tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Orang
dengan hormon tiroid tinggi memiliki peningkatan tekanan
darah dan gangguan darah yang keluar dari jantung, dan
menyebabkan kontraksi yang tidak dibutuhkan pada jantung.
(Samiadi, 2017).
Kejadian pada orang dewasa yang mangalami kurang tidur
dari enam jam, akan meningkatkan risiko terkena hiertensi.
Karena selain hormon tiriod yang akan menyebabkan kontraksi
pada jantung. Kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko
hipertensi dikarenakan akan menimbulkan efek kelelahan dan
stres, sehingga membuat jantung bekerja lebih keras memompa
darah ke seluruh tubuh.

i. Stress
Berdasarkan tabel karakteristik responden pada bab V
menunjukkan hasil penderita hipertensi di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur terbanyak tidak
mengalami stres sebanyak 29 orang dengan proporsi 80,6 %.
Stres merupakan suatu respon fisiologis, psikologis manusia
80

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan


internal maupun eksternal (Pinel, 2009).
Di dalam dinding jantung dan beberapa pembuluh darah
terdapat suatu reseptor yang selalu memantau perubahan
tekanan darah dalam arteri maupun vena. Jika mendeteksi
perubahan, reseptor ini akan mengirim sinyak ke otak agar
tekanan darah kembali normal. Otak menanggapi sinyal tersebut
dengan dilepaskannya hormon dan enzim yang mempengaruhi
kerja jantung, pembuluh darah dan ginjal. Jika stress terjadi,
yang terlepas adalah hormon epinefrin atau adrenalin. Aktivitas
hormon epinefrin atau adrenalin ini meningkatkan tekanan darah
secara berkala. Jika stres berkepanjangan, peningkatan tekanan
darah menjadi permanen (Marliani dan Tatan, 2007).
Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor
stres berkepanjangan sangat mempengaruhi tekanan darah.
Namun berdasarkan hasil observasi penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur,
mereka mengalami beberapa stres namun tidak berkepanjangan
dan tidak konsisten, sehingga faktor stres dalam penelitian ini
tidak mempengaruhi tekanan darah pada penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur.

2. Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap Penurunan Tekanan


Darah Pada Penderita Hipertensi di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016.
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang tidak normal dan
diukur paling tidak tiga kali dalam waktu atau kesempatan yang
berbeda. Nilai rerata tekanan darah dapat diukur dengan cara
pengukuran tekanan darah menggunakan alat sphygmomanometer dan
melakukannya sesuai dengan standar operasional prosedur (Corwin,
2009). Menurut Rony &.Fatimah (2009) , tekanan darah dipengaruhi
oleh volume darah dan elastisitas pembuluh darah. Peningkatan
81

tekanan darah disebabkan oleh volume darah dan elastisitas darah.


Sedangkan penurunan voume tekanan darah akan menurunkan
tekanan darah.
Tekanan darah adalah tekanan dari aliran darah dalam pembuluh
nadi (arteri). Jantung yang berdetak lazimnya 60 hingga 70 kali dalam
1 menit pada kondisi istirahat (duduk atau berbaring), darah dipompa
menuju pembuluh darah melalui arteri. Tekanan darah paling tinggi
terjadi ketika jantung berdetak memompa darah, yang disebut tekanan
sistolik. Tekanan darah menurun saat jantung rileks diantara dua
denyut nadi, yang disebut tekanan darah diastolik. Tekanan darah
ditulis sebagai tekanan sistolik pertekanan darah diastolik, Kowalksi
(2010).

a. Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik


Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum
Dilakukan Intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai
tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok intervensi
sebelum diberikan jus pepaya adalah sebesar 154,08 nnHg
(sistolik) dengan standar deviasi 9,60 mmHg dan 95, 83 mmHg
(diastolik) dengan standar deviasi 4,47 mmHg. Sementara itu,
pada kelompok kontrol nilai rerata tekanan darah sistolik awal
adalah 150,49 mmHg, dengan standar deviasi 6,47 mmHg dan
tekanan diastolik awal sebesar 98,45 mmHg dengan standar
deviasi 5,58 mmHg. Terlihat nilai rerata tekanan darah sistolik
dan diastolik pada kedua kelompok tidak jauh berbeda sebelum
diberikan jus pepaya.
Berdasarkan hasil uji univariat Shapiro-Wilk nilai
signifikan tekanan darah sistolik sebelum dilakukan intervensi
pada kelompok pemberian jus pepaya adalah 0,478 atau p>0,05
dan tekanan darah diastolik sebesar 0,916 atau p>0,05. Begitu
juga pada tekanan darah sistolik kelompok kontrol adalah 0,164
82

atau p>0,05 dan diastolik sebesar 0,161p>0,05. Sedangkan hasil


uji homogenitas menunjukkan nilai signifikan tekanan darah
sistolik sebelum dilakukan intervensi pada kelompok pemberian
jus pepaya dan kelompok kontrol adalah 0,065 atau p>0,05 dan
tekanan darah diastolik adalah 0,093p>0,05. Hal ini berarti
tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok berdistribusi
normal dan bersifat homogen.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kharisma, dkk
(2012) yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara rata-rata
tekanan darah sistolik dan diastolik pre-test dengan p=0,082 atau
p>0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa tekanan darah pre test
kedua kelompok bersifat homogen.

b. Distribusi Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik


Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sesudah
Dilakukan Intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai
tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok intervensi
sesudah diberikan jus pepaya adalah sebesar 140,07 mmHg
(sistolik) dengan standar deviasi 9,54 mmHg dan 86, 03 mmHg
(diastolik) dengan standar deviasi 5,09 mmHg. Hal ini berarti
terjadi penurunan yang cukup signifikan setelah diberikan jus
pepaya. Sementara itu, pada kelompok kontrol nilai rerata
tekanan darah sistolik awal adalah 149,67 mmHg dengan
standar deviasi 7,15 mmHg dan tekanan diastolik awal sebesar
95,20 mmHg dengan standar deviasi 5,97 mmHg. Hal ini berarti
tidak terjadi penurunan tekanan darah pada kelompok kontrol
karena signifikan dikarenakan selisihnya yang kecil.
Berdasarkan hasil uji univariat Shapiro-Wilk nilai
signifikan tekanan darah sistolik sesudah dilakukan intervensi
pada kelompok pemberian jus pepaya adalah 0,152 atau p>0,05
dan diastolik sebesar 0,444 atau p>0,05. Begitu juga pada
83

tekanan darah sistolik kelompok kontrol adalah 0,683 atau


p>0,05 dan diastolik sebesar 0,582 atau p>0,05. Sedangkan hasil
uji homogenitas menunjukkan nilai signifikan tekanan darah
sistolik sebelum dilakukan intervensi pada kelompok pemberian
jus pepaya dan kelompok kontrol adalah 0,059 atau p>0,05 dan
diastolik sebesar 0,228 atau p>0,05. Hal ini berarti tekanan
darah sistolik dan diastolik pada kelompok berdistribusi normal
dan bersifat homogen.
Menurut penelitian yang dilakukan Nugroho (2014),
penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi bisa
disebabkan karena konsumsi jus pepaya. Karena kandungan gizi
dalam buah pepaya yang sangat mmpengaruhi penurunan
tekanan darah seperti kalium. Kalium merupakan komponen
penting dari sel dan cairan tubuh dan membantu mengontrol
detak jantung dan tekanan darah serta melawan efek natrium.
Salah satu asupan makanan yang mengandung kalium dan
serat adalah buah pepaya. Dari segi kandungan mineral, buah
pepaya masak memiliki kandungan kalium sebesar 257 mg/100
g dan sangat sedikit natrium sebesar 3 mg/100 g (Suryani,
2011). Selain itu, kandungan kalium yang terdapat dalam
pepaya sangat bermanfaat bagi penderita hipertensi. Kalium
merupakan zat gizi yang sangat berperan dalam penurunan
teknan darah. Kalium berperan dalam memperbesar ukuran sel
endotel dan meningkatkan produksi nitric oxide yang akan
memicu reaksi dilatasi dan reaktivasi vaskuler yang akan
menurukan tekanan darah (Safitri, 2015).
84

c. Perbedaan Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik


Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
Hail uji paired t -test menunjukkan rata-rata perubahan
tekanan darah sistolik kelompok intervensi sebelum dan sesudah
diberikan jus pepaya adalah 14,008 dengan standar deviasi
sebesar 2,303 dan rata-rata perubahan tekanan darah diastolik
sebesar 7,261 dengan standar deviasi sebesar 2,404. Hasil uji t-
tes menunjukkan nilai signifikan (2 tailed) pada tekanan darah
sistolik dan diastolik sebesar 0,000 atau p < 0,05 maka dapat
disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan
darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi di wilayah
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur sesudah
intervensi.
Sementara itu, hasil uji paired t –test tekanan darah
sistolik awal dan akhir dari responden kelompok kontrol
didapatkan 0,817 dengan standar deviasi sebesar 2,287 dan
tekanan darah diastolik adalah 0,278 dengan standar deviasi
sebesar 0,853. Hasil uji t-tes menunjukkan nilai signifikan (2
tailed) tekanan darah sistolik dan diastolik adalah 0,148 atau p
> 0,05 dan 0,853 atau p > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan darah diastolik
pada kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur awal dan akhir.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Nugroho (2014), terdapat pengaruh pemberian jus pepaya
terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi
primer di Desa Sukoanyar Kecamatan Turi Kabupaten
Lamongan dengan nilai p = 0,000 yang artinya sangat
signifikan.
Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara tekanan darah diastolik pada kelompok kontrol
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 KelurahanPondok
85

Kacang Timur awal dan akhir. Penurunan tekanan darah setelah


pemberian jus pepaya disebabkan karena kandungan kalium dan
vitamin c dari 150 gr pepaya yang diblender dalam air 100 ml.
Pemberian intervensi dilakukan kepada kelompok intervensi 1
kali sehari pada pagi hari selama 14 hari. Jus dihabiskan
sekaligus.

d. Perbedaan Rerata Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik


Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
Pada penelitian ini, peneliti mencoba membandingkan
nilai rerata tekanan darah sistolik dan diastolik antar kelompok
intervensi dan kelompok kontrol. Oleh karena itu peneliti
melakukan uji independent t-test. Setelah dilakukan intervensi
dan diteliti didapatkan nilai signifikan (2 tailed) untuk tekanan
darah sistolik adalah 0,002 atau p < 0,05 dan diastolik adalah
0,000 atau p < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara
tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok intervensi
dan kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah RT/RW
02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur sebelum dilakukan
intervensi.
Hasil ini juga didukung oleh penelitian lain yang
dilakukan oleh Mariani (2007) dengan jumlah subyek penelitian
sebanyak 47 orang dengan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg
dan diastolik ≥ 90 mmHg, dengan jenis perlakuan pemberian jus
pepaya, jus semangka dan jus melon dengan kandungan kaliun
buah sebanyak 500,2 mg selama 5 hari. Tekanan darah subyek
diukur 5 menit sebelum dan 60 menti setelah perlakuan. Hasil
penelitian menunjukkan terdapat penurunan tekanan darah
sistolik dan diastolik setelah perlakuan pada ketiga kelompok
besar 16,1±2,9 mmHg dan 12,4±2,4 pada kelompok pepaya.
86

Beberapa hasil kajian juga didapatkan untuk mendukung


teori bahwa makanan yang mengandung kalium dapat
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Seperti
halnya yang dikatakan Lovastatin (2008) bahwa para pasein
penderita hipertensi yang diberikan asupan kalium 2,5 gram per
hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik hingga 12 mmHg
dan diastolik hingga 7 mmHg.

E. Keterbatasan Penelitian
Tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan penelitian ini yang
masih memiliki keterbatasan. Sebagai bahan koreksi dan dasar penelitian
selanjutnya agar hasil yang didapatkan maksimal. Peneliti menampilkan
keterbatasan penelitian ini sebagai berikut :
1. Kesulitan dalam mengontrol berbagai faktor yang mempengaruhi
hipertensi seperti stress dan aktifitas fisik.
2. Keterbatasan waktu peneliti untuk mengevaluasi pengaruh pemberian
jus pepaya terhadap kejadian hipertensi.
3. Kesulitan dalam mengontrol terapi komplementer (jenis dan jumlah)
yang dikonsumsi oleh responden kelompok kontrol.
4. Kurang pengetahuan peneliti tentang beberapa takaran atau penyajian
per ml jus pepaya yang efektif untuk menurunkan tekanan darah.
5. Memerlukan asisten penelitian dalam melakukan intervensi terhadap
responden.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian Tentang Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RT/RW 02/05 Kelurahan
Pondok Kacang Timur Tahun 2016. Yang dilakukan terhadap 36 responden
menyimpulkan bahwa :
1. Karakteristik umum responden berusia 41 tahun – 60 tahun (86,1%)
berjenis kelamin perempuan (66,7 %) dan yang memiliki indeks
massa tubuh normal (52,8%). Sementara itu seluruh responden yang
mengkonsumsi makanan berlemak (100%) yang mengkonsumsi
garam berlebih (80,6%) dan mengkonsumsi buah dan sayur yang
mengandung serat (69,4%). Pada penelitian ini responden yang
terpilih memang tidak mengkonsumsi obat hipertensi (100%).
Responden yang tidak rutin berolahraga (58,3%) responden yang
kurang istirahat (63,9%) dan tidak mengalami stres (80,6%).
2. Nilai Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum diberikan jus
pepaya adalah sistolik sebesar 154,08 mmHg dan diastolik 95,83
mmHg.
3. Nilai Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik sesudah diberikan jus
pepaya adalah sistolik sebesar 140,08 mmHg dan diastolik 86,03
mmHg.
4. Nilai Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik awal kelompok
kontrol adalah sistolik sebesar 150,49 mmHg dan diastolik 98,45
mmHg.
5. Nilai Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik akhir kelompok
kontrol adalah sistolik sebesar 149,67 mmHg dan diastolik 95,20
mmHg.
6. Hasil analisis data univariat Shapiro-Wilk menunjukkan tekanan darah
sistolik sebelum dilakukan intervensi pada kelompok pemberian jus
pepaya berdistribusi normal dengan nilai signifikan adalah 0,478.
Tekanan darah sistolik awal pada kelompok kontrol berdistribusi

87
normal dengan nilai signifikan adalah 0,164. Tekanan darah sistolik
sesudah dilakukan intervensi pada kelompok pemberian jus pepaya
berdistribusi normal dengan nilai signifikan adalah 0,152. Tekanan
darah sistolik akhir pada kelompok kontrol berdistribusi normal
dengan nilai signifikan adalah adalah 0,68. Tekanan darah diastolik
sebelum dilakukan intervensi pada kelompok pemberian jus pepaya
berdistribusi normal dengan nilai signifikan adalah 0,916. Tekanan
darah diastolik awal pada kelompok kontrol berdistribusi normal
dengan nilai signifikan adalah 0,161. Tekanan darah diastolik sesudah
dilakukan intervensi pada kelompok pemberian jus pepaya
berdistribusi normal dengan nilai signifikan adalah 0,444. Tekanan
darah diastolik akhir pada kelompok kontrol berdistribusi normal
dengan nilai signifikan adalah 0,582.
7. Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik
pada kelompok pemberian jus pepaya dan kelompok kontrol sebelum
dilakukan intervensi bervarian sama dengan nilai signifikan adalah
0,065. Tekanan darah sistolik pada kelompok pemberian jus pepaya
dan kelompok kontrol sesudah dilakukan intervensi bervarian sama
dengan nilai signifikan adalah 0,059. Tekanan darah diastolik pada
kelompok pemberian jus pepaya dan kelompok kontrol sebelum
dilakukan intervensi bervarian sama dengan nilai signifikan adalah
0,093.Tekanan darah diastolik pada kelompok pemberian jus pepaya
dan kelompok kontrol sesudah dilakukan intervensi bervarian sama
dengan nilai signifikan adalah 0,228.
8. Terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan darah sistolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan rata-
rata perubahan sebesar 14,008 mmHg.
9. Terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan darah diastolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan rata-
rata perubahan sebesar 7,261 mmHg.

88
10. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan darah sistolik
awal dan akhir pada kelompok kontrol penderita hipertensi di wilayah
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
11. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan darah
diastolik awal dan akhir pada kelompok kontrol penderita hipertensi di
wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
12. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistolik
pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sebelum dilakukan intervensi dengan nilai signifikan
sebesar 0,917.
13. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistolik pada
penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sesudah dilakukan intervensi dengan nilai signifikan
0,002.
14. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan darah
diastolik pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05
Kelurahan Pondok Kacang Timur sebelum dilakukan intervensi
dengan nilai signifikan 0,130.
15. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan darah diastolik
pada penderita hipertensi di wilayah RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok
Kacang Timur sesudah dilakukan intervensi dengan nilai signifikan
sebesar 0,000.

89
B. Saran
Sesuai perkembangan penelitian keperawatan yang semakin banyak
dilakukan, angka kejadian hipertensi yang tinggi, dan untuk perkembangan
pelayanan keperawatan. Maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Institusi Pendidikan
Perawat perlu mempelajari lebih mendalam tentang berbagai macam
terapi non farmakologi yang dapat menurunkan tekanan darah. Serta
diajarkan tentang teknik memberikan konseling untuk penderita
hipertensi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
yang dapat disampaikan kepada masyarakat.
2. Bagi masyarakat RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam
menerapkan jus pepaya sebagai alternatif untuk mengatasi masalah
hipertensi.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Peneliti berharap peneliti ini menjadi dasar untuk penelitian
selanjutnya dengan jumlah responden yang lebih banyak dan
bervariasi, waktu observasi yang lebih lama, dan standar operasional
prosedur yang lebih baik. serta mengetahui terlebih dahulu beberapa
takaran penyajian per ml jus pepaya yang dapat mempengaruhi
penurunan tekanan darah.

90
Daftar Pustaka

Agustina, Clara (2017). 10 Manfaat dan Khasiat Jus Pepaya Untuk Kesehatan.
www.khasiat.co.id//minuman/jus-pepaya.html. Diakses pada tanggal
20/04/2017 pukul 22.45

Ali, Iskandar. (2006). Mengatasi Gangguan pada Telinga dengan Tanaman Obat.
Depok : PT AgroMedia Pustaka

Andrea, Gilang Yudhisti (2013). Korelasi Derajat Hipertensi Dengan Stadium


Penyakit Ginjal Kronik Di RSUP DR.Kariadi Semarang Perode 2008-
2012. Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran, Universitas
Diponegoro

Aziz (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta:
EGC

Bahren, Dr. Raehanul, dkk (2014). Edisi XI, Tahun I – Majalah Kesehatan
Muslim : Cegah Stroke Sejak Dini. Jakarta : Pustaka Muslim

Bandiyah, Siti (2009). Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika

Baradero, Mary, dkk (2008). Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan


Kardiovaskuler. Jakarta : EGC

Beverst, D. (2008). Bimbingan Dokter Pada Tekanan Darah. Jakarta : Dian


Rakyat

Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta : Aditya


Media

Dalimartha dan Adrian (2011). Khasiat Buah & Sayuran. Jakarta: Penebar
Swadaya

Dalimartha, Dkk ( 2008). Care Your Self Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus

91
92

Depkes RI (2006). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta:


DEPKES

------------- (2010). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Depkes RI

------------- (2013). Riset Kesehatan Dasar. Diperoleh tanggal 7/10/16

Dharma, K (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta: Trans Info


Media

Djunaedi, Edi, Yulianti S, dan Rinata MG (2013). Hipertensi Kandas Berkat


Herbal. Jakarta: Fmedia

Dr. Genis Ginanjar Wahyu (2009). Stroke Hanya Menyerang Orang Tua.
Yogyakarta: B First

Fachlevy dkk (2016). Pengaruh Pemberian Jus Tomat (Lycopersicum Commune)


Terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolk Dan Diastolik Penderita
Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kalisusu
Kabupaten Buton Utara Tahun 2016.

Fahdah, Septyana Zenada (2014). Studi Komparasi Pengaruh Pemberian Jus Buah
Apel Dan Jus Buah Melon Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia
Penderita Hipertensi Di Panti Wredha Budi Dharma Yogyakarta.
Skripsi, Stikes ‘Aisyiyah

Farwati, Asmi (2012). Pemberian Buah Pepaya Terhadap Tekanan Darah


Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngampilan
Yogyakarta. Skripsi, Stikes ‘Aisyiyah

Gunawan, Decky. Dkk (2007). Pengaruh Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi


L.) Terhadap Penurunan Tekanan Darah. Fakultas kedokteran,
Universitas Kristen Maranatha

Guyton, A. C. & Hall, J. E (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11.
Jakarta: EGC

Hamzah, Amir (2014). Jurus Sukses Bertanam Pepaya California. Jakarta: PT


Argo Media Pustaka
93

Harlinawati, Yuni (2008). Terapi Jus Untuk Rematik dan Asam Urat. Depok :
Puspaswara.

Hidayat, A. Aziz Alimul (2008). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik


Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika

Ikawati, Z, dkk (2008). Kajian Keamanan Pemakaian Obat Antihipertensi di


Poliklinik Usia Lanjut RS DR. Sardjito. Yogyakarta. Jurnal Farmasi
Indonesia Vol. 4 No. 1 : 30-41.

INFODATIN (2014). Hipertensi. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementrian


Kesehatan RI

Junaidy, Iskandar (2010). Hipertensi Pengenalan, Pencegahan dan Pengobatan.


Jakarta: PT Bhuana Ilmu Komputer

Kartasurya, Martha Irene, & Daniati, Ayu Ristia (2015). Pengaruh Penambahan
Minyak Zaitun Terhadap Tekanan Darah Sistolik Penderita Hipertensi
Yang Diberi Jus Tomat. Journal of Nutrition College, 4, 62-70

Kowalski, Robert (2010). Terapi Hipertensi: Program 8 Minggu Menurunkan


Tekanan Darah Tinggi. Alih Bahasa: Reni Ekawati. Bandung: Qanita
Mizan Pustaka

Lingga, Lanny (2012). Bebas Hipertensi Tanpa Obat. Jakarta : PT. Agro Media
Pustaka

Lovastatin, Kohlmeier (2008). Penyakit Jantung dan Tekanan Darah Tinggi.


Jakarta : Prestasi Pustakarya

Lumbantobing, S.M (2008). Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia

Marelli de Souza, L (2008). L-Ascorbic Acid, Beta-Caroten and Lycopen Content


in Papaya Fruit (Carica Papaya) With or Without Physiological Skin
Freckle. Journal Sci. Agri. Braz

Mardiana, Lina (2012). Daun Ajaib Tumpas Penyakit. Jakarta : Penebar Swadaya
Grup.
94

Mariani, Elis dan M. Isnawati (2007). Pengaruh Jus Pepaya (Carica Papaya), Jus
Semangka (Citrullus Vulgaris) dan Jus Melon (Cucumis Melo)
Terhadap Penurunan Tekanan Darah sistolik dan Diastolik.
Universitas Diponegoro

Marliani L dan S Tantan (2007). 100 Question & Answer Hipertensi. Jakarta:
elex Media Komputindo.

Mulyadi, Tedi (2015). 12 Jenis Makanan yang Mengandung Kalium.

http://budisma.net/2015/03/12-jenis-makanan-yang-mengandung-
kalium.html. Diakses tanggal 20/11/2016 pukul 15.23

Muslimah, Rahma (2012). Deskripsi Carica Papaya.


https://rahmamuslimah.wordpress.com/2012/07/05/deskripsi-carica-
papaya/. Diakses tanggal 20/11/2016 pukul 16.45

Muttaqin, Arif (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba

Notoadmodjo, S ( 2010). Metedologi Penelitian Kesehatan. Edisi Rev Jakarta:


Rineka Cipta

Nugroho, Sri Hananto Ponco (2014). Pengaruh Jus Pepaya Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer Di Desa Sukoanyar
Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan 2014. E-Journal, 3, XIX

Nurdin & Lavinea, cici (2015). Pemberian Juice Campuran Tomat dan Mentimun
Terhadap Penurunan Tekanan Darah Kepada Penderita Hipertensi.
Jurnal IPTEK Terapan 9 (1)

Nursalam (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Panduan Skripsi, Tesis Dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Onibala, dkk (2015). Hubungan Beban Kerja Dengan Kejadian Hipertensi Pada
Tenaga Pengajar Di SMA N 1 Amurang Kabupaten Minahasa
Selatan. E-journal Keperawatan (e-Kp), 3, 2
95

Paramita, Sukma (2015). Pengaruh Pemberian Jus Tomat (Lycopersicum


Commune) Terhadap Tekanan Darah Sistolik Dan Diastolik Laki-laki
Hipertensif 40-45 Tahun. Semarang: Universitas Diponegoro

Pinel, J.P.J. (2009). Stres dan Kesehatan Dalam : Biopsikologi Edisi ke – 7.


Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 557-565.

Pondang, dkk (2015). Analisis Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan


Kepatuhan Melaksanakan Diet Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah
Kerja Puskesmas Wolaang Kecamatan Langowan Timur. E-journal
Keperawatan (e-Kp), 3, 2

Prasetyaningrum, Yuni Indah (2014). Hipertensi Bukan Untuk Ditakuti. Jakarta :


FMedia

Pratama, Rizky Agung (2014). Pengaruh Pemberian Jus Mentimun Terhadap


Tekanan Darah Pada Klien Hipertensi Akut di Wilayah Kerja
Puskesmas Ciledug, Tangerang Tahun 2014. Sekolah Tinggi Ilmu
Keperawatan IMC Bintaro.

Puspitorini, Myra (2009). Hipertensi Cara Mudah Mengatasi Tekanan Darah


Tinggi. (Cetakan 3). Yogyakarta: Image Press

Putra, Nusa (2012). Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan. Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada

Putri, Tri Oktariani (2014). Bahaya Kurang Istirahat.


https://www.apki.or.id/bahaya-kurang-istirahat/. Diakses tanggal
28/02/2017 pukul 15.40

Rahajeng, E & Tuminah, S (2009). Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di


Indonesia. Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian
Kesehatan, Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Raharjo, Priyo (2010). Pengaruh Pemberian Jus Tomat Terhadap Perubahan


Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada penderita Hipertensi Di
Desa Wonorejo Kecamatan Lawang Malang Tahun 2007. Jurnal
Keperawatan, ISSN: 2086-3071
96

Ramayulis, Rita (2014). Detox Is Easy. Jakarta: Penebar Plus

Riduwan (2010). Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung : CV Alfa Beta

Rony, Setiawan dan Sari Fatimah (2009). Fisiologi Kardiovaskular : Berbasis


Masalah Keperawatan. Jakarta : EGC

Rudianto (2013). Menaklukan Hipertensi Dan Diabetes. Yogyakarta: Nuha


Medika

Ruslianti,DR,MSi (2007). Sehat Dengan Jus Buah. Jakarta: PT Argo Media


Pustaka

Safitri, Retno (2015). Pengaruh Pemberian Sari Buah Belimbing Wuluh


(Averrhoa Bilimbi L) Terhadap Tekanan Darah Sistolik Tikus
Sprague Dawley. Artikel Penelitian, Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro

Samiadi, Lika Aprilia (2017). Apakah Kekurangan Tidur Bisa Menyebabkan


Tekanan Darah Tinggi?. hellosehat.com/pusat-kesehatan/hipertensi-
tekanan-darah-tinggi/apakah-kekurangan-tidur-bisa-menyebabkan-
darah-tinggi/.Diakses tanggal 20/2/2017 pukul 13.00

Saputra, Roni (2014). Paired t test (Pre – Post) Uji Beda Dua Mean Data
Berpasangan Satu Sampel. www.slideshare.net/evikurniawati/7-
ttestpaireddataberpasangan. Diakses pada tanggal 17/11/16 pukul
12.03

Setiadi (2012). Konsep & Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan
Praktik. Yogyakarta : Graha Ilmu

Situmorang, Paskah Rina (2015). Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan


Kejadian Hipertensi Pada Penderita Rawat Inap Di Rumah Sakit
Umum Sari Mutiara Medan Tahun 2014. Jurnal Ilmiah Keperawatan,
1,1

Sugiyono (2010). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

------------ (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung


: Alfabeta
97

Sugiar, Rani Hardiyanti (2013). Efektivitas Penggunaan Metode Analisis Teks


Teknik Catatan Tulis dan Susun (TS) Pada Pembelajaran Shokyu
Choukai II. Universitas Pendidikan Indonesia.

Superkunam (2010). Manfaat Buah Pepaya, www.google.id. Diakses tanggal


17/11/16 pukul 14.38

Suryani, I (2011).Buah Pepaya Kandungan Gizinya Mencengangkan.


http://healt.indexarticles.com.html. Diakses tanggal 30/11/16 pukul
12.33

Utami, Prapti & Tim Lentera (2006). Terapi Jus Untuk Rematik & Asam Urat.
Jakarta: PT Argo Media Pustaka

Warisno (2007). Budi Daya Pepaya. Yogyakarta: Kanisius

Wibowo, Hendra (2017). Manfaat Minum Jus Pepaya. Manfaat-aneka-


buah.blogspot.com. Diakses tanggal 25/04/2017 pukul 20.03

Widharto (2007). Bahaya Hipertensi. Jakarta : PT Sunda Kelapa Pustaka.

Winarsunu, Tulus (2006). Statistik Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan.


Malang: UMM Press

Wolf, Hanns Peter (2008). Hipertensi. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer

Yugiantoro M (2006). Hipertensi Esensial. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam Jilid 1 Edisi ke IV. Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Riau.
LAMPIRAN

LEMBAR INFORMED CONSENT PENELITIAN

(LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN)

Dengan Hormat,

Saya Retno Sri Yulianti dari STIKes IMC Bintaro sedang melakukan penelitian
dalam rangka menyusun skripsi. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pemberian Jus
Pepaya Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di
RT/RW 02/05 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tahun 2016” yang bertujuan
untuk mengetahui pengaruh pemberian jus pepaya terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi
tambahan ilmu kesehatan mendatang. Saya sangat berharap bapak/ibu bersedia
untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Jawaban akan saya rahasiakan dan tidak
dipublikasikan. Keikut sertaan bapak/ibu bersifat sukarela dan bapak ibu dapat
menolak jika tidak bersedia. Apakah bapak/ibu bersedia untuk berpartisipasi
dalam penelitian ini? (Ya/Tidak).

Jika bersedia, mohon bapak/ibu menandatangani pernyataan dibawah ini:

Saya menyatakan bersedia diikut sertakan dalam penelitian ini dan akan mengisi
kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya.

Tangerang Selatan, 06 November 2016

Penulis Responden

RETNO SRI YULIANTI (........................)

201340010
LEMBAR OBSERVASI
No Urut :
Petunjuk pengisian : jawablah dengan cara mengisi jawaban pada titik-titik yang
disediakan.
I. IDENTITAS
1. Nama Responden :
2. Usia Responden :
3. BB/TB :
4. Jenis kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan

II. Asupan makanan


1. Mengkonsumsi makanan berlemak :
Ya Tidak

2. Mengkonsumsi garam berlebihan :


Ya Tidak

3. Mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung serat :


Ya Tidak

4. Mengkonsumsi obat hipertensi


Ya Tidak

III. Pola hidup


1. Berolahraga :
Ya Tidak

2. Kurang istirahat
Ya Tidak

3. Stres
Ya Tidak

catatan : indikator asupan makanan dan pola hidup yang mempengaruhi hipertensi dibuat
berdasarkan pendapat Wong (2008).
INSTRUMEN
TEKANAN DARAH SEBELUM DAN SESUDAH PERLAKUAN

No Urut :
Nama Responden :
Jenis perlakuan:

Petunjuk pengisian :
1. Responden akan diberi perlakuan secara berturut-turut selama 14 hari.
2. Tekanan darah akan di cek 1 jam sebelum dan sesudah perlakuan
3. Tekanan darah diperiksa dan di catat langsung oleh peneliti.

Hari/tanggal Tekanan darah sebelum di beri Tekanan darah setelah


perlakuan dilakukan perlakuan
Sistolik Diastolik Sistolik Diastolik
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
PEMBUATAN JUS PEPAYA UNTUK PENDERITA HIPERTENSI

A. Pengertian
Jus pepaya adalah minuman yang terbuat dari campuran buah pepaya
dan air yang dihaluskan menggunakan blender. Jus pepaya ini banyak
mengandung unsur potensial bagi tubuh sehingga jus pepaya dapat
dijadikan minuman bagi kesehatan.
B. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus pepaya dengan perubahan
tekanan darah sistolik dan diastolik.
C. Manfaat/khasiat jus pepaya
1. Membantu mengobati kanker
2. Baik untu kesehatan kulit
3. Menyehatkan saluran pencernaan
4. Mengurangi kram menstruasi
5. Meningkatkan kekebalan tubuh
6. Membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah
D. Prosedur pelaksanaan :
1. Tahap Prainteraksi
a. Mencuci tangan
b. Menyiapkan alat dan bahan (Blender, pisau, gelas, buah tomat,
dan air)
2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam teraupetik
b. Menjaga privacy pasien
c. Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada
pasien.
3. Tahap Kerja
Cara membuat jus pepaya :
a. Siapkan pepaya yang sudah matang sebanyak 150 gr.
b. Kupas kulit pepaya terlebih dahulu
c. Cuci buah pepaya hingga bersih.
d. Potong-potong buah pepaya hingga menjadi kecil. Agar mudah
memblendernya.
e. Masukkan buah pepaya yang sudah dicuci dan di potong ke
dalam blender
f. Tambahkan air putih 100 ml
g. Pepaya siap di blender dan setelah di blender
h. Jus pepaya siap dihidangkan.
Prosedur :
a. Berikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya jika ada
yang kurang jelas.
b. Mengukur tekanan darah pasien.
c. Atur posisi nyaman pasien.
d. Berikan jus pepaya kepada pasien dengan dosis 250 ml, yang
dibuat dari 150 gr pepaya dan air 100 ml.
e. Evaluasi hasil dengan mengukur tekanan darah pasien setelah 1
jam diberikan jus pepaya.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi hasil kegiatan.
b. Lakukan kontrak untuk mengetahui kegiatan selanjutnya.
c. Akhiri kegiatan dengan baik
5. Dokumentasi
a. Catat waktu pelaksanaan tindakan
b. Catat hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah
pemberian jus tomat
c. Paraf dan nama perawat.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
PENGUKURAN TEKANAN DARAH

A. Pengertian
Pengukuran tekanan darah adalah mengukur tekanan yang dihasilkan oleh
darah terhadap pembuluh darah seseorang dengan menggunakan alat
sphygmomanometer (air raksa, jarum/aneroid, dan digital).
B. Tujuan
Mendapatkan data obyektif tekanan darah sistolik dan tekanan darah
diastolik.
C. Persiapan Alat
1. Sphygmomanometer (air raksa, jarum/aneroid, dan digital).
2. Stetoskop
3. Lembar Observasi
4. Pulpen
D. Prosedur Pelaksanaan
1. Pra-Interaksi
a. Lakukan pengecekan alat untukmemastikan alat dapat digunakan,
untuk mencegah hasil pengukuran yang keliru atau salah.
b. Pastikan ruangan atau tempat yang dipakai untuk pemeriksaan
nyaman dan tenang.
c. Mencuci tangan 7 benar.
2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam terapeutik.
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien.
c. Beritahu klien agar tidak merokok atau meminum minuman yang
mengandung alkohol dan kafein.
d. Apabila klien baru datang, klien disuruh tunggu untuk duduk
istirahat terlebih dahulu. Karena aktivitas dapat mempengaruhi
tekanan darah menjadi meningkat.
e. Menanyakan kesiapan klien sebelum pemeriksaan dilakukan.
3. Tahap Kerja
a. Mengatur posisi klien; apabila klien duduk, letakkan lengan pada
meja yang lebih tinggi sedikit dari pinggang klien dengan lengan
diletakkan lurus diatas meja sejajar dengan jantung. Sedangkan,
pada klien dengan posisi tidur cukup di luruskan saja.
b. Posisi tangan supinasi.
c. Pastikan lengan yang akan diperiksa tidak tertutupi pakaian yang
tebal.
d. Palpasi arteri brakhialis untuk memastikan denyut nadinya teraba.
e. Pasang manset pada lengan atas 3 cm diatas fossa cubbiti.
f. Pasang stetoskop dibawah manset pas diatas arteri brakhialis untuk
memudahkan auskultasi.
g. Memasang manset jangan terlalu ketat atau terlalu longgar, tetapi
yang pas melekat pada lengan atas.
h. Tentukan denyut nadi radialis.
i. Pompa balon manset sampai tekanan pada manset bertambah
sampai nadi radialis tidak teraba dan tambah kembali tekanan kira-
kira 20 mmHg setelah nadi tidak teraba.
j. Turunkan tekanan manset dengan memutar katup pompa secara
perlahan.
k. Dengarkan bunyi nadi menggunakan stetoskopdan perhatikan
bunyi yang terdengar. Pada mula-mula tidak akan terdengarbunyi,
setelah diturunkan lagi maka akan terdengar suara mengetuk (duk),
tandanya darah mulai melewati arteri yang sebelumnyatertekan
oleh manset sehingga terdengar bunyi turbulensi. Bunyi yang
terdengar disebut juga bunyi korotkoff.
l. Ingat-ingat angka pada tensimeter, bunyi “duk” pertama adalah
untuk tekanan sistolik dan bunyi “duk” terakhir adalah tekanan
diastolik.
m. Beritahu klien hasil pengukuran tekanan darahnya.
4. Tahap Terminasi
a. Mencatat hasil pengukuran dalam lembar observasi.
b. Membereskan alat.
c. Mencuci tangan.
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Intervensi

Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 60 56/165 150 100 130 80 150 100 130 80 140 90 130 90 130 80 130 80
2 P 46 60/155 140 90 130 90 140 80 120 70 130 80 120 70 140 90 120 70
3 L 57 54/165 140 90 130 80 140 90 120 80 140 80 120 80 140 90 130 90
4 L 58 64/160 190 130 180 130 160 110 150 100 170 120 160 120 160 100 150 100
5 P 46 76/155 180 100 170 100 170 100 160 100 150 90 140 90 160 100 150 100
6 P 50 58/150 150 90 140 90 160 100 150 100 160 100 140 100 140 100 130 90
7 P 30 45/150 160 100 140 90 160 140 150 100 150 100 140 90 150 100 140 90
8 P 48 64/150 180 120 160 110 170 100 150 90 160 90 150 90 160 90 150 90
9 P 57 72/163 190 130 170 120 180 100 160 100 160 100 150 90 160 100 150 90
10 P 39 50/160 180 120 170 100 180 100 170 90 170 100 160 90 160 100 150 90
11 P 47 64/155 180 110 170 100 180 100 170 90 160 100 150 100 150 100 140 100
12 L 60 56/170 150 100 140 90 130 100 120 90 140 90 130 90 130 100 120 100
13 P 59 58/160 160 100 140 90 150 100 130 100 140 100 130 90 140 100 130 90
14 P 59 56/155 160 100 150 90 160 100 150 100 160 100 150 100 160 100 150 100
15 L 60 75/160 140 90 130 90 150 100 140 90 150 90 130 80 140 90 130 80
16 P 50 55/160 180 120 170 110 180 110 170 90 170 110 150 100 170 120 160 90
17 P 42 72/165 180 110 160 100 160 100 150 90 160 90 150 90 160 100 150 100
18 L 52 75/170 200 140 190 130 190 120 180 120 190 120 180 110 180 110 170 110
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Intervensi

Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 60 56/165 140 100 130 90 140 100 120 90 140 90 130 80 140 90 130 80
2 P 46 60/155 140 100 130 90 140 100 130 90 130 80 120 70 140 90 120 80
3 L 57 54/165 150 100 130 90 140 100 130 100 140 90 130 70 140 90 135 80
4 L 58 64/160 150 100 140 100 160 110 160 100 180 120 170 120 180 120 170 110
5 P 46 76/155 150 90 140 90 150 100 140 100 150 100 140 90 150 100 140 90
6 P 50 58/150 140 90 120 80 140 100 130 90 150 100 140 90 150 100 140 90
7 P 30 45/150 150 100 140 90 150 100 140 90 150 90 140 90 150 100 140 90
8 P 48 64/150 170 110 160 90 170 100 160 100 170 100 160 90 170 100 150 90
9 P 57 72/163 150 110 140 100 160 100 150 90 170 110 160 100 170 100 160 100
10 P 39 50/160 150 90 140 90 160 100 150 90 170 100 160 90 160 90 150 90
11 P 47 64/155 140 100 130 100 150 100 140 90 180 100 170 100 170 90 160 90
12 L 60 56/170 130 90 130 90 140 100 130 100 140 90 130 80 130 80 120 80
13 P 59 58/160 130 90 120 90 150 100 140 90 160 100 140 90 140 90 130 80
14 P 59 56/155 140 100 130 100 140 100 130 90 150 100 140 90 140 90 130 90
15 L 60 75/160 130 90 120 90 140 90 130 90 140 90 120 70 140 100 130 80
16 P 50 55/160 160 100 150 100 150 110 150 110 170 120 160 110 170 120 160 110
17 P 42 72/165 160 100 160 90 170 100 160 100 180 110 170 100 170 120 160 110
18 L 52 75/170 170 110 160 100 180 110 170 100 180 110 170 110 180 140 170 130
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Intervensi

Hari 9 Hari 10 Hari 11 Hari 12


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 60 56/165 150 100 140 80 150 90 140 80 140 90 120 80 150 90 130 80
2 P 46 60/155 140 90 120 70 140 100 130 80 140 90 120 70 140 90 130 90
3 L 57 54/165 140 100 130 90 130 80 120 80 130 80 120 80 130 90 120 80
4 L 58 64/160 170 120 160 120 160 110 150 100 160 100 150 100 160 100 150 100
5 P 46 76/155 150 100 140 100 160 100 150 100 150 100 140 100 150 100 140 100
6 P 50 58/150 150 100 130 90 140 90 130 80 140 100 130 90 140 90 130 80
7 P 30 45/150 150 90 140 90 140 90 130 90 140 90 130 80 140 90 130 80
8 P 48 64/150 160 100 150 100 160 90 150 90 150 100 140 90 150 100 140 90
9 P 57 72/163 170 90 160 90 170 100 160 100 170 110 160 100 160 110 150 100
10 P 39 50/160 150 90 140 90 150 100 140 90 150 100 140 90 150 100 140 90
11 P 47 64/155 160 90 150 90 160 100 150 100 150 100 140 90 150 100 140 90
12 L 60 56/170 150 90 130 90 150 100 130 90 140 100 130 90 140 90 130 80
13 P 59 58/160 140 100 130 90 140 90 130 90 140 90 130 80 140 90 130 80
14 P 59 56/155 130 90 130 80 130 90 130 80 140 90 130 80 140 90 130 80
15 L 60 75/160 140 90 130 80 140 90 120 80 140 90 120 70 140 90 130 80
16 P 50 55/160 160 110 160 100 160 100 150 100 150 100 140 90 150 100 140 90
17 P 42 72/165 160 100 150 90 150 90 140 90 150 100 140 90 150 100 140 90
18 L 52 75/170 170 130 160 120 160 120 150 100 160 120 150 100 160 120 150 110
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Intervensi

Hari 13 Hari 14
No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D
1 P 60 56/165 130 80 130 80 140 90 130 80
2 P 46 60/155 130 80 120 70 130 80 120 70
3 L 57 54/165 140 90 130 90 130 90 120 80
4 L 58 64/160 150 100 140 90 140 90 130 80
5 P 46 76/155 140 90 130 80 140 90 130 80
6 P 50 58/150 140 90 130 80 140 90 130 80
7 P 30 45/150 140 90 130 80 130 80 120 70
8 P 48 64/150 150 100 140 90 140 90 130 80
9 P 57 72/163 150 100 140 90 140 90 130 80
10 P 39 50/160 140 90 130 80 130 80 120 70
11 P 47 64/155 140 90 130 80 130 80 120 70
12 L 60 56/170 140 90 130 80 140 90 130 80
13 P 59 58/160 140 90 130 80 140 90 130 80
14 P 59 56/155 140 90 130 80 140 90 130 80
15 L 60 75/160 140 90 130 80 140 90 130 80
16 P 50 55/160 150 100 140 90 140 90 130 80
17 P 42 72/165 150 100 140 90 140 90 130 80
18 L 52 75/170 160 120 150 110 150 100 140 90
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Kontrol

Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 50 55/155 140 90 140 90 140 100 140 100 150 100 150 100 140 90 140 90
2 P 52 49/157 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
3 P 60 60/155 150 100 150 100 150 100 150 100 160 120 160 120 160 120 160 120
4 P 36 72/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
5 P 44 65/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
6 P 35 45/155 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
7 L 51 70/ 160 160 110 160 110 150 100 150 100 160 110 160 110 160 110 160 110
8 P 48 50/155 150 100 150 100 150 100 150 100 160 120 160 120 160 120 160 120
9 P 60 73/160 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
10 L 48 65/165 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
11 L 47 72/167 170 110 170 110 170 110 170 110 160 120 160 120 160 110 160 110
12 P 48 73/160 160 110 160 110 150 100 150 100 150 100 150 100 160 120 160 120
13 L 60 70/160 160 100 160 100 160 100 160 100 160 100 160 100 160 100 160 100
14 L 60 64/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
15 L 51 65/160 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100 150 100 150 100
16 P 37 67/155 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
17 L 49 60/165 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
18 p 45 72/160 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110 150 100 150 100
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Kontrol

Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 50 55/155 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
2 P 52 49/157 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
3 P 60 60/155 160 120 160 120 160 120 160 120 150 100 150 100 150 100 150 100
4 P 36 72/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90
5 P 44 65/160 160 120 160 120 160 120 160 120 150 100 150 100 150 100 150 100
6 P 35 45/155 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
7 L 51 70/ 160 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110 160 110
8 P 48 50/155 160 100 160 100 160 100 160 100 160 120 160 120 150 100 150 100
9 P 60 73/160 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
10 L 48 65/165 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90
11 L 47 72/167 160 110 160 110 160 110 160 110 160 120 160 120 160 110 160 110
12 P 48 73/160 150 100 150 100 150 100 150 100 160 120 160 120 160 110 160 110
13 L 60 70/160 150 100 150 100 160 120 160 120 160 120 160 120 160 100 160 100
14 L 60 64/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
15 L 51 65/160 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90
16 P 37 67/155 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100
17 L 49 60/165 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90 150 100 150 100
18 p 45 72/160 160 110 160 110 150 100 150 100 150 100 150 100 160 110 160 110
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Kontrol

Hari 9 Hari 10 Hari 11 Hari 12


No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D S D S D S D S D
1 P 50 55/155 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
2 P 52 49/157 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100 150 100 150 100
3 P 60 60/155 160 120 160 120 160 120 160 120 150 100 150 100 150 100 150 100
4 P 36 72/160 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
5 P 44 65/160 150 100 150 100 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90
6 P 35 45/155 150 100 150 100 150 100 150 100 140 90 140 90 150 100 150 100
7 L 51 70/ 160 160 110 160 110 160 110 160 110 160 120 160 120 150 110 150 110
8 P 48 50/155 160 100 160 100 160 100 160 100 150 100 150 100 150 100 150 100
9 P 60 73/160 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
10 L 48 65/165 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90
11 L 47 72/167 160 110 160 110 160 110 160 110 170 120 170 120 160 110 160 110
12 P 48 73/160 150 100 150 100 150 100 150 100 160 120 160 120 150 100 150 100
13 L 60 70/160 160 120 160 120 160 120 160 120 160 100 160 100 160 120 160 120
14 L 60 64/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
15 L 51 65/160 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90 140 90
16 P 37 67/155 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100 140 90 140 90
17 L 49 60/165 150 100 150 100 140 90 140 90 140 90 140 90 150 100 150 100
18 p 45 72/160 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100 150 100
Data Tekanan Darah Responden Kelompok Kontrol

Hari 13 Hari 14
No JK usia BB/TB Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
S D S D S D S D
1 P 50 55/155 150 100 150 100 150 100 150 100
2 P 52 49/157 140 90 140 90 140 90 140 90
3 P 60 60/155 150 100 150 100 150 100 150 100
4 P 36 72/160 140 90 140 90 150 100 150 100
5 P 44 65/160 140 90 140 90 140 90 140 90
6 P 35 45/155 150 100 150 100 140 90 140 90
7 L 51 70/ 160 160 120 160 120 150 110 150 110
8 P 48 50/155 150 100 150 100 150 100 150 100
9 P 60 73/160 140 90 140 90 140 90 140 90
10 L 48 65/165 140 90 140 90 140 90 140 90
11 L 47 72/167 160 110 160 110 160 120 160 170
12 P 48 73/160 160 110 160 110 160 110 160 110
13 L 60 70/160 160 120 160 120 150 100 150 100
14 L 60 64/160 150 100 150 100 150 100 150 100
15 L 51 65/160 140 90 140 90 140 90 140 90
16 P 37 67/155 150 100 150 100 150 100 150 100
17 L 49 60/165 150 100 150 100 140 90 140 90
18 p 45 72/160 160 110 160 110 150 100 150 100
Warning # 849 in column 23. Text: in_ID
The LOCALE subcommand of the SET command has an invalid parameter. It could
not be mapped to a valid backend locale.
FREQUENCIES VARIABLES=jeniskelamin usia imt lemak garam buah obathipertensi olahraga kurangistirahat Stres
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN MODE
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

Statistics

Mengkonsumsi
Mengkonsumsi Mengkonsumsi Buah dan Sayur
Jenis Makanan Garam yang Mengandung Mengkonsumsi Kurang
Kelamin Usia IMT Berlemak Berlebihan Serat Obat Hipertensi Berolahraga Istirahat Stress

N Valid 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36

Missing 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Mean 1,67 1,86 2,47 1,00 1,19 1,31 2,00 1,58 1,36 1,81
Median 2,00 2,00 2,00 1,00 1,00 1,00 2,00 2,00 1,00 2,00
Mode 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2
Std. Deviation ,478 ,351 ,506 ,000 ,401 ,467 ,000 ,500 ,487 ,401
Minimum 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1
Maximum 2 2 3 1 2 2 2 2 2 2
Frequency Table

Jenis Kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-Laki 12 29,3 33,3 33,3

Perempuan 24 58,5 66,7 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Usia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 30 tahun - 40 tahun 5 12,2 13,9 13,9

41 tahun - 60 tahun 31 75,6 86,1 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

IMT

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Berat Badan Normal 19 46,3 52,8 52,8

Berat Badan Berlebih 17 41,5 47,2 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Mengkonsumsi Makanan Berlemak

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 36 87,8 100,0 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0
Mengkonsumsi Garam Berlebihan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 29 70,7 80,6 80,6

Tidak 7 17,1 19,4 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Mengkonsumsi Buah dan Sayur yang Mengandung Serat

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 25 61,0 69,4 69,4


tidak 11 26,8 30,6 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Mengkonsumsi Obat Hipertensi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak 36 87,8 100,0 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Berolahraga

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 15 36,6 41,7 41,7

tidak 21 51,2 58,3 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0
Kurang Istirahat

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 23 56,1 63,9 63,9

Tidak 13 31,7 36,1 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0

Stress

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ya 7 17,1 19,4 19,4

Tidak 29 70,7 80,6 100,0

Total 36 87,8 100,0


Missing System 5 12,2
Total 41 100,0
EXAMINE VARIABLES=sistolikpre sistolikpost diastolikpre
diastolikpost BY kelompok3
/PLOT BOXPLOT STEMLEAF HISTOGRAM NPPLOT SPREADLEVEL
/COMPARE GROUPS
/STATISTICS DESCRIPTIVES
/CINTERVAL 95
/MISSING LISTWISE
/NOTOTAL.

Explore

Kelompok

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

Kelompok N Percent N Percent N Percent

Tekanan Darah Sistolik 1 18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%


Sebelum Dilakukan 2
18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Intervensi
Tekanan Darah Sistolik 1 18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Sesudah Dilakukan 2
18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Intervensi
Tekanan Darah Diastolik 1 18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Sebelum Dilakukan 2
18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Intervensi
Tekanan Darah Diastolik 1 18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Sesudah Dilakukan 2
18 100,0% 0 0,0% 18 100,0%
Intervensi
Descriptives

Std.
Kelompok Statistic Error

Tekanan Darah 1 Mean 154,0872 2,26409


Sistolik Sebelum 95% Confidence Interval for Lower Bound 149,3104
Dilakukan Mean Upper Bound 158,8640
Intervensi
5% Trimmed Mean 153,7475

Median 153,0350

Variance 92,270

Std. Deviation 9,60574

Minimum 140,36

Maximum 173,93

Range 33,57

Interquartile Range 16,34

Skewness ,404 ,536

Kurtosis -,795 1,038

2 Mean 150,4967 1,52534

95% Confidence Interval for Lower Bound 147,2785


Mean Upper Bound 153,7149

5% Trimmed Mean 150,3141

Median 149,4650

Variance 41,880

Std. Deviation 6,47149

Minimum 142,14

Maximum 162,14

Range 20,00

Interquartile Range 11,43

Skewness ,354 ,536

Kurtosis -1,250 1,038


Tekanan Darah 1 Mean 140,0789 2,24898
Sistolik Sesudah 95% Confidence Interval for Lower Bound 135,3340
Dilakukan Mean Upper Bound 144,8238
Intervensi 5% Trimmed Mean 139,8693
Median 139,8200
Variance 91,042
Std. Deviation 9,54161
Minimum 126,43
Maximum 157,50
Range 31,07
Interquartile Range 18,94
Skewness ,180 ,536
Kurtosis -1,353 1,038
2 Mean 149,6794 1,68654
95% Confidence Interval for Lower Bound 146,1212
Mean Upper Bound 153,2377
5% Trimmed Mean 149,8260
Median 148,3900
Variance 51,199
Std. Deviation 7,15537
Minimum 135,29
Maximum 161,43
Range 26,14
Interquartile Range 11,61
Skewness -,045 ,536
Kurtosis -,692 1,038
Tekanan Darah 1 Mean 95,8328 1,05571
Diastolik 95% Confidence Interval for Lower Bound 93,6054
Sebelum Mean Upper Bound 98,0601
Dilakukan 5% Trimmed Mean 95,7270
Intervensi Median 96,0700
Variance 20,061
Std. Deviation 4,47901
Minimum 88,57
Maximum 105,00
Range 16,43
Interquartile Range 6,07
Skewness ,106 ,536
Kurtosis -,382 1,038
2 Mean 98,4528 1,31595
95% Confidence Interval for Lower Bound 95,6764
Mean Upper Bound 101,2292
5% Trimmed Mean 98,4398
Median 96,7850
Variance 31,171
Std. Deviation 5,58310
Minimum 90,00
Maximum 107,14
Range 17,14
Interquartile Range 10,18
Skewness ,170 ,536
Kurtosis -1,457 1,038
Tekanan Darah 1 Mean 88,5711 1,20033
Diastolik 95% Confidence Interval for Lower Bound 86,0386
Sesudah Mean Upper Bound 91,1036
Dilakukan
5% Trimmed Mean 88,7696
Intervensi
Median 88,5700

Variance 25,934

Std. Deviation 5,09258

Minimum 77,14

Maximum 96,43

Range 19,29

Interquartile Range 6,25

Skewness -,666 ,536

Kurtosis ,047 1,038

2 Mean 98,1739 1,40734

95% Confidence Interval for Lower Bound 95,2047


Mean Upper Bound 101,1431

5% Trimmed Mean 98,1693

Median 96,7850

Variance 35,651

Std. Deviation 5,97083

Minimum 87,86

Maximum 108,57

Range 20,71

Interquartile Range 9,82

Skewness ,135 ,536

Kurtosis -1,037 1,038


Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Tekanan Darah Sistolik 1 ,130 18 ,200* ,953 18 ,478


Sebelum Dilakukan Intervensi 2 ,142 18 ,200* ,926 18 ,164
Tekanan Darah Sistolik 1 ,153 18 ,200* ,924 18 ,152
Sesudah Dilakukan Intervensi 2 ,117 18 ,200* ,964 18 ,683
Tekanan Darah Diastolik 1 ,096 18 ,200* ,977 18 ,916
Sebelum Dilakukan Intervensi 2 ,149 18 ,200* ,925 18 ,161
Tekanan Darah Diastolik 1 ,167 18 ,199 ,951 18 ,444
Sesudah Dilakukan Intervensi 2 ,147 18 ,200* ,959 18 ,582

*. This is a lower bound of the true significance.


a. Lilliefors Significance Correction

Test of Homogeneity of Variance

Levene
Statistic df1 df2 Sig.

Tekanan Darah Based on Mean 3,649 1 34 ,065


Sistolik Sebelum Based on Median 3,177 1 34 ,084
Dilakukan Intervensi Based on Median and with
3,177 1 28,889 ,085
adjusted df

Based on trimmed mean 3,475 1 34 ,071


Tekanan Darah Based on Mean 3,806 1 34 ,059
Sistolik Sesudah Based on Median 3,752 1 34 ,061
Dilakukan Intervensi Based on Median and with
3,752 1 33,971 ,061
adjusted df
Based on trimmed mean 3,774 1 34 ,060
Tekanan Darah Based on Mean 2,980 1 34 ,093
Diastolik Sebelum Based on Median 1,747 1 34 ,195
Dilakukan Intervensi Based on Median and with
1,747 1 33,069 ,195
adjusted df
Based on trimmed mean 2,967 1 34 ,094
Tekanan Darah Based on Mean 1,508 1 34 ,228
Diastolik Sesudah Based on Median 1,047 1 34 ,313
Dilakukan Intervensi Based on Median and with
1,047 1 33,868 ,313
adjusted df

Based on trimmed mean 1,464 1 34 ,235


DATASET ACTIVATE DataSet1.
DATASET CLOSE DataSet2.
T-TEST GROUPS=kelompok3(1 2)
/MISSING=ANALYSIS
/VARIABLES=sistolikpre sistolikpost diastolikpre diastolikpost
/CRITERIA=CI(.95).

T-Test

Group Statistics

Kelomp Std. Error


ok N Mean Std. Deviation Mean

Tekanan Darah Sistolik 1 18 154,0872 9,60574 2,26409


Sebelum Dilakukan Intervensi 2 18 150,4967 6,47149 1,52534
Tekanan Darah Sistolik 1 18 140,0789 9,54161 2,24898
Sesudah Dilakukan Intervensi 2 18 149,6794 7,15537 1,68654
Tekanan Darah Diastolik 1 18 95,8328 4,47901 1,05571
Sebelum Dilakukan Intervensi 2 18 98,4528 5,58310 1,31595
Tekanan Darah Diastolik 1 18 88,5711 5,09258 1,20033
Sesudah Dilakukan Intervensi 2 18 98,1739 5,97083 1,40734
Independent Samples Test

Levene's Test for


Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval

Sig. Mean Std. Error of the Difference

F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Tekanan Darah Sistolik Sebelum Equal variances assumed 3,649 ,065 1,315 34 ,197 3,59056 2,72998 -1,95743 9,13855
Dilakukan Intervensi Equal variances not assumed 1,315 29,796 ,198 3,59056 2,72998 -1,98641 9,16752
Tekanan Darah Sistolik Sesudah Equal variances assumed 3,806 ,059 -3,415 34 ,002 -9,60056 2,81111 -15,31341 -3,88770
Dilakukan Intervensi Equal variances not assumed -3,415 31,526 ,002 -9,60056 2,81111 -15,32996 -3,87115
Tekanan Darah Diastolik Equal variances assumed 2,980 ,093 -1,553 34 ,130 -2,62000 1,68708 -6,04857 ,80857
Sebelum Dilakukan Intervensi Equal variances not assumed -1,553 32,473 ,130 -2,62000 1,68708 -6,05452 ,81452
Tekanan Darah Diastolik Equal variances assumed 1,508 ,228 -5,192 34 ,000 -9,60278 1,84970 -13,36182 -5,84373
Sesudah Dilakukan Intervensi Equal variances not assumed -5,192 33,174 ,000 -9,60278 1,84970 -13,36527 -5,84028
Warning # 849 in column 23. Text: in_ID
The LOCALE subcommand of the SET command has an invalid parameter.
It could
not be mapped to a valid backend locale.
GET
FILE='G:\cek\normalitas & homogenitas data - Copy.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
NEW FILE.
DATASET NAME DataSet2 WINDOW=FRONT.
T-TEST PAIRS=eks.sistolikpretes eks.diastolikpre ktrl.sistolikpre
ktrl.diastolikpre WITH eks.sistolikpost eks.diastolikpost
ktrl.sistolikpost ktrl.diastolikpost (PAIRED)
/CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.

T-Test

[DataSet2]

Paired Samples Statistics

Std. Error
Mean N Std. Deviation Mean

Pair 1 Tekanan Darah Sistolik


Kelompok Jus Pepaya Sebelum 154,0872 18 9,60574 2,26409
Dilakukan Intervensi

Tekanan Darah Sistolik


Kelompok Jus Pepaya Sesudah 140,0789 18 9,54161 2,24898
Dilakukan Intervensi
Pair 2 Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Jus Pepaya Sebelum 95,8328 18 4,47901 1,05571
Dilakukan Intervensi
Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Jus Pepaya Sesudah 88,5711 18 5,09258 1,20033
Dilakukan Intervensi
Pair 3 Tekanan Darah Sistolik
150,4967 18 6,47149 1,52534
Kelompok Kontrol Awal
Tekanan Darah Sistolik
149,6794 18 7,15537 1,68654
Kelompok Kontrol Akhir
Pair 4 Tekanan Darah Diastolik
98,4528 18 5,58310 1,31595
Kelompok Kontrol Awal
Tekanan Darah Diastolik
98,1739 18 5,97083 1,40734
Kelompok Kontrol Akhir
Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 Tekanan Darah Sistolik


Kelompok Jus Pepaya Sebelum
Dilakukan Intervensi & Tekanan
18 ,971 ,000
Darah Sistolik Kelompok Jus
Pepaya Sesudah Dilakukan
Intervensi
Pair 2 Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Jus Pepaya Sebelum
Dilakukan Intervensi & Tekanan
18 ,882 ,000
Darah Diastolik Kelompok Jus
Pepaya Sesudah Dilakukan
Intervensi
Pair 3 Tekanan Darah Sistolik
Kelompok Kontrol Awal &
18 ,949 ,000
Tekanan Darah Sistolik
Kelompok Kontrol Akhir
Pair 4 Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Kontrol Awal &
18 ,991 ,000
Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Kontrol Akhir
Paired Samples Test

Paired Differences

95% Confidence
Interval of the

Std. Std. Error Difference Sig. (2-


Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed)

Pair 1 Tekanan Darah Sistolik


Kelompok Jus Pepaya Sebelum
Dilakukan Intervensi - Tekanan
14,00833 2,30324 ,54288 12,86296 15,15371 25,804 17 ,000
Darah Sistolik Kelompok Jus
Pepaya Sesudah Dilakukan
Intervensi
Pair 2 Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Jus Pepaya Sebelum
Dilakukan Intervensi - Tekanan
7,26167 2,40404 ,56664 6,06616 8,45717 12,815 17 ,000
Darah Diastolik Kelompok Jus
Pepaya Sesudah Dilakukan
Intervensi
Pair 3 Tekanan Darah Sistolik
Kelompok Kontrol Awal -
,81722 2,28700 ,53905 -,32007 1,95452 1,516 17 ,148
Tekanan Darah Sistolik
Kelompok Kontrol Akhir
Pair 4 Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Kontrol Awal -
,27889 ,85343 ,20115 -,14551 ,70329 1,386 17 ,184
Tekanan Darah Diastolik
Kelompok Kontrol Akhir