Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“Tata Tulis Karya Ilmiah”


Dosen Pengampu : Utami Nurhafsari Putri, S. Psi, M. Psi

NAMA : 1. Kristika M. Matondang (1193151035)


2. Cindy Pratiwi (1193351041)
3. Imam Afryandi Sitorus (1193151032)
KELAS : BK REGULER D 2019

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020

1
KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT kareta atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Tata Cara
Penulisan Karya Tulis Ilmiah” dengan lancar dan tepat waktu. Tidak lupa shalawat serta
salam penulis limpahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Pembuatan
makalah ini merupakan salah satu bentuk tugas mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah dibawah
bimbingan ibu Utami Nurhafsari Putri, S. Psi, M. Psi.
Dalam penulisan makalah ini, penulis telah banyak mendapat bantuan materi dari
berbagai pihak teman sekelompok, dan yang berupa buku-buku, maupun dari jurnal. Semoga
kebaikan mereka dibalas dengan pahala dan senantiasa diberi rahmat dan karunia oleh Allah
SWT.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, saran yang diberikan akan sangat bermanfaat
bagi pembelajaran penulis. Mudah-mudahan pembuatan makalah ini memberikan manfaat
bagi semua pihak.

Medan, 15 Februari 2020,

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang........................................................................... .......... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................... .......... 2
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................... .......... 2
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................ 2
Bab II Pembahasan
2.1 Penulisan Kata ............................................................................ 3
2.2 Penulisan Kalimat ....................................................................... 3
2.3 Penulisan Paragraf ................................................................ .......... 5
2.4 Cara Pengutipan ........................................................ ..................... 6
2.5 Penulisan Daftar Pustaka ............................................................. 10
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan ................................................................................... . 34
3.2 Saran ............................................................................................. . 35
Daftar Pustaka ....................................................................................... . 36

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karya tulis ilmiah adalah sebuah tulisan yang biasa dibuat untuk memenuhi tugas
berbagai mata kuliah di perguruan tinggi. Karya tulis ini juga bersifat ilmiah dan diakui di
seluruh dunia. Dalam karya tulis ilmiah, terdapat aturan umum yang bersifat baku. Hasil
karya tulis ini harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sesuai bidang ilmu yang
disajikan.
Karya tulis ilmiah selain sebagai pemenuhan tugas juga dapat digunakan sebagai
persyaratan untuk penyelesaian suatu jenjang pendidikan. Pada jenjang S-1 misalnya,
mahasiswa harus melakukan penelitian dan memberikan hasil penelitiannya dalam bentuk
skripsi. Begitu pula dengan S-2 yang memiliki output berupa tesis dan S-3 yang hasilnya
berupa disertasi.
Sayangnya, saat ini masih banyak mahasiswa/i yang belum bisa membuat sebuah
karya tulis ilmiah dengan baik dan benar. Akibatnya, mahasiswa/i masih bingung saat diberi
tugas oleh dosen untuk membuat karya ilmiah. Jangankan untuk membuat skripsi, membuat
makalah pun masih melakukan kesalahan-kesalan baik dalam segi bahasa yang digunakan,
maupun cara penulisannya.
Mengingat akan pentingnya karya tulis ilmiah bagi kelulusan di jenjang perguruan
tinggi, harus dilakukan latiahan-latihan untuk membuatnya. Dengan adanya latihan tersebut
diharapkan akan menambah pengalaman menulis bagi mahasiswa/i. Dengan pengalaman
tersebut, mahasiswa/i akan lebih teliti dan berhati-hati dalam membuat karya ilmiah supaya
tidak terjadi kembali kesalahan-kesalahan yang lalu.
Karena pentingnya karya tulis ilmiah bagi mahasiswa, maka makalah ini membahas
tentang tata cara penulisan karya tulis ilmiah. Dijelaskan apa saja jenis-jenis karya ilmiah,
bagaimana ciri-ciri karya ilmiah, format karya ilmiah, bagian-bagian karya tulis ilmiah,
kaidah penulisan karya tulis ilmiah, hingga manfaat penulisan karya tulis ilmiah.

4
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana tata cara penulisan kata?
1.2.2 Bagaimana tata cara penulisan kalimat?
1.2.3 Bagaimana tata cara penulisan paragraf?
1.2.4 Bagaimana tata cara Pengutipan?
1.2.5 Bagaimana tata penulisan daftar pustaka?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui tata cara penulisan kata.
1.3.2 Mengetahui tata cara penulisan kalimat.
1.3.3 Mengetahui tata cara penulisan paragraf.
1.3.4 Mengetahui tata cara Pengutipan.
1.3.5 Mengetahui tata penulisan daftar pustaka.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Memberikan informasi kepada penulis dan pembaca tentang bagaimana karya tulis
ilmiah yang baik dan benar.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tata Cara Penulisan Kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.
2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar.
Contoh: bergeletar, dikelola .
2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung
boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi
3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan
untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.
4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan
kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.
5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung.
Contoh: non-Indonesia.
3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang
berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun
yang berbentuk berubah beraturan (sayur-mayur, ramah-tamah).
4. Gabungan kata atau kata majemuk
1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar,
orang tua, ibu kota, sepak bola.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan
pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.
3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat
bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.
5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil,
bukumu, miliknya.

6
6. Kata depan atau preposisi (di , ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim
seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll.

Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.
8. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah,
apatah.
2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu
seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.
3. Partikel per- yang berarti "mulai", "demi", dan "tiap" ditulis terpisah.
Contoh: per 1 April, per helai.
9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.
10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata Turunan :

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata
yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk
melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya
2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.
1. ber-an
2. di-kan dan di-i
3. diper-kan dan diper-i
4. ke-an dan ke-i
5. me-kan dan me-i

7
6. memper-kan dan memper-i
7. pe-an
8. per-an
9. se-an
10. ter-kan dan ter-i
3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.
2. Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh
→ meluluh, me- + makan → memakan.
2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- +
baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- +
fasilitas + i → memfasilitasi.
3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- +
datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me-
+ kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom
→ mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu
→ menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.
2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me-
+ klarifikasi → mengklarifikasi.
3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara
sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

8
Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)


2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)
3. pe + perkosa → pemerkosa (huruf p luluh menjadi m)
4. pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)

Konsensus Penggunaan Kata :

Tiongkok dan Tionghoa

Baik Cina maupun Tiongkok tertera dalam KBBI, yang menjadi salah satu sumber rujukan di
Wikipedia Bahasa Indonesia (WBI). Konsensus komunitas WBI memilih menggunakan
bentuk Tiongkok berdasarkan pertimbangan kesensitifan penafsiran. Selain itu perlu
dibedakan penggunaan istilah Tiongkok (negara dan hal-hal yang berhubungan dengan
negara ini, misal: sejarahnya, warga negaranya, pemerintahannya, dll.)
dan Tionghoa (menunjuk pada orang-orang dari etnis ini dan segala sesuatu yang
berhubungan dengannya, termasuk budaya, bahasa, sastra, kepercayaan, tradisi, masakan,
nama, dll.).

Mayat dan mati

 mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal,
gugur, atau tewas (tergantung konteks).
 mayat: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata jasad atau
jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti "Untuk informasi lebih lanjut, silakan
mengunjungi situs ini." pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut
dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:
{{stub}} atau {{rintisan}} di bagian akhir artikel.

Pintasan:

 WP:DIMANA

9
Penggunaan "di mana" sebagai penghubung dua klausa

Bentuk di mana sebenarnya merupakan bentuk pertanyaan; namun dalam perkembangannya


dalam bahasa berumpun Indo-Eropa dapat digunakan untuk menyambung dua klausa tidak
sederajat.

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat tersebut, bahasa Indonesia tidak mengenal
bentuk "di mana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah who, whom, which, atau where)
atau variasinya ("dalam mana", "dengan mana", dan sebagainya). Penggunaan "di mana"
sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-
bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia.

Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung
untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, mohon
hindarilah penggunaan kata "di mana", apalagi "dimana", termasuk dalam penulisan
keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan
kaidah tata bahasa Indonesia.

Contoh-contoh:

1. Dari artikel Kantin:

...kantin adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para
pengunjung dapat makan...
Usul perbaikan: ...kantin adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung
umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan...

2. Dari artikel Tegangan permukaan: dimana:

F = gaya (newton)
L = panjang m).[sic]
Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan

permukaan S dapat ditulis sebagai .


Di sini tampak bahwa "apabila" menggantikan posisi "di mana" (ditulis di kalimat asli
sebagai "dimana").
3. Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice...

Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja...

10
Kata penghubung "sedangkan"

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan
kata sedangkan. Sedangkan adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama
seperti dan, atau, serta sementara. Dengan demikian secara tata bahasa kata sedangkan tidak
pernah dapat mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru
di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. Posisi sedangkan yang digunakan
untuk mengawali kalimat dapat diganti dengan frasa sementara itu.

Contoh:

1. Dari harian Jawa Pos:

"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar
dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada
12.849."
Usulan perbaikan 1:

"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih
terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada
12.849."
Usulan perbaikan 2:

"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih
terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten
ada 12.849."
Pintasan:

 WP:NAMUN
 WP:TETAPI

Namun dan tetapi

Namun dan tetapi keduanya menunjukkan hubungan pertentangan. Namun digunakan sebagai
penghubung antarkalimat, sedangkan tetapi untuk penghubung intrakalimat. Dalam
praktiknya, hal ini berarti penggunaan di awal kalimat menggunakan namun dan tengah
kalimat menggunakan tetapi:

 Benar (namun sebagai penghubung antarkalimat):

11
"Timbal dapat membentuk rantai molekul panjang, seperti karbon dan unsur-unsur di
golongan IVA pada umumnya. Namun, energi ikatan Pb–Pb relatif lemah, sekitar 3,5
kali lebih lemah dibanding ikatan karbon–karbon."

 Salah jika Tetapi menggantikan Namun di atas.


 Benar (tetapi sebagai penghubung intrakalimat):
"Setelah beberapa tahun di pengasingan, sang khalifah memanggil Ibnu
Rusyd bertugas kembali, tetapi tidak berlangsung lama karena ia wafat pada 1198."

 Salah jika namun menggantikan tetapi di atas.

Catatan Kaki

^ a b di dapat juga berfungsi baik sebagai imbuhan yang harus dirangkai penulisannya
maupun kata depan yang harus dipisah penulisannya. Kesalahan penulisan di merupakan
salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan.

2.2 Tata Cara Penulisan Kalimat

2.3 Tata Cara Penulisan Paragraf


Telah diketahui bahwa penulisan karya ilmiah menyangkut segi bahasa. Dalam
menyusun laporan ilmiah harus memperhatikan penyusunan kalimat-kalimat dalam suatu
paragraf. Penulisan paragraf yang telah memenuhi persyaratan paragraf meliputi
kesatuan,pengembangan, kepaduan/koherensi, kekompakan/kohesi, dan pengembangan
paragraf serta pemahaman penggunaan jenis paragraf seperti paragraf deduktif, induktif,
kombinasi, dan deskriptif dengan baik.Penerapan penulisan paragraf dalam karya ilmiah
tersebut perlu dikembangkan gagasan dalam kalimat-kalimat, satuan paragraf, bab, atau
subbab sehingga menjadi suatu karya ilmiah yang utuh.Penulisan karya ilmiah
tersebut dituntut juga penginformasian secara utuh, artinya ketelitian dalam tulis-
menulis ilmu yang menyangkut data, nama orang, nama tempat, hingga ejaan dan tanda
baca.Tulisan ilmiah harus jelas, semua data yang diperlukan dikemukakan sesuai
dengan proporsinya. Sebaliknya, data yang tidak diperlukan atau tidak ada kaitannya
dengan isi laporan tidakperlu dikemukakan, seperti contoh berikut ini.“ Iklim dan tanah
yang diperlukan untuk tumbuh kedelai adalah iklim yang kering dan panas, maka dari

12
itu tanaman kedelai lebih banyak terdapat di Jawa Tengah dan di Jawa Timur daripada di
Jawa Barat.” (Rahayu,2007:107). Paragraf tersebut dapat dijelaskan bahwa bukan iklim dan
tanah yang diperlukan untuk tumbuh kedelai, tetapi iklim dan tanah yang sesuai/cocok
untuk penanaman kedelai. Kata keringdan panasbersifat kualitatif, sehingga informasi
yang seharusnya dikemukakan adalah suhu dan curah hujan. Pernyataan lebih banyak di
Jawa Tengah dan di Jawa Timur daripada di Jawa Barat,merupakan kesimpulan tetapi
sebelumnya tidak dikemukakan bagaimana kondisi iklim dan tanah di masing-masing
daerah. Oleh

Karena itu, kalimat-kalimat tersebut tidak lengkapsehingga perlu diperbaiki, seperti :


Iklim dan tanah yang sesuai untuk penanaman kedelai adalah ....(diisi dengan data
kualitatif dan kuantitatif).

2.4 Tata Cara Pengutipan

.Penulisan Kutipan
menuliskan kutipan atau mengutip adalah mengambil gagasan tertulis dari suatu sumber
pustaka tertentu untuk digunakan atau dicantumkan dalam karya yang ditulisnya . Misalnya
,ketika menulis, kita mengambil gagasan orang lain yang dimuat dalam sumber pustaka
tertentu untuk kita cantumkan dalam tulisan kita . Apa yang kita lakukan itu adalah mengutip

1.Penulisan kutipan langsung

Penulisan Kutipan Langsung Kutipan langsung adalah kutipan diambil secara langsung sesuai
dengan aslinya dari sumber pustaka tertentu. Dalam hal ini, pengutip mengambil gagasan dari
sumber pustaka tertentu tanpa mengubah bahasa dan tulisan. Kutipan langsung tersebut ada 2
macam, yakni: (1) kutipan pendek dan (2) kutipan panjang. Cara penulisan kedua jenis
kutipan itu berbeda. 1) Kutipan Pendek Kutipan pendek adalah kutipan yang panjang
kutipannya kurang dari 40 kata atau kurang dari 5 baris. Penulisan kutipan pendek tersebut
mengikuti aturan sebagai berikut, yakni: ta) ditulis di antara tanda kutip ("."), (b) sebagai
bagian yang terpadu dalam teks utama, (c) sumber kutipan dapat dituliskan di awal

kutipan atau di akhir kutipan. Hal yang perlu dituliskan dalam sumber kutipan adalah: a)
nama pengarang (cukup nama belakang, jika narnanya lebih dari satu katal, (b) tahun terbit
dari sumber kutipan, dan c) nomor halaman dari sumber kutipan.

13
Contoh: a) Nama pengarang disebut di awal kutipan Sucipto (1990:123) menjelaskan "dalam
memperlancar proses pemba- ngunan di wilayah pedesaan diperlukan partisipasi tokoh
masyarakat, warga masyarakat, dan aparat pemerintahan desa. b) Nama pengarang disebut di
akhir kutipan Sesuai dengan uraian di atas, dijelaskan "dalam memperlancar proses
pembangunan di wilayah pedesaan diperlukan partisipasi tokoh masya- rakat, warga
masyarakat, dan aparat pemerintahan desa" (Sucipto, 1990:123). c) Di dalam kutipan terdapat
tanda kutip Dalam penjelasannya, Dardjowidjoyo (1992:4) menjelaskan "Kota Leiden di
Negeri Belanda merupakan kota suci' berkembangnya pengajaran bahasa Indonesia untuk
penutur asing.

2.Kutipan Panjang

Kutipan panjang adalah kutipan yang berisi 40 kata atau lebih atau 5 baris atau lebih,
Penulisan kutipan panjang harus mengikuti aturan sebagai berikut, yakni: (a) ditulis terpisah
dari teks yang mendahului, (b) dimulai setelah ketukan ke 5 garis tepi sebelah kiri, (c) diketik
dengan spasi tunggal, dan (d) dituliskan uep sumber kutipannya seperti pada kutipan pendek.
Contoh: Smith (1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut: The "placebo effect" which
had been verified in previos studies disappeared when behaviors, were studied in this manner.
Furthemore the behaviors, were never exhibited again, even when real drug administered.
Earlier studies were clearly premature in attributin results to a placebo etfect.

3.Penulisan kutipan tak langsung

Penulisan Kutipan Tak Langsung Kutipan tak langsung adalah kutipan yang dituliskan secara
tak langsung atau dikemukakan dengan menggunakan bahasa penulis sendiri. Termasuk
dalam kutipan tidak langsung tersebut adalah kutipan terjemahan, kutipan saduran, kutipan
ringkasan, dan kutipan parafrase.

Aturan yang digunakan dalam penulisan kutipan tidak langsung ini adalah: (a) ditulis tanpa
kutip, (b) penulisannya terpadu dengan teks, (c) nama pengarang dari sumber kutipan dapat
ditulis di awal atau di akhir kutipan,dan (d) nomor halaman kutipan tidak harus disebutkan.

Contoh: a) Nama pengarang disebut di awal kutipan

Sarina (1990) mengemukakan bahwa tidak semua pengajar BIPA di Indonesia memiliki
pendidikan dan pengalaman dalam mengajarkan BIPA. b) Nama pengarang disebutkan di
akhir kutipan

14
Sejalan dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa tidak semua pengajar BIPA di
Malang memiliki pendidikan dan pengalaman dalam mengajarkar BIPA (Sarina, 1990).

4.Ragam Penggunaan Kutipan

Penulis karya ilmiah mengutip gagasan dari suatu sumber pustaka tertentu untuk berbagai
kepentingan yang beragam. Ada penulis yang mengutip pendapat orang Lain untuk
memperkuat atau mendukung gagasan yang disampaikan. Ada juga penulis yang
menggunakan kutipan sebagai titik pangkal atau sumber utama pemikiran dalam
mengembangkan karyanya. Di samping itu, ada juga penulis yang menggunakan kutipan
untuk keperluan yang lain, di antaranya adalah: (a) untuk memperkuat penyusunan simpulan,
(b) sebagai simpulan dari pembahasan yang ditulisnya, dan (c) sebagai paparan pembahasan,
yakni berbentuk uraian saduran. Bergam bentuk penggunaan kutipan tersebut dicontohkan
berikut ini:

1. Kutipan sebagai penguat atau pendukung gagasan Sehubungan dengan itu, Sarina (1990)
menjelaskan ............

Atau

Hal ini sejalan dengan pendapat Sarina (1990) yang menyatakan bahwa .............

2. Kutipan sebagai titik pangkal atau sumber utama penulis

Sarina (1990) mengemukakan bahwa tidak semua pengajar BIPA di Indonesia memiliki
pendidikan dan pengalaman dalam mengajarkan BIPA. Pernyataan tersebut menunjukkan
bahwa ..........

Atau

Pengajar BIPA di Indonesia belum semuanya memiliki pendidikan dan Perigalaman dalam
mengajarkan BIPA (Sarina, 1990). Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa ..........

3. Kutipan sebagai penguat dalam penyusunan simpulan

Sehubungan dengan itu, Sarina (1990) menjelaskan.................

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa...............

4. Beberapa kutipan sebagai unsur utama dalam pembuatan simpulan

15
Sarina (1990) menjelaskan bahwa.......... lebih lanjut, suminto (1995:15) menyatakan
bahwa............ Dalam hal ini, pengajar hendaknya.............bukan sekedar tahu apa yang
hendak diajarkan (Sugino, 1998:20). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikemukakan
bahwa ........

5. Kutipan berupa ide yang disadur langsung oleh penulis

.................bahasan dari penulis................... bahasan penulis ...... Bahasan dari penulis


............................(Suminto, 2001).

Penulisan Kutipan yang telah Dikutip di Sumber Lain Kutipan yang diambil dari naskah yang
merupakan kutipan dari suatu sumber lain, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dirujuk dengan cara menyebutkan narma penulis asli dan nama pengutip pertama serta tahun
kutipnya. Cara merujuk semacam ini hanya dibolehkan jika sumber asli benar-benar tidak
didapatkan, dan harus dianggap sebagai keadaan darurat.

Contoh: Mapisameng (dalam Suyitno, 1995:3) menjelaskan bahwa perkembangan pengajaran


bahasa Indonesia untuk penutur asing di Indonesia sangat strategis, terutama jika dikaitkan
dengan perkembangan negara Indonesia.

2.5 Daftar Pustaka

Pembuatan daftar pustaka merupakan bagian pekerjaan dalam pembuatan karya tulis
ilmiah. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab dan etika ilmiah bagi penulis terhadap
semua informasi yang ia peroleh dari berbagai sumber. Sumber-sumber pustaka yang dapat
dimanfaatkan dapat berupa media cetak maupun media elektronik. Ragam sumber tersebut
meliputi buku, artikel, indeks, bibliografi, koleksi abstrak, jurnal ilmiah, kamus, ensiklopedi,
atlas, sumber-sumber statistik, dsb.
Secara konvensi internasional, ada lima gaya pendokumen-tasian yang dikenal umum
bergantung pada disiplin keilmuan dan kebijakan lembaga pendidikan yang diambil.
1. APA (American Psychological Association).
2. MLA (Modern Language Association).
3. CMS (The Chicago Manual of Style).
4. CBE (Council Biology Editors).
5. COS (Columbia Online Style).

16
Penulisan daftar pustaka harus memerhatikan aturan-aturan penulisan secara umum,
diantaranya :
1. Disusun secara alfabetis.
2. Nama penulis dibalik (Surename di awal).
3. Tidak menggunakan nomor urut.
4. Di antara surename dan nama digunakan tanda koma.
5. Gelar tidak dicantumkan.
6. Urutan penulisan buku : nama penulis, tahun penerbitan, judul, kota penerbitan, dan nama
penerbit.
7. Setiap komponen dibatasi dengan titik, kecuali kota penerbit dan nama penerbit
menggunakan titik dua.
8. Judul buku dicetak miring.
9. Nama jurnal dicetak miring.
10. Penulis dua sampai tiga orang ditulis semua dan penulis lebih dari tiga orang ditulis penulis
utamanya, dengan ditambahkan dkk.
11. Seseorang yang menulis lebih dari satu buku hanya dicantumkan sekali saja. Pada buku yang
lain, nama penulis diganti dengan tanda garis.
12. Penulisan daftar pustaka dari internet ditulis dengan urutan: nama penulis, tahun penulisan,
judul artikel, dan identitas homepage-nya.
13. Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu pustaka dengan
pustaka yang lainnyadiberi jarak dua spasi.
14. Tahun terbit disarankan minimal sepuluh tahun dari tahun sekarang.
Dalam praktiknya, menulis daftar pustaka harus memerhatikan kaidah atau aturan teknik
penulisannya. Berikut beberapa contoh penulisan daftar pustaka :
1. Satu Pengarang
Pujiono, Setyawan. 2011. Bahasa Indonesia Keilmuan. Yogyakarta: Indusnasia.
Depdiknas. 2003. “Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah
Atas”. Artikel. Jakarta: Depdiknas.

2. Dua Pengarang
Cohen, Moris R., and Ernest Nagel. 2001. An Introduction to Logic and Scientific Method. New
York: Harcourt.

17
Endraswara, Suwardi dan Purwadi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Bahasa. Yogyakarta:
Kota Kembang.

3. Tiga Pengarang
Anggraini, A., Esteri Susilowati, dan Manudin. 2006. Mengasah Keterampilan Menulis Karya
Ilmiah di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nelson, R., P. Schultz, and R. Slighton. 1991. Structural Change in a Developing Economy.
Princeton: Princeton University Press.

4. Lebih Dari Tiga Pengarang


Barlow, R., dkk. 2006. Economics Behavior of the Affluent. Washington D.C.: The Brooking
Institution.
Sukanto, Rahmad, dkk. 2002. Bussines Frocasting. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas
Ekonomi UGM.

5. Pengarang Sama
Djarwanto. 1982. Statistik Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi
UGM.
-------------. 1982. Pengantar Akutansi. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menulis adalah proses kreatif menuangkan gagasan atau pemikiran ke dalam sebuah
tulisan. Hasil dari proses menulis biasa disebut tulisan atau karangan. Dengan tulisan tersebut
bisa memberikan informasi, menyalurkan ekspresi, serta sarana hiburan bagi pembaca.
Berdasarkan keobjektifan masalahnya tulisan dapat dibedakan menjadi, tulisan ilmiah,
tulisan populer, dan tulisan fiktif. Contoh dari karya tulis ilmiah, yaitu makalah, laporan
praktikum, tugas akhir, projek akhir, skripsi, tesis, dan disertasi.
Ciri-ciri karya tulis ilmiah adalah koheren, konsisten, sistematis, konseptual,
komprehensif, logis, bebas, dan bertanggung jawab.
Format karya ilmiah pada dasarnya tersusun atas beberapa bagian yang berinti pada
judul, pendahuluan, landasan teori atau tinjauan pustakan, pembahasan, dan penutup atau
simpulan dan saran serta daftar pustaka.
Secara umum karya tulis ilmiah dibagi menjadi tiga bagian yakni, bagian depan, bagian
tengah, dan bagian belakang. Bagian depan meliputi: sampul depan, halaman sampul, daftar
isi, kata pengantar, halaman persembahan, halaman persetujuan, halaman pengesahan,
halaman daftar tabel, daftar gambar/grafik, dan daftar lampiran-serta abstrak. Bagian tengah
meliputi seluruh isi karya tulis mulai dari pendahuluan sampai simpulan dan saran. Bagian
belakang berisi lembar daftar pustaka, biodata penulis, lampiran-lampiran, dan sampul
belakang.
Dalam memilih topik harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu topik harus
disenangi oleh penulis, bermanfaat secara teoritis maupun praktis, tidak boleh terlalu luas dan
sempit, serta data mengenai topik tersebut relatif mudah didapatkan. Kemudian, dalam
memilih judul harus sesuai dengan topiknya, tidak terlalu panjang, tidak berbentuk kalimat
tanya, dan bersifat lugas. Proses penulisan karya tulis ilmiah terdiri dari pramenulis,
penulisan, dan pasca penulisan.
Kaidah penulisan karya ilmiah secara umum dapat dibahas dari penggunaan bahasanya.
Maka, dalam proses menulis perlu memperhatikan pengetahuan struktur bahasa yang
meliputi diksi (pemilihan kata), kalimat, dan paragraf.

19
Manfaat penulisan karya tulis ilmiah adalah penulis akan terlatih mengembangkan
keterampilan membaca yang efektif, penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari
berbagai buku sumber, penulis akan berkenalan dengan kegiatan kepustakaan, penulis akan
dapat meningkatkan keterampilan dalam meng-organisasikan dan menyajikan fakta secara
jelas dan sistematis, dan penulis akan memperoleh kepuasan intelektual, serta penulis turut
memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.

3.2 Saran
Belajar menulis karya tulis ilmiah tidak hanya dilakukan dengan membaca sumber-
sumber yang relevan dengan karya tulis ilmiah tersebut, melainkan dengan melakukan latihan
pembuatan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, perlu adanya latihan membuat karya tulis,
dengan begitu penulis mendapat pengalaman dari latihan tersebut. Sehingga, kesalahan yang
terjadi saat latihan, tidak terulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Pujiono, Setyawan. 2013. Terampil Menulis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wahyu,Asisda. 2012. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Aqsamas.

Wibowo, Wahyu. 2012. Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.

Suyitno, Imam.2012. Menulis Makalah dan Artikel. Bandung: PT Refika Aditama

https://www.neliti.com/id/publications/132320/penulisan-paragraf-dalam-karya-ilmiah-mahasiswa

20