Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penyusunan laporan keuangan sangat penting yang harus disusun oleh
suatu perusahaan. Laporan keuangan yang disusun berfungsi sebagai alat
informasi yang menghubungkan perusahaan dengan pihak pihak yang memiliki
kepentingan dengan laporan keuangan tersebut. Bagi pihak internal perusahaan,
laporan keuangan berfungsi sebagai alat untuk mengukur kinerja suatu perusahaan
dan menjadi alat untuk memantau perkembangan suatu perusahaan. Pihak internal
yang dimaksud dibagi menjadi 3 yaitu manajemen, pemegang saham, dan
karyawan. Sedangkan bagi pihak eksternal perusahaan yaitu kreditur dan
pemerintah, laporan keuangan berfungsi sebagai alat pertimbangan dalam hal
investasi. Perusahaan besar maupun berskala kecil seprti UMKM tentunya harus
menyusun laopran keuangan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Standat
penyusunal laporan keuangan tersebut disusun oleh Ikatan Akuntansi Indonesia.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah menerbitkan Standar Penyusunan
Laporan Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada 17 juli
2009 dan berlaku efektif per januari 2011. SAK ETAP diperuntukan untuk
perusahaan berskala kecil seperti UMKM untuk memudahkan pelaku usaha dalam
menyusun laporan keuangan perusahaannya. Laporan keuangan menurut SAK
ETAP meliputi ; neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus
kas dan catatan atas laporan keuangan.
SAK ETAP sendiri dibuat untuk mengatasi segala keluhan penerapan
PSAK umum pada entitas tanpa akuntabilitas publik. SAK ETAP bertujuan untuk
mengakomodir segala kebutuhan entitas tanpa akuntabilitas publik dalam
pelaporan keuangan. Maka dari itu sudah seharusnya entitas tanpa akuntabilitas
publik menerapkan SAK ETAP dalam menyajikan laporan keuangan nya.
Setiap usaha diharapkan memiliki laporan keuangan untuk menganalisis
kinerja keuangan sehingga dapat memberikan informasi tentang posisi keuangan,
kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi pengguna laporan

1
2

keuangan dalam rangka membuat keputusan- keputusan ekonomi serta menunjuk


pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada mereka. Praktek akuntansi keuangan pada usaha kecil
menengah (UKM) masih rendah dan memiliki banyak kelemahan. Kelemahan itu,
antara lain disebabkan rendahnya pendidikan, kurangnya pemamahan terhadap
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dari manajer pemilik dan tidak adanya
peraturan yang mewajibkan penyusunan laporan keuangan bagi UKM (Wahdini
dan Suhairi: 2006).
Usaha kecil mikro ( UKM ) dan menengah ( UMKM ) memiliki peran
penting dalam perekonimian Indonesia .mereka membuat suatu usaha dan
melakukan transaksi transaksi untuk memajukan perekonomian bersama. Dengan
jenis usaha yang berbeda beda dan dengan caranya masing masing .berdirinya
tempat belanja kebutuhan atau toko harian disekeliling tempat tinggal kita adalah
salah satu bentuk usaha UMKM di masyarakat .
Sebuah toko yang beralamatkan di kota perawang kabupaten siak adalah
salah satu toko yang menyediakan kebutuhan barang sehari hari. Toko ini
melakukan transaksi jual beli dari pukul 08.00 wib samapai 21.00 wib dengan
jeda 18.00 wib-19.00 wib untuk isoma. Toko ini bernama SEROJA 2 dirikan
oleh oleh bapak hardeto anwar . Pemilik sekaligus pengelola toko seroja 2 ini
memiliki motivasi yang tinggi untuk membuka usahanya tersebut. Ditengah
persaingan yang sangat ketat saat ini, toko seroja 2 mampu bertahan untuk
memberikan pelayanan berupa penjualan barang kebutuhan sehari hari. Pemilik
toko berkeinginan untuk membuat besar tempat usahanya dan meningkatkan
transaksinya. Toko harian seroja 2 membuat laporan keuangan sederhana untuk
melihat perkembangan usahanya dan sebagai acuan strategi kedepannya .
Toko harian seroja 2 merupakan toko yang menjual berbagai macam
jenis barang dan keperluan sehari hari . toko seroja 2 berdiri sejak tahun 2009,
pendapatan toko harian seroja 2 dapat mencapai 190 juta pertahun dengan
memperkerjakan 3 orang karyawan .
Untuk mengembangkan usahanya pemilik sering mengajukan pinjaman
kepada bank. Akan tetapi pengajuan pinjaman tidak mudah dan persayaratan
3

yang tetapkan pihak bank juga sangat rumit. Permasalahan permodalan seringkali
dirasakan oleh pemilik usaha kecil menengah. Salah satu usaha untuk
mendapatkan modal adalah dengan mengajukan kredit perbankan.
Hal tersebut juga didukung oleh pemerintah Indonesia terkait
pembiayaan usaha kecil menengah yakni melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurut Baas dan Schrooten (2006), penyaluran KUR yang masih sulit
disebabkan karena bank yang ditunjuk sebagai penyalur KUR telalu berhati-hati
dalam penyaluran kredit. Penyaluran kredit memerlukan informasi yang
memadai terkait kondisi usahanya seperti informasi akuntansi. (Widyastuti,
2017)
Menurut (Ponomban, Saerang, & Wangkar, 2016), Akuntansi keuangan
lebih berfokus pada pelaporan informasi untuk pengguna eksternal seperti
investor, kreditur, lembaga pemerintah, dan pemasok. Akuntansi keuangan
mengukur dan mencatat transaksi-transaksi bisnis serta menyajikannya dalam
laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Laporan yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan ini berisi
informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan, bersifat objektif dan
berorientasi pada kinerja perusahaan di masa lampau.
Menurut Harahap (2007), laporan keuangan adalah output dan hasil akhir
dari proses akuntansi yang menjadi informasi bagi para pemakainya sebagai
salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Di samping itu, laporan
keuangan juga digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban atau
accountability perusahaan.
Pencatatan laporan keuangan harus sesuai dengan standar akuntansi
keuangan di Indonesia. Bagi usaha yang memiliki tanggung jawab publik secara
signifikan dan atau lintas negara, maka laporan keuangan harus merujuk pada
Standar Akuntansi Keuangan Umum (SAK-Umum).
Pencatatan laporan keuangan berbasis SAK-ETAP menjadikan suatu
usaha memiliki profesionalisme dalam pencatatan keuangan. Selain itu,
pencatatan berbasis SAK-ETAP akan dijadikan sebagai acuan pembuatan SPT
bagi Otoritas Pajak (Direktorat Jenderal Pajak, Kementrian Keuangan RI)
4

kepada pemilik usaha sebagai wajip pajak. Pengguna SAK-ETAP tidak


tergolong menguasai aset dalam kapasitas sekelompok besar masyarakat seperti
Bank, Asuransi, Pialang, Dana Pensiun, Reksa Dana dan Bank Investasi.
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan pada, penerapan pencatatan
laporan keuangan memang sangat dibutuhkan. Peneliti ini bertujuan untuk
meganalisis secara deskriptif penerapan penyusunan laporan keuangan berbasis
SAK-ETAP pada TOKO HARIAN SEROJA 2.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari identifikasi dan pembahasan masalah, maka penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan standar akuntansi keuangan entitas tanpa
akuntabilitas publik (SAK ETAP) pada penyusunan laporan keuangan
pada “Toko Harian Seroja 2“ ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana penerapan standar akuntansi keuangan entitas
tanpa akuntabilitas publik (SAK ETAP) pada penyusunan laporan
keuangan pada “Toko Harian Seroja 2“

2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Dengan Adanya penulisan ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan ilmu ekonomi khususnya metodologi penelitian tentang
Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), serta
dapat digunakan sebagai landasan bagi penulisan di bidang yang sama
dimasa yang akan datang.
5

b. Manfaat Umum
Dengan adanya penulisan ini diharakan dapat menjadi bahan
informasi atau masukan, untuk mengetahui seberapa pentingnya penelitian
sebagai upaya menunjang kegiatan pembuatan karya ilmiah, dan dapat
dijadikan sebagai referensi atau pertimbangan dalam mengatasi
permasalahan individu atau kelompok.
BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Pengertian dan Definisi Akuntansi


Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang menyangkut pemeriksaan
dan penilaian (evaluasi) atas hasil proses pelaksanaan pembukuan yang
memberikan laporan kepada pihak- pihak yang berkepentingan mengenai kegiatan
ekonomi dan kondisi perusahaan. Akuntansi sering dijuluki sebagai bahasa bisnis
(the language of bussines).
Perubahan yang sangat cepat dalam masyarakat telah menyebabkan
semakin kompleksnya bahasa tersebut, yang digunakan untuk mencatat,
meringkas, melaporkan, menginterprestasikan data dasar ekonomi untuk
kepentingan perorangan, perusahaan, pemerintah dan anggota masyarakat lainnya
(Sadeli: 2008).
Secara umum, akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang
menghasilkan laporan kepada pihak- pihak yang berkepentingan mengenai
aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan (Warren, Reeve, dan Fees: 2006).
Sedangkan, menurut AICPA (American Institute of Certified Public
Accountans) dalam Ahmed Riahi dan Belkaoui(2006) akuntasi adalah suatu seni
pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dalam cara yang signifikan dan
satuan mata uang, transaksi- transaksi dan kejadian- kejadian yang paling tidak
sebagian diantaranya, memiliki sifat keuangan dan selanjutnya
menginterprestasikan hasilnya.
Dari beberapa definisi akuntansi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa,
definisi dari akuntasi adalah proses pengidentifikasian, pengukuran dan pelaporan
informasi ekonomi atas transaksi- transaksi dan kejadian- kejadian dalam
perusahaan yang kegiatannya dapat diukur dengan satuan mata uang untuk
membuat pertimbangan dan pengambilan keputusan oleh pihak- pihak yang
berkepentingan dalam perusahaan (Bussines Stakeholder).

6
7

B. Siklus Akuntansi
Siklus akuntansi menurut Warren (2006), adalah proses akuntansi yang
diawali dengan menganalisis serta menjurnal transaksi dan diakhiri dengan
mengikhtisarkan dan melaporkan transaksi tersebut. Pengertian siklus akuntansi
juga diungkapkan Manahan (2004) siklus akuntansi adalah suatu proses
penyediaan laporan keuangan perusahaan untuk suatu periode tertentu. Siklus ini
dimulai dari terjadinya transaksi, sampai penyiapan laporan keuangan pada akhir
suatu periode. Adapun menurut Kieso (2008) yang dimaksud dengan siklus
akuntansi adalah prosedur akuntansi yang biasanya digunakan oleh perusahaan
untuk mencatat transaksi dan membuat laporan keuangan. Digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 1 Siklus Akuntansi

JURNAL JURNAL PENUTUP


PEMBALIK

LAPORAN KEUANGAN
TRANSAKSI

NERACA LAJUR
BUKTI

JURNAL PENYESUAIAN

JURNAL

NERACA SALDO

BUKU BESAR
8

C. Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah suatu laporan tertulis yang menyajikan dan
memberi informasi tentang kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode
tertentu. Laporan keuangan merupakan laporan tertulis yang memberikan
informasi kuatitatif tentang posisi keuangan dan perubahan- perubahannya, serta
hasil yang dicapai selama periode tertentu. Adapun menurut Ikatan Akuntansi
Indonesia (2012), laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu
perusahaan pada periode akuntansi yang menggambarkan kinerja perusahaan
tersebut. Laporan keuangan berguna bagi banker, kreditor, pemilik dan pihak-
pihak yang berkepentingan dalam menganalisis serta menginterprestasikan kinerja
keuangan dan kondisi perusahaan.
Tujuan laporan keuangan menurut IAI dalam PSAK (2009) adalah
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam
pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukan hasil
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan
keuangan menyajikan informasi yang meliputi:
 Aset
 Liabilitas (kewajiban)
 Ekuitas
 Pendapatan dan beban termasuk keuantungan dan kerugian
 Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik
 Arus kas

D. Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)


1. Sejarah Singkat SAK ETAP
Ikatan Akuntan Indonesia sejak Juli 2009 telah meluncurkan
standar akuntansi ETAP (SAK-ETAP). Nama standar ini sedikit unik
karena exposure draftnya diberi nama Standar Akuntansi UKM (Usaha
9

Kecil dan Menengah), namun mengingat definisi UKM sendiri sering


berubah, maka untuk menghindari kerancuan, standar ini diberi nama SAK
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Wahyuni: 2011). Sesuai dengan
namanya maka sasaran pengguna dari standar ini adalah entitas yang tidak
memiliki tanggung jawab akuntabilitas kepada publik (ETAP). SAK
ETAP beranalogi dengan IFRS SMEs (Small and Medium Enterprises),
bahkan semangat pengembangan SAK ETAP berasal dari IFRS SMEs
namun dengan beberapa penyesuaian (Eka: 2010). Dengan adanya SAK
ETAP, maka perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan
keuangan dengan menggunakan SAK Umum yang berlaku. Di dalam
beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk
perusahaan dibandingkan dengan SAK dengan ketentuan pelaporan yang
lebih kompleks.. Selama ini perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas
publik (misalnya UKM, private entities, dan lainnya) mengalami dilema
dalam penyusunan laporan keuangan. Mereka menginginkan laporan
keuangan yang sesuai dengan standar, untuk tujuan-tujuan antara lain
memperoleh kredit dari bank, tujuan pelaporan pajak maupun tujuan
internal perusahaan. Namun, hambatan dalam pengaplikasian SAK Umum
terkait dengan kompleksitas SAK Umum sehingga menimbulkan biaya
yang besar apabila tetap diterapkan. Dewan Standar Akuntansi Keuangan
(DSAK) memahami hal ini dan memberikan solusi berupa penerbitan
SAK ETAP yang merupakan simplifikasi dari SAK Umum. Secara
substansi tidak terdapat perbedaan signifikan antara keduanya, namun
persyaratan disclosure dari SAK ETAP berkurang signifikan dari SAK
Umum (Eka: 2010).
Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus
membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and
unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan
keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK
ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.
Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP, maka auditor yang akan
10

melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu kepada SAK-


ETAP. Mengingat kebijakan akuntansi SAK-ETAP di beberapa aspek
lebih ringan daripada SAK Umum, maka ketentuan transisi dalam SAK-
ETAP ini cukup ketat.
Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal
penerapan SAK ETAP, yakni 1 Januari 2011, Entitas yang memenuhi
persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan
keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-
ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk
penyusunan laporan keuangan berikutnya. Oleh sebab itu per 1 Januari
2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik harus memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan
menggunakan PSAK atau beralih menggunakan SAK-ETAP (Wahyuni:
2011).
Selanjutnya ketentuan transisi juga menjelaskan bahwa entitas
yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian
tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP,
maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan
keuangan berdasarkan SAK ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan
menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011,
namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan publik pada tahun
berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan
berdasarkan SAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan
SAK ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya
menggunakan SAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan
kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK
ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam
menyusun laporan keuangan (Wahyuni: 2011)
11

2. Persiapan Penerapan SAK ETAP


Standar Akuntansi Keuangan Tanpa Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP) akan dinyatakan efektif berlaku untuk entitas yang
tidak memiliki akuntabiltas publik, yaitu entitas yang memiliki 2 kriteria
yaitu: tidak memiliki akuntabilitas publik secara signifikan, dan tidak
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statements) bagi pengguna eksternal.
Contoh pengguna eksternal dalam kriteria kedua ini adalah pemilik
yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur dan
lembaga pemeringkat kredit (Basir: 2010). Kriteria ETAP di atas bisa
dibedakan dengan entitas yang memiliki akuntabilitas publik, yaitu jika
(SAK ETAP: 2009):
 Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas
dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar
modal (BAPEPAM-LK) atau regulator lain untuk tujuan
penerbitan efek di pasar modal.
 Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebaga fidusia untuk
sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi,
pialang dan/atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana, dan
bank investasi.
Pada umumnya, entitas tanpa akuntabilitas publik adalah UKM,
oleh karena itu pengguna ETAP akan banyak terdiri dari entitas dengan
kategori UKM. Penerbitana SAK ETAP oleh DSAK IAI ini adalah
sebagai alternatif SAK yang boleh diterapkan oleh entitas di Indonesia,
sebagai bentuk SAK yang lebih sederhana dibandingkan dengan SAK
Umum yang lebih rumit (Basir: 2010).

3. Ruang Lingkup SAK ETAP


Berdasarkan ruang lingkup Standar Akuntansi Keuangan Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik maka standar ini dimaksudkan untuk
digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa
12

akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki


akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan
untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna
eksternal.
Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat
langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat
kredit. Ruang lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa entitas
dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika : proses pengajuan
pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain
untuk tujuan penerbitan efek dipasar modal; atau entitas menguasai aset
dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat,
seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana
pensiun, reksadana dan bank investasi. Entitas yang memiliki akuntabilitas
publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang
membuat regulasi mengizinkan penggunaan standar tersebut.

4. Penyusunan Laporan Keuangan Pada SAK ETAP


SAK ETAP diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang
dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan.
Jika SAK ETAP diterapkan dini, maka entitas harus menerapkan SAK
ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah
1 Januari 2010 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam SAK ETAP (2009).
1)Jenis laporan keuangan lengkap Menurut Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) dalam SAK ETAP (2009), laporan keuangan adalah bagian dari
proses pelaporan keuangan, dan laporan keuangan yang lengkap meliputi:
 Neraca, merupakan bagian dari laporan keuangan suatu perusahan
yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan
posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut. Neraca
minimal mencakup pos-pos berikut:
 Kas dan setara kas
 Piutang usaha dan piutang lainnya
13

 Persediaan
 Properti dan investasi
 Aset tetap
 Aset tidak berwujud
 Utang usaha dan utang lainnya
 Aset dan kewajiban pajak
 Kewajiban diestimasi
 Ekuitas
 Laporan laba rugi, menyajikan hubungan antara penghasilan dan
beban dari entitas. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja
atau sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat
pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur laporan
keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba
adalah penghasilan dan beban. Laporan laba rugi minimal
mencakup pos-pos sebagai berikut:
 Pendapatan
 Beban keuangan
 Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan
metode ekuitas
 Beban pajak
 Laba atau rugi neto
 Laporan perubahan ekuitas, dalam laporan ini menunjukan:
 Seluruh perubahan dalam ekuitas untuk suatu periode,
termasuk di dalamnya pos pendapatan dan beban yang
diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode
tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan
koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, atau
 Perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari
transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik termasuk jumlah investasi, penghitungan dividen
dan distribusi lain ke pemilik ekuitas selama suatu periode.
14

 Laporan arus kas, menyajikan informasi perubahan historis atas


kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah
perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan.
 Catatan atas laporan keuangan, yang berisiringkasan kebijakan
akuntansi yang signifikan dan penjelasan lainnya. Catatan atas
laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan
keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang
disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang
tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.
 Pengakuan dalam laporan keuangan
 Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat
ekonominya dimasa depan akan mengalir ke entitas dan
aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca jika
pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya
dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah
periode pelaporan berjalan. Sebagai alternatif transaksi
tersebut menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba
rugi.
 Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika:
 Diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk
dijual atau digunakan, dalam jangka waktu siklus
operasi normal entitas
 Dimiliki untuk diperdagangkan
 Diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12
bulan setelah akhir periode pelaporan; atau
 Berupa kas atau setara kas, kecuali jika dibatasi
penggunaannya dari pertukaran atau digunakan
15

untuk menyelesaikan kewajiban setidaknya 12


bulan setelah akhir periode pelaporan.
 Entitas mengklasifikasikan semua aset lainnya sebagai
tidak lancar. Jika siklus operasi normal entitas tidak dapat
diidentifikasi dengan jelas, maka siklus operasi
diasumsikan 12 bulan.
 Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat
ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban
masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur
dengan andal. (i)Entitas mengklasifikasikan kewajiban
sebagai kewajiban jangka pendek jika:
 Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu
siklus normal operasi entitas
 Dimiliki untuk diperdagangkan
 Kewajiban akan diselesaikan dalam jangka waktu
12 bulan setelah akhir periode pelaporan; atau
 Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk
menunda penyelesaian kewajiban setidaknya 12
bulan setelah akhir periode pelaporan.
 Entitas mengklasifikasikan semua kewajiban lainnya sebagai
kewajiban jangka panjang.
 Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari
pengakuan aset dan kewajiban. Penghasilan diakui dalam
laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa
depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau
penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara
andal.
 Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari
pengakuan aset dan kewajiban. Beban diakui dalam laporan
laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan
16

yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan


kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal. Laba
atau rugi merupakan selisih antara penghasilan dan beban.
Hal tersebut bukan merupakan suatu unsur terpisah dari
laporan keuangan, dan prinsip pengakuan yang terpisah
tidak diperlukan.

E. Kerangka Pemikiran
Menurut Hamid (2007) mendefinisikan kerangka pemikiran sebagai
berikut: “Kerangka pemikiran merupakan sintesa dari serangkaian teori yang
tertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya merupakan gambaran
sistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi atau alternatif solusi dari
serangkaian masalah yang ditetapkan.”
Kerangka berpikir ini merupakan model konseptual, tentang bagaimana
teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting. Adapun masalah-masalah yang dianggap penting dalam
penelitian ini adalah bagaimana penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada penyusunan Laporan Keuangan
yang merupakan sebuah studi kasus pada Toko Harian Seroja 2. Berdasarkan
uraian di atas, gambaran menyeluruh penelitian ini yang mengangkat penelitian
mengenai penerapan SAK ETAP pada laporan keuangan. Berikut merupakan
gambaran kerangka pemikiran dari penelitian ini:
17

Gambar 2 Skema Kerangka Pemikiran

PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA


AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP) PADA TOKO HARIAN SEROJA 2

PENERAPAN AKUNTANSI DILAKUKAN PADA SETIAP


KEGIATAN USAHA TOKO HARIAN SEROJA 2

BASIS TEORI

METODE PENELITIAN :
DESKRIPTIF KOMPARATIF

DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN

F. Hipotesis
Sugiyono ( 2011:64) menjelaskan bahwa :
‘’Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian ,dimana rumusan penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat
pernyataan.dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasatrkan
pada teori yang relevan,belum berdasarkan fakta fakta empiris yang diperoleh
melalui pengumpulan data ,jadi hipotesis juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis
terhadap rumusan masalah penelitian ‘’.Berdasarkan kerangka pemikiran yang
dijelaskan diatas maka penulis menarik hipotesis penelitian ini ,yaitu bahwa :
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Objek Peneltian
Menurut Suharsini Arikunto (1998) Objek penelitian adalah sebagai
berikut: Objek penelitian adalah variabel atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian, sedangkan subjek penelitian merupakan tempat dimana variabel
melekat.
Objek penelitan ini yaitu laporan keuangan sedangkan subjek dari
penelitian ini adalah toko harian seroja 2.

B. Jenis dan Sumber Data


1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
 Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam
bentuk angka (non-numerik). Data diperoleh melalui berbagai teknik
pengumpulan data misalnya wawancara, analisi dokumen, dan
observasi.
 Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan
(numerik). Data kuantitatif berupa laporan keuangan satu tahun.
2. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yakni berupa
laporan keuangan toko harian seroja 2

C. Teknik Pengumpulan Data


Untuk menyelesaikan pembuatan proposal ini, maka penulis memperoleh
data-data yang diperlukan dari Toko Harian Seroja 2 dengan menggunakan
metode sebagai berikut:
1. Dokumentasi, beberapa dokumen dan arsip yang relevan yang dapat dibuat
dari catatan atau dokumen yang ada seperti profil usaha dan laporan
keuangan.

18
19

2. Interview/wawancara, metode ini dilakukan dengan pihak-pihak yang


bersangkutan untuk mengetahui jenis usaha serta penyajian laporan
keuangan toko harian seroja 2.

D. Identifikasi dan Operasionalisasi Variabel


Menurut Sugiyono (2010:58) operasional variabel penelitian pada
dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenai hal tersebut,
kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang
diteliti yaitu variabel bebas yaitu pajak SAK ETAP dan variabel terikat yaitu
Laporan Keuangan.
 Variabel Bebas
Menurut Sugiyono (2010:59) variabel bebas merupakan variabel yang
memengaruhi atau yang menjadi sebab terjadinya perubahan terhadap
variabel terikat. Variabel bebas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
penerapan SAK ETAP terhadap penyusunan laporan keuangan pada toko
harian seroja 2.
 Variabel Terikat
Sugiyono mengemukakan (2010:59) variabel terikat merupakan variabel
yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Variabel terikat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah laporan
keuangan.

E. Analisis Data
1. Deskriptif, metode dimana data dikumpulkan, disusun, diinterprestasikan
dan dianalisi sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi masalah
yang dihadapi.
2. Komparatif, metode analisis yang dilakukan dengan membandingkan
teori-teori dan standar yang berlaku yaitu SAK ETAP dengan praktik
penyusunan laporan keuangan pada toko harian seroja 2.
20

Laporan keuangan Toko Harian Seroja


Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pemilik Toko harian
seroja 2 , sistem pencatatan laporan keuangan ditoko harian seroja 2 masih
sangat sederhana yakni hanya membuat laporan laba rugi dan laporan arus kas.
Penjualan barang dagangan diakui sebagai pendapatan dagang dan pengeluaran
kas seperti pembelian barang dagangan, gaji pegawai, pembayaran sewa toko
dan listrik diakui sebagai beban.
Berikut adalah laporan laba rugi yang disusun oleh pemilik toko harian seroja 2.

Table 1. Laporan Laba-rugi Toko harian seroja 2 bulan Desember 2017


Penjualan Xxx
Retur penjualan (xxx) _
Penjualan bersih Xxx
Beban-beban:
Beban gaji karyawan Xxx
Beban ongkos kirim Xxx
Beban sewa toko Xxx
Beban listrik Xxx
Beban lain-lain xx
Beban penyusutan kendaraan Beban x
penyusutan peralatan toko Beban xx
persediaan x
xx
x
xx
x
Beban penyusutan kendaraan xxx +
Total beban (xxx) _
Laba sebelum pajak Xxx
Beban pajak penghasilan (xxx)
Laba setelah pajak _ xxx

Sumber: Data diolah dari Toko Harian Seroja 2

Berdasarkan Tabel 1 laporan laba-rugi diatas menunjukan bahwa toko


harian seroja 2 menggunakan bentuk single step semua pendapatan
dikelompokkan tersendiri di bagian atas dan dijumlahkan, sedangkan semua
beban dikelompokkan tersendiri di bagian bawah kemudian dijumlahkan.
21

Artinya jumlah pendapatan dikurangi jumlah beban, selisihnya merupakan laba


bersih atau rugi bersih. Pos- pos yang ada didalam tabel merupakan hasil
penjualan barang dagangan dan beban-beban dari operasional toko serta pajak
penghasilan.

Tabel 2. Laporan Arus Kas Toko Harian Seroja 2 Bulan desember 2017
Aktiivitas Operasi
Penerimaan kas dari penjualan barang xxx
Pembayaran kas untuk beban dan utang (xxx)
-
Aktivitas
Investasi Aktiivitas x
xx
Pendanaan (
xxx)
Penerimaan kas dari pinjaman jangka
Sumber:pendek
Data diolah dari Toko
dan pinjaman harian
jangka seroja 2.
panjang
pengeluaran kas untuk pelunasan
pinjaman
Berdasarkan laporan arus kas diatas, aktivitas operasi berasal dari
penerimaan kas dari penjualan barang dagangan, pembayaran kas untuk beban
toko seperti pembayaran gaji karyawan, beban listrik, beban sewa toko, beban
lain-lain dan pembayaran utang atas pinjaman dari bank. Untuk aktivitas investasi
tidak ada karena toko harian seroja 2 tidak melakukan pemasukan atau
pengeluaran kas untuk investasi pengadaan asset tetap. Aktivitas pendanaan
berasal dari pinjaman dari bank dan pengeluaran kas untuk kepentingan pemilik..
Toko harian seroja 2 mencatat transaksi sehari-hari seperti pemasukan
dan pengeluaran kas kemudian direkap setiap bulan dan diakhir tahun pemilik
membuat laporan keuangan arus kas dan laba rugi.

Pembahasan
Dalam menyusun laporan keuangan Toko harian seroja 2 belum menyajikan
seluruh komponen laporan keuangan, berikut komponen laporan keuangan yang
disajikan oleh Toko harian seroja 2 dan komponen laporan keuangan yang
disyaratkan pada SAK ETAP
22

Tabel 3. Perbandingan Laporan Keuangan Toko Harian Seroja 2 dengan


SAK ETAP
SAK ETAP TOKO HARIAN SEROJA 2 KETERANGAN
1. Laporan Laba Rugi 1. Laporan Arus Kas Belum Sesuai
2. Neraca 2. Laporan Laba rugi
3. Lapora Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan Atas Laporan
Keuangan
Sumber: Data olahan, 2017

Berdasarkan Tabel 3 telihat bahwa laporan keuangan toko harian seroja 2


komponen laporannya masih kurang yaitu Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas
dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa laporan
keuangan yang disusun berlum memenuhi karakteristik kualitatif laporan
keuangan atau belum berkualitas karena belum sesuai dengan SAK ETAP.

Tabel 4. Kelengkapan Laporan Laba Rugi Toko harian seroja 2

SAK ETAP Toko Harian Seroja 2 Ada Tidak


Pendapatan Penjualan 
Beban keuangan beban administrasi dan 
operasional
lainnya
Bagian laba atau rugi dari 
investasi
yang menggunakan metode
ekuitas
Beban pajak Laba rugi sebelum pajak 
dan
taksiran pajak penghasilan
Laba atau rugi neto Laba rugi bersih 
Sumber: Data olahan, 2017
23

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa ada akun dalam laba rugi menurut SAK
ETAP yang belum ada di laporan laba rugi toko harian seroja 2 yaitu bagian laba
rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas. Hal ini dikarenakan toko
harian seroja 2 tidak memiliki investasi baik asset berwujud maupun tidak
berwujud, tetap dan tidak tetap karena untuk bangunan sendiri toko harian seroja
2 masih menyewa.

Laporan Arus Kas


Dalam laporan arus kas ternyata toko harian seroja 2 belum sepenuhnya sesuai
dengan SAK ETAP masih banyak pos-pos yang tidak dicantumkan dalam laporan
arus kas hal ini dikarenakan banyak pos-pos yang tidak dijelaskan saat diterbitkan.

Tabel 5. Kelengkapan Laporan Arus Kas


Toko Harian Seroja 2 Pos-pos dalam akun Arus Kas

SAK ETAP Toko Harian Seroja 2 Ada Tidak


Dari Aktivitas
Operasi
Penerimaan kas dari penjualan Penerimaan kas dari

barang dan jasa penjualan barang
Penerimaan kas dari
royalty, fees, komisi dan 
pendapatan
Pembayaran kas kepada
Pembayaran kas untuk utang 
pemasok barang dan jasa
Pembayaran kas kepada dan
Pembayaran kas untuk beban 
atas nama karyawan
Pembayaran kas atau restitusi
pajak penghasilan, kecuali 
jika dapat diidentifikasi
24

secara khusus sebagai bagian


dari aktivitas pendanaan dan
Investasi
Penerimaan dan pembayaran
kas dari investasi, pinjaman
dan kontrak lainnya yang
dimiliki untuk tujuan

perdagangan, yang sejenis
dengan persediaan yang
dimaksudkan untuk dijual
kembali.
Aktivitas
Investasi
Pembayaran kas untuk memperoleh
asset tetap (termasuk asset tetap yang

dibangun sendiri), asset tidak berwujud
dan asset jangka panjang lainnya
Penerimaan kas dari penjualan asset
tetap, asset tidak berwujud dan asset 
jangka panjang lainnya
Pembayaran kas untuk memperoleh
efek ekuitas atau efek utang entitas lain
dan bunga dalam joint venture (selain

pembayaran untuk efek yang
diklasifikasikan sebagai kas atau setara
kas atau dimiliki untuk diperdagangkan)
Penerimaan kas dari penjualan efek
ekuitas atau efek utang dari entitas lain

dan bunga dari joint venture (selain
penerimaan dari efek yang
25

diklasifikasikan sebagai setara kas atau


dimiliki untuk diperdagangkan)

Uang muka dan pinjaman yang



diberikankepada pihak lain
Penerimaan kas dari pembayaran
kembaliuang muka dan pinjaman yang 
diberikan kepada pihak lain
Aktivitas
Pendanaan
Penerbitan saham atau efek dari

ekuitas lain
Pembayaran kas kepada pemegang
saham untuk menarik atau menebus 
saham entitas
Pembayaran kas kepada pemegang
saham untuk menarik atau menebus 
saham entitas
Penerimaan kas dari penerbitan Penerimaan kas dari
pinjaman, wesel, dan pinjaman jangka pinjaman jangka pendek
pendek atau jangka panjang lainnya dan jangka
panjang 
xxxdan pinjaman
jangka
panjang
Pelunasan pinjaman pengeluaran kas
untuk 
pelunasan pinjaman
Pembayaran kas oleh lessee untuk
mengurangi saldo kewajiban yang 
berkaitan dengan sewa pembiayaan
26

Penerimaan kas dari


pinjaman jangka pendek
Penerimaan kas dari penerbitan dan jangka 
pinjaman, wesel, dan pinjaman jangka panjang
pendek atau jangka panjang lainnya
xxxdan pinjaman
jangka
panjang
Pelunasan pinjaman pengeluaran kas 
untuk
pelunasan pinjaman
Pembayaran kas oleh lessee untuk
mengurangi saldo kewajiban yang 
berkaitan dengan sewa pembiayaan
Sumber: Data olahan, 2017

Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa ada beberapa akun arus kas menurut SAK
ETAP yang belum ada pada Toko harian seroja 2 terutama untuk aktivitas
invertasi. Hal ini dikarenakan toko harian seroja 2 tidak mempunyai investasi
jangka pendek maupun jangka panjang karena untuk bangunan toko harian seroja 2
masih menyewa. Dan utuk aktivitas pendanaan toko Harian Serojaa 2 tidak
menerbitkan saham.

F. Penutup
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
Toko Harian Seroja 2 masih belum menerapkan penyusunan laporan keuangan
berdasarkan SAK ETAP. Toko Harian Seroja 2 hanya membuat Laporan Arus
Kas dan Laporan Laba Rugi.
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka saran yang dapat
direkomendasikan peneliti adalah sebagai beikut : 1) Toko harian seroja 2 perlu
27

melengkapi komponen laporan keuangan lainnya antara lain Neraca, Laporan


Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas Laporan Keuangan; 2) Perlu ada fasilitas dan
komunikasi pembina kepada para pelaku usaha berkaitan hal tersebut untuk
melakukan pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme khususnya
dibidang manajemen keuangan sehingga para pelaku usaha UMKM bisa tampil
sebagai wirausaha professional
28

DAFTAR PUSTAKA

Alifta Lutfiaazahra. 2015. Implementasi Standar Akutansi Keuangan Entitas


Tanpa Akuntabilitas Public ( SAK ETAP ) Pada UMKM Pengrajin
Batik Di Kempoeng Batik Laweyan Surakarta. Skripsi. Surakarta :
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Basir, Syarief. 2010. “Persiapan Penerapan PSAK ETAP”. Newsletter KAP


Syarief Basir dan Rekan, edisi: Juli.

Dwi Jayanti. 2018. Analisis Penerapan SAK ETAP Pada Badan Usaha Milik
Desa ( Bumdes ) Surya Sejahtera Di Desa Kudung Turi Kecamatan
Taman Kabupaten Sidoarjo. Skripsi. Surabaya : Universitas Bhayangkara
Surabaya.

Eka, I Wayan Agus. 2010. “SAK ETAP Sebuah Versi Sederhana dari SAK
Umum”, artikel diakses tanggal 29 April 2014, dari http:
//wayanag.seka.wordpress.com/2010/02/21/sak-etap-sebuah-versi-
sederhana-dari-sak-umum/

Hamid, Abdul. 2012.“Buku Panduan Penulisan Skripsi”, Fakultas Ekonomi dan


Ilmu Sosial Universitas Islam Syarif Hidayatullah. Jakarta: FEIS UIN
Syarif Hidayatullah.

IAI. 2009. “Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik”.


Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan.

Kieso, Donald E., Jerry J. Weygrant dan, Terry D. Warfield. 2007. “Akuntansi
Intermediate”. Edisi Duabelas. Terjemahan Emil Salim. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

M, Ainul Fadhol. 2018. Analisis Laporan Keuangan Berdasarkan Standar


Akutansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Public ( SAK ETAP )
Pada ORYZA MART Jember Periode 2017. Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan , Ilmu Ekonomi , Dan Ilmu Sosial
Nasution, Manahan. 2004. “Siklus Akuntansi”. e-USU Repository, Universitas
Sumatera Utara: 1-10.

Nurita Budi Pratiwi Dan Rustam Hanafi .2016. Analisis Factor Factor Yang
Mempengaruhi Penerapan Standar Akutansi Keuangan Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik ( SAK ETAP ) Pada Usaha Mikro Kecil Menengah
( UMKM ) . Skripsi .Semarang : Fakultas Ekonomi Universitas Semarang .
29

Nurkamsiah. 2016. Penerapan Standar Akuntasi Keuangan Entitas Tanpa


Akuntabilitas Piblik ( SAK ETAP ) Pada Penyusunan Laporan
Keuangan Di Http:/Journal .Feb.Unmul.Ac.Id (Diakses 22 Oktober 2019.)

Riahi, Belkaoi Ahmed. 2006. “Accounting Theory”. Edisi Lima. Terjemahan Ali
Akbar Yulianto dan Risnawati Dermauli. Jakarta: Salemba Empat.

Sadeli, Lili M. 2008. “Dasar- Dasar Akuntansi”. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sugiyono. (2009). “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif”.Alfabeta.


Bandung.

Wahyuni, Ersa Tri. “SAK ETAP Efektif 1 Januari 2011: Siapa yang Peduli?”.
artikel diakses tanggal 27 April 2014, dari
http://ersatriwahyuni.blogspot.com/2011/01/sebagian-dari-tulisan-ini-
pernah-dibuat.html

Warren, Carl S., James M. Reeve dan Phillip E. Fees. 2006. “Pengantar
Akuntasi”. Edisi Dua puluh satu. Terjemahan Aria Faramita,
Amanugrahani dan Taufik Hendrawan. Jakarta: Salemba Empat