Anda di halaman 1dari 8

LAMPIRAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI


NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

KEBIJAKAN PELAYANAN PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI


RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI

KEBIJAKAN UMUM
1) Pelayanan di unit harus selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien;
2) Setiap unit/ bagian/ instalasi Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri wajib melaksanakan
program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien;
3) Peralatan di unit harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;
4) Setiap petugas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional
yang berlaku, etika profesi, etiket, dan menghormati hak pasien;
5) Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja);
6) Semua petugas unit wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
7) Penyediaan tenega harus mengacu kepada pola ketenagaan;
8) Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin bulanan minimal
satu bulan sekali;
9) Setiap bulan wajib membuat laporan.

KEBIJAKAN KHUSUS PELAYANAN PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI


A. KEBIJAKAN ORGANISASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI RUMAH SAKIT.
1. Direktur membentuk Komite dan Tim PPI Rumah sakit sesuai dengan SK Direktur yang
mempunyai tugas, fungsi dan kewenangan yang jelas sesuai dengan Pedoman Manajerial
PPI Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
2. Komite PPI merupakan unit kerja non struktural yang disusun terdiri dari ketua,
sekretaris, anggota dan langsung di bawah Direktur Rumah Sakit.
3. Anggota Komite PPI terdiri dari dokter spesialis bedah, spesialis anak, spesialis penyakit
dalam, spesialis orthopedi, spesialis mata, dokter umum, dokter gigi, laboratorium,
farmasi, laundry, sanitasi, radiologi, perawat, dan K3.
4. Komite PPI dalam menyusun regulasi, wajib mengacu Pedoman Manajerial Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya yang
dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
5. Tim PPI terdiri dari 1 perawat PPI (IPCN) yang purna waktu dan 1 dokter PPI (IPCO).
6. Dalam bekerja IPCN dibantu oleh beberapa IPCLN dari tiap unit terutama ruang yang
beresiko terjadinya infeksi.
7. Semua unit kerja di rumah sakit harus melaksanakan kegiatan Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI).
8. Rumah Sakit mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan pencegahan dan
pengendalian infeksi yang dimasukkan dalam anggaran KPPI.

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 1


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

B. KEBIJAKAN KEWASPADAAN STANDAR


1. Cuci tangan
a) Semua karyawan rumah sakit, pasien dan pengunjung harus melakukan cuci tangan
dengan air bersih dan sabun atau handrub antiseptik berbasis alkohol.
b) Cuci tangan dilakukan pada 5 keadaan yaitu : sebelum kontak dengan pasien,
sebelum melakukan tindakan aseptik, setelah melakukan tindakan invasif yang
berhubungan cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien, setelah kontak
dengan lingkungan pasien.
c) Cuci tangan dilakukan dengan benar sesuai dengan 6 langkah cuci tangan yang
direkomendasikan oleh WHO.
d) Tim PPI melakukan survey kepatuhan cuci tangan terhadap seluruh petugas rumah
sakit setiap bulan.
e) IPCN melakukan audit kepatuhan cuci tangan 6 bulan sekali.
2. Penggunaan Alat Pelindung Diri ( APD ).
a) Semua petugas yang melakukan kontak dengan pasien yang berisiko menularkan
penyakit infeksius harus memakai APD sesuai dengan prosedur yang benar.
b) Semua petugas yang melakukan tindakan septik aseptik harus memakai APD sesuai
dengan prosedur yang benar.
c) Alat pelindung diri adalah alat yang berfungsi sebagai pelindung barrier untuk
melindungi dari mikroorganisme yang ada dan petugas kesehatan.
d) Jenis-jenis alat pelindung diri yaitu: sarung tangan, masker, alat pelindung mata
(goggles plastic bening, kacamata pengaman, pelindung wajah dan visor), topi, gaun
pelindung, apron, pelindung kaki (sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup).
e) Petugas yang wajib memakai APD adalah petugas medis (dokter, perawat, bidan)
penunjang medis (laboratorium gizi, radiologi), clening service, laundry, pemakaian
alat pelindung diri hendaknya sesuai dengan indikasi pemakaian.
f) Pemakaian APD dilakukan sebelum kontak dengan pasien.
g) Untuk penyakit yang menular lewat udara baik pasien maupun pengunjung wajib
memakai masker.
h) Untuk APD yang disposable setelah dipakai dibuang ditempat sampah infeksius yang
telah disediakan sedangkan untuk APD yang akan dipakai kembali, setelah dilepaskan
didekontaminasi terlebih dulu sebelum diproses lebih lanjut.
3. Dekontaminasi
a) Dekontaminasi adalah suatu proses yang membuat benda mati lebih aman untk
ditangani oleh petugas sebelum dibersihkan dan mengurangi tapi tidak
menghilangkan jumlah mikroorganisme yang terkontaminasi.
b) Dekontaminasi dilakukan pada semua alat medis bekas pakai yang akan dipakai
kembali (re use), permukaan kerja, lantai yang mungkin tercemar darah atau cairan
tubuh lainnya, linen bekas pakai yang terkontaminasi cairan tubuh pasien.
c) Dekontaminasi dapat memakai alcohol 60-90 % atau larutan Klorin 0,5% atau larutan
klorin 1% sesuai dengan jenis alat yang akan didekontaminasi.
4. Desinfeksi
Desinfeksi adalah usaha pembebasan dari mikroorganisme pathogen atau membuatnya
menjadi non aktif terutama digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 2


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

mikroorganisme penyebab infeksi tapi tidak dapat merusak atau menghancurkan bentuk
sporanya sehingga mencapai level keamanan di bawah sterilisasi.
a) Alat-alat harus dibersihkan lebih dulu sebelum didesinfeksi untuk mengurangi
bioburden dan dikeringkan agar cairan desinfektan dapat kontak langsung dengan
seluruh permukaan alat.
b) Antiseptik adalah untuk mengurangi atau menghancurkan mikroorganisme yang tidak
dikehendaki yang terdapat di kulit dan permukaan mukosa tapi tidak mempengaruhi
flora normalnya, contoh : alcohol, hexachlorophyl, hlorrhexidin, iodine atau
iodophor, hydrogen peroxide.
c) Antiseptik digunakan untuk cuci tangan, penyiapan kulit pra operasi, pembersihan
luka, obat kumur, semprot vagina dll.
5. Sterilisasi
a) Rumah Sakit menjamin pembersihan peralatan dan sterilisasi yang memadai
b) Barang-barang yang harus disterilkan yaitu : instrument alat kedokteran, sarung
tangan, kasa/pembalut dan linen.
c) Pusat Sterililisasi melayani proses sterilisasi dari Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap,
Instalasi Kamar Operasi, Instalasi Gawat Darurat, dan ICU.
d) Tahapan proses sterilisasi adalah dekontaminasi, pengemasan, sterilisasi,
penyimpanan dan distribusi, pemantauan kualitas bisa seluruh atau sebagaian
dilaksanakan di unit sterilisasi tergantung jenis bahan atau alat.
6. Penanganan peralatan perawatan pasien dan penatalaksanaan linen.
a) Rumah Sakit menjamin manajemen laundry dan linen yang benar.
b) Menangani peralatan yang tercemar dengan untuk mencegah kontak langsung dengan
kulit atau membrane mukosa atau selaput lendir.
c) Mencegah terjadinya kontaminasi pada pakaian atau lingkungan.
d) Mencuci dan desinfeksi peralatan bekas pakai sebelum digunakan kembali.
e) Semua linen yang sudah digunakan harus dimasukkan ke dalam kantong/wadah yang
tidak rusak saat dingkut.
f) Pengantongan ganda tidak diperlukan untuk linen yang sudah digunakan.
7. Kebersihan lingkungan
Setiap perawat harus membersihkan dan melakukan desinfeksi peralatan dan
perlengkapan dalam ruang perawatan pasien secara rutin setiap hari dan bilamana perlu.
8. Penempatan Pasien
a) Prosedur isolasi harus dilakukan dalam pelayanan untuk melindungi pasien,
pengunjung dan staf terhadap penyakit menular dan melindungi pasien yang
immunosuppressed dari infeksi.
b) Pasien dengan penyakit menular melalui udara / airbone maupun melalui kontak
harus dirawat di ruang isolasi (bila memungkinkan) untuk mencegah transmisi
langsung atau tidak langsung.
c) Bila tindakan isolasi tidak memungkinkan maka dilakukan kohorting (pasien dengan
diagnose yang sama ditempatkan secara berdekatan).

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 3


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

9. Hygiene Respirasi atau Etika Batuk


a) Setiap orang yang memiliki tanda atau gejala infeksi pernafasan (batuk, bersin),
harus: menutup hidung atau mulut ketika batuk bersin, menggunakan tissue untuk
menahan sekresi pernafasan dan buang ditempat yang tersedia. Cuci tangan segera
setelah kontak dengan sekresi pernafasan.
b) Rumah sakit menjamin tersedianya:
 Tempat sampah tertutup di semua area
 Tempat cuci tangan dengan air mengalir di ruang tunggu.
 Pengumuman atau informasi tertulis untuk memakai masker bagi setiap
pengunjung yang batuk.
10. Praktek menyuntik yang aman
Semua staf medis wajib melakukan praktik menyuntik yang aman sesuai dengan prosedur.
11. Praktek untuk lumbal pungsi
Setiap staf medis yang kompeten melakukan prosedur lumbal pungsi harus memakai
masker pada insersi cateter atau injeksi suatu obat ke dalam area spinal/epidural melalui
anestesi spinal dan epidural, myelogram, untuk mencegah transmisi droplet flora
orofaring.

C. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA DALAM PPI


1. Semua anggota Komite PPI RS Medika Mulya Wonogiri wajib memiliki sertifikat Pelatihan
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Tingkat Dasar.
2. Semua pegawai RS Medika Mulya Wonogiri baik tenaga medis maupum non medis wajib
menjalani program orientasi pegawai baru baik orientasi umum maupun khusus yang
salah satu materinya adalah pelatihan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi
rumah sakit yang diselenggarakan oleh Komite PPI berkerjasama dengan bagian Diklat.
3. Semua pegawai RS Medika Mulya Wonogiri mengikuti pelatihan Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi Rumah Sakit tingkat dasar (bagi yang belum pernah pelatihan)
secara bertahap yang diselenggarakan oleh Komite PPI bekerjasama dengan Unit Diklat.
4. Komite PPI membuat usulan tentang rencana pengembangan dan pendidikan
berkelanjutan untuk diajukan pada program kerja tahunan dengan mengacu pada visi dan
misi RS Medika Mulya Wonogiri.
5. Tim PPI harus mengembangkan program PPI yang mengikutsertakan seluruh staff, dokter,
pasien dan keluarga, pengunjung serta pemberi layanan lainnya.
6. Tim PPI harus memberikan pendidikan tentang PPI kepada seluruh staff, dokter, pasien
dan keluarga, pengunjung serta pemberi layanan lainnya.

D. KEBIJAKAN PENGADAAN BAHAN DAN ALAT UNTUK PPI


1. Komite PPI mengusulkan kepada direktur tentang pengadaan alat dan bahan yang sesuai
dengan prinsip PPI dan aman bagi yang menggunakan.
2. Pengadaan bahan dan alat tersebut dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi.

E. KEBIJAKAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA RASIONAL

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 4


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

1. Komite PPI menyusun pedoman penggunaan antibiotik baik untuk profilaksis maupun
untuk terapi, berdasarkan pedoman diagnosis dan terapi yang telah disusun oleh masing-
masing spesialis.
2. Rumah Sakit membatasi penggunaan beberapa antibiotika tertentu yang dicadangkan
untuk menghadapi kasus infeksi nosokomial yang resisten terhadap obat yang lazim
dipakai.
3. Rumah Sakit melakukan pengawasan yang ketat terhadap pemakaian obat-obatan lainnya
seperti kortikosteroid, imunosupresif dll.
4. Rumah Sakit perlu melakukan peta pola medan kuman yang dapat dijadikan acuan bagi
dokter yang merawat pasien untuk memberikan therapy antibiotika awal sebelum
didapatkan hasil kultur dan sensitivity test dalam rangka pencegahan dan pengendalian
infeksi.

F. KEBIJAKAN PELAKSANAAN SURVEILANS


1. Tim PPI harus menyusun dan menerapkan program komprehensif untuk mengurangi resiko
dari infeksi terkait pelayanan kesehatan pada pasien, tenaga pelayanan kesehatan dan
pengunjung termasuk mengembangkan program surveillance infeksi yang relevan, yang
dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan, terintegrasi dengan program
peningkatan mutu dan keselamatan pasien yaitu indikator mutu yang berhubungan
dengan masalah infeksi antara lain pemantauan: SSI (Site Surgical Infection) / ILO (infeksi
luka operasi), CAUTI (Catheter Associated Urinary Tract Infection), dan phlebitis.
2. Surveilance infeksi nosokomial merupakan suatu kegiatan pengumpulan data yang
sistematis, analisis dan interpretasi yang terus-menerus dari data infeksi nosokomial yang
penting untuk digunakan dalam perencanaan, penerapan dan evaluasi suatu tindakan
yang berhubungan dengan pencegah dan pengendalian infeksi rumah sakit yang
didesiminasikan secara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukannya.
3. Metode yang digunakan adalah metode surveillance target yang meliputi surveillance
proses dan surveillance hasil.
4. Surveilance dilakukan oleh petugas IPCN setiap hari bekerjasama dengan petugas IPCLN.
5. Laporan hasil surveillance dibuat setiap bulan dan tahunan yang dibuat oleh Tim PPI yang
diserahkan kepada Komite PPI yang selanjutnya diserahkan kepada Direktur.

G. KEBIJAKAN PELAKSANAAN MANAGEMEN RISIKO


1. Tim PPI harus melakukan risk assessment secara berkala dan menyusun rencana tindak
lanjut.
2. Tim PPI harus melakukan bench marking angka infeksi rumah sakit dengan rumah sakit
lain.
3. Tim PPI harus penyampaian hasil monitoring PPI kepada pimpinan dan staf, dan
melakukan pelaporan tentang infeksi kepada Dinas Kesehatan.

H. KEBIJAKAN PEMELIHARAAN FISIK DAN SARANA

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 5


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

1. Komite PPI memberikan masukan kepada Direktur yang menyangkut konstruksi bangunan,
renovasi ruangan, cara pemrosesan alat, penyimpanan alat dan linen sesuai dengan
prinsip PPI.
2. Untuk pemeliharaan fisik dan sarana bekerjasama dengan Instalasi Pemeliharaan Sarana
Rumah Sakit (IPSRS).
3. Tim PPI Rumah Sakit harus melakukan pemeriksaan kualitas udara secara berkala untuk
mengurangi resiko infeksi selama pembangunan / renovasi.

I. KEBIJAKAN KESEHATAN KARYAWAN


1. Karyawan RS Medika Mulya Wonogiri diwajibkan menerapkan prinsip-prinsip PPI yaitu
kewaspadaan standard dan kewaspadaan berbasis transmisi sesuai dengan indikasi dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari.
2. Karyawan RS Medika Mulya Wonogiri terutama karyawan medis, mendapatkan vaksinasi
hepatitis B secara bertahap.
3. Karyawan RS Medika Mulya Wonogiri yang merawat pasien menular melalui udara harus
mendapatkan pelatihan mengenai cara penularan dan penyebaran, tindakan pencegahan
dan pengendalian infeksi yang sesuai dan protocol bila terpajan. Karyawan yang tidak
terlibat langsung dengan pasien harus diberi penjelasan umum mengenai penyakit
tersebut.
4. Karyawan RS Medika Mulya Wonogiri yang tidak memiliki kartu BPJS atau asuransi
kesehatan lainnya, mendapatkan Kartu BPJS dan Jamsostek dari RS Medika Mulya
Wonogiri untuk mendapatkan kesehatan gratis di RS Medika Mulya Wonogiri baik rawat
jalan, maupun rawat inap sesuai kebijakan Direktur.

J. KEBIJAKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)


1. Komite PPI dengan Tim PPI segera melakukan investigasi masalah atau KLB nosokomial.
2. Komite PPI segera melaporkan adanya KLB kepada Direktur, dimana Direktur akan
membentuk tim pengendali KLB.
3. Dilakukan upaya mencari sumber infeksi dengan pemeriksaan mikrobiologik.
4. Komite PPI mengusulkan kepada Direktur untuk menutup ruangan rawat bila diperlukan
karena potensial menyebarkan infeksi.
5. Bila memungkinkan pasien yang mengalami KLB infeksi nosokomial dirawat di ruang
isolasi, bila tidak memungkinkan maka dilakukan kohorting.
6. Petugas yang merawat pasien tersebut wajib menggunakan APD sesuai dengan
kewaspadaan standard dan kewaspadaan berbasis transmisi.

K. KEBIJAKAN PENCEGAHAN HAI’s


1. Kebijakan Upaya Pencegahan Infeksi Luka Operasi (ILO), meliputi :
a) Persiapan pasien harus dilakukan secara menyeluruh diantaranya perbaikan keadaan
yang memperbesar kemungkinan terjadinya ILO (Diabetes Mellitus, Malnutrisi,
Obesitas, Infeksi, pemakaian kortikosteroid dll), dan persiapan daerah operasi sesuai
prinsip septic aseptic.
b) Tim pembedahan harus melakukan kewaspadaan standart dan APD sesuai prinsip
pencegahan dan pengendalian infeksi.

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 6


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

c) Teknik operasi harus dilakukan dengan sempurna dan secepat mungkin untuk
menghindari kerusakan jaringan lunak yang berlebihan, menghilangkan rongga,
mengurangi perdarahan dan menghidari tertinggalnya benda asing yang tidak
diperlukan.
d) Ruang pembedahan harus bersih, kering, tidak berbau, lantai rata dan dinding licin,
serta sudut ruangan tidak tajam dan dibersihkan secara rutin.
e) Ruangan memiliki sirkulasi udara dan terdapat alat pengatur kelembaban, suhu dan
pencahayaan.
2. Kebijakan Upaya Pencegahan Infeksi Saluran Kemih (ISK)
a) Pemasangan kateter dikerjakan oleh petugas yang memahami dan trampil dalam
tehnik pemasangan secara aseptic dan perawatan kateter sesuai prosedur.
b) Penggantian urin dilakukan menurut waktu tertentu atau bila pada keadaan
tertentu.
c) Kateter dipasang pada saat diperlukan saja.
3. Kebijakan Upaya Pencegahan Infeksi Aliran Darah Primer
a) Petugas pemasang intravena harus bekerja dengan prinsip septic aseptic.
b) Pemasangan intravena dilakukan untuk tindakan pengobatan dan tindakan
diagnostik.
4. Kebijakan Upaya Pencegahan Pneumonia
a) Mencegah terjadinya aspirasi pada pasien-pasien dengan penurunan kesadaran,
disfagia dan pada pasien dengan nasogastric tube.
b) Pemakaian intubasi dilakukan dalam jangka waktu yang sesingkat mungkin.
c) Pasien dengan imunocompromized hendaknya dipisahkan dengan pasien yang
memiliki penyakit yang menular lewat udara.

L. KEBIJAKAN PERALATAN SINGLE-USE MENJADI RE-USE


1. Rumah Sakit menetapkan kebijakan dan prosedur untuk pengelolaan perbekalan yang
kadaluwarsa dan pengelolaan serta penggunaan ulang (re-use) dari alat sekali pakai
(single-use) sesuai rekomendasi dari manufaktur.
2. Proses reuse dari alat single-use harus dilaksanakan secara konsisten, sesuai dengan
peraturan dan perundangan nasional dan standar profesi termasuk identifikasi terhadap :

a) Peralatan dan bahan/material yang tidak pernah bisa direuse


b) Jumlah maksimum reuse khususnya untuk setiap peralatan dan bahan/material yang
direuse.
c) Tipe pemakaian dan keretakan, antara lain yang mengidentifikasikan bahwa
peralatan tidak bisa di reuse.
d) Proses pembersihan untuk setiap peralatan yang dimulai segera sesudah
digunakan dan diikuti dengan protokol yang jelas.
e) Proses untuk pengumpulan, analisis dan penggunaan dari data pencegahan dan
pengendalian infeksi yang terkait dengan peralatan dan material yang direuse.

M. KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 7


LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIKA MULYA WONOGIRI
NOMOR : ....../SK/............./....../.........
TANGGAL : ........................................

1. Rumah Sakit berkewajiban menurunkan resiko infeksi dengan pembuangan sampah yang
tepat, yaitu pengelolaan dan pembuangan sampah infekius dan cairan tubuh, penanganan
dan pengelolaan darah dan komponen darah.
2. Pembuangan limbah benda tajam dan jarum harus sesuai dengan prosedur yang benar.
3. Kebijakan lebih lengkap tentang pengelolaan limbah tercantum pada Kebijakan K3 RS

N. KEBIJAKAN PENGELOLAAN MAKANAN


1. Kegiatan pelayanan makanan harus memperhatikan standard hygiene dan prosedur yang
aman sesuai rekomendasi Tim PPI guna mencagah penularan infeksi.
2. Kebijakan lebih lengkap tentang pengelolaan makanan tercantum pada Kebijakan Gizi.

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri


Direktur,

dr. Sandy Ria Prihatin W, MM


NIK. 014 012 303

Rumah Sakit Medika Mulya Wonogiri 8