Anda di halaman 1dari 7

PENINGKATAN LIMBAH PLASTIK YANG BERDAMPAK

PADA KESEHATAN LINGKUNGAN

Azizah Shiena Pitaloka


Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Muhammadiyah Malang
azizahshiena@gmail.com

ABSTRAK
Indonesia dengan puluhan ribu pulau yang dimilikinya akan terlihat indah jika
pulau dan lautan tersebut tidak dipenuhi oleh limbah. Limbah yang dimaksudkan
yakni limbah plastik yang terdapat di Indonesia dalam jumlah besar dan
menjadikannya salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia. Tak
sedikit ditemukan dalam berbagai benda atau bahan baku yang digunakan berasal
dari plastik. Banyaknya limbah plastik yang terbengkalai akan menjadikan sumber
penyakit bahkan bencana pada lingkungan tersebut. Selain itu, plastik juga tidak
dapat dengan mudah terurai. Contohnya, limbah plastik pada sungai menyebabkan
tidak lancarnya aliran sungai dan ketika musim hujan tiba akan menimbulkan banjir
kemudian timbul penyakit. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk
menanggulangi masalah lingkungan akibat limbah plastik sepatutnya didukung
oleh kita semua sebagai rakyat Indonesia yang baik dan peduli akan lingkungannya.
Sementara dilakukan upaya dalam mengurangi limbah plastik, maka harus
diimbangi dengan penggunaan plastik yang ramah lingkungan dan dikurangi. Salah
satunya dengan cara mendaur ulang atau memanfaatkan kembali menjadi benda
yang lebih bermanfaat.

Kata Kunci: Indonesia, limbah plastik, lingkungan

PENDAHULUAN
Pada era saat ini, dalam kehidupan sehari-hari dengan mudahnya kita
menemukan berbagai barang-barang sintetis yang berbahan dasar plastik. Seperti
sendok, piring, sikat gigi, mainan anak-anak, kantong pembungkus atau biasa
disebut kantong kresek, dan masih banyak lagi. Salah satu alasan yang menjadikan
penggunaan bahan plastik dengan jumlah besar dikarenakan bahan tersebut ringan,
awet, dan tahan air. Tak hanya itu, seperti benda yang banyak digunakan untuk
mengemas yakni kantong kresek karena benda tersebut murah, praktis, dan mudah
didapat. Disamping manfaat yang telah disebutkan, tentunya segala sesuatu juga
memiliki kekurangan. Kekurangan bahan dasar plastik pada umumnya yakni sulit
untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikroorganisme, dengan kata lain plastik
dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga dapat berdampak pada lingkungan,
terjadilah pencemaran lingkungan. Sehingga dapat dikatakan berbagai benda yang
berbahan plastik ataupun pengemas seperti kantong kresek jika penggunaannya
tidak dibatasi akan menimbulkan kerugian dalam kehidupan. Terdapat beberapa
jenis plastik yang tidak dapat dilebur atau dihancurkan. Sehingga limbah plastik
tersebut akan dibuang dan ditumpuk menjadi gunungan limbah yang akan terus
bertambah seiring bertambahnya pemakaian. Lambat laun sampah plastik yang
tidak dapat di lebur atau dihancurkan tersebut akan menjadi limbah yang apabila
dibiarkan akan menjadi polusi bagi lingkungan. Ditimbun dalam tanah
membutuhkan waktu yang lama untuk terurai, akan menjadi pencemaran bagi
tanah, serta air tanah dan hal tersebut tidak baik bagi kesehatan manusia. Bahkan
pengurangan limbah plastik pun tidak baik jika dengan cara dibakar karena dapat
menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernapasan
manusia.
Dengan jumlahnya yang melimpah, tentu jika sudah tidak digunakan benda-
benda berbahan plastik tersebut akan dibuang dan menjadi “limbah plastik” yang
merugikan. Dapat dipastikan jika permasalahan mengenai penggunaan plastik
dalam jumlah besar yang akan menimbulkan peningkatan limbah plastik
merupakan masalah yag sepatutnya ditanggapi dengan serius. Sehingga kita sendiri
harus menerapkan berbagai cara bahkan memunculkan inovasi terbaru untuk
mengatasi limbah plastik yang meningkat seiring waktu.

PEMBAHASAN
Jenis dan Sifat Fisik Plastik
Awal mula bahan pembuat plastik adalah minyak dan gas sebagai sumber
alami. Dengan seiring berkembangnya zaman, bahan-bahan tersebut telah diganti
dengan menggunakan bahan sintesis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat plastik
yang diinginkan. Plastik merupakan salah satu jenis makromolekul yang dibentuk
dengan proses polimerisasi. Dimana polimerisasi adalah proses penggabungan
beberapa molekul sederhana (monomer) melalui proses kimia menjadi molekul
besar (makromolekul atau polimer). Senyawa polimer ini tersusun atas karbon dan
hidrogen.
Plastik juga memiliki sifat fisik yang terbagi dalam dua kategori yakni
thermoplastic dan thermosetting. Pertama, terdapat sifat thermosetting adalah jenis-
jenis plastik yang dapat didaur ulang atau dicetak lagi dengan proses pemanasan
ulang. Contohnya adalah PET (Polyethylene Terephthalate), PS (Polystyrene), PC
(Polycarbonate). Kedua, yakni sifat fisik thermosetting merupakan jenis plastik
yang tidak dapat didaur ulang atau dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang.
Hal ini dikarenakan bahwa pemanasan ulang dapat menyebabkan kerusakan pada
molekul-molekulnya. Contohnya adalah melamin.
Sedangkan jenis plastik terbagi sebagai berikut (Tchobanoglous dkk, 1993):
1. PET (Polyethylene Terephthalate)
Mayoritas bahan plastik PET di dunia untuk serat sintetis (sekitar 60%),
dalam pertekstilan. PET biasa disebut dengan polyester (bahan dasar botol kemasan
30%). Botol Jenis PET ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Bila terlalu sering
dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan
mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan
zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker).
2. HDPE (High Density Polyethylene)
HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan
karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan
HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. HDPE memiliki sifat bahan
yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi jika
dibandingkan dengan plastik dengan kode PET.
3. PVC (Polyvinyl Chloride)
Bahan ini lebih tahan terhadap bahan senyawa kimia, minyak, dll. Kandungan
dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan
masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. Reaksi yang terjadi antara PVC
dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk
ginjal, hati dan penurunan berat badan. Jika jenis plastik PVC ini dibakar dapat
mengeluarkan racun. Bahan ini paling sulit untuk didaur ulang.
4. LDPE (Low Density Polyethylene)
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat
makanan atau minuman karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan atau
minuman yang dikemas dengan bahan ini. LDPE dapat didaur ulang dan baik untuk
barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Sifat mekanis jenis plastik
LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak.
5. PP (Polypropylene)
Karakteristik PP adalah botol transparan yang tidak jernih atau berawan.
Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan
yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi.
6. PS (Polystyrene)
Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan
styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan ini sulit
didaur ulang. Bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang
dan lama. Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-
jingga, dan meninggalkan jelaga.
7. Other (PC atau Polycarbonate dan plastik multilayer)
Plastik ini terbuat dari bahan yang tidak termasuk enam golongan yang
lainnya, atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan digunakan dalam kombinasi
bermacam-macam lapisan. Dianjurkan untuk tidak dipergunakan untuk tempat
makanan ataupun minuman karena bahan utamanya (Bisphenol-A) dapat
berpindah ke dalam minuman atau makanan jika suhunya dinaikkan karena
pemanasan.

Dampak Positif dan Negatif Limbah Plastik


Melimpahnya limbah plastik dapat berdampak positif dan negatif bagi
kehidupan. Bila limbah plastik dapat dimanfatkan kembali, digunakan kembali,
maka akan menjadi suatu hal yang positif.
Pemanfaatan limbah plastik dapat digunakan sebagai bahan baku material
atau pelapis (upholstery) tanpa harus melalui peleburan terlebih dahulu. Caranya
yakni dengan menggabungkan lembaran-lembaran plastik menjadi bahan dasar,
baik dengan menjahitnya atau menempelkannya pada material lain. Hasilnya akan
berupa lembaran-lembaran atau panel, dan siap diaplikasikan ke produk yang telah
didesain. Proses ini lebih mudah dan murah dibandingkan melebur plastik dengan
tambahan additif. Selain itu, dapat dilakukan dengan memotong-motong lembaran
plastik menjadi lembaran kecil panjang, kemudian dianyam menjadi satu, lalu
mengaplikasikannya kepada produk yang telah didesain. Plastik hasil pemanfaatan
kembali dengan daur ulang memiliki kelebihan tersendiri yakni lebih kuat (karena
plastik ini baru dapat terurai sempurna dalam waktu 80 sampai 300 tahun),
fleksibel, mudah didapat, murah, bahkan memiliki warna yang menarik. Hasil
limbah plastik yang telah diolah menjadi lembaran dan anyaman plastik dapat
digunakan sebagai bahan baku pelapis atau upholstery untuk kursi, bantal kursi,
kursi puff, tempat sampah, box, dll.
Jika limbah plastik hanya ditumpuk atau dibuang begitu saja dapat berdampak
negatif, baik pada kesehatan masyrakat maupun lingkungan. Tekstur kuat dari
plastik menjadikan limbahnya tidak mudah terdegradasi oleh mikroorganisme
tanah, diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah
bekas limbah plastik benar-benar terurai. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik
dapat terurai oleh tanah secara sempurna. Sebelum terurai, limbah plastik dapat
mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah, serta menurunkan kesuburan
tanah karena menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk
bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah. Saat terurai, partikel-partikel plastik
akan mencemari tanah dan air tanah. Racun dari partikel limbah plastik yang masuk
ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti
cacing, dapat menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan pada ekosistem
kita.
Sedangkan bila dibakar menjadikan asap yang bersifat beracun dan
mengganggu kesehatan tubuh. Pun sebelum menjadi limbah, menurut seorang ahli
kimia, zat warna plastik seperti warna hitam, jika terkena dapat terdegradasi
menjadi bentuk radikal, menyebabkan penyakit. Kebanyakan barang berbahan
plastik seperti PVC, agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu
bahan pelembut, seperti epoxidized soybean oil (ESBO), di(2-ethylhexyl)adipate
(DEHA), dan bifenil poliklorin (PCB), acetyl tributyl citrate (ATBC) dan di(2-
ethylhexyl)phthalate (DEHP). Dimana, penggunaan bahan pelembut tersebut dapat
menimbulkan masalah kesehatan, sebagai contoh, penggunaan bahan seperti PCB
dapat menimbulkan kamatian pada jaringan dan kanker pada manusia
(karsinogenik), oleh karena itu sekarang sudah dilarang penggunaannya.
Tidak hanya itu, limbah plastik akan menggangu kehidupan makhluk hidup
lainnya seperti hewan hewan di laut. Karena limbah plastik juga bersifat ringan
akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun, sehingga hewan-hewan
dapat terjerat dalam tumpukan plastik. Buruknya, beberapa hewan laut seperti
lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap limbah plastik sebagai
makanan dan akhirnya mati karena tubuhnya tidak dapat mencernya. Ketika hewan
mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur
menjadi bangkai, sehingga dapat meracuni hewan lainnya.
Tidak sedikit pembuangan limbah plastik secara sembaragan dapat
ditemukan di sungai-sungai yang dapat menyebabkan pendangkalan sungai dan
penyumbatan aliran sungai yang berujung banjir.
Sehingga limbah plastik dalam jumlah besar dapat memberi dampak negatif
jika tidak dikelola dengan seperti gangguan kesehatan, menurunkan kualitas
lingkungan, menurunkan estetika lingkungan dan terhambatnya pembangunan
negara.

Daur Ulang Alternatif Pemanfaatan Limbah Plastik


Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, limbah plastik telah
mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Dapat dikatakan bahwa limbah plastik
telah menjadi musuh serius bagi kelestarian lingkungan hidup. Sehingga perlu
pengelolaan limbah plastik dengan serius. Bahkan terdapat pada beberapa negara
mulai mengurangi penggunaan plastik diantaranya Filipina, Australia, Hongkong,
Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss,
dll. Sebaiknya Pemerintah Indonesia juga mulai memikirkan jalan keluar mengenai
penanganan serta pengurangan penggunaan barang berbahan plastik.
Agar pengelolaan limbah plastik berlangsung baik dan mencapai tujuan yang
diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi
pengelolaan sampah adalah semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola
dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta
lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
Penerapan 3R (reduce, reuse, recycle) pada limbah plastik merupakan hal
yang dapat ditemui pada saat ini. Reduce atau mengurangi, yakni sebisa mungkin
meminimalisir pengunaan barang atau material yang kita pergunakan dari bahan
plastik. Karena semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak
limbah yang dihasilkan. Reuse atau menggunakan kembali, dengan memilah barang
yang dapat digunakan kembali, dan menghindari barang yang disposable (sekali
pakai, buang). Serta recycle atau mendaur ulang, sehingga barang-barang yg sudah
tidak digunakan kembali dapat didaur ulang. Teknologi daur ulang dapat menjadi
upaya memaksimalkan material setelah menjadi limbah.
Limbah plastik dapat di daur ulang kembali menjadi barang plastik, tetapi
hanya 80% jenis plastik yang dapat diproses dengan melakukan teknik
pencampuran dengan bahan baku baru dan additif untuk meningkatkan kualitasnya.
Sisanya walaupun memungkinkan didaur ulang, tetapi membutuhkan biaya yang
besar serta proses yang lebih panjang dan sulit (Syafitrie, 2001).
Untuk melakukan proses daur ulang limbah plastik, terdapat beberapa
tahapan yang harus dilakukan. Menurut Sofiana (2010), proses daur ulang limbah
plastik meliputi tiga tahap. Tahap pertama adalah melakukan pemisahan limbah
plastik dari kotoran, zat kimia maupun limbah lainnya seperti limbah organik, lalu
dikelompokkan dengan plastik yang sejenis. Tahap pemisahan merupakan metode
sederhana yang dapat dilakukan secara manual dan murah biaya. Tahap kedua
adalah melakukan pencucian pada limbah yang telah dipisahkan, di bersihkan dan
dicuci untuk dihilangkan zat zat kimia dan kotoran yang melekat, lalu dikeringkan.
Ketiga, tahap terakhir yakni pemotongan plastik yang telah dibersihkan. Limbah
plastik sudah siap diolah dan masuk pada proses produksi. Setelah produksi maka
hasil jadi dari keseluruhan proses akan menguntungkan bahkan berdampak baik
bagi perekonomian jika ditekuni dengan sungguh-sungguh.
Pemanfaatan kembali limbah plastik dengan mendaur ulang dapat diterapkan
di Indonesia, sangat dimungkinkan untuk dilakukan. Karena ketiga tahapan yang
telah disebutkan tidak memerlukan biaya tinggi atau teknologi yang cangih, karena
Indonesia sendiri memiliki tenaga kerja yang melimpah. Pada akhirnya, kondisi ini
memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia.
Karena limbah plastik merupakan kondisi serius, sepatutnya terdapat instansi
yang terkait dengan sistem pengelolaan limbah plastik. Instansi terkait adalah
Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang mengatur secara langsung sistem
pengelolaan plastik dari bahan baku sampai ke produk. Kementerian Lingkungan
Hidup mempunyai tugas dan fungsi dalam pengelolaan lingkungan hidup termasuk
berbagai dampak yang ditimbulkan akibat proses pembuatan plastik dan produk
barang plastik yang sudah tidak terpakai dan dibuang ke lingkungan (Karuniastuti,
2012).

Penanganan Pengurangan Limbah Plastik dalam Kehidupan


1. Menggunakan kemasan berbahan stainless steel, atau kaca untuk menyimpan
makanan atau minuman.
2. Dalam kesehaarian, menggunakan alat makan berbahan stainless steel, kaca,
keramik, dan kayu.
3. Mengurangi penggunaan kantong plastik, menggunakan tas kain setiap
berbelanja (membawa sendiri dari rumah).
4. Menerapkan 3R terhadap limbah plastik yakni reduce atau mengurangi, reuse
atau menggunakan kembali, dan recycle atau mendaur ulang.
5. Menghindari pembuangan limbah plastik ke lingkungan karena secara tidak
langsung akan merusak ekosistem melalui sumbatan pada sistem saluran air
yang menyebabkan sedimentasi dan banjir, merusak lahan subur seperti hutan
mangrove karena keberadaan sampah plastik menutupi permukaan dan
mengurangi sistem pengudaraan, dan karena sifatnya yang tidak dapat
membusuk, akan mengurangi kapasitas lahan pembuangan akhir sampah.
6. Pemanfaatan kelembagaan yang meliputi instansi dan organisasi khusus
menangani limbah plastik dengan maksimal. Karena kelembagaan
mempunyai fungsi yang penting dalam mengnangani sistem pengelolaan
sampah plastik secara menyeluruh dan komprehensif termasuk didalamnya
penerbitan peraturan yang berkaitan dengan sistem pengelolaan limbah
plastik dan plastik.
7. Penerapan hukum yang tegas dan jelas mengenai peraturan tentang
pengelolaan limbah seperti yang tercantum pada UU No. 18 Tahun 2008.
Sepatutnya masyarakat memiliki kesadaran akan pemanfaatan dan
pengelolaan limbah terutama limbah plastik secara baik dan tepat untuk
dikembangkan di setiap lingkungan masyarakat sehingga kualitas kesehatan,
kualitas lingkungan dapat ditingkatkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai
sumberdaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
8. Terapkan, sebarkan dan mengajak setiap orang di lingkungan kita untuk
mengimplementasikan cara sehat dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP
Pada satu sisi, penggunaan plastik mendatangkan manfaat yang cukup besar,
namun di sisi lain menyebabkan dampak negatif karena sifatnya yang kurang baik
terhadap kesehatan dan lingkungan. Oleh sebab itu, produk-produk berbahan dasar
plastik dan limbahnya akan menimbulkan masalah baru. Akan tetapi, keberadaan
plastik tidak dapat dihindari dari kehidupan sehari-hari sehingga kita perlu
meminimalisir penggunaan barang berbahan plastik dan menanggulangi
pembuangan limbah plastik dengan benar, maka tidak dapat menimbulkan dampak
negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.
Sehingga pentingnya kesadaran dari masing-masing individu, seluruh
masyrakat, serta pemerintah, dan berbagai perusahaan industri dalam pengelolaan
lingkungan akan membuat kesehatan dan lingkungan terjaga sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Dharini, Mega dan Yulinah Trihadiningrum. 2011. Studi Terhadap Timbulan
Sampah Plastik Multilayer serta Upaya Reduksi yang Dapat diterapkan di
Kecamatan Jambangan Surabaya. Paper – tidak diterbitkan. Surabaya: Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Karuniastuti, Nurhenu. 2013. Bahaya Plastik Terhadap Kesehatan dan Lingkungan.
Jurnal Forum Teknologi. Volume III 2013.
Marliani, Novi. 2014. Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga (Sampah Anorganik)
sebagai Bentuk Implementasi dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Jurnal
Formatif. Volume IV 2014.
Sofiana, Yunida. 2010. Pemanfaatan Limbah Plastik sebagai Alternatif Bahan
Pelapis (Upholstery) pada Produk Interior. Jurnal INASEA. Volume XI 2010.
Surono, Untoro Budi. 2013. Berbagai Metode Konversi Sampah Plastik Menjadi
Bahan Bakar Minyak. Jurnal Teknik. Voulme III 2013.
Wibowo, Dwi Nugroho. 2013. Bahaya Kemasan Plastik dan Kresek. Paper – tidak
diterbitkan. Purwokerto: Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.