Anda di halaman 1dari 64

PROFIL KESIAPAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DAN

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA PENERAPAN


STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL PADA
DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL

LAPORAN TUGAS AKHIR

DISUSUN OLEH

SILVIYA ZARINA SETHER


5150111213

FAKULTAS BISNIS, PSIKOLOGI & KOMUNIKASI


UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikatan Akuntansi Indonsia (IAI) (2012:5) laporan keuangan adalah

struktur yang menyajikan posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam

sebuah entitas. Tujuan umum dari laporan keuangan ini untuk kepentingan

umum adalah informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan

arus kas dan entitas yang sangat berguna untuk membuat keputusan

ekonomis bagi arah penggunanya.

Hery (2012) mengartikan laporan keuangan pada dasarnya adalah

hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk

mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitasnya perusahaan kepada

pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan merupakan alat yang

menghubungkan perusahaan atau pemerintah daerah dengan pihal-pihak

yang berkepentingan, yang menunjukan kondisi kesehatan keuangan

perusahaan maupun pemerintah dan kinerja Perusahaan atau pemerintah

daerah.

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi

yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan

pemerintah baik pusat maupun daerah. Sehingga, dengan adanya Standar

Akuntansi ini maka setiap laporan keuangan pemerintah harus disusun

berdasarkan standar ini. Laporan keuangan merupakan gambaran kinerja

suatu pemerintah selama satu periode tertentu untuk memberikan

1
2

informasi tentang kondisi keuangan pemerintah tersebut. Pemerintah

Indonesia mengamanatkan tugas penyusunan standar tersebut kepada

komite standar independen yang ditetapkan dengan satu keputusan

presiden tentang Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP).

Pihak intern maupun ekstern yang membutuhkan laporan keuangan

agar laporan keungan itu disajikan dengan pengungkapan penuh. Dengan

pola penyajian laporan keuangan disetiap pemerintah daerah adalah sama

sesuai dengan standar yang ditetapkan dan Standar Akuntansi Pemerintah

(SAP).

Ketentuan dalam undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Pasal 36

Ayat (1) tentang Keuangan Negara, yang mengamanatkan penggunaan

berbasis akrual dalam pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja

untuk dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Perubahan

laporan keuangan dari basis kas ke basis akrual memang menjadi

tantangan bagi pemerintah daerah untuk dapat menyelesaikan laporan

keuangan agar dapat memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan

bagi para penggunanya.

Berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang

SAP berbasis akrual membawa perubahan besar dalam sistem pelaporan

keuangan di Indonesia, yaitu perubahan dari basis kas menuju akrual

menjadi basis akrual penuh dalam pengakuan transaksi keuangan

pemerintah. Perubahan basis tersebut selain telah diamanatkan oleh

Undang-Undang Keuangan Negara, juga diharapkan mampu memberikan


3

gambaran yang utuh atas posisi keuangan, menyajikan informasi yang

sebenarnya mengenai hak dan kewajiban, serta bermanfaat dalam

mengevaluasi kinerja.

Penerapan basis akrual ini juga sebagai upaya kongrit untuk

mewujudkan akuntabilitas pengelola keuangan dan penyampaian laporan

pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang terdiri dari Laporan

Pelaksanaan Anggaran dan Laporan Finanansial. Laporan pelaksanaan

anggaran meliputi laporan realisasi anggaran (LRA) dan Laporan

Perubahan Saldo Anggaran Lebih/Kurang. Sementara itu laporan finansial

terdiri dari neraca, laporan operasional (LO), laporan perubahan ekuitas

(LPE), serta laporan arus kas (LAK) . Penyajian informasi keungan

pemerintah dengan menggunakan basis akrual akan menjadi informatif,

dan dapat memberikan gambaran yang utuh atas posisi keuangan

pemerintah untuk tujuan pengambilan keputusan.

Sejak tahun 2015 Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul telah

menerapkan Standar Akutansi Pemerintah yang berbasis akrual.

Penggunaan sistem yang terkoneksi ini dimulai untuk menyusun anggaran

sampai pertanggung jawaban pelaksanaan, sehingga masing-masing SKPD

dapat lebih cepat dalam menyususn laporan keuangan melalui penggunaan

SIADINDA (Sistem Infromasi Akuntansi Dinas Daerah) Online. Maka

Dinas Perhubungan Kab. Bantul telah memiliki kesiapan dari segi

teknologi informasi untuk menerapkan Standar Akuntansi Pemerintah

Berbasis Akrual.
4

Laporan keuangan pemerintah daerah yang berkualitas

membutuhkan SDM memahami dan komponen dalam akuntansi

pemerintah, keuangan daerah bahkan organisasi tentang pemerintah

(Sutrisno, 2009). Kualitas sumber daya manusia sebagai penyelenggara

pemerintah daerah sangat berperan penting dalan menghasilkan laporan

keuangan yang sesuai dengan aturan (Fontaella, 2010).

Perubahan perlakuan Akuntansi Pemerintah menuju basis akrual

akan membawa dampak/implikasi walau sekecil apapun. Perubahan

menuju arah yang lebih baik bukan berarti hadir tanpa ada masalah. Hal

yang sering muncul terkait sumber daya manusia pemerintah daerah.

Sumber daya manusia yang kurang memadai menjadi masalah klasik

dalam pengelolaan keuangan daerah. Menurut ihsanti (2014) kompotensi

Sumber Daya Manusia adalah kemampuan untuk melaksanakan fungsi-

fungsi dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Sumber Daya

Manusia merupakan faktor penting demi terciptanya laporan keuangan

yang berkualitas.

Menurut Siahaan (2017) pemerintah daerah berkewajiban untuk

mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk

meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan

Informasi Keuangan Daerah kepada pelayanan publik. Kemajuan

teknologi informasi yang pesat serta potensi pemanfaatan secara luas,

dapat membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengakses, mengelola,

dan mendayagunakan informasi keuangan daerah secara cepat dan akurat.


5

Kewajiban pemanfaatan teknologi informasi oleh pemerintah daerah

diatue dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem

Informasi Keuangan Daerah ( SIKD). Manfaat yang ditawarkan oleh suatu

teknologi informasi antara lain kecepatan pemrosesan transaksi dan

penyiapan laporan, keakuratan perhitungan, penyimpanan data dalam

jumlah besar, biaya pemrosesan yang yang lebih rendah.

Salah satu tantangan yang mempengaruhi keberhasilan penerapan

SAP berbasis akrual adalah tersediannya sumber daya manusia yang

kompoten dan andal di bidang akuntansi. Faktor lain yang kalah tidak

kalah penting adalah sarana pendukung berupa teknologi informasi

(hardware dan software) yang memadai pelaksanaan SAP berbasis akrual.

Selain faktor di atas di perlukan juga komunikasi yang baik dengan pihak

eksternal maupun dengan pihak internal, sehingga penerapan SAP berbasis

akrual dapat berjalan dengan baik.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk

mengambil judul “Profil Kesiapan Kualitas Sumber Daya Manusia Dan

Pemanfaatan Teknologi Informasi Pada Penerpan Standar Akuntansi

Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Dinas Perhubungan Kabupaten

Bantul”.
6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka

dengan demikian penulis ingin bermaksud membahas:

1. Bagaimana profil kesiapan kualitas sumber daya manusia pada

penerapan standar akuntansi pemerintah berbasis akrual?

2. Bagaimana profil kesiapan pemanfatan teknologi informasi pada

penerapan standar akuntansi pemerintah berbasis akrual?

C. Batasan Masalah

Dari perumusan masalah yang telah disebutkan penulis membatasi

permasalahan dalam penulisan ini dengan menggunakan data yang terjadi

ada Tahun 2019.

D. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penulisan ini bertujuan

untuk mengetahui pada profil kesiapan kualitas sumber daya manusia dan

pemanfaatan teknologi informasi pada penerapan standar akuntansi

pemerintah berbasis akrual pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

E. Manfaat

Dalam penulisan tugas akhir ini terdapat beberapa manfaat yang bisa

disimpulkan:

1. Bagi Penulis:

Menambah pengetahuan di bidang Akuntansi Sektor Publik tentang

profil kesiapan kualitas sumber daya manusia dan pemanfatatan


7

teknologi informasi pada penerapan standar akuntansi pemerintah

berbasis akrual. Pengetahuan dan kesiapan bagi penulis ketika memasuki

dunia kerja dan memperluas.

2. Bagi Universitas

Dapat memberikan mafaat bagi perkembangan ilmu akuntansi. Selain itu

penelitian ini juga dapat digunakan bagi mahasiswa yang membuat

panelitian lain dengan judul ini atau sebagai referensi bagi peneliti

selanjutnya.

3. Bagi Dinas Perhubungan Kabupetan Bantul

Memberikan masukan dalam profil kesiapan sumber daya manusia dalam

pemanfaatan teknologi pada penerapan standar akuntansi pemerintah

berbasis akrual dan kendala-kendala yang timbul dari hasil penelitian

semoga bisa menjadi acuhan sebagai bahan perbaikan yang lebih baik.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Standar Akuntansi Pemerintah dan Basis Akrual di Pemerintah

a. Standar Akuntansi Pemerintah

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) pertama kali yang

diterbitkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP)

adalah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2005

pada tanggal 13 juni 2005. Inilah untuk pertama kali Indonesia

memiliki standar akuntansi pemerintah sejak Indonesia merdeka.

Terbitnya SAP ini juga mengukuhkan peran penting akuntansi dalam

pelaporan keuangan kegiatan pemerintah indonesia. (Abdul

Hamid:228)

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 71 Tahun 2010

Pasal 1 ayat 3 tentang Standar Akuntansi Pemerintah . Standar

Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang

diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan

pemerintah baik pusat maupun daerah. Sehingga, dengan adanya

Standar Akuntansi ini maka setiap laporan keuangan pemerintah harus

disusun berdasarkan standar ini. Laporan keuangan merupakan

gambaran kinerja suatu pemerintah selama satu periode tertentu untuk

memberikan informasi tentang kondisi keuangan pemerintah tersebut,

laporan keuangan pemerintah yang merupakan hasil dari proses

8
9

akuntansi diharapkan dapat digunakan antara komunikasi pemerintah

dengan stakeholders sehigga tercipta pengelolaan keuangan negara

yang transparan dan akuntabel. Pemerintah Indonesia mengamanatkan

tugas penyusunan standar tersebut kepada komite standar independen

yang ditetapkan dengan satu keputusan presiden tentang Komite

Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP).

Untuk memecahkan berbagai kebutuhan yang muncul dalam

pelaporan keuangan, akuntansi dan audit di pemerintah, baik

pemerintah pusat maupun pemerintahan daerah di Republik Indonesia,

diperlukan sebuah SAP yang kredibel yang dibentuk oleh komite

SAP. Komite SAP bertugas menyiapkan penyusunan konsep

Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang SAP sebagai prinsip-

prinsip akuntansi yang wajib diterapkan dalam menyusun dan

menyajikan laporan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah

daerah. KSAP bertujuan mengembangkan program-program

pengembangan akuntabilitas dan manajemen keuangan pemerintah,

termasuk mengembangkan SAP. Komite SAP terdiri atas komite

konsultatif dan komite kerja. Komite konsultatif bertugas memberi

konsultasi atau pendapat dalam rangka perumusan konsep RPP

tentang SAP. Komite kerja bertugas mempersiapkan, merumuskan,

dan menyusun konsep RPP tentang SAP, dan dalam melaksanakan

tugasnya dapat membentuk kelompok kerja. Dalam pelaksanaan tugas

sehari-hari, komite SAP melaporakan kegiatannya secara berkala


10

kepada menteri keuangan. Komite SAP bertanggung jawan kepada

presiden melalui keuangan.

Pengembangan SAP mengacu pada praktik-praktik terbaik di

tingkat internasional dengan tetap mempertimbangkan kondisi di

indonesia, baik peraturan perundang-undangan dan praktik akuntansi

yang berlaku maupun kondisi sumberdaya manusia. Selain itu, strategi

peningkatan kualitas pelaporan keuangan pemerintah dilakukan

dengan proses transisi menuju berbasis akrual. Keadaan sekarang

dimana pendapatan, belanja, dan pembiayaan dicarar berbasis kas,

sementara untuk aset, utang dan ekuitas dana dicatat berbasis akrual.

SAP diterapkan di lingkup pemerintah, baik di pemerintah

pusat dan departemen-departemennya maupun di pemerintah daerah

dan dinas-dinasnya. Penerapan SAP diyakini akan berdampak pada

peningkatan kualiatas pelaporan keuangan di pemerintahan pusat dan

daerah. Ini berari informasi keuangan pemerintah akan dapat menjadi

dasar pengembalian keputusan di pemerintah dan juga terwujudnya

transparasi serta akuntabilitas.

b. Basis Akuntansi Pemerintah

Basis akuntansi yang pernah digunakan, yaitu basis kas

menuju akrual dan basis akrual.

1) Basis kas menuju PP Nomor 71 Tahun 2010 didukung dengan

pemendagri Nomor 62 Tahun 2013 adalah basis akrual yang


11

Mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat

kas atau setara kas diterima atau dibayar.

2) Basis akrual menuju akrual menurut PP Nomor 71 Tahun 2010

didukung dengan Pemendagri Nomor 64 Tahun 2013 adalah

basis akuntansi yang mengakui pendapatan, belanja dan

pembiayaan berbasis kas serta mengakui aset, utang dan ekuitas

dana berbasis akrual.

3) Basis akrual menurut Lampiran I.02 PSAP 01 dalam paragrap 8

PP Nomor 71 Tahun 2010 didukung dengan pemendagri Nomor

64 Tahun 2013 pasal 1 ayat (10) adalah basis akuntansi yang

mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat

transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat kas

atau setara kas diterima atau dibayar.

2. Basis Akrual dan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

a. Basis Akrual

Akuntansi Berbasis Akrual adalah suatu basis akuntansi dimana

transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat dan disajikan

dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa

memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.

Dalam akuntansi berbasis akrual waktu pencatatan sesuai dengan saat

terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan informasi

yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya dicatat.


12

Simanjuntak (2010) menjelaskan bahwa akuntansi berbasisi

akrual merupakan suatu basis akuntansi yang terkait dengan

pengakuan, pencatatan, dan penyajian transaksi ekonomi dan

peristiwa lain dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi

tersebut tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau

dibayar.

Peraturan Mentri Dalam Negri No.64 Tahu 2013 Pasal ayat (10)

menjelaskan bahwa basis akrual yang mengakui pengaruh transaksi

dan peristiwa pada saat transaksi itu terjadi, tanpa memperhatikan saat

kas atau setara kas diterima atau dibayar. Halim dan kusufi (2012)

menyimpulkan bahwa basis akrual mampu memenuhi tujuan

pelaporan yang tidak dapat dipenuhi oleh basis kas, tujuan pelaporan

tersebut adalah tujuan manajerial dan pengawasan. Basis akrual

mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:

1) Pengakuan pendapatan

Saat pengakuan pendapatan pada basis akrual adalah pada saat

perusahaan mempunyai hak untuk penagihan darin hasil kegiatan

perusahaan. Dalam konsep basis akrual, mengenai kapan kas benar-

benar diterima hal yang kurang penting. Oleh karena itu, dalam

basis akrual kemudian muncul estimasi piutang tak tertagih sebab

penghasilan sudah diakui padahal kas belum diterima.


13

2) Pengakuan beban

Pengakuan beban dilakukan pada saat kewajiban membayar sudah

terjadi. Dengan kata lain, pada saat kewajiban membayar sudah

terjadi maka ini dapat dianggap sebagai staring point munculnya

biaya meskipun beban tersebut belum dibayar.

b. Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

Akuntansi Berbasis Akrual adalah suatu basis akuntansi dimana

transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat dan disajikan

dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa

memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau

dibayarkan.Dalam akuntansi berbasis akrual waktu pencatatan sesuai

dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan

informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya

dicatat.

Peratuaran Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 pasal 1 ayat (8)

menyatakan bahwa Standar Akuntansi Pemerintah berbasisl Akrual

adalah standar akuntansi pemerintah yang mengakui pendapatan,

beban, aset, utang dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis

akrual serta mengakui pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam

pelapoaran pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan

dalam APBN/APBD. SAP berbasis akrual tersebut dinyatakan dalam

bentuk PSAP dan dilengkapi dengan kerangka konseptual akuntansi

pemerintah. PASP dan kerangka konseptual akuntansi pemerintah


14

dalam rangka SAP berbasis akrual dimaksud tercantum dalam

Lampiran I Peraturan Pemerintah No.71 tahun 2010.

Penyusunan SAP berbasis akrual dilakukan oleh KSAP melalui

proses baku penyusunan (due process). Proses baku penyusunan SAP

tersebut merupakan pertanggungjawaban professional KSAP yang

secara lengkap terdapat dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah

No.71 Tahu 2010. Perbedaan antara laporan keuangan perusahaan

dengan laporan keuangan pemerintah adalah letak pada jenis bidang

usaha yaitu pelayanan publik serta nomor rekening perkiraan yang

digunakan.

3. Komponen Laporan Keuangan

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) Nomor 1

Paragraf 14 Menyatakan bahwa komponen laporan keuangan pemerintah

daerah meliputi hal-hal berikut ini:

1. Laporan Realisasi Anggaran

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih

3. Neraca

4. Laporan Operasional

5. Laporan Arus Kas

6. Laporan Perubahan Ekuitas

7. Catatan Atas Laporan Keuangan


15

4. Kualitas Lapoaran Keuangan Pemerintah Daerah

a. Definisi Laporan keuangan

Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban

atas kepengurusan sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh suatu

entitas. Laporam keuangan yang diterbitkan harus disusun dengan

standar akuntansi yang berlaku agar laporan keuangan tersebut dapat

dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau

dibandingkan dengan laporan keuangan entitas yang jelas.

Hery (2012) mengartikan laporan keuangan pada dasarnya

adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat

untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitasnya

perusahaan kepada pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan

merupakan alat yang menggabungkan perusahaan atau pemerintah

daerah dengan pihak-pihak yang berkepentingan, yang menunjukan

kondisi kesehatan keuangan perusahaan maupun pemerintah dan

kinerja perusahaan ataupun pemerintah daerah.

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 71 Tahun 2010

laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai

posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu

entitas pelaporan. Entitas pelaporan adalah unit pemerintah yang

terdiri dari sutu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan

peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan

pertanggungjawaban berupa laporan keuangan, yang terdiri dari


16

a. Pemerintah pusat

b. Pemerintah daerah

c. Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau

organisasi lainnya, jika menurut peraturan peundang-undangan

satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan.

Dari beberapa pengertian mengenai laporan keuangan

tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan

laporan tertulis yang memberikan informasi kuantitatif tentang posisi

keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas

pelapor.

b. Kualitas Laporan Keuangan

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) peraturan pemerintah

Nomor 71 Tahun 2010. Menyatakan karakteristik kualitatif laporan

keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan

dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi kualitas yang

dikehendaki. Kemepat karakteristik tersebut antara lain:

1) Relevan

Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi

yang terbuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan

pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa

lalu atau masa kini dan mempresiksi masa depan serta menegaskan

atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Dengan


17

demikian laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan

dengan maksud pengguna.

2) Andal

Informasi dalam laporan keungan bebas dari pengertian yang

menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta

secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan,

tetapi jika hakikat atau penyajian tidak dapat diandalkan maka

penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan.

3) Dapat dibandingkan

Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih

berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode

sebelumnya atau lapoaran keuangan entitas pelaporan lainnya pada

umumnya. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu

entitas yang dibandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang

lebih baik dari pada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan,

perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya

perubahan.

4) Dapat dipahami

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat

dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah

yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna.


18

5. Kualitas Sumber Daya Manusia

Manajemen adalah proses pendayagunaan sumber daya manusia

yang dimiliki organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Proses dimaksud melibatkan organisasi, arahan, koordinasi, dan evaluasi

orang-orang guna mencapai tujuan yang ditetapkan tersebut (Simamora,

2001).

Menurut Poltak Sinambela (2016:8) Sumber Daya Manusia

adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup

pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk menunjang

aktivitas organisasi atau organisasi demi mencapai tujuan yang telah di

tentukan.

Sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi atau perusahaan

mempunyai arti penting yang sama pentingnya dengan pekerjaan itu

sendiri, mengingat pentignya peran SDM dalam organisasi atau

perusahaan SDM sebagai faktor penentu organisasi, maka kualitas

menjadi aspek yang menentukan keberhasilan organisasi atau

perusahaan. Dengan kualitas yang tinggi yang dimiliki oleh SDM dalam

suatu organisasi atau perusahaan tentu hal ini akan menentukan kualitas

SDM yang dimiliki yang pada akhirnya akan menentukan kualitas

kompetitif perusahaan itu sendiri.

Kualitas sumber daya manusia manusia adalah sumber daya

manusia yang bukan hanya memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan


19

pekerjaannya, selain itu juga untuk mengembangkan dirinya serta

mendorong pengembangan diri rekan-rekannya.

Kualitas sumberdaya manusia mencakup tiga hal yaitu:

1. Pengetahuan (knowledge) yaitu pengetahuan pegawai turut

menentuakan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan

kepadanya, pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan

meningkatkan efisien perusahaan.

2. Keterampialan (skills) adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu

tugas tertentu baik secara fisik maupun mental. Dengan mengetahui

tingkat kompetensi maka perencanaan sumber daya manusia akan

lebih baik hasilnya.

3. Sikap (attitude) adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang.

Sikap dan nilai diukur melalui tes kepada responden untuk

mengetahui nilai yang dimiliki seseorang dan apa yang menarik bagi

seseorang untuk melakukan sesuatu.

Pengembangan kompetensi pegawai diatur dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 pasal 4 huruf b yang menyatakan

bahwa instansi pemerintah menyelenggarakan pelatihan dan

pembimbingan untuk membantu pegawai mempertahankan dan

meningkatkan kompetensi pekerjaannya.

6. Teknologi Informasi

Pengertian teknologi informasi adalah sebuah studi

perancangan, implementasi, pengembangan, dukungan atau manajemen


20

sistem informasi berbasis computer pada aplikasi perangkat keras atau

hardware dan perangkat lunak atau software.

Sistem teknologi informasi yang diterapkan secara eksternal

merupakan sistem teknologi informasi internal yang ditarik keluar

organisasi menggunakan teknologi telekomunikasi. Berdasarkan PP

No.71 Tahun 2010 tentang SAP , Sistem Akuntansi Pemerintah adalah

serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari

pengumpulan data ,pencatatan, pengikhtisaran dan pelaporan posisi

keuangan dan operasi keuangan pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan

teknologi informasi untuk membantu sistem akuntansi pemerintahan agar

dapat berjalan dengan lancar.

B. Peneliti Terdahulu

Ada beberapa penelitian mengenai Penerapan SAP Berbasis Akrual.

Penulis mengambil penelitian terdahulu dari peneliti Kusuma (2013), dalam

peneliannya dijelaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Jember dilihat

dari parameter integritas adalah kategori siap dan untuk kesiapan SDM,

kesiapan system informasi dan sarana prasarana adalah kategori cukup kuat.

Sedangka penelti Dora (2014), dalam penelitiannya disimpulkan bahwa

kesiapan Pemerintah Kota Medan yang diindikasikan dengan komitmen,

SDM, sarana prasarana dan system informasi dapat disimpulkan bahwa

BPKD Kota Medan dilihat dari parameter integritas/komitmen adalah

sangat siap.
21

C. Kerangka Berfikir

Berdasarkan penjelasan diatas maka kerangka berpikir

digambarkan dalam gambar 2.1 sebagai berikut:

H1
Sumber Daya Manusia

Penerapan Akuntansi
Pemerintah Berbasis
Pemanfatan Teknologi Akrual
Informasi H2

Gambar 2.1
Gambar Kerangka Berpikir

Keterangan:

= pengaruh 1 variabel independen terhadap variable dipenden


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Data dan Perolehan Data

Dinas perhubungan bantul beralamat di Komplex II Perkantoran

Pemkab Bantul, Jalan Lingkar Timur, Manding, Bantul 55714. Dinas

Perhubungan merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah di bidang

perhubungan dan penyelenggara urusan kebijakan perhubungan atau

transportasi untuk daerah kabupaten bantul. Dinas Perhubungan Kabupaten

Bantul di pimpin oleh Kepala Dinas dan berkedudukan dibawah dan

bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekertaris Daerah. Dinas

Perhubungan mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan rumah tangga

Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan di Bidang Perhubungan.

B. Data dan Metode Perolehan Data

1. Data Penelitian

Dalam penelitian ini data yang digunakan berupa data primer. Data

primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan

pertama) Harnovinsah (2012) data ini di peroleh dengan melakukan

penyebaran kuesioner data yang diperoleh terdiri dari sumber daya

manusia, pemanfaatan teknologi informasi dan penerapan standar

akuntansi pemerintah berbasis akrual pada Dinas Perhubungan Kab

Bantul. Dalam penelitian ini untuk memperoleh data, penulis menyebar

kuesioner berisi pernyataan atas tiga bagian Variabel.

22
23

Bagian pertama ada 4 butir pernyataan terkait dengan Sumber Daya

Manusia yang peneliti kutip dari peneliti sebelumnya Elminda Mia

Kusmayati (2018)

Bagian kedua ada 7 butir pernyataan terkait Pemanfatan Teknologi

Informasi yang peneliti kutip dari peneliti sebelumnya Elminda Mia

Kusmayati (2018)

Bagian ketiga ada 5 butir pernyataan terkait dengan Penerapan

Akuntansi Pemerintah yang peneliti kutip dari peneliti sebelumnya

Elminda Mia Kusmayati (2018)

C. Metode Perolehan Data

1. Survey

Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode survei.

Menurut Sugiyono (2013) metode survey adalah “Penelitian yang

dilakukan dengan menggunakan angket sebagai alat penelitian yang

dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari

adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga

ditemukan kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel,

sosiologis maupun psikologis”. Sehingga untuk keperluan data kuantitatif

dari setiap jawaban kuisioner penelitian, maka diberi skor dengan

menggunakan skala Likert. Dimana skala Likert digunakan untuk

mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial. Kemudian untuk mengukur jawaban dari setiap

instrumen pernyataan menggunakan skala positif. Jadi, total pernyataan


24

yang harus dijawab oleh responden berjumlah 16 butir pernyataan.

Pernyataan positif diberi skor 1 untuk Sangat Tidak Setuju (STS), skor 2

untuk Tidak Setuju (TS), skor 3 untuk kurang Setuju (KS), skor 4 untuk

Setuju (S) dan skor 5 untuk Sangat Setuju (SS).

2. Responden

Menurut Arikunto (2016), Subjek penelitian atau responden

adalah benda, hal atau orang dan tempat dimana data untuk variabel

penelitian melekat dan yang dipermasalahkan dalam penelitian.

Responden dalam penelitian ini adalah pegawai Dinas Perhubungan

Kabupaten Bantul Penulis menyebarkan 50 sampel kepada seluruh

pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

3. Analisis Data Deskriptif

Analisis statistik deskriftif digunakan untuk memberikan

gambaran mengenai variabel yang diteliti. Uji statistik deskriptif

mencakup nilai rata-rata (mean), nilai minimum, nilai maksimum, dan

nilai standar deviasi dari data penelitian. Statistik deskriptif ini digunakan

untuk memberikan gambaran mengenai demografi responden penelitian

dan deskriptif setiap pernyataan kuesioner. Data tersebut anatara lain:

usia, latar belakang pendidikan, masa kerja, jenis kelamin, dan data

mengenai deskriptif dari setiap pernyataan kuesioner.

4. Skala Pengukuran

Dalam analisis ini digunakan pengukuran skala likert,

penggunaan skala likert dimaksud untuk mendapatkan data mengenai


25

bobot setiap jawaban yang diberikan oleh reponden.Skala likert, di

mana responden menyatakan tingkat setuju atau tidak setuju mengenai

berbagai pernyataan mengenai perilaku, objek, orang, atau kejadian.

Adapun skor unutk pengukuran skala likert adalah:

1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

2 = Tidak Setuju (TS)

3 = Kurang Setuju (KS)

4 = Setuju (S)

5 = Sangat Setuju (SS)

5. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Variabel Independen

Variabel independen dalam analisis ini adalah sumber daya

manusia (X1) dan pemanfatan teknologi informasi (X2). Sumber daya

manusia dinyatakan sebagai strategi perancangan, pelaksanaan dan

pemeliharaan untuk mengelola manusia untuk kinerja usaha yang

optimal termasuk kebijakan pengembangan dan proses untuk

mendukung strategi. Sedangkan Teknologi informasi tidak hanya

terbatas pada teknologi komputer (hardware dan software) yang

digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, tetapi juga

mencakup teknologi komuni,kasi untuk mengirimkan informasi.

2. Variabel Dependen

Dalam analisis ini penerapan standar akuntansi pemerintah berbasis

akrual (Y) merupakan variabel terikat atau dependen. Basis Akrual


26

adalah “penyandingan pendapatan dan biaya pada periode di saat

terjadinya”, bukan pencatatan pada saat pendapatan tersebut diterima

ataupun biaya tersebut dibayarkan (Cash Basis).

D. Metode Analisis Data

1. Uji Kualitas Data

a. Uji Validitas Data

Uji validitas data dimaksudkan untuk mengukur kualitas kuesioner

yang digunakan sebagai intrumen penelitian sehingga dapat dikatakan

intrumen tersebut valid. Suatu kesioner dikatakan valid jika pernyataan

pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh

kuesioner tersebut (Ghozali, 2013). Kriteria pengujian validitas adalah

sebagai berikut:

Jika r hitung positif dan r hitung > r tabel maka butir pernyataan

tersebut adalah valid. Sebaliknya jika r hitung negatif dan r hitung > r

tabel maka bbutir pernyataan tersebut adalah tidak valid.

b. Uji Reabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliable

atau handal ketika jawaban responden terhadap pertanyaan adalan

konsisten atau stabil dari waktu ke waktu, sehingga semakin tinggi

tingkat reliabilitas suatu alat pengukur maka semakin stabil pula alat

pengukur tersebut (Ghozali, 2013).Dalam mengukur reliabilitas dengan


27

menggunakan uji CronboachAlpha (α), suatu variabel dikatakan reliable

jika memberikan nilai Cronboach Alpha (α) > 0,60 (Ghozali, 2013).
BAB IV

ANALISIS DATA

A. Aktivitas Magang

Salah satu syarat untuk menyusun laporan tugas akhir dan

menyelesaikan masa studi bagi mahasiswa strata1 (S1) Akuntansi adalah

magang. Penulis melaksanakan magang untuk memenuhi syarat tersebut

pada kantor pemerintah Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

Aktivitas yang dilakukan selama 1 bulan, dimulai semenjak tanggal

11 Maret 2019 sampai 24 April 2019. Dalam melaksanakan kegiatan

magang di Dinas Perhubungan Bantul, penulis diharuskan memiliki etika

kerja, disiplin kerja, tanggung jawab, profesionalitas dalam bekerja, dan

mampu bekerja tim dengan baik selayaknya pegawai yang bekerja di Dinas

Perhubungan Kabupaten Bantul.

Dinas Perhubungan Bantul memiliki 5 hari kerja dengan jam kerja

hari Senin sampai Jumat pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul15.30 WIB.

Setiap pagi dilakukan apel pagi pukul 8.30 WIB dan khusus untuk hari

jumat dilakukan kegiatan senam pagi di lingkungan kantor. Selama

melakukan magang penulis di tempatkan di bagian Sekertariat. Aktivitas

penulis selama magang atau praktik kerja lapangan di Dinas Perhubungan

Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut:

1. Menginput data keuangan

2. Menginput data rencana kerja

31
63

3. Mencatat dan mengantar konsultasi laporan penerangan jalan umu dari

warga

4. Membantu membuat surat yang di perlukan oleh Dinas Perhubungan

Kabupaten Bantul

B. Manfaat Magang

Selama melaksanakan kegiatan magang atau praktif kerja lapangan

di Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul penulis banyak mendapat manfaat

yaitu sebagai berikut:

1. Dapat mempraktekan input data keuangan

2. Mrndapat gambaran rencana kerja Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul

kedepannya

3. Melatih komunikasi dan intraksi pada lingkungan mengenai konsultasi

dari warga sekitar

4. Dapat mempraktekan pembuaran surat yang diperlukan oleh instansi

C. Gambaran Umum Perusahaan

1. Profil Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul

a. Profil

Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah Kabupaten

Bantul sebagai daerah otonom melaksanakan beberapa kewenangan

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004.

Sebagai implementasi dari kewenangan tersebut, pelaksanaan

kewenangan dibidang telekomunikasi, dibentuk organisasi Dinas

Perhubungan Guna menata kembali tugas pokok dan fungsi Dinas


64

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) yang disesuaikan dengan

kewenanhan, beban tugas dan perkembangan saat ini, yang

ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 16

Tahun 2007. Dinas Perhubungan merupakan perangkat Pemerintah

yang bertanggungjawab dan memiliki kewenangan dalam

penyelenggaraan lalu lintas serta bertanggungjawab kepada

Pemerintah Kabupaten Bantul selaku pemangku kebijakan-

kebijakan internal dalam Kabupaten.

Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul


Gambar 4.1
Logo dan Lambang Kementrian Perhubungan

b. Sejarah

Sebelum dibentulnya Djawat Lalu Lintas (DLLD)

kewenangan yang mengurusi permasalahan perhubungan adalah

Departemen Pekerjaan Umum, namun sejak 1970 kewenangan

tersebut dilaksanakan oleh DLLD. Pada Tahun 1980 DLLD diubah

menjadi DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan)

perubahan tersebut dikarenakan penyempurnaan ejaan.


65

Kewenangan perhubungan dipegang oleh DLLAJ propinsi

DIY, kemudian setelah dibentulnya Kabupaten Bantul

Kewenangan mengenai Perhubungam dipegang secara bertahap

oleh Kabupaten Bantul. Pada tahun 2000, DLLAJ diubah menjadi

Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul sesuai dengan Perda

Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2000 yang kemudian diubah

menajdi Perda Kabupaten Bantul Nomor 16 Tahun 2007.

c. Dasar Pembentukan

1) Peraturan Bupati Kabupaten Bantul Nomor 2008 tentang

rincian tugas, fungsi dan tata kerja Dinas Perhubungan Bantul

2) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 16 Tahun 2007

tentang pembentukan organisasi dinas Lingkungan

Pemerintah Kabupten Bantul

3) Preraturan Bupati Kabupaten Bantul Nomor 19 Tahun 2016

tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas, fungsi, dan

tata kerja Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul

d. Kedudukan

Dinas perhubungan merupakan unsur pelaksana Pemerintah

Daerah dibidang perhubungan yang dipimpin oleh Kepala Dinas

dan kedudukan dibawah dan tanggungjawab kepala Bupati melalui

Sekertaris Daerah.
66

e. Tugas Pokok

Dinas perhubungan mempunyai tugas melaksanakan urusan

rumah tangga Pemerintah Daerah dan tugas pembantu di bidang

perhubungan.

f. Fungsi

Dinas Perhubungan dalam melaksanakan tugasnya

mempunyai fungsi:

1) Kebijakan teknis pelaksanaan dibidang perhubungan

2) Pelaksanaan pembinaan operasional dibidang perhubungan

3) Pengendalian dan pengawasan teknis dibidang perhubungan

4) Pemberian bimbingan teknis dibidang perhubungan

5) Pemberian ijin dan pelaksanaan pelayanan umum

6) Pelaksanaan Rumah Tangga dan Tata Usaha Dinas

Perhubungan

2. Visi dan Misi Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul

a. Visi

“ Menjadi dinas yang unggul dalam menciptakan lalu lintas yang

tertib, lancar, aman, dan nyaman”

b. Misi

1) Meningkatkan kemapuan sumber daya manusia, baik aparatur

maupun masyarakat
67

2) Meningkatkan saran prasarana penunjang ketertiban,

kelancaran, keamanan, dan kenyamanan lalu lintas

3) Meningkatkan peran bidang perhubungan dalam mendukung

pembangunan atau pengembangan wilayah, pertumbuhan

ekonomi, social dan budaya

4) Meningkatkan peran dalam penggalian sumber pendapatan

asli daerah dan sektor perhubungan

3. Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Program Dinas Perhubungan

Kabupaten Bantul

a. Tujuan

1) Mewujudkan perancanaan pengembangan sektor

perhubungan

2) Mewujudkan keselamatan lalu lintas, dengan pemenuhan

sarana dan prasarana yang memadai

3) Mewujudkan sumber daya manusia

b. Sasaran

1) Tersediannya database perencanaan pembangunan disektor

perhubungan

2) Terpenuhinya fasilitas lalu lintas (rambu, marka, APILL,

halte, terminal dsb)

3) Terlaksananya upaya penyiapan sumber daya manusia yang

berkualitas
68

4) Terlaksananya intensifikasi dan ekstensifikasi sumber

retribusi untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

c. Kebijakan

1) Menyelenggarakan pelayanan transportasi yang lancar, aman,

dan nyaman dengan mempertimbangkan keselamatan

2) Memberikan fasilitas terhadap kepentingan umum dalam

menggunakan fasilitas transportasi dengan

mempertimbangkan ketentuan hukum dan peraturan daerah

3) Memberikan jaminan keselamatan terhadap masyarakat

berkaitan dengan pengoperasian saran transportasi barang

dengan melakukan peningkatan kapasitas pengujian

kendaraan bermotor

4) Memanfaatkan potensi daerah disektor transportasi guna

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

d. Program

1) Pelayanan administrasi perkantoran

2) Penyediaan dan pengelolaan Air Bak, kegiatan:

a. Penyediaan jasa surat menyurat

b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik

c. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan

dinas atau operasional

d. Penyediaan jasa administrasi keuangan

e. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor


69

f. Penyediaan alat tulis kantor penyediaan barang cetak dan

pengadaan

g. Penyediaan komponen instalasi listrik atau penerapan

bangunan kantor

h. Penyediaan bahan bacaan dan Peraturan Perundang-

undangan

i. Penyediaan bahan logistik kantor

3) Peningkatan sarana dan prasaran aparatur, kegiatan:

a. Pemeliharaan rutin atau berkala kendaraan dinas atau

operasional

b. Pemeliharaan rutin atau berkala gedung kantor

4) Rehabilitas dan pemeliharaan prasarana LLAJ, kegiatan:

a. Rehabilitas atau pemeliharaan sarana pengujian kendaraan

bermotor

b. Pemeliharaan APILL,flashing lamp, rambu, halte

c. Pemeliharaan marka 1000 m²

5) Peningkatan pelayanan angkutan, kegiatan:

a. Penyandaraan penghematan energi

b. Sosialisasi atau penyuluhan ketertiban lalu lintas dan

angkutan jalan bagi siswi SMU

6) Pengendalian dan pengamanan lalu lintas, kegiatan:

a. Pengadaan dan pemasangan fasilitas LLAJ

b. Pengadaan dan pemasangan rambu


70

c. Pengadaan APILL

d. Pengadaan flasing lamp

e. Pengadaan traffic come

7) Peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor,

kegiatannya yaitu pengadaan alat pengujian kendaraan

bermotor (alat uji emisi)

4. Organisasi Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul

Susunan organisasi Dinas Perhubungan, terdiri atas:

a. Kepala Dinas

b. Seketaris

c. Bidang lalu lintas, terdiri atas:

d. Bidang angkutan, terdiri atas:

e. Bidang keselamatan teknik sarana dan prasarana

f. Unit pelaksana teknis

g. Kelompok jabatan fungsionalStruktur Organisasi Dinas

Perhubungan Bantul
71

KEPALA DINAS
Drs. Aris Suharyanta. S.Sos.
MM
196406171987031009

SEKRETARIAT KELOMPOK JABATAN


Andhy Soelystyjo, SH, M.Hum FUNGSIONAL
196402191986031023

SUBAG UMUM DAN SUBAG PROGRAM, KEUANGAN


KEPEGAWAIAN DAN ASET
Titik Zunaidah S.Sos Sri Mulyanti. SS. M.Acc
197002181999032003 197309121998032010

BIDANG LALULINTAS BIDANG ANGKUTAN BIDANG TEKNIK SARANA DAN


Agus Jaka Sunarya. SE Anjar Arintaka Putra S.Sos,.MM PRASARANA
196606181991031006 197101101990031002 M. Agung Kurniawan S.SiT
198102022002121003

SEKSI MANAJEMEN REKAYASA SEKSI ANGKUTAN ORANG SEKSI SARANA DAN


DAN KEBUTUHAN LALU LINTAS Sugeng Suhana PRASARANA
Raden Sapto Wijonarko, SE 196304071986021002 Nanik Widarti, SIP
196704061998031005 197710251997032004
0856 2555 090

SEKSI PENGENDALIAN DAN SEKSI ANGKUTAN BARANG SEKSI PENGUJIAN


OPERASI Rulli Kurniawan KENDARAAN BERMOTOR
Sri Harsono, SH 197205131996031002 Zanita Sri Andanawati,
196610011990031008 SE.MM
197601122009032001

UPT
UPT

Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul


Gambar 4.1
Struktur Organisasi Dinas Kabupaten Bantul

5. Tugas dan Fungsi Organisasi Perhubungan Kabupaten Bantul.

Berdasarkan Peraturan Bupati Kabupaten Bantul Nomor 119

Tahun 2016 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas, fungsi dan

tata kerja Dinas Perhubungan Kebupaten Bantul adalah “ Kepala Dinas

mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagaian kewenangan daerah


72

dibidang perhubungan yang menjadi tanggungjwabnya dan tugas-tugas

yang lain diberikan Bupati dalam bidang lalu lintas, angkutan dan teknik

sarana dan prasaran”.

Kepala Dinas menyelenggarakan fungsi:

a. Perumusahan kebijakan teknis dibidang perhubungan

b. Penyenggaraan urusan pemerintah dan pelayanan umum dibidang

perhubungan

c. Pembinaan dan pelaksaan tugas pada bidang perhubungan

d. Pelaksanaan tugas akhir lain yang diberikan oleh Bupati sesuai

dengan tugas dan fungsi.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala Dinas

Perhubungan didukung oleh unsur organisasi yang terdiri diri:

1). Sekretariat

Sekertariat mempunyai tugas melakukan urusan kesektariatan

dan pengekoordinasian pelaksanaan tugas satuan organisasi di

lingkungan Dinas Perhubungan. Dalam melaksanakan tugas,

sekertariat menyelenggarakan fungsi:

a) Penyusunan rencana kerja Sekretariat

b) Perumusan kebijakan teknis kesektariatan

c) Pemberian dukungan administrasi yang meliputi:


73

Kepegawaian ketatausahaan, keuangan, kerumahtanggan, kerja

sama, hukum, organisasi dan tata laksana, hubungan

masyarakat, kearsiapam, dan dokumentasi.

d) Pengelolaan barang milik daerah

e) Pengekoordinasian pelaksanaan tugas satuan organisasi di

lingkungan Dinas Perhubungan

f) Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan

tugas dan fungsi Dinas Perhubungan

g) Pelaksanaan monitoring, evaluasi pelaporan pelaksanaan tugas

dan fungsi sekertariat

h) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai

dengan tugas dan fungsinya.

Sekertariat terdiri atas:

1. Sub bagian program, keuangan dan aset

2. Sub bagian umum dan kepegawaian

2). Bidang Lalu Lintas

Bidang lalu lintas berkedudukan di bawah sekertariat dan

memiliki tugas dalam melaksanakan perumusan dan pelaksanaan

kebijakan Bidang Lalu Lintas, serta untuk menjalankan tugasnya,

bidang lalu lintas memiliki fungsi, yaitu:

a) Penyusunan rencana kerja Bidang

b) Perumusan kebijakan Bidang Manajemen Rekayasa dan

Kebutuhan Lalu Lintas seta pengendalian dan operasi


74

c) Pelaksanaan kebijakan Bidang Manajemen Rekayasa dan

kebutuhan Lalu Lintas serta pengendalian dan operasi

d) Pemberian bimbingan teknis dan supervise Bidang

Manajemen Reayasa dan Kebutuhan Lalu Lintas serta

pengendalian dan operasi

e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan tugas serta

fungsi bidang

f) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

sesuai dengan tugas dan fungsinya

Bidang lalu lintas, terdiri atas:

1) Seksi manajemen rekayasa dan kebutuhan Lalu Lintas

2) Seksi Pengendalian dan Operasi

3) Bidang Angkutan

Dalam hal ini, Bidang Angkutan mempunyai tugas

yaitu melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan

Bidang Angkutan serta fungsinya sebagai berikut:

a) Penyusun rencana kebijakan Bidang

b) Perumusan kebijakan Bidang Angkutan orang dan

Angkutan barang

c) Pelaksanaan kebijakan Bidang angkutan orang dan

Angkutan barang

d) Pemberi bimbingan teknis dan supervise Bidang

Angkutan orang dan Angkutan barang


75

e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan

Bidang Angkutan orang dan Angkutan barang

f) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan

tugas dan fungsi Bidang

g) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala

Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya

Bidang angkutan dibagi menjadi:

a) Seksi Angkutan Orang

b) Seksi Angkutan Barang

4) Bidang Teknis Sarana dan Prasarana

Bidang Teknis Sarana dan Prasarana berkedudukan

dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas

melalui Sekretariat. Bidang teknis Sarana dan Prasarana

dipimpin oleh Kepala Bidang, dan memiliki tugas dalam

melaksanakan perumusan dan pelaksanaa kebijakan

Bidang Teknis Sarana dan Prasarana. Adapun fungsi dari

Bidang teknis sarana dan prasarana yaitu:

a) Penyusunan rencana kerja Bidang

b) Perumusan kebijakan Bidang Sarana dan Prasarana

serta pengujan kendaraan bermotor

c) Pelaksanaan kebijakan Bidang Sarana dan Prasarana

serta pengujian kendaraan bermotor


76

d) Pemberian bimbingan teknis dan supervise Bidang

Sarana dan Prasarana serta kendaraan bermotor

e) Pelaksanaa monitoring, evaluasi, dan pelaporan

Bidang Sarana dan Prasarana serta pengujian

kendaraan bermotor

f) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan

tugas dan fungsi Bidang Sarana dan Prasarana

Bidang Teknis Sarana dan Prasarana, terdirir atas:

1. Seksi Sarana dan Prasarana

2. Seksi Pengujian Kendaraan Bermotor

4) UPT

Pada Dinas Perhubungan Kabupaten dapat UPT

sebagai kegiatan teknis operasional dan kegiatan teknis

penunjang tertentu.

5) Jabatan Fungsional

Jabatan fungsional ditetapkan berdasarkan

keahlian dan spesialisasi yang dibutuhkan sesuai

dengan prosedur ketentuan ysng berlaku. Kelompok

jabatan fungsional mempunyai dan melaksanakan tugas

sesuai dengan keahlian dan kebutuhan. Kebutuhan

jabatan fungsional terdiri dari sejumlah tenaga

fungsional yang diatur dan ditetapkan berdasarkan

Peraturan Perundang-Undangan. Jumlah tenaga


77

fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan

beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan fungsional diatur

berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang

berlaku. Pembinaan terhadap tenaga fungsional

dilakukan sesuai dengan Peraturan Perundang-

undangan.

D. Analisis Data

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden pada penulisan tugas akhir ini, didasarkan

pada jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan pengalaman bekerja

responden. Dengan jumlah sampel penelitan 50 kuesioner. Data

responden diolah menggunakan perhitungan statistik deskriptif yang

menghasilkan persentase. Jawaban responden atas kolom identitas dalam

kuesioner disajikan dalam analisis deskriptif. Berikut adalah tabel data

karakteristik responden:

a. karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

jenis kelamin responden digunakan untuk mengetahui keterlibatan

gender dalam proses kerja dalam suatu instansi. Berdasarkan

klasifikasi berdasarkan kelamin:

Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Presentase
Laki-laki 30 60%
Perempuan 20 40%
Jumah 50 100%
Sumber: Data SPSS 2019
78

Dilihat pada tabel 4.1 diatas menunjukan bahwa sebagian besar

responden dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 30

atau 60% dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 20 atau 40%. Ini

dapat disimpulkan bahwa responden lebih banyak adalah laki-laki

dibandingkan dengan perempuan.

b. karakteristik responden berdasarkan usia

Usia responden diharapkan mampu menggambarkan tingkat

pengalaman dalam melakukan tugas dan fungsi sebagai pegawai atau

jabatan di Dinas Perhubungan Bantul. Berikut merupakan klasifikasi

berdasarkan usia responden.

Tabel 4.2
Karakteristik responden berdasarkan usia
Usia jumlah presentase
20 – 30 tahun 20 40%
31 – 40 tahun 30 60%
Jumlah 50 100%
Sumber: Data SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa sebagian umur

responden di dalam penelitian ini adalah 20-30 Tahun yaitu sebanyak

20 responden atau sebesar 40% , umur 31-40 Tahun yaitu sebanyak

30 responden atau sebsar 60%. Kesimpulan yang diperoleh dari data

diatas yaitu bahwa sebagian besar umur responden 31-40.

c. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan responden diharapkan mampu menggambarkan

kemampuan yang dimiliki pegawai atau staff dalam bekerja pada


79

Dinas Perhubungan Bantul. Berikut klafikasi berdasarkan tingkat

pendidikan

Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase
SMA 25 50%
DIII 7 14%
Strata 1 (S1) 17 34%
Strata 2 (S2) 1 2%
Jumlah 50 100%
Sumber: Data SPSS 2019
Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat menunjukan bahwa sebagian besar

pendidikan responden adalah SMA sebanyak 25 atau sebesar 50%, D3

sebanyak 7 atau sebesar 14%, S1 sebanyak 17 atau sebesar 34%, dan

S2 sebanyak 1 atau sebesar 2%. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari

data diatas yaitu bahwa sebagian besar responden berpendidikan

SMA.

d. Karakteristik responden berdasarkan pengalaman bekerja

Lama bekerja diharpakn mampu menjadi gambaran mengenai

pengalaman yang dimilki selama bekerja pada Dinas Perhubungan

Bantul. Berikut klasifikasi responden berdasarkan lama bekerja:

Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Berkerja
Lama Bekerja Jumlah Presentase
1 – 10 tahun 40 80%
11 – 20 tahun 10 20%
Jumlah 50 100%
Sumber: Data SPSS 2019
80

Berdasarkan tabel diatas dapat menunjukan bahwa sebagian lama

bekerja responden di dalam penelitian ini adalah 1-10 Tahun

sebanyak 40 atau sebesar 80%, dan 11-20 Tahun sebanyak 10 atau

sebesar 20%. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari data diatas

yaitu bahwa sebagian besar responden lama bekerja selama 1-10

Tahun.

2. Analisis Diskriptif Variabel

Deskriptif variabel dari 50 responden dalam penelitian dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 4.5
Statistika Deskriptif Variabel
Keterangan N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
Penerapan 50 12 19 16,36 1,903
Akuntansi
Pemerintah
Sumber 50 23 34 28,36 2,848
Daya
Manusia
Teknologi 50 15 24 18,94 2,014
Informasi
Valid N 50
Sumber: Data SPSS 2019
Tabel 4.5 menunjukkan statistik deskriptif dari masing-masing variabel

penelitian. Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis dengan menggunakan

statistik deskriptif terhadap Akuntansi Pemerintah menunjukkan nilai

minimum sebesar 12, nilai maximum sebesar 19, mean (rata-rata)

sebesar 16,36 dengan standar deviasi sebesar 1,903. Selanjutnya hasil

analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap variabel

Sumber Daya Manusia menunjukkan nilai minimum sebesar 23, nilai


81

maximum sebesar 34, mean (rata-rata) sebesar 28,36 dengan standar

deviasi sebesar 2,848 Sedangkan variabel Teknologi Informasi

menunjukkan nilai minimum sebesar 15, nilai maximum sebesar 24,

mean (rata-rata) sebesar 18,94 dengan standar deviasi sebesar 2,014.

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata tertinggi

berada pada variabel sumber daya manusia, sedangkan yang terendah

adalah penerapan akuntansi pemerintah. Untuk standar deviasi tertinggi

berada pada variabel sumber daya manusia dan yang terendah adalah

variabel penerapan akuntansi pemerintah.

3. Analisis Deskriftif Pernyatan

a. Analisis Deskriptif Variabel Sumber Daya Manusia (X1)

Analisis deskriptif terhadap variabel sumber daya manusia tediri

dari 4 item pernyataan akan dilakukan dari hasil pernyataan responden

mengenai sumber daya manusia. Nilai rata-rata hasil pernyataan

responden dapat dilihat hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.6
Deskriptif Item Pernyataan Variabel Sumber Daya Manusia
Frekuensi dan Persentase
Pernyataan item Skor Mean Keterangan
STS (1) ST(2) KS(3) S(4) SS(5)
14 34 2
188 3,76 S
X1.1 28 68 4
5 17 28
223 4,46 SS
X1.2 10 34 56
20 15 15
195 3,9 KS
X1.3 40 30 30
6 26 18
212 4,24 S
X1.4 12 52 36
Rata-rata Keseluruhan 4,09 ST
Sumber: Data SPSS 2019
82

Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden yang

teliti, secara umum persepsi responden terhadap item-item pernyataan

pada variabel (X1) berada pada daerah sangat tinggi dengan skor 4,09

dihasilkan dari jumlah skor dibagi 50 responden. Hal ini berarti

bahwa responden memberikan persepsi yang sangat baik terhadap

variabel sumber daya manusia (X1). Pada variabel sumber daya

manusia, terlihat bahwa nilai indeks tertinggi sebesar 4,46 berada pada

item pernyataan kedua.

b. Analisis Deskriptif Variabel Teknologi Informasi (X2)

Analisa deskriptif terhadap variabel teknologi informasi terdiri

dari 7 item pernyataan akan dilakukan hasil pernyataan responden

mengenai teknologi informasi. Nilai rata-rata hasil pernyataan

responden dapat dilihat hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.7
Deskriptif Item Pernyataan Variabel Teknologi Informasi
Frekuensi dan Persentase
Pernyataan item Skor Mean Keterangan
STS (1) ST(2) KS(3) S(4) SS(5)
15 30 5
X2.1 190 3,8 S
30 60 10
8 29 13
X2.2 205 4,1 S
16 58 26
16 26 8
X2.3 192 3,84 S
32 52 16
5 35 10
X2.4 205 4,1 S
10 70 20
7 24 19
X2.5 212 4,24 S
14 48 38
7 32 11
X2.6 204 4,08 S
14 64 22
9 22 19
X2.7 210 4,2 S
18 44 38
Rata-rata Keseluruhan 4,05142857 ST

Sumber: Data SPSS 2019


83

Dari tabel 4.7 dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden yang

diteliti secara umum persepsi responden terhadap item-item

pernyataan pada Teknologi Informasi (X2) berada pada daerah sangat

tinggi dengan skor 4,052 dihasilkan dari jumlah keseluruhan mean

dibagi 7 pertanyaan . Hal ini berarti bahwa reponden memberikan

persepsi yang sangat baik terhadap teknologi informasi. Pada variabel

teknologi informasi, terlihat bahwa nilai indeks tertinggi sebesar 4,24

dihasilkan dari hasil skor dibagi 50 responden, maka dapat pada item

pernyataan kelima.

c. Analisis Deskriptif Variabel Penerapan Akuntansi Pemerintah

(Y)

Analisis deskripsi terhadap variabel Penerapan Akuntansi

Pemerintah dari 5 item pernyataan akan dilakukan dari hasil

pernyataan reponden mengenaistandar akuntansi pemerintah. Nilai

rata-rata hasil pernyataan reponden dapat dilihat hasilnya sebagai

berikut:

Tabel 4.8
Deskripsi Item Pernyataan Variabel Penerapan Standar Akuntansi
Pemerintah
Frekuensi dan Persentase
Pernyataan item Skor Mean Keterangan
STS (1) ST(2) KS(3) S(4) SS(5)
10 31 9
Y1 199 3,98 S
20 62 18
2 19 25 4
Y2 207 4,14 KS
4 38 50 8
18 25 7
Y3 189 3,78 S
36 50 14
12 26 12
Y4 200 4 S
24 52 24
24 24 2
Y5 178 3,56 KS
48 48 4
Rata-rata Keseluruhan 3,892 ST
84

Sumber: Data SPSS 2019

Dari tabel 4.8 dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden yang

diteliti secara umum persepsi responden terhadap item-item

pernyataan pada Penerapan Akuntansi Pemerintah (Y) berada pada

daerah sangat tinggi dengan nilai 3,892 dihasilkan dari jumlah

keseluruhan mean dibagi 5 pertanyaan. Hal ini berarti bahwa

responden memberikan persepsi yang sangat baik terhadap Penerapan

Akuntansi Pemerintah. Pada variabel penerapan akuntansi pemerintah,

terlihat bahwa nilai indeks tertinggi sebesar 4,14 dihasilkan dari hasil

skor dibagi 50 responden terdapat pada item pernyataan kedua.

4. Uji Kualitas Data

a. Uji Validitas

Uji Validitas adalah prosedur untuk memastikan apakah

kuisioner yang akan dipakai untuk mengukur variabel penelitian valid

atau tidak. Kuisioner dapat dikatakan valid jika pertanyaan pada

kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh

kuisioner tersebut. Untuk mengetahui item pernyataan itu valid

dengan nilai Corrected Item Total Corelation. Untuk mengetahui item

pernyataan itu valid dengan nilai Corrected Item Total Corelation.

Apabila item pernyataan mempunyai r hitung > dari r tabel maka

dapat dikatakan valid. Pada penelitian ini terdapat jumlah sampel (n) =

50 responden dan besarnya df dapat dihitung 50-2 = 48 dengan df =

48 dan alpha = 0,05 didapat r tabel.


85

Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Sumber Daya Manusia
Variabel Butir r hitung r table Ket
1 0,690 0,2787 Valid
Sumber Daya 2 0,550 0,2787 Valid
Manusia 3 0,777 0,2787 Valid
4 0,795 0,2787 Valid
Sumber: Data SPSS 2019

Berdasarkan hasil analisis uji validitas instrument penelitian tabel

diatas dapat diketahui bahwa df 48 dan taraf signifikasi dalam

penelitian ini adalah sebesar 0,05. Sehingga diperoleh nilai r tabel

dalam penelitian 0,2787 maka dapat dikatakan seluruh skor

pernyataan atau pertanyaan bahwa sumber daya manusia mempunyai

nilai r hitung diatas 0,2787 sehingga seluruh instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini dinyatakan dalam penelitian ini

dinyatakan valid.

Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Teknologi Informasi
Variabel Butir r hitung r tabel Ket
1 0,716 0,2787 Valid
2 0,656 0,2787 Valid
3 0,609 0,2787 Valid
Teknologi
4 0,748 0,2787 Valid
Informasi
5 0,654 0,2787 Valid
6 0,651 0,2787 Valid
7 0,525 0,2787 Valid
Sumber: Data SPSS 2019

Berdasarkan hasil analisis uji validitas instrument penelitian tabel

diatas dapat diketahui bahawa df 48 dan taraf signifikasi dalam

penelitian ini adalah sebesar 0,05. Sehingga diperoleh nilai r tabel

dalam penelitian 0,2787 maka dapat dikatakan seluruh skor


86

pernyataan atau pertanyaan bahwa teknologi informasi mempunyai

nilai r hitung diatas 0,2787 sehingga seluruh instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini dinyatakan dalam penelitian ini

dinyatakan valid.

Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas Standar Akuntansi Pemerintah
Variabel Butir r hitung r tabel Ket
1 0,520 0,2787 Valid
Penerapan 2 0,682 0,2787 Valid
Akuntansi 3 0,736 0,2787 Valid
Pemerintah 4 0,550 0,2787 Valid
5 0,574 0,2787 Valid
Sumber: data SPSS 2019

Berdasarkan hasil analisis uji validitas instrument penelitian tabel

diatas dapat diketahui bahawa df 48 dan taraf signifikasi dalam

penelitian ini adalah sebesar 0,05. Sehingga diperoleh nilai r tabel

dalam penelitian 0,2787 maka dapat dikatakan seluruh skor

pernyataan atau pertanyaan bahwa penerapan akuntansi pemerintah

mempunyai nilai r hitung diatas 0,2787 sehingga seluruh instrumen

yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan dalam penelitian ini

dinyatakan valid.

b. Uji Reabilitas

Uji Reabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuisioner

yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu

kuisioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang

terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.


87

Uji relibilitas data dilakukan dengan menggunakan metode Alpha

Cronbach yakni suatu intrumendikatakan reliabel bila memiliki

koefisien keandalan reabilitas sebesar 0,60 atau lebih. Hasil pengujian

relibilitas data dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.12
Hasil Uji Reabilitas
Cronbach's Jumlah
Variabel Alpha Item Ket
Sumber Daya Manusia 0,649 4 Reliabel
Teknologi Informasi 0,748 7 Reliabel
Penerapan Akuntansi
Pemerintah 0,586 5 Reliabel
Sumber: Data SPSS 2019

Tabel diatas menujukan bahwa nilai cronbach’s alpa dari semua

variabel lebih besar dari 0,60. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

intrumen dari kuisioner yang digunakan untuk menjelaskan variabel

sumber daya manusia, teknologi informasi dan penerapan akuntansi

pemerintahyaitu dinyatakan handal atau dapat dipercaya sebagai alat

ukur variabel.

5. Deskriptif Penelitian

Setelah dilakukan pembahasan mengenai karakteristik responden

penelitian, berikut ini data responden yang telah melakukan pengisian

kuesioner dari variabel sumber daya manusia diuraikan dengan stastik

deskriptif dengan bantuan Ms. Excel versi 2010. Berikut ini adalah

tampilan data deskriptif variabel:


88

a. Tanggapan responden mengenai tingkat pengawasan

Variabel sumber daya manusia terdiri dari 4 item pertanyaan

yang telah dinyatakan valid dengan jumlah responden sebanyak 50

orang.

1) Pada pertanyaan butir ke 1 (Apakah Saudara memahami tugas

pokok, fungsi dan uraian tugas dengan baik ). Sebanyak 14 orang

(28%) menyatakan kurang setuju, sebanyak 34 orang (68%)

menyatakan setuju, sebanyak 2 orang (4%) menyatakan sangat

setuju. Hal ini menyatakan bahwa pegawai memahami tugas

pokok, fungsi dan uraian tugas dengan baik.

2) Pada pertanyaan butir ke 2 (Apakah Saudara mengikuti pelatihan

terkait dengan penyusunan laporan keuangan ). Sebanyak 5 orang

(10%) menyatakan kurang setuju, sebanyak 17 orang (34%)

menyatakan setuju, sebanyak 28 orang (56%) menyatakan sangat

setuju. Hal ini menyatakan bahwa pegawai mengikuti pelatihan

terkait dengan penyusunan laporan keuangan.

3) Pada pertanyaan butir ke 3 (Apakah Saudara mampu menyusun dan

menyajikan lapoaran keuangan dengan baik). Sebanyak 20 orang

(40%) menyatakan kurang setuju, sebanyak 15 orang (30%)

menyatakan setuju, sebanyak 15 orang (30%) menyatakan sangat

setuju. Hal ini menyatakan bahwa pegawai mampu menyusun dan

menyajikan lapoaran keuangan dengan baik.


89

4) Pada pertanyaan butir ke 4 (Apakah Saudara berusahan untuk

mengembangkan diri dan belajar terus menerus). Sebanyak 6 orang

(12%) menyatakan kurang setuju, sebanyak 26 orang (52%)

menyatakan setuju, sebanyak 18 orang (36%) menyatakan sangat

setuju. Hal ini menyatakan bahwa pegawai mampu berusahan

untuk mengembangkan diri dan belajar terus menerus.

Tabel 4.13
Akumulasi Tanggapan Responden Mengenai Tingkat Pengawasan
NO Pernyataan Mengenai Kualitas Alternatif Jawaban
Sumber Daya Manusia STS TS KS S SS
1 Apakah Saudara memahami tugas pokok, 0 0 14 34 2
fungsi dan uraian tugas dengan baik ?
2. Apakah Saudara mengikuti pelatihan 0 0 5 17 28
terkait dengan penyusunan laporan
keuangan ?
3. Apakah Saudara mampu menyusun dan 0 0 20 15 15
menyajikan lapoaran keuangan dengan
baik?
4. Apakah Saudara berusahan untuk 0 0 6 28 18
mengembangkan diri dan belajar terus
menerus?
Total 0 0 45 94 63

Sumber data primer diolah, 2019


Berdasarkan jumlah skoring jawaban atas 29 responden sebagai

berikut:

Nilai Kontinum
Bobot Skala Likret x Total = Skor

Nilai Kontium = Jumlah Total Skor


90

Jumlah skor (SS) = 5 x 63 = 315

Jumlah skor (S) = 4 x 94 = 376

Jumlah skor (KS) = 3 x 45 = 135

Jumlah skor (TS) =2x0 =0

Jumlah skor (STS) =1x0 =0


Nilai Kontinum = 826

Jumlah skor tertinggi = 4 x 4 x 50 = 800

Jumlah skor terendah = 1 x 4 x 50 = 200

Berdasarkan data yang diperoleh dari 50 responden, maka nilai

kontinum sebesar 826 menunjukan sumber daya manusia yang

dilaksanakan oleh pegawai pada dinas perhubungan bantul,

menurut tanggapan responden dalam penelitian ini berada pada

kategori “baik”.

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisis diatas, maka akan dilakukan pembahasan

yang memberikan beberapa informasi secara rinci tentang hasil penelitian

serta bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen. Variabel independen pada penelitian ini adalah Sumber Daya

Manusia (X1) dan Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2), sedangkan


91

variabel dependen adalah Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

(Y). pengujian kualitas terdiri dari uji validitas dan uji reabilitas antara

variabel independen dan variabel dependen dilakukan melalui analisis

SPSS Statistics 23. Selanjutnya merupakan penjelasan daeri pengujian

data yang dilakukan sebagai berikut:

1. Kualitas Sumber Daya Manusia terhadap Standar Akuntansi

Pemerintah Berbasis Akrul di Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

Berdasarkan hasil output dari SPSS, pengujian yang dilakukan

diketahui bahwa nilai rhitung > rtabel sehingga pertanyaan untuk

variabel sumber daya manusia dapat dikatakan valid, sehingga hasil

penelitian menunjukan bahwa sumber daya manusia berpengaruh

terhadap standar akuntansi pemerintah berbasis akrual pada Dinas

Perhubungan Bantul.

Pada dasarnya sumber daya manusia mengatur hubungan dan

peranan tenaga kerja agar efektif dan efesien membantu terwujudnya

tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. (Hasibuan, 2016:10).

Hal ini menunjukan Sumber daya manusia sebagai salah satu sumber

daya yang ada dalam organisasi memegang pemeranan yang penting

dalam keberhasilan pencapaian organisasi. Kualitas sumber daya

manusia mampu menterjemah menjadi informasi yang berguna bagi

perkembangan dan kemajuan organisasi.


92

2. Pemanfaatan teknologi informasi terhadap standar akuntansi pemerintah berbasis

akrual pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul. Berdasarkan hasil SPSS,

hasil penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi informasi

berpengaruh (baik) terhadap standar akuntansi pemerintah berbasis akrual pada

Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul. Pemanfaatan teknologi informasi sangat

penting untuk memberikan akses yang baik sehingga informasi dari dinas

perhubungan bantul disistribusikan kepada lembaga-lembaga terkait sehingga

penyaluran data dan informasi dapat lebih cepat sehingga pegawai di dinas

perhubungan bantul melaksanakan tugas sesuai dengan tanggungjawabnya.


93

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Laporan tugas akhir imi membahas mengenai sumber daya manusia,

pemanfaatan teknologi informasi terhadap standar akuntansi pemerintah

pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul. Analisis ini menggunakan

metode statistik deskriptif menggunakan program Microsoft Excel 2010 dan

Statistical Package For Sosial Sciences (SPSS) Ver 23. Berdasarkan hasil

penelitian, maka penulis membuat kesimpulan:

1. Kesiapan sumber daya manusia yang ada pada Dinas Perhubungan

Kabupaten Bantul berpengaruh pada penerapan standar akuntansi

pemerintah berbasis akrual. Hasil berdasarkan perhitugan nilai kontinum

didapat 826 maka di kategorikan baik/berpengaruh.

2. Kesiapan pemanfaatan teknologi informasi yang ada pada Dinas

Perhubungan Bantul berpengaruh terhadap penerapan standar akuntansi

pemerintah berbasis akrual Pada penelitian ini terjadi anomaly karena

suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi

akan berubah-ubah dari kejadian biasanya.


94

B. Keterbatasan

1. Penulisan ini mengunakan kuesioner sebagai instrument penelitiannya,

sehingga belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

2. Jumlah sampel penelitian yang disebarkan sedikit menyebabkan data yang

diolah lebih sedikit.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya, berikut adalah saran

dalam penelitian ini:

1. Dinas Perhubungan bantul perlu memerlukan pelatihan tentang

penggunaan teknologi informasi dalam melaksanakan penerapan standar

akuntansi berbasis akrual bagi pegawai dibagian keuangan secara

berkala untuk meningkatkan sumber daya manusia. Perbaikan sistem

teknologi infromasi untuk proses pencatatan dalam akuntansi untuk

memenuhi kebutuhan Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

2. Untuk meningkatkan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan maka

dibutuhkan Kompetensi Sumber Daya Manusia yang memahami

Standar Akuntansi Pemerintahan secara komprehensif, tidak saja

Peraturan Pemerintah PP No 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan, tetapi juga teknis akuntansi serta peraturan perundangan

lainnya yang terkait dengan masalah pengelolaan keuangan. Selanjutnya

Penerapan Akuntansi Pemerintahan juga perlu dikawal dengan Sistem


95

Pengendalian Intern Pemerintah yang efektif dan efisien.Penerapan

Sistem Pengendalian Intern berfungsi untuk memberikan keyakinan

bahwa penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan telah dilaksanakan

sebagaimana mestinya.

3. Bagi peneliti berikutnya disarankan untuk menambah variabel lain

berkaitan erat secara teori terhadap variabel penerapan akuntansi

pemerintah. Hal ini di lakukan agar dapat menilihat variasi turun

naiknya terhadap penerapan akuntansi pemerintah.

4. Bagi peneliti berikutnya dapat menambah sampel penelitian di luar

kabupaten bantul agar dapat menambah reverensi pengamatan.


DAFTAR PUSTAKA

Analisis Penerapan Standar Akuntansi Berbasis Akrual pada Pemerintah Kota


Timoho https://www.neliti.com/id/publications/2896/analisis-penerapan-
standar-akuntansi-berbasis-akrual-pada-pemerintah-kota-tomoho.Diakses 09
Mei 2019.

Dora, Sofia. 2014. Analisis Kesiapan Pemerinta Dalam Menerapkan Standar


Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual (studi Kasus Pada BPKD Kota
Medan).
https://www.academia.edu/14934473/ANALISIS_KESIAPAN_PEMERINT
AH_DALAM_MENERAPKAN_STANDAR_AKUNTANSI_PEMERINTA
H_BERBASIS_AKRUAL_STUDI_KASUS_PADA_BPKD_KOTA_MED
AN_SKRIPSI_Disusun_oleh_Nama. Diakses pada 25 agustus 2019
Imam, Ghozali, 2011 “Metode Penelitian Uji Asumsi Klasik
https://eprints.uny.ac.id/19845/3/BAB%20III.pdf

Fontanella, Amy. 2010. Analisis Pengaruh Latar Belakang Pendidikan dan


Pengetahuan Akuntansi Pengguna terhadap Pemanfatan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah.Jurnal Akuntansi & Manajemen.Vol. 5 N0.2 HAL.22-30

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Halim, Abdul, & Muhammaad, S. Kusufi. 2012. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi
Keuangan Daerah. Edisi Empat. Erlangga: Jakarta.
Haryanto, Sahmuddin, Arifuddin. 2007. Akuntansi Sektor Publik. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Hasibuan, 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia.
http://repository.unpas.ac.id/37851/1/BAB%20II.pdf. diakses 8 september
2019 pukul

Herry.2012. Akuntansi Laporan Keuangan. PT. Bumi Aksara: Jakarta.


Kusuma Ririn Setiawati. 2013 “Analisi Kesiapan Pmerintah Dalam Menerapkan SAP
Pemerintah Berbasi Akrual”

65
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar
Akuntansi Pemerintah. http://www.djpk.depkeu.go.id/attach/post-pp-no-71-
tahun-2010-tentang-standar-akuntansi-pemerintahan/PP71.pdf .Diakses 10
Mei 2019.
Putri, A N S. 2016. Dampak Implementasi Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis
Akrual di Pemerintah Daerah Istimew Yogyakart.Skripsi. Yogyakarta
Universitas Islam Indonesia

Prof. Dr. Lijan Poltak Sinambela. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi
Aksara: Jakarta
Sugiyono, (2014:93) “ Metode Penelitian Skala Likert”
http://digilib.unila.ac.id/10284/16/BAB%20III.pdf

Skripsi Laras Kusuma Pratiwi. “PENGARUH KOMPETENSI SDM, TEKNOLOGI


INFORMASI DAN INSENTIF TERHADAP IMPLEMENTASI
STANDARAKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL
DENGAN MOTIVASI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/41627/2/LARAS%
20KUSUMA%20PRATIWI-FEB.pdf. diakses pada 8 september 2019

Skripsi Ririn Wiseliner. “Pengaruh Penerapan Teknologi Informasi terhadap Kinerja


Pegawai karyawan PT. Serasi”. http://repository.uin-
suska.ac.id/7723/1/2013_2013213MEN.pdf. diakses 11 Mei 2019

65