Anda di halaman 1dari 9

1.

Patway

2. Manifestasi klinis
Gejala sinusitis akut meliputi:
1) Nyeri wajah yang memburuk saat menunduk.
2) Cairan kental kuning kehijauan dari hidung atau belakang tenggorokan.
3) Hidung mampet menyebabkan kesulitan bernapas.
4) Tekanan pada telinga.
5) Sakit kepala.
6) Batuk.
7) Bau napas tidak sedap.
8) Kelelahan.
9) Demam.

Beberapa gejala sinusitis kronis meliputi:

1) Cairan kental kuning kehijauan dari hidung dan belakang tenggorokan.


2) Hidung mampet.
3) Nyeri wajah.
4) Kesulitan menghirup.
5) Nyeri telinga.
6) Nyeri pada rahang atas dan gigi.
7) Batuk.
8) Nyeri tenggorokan.
9) Napas tak sedap.
10) Kelelahan.
11) Mual.

3. Klasifikasi
1) Sinusitis akut. Jenis sinusitis yang paling umum terjadi dan umumnya berlangsung
selama 2-4 minggu.
2) Sinusitis subakut. Jenis sinusitis yang berlangsung selama 4-12 minggu.
3) Sinusitis kronis. Jenis sinusitis yang berlangsung selama lebih dari 12 minggu, dan
dapat berlanjut hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
4) Sinusitis kambuhan. Jenis sinusitis akut yang terjadi hingga 3 kali atau lebih dalam
setahun.
4. Komplikasi

Sinusitis akut yang tidak segera diobati berisiko tinggi berkembang menjadi sinusitis
kronis. Jika sinusitis kronis juga tidak segera ditangani dengan baik, maka dapat
menyebabkan komplikasi berupa:

1) Meningitis, ketika infeksi menyebar hingga ke dinding otak dan menyebabkan


peradangan serta penumpukan cairan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.
2) Gangguan penglihatan, ketika infeksi menyebar hingga ke rongga mata, sehingga
menyebabkan menurunnya kemampuan indera penglihatan dan bahkan kebutaan
permanen.
3) Hilangnya indera penciuman (total atau parsial). Infeksi dapat memicu peradangan pada
saraf penciuman, sehingga menyebabkan hilangnya indera penciuman untuk sementara
atau permanen.
4) Infeksi lain. Meskipun jarang terjadi, namun infeksi pada sinus dapat menyebar hingga
ke tulang (osteomielitis) atau kulit (selulitis).

5. Pemeriksaan pnunjang
1) Endoskopi Nasal
Endoskopi nasal dapat dilakukan dengan atau tanpa pemberian dekongestan. Endoskopi
nasal memberikan visualisasi yang lebih baik untuk mengevaluasi meatus medial dan
superior serta area nasofaring. Endoskopi nasal dapat dilakukan pada pasien anak-anak
maupun dewasa tetapi belum tentu tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Evaluasi menggunakan endoskopi nasal dapat melihat kondisi mukosa serta menilai
karakteristik seperti ada tidaknya polip, edema, dan sekret. Evaluasi pasca operasi
menilai ada tidaknya jaringan parut ataupun krusta. Evaluasi sinusitis kronis dapat
dilakukan pada bulan ke-3, 6, 12, dan 24 setelah diagnosis pertama ditegakkan. [7, 17]
2) Radiologi
Pemeriksaan radiologi tidak selalu diperlukan pada pasien dengan sinusitis.
Pemeriksaan pencitraan biasanya hanya dilakukan pada pasien sinusitis kronis atau jika
gejala sangat atipikal dan diperlukan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis
banding. Sebelum melakukan pemeriksaan radiologi, klinisi harus mempertimbangkan
rasio manfaat dan risiko, serta paparan terhadap radiasi. Teknik pencitraan yang dapat
dilakukan untuk menunjang diagnosis sinusitis dapat berupa rontgen, ultrasonografi,
MRI, dan CT-scan.
3) Rontgen :
Pemeriksaan rontgen dapat dilakukan pada posisi Waters (evaluasi sinus maksila dan
frontal), posisi Caldwell (visualisasi etmoid), dan posisi lateral (untuk evaluasi adenoid
dan sfenoid). Sinusitis ditandai dengan gambaran opak difus pada rongga sinus,
penebalan mukosa (>4 mm), atau adanya air fluid level.
4) Ultrasonografi :
Pemeriksaan ultrasonografi memiliki keterbatasan hanya untuk mengevaluasi sinus
maksila. Ultrasonografi dapat mendeteksi adanya cairan pada rongga sinus, penebalan
mukosa, atau massa jaringan lunak di dalam rongga sinus.
5) MRI :
Pemeriksaan MRI digunakan bila dicurigai adanya tumor, komplikasi intrakranial atau
infeksi jamur pada kasus-kasus sinusitis yang lebih kompleks.
6) CT Scan :
Pemeriksaan CT-scan adalah teknik pencitraan yang dianjurkan untuk sinusitis.
Pemeriksaan CT-scan dilakukan pada pasien yang tidak mengalami perbaikan setelah
mendapatkan terapi yang adekuat atau pada sinusitis kronis. Pemeriksaan CT-scan
berguna untuk menegakkan diagnosis sinusitis jamur invasif akut atau alergi serta untuk
menyingkirkan diagnosis lain seperti tumor. CT-scan harus dilakukan sebelum tindakan
operasi sinus endoskopik terutama bila ada komplikasi sinusitis yang melibatkan area
periorbital atau intrakranial. CT-scan yang disarankan adalah dengan potongan setebal
3-4 mm yang kemudian dapat dievaluasi gambaran opak pada sinus, air-fluid level,
penebalan mukosa (>4 mm), dan displacement dinding sinus.
7) Pemeriksaan laboratorium darah
Pemeriksaan laboratorium darah tidak memiliki gambaran spesifik untuk sinusitis.
Pemeriksaan darah dapat berguna pada sinusitis yang berhubungan dengan rhinitis
alergi, fibrosis kistik, atau imunodefisiensi. Pemeriksaan darah lengkap bisa dalam batas
normal atau terjadi leukositosis pada sinusitis bakterial akut. Hasil pemeriksaan laju
endap darah dan C-reactive protein dapat meningkat pada sinusitis, namun tidak
spesifik.

6. Penata laksanaan
Penatalaksanaan sinusitis bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan, mengatasi
infeksi, memperbaiki drainase mukus, mencegah perubahan sinusitis akut menjadi kronis,
dan mencegah terjadinya komplikasi.
1) Terapi Simptomatis

Terapi medikamentosa pada kasus sinusitis akut umumnya berupa pengobatan


simtomatis seperti penggunaan dekongestan, kortikosteroid, dan analgesik.
2) Dekongestan
Dekongestan oral (pseudoefedrin atau fenilefrin) atau dekongestan topikal
(pseudoefedrin HCl) yang diberikan selama 14 hari. Dekongestan topikal berupa
oksimetazolin dapat diberikan dengan durasi tidak lebih dari 3 hari untuk mencegah
kongesti rebound.
3) Kortikosteroid
Kortikosteroid intranasal. Regimen yang biasa digunakan adalah mometasone furoate
200/ 400/ 800 µg sebanyak 2 kali sehari selama 15 hari pemberian. Kortikosteroid dapat
digunakan sebagai terapi tunggal pada sinusitis akut ataupun sebagai terapi tambahan
bersama antibiotik untuk kasus sinusitis bakterial akut.
Kortikosteroid oral jangka pendek bermanfaat untuk mengurangi keluhan sakit kepala,
nyeri pada wajah, kongesti nasal, dan sebagainya. Regimen obat yang dapat digunakan
misalnya metilprednisolon dengan dosis 3 x 8 mg selama 5 hari pemberian.
Walaupun begitu, studi yang ada menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid
intranasal sebaiknya hanya digunakan pada sinusitis yang berhubungan dengan alergi,
dan kortikosteroid oral bersama antibiotik hanya menunjukkan manfaat moderat jangka
pendek. Beragam studi lebih merekomendasikan penggunaan kortikosteroid hanya pada
pasien sinusitis kronis yang disertai polip nasal.
4) Antihistamin
Antihistamin tidak rutin diberikan. Antihistamin dapat bermanfaat pada sinusitis akut
dengan gejala ringan (mengurangi keluhan bersin dan pengeluaran sekret hidung) atau
yang diduga berhubungan dengan rhinitis alergi.
5) Analgetik
Analgetik non-narkotik seperti paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan pada pasien
dengan sinusitis untuk meringankan keluhan demam dan nyeri.
6) Antibiotik
Pada kasus sinusitis akut yang dicurigai adanya infeksi bakterial, pasien diberikan terapi
antibiotik.
7) Sinusitis Akut
Pada kasus sinusitis akut yang tidak komplikasi, penggunaan antibiotik tidak
disarankan. Berdasarkan tinjauan sistematik Cochrane, setengah pasien dengan sinusitis
akut tanpa komplikasi dapat sembuh sendiri walaupun tidak diberikan antibiotik. Dua
pertiga pasien dilaporkan dapat sembuh setelah 14 hari. Studi ini menyimpulkan bahwa
antibiotik tidak diperlukan pada sinusitis akut yang tidak komplikasi. Antibiotik
mungkin dapat diberikan pada pasien dengan sinusitis yang
berat, immunocompromised, atau pada anak-anak.
Beberapa pilihan antibiotik pada kasus sinusitis bakterial akut dewasa adalah:
a) Amoxicillin 3 x 500 mg per oral atau Amoksisilin klavulanat 3 x 625 mg per oral
selama 10-14 hari pemberian
b) Klaritromisin : 2 x 500 mg
c) Azithromycin : 500 mg pada pemberian hari pertama, kemudian 1 x 250 mg selama
4 hari
Untuk sinusitis bakterial akut pada anak, pilihan antibiotik adalah :
a) Amoxicillin : 45 mg/kgBB dibagi menjadi 2 dosis perhari
b) Ceftriaxone: digunakan pada anak yang tidak mampu mentoleransi obat oral.
Diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB dosis tunggal secara intramuskular atau
intravena.
Sinusitis Kronis :
Antibiotik pada sinusitis kronis diberikan dalam durasi 3-4 minggu dan dapat
diberikan secara empiris pada awal tatalaksana. Jika terapi empiris gagal, maka
penggunaan antibiotik harus berdasarkan hasil kultur. Obat yang menjadi pilihan
adalah amoxicillin clavulanate 2 gram per oral dua kali sehari, atau 90 mg/kgBB/hari
dua kali sehari. Pada pasien yang alergi penisilin dapat digunakan levofloxacin,
moxifloxacin, atau cephalosporin generasi ketiga.
8) Antifungal
Pada kasus sinusitis akibat jamur terapi medikamentosa yang dapat digunakan adalah
amphotericin B 1 - 1,5 mg/kgBB/hari untuk kasus sinusitis jamur invasif akut. Pada
kasus kronis, dosis amphotericin B yang digunakan adalah 2 g/hari. Setelah pemberian
amphotericin B, antifungal dapat diganti menjadi itraconazole atau ketoconazole
dengan dosis 400 mg/ hari.
9) Pembedahan
Tindakan pembedahan ditujukan pada pasien sinusitis kronis yang tidak membaik
setelah terapi adekuat, sinusitis kronis disertai pembentukan kista atau kelainan lain
yang ireversibel, adanya polip ekstensif, sinusitis jamur, atau adanya komplikasi
sinusitis lain.
Jenis pembedahan yang sekarang paling sering dikerjakan adalah Functional
Endoscopic Sinus Surgery (FESS). Komplikasi FESS yang dapat terjadi antara lain
kerusakan otot ekstraokular, kehilangan penglihatan, kebocoran cairan serebrospinal,
dan meningitis. Namun, komplikasi ini sangat jarang.
Persiapan Rujukan
Persiapan rujukan segera ke dokter spesialis THT harus dilakukan pada pasien-pasien
yang mengalami hal berikut:
a) Edema atau eritema periorbital
b) Diplopia
c) Kelainan posisi bola mata
d) Oftalmoplegia
e) Penurunan tajam penglihatan
f) Nyeri berat area frontal baik unilateral atau bilateral
g) Bengkak pada area frontal
h) Adanya gejala meningitis
i) Adanya defisit neurologis
j) Terapi Suportif, Terapi suportif non medikamentosa yang dapat dilakukan pada
pasien sinusitis adalah humidifikasi atau menghirup uap air panas untuk mengurangi
sumbatan hidung
k) Nasal wash menggunakan NaCl 0,9%
l) Kompres hangat pada area sinus
m) Minum air putih yang cukup.

7. Pencegahan
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah sinusitis, yaitu:
1) Jika sinusitis disebabkan oleh alergi, maka hindari paparan alergen dan konsultasikan
dengan dokter mengenai cara mengendalikan gejala alergi.
2) Berhenti merokok atau hindari asap rokok jika Anda perokok pasif.
3) Jagalah kebersihan tangan, terutama sebelum makan, untuk menurunkan risiko
paparan kuman dan alergen.
4) Lakukan vaksinasi flu setiap tahun untuk menjaga kekebalan tubuh dari flu.
5) Konsumsi makanan sehat, seperti buah dan sayuran.
6) Gunakan pelembab udara, terutama ketika cuaca panas. Pastikan pelembab udara
selalu bersih dan bebas dari jamur.
7) Kurangi kontak secara langsung dengan penderita pilek dan flu.

8. Prognosis
Prognosis sinusitis akut akibat infeksi virus biasanya baik. Hampir 98% kasus dapat
sembuh sendiri. Sinusitis bakterial memiliki angka kekambuhan 5%.
Sinusitis akibat jamur memiliki prognosis yang buruk bila sudah ada keterlibatan
intrakranial dan orbita atau menimbulkan erosi tulang.
Kasus sinusitis akut yang tidak ditangani segera secara adekuat dapat berubah menjadi
sinusitis kronis. Sinusitis kronis mungkin agak sulit ditangani, namun bila penyebab
yang melatarbelakangi mampu ditangani, tindakan pembedahan jarang diperlukan
9. Legal Etik
1) Respect (Hak untuk dihormati)
Perawat harus menghargai hak-hak pasien/klien
2) Autonomy (hak pasien memilih)
Hak pasien untuk memilih treatment terbaik untuk dirinya
3) Beneficence (Bertindak untuk keuntungan orang lain/pasien)
Kewajiban untuk melakukan hal tidak membahayakan pasien/ orang lain dan secara
aktif berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan pasiennya
4) Non-Maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain)
kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan kerugian atau cidera
Prinsip :
Jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau
penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai
perasaaan orang lain.
5) Confidentiality (hak kerahasiaan)
menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang pasien/klien yang
dipercayakan pasien kepada perawatan
6) Justice (keadilan)
kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan adil sendiri berarti tidak
memihak atau tidak berat sebelah.
7) Fidelity (loyalty/ketaatan)
Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan bertanggungjawab terhadap
kesepakatan yang telah diambil.
8) Veracity (Truthfullness & honesty)
Kewajiban untuk mengatakan kebenaran. Terkait erat dengan prinsip otonomi,
khususnya terkait informed-consent. Prinsip veracity mengikat pasien dan perawat
untuk selalu mengutarakan kebenaran.