Anda di halaman 1dari 69

TOPIK-3

SISTEM
HARGA POKOK STANDAR
Sub Topik :
• Pengertian Sistem Harga Pokok Standar
• Menghitung dan Menganalisis Harga Pokok
Standar BBB, BTKL & BOP
• Membuat Perhitungan Harga Pokok Standar
• Penggunaan Metode Harga Pokok Standar
dalam Penentuan Biaya
PENGERTIAN SISTEM HARGA POKOK STANDAR

• Definisi :
Sistem harga pokok standar adalah “salah satu
sistem harga pokok yang ditentukan di muka untuk
mengolah produk atau jasa tertentu dengan cara
menentukan besarnya biaya standar dari biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead
pabrik untuk mengolah satu satuan produk atau jasa
tertentu” (Supriyono,1986)

• Istilah lain dari HARGA POKOK STANDAR atau harga pokok


produksi standar adalah biaya standar atau biaya produksi
standar
Konsep Dasar Sistem Harga Pokok Standar :

Tarif
ditentukan Pembebanan
di muka

SELISIH

Realisasi
Perbedaan ANGGARAN dengan HARGA POKOK STANDAR:
1. Tidak semua anggaran disusun atas dasar biaya standar.
2. Anggaran menyatakan besarnya biaya yang diharapkan
(expected) sedangkan biaya standar merupakan biaya
yang seharusnya dicapai.
3. Anggaran lebih cenderung merupakan batas-batas biaya
yang tidak boleh dilampaui, sedangkan biaya standar
mengutamakan tingkatan biaya yang harus bisa ditekan
(dikurangi) agar prestasi dapat diukur.
4. Anggaran biasanya disusun untuk semua bagian,
sedangkan biaya standar hanya untuk biaya produksi saja.
5. Selisih biaya yang timbul dari biaya standar akan
diinvestigasi (diperiksa) penyebabnya dengan teliti,
sedangkan di anggaran selisih umumnya tidak
diinvestigasi lebih lanjut.
Manfaat harga pokok standar :
1. Perencanaan
2. Koordinasi
3. Pengambilan keputusan
4. Pengendalian biaya
5. Memungkinkan penerapan ”prinsip
pengecualian”
6. Penentuan insentif kepada personal
7. Menekan atau mengurangi biaya administrasi
Menghitung dan Menganalisis Harga Pokok
Standar BBB, BTKL & BOP
• Harga pokok standar (biaya standar) dipakai sebagai
alat untuk mengukur dan menilai prestasi yang
terpercaya dan dapat disepakati sebagai norma oleh
karena perhitungannya dilakukan secara teliti dan
ilmiah
• Langkah-langkah yang dilakukan secara teliti & ilmiah :
– Penelitian teknis,
– Penilaian prestasi,
– Penelitian laboratorium,
– Penelitian gerak dan waktu,
– Penentuan standar kuantitas dan kualitas,
– Penelitian tingkat harga
Ilustrasi gambar :

Harga Pokok
Standar :
ALAT UKUR /
• BBB Standar PENILAIAN PRESTASI
• BTKL Standar
• BOP Standar

• TELITI NORMA
• ILMIAH TERPERCAYA
Membuat Perhitungan Harga Pokok Standar

• Hal penting yang perlu diperhatikan dalam


membuat perhitungan harga pokok standar atau
biaya standar adalah dengan menentukan jenis-
jenis standar yang akan dipakai pada faktor-faktor
yang akan digunakan terlebih dahulu.
• Faktor-faktor tsb adalah :
– Faktor tingkat harga
– Faktor tingkat prestasi
– Faktor tingkat produksi
Jenis-jenis Standar :
1. Faktor Tingkat Harga :
A. Standar Ideal (Ideal Standard)
B. Standar Normal (Normal Standard)
C. Standar Karen (Current Standard)
D. Standar Dasar (Basic Standard)
2. Faktor Tingkat Prestasi :
A. Standar Prestasi Teoritis
B. Standar Prestasi Terbaik yang Dicapai
C. Standar Prestasi Rata-rata Masa Lalu
D. Standar Normal
3. Faktor Tingkat Produksi :
A. Standar Kapasitas Teoritis
B. Standar Kapasitas Praktis
C. Standar Kapasitas Normal
D. Standar Kapasitas yang Diharapkan
❑ Dalam penentuan harga pokok standar, unsur-unsur
biaya produksi (BBB, BTKL & BOP) akan dihitung
sesuai standar (harga, prestasi & produksi) yang
disepakati hingga pada akhirnya akan membentuk
unsur-unsur biaya standar seperti :
– Biaya Bahan Baku yang akan membentuk unsur
Biaya Bahan Baku Standar.
– Biaya Tenaga Kerja Langsung yang akan
membentuk unsur Biaya Tenaga Kerja Langsung
Standar.
– Biaya Overhead Pabrik yang akan membentuk
unsur Biaya Overhead Pabrik Standar.
Ilustrasi gambar :

Standar
Harga
Harga Harga Pokok
Pokok Produksi
Standar Produksi: Standar :
Prestasi
- BBB - BBB Standar
- BTKL - BTKL Standar
- BOP - BOP Standar
Standar
Produksi
Penggunaan Metode Harga Pokok
Standar dalam Penentuan Biaya

❑ Pembentukan harga pokok standar dilakukan


dalam rangka untuk menentukan biaya di
muka, khususnya biaya pembuatan barang
atau produk dan jasa, dengan cara
menentukan biaya bahan baku standar, biaya
tenaga kerja langsung standar dan biaya
overhead pabrik standar.
Harga Pokok Standar terdiri dari :
1. Biaya Bahan Baku (BBB) Standar
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
(BTKL) Standar
3. Biaya Overhead Pabrik (BOP)
Standar
BBB STANDAR
• Adalah biaya bahan baku
yang seharusnya terjadi
dalam pengolahan satu
satuan produk.
Syarat-syarat penyusunan BBB Standar:
• Diperlukan anggaran bahan baku yang akurat.
• Kewajaran pembelian rutin.
• Pengawasan atas pengiriman bahan baku yang dibeli
dan diangkut oleh pengangkut yang kapabel.
• Fasilitas penerimaan dan penyimpanan bahan baku yang
memadai.
• Pengawasan terhadap sahnya bahan baku yang dipakai.
• Metode yang memadai untuk mengidentifikasi dan
mengawasi bahan baku di dalam proses.
• Kewajaran dari penyimpanan dan pengiriman produk
selesai.
Faktor-faktor yang digunakan dalam
menentukan BBB Standar :
1. Harga Bahan Baku Standar
Adalah harga bahan baku per satuan yang
seharusnya terjadi di dalam pembelian bahan
baku.
2. Kuantitas Bahan Baku Standar
Adalah jumlah kuantitas bahan baku yang
seharusnya dipakai di dalam pengolahan satu
satuan produk tertentu.
Syarat-syarat penentuan harga bahan baku
standar (jika menggunakan standar karen) :
• Harga bahan baku yang disetujui dalam kontrak
pembelian jangka panjang.
• Peramalan harga bahan baku yang akan terjadi
dengan menggunakan metode statistika, baik yang
dilakukan oleh perusahaan sendiri atau dari luar
perusahaan.
• Dihitung dari pesanan pembelian yang paling akhir
dengan metode rata-rata tertimbang atau median.
• Ditentukan langsung berdasar taksiran pejabat
perusahaan yang mempunyai pengetahuan dan
meneliti harga bahan baku.
• Ditentukan atas dasar daftar harga yang dikeluarkan
oleh suplier.
Dasar-dasar penetapan kuantitas bahan
baku standar :
• Spesifikasi kualitas bahan baku.
• Spesifikasi produk yang dihasilkan yang dapat
dianalisa dari gambar, cetakan biru (blue
print), atau rancangan (design) produk.
• Ukuran bahan baku setiap satuan.
• Spesifikasi teknis melalui penelitian kimia dan
analisa mekanikal atau dengan test run.
BTKL STANDAR
• Adalah biaya tenaga kerja
langsung yang seharusnya
terjadi di dalam pengolahan
satu satuan produk.
Syarat-syarat penyusunan BTKL Standar :
• Tata letak pabrik, kondisi peralatan, tempat kerja,
fasilitas transportasi telah distandarisasi pada
keadaan atau tingkatan praktis.
• Terdapat pengawasan terhadap pengelolaan
bahan baku baik segi kuantitas dan kualitas yang
memadai sampai dengan bahan diolah di pabrik.
• Diselenggarakan sistem perencanaan, rute dan
kecepatan kerja.
• Disediakan instruksi kerja untuk karyawan dan
diadakan training atas pengarahan kerja sebelum
karyawan melaksanakan pekerjaan tertentu.
Faktor-faktor yang digunakan dalam
menentukan BTKL Standar :
1. Standar Tarif Upah Langsung
Adalah tarif upah langsung yang seharusnya
terjadi untuk setiap satuan pengupahan
(mis: upah per jam atau upah per potong).
2. Standar Jam Kerja Langsung
Adalah jam kerja langsung yang seharusnya
dipakai di dalam pengolahan satu satuan
produk.
Dasar-dasar penetapan standar tarif upah
langsung :
• Sistem penggajian yang dilaksanakan oleh
perusahaan, misalnya harian, per jam atau per
potong.
• Perjanjian kerja kolektif yang diadakan
perusahaan.
• Tarif upah langsung yang dibayar pada masa lalu
disesuaikan dengan tarif upah yang diharapkan
akan terjadi pada periode penggunaan standar.
• Berdasarkan pasaran tenaga yang bersaing sesuai
dengan kondisi dan tempat atau lokasi
perusahaan.
Faktor-faktor penting dalam penetapan
standar jam kerja :
• Kegiatan apa yang dilaksanakan oleh tenaga
kerja langsung.
• Berapa waktu yang seharusnya diserap
untuk setiap kegiatan atau setiap unit
produk yang dikerjakan.
Dasar-dasar penetapan standar jam kerja
langsung :
• Studi gerak dan waktu
• Rata-rata prestasi masa lalu
• Test Run
• Estimasi di muka terhadap waktu yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan
tertentu
BOP STANDAR
• Adalah biaya overhead pabrik
yang seharusnya terjadi di
dalam mengolah satu satuan
produk.
Langkah-langkah dalam penentuan BOP
standar (menggunakan tarif tunggal) :
• Penyusunan anggaran BOP.
• Penentuan dasar pembebanan dan tingkat
kapasitas.
• Perhitungan tarif standar BOP.

❑ Apabila produk diolah melalui beberapa


departemen produksi di dalam pabrik, maka
tarif BOP standar dihitung melalui
Departemenisasi BOP (Akuntansi Biaya).
❑ Sebagai alat ukur (penilaian)
prestasi maka harga pokok standar
dipakai untuk mengukur keefektifan
dan keefisienan biaya yang
dikeluarkan perusahaan dengan cara
membandingkan harga pokok
standar/biaya standar dengan harga
pokok sesungguhnya/biaya
sesungguhnya
❑ Selisih yang timbul dari
perbedaan antara Harga
Pokok Standar dengan
Harga Pokok Sesungguhnya
selanjutnya akan ditelusuri
lebih jauh lagi dengan
metode Analisis Selisih
Maksud dan tujuan dilakukan analisis
selisih adalah untuk mengetahui :
❑ di mana penyebab terjadinya selisih,

dan
❑ siapa yang bertanggung-jawab atas
selisih-selisih tersebut.
SELISIH HARGA POKOK PRODUKSI

Harga
Harga
Pokok Selisih
Pokok
Sesungguh (Variance)
Standar
nya

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Jika harga pokok standar > harga pokok sesungguhnya
maka sifat selisih yaitu Favorable (Menguntungkan)
❖ Jika harga pokok standar < harga pokok sesungguhnya
maka sifat selisih yaitu Unfavorable
(Tidak Menguntungkan)
ANALISIS SELISIH

Selisih Harga Pokok Produksi dianalisis


ke dalam :
▪ Selisih Biaya Bahan Baku
▪ Selisih Tenaga Kerja Langsung
▪ Selisih Biaya Overhead Pabrik
SELISIH BIAYA BAHAN BAKU
❑ Selisih biaya bahan baku timbul akibat perbedaan antara biaya bahan baku
yang sesungguhnya terjadi dengan biaya bahan baku standar atau yang
seharusnya terjadi dalam mengolah produk atau pesanan.

BBB
BBB Selisih
Sesung-
Standar BBB
guhnya

Selisih Biaya Bahan Baku masih dianalisis lagi dalam analisis 2 (dua)
selisih, yaitu :
• Selisih Harga Bahan Baku
• Selisih Kuantitas Bahan Baku
Selisih Harga Bahan Baku
▪ Untuk menghitung selisih harga bahan baku
(materials price variance), dibandingkan antara
harga bahan baku yang sesungguhya dengan
harga bahan baku menurut standar.
▪ Selisih ini timbul karena perusahaan telah
membeli bahan baku lebih tinggi atau lebih
rendah dibanding dengan harga bahan baku
standar.
▪ Jumlah selisih harga bahan baku diperoleh
dengan cara mengalikan selisih harga bahan baku
per satuan dengan kuantitas sesungguhnya yang
dibeli.
Rumus Selisih Harga Bahan Baku :

SHB = (HS x KS) - (HSt x KS)


= (HS - HSt) KS
Keterangan :
▪ SHB = Selisih Harga Bahan Baku
▪ HS = Harga beli Sesungguhnya setiap satuan
▪ KS = Kuantitas Sesungguhnya yang dibeli
▪ HSt = Harga beli Standar setiap satuan

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Apabila HS > HSt, maka sifat selisih harga tidak menguntungkan
(Unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila HS < HSt, maka sifat selisih harga menguntungkan
(Favorable) atau laba.
Selisih Kuantitas Bahan Baku
▪ Selisih kuantitas bahan baku (material
quantity or usage variance) adalah selisih yang
timbul karena telah dipakai kuantitas bahan
baku yang lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan dengan kuantitas standar di
dalam pengolahan produk.
▪ Jumlah rupiah selisih kuantitas bahan baku
dapat dihitung sebesar selisih kuantitas bahan
baku dikalikan harga standar bahan baku per
buah.
Rumus Selisih Kuantitas Bahan Baku :

SHB = (KS x HSt) - (KSt x HSt)


= (KS - KSt) HSt
Keterangan :
▪ SKB = Selisih Kuantitas Bahan Baku
▪ KS = Kuantitas Sesungguhnya atas bahan baku yang dipakai
▪ KSt = Kuantitas Standar atas bahan baku yang dipakai
▪ HSt = Harga beli Standar bahan baku yang dipakai

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Apabila KS > KSt, maka sifat selisih kuantitas tidak menguntungkan
(Unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila KS < KSt, maka sifat selisih kuantitas
menguntungkan (Favorable) atau laba.
SELISIH BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
❑ Selisih biaya tenaga kerja langsung timbul karena perbedaan antara biaya
tenaga kerja langsung sesungguhnya terjadi dengan biaya tenaga kerja
langsung standar atau yang seharusnya terjadi dalam mengolah produk
atau pesanan.

BTKL Selisih
BTKL
Sesung- BTKL
Standar
guhnya

Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung masih dianalisis lagi dalam analisis 2
(dua) selisih, yaitu :
• Selisih Tarif Upah Langsung (STUL)
• Selisih Efisiensi Upah Langsung (SEUL)
Selisih Tarif Upah Langsung
▪ Selisih tarif upah langsung timbul karena perusahaan
telah membayar upah langsung dengan tarif lebih
tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan tarif
upah langsung standar.
▪ Jumlah total rupiah selisih tarip upah langsung dapat
dihitung sebesar selisih tarif upah langsung per jam
dikalikan jam kerja sesungguhnya.
▪ Apabila sistem upah dengan menggunakan dasar lain
maka selisih tarif upah langsung dapat dihitung sebesar
selisih tarif upah langsung per dasar pengupahan
dikalikan kapasitas sesungguhnya yang dipakai dasar
pengupahan.
Rumus Selisih Tarif Upah Langsung :

STUL = (TS x JS) - (TSt x JS)


= (TS - TSt) JS

Keterangan :
▪ STUL = Selisih Tarif Upah Langsung
▪ TS = Tarif Sesungguhnya dari Upah Langsung per jam
▪ TSt = Tarif Standar dari Upah Langsung per jam
▪ JS = Jam Sesungguhnya

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Apabila TS > TSt, maka selisih tarif upah langsung sifatnya tidak
menguntungkan (unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila TS < TSt, maka selisih tarif upah langsung sifatnya
menguntungkan (favorable) atau laba.
Selisih Efisiensi Upah Langsung
▪ Selisih efisiensi waktu upah langsung adalah
selisih yang timbul karena telah digunakan
waktu kerja yang lebih besar atau lebih kecil
dibanding waktu standar.
▪ Jumlah selisih efisiensi upah langsung dalam
rupiah dihitung dari selisih jam kerja langsung
sesungguhnya dengan jam kerja langsung
standar dikalikan tarif upah langsung standar.
Rumus Selisih Efisiensi Upah Langsung :

SEUL = (TSt x JS) - (TSt x JSt)


= TSt (JS - JSt)

Keterangan :
▪ SEUL = Selisih Efisiensi Upah Langsung
▪ TSt = Tarif Standar dari Upah Langsung per jam
▪ JS = Tarif Sesungguhnya
▪ JSt = Jam Standar

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Apabila JS > JSt, maka selisih efisiensi upah langsung sifatnya tidak
menguntungkan (unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila TS < TSt, maka selisih efisiensi upah langsung sifatnya
menguntungkan (favorable) atau laba.
SELISIH BIAYA OVERHEAD PABRIK
❑ Selisih biaya overhead pabrik timbul karena perbedaan antara biaya
overhead pabrik sesungguhnya terjadi dengan biaya overhead pabrik standar
atau yang seharusnya terjadi dalam mengolah produk atau pesanan.

BOP
BOP Selisih
Sesung-
Standar BOP
guhnya

Selisih Biaya Overhead Pabrik masih dianalisis lagi dalam metode :


• Analisis 2 (dua) selisih
• Analisis 3 (tiga) selisih
• Analisis 4 (empat) selisih
Analisis 2 (dua) selisih terdiri dari :
1. Selisih Terkendalikan
2. Selisih Volume
Analisis 3 (tiga) selisih terdiri dari :
1. Selisih Anggaran
2. Selisih Kapasitas
3. Selisih Efisiensi
Analisis 4 (empat) selisih terdiri dari :
1. Selisih Anggaran
2. Selisih Kapasitas
3. Selisih Efisiensi Variabel
4. Selisih Efisiensi Tetap
❑ Analisis 2 (dua) Selisih :
1. Selisih Terkendalikan
Selisih terkendalikan (controllable
variance) adalah selisih yang
diakibatkan oleh perbedaan antara BOP
yang sesungguhnya terjadi dengan BOP
yang dianggarkan pada jam atau
kapasitas standar (anggaran fleksibel
pada jam atau kapasitas standar).
Rumus Selisih Terkendalikan :
ST = BOPS - AFKSt
atau,
ST = BOPS - (BTA + (KSt x TV))
= BOPS - ((KN x TT) + (KSt x TV))
atau,
ST = (BOPS - (KN x TT)) - (KSt x TV)

Keterangan :
▪ ST = Selisih Terkendalikan
▪ BOPS = Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
▪ AFKSt = Anggaran fleksibel pada kapasitas atau jam standar
▪ BTA = Biaya Tetap di-Anggarkan
▪ TV = Tarip Variabel
▪ KN = Kapasitas Normal atau kapasitas lain yang dipakai dasar menghitung
tarif standar
▪ TT = Tarif Tetap
Sifat Selisih (Variance) :
❖ Apabila BOPS > AFKSt, maka sifat selisih terkendalikan tidak menguntungkan
(unfavorable) atau rugi.
❖ Apabila BOPS < AFKSt, maka sifat selisih terkendalikan menguntungkan (favorable) atau
laba.
2. Selisih Volume
Selisih volume (volume variance) adalah
selisih yang diakibatkan oleh perbedaan
antara anggaran fleksibel pada kapasitas
atau jam standar dengan BOP yang
dibebankan kepada produk melalui
rekening Barang Dalam Proses. BOP yang
dibebankan kepada produk yaitu sebesar
kapasitas atau jam standar dikalikan tarif
BOP per jam atau sebesar produksi
ekuivalen yang diolah dikalikan dengan
standar BOP per satuan produk.
Rumus Selisih Volume :
SV = AFKSt - (KSt x T)
= ((KN x TT) + (KSt x TV)) - ((KSt x TT) + (KSt x TV))
= (KN x TT) - (KSt x TT)
= (KN - KSt) TT

Keterangan :
▪ SV = Selisih Volume
▪ AFKSt = Anggaran fleksibel pada kapasitas atau jam standar
▪ KSt = Kapasitas atau jam standar
▪ T = Tarip standar BOP atau Tarip Total
▪ KN = Kapasitas Normal atau kapasitas lain yang dipakai dasar
menghitung tarif standar
▪ TT = Tarif Tetap
▪ TV = Tarif Variabel
Sifat Selisih (Variance) :
❖ Apabila KN > KSt, berarti kapasitas standar tidak dapat melampaui kapasitas normal yang
tersedia, sebagian volume produksi tidak dipakai, sifat tidak menguntungkan (unfavorable)
atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila KN < KSt, berarti kapasitas standar dapat melampaui kapasitas normal
yang tersedia, terjadi over volume produksi yang dipakai dengan baik, sifat menguntungkan
(favorable) atau laba.
❑ Analisis 3 (tiga) Selisih :
1. Selisih Anggaran
▪ Selisih anggaran sering disebut selisih budget atau
selisih dibelanjakan atau selisih spending (spending
variance).
▪ Selisih anggaran disebabkan oleh perbedaan antara
BOP yang sesungguhnya dibandingkan dengan BOP
yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya
(anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya).
▪ Selisih anggaran terutama disebabkan oleh elemen
BOP variabel, sebab BOP tetap umumnya tidak
berubah dari yang dianggarkan. Akan tetapi apabila
BOP tetap yang sesungguhnya berubah, misalnya
karena adanya perubahan tarip (harga) dari pajak,
asuransi atau karena kenaikan penyusutan karena
fasilitas pabrik yang dimiliki bertambah maka
akibatnya mempengaruhi pula selisih anggaran.
Rumus Selisih Anggaran :
SA = BOPS - AFKS
atau,
SA = BOPS - (BTA + (KS x TV))
= BOPS - ((KN x TT) + (KS x TV))
atau,
SA = (BOPS - (KN x TT)) - (KS x TV)

Keterangan :
▪ SA = Selisih Anggaran
▪ BOPS = Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
▪ AFKS = Anggaran Fleksibel pada Kapasitas Sesungguhnya
▪ BTA = Biaya Tetap di-Anggarkan
▪ KS = Kapasitas Sesungguhnya
▪ TV = Tarif Variabel
▪ KN = Kapasitas Normal
▪ TT = Tarif Tetap
Sifat Selisih (Variance) :
❖ Apabila BOPS > AFKS, berarti biaya sesungguhnya lebih besar dibanding biaya dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya,
dan sifat selisih anggaran tidak menguntungkan (unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila BOPS < AFKSt, berarti biaya sesungguhnya lebih kecil dibanding biaya dianggarkan pada kapasitas
sesungguhnya, dan sifat selisih anggaran menguntungkan (favorable) atau laba.
2. Selisih Kapasitas
▪ Selisih kapasitas (capacity variance) berhubungan
dengan elemen BOP tetap yang disebabkan
kapasitas sesungguhnya lebih besar atau lebih kecil
dibanding kapasitas yang dipakai untuk menghitung
tarif (biasanya kapasitas normal).
▪ Penyebab timbulnya selisih kapasitas umumnya
berasal dari luar perusahaan (eksternal) yang
umumnya tidak dapat dikendalikan oleh kepala
departemen atau kepala seksi di mana timbul
selisih, maka selisih kapasitas adalah tanggung-
jawab dari manajemen atas (top management).
Rumus Selisih Kapasitas :
SK = AFKS - BOPB
atau,
SK = ((KN x TT) + (KS x TV)) - (KS x T)
= ((KN x TT) + (KS x TV)) - ((KS x TT) + (KS x TV))
= (KN x TT) - (KS x TT)
= (KN - KS) TT

Keterangan :
▪ SK = Selisih Kapasitas
▪ BOPB = Biaya Overhead Pabrik di-Bebankan
▪ AFKS = Anggaran Fleksibel pada Kapasitas Sesungguhnya
▪ KN = Kapasitas Normal
▪ KS = Kapasitas Sesungguhnya
▪ T = Tarif Total BOP
▪ TT = Tarif Tetap
▪ TV = Tarif Variabel

Sifat Selisih (Varaiance) :


❖ Apabila AFKS > BOPB atau KN > KS, berarti sebagian kapasitas normal yang tersedia tidak dipakai atau menganggur
sehingga sifat selisih kapasitas tidak menguntungkan (unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila AFKS > BOPB atau KN < KS, berarti kapasitas normal yang tersedia dapat dipakai lebih baik atau
dapat dilampaui (terjadi over capacity) sehingga sifat selisih kapasitas menguntungkan (favorable) atau laba.
3. Selisih Efisiensi
▪ Selisih efisiensi (efficiency variance) adalah
perbedaan antara kapasitas standar dengan
kapasitas sesungguhnya yang dipakai untuk
mengolah produk dikalikan tarif total BOP.
▪ Penyebab selisih efisiensi adalah elemen BOP
tetap dan elemen BOP variabel yang
menunjukkan perusahaan telah dapat bekerja
dengan efisien atau bekerja dengan tidak
efisien.
Rumus Selisih Efisiensi :
SE = BOPB - BOPSt
atau,
SE = (KS x T) + (KSt x T)
= (KS - KSt) T

Keterangan :
▪ SE = Selisih Efisiensi
▪ BOPB = Biaya Overhead Pabrik di-Bebankan
▪ BOPSt = Biaya Overhead Pabrik Standar untuk pengolahan produk
▪ KS = Kapasitas Sesungguhnya
▪ KSt = Kapasitas Standar
▪ T = Tarif Total BOP

Sifat Selisih (Variance) :


❖ Apabila BOPB > BOPSt atau KS > KSt, maka selisih efisiensi tidak
menguntungkan (unfavorable) atau rugi.
❖ Sebaliknya, apabila BOPB < BOPSt atau KS < KSt, maka selisih efisiensi
menguntungkan (favorable) atau laba.
❑ Analisis 4 (empat) Selisih :
Metode analisa 4 (empat) selisih adalah
perluasan dari metode analisa 3 (tiga) selisih,
di mana selisih efisiensi BOP dipisahkan ke
dalam selisih efisiensi tetap dan efisiensi
variabel. Maka pada metode analisa 4 (empat)
selisih, selisih BOP terdiri dari :
1. Selisih Anggaran
2. Selisih Kapasitas
3. Selisih Efisiensi Variabel
4. Selisih Efisiensi Tetap
❑ Perhitungan Selisih Anggaran dan Selisih Kapasitas sama seperti pada
rumusan analisa 3 (tiga) selisih, sedangkan rumus Selisih Efisiensi Variabel
dan Selisih Efisiensi Tetap adalah sebagai berikut :
SE = (KS x T) + (KSt x T)
= ((KS x TV) + (KS x TT)) - (KSt x TV) + (KSt x TT)
dipisahkan menjadi :
SEV = (KS x TV) + (KSt x TV)
= (KS - KSt) TV
dan,
SET = (KS x TT) + (KSt x TT)
= (KS - KSt) TT

Keterangan : Sifat Selisih (Variance) :


▪ SE = Selisih Efisiensi ❖ Apabila KS > KSt, selisih efisiensi
▪ SEV = Selisih Efisiensi Variabel tetap maupun selisih efisiensi variabel
▪ SET = Selisih Efisiensi Tetap
tidak menguntungkan (unfavorable)
▪ T = Tarif Total BOP
▪ TV = Tarif Variabel atau rugi.
▪ TT = Tarif Tetap ❖ Sebaliknya, apabila KS < KSt, selisih
▪ KS = Kapasitas Sesungguhnya efisiensi tetap maupun selisih efisiensi
▪ KSt = Kapasitas Standar variabel menguntungkan (favorable)
atau laba.
PENGGUNAAN METODE HARGA POKOK STANDAR DALAM
PENENTUAN BIAYA

Soal :
PT. Adhi Utami menggunakan sistem harga pokok standar. Perusahaan ini
menghasilkan satu macam produk yang diolah melalui satu tahap pengolahan. Biaya
standar pada Januari 2003 yang didasarkan atas kapasitas normal kegiatan pabrik
sebesar 10.000 jam kerja langsung satu bulan atau sebesar 20.000 buah produk,
adalah sebagai berikut :
PT Adhi Utami
Harga Pokok Standar 1 Buah Produk
Januari 2003

Elemen Biaya Jumlah


Bahan baku Bahan Baku = 4 kg, @Rp 5 = Rp 20
Tenaga Kerja Langsung = 0,50 jam @Rp 80 = Rp 40
Overhead Pabrik :
Tetap = 0,50 jam @Rp 10 = Rp 5
Variabel = 0,50 jam @Rp 30 = Rp 15
= Rp 20
Jumlah Harga Pokok Standar = Rp 80
Data produksi dan biaya sesungguhnya dalam bulan 2003 adalah sebagai berikut :
▪ Produk dalam proses per 1 Januari 2003 sebanyak 2.000 buah, tingkat
penyelesaian 100 % biaya bahan baku dan 60% biaya konversi. Produk selesai
dalam bulan Januari 19.000 buah. Produk dalam proses per 31 Januari 2003
sebanyak 2.500 buah dengan tingkat penyelesaian 100 % biaya bahan dan 60 %
biaya konversi.
▪ Pembelian bahan baku sebanyak 100.000 kg dengan harga Rp 5,10. Bahan baku
yang dipakai sebanyak 77.000 kg.
▪ Biaya tenaga kerja langsung besarnya 10.200 jam dengan total upah Rp 795.600.
▪ BOP yang sesungguhnya terjadi = Rp 405.000.
▪ Produk selesai yang dapat dijual dalam bulan Januari 2003 sebanyak 18.000 buah
dengan harga Rp 200.
▪ Biaya pemasaran untuk bulan Januari = Rp 375.000 dan biaya administrasi &
umum = Rp 425.000.
Dari data tsb, diminta :
1. Menghitung selisih biaya untuk :
a. Biaya bahan baku
b. Biaya tenaga kerja langsung
c. Biaya overhead pabrik
2. Menyusun Laporan Laba/Rugi bulan Januari 2003
Penyelesaian :
1. Menghitung Selisih Biaya Bahan Baku (BBB) :
Selisih BBB = BBBSt - BBBS
= (HSt x KSt) - (HS x KS)
= (Rp 5 x 78.000*) - (Rp 5,10 x 77.000)
= Rp 390.000 - Rp 392.700
= Rp 2.700 (UF)
Selisih BBB (Rp 2.700 (UF)) dianalisis lagi ke dalam :
(i) Selisih Harga Bahan Baku dipakai :
SHB = (HS x KS) - (HSt x KS)
= (HS - HSt) KS
= (Rp 5,10 - Rp 5,00) 77.000
= Rp 7.700 (UF)

(ii) Selisih Kuantitas Bahan Baku dipakai :


SKB = (KS x HSt) - (KSt x HSt)
= (KS - KSt) HSt
= (77.000 - 78.000*) Rp 5,00
= Rp 5.000 (F)
❑ 78.000* (Kuantitas Standar) diperoleh dari :
• Perhitungan produk ekuivalen produk yang
diolah = ((2.000 x 0%) + (19.000 – 2.000) + (2.500
x 100 %) = 19.500 buah
• Kuantitas Standar dipakai = 19.500 x 4 kg
= 78.000 kg
2. Menghitung Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL) :
Selisih BTKL = BTKLSt - BTKLS
= (TSt x JSt) - (TS x JS)
= (Rp 80 x 9.650*) - (Rp 78* x 10.200)
= Rp 772.000 - Rp 795.600
= Rp 23.600 (UF)
Selisih BTKL (Rp 3.600 (UF)) dianalisis lagi ke dalam :
(i) Selisih Tarif Upah Langsung (STUL) :
STUL = (TS x JS) - (TSt x JS)
= (TS - TSt) JS
= (Rp 78* - Rp 80) 10.200
= Rp 20.400 (F)

(ii) Selisih Efisiensi Upah Langsung (SEUL) :


SEUL = (TSt x JS) - (TSt x JSt)
= TSt (JS - JSt)
= Rp 80 (10.200 - 9.650*)
= Rp 44.000 (UF)
❑ 78* (Tarif Sesungguhnya) diperoleh dari :
Rp 795.600 : 10.200 = Rp 78

❑ 9.650* (Jam Standar) diperoleh dari :


▪ Perhitungan produk ekuivalen produk yang diolah =
((2.000 x 40%) + (19.000 - 2.000) + (2.500 x 60 %) =
19.300 buah
▪ Jam Standar = 19.300 x 0,5 jam
= 9.650 jam
3. Menghitung Selisih Biaya Overhead Pabrik (BOP) :
Selisih BOP = BOPSt – BOPS
= (JSt x TSt) - BOPS
= (9.650* x 40) - Rp 405.000
= Rp 386.000 - Rp 405.000
= Rp 19.000 (UF)

❑ 9.650* (Jam Standar) diperoleh dari :


▪ Perhitungan produk ekuivalen produk yang diolah =
((2.000 x 40%) + (19.000 - 2.000) + (2.500 x 60 %) =
19.300 buah
▪ Jam Standar = 19.300 x 0,5 jam
= 9.650 jam
❑ Selisih BOP (Rp 19.000 (UF)) dianalisis lagi ke dalam :
(i) Analisis 2 (Dua) Selisih yang terdiri dari :
- Selisih Terkendalikan
- Selisih Volume
(ii) Analisis 3 (Tiga) Selisih yang terdiri dari :
- Selisih Anggaran
- Selisih Kapasitas
- Selisih Efisiensi
(iii) Analisis 4 (Empat) Selisih yang terdiri dari :
- Selisih Anggaran
- Selisih Kapasitas
- Selisih Efisiensi Variabel
- Selisih Efisiensi Tetap
(i) Analisis 2 (Dua) Selisih yang terdiri dari :

a. Selisih Terkendalikan :
ST = BOPS - AFKSt
= (BOPS - (KN x TT)) - (KSt x TV)
= (Rp 405.000 - (10.000 x 10)) - (9.650 x 30)
= Rp 405.000 - Rp 100.000 - Rp 289.500
= Rp 15.500 (UF)

b. Selisih Volume :
SV = AFKSt - (KSt x T)
= ((KN x TT) + (KSt x TV)) - ((KSt x TT) + (KSt x TV))
= (KN x TT) - (KSt x TT)
= (KN - KSt) TT
= (10.000 - 9.650) 10
= Rp 3.500 (UF)
(iii) Analisis 3 (Tiga) Selisih yang terdiri dari :

a. Selisih Anggaran :
SA = BOPS – AFKS
= BOPS - (BTA + (KS x TV))
= BOPS - ((KN x TT) + (KS x TV))
= (BOPS - (KN x TT)) - (KS x TV)
= (Rp 405.000 - (10.000 x 10)) - (10.200 x 30)
= Rp 405.000 - Rp 100.000 - Rp 306.000
= Rp 1.000 (F)

b. Selisih Kapasitas :
SK = AFKS – BOPB
= ((KN x TT) + (KS x TV)) - (KS x T)
= ((KN x TT) + (KS x TV)) - ((KS x TT) + (KS x TV))
= (KN x TT) - (KS x TT)
= (KN - KS) TT
= (10.000 - 10.200) 10
= Rp 2.000 (F)
c. Selisih Efisiensi :
SE = BOPB - BOPSt
= (KS x T) + (KSt x T)
= (KS - KSt) T
= (10.200 - 9.650*) 40
= Rp 22.000 (UF)

❑ 9.650* (Jam Standar) diperoleh dari :


▪ Perhitungan produk ekuivalen produk yang diolah =
((2.000 x 40%) + (19.000 - 2.000) + (2.500 x 60 %) =
19.300 buah
▪ Jam Standar = 19.300 x 0,5 jam
= 9.650 jam
(iv) Analisis 4 (Empat) Selisih yang terdiri dari :
a. Selisih Anggaran = Rp 1.000 (F)
b. Selisih Kapasitas = Rp 2.000 (F)
c. Selisih Efisiensi Variabel :
SEV = (KS - KSt) TV
= (10.200 - 9.650) 30 = Rp 16.500 (UF)
d. Selisih Efisiensi Variabel :
SET = (KS - KSt) TV
= (10.200 – 9.650) 10 = Rp 5.500 (UF)
PT Adhi Utami
Harga Pokok Standar 1 Buah Produk
Januari 2003

Penjualan (18.000 x Rp 200) Rp 3.600.000


HPP Standar (18.000 x Rp 80) Rp 1.440.000 (+)
Laba Kotor Rp 2.160.000

Selisih Biaya :
Selisih Harga Bahan Baku dipakai Rp 7.700 (UF)
Selisih Kuantitas Bahan Baku Rp 5.000 (F)
Selisih Tarif Upah Langsung Rp 20.400 (F)
Selisih Efisiensi Upah Langsung Rp 44.000 (UF)
Selisih Anggaran Rp 1.000 (F)
Selisih Kapasitas Rp 2.000 (F)
Selisih Efisiensi Variabel Rp 16.500 (UF)
Selisih Efisiensi Tetap Rp 5.500 (UF)
Jumlah Selisih Rp 45.300 (-)
Laba Kotor setelah diperhitungkan selisih Rp 2.114.700

Biaya Komersial :
Biaya Pemasaran Rp 375.000
Biaya Adm & Umum Rp 425.000 (+)
Jumlah Biaya Komersil Rp 800.000 (-)
Laba Bersih Rp 1.314.700