Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku
seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain yang nyata, dibayangkan, atau tersirat.
Konsep diri adalah salah satu yang telah dipelajari banyak psikolog selama bertahun-
tahun. Konsep diri adalah salah satu keyakinan intrapersonal yang dimiliki seseorang
tentang kemampuan dan karakteristiknya sendiri, termasuk diri ideal, kemampuan, dan
karakteristik yang dicita-citakan individu. Tetapi peneliti sekarang melihat diri
interpersonal, cara di mana mitra dekat individu dapat membantu atau menghalangi orang
itu dalam mengejar tujuan diri (Rusbult et al., 2009a, 2009b, 2009c).
Dalam fenomena Michelangelo (pematung terkenal Michelangelo Buonarroti merasa
bahwa pematung hanya melepaskan sosok ideal dari sebongkah batu), teman dekat
seseorang, kerabat, mitra romantis, atau kolega membantu individu itu "melepaskan" diri
ideal yang ada di dalam diri oleh beradaptasi dengan sifat-sifat dasar dan keterampilan
orang itu, memberikan peluang untuk peningkatan, dan memengaruhi perkembangan
kepribadian orang tersebut lebih lanjut dari aspek-aspek ideal tersebut (Rusbult et al.,
2009a).
Misalnya, jika Latashia ingin menjadi tidak terlalu pemalu dan lebih terbuka,
pacarnya Antoine mungkin mendorong aspek diri idamannya untuk berkembang dengan
memberi dia kesempatan untuk memberi tahu teman-teman mereka sebuah kisah lucu
yang dia ceritakan kepadanya. Antoine dalam arti "mengarahkan" pengembangan
Latashia. Seiring waktu, perilaku Latashia dalam situasi khusus ini akan menjadi
komponen yang stabil dari perasaan dirinya. Efek yang signifikan dari orang lain atau
orang lain pada konsep diri seseorang sangat efektif ketika melibatkan afirmasi -
dukungan positif dari tujuan seseorang untuk diri yang ideal (Drigotas et al., 1999;
Kumashiro et al., 2009). (Tentu saja, jika "mengarahkan" Antoine mengambil bentuk
negatif kritik atau meremehkan, perasaan diri Latashia pasti akan menderita.)
Maka, dalam arti yang sangat nyata, kita melihat ke dalam "cermin" mata mitra kita
dan melihat diri kita sendiri ketika mereka melihat kita. Ini hanyalah salah satu contoh
pengaruh yang orang lain dapat miliki terhadap individu, satu bidang studi di bidang
psikologi sosial yang luas.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan psikologi sosial?


2. Apa yang dimaksud dengan pengarh sosial ?
3. Apa yang dimaksud dengan kognitif sosial ?
4. Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial ?
5. Apa yang dimaksud dengan ketertarikkan personal ?
6. Apa yang dimaksud dengan Agresi dan Perilaku Prososial ?

1.3 Tujuan Makalah


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan psikologi sosial
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengarh sosial
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kognitif sosial
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan interaksi sosial
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ketertarikkan personal
6. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Agresi dan Perilaku Prososial

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Social Influence

Kita masing-masing hidup di dunia yang penuh dengan orang lain. Seorang bayi
dilahirkan ke dunia dengan orang dewasa yang berdampak pada tindakan, kepribadian, dan
pertumbuhan bayi. Orang dewasa harus berinteraksi dengan orang lain setiap hari. Interaksi
semacam itu memberikan banyak peluang untuk kehadiran orang lain untuk secara langsung
atau tidak langsung mempengaruhi perilaku tersebut, perasaan, dan pemikiran masing-masing
individu dalam proses yang disebut pengaruh sosial. Ada banyak bentuk pengaruh sosial.
Orang dapat memengaruhi orang lain untuk mengikuti mereka tindakan atau pikiran sendiri,
untuk menyetujui melakukan hal-hal bahkan ketika orang itu mungkin lebih suka lakukan
sebaliknya, dan patuh pada otoritas. Kehadiran orang lain belaka bahkan bisa mempengaruhi
cara orang melakukan tugas dengan sukses atau tidak berhasil.

1. Conformity
Conformity adalah mengubah perilaku seseorang untuk mencocokkan dengan
orang lain. Apakah Anda pernah melihat seseorang menatap sesuatu? Apakah
dorongan untuk melihat ke atas untuk melihat apa yang dilihat orang itu karena itu
sebenarnya karena Anda benar-benar menemukan diri Anda sendiri? Lelucon praktis
yang umum ini selalu berhasil, bahkan ketika orang mencurigai bahwa Jelas
menunjukkan kekuatan konformitas: mengubah perilaku sendiri untuk lebih
mencocokkan tindakan orang lain.
Di bawah kondisi ini, seorang psikolog Muzafer Sherifa melakukan di mana
para peserta ditunjukkan ke dalam ruangan yang gelap dan terkena satu titik cahaya.
Ketika konfederasi (seseorang dipilih oleh pelaku eksperimen untuk secara sengaja
memanipulasi situasi) juga memperkirakan, bagian asli dari subjek Eksperimen awal
tentang konform ini telah dikritik karena penilaiannya dibuat ambigu (yaitu, cahaya
tidak benar-benar bergerak sehingga penilai mana pun Kedengarannya bagus).
Apakah para peserta akan mudah goyah jika penilaiannya lebih spesifik dan terukur?
a. Asch’s classic study on conformity
b. The hazards of groupthink

3
2. Compliance
Compliance adalah mengubah perilaku seseorang sebagai akibat dari orang
lain mengarahkan atau meminta perubahan.
“Saya punya teman yang menonton semua infomersial di saluran belanja dan
membeli barang itu tidak sepadan dengan uangnya atau tidak berfungsi seperti
seharusnya. Mengapa orang-orang jatuh cinta dengan nada seperti itu?”
Pemasaran produk benar-benar sangat banyak proses psikologis. Padahal,
keseluruhan bidang psikologi konsumen dikhususkan untuk mencari tahu bagaimana
membuat orang membeli hal-hal yang dijual seseorang. Tetapi infomersial bukan
satu-satunya sarana yang digunakan orang untuk membuat orang lain melakukan apa
mereka ingin mereka melakukannya. Kepatuhan terjadi ketika orang mengubah
perilaku mereka sebagai akibat dari orang atau kelompok lain yang meminta atau
mengarahkan mereka untuk berubah. Orang atau kelompok yang meminta perubahan
perilaku biasanya tidak memiliki otoritas atau kekuatan nyata untuk memerintahkan
perubahan; ketika otoritas itu memang ada dan perilaku diubah sebagai hasilnya, itu
disebut kepatuhan, yang merupakan topik dari bagian utama berikutnya dari bab ini.
Sejumlah teknik yang digunakan orang untuk mendapatkan kepatuhan orang
lain dengan jelas menunjukkan hubungan kepatuhan dengan dunia pemasaran, karena
mereka merujuk pada teknik yang biasa digunakan oleh penjual dari pintu ke pintu.
a. Foot-in-the-door technique
 meminta komitmen kecil dan, setelah mendapatkan kepatuhan,
meminta komitmen yang lebih besar.
b. Door-in-the-face technique
 meminta komitmen besar dan ditolak, lalu meminta komitmen yang
lebih kecil.
c. Lowball technique
 mendapatkan komitmen dari seseorang dan kemudian menaikkan biaya
komitmen itu.
d. That’s-not-all technique
 suatu teknik penjualan di mana pembujuk membuat penawaran dan
kemudian menambahkan sesuatu ekstra untuk membuat penawaran itu
terlihat lebih baik sebelum orang yang dituju dapat membuat
keputusan.

4
3. Obedience
Obedience adalah mengubah perilaku seseorang atas perintah figur otoritas.
Ada perbedaan antara konsep kepatuhan, yang setuju untuk mengubah perilaku
seseorang karena orang lain meminta perubahan, dan kepatuhan, yang mengubah
perilaku seseorang atas perintah langsung dari figur otoritas. Seorang tenaga
penjualan yang menginginkan seseorang untuk membeli mobil tidak memiliki
kekuatan nyata untuk memaksa orang itu untuk membeli, tetapi seorang tokoh otoritas
adalah orang dengan kekuatan sosial seperti seorang polisi, guru, atau pengawas
pekerjaan - yang memiliki hak untuk menuntut perilaku tertentu dari orang-orang di
bawah komando atau pengawasan tokoh otoritas.
Seberapa jauh orang akan mematuhi perintah dari figur otoritas? Faktor-faktor
apa yang membuat kepatuhan lebih atau kurang mungkin? Ini adalah beberapa
pertanyaan yang peneliti telah selidiki selama bertahun-tahun. Jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sangat penting tidak hanya bagi para peneliti tetapi
juga bagi orang-orang di mana saja setelah kekejaman yang dilakukan oleh tentara di
tentara Jerman Nazi yang “hanya mengikuti perintah.
a. Milgram’s shocking research
 Dalam studi klasik Stanley Milgram tentang kepatuhan, para peserta
disajikan dengan panel kontrol seperti ini. Setiap peserta (“guru”)
diinstruksikan untuk memberikan kejutan listrik kepada orang lain
(“pelajar,” yang hanya berpura-pura terkejut). Menurut Anda pada titik
mana Anda akan menolak untuk melanjutkan percobaan?
b. Evaluation of milgram’s research
 Para peneliti telah mencari sifat-sifat kepribadian tertentu yang
mungkin terkait dengan tingkat kepatuhan yang tinggi tetapi belum
menemukan satu sifat atau kelompok sifat yang secara konsisten
memprediksi siapa yang akan patuh dan siapa yang tidak akan dalam
eksperimen yang mirip dengan studi asli Milgram

4. Group Behavior
Pengaruh sosial terlihat jelas dalam perilaku orang-orang dalam suatu
kelompok, seperti yang digambarkan oleh studi klasik Asch dan diskusi tentang
kelompok itu. Tetapi konformitas dan pemikiran kelompok hanyalah dua cara di mana
suatu kelompok dapat memengaruhi perilaku individu. Berikut ini beberapa lainnya.
5
a. Group polarization
 kecenderungan anggota yang terlibat dalam diskusi kelompok untuk
mengambil posisi yang agak lebih ekstrem dan menyarankan tindakan
berisiko bila dibandingkan dengan individu yang belum berpartisipasi
dalam diskusi kelompok.
b. Social facilitation and social loafing
 kecenderungan untuk Kehadiran orang lain harus positif berdampak
pada kinerja yang mudah tugas.
c. social impairment
 kecenderungan untuk Kehadiran orang lain memiliki yang negatif
berdampak pada kinerja yang sulit tugas.
d. social loafing
 kecenderungan orang untuk menempatkan sedikit usaha ke dalam
tugas sederhana ketika bekerja dengan orang lain pada tugas itu.

B. Social Cognition

Kognisi sosial fokus pada cara orang berpikir terhadap orang lain dan bagaimana
kognisi tersebut mempengaruhi perilaku orang terhadap orang lain tersebut.

I. Attitude
Attitude dapat diartikan sebagai kecenderungan respon positif atau negatif terhadap
sebuah ide, orang, objek atau situasi. Kecenderungan ini,yang berkembang melalui
pengalaman dan kehidupan dengan orang lain, dapat mempengaruhi cara mereka berperilaku
terhadap ide, orang, objek dan situasi dan termasuk opini, kepercayaan dan kecenderungan.
Hal ni terjadi sebelum ide, orang atau situasi tesebut belum meng-ekspos mereka.
Attitude bukanlah sesuatu yang dimiliki seseorang ketika mereka lahir, tetapi
dipelajari melalui pengalaman dan kontak dengan yang lainnya. Karena attitude melibatkan
evaluasi positif dan negatif terhadap sesuatu, hal ini memungkinkan untuk berada dalam
sesuatu yang lain dan membuat penilaian suka atau tidak suka dan semacamnya.
Ada 3 komponon dari attitudes :
1. Affective component ; melibatkan bagaimana seseorang merasa terhadap objek, orang
atau situasi.
2. Behavior component ; aksi yang dilakukan seseorang terhadap orang, objek atau situasi

6
3. Cognitive component ; cara seseorang berfikir mengenai dirinya, objek atau situasi.
a.) Pembentukan Attitude
Pembentukan attitude adalah hasil dari berbagai macam pengaruh yang memiliki satu
persamaan, yaitu semuanya adalah bentuk dari pembelajaran.
1. Kontak langsung ; kontak langsung dengan orang, ide, situasi atau objek yang merupakan
fokus dari attitude.
2. Instruksi langsung : seperti instruksi dari orang tua atau guru.
3. Interaksi dengan yang lainnya : attitude terbentuk karena orang tersebut bersama dengan
orang yang memiliki attitude tersebut.
4. Vicarious conditioning : attitude dipelajari melalui observasi dari aksi dan reaksi orang
lain terhadap berbagai objek, orang dan situasi. Contohnya adalah anak yang melihat anak
lain takut kepada anjing dapat mengebangkan rasa takut kepada anjing juga.
b.) Perubahan Attitude
Attitude diperoleh dengan belajar dan dapat berubah dengan mempelajari hal yang baru.
Salah satu cara mengubah attitude adalah melalui persuasi. Persuasi adalah proses dimana
seseorang mencoba mengubah kepercayaan, opini, posisi dan aksi terhadap orang lain
melalui argumen, pembelaan dan penjelasan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persuasi yaitu ;

1. Sumber ; adalah seorang komunikator. Komunikator adalah orang yang


menyampaikan pesan. Sebuah pesan dapat diterima dengan baik jika komunikator
adalah seorang ahli atau atraktif dan mirip dengan orang yang menerima pesan.
2. Pesan ; pesan yang sesungguhnya harus jelas dan terorganisir. Salah satu contohnya
adalah jika pendengar merupakan orang yang belum berkomitmen terhadap salah satu
sisi argumen maka akan lebih efektif jika pesan dipaparkan dengan menjabarkan
kedua sisi argumen tersebut.
3. Target pendengar ; karakteristik dari target orang yang akan menerima persuasi juga
menentukan kefektifitasan pesan tersebut. salah satunya adalah usia dari pendengar
atau penonton.

Seberapa mudah mempengaruhi seseorang juga berhubungan dengan kecenderungan


seseorang dalam memproses informasi. Dalam elaboration likelihood model dari persuasi
mengasumsikan bahwa orang mengelaborasi (tambahkan detail dan informasi) berdasarkan
pada apa yang mereka dengar (fakta dari pesan) atau mereka tidak mengelaborasikannya

7
sama sekali, lebih memilih untuk memperhatikan karakteristik dari permukaan pesan
(panjangnya, siapa yang mengirimkannya, betapa menariknya pengirim pesan, dll.)

Dua jenis pemrosesan dihipotesiskan dalam model ini: central route processing, di mana
orang memperhatikan isi pesan; dan peripheral-route processing, gaya pemrosesan informasi
yang bergantung pada isyarat periferal (isyarat di luar konten pesan itu sendiri), seperti
keahlian sumber pesan, panjang pesan, dan faktor-faktor lain yang tidak ada hubungannya
dengan konten pesan. Gaya pemrosesan ini menyebabkan orang bukan untuk memperhatikan
pesan itu sendiri melainkan untuk mendasarkan keputusan mereka kepada faktor periferal
tersebut.
c.) Disonansi Kognitif
Disonansi kognitif terjadi saat merasakan ketidaknyamanan ketika seseorang melakukan
atau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ide tentang dirinya. Contohnya adalah
ketika dia mengidekan dirinya sebagai orang yang pintar, baik atau bermoral tetapi
mengatakan sesuatu yang membuatnya terlihat bodoh maka akan terjadi ketidakonsistenan
dari kognisi.
Ketika seseorang mengalami disonansi kognitif, ketegangan dan rangsangan yang
dihasilkan tidak menyenangkan, dan motivasi mereka adalah mengubah sesuatu sehingga
perasaan tidak menyenangkan dan ketegangan dapat berkurang atau dihilangkan. Ada tiga hal
mendasar yang dilakukan orang dapat lakukan untuk mengurangi disonansi kognitif:
1. Mengubah perilaku mereka yang saling bertentangan agar sesuai dengan sikap mereka.
2. Mengubah kognisi mereka yang bertentangan saat ini untuk membenarkan perilaku
mereka.
3. Membentuk kognisi baru untuk membenarkan perilaku mereka.

II. Impression Formation


Kesempatan pertama adalah hal yang sangat penting dalam impression formation,
pembentukan pengetahuan pertama seseorang tentang orang lain. Impression formation
termasuk penetapan orang lain ke sejumlah kategori dan menarik kesimpulan tentang apa
yang orang itu mungkin dilakukan — ini semua tentang prediksi. Dalam arti, saat pertama
kali bertemu yang lain orang, pengamat melewati proses pembentukan konsep.
Ada efek utama dalam Impression Formation: Pertama kali orang bertemu seseorang,
mereka membentuk kesan tentang orang itu yang bertahan meskipun mereka mungkin nanti
memiliki informasi kontradiktif lainnya tentang orang tersebut.

8
1. Social Categorization
Salah satu proses yang terjadi ketika orang bertemu orang baru adalah memasukan orang
tersebut ke beberapa jenis kategori atau grup. Tugas ini biasanya didasarkan pada
karakteristik orang baru memiliki kesamaan dengan orang lain atau kelompok yang telah
memiliki pengalaman sebelumnya. Social categorizarion ini sebagian besar otomatis dan
terjadi tanpa kesadaran dari proses tersebut. Meskipun hal ini merupakan proses alami,
kadang-kadang hal ini dapat menimbulkan masalah.
Salah satu bagian dari social categorization adalah stereotype. Stereotype adalah
kumpulan karakteristik yang dipercaya seseorang dan di bagikan oleh seluruh anggota dari
kategori sosial tertentu. Stereotype sangat terbatas, menyebabkan seseorang untuk salah
dalam menilai dan memperlakukan mereka berbeda sebagai hasilnya.
2. Implicit Personality Theories
Teori yang merupakan kumpulan asumsi yang orang miliki tentang bagaimana orang dengan
tipe, sifat kepribadian, dan aksi yang berbeda berhubungan dan terbentuk pada masa
childhood. Contohnya, banyak orang memiliki Implicit Personality Theories yang melibatkan
ide bahwa orang yang bahagia juga orang yang ramah dan orang yang pendiam pemalu.
Meskipun asumsi atau kepercayaan ini tidak selalu benar, mereka melayani fungsi membantu
mengatur skema, atau pola mental yang mewakili (dalam hal ini) apa yang diyakini seseorang
tentang "tipe" orang tertentu.

III. Atribution
Aspek lain dari kognisi sosial adalah kebutuhan seseorang dalam menjelaskan perilaku
orang lain. Tampaknya sudah menjadi sifat manusia untuk ingin tahu mengapa orang
melakukan hal-hal yang mereka lakukan lakukan agar kita tahu bagaimana bersikap terhadap
mereka dan kepada siapa kita mungkin ingin menggunakannya panutan. Jika tidak ada
jawaban yang jelas tersedia, orang cenderung datang dengan jawaban mereka sendiri alasan.
Orang juga membutuhkan penjelasan untuk perilaku mereka sendiri. Kebutuhan ini sangat
besar bahwa jika suatu penjelasan tidak jelas, itu menyebabkan kesulitan yang dikenal
sebagai disonansi kognitif. Proses menjelaskan perilaku seseorang sendiri dan perilaku orang
lain orang disebut atribusi.
Teori atribusi pada awalnya dikembangkan oleh psikolog sosial Fritz Heider (1958)
sebagai cara untuk tidak hanya menjelaskan mengapa sesuatu terjadi tetapi juga mengapa
orang memilih penjelasan khusus tentang perilaku yang mereka lakukan. Pada dasarnya ada
dua jenis penjelasan — yang melibatkan sebab eksternal dan internal.

9
Ketika penyebab perilaku diasumsikan berasal dari sumber eksternal, seperti cuaca, lalu
lintas, peluang pendidikan, dan sebagainya, ini disebut situasional cause. Perilaku yang
diamati diasumsikan disebabkan oleh situasi apa pun yang ada orang pada waktu itu.
Misalnya, jika John terlambat, keterlambatannya mungkin dijelaskan oleh lalu lintas yang
padat atau masalah mobil.
Di sisi lain, jika penyebab perilaku diasumsikan berasal dari dalam individu, itu disebut
dispositional cause. Dalam hal ini, karakteristik kepribadian internal yang dilihat sebagai
penyebab perilaku. Seseorang menghubungkan perilaku John dengan disposisional cause,
misalnya, asumsi bahwa John terlambat karena kepribadiannya tidak peduli pada dirinya.
Bias atribusi yang paling dikenal adalah kesalahan fundamental attribution error, yaitu
kecenderungan orang untuk melebih-lebihkan pengaruh karakteristik internal orang lain pada
perilaku dan meremehkan pengaruh situasi (sedangkan dalam menjelaskan kita sendiri
perilaku, kecenderungan untuk menggunakan atribusi situasional alih-alih pribadi disebut
aktorobserver bias). Dengan kata lain, orang cenderung menjelaskan tindakan orang lain
berdasarkan "Jenis" apa orang yang mereka cari daripada sebab luar, seperti pengaruh sosial
atau situasi.

C. Interaksi Sosial

Hal penting setelah pengaruh sosial dan kesadaran sosial adalah interaksi sosial.
Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan orang lain baik
secara biasa saja maupun akrab. Interaksi sosial mencakup Prejudice and discrimination,
liking and loving, dan aggression and prosocial behavior.

1. Prejudice and Discrimination

Prejudice atau prasangka merupakan sikap negatif yang dimiliki seseorang


terhadap individu dalam kelompok sosial tertentu. Yaitu ketika seseorang tidak
mendukung dan sering bersikap stereotip (anggapan atau persepsi secara subjektif
dan tidak tepat) terhadap kelompok sosial tertentu. Dan Discrimination atau
diskriminasi merupakan perlakuan yang berbeda yang disebabkan oleh prasangka,
terhadap kelompok sosial tempat mereka berada.

Jadi, prasangka merupakan sebuah sikap, dan diskriminasi adalah perilaku yang
disebabkan karena prasangka tersebut. Diskriminasi dapat dikendalikan dan bahkan
dihilangkan, misal dengan membuat undang-undang yang mengikat, namun

10
prasangka yang bertanggung jawab atas diskriminasi tidak dapat dengan mudah
dikendalikan atau dihilangkan.

a. Jenis-jenis prasangka dan diskriminasi

Beberapa jenis prasangka dan diskriminasi yang terjadi akibat prasangka.Ada


ageism (Sikap prasangka terhadap orangtua atau remaja); Seksisme (Sikap
prasangka terhadap gender tertentu); Rasisme (sikap prasangka terhadap ras
tertentu); prasangka terhadap kelompok yang memiliki agama yang berbeda; dan
sebagainya.

Prasangka dan diskriminasi dapat bervariasi berdasarkan keberadaan kelompoknya,


yaitu : in-groups (dirinya dan lingkungan yang sepihak dengannya “kita”) dan out-groups
(orang lain, dan seseorang mengistilahkan orang lain dengan istilah “mereka”).

Setelah terbentuk kelompok in-groups dan out-groups akan terjadi berbagai pertikaian
antar kelompok. Permasalahan kelompok tersebut misalnya konflik realistik. Teori konflik
realistik menyatakan bahwa prasangka dan diskriminasi akan meningkat antar kelompok
yang memiliki konflik, karena sumber daya terbatas dan kelompok tersebut mencari sumber
daya bersama, seperti tanah atau pekerjaan. Semakin cepat kelompok in-groups dan out-
groups terbentuk, semakin cepat pula prasangka dan diskriminasi mengikuti. Misalnya,
negara Indonesia yang dijajah oleh bangsa Portugis. Indonesia cenderung akan
mempertahankan tanah airnya, dan Portugis berusaha untuk menguasai tanah Indonesia
karena kaya akan rempah. Sehingga semakin kuat dan cepat kelompok pertahanan Indonesia
dan kelompok penjajah terbentuk, semakin cepat pula prasangka dan diskriminasi mengikuti.

Didalam permasalahan antar kelompok tersebut, kita juga akan mengenal istilah
Scapegoating. Scapegoating atau pengkambinghitaman merupakan target untuk frustrasi dan
emosi negatif, yang biasanya mengarah pada salah satu individu atau kelompok. Kambing
hitam akan menjadi kelompok orang dengan kekuatan paling sedikit pada waktu itu.
Misalnya saat bangsa yang baru memiliki warga negara muslim, dan masih minoritas.
Kebetulan saat itu terjadi kerusuhan seperti penembakan dan pengeboman di tempat
kediaman kaum minoritas tersebut, mayoritas akan cenderung menghakimi dan menyalahkan
umat muslim dan mencapnya sebagai teroris sebagai ungkapan kekesalannya akibat kejadian
tersebut.

b. Teori tentang prasangka dan diskriminasi

11
1) Social Cognitive Theory

Merupakan teori yang beranggapan bahwa seseorang menggunakan proses


kognitif dalam memahami dunia sosial. Sikap prasangka dibentuk sesuai dengan
pembentukan sikap lainnya. Yaitu melalui instruksi langsung, pemodelan, dan
pengaruh sosial lainnya dalam pembelajaran.

2) Social Identity Theory

Dalam teori identitas sosial, seseorang akan menjelaskan identitasnya


dengan :

a) kategorisasi sosial, yaitu memberikan kategori kepada sesuatu. Seperti


hitam, putih, siswa, guru, dan sebagainya. Hal tersebut berguna untuk membantu
mengatur informasi tentang orang lain dan menentukan cara bersikap sesuai
kategorinya.

b) Identifikasi, mencakup pandangan dari individu sebagai anggota sosial


tertentu dalam kategori sosial.

c) Perbandingan sosial, kecenderungan individu membandingkan dirinya


dengan orang lain untuk meningkatkan harga diri.

3) Kerentanan Stereotip

kerentanan stereotip merupakan pengetahuan individu tentang pendapat


stereotip orang lain terhadap dirinya. Hal ini dapat menghasilkan kemampuan
memenuhi diri sediri dan dapat juga menjadi ancaman, yaitu ketika individu
menyadari stereotip yang biasanya ditampilkan untuk kelompok mereka oleh
orang lain. Bisa saja individu merasa cemas terhadap perilaku yang mungkin
mendukung stereotip tersebut. Ketakutan tersebut menghasilkan kecemasan dan
kesadaran diri negatif terhadap kinerja mereka dalam hal self-fulfilling
prophecy.

self-fulfilling prophecy merupakan kecenderungan terhadap harapan


seseorang untuk mempengaruhi perilaku seseorang sedemikian rupa sehingga
semakin besar kemungkinannya untuk dapat terjadi.

12
c. Mengatasi prasangka

1) Pendidikan

Mengatasi prasangka dengan pendidikan seperti belajar dikelas . siswa


akan belajar tentang orang yang berbeda dengan sendirinya dalam banyak
hal. Misalnya dengan cara kontak langsung dengan orang atau kelompok
yang memiliki latar belakang yang berbeda sehingga menemukan landasan
bersama untuk memulai membangun persahabatan dan pengetahuan tentang
perbedaan budaya, etnis, dan agama masing-masing.

2) Kontak Persamaan Status

Seseorang yang memiliki status yang sama, dan memiliki perlakuan


yang sama akan cenderung bertindak sama dan tidak kompetitif karena
tidak ada kelompok yang memiliki kekuasaan lebih dari yang lain.

3) Jiangsaw Classroom

Menyediakan kelas yang menuntut siswa untuk bekerjasama dalam


mencapai tujuan tertentu.

2. Interpersonal Attraction

Ketertarikan interpersonal merupakan rasa untuk menyukai atau memiliki keinginan


untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kedekatan yang dimiliki seseorang untuk dapat
berupa kedekatan fisik dan kedekatan geografis. Seseorang cenderung menyukai orang lain
dengan harapan orang lain juga dapat menyukainya sebagai balasan.

Ketertarikan yang dimilki seseorang terhadap orang lain tentunya memilki alasan-
alasan dan penjelasan yang jelas. Ketertarikan ini memiliki aturan tersendiri, diantaranya :

a. Ketertarikan fisik
Salah satu faktor yang mengatur ketertarikan cinta dan perasaan terhadap orang lain
adalah ketertarikan fisik. Biasanya, pada awalnya orang akan cenderung tertarik
dengan karakteristik fisik yang dangkal seperti kecantikan, dan elemen
kepribadian.

13
b. Kedekatan
Kedekatan mengacu pada kedekatan fisik dengan orang lain. Seseorang yang dekat
secara fisik, cenderung akan menjalin hubungan seperti tinggal di suatu tempat kos
atau asrama yang sama, dan bekerja pada tempat atau gedung yang sama dapat
menjadi faktor kedekatan seseorang dengan orang lain. Ketika orang berada dalam
kedekatan fisik satu sama lain, paparan berulang dapat meningkatkan ketertarikan
satu sama lain.
c. Kesamaan
Ketertarikan fisik dan kedekatan tidak menjamin hubungan jangka panjang. Semakin
banyak orang menemukan persamaan-persaman dengan orang lain seperti minat,
sikap dan kepercayaan, maka semakin meningkat juga tingkat ketertarikannya.
(Hartfield & Rapson, 1992; Moreland & Zajonc, 1982; Neimeyer & Mitchell, 1998).
Ketika seseorang memiliki keyakinan dan sikap yang sama, dan melakukan tindakan
yang sama, maka itu akan membuat konsep-konsep seseorang akan terlihat lebih valid
satu sama lain.
d. Ketertarikan yang beralawanan
Terkadang, orang lebih tertarik dengan hal yang berbeda dari dirinya dibandingkan
dengan hal yang serupa. Beberapa orang menemukan bahwa membentuk hubungan
dengan orang lain yang memiliki kesetaraan komplementer (karakteristik dalam satu
orang yang memenuhi kebutuhan orang lain) dapat sangat bermanfaat (Carson, 1969;
Schmitt, 2002). Penelitian tidak mendukung pandangan ketertarikan ini, Namun. Ini
adalah kesamaan, bukan saling melengkapi, yang menyatukan orang dan membantu
mereka tetap bersama (Berscheid & Reis, 1998; McPherson et al., 2001).
e. Menyukai secara timbal balik
Menyukai secara timbal balik merupakan suatu konsep kuat yang memiliki
kecenderungan untuk menyukai seseorang yang juga menyukai kita. Dalam satu
percobaan, peneliti memasangkan mahasiswa dengan mahasiswa lain (Curtis &
Miller, 1986). Tidak ada mahasiswa yang saling mengetahui anggota lainnya. Salah
satu anggota dari setiap pasangan dipilih secara acak untuk menerima beberapa
informasi dari para peneliti tentang bagaimana perasaan siswa lain dalam pasangan
tentang anggota pertama. Dalam beberapa kasus, siswa target dituntun untuk percaya
bahwa siswa lain menyukai mereka dan, dalam kasus lain, bahwa target tidak
menyukai mereka. Ketika pasangan siswa diizinkan untuk bertemu dan berbicara satu
sama lain lagi, mereka lebih ramah, mengungkapkan lebih banyak informasi tentang

14
diri mereka sendiri, lebih setuju dengan orang lain, dan berperilaku lebih hangat jika
mereka diberi tahu bahwa siswa lain menyukai mereka. Siswa-siswa lain juga
menyukai siswa-siswa ini dengan lebih baik, Sehingga rasa menyukai menghasilkan
lebih banyak rasa menyukai. Seseorang yang mempunyai rasa rendah diri, akan
mempertanyakan motif mengapa orang lain menyukai dirinya dan mencari tahu alasan
mengapa orang lain menyukai dirinya sedangkan ia tidak menyukai dirinya sendiri.
Ketidakpercayaan ini dapat menyebabkan Anda bertindak tidak ramah kepada orang
itu, yang membuat orang tersebut lebih mungkin menjadi tidak ramah kepada Anda.
(Murray et al., 1998).

Teori Segitiga Cinta Robert Strenberg

Cinta mengacu pada kasih sayang yang kuat untuk orang lain karena hubungan, ikatan
pribadi, ketertarikan seksual, kekaguman, atau minat bersama. Tapi itu bukan hubungan yang
sama. Ketika kita mencintai keluarga dan mencintai teman-teman, tentunya kita akan
mencintai mereka dengan cara yang berbeda. Psikolog umumnya setuju bahwa ada berbagai
jenis cinta. Seorang psikolog, Robert Sternberg, menguraikan teori tiga komponen utama
cinta dan berbagai jenis cinta yang dapat dihasilkan kombinasi dari ketiga komponen ini
(Sternberg, 1986,1988b, 1997).

Menurut Sternberg, cinta memiliki tiga komponen utama, yaitu :

a. Keintiman
Menurut Sternberg, cinta mengacu pada perasaan kedekatan yang dimiliki seseorang
untuk orang lain atau perasaan memiliki ikatan emosional yang erat dengan orang
lain. Intimasi dalam pengertian ini bukan fisik tetapi psikologis. Seseorang yang
memiliki hubungan mendalam karena mereka mengungkapkan hal-hal satu sama lain

15
yang kebanyakan orang mungkin tidak tahu, mereka merasakan ikatan emosional
yang kuat satu sama lain, dan mereka menikmati kehadiran orang lain.
b. Gairah
Gairah adalah aspek fisik dari cinta. Gairah mengacu pada rangsangan emosional dan
seksual yang dirasakan seseorang terhadap orang lain. Gairah bukan hanya seks,
berpegangan tangan, berpenampilan penuh kasih, dan pelukan semua bisa menjadi
bentuk gairah.
c. Komitmen
Komitmen melibatkan keputusan yang diambil seseorang tentang suatu hubungan.
Keputusan jangka pendek mungkin, “Saya pikir saya sedang jatuh cinta.” Contoh dari
keputusan jangka panjang adalah, “Saya ingin bersama orang ini untuk sisanya.
hidupku.”

Hubungan cinta antara dua orang dapat melibatkan satu, dua, atau ketiga komponen
ini dalam berbagai kombinasi. Kombinasi tersebut dapat menghasilkan tujuh bentuk cinta
yang berbeda, Dua bentuk cinta yang lebih akrab dan lebih banyak diteliti dari teori Stern-
Berg adalah cinta romantis dan cinta pendamping. Ketika keintiman dan gairah digabungkan,
hasilnya adalah cinta romantis yang lebih akrab, yang kadang-kadang disebut cinta penuh
gairah oleh peneliti lain (Bartels & Zeki, 2000; Diamond, 2003; Hartfield, 1987). Cinta
romantis seringkali menjadi dasar untuk hubungan yang lebih langgeng. Banyak teori cinta
segitiga Strenberg dalam budaya barat, hubungan yang ideal dimulai dengan rasa suka,
kemudian menjadi cinta romantis ketika gairah ditambahkan ke dalam campuran, dan
akhirnya menjadi bentuk cinta yang lebih abadi ketika komitmen dibuat.

Ketika keintiman dan komitmen adalah komponen utama dari suatu hubungan, itu
disebut cinta pendamping. Dalam cinta pendamping, orang-orang yang saling menyukai,
merasa dekat secara emosional satu sama lain, dan memahami motif satu sama lain telah
membuat komitmen untuk hidup bersama-sama, biasanya dalam hubungan pernikahan. Cinta
pendamping sering kali merupakan ikatan yang mengikat pernikahan bersama selama
bertahun-tahun mengasuh anak, membayar tagihan, dan mengurangi hasrat fisik (Gottman &
Krokoff, 1989; Steinberg & Silverberg, 1987). Dalam budaya non-Barat, cinta pendamping
dipandang lebih masuk akal.

Akhirnya, ketika ketiga komponen cinta itu hadir, pasangan itu telah mencapai cinta
yang sempurna, bentuk cinta yang ideal yang dilihat banyak orang sebagai tujuan akhir. Ini

16
juga jenis cinta yang dapat berkembang menjadi cinta pendamping ketika gairah berkurang
selama tahun tengah komitmen suatu hubungan.

3. Aggression and Prosocial Behavior

Agresi adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan sengaja baik berupa serangan
fisik ataupun kata-kata untuk melukai atau menghancurkan orang lain. Sifat agresif pada
umumnya disebabkan oleh tidak tercapainya suatu tujuan yang diinginkan. Konsep agresi
sebagai reaksi terhadap frustrasi dikenal sebagai hipotesis frustrasi-agresi (Berkowitz, 1993;
Miller et al., 1941).

Banyak sumber frustasi yang mengarah pada perilaku agresif. Rasa sakit, misalnya,
menghasilkan sensasi negatif yang sering intens dan tidak terkendali, yang mengarah ke
frustrasi dan sering tindakan agresif terhadap target terdekat yang tersedia (Berkowitz, 1993).
Suara keras, panas berlebih, iritasi asap rokok orang lain, dan bahkan bau yang tidak sedap
dapat membuat orang bertindak agresif (Anderson, 1987; Rotton & Frey, 1985; Rotton et al.,
1979; Zillmann et al. , 1981). Frustrasi bukan satu-satunya sumber perilaku agresif. Banyak
peneliti awal, termasuk Sigmund Freud (1930), percaya bahwa agresi adalah naluri dasar
manusia.

Dalam pandangan Freud, agresi adalah bagian dari naluri kematian yang mendorong
manusia untuk menghancurkan orang lain dan diri mereka sendiri, dan dia percaya bahwa
jika agresi tidak dilepaskan akan menyebabkan penyakit. Tetapi jika agresi adalah naluri
yang ada pada semua manusia, itu harus terjadi dalam pola yang jauh lebih mirip di seluruh
budaya daripada yang terjadi. Perilaku naluriah, seperti yang sering terlihat pada hewan, tidak
dapat dimodifikasi oleh pengaruh lingkungan. Pendekatan modern mencoba menjelaskan
agresi sebagai fenomena biologis atau perilaku yang dipelajari.

1. Agresi dan Biologi

Agresi dalam pandangan biologi, area-area tertentu dari otak tampaknya


mengendalikan respons agresif. Amigdala dan struktur lain dari sistem limbik telah terbukti
memicu respons agresif ketika distimulasi pada hewan dan manusia (Adams, 1968; Albert &
Richmond, 1977; LaBar et al., 1995; Scott et al., 1997). Secara psikologis, alkohol bertindak
untuk melepaskan penghambat, membuat orang lebih kecil kemungkinannya untuk
mengendalikan perilaku mereka bahkan jika mereka belum mabuk. Secara biologis, alkohol

17
memengaruhi fungsi neurotransmitter dan khususnya dikaitkan dengan penurunan serotonin
(Virkkunen & Linnoila, 1996).

2. Kekuatan peran sosial dalam perilaku agresi.

Meskipun frustrasi, genetika, bahan kimia tubuh, dan bahkan efek obat-obatan dapat
disalahkan untuk perilaku agresif sampai batas tertentu, banyak agresi manusia juga
dipengaruhi oleh pembelajaran. Penjelasan teori pembelajaran sosial untuk agresi
menyatakan bahwa perilaku agresif dipelajari (dalam proses yang disebut pembelajaran
observasional) dengan menonton model agresif diperkuat untuk perilaku agresif mereka
(Bandura, 1980; Bandura et al., 1961). Model agresif dapat berupa orang tua, saudara
kandung, teman, atau orang-orang di televisi atau dalam permainan komputer. Beberapa bukti
menunjukkan bahwa bahkan mengambil peran sosial tertentu, seperti seorang prajurit, dapat
menyebabkan peningkatan perilaku agresif. Peran sosial adalah pola perilaku yang
diharapkan dari seseorang yang berada dalam posisi sosial tertentu. Misalnya, "dokter"
adalah peran sosial yang menyiratkan mengenakan jas putih, mengajukan beberapa jenis
pertanyaan, dan menulis resep, antara lain.

Dalam sebuah meta-analisis penelitian besar-besaran tentang hubungan antara media


kekerasan dan perilaku agresif pada anak-anak, psikolog sosial Craig Anderson dan rekan
menemukan bukti yang jelas dan konsisten bahwa paparan jangka pendek ke media yang
dilambatkan secara signifikan meningkatkan kemungkinan bahwa anak-anak akan terlibat
dalam agresi fisik dan verbal serta pikiran dan emosi yang agresif (Anderson et al., 2003).
Jelas, keras video game berkorelasi dengan peningkatan tingkat agresi anak-anak yang
memainkannya, baik anak kecil maupun remaja (Anderson, 2003; Anderson & Bushman,
2001; Anderson dkk., 2008; Bartlett dkk., 2008; Ferguson dkk.,

3. Perilaku Prososial

Perilaku prososial adalah suatu bentuk interaksi yang lebih menyenangkan yang
diinginkan dan memilki manfaat bagi orang lain. Altruisme adalah salah satu bentuk perilaku
prososial yang hampir selalu membuat orang merasa senang dengan orang lain, atau
membantu seseorang yang bermasalah tanpa mengharapkan imbalan dan seringkali tanpa rasa
takut akan keselamatan diri sendiri. Misalnya, serang ibu yang masuk ke dalam rumah yang
terbakar untuk menyelamatkan anaknya merupakan suatu hal yang sudah biasa, namun jika
ada seseorang yang nekat untuk berlari ke dalam rumah terbakar itu untuk menyelamatkan

18
seorang anak yang tidak dikenalnya dengan mempertaruhkan nyawanya, hal inilah yang
dinamakan perilaku altruisme.

Dalam beberapa kasus kriminal yang terjadi di masyarakat, terkadang seseorang


enggan untuk menolong korban dan bahkan hanya menonton kejadian itu tanpa menolong
dan menelpon polisi. Hal ini bukan karena tidak adanya rasa simpati dan rasa
ketidakpedulian, melainkan menurut psikolog sosial, hal ini terjadi karena efek pengamat dan
difusi tanggung jawab. Efek pengamat mengacu pada temuan bahwa kemungkinan pengamat
(seseorang yang mengamati suatu peristiwa dan cukup dekat untuk menawarkan bantuan)
untuk membantu seseorang yang bermasalah berkurang ketika jumlah pengamat meningkat.
Jika hanya satu orang yang berdiri, orang itu jauh lebih mungkin untuk membantu daripada
jika ada orang lain, dan penambahan setiap pengamat baru mengurangi kemungkinan
membantu perilaku lebih (Darley & Latané, 1968; Eagly & Crowley, 1986 ; Latané &
Darley, 1969).

Psikolog sosial Bibb Latané dan John Darley melakukan beberapa eksperimen klasik
tentang efek pengamat. Dalam satu penelitian, peserta mengisi kuesioner di sebuah ruangan
yang mulai dipenuhi dengan asap. Beberapa peserta sendirian di dalam ruangan, sedangkan
dalam kondisi lain ada tiga peserta di ruangan itu. Dalam kondisi ketiga satu peserta berada di
ruangan dengan dua konfederasi eksperimen, yang diperintahkan untuk memperhatikan asap
tetapi mengabaikannya setelah itu. Dalam kondisi "peserta saja", tiga perempat peserta
meninggalkan ruangan untuk melaporkan asap .Dalam kondisi "tiga peserta", hanya sedikit di
atas sepertiga dari peserta melaporkan asap, sedangkan hanya sepersepuluh dari peserta yang
berada di ruangan dengan sekutu melakukannya.

Difusi tanggung jawab adalah fenomena di mana seseorang gagal untuk mengambil
tanggung jawab atas tindakan atau tidak bertindak karena kehadiran orang lain yang terlihat
berbagi tanggung jawab (Leary & Forsyth, 1987). Kekurangan tanggung jawab adalah bentuk
dari atribusi di mana orang menjelaskan mengapa mereka bertindak (atau gagal bertindak)
seperti yang mereka lakukan karena orang lain. "Saya hanya mengikuti perintah," "Orang lain
melakukannya," dan "Ada banyak orang di sana, dan saya pikir salah satu dari mereka akan
melakukan sesuatu "adalah semua contoh pernyataan yang dibuat dalam situasi seperti itu.

19
Lima poin perilaku dalam menentukan keputusan untuk membantu, diantaranya :

a. Ambiguitas
Jika ada orang lain di sekitarnya, terutama jika situasinya ambigu, para pengamat
dapat mengandalkan tindakan dari yang lain membantu menentukan apakah
situasinya darurat atau tidak. Karena semua pengamat mungkin melakukan ini, sangat
mungkin bahwa situasi akan dilihat sebagai tidak darurat karena tidak ada yang
bergerak untuk membantu.
b. Suasana hati pengamat
Orang yang memiliki suasana hati yang baik umumnya lebih mungkin membantu
daripada orang yang suasana hatinya buruk, tetapi anehnya, mereka tidak mungkin
membantu jika membantu akan merusak suasana hati yang baik.

c. Jenis kelamin
Perempuan lebih mungkin menerima bantuan daripada laki-laki jika pengamat adalah
laki-laki, tetapi tidak jika pengamat adalah perempuan.
d. Orang yang menarik secara fisik
Korban yang terlihat seperti "mereka pantas menerima apa yang terjadi" juga
cenderung tidak tertolong. Misalnya, seorang pria yang berbaring di sisi jalan yang
mengenakan pakaian lusuh dan tampaknya mabuk akan lewat, tetapi jika ia
mengenakan setelan bisnis, orang lebih cenderung berhenti dan membantu.
e. Perbedaan etnis korban dan pengamat
Di Amerika, misalkan korbannya merupakan seorang yang berkulit hitam sedang
mendapat serangan, jika seorang pengamatnya merupakan dari etnis kulit putih, hal
itu memungkin ia enggan untuk menolong.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang bagaimana perilaku, pikiran, dan perasaan
seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain yang nyata, dibayangkan, atau tersirat.
Pengaruh sosial adalah cara-cara di mana perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh orang
lain. Kesadaran sosial adalah cara orang berpikir tentang orang lain dan sosial. Interaksi
adalah aspek positif dan negatif dari orang yang berhubungan dengan orang lain.

Psikologi sosial merupakan studi ilmiah tentang bagaimana pikiran, perasaan, dan
perilaku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain yang nyata, dibayangkan, atau
tersirat. Pengaruh sosial merupakan Proses di mana kehadiran nyata atau tersirat dari orang
lain dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku
seseorang.

kognisi sosial berfokus pada cara orang berpikir tentang orang lain dan bagaimana
kognisi mempengaruhi perilaku terhadap orang lain. Di bagian ini, kita akan berkonsentrasi
pada bagaimana kita memandang orang lain dan membentuk kesan pertama kita terhadap
mereka, serta bagaimana kita menjelaskan perilaku orang lain dan diri kita sendiri.

Prasangka cukup banyak menjelaskan mengapa orang tidak saling menyukai. Apa
yang dikatakan psikologi tentang mengapa orang menyukai orang lain? Ada beberapa
"aturan" bagi mereka yang disukai dan disukai orang. Menyukai atau memiliki keinginan
untuk menjalin hubungan dengan orang lain disebut ketertarikan interpersonal, dan ada
banyak penelitian tentang masalah ini. ketertarikan interpersonal adalah menyukai atau
memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

3.2 Saran

Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu
kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah
di kemudian hari.

21