Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting dan sangat dibutuh oleh

manusia sehingga begitu perlunya pendidikan didalam kehidupan seseorang, karena

dengan adanya pendidikan akan membuat suatu perubahan pada diri seseorang agar

menjadi lebih baik lagi. Didalam lembaga pendidikan terdapat proses belajar

mengajar dimana merupakan suatu sarana untuk mencapai suatu hasil dari sbuah

pendidikan. Tenaga pendidik adalah seorang guru yang harus mampu

melaksanakan suatu proses pembelajaran yang menyenangkan serta mampu

memotivasi siswa sehingga dengan sendirinya akan medorong munculnya aktivitas-

aktivitas positif siswa dalam belajar dan mengajar.

Secara etimologi aktivitas berasal dari bahasa inggris, yaitu active uyang berarti

aktif datau sibuk.Menurut Hage Reading dalam kamus ilmu sosial, aktivitas adalah

setiap jenis kegiatan yang dilakukan manusia dan dorongan yang berhubungan

dengan tingkah laku. Apabila dikaitkan dengan belajart aktivitas dapat diartikan

sebagai segala sesuatu yang terjadi dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sangat diperlukan aktifitas

yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran tersebut agar tujuan yang telah

ditentukan dapat tercapai dengan baik pula. Untuk mencapai hal tersebut peran

serta seorang guru sebagai tenaga pendidik yang secara langsung berinteraksi
dengan pendidik . Sehingga dengan demikian dibutuhkan kompetensi dan

keterampilan seorang guru dalam proses belajar mengajar. Dalam panduan

sertifikat guru bagi LPTK tahun 2006 yang dikeluarkan oleh Direktur Ketenagaan

Dirjen Dikti Depdiknas disebutkan bahwa kompetensi merupakan kebulatan

pengawasan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk

kerja (Denidya Damay, 2012:31).

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

dijelaskan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian seertifikat pendidik untuk

guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai

pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional.Nilai

yang muin cul dalam kerangka sertifikasi adalah penjaminan mutu yang

berlangsung secara berkelanjutan bagi guru dan dosen. Konteks di atas memberikan

pengertian lebioh dalam bahwa sertifi9kasi adalah proses emberian pengakuan

bahwa seorang guru telah memiliki kompetensi untuk melakukan tugas professional

dalam menagajar atau layanan pendidikan dalam jenjang pendidikan tertentu

setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan lembaga sertifikat (Syafaruddin,

2008:33)

Pengakuan kedudukan guru dan dosen dapat dibuktikan dengan sertifikat

pendidik, menujukan adanya ksamaan antara guru dan dosen dalam meningkatkan

martabatnya, tetapi proses memperoleh sertifikat pendidik di atur secara berbeda.

Perbedaan didasarkan pada fungsi yang relative tisdak sama antara guru dan dosen.
Seperti yang kita ketahui guru dan dosen berfungsi sebagai pendidik dan agen

pembelajaran meningkatkan mutu pendidikan, namun dosen juga mempunyai

fungsio sebagai ilmuan yang mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan

seni serta mnelaksanakan pengabdian pada masyarakat ( Pasdal 4 dan 5 RUUGD)(

Anwar Arifin, 2007:46)

Berdasarkan UU Guru dan Dosen ditentukan, peningkatan kesejahteraan guru

besarnya dapat mencapai lebih dari dua kali lipat penghasilan guru saat ini. Pasal 15

ayat (1) UU Guru dan Dosenmenentukan, bahwa guru akan mendapatkan

kesejahteraan profesi yang berasal dari beberapa sumber finansial antara lain : gaji

pokokl, tunjungan khusus dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya

sebagai guru yang ditetapkandenganprinsip penghargaan atas dasar prestasi.

Prestasi seorang guru menunjukkan adanya ketrampilan dasar yang dibawa

seseorang ke tempat pekerjaan yang bisa berupa pengetahuan, kemampuan,

kecakapan interpersonal dan kecakapan teknis.Kemampuan seorang guru dapat di

lihat dari sejauh mana seorang telah melaksanakan pekerjaan masing-masing secara

keseluruhan atau melalui kinerja guru tersebut.

Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas dan kualitas yagn

dicapai oleh sesorang pegawai dalam melaksnakan tugasnya sesuai dengan

tanggung jawab yang diberikan kepadanya.Selaian itu, kinerja juga merupakan

suatu kemapuan kerja atau prestasi kerja yang diperlihatkan oleh seseorang pegawai
utnuk memperoleh hasil kerja yang optimal. Begitu juga halnya bagi seorang guru,

dalam melakukan proses pembelajaran sangat diperlukan kemampuan yang dapat

memaksimalkan proses pembelajaramn tersebut. Namunkenyataannya yang

seringterjadi adalah kondisi aktifitas kemampuan gurudalam pembelajaran yang

belum di dukung oleh keterampilan yang dapat memaksimalkan aktifitas

pembelajaran yang dilakukan oleh karena ituseorang guru harus mengoptimalkan

pembelajaran yang dilakukan., baik dengan penggunaaan strategi pembelajaran

yang bervariasi maupun penggunaan perangkat pembelajaran.. Dengan melakukan

pembelajaran yang maksimal tentunya tujuan yang telah ditetapkan akan mudah

untuk dicapai.

Berdasarkan pengamatan awal (Studi pendahuluan) yang telah dipaparkan di

atas tentang guru-guru yang terlah disertifikasi penulis menemukan beberapa

gejala-gejala sebagai berikut :

1. Masih ada guru yang belum dapat menciptakan sistuiasi yang m,enarik pada

saat pembelajaran.

2. Masih ada guru terlihat belum siap dalam melakukan aktivitas

pembelajaran.

3. Masih ada guru yang terlihat canggung dalam melakukakn kegiatan

pembelajaran.

4. Masih ada guru yang terlambat masuk dalam kelas.


5. Masih ada guru yang belum mampu membuat suasana dalam kelas

mwenjadi nyaman.

6. Masih ada guru yang kurang memperhatikan siswa pada saat pembelajaran .

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa terdorong untuk mengkaji

dan meneliti lebih lanjut sertifikasi guru terhadap kinerja dalam bentuk tesis

yang berjudul “PENINGKATAN KINERJA SERTIFIKASI GURU” (Studi

Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 18 Tahun 2007 tentang

Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan di SMA Negeri I Sangatta Utara

Kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

masalah pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana implementasi Peningkatan Kinerja Sertifikasi Guru berdasarkan

Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi

Bagi Guru dalam Jabatan di SMA Negeri I Sangatta Utara Kecamatan

Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur ?

2. Faktor-faktor penghambat dan pendukung apa saja dalam pelaksanaan

Peningkatan Kinerja Sertifikasi Guru di SMA Negeri I Sangatta Utara

Kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur ?

C. Tujuan Penelitian

Maksud dan tujuan penelitian ini yaitu untuk :


1. Mendeskripsikan, menganalisis dan mengkaji implementasi Peningkatan

Kinerja Sertifikasi Guru berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor

18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan di SMA Negeri

I Sangatta Utara Kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur

2. Untuk mengetahui Faktor-faktor penghambat dan pendukung apa saja dalam

Pelaksanaan Peningkatan kinerja Guru di SMA Negeri I Sangatta Utara

Kabupaten Kutai Timur .

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritik

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

kontribusi dibidang pemikiran dan pengetahuan terhadap perkembangan

ilmu pendidikan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Sekolah :

Sebagai bahan masukan bagi sekolah untukm meperbaiki praktik-praktik

pembelajaran guru agar menjadi lebih efektif dan efesien sehingga

kulaitasm pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat.

b. Bagi Siswa :

Untuk meningkatkan hasil belajar dan solidaritasm siswa untuk

menemukan pengetahuan dan mengembangkan wawasan, meningkatkan

kemampuan menganalisis suatu masalah melalui pembelajaran inovatif.


b. Bagi peneliti:

Penelitian ini dapat memperluas pengetahuan serta

memberikan pengalaman secara langsung tentang fakta di lapangan

dengan teori yang telah diperoleh selama di bangku perkuliahan.

c. Bagi kalangan akademis: penelitian ini diharapkan dapat menjadi

referensi, masukan dan menambah wacana dalam bidang keilmuan

sejenis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Kebijakan Publik

Dalam kepustakaan internasional, kebijakan publik disebut sebagai public

policy, yaitu suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan

berlaku mengikat seluruh warganya (Sore dan Sobirin, 2017: 8).Secara umum,

kebijakan atau policy adalah sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan,

pengambilan dan perumusan keputusan, pelaksanaan keputusan, serta evaluasi

terhadap dampak dari pelaksanaan keputusan tersebut terhadap orang banyak yang

menjadi sasaran kebijakan (kelompok target).Sedangkan secara substansial,

kebijakan merupakan subjek kajian yang kompleks, dinamis, dan tidak pernah

jumud (amorphous) (Marzali, 2015: 20).

Kebijakan publik merupakan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan

tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber

daya alam, finansial, dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak,

penduduk, masyarakat atau warga negara. Ditinjau dari proses, kebijakan publik

diartikan sebagai hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara

berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan-kepentingan yang mewakili

sistem politik suatu negara (Ali, 2017: 37).


Menurut Jatmikowati (2016: 1), kebijakan publik adalah keputusan pemerintah

untuk mengatur berbagai bidang kehidupan dalam negara. Sedangkan, Efendi dan

Makhfudli (2009: 135) mengartikan kebijakan publik sebagai keputusan-keputusan

yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar

yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat

publik, maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka

yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu

proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Selanjutnya, kebijakan

publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang dijalankan oleh birokrasi

pemerintah.

Dari beberapa pengertian kebijakan publik yang telah dikemukakan di atas,

maka terdapat beberapa elemen penting tentang kebijakan publik, yaitu (Rochmah,

2013: 3):

a. Kebijakan publik itu dalam bentuk perdananya berupa penetapan

tindakan-tindakan pemerintah.

b. Kebijakan publik itu tidak cukup hanya dinyatakan tetapi

dilaksanakan dalam bentuk yang nyata.

c. Kebijakan publik baik untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan

sesuatu itu mempunyai dan dilandasai dengan maksud dan tujuan

tertentu.

d. Kebijakan publik itu harus senantiasa ditujukan bagi kepentingan

seluruh anggota masyarakat.


Jatmikowati (2016: 8) menyebutkan bahwa ada empat jenis kebijakan

publik, yaitu:

a. Distributif

Distributif merupakan kebijakan publik yang bertujuan untuk

memberi fasilitas dan pelayanan bagi golongan penduduk tertentu.

b. Pengaturan (regulatory)

Pengaturan atau regulatory merupakan kebijakan publik yang

bertujuan mengatur kehidupan masyarkat melalui pembatasan

kebebasan bertindak dari subjek (golongan penduduk) untuk

mengurain pertentangan di antara golongan yang bersaing.

c. Redistribusi

Redistribusi merupakan kebijakan publik yang bertujuan untuk

merubah alokasi kemakmuran, pendapatan, dan hak di antara berbagai

kelompok dan kelas dalam masyarakat.

d. Self-regulatory

Self-regulatory merupakan kebijakan yang diusahakan dan didukung

oleh kelompok kepentingan untuk memajukan dan melindungan

kelompok mereka.
2. Konsep Implementasi Kebijakan

Implementasi Kebijakan Publik merupakan suatu tindakan yang riil dalam

upaya untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan .implementasi kebijakan

sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut Dengan mekanisme penjabaran

keputusan-keputusan politik kedalam prosedur–prosedur rutin lewat saluran–

saluran birokrasi , melainkan lebih dari itu. Ia menyangkut masalah konflik,

keputusan dan siapa memperoleh apa dari suatu kebijakan (Grendle,dikutip dari

Adul Wahab 1997:59) . Implementasi kebijakan adalah salah satu aspek yang

penting dari keseluruhan proses implementasi kebijakan. Islamy (2000:15)

menguraikan batasan implementasi kebijakan adalah usaha mewujudkan secara

actual alternatif yang dipilih untuk memecahkan masalah, Hal yang menyangkut

dengan kegiatan baik dilakukan oleh pemerintah maupun dari pihak swasta

setempat yang diarahkan guna untuk mencapai tujuan yang telah diatur dan

ditetapkan .

Konsep implementasi kebijakan secara keseluruhan dapat dilihat pendapat

mazmanian dan Sabatier (dalam Abdul Wahab, 1997:68-69) berikut implementasi

adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar biasanya dalam bentuk undang

undang namun dapat pula berbentuk perintah–perintah atau keputusan–keputusan

eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya keputusan

tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara

tegas tujuan, sasaran yang inginm dicapai dan berbagai cara


menstruktur/mengatur proses implementasinya. Proses ini berlangsung setelah

melalui sejumlah tahapan tertentu. Biasanya diawali dengan tahapan pengesahan

undang–undang kemudian output kebijakan dalam bentuk pelaksanaan keputusan

oleh badan/instansi pelaksana, kesediaan dilaksanakannya keputusan tersebut oleh

kelompoksasaran, dampak keputusan yang dipersepsikan oleh badan yang

mengambil keputusandan akhirmya perbaikan penting (atau upaya untuk

melakukan perbaikan-perbaikan) terhadap undang–undang/peraturan yang

bersangkutan.maka pemahaman akan implementasi kebijakan dapat dirumuskan

sebagai proses awal untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan. Implementasi

kebijakan Menurut Van Meter dan Van Horn (dalam Agustino, 2006:45)

mendefinisikan, sebagai suatu tindakan yang dilakukan baik oleh individu ,

pejabat atau kelompok pemerintah maupun swasta yang diarahkan pada

tercapainya suatu tujuan yang telah direncanakan dalam keputusan kebijakan.

Dalam sejarah perkembangan studi dijelaskan tentang adanya dua

pendekatan guna memahami implementasi kebijakan, yakni: pendekatan top-down

dan bottom-up. Pendekatan top-down, implementasi kebijakan yang dilakukan

tersentralisir dan dimulai dari aktor tingkat pusat dan keputusannya pun diambil

dari tingkat pusat. Pendekatan top-down bertitik tolak dari perspektif bahwa

keputusan politik kebijakan yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan harus

dilaksanakan oleh administratur atau birokrat pada level bawahnya.


Tahjan (2008:24) mengemukakan bahwa implementasi dapat diartikan

sebagai suatu aktivitas yang bertalian dengan penyelesaian suatu pekerjaan dengan

penggunaan sarana (alat) untuk memperoleh hasil. Sehingg bila dirangkaikan

dengan kebijakan publik, maka implementasi kebijakan public dapat diartikan

sebagai suatu aktivitas penyelesaian atau pelaksanaan suatu kebijakan publik yang

telah ditetapkan/disetujui dengan penggunaan sarana (alat) mencapai tujuan

kebijakan. Alasan dikemukakan ialah bahwa proses implementasi akan dipengaruhi

oleh dimensi keijaksanaan dalam artian bahwa implementasi berhasil apabila

perubahan yang dikehendaki relative sedikit, kesepakatan terhadap tujuan dari

mereka yang mengoperasikan program dilapangan relative tinggi. Kebijaksanaan

dan prestasi kerja dimana dipisahkan oleh sejumlah variable-variabel bebas yang

saling berkaitan satu dengan yang lain. Dimana variabel bebas itu antara lain :

a. Ukuran dan Tujuan dari suatu Kebijakan

b. Sumber – sumber suatu kebijakan

c. Ciri – ciri sifat badan atau instansi pelaksana Kebijakan

d. Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan – kegiatan pelaksanaan

Kebijakan

e. Sikap para pelaksana Kebijakan

f. Lingkungan ekonomi, sosial, dan politik ( dimana variabel - variabel

tersebut seperti terlihat pada gambar dibawah ini:


Gambar 2.1 : Model Proses Implementasi Kebijakan

Komunikasi antar
organisasi dan kegiatan
pelaksanaan

Ukuran dan
tujuan
kebijakan Prestas
i kerja
Ciri badan pelaksana

Sumber -sumber Sikap para


pelaksana
kebijakan

Lingkungan : ekonomi ,
sosial dan politik

Sumber : D.S.Van Mater dan Van Horn (dalam Abdul Wahab, 1997:80)

3. Teori Pelayanan Publik

Fokus utama kebijakan publik dalam suatu negara adalah pelayanan publik.

Pelayanan publik adalah segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk

mempertahankan meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak (Efendi dan

Makhfudli, 2009: 135).

Menurut Nurcholis (2007: 287), pelayana publik berhubung dengan pelayanan

yang masuk kategori sektor publik (bukan sektor privat). Pelayanan publik biasanya

dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Badan Umum Milik

Negara (BUMN) atau Badan Umum Milik Derah (BUMD). Ketiga pihak yang

menangani sektor publik tersebut menyediakan pelayanan publik, seperti kesehatan,


pendidikan, kependudukan, keamanan dan ketertiban, serta bantuan sosial. Dengan

demikian, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah pelayanan yang

diberikan oleh pemerintah dan organisasi/instansi milik pemerintah kepada

masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam dalam rangka menciptakan

kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan, dalam Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:

63/KEP/M.PAN/7/2003 tanggal 10 Juli 2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik, disebutkan bahwa “ pelayanan publik adalah

segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik

sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan

ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Berbicara mengenai pelayanan publik juga mencakup asas dan prinsip-prinsip

pelayanan publik. Menurut Jatmikowati (2013: 44) ada enam asas pokok dalam

penyelenggaraan pelayanan publik, diantaranya:

a. Transparansi, artinya sebuah unit pelayanan publik harus bersifat

terbuka, mudah, dan dapat diakses semua pihak yang membutuhkan dan

di sediakan secara memadai serta mudah dipahami.

b. Akuntabilitas, artinya setiap proses dan hasil sebuah pelayanan publik

harus dapat dipertanggung jawabkan kepada publik sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan.
c. Kondisional, artinya sebuah pelayanan publik haruslah disesuaikan

dengan kondisi kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan

berpegangan pda prinsip efisiensi dan efektivitas.

d. Partisipasi, artinya mendorong peran serta masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi,

kebutuhan,dan harapan masyarakat.

e. Kesamaan hak, artinya dalam pelayanan publik tidak diskriminatif dalam

arti tidak membedakan suku, agama, golongan, gender, dan status

ekonomi.

f. Keseimbangan hak dan kewajiban, artinya baik pemberi maupun

penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-

masing.

Di samping itu, menurut Jatmikowati (2013: 45) ada sepuluh prinsip

pelayanan publik yang harus diperhatikan dan dilaksanakan setiap aparatur

pelayanan publik, yaitu:

a. Kesederhanaan adalah prosedur pelaayanan yang diselenggarakan tidak

berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan.

b. Kejelasan pencakup kejelasan tentang persyaratan pelayanan publik (baik

teknis maupun administratif), unit kerja atau pejabat yang berwenang dan

bertanggung jawab dalam pelayanan publik, serta rincian biaya

pelayanan publik dan tata cara pembayarannya.


c. Kepatian waktu adalah pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan

dalam kurun waktu yang telah di tentukan.

d. Akurasi adalah produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat,

dan sah.

e. Keamanan adalah proses dan produk pelayanan publik dapat memberikan

rasa aman dan kepastian hukum.

f. Tanggung jawab adalah pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik

atau pejabat yang ditujuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan

pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan

pelayanan publik.

g. Kelengkapan sarana dan prasarana adalah tersedianya sarana dan

prasarana kerja, peralatan kerja, dan pendukung lainnya yang memadai

termasuk penyedian sarana teknologi komunikasi dan informatika

(telematika).

h. Kemudahan akses adalah tempat dan lokasi serta sarna pelayanan yang

memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan

teknologi komunikasi dan informatika (telematika).

i. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan adalah pemberi layanan harus

bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, serta memberikan pelayanan

dengan iklas.

j. Kenyamanan adalah lingkungan pelayanan harus tertib, teratur,

disediakan ruangan tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang


indah dan sehat, serta di lengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan

seperti parker, toilet, tempat ibadah, dan lain-lain.

B. Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru adalah proses pemberian pengakuan bnahwa seorang guru

telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan tugas professional dalam mengajar

atau layanan pendidikan dalam jenjang pendidikan tertentu setelah melaui uji

kompetensi yang dilaksanakan lembaga sertifikasi.

Menurut Mulyasa pada hakekatnya sertifikasi guru adalah untuk mendapatkan

guru yang baik dan professional yang memiliki kompetyensi untuk melaksanakan

fungsi dan tujuan sekolah khususnyaserta tujuan pendidikan nasional pada

umumnya ssesuaui kebutuhan masyarakay dan tututan zaman. Karena melalui

standard an sertifikasi diharapkan dapat dipilih guru-guru professional yang berhak

menerima tunjangan profesi dan guru yang tidak professional serta tidak berhak

untuk mendapatkannya.

a. Tujuan Sertifikasi Guru

Adapun tujuan sertifikasi guru asalahn sebagai berikut :

1) Menentukan kelayakan guru dalam melaksnakan tugas sebagai agen

pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2) Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan

3) Menignkatkan martabat guru

4) Meningkatkann profesionalitas guru


5) Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik

professional

6) Meningkatkan proses dan hasiol pembelajaran

7) Meningkatkan kesejahter4aan guru

b. Manfaat Sertifikasi Guru

1) Melindungi sertifikasi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten

yang merusak citra profesi guru

2) Melindungi msyarakat dari praktek-praktek pendidikakn yang rtidak

berklualitas

3) Meningkatkan kesejahteraan guru

4) Menjadi wahana penjamainan mutu pengguna lembaga pendidikan

tenaga pendidik (LPTK) dan control mutu bagi layanan pendidikan

5) Menjaga lembaga penyelengaraan pendidikan dari keinginan internal

dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang

berlaku (J.B Situmorang, Winano ,2008:34)

c. Kreteria seorang guru agar dapat mengikuti sertifikasi

1) Guru yang telah memenuhi persyaratan utama yaitu memiliki ijazah

akademik atau kualifikasi akademik minimal S-1 atau D-4

2) Sertifikat bagi guru yang mengajar sesuai bidang keahliannya dapat

memilih proses sertifikasi berbasis pada ijazah S1/D4 yang memiliki

atau memilki proses sertifikasi berbasis bidang studi yang akan

diajarkan.
C. Tes Kinerja

Tes kinerja merupakan gambaran dari kemapuan guru dalam proses

pembelajaran mulai dari penilaian persiapan pembelajaran, penilaian dalam

melaksanakan pembelajaran dan penilaian dalam menutup pembelajaran beserta

aspek-aspeknya. Secara umum tes kinerja ini dapat digunakan sebagai alat untuk

mengungkapkan gambaran yang menyeluruh dari akumulasi kemampuan guru.

Menurut Muchlas Samani, dkk peranan tes kinerja guru akan dapat maksimal

apabila dalam uji sertifikasi dilakakan pada latar kelas yang sesungguhnya (real

teaching) dan bukan hanya sekedar simulasi (Micro teaching). Dalam konteks

pelaksanaan sertifikasi, penilaian kinerja guru dapat dikelompokkan menjadi dua

bagian yaitu :

a. Penilaian yang terkait dengan persiapan guru dalam mengelola

pembelajaran dimaksudkan sebagai penilaian terhadap guru dalam

merencanakan dan mempersiapkan pelajaran kelas.

b. Penilaian kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas

dimaksudkan untuk menilai kinerja guru ketika mengelola pembelajaran di

dalam kelas.

D. Kinerja

Kinerja merupakan terjemahan dari kata performance (jobPerformance), secara

etimologis performance brasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau

melaksanakan. Dari Penertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja atau


performance adalah tindakan menampilkan atau melaksanakan suatu kegiatan, oleh

karena performance sering juga diartikan penampilan kerja perilaku kerja.

Menurut A.Anwar Prabu Mangkunegara kinerjka (performance) adalah hasil

kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam

melaksanakan tugasnya sesuai dengantanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Menurut Gibson, et all (1995:364) bahwa Setiap pegawai didalam organisasi akan

dituntut untuk dapat memberikan kontribusi positif melalui kinerja yang baik,

mengingat kinerja organisasi tergantung pada kinerja pegawainya. Pengertian

kinerja itu sendiri adalah tingkat terhadapnya para pegawai untuk mencapai

persyaratan pekerjaan secara efisien dan efektif (Simamora,2006:34).

Kinerja pegawai itu sendiri merupakan prestasi kerja yakni perbandingan

antara hasil pekerjaan yang dapat dilihat secara nyata dengan standar kerja yang

telah ditetapkan alam suatu organisasi. Robbins (2008) mendefinisikan bahwa

kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut

kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.

Kinerja ialah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai

oleh seorang pegawai dalam melakukan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang

diberikan kepadanya (Mangkunegara 2005:67). Sedangkan Rivai (2009:532)

mengungkapkan bahwa kinerja diartikan kesediaan seseorang atau kelompok orang

untuk melakukan suatu kegiatan, dan menyempurnakannya sesuai tanggung

jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.

Berdasarkan pengertian kinerja diatas dan beberapa pendapat maka dapat


disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja baik itu secara kualitas maupun

kuantitas yang telah dicapai oleh pegawai, dalam menjalankan tugasnya sesuai

dengan tanggung jawab yang telah diberikan organisasi dimana hasil kerjanya

tersebut akan disesuaikan dengan hasil kerja yang diharapkan oleh

organisasi,melalui kriteria atau standar kinerja pegawai yang berlaku dalam

organisasi. Sedangkan tujuan kinerja pegawai menurut Rivai (2009:549):

a. Adanya perbaikan hasil kinerja pegawai, baik secara kualitas ataupun

kuantitas.

b. Dapat memberikan pengetahuan baru dimana akan membantu pegawai

dalam memecahan masalah yang kompleks yang ada dengan serangkaian

aktifitas yang terbatas dan teratur, melalui tugas sesuai tanggung jawab

yang diberikan organisasi.

c. Memperbaiki hubungan antara pegawaidalam aktifitas kerja di suatu

organisasi

Kinerja pegawai dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor (Gibson, et

all,1995:375), antara lain:

a. Faktor individu

kemampuan dan keterampilan (mental dan fisik), latar belakang

(pengalaman, keluarga, dst), dan demografis (umur, asal usul,dll).

b. Faktor organisasi

sumber daya, kepemimpinan, imbalan (kompensasi), struktur organisasi,

dan diskripsi pekerjaan (job description).


c. Faktor psikologis

persepsi, sikap, kepribadian, pola belajar,dan motivasi.

Suatu organisasi pegawai akan dituntut untuk dapat mampu menunjukkan

kinerja yang produktifdan baik, untuk itu pegawai harus memiliki ciri individu

yang produktif. menurut Sedarmayanti (2001:51) Adapun ciri-ciri atau

karakteristik dari individu yang produktif antara lain:

1. Adanya kepercayaan diri

2. Memiliki rasa tanggung jawab

3. Tingginya rasa cinta terhadap pekerjaan

4. Pandangan kedepan

5. Dapat dan mampu menyelesaikan persoalan

6. Penyesuaian diri terhadap lingkungan yang berubah

7. Memberi kontribusi yang positif terhadap lingkungan yang ada

8. Kekuatan untuk menunjukkan potensidiri yang dimiliki.

E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilakukan pada saat

ini adalah sebagai berikut:


Tabel 1. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Judul Penelitian Judul Penelitian Hasil penelitian

1. Suci Musdalifa (2008) Pengaruh kepuasan Kepuasan kinerja guru

kerja tyerhadap baik sehingga mencapai

kinerja guru pada 78%

SMA AlHuda .

Pekan Baru.

2. Khusnul Khotimah Pengaruh Kreativitas guru dalam

(2007) Kreativitas Guru proses belajar mengajar

dalam Proses sebyk 13.84%.

Belajar Mengajar

Rodi Efendi (2019) Sertifikasi Guru Sementara penelitian

3. terhadap Kinerja

Guru
F. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.2. Kerangka Konseptual Penelitian

PENINGKATAN KINERJA
SERTIFIKASI GURU

Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi
Peningkatan Kinerja
Peraturan Menteri Sertifikasi Guru berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan Teori Pendukung
Pendidikan Nomor 18 Nomor 18 Tahun 2007 tentang
1. Teori kebijakan
Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam
Publik.
Jabatan di SMA Negeri I
Sertifikasi Bagi Guru 2. Teori
Sangatta Utara Kecamatan
Sangatta Utara Kabupaten Implementasi
dalam Jabatan 3. Aset Tanah
Kutai Timur ?
2. Faktor-faktor penghambat dan 4. Aset Tana Daerah
pendukung apa saja dalam
pelaksanaan Peningkatan Kinerja
Sertifikasi Guru di SMA
Negeri I Sangatta Utara
Kecamatan Sangatta Utara
Kabupaten Kutai Timur ?

HASIL
PENINGKATAN KINERJA
GURU
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian metode kualitatif, yaitu

penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme dimana kebenaran

sesuai dengan hakekat obyek, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek

yang alamiah, di mana peneliti sebagai instrumen kunci dan hasil penelitian

lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono,2007 : 15)

Menurut batasan yang disampaikan Sugiyono di atas, penelitian kualitatif

memiliki lima macam karakter yaitu:

a. Mempunyai setting yang alamiah, maksudnya penelitian dilakukan dalam

situasi yang wajar dan realistis dari fenomena yang nyata, setting alamiah

merupakan sumber data, peneliti sendiri bertindak sebagai instrumen

penelitian.

b. Data yang dikumpulkan dalam bentuk kalimat, gambar dan lainnya yang

berisi deskripsi, transkrip, interview, catatan di kancah penelitian dan lain-

lain.

c. Peneliti-peneliti kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil,

karena penelitian ini menggunakan pernyataan bagaimana sehingga


jawabannya adalah proses sesuatu diteliti . Anlisis yang digunakan adalah

analisis induktif analisis ini dilakukan secara bottom-up.

B. Fokus Penelitian

Didalam suatu penelitian fokus penelitian merupakan suatu hal yang

sangat penting karena berkaitan pada pengumpulan data di lapangan. Fokus

penelitian ini juga bertujuan agar peneliti dapat menentukan batas penelitian

nya pada saat di lapangan dan mempertajam serta memperjelasa focus

pembahasan. Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin peneliti capai ,

maka focus masalah dalam penelitian adalah :

1. Implementasi Peningkatan Kinerja Sertifikasi Guru berdasarkan Peraturan

Menteri Pendidikan Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru

dalam Jabatan di SMA Negeri I Sangatta Utara Kecamatan Sangatta Utara

Kabupaten Kutai Timur

2. Faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam Pelaksanaan Peningkatan

Kinerja Sertifikasi Guru di SMA Negeri I Sangatta Utara Kecamatan

Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur .

C. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri I Sangatta Utara Kecamatan

Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur .


D. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data pada penelitian ini dapat menggunakan sumber

data primer dan sekunder dengan cara pengumpulan data. Dimana data primer

yang dimaksud adalah jenis data tentang gambaran pengelolaan yang dialami

oleh subyek selanjutnya data diperoleh, diolah, dan disajikan oleh peneliti dari

sumber utama. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh,

diolah, dan disajikan oleh pihak lain dan biasanya dalam bentuk publikasi atau

jurnal dan menjadi data penunjang atau sebagai data pelengkap.

Dalam penelitian kaulitatif sumber data utama ialah berupa kata-kata

dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Dalam ini peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur untuk mendapatkan

yang diinginkan dengan banyaknya informan pilihan sebagai sumber data yaitu

dengan menggunakan metode purposive sampling atau disebut juga dengan

pengambilan subjek bukan didasarkan atas strata tetapi didasarkan atas adanya

tujuan tertentu. Tahapan prosedurnya ialah dengan mempertimbangankan siapa

yang dipandang paling mengetahui terhadap masalah yang sedang dikaji.

(lofland dalam Lexy J. Moleong)

A. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini

adalah peneliti sendiri dimana pada Tahap awal yang di lakukan adalah
dengan menyusun instrumen, kertas kerja penelitian dan interview guide yang

digunakan sebagai sarana penjaring data primer pada hasil dari indepth

interview kepada informan dengan menggunakan pedoman wawancara,

dukumentasi dan observasi.

E. Informan Penelitian

Informan Penelitian adalah orang yang akan memberikan informasi di

lapangan terkait data yang akan dibutuhkan pada saat di lapangan. Informan

penelitian adalah orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan

di teliti sebagai berikut :

a. Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Kutai Timur

b. Kepala Sekolah SMA Negeri I Sangatta Utara

c. Guru SMA Negeri I Sangatta Utara

d. Murid SMA 1 Sangatta Utara

F. Teknik Pengumpulan Data

Didalam suatu penelitian ilmiah prosedur pengumpulan data adalah suatu

yang sangat penting untuk mendapatkan data yang valid dan benar dalam rangka

menjawab semua persoalan yang terkait dengan masalah penelitian yang

dilakukan oleh peneliti. Oleh karena itulah proses pengumpulan data ini

merupakan hal yang sangat esensial yang dilakukan oleh peneliti karena

pengumpulan data dalam penelitian kualitatif instrumen utama adalah peneliti


sendiri (Human Instruman). Adapun dalam penelitian pengumpulan data

menggunakan tiga metode yaitu:

1. Observasi

Metode pengumpulan data dengan cara observasi yang dilakukan

dengan cara sistematis dengan cara mengadakan pengamatan langsung

terhadap objek yang akan diamati. Dalam redaksi lain juga menyebutkan

bahwa pengamatan merupakan teknik pengumpulan data yang

mengharuskan peneliti turun kelapangan mengamati hal-hal yang berkaitan

dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa,

tujuan Metode ini sangat penting dilakukan guna memberi hasil yang

objektif dari penelitian kualitatif dalam melakukan observasi, peneliti

merekam dengan cara semi struktur dengan mengajukan beberapa

pertanyaan yang diketahui oleh peneliti kepada informan mengenai objek

penelitian. Peneliti juga mencatat aktivitas-aktivitas dan hal-hal lain yang

berhubungan dengan objek penelitian dilokasi penelitian.

Peneliti akan berbaur langsung dengan objek yang akan diteliti

sebagai sumber data, hal ini dimaksudkan agar peneliti bisa mendapatkan

data yang valid, lengkap dan tajam. Sehingga peneliti bisa sampai

mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Oleh

sebab itu peneliti dalam melakukan pengumpulan data suasananya akan

terlihat alami ini disebut juga dengan metode observasi partisipatif.


2. Wawancara

Wawancara merupakan percakapan dengan adanya maksud tertentu

dengan kata lain wawancara merupakan alat pengumpul informasi dengan

cara mengajukan sejumlah pernyataan yang telah dibuat peneliti secara

lisan untuk dijawab secara lisan juga.Dalam pene litian ini penulis

menggunakan metode interview bebas terpimpin artinya peneliti dalam

melakukan interview membawa pedoman yang berisi hal yang akan

ditanyakan sehingga wawancara tersebut tidak menyimpang dari tujuan

semula dan data yang diinginkan oleh peneliti dapat diperoleh dari sumber

yang ada. Metodewawancaraini sengaja peneliti gunakan untuk

memperoleh data tentang;

a. Kualitas Kinerja , Ketepatan Waktu dan Komunikasi, data dokumentasi

yang relevan dengan fokus penelitian.

b. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini ialah

wawancara mendalam (indepth interview) dimana suatu proses untuk

memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya

jawab secara bertatap muka dengan informan yang diwawancarai.

Dengan metode ini peneliti akan memperoleh gambaran lengkap

mengenai pendapat, pengalaman ,ekspresi, emosi, perasaan,dan lain-

lain tentang topik yang sedang diteliti. Kelengkapan data dan akurasi
data yang diperoleh dalam wawancara sangat tergantung pada teknik,

kemampuan, dan penguasaan si peneliti.Oleh karena itu, peneliti harus

mempersiapkan dengan baik sebelum terjun ke lapangan. Dalam teknik

wawancara ini, peneliti melakukan langkah sebagai berikut:

a. Menetapkan informan yang akan digunakan dalam penelitian.

b. Menyiapkan pokok masalah sebagai bahan wawancara

c. Melakukan wawancara kepada Informan yan telah dipilih

d. Mengkonfirmasikan kesimpulan hasil wawancara

e. Menulis hasil wawancara yang telah dilakukan

f. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

dari informan.

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi ialah proses mencari data mengenai hal-hal atau

variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

notulen rapat, agenda, dan lain sebagainya. . Sedangkan Arikunto

mengatakan bahwa metode dokumentasi dengan proses mengumpulkan

data yang terkait dengan fokus penelitian yang berasal dari sumber

utamanya atau objek penelitian. Penggunaan dokumen merupakan salah

satu teknik pengumpulan data yang bersumber dari non-manusia atau


benda mati yang sudah ada, sehingga peneliti tinggal memanfaatkannya

untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil wawancara dan

observasi.

G. Teknik Analisis Data

Teknik Analisis data adalah salah satu rangkaian dasar yang dikerjakan setelah

peneliti memperoleh data berupa informasi penting melalui beberapa teknik

pengumpulan data yang dijelaskan diatas, hal ini dilakukan untuk menyempitkan

dan membatasi adanya temuan sehingga menjadi suatu data yang teratur dan akurat

seperti yang dikemukakan oleh bagdam dan biklen didalam buku penelitian

kualitatif yaitu teknik analisis data merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan

bekerja dengan menggunakan data, milahnya menjadi satuan yang penting dan apa

yang dipelajari dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain. Penelitian

ini memakai pendekatan kualitatif dengan mengunakan teknik analisis deskriptif.

Menurut Moh. Nazir , Pendekatan kualitatif ialah suatu metode dalam meniliti

status, kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran

ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

Pada umumnya Format penelitian deskriptif kualitatif dilakukan pada penelitian

dalam bentuk studi kasus.Format deskriptif kualitatif studi kasus tidak memiliki ciri

seperti air (menyebar dipermukaan), tetapi memusatkan diri pada satu unit tertentu

dari berbagai fenomena yang ada.Dari ciri yang demikian memungkinkan studi ini
dapat amat mendalam dan demikian kedalaman data yang menjadi

pertimbangan.Penelitian bersifat mendalam dan menusuk sasaran penelitian

tentunnya untuk mencapai maksud ini peneliti membutuhkan waktu yang relatif

lama. Analsis data dalam penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki

lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai dilapangan. Setelah data yang

dibutuhkan dalam penelitian ini terkumpul, kemudian peneliti mencoba untuk

menganalisis data tersebut. Analisis data diartikan dengan proses

mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian

dasar.

Milles dan Huberman mengatakan bahwa analisis data terdiri dari tiga alur

kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu:

1. Reduksi Data

Bentuk analisis yang manajamkan, menggolongkan, mengarahkan,

membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara

sedemikian rupa hingga kesimpulan akhirnya data ditarik dan diverifikasi.

Dimana data yang telah peneliti peroleh mengenai Kinerja pekerja harian

lepas pada Bagian Umum dan Kepegawaian Sekretariat Kabupaten Kutai

Timur berupa wawancara, catatan lapangan, dan kemudian direduksi apabila

memiliki kesamaan data. Dengan demikian data tersebut dikelompokkan


kemudian disusun secara sistematis sehingga memudahkan bagi peneliti

untuk melanjutkan pada tahap selanjutnya.

2. Penyajian Data

Kegiatan analisis dataselanjutnya adalah penyajian data. menurut Milles

dan Huberman penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang

memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Dari hasil reduksi

data beberapa sumber yang telah penulis peroleh tersebut kemudian peneliti

sajikan dalam bentuk data naratif yang mendeskripsikan mengenai Kinerja

Pekerja Harian Lepas pada Bagian Umum dan KepegawaianSekretariat

kabupaten Kutai Timur.

3. Kesimpulan/Verifikasi Data

Tahap Analisis data selanjutnya adalah kesimpulan atau verifikasi data,

Milles dan Huberman mengatakan bahwa verifikasi data hanyalah sebagian

dari satu kegitan dari konfigurasi yang utuh.Kesimpulan dalam penelitian

ini tentulah dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang telah

dirumuskan sejak awal.

Dari kesimpulan jenis penelitian diatas maka pada penelitian ini peneliti

menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman untuk menganalisis data

dari hasil penelitian.Aktivitas peneliti dalam analisis data kualitatif dilakukan


secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga

datanya sudah jenuh.

Adapun model interaktif yang dimaksud sebagai berikut:

Gambar 3.2 Komponen – komponen Analisis Data model Interaktif

Pengumpulan
Penyajian data
data

Reduksi data
Kesimpulan
penarikan/verifikasi

Sumber : Miles dan HUberman ( Miles, Huberman dan Saldana ,2014 : 14 )

H. Keabsahan Data

1. Triangulasi data dapat digunakan sebagai Validasi data untuk pengujian

tingkat validasi data yang diperoleh. Menurut Lexy J. Moleong(2007)

triangulasi data merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain. Kemudian Danzim, dalam Moleong,

membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan data

yaitu dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan


teori. Tetapi dalam penelitian ini validasi data penelitian menggunakan

triangulasi sumber yaitu pengujian kredibilitas data dengan cara mengecek

data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber yang berbeda

perpanjangan keikutsertaan.

Peneliti tinggal dilapangan sampai kejenuhan pengumpulan data

tercapai.Peneliti dituntut untuk terjun langsung kelokasi dalam waktu

yang cukup lama dimana ini berguna untuk mendeteksi dan

memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data.Selain hal

tersebut teknik ini juga bermanfaat untuk membangun kepercayaan para

subjek terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.

2. Ketekunan Pengamatan

Mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam

kaitannya dengan proses analisis konstan atau tentative. Ketekunan

pengamatan ini menggunakan seluruh panca indera meliputi pendengaran

,penglihatan, dan insting peneliti sehingga dapat meningkatkan derajat

keabsahan data.

3. Triangulasi

Triangulasi sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori menurut Denzin ( Moleong,

2007:178 ). Triangulasi dengan memanfaatkan peneliti untuk mengecek


kembali derajat kepercayaan data. Hal ini dilakukan peneliti dengan

mengkonsultasikan hasil penelitian kepada dosen pembimbing .

Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data hasil

wawancara dengan pengamatan yang dilakukan ,apa yang dikatakan dengan

situasi penelitian sepanjang waktu. Pandangan dan perspektif seseorang

dengan berbagai pendapat serta membandingkan hasil wawancara dengan

dokumentasi yang terkait.

Triangulasi dengan metode dilakukan untuk pengecekan terhadap

penggunaan metode pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara

dan dokumentasi.Triangulasi dengan teori dilakukan dengan mengurai

hubungan, pola dan menyertakan penjelasan yang muncul dari analisis

untuk mencari penjelasan pembanding.


PENINGKATAN KINERJA SERTIFIKASI GURU
(Studi Implementasi Kebijakan Menteri Pendidikan Nomor 18 Tahun 2007
tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan di SMA Negeri I Sangatta Utara
Kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur)

PROPOSAL TESIS

Oleh :
NAMA :RODI EFENDI
NPM : 18072000034

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MERDEKA MALANG
TAHUN 2019
PENGADAAN LANGSUNG BELANJA HIBAH
(Studi Implementasi Kebijakan Peraturan Bupati Nomor 46 Tahun 2011
tentang Tata Cara Penganggaran, Penatausahaan, Pelaporan,
Pertanggungjawaban, monitoringdan Evaluasi Hiba dan bantuan Sosial di
Bagian SetKab Kabupaten Kutai Timur)

PROPOSAL TESIS

Oleh :
NAMA :TAUFIK RIFA’I
NPM : 18072000050

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MERDEKA MALANG
TAHUN 2019
DAFTAR PUSTAKA

Denidya Damay, Panduan sukses sertifikasi Guru, Yogyakarta : Araska, 2012 Hal.31

Syafaruddin, Efektifitas kebijakan pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2008

Anwar Arifin, Profil Baru Guru dan Dosen Indonesia, Jakarta: Pustaka Indonesia 2007
hal.46

Jatmikowati (2016: 8) kebijakan publik,

J.B Situmoorang, Winano, Pendidikan Profesi dan Sertifikakasi Pendidik,

Klaten : Saka Mitra Kompetensi, 2008.


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL............................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………….…… 1

A. Latar Belakang………………………………………………….……. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................. 5

C. Tujuan Penelitian……………………………………………….…….. 5

D. Manfaat Penelitian…………………………………….…….……… 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………….……... 8

A. Landasan Teori………………………………………………..…….. 8

1. Pengertian Kebijakan Publik……………………………………... 8

2. Konsep Implementasi Kebijakan ……………………………… 11

3. Teori Pelayanan Publik…………………………………………... 14

B. Sertifikasi Guru……………………………………………..….….. 18

C. Tes Kinerja………………………...…………………………….…. 20

D. Kinerja……………………...………………………………….…… 20
E. Penelitian Tredahulu Yang Relevan…………………………………………… 23

F. Kerangka Konsep Penelitian………………………………………………….. 25

BAB III METODE PENELITIAN.……………………………….….……. 25

A. Rancangan Penelitian…………………………………………….…….... 25

B. Fokus Penelitian………………………………………………….….….. 27

C. Lokasi Penelitian…………………………………………………............ 27

D.Jenis Data dan sumber Data .…………………………………..……….. 28

E. Instrumen Penelitian………...…………………………………............... 29

F. Informan Penelitian……...……………………………………….……… 44

G.Teknik Pengumpulan Data..................................................................... 29

H. Tehnik Analisis Data…………………………………………………… 33

H.Keabsahan Data…………………………………………….………....... 36

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 37