Anda di halaman 1dari 4

ANTROPOLOGI VISUAL

RANGKUMAN ARTIKEL

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Antropologi Visual yang diampu oleh:

Dr. Deni Hermawan, M.A


Dr. Sukmawati Saleh, M.Sc.

Disusun oleh:

Muhammad Haris Muslim


NIM: 193232030

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA


FAKULTAS BUDAYA DAN MEDIA
INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA – BANDUNG
2020
The Art of Seeing: Visual Anthropology as a Road into Experience
By: Luci Fernandes

Artikel yang dalam bahasa Indonesia bertajuk “Seni Melihat: Antropologi Visual sebagai Jalan
menuju Pengalaman” dipublikasikan oleh Community Works Journal dalam Journal of
Folklore and Education (2015: Vol. 2) yang dapat diakses melalui laman
www.communityworksjournal.org. Artikel ini memuat pengalaman Luci Fernandes dalam
meneliti kebudayaan masyarakat Ekuador dan Kuba melalui media visual.

Luci Fernandes, PhD. adalah seorang antropolog budaya yang fokus


mendokumentasikan kehidupan sehari-hari melalui media audio visual. Dia berasosiasi dengan
profesor antropologi budaya di Georgia Gwinnett College dan merupakan kontributor reguler
untuk Community Works Journal.

Menurut Luci, antropologi visual didasarkan pada keyakinan bahwa budaya dapat
dipahami dan diwakili melalui simbol-simbol visual yang mereka gunakan, berdasaran analisis
yang berasal dari partisipasi jangka panjang / pengamatan masyarakat.

Fotografi etnografis atau etno-fotografi menggunakan fotografi untuk mempelajari


tradisi, adat istiadat, kehidupan sehari-hari, upacara adat, dan masyarakat dari berbagai budaya.
Etno-fotografi sudah dipergunakan sejak tahun 1890-an. Franz Boas, kemudian Margaret Mead
dan Gregory Bateson, mereka mendorong penggunaan fotografi agar menjadi lebih baik.
Banyak pekerja lapangan antropologi telah menghasilkan beragam foto tentang masyarakat
yang mereka pelajari, tetapi mereka seringkali tidak mencantumkannya dalam penelitian
mereka. Foto-foto yang ditangkap di lapangan, seperti catatan lapangan, membantu menyusun
kembali kejadian-kejadian dalam ingatan seorang etongrafer.

Pada 1990-an, eksperimen dengan multimedia –teknologi hypertext, menghasilkan


berbagai pengalaman belajar yang berbeda. Fotografi semakin banyak digunakan untuk
meningkatkan narasi etnografi konvensional.

Foto-foto budaya dan film tampak objektif, tetapi perlu diingat bahwa pengambilan dan
pembuatannya sangatlah subjektif. Gambar yang diambil dan dinarasikan oleh anggota
masyarakat yang diamati sebenarnya merupakan konstruksi ideologis yang membentuk (dan
dibentuk oleh) lingkungan budaya dan sosial. Perlu diingat pula bahwa fotografer dan pembuat
film (meskipun mereka seorang antropolog) mereka menangkap fot-foto atau membuat film
melalui lensa budaya mereka sendiri. Gambar dapat mewujudkan narasi pribadi dan sosial.
Digabungkan dalam proses budaya, mereka dapat memiliki pengaruh yang signifikan pada
sistem sosial-budaya.

Ilustrasi dari Penelitian Fernandes di Ekuador dan Kuba

Ketika menjadi seorang antropolog/etnografer ia menggunakan foto sebagai


dokumentasi. Fernandes mulai menggunakan teknik antropologi visual ketika ia melakukan
penelitian di antara orang India Kichwa di Ekuador. Di sana ia mendokumentasikan projek
pengembangan masyarakat Kallari yang menawarkan opsi ekonomi alternatif bagi orang-orang
yang tinggal di Lembah Amazon.

Pekerjaannya di Kuba telah mengarahkan Fernandes untuk menggunakan teknik


antropologi visual secara luas. Selama 12 tahun terakhir, ia telah tinggal di Kuba selama
beberapa waktu dan melakukan penelitian lapangan Etnografi, mendokumentasikan berbagai
aspek budaya Kuba. Kuba adalah tempat yang merangsang secara visual –yang banyak orang
ketahui hanya dari liputan negatif atau romantis dari media. Fernandes meyakini bahwa akan
lebih mudah untuk menyampaikan kehidupan sehari-hari dalam foto dan video yang
menggambarkan aspek-aspek ini. Kita dapat melihat hal-hal di Kuba yang tidak dapat dilihat
di tempat lain, tidak hanya mobil tahun 1950-an yang diketahui semua orang, juga suasana
jalanan yang ramai, sumber hiburan, musisi jalanan yang menghibur, serta orang-orang yang
kurang beruntung yang mencari nafkah karena kemiskinan yang ekstrem.

Penelitian Fernandes saat ini berfokus pada distribusi sumber daya dan jejaring sosial.
Ia menganalisis bagaimana orang memenuhi kebutuhan meskipun kelangkaan barang serta
pembatasan perdagangan dan bisnis. Ia juga menyelidiki hubungan sosial yang menjamin
alokasi barang dan jasa. Ia bekerja sama dengan seorang rekan dari Universitas Denison, Anita
Waters, mereka menganalisis perwakilan pemerintah dari revolusi Kuba pada tahun 1959,
peringatan serangan terhadap Barak Moncada pada tahun 1953, dan rekaman tampilan sejarah
melalui pameran museum dan monumen. Untuk penelitian ini, mereka mengambil lebih dari
1.000 foto bersama dengan wawancara, rekaman film, dan audio dari para penulis dan
karyawan museum lainnya. Ketika pindah ke Carolina Utara, ia mulai memperlihatkan foto
yang ia ambil di Kuba dalam sebuah pameran. Selain memperlihatkan foto-fotonya, ia juga
ingin murid-muridnya mempelajari fotografi dan videografi sebagai makna dalam memahami
kultur masyarakat yang lebih baik.
Aplikasi Kelas: Strategi Antropoogi Visual untuk Siswa

1. Memperkenalkan siswa ke komunitas yang tidak dikenal melakui foto dan video.
Menurut Fernandes, antropologi visual menawarkan cara yang signifikan untuk
memahami masyarakat dengan lebih baik. Foto memberikan rasa, warna, dan bentuk yang lebih
baik. Video menambah gerakan dan suara yang membuat penonton dapat terbawa suasana.
Mungkin melihat gambar menciptakan empati yang lebih besar: pemahaman yang lebih baik
diperoleh pada tingkat yang lebih dalam.
2. Mendorong siswa menggunakan foto dalam wawancara untuk memperoleh reaksi
dan informasi dari anggota komunitas.
Kedua penelitiannya di Ekuador dan Kuba, Fernandes menggunakan foto yang ia ambil
untuk mendapatkan reaksi atau informasi dari para partisipan; foto-foto membantu membuka
dialog antara peneliti dan orang-orang yang diwawancarai. Orang-orang memberi respons yang
berbeda dalam wawancara menggunakan media gambar dan teks dari pada hanya wawancara
dalam menggunakan kata saja. Gambar membangkitkan unsur-unsur kesadaran manusia yang
lebih dalam sehingga wawancara foto menarik jenis informasi yang berbeda, mungkin lebih
dalam, tentu saja lebih menarik daripada wawancara biasa.
3. Memungkinkan siswa untuk mengalihkan kamera ke anggota komunitas sehingga
dapat “berbicara dengan suara mereka sendiri” melalui foto.
Proses etnografi visual yang lain adalah memungkinkan partisipan untuk berbicara
dengan suara mereka sendiri melalui foto yang mereka ambil sendiri. Fernandes memberi
mereka kamera dan meminta mereka untuk mengambil gambar. Mereka menggambarkan apa
yang harus difoto dan mengapa mereka harus mengambil foto tertentu. Teknik foto-suara ini
memberi partisipan sarana untuk mengidentifikasi apa yang penting bagi mereka. Teknik ini
juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah sosial atau topik yang perlu dibahas di
komunitas.
4. Mengajari siswa untuk memasukkan kepemilikan multimedia dalam penyelidikan
mereka terhadap komunitas.
Sebagai seorang Antropolog, Fernandes ingin membuat disiplin ilmunya lebih mudah
diakses oleh siswa dari berbagai disiplin ilmu di bidang humaniora, ilmu sosial, ilmu alam, dan
seni rupa. Sebagai seorang guru, ia pikir siswa memerlukan pengalaman etnografi langsung,
bukan hanya membaca tentang apa yang telah dilakukan para antropolog. Sedangkan bagi
dirinya, ia berharap bahwa disiplin ilmunya lebih pada pencitraan nilai dalam proses penelitian
dan lebih banyak antropolog memasukkannya dalam penelitian mereka.