Anda di halaman 1dari 59

TINJAUAN PUSTAKA

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA SEBUAH


ANALISIS GEN RESEPTOR SEROTONIN
PADA PELAKU KDRT DI BALI

LELY SETYAWATI KURNIAWAN

UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
TINJAUAN PUSTAKA
MODEL KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
BERDASARKAN ANALISIS GEN RESEPTOR
SEROTONIN PADA PELAKU KDRTDI BALI

I. Kekerasan dalam Rumah Tangga

1.1. Pengertian Kekerasan secara Umum

Tindak kekerasan sering dikaitkan dengan perilaku agresi atau agresivitas

seseorang.Agresi sendiri didefinisikansebagai setiap tindakan yang menyakiti atau

melukai orang lain. Termasuk di sini adalah ancaman dan niat untuk menyakiti

seseorang, meskipun belum sampai dilakukan, tetapi paling tidak sudah membuat

korban mengalami ketakutan (Taylor, et al. 2009).

Agresivitas yang dilakukan manusia seringkali diidentikkan dengan

perilaku agresif pada hewan. Ada berbagai tipe perilaku agresif pada hewan

mamalia, yaitu sebagai upaya mencari makan (predatory), mempertahankan diri

(defensive), mempertahankan wilayah teritorial, hubungan dengan dominansi,

persaingan seksual, usaha mendapatkan hubungan seksual, melindungi / menjaga

pasangan, perlindungan ibu terhadap anaknya (maternal) dan pembunuhan bayi

(infanticide). Perilaku tindak kekerasan pada manusia sebagian atau seluruhnya

seringkali juga memiliki alasan seperti yang disebutkan di atas, meskipun

sebenarnya manusia memiliki rasio perbandingan otak dan tubuh yang jauh lebih

tinggi dibandingkan semua mamalia yang ada, demikian juga otak manusia

memiliki tingkat perkembangan isocortex yang lebih tinggi dari tingkat

sebelumnya (allocortex) yang akan membuat manusia memiliki perencanaan

jangka panjang dan emosi sekunder (Victoroff, 2009).


1
Banyak psikolog sosial memakai sudut pandang sosiobiologi, paling tidak

untuk menjelaskan agresi manusia.Agresi manusia lebih kompleks, bentuknya

berbeda dengan agresi hewan dan sering terjadi dalam konteks sosial yang

berbeda, serta diatur oleh norma-norma sosial (Taylor, et al, 2009). Variasi

kultural pada manusia akan membuat mereka mempertimbangkan berbagai sangsi

sosial, budaya tabu dan berbagai hukuman jika melakukan tindakan agresif

(Victoroff, 2009).

1.2. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga

Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga atau KDRT, sebagaimana

dikemukakan dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan

Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap

seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau

penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga

termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan

kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. UU PKDRT

ini lahir melalui perjuangan panjang selama lebih kurang tujuh tahun yang

dilakukan para aktivis gerakan perempuan dari berbagi elemen(UU PKDRT,

2004).Saat ini tindakan KDRT bukan lagi monopoli laki-laki, karena ternyata

terdapat cukup banyak perempuan yang melakukan tindak kekerasan termasuk

KDRT tersebut.

Farrell menyatakan bahwa seorang anak yang menyaksikan tindak

kekerasan yang terjadi di rumahnya, berisiko menjadi pelaku tindak kekerasan

saat dewasa.Beberapa faktor risiko budaya yang mempengaruhi terjadinya tindak

kekerasan yang dilakukan oleh manusia dapat dilihat dalam tabel 2.1.
2
Tabel 2.1: Karakteristik neuropsikologik pelaku tindak kekerasan (abusers)

 Menyaksikan tindak kekerasan yang terjadi di rumahnya saat kanak-


kanak
 Tipe kepribadian: dependent, tidak asertif, kurang rasa percaya diri,
perasaan tidak adekuat
 Cemburu patologis
 Penyalahguna alkohol atau zat
 Perhatian berlebihan terhadap penampilan luar
 Sikap merendahkan wanita
 Tidak dapat memecahkan konflik dengan mekanisme yang matur.

Farrell (2011).

Elizabeth Hurlock menyatakan bahwa sebuah rumah tangga atau keluarga

terdiri beberapa anggota yang berhubungan dan membentuk sebuah sistem.Skema

di bawah ini untuk menunjukkan sistem hubungan dalam suatu keluarga

dipengaruhi oleh banyaknya anggota keluarga tersebut. Keluarga dengan satu

anak hanya memiliki tiga sistem interaksi, sedangkan keluarga dengan tiga anak

akan memiliki 10 sistem. Masyarakat yang tinggal dalam extended family

memiliki sistem hubungan keluarga yang semakin kompleks dan rumit (Hurlock,

2005).

Ayah

Ibu Anak

Gambar 2.1 Hubungan interaksi keluarga dengan 1 orang anak.

3
Ayah

Ibu Anak 1

Anak 3 Anak 2

Gambar 2.2 Hubungan interaksi keluarga dengan 3 orang anak.

Di masa yang akan datang perlu dipikirkan untukmembuat sebuat aplikasi

dipemeriksaan sesuai dengan evidence base yang ada, karena sering terjadi pada

para korban, nantinya mereka justru akan berubah menjadi pelaku, sehingga

kasus-kasus KDRT akan bergeser, tidak seperti biasanya. Penulisan laporan

forensik membutuhkan ketrampilan tersendiri, mengingat pentingnya beberapa

istilah menyangkut para korban, saksi dan pelaku (Poirier, 2008).

Pengertian lain tentang KDRT adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh

salah satu anggota keluarga terhadap anggota lainnya. Bentuk yang paling sering

dijumpai dalam KDRT adalah penganiayaan orang-tua terhadap anak,

penganiayaan suami terhadap istri, atau sebaliknya istri terhadap suami dan anak

terhadap orang-tuanya, serta penelantaran yang dilakukan oleh kepala rumah

tangga terhadap seluruh anggota keluarganya.

Jenis tindak kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dapat berupa

kekerasan fisik, psikis/emosional dan seksual.Kekerasan fisik misalnya dipukul,

ditendang, ditampar dan sebagainya, yang mengakibatkan luka, rasa sakit, cacad

serta dapat mengakibatkan kematian.Kekerasan psikis/emosional adalah tindakan

penyiksaan secara verbal, seperti menghina, berkata kasar dan kotor, yang
4
mengakibatkan ketakutan, menurunnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan

untuk bertindak, dan sebagainya.Ironisnya kekerasan psikis yang sering terjadi

selain mengakibatkan dendam mendalam, juga dapat mengakibatkan korban

makin tergantung kepada pelaku meskipun pelaku telah membuatnya menderita

(P2TP2A Propinsi Bali, 2010).

Selama ini KDRT dikelompokkan ke dalam delik aduan, padahal apabila

kita melihat KUHP pasal 351 (tentang penganiayaan fisik) dan pasal 356 KUHP

(tentang pemberatan) sama sekali tidak mensyaratkan suatu delik aduan.

Masyarakat dan aparat penegak hukum selalu menganggap kasus kekerasan yang

menimpa seorang anggota keluarga adalah delik aduan, padahal sebenarnya kasus

tersebut adalah kasus kriminal murni. Akibatnya polisi selaku penyidik akan

menghentikan penyidikan kasus tersebut begitu permasalahan KDRT yang telah

dilaporkan dicabut kembali oleh pelapor (Reynata, 2003).

Sejak diluncurkannya UU PKDRT tahun 2004, Komnas Perempuan

mencatat pada tahun 2005 terdapat 20.391 kasus KDRT, angka ini terus

meningkat 60 – 70% setiap tahunnya. Kekerasan dalam ranah negara meningkat

delapan kali lipat.Jumlah kejadiannya mencapai 3 juta kasus, dan data ini terus

meningkat setiap tahunnya.

Alison Karaszmeneliti kerentanan pada wanita imigran yang telah

menikah, dibandingkan dengan penduduk asli.Terdapat hubungan sebab akibat

antara perkawinan, kesehatan mental dan munculnya suatu penyakit baik fisik

maupun mental. Model sociomatic menghubungkan keterkaitan antara ketegangan

dan kekerasan dalam rumah tangga, serta peranan stres sosial yang akan

mempengaruhi konsep-konsep tradisional dan humoral oleh model biomedis

(Karasz, 2005).
5
1.3. Bentuk-bentuk Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Setidaknya ada empat jenis tindak kekerasan yang sering terjadi di dalam

rumah tangga, yaitu tindak kekerasan fisik, seksual, emosional dan penelantaran

(UU PKDRT, 2004). Keempat kekerasan itu tidak mungkin berdiri sendiri-sendiri,

biasanya seseorang akan mengalami sekaligus dua atau tiga jenis kekerasan

sekaligus, misalnya saat terjadi tindak kekerasan seksual, biasanya korban juga

memperoleh kekerasan fisik, disertai dengan berbagai ancaman verbal.

Bahasa merupakan bentuk tindak kekerasan yang aneh yang digolongkan

ke dalam suatu tipe baru agresifitas. Agresi verbal akan menjadi lebih kompleks

dan merupakan ancaman tersendiri bagi korbannya. Bentuknya barangkali hanya

sekedar komunikasi pendek, tetapi memberi dampak jangka panjang,

menimbulkan kemarahan, pertengkaran dan perkelahian.

Agresi verbal berkorelasi dengan dampak kejiwaan yang sedang sampai

besar, dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan dari menyaksikan

kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual nonfamilial, serta lebih

besar dari orang-orang yang mengalami kekerasan fisik dalam keluarga. Paparan

terhadap berbagai bentuk penganiayaan memberikan dampak yang sering lebih

besar dibandingkan dengan akumulasi per komponen kekerasan. Paparan

gabungan antara kekerasan verbal dan menyaksikan kekerasan dalam rumah

tangga berefek negatif lebih besar daripada paparan terhadap pelecehan seksual

dalam keluarga.

II. Epidemiologi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Satu dari empat keluarga Di Amerika Serikat mengalami

KDRT.Kekerasan dalam keluarga dan masyarakat merupakan permasalahan yang


6
serius di Michigan. Dalam satu dekade terakhir terdapat peningkatan jumlah orang

yang melakukan tindak kriminal dan kekerasan, yaitu sebesar 83% pada orang

dewasa dan 50% untuk para pemuda. Data kepolisian mengungkap bahwa

duapertiga dari kasus-kasus pembunuhan ternyata melibatkan anggota keluarga,

teman-teman dan kenalan pelaku.Kekerasan merampas kesempatan orang-orang

muda, menghancurkan kapasitas pengasuh mereka, dan menciptakan masyarakat

yang penuh dengan kejahatan (Lerner, 1995). Banyak anak-anak dan pemuda

memilih untuk menggunakan senjata dan perilaku kekerasan sebagai cara untuk

memperoleh penghargaan. Kekerasan tampaknya telah diterima sebagai bagian

dari kehidupan hari ini (Blume and Stovall, 1996).

Di Bali laporan kasus KDRT yang tercatat pada Biro Pemberdayaan dan

Perlindungan Perempuan (BP3A) tampaknya masih sangat kecil, dengan kisaran

angka kejadian 600 – 750 kasus per tahunnya, artinya angka prevalensi kasus

KDRT tak lebih dari 0,03% (P2TP2A, 2014). Akan tetapi insiden kasus KDRT

yang begitu kecil di suatu wilayah tak dapat dipakai sebagai acuan untuk

menggambarkan besarnya permasalahan KDRT di sana karena adanya fenomena

gunung es (Delville, et al. 2006).

III. Etiologi Tindak Kekerasan

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan tentang akar tindak

kekerasan.Freud berasumsi bahwa manusia memiliki naluri untuk bertindak

agresif. Menurut teori instink kematian (thanatos) yang digagasnya, agresi

mungkin diarahkan pada diri sendiri atau orang lain. Meskipun Freud mengakui

bahwa agresi dapat dikontrol, dia berpendapat bahwa agresi tidak dapat

dieliminasi, karena agresi adalah sifat alamiah manusia(Freud, 2002).


7
Perilaku agresif dapat disebabkan oleh berbagai rasa nyeri yang muncul

dalam berbagai situasi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Frans de Wall

terungkap setiap kali salah satu dari tikus terinduksi oleh nyeri elektrik, dia akan

marah dan mulai menyerang, menggigit serta melukai tikus-tikus lain yang ada di

dekatnya. Hal ini terjadi dan berulang setiap kali rasa nyeri tersebut

dirasakannya.Perilaku tikus yang tersakiti ini ternyata memicu terjadinya tindakan

agresif dari tikus-tikus lainnya yang ada dalam kandang tersebut.Akibatnya

terjadilah kekacauan di dalam kandang mereka (Wall, 2002).

Perilaku kekerasan juga terjadi karena pengaruh neurochemical transmitter

yang terlibat, yaitu meliputi Serotonin (5-HT), acetylcholine (Ach), Gama

aminobutyric acid (GABA), noradrenaline (NA) dan dopamine. Rendahnya

Serotonin dan GABA berkorelasi dengan tindakan aggresi dan impulsif (Farrell,

2011).Penelitian tentang perilaku agresif pada hewan dan manusia secara

signifikan berhubungan dengan penurunan aktivitas sentral Serotonin.Kelompok

ini seringkali memiliki gangguan jiwa berat sebelumnya, dengan ciri / gangguan

kepribadian antisosial dan psikopatologi tertentu (Stahl, 2000).

Pasien yang mengalami Stres Pasca Trauma (Post Traumatic Stress

Disorder atau PTSD) ternyata memiliki volume hipokampus dan volume frontal

yang lebih kecil, demikian juga terjadi pengurangan volume cingulated, caudatus

dan insula.Melalui pemeriksaan Fungsional Imaging tampak peningkatan aktivitas

di amygdala, ventromedial prefrontalcortex (vmPFC) dan dorsal anterior

cingulate cortex (dACC) seperti halnya pada hipokampus dan insular cortex. Pada

tahun 2012 penelitian yang dilakukan oleh Pitman et al menunjukkan bahwa

daerah yang paling hiperaktif adalah mid-ACC, dACC dan bilateral amygdala,

sedangkan vmPFC dan inferior frontal gyrus merupakan daerah yang sangat
8
hipoaktif. Demikian juga dibandingkan mereka yang normal, pada mereka yang

mengalami PTSD terjadi reduksi ikatan gen reseptor GABA tipe A pada cortex,

hipokampus dan thalamus (Wilde, et al. 2014).

Selain itu ada pula teori biologi yang menerangkan bahwa agresi fisik

dipengaruhi oleh hormon testosterone serta beberapa faktor biokimia lainnya

seperti neurotransmiter serotonin.Individu yang suka kekerasan diduga memiliki

pola aktivasi otak yang berbeda.Tampaknya ada komponen genetik dalam agresi

manusia, karena tipe perilaku agresi dan antisosial tertentu jelas ada di dalam garis

keturunan suatu keluarga.Orang yang relatif tidak agresif cenderung tetap

demikian, sedangkan mereka yang sangat agresif cenderung tetap agresif sampai

tua.Meskipun ada signifikasi dari dasar genetik dan biokimia dari perilaku agresif,

namun jelas bahwa faktor sosial juga berpengaruh terhadap ekspresi agresi

manusia (Taylor et al, 2009).

IV. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Penelitian yang dilakukan pada orang-orang dewasa yang memiliki

pengalaman kronis verbal abuse dari orang-tua mereka menunjukkan bahwa

terdapat tiga lokasi di otak yang terganggu volumenya berdasarkan pemeriksaan

Diffusion Tension Imaging (DTI) sebagai berikut:

1. Bagian Arcuate fasciculus : berhubungan dengan fungsi berbahasa

2. Bagian Cingulum Bundle : tampak meningkat pada pasien yang

mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), serta berhubungan

dengan gangguan cemas, depresi dan disosiatif.

3. Bagian Fornix : erat kaitannya dengan kecemasan.

9
Tingkatan gangguan aliran normal tersebut berkorelasi dengan beratnya

tindak kekerasan yang terjadi.(Teicher & Samson, 2006). Penemuan ini

membawa harapan baru terhadap orang-orang yang menderita gangguan psikiatri

untuk maju selangkah mengidentifikasi penyebab-penyebab potensial dan

memberi kemungkinan intervensi otak secara individual di masa yang akan

datang.

Kekerasan emosional memiliki pengaruh cukup besar pada iritabilitas

limbik. Subjek yang terpapar kekerasan emosional memiliki iritabilitas limbik

sama tingginya dengan subjek yang terpapar kekerasan fisik ataupun pelecehan

seksual.

Subjek dengan paparan dua kategori kekerasan memiliki skor iritabitalitas

limbik yang lebih tinggi lagi dan Subjek yang melaporkan terpapar ketiga kategori

kekerasan memiliki skor paling tinggi.

V. Pelaku Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Pelaku KDRT bervariasi dari mereka yang masih sangat muda sampai yang

telah berumur, dari mereka yang baru saja menjalani pernikahan sampai mereka

yang telah sangat lama menikah – bahkan memiliki anak dan cucu. Yang banyak

kita amati dari para pelaku KDRT, banyak di antara mereka hanya bengis dan

kasar terhadap pasangan dan anak-anaknya, sementara terhadap keluarga besar

maupun rekan-rekannya mereka justru merupakan sosok panutan. Tabel di bawah

ini dapat menerangkan tiga tipologi pelaku tindak kekerasan yang ada di sekitar

kita.

10
Tabel 2.2 Tipologi pelaku tindak kekerasan

Tipologi pelaku tindak kekerasan Deskripsi

Hanya terhadap keluarga 50% dari semua pelaku


Kekerasan dipicu oleh kesalahan
interpretasi permasalahan2 sosial
Kekerasan terbatas s/d frustasi yang
ektrim
Tidak ada riwayat psikopatologi, catatan
kriminal, gangguan mental berat, atau
penyalahgunaan zat/alkohol
Dysphoric 25% dari semua pelaku
Emosional mudah berubah-ubah
Pengguna zat dan alcohol
Kasar / bengis 25% dari semua pelaku
Memiliki gangguan kepribadian
antisosial dan psikopatologi
Memiliki suatu catatan kriminal
Memiliki gangguan jiwa berat
Pengguna zat dan alcohol
Dikutip dari Farrell, 2011.

Pandangan para ahli tentang gender barangkali perlu kita telaah kembali.

Apabila laki-laki dan wanita berbeda, otaklah penyebabnya, bukan yang lain,

seperti faktor budaya. Para peneliti ilmu kedokteran biologi, terutama penganut

teori Evolusi dari Charles Darwin, banyak yang setuju dengan teori dr.

Brizendine. Misalnya argumentasi bahwa banyak perangai lelaki - perempuan

pada manusia yang mirip dengan perangai jantan – betina pada primata. Bagi

mereka perbedaan ini ditentukan oleh gen yang terdapat di dalam otak.

Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung berpendapat bahwa perbedaan

gender disebabkan oleh naluri / instink yang berada di alam bawah sadar manusia,

oedipus untuk sifat-sifat maskulin dan electra untuk sifat-sifat feminin. Alfred

Bandura, yang dikenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory),

menyatakan bahwa seseorang menjadi maskulin atau feminin karena proses

11
modeling / meniru orang lain. Anak perempuan akan meniru ibunya, sedangkan

anak laki-laki akan meniru ayahnya. Teori Antropologi dan Sosiologi mengacu

kepada kepercayaan dan kesepakatan pembagian peran antara pria dan wanita

dalam suatu masyarakat.

Sandra Bem, psikolog ahli gender mengatakan bahwa pengaruh tehnologi

dan globalisasi membuat pergeseran peran maskulin dan feminin pada pria dan

wanita. Otak perempuan memiliki berbagai kemampuan unik yang menakjubkan,

seperti ketangkasan verbal yang luar biasa, kemampuan untuk menjalin

persahabatan yang mendalam, kemampuan yang nyaris menyerupai peramal

dalam membaca wajah dan nada suara, kemampuan untuk mengenali emosi dan

keadaan pikiran, serta kemampuan untuk meredakan konflik. Sebelum

mengekplorasi efek dari kekerasan, kita perlu mendengar dari korban sendiri apa

yang telah mereka alami. Apa yang mereka lakukan setelah mengalami sejumlah

serangan (Cook, 2013). Hal itu sudah tertata kuat dalam otak

perempuan.Semuanya adalah bakat-bakat yang dimiliki wanita sejak lahir, yang

tidak dimiliki oleh laki-laki.Para ilmuwan belum tahu persis seberapa besar

pengaruh lingkungan luar mengubah otak kita.

Kurang tidur dan serangan-serangan kekerasan seringkali

berhubungan.Rupanya serangan terhadap seorang laki-laki yang teraniaya

merupakan hal yang tidak lazim.Wawancara yang dilakukan oleh Malcolm

George terhadap sejumlah laki-laki korban di Inggris dan mendapatkan bahwa

serangan yang dilakukan saat tidur cukup sering dilaporkan.Seorang laki-laki

melaporkan dirinya terbangun akibat istrinya tiba-tiba meninju kepalanya dengan

keras. Dia mengatakan bermimpi suaminya selingkuh! Sebelumnya seorang

kriminolog Coramae Mann mendapatkan sejumlah wanita yang secara signifikan


12
membunuh pasangannya saat mereka tidak berdaya, termasuk saat sedang

tidur.Seorang suami menceritakan tulang dadanya yang patah akibat dua kali

ditinju oleh istrinya saat sedang tidur.Salah satu tehnik yang banyak dilakukan

untuk menyiksa para narapidana adalah dengan mengurangi tidur mereka.(Cook,

2013).

Penelitian membuktikan, dengan mengurangi waktu tidur mereka, dalam

waktu yang tidak terlalu lama, mereka menjadi disorientasi dan bingung.

Ternyata banyak wanita yang cukup sukses menaklukkan pasangannya dengan

membuat tidur mereka berkurang, dari jumlah ideal 8 jam sehari menjadi hanya 4

jam saja, sehingga suami mereka benar-benar tunduk pada si istri. Meskipun

tubuh si istri mungkin kecil, tampaknya ada pola khusus dari wanita yang kasar

ini, dengan menggunakan berbagai metode untuk menyerang pasangannya.

Salah satu tindakan kejam yang dilakukan seorang laki-laki terhadap

pasangannya adalah dengan menendang perutnya yang sedang hamil.Sebaliknya

secara equivalen wanita pelaku kekerasan juga memiliki banyak taktik untuk

menendang pasangannya ke arah testis mereka. Sejumlah laki-laki korban

kekerasan menceritakan bahwa pasangannya beberapa kali mencoba melakukan

hal tersebut, ataupun sekedar mengancam saja kemudian mengatakan bahwa

mereka bercanda. Hal ini tetap membuat seorang laki-laki menjadi kuatir. Korban

yang lain bahkan menceritakan bahwa istrinya membuat barikade dengan

meletakkan mebel di depan pintu rumah, kemudian memukul dada dan

menendang selakangan suaminya.

Korban yang lain bercerita bahwa istrinya secara fisik menyerang dia,

merampas dan merusak kacamata, menendang testisnya berkali-kali dan sulit

sekali mengendalikan dia. Saat suamiistri tersebut bergulat di tanah, dan posisi
13
istri terjepit, dia akan meminta suami menghentikan perkelahian, tetapi sesaat

setelah suami melepaskannya sang istri tiba-tiba kembali lagi melakukan serangan

yang sama. Tindakan menendang, mencakar, memukul dan melempar benda-

benda sering dilakukan seorang istri (Cook, 2013).

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa insiden kekerasan dalam rumah

tangga padalaki-laki juga terjadi, bahkan biasanya mereka tidah hanya

mendapatkan satu jenis kekerasan namun bahkan beberapa. Sebagai contoh, suatu

ketika seorang laki-laki yang sedang tidur, tiba-tiba dipukul kepalanya dengan

botol bir dan kemudian digigit kakinya. Dalam penelitian terhadap 328 pasangan

yang telah menikah, para peneliti tidak menemukan perbedaan pada kedua jenis

kelamin dalam terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Mereka memukul dan

mengancam, menggunakan pisau atau senjata lainnya.

VI. KDRT dan Gangguan Mental

Survei akhir tahun 2009 yang lalu menyebutkan bahwa penyakit termahal

di dunia saat ini adalah penyakit mental. Selama setahun Amerika Serikat telah

mengeluarkan biaya US$ 142,2 milyar untuk membiayai penyakit mental. Jumlah

ini merupakan pengeluaran terbesar, melampaui pengeluaran untuk pembiayaan

penyakit jantung - yang masih tetap menjadi pembunuh nomor satu - sebagai

penyakit termahal kedua, serta penyakit akibat trauma dan kanker di posisi ketiga

dan keempat. Sementara itu di berbagai negara lainnya banyak asuransi kesehatan

justru menolak untuk membiayai penyakit/gangguan mental dengan berbagai

alasan (WHO, 2009).

Angka prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia 15

tahun ke atas di Indonesia adalah 11,6%, dengan prevalensi tertinggi berasal dari
14
Jawa Barat, sebesar 20%. Lima wilayah/propinsi lain yang memiliki angka

prevalensi melebihi angka nasional adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra

Barat, Riau, Bangka Belitung, dan DKI Jakarta. Penderita gangguan mental

emosional terbanyak berasal dari kelompok yang tidak bekerja (19,6%) dan ibu

rumah tangga (13,4%) (RISKESDAS, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Nusret Soylu dan kawan kawan di Turki

menunjukkan bahwa mereka yang menikah pada usia dini ternyata 44,4%

menderita minimal 1 gangguan psikiatri, 11,1% pernah menderita stres pasca

trauma dan reaksi stres akut, dan 33,3% pernah mengalami gangguan depresi

mayor. Soylu mencermati beratnya risiko pernikahan dini ternyata mirip dengan

tindak kekerasan seksual pada seorang gadis remaja (Soylu, et al. 2014).

Penelitian menemukan bahwa KDRT ternyata membawa dampak jangka

panjang serta berbagai permasalahan kesehatan seseorang dan keluarganya,

termasuk penyakit mental. Penelitian dari Campbell, et al, (2002) menemukan

bahwa, wanita yang mengalami tindak kekerasan memiliki risiko 50-70% lebih

besar untuk terserang berbagai penyakit, termasuk penyakit ginekologi, susunan

saraf pusat dan problem terkait stres, serta berbagai penyakit neurologis lainnya.

Mereka sering sakit kepala, sakit punggung, nyeri perut, infeksi saluran kencing,

memiliki problem pencernaan dan sulit tidur.Selain itu mereka juga merasa rendah

diri, cemas, penuh ketakutan, sedih, putus asa, terlihat lebih tua dari usianya, serta

bersikap agresif tanpa penyebab yang jelas.

Suami – istri yang terlibat dalam pertengkaran dan akhirnya saling

melakukan tindak kekerasan seringkali mengakui bahwa pada awalnya

sebenarnya mereka sedang berbincang-bincang, kemudian mulai berbeda

pendapat, dan saling menyerang dengan kata-kata kasar, hingga berakhir dengan
15
tindak kekerasan fisik yang akhirnya harus dilaporkan ke polisi dan dimintakan

visum et repertum ke dokter. Seringkali mereka menyesali perbuatan tersebut dan

berusaha untuk memperbaiki diri, sembari saling menyalahkan pasangannya yang

membangkitkan emosional sekunder mereka.Tindak kekerasan yang mereka

lakukan ternyata erat kaitannya dengan berbagai gangguan jiwa yang terdeksi saat

itu (P2TP2A, 2010).

Kenyataan bahwa perilaku seseorang di masa yang akan datang dapat

dipengaruhi oleh penyakit mental yang ia miliki serta bagaimana kompetensi

mentalnya, maka dampak dari gangguan mental ini perlu diteliti lebih lanjut.

Perilaku tindak kekerasan bisa muncul secara langsung sebagai akibat dari

pengalaman morbiditas yang spesifik yang ada kaitannya dengan kebiasaan

seseorang untuk bertindak agresif. Sebagaimana hubungannya dengan risiko suatu

penyakit, saat penyakit tersebut remisi, maka risiko akan berkurang, sebaliknya

risiko akan kembali muncul saat penyakit ini relaps. (Mullen. 1997).

Tabel 2.3 Persepsi masyarakat tentang penyakit mental

71% Dipengaruhi oleh kelemahan emosional


65% Disebabkan oleh kesalahan pola asuh orang-tua
45% Korban kesalahan, akan hilang dengan sendirinya
43% Tidak dapat diobati
35% Konsekuensi dari perbuatan dosa
10% Memilik dasar biologis, termasuk otak.

Dikutip dari Stahl, Depression and Bipolar


Disorders, in Essential Psychopharmacology,2000.

Jika tidak dilakukan intervensi oleh pihak luar seringkali masalah KDRT

ini menimbulkan berbagai macam morbiditas, mortalitas (termasuk bunuh diri),

serta terputusnya ikatan pernikahan diantara mereka, dengan segala

dampak/risikonya termasuk gangguan mental.Stresor kehidupan yang berat


16
merupakan faktor patogen lingkungan awal terjadinya gangguan atau kelainan

mental. Variasi fenotip seseorang akan memberikan respon yang berbeda terhadap

semua paparan stressor kehidupan dan bencana, salah satunya adalah gen

SLC6A4 yang secara konsisten memberikan perbedaan respon psikologis

terhadap stres kehidupan (Kilpatrick, et al, 2007).

Adanya keyakinan sentral bahwa depresi berhubungan dengan

hiperaktivitas HPA axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) yang dibuktikan

dengan meningkatnya kadar cortisol, perlahan mulai tergoyahkan. Peningkatan

Kadar Cortisol ternyata bervariasi pada beberapa tipe depresi mayor, demikian

juga ada jam-jam tertentu yang memperlihatkan peningkatan kadar cortisol.

Penggunaan psikotropik ternyata berhubungan dengan rendahnya kadar cortisol

(Vreeburg,et al, 2009).

Tabel 2.4 Depresi adalah suatu symptom dengan berbagai manifestasi

Clusters dari berbagai symptom Depresi :

Vegetatif

Kognitif

Kontrol impuls

Perilaku

Fisik (somatik)

Dikutip dari Stahl, Depression and Bipolar Disorders,


in Essential Psychopharmacology, 2000.

Menurut data CDC (Centers for Desease Control) tahun 2003 biaya perawatan

kesehatan akibat penganiayaan pasangan mencapai US$ 5,8 milyar setiap

tahunnya. Sekitar US$ 4,1 milyar untuk pelayanan medis dan mental. Jumlah ini

17
tentu sangat besar jika dibandingkan berbagai biaya penyakit lainnya (Taylor, et

al, 2009).Maka dari itu masyarakat diminta untuk mengenali berbagai simptom

ataupun risiko untuk terjadinya suatu depresi, seperti yang tertuang dalam tabel di

bawah ini.

Tabel 2.5 Faktor Risiko untuk Depresi Mayor

Faktor Risiko Asosiasi

Sex Depresi Mayor pada wanita 2 kali lebih sering


Umur Puncak umur onset 20 – 40 tahun
Riwayat keluarga 1,5-3 kali lebih berisiko jika ada riwayat keluarga
Status perkawinan Perpisahan dan perceraian memiliki risiko lebih tinggi
Post partum Laki-laki yang menikah memiliki risiko risiko lebih
Kejadian buruk dalam rendah
hidup Wanita yang menikah memiliki risiko lebih tinggi
Kematian orangtua lebih Peningkatan risiko dalam 6 bulan sesudah melahirkan
awal bisa berhubungan

Dikutip dari Stahl, Depression and Bipolar Disorders,


in Essenial Psychopharmacology,2000

Selain biaya yang nyata dikeluarkan saat seseorang menderita Gangguan

Depresi, masih banyak biaya-biaya lain yang tak kelihatan yang menyertai

penderita dan keluarganya, baik secara langsung maupun tak langsung, terlebih

apabila gangguan ini tidak terobati dengan baik, seperti yang diperinci oleh

Stephen Stahl pada tabel 2.6 di bawah ini (Stahl, 2000).

VII. KDRT dan Riwayat Kekerasan Masa Anak-anak

Kontroversi tentang korelasi yang mungkin terjadi akibat trauma pada masa

anak-anak dan berkembangnya gangguan psikotik di kemudian hari, serta

18
dampaknya bukan hanya perilaku afektif saja, tetapi bahkan sampai pada susunan

neuro-kimiawi dan struktur otak seseorang.

Penelitian dari Jakubczyk, et al. (2014), mendapatkan adanya hubungan

yang signifikan antara tindakan percobaan bunuh diri dengan gangguan psikiatri

dalam keluarga, percobaan bunuh diri dalam keluarga, serta riwayat tindak

kekerasan fisik dan seksual pada masa kanak-kanak (2014).Sebuah studi cros-

sectional tentang pasien-pasien yang memiliki spectrum Skizofrenia juga

menunjukkan bahwa pasien-pasien dengan riwayat tindak kekerasan memiliki

level symptom positif dan deficit kognitif yang tinggi, serta memiliki fungsi sosial

yang sangat buruk. Sebagian kasus terdeteksi memiliki komorbiditas dengan

kasus-kasus bipolar, penyalahgunaan zat, mania, dan kecenderungan bunuh

diri.(Conus, et al, 2010).

Pada tahun 2009, Institute of Medicine mempublikasikan Depression in

Parents, Parenting, and Children yang memperkirakan bahwa 15,6 juta anak (1 dari

5 anak) di Amerika Serikat yang hidup dengan orang dewasa dengan depresi

mayor. Orangtua, baik ayah ataupun ibu, yang mengalami depresi akan

mempengaruhi perilaku mereka dalam pengasuhan anak. Meskipun kebanyakan

studi tentang depresi orang tua telah berfokus pada ibu, dampak depresi pada ayah

telah menerima perhatian yang meningkat.Depresi ayah telah dikaitkan dengan

penurunan sensitivitas atau kehangatan dalam mengasuh anak, serta meningkatnya

konflik, permusuhan, dan penolakan terhadap anak.

Kerentanan terhadap gangguan jiwa juga meningkat pada anak-anak yang

menyaksikan peristiwa kekerasan yang terjadi dalam rumahnya. Hal ini karena

secara tidak disadari mereka dapat melihat, meniru dan kemudian melakukan hal

yang sama terhadap pasangannya. Pengalaman ini akan membentuk suatu rantai
19
tindak kekerasan inter-generasional yang tak ada habis-habisnya, sesuai dengan

social learning theory. Menyaksikan tindakan kekerasan khususnya KDRT di masa

kanak-kanak akan menjadi benih untuk tindak kekerasan berikutnya saat mereka

dewasa, baik sebagai pelaku ataupun korban KDRT (Cannon, et al, 2009).

Para peneliti menemukan bahwa interaksi antara faktor-faktor genetik dan

lingkungan yang buruk dapat memunculkan perilaku antisosial pada diri

seseorang.Interaksi antara risiko genetik dan kekerasan seksual yang dialami

anak-anak diprediksi merupakan awal perilaku kejahatan pada remaja.Penelitian

yang dilakukan oleh Breaver (2008) tersebut dipakai sebagai batu loncatan untuk

pemeriksaan efek tindak kekerasan seksual pada masa kanak dan risiko genetik

sebagai prediksi terjadinya agresifitas dan kekerasan pada remaja.

Penelitian lainnya terhadap penganiayaan istri mengungkapkan bahwa 25

persen dari anak juga terkena penganiayaan fisik dan 50 persennya terkena

penganiayaan verbal saat berada di kamar yang sama. Menyaksikan kekerasan

juga merupakan faktor risiko untuk problem kesehatan fisik dan mental dalam

jangka panjang.Anak yang dianiaya juga mengalami banyak risiko, misalnya

mereka menunjukkan stres kronis, mengalami kesulitan akademik dan masalah

konsentrasi. Kemungkinan yang paling buruk, mereka akan bertumbuh menjadi

penganiaya juga(Taylor et al, 2009).

Kekerasan terhadap pasangan juga berhubungan dengan berbagai risiko

kehamilan dan kesehatan anak yang buruk.Srbuah penelitian yang dilakukan oleh

Bair-Merritt, et al (2008), menemukan prevalensi tindak kekerasan yang

dilakukan oleh perempuan ternyata justru lebih besar dibandingkan yang

dilakukan oleh laki-laki. Dalam studi ini 36% perempuan melakukan tindak

kekerasan terhadap pasangannya, laki-laki melakukan 10% tindak kekerasan


20
terhadap pasangannya, dan 54% oleh keduanya. Pada kelompok ibu-ibu yang

mengalami tindak kekerasan dari pasangannya, kunjungan rutin untuk

pemeriksaan berkala anak akan menjadi berkurang, akibatnya jadwal imunisasi

lengkap pada awal usia anak akan menjadi terganggu dan didapati risiko

penelantaran medis bagi anak-anak mereka. Hubungan yang berkelanjutan dengan

provider perawatan anak primer dapat membantu untuk mendeteksi adanya

kekerasan terhadap pasangan dan menghubungkan kekerasan terhadap pasangan

dan perkembangan kesehatan anak.

Jika terjadi penyimpangan hubungan keluarga, misalnya perceraian, hidup

dengan orang-tua tunggal, anak-anak akan mengalami berbagai risiko seperti

turunnya rasa percaya diri, meningkatnya insiden child abuse, gangguan mental

terutama depresi dan gangguan kepribadian antisosial saat mereka dewasa.

Demikian juga insiden perceraian jika anak-anak tersebut menikah.Ada

sekelompok anak-anak yang kebal atau kurang terpengaruh terhadap efek

penyimpangan tersebut. Menurut Michael Rutter kerentanan tersebut dipengaruhi

oleh sex, usia dan karakter bawaan masing-masing anak. Umumnya anak laki-laki

justru lebih rentan dibandingkan wanita, anak yang usianya lebih muda lebih

rentan daripada anak dengan usia lebih tua. Demikian juga anak dengan karakter

lembut akan lebih tahan dibandingkan rekan-rekan mereka yang hiperaktif atau

ADHD (Sadock, 2007).

Ada beberapa faktor keluarga yang merugikan perkembangan anak seperti

kematian orangtua saat mereka masih anak-anak atau remaja, akan meningkatkan

masalah emosional di masa yang akan datang, terutama masalah depresi dan

perceraian saat mereka menikah. Demikian juga pada anak yang dititipkan

(misalnya ke day care center) karena ibunya sibuk dan harus bekerja. Jika ibu
21
berharap untuk bekerja demi keuangan keluarga, tetapi tidak bisa dan tetap harus

di rumah, hal ini akan mempengaruhi pola pengasuhan dan dapat merugikan

perkembangan anak-anak.

Selain itu gaya / pola pengasuhan orang-tua juga berpengaruh terhadap

perkembangan emosional anak-anak. Orang-tua yang otoriter memiliki banyak

aturan, sangat ketat dan kaku akan membuat anaknya depresi. Sebaliknya orang-

tua yang permisif dimana semua boleh, terlalu sabar dan tidak memiliki batas-

batas yang jelas akan membuat kontrol impuls anak-anak menjadi buruk, dengan

perilaku seenaknya tanpa peduli kepada orang lain. Apabila orangtua tetap tidak

peduli dengan sikap mereka yang acuh tak acuh tersebut, tak mau terlibat dan

cenderung menelantarkan, akan memunculkan perilaku agresif anak-anak. Pola

asuh yang dapat membuat rasa percaya diri anak berkembang dengan baik adalah

pola asuh tipe reciprocal, dimana setiap pengambilan keputusan dilakukan

bersama-sama, dan perilaku diarahkan dengan cara yang rasional.

Anak-anak yang mengalami banyak masalah kekerasan dalam hidupnya

akan bertumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian imatur, seringkali

mereka memiliki sikap dan kebutuhan afeksi yang salah. Mereka terlalu banyak

menuntut dan berharap dari anak-anaknya, tanpa mempertimbangkan usia si anak.

Interaksi semacam ini jelas menunjukkan bahwa orang-tua mempunyai perasaan

tidak aman (insecure) dan tidak yakin bahwa ada orang yang mengasihi

mereka.Karena itu mereka beralih dan berharap kepada anaknya untuk

memperoleh reassurance dan balasan kasih sayang.Fenomena ini oleh Morris dan

Gould disebut sebagai role reversal atau pembalikan peran (Sadock, 2007).

Hukuman yang diberikan kepada anak, seringkali justru dapat mengarah

ke perilaku yang tidak sesuai, menjadi suatu lingkaran setan seperti yang
22
digambarkan di bawah ini. Anak yang terlalu didisiplin akan merasa bahwa dunia

ini penuh dengan permusuhan, membuatnya berperilaku sesuai dengan

perasaannya itu. Bila rasa permusuhan anak terhadap disiplin yang terlalu kaku

dan terlalu keras tersebut diganjar dengan hukuman yang lebih keras lagi, anak

mungkin akan bersembunyi di bawah dan selanjutnya menemukan jalur ekspresi

yang baru, misalnya agresifitas terhadap anak yang lain, terutama saudara yang

lebih muda, anggota kelompok minoritas, serta bersikap sangat kritis terhadap

mereka yang berkuasa (Hurlock, 2005).

Hukuman

Reaksi
Ketakutan
Defensif

Gambar 2.4.1 Lingkaran setan “Hukuman”

Pola pengasuhan orang-tua berhubungan dengan generation gap (konsep

kesenjangan generasi).Gap tersebut mencerminkan perbedaan pengalaman hidup

dan persepsi terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan.Superego – lacunae, yaitu

adanya kesenjangan atau lubang dalam suara hati akan menurunkan lacunae yang

serupa pada anak-anak. Kegagalan hubungan orang-tua dan anak umumnya dapat

dijembatani dengan baik, tetapi jika tidak berhasil, berarti ada gangguan mental

pada anak-anak, orang-tua ataupun keduanya.Sekitar 20 persen remaja mengalami

23
gangguan mental yang dapat didiagnosis, yang paling sering adalah gangguan

cemas dan depresi. Gejalanya berupa perilaku kenakalan anak-anak,

pemberontakan dan kegagalan akademik, kesemuanya akan mengganggu

keharmonisan dalam keluarga.

Jumlah remaja yang melakukan hubungan seks juga makin meningkat,

anak laki-laki memiliki lebih banyak pasangan seksual dibandingkan anak wanita.

Setiap tahun terdapat 1 juta remaja putri usia belasan tahun mengalami kehamilan,

600.000 diantaranya akan melahirkan, sisanya melakukan aborsi. Kehamilan

remaja banyak terjadi pada kelompok ekonomi rendah, hal ini akan

mengakibatkan buruknya perawatan prenatal, serta meningkatkan morbiditas dan

mortalitas ibu. Kehamilan remaja juga sering didapati pada remaja putri yang

tertekan, yang tidak yakin mengenai daya tariknya, atau anak dari pasangan yang

konflik ataupun bercerai.

Umumnya para remaja putri yang terlalu cepat menjadi ibu tersebut tidak

mampu merawat bayinya dengan baik, mereka sering tinggal di tempat-tempat

penampungan.Sebagian lagi menikah dengan ayah bayi yang dikandungnya.Usia

si ayah umumnya juga masih remaja, yang belum mampu merawat dirinya sendiri,

apalagi bayinya. Kemampuan remaja putra umumnya lebih buruk daripada remaja

putri.Hubungan mereka sering tak langgeng, dan berakhir dengan

perceraian.(Sadock, 2007).

Kekerasan dalam rumah tangga meningkatkan stres psikologis dikalangan

perempuan India dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan

oleh ayah terhadap ibu mereka, meningkatkan stres psikologis pada anak

tersebut.Stres psikologis meningkatkan stres oksidatif dan tingkat metabolik, yang

menjadi faktor risiko anemia dan berat badan rendah.Kekerasan dalam rumah
24
tangga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk yang disebabkan oleh

kondisi lingkungan seperti kurangnya asupan makanan akibat kekerasan yang

berlaku di dalam keluarga (Ackerson and Subramanian, 2008).

Gejala-gejalastres pasca traumadari 39anakyang menyaksikankekerasan

dalam rumah tanggadan23 anakyang tinggaldalam keluarga dengankekerasan

dalam rumah tanggadinilaioleh laporanibu.DualangkahPTSDdigunakandan

dibandingkan, yang didasarkan pada daftargejalaDSM-IV dan satu

dariCBCLtersebut.Meskipunsemua anakpernah mengalamisetidaknya satu

gejalatrauma, hanya 3% atau 24% anak, tergantung pada ukuran yang digunakan,

memenuhi kriteriauntuk PTSDberdasarkanDSM-IV. Anak-anak dengangejala

traumareexperiencingjugamemiliki lebih banyakmasalah

perilakueksternalisasi.Penerapankriteria DSM-IVuntuk anak-anakdan

penggunaanCBCLuntuk menilaigejala traumaditanyai (Levendosky, et al, 2002).

VIII. Genetik, Serotonin, dan Tindak kekerasan

Subyek dengan risiko genetik yang tinggi akan mudah menderita depresi

berat saat mengalami suatu musibah ataupun stresor kehidupan yang berat.

Bahkan apabila risiko genetik tersebut sangat tinggi, tanpa stressor kehidupan

yang beratpun subyek akan mudah jatuh dalam kondisi depresi. Risiko genetik ini

dapat diamati dalam studi anak kembar. Kembar monozygote dengan salah satu

pasangan mengalami depresi berat memiliki risiko sangat tinggi, sama halnya

dengan kembar dizygote dengan salah satu pasangan mengalami depresi berat

memiliki risiko tinggi. Kembar dizygote dengan salah satu pasangan tidak

mengalami depresi memiliki risiko rendah dan kembar monozygote dengan salah

25
satu pasangan tidak mengalami depresi memiliki risiko sangat rendah (Kendler, et

al, 2001).

Inti dari semua metode genetika molekular adalah kenyataan bahwa gen

dapat menukar lokasi kromosomnya diantara alel selama meiosis. Saat meiosis

kromosom yang berasal dari ibu dan kromosom yang berasal dari bapak sangat

berdekatan dan dapat mengalami rekombinasi meiotik. Gen yang berdekatan

memiliki kemungkinan yang kecil untuk dilepaskan

dibandingkan dengan gen yang berjauhan. Sedangkan gen

yang menempel biasanya diturunkan secara bersama-sama

ke sel anak setelah meiosis, disebut genetically linked.

Dalam tulisan ini permasalahan genetik tidak dibahas secara mendetail.

Serotonin adalah neurotransmiter yang mengatur banyak bagian otak

melalui berbagai jalur di otak.Serotonin digunakan mengatur transmisi dalam

fungsi otak, guna mengatur sistem muskuloskeletal, kardiovaskuler dan

endokrin.Serotonin langsung atau tidak langsung mempengaruhi hampir semua sel

di otak dan berkaitan dengan berbagai fungsi seperti suasana perasaan, keinginan

seksual, memori, nafsu makan, perilaku tidur dan bahkan perilaku sosial.Serotonin

sesungguhnya terdapat hampir di seluruh tubuh dan memainkan peranan penting

dalam pencernaan makanan, sirkulasi darah dan pernafasan.

Meskipun hanya satu dari satu juta neuron CNS yang memproduksi

serotonin, sel-sel ini sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek fungsi

CNS.Badan sel dari neuron serotonergik berkelompok di midline raphe nuclei dari

batang otak, bagian rostral raphe nuclei mengirim proyeksi asending akson ke

seluruh otak, sementara bagian ascending caudal raphe nuclei mengirimkan

proyeksinya ke medulla, cerebellum dan spinal cord, seperti yang terlihat pada
26
gambar 2.5.1. Serat-serat desending serotonergik yang menginervasi tanduk

dorsalis dari spinal cord akan berimplikasi pada supresi jalur nosiseptif, yang

nantinya akan berpengaruh pada efek penghilang nyeri beberapa anti

depressan(Sadock, et al. 2009).

Serotonin diisolasi pada tahun 1948 oleh Maurice Rapport, Arda Greene

dan Irvine Page di Klinik Cleveland.Awalnya mereka berpikir serotonin

merupakan suatu vasokonstriktor yang menyebabkan penyempitan pembuluh-

pembuluh darah.Serotonin juga dikenal sebagai kontributor untuk perasaan

sejahtera/bahagia, sehingga dikenal juga sebagai “hormon kebahagiaan” meskipun

serotonin bukanlah hormon.Akhirnya klinisi melanjutkan penelitian tentang

struktur kimia dan efek-efek serotonin di dalam otak, dan mengelompokkan

serotonin sebagai suatu neurotransmiter ((Julius, et al. 1990).

Reseptor Serotonin (5-HT) sebenarnya telah lama diketahui

keberadaannya pada berbagai hewan, seperti lalat buah, tikus, katak, kelinci,

anjing, babi, sapi dan kera seperti yang diungkap oleh Julius dan kawan-kawan

pada tahun 1990.Penelitian dua tahun berikutnya berhasil mengungkap beberapa

tipe reseptor tersebut secara komplit yang ternyata memiliki codon jauh lebih

panjang dibandingkan pada hewan, misalnya reseptor Serotonin tipe 2A (5-

HT2A) memiliki 1321 codon, sedangkan tipe 1E (5-HT1E) memiliki 1921 codon

(Julius, et al. 1990 dan McAllister, et al. 1992).

Cara kerja serotonin seperti neurotransmiter yang lain, akan memasuki

vesikel ke terminal presinaps, dimana proses kimia berlangsung, melalui sinaps

tersebut neurotransmiter akan dilepaskan. Sementara itu gen reseptorakan tiba di

sinaps berikutnya untuk menerima neurotransmiter, demikian proses ini berulang

sampai ke seluruh tubuh. Neurotransmiter yang tidak diterima oleh sinaps


27
berikutnya akan diambil melalui proses pengambilan kembali (re-uptake) dalam

arti kembali ke sinaps sebelumnya. Masalah akan muncul pada saat serotonin

yang diterima oleh sinaps berikutnya terlalu sedikit atau terlalu banyak.Para

ilmuwan mencoba menggambarkan keseluruhan peran yang dimainkan oleh

serotonin, meskipun tidak selalu sama untuk semua orang. (Rittichier, 2011).

Apa yang terjadi di dalam otak saat seseorang mengalami kesulitan

emosional? Memang tak sepenuhnya diketahui. Tehnik-tehnik modern seperti CT

scan otak mulai memberikan informasi, tak terlalu mengejutkan, terdapat

beberapa perubahan pada korteks yang membuat kita tahu tentang emosi, dan

berbagai bagian di sistem limbik yang memiliki fungsi hampir sama. Keduanya,

memiliki hubungan yang cukup erat, meskipun tidak ada yang tahu secara pasti

apa yang salah dengan bagian-bagian otak tersebut (Stahl, 2000).

Serotonin merupakan zat kimiawi yang penting di dalam otak, dimana

berbagai zat seperti ectasy akan mempengaruhi efek serotonin ini. Serotonin

adalah suatu neurotransmiter yang menolong mengirim berbagai pesan di dalam

otak, meliputi suasana perasaan, emosi, tidur dan selera makan.Pada saat stres,

tubuh kita memproduksi lebih banyak kortisol.Kadar kortisol yang lebih tinggi

dalam tubuh seseorang akan mudah menjadi depresi. Bagaimana serotonin dan

kortisol bekerja bersama-sama. Serotonin dilepaskan di dalam otak pada saat

sekelompok sel-sel otak telah aktif, sehingga memungkinkan untuk saling

berkomunikasi satu sama lain. Serotonin dengan kadar normal akan memunculkan

perasaan bahagia, tetapi pada waktu tubuh mengalami stres yang berlebihan,

tubuh akan mulai menggunakan serotonin lebih banyak untuk mengkompensasi

kondisi tersebut(Klee, et al. 1990 dan Stahl, 2000).

28
Neural plasticity and disorders of the nervous system

Gb. 2.5.1 Serotonin Pathway

Penurunan kadar serotonin di otak akan mengakibatkan berbagai simptom

fisik dan mental, meskipun tak selalu berdampak berat. Hari ini banyak klinisi

percaya bahwa stres adalah pelaku kejahatan utama akibat turunnya kadar

serotonin, dan rendahnya kadar serotonin tersebut juga ternyata menimbulkan

tambahan stres lagi. Turunnya kadar serotonin akan mengakibatkan gejala fisik

dan mental ringan termasuk irritable, kelelahan, sulit konsentrasi, kurang tidur,

dan banyaknya pikiran negatif. Perubahan kadar serotonin di otak akan

mempengaruhi perilaku seseorang. Gejala-gejala fisik dari rendahnya kadar

serotonin termasuk kegemukan, gangguan makan, nyeri kronis dan migren.

Efek mental yang muncul meliputi insomnia, penyalahgunaan alcohol,

depresi, cemas dan munculnya serangan panik.Sedangkan efek perilaku akibat

turunnya serotonin meliputi kurangnya rasa percaya diri, perilaku dan pikiran

obsesif, serta berbagai pikiran negatif yang kronis. Serotonin disekresi dalam

29
saluran gastrointestinal, melalui sel-sel enterokromafin, selain itu juga didapatkan

dalam platelet untuk membantu proses pembekuan darah, serta di dalam sel-sel

neuron sebagai pengatur kontraksi otot dan status mental seseorang.

Peranserotonin bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Peran Serotonin

Anxiety
Irritability

Impulse

Mood
Emotion
Cognitive Sex
Function Appetite
Aggression

Gb. 2.5.2 Peran Serotonin

Kadar serotonin yang rendah dalam otak berhubungan dengan peningkatan

kepekaan terhadap perilaku impulsif, agresi, makan berlebihan, depresi,

penyalahgunaan alkohol dan bunuh diri yang sadis.Peneliti menemukan bahwa

tindak kekerasan berhubungan dengan rendahnya serotonin. Sekelompok peneliti

Swedia mengukur kadar 5-HIAA dan metabolit serotonin lainnya dalam cairan

serebrospinal dari 16 orang pria yang dihukum karena membunuh, 22 orang pria

yang bunuh diri dan 39 laki-laki sehat sebagai kontrol. Kadar serotonin paling

rendah didapatkan pada laki-laki yang membunuh pasanganan seksualnya dan

mencoba untuk membunuh dirinya sendiri (Lenard, 2010).

30
Jika fungsi serotonergik yang rendah membuat seseorang agresif dan

berperilaku sadis, dapatkah hal yang sebaliknya terjadi, jika defisiensi serotonin

diperbaiki, maka perilaku seseorang akan menjadi lebih baik? Meskipun belum

ada penelitian yang sistematik di area ini, beberapa bukti menunjukkan bahwa hal

itu sangat mungkin terjadi. Fungsi serotonergik dapat meningkat melalui dua cara

yang mendasar, yaitu melalui penyediaan precursor metabolik untuk terbentuknya

serotonin, atau melalui inaktivasi serotonin yang dilepaskan di celah sinaps

(Lenard, 2010).

Pemberian infus 5-HTP (5-Hydroxytryptophan) yang merupakan precursor

dari Serotonin akan meningkatkan ekskresi 5-HIAA di dalam urine, sehingga

terbukti bahwa sebagian besar 5-HTP yang diberikan akan terkonversi menjadi

serotonin. Subyek yang memiliki kadar serotonin tinggi dalam darahnya

menceritakan pengalamannya, denyut jantung dan peristaltik usus meningkat,

telinga berdenging dan di seluruh ruangan tercium bau apek seolah kekurangan

udara segar. Aktivitas psikomotor mengalami peningkatan, terjadi disorganisasi

pembicaraan dan kesulitan untuk berpikir dan berkonsentrasi (Klee, et al. 1990).

Melalui sebuah studi di Institut Psikiatri King College, London, terungkap

bahwa pengurangan serotonin melalui metode tryptophan depletion (TD) akan

mengakibatkan peningkatan agresivitas. Para wanita sehat yang direkrut dalam

penelitian tersebut diberikan minuman yang memiliki efek menghilangkan

tryptophan. Dalam waktu 4,5 jam kemudian mereka bertanding dalam sebuah

kompetisi dengan kecepatan waktu bereaksi. Hasilnya wanita yang telah

meminum cairan tryptophan depletion (TD) tersebut tampak berperilaku lebih

agresif terhadap respon provokasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penurunan

31
neurotransmisi serotonergik akan meningkatkan agresivitas pada wanita sama

seperti pada pria (Bond, et al 2001).

Kemampuan manusia untuk melakukan agresivitas dan tindak kekerasan

yang tidak dapat dihalangi oleh orang lain, akan mengakibatkan beban yang

sangat dahsyat dan mahal di masyarakat. Secara pasti agresivitas pada individu

akan terbentuk secara bertahap, dengan melalui beberapa pengalaman berulang

sesudah mengalami kemenangan konflik-konflik sosial, dengan peningkatan (dari

periode laten yang singkat, makin tinggi frekuensinya, sampai akhirnya secara

ganas melakukan penyerangan), persisten (dari awalnya kurang menyerang,

melalui kekalahan sampai akhirnya secara berulang melakukan serangan dan

gigitan yang agresif), tanpa diskriminasi (menyerang wanita dan pria yang tidak

ikut campur urusannya), membahayakan (meningkatnya kepekaan anggota tubuh

dan mengakibatkan luka) sampai akhirnya melakukan serangan agresif (de Boer,

2009).

Secara nyata percobaan dengan model binatang memberikan kita

kesempatan untuk mengidentifikasi perubahan plastis dari saraf dalam system

kontrol neurochemical yang agresif, dimana hipotesis mengatakan akan menjadi

penyebab tranformasi. Dalam hal ini kita fokus mengamati neuro-transmisi dari

komponen regular serotonin otak (5-HT) (Krakowski, 2003).

Serotonin mempengaruhi berbagai faktor psikologis dan sosial, sementara

faktor-faktor psikologis dan sosial akan mempengaruhi kadar serotonin.

Didapatkan hubungan menetap secara timbal-balik dalam sistem ini.Gangguan

fungsi serotonin bisa diperoleh dari berbagai metode, termasuk dengan meneliti

metabolit serotonin tersebut, terutama 5-hydroxyindoleaceticacid (5-HIAA) di

dalam cairan serebrospinal (CSF, Cerebrospinal fluid). Rendahnya kadar (5-


32
HIAA) di dalam CSF merupakan indikasi rendahnya aktivitas serotonergik di

otak. Aktivitas serotonergik juga dapat diperoleh dengan melakukan pengukuran

perifer, termasuk triptofan plasma dan pengambilan serotonin dalam

platelet.Fungsi serotonergik sentral juga diteliti melalui respon prolaktin terhadap

agent-agen yang dapat meningkatkan aktivitas serotonergik (Stahl, 2000).

Disfungsi serotonergik akan mempengaruhi tindakan agresi secara

berbeda-beda, tergantung dari kontrol impuls masing-masing individu, regulasi

emosional dan kemampuan sosialnya. Dengan demikian fungsi serotonergik tidak

saja secara individual, tetapi juga terhadap dinamika kelompok, dan pada

gilirannya akan dipengaruhi oleh dinamika grup tersebut. Apakah agresi akan

terjadi saat didapatkan disfungsi serotonin akan sangat tergantung pada berbagai

perbedaan individual serta konteks sosial secara keseluruhan.

Ada tiga bidang penting yang berhubungan dengan agresi, yang disebut

kontol impuls, pengaturan / regulasi afektif dan fungsi sosial. Secara luas

literature era tahun 1960-an memperlihatkan bukti-bukti adanya hubungan antara

agresi binatang dan berkurangnya fungsi serotononergik. Sejak akhir 1970-an

penelitian difokuskan pada agresivitas manusia, dengan memeriksa adanya tindak

kekerasan terhadap orang lain, sama seperti tindakan bunuh diri, sebagai salah

satu bentuk tindak kekerasan, dalam hal ini kekerasan yang ditujukan kepada

dirinya sendiri. Dengan demikian fungsi serotonergik dipakai sebagai suatu

marker dan prediktor bagi keduanya, baik tindak kekerasan maupun tindakan

bunuh diri.Meskipun demikian tidak semua perilaku agresif berhubungan dengan

penurunan fungsi serotonin, sehingga dibutuhkan evaluasi karakteristik lebih

lanjut utnuk menilai hubungan tersebut.

33
Penelitian pada tikus-tikus yang mengalami mutasi dan kekurangan gen

reseptor serotonin type 1B akan nampak lebih agresif. Mereka menyerang semua

hewan yang mengganggu secara lebih bersemangat dibandingkan tikus-tikus tipe

liar yang menunjukkan perilaku impulsif motorik. Pada manusia didapatkan

beberapa variasi gen reseptor subtipe yang harus diperhitungkan keberagaman

agresinya, impulsivitasnya dan respon serotonergik susunan saraf pusatnya. Gen

reseptor serotonin tipe 2 didapatkan dalam jumlah tinggi di korteks prefrontal,

suatu area yang mempengaruhi perilaku agresif dan kejam seseorang.

Penelitian tentang agresi pada 26 orang tentara, memperoleh data adanya

agresi „seumur hidup‟, dimana tindakan bunuh diri berhubungan dengan

rendahnya kadar 5-HIAA mereka. Agresi seumur hidup tersebut diperoleh dari 9

katagori perilaku, dimana hanya 2 diantaranya yang berhubungan dengan kegiatan

menyerang dan perkelahian. Sementara katagori lainnya didapat dari riwayat

temper tantrum, disiplin sekolah semasa kanak-kanak, perilaku antisosial, masalah

pergaulan dengan supervisor dan disiplin militer saat mereka dewasa. Ternyata

terdapat 12 orang yang terdiagnosis dengan gangguan kepribadian tipe ambang,

mereka memperlihatkan banyak masalah kehidupan secara bervariasi di di

berbagai area fungsi kehidupan (Krakowski, 2003).

Penelitian yang dilakukan olehKilpatrick (2007) menunjukkan bahwa

kekerasan fisik merupakan salah satu kejadian yang berpotensi menimbulkan

trauma dalam diri seseorang, disamping perkosaandan bencana alam. Stresor

keuangan, asmara dan lingkungan pekerjaan dianggap tidak begitu berpotensi

menimbulkan stres. Ketika depresi terjadi, seseorang yang memiliki dukungan

sosial yang tinggi akan lebih mudah dipulihkan keadaannya, karena dukungan

34
sosial merupakan faktor protektif yang sangat penting bagi keadaan jiwa

seseorang.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara faktor genetik, serotonin, dan faktor lingkungan terhadap kondisi

seseorang, baik yang mempengaruhi mereka menjadi pelaku ataupun korban

dalam sebuah kekerasan.

IX. Ciri Kepribadian dan Perilaku Seseorang

Yang sering terjadi saat seorang pelaku KDRT terpojok atau terbongkar

kedoknya, mereka tetap berharap pasangannya dan orang-orang di sekitarnya

menghormati mereka, termasuk menuruti kata-kata mereka. Seorang suami yang

terbuka kedok perselingkuhannya tetap berharap istrinya mau menutupi kesalahan

tersebut dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Perilaku tindak kekerasan

juga berhubungan dengan ciri kepribadian seseorang yang nantinya berkembang

menjadi suatu gangguan kepribadian.Salah satu yang paling sering disorot adalah

ciri kepribadian antisosial, atau dalam beberapa referensi disebut sebagai ciri

kepribadian dissosial, atau psikopat.

Gangguan kepribadian antisosial adalah suatu ketidakmampuan untuk

mengikuti norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Meskipun nantinya

gangguan ini bisa berkembang menjadi perilaku kriminal, gangguan tipe ini tidak

sama dengan kriminalitas itu sendiri. Prevalensi gangguan antisosial adalah 3

persen pada laki-laki, 1 persen pada wanita dan pada populasi di dalam penjara

didapati angka kurang lebih 75 persen (Sadock, et al, 2007).

Tipe kepribadian yang dimiliki oleh masing-masing orang berbeda satu

dengan yang lain, tergantung dari banyak faktor pendukung biologi seseorang,
35
seperti hormon, neurotransmitter, gen reseptor, kromosom, gen penyandi, dan

sebagainya (Suryohusodo, 2000).

Kepribadian adalah dua unsur yang kompleks dan unik. Di satu sisi

seseorang akan sangat berbeda dengan orang lain dalam berbagai komponen

perilaku secara multipel, dan di sisi yang lain masing-masing individu akan

mengungkapkan hanya satu ciri dari sekian banyak potensi gaya hidupnya.

Karakteristik umum dari definisi kepribadian adalah bahwa mereka berfungsi,

dengan fokus pada motivasi dan adaptasi mental suatu organism. Secara spesifik

menurut Allport, kepribadian adalah dinamika organisasi yang ada di dalam

seseorang / individu dimana sistem psikofisikal menentukan keunikan

penyesuaian dirinya terhadap lingkungannya (Cloniger and Svrakic, 2009).

Setidaknya ada empat dimensi temperamen individu yang bisa diukur,

yaitu menghindari bahaya (harm avoidance), selalu mencari hal-hal baru (novelty

seeking), ketergantungan akan hadiah (reward dependence) dan ketekunan

(persistence). Keempatnya memiliki variasi dari mulai level rendah sampai tinggi

yang membuat perbedaan yang nyata diantara individu, seperti yang bisa dilihat

pada tabel 1. Demikian juga sistem di otak juga akan menjadi sangat berbeda

terpengaruh oleh pola respon stimulus yang didasari oleh temperamen tersebut,

dengan konsekuensi munculnya berbagai neuromodulator utama yang berbeda,

seperti GABA, Serotonin, Dopamine, Nor-epineprine, Glutamate yang terstimuli

dan membuat perilaku tertentu pada seseorang (Cloniger and Svrakic, 2009).

Perilaku tindak kekerasan erat hubungannya dengan gangguan kepribadian

antisosial, dalam beberapa referensi disebut sebagai dissosial atau

psikopat.Gangguan kepribadian antisosial adalah suatu ketidakmampuan untuk

mengikuti norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Meskipun nantinya


36
gangguan ini bisa berkembang menjadi perilaku kriminal, gangguan tipe ini tidak

sama dengan kriminalitas itu sendiri. Prevalensi gangguan antisosial di dalam

penjara sekitar 75 persen (Sadock, et al, 2007).

Tabel 2.8 Pembagian Dimensi Temperamental Secara Individual dengan Varian


Ekstrim
Diskripsi Seseorang
Dimensi Temperamen Skor Tinggi Skor Rendah
Perilaku Menghindar Pesimistik Optimistik
Penuh ketakutan Pemberani
Pemalu Pandai bergaul
Mudah lelah Energik
Selalu Mencari Hal-hal Suka eksplorasi Berjaga-jaga (Reserved)
Baru
Impulsive Penuh perhitungan
(Deliberate)
Sering berlebihan Hemat (Thrifty)
(Extravagant)
Pemarah Sangat tabah (Stoical)

Tergantung pada Sentimentil Terasing(Detached)


hadiah(Reward
Dependence) Terbuka Tertutup (Allof)

Hangat Dingin

Penuh kasih sayang Mandiri

Tekun (Persistence) Rajin (Industrious) Malas

Tekun (Determined) Manja (Spoiled)

Antusias Pencapaian rendah

Perfeksionis Pragmatis

Menurut PPDGJ III setidaknya terdapat enam kelompok Gangguan

Kepribadian yang berbeda untuk masing-masing individu.Mereka yang sering

melakukan tindak kekerasan umumnya memiliki ciri kepribadian tertentu yang

37
mengarah kepada suatu Gangguan Kebribadian Dissosial. Referensi lain

menyebutnya sebagai Gangguan Kepribadian Antisosial, ataupun Psikopat.

Tabel 2.9 Pedoman Diagnostik Gangguan Kepribadian Dissosial (F60.2)

Gangguan kepribadian ini biasanya menjadi perhatian disebabkan adanya


perbedaan yang besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku, dan
ditandai oleh:
a. Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
b. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus
(persistent), serta tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban
sosial
c. Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama,
meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya
d. Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
e. Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari
pengalaman, khususnya dari hukuman
f. Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan
rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien
konflik dengan masyarakat
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari kriteria di atas.

Selain itu ada satu kelompok orang yang sudah memiliki psikopatologi

tertentu yang mengarah kepada suatu gangguan jiwa, hanya saja belum dapat

digolongkan pada gangguan jiwa yang spesifik, mereka dikelompokkan dalam

Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil, yang dibagi dalam dua kelompok

yaitu Tipe Impulsif dan Tipe Ambang (Borderline).

Tabel 2.10 Pedoman Diagnostik Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil


(F60.3)

38
 Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive
tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidak-
stabilan emosional
 Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan
kekurangan pengendalian diri.

Terdapat dua jenis tipe Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil yaitu:

F60.30 = Tipe Impulsif

F60.31 = Tipe Ambang (Borderline)

Besarnya laporan kasus KDRT yang terjadi, menunjukkan bahwa

psikoterapi dalam terapi pernikahan penting untuk dilakukan. Tujuannya adalah

untuk membantu masing-masing pasangan mengerti peran dan tugas mereka

sebagai suami atau istri, karena seringkali pola tindak kekerasan terus berulang

antar generasi keluarga mereka. Salah satu sumber dari kekacauan pernikahan

adalah kegagalan masing-masing pasangan untuk mengenali sifat asli dan

kepribadian masing-masing. Akibatnya mereka akan memaksakan kehendaknya

agar pasangannya berperilaku serupa dengan harapan tersebut yang seringkali

terasa sangat menyesakkan. Akibatnya pernikahan tersebut menjadi sama dengan

efek regresi atau kemunduran berperilaku. Bahkan pada mereka yang memiliki

daya tahan ego yang baik, pernikahan tampak membawa mereka mundur dengan

cepat pada sebuah model hubungan orangtua – anak (parent – child relationship)

(Gabbard, 2014).

X. Mengukur Kepribadian dan Prediksi Terjadinya KDRT

39
Selain wawancara mendalam terhadap seseorang dan keluarganya, ada

cara lain yang dipakai untuk memeriksa kepribadian seseorang adalah melalui

pemeriksaan psikologi MMPI-2 (Minnesota Multiphasic Personality Inventory)

yang terdiri dari 567 item pertanyaan dan MCMI-III (Millon Clinical Multiaxial

Inventory) yang lebih singkat, terdiri dari 175 item pertanyaan. Test tersebut

merupakan self-report yang telah dikembangkan sejak 1930-an oleh Starke R.

Hathaway, PhD (Psikolog) dan J. Charnley Mc. Kinley, MD (Psikiater) di RS

Universitas Minnesota, Minneapolis, USA. Artikel pertama kali dipublikasi tahun

1940 disebut Minnesota Personality Schedule. Pada tahun 1956 MMPI terdiri dari

4 Skala Validitas (yaitu skala cannot say, L, K dan F) dan 10 Skala Klinik.

Dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1980 dilakukan re-

standarisasi MMPI di Universitas Minnesota, menjadi 567 item

pernyataan/soal.Sample diambil dari 7 negara bagian, dengan persamaan pada T-

score (Uniform T Score), modifikasi pada Content Scale dan penambahan skala

Psy-5. Dengan demikian banyak skala baru, sub skala dan skala kompenen

dimasukkan ke dalam test MMPI-2.

Test MMPI-1 tidak dipakai lagi sejak tahun 1999, sebagai gantinya yang

dipakai adalah test MMPI-2, bagi orang dewasa (usia >18 th, minimal tamat SD)

dan test MMPI-A yang diperuntukkan para Remaja (usia >12 th, minimal tamat

SD). Ada beberapa modifikasi untuk test MMPI ini yaitu MMPI-370 untuk

mereka yang sangat lamban bekerja, cukup sampai no. 370 saja; MMPI-180 untuk

pasien-pasien psikotik dan MMPI-RF (restructered form) terdiri dari 338 item,

dipakai untuk test-test masal seperti seleksi calon legislatif, PNS, dan sebagainya.

Depkes RI telah memutuskan memakai test MMPI untuk test pejabat publik.

40
Petunjuk pengisian diberikan sejak awal untuk mengurangi bias, sebaiknya

instruktur sudah pernah mengerjakan test MMPI. Instruktur menyampaikan secara

jelas dan lengkap prosedur mengerjakan test MMPI ini. Kondisi umum yang

dibutuhkan saat mengerjakan test ini adalah kooperatif, kesungguhan, konsentrasi,

IQ >70, tamat SD, mampu memahami bahasa Indonesia dengan baik. Instruktur

diminta memberikan beberapa contoh penjelasan, termasuk untuk pernyataan-

pernyataan negatif. Waktu pengerjaan test tidak dibatasi, umumnya test selesai

dalam waktu 60-90 menit, hindari pengerjaan dengan mencicil.

Test MMPI-2 yang dipakai dalam penelitian ini adalah versi Hubertus.

Hasil test terdiri dari 10 halaman grafik dan 10 halaman lain berisi tabel dan

catatan analisa bermakna dari kepribadian seseorang. Masih ada beberapa versi

pemeriksaan MMPI-2 lainnya yang beredar di Indonesia, tetapi kurang lengkap

membahas permasalahan kepribadian seperti yang pertama.

Khusus untuk mengelompokkan apakah seseorang memiliki

kecenderungan berperilaku agresif dapat dilihat beberapa skala penting seperti

skala ANG (Anger) dan Skala ASP (Anti Sosial Practice) pada kelompok Content

Scale, Skala Ho (Hostility) dan OH (Over-control Hostility) pada Suplementary

Scale dan Skala AGGR (Agresivity) pada lembar PSY 5). Angka normal kelima

skala tersebut adalah kurang dari angka 60.Jika skor antara 60-64 kemungkinan

mereka agresif, dan skor 65 atau lebih berarti mereka memiliki kecenderungan

bertindak agresif.Untuk melihat apakah seseorang memiliki hubungan yang baik

dengan pasangannya (suami, istri, ataupun pacarnya) bisa dilihat dari skala MDS

(Marital Distress Scale) pada lembar Suplementary Scale.

Jika ingin melihat seberapa besar score agresifitas dalam diri seseorang

dapat dilihat dari scor Ho dan OH, serta score AGGR di lembar PSY-5. Hasil
41
yang rendah umumnya tidak banyak berarti, khusus untuk score yang tinggi (>

65) ada beberapa interpretasi sebagai berikut: (Graham, John R., 2006)

1. Agresif secara fisik dan verbal

2. Memakai kekerasan untuk mendominasi dan mengontrol orang lain

3. Mungkin menikmati jika bisa mengintimidasi orang lain

4. Memiliki riwayat problem perilaku di sekolah.

5. Memiliki riwayat ditahan oleh polisi.

6. Pada laki-laki sering memiliki riwayat sebagai pelaku tindak

kekerasan.

7. Di klinik seringkali didiagnosis sebagai Gangguan kepribadian

Antisosial.

8. Selama pengobatan sering mencoba untuk mengontrol dan

mendominasi para terapis.

9. Selama pengobatan mungkin akan mengambil keputusan yang salah.

Tes MCMI mulai dipakai pada tahun 1997, dikembangkan oleh Theodore

Millon.Dasar teori yang dipakai di sini adalah teori kepribadian dengan 3 aksis,

yaitu „active-passive‟, „pleasure-pain‟ dan „self-others‟.Pada tahun 1987

ditambahkan skala „self-defeating‟ dan „sadistic scales‟ untuk menyesuaikan

dengan perkembangan DSM-III. Selanjutnya saat terbit DSM-IV Millon

menambahkan skala depresi dan post traumatic Stress pada MCMI, yang dikenal

sebagai MCMI-III saat ini (Kasan, 2012).

Pola kepribadian seseorang bisa terdeteksi melalui tes ini, terdiri dari 3

kelompok gangguan kepribadian khas.Kelompok A (aneh dan eksentrik), meliputi

gangguan kepribadian paranoid, skizoid dan skizotipal.Kelompok B (dramatic dan

emosional tak menentu) meliputi gangguan kepribadian histrionik, antisosial,


42
borderline dan sadistik.Pada kelompok C (cemas dan takut berlebihan) terdapat

gangguan kepribadian anankastik, dependen, avoidance dan depresif (Kasan,

2012).

XI. Kecerdasan Emosional

Istilah Kecerdasan Emosional pertama kali dikemukakan pada tahun 1990

oleh seorang psikolog bernama Peter Salovey dari Harvard University dan John

Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas

emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer

mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai

himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuanmemantau

perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah

semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan

tindakan (Goleman, 2010).

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat

menetap, dapat berubah-ubah setiap saat.Untuk itu peranan lingkungan terutama

orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan

kecerdasan emosional. Gardner (dalam Goleman, 2010) mengatakan bahwa bukan

hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses

dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh

varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik,

interpersonal dan intrapersonal.Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai

kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan

emosional. Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut,

Salovey memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk


43
dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri

individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk

mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi

orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama)

dengan orang lain. Kecerdasan emosional lebih ditujukan kepada upaya

mengenali, memahami dan mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat dan upaya

untuk mengelola emosi agar terkendali dan dapat memanfaatkan untuk

memecahkan masalah kehidupan terutama yang terkait dengan hubungan antar

manusia (dalam Goleman, 2010).

Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali

emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain

(empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang

lain. Goleman menggambarkan kecerdasan emosi dalam 5 aspek kemampuan

utama, yaitu :

1. Mengenali emosi diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali

perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari

kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai

metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer

(Goleman, 2000) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun

pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah

larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi.Kesadaran diri memang belum

menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting

untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

2. Mengelola emosi
44
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan

agar dapat terungkap dengan tepat dan selaras, sehingga tercapai keseimbangan

dalam diri individu.Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali

merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat

dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini

mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan,

kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta

kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

3. Memotivasi diri sendiri

Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang

berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan

mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif,

yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

4.Mengenali emosi orang lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut

Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli,

menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan

empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang

mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu

menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih

mampu untuk mendengarkan orang lain.

5. Membina hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang

menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman,

2009). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam


45
keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang

diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses

dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu

berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam

lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya

berkomunikasi. Sikap yang ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain

dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan

dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari

banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya (Goleman, 2010).

Selain itu aspek-aspek kecerdasan emosi dapat dilihat dari ke-5 indikator

yang meliputi:

1. Kesadaran diri.

Mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk

memandu pengambilan keputusan untuk diri sendiri memiliki tolak ukur realitas

atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

2. Pengaturan diri.

Menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada

pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup untuk menunda

kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali dari

tekanan emosi.

3. Motivasi.

Kemampuan menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan

menuntut kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak

sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.


46
4. Empati

Merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami prespektif mereka,

menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan

bermacam macam orang.

5. Keterampilan sosial.

Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan cermat

membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar menggunakan

keterampilan keterampilan ini mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan

menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerja dalam tim. Berdasarkan beberapa

pendapat yang telah dikemukakan dapat disimpulkan aspek-aspek kecerdasan

emosi meliputi mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri,

mengenali emosi orang lain, membina hubungan.Untuk selanjutnya dijadikan

indikator alat ukur kecerdasan emosi dalam penelitian, dengan pertimbangan

aspek-aspek tersebut sudah cukup mewakili dalam mengungkap sejauh mana

kecerdasan emosi subjek penelitian.

Kecerdasan emosi tinggi yaitu mampu mengendalikan perasaan marah,

tidak agresif dan memiliki kesabaran, memikirkan akibat sebelum bertindak,

berusaha dan mempunyai daya tahan untuk mencapai tujuan hidupnya, menyadari

perasaan diri sendiri dan orang lain, dapat berempati pada orang lain, dapat

mengendalikan mood atau perasaan negatif, memiliki konsep diri yang positif,

mudah menjalin persahabatan dengan orang lain, mahir dalam berkomunikasi, dan

dapat menyelesaikan konflik sosial dengan cara damai.

Kecerdasan emosi rendah yaitu bertindak mengikuti perasaan tanpa

memikirkan akibatnya, pemarah, bertindak agresif dan tidak sabar, memiliki

tujuan hidup dan cita-cita yang tidak jelas, mudah putus asa, kurang peka terhadap
47
perasaan diri sendiri dan orang lain, tidak dapat mengendalikan perasaan dan

mood yang negatif, mudah terpengaruh oleh perasaan negatif, memiliki konsep

diri yang negatif, tidak mampu menjalin persahabatan yang baik dengan orang

lain, tidak mampu berkomunikasi dengan baik, dan menyelesaikan konflik sosial

dengan kekerasan.

48
DAFTAR PUSTAKA

Ackerson, L.K. and Subramanian, S.V. 2008.Domestic Violence and Chronic


Malnutrition among Women and Children in India.Am J Epidemiol,
167:1188-1196.
Alves, M.J.V., Manita C., Caldas, I.M., Martine, E.F., da Silva, A.G., Magalhães,
T. 2016. Evolution and Analysis of Cultural and Cognitive Factors Related
With Domestic Violence Against Women. J Interpers Violence.
Anonym, https://www.thestreet.com/story/13126088/9/10-most-dangerous-states-
for-you-and-your-family-to-live-in.html (Apr 25, 2015 12:01).
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.2007. Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional.
Bair-Merritt, M.H., Crowne, S.S., Burrel. L.,Caldera, D.2008.Impact of Intimate
Partner Violence on Children‟s Well-Child Care and Medical
Home.Paediatrics,121:473-480.
Ball, H.A.,Sumathipala,A., Siribaddana, S.H., Kovas,Y.2009. Genetic and
Environmental Contributions to Depression in Sri Lanka.The British
Journal of Psychiatry,195:504-509.
Barker R.A., Barasi S., Neal M.J. 1999.Neural Plasticity and Disorders of the
Servous System.Neuroscience at a Glance. London, England,105–121.
Barnawi, F.H. 2015.Prevalence and Risk Factors of Domestic Violence Against
Women Attending a Primary Care Center in Riyadh, Saudi Arabia. J
Interpers Violence, May 27, 2015.
Barrett, L. 2011. Beyond the Brain: How Body and Environment Shape Animal
and Human Minds.USA: Princeton University Press.
Beaver, K.M. 2009.The Interaction Between Genetic Risk and Childhood Sexual
Abuse in the Prediction of Adolescent Violent Behavior, Florida State
University, Tallahassee, Sexual Abuse: A Journal of Research and
Treatment, Vol. 20, No. 4;426-443. Available from:kbeaver@fsu.edu.
Beitchman, J.H., Baldassarra,L.,Mik, H. 2006. Serotonin Transporter
Polymorphisms and Persistent, Pervasive Childhood Aggression.Am J
Psychiatry, 163:1103-1105.

49
Blume, L. and Bennie M.S. 1996. Attacking Violence: Prevention and
Intevervention.Michigan Family Review, Vol. 2, No. 1.
Bond, A.J., Wingrove, J., Critchlow G.D. 2001. Tryptophan depletion increases
aggression in women during the premenstrual phase. Psychopharmacology,
Vol 156, No 4: 477-480.
Bourget, D., Gagne, P., Whitehurst, L. 2010. Domestic Homicide and Homicide –
Suicide: The Older Offender. J Am Acad Psychiatry Law, 38:305-11.
Breheny, M. 2007. Genetic Attribution for Schizophrenia, Depression and Skin
Cancer: Impact on Social Distance. New Zealand Journal of Psychology,
Vol.36, No.3.
Brizendine, L. 2006. The Female Brain. Jakarta: Ufuk Press.
Burt, V.K., Suri R., and Edelstein C. 2014.Treatment of Women.Textbook of
Psychiatry, DSM-5 Ed. Arlington, USA, 1319-1351.
Campbell, J., Jones, A.S., Dienemann, J. 2002. Intimate Partner Violence and
Physical Health Consequences, Arch Intern Med., 162:1157-1163.
Cannon, E.A., Bonomi, A.E., Melissa, L., Anderson, F.P., Rivara. 2009. The
Intergenerational Transmission of Witnessing Intimate Partner Violence.
Arch Pediatr Adolesc Med., 163(8):706-708.
Caspi, A., McClay J., Terrie E.M, Jonathan, M. 2002.Role of Genotype.The Cycle
of The Violence in Maltreated Children Science, Vol 297: 851-852.
Catatan tahunan P2TP2A Provinsi Bali, 2010. Perlindungan Terhadap Kelompok
Rentan Dalam Keluarga, Termasuk Istri, Anak, PRT dan Lansia.
Catatan tahunan P2TP2A Provinsi Bali, Laporan Tahunan 2014.
Cheng, H.W. 2001.Effects of Group Selection for Productivity and Longevity on
Blood Concentrations of Serotonin, Catecholamines, and Corticosterone of
Laying Hens.Poultry Science, 80:1278–1285
Chireshe, E. 2014.Christian Women‟s Experiences of Domestic Violence in
Zimbabwe. Affilia, Journal Citation Reports.
Cloninger, C.R. and Dragan M.S.2009.Personality Disorders.Kaplan & Sadock’s
Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th ed. Neural Sciences, Lippincott
Williams & Wilkins, 2197-2240.

50
Conus, P., Cotton, S., Benno G.S. 2010. Pretreatment and Outcome Correlates of
Sexual and Physical Trauma in an Epidemiological Cohort of First-Episode
Psychosis Patients. Schizophrenia Bulletin, Vol. 36 No. 6 pp:1105-1114.
Cook, P.W. 2013.Abused Men: The Hidden Side of Domestic Violence.
Connecticut: PraegerWestport.
D‟Onofrio, B.M. 2007. Intergenerational Transmission of Childhood Conduct
Problems.Arch Gen Psychiatry, vol.64(7): 820-829.
Davis, R.N., Matthew M.D., 2011. Father‟s Depression Related to Positive and
Negative Parenting Behaviors With 1-Year-Old Children. Pediatrics, 127l:
612-620.
de Boer S.F., Caramaschi D., Natarajan D., Koolhaas J. M. 2009. The vicious
cycle towards violence: focus on the negative feedback mechanisms of brain
serotonin neurotransmission.Front Behav Neurosc, 3:52. E-pub.
de Wall, F. 2002. Primate Behavior and Human Agression.Must We Fight? From
the Battlefield to the Schoolyard, a New Perspective on Violent Conflict and
Its Prevention.Edited by William L. Ury. Jossey-Bass: San Fransisco, USA,
13-25.
Delville. 2006. Development of Agression.Biology of Agression. Edited by Randy
J. Nelson.USA: Oxford University Press. p.327-350.
Departemen Kesehatan RI. 1994. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa (PPDGJ). Edisi III. Dirjen Pelayanan Medis RI. Jakarta.
Derogatis, L.R., Lipman, R.S., Covi L,. 2007. Symptom Check List SCL
90.PsychiatricUniversity Hospital Zurich, Division of Clinical Psychiatry.
Derogatis, L.R., Rickels K., Rock A.F. 1976. The SCL-90 and the MMPI: A Step
inthe Validation of A New Self Report Scale. Br J Psychiatr, 128:280-9.
Duxbury, F. 2006. Recognising domestic violence in clinical practice using the
diagnoses of posttraumatic stress disorder, depression and low self-
esteem.British Journal of General Practice,56: 294–300.
Farrell, H. 2011. Batterers: A review of Violence dan Risk Assessment tool.J Am
Acad Psychiatry Law, 39; 562-4.
Fears, S.C; Carol A.Mand Nelson B.F. 2009. Genetic Linkage Analysis of
Psychiatric Disorders.Neural Sciences, Kaplan & Sadock’s Comprehensive
Textbook of Psychiatry, 9th ed.Lippincott Williams & Wilkins: 320-333.
51
Frank, E. 2005.Gender and Its Effects on Psychopathology, American Psychiatric
Press, Washington, DC.
Freud,S. 2015. Freud's Concept of The Family in Critical Theory of the Family.
Avaiable at:
http://www.humanities.uci.edu/mposter/CTF/chapter1.html(Apr 25, 2015
11:19)
Freud, Signmud. 2002. A General Introduction to Psychoanalysis.Ikon
Teralitera.Yogyakarta.
Fuchsel, Catherine L. Marrs.2013. Familism, Sexual Abuse, and Domestic
Violence Among Immigrant Mexican Women. Affilia, vol. 28 no. 4, 379-
390.
Gabbard, G.O. 2014.Family and Marital Therapy.Treatments in Dynamic
Psychiatry.Psychodynamic Psychiatry. American Psychiatric Publishing:
Arlington, VA, USA, 142-149.
Graham, J.R. 2006. MMPI-2 Assessing Personality and Psychopathology, 4th ed.
Oxford University Pres: New York.
Grebb, J.A. and Carlsson, A.2009. Introduction and Considerations for a Brain –
Based Diagnostic System in Psychiatry. Neural Sciences, Kaplan &
Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th ed., Lippincott
Williams & Wilkins: 1-393.
Hicks, B.M.; Susan C.S.2009.Environmental Adversity and IncreasingGenetic
Risk for Externalizing Disorders.Arc Gen Psyciatr, 66 (6): 640-648.
Holtmann, C. 2016. Christian and Muslim Immigrant Women in the Canadian
Maritimes - Considering their Strengths and Vulnerabilities.Responding to
Domestic Violence.Studies in Religion/Sciences Religieuses, April 21, 2016.
Available from: http://www.yiela.com/view/2035521/seperempat-dari-
jumlah-perempuan-china-korban-kdrt.
Hurlock, E.B. 2005.Child Development, 6th ed. McGraw-Hill, Inc.: 73-105.
Iskandar, L.;Kathryn L.; Braun and Alan R.K. 2014. Testing the Woman Abuse
Screening Tool to Identify Intimate Partner Violence in Indonesia.J
Interpers Violence, July 10, 2014.

52
Jakubczyk, A.A.; Klimkiewicz, A.; Krasowaska, et al. 2014.Hystory of Child
Abuse and Suicide Attempts in Alcohol-dependent Patients.Child Abuse &
Neglect, 38: 1560-1568.
Josephus, P. 2011. Seperempat dari Jumlah Perempuan China Korban KDRT,
available from: Kompas.com.
Julius, D., Huang, K.N., Livelli, T.J., Axel,R. and Jessell, T.M. 1990. The 5HT2
Receptor Defines a Family of Structurally Distinct but Functionally
Conserved Serotonin Receptors. Proc. Natl. Acad. Sci. USA, 87(3), 928-
932.
Karasz, A. 2005.Marriage, Depression and Illness.Sociosomatic Models in a
South Asian Immigrant Community.Psychology Developing Societies, vol.
17 no. 2:161-180.
Kasan, H.H. 2006. MMPI-2 Advance, Jakarta.
Kasan, H.H. 2006. MMPI-A, Jakarta.
Kasan, H.H. 2012. Buku Panduan Workshop MCMI-III.Profesional Training
Center.Jakarta.
Kasan, H.H. 2013. MCMI – III, Jakarta.
Kasturirangan, A. 2008.Empowerment and Program Designed to Address
Domestic Violence, Sage Publication, Chicago.
Kendler, K.S., Thornton,L.M., Gardner, C.O. 2001. Genetic Risk, Number of
Previous Depressive Episodes and Stressfull Live Events in Predicting
Onset of Major Depression, Am J Psychiatry;158:582-586.
Kilpatrick, D.G., Karestan C.K., Kenneth J.R., Acierno, R. 2007. The Serotonin
Transporter Genotype and Social Support and Moderation of Post Traumatic
Stress Disorder and Depression in Hurricane Exposed Adults, Am J
Psychiatry;164:1693-1699.
Klee, G.D. 1990. The Effects of 5-Hydroxytryptophan (A Serotonin Precursor) in
Schizophrenic Patients.Available at http://bjp.rcpsych.org/ on April 10,
2012.
Krakowski, M. 2003. Violence and Serotonin: Influence of Impulse Control,
Affect Regulation, and Social Functioning. The Journal of Neuropsychiatry
and Clinical Neurosciences 15:294-305.

53
Kulikowski, L. 2015. 10 Most Dangerous States for You and Your Family to Live
In. Avaiable at: https://www.thestreet.com/story/13126088/9/10-most-
dangerous-states-for-you-and-your-family-to-live-in.html (Apr 25, 2015
12:01).
Kumar, S., Jeyaseelan, L., Suresh, S. and Ahuja, R.C. 2005. Domestic Violence
and Its Mental Health Correlates in Indian Woman, British Journal of
Psychiatry 187;62-67.
Lavallee, Amy, 2009. Domestic Violence and Child Welfare, University of Iowa
School of Social Work – National Resource Center for Family Centered
Practice ― The University of Iowa Module IV – Clinical Practice
Supervision.
Lenard, Lane. 2010. Reducing Aggression and Violence, The Serotonin
Connection, Petaluma, CA, USA. Available from http://www.life-
enhancement.com/ article_template.asp?ID=208(diunduh tanggal 24 Maret
2012, Pk. 11.00 Wita).
Levendosky, Alytia A. 2002.Alissa C. Huth-Bocks, et al : Trauma Symptoms in
Preschool-Age Children Exposed to Domestic Violence, J Interpers
Violence February vol. 17 no. 2, 150-164
Lewis-Hall, F.; Williams, T.S.; Panetta, J.A. and Herrera, J.M. 2002.Psychiatric
Illness in Women, Emerging Treatments and Research, American
Psychiatric Publishing, Washington, DC.
Majelis Utama Desa Pakraman Bali, 2011.Kedudukan Wanita Bali dalam
Keluarga dan Pewarisan; Pelaksanaan Perkawinan dan Perceraian, dalam
Himpunan Hasil-hasil Pasamuan Agung III MDP Bali, 41-47.
Manuck, Stephen B., Jay R. Kaplan, & Francis E. Lotrich, 2006. Brain Serotonin
and Aggressive Disposition in Humans and Nonhuman Primates, in Biology
of Agression, edited by Randy J. Nelson, Oxford University Press, New
York, USA, 65-113.
McAllister, G., Charlesworth, A., Snodin, C., Beer, M.S., Noble, A.J.,
Middlemiss, D.N., Iversen, L.L. and Whiting, P. 1992. Molecular cloning of
Serotonin Receptor from Human Brain.Proc. Natl. Acad. Sci. USA, 89(12),
5517-5521.

54
Mee Young Um, Hee Jin Kim, Lawrence A. Palinkas, 2016.Correlates of
Domestic Violence Victimization Among North Korean Refugee Women in
South Korea. J Interpers Violence.
Mello de Lima, Lucia Helena, Rosiane Mattar, Anelise Riedel Abrahão, 2016.
Domestic Violence in Pregnant Women - A Study Conducted in the
Postpartum Period of Adolescents and Adults. J Interpers Violence.
Miller, M.W., Sperbeck, E., Robinson, M.E., Sadeh, N., Wolf, E.J., Hayes, J.P.,
Logue, M., Schichman, S.A., Stone, A., Milberg, W. and McGlinchey, R.
2016. 5-HT2A Gene Varients Moderate the Association between PTSD and
Reduced Default Mode Network Connectivity. Frontiers in Neurology, Vol.
10.
Moldin, S.O. and Daly, M.J. 2009.Population Genetics and Genetic Epidemiology
in Psychiatry, in Neural Sciences, Kaplan & Sadock‟s Comprehensive
Textbook of Psychiatry, 9th ed., Lippincott Williams & Wilkins;229-320.
Moran, Mark, 2006.Partner Abuse More Common in Adults With Disorders as
Teens. Psychiatric News: 41;11, 25-26.
Mullen, P.E., 1997. Assessing risk of interpersonal violence in the mentally
ill.Advances in Psychiatry Treatment, vol. 3, pp. 166-173.
O‟Connor, Manjula, Joanne Cox, David J Castle, 2015. What Can Psychiatrists
Do to Better Support Victims of Family Violence?Australasian Psychiatry,
Vol 23(1) 59–62.
Peters, J. 2003. The domestic violence myth acceptance scale: development and
psychometric testing of a new instrument, The University of Maine.
Poirier, J.G. 2008.Violence in the Family, Including Lethal Outcome.Forensic
psychology and neuropsychology for criminal and civil cases, editor by
Harold V. Hall., CRC Press, Boca Raton, FL. USA.
Reynata, V. 2003. Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Masyarakat Pemantau
Peradilan Indonesia, FHUI.
Rhatigan, D.L., and Nathanson, 2010.The Role of Female Behavior and
Attributions.Predicting Behavioral Responses to Hypothetical Male
Aggression, University of Tennessee, Knoxville.
Richard, T.E., Hartup, W.W. and Archer, J. 2005. Developmental Origins of
Agression.The Guilford Press, New York.
55
Rittichier, K. 2011. What Happens If You Don't Have Enough Serotonin?Updated
March 27, available from http://www.ehow.com/in\fo 8118307 happens-
dont-enough-serotonin.html, 21 Maret 2012 pk. 07.00 Wita.
Rocca, C.H. 2009. Challenging Assumptions About Women‟s Empowerment:
Social and Economic Resources and Domestic Violence among Young
Married Women in Urban South India.International Journal of
Epidemiology, 38:577–585.
Sadock, Benjamin James and Virginia Alcott Sadock, 2007. Kaplan & Sadock‟s
Synopsis of Psychiatry, 10th ed, Lippincott Williams & Wilkins, USA;70-
132.
Sadock, Benjamin James, Virginia Alcott Sadock, Pedro Ruiz, 2009. Kaplan &
Sadock‟s Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th ed, Monoamine
Neurotransmitters, Lippincott Williams & Wilkins, USA;65-73.
Sadock, James,B., Sadock, V.Aand Ruiz, 2015. Physical and Sexual Abuse of
Adult, in Kaplan & Sadock‟s Synopsis of Psychiatry, 11th ed, Lippincott
Williams & Wilkins, USA; 824-830.
Sadock, James, B.and Sadock,V.A. 2007. Human Development Throughout the
Life Cycle, in Kaplan & Sadock‟s Synopsis of Psychiatry, 10th ed,
Lippincott Williams & Wilkins, USA;12-69.
Sadock, James, B.; Virginia Alcott Sadock and Pedro Ruiz, 2015. Child
Psychiatry, in Kaplan & Sadock‟s Synopsis of Psychiatry, 11thed, Lippincott
Williams & Wilkins, USA; 1082-1107.
Santoso, S. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep dan Aplikasi dengan
AMOS. Jakarta: Elex Media Komputindo, H. 123.
Santoso, S. 2012. Analisis SEM Menggunakan AMOS. Kompas Gramedia Jakarta.

Sasongko Agung, 2010. Benarkah Struktur Otak Pria dan Wanita Berbeda,
republika.co.id, London.
Sastroasmoro, S. dan Ismael, S. 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis,
Jakarta: Binarupa Aksara. H. 66-67.
Schumacker, R.E. and Lomax, R.G.2004.A Beginner's Guide to Structural
Equation Modeling, Second Edition.Lawrence Erlbaum Associates
Publishers, Marwah, New Jersey, London.

56
Shain, B.N. and Committee on Adolescent, 2007. Suicide and Suicide Attempts in
Adolescents, American Academy of Pediatrics; 120; 669-676.
Shakil, Amer; Smith Donald; James M. Sinacore; Martin Krepcho, 2005.
Validation of HITS Domestic Violence Screening Tools With Males; Fam
Med 37(3):193-198.
Sherin, Kevin et al. 1998. HITS: A Short Domestic Violence Screening Tool for
Use in a Family Practice Setting, Fam Med 30(7):508-12.
Soylu, N., Ayaz, M., Yuksel, T. 2014. Early married and sexually abused girls
differ in their psychiatric outcomes. Child Abuse & Neglect 38(2014), 1552-
1559.
Stahl, S.M. 2000. Depression and Bipolar Disorders, in Essential
Psychopharmacology, 2nd ed. Cambridge university Press, Cambridge, UK.
Stephenson, R.,Jadhav, A.,Winter, A.,Hindin, M. 2016. Domestic Violence and
Abortion Among Rural Women in Four Indian States, Violence Against
Women.
Suryohusodo, P. 2000. Mekanisme Molekuler Aktivitas Hormon, in Kapita Selekta
Ilmu Kedokteran Molekuler, Jakarta;79-101.
Taylor, S.E., Peplau,L.A., Sears,D.O. 2009. Social Psychology 12th ed. , Pearson
Education-Prentice Hall, Los Angeles.
Teicher, M.H., Samson, J.A. 2006. Cutting Words May Scar Young Brains,
Parental Verbal Abuse. Child Appears to Damage Cerebral Pathways. Am J
Psychiatry; 163:993-1000.
Trihendradi, C. 2013. Langkah Praktis Menguasai Statistik – Untuk Ilmu Sosial

dan Kesehatan. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentangPenghapusan Kekerasan Dalam


Rumah Tangga (PKDRT).
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Pengganti Undang-
UndangPerlindungan AnakNomor 23 Tahun 2002.
Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

57
Victoroff, J. 2009. Human Agression, in Kaplan & Sadock‟s Comprehensive
Textbook of Psychiatry, 9th ed. Neural Sciences, Lippincott Williams &
Wilkins;2672-2703.
Vreeburg, S.A., Hoogendijk, W.J.G., Johannes van Pelt, Roel H DeRijk et al,
2009. Major Depressive Disorder and Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis
Activity, Results From a Large Cohort Study, Arch Gen Psychiatry;
66(6):617-626.
Wardah, Fathiyah, Lebih dari 90 Persen Kekerasan terhadap Perempuan Terjadi di
Rumah Tangga, Jakarta. Available from RSS, Senin, 07 Maret 2011,file:
http://www.KDRT,%20Suicide/KDRT-Masih-Tinggi-Di-Indonesia-
117538588.html.
WHO Release, 2009. The Ten Most Expensive Deseases, in Forbes Magazine,
Desember 16, 2009. Available at http://www.seniorsworldchronicle.com/
2009usa-ten-most-expensive-deseases.html
Wilde, E.A., Kim, F., Schulz, P.E. and Yudofsky, S.C. 2014. Laboratory Testing
and Imaging Studies in Psychiatry, Textbook of Psychiatry, DSM-5 Ed,
Arlington, USA, 89-137.
Yudofsky, S.C. and Kim, H.F. 2004.NeuropsychiatricAssessment.American
Psychiatric Press, Washington, DC.

58