Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PERBANDINGAN HUKUM PIDANA BELANDA DAN JEPANG

DISUSUN

KELOMPOK 4

ROMY S SIDETTE (16051050)

ALVIAN TAMBOTO (150510

FIRST RIWO(170510

ERNESTO(170510

MATA KULIAH

PERBANDINGAN HUKUM PIDANA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha esa karena makalah ini

dapat selesai dengan tepat waktu dan juga penulis berterima kasih kepada dosen

mata kuliah yang telah membimbing dalam proses pembuatan makalah ini

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang PERBANDINGAN

HUKUM PIDANA BELANDA DAN JEPANG bisa bermanfaat untuk pembaca

dan memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Studi perbandingan hukum pidana pada dasarnya memperbandingkan

berbagai sistem hukum yang ada. Dalam Black’s Law Dictionary di

definisikan: “Comparative Jurisprudence is the study of the principles of legal

science by the comparison of various Systems of law” dalam hal ini yang

diperbandingkan adalah dua atau lebih sistem hukum yang berbeda.

Hukum pidana belanda dan hukum pidana jepang yang dimana kedua

negara ini menganut sistem hukum yang sama yaitu civil law atau Eropa

kontinental yang memili kodifikasi atau hukum yang berbentuk undang-

undang namun dalam pelaksanaannya sedikit berbeda karena mendapatkan

pengaruh dari sejarah dan perkembangannya, seperti jepang yang juga

menganut sistem hukum anglo saxon.

Sistem Hukum belanda mendapatkan pengaruh yang besar dari hukum

romawi yang kemudian dianut oleh Perancis dan kemudian terjadi penjajahan

atas belanda yang dilakukan Napoleon Bonaparte kaisar prancis hal ini pula

berpengaruh pada hukum pidana belanda yang awalnya hanya berdasar pada

hukum kebiasaan atau Gewoonterecht yang sudah berkembang yang akhirnya

menjadi terputus karena berkembangnya Code penal yang diberlakukan di

belanda namun hingga akhirnya Belanda resmi memiliki hukum pidana

sendiri pada tahun1886.


Begitu pula dengan Jepang yang awalnya sangat kuat dengan agama dan

budayanya dalam menjalankan hukum adat yang didasari hukum agama yang

menganggap kaisar sebagai perwakilan Tuhan di dunia menurut ajaran agama

Sinto Budha yang artinya apa pun yang dikatakan kaisar harus dituruti yang

akhirnya membuat jepang hancur yang diakibatkan oleh perang, karena

jepang adalah negara yang kalah perang maka dikendalikan oleh sekutu yang

membuat mereka kembali melakukan amandamen yang dimana kitab hukum

acara pidana jepang mengikuti Amerika yang memiliki sistem hukum

Common law dan kitab undang hukum pidananya tetap masih menggunakan

civil law.

Dengan beragamanya sistem hukum yang ada di negara negara di dunia

maka sangat beratlah untuk mengetahui semua sistem sistem hukum yang

dianut maka dalam makalah ini penulis hanya ingin membandingkan hukum

pidana Belanda dan Hukum pidana Jepang dengan melihat sejarah

perkembangannya dan penerapan hukumnya di kedua negara tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah sejarah perkembangan dan penerapan hukum pidana di

Belanda?

2. Bagaimanakah sejarah perkembangan dan penerapan hukum pidana di

Jepang?
C. TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penulisan

ini adalah sebagai berikut;

 Untuk mengetahui proses sejarah perkembangan dan penerapan dari

hukum pidana di Belanda.

 Untuk mengetahui proses sejarah perkembangan dan penerapan hukum

pidana di jepang.

D. MANFAAT PENELITIAN

Dalam penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi

penulis akan tetapi bermanfaat bagi orang lain, adapun manfaat dari penelitian

ini dirumuskan dalam dua hal yakni sebagai berikut;

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat memberikan pemikiran dan pengetahuan yang

bermanfaat bagi pembaca dan perkembangan ilmu hukum kuhusnya

pada perbandingan hukum baik secara akademik,teoritik,maupun

praktik.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan bagi pembaca

maupun masyarakat umum sebagai sumber informasi dan bahan

masukan untuk melakukan perbandingan hukum.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PERBANDINGAN PIDANA MENURU PARA AHLI

 Menurut Dr. Sunaryati Hartono

Perbandingan Hukum bukanlah suatu bidang hukum tertentu

seperti hukum tanah, hukum perburuhan, atau hukum acara akan

tetapi sekedar merupakan cara penyidikan suatu metode untuk

membahas suatu persoalan hukum dalam bidang mana pun juga.

 Menurut R.H.S. Tur

Ilmu Hukum Umum (General jurisprudence) dan perbandingan

hukum (comparative law) merupakan dua sisi yang berbeda dari

mata uang yang sama (a different sides of the same coin) Ilmu

hukum umum tanpa perbandingan adalah kosong dan formal

(empty and formal); sebaliknya perbandingan hukum tanpa ilmu

hukum umum adalah buta dan tidak dapat membeda-bedakan

(blind and discriminating).

 Rudolf B. Schlesinger

Perbandingan hukum merupakan metode penyelidikan dengan

tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang

bahan hukum tertentu.

 Esin Ocuru
Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu hukum yang

bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan serta menemukan

pula hubungan-hubungan erat antara pelbagai sistem-sistem hukum,

melihat perbandingan lembaga-lembaga hukum dan konsep-konsep

serta mencoba menentukan suatu penyelesaian atas masalah-

masalah tertentu dalam sistem-sistem hukum dimaksud dengan

tujuan seperti pembaharuan hukum, unifikasi hukum dan lain-lain


BAB III

PEMBAHASAN

1. SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PENERAPAN HUKUM

PIDANA DI BELANDA.

 Sejarah Perkembangan

Sebagaimana kita ketahui pada zaman jayanya kerajaan Romawi,

Eropa Barat dan Eropa Tenggara termasuk ke dalam wilayah

kekuasaan kerajaan Romawi. Dengan adanya penjajahan Romawi

tersebut, maka hukum Romawi itu pun dikenal oleh mereka. Hukum

Romawi dianggap sebagai Ratio Sripta. Oleh sebab itu lama-kelamaan

di daerah Eropa itu terjadi resepsi hukum Romawi, sehingga kemudian

hukum Romawi itu tidak lagi dirasakan sebagai hukum asing.

Mulai abad pertengahan banyak mahasiswa-mahasiswa dari Eropa

Barat dan Utara belajar di Universitas-universitas di Itali dan Prancis

selatan. Pada zaman ini yang dipelajari oleh ahli hukum hanya hukum

Romawi. Adanya kepercayaan pada hukum alam yang asasi, yang

dianggap sebagai suatu hukum yang sempurna dan berlaku bagi setiap

tempat dan waktu (zaman). Oleh karena mereka yang menerima

hukum alam itu tidak dapat melepaskan dirinya dari hukum Romawi,

maka biasanya mereka menyamakan hukum alam itu dengan hukum

Romawi.
Di negara Belanda, hukum yang mula-mula berlaku adalah hukum

kebiasaan yaitu hukum Belanda kuno. Namun akibat penjajahan

Perancis (1806 1813) terjadilah perkawinan hukum Belanda kuno

dengan Code Civil. Tahun 1814, setelah Belanda merdeka dibentuklah

panitia yang dipimpin oleh J.M. Kemper untuk menyusun kode hukum

Belanda berdasarkan Pasal 100 Konstitusi Belanda. Konsep kode

hukum Belanda menurut Kemper lebih didasarkan pada hukum

Belanda kuno, namun tidak disepakati oleh para ahli hukum Belgia

(pada saat itu Belgia masih bagian dari negara Belanda), karena

mereka lebih menghendaki Code Napoleon sebagai dasar dari konsep

kode hukum Belanda.

Setelah Kemper meninggal (1824), ketua panitia diganti oleh

Nicolai dari Belgia. Akibatnya kode hukum Belanda sebagian besar

lebih didasarkan pada Code Napoleon dibandingkan hukum Belanda

kuno. Namun demikian susunannya tidak sama persis dengan Code

Napoleon, melainkan lebih mirip dengan susunan Institusiones dalam

Corpus Juris Civils yang terdiri dari empat buku.

Mengenai kodifikasi dapat diketengahkan, bahwa maksud dari

kodifikasi adalah agar adanya kepastian hukum secara resmi dalam

suatu sistem hukum tertentu. Akan tetapi masyarakat terus

berkembang, sehingga hukumnya dituntut untuk ikut terus berkembang.

Dengan metode kodifikasi dalam suatu sistem hukum yang terjadi

adalah hukum selalu tertinggal di belakang perkembangan masyarakat,


karena banyak masalah-masalah yang tak mampu diselesaikan oleh

kodifikasi hukum. Kodifikasi tidak lagi dianggap sebagai suatu produk

yang dapat mengatur masyarakat secara keseluruhan dan secara

sempurna, melainkan masih tercipta kekosongan hukum dalam arti

masih banyak hal-hal yang belum diatur.

Jika dilihat lebih ke belakang, pertama kali negara Belanda

membuat perundang-undangan hukum pidana sejak tahun 1795 dan

pada tahun 1809 disahkan. Kodifikasi hukum pidana nasional pertama

ini disebut dengan Criminal Wetboek voor Het Koninkrijk Holland.

Namun hanya dua tahun berlaku, karena Perancis menjajah Belanda

pada tahun 1811 dan memberlakukan Code Penal (kodifikasi hukum

pidana) yang dibuat tahun 1810 saat Napoleon Bonaparte menjadi

penguasa Perancis. Pada tahun 1813, Perancis meninggalkan negara

Belanda. Walaupun demikian negara Belanda masih mempertahankan

Code Penal itu sampai tahun 1886. Pada tahun 1886 mulai

diberlakukan Wetboek Van Strafrecht(kitab undang hukum pidana)

sebagai pengganti Code Penal Napoleon.

 Penerapan hukumnya

Dalam penerapan hukum pidana di Belanda memakai kitab hukum

acara pidana atau (WVS) Wetboek Van Strafrecht yang sesuai dengan

sistem hukumnya Eropa kontinental atau civil law yang hukumnya di

kodifikasikan atau di bukukan dan juga melalui peradilan sesuai


dengan yang telah di tetapkan di WVS dan dalam penerapannya

bersumbar pada undang-undang , traktat ,dan putusan pengadilan.

2. SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PENERAPAN HUKUM

PIDANA DI JEPANG

 Sejarah Perkembangan

sejarah hukum pidana Jepang lebih beragam mengingat beberapa

hukum negara lain pernah dipakai dalam rangka pembentukan hukum

pidana Jepang. Pembabakan hukum asing yang digunakan di Jepang

dapat dibagi menjadi tiga tahapan (Hiroshi Oda. 2009:13). Pertama, di

abad ke-7 dan 8, saat Jepang mengadopsi sistem politik dan hukum

Cina yang berlaku hingga berakhirnya era Shogun Tokugawa (periode

Edo, 1603-1868). Kedua, pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad

ke-20, pada peralihan dari era Shogun Tokugawa ke era Meiji (masa

dimana Jepang mulai membuka diri terhadap dunia luar). Pada masa

ini hukum Eropa (Perancis dan kemudian Jerman) diadopsi Jepang.

Masa ini adalah masa dimana Revolusi Perancis terjadi, era

industrialisasi yang terjadi di Eropa juga berdampak ke Jepang. Di titik

ini pulalah kita (Indonesia) memiliki pertalian ‘silsilah hukum’ dengan

Jepang, mengingat KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)

yang kita gunakan juga berakar dari Code Penal Perancis. Hingga kini

kitab hukum pidana Jepang masih menggunakan kitab hukum pidana

yang diberlakukan sejak 1907, dengan berbagai perubahan tentunya.


Ketiga, pasca perang dunia ke-II, di masa ini Jepang yang kalah perang

dari Amerika nampak ‘dikendalikan’ Amerika. Dalam periode ini

beberapa undang-undang di amandemen atau digantikan dengan

didasarkan pada hukum Amerika. Konstitusi Jepang yang diundangkan

1946 misalnya, mengadopsi konstitusi Amerika.

Jepang menjadi negara sekuler, memisah tegas ranah agama dan

negara. Ini dipicu oleh anggapan peran kelam agama dalam periode

perang Dunia ke-II. Dalam pandangan agama Shinto, kaisar adalah

perwakilan Tuhan, sehingga jika kaisar menginginkan perang maka

rakyat harus patuh, dan keinginan kaisar ini yang dipercaya Amerika

memicu Jepang untuk berkuasa dan menyerang beberapa negara lain

(termasuk Indonesia).

Maka agama harus dipisah tegas dari negara. Ini menjadi latar

belakang mengapa negara ini kemudian menjadi negara sekuler.

Sehingga itu pula sebabnya hingga kini agama tidak diajarkan di

sekolah-sekolah negeri di Jepang. Sebelumnya leluhur Jepang banyak

menganut Shinto dan Buddha, saat ini sebagian besar orang Jepang tak

begitu percaya pada agama kecuali hanya sebatas budaya.

Selain konstitusi, jenis hukum lainnya yang dipengaruhi hukum

Amerika adalah Hukum Acara Pidana Jepang yang mengadopsi

Hukum Acara Pidana Amerika. Ini menjadi keunikan tersendiri,

sementara Kitab Hukum Pidana Jepang mengadopsi Perancis/Jerman

yang memiliki tradisicivil law/Eropa Kontinental, Hukum Acara


Pidana Jepang mengadopsi Amerika (Common law/Anglo-Saxon)

yang memiliki tradisi hukum yang berbeda dengancivil law.

 Penerapan hukum

Dalam konteks penerapan hukum Jepang, pengadilan adalah jalan

terakhir yang ditempuh untuk menyelesaikan perkara karena sudah

menjadi budaya karena dalam penyelesaian kasus di jepang harus

melalui tradisi karena memiliki budaya hukum yang turun temurun ,

meski sudah memiliki hukum yang di kodifikasikan berupa Kuhp

jepang atau(Code Penal of Japan) dan Kuhap jepang yang juga hasil

amandemen dan memakai kuhap Amerika yang memilki sistem Anglo

Saxon yang berbeda dengan Kuhap yang memakai Eropa Kontinental

namun dalam penyelesaian masalah tindak pidana selalu melalui

musyawarah terlebih dahulu yang sudah menjadi fenomena di

jepang ,pengadilan adalah jalan terakhir dalam penyelesaian tindak

pidana di jepang.
BAB IV

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas kelompok kami memberikan kesimpulan dan saran

sebagai berikut

A. Kesimpulan

Perbandingan Hukum pidana Belanda dan Jepang meiliki sejarah yang

berbeda dalam perkembangannya maupun penerapanya, hukum pidana di belanda

adalah murni produk hukum civil law berbeda dengan Jepang yang menganut dua

produk system hukum dalam hukum pidananya yang dimana KUHP Jepang hasil

produk dari system hukum civil law sedangkan Kuhap adalah produk system

Anglo saxon. Dan penerapannya sudah jelas memakai hukum yang berlaku di

KUHP dan KUHP namun dalam budaya masyarakat jepang lebih memilih tradisi

dalam penyelesain masalahnya yaitu dengan meminta maaf dan pengadilan hanya

menjadi penyelesain akhir dari masalah.

B. Saran

Dalam pandangan Penulis perbandingan Hukum pidana Belanda dan

Jepang memiliki keunikan tersendiri dalam Penerapannya yang diakibatkan

karena sejarah dan perkembanganya. Dan penulis sangat setuju dengan hukum

yang berlaku di jepang maupun belanda yang sudah sangat baik bukan hanya dari

segi hukum yang sudah dikodifikasi tapi dari penerapannya. Namun, belanda

harus lebih mencontohi jepang dari segi pemberlakukan hukum pidana yang

dimana jepang mengunakan hukum pidana sebagai alternatif yang terakhir dari

suatu tindak pidana sesuai dengan tujuan awal dari hukum pidana.