Anda di halaman 1dari 11

Darah

Darah memiliki komposisi yang terdiri atas sekitar 55% cairan darah (plasma) dan
45% sel darah.
a) Sel Darah
Sel darah terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan
keping darah (trombosit).
b) Plasma Darah
Plasma darah merupakan bagian darah yang encer dan berwarna kekuning-
kuningan. Sebagian besar plasma (90%) adalah air dan 10% terdiri atas zat-zat lain
sebagai berikut :
 Antibodi, berguna untuk pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun.
 Garam-garam mineral, berguna untuk metabolisme tubuh.
 Protein darah (albumin dan globulin), berguna untuk menjaga keseimbangan cairan
tubuh.
 Fibrinogen, berguna untuk pembekuan darah.
 Hormon, yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh.
 Zat makanan, seperti vitamin, mineral, asam lemak dan glukosa.

Glukosa
Glukosa atau yang sering disebut dekstrosa maupun gula anggur terdapat luas
di alam dalam jumlah sedikit yaitu di dalam sayur, buah, sirup jagung, sari pohon, dan
bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Tubuh hanya dapat menggunakan glukosa
dalam bentuk dekstro. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa,
maltosa, dan laktosa pada hewan dan manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa
merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel yang
digunakan sebagai sumber energi. Dalam keadaan normal sistem syaraf pusat hanya
dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Glukosa dalam bentuk bebas
hanya terdapat dalam jumlah terbatas dalam bahan makanan. Glukosa dapat
dimanfaatkan untuk energi tinggi. Tingkat kemanisan glukosa hanya separuh sukrosa,
sehingga dapat digunakan lebih banyak untuk tingkat kemanisan yang sama. (Dorland,
2002).
Glukosa (C6H12O6) memiliki berat molekul 180,18 termasuk dalam heksosa
yaitu monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa dalam makanan
sebagian besar terdapat dalam bentuk disakarida (secara kimiawi terikat ke molekul
gula lain) dan sebagai kanji polisakarida kompleks. Dalam mukosa usus halus,
disakarida diuraikan menjadi monosakarida oleh enzim yang disebut disakaridase.
Kanji diuraikan oleh amilase yang dikeluarkan oleh pankreas dan juga oleh kelenjar
air liur. Gula diserap di usus dalam bentuk monosakarida (Irawan, 2007).

Glukosa Darah

Definisi

Glukosa darah merupakan karbohidrat dalam bentuk monosakarida yang terdapat


dalam darah dan diperoleh dari kandungan karbohidrat di dalam makanan maupun minuman
yang kita konsumsi. Organ-organ yang berpengaruh dalam metabolisme glukosa antara lain
hati dan pankreas. Glukosa darah berada dalam keseimbangan dan mengatur secara hormonal
yaitu hormon tiroid, hormon insulin, hormon efineprin dan hormon pertumbuhan (Ganong,
1990).

Glukosa atau kadar gula ketika sudah diolah dan disimpan dalam tubuh sebagai salah
satu sumber energi bagi manusia disebut sebagai glikogen. Letak glikogen berada di otot
rangka tubuh dan organ hati manusia. Glikogen diolah oleh tubuh di dalam pankreas dari
pengolahan ini menghasilkan hormon somastotasin, glukogan dan insulin sehingga ketiga
hormon inilah yang sangat mempengaruhi kadar gula dalam tubuh manusia. (Murray et al.,
2006).

Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Umumnya tingkat glukosa dalam darah bertahan pada batas-batas 4-8 mmol/L/hari (70-150
mg/dL), kadar ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah di pagi
hari sebelum orang-orang mengkonsumsi makanan (Mayes, 2001).

Sumber Glukosa Darah

a) Karbohidrat dalam makanan (glukosa, galaktosa, fruktosa)

Karbohidrat dalam makanan terdapat dalam bentuk polisakarida, disakarida, dan


monosakarida. Karbohidrat dipecah oleh ptyalin dalam saliva di dalam mulut. Enzim ini
bekerja optimum pada pH 6,7 sehingga akan dihambat oleh getah lambung ketika makanan
sudah sampai di lambung. Dalam usus halus, amilase pankreas yang kuat juga bekerja atas
polisakarida yang dimakan. Ptyalin saliva dan amilase pankreas menghidrolisis polisakarida
menjadi hasil akhir berupa disakarida, laktosa, maltosa, sukrosa. Laktosa akan diubah
menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan enzim laktase. Glukosa dan fruktosa
dihasilkan dari pemecahan sukrosa oleh enzim sukrase. Sedangkan enzim maltase akan
mengubah maltosa menjadi 2 molekul glukosa. Monosakarida akan masuk melalui sel
mukosa dan kapiler darah untuk diabsorbsi di intestinum. Masuknya glukosa ke dalam epitel
usus tergantung konsentrasi tinggi Na+ di atas permukaan mukosa sel. Glukosa diangkut oleh
mekanisme ko-transpor aktif natriumglukosa dimana transpor aktif natrium menyediakan
energi untuk mengabsorbsi glukosa melawan suatu perbedaan konsentrasi. Mekanisme
tersebut juga berlaku untuk galaktosa. Pengangkutan fruktosa menggunakan mekanisme yang
berbeda yaitu dengan mekanisme difusi fasilitasi (Ganong, 2003). Unsur-unsur gizi tersebut
diangkut ke dalam hepar lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi
menjadi glukosa di dalam hepar (Murray et al.,2003).

b) Glukoneogenesis

Glukoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk semua mekanisme dan lintasan
yang bertanggung jawab atas perubahan senyawa non karbohidrat menjadi glukosa atau
glikogen. Glukosa dibentuk melalui proses glukoneogenesis dari berbagai senyawa
glukogenik. Senyawa ini dapat digolongkan menjadi dua kategori yaitu: senyawa yang
melibatkan konversi neto langsung menjadi glukosa tanpa daur ulang yang bermakna, seperti
beberapa asam amino serta propionat dan senyawa yang merupakan produk metabolisme
parsial glukosa pada jaringan tertentu dan yang diangkut ke hati serta ginjal untuk disintesis
kembali menjadi glukosa. Alanin merupakan asam amino yang paling dominan ditranspor
dari otot ke hati selama masa kelaparan. Kenyataan ini kemudian menghasilkan postulasi
siklus glukosa alanin, yang berefek pendauran glukosa dari hati ke otot dengan pembentukan
piruvat yang diikuti dengan transaminasi menjadi alanin, lalu transpor alanin ke hati, dan
kemudian diikuti oleh glukoneogenesis kembali menjadi glukosa (Stryer, 2000).

c) Glikogenolisis

Mekanisme penguraian glikogen menjadi glukosa yang dikatalisasi oleh enzim fosforilase
dikenal sebagai glikogenolisis. Glikogen yang mengalami glikogenolisis terutama simpanan
di hati, sedang glikogen otot akan mengalami deplesi yang berarti setelah seseorang
melakukan olahraga yang berat dan lama. Di hepar dan ginjal (tetapi tidak di dalam otot)
terdapat enzim glukosa 6-fosfatase, yang membuang gugus fosfat dari glukosa 6-fosfat
sehingga memudahkan glukosa untuk dibentuk dan berdifusi dari sel ke dalam darah (Murray
et al., 2003).

Fungsi glukosa dalam tubuh yakni sebagai sumpenyedia tenaga, pendukung proses
metabolisme, pengatur suhu tubuh, analit pada proses tes darah serta memperbaiki dan
memulihkan otot

Dampak kelebihan glukosa yakni dapat terkena penyakit DM atau Diabetes Melitus,
mengalami kerusakan gigi, mengalami kerusakan hati, memiliki berat badan berlebih atau
obesitas, kerusakan atau membengkaknya jantung, penuaan sel otak serta kanker hati.

Dampak kekurangan glukosa yakni cepat lelah , kelaparan, gampang lemas, pingsan,
kesulitan fokus dan konsentrasi, perubahan perilaku , muncul kegugupan dan keringat dingin,
menggigildan kejang-kejang, kebingungan

Kadar glukosa darah

Kadar glukosa darah merupakan parameter utama untuk menilai metabolisme karbohidrat
(Henry dan Howanitz, 1996).

Pengaturan Kadar Glukosa Darah

Konsentrasi glukosa darah diatur dalam batas – batas yang sempit. Dalam keadaan setelah
penyerapan makanan, kadar glukosa darah pada manusia dan banyak mamalia akan berkisar
antara 4,5-5,5 mmol/L. Setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kadar
tersebut dapat naik menjadi 6,5-7,2 mmol/L. Saat puasa kadar glukosa darah akan turun
menjadi sekitar 3,3–3,9 mmol/L Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil dalam
darah merupakan salah satu mekanisme homeostatis (Guyton and Hall, 2007).

Pengaturan kadar glukosa darah yang stabil dalam darah adalah mekanisme homeostatik yang
merupakan kesatuan proses metabolisme berupa produksi insulin dari sel β pankreas dan
kerja hepar dalam proses glikogenesis, glukoneogenesis, dan glikolisis (Guyton dan Hall,
1997).

Insulin ialah suatu polipeptida dengan BM kira-kira 6000, terdiri 51 asam amino, dan
tersusun dalam 2 rantai, rantai A dan rantai B yang dihubungkan jembatan disulfida (Tony
dan Suharto, 2005). Insulin disintesa oleh sel β pankreas. Kontrol utama atas sekresi insulin
adalah sistem umpan balik negatif langsung antara sel β pankreas dengan konsentrasi glukosa
dalam darah. Peningkatan kadar glukosa darah seperti yang terjadi setelah penyerapan
makanan secara langsung merangsang sintesis dan pengeluaran insulin oleh sel β pankreas
(Sherwood, 1996).

Insulin akan menurunkan kadar gula darah dengan cara membantu uptake glukosa ke dalam
otot dan jaringan lemak, penyimpanan glukosa sebagai glikogen dalam hati, dan menghambat
sintesis glukosa (glukoneogenesis) di hati (Sheidel, 2001). Efek hormon insulin secara
keseluruhan adalah mendorong penyimpanan energi dan meningkatkan pemakaian glukosa
(Sacher dan Mc Phernon, 2004).

Faktor internal yang mempengaruhi pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh diantaranya
dipengaruhi oleh enzim glukokinase, insulin, glukagon, hormon pertumbuhan, glukokortikoid,
tiroksin, sistem gastrointestinal. Sedangkan faktor eksternal berupa penurunan dan
peningkatan asupan karbohidrat (pati) mempengaruhi kadar gula dalam darah (Price and
Wilson, 1995).

Faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah

1) Enzim

Glukokinase penting dalam pengaturan glukosa darah setelah makan (Murray et al., 2003).

2) Hormon

Insulin bersifat menurunkan kadar glukosa darah. Glukagon, GH, ACTH, glukokortikoid,
epinefrin, dan hormon tiroid cenderung menaikkan kadar gula darah, dengan demikian
mengantagonis kerja insulin (Murray et al., 2003).

3) Sistem gastrointestinal

Gangguan pada sistem gastrointestinal dapat mengurangi absorbsi karbohidrat di usus dan
menurunkan glukosa darah (Sherwood, 1996).

4) Stres
Hampir semua jenis stres akan meningkatkan sekresi ACTH oleh kelenjar hipofise anterior.
ACTH merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol. Kortisol ini yang akan
meningkatkan pembentukan glukosa (Guyton dan Hall, 1997).

5) Asupan karbohidrat

Penurunan dan peningkatan asupan karbohidrat (pati) mempengaruhi kadar gula dalam darah
(Sherwood, 1996).

5. Pengukuran kadar glukosa darah

Glukosa darah dapat ditentukan dengan berbagai cara, baik secara kimiawi maupun secara
enzimatik. Prinsip penentuannya didasari pada kemampuan glukosa untuk mereduksi ion
anorganik seperti Cu2+ atau Fe(CN)63-.

e. Metode pemeriksaan Glukosa darah:

1) Somogyi – Nelson

Prinsip : protein diendapkan dengan Ba(OH)2 dan ZnSO4disertai zat pereduksi lainnya.
Filtrat dipanaskan suhu 100°C selama 20 menit dengan larutan tembaga tartrat basa, terjadi
oksidasi glukosa :

Glukosa + Cu2+ + OH- ----->mix sugar acid + Cu2O

Cu2O + arsenomolibdat (Mo6+) + 4H+ ----> 2 Cu2+ + arsenomolibdat (Mo5+) biru + H2O

2) Folin – Wu

Prinsip: Protein diendapkan dengan Ba(OH)2 dan ZnSO4disertai zat pereduksi lainnya.
Filtrat dipanaskan suhu 100°C selama 20 menit dengan larutan tembaga tartrat basa, terjadi
oksidasi glukosa :

Glukosa + Cu2+ + OH- ----->mix sugar acid + Cu2O

Cu2O direaksikan dengan larutan fosfomolibdat terbentuk kompleks molibdenum berwarna


biru dan diukur spektrofotometer pada 420 nm.

3) Hagedorn – Jansen
Prinsip: Ferisianida berwarna kuning dalam suasana basa dan panas akan direduksi oleh
glukosa menjadi ferosianida yang tak berwarna. Kelebihan ferisianida ditentukan secara
iodometri menggunakan KI dalam asam membentuk iodium, dititrasi dengan tiosulfat dengan
indikator amilum.

2 Fe(CN)63- + 2 I- -----> 2 Fe(CN)64- + I2

I2 + S2O32- ----> 2 I- + S4O62-

4) Kingley – Reinhold

Prinsip: Ferisianida berwarna kuning dalam suasana basa dan panas akan direduksi oleh
glukosa menjadi ferosianida yang tak berwarna. Memucatnya warna larutan diukur pada 420
nm dan sebanding dengan kadar glukosa. Cara ini diganggu oleh kreatinin dan asam urat
karena bereaksi juga, dengan kadar yang tinggi sangat berpengaruh.

5) Orto Toluidine

Prinsip: Glukosa bereaksi melalui gugus aldehid berkondensasi dengan orto-toluidin


menghasilkan keseimbangan glukosamine dan basa schiff. Warna yang terjadi dukur pada
spektrofotometer.

6) GOD PAP

Prinsip: Cara enzimatik menggunakan glukosa oksidase dan peroksidase. Glukosa dioksidasi
oleh enzim glukosa oksidase (GOD) membentuk asam glukonat dan H2O2. H2O2 yang
terbentuk dengan fenol dan 4-aminophenazone dan bantuan enzim peroksidase membentuk
kompleks berwarna merah yang diukur pada spektrofotometer panjang gelombang 546 nm.

7) Heksokinase

Prinsip : Heksokinase akan mengkatalis reaksi fosforilasi glukosa dengan adenosine


triphosphate (ATP) membentuk glukosa 6-fosfat dan adenosine diphosphate (ADP). Enzim
kedua yaitu glukosa 6-fosfat dehidrogenase akan mengkatalis oksidasi glukosa 6-fosfat
dengan nikolinamide adnine dinueleotide phosphate (NAPP+) Glukosa + ATP peroksidase
Glukosa-6-fosfat + ADP Glukosa-6-fosfat +NAD (P) G-6-PD 6-fosfoglukonat + NAD(P)H +
H+

8) Glukastik

Prinsip : Metode stik penetapan kadar glukosa berdasarkan teknik deteksi elektrokimia.
Darah diteteskan pada carik uji, enzim glukosa oksidase akan mengkatalisis glukosa oksidase
menghasilkan asam glukonat. Selama reaksi terjadi pelepasan elektron dipindahkan ke
elektrokimiawi ferricinium+ke permukaan elektroda, arus listrik yang diukur oleh sensor.
Besarnya arus sebanding dengan kadar glukosa.

Metode hexokinase merupakan salah satu gold standard dalam pemeriksaan kadar glukosa
darah yang menggunakan spektrofotometer. (Kaplan,1987)

Metode Pemeriksaan Glukosa

a. POCT

Kadar glukosa darah dapat dipantaudengan menggunakan alat glukometer ataupoint of care
test (POCT). Point of care test (POCT) didefinisikan sebagai tes medis di atau dekat tempat
perawatan pasien oleh profesional kesehatan yang terlatih atau tes yang dapat dilakukan di
samping tempat tidur dan biasanya melibatkan tes darah dan urin (Widagdho, 2013).
Keuntungan dari POCT adalah untuk membawa tes dengan nyaman dan segera kepada pasien.
Ini meningkatkan kemungkinan bahwa dokter dan tim perawatan akan menerima hasil lebih
cepat, memungkinkan dokter untuk mendukung diagnosis, pemantauan dan perawatan pasien
yang tepat waktu, membutuhkan spesimen yang sedikit.dan biaya yang relatif murah
(Widagdho, 2013). Kerugian dari POCT adalah alat POCT tidak dapat mendeteksi sampel
lipemik, ikterik dan hemolisis. Menurut beberapa penelitian, deteksi visual tidak memadai
untuk menentukan keberadaan lipemia pada sampel darah utuh. Demikian pula, hemolisis
tidak mungkin dideteksi secara visual pada sampel darah utuh dan dapat sangat merusak hasil
yang dihasilkan.Kualitas hasil sering terkait langsung dengan kualitas sampel, sampel yang
buruk atau teknik analisis yang salah akan menghasilkan hasil yang buruk (Widagdho, 2013).
Klinisi dari IGD seringkali menghendaki efisiensi dalam menghadapi kebutuhan
perkembangan pelayanan kesehatan kegawatdaruratan. Rencana pemberian terapi seringkali
tergantung pada hasil laboratorium. POCT dianggap sebagai teknologi yang dapat melayani
kebutuhan tersebut dengan akurat dan penurunan TAT (turn arround time) sebesar 50 %.
“Modernising Pathology Services” merupakan istilah di mana pihak laboratorium menerima
POCT untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Dengan layanan jaringan yang baik, di
mana POCT dapat terhubung dengan Instalasi Laboratorium Sentral, serta pengawasan
kontrol dan kalibrasi yang baik, maka POCT mendapat peranan dalam pasar teknologi
diagnostik, bahkan dapat digunakan oleh pasien di rumah maupun komunitas di luar
laboratorium.

Hexokinase

Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara
melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa
yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya akan diserap dan sisanya akan dilewatkan.Alat atau
instrumen yang satu ini dilengkapi dengan sumber cahaya (gelombang elektromagnetik), baik
cahaya UV (ultra violet) ataupun cahaya tampak (visible). Masing-masing cahaya pada alat
ini berguna untuk menangkap objek dengan panjang gelombang yang berbeda (Kaplan, 1987)

Pada prinsipnya, alat ini adalah hasil penggabungan dari alat spektrometer dan fotometer.
Spektrometer adalah alat yang menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
tertentu. Spektrometer memiliki alat pengurai seperti prisma yang dapat menyeleksi panjang
gelombang dari sinar putih.Sedangkan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsikan. Pada fotometer terdapat filter dari berbagai warna yang
memiliki spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu (Kaplan, 1987).

Prinsip kerja alat ini berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io)
melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian
dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Transmitan adalah perbandingan
intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya
mula-mula sebelum melewati sampel (Io).
Spektrofotometri UV-Vis adalah gabungan antara spektrofotometri UV dan sinar tampak
(visible) yang menyebabkan terjadinya eksitasi elektron dari tingkat rendah (ground state)
menuju tingkat yang lebih tinggi (exited state). Eksitasi elektron yang terjadi pada

spektroskopi UV-Vis adalah transisi elektron dari 𝜋→𝜋∗ atau n → 𝜋∗ (Pavia, Lampman,

Kriz, Vyvyan, 2009).

Spektrofotometri UV-Vis merupakan analisis kuantitatif secara langsung, salah satunya dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya gugus kromofor, sedangkan analisis kuantitatif tak
langsung misalnya untuk mendeteksi ion logam transisi. Kromofor merupakan zat warna
yang terdapat dalam suatu senyawa seperti yang ada pada diena, keton terkonjugasi, aromatik,
poliena dan lain sebagainya.

Spektrofotometri ini memiliki panjang gelombang 200- 380 nm untuk UV dan panjang
gelombang 380-780 nm untuk sinar tampak (visible) (Gary, 2004). Rentang panjang
gelombang tersebut seperti yang ada pada Gambar 2.9.

Persyaratan hukum Lambert Beer, antara lain:

1) Radiasi yang digunakan harus monokromatik.

2) Energi radiasi yang diabsorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia.

3) Sampel (larutan) yang mengabsorbsi harus homogen.

4) Tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh
terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat (harus encer).

Komponen-komponen Spektrofotometer UV-Vis

Komponen-komponen yang terdapat dalam spektrofotometer UV-Vis adalah sebagai berikut:

a. Sumber

Sumber cahaya yang umumnya digunakan oleh spektrometer UV-Vis adalah lampu
deuterium yang digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada rentang UV,
sedangkan lampu tungsten (Wolfram) digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada
daerah tampak (visible).

b. Monokromator
Monokromator berperan untuk menyebarkan berkas cahaya yang masuk (difraksi) dalam
rentang panjang gelombang. Cahaya yang telah didifraksikan kemudian difokuskan menjadi
satu panjang gelombang yang diinginkan.

c. Kuvet

Wadah sampel atau kuvet berukuran 1 cm ini berbentuk transparan agar dapat mengukur
panjang gelombang pada larutan. Wadah sampel pada rentang UV terbuat dari kuarsa,
sedangkan pada rentang sinar tampak (visible) biasanya terbuat dari bahan gelas atau kuarsa.
Bahan kaca ataupun plastik kurang direkomendasikan pada pengukuran UV karena bahan
tersebut dapat menyerap radiasi pada rentang panjang gelombang tersebut.

d. Detektor

Cahaya yang diteruskan sampel akan ditangkap oleh detektor. Detektor berfungsi untuk
mengubah energi foton menjadi energi listrik. Detektor yang digunakan harus memiliki
sensitivitas yang tinggi, stabil serta waktu respon yang singkat.

(Pavia, Lampman, Kriz, Vyvyan, 2009).

Ilustrasi dari komponen-komponen spektrofotometer

UV-Vis dapat dilihat pada Gambar 2.10.