Anda di halaman 1dari 5

KONTEKS HUKUM ELEKTROKIMIA FARADAY

Oleh: Stanley M. Guralnick

DISUSUN OLEH:

SEPTI ARDIANTI (1906618)


TIRTA YANI SURYA (1906710)
VITRIASTUTI (1906729)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
KONTEKS HUKUM ELEKTROKIMIA FARADAY
Oleh: Stanley M. Guralnick

FARADAY DAN HUKUM FARADAY


“Hukum Dekomposisi Elektrokimia” Faraday secara kolektif diketahui pada abad ke-
19, sejak itu menjadi tidak terbantahkan sehingga mudah untuk melupakan bahwa hukum
tersebut secara teoritis pernah bermasalah. Penelitian elektrokimia Faraday dimulai dengan
hipotesis, “Ketika dekomposisi elektrokimia berlangsung, jumlah materi yang terlibat tidak
sebanding degan intensitas listrik, tetapi dengan jumlah listrik yang ada”. Tetapi, ia sedikit
terkejut ketika melakukan suatu eksperimen dengan larutan asam sulfat yang menunjukkan
bahwa gaya magnet dari galvanometer berbanding lurus dengan kuantitas absolut listrik yang
mengalir. Sedangkan Faraday memiliki kepercayaan bahwa fenomena kimia adalah listrik
dan listrik serta segala jenis materi tertentu dapat dikaitkan dalam proporsi tertentu. Tetapi
setelah berpikir tentang kemampuan konversi daya listrik, Faraday mengalihkan perhatiannya
pada sifat hubungan listrik dengan fenomena kimia.
Ketika Faraday mencoba untuk menggeneralisasi proporsionalitas antara listrik dan
materi, ia menemukan pernyataan yang lebih umum, yang menghubungkan semua zat satu
sama lain melalui identitas kelistrikannya. Mengikuti Faraday, para ilmuwan abad ke-19
selalu menggunakan bentuk tunggal “Hukum Dekomposisi Elektrokimia”. Namun, akhirnya
hukum ini dibagi menjadi dua bagian. Hukum pertama menjelaskan tentang listrik,
sedangkan hukum kedua menjelaskan tentang materi.
Faraday sendiri menekankan dan berjuang untuk memahami hukumnya. Dia mencoba
memahami hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa jumlah listrik yang sama
mendekomposisi jumlah ekivalen kimia yang sama dari semua zat, terlepas dari berbagai
gaya afinitas dengan kombinasi yang berbeda.
Perjuangan Faraday mengirimnya ke berbagai arah, tetapi tidak pernah sampai pada
kesimpulan yang memuaskan. Faraday mempertanyakan,”Mengapa tampilan kasar berbagai
substansi (massa) tidak dapat direduksi ke dalam bentuk gaya?”. Faraday juga tidak bisa
mengerti mengapa intensitas listrik tidak masuk ke dalam hubungan antara listrik dan materi
yang diungkapkan oleh hukumnya. Tentu saja, dia tau perbedaan antara kuantitas dan
intensitas listrik, tetapi tanpa hukum konservasi energi, menghubungkan listrik dengan
afinitas tidak bisa dilaksanakan. Dengan menyamakan kuantitas listrik dengan energi kimia,
tampaknya diperlukan ekuivalen dari semua zat digabungkan dengan gaya afinitas yang
sama, suatu kesimpulan yang membuatnya sulit untuk mengukur afinitas.
Faraday menemukan intensitas ambang tertentu di bawah dekomposisi tidak akan
terjadi, ia berharap bahwa ini akan menjadi petunjuk mengenai afintas. Tetapi, diatas ambang
batas , ia hanya menemukan kurangnya hubungan antara intensitass listrik dan jumlah produk
penguraian yang ia temukan. Maka dari itu, nilai ambang batas tidak bisa menjadi ukuran
afinitas. Intensitas dan kuantitas listrik tidak terkait dalam persamaan dekomposisi seperti
yang ditegaskan oleh hukum, demikian juga ambang batas.
Faraday tiba-tiba meninggalkan penelitian yang menghasilkan hukumnya tersebut
dengan mengatakan, “Saya akan menunda merevisi keseluruhan teori dekomposisi
elektrokimia sampai saya memperoleh pandangan yang lebih jelas mengenai bagaimana cara
energi dapat muncul pada waktu tertentu dan berkaitan dengan partikel yang memberi mereka
daya tarik kimia, sedangkan di lain waktu sebagai listrik bebas. Dalam sebuah esai yang
ditulis beberapa tahun sebelum kematiannya pada tahun 1867, ia tidak dapat mengatakan apa-
apa lagi tentang materi dan elektrisitas dengan tidak ada cara untuk mengukur afinitas.
SETELAH FARADAY
Setelah berhentinya Faraday untuk melakukan penelitian terhadap hukumnya tersebut.
Terdapat beberapa ahli yang meragukan hukum Faraday tersebut. Ilmuwan pertama dan
mungkin satu-satunya ahli kimia yang memberikan serangan teoritis terhadap hukum Faraday
adalah ahli kimia, Berzelius. Keberatannya menonjol terhadap dua kategori: prosedural dan
substantif. Keberatan proseduralnya yang pertama dapat dengan mudah diberhentikan karena
tidak menimbulkan kesulitan bagi yang lain (membingungkan jumlah atau konsentrasi
elektrolit dalam larutan dengan jumlah yang terdekomposisi pada elektrode). Berzelius
beralasan bahwa Faraday pasti keliru dalam pengamatan, jika ia menemukan jumlah listrik
yang sama memiliki efek yang sama terlepas dari kekuatan larutan. Keberatan prosedural
yang kedua yaitu dia tidak percaya bahwa Faraday benar-benar dapat memisahkan kuantitas
dan intensitas listrik.
Dalam teori afinitas Berzelius, kuantitas listrik yang terkait dengan materi adalah
ukuran kekuatan afinitas yang dapat diberikannya. Karena penguraian senyawa memerlukan
upaya yang lebih besar, gaya yang mengikt komponen tentu juga akan semakin besar. Jumlah
listrik yang sama tidak mungkin terdekomposisi dalam jumlah yang sama dari senyawa yang
menunjukkan kekuatan afinitas yang sangat berbeda.
Berzelius antipati terhadap hukum Faraday karena kebingungannya terhadap
intensitas dan kuantitas listrik, tetapi ini bukan pertimbangan yang penting. Bahkan, jika
Berzelius bingung tentang jumlah intensitas dan kuantitas listrik, ia memiliki gagasan yang
jelas bahwa produk harus mewakili total daya listrik. Dia, seperti ahli fisika sebelumnya,
Einsten, yang mencoba menggunakan teori cahaya kontinu untuk menjelaskan efek
fotolistrik, berharap intensitas dapat memasok energi, namun tidak dengan kuantitas. Teori
afinitas elektrokimia milik Berzelius dampaknya tidak bertahan lama setelah Berzelius
meninggal (1848).
Setengah abad setelah hukum Faraday diumumkan dan juga penolakan Berzelius,
hukum Faraday dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menekankan pada kuantitas
listrik dan bagian kedua menekankan masalah energitika. Ahli kimia hampir tidak yakin
tentang bagian kedua hukum Faraday. Perbedaan antara bobot setara yang diperoleh dari
analisis kimia dan yang berasal dari elektrodekomposisi seringkali cukup besar sehingga
aspek hukum ini tidak dapat dijadikan acuan.
Charles Gerhardt, musuh bebuyutan teori afinitas Berzelius, yang mungkin
diharapkan secara khusus menerima hukum Faraday, tetapi dalam buku teks 1848-nya ia
tidak menyebutkan hukum dalam penentuan bobot ekuivalen. Salah satu ahli kimia paling
orisinil di Amerika pada tahun 1840-an, John William Draper, juga tidak terlalu terkesan
dengan bagian kedua hukum.
Joule membawa karya Faraday menjadi perhatian para fisikawan di awal 1840. Joule
menggunakan afinitas kimia untuk mengembangkan pemahaman awal tentang konservasi
energi. Joule berasumsi bahwa intensitas listrik atau gaya gerak listrik dapat dijadikan ukuran
afinitas. Dengan kata lain, ia menganggap intensitas tergantung pada jumlah afinitas listrik.
Joule mencoba mengaitkan persamaan konservasi energi dengan reaksi kimia serta mengukur
pengaruhnya terhadap pemanasan listrik yang melewati kabel dengan asumsi bahwa
hubungan panas yang dihasilkan arus dan keresistansian harus valid untuk rangkaian
keseluruhan dan panas tidak bisa hilang. Joule mengusulkan untuk memberi label pada semua
hambatan di sirkuit dan kontribusi proporsionalnya terhadap total panas sehingga persamaan
keseimbangan panas dapat digunakan untuk menghitung afinitas.
Joule menyusun sistem tertutup dimana menggabungkan zat (atau zat pengurai)
bertukar energi dengan lingkungannya. Pengukuran listrik dapat digunakan untuk memahami
panas dalam pertukaran. Dengan demikian dia mampu mengukur kekuatan afinitas yang
Faraday dan Berzelius tidak bisa lakukan. Pertanyaan-pertanyaan kimia yang diajukan oleh
hukum Faraday mengarahkan Joule untuk mengkonfirmasi hukumnya tentang konservasi
energi yang belum dijelaskan.
William Thomson, menggunakan pengukuran Joule dan berpendapat bahwa karya
Joule tentang keseimbangan panas dalam rangkaian elektrolit menjadi bagian penting dari
dasar teori mekanis kimia. Menurut Thomson, Joule telah memberikan penjelasan yang
menunjukkan bahwa panas dihasilkan dalam jumlah yang berbeda oleh perubahan listrik
dalam jumlah yang sama.
Mengikuti teori Joule tentang sifat afinitas, Thomson mengarahkan perhatiannya pada
pengembangan gaya gerak listrik dengan menggunakan baterai dalam disipasi rangkaian.
Tetapi, Thomson hanya bisa menggunakan "keseimbangan" Joule secara terbalik. Intensitas
peralatan elektrokimia dalam ukuran absolut sama dengan ekuivalen mekanis sejumlah aksi
kimia yang terjadi dengan satuan kekuatan arus selama satuan waktu. Dia juga meyakinkan
bahwa hasil yang diperolehnya ini konsisten dengan hukum Faraday, meskipun dia
menganggap hasil Faraday sebagai "perkiraan jika tidak proporsional”. Sementara itu, ahli
kimia tidak membuat banyak kemajuan dalam penjelasan afinitas mereka sendiri.
Terlepas dari isyarat Joule dan Thomson untuk memisahkan efek kuantitas dan
intensitas dalam elektrokimia, kebingungan lama tetap ada. Justus Liebig, yang memiliki
korespondensi dengan Faraday, memberikan contoh yang bagus melalui percobaan. Dia
berasumsi bahwa arus listrik adalah konsekuensi dari aksi kimia dan jumlah listrik yang
mengalir dapat diukur berdasarkan jumlah seng yang dilarutkan.
Ketidakmampuan Liebig untuk menerapkan konservasi energi daripada kuantitas
listrik untuk kasus kombinasi kimia menggambarkan kegagalan umum ahli kimia di tahun
1840-an dan 1850-an untuk menerapkan termodinamika pada kimia. Mereka mengabaikan
tidak hanya karya Joule tetapi juga kimiawan Rusia Germain Henri Hess, yang studi
termokimia sudah tersedia dalam bahasa Eropa.
Maxwell yang sebelumnya tidak mempercayai tentang keberadaan atom, pada tahun
1866 mulai percaya pada keberadaan molekul-molekul diskrit, meskipun saat itu para ilmuan
lain masih belum mempercayai adanya atom. Tumbuhnya kepercayaan pada bobot atom yang
benar-benar dapat ditentukan membawa perhatian baru pada hukum Faraday pada tahun
1870-an. Menerima fakta bahwa materi terdiri dari unit-unit terpisah, pada akhirnya dapat
ditimbang. Maxwell berargumen dalam bukunya pada tahun 1873 tentang listrik, bahwa
setiap molekul materi harus dikaitkan dengan jumlah listrik yang tetap yang besarnya
tergantung pada definisi materi. Maxwell telah berhasil memberikan jawaban atas pertanyaan
yang sebelumnya menyulitkan Faraday, Berzelius dan Joulle. Maxwell menyebutkan bahwa
partikel-partikel listrik berhubungan dengan partikel-partikel materi. Tetapi "molekul"
Maxwell tentang listrik, tetap sebagai konsep yang belum dikembangkan. Dia tidak berusaha
menghubungkan kuantitas listrik dalam "molekul" dengan "materi". Dia juga tidak
menunjukkan kepada kita bagaimana cara menghubungkan molekul listrik ke materi.
Ketidakmampuan Maxwell untuk secara spesifik menjelaskan tentang hubungan listrik
dengan materi menyebabkan teori ini hanya menjadi teori sementara.
Dalam pemaparan mengenai Faraday kepada rekan-rekan London Chemical Society
pada 5 April 1881 mengenai "Perkembangan Modern Konsepsi Listrik Faraday”, Helmholtz
berupaya menilai karya Faraday dengan mempertimbangkan kemajuan selanjutnya dalam
ilmu fisika. Banyak perubahan lain dalam konsepsi ilmuwan tentang dunia fisik sejak zaman
Faraday yang dimasukkan Helmholtz ke dalam kuliahnya dimana dia mencoba untuk
menafsirkan tentang Faraday. Pertama, diskusi yang cermat tentang perbedaan antara gaya
gerak listrik dan kuantitas listrik berhadapan dengan kekuatan kombinasi kimia. Kedua,
mengetahui tentang kekeliruan Faraday dimana Faraday sering keliru menyatakan bahwa
gaya yang disebut afinitas kimia dan listrik adalah satu dan sama. Ketiga, Helmholtz dapat
memperkirakan bobot atom. Keempat, dia dapat menunjukkan mengenai jumlah listrik dan
materi. Pada akhirnya pemahaman Helmholtz tidak dapat menjelaskan banyak hal. Itu hanya
berubah lebih lengkap daripada Maxwell yang telah melakukan pembagian kuantitas listrik
menjadi sejumlah partikel. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa kuliah Helmholtz
tidak segera dianggap sebagai kontribusi besar bagi penjelasan hukum Faraday. Dalam edisi
1891 teks kimia besar-besaran. Mendeleev bahkan tidak menyebutkan hukum Faraday,
apalagi penambahan Helmholtz.
Pada awal abad kedua puluh, TW Richards dan murid-muridnya telah berhasil
menghilangkan efek sekunder dalam elektrometer dan telah membuat penentuan kimiawi
independen dari berat atom yang diketahui dengan akurasi sedemikian rupa sehingga
keraguan tentang identitas rasio bobot setara menjadi lenyap. Tidak ada bukti yang
membenarkan bahwa hukum Faraday harus dianggap "sebagai perpanjangan dari hukum
atom Dalton". TW Richards telah berhasil membuktikan kebenaran dari Hukum Faraday.
Dalam pidato penerimaan Hadiah Nobelnya tahun 1914, ahli kimia Amerika TW Richards
melambangkan pemahaman baru abad kedua puluh ketika ia menunjukkan bahwa baru-baru
ini ada "sedikit keraguan bahwa hukum Faraday harus dihitung sebagai salah satu yang
paling tepat dari semua hukum Alam”. Sejak saat itu hampir tampak bahwa kebenaran hukum
Faraday sudah jelas, bahwa mereka diciptakan seperti yang sekarang muncul.