Anda di halaman 1dari 3

Nama : Zur Fikri Syam Dimasyqi

NPM : 1606871915
Mata Kuliah : Filsafat Hukum

Topik 2: Natural Law


Hukum alam memiliki beberapa arti yang berbeda dan memiliki maksud yang
sepenuhnya berbeda. Hingga saat ini banyak doktrin-doktrin yang berbeda mengenai hukum
alam. Bangsa Romawi kekurangan konsep tentang hak-hak alam. Mereka tidak meletakkan
hukum positif di bawah hukum alam seperti yang terjadi beberapa tahun kemudian. Terlepas
dari doktrin-doktrin yang berbeda, yang masih tetap konstan adalah sebuah pernyataan bahwa
terdapat prinsip-prinsip hukum alam. Hukum alam dipercaya sebagai pondasi yang rasional
untuk penilaian moral. Penganut-penganut hukum alam menerima bahwa prinsip-prinsip
hukum alam tidak selalu memiliki efek yang mereka harapkan tapi mereka membantah bahwa
prinsip-prinsip tersebut tetap benar bahkan apabila prinsip-prinsip tersebut diabaikan,
disalahpahami, disalahgunakan dalam praktiknya, atau ditentang dalam pemikiran praktis.
Hukum alam mempunyai premis-premis dasar yang menjadi tolok ukur esensi
hukum, juga mempunyai norma-norma dasar. Premis-premis dan norma-norma dasar ini
bersifat kekal dan abadi. Eksitensi hukum alam mengatasi ruang dan waktu. Karakteristik
hukum alam berlaku di semua tempat dalam yang sama diistilahkan dengan sifat
kosmopolitan dari hukum alam. Pada hakekatnya, ide hukum alam adalah persamaan dari
suatu “idee” (pengertian). “idee” adalah bukan suatu hasil penyelidikan atau bukan juga suatu
hasil dari pengalaman-pengalaman yang ada di lapangan hukum, melainkan hanya satu
perkiraan berdasarkan akal, yang sebenarnya tidak dibuktikan.
Menurut J.J. Rousseau, orang taat dan tunduk pada hukum oleh karena berjanji
untuk menaatinya. Hukum dianggap sebagai kehendak bersama, suatu hasil consensus
(perjanjian) dari segenap anggota masyarakat. Aristoteles berpendapat bahwa hukum adalah
suatu jenis ketertiban dan hukum yang baik adalah ketertiban yang baik dan hukum
merupakan ekspresi dari kemauan suatu kelas/sekelompok orang. Dan dalam bukunya yang
berjudul “Etica” dijelaskan perbedaan antara apa yang adil menurut Undang-Undang dan apa
yang adil menurut alam.
Justianus di dalam proklamasinya yang terkenal Kons Seo Auctore mengatakan,
bahwa negara yang menjaga kepentingan suatu masyarakat secara khusus (ius civile). Ada
hukum bangsa-bangsa (ius gentium) yang dibuat untuk mengatur pergaulan timbal balik
mereka, juga ada hukum yang mengatakan standar yang lebih tinggi dan lebih permanen (ius
naturale) yang sama dengan apa yang senantiasa baik dan adil (honum et aequum). Menurut
Cicero, hukum yang benar adalah adanya kesesuaian antara akal dengan alam, hal ini
merupakan kebutuhan universal, tidak berubah dan abadi (kekal), hukum yang benar akan
memuat tentang perintah-perintah untuk melaksanakan kewajiban dan berpaling dari
perbuatan jahat dan larangan-larangan.
Eksistensi dari hukum positif tidak dibantah oleh hukum alam. Dalam pandangan
penganut hukum alam, banyak hukum positif seharusnya mewujudkan hukum alam. Tapi hal
ini tidak akan selalu begitu. Dalam banyak hal hukum alam acuh tak acuh. Hal ini tidak
berarti bahwa hukum alam acuh tak acuh terhadap adanya aturan-aturan seperti itu. Mengenai
hubungan antara hukum alam dan hukum positif, menurut Aristoteles, hukum alam lebih
tinggi dari hukum positif, dan gunanya untuk melengkapi kekurangan-kekurangan hukum
positif. Hukum positif hanya memberikan peraturan-peraturan yang berlaku secara umum.
Ilmu hukum alam modern dihadapkan kepada persoalan perbandingan antara
manusia dengan negara. Menurut pendapat zaman modern justru manusialah dengan
kemampuannya perorangan yang memajukan negara. Manusia memiliki hak-hak perorangan
sedangkan negara hanya satu hasil dari kegiatan tersebut.
Sedangkan hubungan hukum dan moral adalah pangkal pokok semua teori hukum
alam. Hukum adalah kelanjutan dari apa yang baik dan adil. Hukum yang ideal menurut
hukum alam. Pengakuan terhadap adanya hukum yang tidak ideal tidak perlu mengandung
arti, bahwa hukum positif hendaknya dikuasai olehnya dalam perkara-perkara perselisihan.
Menurut Fuller, hubungan hukum dan moralitas adalah hal yang pening tetapi tidak seperti
penganut mazhab hukum kodrat sebelumnya. Ia tidak bersikeras bahwa aturan-aturan dari
suatu sistem hukum harus sesuai dengan prasyarat-prasyarat substantif dari suatu
moraliras/patokan baku lainnya.
Salah satu hambatan utama yang harus diatasi oleh hukum alam memusatkan
mengenai masalah apakah proposisi moral dapat berasal dari proposisi fakta, apakah “ought
(seharusnya)” dapat disimpulkan dari “is (adalah)”. Pernyataan yang faktual dapat
diverifikasi, penilaian moral tidak dapat dibuktikan. Jadi, apabila proposisi moral dapat
disimpulkan dari pernyataan-pernyataan yang faktual, kita akan dapat menentukan kebenaran
moral yang akan menuntut konsensus umum.
merupakan kebutuhan universal, tidak berubah dan abadi (kekal), hukum yang benar akan
memuat tentang perintah-perintah untuk melaksanakan kewajiban dan berpaling dari
perbuatan jahat dan larangan-larangan.
Eksistensi dari hukum positif tidak dibantah oleh hukum alam. Dalam pandangan
penganut hukum alam, banyak hukum positif seharusnya mewujudkan hukum alam. Tapi
hal ini tidak akan selalu begitu. Dalam banyak hal hukum alam acuh tak acuh. Hal ini tidak
berarti bahwa hukum alam acuh tak acuh terhadap adanya aturan-aturan seperti itu.
Mengenai hubungan antara hukum alam dan hukum positif, menurut Aristoteles, hukum
alam lebih tinggi dari hukum positif, dan gunanya untuk melengkapi kekurangan-
kekurangan hukum positif. Hukum positif hanya memberikan peraturan-peraturan yang
berlaku secara umum.
Ilmu hukum alam modern dihadapkan kepada persoalan perbandingan antara
manusia dengan negara. Menurut pendapat zaman modern justru manusialah dengan
kemampuannya perorangan yang memajukan negara. Manusia memiliki hak-hak
perorangan sedangkan negara hanya satu hasil dari kegiatan tersebut.
Sedangkan hubungan hukum dan moral adalah pangkal pokok semua teori hukum
alam. Hukum adalah kelanjutan dari apa yang baik dan adil. Hukum yang ideal menurut
hukum alam. Pengakuan terhadap adanya hukum yang tidak ideal tidak perlu mengandung
arti, bahwa hukum positif hendaknya dikuasai olehnya dalam perkara-perkara perselisihan.
Menurut Fuller, hubungan hukum dan moralitas adalah hal yang pening tetapi tidak seperti
penganut mazhab hukum kodrat sebelumnya. Ia tidak bersikeras bahwa aturan-aturan dari
suatu sistem hukum harus sesuai dengan prasyarat-prasyarat substantif dari suatu
moraliras/patokan baku lainnya.
Salah satu hambatan utama yang harus diatasi oleh hukum alam memusatkan
mengenai masalah apakah proposisi moral dapat berasal dari proposisi fakta, apakah “ought
(seharusnya)” dapat disimpulkan dari “is (adalah)”. Pernyataan yang faktual dapat
diverifikasi, penilaian moral tidak dapat dibuktikan. Jadi, apabila proposisi moral dapat
disimpulkan dari pernyataan-pernyataan yang faktual, kita akan dapat menentukan
kebenaran moral yang akan menuntut konsensus umum.