Anda di halaman 1dari 2

Teknologi Minyak Atsiri,

Rempah, dan Fitofarmaka

LITERATUR
Syaiful Rizal/F3410084
Definisi
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah metode pemisahan fisikokimia yang terdiri atas bahan berbutir-butir
(fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan
dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita. Setelah pelat atau lapisan diletakkan di dalam bejana
tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler
(pengembangan). Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (dideteksi. Kromatogarafi Lapis
Tipis merupakan cara analisis cepat yang memerlukan bahan yang sedikit. Untuk peneliti pendahuluan kandungan
flavonoid suatu ekstrak, sudah menjadi kebiasaan umum untuk menggunakan pengembang beralkohol pada
pengembangan pertama dengan kromatografi lapis tipis, misalnya butanolasam asetat-air. KLT (Kromatografi Lapis
Tipis) merupakan pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi yang ditentukan oleh fase diam
(adsorben) dan fase gerak (eluen). Komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben
terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan jarak yang berbeda
berdasarkan tingkat kepolarannya (Alen et al. 2017)
HPLC atau High Performance Liquid Chromatography adalah suatu metode dengan menggunakan tekanan
yang tinggi yang mengizinkan penggunaan partikel dengan ukuran yang sangat kecil dengan luas permukaan yang
lebih besar sehingga interaksi akan semakin besar serta dapat membuat sistem pemisahan akan semakin baik. HPLC
merupakan metode kromatografi cair. HPLC merupakan suatu metode yang sensitif dan akurat untuk penentuan
kuantitatif serta untuk pemisahan senyawa yang tidak mudah menguap seperti asam amino, protein, pestisida, dan
lain-lain (Rubiyanto 2016).
Prinsip
Prinsip dari KLT, yaitu memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sample dan pelarut
yang digunakan dimana suatu analit bergerak melintasi lapisan fase diam dibawah pengaruh fase gerak, yang bergerak
melalui fase diam. Semakin polar suatu senyawa fase gerak, semakin besar partisi ke dalam fase diam gel silika,
semakin sedikit waktu yang dibutuhkan fase gerak untuk bergerak menyusuri plat sehingga semakin pendek jarak
tempuh senyawa tersebut menaiki plat dalam waktu tertentu (Syahmani et al. 2017).
Prinsip kerja HPLC adalah pemisahan komponen analit berdasarkan kepolarannya, setiap campuran yang
keluar akan terdeteksi dengan detektor dan direkam dalam bentuk kromatogram dimana jumlah peak menyatakan
jumlah komponen, sedangkan luas peak menyatakan konsentrasi kompinen dalam campuran (Kusuma et al. 2016).
Kelebihan dan kekurangan
KLT memiliki kelebihan yaitu pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah, peralatan yang digunakan lebih
sederhana. Selain itu, metode KLT memberikan fleksibelitas yang lebih besar dalam hal memilih fase gerak,
mempunyai berbagai macam teknik untuk optimasi pemisahan, proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah, dan
semua komponen dalam sampel dapat dideteksi karena metode ini memungkinkan terjadinya pemisahan sampel secara
serentak (Wulandari et al. 2013). Kelebihan lainnya yakni hanya membutuhkan sedikit pelarut, biaya yang dibutuhkan
terjangkau, jumlah perlengkapan sedikit, preparasi sample yang mudah dan berfungsiuntuk memisahkan senyawa
hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak bisa. KLT memiliki kelemahan yaitu noda yang
terbentuk belum tentu senyawa murni, memerlukan waktu yang cukup lama, dan keterulangan yang buruk apabila
analisis dilakukan pada lempeng yang berbeda.
HPLC memiliki kelebihan yaitu mudah dioperasikan dan mempunyai kapasitas pemisahan yang tinggi
sehingga metode analisis ini dijadikan sebagai preferensi dalam hal identifikasi molekul senyawa organik, waktu
analisis cepat, dapat dihindari terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan analisis, dapat digunakan bermacan-
macam detektor dengan kepekaan yang tinggi, kolom dapat digunakan kembali. Selain itu HPLC dapat digunakan
untuk isolasi zat yang tidak mudah menguap dan zat yang tidak stabil, dan teknik HPLC dapat dilakukan pada suhu
kamar.
Kelemahan HPLC adalah harga untuk sebuah alat HPLC yang mahal sering mengalami kesulitan dalam
mengidentifikasi dengan tepat seluruh puncak kromatogram pada pemisahan, hanya bisa digunakan untuk asam
organik, harus mengetahui kombinasi yang optimum antara pelarut, analit dan gradient elusi, dan harganya mahal
sehingga penggunaannya dalam lingkup penelitian yang terbatas.
Aplikasi
Metode KLT ini telah menjadi bagian dari teknik analisis rutin pada laboratorium analisis dan pengembangan
produk agroindustri karena kelebihannya yang cukup banyak (Wulandari 2011). Sedangkan aplikasi metode HPLC
ini biasanya digunakan untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organic skala besar, serta
menetapkan tokoferol dan tokotrienol dalam sediaan makanan maupun nutrisi lainnya. (Widada 2013).
Bahan ekstraksi
Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu tanaman obat potensial, selain sebagai bahan baku
obat juga dipakai sebagai bumbu dapur dan zat pewarna alami. Tanaman kunyit menghasilkan rimpang berwarna
kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan. Kandungan utama di dalam rimpangnya
terdiri dari minyak atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin, damar, gom,
lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi. Zat warna kuning (kurkumin) dimanfaatkan sebagai pewarna untuk makanan
manusia dan ternak. Kandungan kimia minyak atsiri kunyit terdiri dari ar-tumeron, αdan β-tumeron, tumerol, α-
atlanton, β-kariofilen, linalol, 1,8 sineol (Shan dan Iskandar 2018).

DAFTAR PUSTAKA
Alen Y, Agresa FL, Yuliandra Y. 2017. Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dan aktivitas antihi perurisemia
ekstrak rebung Schizostachyum brachycladum kurz pada mencit putih jantan. Jurnal Sains Farmasi dan Kimia.
3(2) : 146-152.
Kusuma ASW, Ismanto RMH. 2016. Penggunaan instrumen high-performance liquid chromatography sebagai
metode penentuan kadar kapsaisin pada bumbu masak kemasan merek sasa. Jurnal Farmaka. 14(2) : 41-53.
Rubiyanto D. Teknik Dasar Kromatografi. Yogyakarta (ID) : Deepublish.
Shan CY, Iskandar Y. 2018. Studi kandungan kimia dan aktivitas farmakologi tanaman kunyit (Curcuma longa L.).
Jurnal Farmaka. 16(2): 547-55
Syahmani, Leny, Iriani R, Elfa N. 2017. Penggunaan kitin sebagai alternatif fase diam kromatografi lapis tipis dalam
praktikum kimia organik. Jurnal Vidya Karya. 32(1) : 1-13.
Widada H. 2013. Analisis kandungan vitamin E pada buah Borassus flabellifer Linn. menggunakan high performance
liquid chromatography (HPLC). Mutiara Medika. 13(3): 143-160.
Wulandari L. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember (ID): PT. Taman Kampus Presindo.
Wulandari L, Retnaningtyas Y, Mustafidah D. 2013. Pengembagan dan validasi metode kromatografi lapis tipis
densitometri untuk penetapan kadar teofilin dan efedrin hidroklorida secara simultan pada sediaan tablet.
Jurnal JKTI. 15(2) : 15-21.

Gambar 1 Alat kromatografi lapis tipis Gambar 2 Alat high performance


liquid chromatography

Anda mungkin juga menyukai