Anda di halaman 1dari 2

1.

Perubahan struktur ekonomi yang radikal berdampak pada buruh (masalah pengangguran,
tingkat upah yang rendah, hubungan perburuhan yang kurang baik, syarat-syarat kerja yang
jelek, dan tanpa jaminan sosial.
2. Para pekerja dan pengrajin kecil kalah bersaing dengan perusahaan industry berskala besar
dan petani penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan karena proses pengintegrasian ke
dalam ekonomi pasar yang sedang berkembang. (Hanel, 1988)
Terdesak oleh keinginan untuk memperbaiki diri, dengan mencari alternatif usaha yang dapat
membantu meningkatkan pendapatan dalam sejarah gerakan koperasi disebut sebagai pionir atau
pelopor organisasi koperasi modern.Pelopor organisasi koperasi dari Rochdale (Inggris) Koperasi
Konsumen. Prinsip - prinsip koperasi Rochdale yang dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai
koperasi dunia. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
a. Keanggotaan yang bersifat terbuka (Open memberships and voluntary)
b. Pengawasan secara demokratis (Democratic control)
c. Bunga yang terbatas atas modal (Limited interest of capital)
d. Pembagian SHU yang sesuai dengan jasa anggota (Proportional distribution of surplus)
e. Penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku secara tunai (Trading in cash)
f. Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras,suku,agama dan politik (Poilitical , racial , religius
netrality)
g. Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli tidak rusak atau palsu
(Adulted goods forbiden to sell )
h. Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan (Promotion of education)

2.1 Sejarah Awal Koperasi di Indonesia


Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi
gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan
Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe
Cooperatieve. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk
memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929,
berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.
Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi
untuk yang kedua kalinya.