Anda di halaman 1dari 15

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN AWAL PESERTA DIDIK

TENTANG PEMAHAMAN KONSEP PRASYARAT MATEMATIKA


MELALUI METODE MIND MAPPING DI KELAS X
SMA NEGERI 1 SEKAYAM

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh :
RAHELIA SIAHAAN, S.Pd.
Nomor Peserta : 19130318010198

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN II


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019

1
A. Judul
Upaya Meningkatkan Kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman
konsep Prasyarat Matematika melalui Metode Mind Mapping di Kelas X SMA
Negeri 1 Sekayam.

B. Latar Belakang Masalah


Kurikulum 2013 SMA merupakan kurikulum yang dirancang untuk
memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar sesuai dengan minatnya.
Struktur kurikulum 2013 memuat kelompok mata pelajaran peminatan yang
terdiri atas tiga kelompok, yaitu Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Peminatan Sosial, dan Peminatan Bahasa. Kelompok mata pelajaran
peminatan bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik
mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan
minat keilmuannya di perguruan tinggi dan untuk mengembangkan minatnya
terhadap suatu disiplin ilmu atau keterampilan tertentu. Pilihan peminatan ini
ditentukan sendiri oleh peserta didik ketika duduk di kelas X SMA sejak
semester awal.
Dalam kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di
kelas X SMA, peserta didik memperoleh pembelajaran matematika dengan
jumlah alokasi waktu yang lebih banyak dibandingkan pelajaran lain. Alokasi
waktu tersebut, terbagi untuk mata pelajaran matematika wajib sebanyak 4 jam
pelajaran per mingu dan matematika peminatan sebanyak 3 jam pelajaran per
minggu. Banyaknya alokasi waktu tersebut diharapkan dapat menunjang
kemampuan peserta didik yang mendasari berbagai macam ilmu yang
diperlukan dalam menghadapi perkembangan jaman yang semakin maju.
Berdasarkan Permendikbud nomor 37 tahun 2018, kompetensi dasar
yang harus dimiliki peserta didik memuat kompetensi pengetahuan dan
keterampilan. Dalam mata pelajaran matematika peminatan di semester ganjil,
kompetensi pengetahuan yang harus dikuasai adalah mendeskripsikan dan
menentukan penyelesaian fungsi eksponensial dan fungsi logaritma
menggunakan masalah kontekstual, serta keberkaitanannya), dan kompetensi

2
keterampilan yang harus dikuasai adalah menyajikan dan menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan fungsi eksponensial dan fungsi logaritma.
Kompetensi-kompetensi tersebut menuntut peserta didik memiliki kemampuan
awal tentang pemahaman konsep fungsi dan bilangan berpangkat.
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 74 tahun 2008 menyatakan, “Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.” Berdasarkan PP tersebut, guru diharapkan dapat
mengelola pembelajaran matematika peminatan sesuai dengan alokasi waktu
yang ada secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan kemampuan awal
peserta didik untuk memaksimalkan hasil belajarnya. Namun, kenyataannya
hasil belajar peserta didik kelas X di SMA Negeri 1 Sekayam pada tahun
pelajaran 2018/2019 untuk mata pelajaran matematika peminatan tidak
menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian akhir
semester ganjil dimana hanya 2 dari 38 peserta didik yang mampu melampaui
nilai KKM 65. Permasalahan tersebut terus berulang sejak awal Kurikulum 2013
diterapkan di sekolah ini, yaitu sejak tahun pelajaran 2016/2017.
Permasalahan hasil belajar peserta didik di semester ganjil tersebut
mengindikasikan bahwa ada beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran
yang berlangsung selama ini. Apabila dicermati dengan seksama, permasalahan
tersebut disebabkan oleh dua faktor penting, yaitu peserta didik dan guru.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman guru mengajar, sebagian besar
peserta didik belum menguasai materi prasyarat dengan benar dan mereka tidak
mau bertanya langsung kepada guru ketika tidak memahaminya. Misalnya,
untuk dapat menguasai materi fungsi eksponensial dan logaritma, peserta didik
harus memahami terlebih dahulu tentang konsep fungsi dan bilangan berpangkat
yang sudah dibelajarkan pada jenjang SMP. Selain itu, peserta didik juga
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika ketika guru
memberikan masalah yang sedikit berbeda dari contoh yang sudah dijelaskan.

3
Sedangkan, berdasarkan hasil refleksi guru terhadap proses pembelajaran
yang sudah berlangsung, diperoleh fakta bahwa metode tanya jawab yang biasa
dilakukan guru belum mampu menggali kemampuan awal peserta didik secara
maksimal sehingga materi prasyaratnya tidak terpenuhi. Selain itu, metode
penugasan, diskusi, dan presentasi yang selama ini guru terapkan masih terdapat
beberapa kelemahan. Pada metode penugasan, guru biasanya hanya memberikan
soal-soal rutin berupa uraian atau pilihan ganda dalam kelompok tanpa
menggunakan lembar kerja yang berisi prosedur penyelesaian dengan benar.
Sedangkan, dalam metode diskusi guru sudah membagi peserta didik dalam
kelompok dengan kemampuan yang heterogen, namun hal tersebut belum dapat
memacu semangat peserta didik dalam berdiskusi. Adapun kelemahan metode
presentasi yang diterapkan guru yaitu alokasi waktu untuk presentasi hasil kerja
kelompok yang kurang dari waktu yang sudah ditetapkan.
Faktor peserta didik dan guru tersebut, berkaitan pula dengan konsep-
konsep matematika. Pada dasarnya, matematika memiliki keterkaitan antara satu
konsep dengan konsep lainnya, sehingga penting dalam pembelajaran
matematika untuk memahami konsep-konsep prasyarat dari materi-materi pokok
yang akan dibelajarkan. Untuk itu diperlukan suatu upaya yang mampu
mengakomodir kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman konsep
prasyarat secara lebih bermakna, yaitu metode yang memberikan keleluasaan,
kebebasan dan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengkonstruk
pengetahuan dan pemahamannya sendiri, diantaranya yaitu dengan metode Mind
Mapping.
Berdasarkan penelitian Monariska (2017) diperoleh hasil bahwa,
peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis mahasiswa yang
menggunakan Mind Mapping lebih baik daripada yang menggunakan
pembelajaran konvensional dilihat dari kemampuan awal matematis (rendah,
sedang, dan tinggi) dan mahasiswa memiliki sikap positif terhadap penggunaan
metode Mind Mapping. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan
Nuryandari (2017), yang menyatakan bahwa metode Mind Mapping lebih
berpengaruh baik terhadap kemampuan pemahaman konsep maupun sikap siswa

4
dalam pembelajaran matematika SMP Negeri 2 Sentolo. Berdasarkan hasil
penelitian terdahulu yang dipaparkan, peneliti memilih metode Mind Mapping
untuk meningkatkan kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman konsep
prasyarat matematika.
Penerapan metode Mind Mapping ini perlu dirancang dalam suatu model
pembelajaran yang dapat pula mengatasi kendala belajar peserta didik yang tidak
berani mengajukan pertanyaan kepada guru. Berdasarkan hasil penelitian
terdahulu yang dilakukan Wulandari, dkk. (2018) menyatakan bahwa,
kemampuan komunikasi matematika siswa yang belajar dengan menggunakan
model pembelajaran Talking Stick berbantuan Mind Mapping lebih baik
daripada kemampuan komunikasi matematika siswa yang belajar dengan
menggunakan pembelajaran konvensional. Selain itu, Nurafifaeni (2018) dalam
hasil penelitiannya juga menyatakan bahwa model pembelajaran STAD dengan
Mind Mapping memberikan prestasi belajar yang sama dengan model
pembelajaran langsung. Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut, peneliti
mencoba menerapkan metode Mind Mapping menggunakan model Cooperative
Learning.
Menurut Michalko dalam Tony Buzan (2008: 8) Mind
Mapping mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya yaitu: 1) mengaktifkan
seluruh otak, 2) memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan, 3) membantu
menunjukan hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah, 4)
memberi gambaran yang jelas pada kesuluruhan dan perincian, dan 5)
memungkinkan kita untuk mengelompokan konsep, membantu kita
membandingkanya. Senada dengan pendapat tersebut Alamsyah (2009: 23)
menjelaskan tujuh manfaat menggunakan metode Mind Mapping, diantaranya
yaitu: 1) dapat melihat gambaran secara menyeluruh dengan jelas, 2) dapat
melihat detilnya tanpa kehilangan ‘benang merah’nya antar topik, 3) terdapat
pengelompokkan informasi, 4) memudahkan kita berkonsentrasi, dan 5) mudah
mengingatnya karena ada penanda-penanda visualnya. Berdasarkan pandangan
tentang kelebihan dan manfaat metode Mind Mapping, peneliti berasumsi bahwa

5
metode tersebut dapat pula meningkatkan konsep prasyarat matematika peserta
didik untuk meningkatkan kemampuan awalnya.
Setelah mengamati kelebihan dan manfaat metode Mind Mapping,
peneliti memperhatikan pula unsur-unsur yang terdapat dalam model
Cooperative Learning untuk mengoptimalkan rancangan metode Mind
Mapping. Menurut Lie (2004), dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-
elemen yang berkaitan, diantaranya yaitu: 1) saling ketergantungan positif, 2)
akuntabilitas individual, dan 3) keterampilan menjalin hubungan antar pribadi.
Pendapat ini didukung pula oleh Hayati (2017: 14), bahwa tujuan model
Pembelajaran Kooperatif, yaitu 1) membantu pembelajar untuk mencapai hasil
belajar optimal dan mengembangkan keterampilan sosial pembelajar, 2)
mengajarkan keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi, dan 3)
memberdayakan pembelajar kelompok atas sebagai tutor sebaya bagi kelompok
bawah. Berdasarkan pemaparan tersebut, pembelajaran kooperatif sesuai dengan
harapan peneliti, yaitu untuk dapat memunculkan keberanian peserta didik
bertanya tentang konsep-konsep prasyarat matematika yang tidak mereka
pahami, baik kepada temannya di dalam kelompok, maupun kepada guru selama
proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan awal
peserta didik dan hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan permasalahan dan saran penyelesaian yang telah
dipaparkan, peneliti mencoba meningkatkan kemampuan awal peserta didik
tentang pemahaman konsep prasyarat matematika melalui metode Mind
Mapping dengan model Cooperative Learning di Kelas X SMA Negeri 1
Sekayam.

C. Rumusan Masalah
Secara umum rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas yang
akan dilakukan peneliti adalah “Apakah metode Mind Mapping dalam
pembelajaran matematika mampu meningkatkan kemampuan awal peserta didik
tentang pemahaman konsep prasyarat di kelas X SMA Negeri 1 Sekayam?” Dari

6
rumusan masalah umum tersebut, peneliti merincikan rumusan masalah secara
lebih khusus, sebagai berikut:
1. Bagaimana rancangan pembelajaran matematika menggunakan metode Mind
Mapping dengan model Cooperative Learning di Kelas X SMA Negeri 1
Sekayam?
2. Bagaimana implementasi metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning dalam pembelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1
Sekayam?
3. Bagaimana hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika
melalui pembelajaran menggunakan metode Mind Mapping dengan model
Cooperative Learning di Kelas X SMA Negeri 1 Sekayam?

D. Cara Pemecahan Masalah


1. Menyusun rancangan pembelajaran matematika menggunakan metode Mind
Mapping dengan model Cooperative Learning di Kelas X SMA Negeri 1
Sekayam.
2. Mengimplementasikan metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning dalam pembelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1
Sekayam.
3. Melihat peningkatan kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman
konsep prasyarat matematika melalui pembelajaran menggunakan metode
Mind Mapping dengan model Cooperative Learning berdasarkan hasil belajar
peserta didik di Kelas X SMA Negeri 1 Sekayam.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Tujuan penelitian
1. Untuk mengembangkan rancangan pembelajaran matematika
menggunakan metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning di Kelas X SMA Negeri 1 Sekayam.

7
2. Untuk mengimplementasi rancangan pembelajaran matematika
menggunakan metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning di kelas X SMA Negeri 1 Sekayam.
3. Untuk meningkatkan kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman
konsep prasyarat matematika melalui pembelajaran menggunakan metode
Mind Mapping dengan model Cooperative Learning di Kelas X SMA
Negeri 1 Sekayam.
4. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran
matematika.

b. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peserta Didik
a) Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran
matematika peminatan.
b) Menumbuhkan kemauan belajar peserta didik dalam pembelajaran
matematika.
2. Bagi guru
a) Meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
b) Meningkatkan kinerja secara profesionalis.
3. Bagi sekolah
a) Meningkatkan mutu sekolah.
b) Membantu guru mengatasi masalah-masalah pembelajaran.

F. Hipotesis Tindakan
Penerapan metode Mind Mapping dengan model Cooperative Learning dalam
pembelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1 Sekayam mampu
meningkatkan kemampuan awal peserta didik tentang pemahaman konsep
prasyarat matematika di Kelas X SMA Negeri 1 Sekayam.

8
G. Rencana Penelitian
1. Setting Penelitian
a. Tempat penelitian : SMA Negeri 1 Sekayam, yang beralamat di Jalan
Raya Entikong Km. 02 Balai Karangan.
b. Sasaran penelitian : Peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Sekayam.
c. Karakteristik sasaran : Peserta didik berasal dari SMP yang berbeda-beda,
ada yang dari SMP unggulan di Kecamatan
Sekayam dan Entikong, ada pula yang dari SMP
yang di pedalaman Kecamatan Sekayam dan
Entikong.
d. Waktu penelitian : Semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020, pada
bulan Agustus s.d. Oktober.

2. Faktor yang Diselidiki


a. Variabel input : peserta didik, guru, lembar kerja peserta didik, dan
sumber belajar.
b. Variabel proses : pembelajaran matematika menggunakan metode
Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning.
c. Variabel output : kemampuan awal peserta didik tentang
pemahaman konsep matematika dan hasil belajar
peserta didik setelah diberikan tindakan melalui
metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning.

3. Rencana Tindakan
a. Siklus I:
1) Perencanaan
a) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang terjadi di kelas.
b) Menyusun latar belakang masalah penelitian tindakan kelas.
c) Merumuskan masalah secara jelas menggunakan kalimat tanya.

9
d) Menentapkan metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban dari
rumusan masalah yang ada.
e) Menentukan cara menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan
indikator keberhasilannya dan instrumen pengumpulan datanya.
f) Membuat skenario tindakan secara rinci.

2) Pelaksanaan Tindakan
Melaksanakan skenario tindakan dalam pembelajaran matematika
menggunakan metode Mind Mapping dengan model Cooperative
Learning yang telah dibuat dalam waktu sekitar 2 sampai 3 bulan untuk
pokok bahasan fungsi eksponensial dan fungsi logaritma.

Tabel 1. Skenario Pembelajaran Matematika


Sintaks Uraian Kegiatan
1. Menyampaikan tujuan Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
dan memotivasi dan memotivasi peserta didik untuk belajar.
peserta didik
2. Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada peserta
didik dengan jalan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan.
3. Mengorganisasikan Guru mengorganisir peserta didik untuk
pembelajar ke dalam membentuk kelompok belajar
kelompok-kelompok dan membantu setiap kelompok agar
belajar melakukan perubahan yang efisien.
4. Membimbing Guru membimbing kelompok-kelompok
kelompok dalam membuat Mind Mapping saat mereka
bekerja dan belajar mengerjakan tugas dalam diskusi kelompok.
5. Evaluasi Peserta didik menyajikan hasil diskusinya.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari.
6. Memberikan Guru memberikan penghargaan kepada
penghargaan peserta didik atas upaya maupun hasil belajar
individu dan kelompok.

3) Observasi
a) Mengamati semua hal yang ada dalam lembar observasi dan
mencatat hasil pengamatan lain yang muncul saat proses

10
pembelajaran berlangsung pada bagian ‘catatan’ di lembar observasi
yang telah dirancang.
b) Mendata hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes penilaian
harian.
c) Menafsirkan data tentang proses pembelajaran dan hasil belajar
peserta didik dari implementasi tindakan yang telah dilaksanakan.

4) Refleksi
a) Mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan
berdasarkan data yang telah terkumpul.
b) Melakukan evaluasi untuk menyempurnakan tindakan berikutnya,
yang terdiri dari kegiatan analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap
hasil observasi atas tindakan yang dilakukan.

b. Siklus II:
1) Perencanaan
Apabila berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi pada siklus I terdapat
permasalahan baru yang muncul selama proses pembelajaran, maka
temuan tersebut didiskusikan dalam tim peneliti untuk mendapatkan
solusi terbaik. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, kemudian dirancang
dan dilaksanakan tindakan perbaikan berupa pelaksanaan pembelajaran
matematika dengan pokok bahasan fungsi eksponensial dan fungsi
logaritma.

2) Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan rencana pembelajaran dalam
upaya perbaikan dari hasil siklus I. Pada pelaksanaan siklus II peneliti
akan melakukan kegiatan dalam proses pembelajaran dengan
memberikan gambaran umum tindakan yang akan dilakukan oleh
peneliti tanpa mengabaikan pemahaman peneliti tentang metode Mind
Mapping dengan model Cooperative Learning. Peneliti akan

11
mengembangkan kemampuan mengajarnya melalui teknik belajar yang
bervariasi, yang memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif
dalam membangun pengetahuannya sendiri.

3) Observasi
Selama pelaksanaan tindakan, peneliti akan mengamati setiap
perubahan yang lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Dari
pengamatan tersebut diharapkan peneliti memperoleh informasi
mengenai adanya upaya perbaikan serta mengukur kemampuan awal
peserta didik dalam memahami konsep prasyarat matematika.

4) Refleksi
Refleksi akan dilakukan oleh peneliti dan guru berdasarkan temuan-
temuan yang didapat dari hasil observasi dan wawancara. Peneliti akan
menyampaikan permasalahan yang dihadapinya selama proses
pembelajaran berlangsung. Data dibahas bersama observer untuk
mendapat kesamaan pandangan terhadap tindakan pada siklus kedua.
Selanjutnya, apabila pada siklus II hipotesis tindakan sudah tercapai,
maka hasil diskusi dalam tim peneliti dapat dijadikan bahan untuk
menarik kesimpulan. Namun, apabila pada siklus II hipotesis tindakan
belum tercapai, maka hasil diskusi dalam tim peneliti dapat dijadikan
bahan perbaikan untuk dilanjutkan pada siklus III dan/atau seterusnya.

4. Data dan Cara Pengumpulan Data


Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini
menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, sehingga data yang
diperoleh terdiri dari data:
a. Instrumen hasil belajar peserta didik yaitu, menggunakan soal uraian
sebanyak 4 (empat) soal yang akan dianalisis secara kuantitatif.

12
b. Instrumen proses pembelajaran yaitu, menggunakan lembar observasi,
lembar kerja peserta didik (LKPD), dan catatan lapangan baik untuk
aktivitas guru maupun peserta didik yang akan dianalisis secara kualitatif.
Analisis data dan interpretasi hasil penelitian, diperoleh dengan
mengumpulkan data dari tim peneliti kemudian dianalisis. Kegiatan analisis
data ini berupa display data dan klasifikasi data, kemudian melakukan refleksi
yang disertai perbaikan tindakan. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan
selanjutnya akan dianalisis dan dibuat laporan sejak dimulainya penelitian.
Oleh karena data yang diperoleh semakin lama semakin banyak sehingga
perlu dilakukan reduksi data.

5. Indikator Kinerja
Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah penerapan metode Mind
Mapping dengan model Cooperative Learning dapat meningkatkan
kemampuan awal peserta didik, adalah:
a. Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran.
b. Kesungguhan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.
c. Deskripsi konsep prasyarat yang disajikan peserta didik.
d. Penggunaan konsep prasyarat dengan benar dalam penyelesaian masalah
matematika.
e. Hasil belajar peserta didik mencapai nilai tuntas KKM 65.
Kriteria keberhasilan penerapan metode Mind Mapping dengan model
Cooperative Learning dapat meningkatkan kemampuan awal peserta didik
dalam memahami konsep prasyarat matematika, adalah:
a. Apabila minimal sebanyak 80% dari jumlah peserta didik mampu
menunjukkan empat indikator yang dipersyaratkan.
b. Apabila minimal sebanyak 80% dari jumlah peserta didik mendapat nilai
di atas KKM 65.

6. Tim Peneliti dan Tugasnya


Tim peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 3 (tiga) guru
matematika dan 1 (satu) kepala sekolah. Peran peneliti dalam penelitian ini

13
adalah sebagai pelaksana utama dan guru model, sehingga pada pra-
penelitian, peneliti melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
matematika di kelas X, kemudian membuat perencanaan tindakan yang akan
dilakukan untuk kelas tersebut. Sedangkan, peran dua guru matematika
lainnya dan kepala sekolah adalah sebagai observer yang mengamati semua
kejadian yang muncul selama pelaksanaan tindakan. Kejadian-kejadian yang
muncul tersebut kemudian akan disampaikan para observer saat evaluasi di
akhir siklus tindakan untuk memperoleh perbaikan yang sesuai pada siklus
berikutnya.

7. Jadwal Penelitian

Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan Kelas


Waktu Pelaksanaan
No Rencana Kegiatan 5 – 17 19 – 31 2 – 14 16 – 28 1 – 12 14 – 26
Agustus Agustus Sept Sept Okt Okt
A Siklus I
1 Perencanaan
2 Pelaksanaan
3 Observasi
4 Refleksi
B Siklus II dan seterusnya
1 Perencanaan
2 Pelaksanaan
3 Observasi
4 Refleksi
5 Penyusunan Laporan

14
DAFTAR PUSTAKA

Buzan, Tony. (2008). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: PT Gramedia.


Hayati, Sri. (2017). Belajar & Pembelajaran Berbasis Cooperative Learning.
Magelang: Graha Cendekia.
Monariska, Erma. (2017). Penerapan Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Mahasiswa pada Mata Kuliah
Kalkulus I. Cianjur: Jurnal PRISMA Universitas Suryakancana. Vol. VI,
No. 1: 17 – 31.
Nurafifaeni, Aliefah, dkk. (2018). Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Mind Mapping
pada Materi Fungsi Ditinjau dari Kreativitas Siswa Kelas VIII SMP Negeri
13 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018. Surakarta: Jurnal Pendidikan
Matematika dan Matematika (JPMM). Vol. II, No. 3: 179 – 186.
Nuryandari. (2017). Pengaruh Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan
Pemahaman Konsep dan Sikap Siswa dalam Pembelajaran Matematika
Kelas VIII SMP Negeri 2 Sentolo. [Skripsi]: Universitas Mercu Buana
Yogyakarta.
Wulandari, Ida Ayu Dewi, dkk. (2018). Model Pembelajaran Kooperatif Talking
Stick, Mind Mapping, dan Kemampuan Komunikasi Matematis. Bali: Jurnal
Matematika dan Pembelajaran. Vol. 6, No. 1: 82 – 93.

15