Anda di halaman 1dari 4

Efek Negatif

1. Efek Negatif bagi Perkembangan Fisik

Kegiatan anak berinteraksi dengan teknologi elektronik cenderung membatasi aktivitas gerak
mereka karena teknologi elektronik sendiri diciptakan untuk memudahkan urusan manusia
tanpa harus banyak melakukan gerakan. Walaupun mereka dalam artian menangkes beberapa
permainan yang ada di dalam handphone atau kompeter, namun hal ini tidak akan
membuatnya bebas bergerak seperti halnya saat bermain sepak bola di lapangan bersama
teman-temannya.

Kecenderungan anak yang kurang bergerak ini akan berakibat pada rentan mereka untuk
terjnangkit obesitas dimana penyakit ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hormonal
dan metabolisme yang bisa mengarahkan mereka pada kemungkinan timbulnya serangan
jantung premature pada anak. Selain itu, mereka juga akan sering mengalami kelelahan mata
hingga berujung pada penglihatan kabur dan sakit kepala yang diakibatkan dari radiasi yang
dihasilkan dari teknologi komunikasi elektronik.

2. Efek Negatif bagi Perkembangan Sosial dan Emosi

Kecanggihan teknologi komunikasi elektronik juga berpengaruh terhadap perkembangan


sosial dan emosi pada anak yaitu :

 Hilangnya privasi

Dengan memiliki akun media sosial akan membuat anak-anak mencantumkan indentitas
mereka secara lengkap dan nyata sesuai dengan akta kelahiran mereka. Selain itu, mereka
juaga kan rentan memajang foto mereka secara nyata mengenai segala macam kegiatan yang
mereka lakukan. Hal ini yang membuat mereka harus kehilangan privasi karena informasi
tentang merek adapat diakses dengan mudah.

 Bullying

Terkadang pada saat mereka mengunggah sesuatu di media sosial akan berdampak pada
orang lain. Mungkin niat mereka tidak sedang menyinggung orang lain, namun beberapa
orang menafsirkan sebaliknya. Hal ini akan memicu terjadinya perkelahian antar anak yang
terkadang hanya diawali dai sebuah postingan, komentar yang disalahartikan.

 Stranger-Danger

Mengakses media sosial akan membaut anak-anak dapat dengan mudah berhubungan dengan
orang-orang di seluruh dunia bahkan dengan orang yang tidak mereka kenal. Jika, perkenalan
ini sering ditanggap oleh anak-anak, mak akan memicu terjadinya penculikan dan perkosaan
yang dilakukan akibat dari perkenalan melalui situs media sosial.

 Stalking

Saat mereka memposting segala aktivitas yang mereka lakukan seperti sedang apa mereka
sekarang, dengan siapa, dimana mereka sekarang, atau memberikan informasi pribadi tentang
mereka seperti dimana mereka tinggal, dimana sekolah mereka dan berbagai informasi
pribadi lainnya. Hal semacam ini akan menyebabkan seseorang dapat dengan mudah
mendapatkan informasi tentang mereka sehingga dapat membuka kesempatan berbuat
kejahatan terhadap anak.

 Kecemasan

Kecemasan timbul akibat dari rasa kecanduan mereka terhadap teknologi elektronik. Mereka
akan merasa tidak lengkap atau kurang bergairah jika belum mengakses teknologi elektronik.
Sehingga, apabila mungkin komputer, internet atau handphone mereka sedang mengalami
gangguan ataupun Anda sebagai orang tua sedang mengalhkan perhatian mereka. Maka si
anak sudah tentu akan merasakan kecemasan berlebihan. Perhatikan Cara Mengatasi Anxiety
Disorder dengan tepat apabila sudah dalam kecemasan yang akut.

 Depresi

Penggunaan teknologi elektronik tanpa didampingi dan diawasi oleh orang tua akan
berdampak pada terbatasnya pergaulan mereka dengan lingkungan sekitarnya. Sebab inilah
yang membuat si anak mendapatkan tingkat depresi yang lebih tinggi.

3. Efek Negatif bagi Perkembangan Inteligensi

Mengingat teknologi elektronik sudah sangat dekat dengan anak dan tidak dapat dipisahkan
dari kegiatan mereka sehari-hari entah di sekolah ataupun di rumah mereka sendiri akan
menimbulkan dampak negatif bagi perkembaangan inteligensi mereka. Para ahli meyakini,
penggunaan otak anak di jaman sekarang sangat berbeda dengan penggunaan otak di jaman
dahulu.

Oleh karena itu, mereka membutuhkan cara pengajaran yang sesuai karena salah metode
pengajaran akan sangat tidak efektif untuk membentuk kecerdasan mereka. Anak-anak yang
sering mengakses internet akan cenderung mendapatkan hambatan dalam proses belajar,
menjadi tidak sabar. Selain itu, penggunaan teknologi eleltronik juga menjadikan mereka
menjadi kurang terampil dan hanya bisa berkonsentrasi pada satu hal dalam rentang waktu
yang lama sehingga mereka tidak akan mampu menghadapi sesuatu yang membutuhkan
solusi cepat.

4. Efek Negatif bagi Perkembangan Moral

Adanya akses situs porno dan kekerasan yang dapat dengan mudah mereka totnton akan
berdampak pada perkembangan moral mereka. Tanpa adanya pengawasan dari orang tua dan
guru di sekolah sebagi tenaga pendidik akan meningkatkan perilaku buruk mereka untuk
mengkases situs yang tak layak mereka tonton. Sering kita lihat bersama, banyak sekali
kejahatan dan perkosaan yang baik pelakunya maupun korbannya adalah si anak itu sendiri.

Dalam dunia nyata ketika si anak bertemu dengan akan lain yang denagn sengaja
melontarkan komentar negatif, hak semcam ini akan membuat si anak langsung memberikan
umpan balik dengan ucapan menentang ataupun mengajak berkelahi. Akan tetapi hal
semacam ini tidak akan mereka rasakan di media sosia. Oleh sebab itu anak akan sulit
mengembangkan moral mereka karena resiko perilakunya tidak dapat dirasakan langsung.

Akses mereka di dunia maya juga dappat memicu anak untuk melakukan pemalsuan identitas
sehingga ketika mereka melakukan kesalahan, mereka dapa terhindar dari hukuman. Si anak
juga akan cenderung membuat peraturan baru yang sesuai dengan mereka sehingga mereka
akan bersikap acuh tak acuh dan melakukan pertentangan terhadap aturan yang ada di dunia
nyata.

Demikian efek teknologi komunikasi elektronik bagi tumbuh kembang anak. Untuk
meminimalisir efek teknologi elektronik bagi perkembangan si anak, kita dapat membatasi
waktu mereka dalam mengakses media sosial dan mengetahui Cara Menghindari Kebiasaan
Buruk sehingga mereka terhindar dari kecanduan. Kemudian lakukan pengawasan dan
pendampingan selama anak mengakses media sosial untuk mencegah anak mengakses situs-
situs yang tak layak mereka tonton. Semoga bermnafaat.

Mengatasi Dampak Negatif Perkembangan Teknologi Bagi Anak


Selasa, 2 Agustus 2016 10:27 WIB | dibaca : 18738 | dibagikan : 4

Perkembangan teknologi begitu pesat. Keahlian anak-anak dalam menguasai teknologi pun
kian pesat. Perkembangan teknologi ini membawa dampak positif. Sistem pembelajaran di
sekolah menjadi lebih menarik dengan hadirnya animasi yang edukatif, software-software
baru bermunculan sehingga memudahkan anak untuk membuat karya kreatif, informasi dapat
sampai ke masyarakat dengan lebih cepat, dan masih banyak lagi dampak positif lainnya.
Dibalik semua itu, tentu saja ada pula dampak negatifnya. Bagaimana sikap orang tua agar
anak-anak tetap survive di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat ini?

1. Ajak anak bersosialisasi

Perkembangan teknologi membawa dampak negatif dalam hal kehidupan sosial anak. Banyak
anak-anak menjadi pribadi yang “anti sosial”. Mereka terlalu cuek dengan lingkungan sekitar.
Padahal di masa depan mereka, mereka harus menghadapi banyak orang dengan aneka
pribadi. Sebagai orang tua, anda harus bisa mengarahkan anak agar memiliki pribadi yang
“pro sosial”, artinya anak-anak harus memiliki ketrampilan dalam bergaul dan bersosialisasi
dengan masyarakat sekitar. Agar anak memiliki ketrampilan ini, orang tua bisa melatih anak
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengajak anak berjalan-jalan keliling kampung atau
komplek perumahan. Bila mendapatkan undangan arisan, pernikahan, dan acara-acara
lainnya, orang tua bisa mengajak anak. Dengan demikian, anak-anak akan terbiasa
berhadapan dengan orang baru dan tentu saja dengan pribadi yang unik.

2. Mengajarkan empati

Dampak lain dari perkembangan teknologi adalah membuat anak memiliki pribadi yang egois
dan sombong. Bisa memiliki ribuan followers pada akun “twitter” saja, anak-anak sudah
merasa punya banyak teman. Padahal persahabatan di dunia nyata sangat berbeda dengan
persahabatan di dunia maya. Persahabatan perlu dipupuk dengan cara saling memberi salam,
bersilaturahmi, saling mengunjungi bila mendapatkan undangan, dan lainnya. Agar anak
memiliki rasa empati, orang tua bisa mengajak anak untuk mengunjungi nenek atau saudara,
mengunjungi panti sosial, dan acara lainnya. Orang tua juga perlu mengajarkan anak tentang
pentingnya memberi salam bila bertemu dengan orang lain, perlunya membantu orang yang
kesusahan, pentingnya hidup rukun di tengah perbedaan, dan lainnya. (baca juga: Tips
Mengajarkan Empati Kepada Anak Usia Dini )

3. Mengajarkan kecintaan pada alam ciptaan Tuhan

Tuhan menciptakan alam yang indah ini untuk dijaga dan dilestarikan. Bila manusia bisa
merawatnya dengan baik, maka alam tidak akan rusak. Tidak akan ada makhluk hidup yang
akan mengalami kepunahan. Karena di era teknologi yang kian modern ini banyak
perusakan-perusakan terjadi, misalnya penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan,
penambangan pasir secara liar, dan lainnya. Anak-anak perlu diajarkan tentang kecintaan
pada alam sejak dini. Misalnya dengan cara mengajak mereka melakukan aktivitas berkebun,
berlibur mengunjungi desa wisata atau wisata alam, merawat hewan peliharaan dengan baik,
dan lainnya. Bila sejak kecil anak-anak sudah belajar tentang kecintaan pada alam dan
makhluk hidup, maka anak pun akan semakin memiliki kecintaan pada alam yang baik. Ada
beberapa aktivitas menarik yang bisa membuat anak cinta pada alam.

4. Mengajarkan indahnya gaya hidup hemat

Banyak anak-anak yang sering meminta dibelikan HP atau smartphone model yang terbaru.
Padahal HP yang lama belum rusak. Hanya saja HP yang lama sudah terlihat “jadul”. Banyak
anak-anak malu karena memiliki HP “jadul”, sehingga meminta HP yang model terbaru.
Agar anak tidak memiliki pribadi yang konsumtif, orang tua perlu mengajarkan sifat selalu
bersyukur dan tidak mudah merasa malu bila memiliki barang yang “jadul”. Agar anak-anak
memiliki sifat “anti malu” ini memang tidak mudah. Orang tua pun perlu memberikan contoh
agar tidak selalu berganti HP lama dengan HP yang baru dan lebih canggih. Bagaimana pun
apa yang orang tua lakukan, biasanya akan mempengaruhi perilaku anak. Jadi berikanlah
contoh pada anak agar anak memiliki pribadi yang selalu bersyukur dan tidak mudah ikut-
ikut atau tidak mudah merasa malu memiliki baran yang bukan model terbaru.

5. Mengajarkan pendidikan karakter

Perkembangan teknologi tidak hanya mempengaruhi pola pikir anak, namun juga orang tua.
Banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang
penting. Sehingga banyak orang tua terlihat cuek pada anaknya dan enggan mengajarkan
pendidikan karakter atau moral kepada anak. Anak-anak terlalu dibiarkan bertumbuh sendiri,
dengan alasan anak-anak perlu belajar tentang kemandirian atau karena terlalu
mempercayakan urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Padahal, di tengah kehidupan
bermasyarakat, anak-anak perlu belajar tentang pentingnya bermusyawarah dalam
memyelesaikan suatu masalah, bersikap hormat dan sopan kepada orang yang lebih tua,
membuang sampah di tempat sampah, dan nilai-nilai pendidikan karakter lainnya. Agar anak-
anak memiliki karakter yang baik, orang tua peru mengajarkannya pendidikan karakter
secara intens dan dengan media yang menarik. Misalnya dengan cara mendongeng,
menonton TV edukatif, mendengarkan lagu anak bertemakan pendidikan karakter, dan
lainnya. Di Google Playstore, Anda juga bisa mendapatkan banyak konten anak-anak
yang menarik dalam bentuk game.