Anda di halaman 1dari 57

PEDOMAN KERJA

PROMOSI KESEHATAN

PUSKESMAS TODANAN

2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan ujung tombak
pelayanan kesehatan masyarakat sebagaifasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Status kesehatan di Indonesia telah mengalami peningkatan, hal ini
terlihat dari menurunnya angka kematian ibu, angka kematian bayi, status gizi
anak Balita serta meningkatnya umur harapan hidup.Meskipun demikian
upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat ini perlu terus di
optimalkan. Hal ini disebabkan masih banyaknya permasalahan kesehatan
masyarakat lainnya di Indonesia yang memerlukan perhatian khusus dan
harus diwaspadai, yaitu pengendalian penyakit tidak menular atau penyakit
degeneratifseperti : penyakit jantung, Diabetes Millitus, kanker dan lain-lain,
juga penyakit menular seperti : diare, Demam Berdarah, Tubercullosis,
malaria, HIV-AIDS, serta penyakit baru seperti : flu burung, flu babi, lupus dan
lain-lain serta penyakit akibat bencana.
Salah satu penyebab utamanya adalah perilaku masyarakat yang
belum mampu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS).Sehubungan dengan itu arah pembangunan kesehatan nasional
jangka panjang adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuanhidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajad
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.
Puskesmas sebagai penanggungjawab penyelenggara upaya
kesehatan terdepan di masyarakat berfungsi sebagai pusat komunikasi
masyarakat, sebagai upaya pembaharuan (inovasi) baik di bidang kesehatan
masyarakat maupun upaya pembangunan lainnya bagi kehidupan masyarakat
sekitarnya sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Sesuai dengan Permenkes Nomor 75 tahun 2014 disebutkan prinsip
penyelenggaraan, tugas, dan fungsi Puskesmas meliputi : paradigma sehat
pertanggungjawaban wilayah,kemandirian
masyarakat,pemerataan,pemanfaatan teknologi tepat guna,keterpaduan dan
kesinambungan program dengan tujuan tercapainya Kecamatan sehat
diwilayah kerjanya.
Upaya pelayanan kesehatan adalah upaya yang diberikan oleh
Puskesmas kepada masyarakat, mencakup perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi, pencatatan, pelaporan dan dituangkan dalam suatu
sistem.Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan
untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam
rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.

Penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di


Puskesmas meliputi :

1. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama di


wilayah kerjanya.
2. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama di
wilayah kerjanya.

Dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), Puskesmas


berwenang untuk :

1. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan


masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;
2. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
3. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan;
4. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait;
5. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat;
6. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia
Puskesmas.
7. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,
dan cakupan pelayanan kesehatan; dan memberikan rekomendasi terkait
masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem
kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit (Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014)

Untuk melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tersebut di


UPTD Puskesmas Todanan Kabupaten Todanan, maka diperlukan Upaya
pelayanan Promosi Kesehatan yang dikelola secara profesional.Keberadaan
program Promosi Kesehatan di UPTD Puskesmas Todanan berperan sebagai
“agen perubahan” di masyarakat sehingga masyarakat lebih berdaya dan
timbul gerakan-gerakan upaya kesehatan yang bersumber pada masyarakat.

Berkenaan dengan pentingnya peran Promosi Kesehatan dalam


pelayanan kesehatan, telah ditetapkan Kebijakan Nasional Kesehatan sesuai
dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1193/ Menkes/ SK/ 2004.

Kebijakan dimaksud juga didukung dengan Surat Keputusan Menteri


Kesehatan Nomor 1114/ Menkes/ SK/ VII/ 2005 tentang Pedoman
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah dan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 585/ Menkes/ SK/ V/ 2007 tentang
Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas.

B. Tujuan Pedoman
Tujuan disusunnya pedoman ini sebagai acuan bagi petugas
kesehatan UPTD Puskesmas Todanan dalam menyelenggarakan kegiatan
Promosi Kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Todanan yang mampu
menjadi teladan bagi individu, keluarga dan masyarakat agar mau dan
mampu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bentuk
pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya, baik masalah
kesehatan yang diderita maupun yang berpotensi mengancam, secara
mandiri, dan pelayanan Promosi Kesehatan dapat dilaksanakan sesuai
dengan rencana serta memperoleh hasil sesuai yang diharapkan.
C. Sasaran Pedoman
Sasaran pedoman pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas
Todanan meliputi :
1. Individu
2. Keluarga
3. Tokoh masyarakat
4. Masyarakat
5. Lintas program/ upaya kesehatan lain di UPTD Puskesmas
6. Lintas sector.
D. Ruang Lingkup Pedoman
Ruang lingkup pelayanan Promosi Kesehatan meliputi :
1. Kegiatan Promosi Kesehatan dalam gedung UPTD Puskesmas Todanan.
2. Kegiatan Promosi Kesehatan diluar gedung UPTD Puskesmas Todanan.

Dengan jaringan pelayanan Puskesmas adalah :

1. Puskesmas Pembantu.
2. Puskesmas Keliling.
3. Bidan Desa.

Dengan jejaring pelayanan Promosi Kesehatan Puskesmas adalah :

1. Kecamatan.
2. Lintas Sektor lain (dinas pendidikan, KUA, Polsek, Koramil).
3. Kelurahan/Desa.
4. Sekolah TK-SD-SLTP dan SMA sederajat.
5. Pondok pesantren.
6. Industri rumah tangga/Pabrik.
7. Lembaga kemasyarakatan (TP PKK, PWRI, pengajian dll)

E. Batasan operasional
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Promosi
Kesehatan di UPTD Puskesmas Todanan adalah :
1. Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran
dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong
diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya
masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung
kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
2. Kegiatan pemberdayaan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan
dengan sasaran individu, keluarga, masyarakat dan lingkungannya secara
mandiri serta mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Todanan.
Batasan operasional untuk pelayanan kesehatan Promosi Kesehatan UPTD
Puskesmas Todanan meliputi :
1. Advokasi
Advokasi merupakan upaya atau proses terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak terkait (tokoh-tokoh masyarakat
informal dan formal) agar masyarakat di lingkungan Puskesmas berdaya
untuk mencegah serta meningkatkan kesehatnannya serta menciptakan
lingkungan sehat.
2. Bina suasana
Bina suasana adalah upaya menciptakan suasana atau lingkungan sosial
yang mendorong individu, keluarga dan masyarakat untuk mau melakukan
perilaku yang diperkenalkan dalam mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatan, menciptakan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam
penyelenggaraan setiap upaya kesehatan.
3. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non
instruktif, untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan, kemauan
dan kemampuan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu
mencegah penyakit, mengidentifikasi masalah, merencanakan dan
melakukan pemecahannya, meningkatkan kesehatan, menciptakan
lingkungan sehat serta berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap
upaya kesehatan dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas
yang ada baik dari instansi/ lintas sektor maupun LSM dan tokoh
masyarakat.
Upaya pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan
kemandirian masyarakat dan keluarga dalam bidang kesehatan, dengan
cara meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat
sehingga masyarakat dapat berkontribusi dalam meningkatkan derajat
kesehatan.
Jika masyarakat tahu dan memahami masalah kesehatan dan faktor risiko/
penyebab, mereka akan mau dan mampu berperan aktif untuk mengatasi
masalah kesehatan serta penanggulangan faktor risiko/ penyebab.
Pemberdayaan masyarakat merupakan proses, sedangkan kemandirian
masyarakat merupakan hasilnya, jadi hasil dari pemberdayaan masyarakat
adalah kemandirian masyarakat.
Proses pemberdayaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

APA ?
PROSES PEMBERDAYAAN
BERTAHAP Tahap 1. TAHU

Tahap 2. MAU

Tahap 3. MAMPU
Proses pemberdayaan masyarakat melalui tahap penggalian pengetahuan,
peningkatan kemauan dan kemampuan, dan dapat dilihat pada skema
berikut :
BAGAIMANA?
PROSES PEMBERDAYAAN
MENGGALI TAHU
PENGETAHUAN

MENGGALI PERAN/
ALTERNATIF DENGAN MAU
KONSEKWENSI
(BERDASAR POTENSI)

FASILITASI PENINGKATAN
KEMAMPUAN MAMPU
(PENDAMPINGAN)

Strategi yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :


a. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan termasuk
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
b. Mengembangkan berbagai mekanisme untuk menggali dan
memanfaatkan sumberdaya masyarakat secara optimal.
c. Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat
yang sesuai dengan kultur budaya masyarakat setempat.
d. Mengembangkan manajemen sumberdaya masyarakat secara
transparan.

Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan adalah :

a. Menumbuh kembangkan kemampuan masyarakat.


b. Menumbuh kembangkan peran serta masyarakat.
c. Mengembangkan semangat gotong royong.
d. Bekerja bersama masyarakat.
e. Menggalang kemitraan dengan berbagai pihak.
f. Penyerahan pengambilan keputusan pada masyarakat.

Potensi yang dimiliki masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat adalah

a. Tokoh masyarakat, kader, tokoh agama, dan lain-lain.


b. Organisasi kemasyarakatan.
c. Dana, sarana dan material yang dimiliki masyarakat.
d. Pengetahuan dan teknologi yang dimiliki masyarakat.
e. Kegiatan dan sistem yang berkembang di masyarakat.

Sasaran pemberdayaan masyarakat adalah :

a. Aparat pemerintah (Pemda, DPRD, Lintas Sektor,dll)


b. Tokoh masyarakat (guru, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dll)
c. Organisasai masyarakat, PKK, LSM, dunia usaha.
d. Masyarakat (individu, keluarga, kelompok masyarakat)

Unsur-unsur pemberdayaan masyarakat adalah :

a. Aksesibilitas informasi (misal :peluang, pelayanan kesehatan, hukum,


dll).
b. Keterlibatan dan partisipasi (siapa yang dilibatkan dan bagaimana
mereka terlibat dalam proses).
c. Akuntabilitas (pertanggungjawaban kegiatan).
d. Kapasitas organisasi dalam memecahkan masalah :
- Kemampuan bekerjasama.
- Mengorganisir anggota.
- Memobilisasi sumberdaya.

Indikator pemberdayaan masyarakat adalah :

a. Masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhan permasalahan.


b. Masyarakat mampu menentukan prioritas kebutuhan permasalahan.
c. Masyarakat mengetahui sumber daya yang dimiliki.
d. Semakin banyak pemimpin/ kader lokal yang muncul.
e. Masyarakat mampu menyelesaikan permasalahan sendiri.
f. Masyarakat makin mandiri.
g. Swadaya masyarakat semakin kuat.

Beberapa contoh pemberdayaan masyarakat adalah :

a. Advokasi kepada pimpinan masyarakat, sarasehan antar pimpinan


masyarakat (formal atau non formal) dan pelatihan tokoh masyarakat,
pencanangan oleh para pimpinan formal (Gubernur/ Bupati/ Camat/
Kepala Desa/ Kepala Kelurahan dll).
b. Menumbuh kembangkan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) misalnya : PKD, Posyandu, ambulance desa dll).
c. Pengalangan dana untuk kegiatan kesehatan, seperti Tabungan Ibu
Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas) dan bentuk dana
sehat, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, dll).
d. Segala bentuk gotong royong yang bertujuan untuk kesehatan yang
merupakan pemberdayaan masyarakat seperti : gotong royong mencari
batu dan pasir untuk pembangunan sumur atau jamban, arisan jamban
keluarga, gotong royong membangun sarana air bersih, dll).
e. Segala bentuk Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).
4. Kemitraan
Dalam advokasi, bina suasana dan gerakan pemberdayaan, prinsip-prinsip
kemitraan harus ditegakkan.Kemitraan dikembangkan antara petugas-
kesehatan UPTD Puskesmas Todanan dengan sasarannya dalam
pelaksanaan pemberdayaan, bina suasana dan advokasi.
Disamping itu, kemitraan juga dikembangkan karena kesadaran bahwa
untuk meningkatkan efektifitas Promosi Kesehatan, petugas kesehatan
UPTD Puskesmas Todanan harus bekerja sama dengan pihak terkait.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Sumber daya utama yang diperlukan untuk penyelenggarakan Promosi
Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan adalah Sumber Daya Manusia
Kesehatan (SDM kesehatan). Yang dimaksud kualifikasi Sumber Daya
Manusia sama halnya dengan job spesifikasi, yaitu minimal golongan/
jabatan, masa kerja minimal, pendidikan minimal, pengalaman kerja, nilai
performance/ kinerjanya, dan standar kompetensi.
Pengelolaan pelayanan Promosi Kesehatan hendaknya dilakukan oleh
koordinator yang mempunyai kapasitas di bidang Promosi Kesehatan.Adapun
pola ketenagaan yang ada di unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD
Puskesmas Todanan adalah sebagai berikut :

Pola Ketenagaan unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas


Todanan

No Jenis Kualifikasi Jumlah


Tenaga Status Jabatan Pendidikan

1. Promosi PNS Perawat S1 1


Kesehatan Keperawatan
Total 1

B. Distribusi Ketenagaan
Distribusi ketenagaan unit pelayanan Promosi Kesehatan yang harus ada di
Puskesmas adalah :

No Jenis Puskesmas Jumlah


Tenaga Status Jabatan Pendidikan

1. Promosi PNS Kesehatan D III 2


Kesehatan Masyarakat
Sedangkan untuk distribusi ketenagaan unit pelayanan Promosi
Kesehatan di UPTD Puskesmas Todanan adalah :

No Jenis Puskesmas Jumlah


Tenaga Status Jabatan Pendidikan

1. Promosi PNS Kesehatan S1 1


Kesehatan Masyarakat Keperawatan

C. Jadwal Kegiatan Pelayanan Promosi Kesehatan


Jadwal Kegiatan Unit Pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas
Todanan:

No Jenis Pelayanan Waktu Keterangan


1. Promosi Kesehatan 07.30 – 13.30 Jadwal pelayanan
dalam gedung UPTD WIB khusus hari
Puskesmas Todanan Jum’at sampai
menggunakan media 10.30 WIB dan
Promosi Kesehatan hari Sabtu sampai
2. Promosi Kesehatan luar Sesuai jadwal jam 11.00 WIB
gedung UPTD pertemuan rutin
Puskesmas Todanan lintas sektor/
sesuai jadwal
yang dibuat
untuk pertemuan
yang tidak rutin
08.00-13.30 WIB

Pengaturan jadwal kegiatan untuk unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD


Puskesmas Todanan adalah Person in Charge, tanpa terbatas dan terkendala
oleh waktu dan tempat
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Gedung dan Ruang Pelayanan Promosi


Denah Gedung dan Ruang Pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas
Todanan sebagai berikut :
U
KAMAR KAMAR
MANDI
GUDANG OBAT R. R. R. R. KIA & KB MANDI
FARM IMUNI PROM
ASI SASI KES&
S R. GIZI

RUANG REKAM KASIR R. BP R. GIGI


MEDIS MEJ
A
R. TUNGGU
PEN
DAF
TAR
AN

RuangPromosi Kesehatan terletak di satu ruangan ukuran 3 x 2,5


meter, bergabung dengan Ruang GIZI UPTD Puskesmas Todanan. Ruang ini
mempunyai ventilasi dan penerangan/ pencahayaan yang cukup.

B. Standar Fasilitas Pelayanan Promosi Kesehatan


Ketersediaan peralatan kesehatan sangat menentukan terselenggaranya
pelayanan kesehatan yang optimal, efektif dan efisien di Puskesmas.
Berdasarkan Permenkes Nomor 75 tahun 2014, standar sarana/peralatan
pelayanan Promosi Kesehatan di Puskesmas adalah sebagai berikut :
JENIS JUMLAH DI UPTD
NO PERALATAN MINIMAL PUSKESMAS
PERALATAN TODANAN
ADA BELUM
ADA
I. Set Promosi Kesehatan
1. Alat peraga cara 1 paket V
menyusui yang
benar (boneka
dan fantom
payudara)

2. Alat Permainan 1 paket V


Edukatif (APE)
3. Biblioterapi sesuai V
kebutuhan
4. Boneka Bayi 1 buah V
5. Cetakan Jamban 1 buah V
6. Cetakan Sumur 1 buah V
Gali (Cincin)
7. Komputer dan 1 unit V
Printer
8. Fantom Gigi Anak 2 buah V
9. Fantom Gigi 2 buah V
Dewasa
10. Fantom Mata 1 buah V
Ukuran Mata Asli
11. Fantom Mata 1 buah V
Ukuran Besar
(Fiberglass)
12. Fantom Panggul 1 buah V
Wanita
13. Flip Chart dan 1 buah V
Stand
14. Food Model 1 paket V
15. Phantom Gigi V
Dewasa
16. Gambar Anatomi 1 lembar V
Gigi
17. Gambar Anatomi 1 lembar V
Mata
18. Gambar Anatomi 1 lembar V
Mata 60 x 90
19. Gambar Panggul 1 lembar V
Laki-laki
20. Kamera Foto/ 1 unit V
Handy Camp
21. Laptop 1 buah V
22. Layar ukuran 1 x 1 buah V
1,5 M/ Screen

23. Leaflet-leaflet sesuai V


kebutuhan
24. Megaphone/ 1 buah V
Public Adress
System
25. Papan Tulis Putih 1 buah V
26. Poster-poster sesuai V
kebutuhan
27. Proyektor/ LCD 1 unit V
Proyektor
28. Radio Kaset/ 1 unit V
Tape Recorder
29. Televisi dan 1 unit V
Antena
30. VCD/ DVD Player 1 unit V
31. Wireless system/ 1 unit V
Amplifier &
Wireless
Microphone
II. Bahan Habis Pakai
1. Cairan sesuai V
Desinfektan kebutuhan
Tangan
2. Cairan sesuai V
Desinfektan kebutuhan
Ruangan
III. Perlengkapan
1. Kabel tambahan 1 unit V
@ 20 m
2. Portable 1 unit V
Generator
3. Tempat Sampah 2 buah V
Tertutup
4. Lemari Alat 2 buah V
IV. Mebelair
1. Kursi Kerja 2 buah V
2. Lemari Arsip 1 buah V
3. Meja Tulis ½ biro 1 buah V
V. Pencatatan dan Pelaporan
1. Buku register sesuai V
pelayanan kebutuhan
2. Formulir dan surat sesuai V
keterangan lain kebutuhan
yg diberikan.
3. Kartu Status sesuai V
Pasien kebutuhan
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN PROMOSI KESEHATAN

A. LINGKUP KEGIATAN
I. Pelayanan Promosi Kesehatan di Dalam Gedung UPTD Puskesmas
Todanan
1. Tempat Pendaftaran
Penyebaran informasi kesehatan melalui media poster, leaflet yang bisa
dipasang didepan loket pendaftaran. Adapun jenis informasi yang
disediakan yaitu :
a. Alur pelayanan Puskesmas
b. Jenis pelayanan kesehatan
c. Denah Poliklinik
d. Informasi kesehatan yang menjadi isu saat itu.
e. Peraturan kesehatan seperti larangan merokok, dilarang meludah
sembarangan, membuang sampah pada tempatnya dll.
Memberikan salam kepada pengunjung Puskesmas termasuk dari
kegiatan promosi karena telah terjadi komunikasi awal yang menimbulkan
kesan yang baik dan menyejukkan bagi pasien/ pengunjung Puskesmas
sehingga mengurangi beban yang diderita.
2. Poliklinik
Petugas Puskesmas yang melayani pasien meluangkan waktunya untuk
menjawab pertanyaan pasien berkenaan dengan penyakitnya atau obat
yang harus ditelannya. Atau dirujuk ke klinik khusus/ klinik bagian
konsultasi bagi pasien rawat jalan yang memerlukan konseling. Untuk
mempermudah pemberdayaan dalam pelayanan medis, disediakan pula
media Promosi Kesehatan seperti lembar balik (flashcards), poster,
gambar/ model anatomi atau brosur/ leaflet yang bisa dibawa pulang
pasien dan pengantarnya.
Pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien rawat jalan adalah orang
yang mengantarkannya ke Puskesmas.Mereka ini tidak dalam keadaan
sakit, sehingga memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari
berbagai media komunikasi yang tersedia di poliklinik.
3. Ruang Tunggu
Dipasang media poster, selebaran (leaflet), media penyuluhan kesehatan
lain yang berisi informasi yang benar tentang penyakit dan
pencegahannnya serta kotak saran.
Dengan mendapatkan informasi yang benar mengenai penyakit yang
diderita pasien, diharapkan dapat membantu Puskesmas memberikan
informasi kepada pasien.
Untuk media Promosi Kesehatan di ruang tunggu UPTD Puskesmas
Todanan tersedia berupa selebaran (leaflet) tentang penyakit dan
informasi kesehatan lainnya bisa dibawa pulang oleh pengunjung, pasien
dan pengantarnya.
Pemasangan poster dan media komunikasi lainnya, mendorong pasien
untuk berperilaku sesuai yang dikehendaki agar penyakit atau masalah
kesehatan yang dideritanya dapat segera diatasi.
4. Ruang Pelayanan KIA dan KB
Pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien/ individu yang mendapat
pelayanan KIA/ KB, juga orang yang mengantarkannya ke
Puskesmas.Oleh karena itu perlu dipasang poster-poster atau disediakan
selebaran (leaflet) tentang berbagai penyakit, khususnya yang menyerang
bayi dan balita (risiko tinggi ibu hamil, bayi dan balita). Disamping itu
tentang pentingnya memeriksakan kehamilan teratur, pentingnya tablet
Fe bagi ibu hamil, serta petugas menjawab pertanyaan pasien dan
berkenaan dengan pelayanan yang didapatkannya kepada pengunjung
KIA/ KB yang terutama ibu-ibu atau wanita yang memeriksakan
kehamilannya, yang memerlukan pelayanan kontrasepsi, hendak bersalin
atau masalah-masalah kesehatan lainnya sesuai pelayanan kesehatan
lainnya yang dapat diberikan di ruang pelayanan KIA/ KB.
Dengan mendapatkan informasi yang benar tentang berbagai hal
tersebut, pangantar diharapkan dapat membantu Puskesmas memberikan
informasi kepada pasien/ individu tersebut.Pasien/ individu merasa dalam
suatu lingkungan yang mendorongnya untuk berperilaku sesuai yang
dikehendaki untuk kesehatannya.
5. Di Laboratorium
Di laboratorium, selain dijumpai pasien (orang sakit), juga individu/
pengunjung (orang sehat), dan para pengantarnya.
Kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri mereka adalah pentingnya
melakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu :
1. Bagi pasien adalah ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh dokter.
2. Bagi pengunjung yang sehat lainnya adalah untuk memantau kondisi
kesehatan, agar dapat diupayakan untuk tetap sehat.
Pada umumnya pasien atau pengantarnya tidak tinggal terlalu lama di
laboratorium. Oleh karena itu, dikawasan ini dilakukan promosi kesehatan
dengan media yang bersifat swalayan (self service) melalui pemasangan
poster yang dapat dibaca atau selebaran (leaflets) yang dapat dibawa
pulang oleh pasien atau pengantarnya.
6. Kamar Obat
Meningkatkan kesadaran pasien/ individu, keluarga atau pengantarnya
tentang :
a. Manfaat menggunakan obat generik dan keuntungan jika
menggunakan obat generik.
b. Kedisiplinan dan kesabaran dalam penggunaan obat sesuai dengan
petunjuk dokter.
c. Pentingnya memelihara Taman Obat Keluarga (TOGA) dalam rangka
memenuhi kebutuhan akan obat-obat sederhana.
Pemasangan poster dan penyediaan selebaran/leaflet tentang
informasi kesehatan untuk pasien/ individu, keluarga atau
pengantarnya.
7. Tempat Pembayaran
Penyampaian salam hangat dan ucapan selamat jalan semoga cepat
sembuh dan bertambah sehat kepada pasien, dan disampaikan kepada
pasien dan pengantarnya bahwa kapanpun kelak pasien membutuhkan
lagi pertolongan, jangan ragu-ragu untuk datang lagi ke UPTD Puskesmas
Todanan. Mereka juga didingatkan kembali untuk menjaga dan
mempromosiksn/ meningkatkankan kesehatan di lingkungannnya.
8. Klinik Khusus
Klinik khusus diselenggarakan dalam rangka upaya promosi kesehatan di
dalam gedung UPTD Puskesmas Todanan.Khususnya untuk pelayanan-
pelayanan yang perlu mendapat tambahan dalam hal promosi
kesehatannya.
Karena pasien terlalu banyak sedangkan petugas kesehatan yang melayani
terbatas/ misalnya di poliklinik, atau karena pasien dan keluarganya memang
memerlukan informasi/ konsultasi khusus (misalnya tentang sanitasi/ kesehatan
lingkungan, gizi, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dll). UPTD Puskesmas Todanan
mengembangkan klinik-klinik khusus sebagai upaya inovasi, yaitu : klinik gizi,
klinik sanitasi dan klinik konsultasi remaja.
Kegiatan promosi kesehatan yang diselenggarakan di klinik-klinik khusus
ini berupa layanan konseling.Pelayanan disini berupa upaya pemecahan
masalah kesehatan yang dirujuk dari poliklinik atau pelayanan kesehatan
lainnya di UPTD Puskesmas Todanan.
Beberapa prinsip pemberian informasi melalui konseling kepada pasien/
individu yang perlu diperhatikan dan dipraktikkan oleh petugas kesehatan
Puskesmas adalah :
a. Memberikan suasana gembira dan semangat hidup.
b. Menghargai pasien / klien sepenuh hati.
c. Melihat pasien/ individu sebagai subyek.
d. Mengembangkan dialog yang menyentuh perasaan.
e. Memberikan keteladanan.
9. Di Tempat Parkir
Promosi Kesehatan yang dilakukan bersifat umum, misalnya tentang
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), himbauan menggunakan obat
generik berlogo, bahaya merokok, bahaya mengkonsmsi minuman keras,
bahaya menyalahgunakan narkoba, seruan Presiden tentang kesehatan
dan lain-lain.
Pesan-pesan yang disampaikan dapat berupa baliho/ billboard disudut
lapangan parker.Pengaturan dalam pemasangan media komunikasi ini
harus dilakukan dengan konsultasi kepada ahlinya, sehingga mudah
ditangkap oleh mereka yang berada di lapangan parkir.
10. Di Taman
Promosi Kesehatan yang dilakukan di taman adalah mempromosikan
Taman Obat Keluarga (TOGA) dan karangkitri (jenis tanaman dengan
kandungan gizinya) dan lain-lain.
11. Di Dinding
Di dinding Puskesmas dapat ditampilkan pesan-pesan Promosi
Kesehatan, misalnya dalam bentuk poster.Namun demikian, agar tidak
merusak keindahan gedung atau ruangan Puskesmas disarankan tidak
banyak memasang poster di dinding.
12. Di Pagar Pembatas Kawasan Puskesmas
Pada saat-saat tertentu, misalnya kampanye Hari Kesehatan Nasional
(HKN), kampanye hari AIDS dan lain-lain, dipagar pembatas sekeliling
kawasan Puskesmas, khusunya yang berbatasan dengan jalan, dapat
dipasang spaduk-spanduk. Pemasangan spanduk di pagar ini pun harus
diperhitungkan dengan cermat, sehingga tidak merusak kaindahan pagar
Puskesmas.
13. Di Kantin/ Kios di Kawasan Puskesmas
Bagi Puskesmas yang memiliki kantin, warung atau kios yang
menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung Puskesmas Promosi
Kesehatan yang dapat dilakukan dapat berupa pemasangan poster atau
penyediaan selebaran (leaflet) yang dapat diambil secara gratis terkait
pesan konsumsi gizi seimbang, bahaya rokok dan lain-lain.
14. Di Tempat Ibadah
Promosi Kesehatan yang dapat dilakukan berupa pemasangan poster dan
penyediaan selebaran/ leaflet tentang kesehatan jiwa yang dikaitkan
dengan
perintah-perintah agama) dan pentingnya menjaga kebersihan/ kesehatan
lingkungan.

II.Pelayanan Promosi Kesehatan di Luar Gedung UPTD Puskesmas Todanan


Promosi Kesehatan di luar gedung UPTD Puskesmas Todanan adalah
Promosi kesehatan yang dilakukan petugas UPTD Puskesmas Todanan di
luar gedung UPTD puskesmas Todanan.Artinya Promosi Kesehatan
dilakukan untuk masyarakat yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Todanan.
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di luar gedung UPTD Puskesmas
Todanan yang dilakukan UPTD Puskesmas Todanan sebagai suatu upaya
untuk meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui
pengorganisasian masyarakat.
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di luar gedung dilakukan oleh UPTD
Puskesmas Todanan bekerjasama dengan berbagai pihak potensial lainnya,
dengan menerapkan Advokasi, Bina suasana dan Gerakan pemberdayaan
masyarakat, yaitu :
1. Promosi Kesehatan melalui pendekatan individu.
2. Promosi Kesehatan melalui pendekatan kelompok (Tim Penggerak PKK,
Posyandu, karang taruna, majelis taklim dan lain-lain)
3. Promosi Kesehatan melalui pendekatan organisasi massa (seperti
kelompok kesenian tradisional dan lain-lain.
4. Penggerakan dan pengorganisasian masyarakat.

B. METODE
Metode Pelayanan Promosi Kesehatan di luar gedung UPTD Puskesmas
Todanan yang dapat dilakukan yaitu :
1. Kunjungan rumah
Kunjungan rumah dilakukan petugas Promosi Kesehatan maupun
petugas kesehatan UPTD Puskesmas Todanan yang lain sebagai tindak
lanjut dari upaya Promosi Kesehatan di dalam gedung UPTD Puskesmas
Todanan yang telah dilakukan kepada pasien/ keluarga.Kunjungan rumah
dilakukan terutama kepada pasien/ keluarga yang memiliki masalah
kesehatan cukup berat (pasien Tubercullosis, gizi buruk) dan atau mereka
yang sepakat untuk melaksanakan langkah-langkah tindak lanjut di rumah
tangganya (misalnya membuat lantai rumah kedap air, membuat jamban
keluarga, membuat Taman Obat Keluarga (TOGA) dan lain-lain.
Untuk pasien/ keluarga yang memiliki masalah kesehatan cukup berat,
kunjungan rumah dilakukan untuk membantu proses pemecahan masalah
tersebut (konseling) di tingkat keluarga, dalam hal ini berlaku prinsip-
prinsip konseling.
Untuk pasien/ keluarga yang sepakat melaksanakan langkah-langkah
tindak lanjut, kunjungan rumah dilakukan sebagai upaya supervise dan
bimbingan, sekaligus sebagai penghargaan (apresiasi) jika langkah-
langkah tersebut telah terlaksana.
Namun tidak jarang, kunjungan rumah jenis ini dapat berubah menjadi
kunjungan konseling, bila ternyata langkah-langkah yang telah disepakati
belum terlaksana atau terkendala.Artinya petugas kesehatan Puskesmas
harus membantu keluarga yang dikunjungi tadi dalam mengatasi masalah
atau kendala yang dihadapi.
Tidak jarang, kunjungan rumah yang semula dimaksudkan untuk
menyelenggarakan konseling keluarga berkembang menjadi konseling
yang lebih luas (misalnya tingkat dasa wisma atau bahkan lebih luas lagi).
Hal ini terjadi jika masalah yang dihadapi keluarga tersebut ternyata juga
dihadapi oleh banyak keluarga lain. Atau jika proses pemecahan masalah
keluarga yang bersangkutan menghendaki terlibatnya keluarga-keluarga
lain. Keadaan seperti ini, petugas kesehatan Puskesmas tadi harus
mengubah pendekatan menjadi pengorganisasian masyarakat.
2. Promosi Kesehatan pada pertemuan-pertemuan lintas sektor (TP PKK
Kecamatan, TP PKK desa/ kelurahan, pertemuan kader di kecamatan/
kelurahan/ desa, pertemuan guru SLTP dan SLTA.
3. Pembinaan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Posyandu, UKS, Poskestren, UKK, kegiatan pembinaan meliputi kegiatan
pendampingan pelaksanaan kegiatan UKBM, pembinaan admininstrasi
kegiatan UKBM dan peningkatan kapasitas kader UKBM melalui orientasi/
pelatihan kader kesehatan.

C. LANGKAH KEGIATAN
Langkah kegiatan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dalam
Promosi
Kesehatan adalah :
a. Kajian Masalah Secara umum.
Masalah adalah adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan
dengan kenyataan yang dihadapi dalam periode waktu tertentu.
Contoh masalah adalah : yang diharapkan jumlah Balita yang
menimbang 100% dari jumlah sasaran yang ada, tetapi kenyataan
yang ada, jumlah Balita yang datang menimbang 50% dari jumlah
sasaran yang ada, hal ini berarti ada masalah karena ada
kesenjangan 100%-50% = 50 %
b. Kajian Masalah Kesehatan dan Faktor Risiko.
Masalah kesehatan adalah masalah yang berkaitan dengan kondisi
kesehatan baik jasmani, rohani dan sosial.
Contoh masalah kesehatan adalah : kematian ibu/ Balita/ bayi, gizi
buruk, penyakit menular/ tidak menular, batuk, pilek, diare,
Tubercullosis dll.
Faktor risiko/ penyebab adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya/ timbulnya masalah kesehatan.Faktor risiko/ penyebab ini
meliputi lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan
keturunan.Pada konsep pendekatan hulu, faktor risiko lebih
diutamakan pada lingkungan dan perilaku. Bila lingkungan dan
perilaku berubah negative akan menjadi faktor risiko penyebab yang
dapat menimbulkan masalah kesehatan. Bila faktor risiko/ penyebab
lingkungan dan perilaku tidak diatasi, maka menimbulkan masalah
kesehatan.Masalah kesehatan ini dapat menjadi semakin besar bila
faktor risiko lingkungan dan perilaku tidak segera dicegah dan
ditanggulangi.
Contoh faktor risiko lingkungan adalah:
1. Tidak ada SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah).
2. Keterbatasan air bersih.
3. Keterbatasan jamban.
4. Adanya ban bekas.
5. Lantai rumah tidak kedap air.
6. Rumah tidak ada ventilasi, dan lain-lain.
Contoh faktor risiko perilaku adalah :
1. Kebiasaan merokok.
2. Kebiasaan Buang Air Besar (BAB) sembarangan.
3. Tidak mencuci tangan sebelum makan.
4. Tidak mencuci bahan makanan sebelum dimasak.
5. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu sebelum anak
usia 6 bulan, dan lain-lain.
c. Kajian Masalah Kesehatan di desa/ kelurahan.
Untuk mengetahui masalah kesehatan yang ada di desa/ kelurahan
perlu ditekankan kembali kepada masyarakat tentang pemahaman
masalah kesehatan dan faktor risiko/ penyebab karena masyarakat
akanlebih berperan pada upaya pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko/ penyebab.Jika terjadi masalah kesehatan maka petugas
kesehatan yang lebih banyak berperan.
Adapun masalah kesehatan yang sering terjadi didesa/ kelurahan
antara lain, batuk, pilek, gatal-gatal, diare, demam berdarah, gizi
buruk, bayi lahir meninggal, ibu melahirkan meninggal dan lain-lain.
d. Prioritas Masalah Kesehatan.
Setelah diketahui masalah kesehatan apa saja yang ada di desa/
kelurahan, selanjutnya diprioritaskan berdasarkan MDG’S, dengan
prioritas masalah kesehatan antara lain : DBD, Tubercullosis, kusta,
Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan gizi buruk.
Berkaitan dengan masalah kesehatan Angka Kematian Ibu/ Angka
Kematian Bayi, masalah ini biasanya tidak terungkap karena
masyarakat belum menyadari dan merasakan hal ini sebagai
masalah. Oleh sebab itu harus disampaikan faktor risiko yang
mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan Angka Kematian Ibu
dan Angka Kematian Bayi.
Tetapi untuk menentukan prioritas masalah tetap disesuaikan
dengan masalah kesehatan apa saja yang ada di desa/ kelurahan
tersebut dan dicocokkan lagi urutannya dengan prioritas masalah
kesehatan berdasarkan MDG’S, begitu juga untuk masalah kesehatan
lain yang ada, yaitu dengan kategori meresahkan atau tidak
meresahkan, menular atau tidak menular, mengganggu produktifitas
kerja atau tidak dan drop out pengobatan tinggi atau rendah.
e. Kajian Masalah Kesehatan Utama.
Masalah kesehatan utama ditentukan dari urutan pertama pada 5
masalah kesehatan prioritas kelas yang disepakati.
f. Identifikasi Kesepakatan Peran dalam Penanganan Masalah
Kesehatan.
Ketika proses pemberdayaan sampai pada tahapan ini, peserta/
masyarakat hendaknya sudah memahami dengan baik apa yang
menjadi masalah kesehatan dan faktor risiko/ penyebab yang
mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan di wilayah desa/
kelurahannya. Dengan demikian mereka akan membangun
kesepakatan peran dalam upaya pencegahan, pengendalian dan
penanggulangan faktor risiko dan gejala awal terjadinya masalah
kesehatan.
Pada proses pemberdayaan, identifikasi peran dikelompokkan
menjadi peran masyarakat, bidan desa dan peran petugas kesehatan.
Namun di lingkungan masyarakat, semua komponen (kader, PKK,
tokoh masyarakat, tokoh agama, karang taruna, Kepala Desa/ Lurah,
perangkat desa/ kelurahan, dan lain-lain) mempunyai peran masing-
masing dalam upaya pencegahan, pengendalian dan
penanggulangan faktor risiko dan gejala awal terjadinya masalah
kesehatan.
Misalnya:
- Kader : menemukan suspek.
- Puskesmas : konfirmasi suspek.
- Kader : penyuluhan kesehatan
- FKD : pemasangan genteng kaca/ plesterisasi lantai
rumah.
g. Pembuatan Peta Imajiner.
Pembuatan peta imajiner meliputi :
- Peta dasar imajiner (batas RT/ RW, sungai, jalan, bangunan
(rumah, masjid, sekolah, Ponpes, PKD, Posyandu, Puskesmas
dan lain-lain.
- Peta faktor risiko imajiner, meliputi :
 Masalah kesehatan (penderita kusta, demam berdarah, gizi
buruk dan lain-lain).
 Faktor risiko lingkungan dan perilaku.
 Ibu hamil, keluarga miskin dan balita.
Setelah peta imajiner selesai dibuat, peta imajiner dicocokkan dengan kondisi
sebenarnya di lapangan melalui kunjungan lapangan atau Survey Mawas Diri/
SMD. Hasil dari kunjungan lapangan melalui Survey Mawas Diri/ SMD akan
menjadi bahan/ materi di dalam Musyawarah Masyarakat Desa/ MMD untuk
merumuskan dan merencanakan jalan keluarnya atau mencari pemecahan
masalah kesehatan yang terjadi dan kesepakatan bersama dalam menanggulangi
masalah kesehatan yang terjadi.
Promosi Kesehatan di masyarakat secara menyeluruh sebaiknya tidak ditangani
sendiri oleh petugas kesehatan Puskesmas.Masyarakat begitu luas dan terdiri dari
beberapa tatanan.Oleh karena itu, untuk menjangkaunya, Puskesmas lebih baik
bekerjasama dengan mitra-mitra yaitu para pemuka masyarakat, dan kader-
kader.Untuk itu, disetiap tatanan harus diidentifikasi pemuka-pemuka
masyarakatnya dan siapa saja yang sekiranya dapat direkrut sebagai kader.
Misalnya dengan mengikuti format sebagai berikut :
TATANAN MITRA/ PEMUKA KADER
MASYARAKAT
Rumah Tangga Kepala Desa/ Lurah, Anggota PKK
Pengurus RW/RT, pemuka
Agama, Tim Penggerak PKK
Sarana Pendidikan Kepala Sekolah/ Kyai, Guru/ Murid-murid/ santri-
(termasuk Podok ustadz, Pengurus BKOM, santri terpilih
Pesantren) Pengurus PGRI
Tempat Kerja Pengelola tempat kerja, Karyawan-karyawan
Pengurus Serikat Pekerja/ terpilih
Korpri

Selanjutnya, sesuai dengan tatanan yang akan dilaksanakan,diselenggarakan


pemberdayaan secara berjenjang, yaitu :
a. Petugas kesehatan atau petugas Penyuluh Kesehatan Masyarakat
Puskesmas mengembangkan kemitraan dan memberdayakan para
pemuka masyarakat, dilanjutkan dengan
b. Para pemuka masyarakat memilih dan merekrut kader, lalu
memberdayakan para kader, dan akhirnya
c. Para kader memberdayakan masyarakatnya.
Proses pemberdayaan secara berjenjang ini umumnya
diselenggarakan melalui pendekatan atau yang disebut dengan “
Pengorganisasian Masyarakat’.
4. Fasiltasi Pengorganisasian Masyarakat.
Pengorganisasian masyarakat merupakan suatu proses penggerakan
dan pemberdayaan masyarakat yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
pencatatan dan penilaian dalam membangun masyarakat untuk mau dan
mampu mengatasi masalahnya sendiri secara swadaya sesuai
kemampuannya, khususnya yang berkaitan dengan Perilaku Hidup bersi
dan Sehat (PHBS).
Petugas Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan membantu
melakukan pengenalan-pengenalan masalah-masalah kesehatan yang
sering dialami masyarakat (Survey Mawas Diri/ SMD).Membantu
masyarakat membahas hasil SMD dalam musyawarah kecil diantara
mereka, untuk dirumuskan dan direncanakan jalan keluarnya.
Diharapkan masyarakat dapat bersama petugas kesehatan
melaksanakan hal-
hal sebagai berikut :
1. Mempersiapkan dan mengusulkan rencana aksi program Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berdasarkan prioritas masalah
kesehatan masyarakat yang dihadapi.
2. Menggali dan mendorong partisipasi masyarakat.
3. Bersama-sama melaksanakan program secara efektif dan efisien.
4. Memantau dan membina pelaksanaan program.
5. Melaporkan perkembangan pelaksanaan dan keberhasilan Promosi
Kesehatan di instansi terkait tingkat kecamatan.
Pengorganisasian masyarakat (community organization) dapat diterapkan
di
tatanan manapun yang akan dilaksanakan, disuatu RT/RW, disuatu
sekolah,
disuatu Pondok Pesantren, disuatu kantor, disuatu pabrik dan seterusnya.
Proses pemberdayaan berjenjang tersebut adalah sebagai berikut :
Diawali dengan para petugas Puskesmas membantu para pemuka
masyarakat
dengan langkah-langkah :
a. Survei Mawas Diri (SMD)
Survey Mawas Diri adalah kegiatan untuk mengumpulkan fakta, data,
informasi baik kuantitatif maupun kualitatif yang terkait masalah
kesehatan, bencana, kegawatdaruratan kesehatan, dengan faktor
risikonya, serta berbagai potensi yang ada di desa.
Dalam langkah ini, para pemuka masyarakat (misalnya para pengurus
RW/RT, Pemuka Agama, Tim Penggerak PKK), dibimbing untuk
melakukan pengenalan masalah-masalah kesehatan yang sering
melanda masyarakatnya.Disini observasi dan digali penyebab-
penyebab dari masalah tersebut (termasuk aspek perilakunya) serta
potensi-potensi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
kesehatan.Namun demikian di masyarakatnya juga terdapat potensi
sumber daya yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah
tersebut.
Survey Mawas Diri (SMD) dapat dilaksanakan dengan cara :
1. Pemetaan hasil observasi dan kajian data, meliputi :
- Keadaan umum, fasilitas umum dan lingkungan.
- Masalah kesehatan, risiko bencana, kejadian kegawatdaruratan
kesehatan yang terjadi.
- Kegiatan gotong royong masyarakat dalam mencegah dan
mengatasi masalah kesehatan dan bencana.
- Upaya kesehatan yang dilakukan oleh kader.
- Pengamatan dan pemantauan masalah kesehatan dan
bencana.
- Pembiayaan kesehatan.
2. Foccus Group Discussion
Menggali informasi yang lebih dalam tentang masalah yang
ditemukan dari hasil pemetaan sebelumnya, tentang :
- Kebutuhan, kepedulian, penyebab masalah.
- Kesiapan masyarakat dalam mengatasi masalah secara mandiri
dengan berbagai bentuk kegiatan gotong royong masyarakat,
upaya kesehatan, pengamatan dan pemantauan serta
pembiayaan kesehatan.
Pelaksana SMD adalah para tokoh masyarakat/ FKD di desa dengan
kader kesehatan, difasilitasi oleh petugas kesehatan desa (bidan desa)
bersama tim kecamatan dan kabupaten.
Skema cara mengatasi masalah kesehatan di masyarakat adalah
sebagaiberikut :

SURVEY MAWAS DIRI/ SMD

ANALISIS HASIL SURVEY MAWAS DIRI/ SMD

BAHAN MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA


(MMD)

MMD/ MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA


(Menghasilkan kesepakatan faktor risiko dan masalah kesehatan
yang ada serta peran dalam mengatasi faktor risiko dan masalah
kesehatan tersebut)

RTL/ RENCANA TINDAK LANJUT


(Rencana intervensi mengatasi faktor risiko dan masalah kesehatan :
jangka pendek, menengah dan jangka panjang)

Hasil SMD adalah teridentifikasinya masalah kesehatan, bencana dan


kegawatdaruratan kesehatan, potensi yang dimiliki desa serta faktor
risiko lingkungan dan perilaku.
b. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)/ Musyawarah Masyarakat Desa
(MMD).
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) adalah kegiatan untuk
menentukan urutan prioritas masalah dan sebab masalah, upaya
pencegahan masalah dengan memanfaatkan potensi yang ada, dan
akhirnya menyusun rencana kegiatan operasional untuk mencegah
dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan
kesehatan di desa, sebagai bagian penting dalam rencana
pembangunan desa.
Inisiatif kegiatan MMD diharapkan dari para tokoh masyarakat yang
mendukung pengembangan desa siaga termasuk dunia usaha dan
kader kesehatan.
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) bertujuan untuk membahas
hasil SMD dan data kesehatan lainnya yang mendukung serta
memperoleh kesepakatan tentang masalah kesehatan, faktor risiko/
penyebab dan rencana intervensi untuk mengatasi masalah kesehatan
tersebut.
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) dilaksanakan dengan cara :
1. Dialog dan diskusi kesepakatan, untuk identifikasi masalah dan
potensi di desa dari hasil Survey Mawas Diri (SMD).
2. Pembobotan atau lembar masalah, untuk menyusun urutan prioritas
masalah, dengan argumentasi penilaian oleh peserta, dan diakhiri
dengan kesepakatan urutan prioritas dan penentuan masalah yang
akan diatasi.
3. Curah pendapat, dialog dan diskusi untuk identifikasi penyebab
masalah dari masalah yang akan diatasi, dan diakhiri kesepakatan
penyebab masalah yang akan diatasi.
Selama proses Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) berlangsung
dipaparkan hasil Survey Mawas Diri (SMD) yaitu :
1. Potensi yang dimiliki.
2. Perumusan masalah, urutan masalah prioritas dan upaya
pemecahannya.
3. Membuat rencana kegiatan penanggulangan masalah kesehatan
yang ada lengkap dengan jadwal kegiatan dan
penanggungjawabnya.
Dalam langkah ini para pemuka masyarakat dibimbing membahas hasil
Survei Mawas Diri (SMD) dalam musyawarah kecil diantara mereka,
untuk dirumuskan dan direncanakan jalan keluarnya
(pemecahannya).Dalam hal ini petugas kesehatan juga dapat
membantu melakukan advokasi ke berbagai pihak untuk menggalang
dukungan (kebijakan/ sumber daya).
Hasil rumusan masalah para pemuka masyarakat ini kemudian
direkapitulasi untuk menyimpulkan faktor risiko dan masalah kesehatan
setempat dibahas lebih lanjut masyarakat dalam musyawarah besar.
Musyawarah besar dapat berlangsung beberapa kali sampai dihasilkan
suatu rencana kongkrit mengatasi masalah yang ada sebagai hasil dari
Rencana Tindak Lanjut/ RTL yang telah ditetapkan.
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) selain dilakukan secara khusus
membahas hasil Survey Mawas Diri (SMD) dapat juga dilakukan
sebagai musyawarah rutin bulanan dan tiga bulanan, yang antara lain
sebagai wahana untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan,
hambatan yang ditemukan dan merencanakan upaya pemecahannya.
UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ATAU PENGGERAKAN PERAN
AKTIF MASYARAKAT MELALUI PROSES PEMBELAJARAN YANG
TERORGANISASI DENGAN BAIK (PENGORGANISASIAN MASYARAKAT-
PKMD)

Mngidentifikasi masalah,
Fasilitasi
penyebab dan sumber
daya(Survei Mawas Fasilitasi
Diri/SMD)

Memantau dan Proses Pembelajaran Diagnosis &


evaluasi untuk binaDesa (spira pemecahan masalah)rumuskan alternatif-
Masyarakat
kelestarian alternatif
pemecahan

Fasilitasi

Menetapkan dan
melaksanakan
pemecahan Fasilitasi

Selanjutnya para pemuka masyarakat dibimbing untuk memberdayakan


para kader melalui langkah :
a. Persiapan Pelaksanaan Kegiatan (PPK)
Dalam langkah ini para pemuka masyarakat dibimbing untuk
menetapkan Pengurus/ Pengelola UKBM (dalam bentuk sesuai
untuk mengatasi masalah, yaitu misalnya : Pos Kesehatan Desa/
Poskesdes), dan pelaksana UKBM (yaitu tenaga kesehatan dan
kader).
Jika pengurus dan pelaksana sudah ditetapkan, maka selanjutnya
dilakukan :
- Pelatihan kader oleh pemuka masyarakat (dibantu petugas
kesehatan) tentang cara-cara mengatasi kesehatan yang ada
(sebagai latar belakang pengetahuan) dan cara-cara
melaksanakan tugas-tugas kader di UKBM yang dibentuk. Jika
itu Poskesdes misalnya, materi pelatihan mencakup bagaimana
menangani kegawatdaruratan dan lain-lain.
- Termasuk disini adalah cara-cara memberdayakan masyarakat
khususnya teknik koseling individu dan konseling kelompok/
keluarga. (Sementara itu petugas pelaksana Poskesdes juga
dilatih oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kota)
- Pembentukan UKBM (yaitu misalnya Poskesdes) oleh para
pemuka masyarakat dan para kader.
Setelah para kader selesai dilatih, mereka kemudian bertugas
memberdayakan seluruh masyarakat melalui langkah :
b. Pelaksanaan kegiatan (PK)
Dalam langkah ini, petugas kesehatan dan para kader mulai
melakukan pelayanannnya kepada masyarakat melalui kegiatan-
kegiatan UKBM (misalnya Poskesdes). Umumnya para kaderlah
yang akan lebih banyak melakukan pemberdayaan masyarakat
dengan memfasiliatsi proses pemecahan masalah-masalah yang
dihadapi individu, keluarga atau kelompok. Dengan demikian para
kader akan banyak melakukan kegiatan konseling individu di
Poskesdes, konseling keluarga di kunjujngan rumah, dan konseling
kelompok di Dasa Wisma. Aspek-aspek medis dari pemecahan
masalah kemudian diserahkan kepada petugas kesehtan untuk
membantunya lebih lanjut.
Sedangkan aspek-aspek perilakunya akan dibina terus oleh kader,
sehingga tercipta sadar gizi serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di kalangan masyarakat. Akhirnya guna menjaga
keberlanjutan (kelestarian) UKBM yang telah dibentuk, Puskesmas
dan para pemuka masyarakat
melakukan :
c. Dukungan, pemantauan dan Bimbingan (DPB)
Dalam langkah ini, Puskesmas dibantu Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota melaksanakan bina suasana dan advokasi.
Selain itu bersama pemuka masyarakat, juga dirumuskan dan
dilaksanakan upaya-upaya guna memotivasi kader melalui
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka.
Bagi kader yang masih disibukkan dengan kebutuhan dasar
(pangan/sandang/papan), bentuk-bentuk motivasi yang sesuai
adalah : pemberian gaji/ insentif, pemberian fasilitas (berobat gratis,
misalnya), pemberian dana operasional kegiatan, atau dibantu agar
berwira usaha. Sedangkan bagi kader yang sudah tidak direpotkan
oleh kebutuhan dasar, bentuk-bentuk motivasi yang sesuai adalah :
pemberian kesempatan menghadiri pertemuan-pertemuan/
pelatihan/ dll, pemberian atribut-atribut (misalnya baju seragam),
penugasan untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan, atau
pemberian tugas-tugas yang menantang lainnya. Hal ini yang juga
penting dilakukan dalam langkah ini adalah dirumuskan dan
dilaksanakannya system pencatatan dan pelaporan oleh para kader/
pengurus UKBM Puskesmas.
Diluar itu semua, para petugas Puskesmas selanjutnya mendukung
terus upaya para kader dan pemuka masyarakat melalui
penyelenggaraan pelayanan Puskesmas, baik pelayanan dalam
gedung maupun pelayanan di masyarakat.Yang perlu diperhatikan
disini adalah dukungan dalam menggulirkan tradisi pemecahan
masalah-masalah kesehatan di kalangan masyarakat.Oleh sebab
itu, maka petugas-petugas kesehatan Puskesmas harus mau dan
mampu membimbing individu-individu yang datang ke Puskesmas
melalui konseling (pelayanan dalam gedung).
Disamping itu sesekali mereka harus datang ke masyarakat untuk
membantu para kader, melalui kunjungan rumah (pelayanan di
masyarakat).Bekerjasama dengan petugas Promosi Kesehatan dari
Kabupaten/ Kota, Puskesmas juga terus melakukan bina suasana
(ceramah, penyebaran leaflet/ pemasangan poster dan lain-lain).
Diatas tadi diberikan contoh masyarakat di tatanan rumah tangga.
Pengorganisasian masyarakat juga dapat diterapkan di masyarakat
tatanan-tatanan lain, yaitu masyarakat di tatanan sarana pendidikan,
masyarakat di tatanan tempat kerja, dan lain-lain. Proses dan
tahapan-tahapannya serupa, hanya berbeda dalam hal pemuka
masyarakat dan kader-kadernya.
5. Advokasi stage holder (Camat, Kepala Dnas Pendidikan dan Olah raga,
kepala desa/ kelurahan, ketua TP PKK kecamatan/ desa) , pendekatan
untuk meningkatkan “bargaining position”, memberikan soft pressure”
agar terwujud dukungan kegiatan maupun kebijakan yang berwawasan
kesehatan di wilayah kerja msing-masing stage holder sehingga terwujud
kerjasama yang harmonis.
BAB V
LOGISTIK

Manajemen logistik adalah suatu pengetahuan atau seni serta proses


mengenai perencanaan, penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
pemeliharaan serta penghapusan material. Tujuan dan manajemen logistik adalah
tersedianya bahan setiap saat dibutuhkan, baik mengenai jenis, jumlah maupun
kualitas yang dibutuhkan secara efisien. Manajemen logistik unit pelayanan
Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan adalah sebagai berikut :
A. Perencanaan Kebutuhan
Perencanaan unit pelayanan Promosi Kesehatan menghitung dan
merencanakan kebutuhan media Promosi Kesehatan berupa leaflet, booklet,
buku saku, poster, spanduk, makalah penyuluhan, modul pelatihan, ATK
penunjang administrasi dan dokumentasi kegiatan pelayanan Promosi
Kesehatan yang sudah direncanakan. Analisa kebutuhan penunjang
pelaksanaan kegiatan pada periode waktu tertentu berorientasi kepada
program pelayanan, pola penyakit dan target kinerja pelayanan.Menyesuaikan
perencanaan kebutuhan dengan memperhatikan persediaan awal materi
Promosi Kesehatan yang sudah ada.

B. Penganggaran
Fungsi berikutnya adalah menghitung kebutuhan pengadaan materi Promosi
Kesehatan untuk menunjang kegiatan pelayanan Promosi Kesehatan diatas
dengan harga satuan berdasar indeks harga yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah Kabupaten Todanan sehingga akan diketahui kebutuhan anggaran
tersebut.
Penganggaran kebutuhan unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD
Puskesmas Todanan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Kesehatan
(BOK) dan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

C. Pengadaan
Fungsi berikutnya adalah pengadaan, yaitu semua kegiatan yang dilakukan
untuk mengadakan bahan logistic yang telah direncanakan, baik melalui
prosedur :
1. Pembelian.
2. Produksi sendiri, maupun dengan
3. Sumbangan dari pihak lain yang tidak mengikat.
Untuk pengadaan materi pelayanan Promosi Kesehatan di UPTD
Puskesmas Todanan dilakukan dengan pembelian materi yang sudah siap
pakai, pengadaan sendiri leaflet kesehatan sesuai kebutuhan perencanaan
unit pelayanandan menerima droping dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Todanan.

D. Penyimpanan
Material media Promosi Kesehatan yang diperoleh dicatat dan disimpan di
ruang Unit Pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan untuk
didistribusikan sesuai kebutuhan pelayanan Promosi Kesehatan.
Fungsi penyimpanan ini sangat menentukan kelancaran distribusi,
diantaranya untuk mengantisipasi kekosongan material, menghemat biaya,
mengantisipasi fluktuasi kenaikan harga material, serta mempercepat
pendistribusian karena materi sudah siap pakai.Prinsip FIFO (First in First Out)
yang berarti metode kerja penyimpanan, dimana informasi yang pertama kali
dikirim adalah informasi yang pertama kali diterima, diberlakukan di
penyimpanan materi pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas
Todanan.

E. Pendistribusian
Pendistribusian materi Promosi Kesehatan di UPTD Puskesmas Todanan
dilakukan pada saat pelaksanaan kegiatan pelayanan Promosi Kesehatan.
Efisiensi pelaksanaan pendistribusian adalah penanggung jawab Unit
Pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas UPTD Puskesmas Todanan,
prosedur baku pendistribusian material Promosi Kesehatan meliputi :
1. Pendistribusian langsung kepada sasaran pelayanan.
2. pendistribusian melalui mitra kerja lintas program, jejaring dan jaringan
UPTD Puskesmas Todanan.
F. Penghapusan
Penghapusan adalah proses penghapusan tanggung jawab pengurus
barang atas barang tertentu sekaligus mengeluarkan dari catatan / pembukuan
yang berlaku, penghapusan barang diperlukan karena :
1. Bahan/ barang rusak tidak dapat dipakai kembali.
2. Bahan/ barang tidak dapat di daur ulang atau tidak ekonomis untuk didaur
ulang.
3. Bahan/ barang sudah melewati masa kadaluarsa (expired date).
4. Bahan/ barang hilang karena pencurian atau sebab lain.
Penghapusan material Promosi Kesehatan di UPTD Puskesmas Todanan
dilakukan dengan pemusnahan yaitu dibakar, dipendam/ ditanam.
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/ PROGRAM

Keselamatan sasran adalah reduksi dan meminimalkan tindakan yang tidak


aman dalam sistem pelayanan kesehatan sebisa mungkin melalui praktik yang
terbaik untuk mencapai luaran yang optimum. (The Canadian Patient Safety
Dictionary, October 2003). Keselamatan sasaran menghindarkan sasaran dari
potensi masalah dalam pelayanan Promosi Kesehatan yang sebenarnya
bertujuan untuk membantu sasaran.
Tujuan keselamatan sasaran adalah terciptanya budaya keselamatan
sasaran pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan,
meningkatnya akuntabilitas (tanggung jawab) petugas Promosi Kesehatan
terhadap sasaran, menurunnya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan), serta
terlaksananya program-program pencegahan, sehingga tidak terjadi pengulangan
KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).
Sasaran keselamatan sasaran pelayanan Promosi Kesehatan
sebagaimana dimaksud meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut :
1. Ketepatan identifikasi sasaran.
Identifikasi sasaran kegiatan yang akan menerima palayanan Promosi
Kesehatan sesuai rencana kegiatan unit pelayanan Promosi Kesehatan yang
telah disusun.
2. Peningkatan komunikasi yang efektif.
Komunikasi yang efektif, akurat, lengkap, jelas dan dipahami oleh sasaran
Promosi Kesehatan akan mengurangi kesalahan dan menghasilkan
peningkatan keselamatan sasaran. Evaluasi di akhir pelayanan Promosi
Kesehatan dilakukan untuk memastikan sasaran tidak salah memahami
informasi yang diberikan.
3. Peningkatan keamanan sarana Promosi Kesehatan.
Memantau lokasi, bangunan dan material Promosi Kesehatan yang dapat
membahayakan keselamatan sasaran Promosi Kesehatan.
4. Kepastian tepat –lokasi, tepat-metoda, dan tepat-sasaran.
Menyusun dan menerapkan Standard Operasional Prosedur (SOP) pelayanan
Promosi Kesehatan untuk menghindari kesalahan lokasi, metoda dan sasaran
pelayanan Promosi Kesehatan.
5. Pengurangan risiko psikososial.terkait pelayanan Promosi Kesehatan
Risiko psikososial seperti bosan, mengantuk, lelah dan pusing dapat terjadi
selama pelayanan Promosi Kesehatan berlangsung.
Untuk meminimalisir bahkan menghindari hal tersebut diperlukan komitmen
bersama sasaran, memilih metode yang tepat dan memberikan reward.
6. Pengurangan risiko sasaran jatuh/ terluka.
Memilih dan memantau lokasi pelayanan Promosi Kesehatan untuk
menghindari sasaran mengalami cidera, baik dalam perjalanan maupun selama
dalam ruangan menerima pelayanan Promosi kesehatan.
Sistem keselamatan sasaran pelayanan Promosi Kesehatan dilakukan dengan
melakukan assessment risiko, identifikasi risiko, dampak dan menyusun
implementasi solusi untuk mengendalikan atau meminimalkan timbulnya risiko.

Sistem Keselamatan Sasaran Unit Pelayanan Promosi Kesehatan

NO LOKASI RISIKO DAMPAK/ PENGENDALIAN


SASARAN AKIBAT
1. Dalam Salah Salah - Menyampaikan
gedung. memahami menerapkan materi
informasi yang informasi yang yang benar dan jelas.
diterima. diterima. menggunakan
metoda
yang tepat.
- Mengevaluasi hasil
Penyuluhan.
Fisik(dinding, - Sakit akibat - Pemantauan berkala
lantai, tersandung, fisik bangunan.
pencahayaan, terpeleset, - Rambu peringatan.
suhu/kalembaba tertabrak
n, kebisingan) - Kepanasan,
pengap.
- Kenyamanan
terganggu.
2. Luar Gedung Transportasi Kecelakaan Pemilihan lokasi yang
menuju lokasi lalu lintas. mudah dan aman
penyuluhan. dijangkau sasaran.
Psikososial - Mengantuk - Membangun
- Pusing komitmen
- Bosan bersama.
- Lelah - Penyampaian materi
efektif dan efisien.
- Pemilihan metoda
Promosi Kesehatan
yang tepat.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 23


dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus
dilaksanakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai
risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan
sedikitnya 10 orang. Jika memperhatikan dari isi pasal diatas, maka jelaslah
bahwa Puskesmas termasuk dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai
ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya
terhadap para pelaku langsung yang bekerja di Puskesmas, tetapi juga terhadap
pasien maupun pengunjung Puskesmas.
Risk assessment melakukan identifikasai potensi bahaya atau faktor risiko
dan dampak atau akibatnya.Dan berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu
upaya untuk mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya.
Penyelenggaraan kesehatan kerja petugas di unit pelayanan Promosi Kesehatan
UPTD Puskesmas Todanan adalah sebagai berikut :

NO LOKASI POTENSI BAHAYA/ DAMPAK/ PENGENDALIAN


FAKTOR RISIKO AKIBAT
1. Dalam Kesalahan informasi Menurunkan Menggunakan
gedung yang diberikan tingkat referensi/ rujukan
melalui media kepercayaan terpercaya/ resmi.
Promosi Kesehatan. sasaran.
Fisik (dinding, lantai, - Sakit akibat -Pemantauan
pencahayaan, suhu/ Tersandung, Berkala.
kelembapan, terpeleset, -Rambu
kebisingan). tertabrak.. peringatan.
- Kepanasan,
pengap.
-Kenyamanan
terganggu.
2. Luar Transportasi menuju Kecelakaan lalu - Penggunaan
Gedung lokasi sasaran kerja. lintas. Alat
Pelindung Diri
(APD) di
perjalanan.
- Pemeliharaan
kendaraan
opersional
secara
rutin.
Beban kerja - Stress kerja -Membangun
- Pusing komitmen
- Bosan bersama.
- Lelah -
Pengorganisasian
kerja.
-Intensif/ reward.
-Refreshing.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu (quality control) dalam manajemen mutu merupakan


suatu system kegiatan teknisyang bersifat rutin dan dirancang untuk mengukur
dan menilai mutu produk atau jasa yang diberikan kepada sasaran. Pengendalian
mutu pada unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan
diperlukan agar terjaga kualitasnya sehingga memuaskan masyarakat sebagai
sasaran.Penjaminan mutu pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan melalui
berbagai model manajemen kendali mutu. Salah satu model manajemen yang
dapat digunakan adalah model PDCA (Plan, Do, Cek, Action yang akan
menghasilkan pengembangan berkelanjutan (continuous improvement) kaizen
mutu pelayanan Promosi Kesehatan.
Yoseph M. Juran terkenal dengan konsep “Trilogy” mutu dan
mengidentifikasikannya dalam 3 kegiatan :
1. Perencanaan mutu meliputi : siapa pelanggan, apa kebutuhannya,
meningkatkan
produk sesuai kebutuhan, dan merencanakan proses untuk suatu produksi.
2. Pengendalian mutu adalah mengevaluasi kinerja untuk mengidentifikasi
perbedaan antara kinerja aktual dan tujuan.
3. Peningkatan mutu adalah membentuk infrastruktur dan team untuk
melaksanakan peningkatan mutu.
Setiap kegiatan dijabarkan dalam langkah-langkah yang semuanya mengacu
pada upaya peningkatan mutu,yaitu :
A. Perencanaan (Plan)
Perencanaan akan menghasilkan penentuan prioritas, rumusan tujuan,
rumusan intervensi dan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan. Perencanaan
kegiatan PHBS hendaknya terintegrasi dengan kegiatan perencanaan di
wilayah kerja Puskesmas.
Tahapan dalam perencanaan (plan) adalah :
1. Menentukan prioritas masalah
- Dari beberapa masalah yang ada, mana yang dapat diselesaikan dengan
mudah.
- Mengapa terjadi
- Bagaimana cara mengatasinya
- Apa bentuk kegiatannya
- Berapa dana yang dibutuhkan
- Bagaimana jadwal kegiatannya
- Siapa yang akan mengerjakannya
- Berapa lama waktu kegiatannya

2. Menentukan tujuan
Setelah menentukan prioritas masalah, selanjutnya menentukan tujuan.
Tujuan merupakan keinginan yang akan dicapai sebagai jawaban untuk
mengatasi masalah yang ditemukan di Puskesmas, khususnya terkait
dengan PHBS. Berdasarkan masalah yang ditemui dan ketersediaan
sumber daya, maka ditentukan tujuan yang akan dicapai untuk mengatasi
masalah yang ditemukan seperti : meningkatnya prosentase yang dibantu
oleh tenaga kesehatan dari 60% menjadi 70% di Puskesmas X dalam 1
tahun.
3. Menentukan kegiatan
Setelah ditentukan tujuan, selanjutnya ditentukan kegiatan yang akan
dilakukan. Caranya yaitu dengan membuat beberapa alternatif kegiatan,
kemudian dipilih kegiatan mana yang bisa dilakukan dikaitkan dengan
ketersediaan sumber daya.
Kegiatan yang dikaitkan dengan ketersediaan sumber daya, misalnya :

NO MASALAH PHBS KEGIATAN


1. Persalinan oleh tenaga Kegiatan di dalam gedung :
kesehatan - Melakukan bina suasana di
klinik
KIA/ KB melalui pemasangan
poster dan penyebaran leaflet
tentang pentingnya persalinan
yang ditolong oleh tenaga
kesehatan.
- Melakukan penyuluhan
kelompok
pada keluarga yang
mengantarkan
ibu hamil ke Puskesmas
terutama
pada suami agar menjadi
suami
yang siap antar jaga).
Kegiatan di luar gedung :
- Menggalakkan tabungan Ibu
Bersalin (Tabulin) dan Dana
Sosial
Ibu Bersalin (Dasolin) melalui
kunjungan rumah.
- Melakukan penyuluhan :
Pendampingan dukun bayi dan
bidan.

4. Menyusun Jadwal Kegiatan


Setelah ditentukan kegiatan terpilih dengan memperhatikan kemampuan
sumberdaya yang ada, dibuat jadwal kegiatan selama jangka waktu
tertentu. Jadwal kegiatan sebaiknya dibahas pada pertemuan dengan
berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan di Puskesmas.

B. Penggerakan dan Pelaksanaan (Do)


Penggerakan dan pelaksanaan merupakan upaya yang dilakukan sesuai
dengan rencana kegiatan, kegiatannnya merupakan implementasi dari kegiatan
terpilih.
Mekanisme penggerakan dan pelaksanaan dapat dilakukan dengan berbagai
cara
yaitu :
1. Menggerakkan keluarga pasien seperti suami, anak atau saudaranya yang
lain agar mempunyai tanggung jawab sosial dengan aktif pada kelompok-
kelompok yang peduli terhadap kesehatan ibu hamil. Hal tersebut
dilakukan melalui penyuluhan perorangan, penyuluhan kelompok dan
membuat gerakan peduli kesehatan agar kelompok sasaran mempunyai
pengetahuan yang benar tentang kesehatan ibu hamil. Dengan demikian,
kesadaran masyarakat mampu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
2. Peningkatan pengetahuan pasien (ibu hamil) dan keluarganya melalui
berbagai kegiatan pembinaan.
3. Memberdayakan dukungan tokoh masyarakat (seperti Kepala Desa,
Kepala Kelurahan dll) dan kelompok potensial dalam bentuk komitmen,
sumber dana dan tenaga.

C. Pemantauan (Cek)
Pemantauan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
pencapaian dan pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas.Pemantauan
dapat dilakukan pada pelaksanaan program aksi baik di Puskesmas maupun di
lapangan dan juga pembinaan serta membantu memecahkan masalah-
masalah yang ada.
Mekanisme pemantauan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1. Pelaporan yang bersih dan realisasi pelaksanaan dan pencapaian program
Promosi Kesehatan di Puskesmas, yang disampaikan oleh pengelola
Promosi Kesehatan di Puskesmas kepada Kepala Puskesmas setiap
bulannya.
2. Kunjungan/ peninjauan lapangan dilakukan ke beberapa lokasi/ daerah
terpilih.

D.Tindak Lanjut dari Pengawasan (Action)


Dari hasil pelaksanaan kegiatan diketahui tentang permasalahan, hambatan
dansaran-saran yang ditemukan. Kemudian dianalisis dan dicari
permasalahannyauntuk peningkatan mutu UpayaPromosi Kesehatan untuk
kemudian diterapkan pada kegiatan yang sama ditempat lain.
Pelaksanaan dan hasil kegiatan yang dicapai dibandingkan dengan rencana
tahunan atau target dan standart pelayanan yang sudah dibuat.
Kemudian penanggung jawab Upaya Promosi Kesehatan melaporkan
pelaksanaan kegiatan dan laporan berbagai sumber daya kemudian disampaikan
kepada kepala Puskesmas.
E. Evaluasi
Evaluasi dilakukan disetiap tahapan manajerial mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan hasil. Evaluasi dilakukan pada setiap pertengahan dan akhir
tahun untuk menilai proses dan hasil pelaksanaan Promosi Kesehatan di
Puskesmas. Hal tersebut dimaksudkan untuk menilai sejauh mana kemajuan
kegiatan dan hasil yang dicapai.Evaluasi dilakukan dengan menggunakan
indikator keberhasilan yang terdiri dari indikator masukan, proses, keluaran dan
dampak.Semua indikator tersebut dapat dijadikan sebagai masukan sekaligus
bahan untuk perbaikan dan pemanfaatan kegiatan Promosi Kesehatan di
Puskesmas.

F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan perlu dirumuskan untuk keperluan pemantauan dan
evaluasi Promosi Kesehatan Puskesmas.Oleh karena itu, indikator
keberhasilan ini sesungguhnya cenderung menjadi perhatian dari Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota sebagaip pembina Puskesmas.
Agar pemantauan dan evaluasi dapat dilakukan secara paripurna, maka
indikator keberhasilan ini mencakup indikator masukan (input), indikator proses,
indikator keluaran (outcome).
1. Indikator Masukan
Masukan yang perlu diperhatikan berupa komitmen, sumber daya manusia,
sarana/ peralatan dan dana. Oleh karena itu indikator masukan ini dapat
mencakup :
a. Ada/ tidaknya komitmen Kepala Puskesmas yang tercermin dalam
Rencana Umum Pengembangan Promosi Kesehatan Puskesmas.
b. Ada/ tidaknya komitmen seluruh jajaran yang tercermin dalam Rencana
Operasional Promosi Kesehatan.
c. Ada/ tidaknya tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat (PKM)
Puskesmas sesuai dengan acuan dalam standar Sumber Daya Manusia
(SDM) Promosi Kesehatan Puskesmas.
d. Ada/ tidaknya tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat (PKM) dan
tenaga-tenaga kesehatan lain di Puskesmas yang sudah dilatih.
e. Ada/ tidaknya sarana dan peralatan Promosi Kesehatan Puskesmas
sesuai dengan acuan dalam standar sarana/ peralatan Promosi
Kesehatan Puskesmas.
f. Ada/ tidaknya dana di Puskesmas yang mencukupi untuk
penyelenggaraan Promosi Kesehatan Puskesmas.
2. Indikator Proses
Proses yang dipantau adalah proses pelaksanaan Promosi Kesehatan
Puskesmas yang meliputi Promosi Kesehatan di dalam gedung Puskesmas
dan Promosi Kesehatan di luar gedung Puskesmas/ di masyarakat.
Indikator yang digunakan disini meliputi :
a. Sydah/ belum dilaksanakannya kegiatan Promosi Kesehatan di dalam
gedung Puskesmas (setiap tenaga kesehatan melakukan promosi atau
diselenggarakan klinik khusus, pemasangan poster, dll) dan atau
frekuensinya.
b. Kondisi media komunikasi yang digunakan (poster, leaflet, spanduk, dll),
yaitu kondisinya masih bagus atau sudah rusak.
c. Sudah/ belum dilaksanakannya kegiatan Promosi Kesehatan di
masyarakat (kunjungan rumah dan pengorganisasian masyarakat).
3. Indikator Keluaran
Keluaran yang dipantau adalah keluaran dari kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan, baik secara umum maupun secara khusus. Oleh karena itu,
indikator yang digunakan disini adalah berupa cakupan dari kegiatan, yaitu
misalnya :
a. Apakah semua tenaga kesehatan Puskesmas sudah melakukan
Promosi Kesehatan.
b. Berapa banyak pasien/ klien yang sudah terlayani oleh berbagai
kegiatan Promosi Kesehatan dalam gedung Puskesmas (seperti
konseling, biblioterapi, dll).
c. Berapa banyak keluarga yang telah mendapat kunjungan rumah oleh
Puskesmas.
d. Berapa banyak kelompok masyarakat yang sudah dilatih Puskesmas
dengan pengorganisasian masyarakat.
e. Puskesmas sebagai model institusi kesehatan yang ber PHBS (Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat), yaitu dengan :
- Puskesmas bebas rokok.
- Lingkungan bersih.
- Bebas jentik.
- Jamban sehat.

4. Indikator Dampak
Indikator dampak mengacu kepada tujuan dilaksanakannya Promosi
Kesehatan Puskesmas, yaitu terciptanya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di masyarakat.Oleh sebab itu, kondisi ini dinilai setelah Promosi
Kesehatan Puskesmas berjalan beberapa lama, yaitu melalui upaya
evaluasi.
Tatanan yang dianggap mewakili untuk di evaluasi adalah tatanan rumah
tangga.Jadi indikator dampaknya adalah berupa persentase keluarga atau
rumah tangga yang telah mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS).Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) itu sendiri merupakan
komposit dari sejumlah indikator perilaku.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) yang dilakukan di masyarakat cukup banyak, tetapi karena
keterbatasan sumberdaya untuk mengevaluasi, maka perlu ditetapkan
beberapa perilaku yang sangat sensitif sebagai indikator.
Atas dasar pertimbangan tersebut, telah ditetapkan kriteria perilaku yang
merupakan unsur-unsur dari penggerakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di tatanan rumah tangga, dengan 16 indikator :
a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Yaitu rumah tangga yang memiliki ibu hamil mempunyai akses
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional (bidan atau
dokter umum/ kandungan) dan dilakukan di sarana pelayanan
kesehatan.
b. Memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama masa kehamilan.
Yaitu rumah tangga yang memiliki ibu hamil memeriksakan
kehamilannya kepada petugas kesehatan professional dan dilakukan
minimal 4 kali, dengan interval : trimester I (1 kali), trimester II (1 kali),
dan trimester III (2 kali).
c. Memberikan (ASI) eksklusif.
Bayi memperoleh/ diberi Air Susu Ibu (ASI) saja sejak usia 0 sampai 6
bulan tanpa makanan tambahan lain termasuk susu formula.
d. Menimbang Balita.
Yaitu rumah tangga yang memiliki balita menimbangkan balitanya
secara
teratursesuai jadwal/ satu bulan sekali/ ( dapat dilihat buku KIA/KMS)
minimal 8 kali di sarana pelayanan kesehatan.Yaitu rumah tangga yang
memiliki Balita menimbangkan Balitanya secara teratur sesuai jadwal
e. Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
Yaitu anggota rumah tangga mengkonsumsi beranekaragam makanan
dalam jumlah cukup untuk memenuhi gizi seimbang, yang mencakup
sumber energy protein, lemak, vitamin dan mineral.
f. Menggunakan air bersih.
Yaitu Anggota rumah tangga menggunakan air bersih untuk keperluan
sehari-hari. Air bersih digunakan untuk : minum (sudah dimasak, sampai
mendidih/ air minum dalam kemasan), memasak, mandi dan mencuci.
g. Menggunakan jamban sehat.
Yaitu anggota rumah tangga manggunakan jamban sehat untuk Buang
Air
Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK). Jamban yang digunakan oleh
anggotarumah tangga adalah jamban yang memenuhi syarat kesehatan
(leherangsa dengan septictank/ cemplung tertutup, dan terjaga
kebersihannya).
h. Membuang sampah pada tempatnya.
Yaitu anggota rumah tangga membuang sampah pada tempatnya.
Sampah ditampung dan dibuang setiap hari ditempat pembuangan yang
memenuhisyarat, dan dibuktikan dengan tidak terdapat sampah yang
berserakan baikdidalam maupun diluar rumah.
i. Menggunakan lantai rumah kedap air.
Yaitu anggota rumah tangga menggunakan lantai rumah kedap air dan
dalamkeadaanbersih untuk seluruh ruangan.
j. Melakukan aktifitas fisik/ berolahraga.
Yaitu anggota rumah tangga yang berumur 10 tahun keatas melakukan
aktifitas fisiksecara terukur dan teratur (minimal 30 menit/ hari dan
dilakukan3-5 kaliseminggu)
k. Tidak merokok.
Yaitu anggota rumah tangga tidak ada yang merokok baik didalam
maupun diluarrumah (rumah tangga bebas dari rokok).
l. Cuci tangan pakai sabun.
Yaitu anggota rumah tangga mencuci tangan pakai sabun dengan air
bersih
danmengalir sebelum makan dan sesudah Buang Air Besar (BAB).
m. Menggosok gigi.
Yaitu anggota rumah tangga menggosok gigi minimal 2 kali sehari
sesudah
Makandan sebelum tidur (dengan sikat gigi masing-masing dan
menggunakan pastagigi).
n. Tidak menyalahgunakan Miras/ Narkoba.
Yaitu anggota rumah tangga tidak minum minuman keras/ Miras dan
atau
tidakmenyalahkan (tidak membeli, menjual, menyimpan secara tidak sah
dantidakmenggunakan Miras atau Narkoba.
o. Kepesertaan dalam JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan).
Yaitu anggota rumah tangga menjadi peserta Jaminan
PemeliharaanKesehatan/ JPK (Promotif, Preventif, Kuratif dan
Rehabilitatif).
p. Melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Yaitu anggota rumah tangga melakukan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali yaitu gerakan 3 M (Menguras,
Menutup dan Mengubur) tempat penampungan air (bak mandi, drum
dan bekas, tempat minum burung, vas bunga, dispenser, barang2
bekas.

Pada unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan


kegiatan pelayanan Promosi Kesehatan dimulai dari pendataan/ survey sasaran
dan kebutuhan sasaran, penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan,
pelaksanaan kegiatan, penyusunan dokumen pelaporan kegiatan, monitoring dan
evaluasi pelaksanaan dan hasil kegiatan. Hasil kegiatan didokumentasikan secara
periodik.
Adapun jadwal tahap kegiatan unit pelayanan Promosi Kesehatan UPTD
Puskesmas Todanan adalah sebagai berikut :
NO KEGIATAN WAKTU KEGIATAN
1. Pendataan sasaran Desember tahun Petugas Promosi
dan kebutuhannya sebelumnya Kesehatan
2. Penyusunan rencana Januari Bersama lintas
kegiatan program
3. Pelaksanaan Januari- Desember Bersama jaringan
kegiatan
4. Penyusunan Februari-Desember Petugas Promosi
dokumen pelaporan Kesehatan
kegiatan
5. Monitoring dan Februari-Desember Bersama pimpinan
evaluasi kegiatan
dan hasil kegiatan
6. Penyusunan Februari-Desember Petugas Promosi
Rencana Tindak Kesehatan
Lanjut
BAB IX
PENUTUP

Promosi Kesehatan adalah upaya-upaya pemberdayaan terhadap sasaran


maupun mitra kerja, jaringan maupun jejaring. Namun demikian upaya
pemberdayaan akan lebih berhasil jika didukung oleh upaya bina suasana dan
advokasi. Untuk mencapai kualitas pelayanan Promosi Kesehatan yang sesuai
standar pelayanan, seringkali menghadapi kendala dalam hal jumlah, kualifikasi
maupun mutu tenaga pelaksana pelayanan Promosi Kesehatan. Pedoman
pelayanan unit Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan ini menyampaikan
hasil kajian tentang ketenagaan, sarana dan pengendalian mutu pelayanan agar
unit pelayanan Promosi kesehatan dapat menjalankan fungsinya secara optimal,
dikeloladengan baik, baik kinerja pelayanan , proses pelayanan maupun sumber
daya yang digunakan.
Dengan adanya buku pedoman pelaksanaan Upaya Promosi Kesehatan ini
diharapkan petugas kesehatan terutama Promosi Kesehatan mampu
merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi secara terpadu
bersama dengan lintas sektoral dan lintas program serta peran serta aktif
masyarakat.Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan UPTD Puskesmas Todanan
dalam rangka Promosi Kesehatan adalah upaya-upaya pemberdayaan, baik
pemberdayaan terhadap pasien maupun individu/ keluarga/ masyarakat yang
sehat. Upaya-upaya pemberdayaan yang dapat dilakukan adalah upaya-upaya
bina suasana dan advokasi . Bina suasana dilakukan terhadap mereka yang
paling berpengaruh terhadap pasien/ individu/ keluarga/ masyarakat.Sedangkan
advokasi dilakukan terhadap mereka yang dapat mendukung/ membantu UPTD
Puskesmas Todanan dari segi kebijakan atau peraturan perundang-undangan
dan sumber daya, dalam rangka memberdayakan pasien/ individu/ keluarga/
masyarakat.
Banyak sekali peluang untuk melaksanakan Promosi Kesehatan UPTD
Puskesmas, yaitu di dalam gedung dan diluar gedung UPTD Puskesmas Todanan
atau masyarakat.Peluang-peluang tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik,
sehingga upaya wajib UPTD Puskesmas Todanan, yaitu Promosi Kesehatan,
dapat terlaksana dengan baik.
Buku pedoman Upaya Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Todanan
merupakan saran penunjang untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan
upaya Promosi Kesehatan dengan baik, terukur dan teratur, sehingga dapat
meningkatkan status kesehatan masyarakat di wilayah UPTD Puskesmas
Todanan.
Penyusunan buku ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu sangat diharapkan tenaga Promosi Kesehatandan petugas
kesehatan lainnya di UPTD Puskesmas Todanan bisa membaca dan mempelajari
buku-buku atau pedoman Promosi Kesehatanlain yang diperlukan sebagai
pelengkap pengetahuan.
Semoga buku pedoman ini dapat bermanfaat bagi pemegang upaya
Promosi Kesehatan khususnya, dan petugas kesehatan UPTD Puskesmas
Todanan pada umumnya ,sehingga diharapkan derajat kesehatan masyarakat di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Todanan semakin meningkat.

Penyusun,

Tim Upaya Promosi Kesehatan


UPTD Puskesmas Todanan