Anda di halaman 1dari 10

POPULASI DAN SAMPEL

1. Populasi dan Sampel


1.1 Populasi
Dalam penelitian kuantitatif populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas: obyek/subyek yang mempunyasi kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu. Jadi populasi bukan hanya
orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.
Sedangkan dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi,
tetapi oleh Spradley dinamakan situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu:
tempat, pelaku, dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial
tersebut, dapat di rumah berikut keluarga dan aktivitasnya.

1.2 Sampel
Menurut Sugiyono sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang
dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin
mempelajari semua yang ada pada populasi, misal karena keterbatan dana, tenaga
dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang
dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk
itu sampel yang diambil dari populasi harus betuI-betul representative.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang
dipilih dengan menggunakan aturan-aturan tertentu, yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi/data yang menggambarkan sifat atau ciri yang dimiliki
populasi. Seorang peneliti jarang mengamati keseluruhan populasi karena beberapa
alasan berikut, yaitu:
1) Biaya yang diperlukan relative lebih tinggi
2) Populasi demikian banyaknya sehingga dalam praktiknya tidak mungkin
seluruh elemen diteliti.
3) Keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia.
4) Populasi bersifat dinamis, yaitu unsur-unsur populasi bisa berubah dari waktu
ke waktu.
Oleh karena beberapa alasan diatas, maka beberapa peneliti enggan
menggunakan populasi dalam penelitian dan malah lebih beralih menggunakan

1
sampel, hal ini karena sampel memiliki beberapa keuntungan dalam penerapannya,
yaitu:
1) Peneliti tidak repot harus meneliti populasi, cukup hanya meneliti sampelnya
saja. Populasi yang terlalu besar memungkinkan ada subyek yang bisa tercecer
atau luput dari peneliti pada saat diambil datanya.
2) Proses penelitian dengan menggunakan data sampel relatif lebih cepat, sehingga
dapat mengurangi jangka waktu antara saat timbulnya kebutuhan informasi
hasil penelitian dengan saat tersedianya informasi yang diperlukan.
3) Lebih efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga.
4) Menghindari hal-hal yang destruktif atau merusak, misalnya meneliti tentang
kemampuan daya ledak peluru kendali.
5) Penelitian tidak bisa dilakukan dengan mengguakan populasi sebagai sumber
data.

1.3 Penelitian Menggunakan Sampel dan Populasi


Penelitian yang bekerja dengan sampel, berarti hanya mengambil sebagian saja
dari anggota populasi untuk dijadikan sebagai sampel dan selanjutnya berdasarkan
analisis sampel dibuat generalisasi. Faktor penting di sini adalah generalisasi,
artinya seberapa jauh simpulan dari analisis sampel dapat digeneralisasikan. Salah
satu kaidah penelitian ilmiah, seperti generalizability yang artinya hasil penelitian
tersebut memiliki kemampuan generalisasi. Kemampuan generalisasi ini sangat
tergantung dari besarnya sampel. Sampel yang representative (mewakili) memiliki
kemampuan generalisasi.
Penelitian yang bekerja dengan populasi tidak perlu menghadapi persoalan
generalisasi. Peneliti terhindar dari sampling karena jumlah sampel yang diambil
sama dengan jumlah anggota populasi. Pada penelitian populasi, peneliti biasanya
berhadapan dengan kendala biaya, waktu dan tenaga
1.3.1 Penelitian Sampel dan Populasi
Ada-beberapa faktor yang menjadi alasan peneliti melakukan penelitian
sampel dari pada sensus, di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Jika jumlah elemen populasi relatif banyak, peneliti tidak mungkin
mengumpulkan seluruh elemen populasi, karena akan memerlukan
biaya dan tenaga yang relatif tidak sedikit.

2
2) Kualitas data yang dihasilkan oleh penelitian sampel sering lebih baik
dibandingkan dengan sensus, karena proses pengumpulan dan analisis
data sampel yang relatif sedikit dari pada data populasi dapat dilakukan
relatif lebih teliti.
3) Proses penelitian dengan menggunakan data sampel relative lebih cepat
dari pada sensus, sehingga dapat mengurangi jangka waktu antara saat
timbulnya kebutuhan informasi hasil penelitian dengan saat tersedianya
informasi yang diperlukan.
1.3.2 Hubungan Sampel dan Populasi
Analisis data sampel secara kuantitatif menghasilkan statistik sampel
(sample statistics) yang digunakan untuk mengestimasi parameter
populasinya (population parameters). Statistik merupakan ukuran numeris
yang dihitung dari pengukuran sampel. Parameter adalah ukuran deskripsi
numeris yang dihitung dari pengukuran populasi. Statistik sampel
digunakan untuk membuat lnferensi mengenai parameter populasinya.
Deskripsi sampel dan populasinya secara kuantitatif berupa statistik atau
parameter yang rumumnya mengukur tendensi sentral (rata-rata, median,
modus) dan dispersi (deviasi standar dan varian).

1.4 Kriteria Sampel yang Baik


1.4.1 Kriteria Pemilihan Sampel
Penelitian dengan menggunakan sampel yang representative akan
memberikan hasil yang mempunyai kemampuan untuk digeneralisasi.
Kriteria sampel yang representatif tergantung pada dua aspek yang saling
berkaitan yaitu:
1) Akurasi sampel
Sampel yang akurat adalah sejauh mana statistik sampel dapat,
mengestimasi parameter populasi dengan tepat. Akurasi berkaitan
dengan tingkat keyakinan (confidence level), Semakin akurat suatu
gampel akan semakin tinggi tingkat keyakinan bahwa statistik sampel
mengestimasi parameter populasinya dengan tepat. tingkat keyakinan,
dalam statistik dinyatakan dengan persentase.
2) Ketelitian (presisi) sampel.

3
Sampel yang presisi adalah sejauh mana hasil penelitian bcrdasarkan
sampel dapat merefleksikan realitas populasinya dengan teliti. Presisi
menunjukkan tingkat ketepatan hasil penelitian berdasarkan sampel
menggambarkan karakteristik populasinya. Presisi umumnya
dinyatakan dengan interval keyakinan (confidenceinterval) dari sampel
yang dipilih.
1.4.2 Syarat Sampel yang Baik
1) Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling, yaitu
daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan
syarat:
a. Harus meliputi seluruh unsur sampel.
b. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali.
c. Harus up to date.
d. Batas-batasnya harusjelas.
e. Harus dapat dilacak di lapangan.
2) Menurut Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi), Ciri-ciri
sample yang ideal adalah:
a. Dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi
yang diteliti.
b. Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan
menentukan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang
diperoleh.
c. Sederhana.
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya
yang rendah.

1.5 Pertimbangan Penentuan Ukuran Sampel


Bila jumlah populasi dipandang terlalu besar, dengan maksud menghemat
waktu, biaya, dan tenaga, peneliti tidak meneliti seluruh anggota populasi. Bila
peneliti bermaksud meneliti sebagian dari populasi saja (sampel), pertanyaan yang
selalu muncul adalah berapa jumlah sampel yang memenuhi syarat. Ada hukum
statistika dalam menentukan jumlah sampel, yaitu semakin besar jumlah sampel
semakin menggambarkan keadaan populasi.

4
Adapun empat hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya
sampel dalam suatu penelitian:
1) Derajat keseragaman
Apabila populasi seragam sempurna, maka satu elementer saja dari seluruh
populasi sudah cukup representatif untuk diteliti.
2) Presisi yang dikehendaki dalam penelitian
Tingkat ketepatan ditentukan oleh perbedaan perbedaan hasil sampel dengan
hasil pencacahan lengkap, dengan asumsi instrumen, teknik wawancara,
kualitas pewawancara yang digunakan sama.
3) Rencana analisis
Rencana analisis data dengan teknik analisis tertentu sangat menentukan
besarnya sampel yang harus diambil.
4) Tergantung pada ketersediaan biaya, tenaga dan waktu.

1.6 Ukuran Sampel


Besaran atau ukuran sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian
atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan,
acuan umum penelitian sosial memiliki maksimal tingkat kesalahan sebesar 5%
(0,05). Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil ukuran sampel.
Dalam pengambilan sampel dibutuhkan sebuah pertimbangan dari berbagai
aspek, sehingga sampel yang digunakan dapat mewakili populasi yang diteliti dan
lebih efisien. Contoh ukuran sampel melalui pertimbangan, antara lain:
1) Dalam penelitian korelasional jumlah sampel (n) sebanyak 30 individu telah
dipandang cukup besar.
2) Dalam penelitian kausal komperatif dan eksperimental, 15 individu untuk setiap
kelompok yang dibandingkan dipandang sudah cukup memadai.
3) Dalam penelitian survey, sampel sebanyak 100 individu untuk seluruh sampel
baru cukup memadai.

1.7 Sumber Kesalahan Sampel


Beberapa sumber kesalahan sampel sebagai berikut:
1) Sampling frame error, yaitu kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu
tidak diperhitungkan atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh

5
kerangka sampel. Hal ini disebabkan adanya perbedaan antara elemen-elemen
dalam kerangka sampel dengan elemen-elemen populasi target.
2) Unit Sampling error, penentuan elemen-elemen dalam suatu unit sampai
kemungkinan kurang mewakili karakeristik populasinya. Tingkat heteroginitas
elemen-lemen populasi dapat menyebabkan timbulnya kesalahan dalam unit
sampel yang ditentukan berdasarkan strata atau kelompok tertentu.
3) Random sampling error, yaitu kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil
sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama. Hal ini
juga dapat terjadi karena fluktuasi statistik yang terjadi karena peluang dalam
elemen sampel yang dipilih.
4) Nonresponse error, yaitu kesalahan akibat perbedaan antara survei yang hanya
memasukkan mereka yang merespon dan tidak mereka yang gagal (tidak
merespon).
Penyimpangan yang juga dapat terjadi yang bukan disebabkan pemakaian sampel
(non sampling error) diantaranya:
1) Penyimpangan karena kesalahan perencanaan, seperti tidak tepatnya pemakaian
definisi, kriteria, satuan-satuan ukuran dan lainnya.
2) Penyimpangan karena penggantian sampel
3) Penyimpangan kriteria salah tafsir petugas maupun responden
4) Penyimpangan karena salah tafsir responden
5) Penyimpangan karena respoden sengaja salah menjawabnya
6) Penyimpangan karena kesalahan dalam pengolahan data dan penerbitannya.
Kesalahan total merupakan penyimpangan yang terjadi karena kesalahan sampel
dan kesalahan non-sampel. Kesalahan sampel dapat diminimalisir dengan
pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat. Sedangkan kesalahan metode
non sampel dapat diminimalisir dengan perencanaan dan pelaksanaan yang teliti
dari penelitian yang bersangkutan.

1.8 Tahap Pemilihan Sampel


Dalam melakukan pemilihan sampel maka perlu dimengerti mengenai unsur
sampling dan kerangka sampling. Unsur samplig adalah dalam suatu populasi
unsur-unsur atau elemen diambil sebagai sampel. Kerangka sampling adalah
6
refrensi fisik dari obyek, individu, kelompok yang sangat penting dalam penentuan
sampel. Kerangka sampling merupakan daftar semua sampling dalam populasi
sampling.
Syarat kerangaka sampling yang baik adalah sebagai berikut:
a. Harus meliputi seluruh unsur sampel (tidak satu unsur pun yang tertinggal)
b. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
c. Harus up to date
d. Batas-batasnya harus jelas (siapa yang menjadi anggota rumah tangga)
e. Harus dapat dilacak di lapangan
Dimana Prosedur pemilihan sampel memerlukan beberapa tahap sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi populasi target
b. Memilih kerangka pemilihan sampel
c. Menentukan metode pemilihan sampel
d. Merencanakan prosedur penentuan unit sampel
e. Menentukan ukuran sampel
f. Menentukan unit sampel

1.9 Metode Pengambilan Sampel


Dalam buku metode bisnis Sugiyono (2008) teknik sampling dikelompokkan
menjadi 2, yaitu:
1) Probality/random sampling
Probality sampling adalah teknik sampling (teknik pengambilan sampel)
yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi
untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi, simple random
sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified
random, sampling area (cluster) sampling (sampling menurut daerah).
2) Non probality/non random sampling
Non probality sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak meberi
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi, sampling sistematis, kuota,
aksidental, purposive, jenuh, snowball

2. Teknik Sampling
2.1 Probability Sampling
7
Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap
unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel. Terdapat empat cara mengambil
sampel dengan metode ini yaitu:
a. Simple Random Sampling
Dikatakan simple karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan
secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak
homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang Pendidikan yang berstrata, aka populasi pegawai itu
berstrata.
c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan menentukan jumlah sample, bila populasiberstrata tapi
kurang proposional.
d. Cluster Sampling (Area Sampling)
Teknik ini digunakan menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi atau
kabupaten.

2.2 Non Probability Sampling


Menurut Sugiyono (2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang tidak
memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi
untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a. Sampling Sistematis
Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah
teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah
diberi nomor urut. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil
saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu.

b. Sampling Kuota
Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling kuota
adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127)
dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi
8
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan
memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok.
Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatah
terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan
penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara
kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti
berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara
bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20
orang.
c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu
cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60).
d. Sampling Purposive
Menurut Margono (2004: 128), pemilihan sekelompok subjek dalam
purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang
mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah
diketahui sebelumnya. Degan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan
dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian.
Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel
yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.
e. Sampling Jenuh
Menurut Sugiyono (2001: 61) sampling jenuh adalah teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain
sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk
dijadikan sampel (Sugiyono, 2001: 61). Begitu seterusnya, sehingga jumlah
sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama
9
semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel
purposive dan snowball. Teknik sampel ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

10