Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal.

20 -29

SOCIAL HOUSING DI INDONESIA: KAJIAN PROSPEK MENGGUNAKAN ANALISIS


MODEL SYSTEM DYNAMIC

Andreas Agung Widhijanto1), Iwan Priyoga2)


Universitas Pandanaran
Jalan Banjarsari Barat No.1 Pedalangan Banyumanik, Semarang, Indonesia
Email1): andreas.widhiyanto@gmail.com
Email2): iwan.priyoga@unpand.ac.id

ABSTRAK
Social housing adalah rumah sewa yang diselenggarakan oleh pemerintah yang diperuntukan
bagi masyarakat tidak mampu secara finansial atau kondisi tertentu. Social housing memiliki 3 prinsip
penyelenggaraan yaitu: dilakukan oleh pemerintah, dalam bentuk rumah sewa dan diperuntukkan bagi
kelompok yang tidak/kurang mampu, termasuk hal finansial. Pemahaman penyelenggaraan di
Indonesia dengan merujuk Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman lebih bersifat ‘charity’ atau akan di-support oleh pemerintah melalui pembiayaan public
pada pasal 21 untuk rumah “kebutuhan khusus”, antara lain: kebutuhan untuk perumahan transmigrasi,
pemukiman kembali korban bencana, dan rumah sosial untuk menampung orang lansia, masyarakat
miskin, yatim piatu, dan anak terlantar, serta termasuk untuk pembangunan rumah yang lokasinya
terpencar dan rumah di wilayah perbatasan negara Kondisi-kondisi di atas menjadi isu generik karena
menimbulkan pertanyaan tentang pembangunan perumahan. Riset ini menggunakan analisis analisis
secara kritis, critical analysis/review. Proses analisis menggunakan metoda menyusun konseptual
melalui pendekatan secara sistem. Metoda ini adalah metoda ‘Berpikir Sistem’ dengan memiliki
keterkaitan sifat causa dan affect antara variabel satu dengan lainnya dalam kerangka berpikir sebagai
sistem atau system thinking. Akhirnya, kesimpulan riset Prospek Social Housing di Indonesia
merupakan prospek membangun karakter social housing dan mengembangkan kriteria dan parameter
keberadaan social housing. Prospek ini memberikan pemahaman kembali bahwa social housing
merupakan instrumen pembangunan (kesejahteraan) sosial melalui penyediaan perumahan sesuai
dengan standar baku. Penyediaan dilakukan melalui kemitraan sebagai pengembangan sistem
(delivery). Sistem yang dikembangkan untuk mengendalikan akses dan alokasi pasar perumahan,
sehingga social housing diselenggarakan berdasarkan stratifikasi karakter kelompok sasaran di
perkotaan/urban dalam mengembangkan produktivitas melalui akomodasi perumahan.

Kata Kunci: right to housing, social welfare housing, social housing, system thinking, dan prospek.

20
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

PENDAHULUAN diselenggarakan oleh pemerintah dan


Pembahasan Social Housing di Indonesia diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu,
diawali oleh pertanyaan mengapa social baik dalam hal finansial yaitu kelompok
housing dipandang penting dan perlu. berpendapatan menengah ke bawah atau pada
Kebijakan dan sistem pembangunan perumahan kondisi tertentu karena keterbatasan (fisik, usia
cenderung menempatkan rumah adalah hasil ataupun kondisi sosial tertentu).
’akhir’ dari proses pembangunan atau housing Sering dipertentangkan antara social
is an ‘end’. Kondisi ini menempatkan posisi housing dengan affordable housing. Namun,
pembangunan perumahan dipandang sebagai perbedaan prinsip social housing2 dan
pembangunan fisik dibanding pembangunan affordable housing3 adalah social housing lebih
perumahan untuk kesejahteraan sosial. Hal disediakan untuk perumahan sewa sedangkan
tersebut berkembang menjadi isu-isu generik affordable housing mengikuti kondisi
yang mempertanyakan antara sistem pasar/market. Disamping itu social housing
penyediaan perumahan dibangun sebagai lebih mengarah kepada penyediaan kebutuhan
pemenuhan hak perumahan dan peningkatan rumah di bawah harga pasar sedangkan
kesejahteraan sosial masyarakat. Pertanyaan ini affordable housing menekankan kepada
mendorong pemikiran: bagaimana membangun penyediaan rumah dengan harga lebih murah
suatu sistem yang mengintegrasikan antara yang secara umum terjangkau. Keterjangkauan
kedua sektor pembangunan tersebut dan inilah yang menjadi pertimbangan mendasar
meletakkan social housing sebagai katalisator dalam penyediaan perumahan, yaitu memenuhi
penyelenggaraan kedua tujuan tersebut. kebutuhan dasar/basic need hak untuk
mendapatkan rumah atau right to housing.
Isu generik: Hak Perumahan versus
Kesejahteraan Sosial Pemahaman social housing ini
Pemikiran mendasar dari kondisi pada mengindikasikan adanya 3 (tiga) prinsip dalam
gambaran umum adalah adanya pertentangan implementasinya yaitu: (i) diselenggarakan oleh
penyediaan perumahan bagi masyarakat dalam pemerintah4, (ii) dalam bentuk rumah sewa dan
kerangka pemenuhan hak-hak atas perumahan
(right to housing) dan upaya-upaya peningkatan walaupun dalam perkembangannya banyak
kesejahteraan sosial (social welfare). kebijakan yang telah bergeser dari sistem ini, seperti
Keberadaan social housing menjadi isu generik leasing, joint operation, share capital dan
yang mendorong 2 (dua) pemikiran. Pertama, sebagainya. Hal ini akan dibahas lebih mendalam
social housing merupakan sistem penyediaan pada bab Kajian.
2
Social housing is housing of an adequate standard
perumahan yang mengintegrasikan antara right
which is provided to rent (or on a shared ownership
to housing dan social welfare. Implementasinya basis) at below market cost for households in need
bukan merupakan pembangunan secara domain by Local Authorities or Registered Social Landlords
tertentu. Kedua, penyelenggaraannya operating on a basis of accepted and regulated
merupakan katalisator untuk mencapai standards of good practice in relation to physical
keduanya dalam bentuk suatu instrumen conditions, management, allocation, equal
penyelenggaraan pembangunan. opportunities and accountability to tenants and
other stakeholders”.
3
Affordable housing is housing of an adequate
Pemahaman umum social housing standard which is cheaper than that which is
generally available in the local housing market.
Sementara ini, secara umum social 4
Secara prinsip, pemerintah menyelenggarakan
housing dipahami sebagai suatu bentuk social housing. Penyelenggaraan ini memiliki arti
penyediaan perumahan sewa1 yang politis sedangkan implementasinya tidak semata-
mata demikian, seperti oleh sektor swasta, pemilik
1
Saat ini, beberapa pemahaman umum masih lahan, lembaga non profit, dan sebagainya.
mengartikan social housing merupakan rumah sewa, Pembahasan mendalam dilakukan pada bab

21
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

(iii) diperuntukkan bagi kelompok yang Fenomena ini dapat membangun ‘body of
tidak/kurang mampu (termasuk hal finansial). knowledge’ sistem pengadaan perumahan di
Ketiga prinsip ini menjadi batasan dalam Indonesia khususnya bagi kelompok
penyelenggaraan social housing, walaupun menengah ke bawah.
dalam perkembangannya ternyata banyak aspek 2. Manfaat bagi agensi pembangun
lain yang mempengaruhi, seperti perkembangan perumahan adalah mendorong pemerintah
pengaruh dari masalah tanah/lahan, lingkungan, untuk menyusun suatu kebijakan publik
ekonomi, budaya, kesejahteraan (sosial), dan bagi penyelenggaraan social housing.
sebagainya. Kebijakan ini akan diikuti perencanan bank
tanah, integrasi dengan program perumahan
Pertanyaan Riset lainya. Selanjutnya aplikasi kebijakan
Pertanyaan pertama, apa karakter memacu desain-desain ‘software’
mendasar dari social housing yang menjadikan penyelenggaraan social housing seperti:
keberadaannya mampu mengintegrasikan atau desain pembiayaan pembangunan, desain
menjadi katalisator antara housing right dan kebijakan, penyusunan codes,
social welfare. Karakter ini akan memancing standar/pedoman subsidi.
pertanyaan kedua, bagaimana social housing ini 3. Manfaat bagi masyarakat adalah
harus diselenggarakan. mendapatkan pengetahuan dan informasi
bentuk, mekanisme dan pranata
Kedua pertanyaan riset tesebut penyelenggaraan social housing dalam
mendorong timbulnya pertanyaan ketiga yang mendapatkan perumahan yang layak dalam
berkaitan dengan kondisi di Indonesia, yaitu rangka meningkatkan kesejahteraan
bagaimana social housing di Indonesia akan (sosial).
diselenggarakan. Dan terakhir, pertanyaan
keempat mencari masalah-masalah apa yang Kerangka pelaksanaan Metoda Riset
dihadapi penyelenggaraan social housing di Kerangka Riset ini dialurkan dalam 3
Indonesia dalam memenuhi housing right dan kerangka besar, yaitu kerangka kajian, analisis
social welfare. dan hasil dengan menunjukkan bahwa
rangkuman5 yang dihasilkan melalui kajian juga
TUJUAN DAN MANFAAT digunakan kembali pada proses analisis. Hal ini
Tujuan riset ini adalah menjawab bukan merupakan pengulangan, melainkan
sejauhmana prospek social housing jika sebagai penegasan dan kembali sebelum
diselenggarakan di Indonesia. Sedangkan tujuan ditajamkan pada proses analisis. Selanjutnya,
khusus riset ini adalah: analisis dilakukan melalui analisis secara
1. Memahami karakter social housing yang analisis kritis, walaupun proses ini mendapat
dilakukan melalui: bantuan penggunaan metoda ‘berpikir sistem’.6
2. Manganalisa bagaimana social housing di Indonesia.
diaplikasikan di Indonesia:
3. Melihat prospek aplikasi social housing
5
Resume ini yang akan menunjukkan karakteristik
Sedangkan manfaat riset diarahkan bagi dari social housing berupa atribut-atribut
pengetahuan, agensi pembangun perumahan penyelenggaraannya. Resume ini secara khusus
dan secara khusus bagi masyarakat. memberikan gambaran tentang what social housing
1. Manfaat bagi pengetahuan adalah membuka is? Dan what it does?
6
fenomena baru keberadaan social housing. Indikasi aplikasi akan menunjukkan bagaimana
mengaplikasikan di Indonesia atau how to apply
social housing? Aplikasi ini dapat juga
berikutnya yang menjelaskan mengapa oleh memprediksikan criteria dan parameter tentang
pemerintah, bagaimana perkembangannya dewasa where atau when jika social housing akan
ini dan sebagainya. diselenggarakan di Indonesia.

22
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

METODA RISET mendapatkan wacana substansi. Secara teoritis,


Kajian/Riset metoda ini merupakan model proses (berbentuk
Kajian Social Housing ini merupakan lingkaran/loops) dalam mengelola pendapat
Riset Kualitatif bersifat eksplorasi dan pakar secara induktif untuk memahami
deskripsi. Eksplorasi dan Deskripsi. Kajian pengetahuan.
Riset meliputi kajian kepustakaan, empiris, dan
opini para pakar. Kajian kepustakaan dilakukan Analisis
melalui identifikasi karakter untuk Analisis riset ini secara keseluruhan
mendapatkan teori dan pendekatan keberadaan merupakan analisis secara kritis, disebut dengan
social housing, sekaligus menjelaskan relasi critical analysis/review. Dalam proses analisis
antara fakta-fakta untuk mendapatkan fokus ini, digunakan pula sebuah metoda untuk
penelitian sesuai dengan kondisi di Indonesia. menyusun konseptual melalui pendekatan
Hubungan ini membangun struktur pemahaman secara sistem. Metoda ini adalah metoda
peneliti melalui identifikasi dan penjelasan ‘Berpikir Sistem’12 yang berangkat dari cara
relasi yang berkait dari fakta-fakta yang ada. pandang bahwa permasalahan pada riset sosial
(Verma and Beard7 dalam Judith Bell, 20068; adalah bersifat sangat kompleks. Sifat
Black and Champion, 19999). Pada Kajian kompleks ditunjukkan pada keterkaitan sifat
empiris memaparkan penyelenggaraan social causa dan affect antara variabel satu dengan
housing pada kasus beberapa negara dengan lainnya dalam kerangka berpikir sebagai sistem
mengambil sejumlah unsur yang atau system thinking. Analisis ini lebih singkat
digeneralisasikan (sementara) sebelum dibanding system dynamic.
dilakukan pengujian hipotetis. Pengujian
hipotetis ini menyangkut ciri kasus atau ANALISIS RISET/KAJIAN
karakter dari bagian-bagian yang lebih spesifik Analisis adalah dengan mengeklorasikan
melalui nilai deskriptifnya. (Black and hubungan sebab dan akibat dalam
Champion, 1999)10. Sedangkan, kajian opini penyelenggaraan social housing melalui
para pakar sering disebut dengan expert opinion penentuan batasan sektor penyelenggaraan
dalam riset ini dikaitkan sebagai proses umpan social housing, yaitu sektor perumahan dan
balik positif (Gaine, 1996)11 untuk kesejahteraan (sosial). Konsep ini memiliki
keterkaitan pula dengan atribut-atribut13
7
Kajian kepustakaan dalam teorinya merupakan
kegiatan membangun konsep atau struktur teoritis Knowledge Science Institute, University of Calgary,
yang mampu menjelaskan fakta dan keterkaitan Alberta, Canada, 1996.
12
antar mereka. Formulasi konsep ini mengindikasikan DeTombe, Dorien, Handling Complex Societal
pemikiran atau jalinan yang hilang atau data Problems, Chapter 17
tambahan yang diperlukan. Judith Bell, Doing your http://www.geocities.com/doriendetombe/index.html
Research Project, Open University Press, McGraw Something is called a problem when there is a
Hill, 2005 diterjemahan: penerbit PT discrepancy between the actual or (near) future
Indeks,Gramedia Group,2006. situation and the desired future situation and/or there
8
Judith Bell, Doing your Research Project, Open is a lack of knowledge and/or a lack of knowhow,
University Press, McGraw Hill, 2005 diterjemahan: and/or a lack of relevant data; as for complex
penerbit PT Indeks,Gramedia Group,2006. interdisciplinary societal problems, the problem is
9
Black, James A. dan Champion, Dean J., Metoda often undefined and the desired situation is not
dan masalah Penelitian Sosial, Penerbit PT Refika always clear (DeTombe, 1994: 58).
13
Aditama, Bandung 1999 halaman 94 Atribut-atribut ini merupakan keluaran hasil
10
Black, James A. dan Champion, Dean J., Metoda kajian, sedangkan mekanisme pasar menempatkan
dan masalah Penelitian Sosial, Penerbit PT Refika bagaimana social housing berperan sebagai
Aditama, Bandung 1999 halaman 80. penawaran produk pembangunan dan permintaan
11
Gaines, Brian A., Positive Feedback Processes pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pemerintah akan
Underlying the Formulation of Experties, menempatkan dirinya sebagai penyeimbang

23
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

penyelenggaraan social housing. Keduanya, masyarakat berpenghasilan rendah pada


menjadi masukan dalam menyusun model praktek-praktek penyelenggaraan social
penyelenggaraan social housing berupa diagram housing15.
alir penyelenggaraan. Model yang
menunjukkan kondisi ideal penyelenggaraan
social housing ini dianalisis secara kritis sesuai
dengan kondisi di Indonesia. Eksplorasi
deskripif susunan model penyelengaraan social
housing terhadap sifat causa dan affect antara
variabel yang terdiri dari:
1. Hubungan substansi pada keterkaitan
konsep
2. Hubungan sebab dan akibat pada sektor
perumahan
3. Hubungan sebab dan akibat pada sektor
kesejahteraan sosial
4. Hubungan sebab dan akibat pada sektor
publik
Bertolak dari sistem-sistem diatas,
kesimpulan hubungan sebab dan akibat di atas
maka dapat dirumuskan dalam bentuk diagram
alir model penyelenggaraan social housing.
Model ini memberikan masukan penilaian lebih
dalam dan secara kritis sesuai dengan kondisi di
Indonesia seperti ditunjukkan pada diagram 1.
Digram Alir Model Penyelenggaraan Social
Housing berikut:
Analisa Kritis dilakukan pada digram
Alir Model Penyelenggaraan Social Housing
15
untuk mendapatkan penajaman kajian dari Praktek-praktek pengadaan perumahan yang
pemahaman lebih dalam tentang: mendekati konsep penyelengaraan social housing
1. Keberadaan social housing dalam kapasitas bertolak dari karakter yang telah dikaji sebelumnya.
sebagai welfare state14 meskipun Indonesia Karakter ini berupa kebijakan-kebijakan politis
bukan merupakan negara yang menganut
sistem ini. untuk (i) memenuhi standar sosial dalam lingkup
ekonomi (kesejahteraan) (ii) melakukan penyediaan
2. Rentang pemahaman cara memenuhi
produk layanan sosial tersebut (dalam bentuk
kebutuhan perumahan (kota) dan perumahan) dan (iii) memenuhi kebutuhan
implementasinya, khususnya bagi masyarakat akan rumah untuk bertempat tinggal
Indikasi penyelenggaraan yang dipandang sebagai
social housing di Indonesia adalah dalam bentuk
penyelenggaraan social housing sesuai dengan Rumah Susun Sewa Sederhana (rusunawa) dan
kemampuannnya dalam mengambil keputusan Perumahan Swadaya, Pembangunan Rumah Susun
politis dan menyelenggarakan pembangunan. Sewa Sederhana ini lebih mengarah kepada ‘new-
14
Implikasi sebagai welfare state adalah kewajiban development’ sedangkan Perumahan Swadaya lebih
negara dalam memberikan kesejahteraan bagi mengarah kepada ‘housing-improvement’. Kedua
masyarakat, sebagaimana disyaratkan dalam program ini lebih cenderung menjadi ‘support
perundang-undangan. Peningkatan kesejahteraan assistance’ pada konteks perkotaan dan urban
dilakukan berupa kesejahteraan umum/publik, renewal. Indikasi lain adalah pembangunan
kelompok secara kolektif ataupun perumahan oleh instansi seperti rumah dinas, mess
perorangan/individu. dan sebagainya.

24
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

SOCIAL
HOUSING
Otonomisasi dan
desentralisasi
KEMITRAAN

KEPRANATAAN
INSTITUSI

Manajemen
Kota
Safety Net PUBLIK

Standar Dasar Keterjangkauan


sosial
KEBIJAKAN Kerakter
Masyarakat
Urban
KESEJAHTERAAN
PERUMAHAN
perumahan

SUBSIDI

Produktifitas
Akomodasi

Eligibility
Affordabilitas
Kondisi
KK/household

Alur permintaan dari indikator


Alur keluaran konseptual
Gambar 1. Diagram Alir Model Penyelenggaraan Social Housing

Hal tersebut diatas menjelaskan bahwa satu sisi penyelenggaraan perumahan dilakukan
pemahaman penyelenggraaan social housing oleh pemerintah. Pembangunan perumahan ini
memiliki rentang yang luas. Rentang ini merupakan bagian dari penanganan masalah-
meliputi mulai dari sifat pembangunan masalah (sosial) perumahan di perkotaan yang
perumahan oleh sektor publik hingga dibangun disebut sebagai public housing. Sebaliknya
sendiri secara swadaya oleh masyarakat16. Pada
menyediakan (minimal dalam bentuk kebijakan-
16
Keduanya berangkat dari adanya (urban) social political responsibility) pemenuhan kebutuhan
movement. Pada public housing berawal dari social rumah sedangkan community based housing
movement yang mampu menggerakan menempatkan social-community development dalam
peran/tanggungjawab sektor publik (pemerintah) kerangka housing development.

25
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

pembangunan perumahan dengan sifat swadaya perumahan ini bertumpu pada kemampuan
atau dilakukan sendiri oleh masyarakat, baik kelompok/komunitas atau community-based
melalui kelompok bersifat kolektif memberikan housin., sebagaimana pada Ilustrasi 3.1,
pemahaman yang berbeda. Pembangunan

rentang
social housing

Public supply
instansi industri dll Self-supply

Diselenggarakan oleh Diselenggarakan sendiri


sektor public (pemerintah) oleh masyarakat –
- public housing community based-
housing

Gambar 2. Rentang Keberadaan Social Housing

Pelaku dan sistem penyelenggaraan


Melalui pendekatan institusi maka SIMPULAN
pemerintah memiliki kemampuan dan Riset yang telah dilakukan
perangkat untuk melakukan sistem penyediaan menyimpulkan bahwa social housing memiliki
perumahan melalui social housing. Perangkat prospek di Indonesia. Namun prospek ini
ini merupakan sistem delivery dalam memerlukan rasionalisasi sesuai dengan kondisi
penyediaan perumahan dan mengembangkan di Indonesia dengan membangun karakter
pengelolaan/manajemen. Hal ini memiliki penyelengaraan social housing, dan
tujuan untuk mengakomodasi karakter mengembangkan kriteria dan parameter dari
masyarakat urban memenuhi kebutuhan keberadaan social housing. Keberadaan social
perumahan untuk pengembangan produktifitas. housing harus mampu mengintegrasikan atau
Manajemen ini dapat dalam bentuk badan menjadi katalisator antara housing right dan
otorita penyedia social housing seperti di social welfare.
beberapa negara atau dikelola langsung oleh Rumusan pengertian kembali social
pemerintah daerah/lokal melalui dinas/instansi housing lebih merupakan instrumen
teknis (Dinas Perumahan). Badan otorita ini pembangunan (kesejahteraan) sosial melalui
akan merumuskan kriteria eligibilitas bagi penyediaan perumahan sesuai dengan standar
kelompok sasaran seperi melalui sertifikasi baku. Penyediaan dilakukan melalui kemitraan
untuk menunjukkan kualifikasi kelompkm sebagai pengembangan sistem (delivery).
sasaran dan mekanisme akomodasi yang dapat Sistem yang dikembangkan untuk
dilakukan melalui waiting list, multiple choice, mengendalikan akses dan alokasi pasar
need demand. perumahan, sehingga social housing
diselenggarakan berdasarkan stratifikasi
karakter kelompok sasaran di perkotaan/urban

26
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

dalam mengembangkan produktivitas melalui merancang subsidi agar mampu memberikan


akomodasi perumahan. ‘dampak’ atau daya ungkit..
Pokok-pokok temuan khusus meliputi Dalam karakter (iv), social housing
pemahaman prospek sebagai kondisi yang harus mengakomodasi karakter kelompok sasaran
dibangun untuk dapat menyelenggarakan social di perkotaan/urban. Karakter tersebut
housing. Kondisi ini melahirkan karakter dan menekankan konsep keberpihakan dengan
konsep yang mendasar dalam mendesain mengidentifikasi kapasitas
penyelenggaraan social housing. Hal ini bawaan/carryingcapacity kelompok sasaran
menjadi masukan perumusan prinsip dan pengembangan produktifitas selama
penyelenggaraan hingga akhirnya didapatkan proses akses fdan alokasi masuk ke social
pengertian baru yang aplikatif penyelenggaraan housing.
social housing di Indonesia dengan: Karakter terakhir (v) menekankan social
1. Membangun prospek pada kondisi di housing dapat menjawab kebutuhan
Indonesia yaitu apa karakter mendasar dari akomodasi pengembangan produktivitas
social housing yang mampu kelompok sasaran melalui penyediaan
mengintegrasikan dan menjadi katalisator perumahan. Konsep akomodasi (perumahan)
antara meningkatkan kesejahteraan dan mendesain mekanisme ataupun prinsip-
memenuhi hak mendapatkan rumah bagi prinsip untuk mendapat akomodasi social
masyarakat. housing.
Dengan demikian, mendatang, Prospek
penyelenggaraan social housing lebih SARAN
dipandang sebagai 2 (dua) prospek. Pertama, Pemahaman kembali social housing
prospek dipandang dari membangun memberikan konsekuensi membangun kondisi-
karakter penyelengaraan social housing kondisi yang mendukung prospek
untuk kondisi Indonesia. Dan kedua, penyelenggaraan, yaitu:
prospek untuk mengembangkan kriteria 1. Secara mendasar menyadari bahwa
dan parameter berdasar keberadaan social permasalahan yang paling rumit adalah
housing di Indonesia. lahan. Berikutnya, sifat dualistik dari kota
2. Karakter mendasar dan konsepsi di Indonesia, yaitu kota formal dan
penyelenggaraan yaitu bagaimana informal. Kedua hal tersebut menjadi
sebenarnya social housing ini perhatian dalam ‘shelter for all’. Hal lain
diselenggarakan, dan seperti apa jika adalah kondisi sosial ekonominya yang
diselenggarakan di Indonesia. beragam, sehingga membutuhkan banyak
Karakter (i) memandang social housing alternatif penyelenggaraan.
sebagai instrumen pembangunan 2. Penyelenggaraan mutlak sebagai social
(kesejahteraan) sosial melalui penyediaan housing terutama dikaitkan dengan social
perumahan. security masih jauh dari kondisi yang ideal.
Karakter berikutnya (ii), peran social Hal ini akan lebih baik dalam posisi sebagai
housing merupakan pengembangan sistem public housing, walau dengan sebutan
penyediaan perumahan. Pengembangan sebagai social housing. Arah
yang dilakukan memiliki konsep delivery pengembangan social housing lebih dalam
dengan memperhatikan standar dasar rangka meningkatkan produktivitas.
pembangunan perumahan. Dengan demikian social housing lebih
Selanjutnya karakter (iii), social housing potensial sebagai labour housing atau labor
merupakan instrumen penyeimbang dalam social housing .
pengendalian akses dan alokasi bagi 3. Kebijakan social housing akan dapat
kelompok masyarakat untuk dapat masuk terlaksana jika good governance dapat
pada pasar perumahan. Implementasinya berjalan. Kondisi kedua adalah
melalui konsep manajemen subsidi untuk menciptakan political will dan peraturan

27
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

yang jelas. Kondisi terakhir adalah Departement of the Environment and Local
menciptakan commitment policy perumahan Government., 1999, Social Housing
dianggap sebagai upaya percepatan Guideline – Design Guideline.
pembangunan prasarana. Goverment of Ireland.
4. Akhirnya, parameter yang dikembangkan
dalam menyusun arahan program sebagai DeTombe, Dorien, Handling Complex Societal
implementasi kebijakan penyelenggaraan Problems, Chapter 17 dalam
social housing meliputi: Peran dari definisi http://www.geocities.com/doriendetom
social housing, Kerangka kerja kebijakan be/index.html
dan perundangan, Kerangka kerja
institusi/kepranataan, Akses pendanaan dan Dublin Dockland Development Authority,
pembiayaan social housing, Alokasi dan 2004, Social/Affordable Housing,
akses subsidi, Kesejahteraan social, dan, Policy Document Journal. January
Desain model social housing. 2004

DAFTAR PUSTAKA Etten, J.V., 2004, Social Housing in the


Netherlands, Lessons Learned for
Anonim, 2003, Social housing in the UNECE Indonesia?. Proseding Sistem
Region; Committee on Human Perumahan Sosial, Pusat Studi
Settlements UNECE – Work Shop on Metropolitan dan IAP.
Social Housing, Prague Mei 2003.
Gibb, K., 2000, Modeling Housing Choice and
Anonim, Demand-side Policy: Consumers Demand in a Social Housing System :
Subsidies. Chapter 15 Housing Policy, The Case of Glasgow. Berkeley
Program on Housing and Urban Policy;
Bell, J., 2006, Doing your Research Project, University of California Berkeley.
Open University Press, McGraw Hill,
(2005) diterjemahan: penerbit PT Hall, P., 1988, Cities Of Tomorrow, Blackwell
Indeks Gramedia Group, Publishers Ltd, London.

Berry, K., 2003, Social Housing. Hernowo, B., 2004, Socio-Economic


www.scottish.parliament.uk. Implication and Values of Housing.
Proseding Sistem Perumahan Sosial,
Black, J.A. dan Champion, D.J., 1999, Metoda Pusat Studi Metropolitan dan IAP.
dan masalah Penelitian Sosial, Penerbit
PT Refika Aditama, Bandung. Katsura, H.M. and Struyk, R.J., 2003, Selling
Eastern Europe’s Social Housing Stock:
Cahyat, A., 2004, Beberapa model Proceed with Caution. The Urban
penghitungan kemiskinan di Indonesia, Institute Journal - Housing Policy
Poverty & Decentralization Project Debate, Volume 2- issue 4.
CIFOR (Center for International
Forestry Research) - BMZ Kirmanto, D., 2004, Rumah Sosial di
(Bundesministerium für Wirtschaftliche Indonesia: Tinjauan Kebijkan dan
Zusammenarbeit und Entwicklung). Program bantuan Perumahan
Pemerintah, Proseding Sistem
Davis, S., 1995, The Architecture of Affordable Perumahan, Penerbit Pusat Studi
Housing, University of California Press Metropolitan dan IAP.
Ltd, London UK.

28
Jurnal Neo Teknika Vol. 4 No 1, Juni 2018, hal. 20 -29

Kuswartojo, Tjuk, dkk., 2005, Perumahan dan


Permukiman di Indonesia; Upaya
Membuat Perkembangan Kehidupan
yang Berkelanjutan, Penerbit ITB,
Bandung.

Lowe, S., 1986, Urban Social Movement (The


City After Castells), Macmillan
Education Ltd, London.

Santoso, J., dan Hadar, Ivan A., 2004,


Proseding Sistem Perumahan Sosial –
Belajar dari Pengalaman Jerman.
Penerbit Pusat Studi Metropolitan dan
IAP.

Social Housing and Private Finance, 2000,


Current Trends and Future Prospect;
Housing Finance Journal No.47.
August 2000.

29