Anda di halaman 1dari 121

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang


rahmat, taufuk dan hidayah-Nya dapat kami selesaikan buku FILSAFAT ILMU
yang sekarang berada di tangan pembaca.

Filsafat ilmu merupakan kajian mendalam secara filosofis mengenai apa


yang menjadi dasar-dasar ilmu tersebut yakni ontologi, epistimologi, dan
aksiologi. Apa yang hendak dikaji disebut dengan istilah “ontologi”, bagaimana
cara memperolehnya disebut dengan “ epistimologi”, dan bagaimana nilai
keunggulannya diistilahkan dengan “aksiologi”.

Buku ini ditujukan terutama bagi para peminat filsafat. Namun, tidak
tertutup kemungkinan bagi mereka yang ingin mengembangkan wawasan
filsafatnya. Dengan mempelajari buku ini diharapkan dapat memahami refleksi,
mendasar dan integral tentang hakikat ilmu pengetahuan serta memahami dan
menilai metode-metode pemikiran ilmiah dan mempunyai sikap ilmiah dalam
kehidupan sehari-hari.

Materi dalam buku ini disusun berdasarkan kumpulan materi makalah


ilmiah mata kuliah filsafat ilmu. Harapan yang terkandung dalam penyusunan ini
agar para mahasiswa sejak awal belajar filsafat ilmu sudah dilatih berfikir
kefilsafatan secara utuh yaitu memahami hakikat, prosedur, dan kegunaan ilmu.

Di samping masih ada kekurangan, maka buku ini masih jauh harapan dan
kesempurnaan. Namun demikian, tertumpang harapan sekecil apapun pasti buku
ini bermanfaat.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu tersusunnya buku ini. Pikiran kritis dan sumbang saran sangat
diharapkan demi perbaikan buku ini.

Magelang, 13 desember 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................

BAB 1 RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU ................................

BAB 11 SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU................................

BAB III HAKIKAT PENGETAHUAN ...............................................

BAB IV KEBENERAN ILMIAH ........................................................

BAB V ONTOLOGI ILMU ................................................................

BAB VI EPISTEMOLOGI ILMU .....................................................

BAB VII AKSIOLOGI ILMU ...............................................................

BAB VIII STRUKTUR ILMU PENGETAHUAN ................................

BAB IX SARANAILMU PENGETAHUAN ......................................

BAB X MORALITAS ILMU PENGETAHUAN ..............................

BAB XI TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU ........................


Ruang Lingkup Filsafat llmu

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari- hari pasti sering mendengar kata istilah ilmu,
namun tidak sedikit orang yang belum memahami dengan sesungguhnya apa itu
filsafat ilmu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan
tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis dan menurut metode- metode
tertentu, dan juga dapat digunakan untuk menerangkan gejala- gejala tertentu
dibidang pengetahuan itu. Sedangkan filsafat menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai
hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukum nya. Namaun secara etimologis
filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling
terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kalahiran ilmu tidak lepas
dari filsafat, sebaliknya dengan perkembangan ilmu juga memperkuat filsafat.

Hingga saat ini filsafat ilmu telah berkembang pesat dan menjadi suatu
bidang ilmu dengan kajian yang mendalam. Namun tidak sedikit orang
beranggapan bahwa berfilsafat itu adalah merenung, padahal berfilsafat itu dengan
cara berfikir lebih luas, mendalam dan objektif. Dalam bab ini kami akan
berusaha menjelaskan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu.

Pembahasan

A. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat Ilmu terdiri dari dua kata, yaitu Filsafat dan Ilmu. Oleh
karena itu sebelum membahas pengertian ilmu sebaiknya terlebih dahulu
kita perlu memahami arti filsafat. Para ahli mendefinisikan filsafat
bermacam-macam. Mungkin karena banyaknya definisi filsafat dari para
ahli itulah, maka Muhammad Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat
lebih baik tidak dibicarakan lebih dahulu, karena setelah membaca dan
mempelajari lebih lanjut, filsafat akan dapat dimengerti dengan
sendirinya.1

1
M. Hatta, AlamPikiranYunani. Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 3.
Filsafat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala
yang ada, sebab, asal, dan hukum nya. Namaun secara etimologis filsafat
berarti cinta kebijaksanaan. Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling
terkait, baik secara substansial maupun historis,karena kalahiran ilmu tidak
lepas dari filsafat, sebaliknya juga dengan perkembangan ilmu juga
memperkuat filsafat.
Setelah kita membahas pengertian filsafat, selanjutnya kita
membahas tentang pengertian Ilmu. Dalam bahasa Indonesia, ilmu sering
disebut dengan istilah ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang ilmiah
yang ekwivalen artinya dengan science dalam bahasa Inggris dan Perancis.
Science berasal dari kata scio, scire (bahasa Latin) yang berarti
tahu. Begitupun ilmu berasal dari kata ’alima (bahasa Arab) yang juga
berarti tahu. Jadi baik ilmu maupun science secara etimologis berarti
pengetahuan. Namun secara terminologis ilmu dan science itu semacam
pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda, dan syarat-syarat
yang khas.2
Dari penjelasan mengenai pengertian Filsafat dan Ilmu di atas,
maka menurut penulis, pengertian filsafat ilmu yang dirumuskan oleh
Suwardi Endraswara cukup representatif untuk diterima sebagai definisi
filsafat ilmu. Ia merumuskan bahwa filsafat ilmu adalah merupakan bagian
dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu.
Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari
ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di
sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti:
apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai
ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat
menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi;
cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan
penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat

2
EndangSaefuddinAnshari, IlmuFilsafatdan Agama, Surabaya: BinaIlmu, 1992. hlm. 47
digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan
model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu
sendiri.3
Senada dengan Suwardi Endraswara, Jujun S. Suriasumantri
mendefinisikan Filsafat Ilmu sebagai berfilsafat tentang ilmu yang berati
mempertanyakan tentang apakah ilmu itu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki
yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang
bukan ilmu? Bagaimana kriteria yang dipakai dalam menentukan
kebenaran secara ilmiah? Mengapa ilmu mesti dipelajari dan apa kegunaan
ilmu yang sebenarnya?4
Dengan kata lain, filsafat ilmu berarti Filsafat yang menjadikan
ilmu sebagai obyek materia atau lapangan penyelidikan.
B. Ilmu sebagai Objek Kajian Filsafat
Seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat juga memiliki
obyek studi yang meliputi obyek materi maupun obyek forma.
Obyek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada. Tentang obyek materia ini banyak yang sama dengan obyek
materia sains. Bedanya ialah dalam dua hal. Pertama, sains menyelidiki
obyek materia yang empiris, filsafat menyelidiki obyek yang itu juga,
tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya.
Kedua, ada obyek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh
sains, seperti Tuhan, hari akhir, yaitu obyek materia yang untuk selama-
lamanya tidak empiris.5 Hal itu berarti bahwa filsafat mempelajari apa saja
yang menjadi isi alam semesta mulai dari mineral (benda mati), benda
hidup (vegetativa, animalia, dan manusia), dan causaprima (sang
Pencipta). Selanjutnya obyek ini sering disebut pula sebagai realitas atau
kenyataan (the reality).6
Sedangkan yang dimaksud obyek forma filsafat adalah sudut
pandang atau pendekatan yang digunakan oleh filsafat dalam mengkaji

3
SuwardiEndraswara, FilsafatIlmu, Yogyakarta: CAPS, 2012, hlm.. 31.
4
Jujun S. Suriasumantri, FilsafatIlmu, SebuahPengantarPopuler, Jakarta:
PustakaSinarHarapan, cet. Ke-6, 1990, hlm. 19.
5
Ahmad Tafsir, FilsafatUmum: Akal danHatiSejak Thales Sampai Capra, Bandung:
RemajaRosdaKarya, Cet .XII 2003, hlm. 21.
6
SuparlanSuhartono, Dasar-dasarFilsafat, Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2004, hlm. 114.
obyek materia. Obyek forma dari filsafat adalah berpikir radikal, bebas,
dan berada dalam dataran makna untuk mencari hakekat segala sesuatu
yang terdapat dalam obyek materia (yaitu alam, manusia, dan Tuhan).
Jadi, sudut pandang filsafat tidak terbatas pada salah satu
perspektif saja melainkan menyeluruh dan terbuka bagi sudut pandang lain
sebanyak-banyaknya untuk dapat mencakup wawasan yang seluas-luasnya
dan sedalam-dalamnya, sehingga hakekat dan keberadaan realitas, baik
menurut bagian-bagiannya maupun keseluruhannya menjadi jelas.7
Filsafat ilmu merupakan studi gabungan yang terdiri dari berbagai
kajian, yang diajukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu
tertentu. Juga berperan untuk menganalisis hubungan atau antar hubungan
yang ada pada kajian satu terhadap kajian yang lain. Koherensi antar –
unsur dalam suatu ilmu juga menjadi prioritas filsafat ilmu. Namun juga
perlu diingat semakin kompleks ilmu, filsafat ilmu pun tampak semakin
luas jangkauannya. Berbagai perubahan sudut pandang filsafat ilmu, selalu
mengikuti gelombang perubahan ilmu. Dalam taraf peralihan ini filsafat
tidak mencakup keseluruhan tetapi juga menjadi sektoral. Contohnya
filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari
perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam
satu bidang tertentu.
Disisi lain perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja
membuat ilmu semakin jauh dari induknya, tetapi juga mendorong
munculnya arogansi dan bahkan kompartementalisasi yang tidak sehat
antara satu bidang ilmu dengan yang lain. Tugas filsafat diantaranya
adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan
antara berbagai kepentingan. Filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat,
yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, menyeluruh
dan rasional, dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalam filsafat
sepatutnya merupakan bagian dari ilmu.

7
Suparlan Suhartono. Op. Cit. hlm. 116.
Kalau begitu, bidang garap filsafat ilmu terutama diarahkan pada
komponen komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu,
yaitu ontologi,epistimologi,dan aksiologi. 8
C. Tujuan Filsafat lmu
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu
menurut Muhammad Erwin (2011), tujuan dan fungsi filsafat ilmu juga
tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan yaitu:
1.Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada
2.Mempertahankan, menunjang, dan melawan atau berdiri netral dari
pandangan filsafat lainnya.
3.Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup, dan
pandangan dunia
4.Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam
kehidupan
5.Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam
berbagai aspek kehidupan itu sendiri.

Mempelajari filsafat ilmu memberikan implikasi bagi seorang ilmuan


atau akademisi untuk sebagai pijakan dasar dalam mendalami ilmu
pengetahuan, dan juga sebagai penyadaran konseptual seorang ilmuan
tidak terjebak dalam pola pikir “menara gading” yakni hanya berfikir
murni dalam bidang nya tanpa mengaitkan kenyataan yang diluar darinya.9

D.Cara Mengembangkan Filsafat


1.Kembangkan Cara Melakukan Investigasi Dan Terapkan
Dengan kata lain menemukan cara-cara yang bisa menjelaskan dan
menggambarkan struktur dasar dan pola-pola kehidupan, seringkali
dengan cara memilahnya kebagian-bagian yang lebih kecil.
2.Mulailah Menulis Pandangan-Pandangan
Tulislah apa pemikirannya, tentang subyek penelitiannya termasuk
pandangan yang sekiranya tidak perlu ditulis.

8
Mukhtar Latif, Orientasi ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu, Jakarta: PRENAEDA
GROUP,cet. Ke-1, 2014, hlm: 32.
9
Mukhtar Latif, Op Cit, hlm: 42.
3.Kembangkan Filsafat Kehidupan
Saat menulis, mulailah mengembangkan wawasan filosofis anda
sendiri yang akan membawa anda kegagasan-gagasan yang logis
dan benar tentang kehidupan di dunia ini.
4.Tulis Ulang Dan Dapatkan Umpan Balik
Beberapa konsep, anda harus mengelola gagasan-gagasan secara
lebih teratur dan biarkan orang lain membaca tulisan anda.10

Kesimpulan

Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa


pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Dengan kata lain, filsafat ilmu berarti Filsafat
yang menjadikan ilmu sebagai obyek materia atau lapangan penyelidikan. Filsafat
juga memiliki obyek studi yang meliputi obyek materi(realitas atau kenyataan)
dan obyek forma (sudut pandang atau pendekatan).Mempelajari filsafat ilmu
memberikan implikasi bagi seorang ilmuan atau akademisi sebagai pijakan dasar
dalam mendalami ilmu pengetahuansehinggadapatberfikir murni dalam bidang
nya tanpa mengaitkan kenyataan yang diluar darinya.

Daftar Pustka

Anshari, Endang Saefuddin. 1992. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya: BinaIlmu

Endraswara, Suwardi. 2012. FilsafatIlmu. Yogyakarta: CAPS.

Hatta, M. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press.

Hasanudin.Menjadi Seorang Filsuf. 2017. https://id.wikihow.com/Menjadi-


Seorang-Filsuf diakses padatanggal 22 Oktober 2019 pukul 12.05

10
Hasanudin, Menjadi Seorang Filsuf, https://id.wikihow.com/Menjadi-Seorang-Filsuf
diaksespadatanggal (22 oktober 2019pukul 12.05)
Latif, Mukhtar. 2014. Orientasi keArah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta:
PRENADA GROUP.

Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Suria sumantri, Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.

Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum: akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sejarah Perkembangan Ilmu

Pendahuluan

Pembahasan tentang sejarah perkembangan ilmu tidak bisa di pisahkan


dari sejarah filsafat yang menghubungkan mata rantai dari masa, masa yunani
kuno masa pertengahan, masa modern, hingga masa postmodern atau
kontemporer. Hal ini karena disebabkan ilmu adalah buah dari perkembangan
filsafat itu sendiri. Sering diungkapkan bahwa filsafat adalah induk ilmu
pengetahuan , dan serangkaian disiplin ilmu yang berkembang tak lain adalah
anak-anak filsafat.

Filsafat, philosophy, dalam bahasa inggris, atau philosophy dalam yunani


mempunyai arti “ cinta akan kebijaksanaan “ philos (cinta) atau philia
(persahabatan,tertarik) dan Sophos (kebijaksaan, pengetahuan, keterampilan,
pengalaman praktis, inteligensi). Dengan pengertian diatas sebenarnya filsafat
pengertiannya amat dekat dengan realitas kehidupan. Sedangkan filsafat ilmu
merupakan refleksi pemikiran secara kritis mengenai ilmu pengetahuan. Filsafat
ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan berbagai persoalan apa dan bagaimana
suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana pula konsep
tersebut diproduksi, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan dan
memanfaatkan alam melalui teknologi. Filsafat ilmu pun sangat berkaitan erat
dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Dalam kaitan dengan sejarah perkembangan ilmu, yang krusial dibahas


adalah karakteristik yang mewarnai masing-masing periode atau masa. Periode
Yunani Kuno memiliki karakteristik Kosmologis, periode pertengahan diwarnai
dengan karakteristik Teosentris, periode modern sarat dengan karakteristik
Antroposentris, dan periode postmodern ditandai dengan merebaknya
Logosentrisme.

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat
di yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoris. Tetapi dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga bisa kita lihat ada
kecenderungan lain. Mengetahui perkembangan filsafat sangatlah penting
perannyaterhadap perkembangan pemikiran manusia kedepannya. Sebab,
pembahasan tentang filsafat akan menyelidik,menggali, dan menelusuri sedalam,
sejauh, dan seluas mungkin semua tentang hakikat hidup dan aspek didalamnya.
Dalam hal ini,kita bisa mendapatkan gambaran bahwa filsafat merupakan akar
dari semua ilmu dan pengetahuan yang berkembang dimuka bumi ini.

Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban


manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-
mite menjadi yang lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir
masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam,
seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam
biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika
filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai
aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.

Perubahan pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya


tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati
bahkan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena
alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian
dan pengkajian. Dari proses ini kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat,
yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode
perkembangan filsafat Yunani merupakan poin untuk memasuki peradaban baru
umat manusia.

Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah


berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena
untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan
pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan
ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan
pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani.
Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada
zaman kontemporer.

Pembahasan

A. Landasan ilmu pada zaman Yunani kuno


Periode yunani kuno dimulai kira kira abad 6 SM sampai 6/7 M.
Periode ini merupakan masa yang melatarbelakangi kelahiran filsafat.
Sebelum filsafat muncul, dunia Yunani kuno dipenuhi dengan aneka ragam
mitos yang dianut oleh masyarakat. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini
selalu di hubungkan dengan hal hal yang mitologis. Hal hal yang tidak
bisa di buktikan secara rasional itu diyakini demikian kuat, bahkan
mempengaruhi pola perilaku masyarakat. Sejumlah orang yang tidak puas
dengan mitos itu kemudian membuat asumsi dan argumentasi penolakan
dan pembahasan atasnya. Pada giliranya penolakan dan pembahasan itu
ternyata berpengaruh besar bagi dunia yunani kuno yng menandai
kemenangan akal atas mitos. Karakteristik pembahasan yunani kuno
adalah kosmologis, yang mempertanyakan asal usul penciptaan alam
semesta.
Menurut thales (625-545SM), mengatakan bahwa asas pertama
adalah air. Karna air bisa di amati dalam berbagai keadaan. Pendapat ini di
latar belakangi fakta bahwa miletos, kota thales, berada di pinggiran laut.
Lain halnya Anaximandros (610-540 SM) dia meyakini sesuatu tidak
memiliki sifat sifat alamiah yang di kenal manusia. Perdebatan ini tidak
berhenti tapi terus berlangsung. Anaximenes (538-480 SM) berpendapat
bahwa asas pertama adalah udara yang menjadikan segala sesuatu hidup.
Pythagoras (580-500 SM) mendasarkan pandangannya pada bilangan,
yang mewujudkan satu kesatuan. Pandangan ini kemudian di kerucutkan
oleh Xenophenes (570-480 SM) mencetuskan paham monisme, bahwa
asas pertama adalah kesatuan bukan keanekaragaman.
Wacana Yunani kuno ini kemudian menolak keyakinan terhadap
banyak dewa. Bagi mereka, pencipta alam ini adalah sesuatu yang tunggal
dan tidak terbatas. Tiga ahli filsafat besar dari yunani adalah :
1. Socrates (469-399)
Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama
dari 3 ahli filsafat besar yunani, yaitu Socrates, plato, dan
aristoteles. Socrates adalah yang mengajar plato dan plato pada
gilirannya juga mengajar aristoteles. Socrates juga dikenal
sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga
filsafat secara umum. Periode setelah Socrates ini disebut
dengan zaman keemasan keilmuan bangsa yunani, sebab pada
zaman ini kajian kajian ke ilmuan yang muncul adalah
perpaduan antara filsafat alam dan filsafat manusia. Tokoh
yang sangat menonjol adalah plato, yang sekaligus murid
Socrates.
2. Plato (427-347)
Ia adalah murid Socrates dan guru dari aristoteles. Yang
paling utama dari seorang plato adalah ilmunya mengenai ide.
Plato yang hidup di awal abad ke 4 SM adalah seorang filsuf
earliest (paling tua) yang tulisan tulisannya masih menghiasi
dunia akademisi hingga saat ini.
3. Aristoteles (384-382).
Dia adalah seorang filsuf yunani murid dari plato dan guru
dari Alexander yang agung. Ia memberikan kontribusi di
bidang metafisika, fisika, etika, politik, ilmu kedokteran dan
ilmu alam. Dibidang ilmu alam dia merupakan orang pertama
yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies spesies
biologi secara sistematis. Dibidang politik aristoteles percaya
bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk
demokrasi dan monarki. Dari kontribusinya yang paling
penting adalah masalah logika dan teologi (metafisika). Logika
aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif yang bahkan
sampai saat ini masih di anggap sebagai dasar dari setiap
pelajaran tentang logika formal. Meskipun dalam penelitian
ilmiahnya dia menyadari pula akan pentingnya observasi,
eksperimen dan berpikir induktif. Masa keemasan keilmuan
bangsa yunani trjadi pada masa aristoteles. Ia berhasil
menemukan pemecahan persoalan persoalan besar filsafat yang
dipersatukanya dalam satu sistem : logika, matematika, fisika,
dan metafisika.
Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles kegiatan politik
dan filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada segolongan
kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis.
Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum
muda. Yang menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam
tetapi manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Prothagoras,
Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ditentang
oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang
baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang
dijunjung tinggi oleh semua orang. Akibat ucapannya tersebut
Socrates dihukum mati.
Hasil pemikiran Socrates dapat diketemukan pada
muridnya Plato. Dalam filsafatnya Plato mengatakan: realitas
seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi
pancaindra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia
yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.
Pendapat tersebut dikritik oleh Aristoteles dengan
mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang
konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan.
Aristoteles adalah filsuf realis, dan sumbangannya kepada
perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Sumbangan
yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu
pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas
rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut
Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis,
abstraksi matematis, dan metafisis.
Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan
membuang unsur-unsur individual untuk mencapai kualitas
adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek
menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur
kualitatif disebut abstraksi matematis. Abstraksi di mana
seseorang menangkap unsur-unsur yang hakiki dengan
mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis.
Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi
dan bentuk. Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis,
Materi adal.ah prinsip yaug tidak ditentukan, sedangkan bentuk
adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan
sebutan Hylemorfisyme.11
B. Ruang lingkup filsafat ilmu
Pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan utama, yaitu
membahas sifat-sifat pengetahuan ilmiah (epistimologi) dan menelaah
cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah (metodelogi). Sehingga
filsafat ilmu ini pada akhirnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
besar yaitu:
1. Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang
persoalan kesatuan,keseragaman,serta hubungan diantara
segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan
antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan,
susunan kenyataan, dan sebagainya.
2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang
membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang
digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-
kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam,
kelompok ilmu kemasyarakatan, kelompok ilmu teknik dan
sebagainya.

Hingga saat ini filsafat ilmu telah berkembang pesat sehingga


menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam.
Beberapa filusuf memberikan pendapatnya tentang ruang lingkup filsafat
ilmu. Diantara filusuf-filusuf tersebut adalah
11
Aswar, Welhendri, Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu Jakarta, Kencana 2019 hal
25-46
 Pater Anggeles
Sebagaimana dikutip Liang Gie, dalam bukunya Dictionary
of Philosohy, Pater Anggeles membagi empat konsentrasi
utama dalam filsafat ilmu :
1. Telaah mengenai beberaa konsep, pra anggapan, dan
metode ilmu, berikut analisis, perluasan dan
penyusunannya untuk mendaatkan pengetahuan yang lebih
ajeg dan cermat.
2. Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam
ilmu berikut struktur perlambangannya.
3. Telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai macam
ilmu.
4. Telaah mengenai berbagai akibat pengtahuan ilmiah bagi
hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman
manusia terhadap realitas, hubungan logika dan matematika
dengan realitas, entitas teoritis, sumber dan keabsahan
pengetahuan, serta sifat dasar manusia.
 Cornelius Benjamin
Filsuf ini menberi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga
bidang: Telaah mengenai metode ilmu, lambang ilmiah, dan
struktur logis dari sistem perlambangan ilmiah. Telaah ini
banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, dan teori
umum tentang tanda.
Penjelasan mengenai konsep dasar praanggapan, dan
pangkal pendirian ilmu berikut landasan-landasan empiris,
rasional, atau pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya.
Aneka telaah mengenai saling kait diantaraberbagai ilmu
dan implikasinya bagi teori alam semesta seperti; idealisme,
matrealisme, monisme atau pluraisme.
1. Edward Maden
Filsuf ini berpendapat bahwa apapun lingkupan filsafat
umum, tiga bidang tentu merupakan bahan perbincangan,
yaitu:
a) Probabilitas
b) Induksi
c) Hipotesis
2. Israel Scheffler
Filsuf ini berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari
pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia
sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Lingkupannya
mencangkup tiga bidang yaitu:
a) Peran ilmu dalam masyarakat
b) Dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu
c) Landasan-landasn ilmu
Berdasarkan perkembangan filsafat ilmu sampai saat ini, filsuf
pengamat John Losee menyimpulkan bahwa filsafat ilmu dapat
digolongkan menjadi empat konsepsi, yaitu:
a) Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pendangan-
pandangan dunia yang sesui atau berdasarkan teori-teori
ilmiah yang penting.
b) Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan pranggapan
dan kecenderungan para ilmuwan. (misalnya
praanggapan bahwa alam semesta mempunyai
keteraturan)
c) Filsafat ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan yang
menganalisis dan menerapakan konsep dan teori dari
ilmu.
d) Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua
yang menelaah tentang ilmu sebagai sasarannya.

Bidang garapan Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen


komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu
ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat
ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan
pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa
dan bagai-mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme
yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua¬lisme,
pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang
pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke¬yakinan kita masing
masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi
kebenaran yang kita cari.

Epistemologi ilmumeliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan


sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan
mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya
mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih.
Akal (Verstand), akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara
akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam
epistemologik, sehingga dikenal adanya model model epistemologik
seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis,
positivisme, feno¬menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula
bagai¬mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik
beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori
ko¬herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

Akslologi llmumeliputi nilal nilal (values) yang bersifat normatif


dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana
kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan,
seperti kawasan sosial, kawasansimbolik atau pun fisik material. Lebih
dari itu nilai nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu
conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam
melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

Dalam perkembangannya Filsafat llmu juga mengarahkan


pandangannya pada Strategi Pengembangan ilmu, yang menyangkut etik
dan heuristik. Bahkan sampal pada dimensi ke-budayaan untuk
menangkap tidak saja kegunaan atau keman¬faatan ilmu, tetapi juga arti
maknanya bagi kehidupan.12

3. Perkembangan ilmu dalam islam.


12
Sutrisno, Menjadi Seorang Filsuf di https://id.wikihow.com/ diakses pada tanggal 22
oktober 2019 pukul 12.50.
Diakui periode ini, berlangsung kira kira abad ke 7
M sampai abad ke 14/15 M. karakteristik pembahasan
filosofis ilmiahnya berpusat pada masalah ketuhanan,
teosentris.
Setelah helenisasi menyebar ke seantero eropa,
respons terhadap filsafat bermacam macam. Persoalannya
bertolak dari pertemuan antara ajaran injil dengan ajaran
filsafat. Ada di antara teolog yang melihat signifikasi
filsafat bagi injil, karenannya mereka berusaha
mengawinkan ide ide di antara keduannya. Kalangan inilah
yang kelak dikenal sebagai patristic, bapak gereja yang
mencari justifikasi kebenaran injil dari filsafat. Augustinus
(354-430), patristic terbagi dua , timur dan barat.
Ada juga sebaliknya, kalangan yang berangkat dari
latar belakang filsafat namun merasa perlu mencari
pembenaran pembenaran dari injil, ini disebut dengan
skolastik. Tokohnya yang terkenal adalah Thomas Aquinas
(1225-1274) ajaran kelompok ini akal dan wahyu memiliki
bidang sendiri sendiri. Skolastik berusaha mensintesiskan
pemikiran augustinus- neoplantonisme dengan unsur unsur
Aristotelian. Teologinya bersifatnaturalis, bahwa akal
manusia dapat mengenal allah. Pembuktiaanya melalui
apesteriori.
Ketika partisik dan skolastik masih begitu kuat
mengawinkan antara gagasan filsafat dengan ajaran injil,
dunia ke ilmuan barat berada pada masa yang dinamis.
Ketika sebagian orang tepatnya teolog berusaha
mencampakan filsafat dan hanya mengedepankan ajaran
injil terutama yang ortodoks maka dunia barat mulai
menampakan kelesuan pembahasan keilmuaanya. Lambat
laun pengaruh teolog ini begitu kuat hingga melahirkan
kekuatan yang mampu memberangus ide ide filsafat. Dunia
barat yang dulunya mengapresiasi filsafat, kini beralih
membenci filsafat. Barat pun mengalami masa kegelapan
dan berada dalam kemundurannya.
Fenomena kebencian pada filsafat itu tidak berlaku
di dunia muslim. Muncul filosof filosof yang polanya sama
dengan apa yang di lakukan partisik dan skolastik di dunia
barat Kristen, berusaha mengkaji al quran lewat pendekatan
filosofis. Diantara filosof muslim yang sangat terkenal
adalah al kindi, al farabi, dan ibnu sina. Mereka inilah yang
dulu pernah membangun kejayaan islam pada periode
pertengahan.
Namun nasib dunia islam pada gilirannya tidak
kalah menyedihkan dari dunia barat. Setelah berhasil
melahirkan tokoh tokoh kenamaan . dunia muslim
kemudian dijejali oleh teolog teolog yang anti filsafat. Para
teolog yang di komandoi oleh al- ghazali ini menyerang
para filosof. Serangan itu mengaitkan antara ajaran filsafat
dengan kekafiran, bahwa siapapun yang menganut ajaran
ajaran filsafat ketuhanan tertentu akan menjadi kafir.
Akibatnya, filsafat kemudian di tinggalkan dan di
anggap sebagai warisan asing yang tidak selayaknya di
masukan dalam wacana keilmuan islam. Dunia muslim lalu
mengalami masa kemundurannya. Bahkan sebagian peneliti
menganggap bahwa sejak al ghazali menyerang para
filosof, praktis filsafat di dunia muslim mati. Dalam pada
itu ternyata bangsa barat bangkit mereka menyadari
kekeliruaanya yang telah membuang filsafat dan kemudian
bangkit meraih sisa sisa peradaban ilmiah yang dulu pernah
tumbuh. Kebangkitan itupun disusul dengan pencerahan.
Kesadaran itu ternyata merata di seluruh negeri
eropa. Di inggris, misalnya, George Berkeley (1685-1753),
di prancis ada Voltaire (1694-1778), dan Rousseau (1712-
1778), di jerman terdapat Immanuel Kant (1724-1804).13

4. Kemajuan ilmu zaman renainsans dan modern.


Michelet, sejarawan terkenal, adalah orang pertama
yang menggunakan istilah renainsans. Agak sulit
menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan,
zaman renainsans, dan zaman modern. Sementara orang
menggangap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari
zaman renainsans.
Renainsans adalah periode perkembangan
peradaban yang terletak sesudah abad kegelapan sampai
muncul abad modern. Ciri utama renainsans yaitu
humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisme, dan
rasionalisme. Sains berkembang karna semangat dan hasil
empirisme. Sedangkan Kristen semakin di tinggalkan
karena semangat humanisme.
Pengaruh ilmu pengetahuan islam atas eropa yang
sudah berlangsung sejak abad 12 M itu menimbulkan
gerakan kebangkitan kembali pusaka yunani di eropa pada
14 M. berkembangnya pemikiran yunani kali ini melalui
terjemahan terjemahan arab yang di pelajari kemudian
diterjemahkan kembali dalam bahasa latin. Walaupun islam
akhirnya terusir dari negeri spanyol dengan cara yang
sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan gerakan
penting di eropa. gerakan gerakan itu adalah kebangkitan
kembali kebudayaan yunani klasik (14 M), rasionalisme (17
M), dan pencerahan (18 M).
5. Pencapaian ilmu zaman kontemporer.
Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masi
berlangsng hingga saat ini. Zaman ini di tandai dengan

13
Sibawaihi, Filsafat Ilmu, Jogjakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan
Kalijaga 2011
adanya teknologi teknologi canggihdan spesialisasi ilmu
ilmu yang semakin tajam dan mendalam. Pada zaman ini
bidang fifika menempati kedudukan paling tinggi dan
banyak di bicarakan oleh para filsuf. Fisikawan yang paling
terkenal adalah Albert Einstein. Dia mengemukakan teori
relativitas dan juga banyak menyumbang pengembangan
mekanika kuantum, mekanika statiistik dan kosmolagi. Dia
di anugerahi penghargaan nobel dalam fisika pada tahun
1921 untuk penjelasan tentang efek fotoelektrik dan
“pengabdiannya bagi fisika teoretis”.
Pada zaman ini juga melihat integrasi fisika dan kimia, pada
zaman ini disebut dengan “ sains besar”. Selain kimia dan
fisika, teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat
pada zaman ini, terdapat beberapa penemuam diantaranya :
listrik, elektronika, robotika, TV dan radio, teknologi nuklir,
mesin transportasi, computer, internet dll.
Kini penemuan terbaru di bidang teknologi telah muncul
kembali, sumber lain memberitahukan penemuan “memristor”
caranya, memori yang bisa mempertahankan informasi bahkan
ketika powernya mati, sehingga tidak perlu ada jeda waktu
untuk computer untuk boot up, misalnya ketika dinyalakan
kembali dalam kondisi mati. 14

6. Cara Mengembangkan Filsafat


a.Kembangkan cara melakukan investigasi dan terapkan
Dengan kata lain menemukan cara-cara yang bisa
menjelaskan dan menggambarkan struktur dasar dan
pola-pola kehidupan, seringkali dengan cara memilahnya
ke bagian-bagian yang lebih kecil.
b.Mulailah menulis pandangan-pandangan

14
Azwar, Welhendri, Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu, Jakarta: kencana 2019 hal
25-46
Tulislah apa pemikirannya. Tentang subyek
penelitiannya termasuk pandangan yg sekiranya tidak
perlu ditulis.
c.Kembangkan filsafat kehidupan
Saat menulis, mulailah mengembangkan wawasan
filosofis anda sendiri yang akan membawa anda ke
gagasan-gagasan yang logis dan benartentang kehidupan
di dunia ini.
d.Tulis ulang dan dapatkan umpan balikBeberapa konsep,
anda harus mengelola gagasan-gagasan secara lebih
teratur dan biarkan orang lain membaca tulisan anda.15

Kesimpulan
Landasan ilmu pada zaman yunani kuno diperantarai oleh tiga filsafah
besar dari yunani yaitu, Socrates, Plato dan Aristoteles.Perkembangan ilmu dalam
islam berlangsung kira-kira abad ke 7 M sampai abad 14/15 M, karakteristik
pembahasan filosofis ilmiahnya berpusat pada masalah ketuhanan, teosentris.
Kemajuan ilmu zaman renainsans dan modern, renainsans sendiri artinya adalah
periode perkembangan peradaban yang terletak sesudah abad kegelapan sampai
muncul abad modern. Pencapaian ilmu zaman kontemporer bermula dari abad 20
M dan hingga saat ini. Zaman ini ditandai dengan semakin berkembangnya
teknologi-teknologi canggih dan spesialisasi ilmu-ilmu yang semakin tajam dan
mendalam. Perkembangan ilmu sesungguhnya tidak bisa di lepaskan dari rasa
keingintahuan yang besar diiringi dengan usaha yang sunguh sungguh melalui
penalaran, percobaa, penyempurnaan, dan berani mengambil resiko tinggi
sehingga menghasilkan penemuan-penemanyang bermanfaat bagi suatu generasi
dan menjadi acuan pertimbangan bagi generasi selanjutnya untuk mengoreksi,
menyempurkanan, mengembangkan, dan menemukan penemuan selanjutnya.

15
Sibawaihi, Filsafat Ilmu, Jogjakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan
Kalijaga, 2011
Daftar Pustaka

Azwar. welhendri. 2019. Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu.Jakarta: kencana.

Nasution Ahmad taufiq. 2016. Filsafat ilmu. Yogyakarta: CV budi utama.

Sibawaihi. 2011. Filsafat Ilmu Jogjakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN
Sunan Kalijaga.

Sutrisno.2019.Menjadi Seorang Filsuf di https://id.wikihow.com (diakses pada 22


oktober).
Hakekat Pengetahuan

Pendahuluan

Filsafat adalah sudut pandang tentang segala sesuatu yang ada; berupa
yang empiris dan metafisika secara menyeluruh, radikal dan sistematis.
Sedangkan ilmu adalah metode untuk mengkaji sasaran kajian. Secara ringkas
filsafat ilmu adalah metodologi berfikir terhadap yang empiris maupun metafisika,
secara menyeluruh, radikal dan sistematis.

Menurut Conny semiawan, filsafat ilmu adalah ilmu yang berbicara


tentang ilmu pengetahuan yang kedudukannya diatas ilmu lainnya. Menurut Jujun
suria sumantri, filsafat ilmu adalah bagian dari epistemologi (filsafat ilmu) yang
ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakekat ilmu, yaitu
ontologis, epistemologis, aksiologis. Menurut A. Cornelius Bejamin filsafat ilmu
merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah, kususnya
mengenai metode, konsep-konsep dan pra anggapan, serta letaknya dalam
kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual. Sehingga filsafat
ilmu menurut para ahli adalah suatu ilmu metode, konsep-konsep serta pra
anggapan untuk mengkaji pengetahuan secara sistematis, yang melingkupi dari
sisi ontologis, epistimologis, dan aksiologis.

Ilmu pengetahuan merupakan cabang dari pengetahuan, pengetahuan


merupakan cabang dari filsafat ilmu, dan filsafat ilmu merupakan cabang dari
filsafat. Sehingga pengetahuan itu bagian dari filsafat ilmu, sedangkan filsafat
ilmu cabang dari filsafat. Pengetahuan (knowledge) lebih luas dari pengetahuan
ilmiah (science). Pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan hanya salah satu jenis
pengetahuan yang memiliki ciri-ciri khusus. Thomas Huxley mengemukakan
bahwa inti sains tidak lebih dari akal sehat yang terlatih dan tertata.16

16
Lubis, Akhyar Yusuf: Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta 2016 Hal. 64
Pembahasan

Dalam hal ini, mungkin dapat dipahami sebagai berikut:

FISAFAT→ FILSAFAT ILMU → PENGETAHUAN →


PENGETAHUAN DAN PENGETAHUAN ILMIAH.

Filsafat memiliki cabang yaitu filsafat ilmu, cabang dari filsafat ilmu yaitu
pengetahuan, Pengetahuan secara umum ada dua yaitu pengetahuan sendiri dan
pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan).

A. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan memiliki arti sebagai hasil yang dapat ditemukan
pada seseorang berdasarkan hasil akal dan pengamatan. Bisa dikatakan
juga bahwa pengetahuan merupakan suatu informasi yang sudah dipadu
dengan pemahaman serta potensi untuk memutuskan dan selanjutnya
terekam pada pikiran setiap orang.
Menurut notoatmodjo pengetahuan memiliki arti yakni suatu
kekuatan yang didapatkan dari pengetahuan setelah orang tersebut
melakukan penginderaan jauh.
Menurut pudjawidjana, pengetahuan memiliki definisi sebagai
reaksi dari setiap orang dan di terima dengan rangsangan terhadap alat
terkait kegiatan indera penginderaan jauh di objek tertentu.
Contoh dari wujud pengetahuan adalah pada saat seseorang yang
sudah biasa untuk mencicipi makanan baru, maka ia akan mendapatkan
pengetahuan mengenai bentuk, rasa, serta aroma dari makanan yang baru
dicicipinya tersebut.17
B. Jenis-Jenis Pengetahuan
a. Pengetahuan Langsung (Immediate)
Adalah pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa tanpa melalui
proses penafsiran pemikiran.
b. Pengetahuan Tak Langsung (Mediated)
Adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berfikir serta
pengalaman yang lalu.
17
Haryanto, Pengertian pengetahuan definisi jenis dan factor beserta tingkatannya
menurut para ahli, https://www.ruangguru.co.id/pengertian-pengetahuan-definisi-jenis-dan-faktor-
beserta-tingkatannya-menurut-para-ahli/ (diakses pada 12/9/19 pukul 14:02)
c. Pengetahuan Inderawi (Perceptual)
Yaitu sesuatu yang dicapai melalui indera lahiriah.
d. Pengetahuan Konseptual (Conceptual)
Yang berarti bahwa pikiran manusia secara langsung tidak dapat
membentuk suatu konsepsi tentang objek dan perkara eksternal
tanpa berhubungan dengan alam eksternal.
e. Pengetahuan Particular (Particular)
Berkaitan dengan satu individu, objek atau realitas tertentu.
f. Pengetahuan Universal
Pengetahuan yang meliputi keseluruhan yang ada, seluruh hidup
manusia, misalnya agama dan filsafat.

Menurut al-Kindi, pengetahuan ada beberapa bagian:

a. Pengetahuan illahi/divine science, sebagaimana yang tercantum dalam al-


Quran yaitu pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad SAW dari
Allah SWT. Dasar pengeahuan ini adalah keyakinan.
b. Pengetahuan manusia/human science atau filsafat, dasarnya adalah rasio
atau pemikiran.
c. Pengetahuan indrawi, yaitu pengetahuan yang didapatkan dari segala
sesuatu yang dapat disentuh dan dirasakan dengan panca indra secara
langsung.
d. Pengetahuan ilmu, yaitu pengetahuan yang lapangannya adalah sesuatu
yangdapat diteliti.
e. Pengetahuan filsafat, adalah segala sesuatu yang didapatkan oleh akal budi
manusia yang alami dan nisbi (relatif, terbatas).

Menurut Soejono Soemargono, pengetahuan dibagi atas dua bagian, yaitu:


pengetahuan ilmiah dan non ilmiah. Pengetahuan non ilmiah ialah segenap hasil
pemahaman manusia atas atau mengenai barang sesuatu atau objek tertentu yang
terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pengetahuan ilmiah adalah segenap
hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah.
Jenis-jenis pengetahuanjuga dapat dilihat pada pendapat Plato dan
Aristoteles. Plato membagi pengetahuan menurut tingkatan pengetahuan sesuai
dengan karakteristik objeknya. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan Eikasia (khayalan) tingkatan ini merupakan tingkatan paling
rendah, ialah pengetahuan yang objeknya berupa bayangan atau gambaran.
b. Pengetahuan Pistis(subsansial) pengetahuan ini mngenai hal-halyang
tampak dalam dunia kenyataan atau hal yang dapat diindrai secara
langsung.
c. Pengetahuan Dianoya, adalah pengetahuan yang banyak berhubungan
dengan masalah matematik.
d. Pengetahuan Neosis atau Filsafat, pengetahuan yang objeknya adalah
“arche”, yaitu prinsip utama yang mencangkup epistimologik dan
metafisik.
Terdapat juga jenis pengetahuan, sebagaimana dikemukakan oleh Herbert
LSearles, seorang guru besar di Universitas Southern California, yaitu
pengetahuan murni (ilmu teoritika, pure science) dan pengetahuan terpakai(ilmu
praktika, applied science).
Selain pandangan bberapa pakar di atas, jenis pengetahuan secara lebih
menyeluruh dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dilihat dari objek materia dan objek
forma. Menurut objek materinya pengetahuan biasanya dibedakan atas:
1. Pengetahuan alam (natural science), yaitu pengetahuan yang objek
materinya adalah badan benda mati, benda hidup tumbuhan dan hewan.
2. Pengetahuan kemanusiaan (human science), yaitu pengetahuan yang objek
materinya berupa manusia dalam berbagai taraf hidupnya.
3. Pengetahuan ketuhanan (theologi), yaitu pengetahuan yang objek materinya
adalah tuhan sang pencipta.
Adapun menurut objek formanya pengetahuan dibedakan menjadi:
1. Pengetahuan filosofis, yaitu pengetahuan yang materinya menyelidiki objek
dari sujud pandang yang seumumnya.
2. Pengetahuan teoeitis, yaitu pengetahuan yang menyelidiki objek dari sudut
pandang khusus dengan menggunakan metode ilmiah.
3. Pengetahuan teknologis praktis 9terapan), pengetahuan ini menyelidiki
objek materinyadari sudut pandamg yang lebih khusus dan konkret dengan
menggunakan metode-metode yang bersifat empirik- eksperimental.
Penjelasan yang lebih simpel tentang jenis pengetahuan dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Pengetahuan biasa (common sense), yaitu pengetahuan yang digunakan
terutama untuk kehidupan sehari- hari, tanpa mengetahui seluk-beluk yang
sedalam- dalamnya dan seluas- luasnya.
2. Pengetahuan ilmiah, adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara
khusus, bukan hanya untuk digunakan sahja tetapi ingin mengetahui lebih
dalam dan luas mengetahui kebenarannya.
3. Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang tidak mengenal batas,
sehingga yang dicari adalah sebab-sebab yang paling dalam dan hakiki
sampai diluar dan diatas pengalaman biasa.
4. Pengetahuan agama, yaitu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan
lewat para Nabi dan Rosul-Nya yang bersifat mutlak dan wajib diikuti para
pemeluknya.18
C. Hakikat Dan Sumber Dalam Pengetahuan
1. Hakikat Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud
dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan,
dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini
meliputi emosi, tradisi, ketrampilan, informasi, akidah dan pikiran-pikiran.
Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan
kita dengan suatu perkara. Keluasan dan kedalaman kehadiran kondisi-
kondisi ini dalam pikiran dan jiwa kita sangat bergantung pada sejauh
mana reaksi, pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita dengan objek-
objek eksternal. John Dewey beranggapan bahwa pengetahuan itu
merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan observasi. Dalam
pengetahuan sangat mungkin terdapat dua aspek yang berbeda, antara lain:
a. Hal-hal yang diperoleh
Pengetahuan seperti ini mencakup tradisi, ketrampilan,
informasi, pemikiran-pemikiran, dan akidah-akidah yang
diyakini oleh seseorang dan diaplikasikandalam semua kondisi
dan dimensi penting kehidupan.
b. Realita yang terus berubah
Pada kondisi ini, seseorang mengetahui secara khusus
perkara-perkara yang beragam, kemudian ia membandingkan
perkara tersebut satu sama lain dan memberikan pandangan
atasnya, dengan demikian, ia menyiapkan dirinya untuk
mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih global.

18
DR. Nunu Burhanudin, Lc. , M. A. 2018-pratinjau. Filsafat ilmu. Hal 79-85
2. Sumber pengetahuan
Persoalan yang muncul tentang bagaimana terbentuknya pengetahuan
yang dimiliki olehmanusia dapat diperoleh melalui cara pendekatan apriori
maupun aposteriori. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber
pengetahuan, antara lain:
a. Empirisme
Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamannya, kebenaran pengetahuan hanya didasarkan pada fakta-
fakta yang ada dilapangan. Sumber utama untuk memperoleh
pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera.
Akal tidak berfungsi banyak, kalaupun ada itu pun sebatas ide yang
kabur.
b. Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian
pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan
akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap
objek.Intuisi
Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi
pemahaman yang tertinggi. Intuisi adalah suatu pengetahuan yang
langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi. Intuisi
mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya
bersifat analisis , menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh
penggambaran secara simbolis.
c. Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh allah kepada
mnusia lewat perantara para Nabi. Para Nabi memperoleh pengetahuan
dai Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan
waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas
kehendak Tuhan semesta alam.19

Kesimpulan

19
Suryadi, Hakikat sumber pengetahuan dan ukuran
http://makalahkuindonesia.blogspot.com/2017/12/hakikat-sumber-pengetahuan-dan-ukuran.html
(diakses pada 14/9/19 pukul 22.25)
1. Menurut notoatmojo pengetahuan adalah suatu kekuatan yang didapatkan
dari pengetahuan setelah orang tersebut melakukan penginderaanjauh.
2. Menurut pudjawidjana pengetahuanadalah sebagai reaksi dari setiap orang
dan di terimadengan rangsangan terhadap alat terkait kegiatan indera
penginderaanjauh di objek tertentu.
Jenis-jenis pengetahuan
1. Menurut Al Kindi
a. Pengetahuan Illahi/Divine Science
b. Pengetahuan Manusia/Human Science
c. Pengetahuan Indriawati
d. Pengetahuan Ilmu
2. Pengetahuan Filsafat
3. Menurut Soejono Soemargono
a. Pengetahuan Ilmiah
b. Pengetahuan Non Ilmiah
4. Menurut Plato dan Aristoteles
a. Pengetahuan Eikasia
b. Pengetahuan Pistis
c. Pengetahuan Dianoia
d. Pengetahuan Neosis Atau Filsafat
5. Menurut Herbert L
a. Pengetahuan Murni
b. Pengetahuan Terpakai
c. Hakekat Pengetahuan
Hal-hal yang diperoleh mencakup tradisi, keterampilan, informasi, pemikiran-
pemikiran, dan akidah. Realita yang terus berubah mendapatkan pengetahuan
yang lebih global.
1. Sumber pengetahuan
a. Empirisme
b. Rasionalisme
c. Intuisi
d. Wahyu
Daftar Pustaka

Burhanudin, Nunu. 2018.Pratinjau. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenamedia Grup

Lubis, Akhyar Yusuf: 2016. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta.
PT Raja Grafindo Persada

Suryadi. 2017. Hakikat sumber pengetahuan dan ukuran


http://makalahkuindonesia.blogspot.com/2017/12/hakikat-sumber-
pengetahuan-dan-ukuran.html (diakses pada 14/9/19 pukul 22.25)
Kebenaran Ilmiyah Menurut Filsafat Ilmu

A. Pendahuluan

Dalam sejarahnya manusia memiliki rasa ingin tau,berbagai persoalan men


dasar tentang dirinya ,berbagai jawaban pun banyak menimbulkan kontradiktif ant
ara satu sama lain . Manusia akan puas apabila ia mendapat memperoleh
pengetahuan mengenai apa yang dipermasalhakan dan lebih puas lagi apabila
pengetahuan yang diperoleh itu adalah pengetahuan yang benar, oleh karena itu
manusia, selalu ingin mencaari dan memperoleh pengetahuan yang benar. pengeta
huan tidak sama kriteria pengetahuanya karena sifat dan watak pengetahuan itu be
rbeda. Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua
cara yang dapat di tempuh oleh manusia yang dengan cara nonilmiah dan cara
ilmiah. Menurut ahli filsafat pengetahuan yang benar pada mulanya diperoleh
melalui cara nonilmiah dibanding dengan cara ilmiah, hal ini disebabkan oleh
keterbatasan daya pikir manusia. kebenaran boleh dikatakan tema yang tak pernah
tuntas untuk diangkat ke ranah akal dan batin manusia. Kebenaran menurut arti
leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan yang
sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh
pemahaman yang menyatu dalam bahasa logis, jelas, dan terpilah- pilah.

Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu
sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping
itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap- tahap metode ilmiah.
Pengetahuan ilmiah bersifat relatif, artinya kandungan kebenaran ini selalu
mendapatkan revisi atau diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir.
Kebenaran dapat diperoleh melalui pengetahuan inderawi, penegetahuan akal
budi, pengetahuan intuitif, dan pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan
otoritatif. Kata “ kebenaran” digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret
maupun abstrak (Abbas Hamami 1983). Jika subjek hendak menuturkan
kebenaran artinya adalah proporsisi yang benar. Proporsisi maksudnya adalah
makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement . Dan, jika subjek
menyatakan kebenaaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas,
sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena
kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai
itu sendiri. Dengan adanya berbagai macam kategori sebagaimana tersebut di atas,
maka tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memiliki
pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu
dengan yang lainnya.

Kebenaran, pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya


adalah bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui
sesuatu objek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya apakah
pengetahuan itu berupa (1) pengetahuan biasa atau biasa disebut juga knowledge
of the man in the street atau ordinary knowledge atau juga common sense
knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya
subjektif, artinya amat terkait pada subjek yang mengenal. Dengan demikian,
pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk
memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.

Pengetahuan jenis kedua (2) adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan


yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan atau
hampiran metodologis yang khas pula, artinya metodologi yang telah
mendapatkan kesepakatan diantara para ahli yang sejenis. Kebenaran yang
terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandingan
kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu
diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian,
pengetahan dalam kebenaran ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai
dengan hasil penelitian yang paling akhir dan mendapatkan persetujuan adanya
agreement dalam suatu konvensi para ilmuwan sejenis.

Pengetahuan jenis ketiga (3) adalah pengetahuan filsafati, yaitu jenis


pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang
sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis,
dan spekulatif. Sifat kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan filsafati
adalah absolut-intersubjektif. Maksudnya ialah nilai kebenaran yang terkandung
jenis pengetahuan filsafati selalu merupakan pendat yang selalu melekat pada
pandangan filsafat dari seorang pemikir filsafat itu serta selalu mendapat
pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang
sama pula. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain artinya dengan
pendekatan filsafat yang lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau
bahkan bertentangan atau menghilangkan sama sekali. Suatu contoh filsafat
metemaatika/ geometri dari Phytagoras sampai kini masih tetap seperti waktu
Phytagoras pertama kali memunculkan pendapatnya itu abad VI sebelum masehi.

Kebenaran jenis pengetahuan keempat (4) adalah kebenaran pengetahuan


yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat
dogmatis, artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan
yang telah tertentu sehingga pernyataan- pernyataan dalam ayat- ayat kitab suci
agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk
memahaminya itu. Implikasi makna dari kandungan kitab suci itu dapat
berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi
kandungan maksud dari ayat kitab suci tidak dapat dirubah dan sifatnya absolut.

Kebenaran yang kedua dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari


bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya
itu. Apakah ia membangunnya dengan penginderaan atau sense experience, atau
akal pikir atau rasio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi dari penggunaan alat untuk
memperoleh pengetahuna melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik
kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu
untuk membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indera
atau sense experience maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu
harus melalui indera pula, begitu juga dengan cara yang lain. Seseorang tidak
dapat membuktikan kandungan kebenaran yang dibangun oleh cara intuitif
dibuktikannya dengan cara lain cara inderawi misalnya. Jenis pengetahuan
menurut kriteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan (1)
pengetahuan inderawi (2) pengetahuan akal budi (3) pengetahuan intuitif (4)
pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif, dan pengetahuan-
pengetahuan yang lainnya. Sehingga implikasi nilai kebenarannya juga sesuai
dengan jenis pengetahuan itu.

Kebenaran pengetahuan yang ketiga adalah nilaia kebenaran pengetahuan


yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan yang dikaitkan atas
ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau
hubungan antara subjek dan objek, manakah yang dominan untuk membangun
pengetahuan itu, subjekah atau objek jika subjek yang berperan maka jenis
pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran dari pengetahuan yang
dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu
atau jika objek amat berperan maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang
alam atau ilmu- ilmu alam. Jadi dari pembahasan diatas kami akan memaparkan
apa itu hakikat kebenaran, bagaimana sifat dasar dari kebenaran itu sendiri dan
teori- teori yang terkelompok dalam kebenaran ilmiah.

B. Pembahasan

1. Hakikat Kebenaran

Kebenaran meruapakan suatu hal yang paling mutlak diperlukan untuk


membuktikan suatu kebenaran dari teori apapun pengetahuan yang kita dapatkan.
Namun kebenaran sendiri merupakan suatu bentuk dari rasa ingin tahu setiap
individu. Rasa ingin tahu itu sendiri terbentuk dari adanya kekuatan akal yang
dimiliki manusia yang selalu ingin mencari, memahami, serta memanfaatkan
kebenaran yang telah ia dapatkan dalam hidupnya. Manusia selalu mencari
kebenaran, jika manusia memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula
untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman
tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenaran manusia akan
mengalami pertentangan batin, konflik psikologis. Karena didalam kehidupan
manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup
yang dijalaninya, dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan
dalam hidupnya dimana selalu ditunjukan oleh kebenaran.
Kebenaran itu merupakan fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia
selalu mencari kebenaran itu membina dan menyempurnakannya sejalan dengan
kematangan kepribadiannya. Menurut para ahli filsafat itu bertingkat- tingkat,
bahkan tingkat tersebut bersifat hireakis. Kebenaran yang satu dibawah kebenaran
yang lain tingkat kualitasnya ada kebenaran relatif, ada kebenaran mutlak
(absolut).

Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran ilahi, ada kebenaran khusus
individual ada pula kebenaran umum universal. Ukuran kebenaran yaitu berfikir
merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran, apa yang
disebut benar oleh seseorsng belum tentu benar bagi orang lain, oleh karena itu
diperlukan ukuran atau kriteria kebenaran. Dalam pencarian kebenaran itu terjadi
berbagai perubahan gejala, peningkatan ataupun kemajuan bagi ilmu itu sendiri.
Tiga teori kebenaran itu pun mendukung pelaksanaan kegiatan ilmu itu secara
konkret, yaitu sebagai penerapan antara sisi teoritis dan sisi praktis,dan
kegunaanya.20

2. Sifat Dasar Kebenaran Ilmiah

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah artinya suatu


kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus
dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap- tahap untuk
memperoleh pengetahuan ilmiah-- yang pada hakikatnya berupa teori melalui
metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya
adalah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah
objek itu merupakan hal konkret atau abstrak. Pembicaraan tentang objek secara
rinci telah dijelaskan di muka. Lain dari pada itu juga, ilmu menetapkan langkah-
langkah ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu.

Kebenaran ilmiah selalu mempunyai paling kurang tiga sifat dasar sebagai
berikut: struktur yang rasionan-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan
(pragmatis). Pertama, yang dimaksudkan dengan struktur kebenaran ilmiah yang
20
Mukhtar Latif, Orientasi Ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu , Jakarta 2016,
hlm .100.
rasional-logis, adalah bahwa kebenaran ilmiah selalu dicapai berdasarkan
kesimpulan yang logisdan rasional dari proporsisi atau premis-premis tertentu.
Proporsisi -proporsisi ini dapat saja berupa teori atau hukum ilmiah yang sudah
terbukti benar dan diterima sebagai benar atau dapat pula mengungkapkan data
atau fakta baru tertentu. Dengan demikian, proporsisi yang menjadi kesimpulan
yang dianggap benar dapat diperoleh melalui deduksi atau melalui induksi. Kalau
dicapai melalui deduksi, itu berarti kesimpulan tersebut diperoleh sebagai
konsekuensi logis dari proporsisi tertentu yang dianggap benar.

Proporsisi yang dianggap benar ini dipakai sebagai asumsi teoritis. Kalau
dicapai melalui induksi, berarti yang dilakukan adalah suatu proses generalisasi
yang mengungkapkan hubungan tertentu diantara berbagai fakta yang telah
ditemukan.Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, semua orang yang rasional,
yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik, bisa memahami
kebenaran ilmiah ini. Atas dasar ini, kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai
kebenaran yang berlaku universal. Artinya proporsisi, kesimpulan, atau teori yang
diterima sebagai bena, tidak hanya benar bagi orang tertentu tetapi benar bagi
semua orang yang dapat menggunakan akal budinya dengan baik. Salah satu
catatan yang perlu diberikan disini adalah bahwa sifat rasional perlu dibedakan
dari sifat “masuk akal” (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku bagi
kebenaran ilmiah. Sifat “masuk akal” ini terutama berlaku bagi kebenaran tertentu
yang berada diluar lingkup ilmu pengetahuan. Contohnya tindakan marah,
menagis, dan semacamnya dapat sangat masuk akal walupun mungkin tidak
rasional.

Sifat empiris dari kebenaran ilmiah mau mengatakan bahwa


bagaimanapun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada.
Bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah berkaitan dengan
kenyataan empiris dalam dunia ini. Ini tidak berarti tidak ada spekulasi dalam
ilmu pengetahuan. Spekulasi itu tetap ada, tetapi sampai tingkat tertentu spekulasi
itu bisa dibayangkan sebagai real atau tidak karena kendati suatu pernyataan
dianggap benar bsecara logis, perlu pula di cek apakah pernyataan tersebut juga
benar secara empiris. Sifat pragmatis terutama mau menggabungkan kedua sifat
kebenaran diatas. Dalam arti kalau kalau sebauah pernyataan dianggap benar
secara logis dan empiris, pernyatan tersebut juga harus berguna dalam kehidupan
manusia, yaitu berguna untuk membantu manusia memecahkan berbagai
persoalan dalam hidup manusia.21

Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif,


maksudnya ialah bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi lagi aksioma
atau paradigma harus di dukung oleh fakta- fakta yang berupa kenyataan dalam
keadaan objektivanya. Kebenaran yang benar- benar lepas dari keinginan subjek.
Kenyataan yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu yang dapat
dipakai acuan atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam
pembentukan pengetahuan ilmiah itu.

Mengacu pada status ontologis objek, maka pada dasarnya kebenaran


dalam ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran
korespondensi atau teori kebenaran koherensi. Ilmu- ilmu kealaman pada
umumnya menuntut teori kebenaran korespondensi, karena fakta- fakta objektif
amat dituntut dalam pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan
(statement). Akan tetapi berbeda dengan ilmu- ilmu kemanusiaan, ilmu- ilmu
sosial, ilmu logika dan matematik. Ilmu- ilmu tersebut menuntut konsistensi dan
koherensi diantara proposisi- proposisi, sehingga pembenaran bagi ilmu- ilmu itu
mengikuti teori kebenaran koherensi.

Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam hal
kebenaran ini yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil
persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya. Para ilmuwan ini
pada umumnya mereka adalah para sarjana. Disebabkan oleh karena itulah maka
sifat kebenaran ilmu memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat
dipertahankan. Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan
kebenaran yang disepakati dalam konvensi, maka keuniversalan sifat ilmu masih

21
Sonny Kreaf Mikhael Dua, Ilmu pengetahuan sebuah tinjauan filosofis,
Yogyakarta 2001, hal.75.
dibatasi oleh penemuan- penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya
menolak penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Jika terdapat hal
semacam ini maka diperlukan suatu penelitian ulang yang mendalam. Dan jika
hasilnya memang berbeda maka kebenaran yang lama harus diganti oleh
penemuan baru atau kedua- duaanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas
kebenarannya masing- masing. Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri
Euklides dan teori geometri Reinman yang bersama- sama dengan Labocevsky
tentang jumlah sebesar 3 sudut dari suatu segitiga. Atau contoh lain adalah tentang
peraalihan teori tentang pusat alam raya dari bumi menjadi matahari atau bahkan
teori baru menunjukan bahwa pusat alam raya ada pada pusat galaksi bima sakti.

3. Teori kebenaran ilmiah

Kebenaran adalah kenyataan. tetapi kenyataan tidak selalu yang seharusnya terj
adi.kenyataan yang terjadi bias saja berbentuk ketidak benaran atau keburukan .Ja
di ada dua arti kebenaran yaitu kebenaran yang berarti nyata” terjadi di suatu piha
k dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan dan ketidak benaran. Istilah
kebenaran ilmiah dimaksudkan sebagai istilah yang sama sekali berbeda dengan
kebenaran non-ilmiah. Kebenaran ilmiah dibangun dari proporsi, bukan sekedar
pernyataan biasa. Proporsi lebih ditunjukan pada makna atau semantik. Selaras de
ngan poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengetahuan dan
obyeknya itulah yang di sebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus dengan a
spek dari obyek yang diketahuai jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obye
ktif.

Dalam kamus dijelaskan ilmiah berasal dari kata ilmu yang artinya penget
ahuan.namun dalam kajian filsafat ilmu dan pengetahuan dibedakan.pengetahuan
bukan ilmu akantetapi ilmu merupakan hasil akumulasi pengetahuan.sedangkan y
ang di maksud ilmiah adalah pengetahuan yang didasarkan atas terpenuhnya syara
t” ilmiah, terutama menyangkut teori yang menunjang dan sesuai bukti.

Teori-teori yang terkelompokan mengenai kebenaran ilmiah

a. Teori Kebenaran Korespondensi


Teori ini dikenal sebagai salah satu teori kebenaran tradisional (White,
1978), atau teori yang paling tua, hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Hornie
(1952) dalam bukunya Studies in Philosophy menyatakan “The theory
Correspondence theory is an old one”. Teori ini menyatakan bahwa “that it is true
that p if and only if p” hal ini sesungguhnya mengacu pada pendapat Aristoteles
sebagaimana di terangkan oleh White (1978) yang menyatakan “to say of what is
that it is or of what is not that is not, is true”. Sehingga, menurut teori
korespondensi ini sebagaimana di kemukakan oleh Moore yang dikutip oleh Alan
R. White “since p is true if and only it p, then when what is said e.g.p is true”.
atau dengan kata lain sebagimana dikemukakan oleh Hornie (1952) bahwa “it
affirms that our thoughts or ideaas are true or false according as they agree
(correspond), or do not agree, with a fact such as I think it to be”. Hal yang
demikian juga sesuai dengan pendapat Kattsoff (1986) yang menyatakan bahwa “
Kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian (correspondence) antara makna
yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh- sungguh
merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta- faktanya.

Oleh karena uraian- uraian di atas itulah, maka dapat disimpulkan bahwa
teori korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal dan paling tua yang
berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan bahwa segala
sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan
yang dikenal oleh subjek (Ackerman, 1965) Atau dengan kata lain adalah suatu
pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai saling
kesesuaian dengan kenyataan yang di ketahuinya, atau sebagaimana dikemukakan
oleh Randal dan Buchler dalam bukunya Philosophy an Introduction ,
menyatakan bahwa “A belief is called “true”if it “agrees” with a fact”.

Korespondensi berarti kesesuaian. Hal ini berarti bahwa teori kebenaran


korespondensi menyatakan bahwa sebuah proposisi dianggap benar apabila sesuai
dengan objek yang dituju, atau pertanyaan itu sesuai dengan fakta .Ujian sebenarn
ya didasarsan atas teori korespondensi paling diterima luas oleh kelompok realis,
menurut teori ini kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif. Kebenaran a
dalah persesuaian antara perrnyatan tentang fakta dan fakta itu sendiri,atau antara
pertimbanagan dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu, serta berusaha untuk
melukisnya.

Karena kebenaran mempuyai hubungan erat dengan pernyataan atau pem


beritaan yang kita lakukan tentang sesuatu.jadi secara sederhana teori koresponde
nsi adalah kesesuainan antara pernyataan dengan kenyataan. Contoh:Jakarta ibuko
ta Indonesia, Indonesia terdiri dari beberapa suku. Teori kebenaran korespondensi
dapat dinisbatkan pada Aristoteles (384-348/SM). filosof ini tidak lain adalah
murid dari Plato. Tapi berbeda dari gurunya yang membedakan realitas menjadi
idea dan non-idea lalu terkesan merekomendasikan idea, Aristoteles justru
mengkritik sang guru yang terlampau mengandalkan unsur idea manusia. Bagi
Aristoteles, kesempurnaan manusia tidak hanya disebabkan oleh rasionalitasnya
tapi juga berdasarkan bentuknya yang memang sempurna. Karenannya hal-hal
yang bersifat inderawi juga menjadi syarat kesempurnaan tersebut. Pandangan
Aristoteles ini kemudian diadopsi oleh pengusung realisme seperti Rogers dan
Bertarnd Rusell, dan tidak kalah dukungannya adalah kalangan penganut
positivisme. Validitas teori kebenaran korespondensi diuji hanya secara empiris.
Maka tidak salah dikatakan bahwa pendukung teori kebenaran ini adalah para
pendukung empirisme.

b. Teori Koherensi

Teori kebenaran lain yang dikenal tradisional juga adalah teori kebenaran
koherensi. Teori koherensi dibangun oleh para pemikir rasionalis seperti Leibniz,
Spinoza, Hegel dan Bradely. Menurut teori koherensi sebagaimana dikemukakkan
oleh White yaitu :

“to say that what is said (usually called a judment, belief, or proposition) is true or
false is to say that is coheres are said., that it is a member of a system whose
elements are related to each other by ties of logical implication as the elements in
a system of pure mathematics are related “.
Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy
“….suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling
berhubungan dengan proposisi- proposisi lain yang benar, atau jika makna yang di
kandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita”.

Dengan memperhatikan dua kutipan yang bernada sama maka dapat


diungkapkan dengan bahasa yang lebih sederhana bahwa teori kebenaran
koherensi atau teori kebenaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau
makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar bila proposisi itu
mempunyai hubungan dengan ide- ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai
benar. Sebagai contoh kita sebagai bangsa Indonesia pasti memiliki pengetahuan
bahwa Indonesia di proklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus
1945 bertepatan dengan hari jumat tanggal 17 Ramadhan. Jika seseorang hendak
membuktikannya tidak dapat langsung melalui kenyataan dalam objektivanya,
karena kenyataan itu berlangsung 50tahun yang lalu. Untuk membuktikannya,
maka harus melalui sejarah atau dapat diafirmasikan kepada orang-orang yang
mengalami atau mengetahui kejadian tersebut. Dengan demikian kebenaran dari
pengetahuaan itu dapat diuji melalui kejadian - kejadian sejarah, atau juga
pembuktian proposisi itu melalui hubungan logis jika pernyataan yang hendak
dibuktikan kebenarannya berkaitan dengan pernyataan- pernyataan logis atau
matematis.

Bedasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu b
ersifat koheran atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap bena
r. Artinya pertimbangan adalah benar jika bersifat konsisten dengan pertimbangan
lain yang telah diterima kebenaranya , yaitu menurut logika. Cikal bakal teori
kebenaran koherensi berasal dari Plato (428/7-348/7 SM). filosof ini membedakan
realitas anatara idea dan non-idea. Idea adalah dunia gagsan, pikiran, ruh dan jiwa,
sedangkan non idea adalah dunia fisik dan jasmani. Non idea terlihat kasat mata
sehingga terkesan menarik dan menjanjikan bagi stiap orang. Namun sifatnya
tidaklah sebaik penampilannya sebab ia bersifat sementar dan hancur pada
saatnya. Sedangkan idea meski tidak terlihat karena hanya bersifat gagasan dan
ruhani namun unsur inilah sesungguhnya yang bersifat abadi dan dan tidak
hancur.

Dengan demikian, dunia idea adalah dunia yang sempurna dan sejati karena di
situlah ada rasionalitas yang membuat manusia mencapai taraf kesempurnaannya
dan ada jiwa yang memungkinkan manusia memiliki sifat-sifat luhur
kemanusiaan. Dapat dikatakan juga teori ini adalah keruntutan pernyataan. Perny
ataan-pernyataan dikatan benar apabila ada keruntutan di dalamnya, artinya perny
ataan satu tidak bertentangan dengan pernyataan dengan yang lain. Contoh: semua
manusia membutuhkan air, saya seorang manusia, jadi, saya membutuhkan air.

C. Teori Kebenaran Pragmatis

White (1978) dalam bukunya Truth; Problem in Philosophy, menyatakan


teori kebenaran tradisional lainnya adalah teori kebenaran pragmatik. Paham
pragmatik sesungguhnya merupakan pandangan filsafat kontemporer karena
paham ini baru berkembang pada akhir abad XIX dan awal abad XX oleh tiga
filsuf Amerika yaitu C.S. Pierce, William James, dan John Dewey. Menurut
paham ini White lebih lanjut menyatakan bahwa :

“...an idea --a trem used loosley by these philosophers to cover any
“opinion, belief, statement, or what not “--

Is an instrutment with a particular function. A true ideas is one which


fulfills its function, wich works,

A false ideas is one does not”.

Kattsoff (1986) menguraikan tentang teori kebenaran pragmatis ini yaitu


bahwa penganut pragmatisme meletakan ukuran kebenaran dalam salah satu
macam konsekuensi atau proposisi itu dapat membantu untuk mengadakan
penyesuain- penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman- pengalaman,
pernyataan itu adalah benar.
Pragmatis berarti bersifat praktis dan berguna . kebenaran pragmatis
berarti kebenaran yang diukur berdasarkan kegunaannya secara praktis. Dengan
demikian pemikiran dianggap benar apabila pemikiran itu dapat berguna bagi
kehidupan. Jadi, tidak cukup bila suatu pernyataan dilihat secara korespondensi at
au koherensi. Hal yang lebih penting adalah apakah pernyataan itu dapat dilaksana
kan, ditindaklanjuti dalam perbuatan yang bermanfaat. Apabila sesuatu itu berman
faat bagi manusia berarti sesuatu itu benar.

Apabila suatu ide itu yang brilian dapat dilaksanakan secara operasional b
arulah ide tersebut benar. Contoh: pernyataan semua besi bila di panaskan akan m
emuai” memberikan kebenaran pragmatis bagi rtukang pandai besi atau pabrik unt
uk mengolah besi sehingga menjadi alat-alat bermanfaat bagi manusia. Pengusung
teori kebenaran pragmatis tidak lain adalah filosof pragmatisme itu sendiri
terutama pelopornya Charles S. Peirce (1839-1914). meyakini bahwa segala
sesuatu yang dipertimbangkan dan dikerjakan harus dipikirkan secara matang
berdasarkan apakah sesuatu itu dapat memberi manfaat atau tidak dan seberapa
besar manfaat yang bisa diberikan sehingga menutupi segala kelemahan yang ada.

Jadi menurut pandangan teori ini bahwa suatu proposisi bernilai benar bila
proposisi itu mempunyai konsekuensi- konsekuensi praktis seperti yang terdapat
secara inheren dari pernyataan itu sendiri. Karena setiap pernyataan selalu terikat
pada hal- hal yang bersifat praktis, maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak,
yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala yang dianggap benar
dalam perkembangannnya pengalaman itu senantiasa berubah. Hal itu karena
dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman
berikutnya. Atau dengan kata lain bahwa suatu pengertian itu tidak pernah benar
melainkan hanya dapat menjadi benar kalau saja dapat dimanfaatkan secara
praktis.

c. Teori Kebenaran Sintaksis


Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani” sun” dengan dan tatein
“menempatkan”. jadi secara etimologis sintaksis berarti menempatkan bersama -
sama kata - kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok- kelompok
kata menjadi kalimat. Sintaksis merupakan sub-bidang dari linguistik.

teori kebenaran Sintakis adalah suatu teori yang mengatakan bahwa suatu
pernyataan dinyatakan benar atau memiliki nilai benar jika sesuai dengan sintaksis
atau susunan kaidah gramatika{tata Bahasa} yang baku. Teori ini berkembang di
kalangan filsuf analisa Bahasa yang salah satu tokohnya adalah friederich schleier
marcher {1768-1834} yang menyatakan adanya dua momen yang paling berkaitan
dengan adanya unsur kebenaran dalam suatu pernyataan, yaitu momen tata bahasa
/gramatika dan momen kejiwaan.

Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada


keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata-
bahasa yang melekatnya. Teori kebanaran sintaksis berpangkal pada keteraturan
sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang
melekatnya. Dengan demikian pernyataan dianggap benar jika pengetahuan itu
mengikuti aturan -aturan sintaksis yang baku , atau dengan kata lain apabila
proporsisi tidak mempunyai syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan, maka
proporsisi itu mempunyai arti.22

Teori ini berkembang diantara para filsuf analisa bahasa, terutama yang
begitu ketat terhadap pemakaian gramatika seperti Friederich Schleirmacher
(1768-1834). Menurut Schleiermacher sebagaiman dikutip oleh Poespoprojo
(1987), pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekspresi yang selesai
diungkapkan menjurus kembali ke suasana kejiwaan dimana ekspresi tersebut
diungkapkan. Disini terdapat dua momen yang saling terjalin dan berinteraksi,
yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan.

d. Teori Kebenaran Simantis

22
Suryani Hendrayadi , metode riset kuantitatif teori dan aplikasi pada penelitian
bidang manajemen dan ekonomi islam, Jakarta 2015, hal.16-17.
Teori kebenaran semantis dianut oleh filsafat analitika bahasa yang
dikembangkan oleh Bertrand Russel sebagai pelopor filsafat analitika bahasa.
Teori kebenaran semantis menyatakan bahwa proporsisi itu memiliki makna/arti.
Teori ini dianut oleh paham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan pasca-
filsafat Bertrand Rusel (1872-1970). pengetahuan dinyatakan benar jika ada
refrensi yang jelas. Jika tidak mempunyai refrensi yang jelas, maka pengetahuan
itu dapat dinyatakan salah.

Teori kebenaran semantis, sebenarnya berpangkal atau mengacu pada


pendapat Aristotles sebagaimana yang digambarkan oleh White (1978) yaitu “To
say of what is that it is or of what is not, is true,” atau bahkan mengacu pada teori
tradisionalkorespondensi yang mengatakan “….that truth consists in
correspondence of what is said and what is fact”

menurut kebenaran teori simantis, suatu proposi memiliki nilai benar di tinjau d
ari segi arti atau makna. Apakah pernyataan itu mempunyai pangkal tumpu, atau
rujukan yang jelas ? pernyataan itu , menunjukan makna yang sesungguhnya atau
bersifat definitif yang jelas dengan menunjukan ciri khas yang ada. Jadi, memiliki
arti maksudnya menunjuk pada referensi atau kenyataan, juga memiliki arti yang
bersifat definitif. Berlari lebih cepat dari pada berjalan. Matahari bersinar di siang
hari, bulan bercahaya dimalam hari. Pernyataan- pernyataan tersebut , adalah
suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal kebenarannya.

Di dalam teori kebenaran simantis ada beberapa sikap yang dapat


mengakibatkan apakah proporsisi itu memiliki arti esoterik, arbitrer, atau hanya
manakala berfungsi secara praktis. Arti yang terkandung dalam pernyataan amat
tergantung pada sikap pemakai makna makna pernyataan itu. Sikap itu antaralain
adalah sikap episte-mologis skeptis, sikap ini adalah kebimbangan taktis atau
sikap ragu untuk mencapai kepastian (certainity)dalam memperoleh pengetahuan.

Dengan sikap ini dimaksudkan agar dicapai makna yang esoterik yaitu makna
yang benar- benar pasti tak lagi mengandung keraguan lagi di dalamnya. Sikap
lain adalah sikap epistemologik yakin dan ideologik. Di dalam sikap ini
dikandung makna bahwa proporsisi itu memiliki arti namun arti itu bersifat
arbitrer atau sewenang - wenang atau kabur, dan tidak memiliki sifat pasti. Jika
diandaikan mencapai kepastian sebatas pada kepercayaan yang ada pada dirinya.
Serta sikap epistimologi pragmatik. Sikap ini menghasilkan makna pernyataan
amat terkait pada nilai praktis pada pemakai proposisi. Akibat semantiknya
adalah kepastian terletak pada subjek yang menggunakan pernyataan itu. Artinya
apakah pernyataan berakibat praktis atau konsekuensi praktis bagi pengguna
pernyataan itu.

Dengan demikian, teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proposisi itu


mempunyai nilai kebenaran bila proposisi itu memiliki arti. Arti ini dengan
menunjukan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada refrensi atau
kenyataan, juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitif
(arti yang jelas dengan menunjuk ciri yang khas dari sesuatu yang ada).

e. Teori Kebenaran Non-Deskripsi

Teori kebenaran non- deskripsi dipengaruhi oleh aliran fungsionalisme, ia


menekankan bahwa suatu pernyataan itu dikira benar bergantung pada peranan
atau fungsi pernyataan itu. Karena tekanannya kepada fungsi praktikal dalam
kehidupan harian, terdapat semacam persamaan dengan teori pragmatik tersebut.23

Karena pada dasarnya suatu statement atau pernyataan itu akan


mempunyai nilai benar yang amat tergantung peren dan fungsi daripada
pernyataan itu. White (1978) menggambarkan tentang kebenaran sebagaiman
dikemukakannya :

“...to say it is true that not many people are likely to do that “is a way
of agreeing with the opinion

That not many people are likely to do that and not a way of talking
about the opinion, much less

Of talking about the sentence used to express the opinion”.


23
Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu Analisis Konsep- Konsep
Asas dan Falsafah Pendidikan Negara, Kuala Lumpur, 2005, hal.69.
Menilik pernyataan di atas, pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh
pernyayaan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari- hari.
Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara
praktis dalam kehidupan sehari- hari. Oleh karena itulah White (1978) lebih lanjut
menjelaskan : “The theory non-descriptive gives us an important insight . into
function of the use of “true” and “false”, but not an analysis of their meaning”.

Jadi menurut teori ini suatu statemen atau pernyataan itu akan mempunyai
nilai benar ditentukan tergantung peran dan fungsi pernyataan itu mempunyai
fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari- hari. Sebagai contoh di dalam
budaya Indonesia dan budaya Jawa terdapat beberapa istilah yang maknanya
diketahui secara umum sehingga kadang - kadang tak diperlukan deskripsi arti
yang dikandungnya. Sebagai contoh istilah “kiri”memiliki banyak arti tetapi arti
itu pada umumnya tak perlu lagi ditunjukan maknanya.

f. Teori Kebenaran Logika yang Berlebihan

Teori kebenaran ini dikembangkan oleh kaum positivistik yang diawali


oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini logika yang berlebihan
problematika kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja sehingga
merupakan pemborosan, oleh karena setiap pernyataan yang hendak dibuktikan
kebenarannya memiliki derajat logis yang sama dan masing - masing saling
melingkupinya. Sesungguhnya setiap proposisi yang bersifat logis dengan
menunjukan bahwa proposisi mempunyai substansi yang sama.

Artinya objek pengetahuan itu sendiri telah menunjukan kejelasan dalam


dirinya sendiri. Misalnya : lingkaran itu bundar, bola itu bundar adalah sudah
sesuatu yang pasti kebenarannya dengan objeknya itu sendiri tanpa harus
dinyatakan demikian.24Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu
pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenarannya sesungguhnya telah
merupakan fakta atau data yang telah memiliki evidensi, artinya bahwa objek

24
Nurul Qommar dan Salleh, logika dan Penalaran dalam Ilmu Hukum, CV. Social
Politic Genius , 2018, hal.31.
pengetahuan itu sendiri telah menunjukan kejelasan dalam dirinya sendiri
(Gallagher 1984).

H. Teori kebenaran performativ

Teori kebenaran ini mengandaikan bahwa sebuah pernyataan yang


dianggap benar apabila pernyataan itu dapat menciptakan realitas. Dengan kata
lain kebenaran performatif mengandaikan bahwa suatu proporsisi dapat dipandang
benar apabila dapat diwujudkan dalam wujud tindakan konkret. Diantara
pendukung teori kebenaran performatif adalah Frank Ramsay, Jhon Auistin, dan
Peter Strawson.

Teori ini menantang teori klasik bahwa benar -salah adalah ungakapan yang hanya
menyatakan sesuatu (deskriptif) yang sudah ada. Para pendukungnya lebih
memilih untuk meyakini bahwa kebenaran itu hanya bisa dinyatakan hanya untuk
hal-hal yang belum tercipta sebelumnya, dan lewat suatu pertnyataan yang
dimunculkan barulah kebenaran itu baru bisa ditegaskan. Dengan demikian ,
pernyataan-pernyataan performatif merupakan pernyataan-pernyataan yang harus
dibarengi dengan fakta atau realitas.25

C.Penutup

Kesimpulan

Pada dasrnya setiap proses mengetahui akan memunculkan suatu bentuk


kebenaran sebagai kandungan dari pengetahuan itu. Akan tetapi setiap kebenaran
pada saat pembuktiannya harus kembali pada status ontologis objek, sikap
epistimologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan terjadi ), dan
akhirnya dengan sikap aksiologis yang bagaimana.

Kebenaran meruapakan suatu hal yang paling mutlak diperlukan untuk


membuktikan suatu kebenaran dari teori apapun pengetahuan yang kita dapatkan.

25
Sibawaihi, Filsafat Ilmu Fakultas Tarbiyah Keguruan UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta,hlm.29
Namun kebenaran sendi. Kebenaran ilmiah dibangun dari proporsi, bukan sekedar
pernyataan biasa. Proporsi lebih ditunjukan pada makna atau semantikri
merupakan suatu bentuk dari rasa ingin tahu setiap individu. Artinya pengetahuan
itu harus dengan aspek objek yang diketahui. Jika pengetahuan benar adalah
pengetahuan obyektif. Sedangkan yang dimaksud kebenaran ilmiah adalah
kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Untuk
menentukan kepercayaan diri sesuatu yang dianggap benar, para filsof bersandar
kepada beberapa teori mengenai kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah muncul
melalui syarat ilmiah, metode ilmiah, didukung teori yang menunjang serta
didasarkan kepada data empiris dan dapat dibuktikan.

Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu
sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping
itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap- tahap metode
ilmiah.Kebenaran ilmiah selalu mempunyai paling kurang tiga sifat dasar sebagai
berikut: struktur yang rasionan-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan
(pragmatis). Kebenaran ilmiah dibangun dari proporsi, bukan sekedar pernyataan
biasa. Teori-teori yang terkelompokan mengenai kebenaran ilmiah, diantaranya
teori kebenaran korespondensi, koherensi,pragmatis, sintasis, simatik, logika yang
berlebihan,non deskripsi dan performativ.
Daftar Pustaka

Latif Mukhtar .2016. Orientasi ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu, Jakarta:


Kencana.

Mikhael Dua Sonny Kreatif. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis,
Yogyakarta: Kanisius.

Hendrayadi Suryani. 2005. Metode Riset Kuantitatif Teori dan Aplikasi Pada
Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam. Jakarta: Prenadamedia
Group.

Haji Abdulloh Abdullah Rahman. 2000. Wacana Falsafah Ilmu Analisis Konsep-
konsep Aasas dan Falsafah Pendidikan Negara. Kuala Lumpur: Sanon
Printing Corporation SDN BHD.

Qommar Nurul dan Salleh. 2018. Logika dan Penalaran Ilmu Hukum. CV. Social
Politic Genius .

Sibawaihi. Filsafat Ilmu. Yogyakarta :Fakultas Tarbiyah Keguruan UIN Sunan


Kalijaga,.
Dimensi Ontologi Ilmu

Pendahuluan

Filsafat adalah hasil akal seseorang manusia yang mencari dan


memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat dikatakan
sebagai hasil akal karena terkandung empat pertanyaan mendasar, yaitu
bagaimanakah, mengapakah, ke manakah dan apakah. Dengan ini sangat erat
sekali filsafat sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu. Cabang filsafat yang
membahas masalah ilmu adalah filsafat ilmu. Filsafat ilmu sebagaimana halnya
dengan bidang-bidang ilmu yang lain, juga memiliki objek material dan objek
formal tersendiri. Objek material adalah objek yang dijadikan sasaran
penyelidikan oleh suatu ilmu atau yang dipelajari oleh suatu ilmu. Sedangkan
objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek
materialnya. Misalnya, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa
fungsi pengetahuan bagi manusia? Problem inilah yang akan dibicarakan dalam
landasan pengembangan ilmu pengetahuan, yakni landasan pengembangan ilmu
pengetahuan, yakni landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pada
pembahasan ini, penulis akan lebih mengajak pembaca untuk lebih fokus tentang
landasan ontologi maupun dimensi yang berkaitan dengan ontologi. Landasan
ontologi pengembangan ilmu, dapat diartikan sebagai titik tolak penelahaan ilmu
pengetahuan didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis secara yang demikian
dimiliki oleh seorang ilmuan. Jadi, landasan ontologis sangat tergantung pada cara
pandang ilmuan terhadap realitas yang ada. manakala realitas ini berkaitan dengan
materi maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris. Dan manakala realitas yang
dimaksud adalah spirit atau roh, maka akan lebih terarah pada ilmu-ilmu
humaniora.

Lalu, apa manfaat kita belajar filsafat? Berdasarkan pembahasan diatas


penulis dapat menyimpulkan manfaatnya yaitu: agar seseorang terlatih berpikir
serius, mampu memahami filsafat, mungkin bisa menjadi ahli filsafat dan menjadi
warga negara yang baik. Hal ini membuat para ilmuwaan mempunyai tanggung
jawab profesional, khusunya pada ilmu dan moral. Tiap-tiap pengetahuan
mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan
yang disusunnya. Komponen itu yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.26
Agar mendapatkan pembahasan yang jelas mengenai dimensi ontologi maka
kajian didekati dengan pengertian yang akan dijelaskan dibawah ini.

Dimensi berasal dari kata yang digunakan untuk menunjukkan sudut


pandang terhadap sesuatu, dari sudut kepentingan apa kita mengkaji ilmu
pengetahuan. Dimensi keilmuan diartikan sebagai pilihan kita bagaimana
memandang, melihat, atau megkaji ilmu pengetahuan, misalnya apakah kita akan
melihat ilmu pengetahuan dari sudut substansinya, lalu bagaimana cara
memperolehnya, lalu baru kita akan melihat manfaat dan nilainya. Lalu, apa
perbedaan antara ilmu dengan pengetahuan? Secara etimologi ilmu dalam bahasa
inggris dikenal dengan science, sedangkan pengetahuan dalam bahasa inggris
disebut dengan knowledge. Secara harfiah ilmu dapat dijabarkan dengan
akumulasi pengalaman yang sesuai dengan sistematik keilmuan dengan metode-
metodenya yang jelas, sedangkan pengetahuan adalah kepercayaan yang benar
(knowlegde is justified true belief). Untuk itu ilmu pengetahuan adalah keberadaan
suatu fenomena kehidupan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ontologi merupakan cabang filsafat ilmu yang membahas tentang hakikat


ilmu pengetahuan. Menurut Muhadjir (2011:63) ontologi membahas tentang
hakikat realitas. Dalam penelitian hakikat realitas dapat dilihat secara kuantitatif
yaitu pada aspek jumlah. Sedangkan secara kualitatif yaitu aliran-aliran dalam
ontologi, seperti idealisme, rasionalisme, matrealisme, dan sebagainya. Dapat
disimpulkan bahwa ontologi membahas tentang seluk beluk ilmu.

Pada asalnya pemikiran dibidang ontologi diperoleh dari sebuah


perenungan yang mendalam. Sehingga banyak orang yang mengalami persoalan
untuk menerangkan bagaimana hakikat dari segala hal ini? Pertama kali orang
dihadapkan dengan persoalan keberadaan (materi), kemudian pada kenyataan
yang berupa kejiwaan (rohani). Kedua realitas ini, yang menjadi hakikat keilmuan
manusia. Manusia mempunyai dua sumber ilmu yaitu (1) ilmu yang lahir,
26
Fuad Ihsan, “Etika Keilmuan” dalam buku Filsafat Ilmu, Februari 2010, hlm. 214
kasatmata yang bersifat observable, tangible (2) ilmu batin, metafisika, tidak
kasatmata, dan amat halus.

Pembahasan tentang hakikat sangatlah luas yaitu, membahas tentang


segala yang ada (dari dan akan kemana ada itu akan selalu digali) atau yang
mungkin ada. Sehingga dasar ilmu ini, menurut Aristoteles pembahasan untuk
menjawab “apa itu ada” dan mengenai esensi benda-benda (sesuatu). Untuk lebih
jelasnya perlu dikemukakan tentang pengertian dan aliran-aliran ontologi ini.
Pembahasan

A. Dimensi Ontologi
Kata dimensi digunakan untuk menunjukkan sudut pandang
terhadap sesuatu, dari sudut kepentingan apa kita mengkaji ilmu
pengetahuan. Pembedaan sudut pandang tersebut hanyalah sebagai
perbedaan kehendak, karena ketiga sudut pandang itu pada praktinya
berpikirnya tidak terpisahkan. Pada saat kita mempelajari substansi sesuatu
tidak terlepas dari keinginan untuk melihat bagaimana cara memperoleh,
mengembangkan, menggunakannya, dan apa manfaat dari yang dipelajari
tersebut. Semua hal tersebut tidak terlepas dari pengamatan studi filsafat
ilmu pengetahuan.
Secara etimologi, kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu :
Ontos : being, dan Logos : science. Dari pengertian diatas ontologi adalah
the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan). Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Rudolf Goclenius
pada tahun 1936 M, untuk menamai hakikat yang bersifat metafisis.
Rudolf Goclenius adalah seorang filsuf skolastik Jerman. Gockel
juga memiliki dukungan luas dan kontribusi signifikan pada bidang
ontologi27. Dia memperluas banyak ide Aristoteles, seperti pengenalan
ontologi dan metafisika.
Dari pernyataan Gockel penulis dapat menyimpulkan bahwa yang
dimaksud keberadaan sebagai keberadaan adalah pembahasan sesuatu
yang ada atau keberadaan yang sesungguhnya. Objek material ontologi
adalah yang ada, artinya segala-galanya, meliputi yang ada sebagai wujud
konkret dan abstrak, indrawi maupun tidak indrawi. Objek formal ontologi
adalah memberikan dasar yang paling umum tiap masalah yang
menyangkut manusia, dunia dan Tuhan. Titik tolak dan dasar ontologi
adalah refleksi terhadap kenyataan yang paling dekat yaitu manusia sendiri
dan dunianya.

27
Kristic, Klasik dalam Sejarah Psikologi pada tahun 1964, psychclassic.yorku.ca
Lalu pendapat metafisis dari Gockel dikembangkan oleh Christian
Wolf (1679-1754). Wolf adalah filsuf Jerman yang berpengaruh besar dala
gerakan rasionalisme sekuler di Jerman pada awal abad ke-18. Pemikiran
wolf pada dasarnya merupakan pengembangan dari filsafah Leibniz
dengan menerapkan terhadap segala ilmu pengetahuan. Ia mengupayakan
supaya filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti. Wolf kemudian
membagi metafisika menjadi dua, yaitu secara umum dan khusus.
Metafisika secara umum adalah cabang filsafat yang membahas tentang
prinsip yang paling dasar atau yang paling dalam dari sesuatu yang ada
(ilmu yang membahas tentang keberadaan dibalik yang ada). Dan
metafisika secara khusus dibagi lagi menjadi, kosmologi, psikologi dan
teologi.28
Menurut termologi, ontologi ialah ilmu yang membahas hakikat
yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk
jasmani/kongkret atau rohani/abstrak. Dengan hal ini manusia akan
mempelajari tentang eksistensi sebuah ilmu. Menurut Heidegger
(Drijarkara, 1981:63-64) eksistensi yang dimaksud seperti, cara manusia
itu bisa ada. Manusia ada ketika sadar apabila ia memahami tentang “aku”.
Martin Heidegger adalah filsuf asal Jerman, penggagas fenomenologi, dan
kemudian menjadi profesor.
Sehingga ilmu ini sangat dekat dengan pembahasan ketuhanan,
terutama iman. Misal pemikiran ontologi dari Jawa, yaitu Tuhan itu tidak
tidur (Gusti mboten sare). Hal ini perlu dijawab dengan berpikir secara
ontologisme, melalui perenungan secara ilmiah. Masalahnya, apabila
seseorang membenarkan hasil renungan tentang Tuhan dan tidur, berarti
Tuhan mengenal tentang kantuk. Jika hal ini benar, lalu apa perbedaannya
antara Tuhan dengan manusia? Apabila manusia tidak mendapat jawaban
yang memuaskan tentang hal ini lalu muncul pertanyaan bagaimana wujud
dan hakiki Tuhan. Banyak pertanyaan yang mengelitik akan hakikat
semesta. Semakin kritis seseorang, ia akan merasa seolah-olah dunia
semakin rumit dan menarik untuk dikaji.

28
Endraswara, Suwardi. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Dengan demikian, ontologi berarti sebagai suatu usaha intelektual
untuk mendeskripsikan sifat-sifat umum kenyataan, suatu usaha untuk
memperoleh penjelasan yang benar tentang kenyataan, studi tentang
kenyataan, studi tentang sifat pokok kenyataan dalam aspeknya yang
paling umum sejauh hal ini dapat dicapai, teori tentang sifat pokok dan
stuktur dari kenyataan (Mudhofir, 1998).
Fungsi atau manfaat dalam mempelajari ontologi antara lain:
Pertama, berfungsi sebagai refleksi kritis atas objek atau bidang garapan,
konsep-konsep, asumsi-asumsi dan postulat-postulat ilmu. Di antara
asumsi dasar keilmuan antara lain: dunia ini ada, dan kita dapat
mengetahui bahwa benar dunia ini ada. Kedua, dunia empiris itu dapat
diketahui oleh manusia dengan pancaindra. Ketiga, fenomena yang
terdapat di dunia ini berhubungan satu dengan yang lainnya secara kausal
(Anshari, 1987).
B. Aliran-Aliran Ontologi Keilmuan
Ontologi sebagai cabang filsafat ilmu telah melahirkan berbagai
macam aliran ontologisme. Tiap aliran ini saling mendukung dan saling
melengkapi satu sama lain, yaitu realisme, natrualisme, dan empirisme29.
Aliran ini mampu menjadi landasan pemikiran para filsafat untuk
mendapatkan hakikat ilmu.
Setiap aliran memberikan gambaran luas tentang cabang filsafat
keilmuan. Ciri-ciri khas yang terpenting terkait dengan ontologi adalah: (a)
yang ada (being), artinya yang dibahas eksistensi keilmuan, (b)
kenyataan/realitas (reality), yaitu fenomena yang didukung oleh data yang
nyata, (c) eksistensi (existence), adalah keadaan fenomena sesungguhnya,
yang secara hakiki tampak dan tidak tampak, (d) esensi (essence), adalah
pokok atau dasar sebuah ilmu, yang lekat dalam suatu ilmu, (e) substansi
(substance), artinya membicarakan masalah isi dan makna suatu ilmu bagi
kehidupan manusia, (f) perubahan (change), artinya ilmu itu cair, berubah
setiap saat, menuju kesempurnaan, (g) tunggal (one) dan jamak (many),
artinya keadaan suatu ilmu dan fenomena itu terbelah menjadi dua hal itu.
29
Muntansyir, Rizal. Jurnal Filsafat : Aliran-Aliran Metafisika. Juli, 1997. Yogyakarta :
Universitas Gajah Mada.
Tiap aliran tersebut tentu memiliki objek keilmuan yang berbeda-
beda. Sehingga objek ontologi juga perlu dijelaskan secara tegas terkait
dengan aliran-aliran yang muncul. Objek tersebut juga dibedakan menjadi
dua macam, yaitu: (1) objek formal, adalah cara memandang, cara
meninjau yang dilakukan oleh para peneliti objek material serta prinsip
yang digunakan. (2) objek material, adalah sesuatu hal yang dijadikan
sasaran pemikiran. Sesuatu yang perlu untuk diselidiki atau sesuatu yang
perlu untuk dipelajari. Kedua objek tersebut akan membingkai metode
penelitian secara kuantitatif (realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah,
sedangkan kualitatif akan tampil menjadi aliran-aliran matrealisme,
idealisme, natrualisme, atau hylomorphisme30.
Di dalam ontologi terdapat berbagai macam pandangan pemikiran yaitu :
1. Monoisme
Monoisme merupakan pemahaman bahwa hakikat yang
berasal dari kenyataan adalah satu saja, tidak mungkin menjadi dua.
Paham ini terbagi menjadi beberapa aliran : (a) Matrealisme, aliran
ini mengganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan
rohani. Aliran ini juga sering disebut sebagai natrualisme, karena zat
mati merupakan kenyataan dan satu satunya fakta hanyalah materi,
sedangkan jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang
berdiri sendiri. Tokoh yang terkenal dengan aliran ini yaitu:
Demokritos dan Thomas Hobbes. (b) Idealisme, sebagai lawan dari
matrealisme, aliran ini sering disebut spiritualisme, aliran ini
beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu
semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenisnya. Atau aliran ini
berpaham tentang sesuatu ruang yang tidak berbentuk dan
menempat. Tokoh yang menggunakan aliran ini adalah Plotinus dan
Hegel.
2. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam
hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan rohani,

30
Ibid
benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh yang menggunakan aliran ini
adalah Plato, Immanuel Kant, Descartes.
3. Pluralisme
Paham ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk
merupakan kenyataan. Pluralisme tertolak dari keseluruhan dan
mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
Tokohnya adalah Leibniz dan J.F.Lyotard.
4. Nibilisme
Paham ini berkebalikan dengan aliran pluralisme. Bahwa
terdapat tiga hal yang membuat aliran ini muncul, pertama tidak ada
sesuatu pun yang eksis. Realita itu sebenarnya tidak ada. Kedua,
bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui oleh pengindraan yang
tidak dapat dipercaya, sehingga pengindraan itu merupakan sumber
ilusi. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak dapat
kita beritahukan kepada orang lain.
5. Agnotitisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat
rohani. Aliran ini muncul dikarenakan belum dapatnya orang
mengenali dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya
kenyataan yang berisi sendiri dan dapat dikenal.

Ontologi menjadi penting sebab, pertama, kesalahan suatu asumsi,


akan melahirkan teori, metodologi keilmuan yang salah pula. Kedua,
ontologi membantu ilmu untuk menyusun suatu pandangan dunia yang
integral, komprehensif dan koheren. Ketiga, membantu memberikan
masukan informasi untuk mengatasi permasalahan yang tidak mampu
dipecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Dalam hal ini ontologi berfungsi
membantu memetakan batas-batas kajian ilmu.

Kesimpulan
Pengertian ontologi secara etimologi, kata ontologi berasal dari bahasa
Yunani, yaitu : Ontos : being, dan Logos : science. Sehingga dapat disimpulkan
ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan). Dan menurut termonologi, ontologi ialah ilmu yang membahas
hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk
jasmani/kongkret atau rohani/abstrak.
Pandangan aliran berdasarkan kuantitatif ada monoisme, dualisme,
pluralisme, nibilisme dan agnotitisme. Hal ini menjadi alasan untuk kita
mempelajari ontologi ilmu, agar kita mampu menghargai ilmu-ilmu lain yang
saling berkaitan untuk mendapatkan hakikat ilmu.
Daftar Pustaka

Endraswara, Suwardi. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

Fuad Ihsan, “Etika Keilmuan” dalam buku Filsafat Ilmu, Februari 2010

Kristic, Klasik dalam Sejarah Psikologi pada tahun 1964, psychclassic.yorku.ca

Muntansyir, Rizal. Jurnal Filsafat : Aliran-Aliran Metafisika. Juli, 1997.


Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
Epistemologi Ilmu

Pendahuluan

Pada umumnya epistemologi dapat diartikan sebagai metode mempelajari


asal usul atau sumber maupun struktur pengetahuan.Epistemologi selalu menjadi
pembahasan yang menarik untuk di kaji,karena di sini dasar-dasar pengetahuan
maupun pengetahuan dari manusia menjadi bahan pijakan.Secara terminologi
epistemologi sering di pandang sebagai cabang filsafat yang meneliti segala
sumber,sarana,metode,tolak ukut kebenaran dan segala sesuatu yang berbentuk
pengetahuan.

Epistemologi sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu epistemen yang


berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau teori.umumnya epistemologi
adalah cabang filsafat yang mengkaji sumber-sumber watak dan kebenaran
pengetahuan, itu sebabnya kita mempelajari epistemologi supaya dapat
mengetahui lebih menyeluruh tentang epistemologi.

Pembahasan

A. Definisi Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa yunani,episteme yang berarti
pengetahuan,dan logos yang berarti ilmu/teori.jadi secara terminologi
epistemologi sering di pandang sebagai cabang filsafat yang meneliti
segala sumber,sarana,metode,tolak-ukur kebenaran,dan segala sesuatu
yang turut membentuk pengetahuan.
Menurut Dogobert D.Runes mungungkapkan epistemologi adalah
cabang ilmu filsafat yang membahas sumber,struktur,metode-metode dan
validitas pengetahuan.31
1. Sumber Ilmu
Dalam filsafat sumber ilmu pengethuan setidaknya ada 4 yaitu
akal,indra,intuisi dan otoritas.idealnya posisi keempat sumber
pengetahuan ini setara.Namun ketika masuk dalam wacana keilmuan
teologis maka sumber ilmu otoritas terlihat pengeruhnya begitu dominan.
31
Mujamil Qomar.2007.Epistemologi pendidikan Islam dari metode Rasional hingga
metode Kritik.Jakarta.Penerbit Erlangga.hal 5
Di dalam islam al-Qur’an diyakini sebagai sumber utama
kebenaran bahkan sebagian besar masyarakat muslim memandangnya
sebagai sumber utama ilmu pengetahuan.Akibatnya pola hubungan yang
terjalin tidak lagi bersifat setara atau sebanding melinkan bertingkat atau
hierarkis.Otoritas al-Qur’an demikian kuat sehingga mengabaikan peran
otonom akal,indra,dan intuisi.
Fakta tersebut yang membawa epistemologi muslim Muhammad
Abid al-jibril pada kesimpulan bahwa episteme yang umum berkembang
dalam dunia islam adalah bayani.suatu episteme yang menonjolkan peran
teks kewahyuan dan mensubordinasikan peran sumber-sumber
pengetahuan lainnya.padahal selain itu masih ada dua episteme yang tidak
kalah penting,yaitu burhani dan irfani.Episteme burhani mengedepankan
peran akal sebagai alat untuk memahami realitas termasuk wahyu,
sedangkan irfani mengedepankan intuisi sebagai sarana untuk mencapai
kebenaran yang hakiki.
2. Sarana ilmu

Paling tidak terdapat tiga hal yang dapat mengantarkan seseorang


pada pengetahuan yaitu: bahasa,logika dan matematika.Bahasa jelas
merupakan sarana utama sebab bagaimana mungkin orang akan mampu
mengkomunikasikan ide-ide keilmuannya kalau tidak menggunakan
sarana bahasa.Al-Qur’an menggunakan sarana bahasa Arab,karena itu
memahami Al-Qur’an orang harus memahami dengan baik bahasa arab.

Logika juga demikian banyak hal di dunia yang tidak cukup


diketahui hanya dengan bahasa,logika memainkan peran dalam membantu
bahasa mencapai pengetahuan.Dalam islam banyak rumusan hukum yang
dilahirkan atas dasar logika meskipun orang bisa memahami makna
harfiyah ayat Al-Qur’an,namun dalam beberapa khasus hukum
pemahaman harfiyah harus dibantu dengan logika.Tidak heran jika dalam
pendidikan islam tradisional logika atau manthiq ini diajarkan.Adapun
matematika tentu saja ini juga sarana yang penting dalam menghasilkan
pengetahuan.

Realitas keilmuan banyak menggunakan dan dibantu dengan angka


Dalam islam signifikasi angka ini terlihat terutama dalam ayat-ayat yang
menyebut angka tertentu.Ilmu fara’idh dan ilmu falak misalnya mutlak
menggunakan matematika.

3. Metode ilmu
Secara sederhana metode ilmu dapat di bagi dalam dua
model.Model pertama terdiri dari: Dedukasi ( penarikan kesimpulan dari
hal umum),induksi (metode pemikiran yang bertolak dari kaidah atau
kasus khusus untuk menentukan hukum umum),dan metode ilmiah.
Model kedua mencakup:model subjektif (yang bertitik tolak dari
subjek),model objektif (yang bertumpu pada objek),dan model
intersubjektif.32

B. Aliran-aliran Epistimologi
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal
dari kata empiria yang artinya pengalaman.Menurut aliran ini manusia
memperoleh pengetahuan melalui pengalamanya.Dan bila
dikembalikan pada latar yunaninya pengalaman yang dimaksud ialah
pengalaman indrawi. Manusia tahu es dingin karena manusia
menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern
mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin.
Maksud disini bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari
pengetahuan lantas pengalamanya mengisi jiwa yang semula kosong
itu sehingga ia memiliki pengetahuan.

2. Rasionalisme

32
Sibawaihi.2011.Filsafat ilmu.Yogyakarta:Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN
Sunan Kalijaga
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar
kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur
dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan
melalui kegiatan akal menangkap objek.
Rasio merupakan sumber kebenaran Hanya rasio yang dapat
membawa manusia pada kebenaran. benar hanya tindakan akal yang
terang benderang disebut ideas Claires el Distictes (pikiran yang
terang benderang dan terpilah-pilah). Ideal terang benderang ini
pemberian tuhan maka tidak mungkin tidak benar. Karena rasio yang
dianggap sebagai sumber kebenaran aliran ini disebut rasionlisme.
Rasiolisme ada dua macam, yaitu dalam bidang agama dan bidang
filsafat. Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari
otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama.
Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari
empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan.

3. Positivisme
Tokoh aliran ini adalah August Compte (1798-1857). Ia menganut
paham empirisme,Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting
dalam memperoleh pengetahuan Tetapi harus dipertajam dengan alat
bantu dan diperkuat dengan eksperimen.Kekeliruan indera akan dapat
dikoreksi lewat eksperimen, Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran
yang jelas. Misalnya untuk mengukur berat menggunakan neraca atau
timbangan kiloan.
Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti
empirisnya Dan alat bantu itulah bagian dari positivisme. Jadi, pada
dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri
Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.
4. Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) ia menganggap bahwa tidak hanya
indera yang terbatas akal juga terbatas dan objek yang selalu berubah.
Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan
dirinya pada objek itu. Jadi dalam hal ini manusia tidak mengetahui
secara keseluruhan (unique) serta Tidak dapat memahami sifat-sifat
yang tetap pada objek . Misalnya manusia mempunyai pemikiran yang
berbeda-beda dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka
Bergson memgembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang
dimiliki manusia, yaitu intuisi.33
5. Kritisme

Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana
seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan
pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir
jerman Immanuel Kant (1724-1804) mencoba menyelesaikan
persoalan diatas, pada awalnya Kant mengikuti rasionalisme tetapi
terpengaruh oleh empirise Akhirnya Kant mengakui peranan akal harus
empiris. Kemudian dicoba mengadakan sintesis walaupun semua
pengetahuan bersumber pada akal(rasionalisme), tatapi adanya
pengertian timbul dari pengalaman (empirisme). 34

6. Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat
dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh.
Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam
jiwa pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idelialisme mempunyai argumen epistimologi tersendiri. Oleh
karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi
tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak
menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh idealisme.
Ini adalah mazhab epistimologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan
apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akal.35

7. Fenomenologi

33
Ahmad Tafsir.2009.Filsafat umum dan hati sejak thales sampai capra.Bandung.PT
Remaja Rosdakarya.hal 24-28
34
Achmadi,asmoro.2012.Filsafat umum.PT Raja Grafindo persada.Jakarta hal 118-119
35
Hakim dan Bani ahmad Saebani.2008.filsafat umum dari metologi sampai
filosofi.Pustaka Setia.Bandung hal 206
Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H.
Lambert (1764),Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia),
ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah
menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan
objek pengalaman inderawi (fenomen).
Hegel (1807) memperluas pengertian fenomenologi dengan
merumuskannya sebagai ilmu mengenai pengalaman kesadaran, yakni
suatu pemaparan dialektis perjalanan kesadaran kodrati menuju kepada
pengetahuan yang sebenarnya. Fenomenologi menunjukkan proses
menjadi ilmu pengetahuan pada umumnya dan kemampuan
mengetahui sebagai perjalanan jiwa lewat bentuk-bentuk atau
gambaran kesadaran yang bertahap untuk sampai kepada pengetahuan
mutlak. Bagi Hegel, fenomena tidak lain merupakan penampakkan
atau kegejalaan dari pengetahuan inderawi: fenomena-fenomena
merupakan manifestasi konkret dan historis dari perkembangan pikiran
manusia.
Berangkat dari pemikiran Edmund Husserl (1859-1938), bahwa
obyek ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada empirik, tetapi
mencakup fenomena yang bersifat persepsi, pemikiran, kemauan, dan
keyakinan subyek tentang sesuatu di luar subyek dan ada sesuatu yang
bersifat transenden.
Sifat-sifat yang pokok dari fenomenologi dapat dijelaskan secara
luas, tetapi kita harus ingat bahwa ada arti yang sempit bagi
fenomenologi, yaitu arti sebagai metoda. Bagi fenomenologis,
berfilsafat harus dimulai dengan usaha yang terpadu untuk melukiskan
isi kesadaran. Suatu usaha yang jelas adalah sangat perlu bagi
deskripsi. Dengan deskripsi ini dimaksudkan suatu pandangan hati-hati
terhadap struktur yang pokok dari benda, tepat seperti yang nampak.
Fenomenologis memperhatikan benda-benda yang konkrit, bukan
dalam arti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi ada
struktur yang pokok dari benda-benda tersebut, sebagaimana yang kita
rasakan dalam kesadaran kita, karena kesadaran kita adalah ukuran
pengalaman. (Titus, 1984: 399)
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa
fenomenologi adalah ilmu yang mempelajari fenomen-fenomen yang
atau apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat
pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran
kita. Tokoh-tokohnya, Edmund Husserl, Max Scheler, dan Maurice
Merlean-Ponty.
8. Skeptisisme
Skeptisisme adalah satu-satunya aliran yang secara radikal dan
fundamental tidak mengakui adanya kepastian dan kebenaran, atau
sekurang-kurangnya menyangsikan secara fundamental kemampuan
pikiran manusia untuk mendapatkan kepastian. (Pranarka, 1987: 95)
Secara etimologikal kita mengetahui bahwa istilah skeptisisme itu
berasal dari kata bahasa Yunani skeptomai, artinya memperhatikan
dengan cermat, meneliti. Para skeptisi pada mulanya adalah orang-
orang yang mengamati segala sesuatu dengan cermat serta
mengadakan penelitian terhadapnya. Namun karena didalam interaksi
diantara mereka itu tidak tercapai kesepakatan, maka timbullah
masalah baru yaitu mengenai patokan kesepakatan. Bahkan
selanjutnya sementara sampai kepada kesimpulan untuk meragukan
adanya kepastian dan ukuran kebenaran. Dari situlah timbul istilah
skeptisisme yaitu aliran atau sistem pemikiran yang mengajarkan sikap
ragu sebagai sikap dasar yang fundamental dan universal. (Pranarka,
1987: 95)
9. Agnotisisme
Mudhofir (1996:4) dengan singkat menjelaskan bahwa
agnostisisme dalam epistemologi adalah aliran yang mengatakan
bahwa manusia tidak mungkin memperoleh pengetahuan tentang suatu
pokok permasalahan. Pokok permasalahan yang seperti apa? Tidak
dijelaskan dalam bukunya.
Sedangkan Hartoko (1986:3) menjelaskan dengan menambahkan
apa yang tidak dapat diketahui itu. Menurutnya agnostisisme sama
dengan skeptisisme, yang menyangkal bahwa hakekat sesuatu dapat
diketahui (melawan pengetahuan metafisik). Apalagi pengetahuan
menganai adanya tuhan dan sifat-sifatnya. Merekea (para agnotis)
hanya menerima pengetahuan inderawi dan empirik. Tiada menerima
adanya analogi.
Jika kembali melihat arti katanya tentu akan mendapatkan
pengertian yang lebih luas lagi. Lorens (2005:22-23) mengatakan
bahwa asal istilah ini ialah kata yunani, ’ yang berarti ‘bukan’ atau
‘tidak’, dan gnostikos yang berarti ‘orang yang mengetahui’ atau
‘mempunyai pengetahuan tentang’. Agnostis berarti tidak diketahui.
10. Objektivisme
Dalam Mudhofir (1996:167) objektivisme diartikan sebagai
pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami
adalah tidak tergantung pada orang yang memahami. Dapat dikatakan,
ada kebenaran sejati terlepas dari pemikiran manusia. Ini
mengingatkan kita kepada paradoks antara kaum Sofis dan Sokrates
pada zaman Yunani kuno.
Basman (2009:34) juga menguraikan argumen objektivisme.
Menurutnya Argumen objektivisme mencakup penolakan terhadap
metode pemikiran subyektivisme dan penggunaan kata ide secara lebih
positif. Asumsi bahwa terdapat alam realitas adalah lebih baik dan
lebih memadai dari asumsi lain. Asumsi tersebut sesuai dengan
pengalaman hidup kita sekarang, dan pemahaman kita terhadap proses
pemikiran.
Karl R. Popper,dalam Chalmers (1982:128) Karl R. Popper
mengemukakan pendapatnya tentang objektivisme yang disadur dari
buku Objective Knowledge. Popper mengatakan bahwa :
“Pengetahuan atau fikiran dalam pengertian objektif, terdiri dari
problema-problema, teori-teori, dan argumen-argumen itu sendiri.
Pengetahuan dalam pengertian objektif ini sepenuhnya independen
dari klaim seseorang untuk mengetahuinya ; ia pun terlepas dari
keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya, atau
untuk berlakukannya atau untuk bertindak. Pengetahuan dalam
pengertian objektif ini adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah
pengetahuan tanpa diketahui subjek.”

11. Subjektivisme
Subjektivisme adalah pandangan bahwa objek dan kualitas yang
kita ketahui dengan perantaraan indera kita adalah tidak berdiri sendiri,
lepas dari kesadaran kita terhadapnya. Realitas terdiri atas kesadaran
serta keadaan kesadaran tersebut, walaupun tidak harus kesadaran kita
dan keadaan akal kita (Titus, 1984: 218).
12. Fenomenalisme
Untuk memahami pikiran fenomenalisme, sedikitnya kita melihat
pendapat Kant dalam hal pengetahuan. Indra hanya dapat memberikan
data indra, dan data indra itu ialah warna, cita rasa, bau, rasa dan
sebaliknya. Memang benar, kita mempunyai pengalaman; tetapi sama
benarnya juga bahwa untuk mempunyai pengetahuan (artinya
menghubungkan hal-hal), maka kita harus keluar dari atau menembus
pengalaman. (Kattsoff, 1987: 138)
Jika orang membayangkan berupa apakah suatu rasa bersahaja
dengan suatu bunyi yang kasar, maka jelaslah bahwa data indra yang
murni tidaklah berupa pengetahuan. Pengetahuan terjadi bila akal
menghubungkan, misalnya, rasa menekan yang bersahaja dengan
bunyi yang kasar, untuk memperoleh fakta bahwa tekanan terhadap
sesuatu menyebabkan terjadinya bunyi tersebut. Hubungan ialah suatu
cara yang dipakai oleh akal untuk mengetahui suatu kejadian,
hubungan tidak dialami. Hubungan ialah bentuk pemahaman kita, dan
bukan isi pengetahuan. (Kattsoff, 1987: 138)
Dapat kita simpulkan bahwa fenomenalisme adalah aliran atau
paham yang menganggap bahwa Fenomenal (gejala) adalah sumber
pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat
gejala, dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang
mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat
hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang
pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan
bidang evidensi yang langsung. 36

Kesimpulan
36
Agus Arianto, Aliranaliran Dalam Epistemologi
https://www.kompasiana.com/agus.arianto10/552ff0c56ea834976e8b4580 (diakses tanggal
04/12/2019 pukul 23:05 WIB)
Epistemologi sering dipandang sebagai cabang filsafat yang meneliti
segala sumber, saran, metode, tolak-ukur kebenaran, dan segala sesuatu yang turut
membentuk pengetahuan. Adapunaliran-aliran epistemologi meliputi, empirisme,
rarionalisme, positivisme, intuiionisme, kritisisme, idealisme, fenomenologi,
skeptisisme, agnotisisme, objektivisme, subjektivisme dan fenomenalisme.
Daftar Pustaka

Asmoro Achmadi 2012.Filsafat umum. Jakarta:PT Raja Grafindo persada.

Tafsir Ahmad. 2009.Filsafat umum dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.
Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Hakim dan Bani ahmad Saebani.2008.Filsafat Umum dari Metologi Sampai


Filosofi. Bandung :Pustaka Setia.

Arianto Agus. 2018. Aliran-Aliran dalam Epistemologi.


https://www.kompasiana.com/agus.arianto10/552ff0c56ea834976e8b4580/a
liranaliran-dalam-epistemologi. (4 Desember 2019)

Mujamil Qomar.2007.Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional


Hingga Metode Kritik.Jakarta:Penerbit Erlangga.

Sibawaihi.2011.Filsafat ilmu.Yogyakarta:Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN


Sunan Kalijaga.
Aksiologi Ilmu

Pendahuluan

Belajar mengenai ilmu filsafat memang tidaklah mudah. Banyak orang


yang berangapan bahwa ilmu filsafat itu sangat sulit untuk dipahami. Apalagi
kalau sudah belajar cabang-cabang ilmu filsafat. Semakin ke sini, semakin
rasanya sulit untuk memahaminya.
Menurut bahasa, arti kata ilmu berasal dari bahasa Arab (ilm), bahasa
Latin (science) yang berarti tahu-mengetahui/memahami. Sedangkan menurut
istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Selanjutnya
pengertian tentang filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang menggunakan
logika, metode, dan sistem untuk mengkaji masalah umum dan mendasar
mengenai berbagai persoalan, seperti; pengetahuan, akal, pikiran, eksistensi, dan
bahasa.
Jadi, filsafat ilmu merupakan sebuah cabang filsafat yang mempelajari dan
menjawab berbagai pertanyaan terkait hakikat ilmu, dan penerapan berbagai
metode filsafat dalam upaya mencari akar persoalan dan menemukan asas realitas
yang dipersoalkan oleh bidang ilmu tersebut untuk mendapatkan kejelasan. Dalam
pembahasan ini, kami mengangkat tema mengenai Aksiologi Ilmu. Sebab analisis
Aksiologi ilmu ini sangatlah penting dalam kehidupan manusia, terutama yang
berkenaan dengan masalah yang ditimbulkan .

Pembahasan

A. Pengertian Aksiologi
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani. Axios berarti layak atau pantas, dan
Logos berarti ilmu. Secara sederhana aksiologi adalah analisis nilai-nilai, atau
studi yang menyangkut teori umum tentang nilai, atau studi filosofis mengenai
hakikat nilai-nilai37. Aksiologi ilmu mengisyaratkan suatu pembahasan mengenai
kepatutan sebuah ilmu: untuk apa sebuah ilmu? Dimana batas wewenangnya?
Apakah ilmu itu mengalami perkembangan? Sejauh mana perkembangannya?
Bagaimana dampak perkembangannya? Apakah tidak memberi dampak buruk
37
Abdulhak,I.(2008)filsafat ilmu pendidikan. Bandung:Remaja Rusdakarya. Hlm 21-22
bagi kehidupan? Atau jangan-jangan tidak mengalami perkembangan, sehingga
tidak pantas lagi didaulat sebagai ilmu?
Oleh karena itu, pada tataran aksiologi, filsafat menekankan aspek
kepatutan dan kelayakan perkembangan sebuah disiplin ilmu pengetahuan .
Kepatutan dan kelayakan ini akan dinilai dengan mempertimbangkan tidak hanya
tingkat kemajuan yang “berlebihan” yang dicapai oleh sebuah disiplin ilmu, tetapi
juga lebih–lebih tingkat kevakuman sebuah disiplin ilmu. Artinya filsafat akan
melakukan pemantauan dan mengevaluasi apakah suatu disiplin masih pantas
disebut ilmu pengetahuan atau justru sebaliknya.
Problem utama aksiologi ujar Runes38 berkaitan dengan empat faktor
penting sebagai berikut :
Pertama, kodrat nilai berupa problem mengenai: apakah nilai itu berasal
dari keinginan (voluntarisme:spinoza), kesenangan (Hedonisme: Epicurus,
Bentham, Meinoung), kepentingan (Perry), preferensi (Martineau), keinginan
rasio murni (Kant). Pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana).
Pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian (Personalisme:Green), berbagi
pengalaman yang mendorong semangat hidup (Nietzsche), relasi benda-benda
sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh
dapat dijangkau (Pragmatisme:Dewey).
Kedua, jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan antara nilai intrinsik,
ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi
penyebab (baik barang-barang ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah)
mengenai nilai-nilai intrinsik.
Ketiga, Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi
sekaligus oleh teori psikologi dan logika. Penganut hedonist menemukan bahwa
ukuran nilai terletak pada sejumlah kenikmatan yang dilakukan oleh seseorang
atau masyarakat. Penganut intuisionist menonjolkan suatu wawasan yang paling
akhir dalam keutamaan. Beberapa penganut idealis mengakui sistem objektif
norma-norma rasional atau norma-norma ideal sebagai kriteria (Plato). Seorang
penganut naturalis menemukan keunggulan biologis sebagai ukuran standar.
Keempat, status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana
hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu

38
Runes, Dictionary of Phylosophy, 1979, jakarta :Renaka cipta Hlm 22-23
kealaman, kenyataan terhadap keharusan pengalaman manusia tentang nilai pada
realitas kebebasan manusia. Ada tiga jawaban penting yang diajukan dalam
persoalan status metafisika nilai-nilai ini yaitu: (1) Subjektivisme menganggap
bahwa nilai merupakan sesuatu yang terikat pada pengalaman manusia. (2)
Objektivisme logis menganggap bahwa nilai merupakan hakikat atau subsistensi
logis yang bebas dari keberadaannya yang diketahui, tanpa status eksistensial atau
tindakan dalam realitas. (3) Objektivisme metafisik menganggap bahwa nilai atau
norma adalah integral, objektif dan unsur-unsur aktif kenyataan metafisik, seperti
yang dianut oleh: Theisme, absolutisme, realisme.
Cabang-cabang aksiologi yang banyak membahas masalah nilai-nilai atau
buruk adalah bidang etika. Etika mengandung tiga pengertian :
1. Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai atau norma-norma moral yang
menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya.
2. Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral, misalnya kode etik. Etika
merupakan ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika baru menjadi ilmu
bila kemungkinan –kemungkinan etis (asas-asasdan nilai-nilai tentang
yang dianggap baik atau buruk )yang begitu saja diterima dalam suatu
masyarakat seringkali tanpa disadari menjadi beban refleksi bagi suatu
penelitian sistematis dan metodis. Etika dalam hal ini sama dengan filsafat
moral39.
B. Tujuan Aksiologi Ilmu

Berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmu
agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi
seluruh umat manusia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia.

Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh
Jujun S.Suriasumatri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan” apakah
kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia.
Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, karena ilmu itu
sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Lagi

39
Bertens, Etika, Jakarta: Balai Pustaka 1993, hal 6-10
pula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk
melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya.40

Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk
apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat
sebagai tiga hal, yaitu:

1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia


pemikiran

Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung


suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu
sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka
sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan
mempelajari teori-teori filsafat ilmu.

2. Filsafat sebagai pandangan hidup

Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima
kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai
pandangan hidup gunanya untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.

3. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.

Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batu di
depan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu
masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah-masalah itu
dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari
cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan
amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.
Penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah
yang berkembang dalam kehidupan manusia.

40
https://id.shvoong.com/social-sciences/education/2124658-dimensi-aksiologi-dalam
filsafat-pendidikan/
Dalam pemanfaatan aksiologi ilmu dapat dikaitkan juga dengan kenyataan
yang ada di Indonesia saat ini. Bencana-bencana seperti tak berhenti melanda
bumi pertiwi. Yang terakhir paling hangat dibicarakan adalah bencana alam
Wasior, Merapi, dan Mentawai yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Kecamatan Wasior di Papua Barat, diterjang longsor dan banjir bandang.
Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat diguncang gempa dahsyat dan tsunami
yang menyapu bersih wilayah di pesisir pulau tesebut. Gunung Merapi di
Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, meletus berulang kali hingga
memuntahkan awan panas yang suhunya mencapai 600oC. Tentu ketiga bencana
jelas bukan hanya telah dan akan memakan korban jiwa manusia yang tidak
sedikit, namun juga telah menghantam dan memporak-porandakan seluruh isi
sekitar bencana. Dari contoh diatas dapat kita kaitkan dengan aspek aksiologi
ilmu. Bencana-bencana yang terjadi di Indonesia terlepas dari kuasa Tuhan YME,
ternyata manusia juga ikut berperan dalam kehancuran bumi. Contoh, dari Wasior
yang dilanda banjir bandang baru-baru ini ditemukan fakta bahwa penyabab banjir
bandang adalah illegal logging atau pembalakan liar hutan yang seharusnya
menjadi tadah air hujan justru tidak ada.

Kedua, Gunung Merapi yang kembali memuntahkan awan panas. Namun,


dari banyak bencana yang terjadi ada poin kesalahan yang dilakukan yaitu adanya
kegandaan koordinasi di lapangan yang mengakibatkan kebingungan pelaksanaan
perintah hingga banyak nyawa dari saudara kita yang tidak tertolong karena
keterlambatan evakuasi. Lengkap sudah penderitaan dan bencana di negeri ini,
dari kesalahan dan kecerobohan manusia, kini dilengkapi dengan tidak
tersalurkannya bantuan secara tepat sasaran bagi pengungsi kerena tidak ada
sarana untuk menjangkau daerah yang parah karena tsunami di Mentawai.

Aksiologi akan memberi sebuah pemahaman kepada kita tentang sebuah


keseimbangan antara nilai dan bagaimana penilaian kita terhadap suatu objek dan
dengan keadaan bangsa saat ini. Dalam aksiologi terdapat nilai-nilai yang
terkandung didalamnnya. Kita dapat menggaris bawahi dari pendapat Drs.
Prasetya: adanya nilai jasmani antara lain nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna,
nilai hidup dengan keadaan sekarang benar-benar di prioritaskan. Jika dalam teori
nilai hidup merupakan suatu yang dikejar untuk kelangsungan hidupnya, maka
dalam prakteknya manusia benar-benar memprioritaskan nilai tersebut. Seperti
saat merapi meletus, masyarakat lebih memilih menyelamatkan diri dan
meniggalkan harta benda yang dimiliki. Sedangkan nilai rohani adalah faham
tentang nilai religi akan menjadi prioritas ke depan, keyakinan teguh yang
dipegang untuk pedoman kehidupan di dunia dan akhirat. Kenyataannya, apabila
manusia tidak memiliki pedoman mengenai suatu keyakinan maka dalam
hidupnya seolah manusia tidak mempunyai tujuan, tidak mengenal Tuhan, dan
tidak mengerti agama.

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa aksiologi


merupakan suatu ilmu yang mengajarkan cara tentang bagaimana manusia mampu
menyeimbangkan antara pengertian dan pelaksanaan nilai dalam kehidupan.41

Kesimpulan

Aksiologi merupakan bagian ketiga dari kajian filsafat setelah ontologi


dan epistimologi. Aksiologi sendiri merupakan cabang filsafat yang
mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan dan memanfaatkan ilmu.
Dalam pemanfaatan aksiologi ilmu dapat dikaitkan juga dengan kenyataan yang
ada di Indonesia saat ini, seperti bencana-bencana yang terjadi di Indonesia tak
terlepas dari kuasa Tuhan YME, ternyata manusia juga ikut berperan dalam
kehancuran bumi. Contoh, dari Wasior yang dilanda banjir bandang baru-baru ini
ditemukan fakta bahwa penyabab banjir bandang adalah illegal logging atau
pembalakan liar hutan yang seharusnya menjadi tadah air hujan justru tidak ada.
Dari sini Aksiologi akan memberi sebuah pemahaman kepada kita tentang sebuah
keseimbangan antara nilai dan bagaimana penilaian kita terhadap suatu objek dan
dengan keadaan bangsa saat ini.

Daftar Pustaka

Abdulhak,I.(2008)filsafat ilmu pendidikan. Bandung:Remaja Rusdakarya.


41
Sumatriasumatri Jujun S./filsafat Ilmu Sebuah pengantar popular. Jakarta : Sinar
harapan .1988 hal.45-47
Runes, Dictionary of Phylosophy, 1979, Jakarta:Renaka cipta

Bertens, Etika, Jakarta: Balai Pustaka 1993

https://id. shvoong.com/social-sciences/education/2124658-dimensi-aksiologi-
dalam filsafat-pendidikan/

Sumatriasumatri Jujun S./filsafat Ilmu Sebuah pengantar popular. Jakarta: Sinar


harapan .1988
Struktur Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Struktur ilmu merupakan mekanisme kerja ilmu yang terdiri dari


komponen-komponen yang saling terkait satu sama lain dalam upaya mencari
kebenaran dari pengetahuan yang kemudian dapat disebut sebagai ilmu. Struktur
ilmu menjadi prasyarat bagi siapapun yang terjun dibidang ilmu karena dengan itu
akan dapat dibedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan yang
diperoleh melalui metode ilmiah. Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha
manusia untuk tahu. Berbedanya, cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut
serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis
pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Manusia mempunyai bahasa yang
mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi
informasi tersebut. kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berfikir
tertentu, secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.

Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu. Secara sederhana


dapat dikatakan bahwa metode keilmuwan adalah suatu cara dalam memeperoleh
pengetahuan. Suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk mendapatakan
jawaban tertentu dari pertanyaan tertentu pula. Struktur ilmu dalam filsafat ilmu
merupakan bagian yang penting dipelajari, mengingat ilmu merupakan suatu
bangunan yang tersusun, bersistem, dan kompleks.

Melalui ilmu itu sendiri kita dapat mengetahui pentingnya memahami


struktur ilmu pengetahuan diantaranya kita dapat menjelaskan, meramal, dan
mengontrol setiap gejala-gejala alam yang terjadi. Untuk itu pemakalah akan
menjabarkan mengenai kerangka dasar prosedur dalam struktur ilmu pengetahuan
yang meliputi metode ilmiah, teori, hipotesis, logika, data-informasi, pembuktian,
evaluasi, dan paradigma ilmu pengetahuan. Pada akhirnya akan penulis tutup
dengan simpulan dari pembahasan tersebut.
Pembahasan

1. Metode Ilmiah

Metode ilmiah merupakan cara yang digunakan untuk


mengumpulkan informasi yang dibutuhkan informasi untuk memecahkan
suatu masalah. Gay dan Diehle mengatakan, penelitian adalah aplikasi
formal sistematis dari metode ilmiah untuk menghadapi masalah (1992:6)

Sebagai prosedur yang sistemtis dan terstandar dan menggunakan


pembuktian-pembuktian objektif, metode ilmiah merupakan suatu proses
yang sangat teratur yang mengikuti sejumlah tahap-tahap sekuensial yang
meliputi : 1. Pengakuan dan definisi masalah, 2. Perumusan hipotesis, 3.
Seleksi data, 4. Analisa data, 5. Pernyataan kesimpulan tentang
konfirmasi atau diskonfirmasi hipotesis (Gay and Diehl 1992: 6-8).

Dengan metode ilmiah bukan saja merupakan cara sistematis dari


seluruh pemikiran dan telah reflektif melainkan juga memiliki
kesanggupan menggores diri. Pernyataan yang logis meurut akal sebagai
sesuatu yang benar atau pernyataan yang mengandung subjektivitas tidak
dengan sendirinya diterima, melainkan pernyataan itu perlu diuji dan
prosedur pengujiannya bersifat terbuka untuk dikoreksi oleh pihak lain.

Jadi, penelitian yang menggunakan metode ilmiah disebut penelitian


ilmiah. Artinya, penelitian ilmiah berlangsung melalui tahap-tahap dalam
metode ilmiah. Makin luas pemahaman sesorang terhadap unsur-unsur
metode ilmiah dan proses-prosesnya akan semakin luas penguasaannya
terhadap metode penelitian dan akan semakin tinggi pula
keterampilannya dalam mengembangkan rencana dan penelitian ilmiah.42

Menurut penulis metode ilmiah ini merupakan prosedur dalam


mendapatkan sebuah ilmu. Jadi bisa disimpulkan bahwa pengetahuan itu

42
Ulber Silalahi, Metode dan Metodologi Penelitian, Bandung : Bina Budhaya, 2016,
hlm.3
bisa di dapatkan lewat metode ilmiah. Proses kegiat an ilmiah ini dimulai
ketika manusia mengamati sesuatu, secara ontologis ilmu membatasi
masalah yang diamati dan dikaji hanya pada masalah yang terdapat
dalam ruang lingkup jangkauan pengetahuan manusia. Jadi ilmu itu tidak
mempermasalahkan tentang hal-hal diluar jangkauan manusia. Karena
yang dihadapi itu nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia nyata
pula.

2. Teori

Labovitz dan hagedorn (dalam crasswel, 1993) mendefinisikan teori


sebagai ide pemikiran, “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan
sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan
pernyataan hubungan saling berhubungan.

Teori terdiri dari sekumpulan konsep yang umumnya dikuti oleh


relasi antar konsep sehingga tergambar hubungannya secara logis dalam
suatu kerangka berpikir tertentu. Konsep pada dasarnya merupakan suatu
gambaran yang menggambarkan fenomena, baik secara tunggal ataupun
dalam suatu kontinum. Kosep juga dapat diartikan sebagai abstraksi dari
suatu fakta yang menjadi perhatian ilmu baik berupa keadaan, kejadian,
individu, ataupun kelompok.

Jadi, teori merupakan sebuah serangkaian konsep yang memiliki


hubungan sistematis untuk menjelaskan suatu fenomena sosial tertentu.
Karena, dari teori-teori yang ada peniliti dapat menemukan dan
merumuskan permasalahan sosial yang diamatinya secara sistematis,
untuk selanjutnya dikembangkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis
penelitian.43

Dari pemakalah, menyimpulkan bahwa teori yang dimaksud disini


ialah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik
tersebut. Teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan
secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya teori
ilmu merupakan sesuatu penjelasan rasional yang bersesuaian dengan
obyek yang dijelaskannya.

Secara mudah teori merupakan pegetahuan ilmiah yang memberikan


penjelasan tentang mengapa suatu gejala-gejala terjadi. Sedangkan
hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang
“apa” yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah yang berbentuk teori
dan hukum ini hanya mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau
secara idealnya, harus bersifat universal.

3. Hipotesis

Turunan dari konsepsi teoritis adalah hipotesisi. Hipotesis


merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat
praduga karena masih harus di buktikan kebenarannya. Scara akar kata
“hipotesis” berasal dari bahasa yunani “hypo”, yang berarti sebelum dan
“thesis” ,yang berarti pernyataan atau pendapat. Hipotesis dapat
didefinisikan sebagai suatu pernyataan yang pada waktu diungkapkan
belum diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam
kenyataan empiris. Hipotesis dapat disusun dengan dua pendekatan :

43
Welhendri Azwar Muliono, Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu, Jakarta : Kencana,
2019, hlm.175
a. Deduktif, penyusunan hipotesis secara deduktif ialah suatu teori yang
terdiri dari proposisi-proposisi, sedangkan proposisi menunjukkan
hubungan antara dua konsep.

b. Induktif, penyusuna hipotesis secara induktif ialah bertolak melalui


pengamatan empiris, yang kemudian disebut dengan pernyataan
hipotesis..

Fungsi hipotesis adalah untuk memberi penjelasan tentang gejala-


gejala serta memudahkan perluasan dalam ilmu pengetahuan dalam suatu
bidang. Hipotesis juga berfungsi memberikan arah terhadap penelitian,
dan serta memberi sebuah kerangka dalam penupenyusunan kesimpilan
dalam penelitian.

pembuktian dalam ilmu pengetahuan “diakhiri” dengan segenap


evaluasi, yakni menarik kesimpulan,sebagai penilaian apakah sebuah
hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Hipotesis yang diterima
kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah
teruji kebenarannya.44

Langakah perantara yang lain adalah memikirkan metode mana yang


akan dipakai dalam pengujian hipotesis dengan memperhatikan waktu,
ongkos, tenaga kerja, dan efisiensi dari tiap-tiap metode yang mungkin
dapat di terapkan. Fakta taka da artinya tanpa kita beri makna. Sebelum
kita mulai melakukan pengamatan dan memberikan uraian, harus di
tentukan lebih dulu apakah yang akan kita amati dan bagaimana
hubungan antara fakta tersebut dengan hipotesis.45

Dalam buku lain menejelskan hipotesis / pengujian dapat dimulai


dengan memeriksa implikasi eksperiensial (virtual prediction} dari
hipotesis. Setelah seorang imuan memilih hipotesis, langkah berikut

44
Welhendri Azwar Muliono, Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu, Jakarta : Kencana,
2019, hlm.176
45
Jujun S Sumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2009,
hlm.117
adalah menyimpulkan prediksi-prediksi ekperiensial dari hipotesis itu,
mencatat dan menyeleksi prediksi serta pada akhirnya mengamati apakah
prediksi itu terjadi atau tidak. Proses menarik prediksi-prediksi dari suatu
hipotesis kita sebut proses deduksi.

ilustrasi, “Si tommy percaya pada infalibilitas paus”. Jika hipotesis


ini benar, orang yang sama akan sangat percaya pada semua ajaran yang
diterima umum oleh orang-orang katolik. Ia juga akan terlibat dalam
praktek-praktek devosi katolik. Lebih dari itu, keluarganya memiliki
keyakinan yang sama. Semua ini merupakan proporsi-proporsi yang
diturunkan secara deduktif dari hipotesis diatas dan merupakan prediksi-
prediksi yang harus diuji kebenarannya sehingga pada gilirannya
hipotesis dapat teruji dengan benar.46

Dari penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa hipotesis / hipotesa


/ pengujian ialah pendapat awal mengenai sesuatu sebelum adanya
penelitian terhadap kebenaran pendapat tersebut, dengan pengertian lain
hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih
bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

4. Logika

Istilah logika pertama kali digunakan oleh zeno dari citium (334-262
SM), pendiri stoisme. Logika adalah istilah yang dibentuk dari kata
yunani “logikos” yang berasal dari kata benda “logos”. Kata logos
berarti sesuatu yang diutarakan , suatu pertimbangan akal (pikiran),
mengenai kata, menegnai percakapan, atau yang berkenaan dengan
bahasa. Dengan demikian, secara etimologis, logika berarti suatu
pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut logike episteme
atau logica scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang ini lazim
disebut logika saja.
46
A.Sonny Keraf, Ilmu Pengetahuan (Sebuah Tinjauan Filosofis), Yogyakarta :
Kanisius, 2001, hlm.97
Telah banyak definisi logika yang dikemukakan oleh para ahli yang
pada umumnya memiliki persaman, selain itu juga ada perbedaan. Dari
sekian banyak definisi itu dapatlah dikatakan bahwa logika adalah cabang
filsafat yang menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas,
aturan-aturan formal dan prosedur-prosedur normative, serta kriteria yang
sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang
dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.47

Penulis mengetahui bahwa pembahasan mengenai logika secara


umum terbagi menjadi dua bagian, yaitu logika ilmiah dan logika alamiah.
Logika ilmiah merupakan suatu bentuk ilmu yang sifatnya sudah lebih
khusus untuk asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran.
Sedangkan logika alamiah merupakan kemampuan yang menjadi baawaan
semenjak manusia lahir. Logika, berfikir ilmiah, dan penalaran menjadi
suatu perangkat yang terpisah dalam aspek logika ilmu dan berfikir ilmiah.
Untuk memperoleh ilmu pengetahuan dibutuhkan sebuah penalaran.
Penalaran merupakan proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indra,
dan menghasilkan sejumlah pengertian dan konsep.

5. Data - informasi

Informasi merupakan hasil proses komunikasi berupa fakta atau data.


Dalam proses komunikasi, terjadi transfer pesan yang didalamnya terdapat
perpindahan sejumlah fakta atau data yang dapat dipindahkan dari satu
titik ke titik lain, melalui komponen komunikator hingga komunikan, dari
satu individu ke individu lainnya. Informas dapat dihitung kuantitasnya,
yaitu semakin sering seseorang melakukan prose komunikasi, semakin
sering dia mengumpulkan fakta atau data, dan semakin sering ia
mendapatlan informasi. Contoh : jika anda sering membaca koran, maka
anda akan lebih banyak mempunyai informasi dan berarti banyak memiliki
fakta atau data tentang suatu peristiwa.48
47
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Kanisius, 1996, Hlm.52
48
Rachmat Kriyantono, Pengantar Lengkap Ilmu KOmunikasi (Filsafat dan
Etika Ilmunya Serta perpektif Islam), Jakarta : Prenadamedia group, 2019, Hlm.161
Penulis berpendapat, jika data adalah sekumpulan fakta yang diambil
dari beberapa kejadian yang memiliki arti penting yang dapat berbentuk
sebuah file yang dapat disimpan. Sedangkan Informasi adalah kumpulan
data yang sudah melalui proses pengolahan sehingga dapat menjadi
sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang yang kemudian digunakan untuk
pengambilan suatu keputusan atau tindakan. Contohnya, seorang ilmuan
sudah mendapatkan data dan informasi mngenai “teori-belajar” yaitu ada
4, diantaranya behaviroisme, kognitif, konstruktivisme, dan humanisme.

Tahapan ini merupakan suatu yang dikenal dalam metode keilmuan.


Disebabkan oleh banyaknya kegiatan keilmuan yang di arahkan kepada
pengumpulan data, maka banyak orang yang menyamakan keilmuan
dengan pengumpulan fakta, hasil observasi ini kemudian di tuangkan
dalam bentuk pernyataan pernyataan. Penyusunan dan klasifikasi data
tahapan metode keilmuan ini menekankan kepada penyusunan kata dalam
kelompok-kelompok, jenis-jenis dan kelas-kelas. Dalam sebuah cabang
ilmu usaha untuk mengidentifikasi, menganalisa, membandingkan, dan
membedakan fakta-fakta yang tergantung kepada adanya klasifikasi yang
disebut taksonomi dan ilmuan moderen terus berusaha untuk
menyempurnakan taksonomi untuk bidang keilmuan mereka.

6. Pembuktian

Langkah selanjutnya setelah menyusun hipotesis adalah menguji


hipoteis tersebut dengan menonfrontasikannya dengan dunia fisik yang
nyata. Sering kali dalam hal ini kita harus melakukan perantara yakni
menentukan faktor yang kita uji dalam langkah melakukan verifikasi
terhadap keseluruhan hipotesis tersebut. Trkadang kita juga
membutuhkan instrumen yang membantu panca indra umpamanya
teleskop atau mikroskop. Tidak jarang pula beberapa pembuktian ilmiah
membutuhkan alat yang rumit sekali sehingga terjadi hipotesis baru dapat
dibuktikan beberapa lama setelah di temukan alat yang dapat membantu
mengumpulkan fakta yang dibutuhkan.49

Pengujian kebenaran dalam ilmu berarti mengetes alternatif-alternatif


hipotesis dengan pengamatan kenyataan sebenarnya. Dalam hubungan ini
maka keputusan terakhir terletak pada fakta. Jika fakta satu hipotesis,
maka hipotesis yang lain dipilih dan diproses ulang. Contohnya, seorang
ilmuan sudsah dapat membuktikan kebenaran tentang “teori belajar”
tersebut agar semua orang dapat mempercayainya.

7. Evaluasi

Evaluasi adalah proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan


penafsiran informasi untuk menilai kepurtusan-keputusan yang dibuat
dalam merancang suatu system pengajaran. Evaluasi dalam hal ini adalah
menarik kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis
yag diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam menguji
hipotesis tidak terdapat fakta yang cukup mendukung maka hipotesis itu
ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari
pengetahuan ilmiah sebab telah teruji kebenarannya.50

Penulis mendefinisikan bahwa evaluasi merupakan menarik


kesimpulan yang merupakan penilaian di tolak ataukah diterima, yang
berupa penjelasan dari seluruh rangkaian metode ilmiah. Contohnya,
seluruh mahasiswa dan mahasiswi belajar selama 6 bulan, setelah itu di
adakan ujian evaluasi, dan mahasiswa dan mahasiswi memperoleh nilai
sebagai hasil dari evaluasi tersebut.

8. Paradigma ilmu pengetahuan

Menurut ritzer (2013), paradigma adalah pandangan mendasar para


ilmuwan mengenai apa yang menjadi pokok permasalahan yang

49
Komariah, Struktur Ilmu Pengetahuan, Serang, hlm.78
50
Komariah, Struktur Ilmu Pengetahuan, Serang, hlm.78-79
seharusnya dipelajari oleh satu cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan
pandangan menurut Guba, paradigm adalah sekumpulan keyakinan dasar
yang membimbing tindakan manusia. Sebagai suatu konsep, istilah
paradigma pertama kali diperkenalkan Thomas Khun (1962) dalam
karyanya The Structure of scientific revolution, dengan tujuan utama
untuk menentang asumsi yang berlaku umum di kalangan para ilmuwan
mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Paradigma merupakan
terminology kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang
diperkenalkan oleh Kuhn.

Pada ranah ilmu pengetahuan, terdapat dua paradigm besar yang


menjadi fondasi dasar dan kerangka konsepsi pemikiran, yang
“membidani” sistem anggapan dasar, kerangka filosofis, ,doktrin
metodologi, dan serta praksis bagaimana ilmu pengetahuan itu,
seharusnya dikonstruksi. Paradigma tersebut meliputi :

a. Paradigma positivisme

Salah satu metode dalam positivisme menekankan adanya prinsip


verivikatif dalam menilai kebenaran dan kebermaknaan ilmu
pengetahuan. Prinsip vertivikasi meliputi standar untuk dapat diterima
sebagai pengetahuan yang benar dan sah.

b. Paradigma post-positivisme
Post-positivisme menjadi dasar dan fondasi dimana ilmu-ilmu
social muncul dalam ranah ilmu pengetahuan yang sebenarnya
didonasi oleh ilmu-ilmu alam. Bebrtapa inti perkiraan post-
positivisme adalah sebagai berikut:
a. Fakta tidak bebas nilai melainkan kerap bermuatan teori. Prinsip
objektif sebagimana dipahami positivisme merupakan hal
mustahil ada sehingga konsepsi objektivismenya tidak dapat
diterima seutuhnya.
b. Ilmu pengetahuan tidak bebas nilai (objektif), melainkan syarat
akan nilai (subjektif).
c. Falibilitas teori, bahwa pengetahuan atau teori yang seutuhnya
harus dapat diklasifikasi. Jadi tidak bersifat empiris-verifikatif.
d. Perkembangan ilmu pengetahuan bersifat revolutif bukan
akumulatif.
Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi titik tolak
paradigma post-positivisme, yaitu berkaitan dengan “metode dan
perkembangan” ilmu pengetahuan.
c. Paradigma konstruktivisme
Konstruktivisme, satu diantara paham yang menyatakan bahwa
positivisme dan post-positivisme merupakan pandangan masih perlu
untuk direvisi dalam mengungkapkan realitas dunia. Paradigma
konstruktivisme adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas
tersebut dikonstruksi dan serta dengan cara apa konstruksi itu
dibentuk.51
Dari penulis menyimpulkan bahwa paradigma adalah
kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam
bertindak. Paradigm juga dapat diartikan sebagai cara berpikir atau
cara memahami gejala dan fenomena semesta yang dianut oleh
sekelompok masyarakat. Contohnya, memberikan penerapan :teori
belajar” kepada semua orang.

51
Welhendri Azwar Muliono, Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu, Jakarta : Kencana,
2019, hlm.181 dan 211
Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, struktur ilmu


pengetahuan yang memiliki 8 indikator yang penting dan saling berkaitan
meliputi metode ilmiah, teori, hipotesis, logika, data-informasi, pembuktian,
evaluasi, dan paradigma ilmu pengetahuan. Artinya semua harus saling
berkaitan satu sama lain, yang pertama metode ilmiah adalah prosedur dalam
mendapatkan sebuah ilmu, jadi bisa disimpulkan bahwa pengetahuan itu bisa
di dapatkan lewat metode ilmiah. Kedua teori, dalam mencapai sebuah tujuan
ilmu kita harus memiliki teori terlebih dahulu, karena teori merupakan
sesuatu penjelasan rasional yang bersesuaian dengan obyek yang
dijelaskannya. Ketiga hipotesis, ialah jawaban sementara terhadap masalah
yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Keempat, logika adalah kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan
demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara
rasional. Kelima, data - informasi merupakan hasil proses komunikasi berupa
fakta atau data. Keenam, Pembuktian ialah Pengujian kebenaran dalam ilmu,
berarti mengetes alternatif-alternatif hipotesis dengan pengamatan kenyataan
sebenarnya. Ketujuh, evaluasi merupakan menarik kesimpulan dan penilaian
di tolak ataukah diterima, yang berupa penjelasan dari seluruh rangkaian
metode ilmiah. Dan yang terakhir adalah paradigma ilmu pengetahuan,
paradigma adalah kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun
seseorang dalam bertindak. Paradigma juga dapat diartikan sebagai cara
berpikir atau cara memahami gejala dan fenomena semesta yang dianut oleh
sekelompok masyarakat.
Daftar Pustaka

A Keraf Sonny. 2001. Ilmu Pengetahuan (Sebuah Tinjauan Filosofis).


Yogyakarta : Kanisius
Azwar Muliono Welhendri. 2019. Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu. Jakarta :
Kencana
Hendrik Jan Rapar. 1996. Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Kanisius
Jujun S Sumantri. 2009. Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Komariah. Struktur Ilmu Pengetahuan. Serang
Kriyantono Rachmat. 2019. Pengantar Lengkap Ilmu KOmunikasi (Filsafat dan
Etika Ilmunya Serta perpektif Islam). Jakarta : Prenadamedia group
Silalahi Ulber. 2016. Metode dan Metodologi Penelitian, Bandung : Bina
Budhaya
Sarana Ilmiah

Pendahuluan

Kegiatan berfikir kita lakukan dalam keseharian dan merupakan ciri utama
dari kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang dianugerahi akal pikiran yang
membedakan manusia dengan makhluk lain ciptaan Tuhan. Berpikir merupakan
upaya manusia dalam memecahkan masalah. Secara garis besar berfikir dapat
dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah
pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam
sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu
secara teratur dan cermat. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai
kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani
sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan
mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia.

Pembahasan
A. Pengertian Sarana Ilmiah
Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis adalah
masuk akal, dan empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan
fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu menggunakan akal
budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, dan mengembangkan.
Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan.
Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan
pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang
menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di
dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-
pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi
ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus
ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Berfikir menurut salam (1997;139) adalah suatu aktifitas untuk
menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran, berpikir dapat juga
diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk menentukan langkah yang
akan ditempuh. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui
metode ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik perlu sarana
berpikr, yang memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara
teratur dan cermat. Dalam epistimologi atau perkembangan untuk
mendapatkan ilmu, diperlukan adanya sarana berpikir ilmiah. Sarana
berpikir ilmiah adalah alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya
secara baik. Jadi fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses
metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang lain. Sedangkan
tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita
melakukan penelaahan ilmiah secara baik.
B. Sarana Berfikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik di perlukan sarana
berpikir. Tersedianya sarana tersebut kemungkinan dilakukan penelaahan
ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini
merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuan. Tanpa
menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat di lakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan
ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah
tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah
maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini
seyogyanya kita telah menguasai langkah2 dalam kegiatan langkah
tersebut. Setiap berpikir ilmiah membutuhkan langkah yang tepat, penuh
pertimbangan, dan tersistem.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang
sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai
suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi
fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh. Dalam
proses penelirian, sarana berpikir ilmiah kni merupakan bidang studi
tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua hal yaitu : (a)
Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa
sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahun yang di dapatkan
berdaarkan metode ilmiah. Seperti di ketahui, salah satu di antara ciri-ciri
imu umpamaya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam
mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa
ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya
yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah. (b) Tujuan mempelajari
sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan menelaah ilmu secara
baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk
mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita dapat memecahkan
masalah hidup sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah
merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi
pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah.
Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai
metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan
pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu
proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri. Dilihat dari
pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif
dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri pada
sarana berpikir (a).Proses logika deduktif dan (b).Proses logika induktif.
Matematika mempunyai peran yang penting dalam berpikir deduktif ini
sedangkan statistik mempunyai peran penting dalam berpikir induktif.
Implikasi proses deduktif dan induktif menggunakan logika ilmiah. Logika
ilmiah merupakan sarana berpikir ilmiah yang paling penting.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita
menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya merupakan
pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang
diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus di dukung oleh
penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke
arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-
masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir
ilmiah.52
Adapun sarana berpikir ilmiah adalah: bahsa, logika, matematika,
dan statistika. Keempat sarana berpikir ilmiah ini sangat berperan dalam
pembentukan ilmu yang baru. Syarat suatu ilmu adalah bila ilmu itu sesuai
dengan pengetahuannya dan sesuai dengan kenyataanya, atau dengan kata
lain suatu ilmu itu berada di dunia empiris dan dunia rasional. Andaikan
ilmu itu bergerak dari khasanah ilmu yang berada di dunia rasional,
kemudian ilmu itu mengalami proses deduksi. Dalam proses deduksi ini,
saran berpikir ilmiah yang berperan adalah logika dan matematika.
C. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, dan
Statistik
1. Bahasa
Pertama-tama bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi
untuk berkomunikasi. Kedua, bahasa merupakan lambang dimana
rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Adanya bahasa ini
memungkinkan kita untuk memikirkan sesuatu dalam benak kepala
kita, meskipun obyek yang sedang kita pikirkan tidak berada di dekat
kita.
Komunikasi ilmiah mensyariatkan bentuk komunikasi yang sangat
lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk
menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan.Agar komunikasi
ilmiah ini berjalan dengan baik maka bahasa yang digunakan harus
terbebas dari unsur-unsur emotif. Oleh sebab itu maka proses
komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan obyektif. Berbahasa dengan
jelas artinya bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang
digunakan diungkapakan secara tersurat (eksplisit) untuk mencegah
pemberian makna yang lain. Oleh sebab itu, dalam komunikasi ilmiah
kita sering mendapatkan definisi dari kata-kata yang dipergunakan.
Kalau kita teliti lebih lanjut, maka kalimat-kalimat dalam sebuah karya
ilmiah pada dasarnya merupakan suatu pernyataan. Pernyataan itu

52
Suwardi Endraswara, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, CAPS, 2012, Hal.227-229
melambangkan suatu pengetahuan yang ingin kita komunikasikan
kepada orang lain.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang
mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan
pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. Oleh sebab itu,
gaya penulisan ilmiah, dimana tercakup di dalamnya penggunaan tata
bahasa dan penggunaan kata-kata, harus diusahakan sedemikian
mungkin untuk menekan unsur-unsur emotif. Disamping itu, karya
ilmiah mempunyai format-format penulisan tertentu seperti cara
meletakkan catatan kaki atau menyertakan daftar bacaan. Semua ini
harus dikuasai dengan baik oleh seorang penulis ilmiah agar dapat
berkomunikasi dengan baik.53
2. Logika
Logika dapat diartikan sebagai pengetahuan yang mempelajari
asas, aturan, dan tata cara penalaran yang betul. Jadi logika adalah
ilmu pengetahuan yang mempelajari pikiran untuk berpikir lurus yang
dinyatakan dalam bahasa dan tata cara penalaran yang betul.
Sedangkan menurut Sudarsosono, Logika memiliki pandangan
dalam arti sempit dan luas. Logika dalam arti sempit ialah logika yang
mempelajari tentang asas-asas penalaran yang bersifat deduktif yakni
penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan sebagai pangkal pikiran.
Sehingga bersifat betul hanya berdasarkan bentuknya. Sementara itu,
logika dalam arti luas mencangkup perbincangan yang sistematis
mengenai pencapian kesimpulan-kesimpulan dari berbagai bukti dan
tentang bagaimana sistem-sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam
termasuk didalamnya membahas tentang logika itu sendiri.
Peran logika sebagai alat berpikir ilmiah adalah sebagai sarana
penunjang sesorang untuk berpikir ilmiah apabila ditinjau dari pola
berpikirnya. Hal ini dikarenakan ilmu merupakan gabungan antara
berpikir deduktif dan induktif. Oleh sebab itu penalaran ilmiah secara
logika menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan induktif.

53
Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2007, Hal.175-
180
Penalaran merupakan suatu proses berpikir untuk menghasilkan
pengetahuan. Agar pengetahuan yang di hasilkan dari penalaran itu
mepunyai dasar kebenaran dan ilmiah, maka proses berpikir itu harus
di lakukan dengan cara tertentu. Cara tertentu yang dapat dilakukan
untuk mencapai dasar kebenearan yaitu dengan penarikan kesimpulan
secara valid. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau
proses penarikan tersebut dilakukan menurut cara tersebut. Oleh
karena itu, cara penarikan kesimpulan ini di sebut logika.
Terdapat bermacam macam cara penarikan kesimpulan,
diatanaranya penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan
logika dedutif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan
kesimpulan dari kasus-kasus individual yang menjadi kesimpulan
umum. Sedangkan logika deduktif membantu kita dalam menarik
kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menjadi kusus yang
bersifat individual.54
3. Matematika
Dalam hal ini filsafat matematika masuk ke dalam filsafat keilmuan
disanding oleh filsafat fisika, biologi, linguistik, psikologi, dan ilmu-
ilmu sosial. Ilmu matematika terbilang sangat tua, sebab mulai dari
peradaban yunani romawi kuno, mesir kuno sampai abad mlenium,
matematika tetap memegang peran penting diseluruh sendi kehidupan
manusia.
Lambang matematika bersifat artifisial (mempunyai arti setelah
makna dilekatkan padanya / bahasa buatan). Perkembangan IPTEK
sekarang ini di satu sisi memungkinkan untuk memperoleh banyak
informasi dengan cepat dan mudah dari berbagai tempat di dunia.
Karena itu diperlukan kemampuan cara mendapatkan dan mengolah
informasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, dituntut sumber daya
yang handal dan berkompetensi secara global, sehingga diperlukan
ketrampilan tinggi yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis,
kreatif dan kemauan bekerja sama yang efektif.

54
Drs.Bambang Triyanto, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Deepublish, 2014, Hal.97-100
Cara berfikir seperti ini dapat dikembangkan melalui matematika.
Karena matematika memiliki struktur dalam keterkaitan yang kuat dan
jelas satu sama lain serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan
konsisten.55
Matematika pada garis besarnya merupakan pengetahuan yang
disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Betrand russel &
whitead dalam karyanya yang berjudul principial matematica mencoba
membuktikan bahwa dalil-dalil matematika pada dasarnya adalah
pernyatan logika. Selanjutnya dalam gagasan muhammad sholeh pada
dasarnya objek pembicaraan matematika adalah objek abstrak,
metodologinya adalah deduktif, yaitu berawal dari pengertian dan
pernyataan lalu diturunkan dari pengertian dan pernyataan pangkal
sebelumnya yang telah di jelaskan atau dibuktikan kebenarannya.

4. Statistika
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang
bertelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika memberikan cara
untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan
mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika
mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari
kesimpulan yang ditarik itu, yang pada dasarnya didasarkan pada asas
yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka
makin tinggi tingkat ketelitian itu dan sebaliknya.
Menurut Amsal Bachtiar (2010) secara etimologi statistik berasal
dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan
state, yang dalam bahasa Indonesia artinya negara. Selanjutnya
Sudjana (1996) statistika yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan
cara-cara pengumpulan data, pengelolaan, atau penganalisian yang
dilakukan. Jadi, hakikat statistika yaitu sekumpulan metode dalam

55
Dr.Nunu Burhanuddin, Filsafat Ilmu, Jakarta Timur, Prenada Media Group, 2018,
Hal.157-162
memperoleh pengetahuan untuk mengelola dan menganalisis data
dalam mengambil suatu kesimpulan ilmiah.
Dalam perspektif metode keilmuan, peran statistika ini digunakan
sebagai: pertama, untuk menghitung besarnya anggota sampel yang
akan diambil dari populasi. Kedua, alat untuk menguji validitas dan
reabilitias instrumen. Ketiga, teknik untuk menyajikan data, sehingga
data lebih komunikatif. Keempat, alat untuk analisis data seperti
menguji hipotesis penelitian yang diajukan. Oleh sebab itu, guna
mencapai hasil yang diinginkan maka peneliti tersebut harus
menggunakan sarana statistika. Penerapan lain dari statistika dapat
dilihat dalam penelitian pasar, produksi, kebijaksanaan penanaman
modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri,
ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko dalam pemberian kredit,
dan lain-lain.56
Statistika sebagai alat atau sarana berpikir ilmiah tidak memberikan
kepastian namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis
tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin
bnar mungkin salah. Langkah yang ditempuh dalam logika induktif
menggunakan statistika adalah observasi dan eksperimen,
memunculkan hipotesis ilmiah, verifikasi dan pengukuran, dan sebuah
teori dan hukum ilmiah.
Salah satu langkah induktif dalam statistika berupa verifikasi atau
pengujian. Pengujian statistika adalah konsekuensi pengujian secara
empiris. Karena pengujian statistika adalah suatu proses pengumpulan
fakta yang relevan dengan rumusan hipotesis. Artinya, jika hipotesis
terdukung oleh fakta-fakta empiris, maka hipotesis itu diterima sebagai
kebenaran. Sebaliknya, jika bertentangan hipotesis itu ditolak. Maka,
pengujian merupakan suatu proses untukm mencapai simpulan bersifat
umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Dengan demikian
bahwa penarikan simpulan itu berdasarkan logika induktif.

56
Mukhtar Latif, Filsafat Ilmu, Jakarta Timur, Prenada Media Group, 2016, Hal.161-163
Dengan statistika kita dapat melakukan pengujian dalam bidang
keilmuan sehingga banyak masalah dan pernyataan keilmuan dapat
diselesaikan secara faktual. Dengan demikian, berikut ada beberapa
peranan statistika dalam tahap-tahap metode ilmiah:
a. Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang ajan
diambil dari populasi
b. Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen
c. Teknik untuk menyajikan data-data, sehingga data lebih
komunikatif
d. Alat untuk analisis data seperti menguji hipotesis penelitian
yang diajukan.

Kesimpulan

Sarana ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam


berbagai langkah yang harus di laksanakan agar berpikir ilmiah tersebut berjalan
dengan baik. Meliputi : bahasa, yaitu untuk menyampaikannya digunakan bahasa
yang jelas dan efektif. Logika, yaitu berpikir menurut kaidah yang dapat dicerna
oleh nalar dan pemikiran ilmiah yang berlaku. Matematika, merupakan alat yang
dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui
abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi atau pemecahan masalah.
Statistika, mempunyai peranan penting dalam berpikir imiah. Statistika
memberikan cara untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan
mengamati hanya sebagaian dari populasi yang bersangkutan
Daftar Pustaka

Dr.Nunu Burhanuddin, 2018. Filsafat Ilmu. Jakarta Timur. Prenada Media


Group
Drs.Bambang Triyanto,. 2014. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Deepublish
Jujun S.Suriasumantri. 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan
Mukhtar Latif, 2016. Filsafat Ilm. Jakarta Timur. Prenada Media
Group
Suwardi Endraswara. 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, CAPS
Moralitas Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Sejak lahirnya manusia di dunia, sebenarnya mereka telah memiliki ilmu


pengetahuan sebagai penolong hidupnya untuk bertahan dan melangsungkan
keberlanjutan generasinya hingga saat ini. Seiring berkembangnya zaman
berkembang pula ilmu pengetahuan, sebagai ilmuwan dalam melahirkan ilmu
pengetahuan baru juga harus memperhatikan prinsip filsafat ilmu “aksiologi”
berpihak pada keindahan (estetika) dan moral (etika). Namun justru aspek
aksiologis inilah seringkali diabaikan oleh para ilmuan atau penggandrung
teknologi , sehingga seringkali terdengar jeritan tangis manusia dimuka bumi baik
dibelahan timur, utara atau selatan, tidak lain disebabkan oleh tangan-tangan
manusia yang berilmu pengetahuan yang telah nyaris membuat musnah
keghidupan di muka bumi ini dan membuat derita sesama manusia sepanjang
hayat.

Belum lagi dibidang kesehatan dan farmasi , industri persenjataan, seni


hiburan yang telah menggunakan teknologi yang tinggi, dan berbagai teknologi
informasi yang mutakhir. Berbagai kemajuan teknologi dan informasi ini tak
jarang yang telah merendahkan derajat hidup manusia di muka bumi.Ini terjadi
karena para ilmuwan tidak berpegang teguh pada prinsip aksiologis ilmu
pengetahuan yang seyogyanya menjunjung tinggi dan berpegang teguh pada nilai-
nilai normatif ,estetika dan moralitas ilmu bagi kemaslahatan manusia, makhluk
hidup, dan memelihara peradaban kemanusiaan yang luhur di muka bumi.

Oleh karenanya dalam filsafat ilmu harus dirangkai pada 3 pijakan dasar,
yakni ilmu, agama (moral), dan seni. Ketiganya harus saling berkaitan dan saling
menguatkan menjadi sumber nilai yang kukuh serta dapat dikembangkan oleh
ilmuwan manapun dan kapanpun sepanjang untuk kepentingan kemaslahatan
umat manusia. 57

57
Muhtar Latif, Orientasi ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu, (Jakarta: Prenada Media
Group, 2014), Hlm. 14.
1. Tanggaung Jawab Ilmuwan
Ilmu merupakan salah satu pengetahuan yang diperlukan manusia
dalam kehidupan secara lebih cepat dan lebih mudah, dan tidak bisa
dipungkiri bahwa peradaban manusia tergantung pada kemajuan ilmu
pengetahuan.
Pertanyaannya, apakah ilmu ini merupakan suatu berkah atau malah
menjadi suatu musibah bagi manusia? Semua jawabannya ada pada sikap
ilmuwan itu sendiri dan hakikat dari ilmu yang berfungsi untuk
keselamatan dan kebahagiaan manusia.58
Tanggung jawab ilmuwan tidak hanya memberi informasi, tetapi
juga harus menjadi teladan. Oleh sebab itu, ia harus objektif, terbuka,
menerima kritik, menerima pendapat orang lain, konsisten dengan
pendiriannya yang dianggap benar, dan berani mengakui
kesalahan.Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistimologinya saja :
kalau hitam katakan hitam kalau putih katakan putih, tanpa berpihak pada
siapapun juga selain kepada kebenaran yang nyata. Adapun secara
ontologi dan aksiologi ilmuwan harus mampu menilai antara yang baik
dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan
sikap (suriasumantri, 2000:36).59
Sikap inilah yang mengendalikan ilmu yang besar. Sebuah
keniscayaan bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral
yang kuat. Jika ilmuwan tidak dilandasi moral yang kuat, maka akan
disalah gunakan dan mengubah ilmu yang semula sebuah berkah untuk
manusia menjadi bencana bagi manusia.
Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan dan juga sebagai ciri
manusia modern adalah sebagai berikut:
a. Nilai teori : manusia modern dalm kaitannya dengan niilai teori
dicirikan oleh cara berpikir rasional, orientasinya pada ilmu dan
teknologi, serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru.
b. Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial, manusia modern
dicirikan oleh sikap individualistik, menghargai profesionalisasi,

58
Acang Rahmad, Filsafat Ilmu Lanjuta,(Jakarta: Prenada Media Group,2011), Hlm. 157.
59
Jamal Makmur Asmani, Mengembangkan fikih sosial KH.MA.Sahal Mahfud Elaborasi
Lima Ciri Utama, (Jakarta: Elex Media Komputindo,2015), hlm. 112.
menghargai prestasi, bersikap positif terhadap keluarga kecil, dan
menghargai hak-hak asasi perempuan.
c. Nilai ekonomi : dalam kaitan dengan nilai ekonomi, manusia modern
dicirikan oleh tingkat produktifitas yang tinggi, efisien menghargai
waktu, terorganisasikan delam kehidupannya, dan penuh perhitungan.
d. Nilai pegambilan keputusan : manusia modern dalam kaitannya
dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupan
bermasyarakat , dan keputusan yang diambil berdasarkan pada
pertimbangan pribadi.
e. Nilai agama : dalam hubungannya dengan nilai agama, manusia
moderen dicirikan dengan tidak bersikap fatalistik, analitis sebagai
lawan mistis (Suriasumantri, 1986,semiawan, C. 1993).60

60
Rahmat, Op.Cit., 159.
2. Ilmu Bebas Nilai atau Tidak
Pembicaraan tentang kaitan ilmu dan nilai banyak memunculkan
perdebatan, ada kelompok yang berpendapat bahwa ilmu itu bebas nilai,
dan sebaliknya ada kelompok lain yang mengatakan ilmu tidak bebas nilai
dan tidak pernah bebas nilai.
Kaum positivisme tidak membedakan ilmu alam, sosial dan ilmu
kemanusiaan merupakan pembela gigih gagasan ilmu bebas nilai. Dalam
sejarah pemikiran Descrates (1596-1650) yang mencoba dengan keraguan
metodisnya mencari titik tolak kebenaran yang tidak dikaitkan baik pada
dogma maupun nilai tertentu. Ia menemukan bahwa dasar yang pasti dari
kebenaran adalah “Aku yang berpikir”. Dari titik tolak itulah kebenaran
lain harus diturunkan, dengan kata lain sebuah ilmu atau kebenaran tidak
bisa berdiri sejajar dengan ilmu/kebenaran lainnya, apabila sebuah kebaran
atau ilmu satu di pegang maka ilmu atau pengetahuan lain diturunkan.
Memisahkan atau membedakan ilmu dan nilai disini untuk menegakan
otonomi ilmu, agar ilmu bisa berdiri sendiri, berkembang dan maju.
Namun dalam penerapan ilmu banyak sekali menimbulkan persoalan,
yang paling dekat dengan kita yaitu teknologi bom nuklir yang
dikembangkan di Rusia, Korea, Amerika dan negara” lainnya menjadi
catatan serius tentang penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi,
ada dua masalah yang membangkitkan kembali kaitan ilmu dan nilai, yaitu
ilmu itu sendiri dan pemanfaatan ilmu.
Sebenarnya pembahasan antara ilmu bebas nilai atau tidak tidaklah
harus secara kaku, lebih baik dirumuskan secara hati-hati dan tidak saling
menyerang seakan tiap pendirian memiliki kebenaran sendiri. Ilmu
lengkap dengan keunggulan dan keterbatasannya merupakan sebuah nilai
berdampinhgan dengan nilai-nilai lain, dalam artian ini ilmu tidak pernah
bebas nilai. Apalagi kalau dilihat secara menadalam ilmu sendiri
merupakan perwujudan suatu nilai etis yaitu mencari kebenaran. Tentu
tidak bijak apabila membandingkan secara tidak proporsional nilai
kebenaran ilmu dan kebenaran agama misalnya, apalagi jika sampai pada
kesimpulan bahwa nilai yang satu lebih tinggi dan yang lain lebih rendah.
Harus disadari bahwa keduanya memeiliki nilai khas dan wewenang
sendiri-sendiri.
Ilmu merupakan salah satu nilai diantara nilai-nilai yang lain, ilmu
harus tetap bebas, bebas disini berarti ilmu jangan membiarkan diri
terpengaruh dengan nilai diluar ilmu. Tentu bukan berarti ilmu tidak
menghiraukan nilai yang berasal dari luar ilmu. Akan tetapi, yang perlu
ditekankan bahwa ilmu akan bernilai kalau ilmu itu bebas.61

3. Moralitas Ilmu Pengetahuan


Secara etimologi, etika berasal dari bahsa Yunani ethos yang berarti
watak. Sedangkan moral berasal dari bahsa Latin mos (bentuk tunggal)
dan mores (bentuk jamak) yang sering diartikan sebagai kebiasaan.
Menurut Helden dan Richards yang dikutip Sjarkawi merumuskan
pengertian moral:
Sebagai suatu kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan
dibandingkan dengan tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan
terhadap prinsip dan aturan. Moral atau moralitas merupakan pandangan
tentang baik dan buruk, benar dan salah apa yang dapat dan tidak dapat
dilakukan. Selain itu, moral juga merupakan seperangkat keyakinan dalam
suatu masyarakat berkenaan dengan karakter atau kelakuan dan apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia.62
Urgensi nilai-nilai moral atau etika dalam ilmu pengetahuan sangat
penting untuk menjaga kestabilan dunia, banyak ilmuan-ilmuan barat
sering mangabaikan persoalan etika, sehingga barat mampu mencapai
kemajuan sains dan teknologi, namun kemajuan tersebut sesungguhnya
semu dan mengalami kepincangan mengingat dalam waktu yang
bersamaan menimbulkan dekadensi moral yang sangat parah. Porak
porandanya lembaga keluarga, hilangnya pegangan hidup (anomie),
revolusi seksual, kejahatan, alkoholisme, eskapisme, sadisme, penyakit

61
Aceng Rahmad, Filsafat Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Hlm.
178.
62
Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional, Dan
Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara,2006), hlm. 28.
mental, adalah sisi nyata kehidupan modern sebagai dampak ilmu
pengetahuan tanpa terkawal moral.
Dalam islam diyakini bahwa etika memiliki peranan yang besar
dalam menuntut perkembangan pengetahuan dan respon masyarakat,
sehingga pertimbangan-pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan
menyertai pertimbangan-pertimbangan epistimologis, supaya disamping
mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan
moralitas yang positif.
Dalam islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi
dan tujuan. Sehingga keberadaan ilmu sebagai lantaran untuk mencapai
keselamatan. Didalam islam ini bukan sekedar teori semata, namun juga
sudah dibuktikan atau di praktikkan oleh sejumlah orang di suatu zaman,
manusia menundukan alam fisik, namun iman (nila-nilai kebenaran yang
tersimpan dalam hati) dapat membuka sebuah pintu yang ilmu sekalipun
tidak dapat membukanya.63

63
Taufik Nasution, Filsafat Ilmu:Hakikat Mencari Pengetahuan, (yogyakarta: Budi
Utama, 2016), hlm. 96.
Kesimpulan

Moralitas ilmu pengetahuan dalam filsafat ilmu ada beberapa yang perlu
diketahui atau dipahami. Tanggung jawab ilmuwan tidak hanya memberi
informasi, tetapi juga harus menjadi teladan. Oleh sebab itu, ia harus objektif,
terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, konsisten dengan
pendiriannya yang dianggap benar, dan berani mengakui kesalahan.Netralitas ilmu
hanya terletak pada dasar epistimologinya saja : kalau hitam katakan hitam kalau
putih katakan putih, tanpa berpihak pada siapapun juga selain kepada kebenaran
yang nyata. Adapun secara ontologi dan aksiologi ilmuwan harus mampu menilai
antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia
menentukan sikap.
Tokoh sosiologi, Weber, menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai
tetapi ia juga mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial harus menjadi nilai yang
relevan(value-relevant).Weber tidak yakin ketika para ilmuwan sosial melakukan
aktivitasnya seperti mengajar atau menulis mengenai bidang ilmu sosial itu
mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan tertentu atau tidak bias.
Nilai-nilai itu harus diimpikasikan bagian-bagian praktisi lmu sosial jika praktek
itu mengandung tujuan atau rasional. Tanpa keinginan melayani kepentingan
segelintir orang, budaya, moral atau politik yang mengatasi hal-hal lainnya, maka
ilmuwan sosial tidak beralasan mengajarkan atau menuliskan itu semua.Suatu
sikap moral yang demikian itu tidak mempunyai hubungan objektivitas ilmiah.
Secara etimologi, etika berasal dari bahsa Yunani ethos yang berarti watak.
Sedangkan moral berasal dari bahsa Latin mos(bentuk tunggal) dan mores (bentuk
jamak) yang sering diartikan sebagai kebiasaan. Menurut Helden dan Richards
yang dikutip Sjarkawi merumuskan pengertian moral: Sebagai suatu kepekaan
dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dibandingkan dengan tindakan lain yang
tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip dan aturan. Moral atau moralitas
merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah apa yang dapat
dan tidak dapat dilakukan.
Daftar Pustaka

Asmani Jamal Makmur. 2015. Mengembangkan Fikih Sosial KH.MA.Sahal


Mahfud Elaborasi Lima Ciri Utama. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Latif Muhtar. 2014 Orientasi ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenada
Media Group.
Nasution Taufik. 2016. Filsafat Ilmu:Hakikat Mencari Pengetahuan, Yogyakarta:
Budi Utama.

Rahmad Acang. 2011. Filsafat Ilmu Lanjuta. Jakarta: Prenada Media


Group.
Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual,
Emosional, Dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati
Diri.Jakarta: Bumi Aksara.
Tantangan Dan Masa Depan Perkembangan Ilmu

Pendahuluan

Ilmu merupakan peran yang sangat penting bagi manusia yang bertujuan
untuk membuat ketentraman hidup dan ketenangan jiwa. Bahkan semua agama
mewajibkan untuk menuntut ilmu. Ilmu memiliki sifat fleksibel dan akan terus
berkembang mengikuti semua perkembangan zaman dan pola pikir manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan, telah menjadi sebuah mata rantai


kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia. Ilmu
pengetahuan yang semakin maju, menjadi bukti nyata akan pemikiran manusia
yang semakin kompleks. Banyak ilmu yang sudah dikembangkan untuk kebaikan
manusia, misalnya saja dalam bidang kedokteran, teknologi, komunikasi, dan lain
sebagainya.

Semua kemajuan ilmu pengetahuan itu diciptakan dengan tujuan


membantu manusia dalam menjalani kehidupannya. Akan tetapi, perkembangan
ilmu pengetahuan yang semakin maju tidak akan terlepas dari tantangan yang
semakin berat. Ilmu pegetahuan yang semakin kompleks menjanjikan resiko yang
semakin tinggi juga, baik bagi manusia maupun ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pembahasan

A. Kemajuan Ilmu dan Krisis Kemanusiaan


Secara terminologi, Ilmu atau Sains adalah pengetahuan dengan
ciri-ciri, tanda-tanda, dan syarat-syarat tertentu. Ilmu secara bahasa ialah
pengetahuan tentang sesuatu yang disusun secara sistematis menurut
metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala
tertentu dalam bidang tersebut. Ilmu memiliki sifat fleksibel dan akan
terus berkembang mengikuti sesuai perkembangan zaman dan pola pikir
manusia. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia,
namun tidak semua yang dilakukan akan diterima oleh orang lain64

64
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawati Press. 2009) hlm. 135
Hingga saat ini, perkembangan ilmu dan teknologi semakin pesat.
Banyak fasilitas yang tercipta demi terwujudnya kemudahan dalam
menjalankan segala aktivitas manusia. Misalnya saja dalam ilmu
kedokteran. Sudah banyak hal yang dilakukan oleh para ilmuan dalam
menciptakan abiotik untuk suatu penyakit tertentu. Ada juga ilmuan yang
mencoba melakukan rekayasa genetik terhadap manusia. Namun tidak
sedikit masyarakat yang tidak menyetujui hal tersebut. Mereka
beranggapan bahwa kegiatan tersebut merupakan suatu pelanggaran
martabat manusia dan penyalahgunaan ilmu.
Ada beberapa hal yang akan terjadi di masa depan sebagai dampak
dari perkembangan ilmu pengetahuan. Diantaranya;
1. Perubahan lingkungan
2. Jumlah penduduk yang semakin bertambah
3. Krisis air bersih
4. Rusaknya ekosistem alam
5. Meningkatnya suhu bumi yang disebabkan oleh efek
rumah kaca
6. Krisis lahan untuk tempat tinggal dan hutan

Krisis adalah suatu keadaan dimana terjadinya peralihan dari


keadaan lama menuju keadaan baru dan keadaan tersebut belum memiliki
kepastian. Krisis kemanusiaan merupakan suatu peristiwa ancaman krisis
terhadap keamanan, kesehatan, dan keberadaan suatu komunitas atau suatu
kelompok dalam suatu wilayah Masyarakat modern telah berhasil
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih untuk
mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya. Sebagai contoh, kemajuan
indstri telah mengahasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, sehingga
kebutuhan jasmani tidak sulit untuk memenuhinya. Seharusnya kondisi
seperti ini membawa kebahagiaan bagi masyarakat. Namun pada
kenyataannya, kebahagiaan itu tidak ada, hidup menjadi semakin sulit,
terlebih untuk mendapatkan materi sebagai pemenuh kebutuhan.

Selain itu, nilai-nilai akhlak mulia mengalami kemunduran moral


(degradasi moral). Seperti yang diketahui, dapat diprediksi bahwa
kehidupan masyarakat di masa yang akan datang memiliki prinsip
individualisme dan interaksi sosial akan semakin berkurang. Contohnya,
Gerakan emanspasi wanita yang dimanfaatkkan sejumlah perusahaan
untuk merekrut pekerja wanita dengan pertimbangan lebih mudah diaatur,
pekerjaan menjadi lebih rapi, namun dengan upah yang lebih rendah. Hal
ini menyebabkan para pria sulit untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga
memungkinkan tindakan kriminal menjd meningkat. Dampak globalisasi
dan gaya hidup barat juga menjadi salah satu alasan yang menjadi
degradasi moral.

Para ilmuan telah membuktikan bahwa kemampuan berfikir


mereka semakin berkembang. Mereka telah menciptakan berbagai
penemuan canggih dan teknologi untuk kepentingan manusia. Namun
harus segera disadari bahwa semua itu harus bisa dimanfaatkan dan
dikendalikan dengan benar. Ada 4 hal yang dapat digunakan untuk
mengatasi permasalahan yang muncul di masa depan, yaitu:65

1. Tujuan yang jelas


2. Sumber keuangan yang memadai
3. Teknologi yang efektif
4. Implementasi strategi yang jelas

Di Indonesia sendiri, konstribusi ilmuan sangat memprihatinkan.


Mulai dari masalah pendanaan hingga periziinan menjadi kendala besar
dalam mengoptimalkan penelitian oleh para ilmuan. Banyak diantara
mereka yang pada akhirnya memilih untuk mengembangkan potensi
mereka di luar negeri. Akan menjadi bijaksana apabila pemerintah
Indonesia melakukan optimalisasi terhadap penelitiian yang dilakukan
oleh ilmuan dalam negeri. Hal ini dapat di mulai dengan melakukan
sirkulasi terhadap kemampuan inovasi, pengembangan teknologi, dan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, membangun

65
Arif, Oesman. Dasar-dasar Ilmu Filsafat Timur dan Barat. GentaNusantara.com
(diakses pada tanggal 11 September 2019, pukul 10:00) hlm. 115
komunikasi yang baik dengan pemerintah, industri, dan lembaga akademik
lainnya yang dapat membantu.

Akan menjadi langkah bijaksana jika Indonesia melakukan


optimilisasi terhadap penelitian yang dilakukan oleh ilmuan dalam negeri,
memberi wadah untuk melakukan riset ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dimulai dengan melakukan penyaringan terhadap kemampuan inovasi,
intelegensi, penelitian, dan teknologi, serta meningkatkan kualitas SDM.
Selain itu, pentingnya membangun komunikasi dan jaringan yang intesif
oleh pemerintah, industri, dan lembaga akademik dengan lembaga terkait
di luar negeri. Selanjutnya, membangun komunikasi dengan SDM di
Indonesia yang berada di instansi riset diluar negeri untuk berkontribusi
aktif dan bekerjasama mengembangkan teknologi di dalam negeri.
Tentunya juga memberikan kesempatan pada ilmuan dan SDM terkait
untuk terlibat langsung dengan proyek penelitian. Dan yang terakhir,
pemerintah juga tidak lupa memberikan penghargaan terhadap para ilmuan
atas kerja mereka dalam bidang keilmuan masing-masing.

B. Agama, Ilmy, dan Masa Depan Manusia


Agama dan Ilmu merupaka dua komponen yang penting dalam
kehidupan masyarakatsaat ini. Ilmu adalah bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari ketuhanaan .karena sumber ilmu yang hakiki adalah
Tuhan. Namun, tetap saja ada beberapa antara Ilmu dan Agama. Ilmu
merupakan hal yanag objektif, logis, empiris, fleksibel, dan progesif.
Adapun agama, merupaka hal yang subjektif dan mengedepankan ritual
terhadap hubungan makhluk dengan Tuhan. Agama memberikan
kebutuhan alam batin dan mempersiapkan untuk kehidupan setelah
kehidupan ini. Sedangkan ilmu sendiri, lebih berperan dalam pemenuhan
kebutuhan lahir yang memberikan kepuasan untuk kehidupan di dunia. 66
Semua agama mengajarkan umatnya untuk mencari ilmu, bahkan
ada yanag mewajibkannya. Namun, bukan berarti hal ini menyebabkan
lepas kendali dan dapat mengeksploitasi ilmu tanpa mempertimbangkan
66
Sudibyo, Lies. Filsafat Ilmu. ( Yogyakarta: CV Budi Utama. 2012) hlm 123
nilai-nilai dan norma yanag berlaku. Disinilah agama berperan sebagai
kontrol terhadap perkembangan ilmu, memberikan rambu-rambu dalam
pergaulan masyarakat.
Sementara itu, pendidikan juga turut serta berperan dalam
menghadapi tantangan masa depan. Ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi perkembangan pendidikan, yaitu :
1. Pemerataan Pendidikan
2. Proses belajar mandiri
3. Kurikulum yang sesuai dengan pembangunan sosial
4. Tenaga pendidik professional
5. Pendidikan berkelanjutan
6. Pembiayaan yang sesuai
7. Manajemen pendidikan yang efektif
8. Partisipasi masyarakat

Berdasarkan Undnag-Undang No. 2 tahun 1989 tentang sistem


pendidikan nasioanal, menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasioanl
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mandiri serta
rasa tanggungjawab masyarakat dan kebangsaan.

Pentingnya pemahaman secara menyeluruh mengenai pendidikan


dan penerapanyya dalam bentuk teknologi, peran guru sebagai pendidik,
pengajar, dan motivator mutlak dibutuhkan. Sebagai langkah awal, guru
diharapkanmampu menggunakan perangkat teknologi dalam pendidikan.
Selain itu, dibutuhkan karakter guru yang dewasa, cerdas, bermoral,
budipakerti luhur, bertanggung jawab, dan menghargai setiap potensi
siswa.

Pemanfaatn kemajuan ilmu pengetahuan dan aplikasi dikehidupan


nyata hendaknya dibatasi oleh pemahaman menyeluruh mengenai
keilmuan itu sendiri. Semua hasil penemuan ilmu pengetahuan semata-
mata digunakan untuk mempermudah manusia menjalani hidupnya tanpa
menimbulkan arogansi ilmu, dan merusak dari manusia sampai
lingkungannya. Tnggung jawab meminimalkan dampak dan tantangan
berat keilmuan tidak hanya berada ditangan para ilmuan atau para ahli
dibidangnya. Masyarakat umumpun ikut berperan menghadapi tantangan
tersebut agar tidak mengacaukan tatanan kehidupan. Jika dalam
menghadapi tantangan dilakukan dengan kesiapan dan koordinasi yang
baik, tentunya kehidupan yang tenteram, sejahtera, dinamis, serta
manusiawi dapat terwujud.

Kesimpulan

Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu yang disusun secara


sistematis menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu dalam bidang tersebut.
Krisis merupakan suatu peristiwa ancaman terhadap keamaan,
kesehatan, dan keberadaan suatu komunitas atau suatu kelompok dalam
suatu wilayah. Adapun agama, merupakan hal yang subjektif dan
mengedepankan ritual terhadap hubungan makhluk dengan Tuhan.
Sedangkan ilmu sendiri, lebih banyak berperan dalam pemenuhan
kebutuhan lahir yang memberikan kepuasan untuk kehidupan di dunia.
Daftar Pustaka

Arif, Oesman. Dasar-dasar Ilmu Filsafat Timur dan Barat.


GentaNusantara.com.
Bakhtiar, Amsal.2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press
Sudibyo, Lies. 2014. Filsafat Ilmu. CV Budi Utama.