Anda di halaman 1dari 12

PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

OFIOLIT

Ofiolit merupakan fragmen fosil-fosil dari lempeng samudera yang ditemukan


sebagian besar pada benua maupun di busur kepulauan.
Istilah ofiolit digunakan pada sederetan batuan ultramafik, gabro sampai pillow lava
dan batuan sedimen. Ofiolit pada batuan sedimen umumnya batuan sedimen pelagik yang
berasosiasi dengan gabro dan dolerit (Ringwood, 1975). Sedangkan menurut Hutchison
(1983), ofiolit merupakan kumpulan khusus dari batuan mafik-ultramafik dengan batuan beku
sedikit asam sodium yang berassosiasi dengan batuan sediment laut dalam.

BATUAN ULTRAMAFIK

Deskripsi batuan ultramafik ini mengacu pada Waheed (2002), batuan ultramafik
adalah batuan yang kaya akan mineral-mineral mafik (ferromagnesian). Mineral mafik adalah
mineral yang mengandung gugusan senyawa Fe dan Mg, yang terdiri dari olivin, piroksen,
hornblende, biotit dengan warna yang gelap. Batuan ultramafik mengandung silika (SiO2)
kurang dari 45 % dan memiliki indeks warna > 70 %.
Sebagian besar batuan ultramafik adalah batuan ultrabasa, tetapi tidak semua batuan
ultrabasa adalah batuan ultramafik. Batuan ultrabasa dapat kaya akan mineral feldspatoid
tetapi batuan ultramafik tidak. Menurut Hughes, (1982) batuan beku ultra basa adalah : batuan
beku yang kurang akan kandungan silika (SiO2).
Dalam suatu kelompok batuan yang terdiri dari piroksenit yang tinggi silica (60 %)
dapat didefinisikan sebagai batuan ultramafik tetapi belum tentu dapat dikatakan batuan
ultrabasa. Sebagian besar batuan ultramafik adalah batuan beku plutonik.

KLASIFIKASI BATUAN ULTRAMAFIK


Klasifikasi batuan ultramafik berdasarkan kandungan mineral mafik seperti terlihat
pada Gambar 1, terbagi atas :
1. Dunit
Menurut Waheed (2002) dunit merupakan batuan ultramafik monomineral yang
hampir seluruhnya mengandung monomineralik mineral olivin (umumnya magnesia).
Kandungan olivin dalam batuan ini lebih dari 90 %. Mineral-mineral assesori dalam
batuan dunit seperti kromit, magnetit, ilmenit, dan spinel. Sedangkan dalam Williams
(1954) bahwa dunit merupakan batuan yang hampir murni olivin (90-100%),
umumnya hadir sebagai forsterit atau krisolit, terdapat sebagai sill atau korok-korok

1
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

halus (dalam dimensi kecil). Terbentuknya batuan yang terdiri dari olivin murni
(dunit) misalnya, membuktikan bahwa larutan magma (liquid) berkomposisi olivin
memisah dari larutan yang lain (Wilson, 1989)
2. Piroksenit
Merupakan batuan ultramafik monomineral yang seluruhnya mengandung mineral
piroksen (> 90 % piroksen). Selanjutnya batuan-batuan piroksenit diklasifikasikan
menjadi orthorombik piroksen, yang disebut sebagai orthopiroksenit dan monoklin
piroksen yang disebut sebagai klinopiroksenit.
- Orthopiroksenit : Bronzitit
- Klinopiroksenit : Diopsidit.
3. Hornblendit
Merupakan batuan ultramafik monomineral yang seluruhnya mengandung mineral
hornblende. ( >90 % hornblende).
4. Serpentinit
Merupakan batuan monomineralik serpentin. Tetapi batuan ini dapat terbentuk dari
batuan dunit yang terserpentinisasi, atau dari hornblendit atau peridotit. Serpentinit
merupakan batuan hasil alterasi hidrotermal dari batuan ultramafik, dimana mineral-
mineral olivin dan piroksen jika teralterasi akan membentuk mineral serpentin
(Waheed, 2002). Serpentinit tersusun oleh mineral grup serpentin > 50 % (Williams,
1954).
5. Peridotit
Peridotit merupakan salah satu batuan ultramafik yang umum dijumpai, biasanya
membentuk suatu kelompok batuan ultramafik yang disebut ofiolit (Williams, 1954).
Sedangkan Streckeisen (1974) dalam Waheed (2005) mendefinisikan peridotit sebagai
batuan yang mengandung mineral olivin lebih besar dari 40 %, piroksen dan
hornblende kurang dari 40 % (Gambar 1)

LEBIH JAUH MENGENAI PERIDOTITE

Klasifikasi Batuan Peridotite


Salah satu batuan peridotit yang dikelompokkan berdasarkan mineral mafik, yaitu
piroksen peridotit. Berdasarkan dari tipe piroksen, maka piroksen peridotit dapat
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
- Harzburgit : olivin + orthopiroksen
- Wehrlit : olivin + clinopiroksen (diopsid)
2
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

- Lherzolit : olivin + orthopiroksen + clinopiroksen


Klasifikasi batuan ultramafik berdasarkan kandungan olivin, orthopiroksen, dan
klinopiroksen (Streckeisen, 1974 dalam Waheed, 2002) seperti terlihat pada Gambar
1.

Olivin
DUNIT

Harzburgit Wehrlit PERIDOTIT


Lherzolit

Olivin orthopiroksenit OlivinWebsterit Olivin klinopiroksen


PIROKSENIT
Websterit
Orthopiroksen Klinopiroksen

Gambar 1. Klasifikasi batuan ultramafik berdasarkan kandungan olivin,


orthopiroksen dan klinopiroksen (Streckeisen, 1974 dalam Waheed, 2002)

PROSES LATERITISASI

Proses pelapukan dan pelindian airtanah terutama yang relatif bersifat asam pada batuan
peridotit, akan menyebabkan terjadinya penguraian magnesium, nikel, besi, dan silica pada
mineral olivin, piroksen, maupun serpentin yang membentuk larutan. Besi di dekat
permukaaan relatif mudah bersenyawa dengan oksida dan mengendap kembali sebagai ferri
hidroksida membentuk goethite (Fe2O3(OH)), maupun hematit (Fe2O3). Pada bagian yang
lebih dalam, di mana airtanah sudah dinetralkan oleh batuan atau tanah, dapat sebagai oksida
atau lebih dalam lagi sebagai nikel silikat (garnierit). Penampang batuan peridotit yang telah
mengalami laterisasi dapat dibagi menjadi beberapa zona, berturut-turut dari atas (Secara
teori) adalah :
9 Zona tudung besi oksida dan nodul besi oksida (limonit), yang tidak mengandung
nikel.
9 Zona limonit, kaya akan besi dan nikel atau sering disebut nickelferous iron zone,
mengandung nikel sekitar 1,2 %.
9 Zona Saprolit, merupakan lapisan peridotit terubah yang mengandung konsentrasi
nikel paling besar, yaitu sekitar 1,7-4 %.
3
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

9 Zona peridotit tidak terubah, yang mengandung sekitar 0,2 % nikel.

Faktor-faktor yang berperan penting dalam pembentukan deposit nikel laterit di atas adalah
(Waheed, 2002):
1. Stabilitas Mineral (Struktur Kristal, Titik Lebur)
2. Reaksi Potensial (Reduksi/oksidasi)
3. Ukuran Butir dan porositas
4. Kondisi pH
5. Pergerakan larutan
6. Climate (Temperatur, Rainfall)
7. Topografi
8. Air Tanah
9. Komposisi Batuan Dasar
10. Organisme
11. Waktu

PROSES SERPENTINISASI dari OLIVIN

Mineral serpentin adalah suatu lapisan mineral lattice yang berkomposisi H4Mg3Si2O9
yang terbentuk oleh proses alterasi hidrotermal, seperti olivin, piroksen, dan amphibol.
Serpentin magnesia murni mengandung 12,9 % air dari proses kristalisasi pada temperatur
yang tinggi (kurang lebih 8000C).
Pada umumnya serpentin merupakan hasil penggantian (replacement) dari mineral
asal yang berbentuk pseudomorp. Serpentin terendapkan dalam rekahan-rekahan
(fracture).
Salah satu hasil dari proses alterasi hidrotermal olivin adalah serpentin. Serpentin
terdiri dari tiga bentuk, yaitu :
- Chrysotile dengan struktur berserabut (fibrous), terbentuk di bawah kondisi statis
- Antigorite dengan struktur berlapis (flaky), terbentuk akibat tekanan
- Serpophite (structureless), yang terbentuk pada kondisi tertentu.

Proses serpentinisasi membutuhkan :


- Sejumlah air
- Leaching dari magnesia (atau sejumlah silika)
- Pelepasan besi (Mg, Fe) dalam olivin
4
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

- Perubahan dari pengurangan besi dari ferrous menjadi ferri membentuk magnetit
berbutir halus. Pada umumnya batuan yang terserpentinisasi membentuk magnetit.

ENDAPAN TANAH LATERIT

Definisi ini mengacu pada Waheed (2002), istilah laterit berasal dari bahasa latin
“later” yang berarti batu bata. Buchanan Hamilton pertama kali mengemukakan istilah ini
pada tahun 1807 untuk kerak bumi yang mengandung besi yang telah dipotong-potong
menjadi batu bata untuk keperluan bangunan oleh orang-orang India di bagian selatan.
Pada umumnya istilah laterit digunakan pada tanah yang kaya akan besi dan
aluminium teroksida yang terbentuk di bawah pengaruh pelapukan kimia dengan kondisi
airtanah tertentu.

Perkembangan laterit membutuhkan faktor-faktor, yaitu :


9 Ketersediaan batuan-batuan yang mengandung besi dan aluminium
9 Temperatur yang relative tinggi (untuk membantu proses kimiawi)
9 Curah hujan yang tinggi (untuk membantu proses pelapukan)
9 Pencucian yang kuat (untuk melarutkan dan membawa unsur-unsur)
9 Lingkungan pengoksidasian yang kuat (untuk merubah Fe, Al menjadi
sesquioxidasi)
9 Topografi yang mendukung (untuk melindungi tanah laterit setelah berkembang).

PROFIL ENDAPAN LATERIT

Profil endapan laterit dibagi menjadi 4 zona (dari atas ke bawah), yaitu, Gambar 2
menunjukkan profil endapan laterit :

a) Zona Limonit (Zona Oksidasi)


Lapisan bagian atas kaya akan mineral goethit. Iron Capping (ferricrete) yang
terbentuk akibat mobilitas limonit yang terbentuk pada kondisi asam dekat permukaan
dengan morfologi relatif datar. Sering dijumpai mineral-mineral yang stabil seperti
spinel, magnetit, maghematit, dan talk primer. Pada bagian dasar limonite terjadi
pengkayaan manganis kobalt dan nikel pada pembentukan asbolit atau manganese
wad. Manganese wad ini biasanya terjadi pada permukaan yang tipis pada joint dan
fracture. Zona limonit mewakili zona laterit yang hancur karena beratnya sendiri.
Densitas pada zona ini umumnya lebih tinggi dari zona transisi. Karena terjadi
5
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

collapse, struktur dan tekstur batuan induk tidak dapat dikenali. Secara umum
material-material penyusun zona ini berukuran halus (lempung-lanau).

b) Zona Transisi (zona smectit atau zona nontronit)


Zona ini adalah zona intermediat antara zona limonit bawah dan saprolit atas.
Zona ini terdiri dari smectit soft dan kristal kuarsa yang keras. Struktur dan tekstur dari
batuan asal hadir dengan baik pada zona ini dan tidak terhancurkan sebelumnya.
Perkembangan pada zona ini, tergantung pada cuaca dan kehadirannya terbatas di
dunia (pada daerah dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun), silica dan
magnesia tersembur ke luar dari sistem menuju ke clay smectit/nontronit. Pada daerah
yang memiliki iklim tropis basah-kering, smectit/nontronit sama-sama tidak terbentuk.

c) Zona Saprolit (serpentine ore)


Zona ini merupakan alterasi dari bedrock di mana proses-proses pelapukan
kimia lebih aktif. Proses kimia dan pelapukan merupakan proses-proses yang terjadi
sepanjang joint dan rekahan-rekahan yang terdapat dalam batuan maupun kekar-kekar
kecil dan belahan-belahan dalam kristal.
Proses saprolit di sepanjang permukaan joint sampai ke formasi dari boulder
dalam zona saprolit. Bongkah-bongkah yang terdapat pada zona saprolit membawa
kadar nikel yang tinggi. Struktur dan tekstur batuan induk dapat terlihat. Zona ini
terdiri dari fragmen-fragmen batuan, lingkaran-lingkaran saprolit dari boulder, dan
presipitasi kuarsa dan garnierite.
Pada peridotit yang tidak terserpentinisasi, proses saprolit terbatas sampai ke
permukaan boulder, sejak batuan fresh yang keras meresap air. Sehingga bongkah-
bomgkah tidak mengandung nikel. Sedangkan pada peridotit yang terserpentinisasi,
proses saprolit terjadi di sepanjang massa batuan pada waktu yang sama sejak batuan
yang cukup lunak sampai masuk ke cairan yang encer. Bongkah-bongkah yang
mengalami proses saprolit mengandung nikel supergen dalam jumlah yang signifikan.

d) Zona Batuan Induk (bedrock zone)


Zona batuan induk berada pada bagian paling bawah dari profil laterit.
Tersusun atas bongkah lebih besar dari 75 cm dan blok batuan dasar dan secara umum
sudah tidak mengandung mineral ekonomis lagi. Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang-
kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini
diperkirakan menjadi penyebab muncul atau adanya root zone of weathering (zona

6
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

akar-akar pelapukan), yaitu high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi. Batuan
induk umumnya berupa peridotit, dunit, serpentinit.

Zone aktif pelapukan kimia & proses saprolitisasi


Zona Pengkayaan FeO, AlO & MnO batuan. Termasuk didalamnya pengkayaan Ni
chromite

Batuan dasar yang sedikit lapuk pada


bagian atas dan batuan ‘fresh’ pada
Limonite bagian bawahnya

Saprolite

Bedrock

Gambar 2 Kenampakan Profil Laterit pada suatu bukit


(Waheed, 2005)

ELEMEN BATUAN BEKU

MAYOR ULTRABASA BASA INTERMEDIET ASAM


Si 19.0 24.0 26.0 32.3
Al 0.5 8.8 8.9 7.7
Fe 9.9 8.6 5.9 2.7
Mg 25.9 4.5 2.2 0.6
Ca 0.7 6.7 4.7 1.6

MINOR (ppm) (ppm) (ppm) (ppm)


Cr 2000 200 50 25
Ni 2000 160 55 8
Co 200 45 10 5
Mn 1500 2000 1200 600
Ca 20 100 35 20
Pb 1 8 15 20
Keterangan :
Si : Silika ppm : Part per million/per 1 juta/gram per ton
Al : Aluminium Mayor : Utama
Fe : Ferro / Besi Minor : Sekunder

7
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

Mg : Magnesium Ca : Kalsium / Zat Kapur


Cr : Crom Ni : Nikel
Co : Cobalt Mn : Mangan
Pb : Plumbum / Timbal

DISKRIPSI MINERAL
a. Goetit
Golongan : Iron hidroksida
Sistem kristal : Tabular melebar
Warna : Coklat kemerahan perak
Kekerasan : keras (5-5,5)
Belahan : sempurna
Kilap : sutra
Gores : coklat kekuningan
Keterangan : hadir pada limonit, keberadaanya berupa nodul-nodul.

b. Magnesit (MgCo3)
Golongan : nitrat karbonat boraks
Sistem kristal : -
Warna : Hitam seperti pasir besi
Kekerasan :-
Belahan :-
Kilap : Kaca
Gores : Putih

c. Kaolin (AL2Si2O5(OH)n)
Golongan : Silica (clay group)
Sistem kristal : Monoklin
Warna : Putih
Kekerasan : 2 – 2.5
Belahan : Sempurna
Kilap : Mutiara
Gores :-

d. Magnetite (FeO)
Golongan : Oksida
Sistem kristal : Isometrik
Warna : Hitam
Kekerasan : 5,5 – 6.5
Belahan : Logam
Kilap : Hitam
Gores :-

e. Cromit(FeCrO4)
Golongan : Oksida dan hidroksida (spinel group)
Sistem kristal : Monoklin
Warna : Hitam
Kekerasan : Keras (5,5)
Belahan :-
Kilap : Logam
Gores : Coklat kehitaman
8
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

Keterangan : Magnetit lemah

f. Garnierite (NiMg)6SiO10(OH)4
Golongan : Hidrous nikel magnesium silica
Sistem kristal : Monoklin
Warna : Hijau kebiru-biruan menyala
Kekerasan : Keras (2-4)
Belahan :-
Kilap :-
Gores : Hijau terang
Keterangan : Membentuk veinlet (Filling fracture)

g. Serpentine (MgFe)3Si2O5(OH)4)
Golongan : Silika
Sistem kristal : -
Warna : Hijau tua
Kekerasan : Keras (4 - 6)
Belahan :-
Kilap :-
Gores :-

h. Crysophrase
Golongan : silika group
Sistem kristal :-
Warna : Hijau kebiru-biruan menyala
Kekerasan : Keras (7)
Belahan :-
Kilap :-
Gores :-

i. Chrysotile
Golongan : Serpentin
Sistem kristal : Fribous (seperti asbes)
Warna : Kuning kehijauan
Kekerasan : Lunak keras (2.5 - 4)
Belahan :-
Kilap :-
Gores :-
Keterangan : Struktur berserabut (fibrous)

j. Antigorite
Golongan : Serpentin grow
Sistem kristal :-
Warna : Hijau keputihan
Kekerasan :-
Belahan :-
Kilap :-
Gores :-
Keterangan : Struktur berlapis (flaky)

9
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

KARAKTERISTIK UMUM ZONA LATERIT NIKEL

Endapan laterit nikel pada umumnya sangat tidak teratur baik bentuk, penyebaran
horizontal atau vertikal maupun sifat-sifat fisik dan komposisi kimianya secara umum lapisan
dikenal sebagai :
1. Zona tanah penutup (TPS)
Warna : coklat – coklat tua, kehitaman
Kekerasan : lunak – sedang
Diameter : halus – sedang
Pada bagian atas gembur dan mengandung humus atau lapisan organic (akar-akaran
atau cacing :
• Biasanya terdapat pada daerah yang tidak terganggu erosi
• Sering dijumpai fragmen-fragmen lapisan seperti phisolit Fe, Fe korkosife,
fragmen silika, dan fragmen batuan asal
• Tidak terlihat indikasi adanya mineral
• Pada lapisan ini kadar nikel relative rendah
• Gradasi kearah limonit ditunjukkan dengan hilangnya material diatas,
perubahan warna lebih cerah, colkat kekuningan, coklat merah, munculnya
mineral tertentu (lemah) seperti MnOx, Fe, dan AlOx.
2. Zona limonit (LIM)
Warna : coklat kemerahan, coklat kekuningan
Kekerasan : lunak – sedang
Diameter : halus – sedang
• Kadar nikel relatife lebih tinggi dibandingkan lapisan pertama (1-2Ni+Co)
• Terlihat adanya mineralisasi yang kuat
• Cenderung homogen
• Sifat sifat yang lebih poros plastis tingkat elastisitas lebih tinggi dibandingkan
dengan yang lain
• Sering dijumpai batuan asal seperti silica
• Mineral utama pada zona ini ialah :
1. Hematit : Merah Bata menyebar merata atau veinlet.
2. Goetit : Merah Bata dalam bentuk nodul-nodul.
3. Talc : Putih Pucat Kasar
4. Kaolin : Putih halus kering atau krim
5. MnOx (Manganese Wad) : Hitam Kusam seperti Arang
10
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

• Mineral sedikit dari zona ini adalah mineral-mineral oksida seperti MnOx,
AlOx, Magnesit, dan Chromit
• Silika sering dijumpai
• Gradasi kearah zona saprolit dapat dikenal dari perubahan warna menjadi
coklat kekuningan, coklat kehijauan atau hijau.

3. Zona saprolit (SAP)


Warna : coklat kekuningan, coklat kehijauan, kuning kehijauan
Kekerasan : sedang - keras
Diameter : sedang – kasar
• Kadar nikel rata rata tinggi dan biasanya merupakan lapisan bijih yang banyak
mengandung urat urat garnerit dan crysopras
• Sering dijumpai tekstur, struktur dan fragmen batuan asal seperti veinlet
• Perubahan antara laterit dengan batuan asal ( biasanya berukuran boulder)
sering dijumpai di zona ini.
• Semakin kearah bawah terlihat adanya gradasi ukuran butir menjadi lebih
kasar.
• Kearah bawah kondisi fracturing semakin intensif yang biasanya terisi oleh
mineral mineral silica seperti garnerit dan crysopras .
• Mineral tambahan di zona ini lempung dan mineral oksidasi seperti Geotit,
Mnox, Magnetit, Cromit, dan Crysotil, Asbestos .
• Magnesit (MgCO3) kadang banyak dijumpai jumlah sedikit.
• Gradasi kearah zona bedrock diindikasikan dengan kemunculan fragmen
fragmen batuan asal berukuran pebble- boulder dengan pelapukan yang
semakin berkurang kearah bedrock.
• Mineral yang biasanya terdapat di zonasi ini meliputi :
1. Serpentine : Hijau terang hingga gelap ataupu keputihan
2. Olivine : Kuning kehijauan
3. Piroksen : Hijau kehitaman
4. Asbestos : Abu-abu putih kehijauan
5. Crysophras : Hijau mengandung silica yang hamper belum terlapukan
6. Garnierit : Hijau kebiru-biruan lunak seperti sabun
7. Magnesit : Hitam seperti pasir besi berbutir kasar

11
Exploration Department PT. BUMANIK
PANDUAN EKSPLORASI PT BUMANIK Revised 27 June 2008

4. Zona Bedrock (BRK)


Warna : Hitam keabuan,hitam kehijauan, hijau(tergantung komposisi batuan
asal)
Kekerasan : Sedikit lapuk keras
Diameter : Kasar
• Zonasi ini memiliki kadar nikel rendah, komposisinya terdiri atas dunit,
peridotit, serpentinit (batuan ultra basa)
• Pada bagian atas sering di jumpai zona fracturing yang terisi oleh mineral
silika seperti garnerit, serpentin, crisoplas, atau mineral silika lainnya.
• Kondisi bedrock yang fresh masih dijumpai pada bagian bawah pada zona
fracturing tersebut diatas
• Mineral utama adalah piroksin dan olivine
• Mineral sedikit hornblende dan biotit
• Mineral tambahan adalah kromit dan sulfide.

DISKRIPSI UMUM BATUAN ULTRA BASA


a. Peridotite
Warna : Terang – gelap
Tekstur : Granular, olifin kadang fanerik
Struktur : Masif
Komposisi : Olivin, piroksen, kromit
b. Dunite
Warna : Hijau terang
Tekstur : Granular xenomorphic-fenerik
Struktur : Masif, medium fine grain
Komposisi : Olivin, kromit, magnetit

12
Exploration Department PT. BUMANIK