Anda di halaman 1dari 77

PENGARUH OBAT KUMUR NON ALKOHOL

TERHADAP HALITOSIS PADA LANSIA


DI PANTI SOSIAL

SKRIPSI

Disusun Oleh:
Atika Putri Novianti
2014 – 11 – 025

Pembimbing:
Poetry Oktanauli, drg., M.Si.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF.DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2018
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip

maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar

(Atika Putri Novianti)

NIM. 201411025

i
LAB BAGIAN : BIOLOGI ORAL
FAKULTAS : KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS : PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

SKRIPSI

PENGARUH OBAT KUMUR NON ALKOHOL


TERHADAP HALITOSIS PADA LANSIA
DI PANTI SOSIAL

Disusun Oleh :

Nama : ATIKA PUTRI NOVIANTI


NIM : 2014 – 11 – 025

Telah Diperiksa dan Disetujui

Jakarta, 21 Agustus 2018


Pembimbing

(Poetry Oktanauli, drg., M.Si.)

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Pengaruh Obat Kumur non Alkohol Terhadap Halitosis pada Lansia di Panti

Sosial”. Penulisan dan penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat

untuk mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Prof. DR. Moestopo (Beragama).

Selama berlangsungnya penelitian, penyusunan sampai pada tahap penyelesaian

skripsi ini tak lepas dari dukungan serta bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu teriring

doa dan ucapan terimakasih peneliti sampaikan kepada:

1. Keluarga peneliti yaitu Ayahanda Muhammad Sudiono dan Ibunda Yun Insiani,

serta kakak perempuan Winda Indriati yang senantiasa memberikan dorongan,

nasihat, doa restu, motivasi dan pengorbanan materilnya selama peneliti

menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi UPDM(B).

2. Drg. Poetry Oktanauli, M.Si selaku dosen pembimbing peneliti yang dengan

penuh kesabaran telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan

mengarahkan peneliti dalam menyelesaikan penulisan dan penyusunan skripsi ini.

3. Prof. Dr. Budiharto, drg., SKM selaku dekan di FKG Universitas Prof. DR.

Moestopo (Beragama).

4. Prof. Dr. Budiharto, drg., SKM, Prof. Dr. Narlan Sumawinata, drg, Sp.KG(K),

Prof. Dr. Hadi Soenartyo, Msc, Sp.PM, Dr. Paulus Januar, drg, Ms, Dr. Witriana

iii
Latifah, drg., Sp.KGA, Dr. Mirna Febriani, drg, M Kes, dan Tjokro Prasetyadi,

drg, Sp.Ort selaku panitia rapat Komisi Etika Penelitian yang telah membantu

mengoreksi dan mengarahkan penulisan skripsi ini.

5. Teman-teman bimbingan skripsi, Ali Zainal, Dyah Munsyi Aulia dan lainnya

yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berjuang bersama serta

senantiasa membantu dan memberikan motivasi untuk penulis dari awal

penelitian dan penulisan skripsi ini hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan

baik.

6. Teman-teman sidang etik, Ali Zainal Abidin, Dyah Munsyi Aulia, Hana Cynthia,

dan Kamila Nanda yang telah berjuang bersama hingga dapat lolos kaji etik

penelitian.

7. Sahabat-sahabat peneliti Alifah Zahra, Alilla Amani Dewi, Andiya Mauliddina

Wirasto, Charunnisa Fairuz Lisselly, Chita Anindya Putri, Dyah Munsyi Aulia,

Ershalita Febiani, Ali Zainal Abidin, Christian Stefanus, Bryan Elbert J. dan

teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu hingga terlaksana

penulisan skripsi ini dengan baik.

8. Teman-teman angkatan 2014 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, peneliti

ucapkan terima kasih atas do’a dan dukungannya.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu

peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

iv
Peneliti menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini masih terdapat banyak

kesalahan dan kekurangan, akan tetapi semoga segala usaha yang telah dilakukan dapat

bermanfaat sebagai ilmu yang berguna bagi para pembaca.

Jakarta, 21 Agustus 2018

Peneliti

ABSTRAK

Nama : Atika Putri Novianti

v
NIM : 2014-11-025
Fakultas : Kedokteran Gigi
Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Jakarta
Judul : Pengaruh Obat Kumur non Alkohol Terhadap Halitosis
pada Lansia di Panti Sosial
Jumlah BAB : 7
Jumlah Halaman : 57
Jumlah Tabel : 6
Jumlah Gambar : 10
Jumlah Referensi : 38
Tahun Penulisan : 2017-2018
Nama Pembimbung: Poetry Oktanauli, drg.,M.Si
Pembahasan :

Latar Belakang: Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
tahun. Lansia mengalami penurunan tingkat kebersihan mulut, berkurangnya
jumlah gigi, menurunnya sensitivitas mukosa oral terhadap iritasi, dan xerostomia
yang dapat menimbulkan halitosis. Untuk mengatasi halitosis dapat digunakan obat
kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine yang memiliki efek
antimikroba dan antibakteri. Tujuan: Memberikan informasi mengenai manfaat
obat kumur non alkohol terhadap penurunan skor halitosis pada lansia di panti
sosial, sehingga diharapkan bagi masyarakat terutama lansia agar dapat
menggunakan obat kumur non alkohol untuk mengatasi halitosis. Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional.
Jumlah subjek penelitian 30 subjek lansia yang diambil dengan cara quota
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur skor halitosis awal
dan skor halitosis setelah berkumur dengan obat kumur non alkohol menggunakan
Tanita breath checker. Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
adanya penurunan skor halitosis sebelum dan sesudah berkumur dengan
menggunakan obat kumur non alkohol. Penurunan skor halitosis yang signifikan
ini ditunjukkan oleh nilai probabilitas (Pvalue) yang diperoleh dari hasil uji korelasi
Spearman yaitu 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas yaitu 0,05. Kesimpulan:
Terjadi penurunan skor halitosis yang signifikan setelah berkumur dengan obat
kumur non alkohol.
Kata Kunci: Halitosis, lansia, obat kumur non alkohol, chlorhexidine

Jakarta, 21 Agustus 2018


Pembimbing

(Poetry Oktanauli, drg., M.Si.)


ABSTRACT

Name : Atika Putri Novianti

vi
NIM : 2014-11-025
Faculty : Dentistry
Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Jakarta
Title : The Influence of Free Alcohol Mouthwash Against
Halitosis in Elderly at the Nursing Homes
Total Chapters : 7 (seven)
Total Pages : 57
Total Tables : 6
Total Images : 10
Total References : 38
Date of Writing : 2017-2018
Advisor : Poetry Oktanauli, drg.,M.Si
Discussion :

Background: The definition of elderly is a person who has reached the age of more
than 60 years old. The common condition of oral which occur in elderly are
decreased level of oral hygiene, reduced number of teeth, reduced sensitivity of oral
mucosa to irritation, and xerostomia that can cause halitosis. Alcohol free
mouthwash that contains chlorhexidine can be used to overcome halitosis problem.
Objective: The purpose of this study is to provide information about the benefits
of alcohol free mouthwash to decrease halitosis score in elderly in nursing homes,
so it is expected for society especially elderly in order to use alcohol free
mouthwash to overcome halitosis. Methods: This was an analytic study with cross
sectional approach. The numbers of subject are 30 eldery subjects obtained by quota
sampling. The data collection was done by measuring the initial halitosis score and
final halitosis score after rinsing with free alcohol mouthwash using Tanita breath
checker. Result: The results of study showed a decrease in halitosis score before
and after rinse with alcohol free mouthwash. This significant decrease in the
halitosis score is shown by the probability value (Pvalue) obtained from the
Spearman correlation test that is 0,000 smaller than the probability value of 0.05.
Conclusion: There was a significant decrease in the halitosis score after rinsing
with free alcohol mouthwash.
Keywords: Halitosis, elderly, alcohol free mouthwash, chlorhexidine

Jakarta, 21st August 2018


Advisor

(Poetry Oktanauli, drg., M.Si.)

DAFTAR ISI

Halaman

vii
LEMBAR
ORISINALITAS
i
LEMBAR PENGESAHAN
PEMBIMBING. ii
KATA
PENGANTAR iii
ABSTRAK
................................................................................................................................
vi
ABSTRACT
................................................................................................................................
vii
DAFTAR
ISI
................................................................................................................................
viii
DAFTAR
TABEL x
DAFTAR
GAMBAR
...................................................................................................................................
xi
DAFTAR
LAMPIRAN
...................................................................................................................................
xii
BAB 1 :
PENDAHULUAN
..........................................................................................................................
1
1.1 Latar
Belakang
1
1.2 Rumusan
Masalah
5
1.3 Pertanyaan
Penelitian
6
1.4 Tujuan
Penelitian
6
1.5 Manfaat
Penelitian
6

viii
BAB 2 : TINJAUAN
PUSTAKA
..............................................................................................................
8
2.1 Obat
Kumur
..................................................................................................
8
2.1.1 Pengertian Obat
Kumur 8
2.1.2 Macam – macam obat
kumur 9
2.1.2.1 Obat Kumur Herbal .......................................................9
2.1.2.2 Obat Kumur Alkohol .....................................................9
2.1.2.3 Obat Kumur non Alkohol..............................................10
2.1.3 Obat Kumur non
Alkohol 10
2.1.4 Obat Kumur
Chlorhexidine
11
2.1.5 Efek Antimikroba
Chlorhexidine
12
2.1.6 Efek Samping
Chlorhexidine
14
2.2 Halitosis
15
2.2.1 Pengertian
Halitosis 15
2.2.2 Etiologi
Halitosis 15
2.2.2.1 Intaraoral
.............................................................................
15
2.2.2.2 Ekstraoral
.............................................................................
18
2.2.2.3 Komponen Penyebab
Halitosis
.............................................................................
19
2.2.3 Klasifikasi
Halitosis 20
2.2.3.1 Genuine
Halitosis
.............................................................................
21

ix
2.2.3.2 Pseudohalitosis
.............................................................................
21
2.2.3.3 Halitophobia
.............................................................................
21
2.2.4 Cara Pemeriksaan
Halitosis 22
2.3 Lanjut Usia
(Lansia)
..................................................................................................
26
2.3.1 Pengertian
Lansia 26
2.3.2 Klasifikasi
Lansia 27

2.4 Kerangka
Teori
..................................................................................................
29

BAB 3 : KERANGKA KONSEP DAN


HIPOTESIS
..............................................................................................................
30
3.1 Kerangka
Konsep
................................................................................................
30
................................................................................................
3.2 Identifikasi
Variabel
................................................................................................
30
3.2.1 Variabel
bebas
.........................................................................................
30
3.2.2 Variabel
Terikat
.........................................................................................
30
3.3 Definisi
Operasional
................................................................................................
31

x
3.4
Definisi
Konsep
................................................................................................
33
3.5 Hipotesis
Penelitian
................................................................................................
33
BAB 4 : METODE
PENELITIAN
34
4.1. Jenis dan Desain
Penelitian
34
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian
34

4.3. Kriteria Inklusi dan


Eksklusi
..................................................................................................
34
4.4. Populasi dan Subjek
Penelitian
..................................................................................................
35
..................................................................................................
4.5. Jumlah Subjek
Penelitian
..................................................................................................
35
4.6. Alat dan
Bahan
..................................................................................................
36
4.6.1 Alat
.........................................................................................
36
4.6.2 Bahan
.........................................................................................
36
4.7. Cara
Kerja
...........................................................................................
36
4.7.1 Persiapan
Subjek
.........................................................................................
36

xi
4.7.2 Penggunaan Tanita Breath
Checker
.........................................................................................
37
4.8. Analisis
Data
...........................................................................................
37
4.9. Alur
Penelitian
38
BAB 5 : HASIL
PENELITIAN
39
BAB 6 :
PEMBAHASAN
42
BAB 7 : KESIMPULAN DAN
SARAN 45
7.1 Kesimpulan
45
7.2 Saran
45
DAFTAR
PUSTAKA
46
LAMPIRAN
....................................................................................................
49
....................................................................................................

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel

2.1 Jenis bakteri yang menghasilkan sulfur volatil

intraoral

...................................................................................................................

20

2.2 Pengukuran uji

organoleptik

...................................................................................................................

22

3.1 Definisi

operasional

...................................................................................................................

31

3.2 Definisi

konsep

...................................................................................................................

33

5.1 Distribusi Frekuensi Halitosis pada Lansia Berdasarkan Jenis

Kelamin

.............................................................................................................................

40

xiii
5.2 Hasil Uji Korelasi

Spearman

.............................................................................................................................

41

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar

2.1 Struktur

chlorhexidine

xiv
...................................................................................................................

11

2.2 Gas khromatografi

portable

...................................................................................................................

23

2.3 Halimeter

...................................................................................................................

24

2.4 Tanita breath

checker

...................................................................................................................

24

2.5 Bagian–bagian alat Tanita breath

checker

...................................................................................................................

25

2.6 Simbol LCD - Level

halitosis

...................................................................................................................

25

2.7 Kerangka

Teori

xv
...................................................................................................................

29

3.1 Kerangka

Konsep

...................................................................................................................

30

4.1 Alur

Penelitian

...................................................................................................................

38

5.1 Distribusi Frekuensi Halitosis Berdasarkan Jenis

Kelamin

.............................................................................................................................

40

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran

1. Surat Keterangan Lolos Kaji

Etik

...................................................................................................................

49

2. Penjelasan sebelum penelitian bagi calon

responden

...................................................................................................................

50

3. Formulir persetujuan penelitian (Informed

Consent)

...................................................................................................................

51

4. Lembar

penelitian

...................................................................................................................

52

5. Data subjek

penelitian

...................................................................................................................

53

xvii
6. Dokumentasi

...................................................................................................................

55

xviii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang RI No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan menyebutkan

bahwa lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60

tahun.1 Muhith dan Siyoto dalam buku Pendidikan Keperawatan Gerontik mengutip

pernyataan World Health Organization (WHO) yang mengklasifikasikan siklus

hidup lansia menjadi empat golongan, yaitu usia pertengahan (middle age) ialah

kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah kelompok usia 60-74

tahun, lanjut usia tua (old) ialah kelompok usia 60-75 dan 90 tahun dan usia sangat

tua (very old) ialah kelompok usia lebih dari 90 tahun.2

Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa populasi usia

lanjut di Indonesia telah mencapai 52.094.585 jiwa dari 237.641.326 jiwa total

populasi (22%).3 World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada

tahun 2010 diperkirakan sebanyak 524 juta penduduk di dunia yang berusia 65

tahun atau lebih (8% dari total populasi penduduk di dunia). Pada tahun 2050

populasi lansia diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat yaitu sekitar 1,5 milyar,

mewakili 16 persen dari seluruh populasi penduduk di dunia. Populasi lansia di

negara kurang berkembang pada tahun 2010 sampai tahun 2050 mengalami

peningkatan lebih dari 250%, sedangkan pada negara berkembang peningkatan

populasinya sebesar 71%.4

1
Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, dr. Eka Viora,

Sp.KJ menyatakan bahwa menurut WHO, di kawasan Asia Tenggara populasi

lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat tiga

kali lipat pada tahun 2050. Pada tahun 2020 di Indonesia diperkirakan jumlah

penduduk lansia yaitu sekitar 80.000.000.5

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 proporsi penduduk usia

65 tahun ke atas dengan masalah gigi dan mulut sebesar 19,2%.6 Pada tahun 2007

sampai dengan 2013 permasalahan gigi dan mulut di Indonesia mengalami

peningkatan sebesar 2,5%, dari 23,4% menjadi 25,9%.6,7

Pada lansia, umumnya terjadi penurunan tingkat kebersihan mulut,

berkurangnya jumlah gigi geligi sehingga kemampuan mengunyah berkurang, dan

penurunan sensitivitas mukosa rongga mulut terhadap iritasi. Adanya perubahan

tersebut merupakan proses degenerasi yang menyebabkan menurunnya resistensi

mukosa dan xerostomia dapat memperberat keadaan tersebut. Xerostomia dapat

terjadi karena menurunnya produksi saliva, sehingga menyebabkan timbulnya bau

mulut yang tidak sedap (halitosis) pada lansia.8

Insiden halitosis akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia.8 Soares

dan Tinoco dalam ulasannya mensitasi sebuah penelitian yang dilakukan pada

2.672 orang pekerja di Jepang menunjukkan bahwa prevalensi halitosis sebesar

14% pada pagi hari, 23% pada siang hari, 6% pada sore hari dan 16% pada malam

hari.9

Halitosis atau disebut juga dengan fetor oris, oral malodor atau bau mulut

merupakan istilah umum untuk menunjukkan bau napas yang tidak sedap.10

Halitosis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, 90% penyebab halitosis berasal

2
dari dalam rongga mulut, sedangkan halitosis yang disebabkan oleh sumber yang

berasal dari luar rongga mulut hanya sedikit yaitu sekitar 8% dan halitosis tipe ini

jarang sekali terjadi.11

Penyebab di dalam mulut yang utama adalah kolonisasi bakteri, terdapat

lebih dari 500 spesies bakteri yang terdapat di dalam rongga mulut dan kebanyakan

dari bakteri tersebut dapat menghasilkan komponen odorous yang dapat

menyebabkan halitosis.11 Komponen utama yang menyebabkan bau tidak sedap

atau halitosis adalah volatile sulfur compounds (VSC).10

Prevalensi penderita halitosis belum dapat dipastikan dengan tepat.12 Hal ini

dikarenakan jumlah penelitian yang terbatas, hanya beberapa penelitian saja yang

tersedia yang mengevaluasi prevalensi dari halitosis pada populasi secara umum,

dan di didapatkan prevalensi halitosis pada populasi secara umum berkisar antara

22% sampai dengan 50%.9 Penelitian di Cina menunjukkan bahwa prevalensi

halitosis mencapai 27,5% dengan sampel sebanyak 2000 orang yang dievaluasi

menggunakan skor organoleptik. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan

American Dental Association yang memperkirakan bahwa prevalensi halitosis pada

populasi dewasa sebesar 50%.13

Halitosis antara lain dapat diatasi dengan melakukan kontrol terhadap

kebersihan mulut, serta menghindari faktor-faktor pendukung timbulnya halitosis.

Upaya menghilangkan faktor lokal dapat dilakukan melalui dua cara yaitu, secara

mekanis dengan cara penyikatan lidah dan gigi, dan secara kimiawi melalui

penggunaan obat kumur, pasta gigi, dan permen karet. Faktor sistemik dapat diatasi

dengan melakukan kontrol diet dan terapi biologis menggunakan probiotik.14

3
Pembersihan gigi dan mulut secara mekanis bertujuan untuk mengurangi

jumlah mikroba patogen dari biofilm dan tongue coating, sehingga pembentukan

karies dihambat, tingkat halitosis menurun dan risiko penyakit sistemik dapat

berkurang. Kombinasi terapi mekanik dan kimiawi ternyata dapat memperbaiki

kondisi halitosis oral, ditandai dengan penurunan kadar komponen sulfur volatil

dan organoleptik.14 Secara kimiawi, obat kumur non alkohol dapat digunakan untuk

mengatasi halitosis, karena untuk jangka panjang penggunaan obat kumur dengan

kandungan alkohol dapat menimbulkan xerostomia yang akan menyebabkan

terjadinya halitosis dan karies gigi.15

Salah satu obat kumur non alkohol yang dapat digunakan untuk mengatasi

halitosis adalah obat kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine glukonat

yang dapat menurunkan tingkat halitosis.14 Chlorhexidine glukonat 0,2% dua

sampai tiga kali sehari selama satu minggu dapat mengurangi keluhan halitosis.16

Mekanisme kerja dari chlorhexidine efektif untuk menghambat

pertumbuhan maupun membunuh bakteri gram positif dan gram negatif, tergantung

dari konsentrasi yang digunakan. Molekul chlorhexidine memiliki muatan positif

(kation) dan sebagian besar muatan molekul bakteri adalah negatif (anion). Hal ini

menyebabkan perlekatan yang kuat dari chlorhexidine pada membran sel bakteri.17

Berdasarkan khasiat dari obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine dalam mengatasi berbagai permasalahan gigi dan mulut, peneliti

tertarik untuk membahas keuntungan dari obat kumur non alkohol dengan

kandungan chlorhexidine terhadap halitosis pada lansia di panti sosial. Dalam

penelitian ini peneliti memilih subjek dengan usia 60-74 tahun berdasarkan

klasifikasi WHO.

4
Hal ini dikarenakan dari hasil survei yang dilakukan oleh RISKESDAS

pada tahun 2013 prevalensi kelompok usia di atas 65 tahun yang setiap hari

menyikat gigi lebih rendah dibanding dengan kelompok usia yang lainnya yaitu

62,8%, sehingga kemungkinan kebersihan mulut lansia usia 65 tahun ke atas kurang

baik dan hal ini merupakan salah satu penyebab timbulnya halitosis.6 Pengukuran

skor halitosis pada lansia dilakukan dengan menggunakan Tanita breath checker

yang akan mendeteksi bau mulut dengan menampilkan 6 level halitosis pada layar

alat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60

tahun.1 Pada lansia, umumnya terjadi penurunan tingkat kebersihan mulut,

berkurangnya jumlah gigi geligi sehingga kemampuan mengunyah berkurang, dan

penurunan sensitivitas mukosa rongga mulut terhadap iritasi, xerostomia dapat

memperberat keadaan tersebut. Xerostomia dapat terjadi karena menurunnya

produksi saliva, sehingga menyebabkan timbulnya bau mulut yang tidak sedap

(halitosis) pada lansia.8 Halitosis antara lain dapat diatasi dengan melakukan

kontrol terhadap kebersihan mulut, serta menghindari faktor-faktor pendukung

timbulnya halitosis baik secara mekanis ataupun kimiawi.14

Secara kimiawi, obat kumur non alkohol dapat digunakan untuk mengatasi

halitosis.15 Salah satu obat kumur non alkohol yang dapat digunakan untuk

5
mengatasi halitosis adalah obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine diglukonat yang dapat menurunkan tingkat halitosis.14

Namun sampai saat ini belum dapat diketahui apakah obat kumur non

alkohol dengan kandungan chlorhexidine dapat secara efektif mengurangi skor

halitosis pada lansia di panti sosial, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk dapat

mengetahui masalah tersebut.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Apakah dengan berkumur obat kumur non alkohol dapat mengurangi skor

halitosis pada lansia di panti sosial?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh obat kumur non

alkohol terhadap halitosis pada lansia di panti sosial.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi peneliti

Sebagai media dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai

pengaruh obat kumur non alkohol terhadap halitosis pada lansia.

2. Manfaat bagi instansi

6
Diharapkan penelitian ini dapat memperluas ilmu pengetahuan dan menjadi

bahan bacaan serta pengembangan penelitian-penelitian yang berkaitan

dengan tema serupa.

3. Manfaat bagi masyarakat

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat

bahwa obat kumur non alkohol memiliki banyak manfaat terutama untuk

mengatasi halitosis.

BAB 2

7
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat Kumur

2.1.1 Pengertian Obat Kumur

Obat kumur merupakan larutan atau cairan yang digunakan untuk

membantu memberikan kesegaran pada rongga mulut serta membersihkan mulut

dari plak dan organisme yang menyebabkan penyakit di rongga mulut.18 Sifat

antibakteri obat kumur terutama ditentukan oleh bahan aktif yang terkandung di

dalamnya.19

Asdar dalam penelitiannya mengutip pernyataan Dalimunthe yang

menyatakan bahwa efektivitas penggunaan obat kumur perlu ditinjau dari dari tiga

aspek. Aspek pertama dilihat dari peningkatan efektivitas obat kumur untuk

pembersihan secara mekanis. Aspek kedua, adalah jenis obat kumur yang sesuai

dengan kebutuhan perawatan. Aspek ketiga adalah efek samping yang ditimbulkan

dari penggunaan obat kumur tersebut.20

Asmaul Husna dan Abral dalam penelitiannya mengutip pernyataan dari

Akhmadi, bahwa praktisi kesehatan menyatakan bahwa obat kumur sebaiknya

digunakan sebagai pelengkap untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut

saja, bukan untuk perawatan berkelanjutan. Penggunaan obat kumur yang efektif

adalah saat malam hari ketika hendak tidur, karena saat tidur tidak ada aktivitas

mulut, sehingga aktivitas bakteri meningkat pada saat tidur.21

2.1.2 Macam – macam Obat Kumur

8
2.1.2.1 Obat Kumur Herbal

Obat kumur herbal merupakan obat kumur yang bahan dasarnya berasal dari

tanaman obat. Obat kumur herbal saat ini telah banyak dikembangkan karena

diyakini memiliki khasiat antibakteri dengan efek samping yang minimal.22 Produk

herbal secara khusus mengandung agent yang dapat dikelompokan menjadi

astringen, antimikrobial, antiinflamasi, immunostimulan, peningkat sirkulasi, agent

yang dapat menyembuhkan dan meringankan infeksi pada jaringan mulut dan

penyegar napas. Contoh obat kumur herbal adalah ocimum sanctum L. (daun

kemangi), aloe vera (tanaman lidah buaya), cinnamon (kayu manis) dan

eucalyptus.22, 23

2.1.2.2 Obat Kumur Alkohol

Salah satu bahan yang umumnya digunakan dalam komposisi obat kumur

adalah alkohol. Alkohol dimasukkan ke dalam campuran obat karena memiliki sifat

antiseptik untuk membunuh bakteri dan mencegah akumulasi plak yang berlebih,

serta umumnya digunakan sebagai bahan pelarut dan pengawet. Mekanisme kerja

alkohol dalam membunuh bakteri adalah dengan cara denaturasi dan koagulasi

protein sel bakteri.15 Penggunaan obat kumur dengan kandungan alkohol tidak

dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang, karena dapat menimbulkan

xerostomia yang akan menyebabkan terjadinya halitosis dan karies gigi.15

Essensial oil merupakan salah satu contoh bahan aktif obat kumur yang

menggunakan alkohol (etanol) sebagai bahan pelarut, konsentrasi etanol yang

digunakan sebagai bahan pelarut untuk essensial oil adalah lebih dari 20%, cukup

untuk melarutkan essensial oil tetapi tidak cukup untuk memberikan efek

antibakteri secara langsung.24

9
2.1.2.3 Obat Kumur non Alkohol

Obat kumur non alkohol merupakan obat kumur yang diproduksi untuk

meminimalisir efek samping penggunaan obat kumur alkohol untuk jangka

panjang.15 Bahan aktif yang dapat digunakan tanpa campuran alkohol contohnya

adalah bisbiguanides, fluoride, dan povidone iodine.20

2.1.3 Obat Kumur non Alkohol

Obat kumur non alkohol memiliki efektivitas hampir sama dengan obat

kumur yang mengandung alkohol. Berdasarkan sebuah penelitian terhadap indeks

plak pada responden pengguna alat ortodonti cekat yang menggunakan obat kumur

alkohol dan non alkohol menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada

penurunan indeks plak setelah berkumur.25

Warongan, Anindita, dan Mintjelungan mengutip pernyataan yang terdapat

pada penelitian Jon Witt, dkk bahwa obat kumur non alkohol dapat dijadikan

alternatif lain pada individu tertentu yang tidak dapat menggunakan obat kumur

dengan kandungan alkohol, seperti ibu hamil atau menyusui, anak–anak, pasien

yang menggunakan metronidazole dan pasien dengan xerostomia karena memiliki

efektivitas hampir sama dengan obat kumur yang mengandung alkohol dalam

menurunkan plak dan memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan obat

kumur yang mengandung alkohol.25

Bahan aktif yang dapat digunakan tanpa campuran alkohol contohnya

adalah bisbiguanides, fluoride, dan povidone iodine.20 Berdasarkan sebuah

penelitian dengan menggunakan zat antimikroba chlorhexidine 0,2%, fluoride

0,2%, dan povidone iodine 1% menunjukkan bahwa chlorhexidine mempunyai efek

10
antibakteri paling kuat dibandingkan dengan povidone iodine dan fluoride.

Chlorhexidine lebih ampuh menghambat pertumbuhan bakteri S.mutans

dibandingkan dengan bakteri P.gingivalis dan bakteri campur dalam plak.17 Pada

penelitian ini peneliti tertarik menggunakan obat kumur non alkohol dengan bahan

aktif chlorhexidine karena memiliki efek antibakteri yang lebih baik dibandingkan

dengan fluoride dan povidone iodine.

2.1.4 Obat Kumur Chlorhexidine

Bisbiguanides merupakan senyawa kimia yang terdiri dari chlorhexidine,

alexidine, dan oktenidine. Chlorhexidine terdiri dari berbagai bentuk yaitu

diglukonat, asetat, dan garam hidroklorid. Chlorhexidine memiliki struktur molekul

yang simetris, terdiri dari empat cincin klorofenil dan dua gugus bisguanid yang

dihubungkan oleh jembatan heksametilen di bagian tengah (gambar 1).26

Gambar 2.1
Struktur chlorhexidine26

Chlorhexidine merupakan antiseptik dan desinfektan yang mempunyai efek

bakterisidal dan bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan negatif.27 Obat

kumur chlorhexidine tersedia dalam konsentrasi 0,2% dan 0,12% dengan

efektivitas yang sama jika digunakan dengan dosis yang sesuai.26 Chlorhexidine

11
dapat berikatan dengan permukaan gigi dalam waktu yang cukup lama, membuat

chlorhexidine efektif bila digunakan dua kali dalam satu hari. Pemakaian satu kali

dapat mengurangi gingivitis tetapi efek antiplak akan berkurang dan sifat prolong

retensinya menurun.20

Formulasi chlorhexidine lainnya dapat dijumpai dalam bentuk pasta gigi

dengan kandungan 0,12% chlorhexidine yang memiliki efek antiplak yang sama

seperti obat kumur chlorhexidine, bentuk gel dengan konsentrasi 1%, 0,2%, atau

0,12% yang memiliki efek terapeutik seperti megurangi halitosis, bentuk spray

dengan konsentrasi 0,1% dan 0,2% yang memiliki daya hambat plak yang sama

dengan obat kumur chlorhexidine 0,2%, serta dalam bentuk varnish dan permen

karet.26

2.1.5 Efek Antimikroba Chlorhexidine

Chlorhexidine merupakan agent antimikrobial yang bekerja di dalam

membran sitoplasmik yang merupakan membran aktif dari substansi bakteri.26

Mekanisme kerja dari chlorhexidine efektif untuk menghambat pertumbuhan

(bakteriostatik) maupun membunuh (bakterisid) bakteri gram positif dan gram

negatif, tergantung dari konsentrasi yang digunakan. Molekul chlorhexidine

memiliki muatan positif (kation) dan sebagian besar muatan molekul bakteri adalah

negatif (anion). Hal ini menyebabkan perlekatan yang kuat dari chlorhexidine pada

membran sel bakteri. Chlorhexidine akan menyebabkan perubahan pada

permeabilitas membran sel bakteri sehingga menyebabkan keluarnya sitoplasma sel

dan komponen sel dengan berat molekul rendah dari dalam sel menembus membran

sel sehingga menyebabkan kematian bakteri.17

12
Chlorhexidine juga memiliki kemampuan untuk melawan Streptococcus

mutans, berdasarkan sebuah penelitian dengan membandingkan efektivitas

chlorhexidine dengan povidone iodine dan fluoride pada kelompok bakteri

S.mutans dan P.gingivalis. Chlorhexidine lebih efektif terhadap bakteri gram positif

(S. mutans) dibandingkan terhadap bakteri gram negatif (P. gingivalis). Hal ini

disebabkan karena terdapat perbedaan jenis dinding sel pada bakteri gram positif

dan gram negatif. Pada bakteri gram positif tidak dijumpai lipopolisakarida di

dinding sel bakteri, sedangkan pada bakteri gram negatif dijumpai adanya

lipopolisakarida. Lipopolisakarida mampu untuk menahan molekul kationik dari

chlorhexidine sehingga membatasi efektivitas kerja chlorhexidine.17 Berdasarkan

penelitian tersebut chlorhexidine memiliki rerata diameter zona hambat lebih besar

terhadap bakteri S.mutans dibandingkan dengan bahan aktif pada obat kumur

lainnya yaitu povidone iodine dan fluoride sehingga chlorhexidine dikatakan

memiliki efek antikariogenik.17, 26

Chlorhexidine dipercaya sebagai obat kumur yang mampu mengurangi

pembentukan plak, menghambat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya

penyakit periodontal.28 Sebuah penelitian menunjukkan bahwa chlorhexidine

memiliki kemampuan untuk menetralisasi agent patogen seperti Streptococcus

aureus, Prevotella intermedia, serta dapat mengurangi perlekatan Porphyromans

gingivalis ke sel-sel epitel, sehingga chlorhexidine dapat dikatakan memiliki efek

antiplak dan antigingivitis.26 Keuntungan lain dari bahan ini berasal dari sifat bahan

yaitu memiliki ikatan yang lama pada berbagai daerah dalam rongga mulut, dan

dilepaskan secara perlahan, sehingga berfungsi sebagai antibakteri untuk waktu

yang cukup lama.20

13
2.1.6 Efek Samping Chlorhexidine

Efek samping reversible akibat pemakaian obat kumur chlorhexidine cukup

bervariasi, tetapi diskolorisasi merupakan efek yang sering dikeluhkan dan dapat

dianalisis secara objektif. Diskolorisasi yang terjadi berupa warna kuning

kecoklatan pada sepertiga gingiva dan interproksimal gigi dan lidah. Asdar dalam

penelitiannya mengutip pernyataan dari McKenzie dkk, Greenstein dkk, dan Addy

bahwa terjadinya stain diduga karena pengendapan sulfida besi akibat reaksi sulfur

yang berasal dari kelompok protein tiol yang mengalami denaturasi dengan ion Fe

yang berasal dari makanan dan minuman.20

Dosis yang dianjurkan untuk berkumur obat kumur chlorhexidine adalah 10

ml larutan chlorhexidine 0,2% atau 15 ml larutan chlorhexidine 0,12% dua kali

sehari selama satu menit atau digunakan hanya sebelum tidur untuk meminimalisir

terjadinya efek samping tersebut. Mengingat efek samping yang dapat ditimbulkan

oleh chlorhexidine, maka pemakaian obat kumur ini terutama adalah untuk

pemakaian jangka pendek, sedangkan untuk pemakaian jangka panjangnya dapat

direkomendasikan untuk meningkatkan kesehatan periodonsium pada pasien yang

menggunakan peranti ortodonti cekat, pada pasien yang memakai overdenture,

pada pasien yang mendapat terapi imunosupresif dan kemoterapi lainnya.20

2.2 Halitosis

2.2.1 Pengertian Halitosis

Halitosis berasal dari bahasa Latin dari asal kata ‘halitus’ yang berarti napas

dan ‘osis’ yang berarti perubahan patologis. Istilah halitosis biasanya digunakan

untuk mendeskripsikan berbagai bau yang mengganggu atau tidak menyenangkan

14
yang berasal dari mulut.11

Fetororis, oral malodor, bau mulut, nafas tak sedap, bau mulut yang tidak

sedap merupakan istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan dan

menggambarkan keadaan halitosis. Halitosis merupakan masalah yang menjadi

keluhan umum pada semua kelompok usia, dan mengakibatkan kerugian sosial dan

psikologis bagi individu.11

2.2.2 Etiologi Halitosis

Halitosis dapat berasal dari dalam rongga mulut ataupun luar rongga mulut.

Terdapat sekitar 85% kasus pasien dengan genuine halitosis persisten yang

penyebabnya berasal terutama dari mikroorganisme dalam rongga mulut.12

Berdasarkan penyebabnya halitosis dapat dibedakan atas penyebab yang berasal

dari intraoral, ekstraoral, dan komponen penyebab halitosis.12, 29

2.2.2.1 Intraoral

1) Kebersihan mulut

Sarah Tampubolon dalam ulasannya mengutip pernyataan Pintauli dan

Hamanda bahwa para ahli menyatakan terdapat sekitar 90% kasus halitosis

disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut dan penyakit jaringan periodontal.30

Adanya pertumbuhan bakteri yang dikaitkan dengan kondisi kebersihan mulut yang

buruk merupakan penyebab halitosis intraoral yang paling sering dijumpai.31 Saat

makan, sisa-sisa makanan akan tertinggal di antara gigi kita. Jika tidak dibersihkan

dengan tindakan yang tepat akan menyebabkan dekomposisi oleh bakteri dan

menimbulkan bau.30

Protein merupakan sumber makanan yang dapat menghasilkan kotoran yang

15
berbau. Protein ini diperoleh salah satunya dari sisa makanan yang tidak

dibersihkan dengan baik. Protein akan dipecah oleh bakteri menjadi asam amino.

Asam amino inilah yang akan menghasilkan berbagai senyawa sulfur. Keseluruhan

senyawa sulfur yang dihasilkan disebut volatile sulfur compounds (VSC) yang

mudah menguap walaupun pada suhu normal, sehingga senyawa ini mampu

menggaggu orang-orang disekitar penderita halitosis.29

2) Penyakit periodontal

Penyakit periodontal seperti gingivitis atau periodontitis merupakan

penyebab kedua terbanyak bau mulut. Biasanya timbul setelah usia 35 tahun. Pada

penyakit periodontal, infeksi bakteri terdapat pada jaringan sekitar gigi. Bila lebih

lanjut dapat mengakibatkan destruksi tulang sekitarnya menyebabkan pembentukan

periodontal poket yang sulit dibersihkan sehingga merupakan tempat ideal untuk

bakteri.29 Produksi VSC yang merupakan hasil produksi dari aktivitas bakteri-

bakteri anaerob tersebut dalam saliva dijumpai meningkat pada gingiva yang

mengalami inflamasi, dan sebaliknya menurun bila gingiva sehat.30

3) Karies gigi

Debris merupakan substansi yang ideal bagi bakteri anaerob untuk

menghasilkan gas yang berbau.11 Adanya karies gigi dapat memungkinkan

tertimbunnya debris atau sisa makanan yang dapat menjadi salah satu penyebab

halitosis.30

16
4) Mulut kering (xerostomia)

Intensitas dari VSC akan meningkat oleh karena menurunnya aliran saliva.

Saliva memiliki fungsi sebagai agent pembersih dan menjaga keseimbangan

ekosistem bakteri di dalam mulut. Berkurangnya aliran saliva akan memberikan

dampak negatif pada self-cleansing, sehingga terjadi pembersihan yang inadekuat

dan dapat menyebabkan halitosis.11 Berkurangnya aliran saliva dapat disebabkan

oleh karena penggunaan obat-obatan (antihipertensi, antidepresan, antipsikotik),

gangguan kelenjar saliva pada pasien dengan sindrom syorgen, serta menurunya

produksi saliva pada pasien lanjut usia (lansia).11, 29

5) Gigi tiruan

Para pemakai gigi tiruan yang tidak membersihkan gigi tiruannya secara

teratur memiliki risiko halitosis yang tinggi.30 Gigi tiruan logam dan vulganit lebih

sering menimbulkan bau daripada jenis gigi tiruan akrilik.31 Berdasarkan penelitian

pada lansia pengguna gigi tiruan, Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (GTSL) lebih

banyak menimbulkan halitosis dibanding dengan jenis Gigi Tiruan Penuh (GTP)

dan bridge, karena pada GTSL deposit oral dan mikroorganisme lebih mudah

terbentuk pada cengkeram dan gigi asli yang tersisa serta adanya celah-celah antara

plat gigi tiruan dan gigi asli yang tersisa.8

2.2.2.2 Ekstraoral

1) Makanan dan minuman

Makanan seperti bawang putih, bawang bombai, telur, jengkol, petai,

makanan pedas, durian, dan beberapa bumbu masakan lainnya dapat membuat

mulut memiliki bau yang tidak sedap. Bakteri akan memproses sisa makanan yang

17
tertinggal di mulut, gigi, dan juga lidah. Saat makanan dan minuman dicerna dan

masuk ke dalam peredaran darah, senyawa ini akan dibawa ke paru-paru. Udara

yang tersimpan di dalam paru-paru akan dikeluarkan dan bau mulut akan keluar

sampai pada tahap tubuh mengeluarkan makanan tersebut dari pencernaan. Bakteri

di dalam mulut cenderung memberikan volume gas yang lebih tinggi ketika

memecah protein, seperti daging atau ikan. Halitosis yang disebabkan oleh

makanan dan minuman bersifat sementara dan dapat diatasi dengan tidak

mengonsumsi makanan tersebut.30

2) Merokok

Perokok memiliki bau mulut yang khas dan bau tersebut dapat bertahan

lebih dari satu hari akibat penumpukan nikotin di gigi, lidah, dan gusi.31 Bau ini

disebabkan oleh tar, nikotin, dan kandungan lainnya yang berasal dari rokok.

Merokok juga akan mengeringkan jaringan mulut sehingga mengurangi efek

pencucian dan buffer oleh saliva terhadap bakteri dan kotoran yang dihasilkan.29

3) Obat-obatan

Beberapa pengobatan yang membuat mulut atau hidung kering dapat

menyebabkan halitosis, seperti antihistamin dan obat-obatan untuk mengobati

masalah sinus.30

Meskipun jarang terjadi, halitosis dapat disebabkan karena efek samping dari obat-

obatan yang mengandung dimetil sulfida, seperti amphetamines, chloral hydrate,

cytotoxic agents, dimethyl sulphoxide, disulfiram, nitrates dan nitrites,

phenothiazines.12

4) Sistemik

18
Penyakit-penyakit seperti diabetes, ginjal, infeksi paru, infeksi saluran

pernapasan, infeksi rongga mulut, sinusitis, penyakit hati, dan beberapa penyakit

lainnya dapat menyebabkan halitosis. Orang yang terkena diabetes tidak terkontrol

cenderung memiliki bau manis (acetone breath) yang hanya dapat dikenali dokter

gigi. Bau mulut busuk dan amis (fishy breath) cenderung dikeluarkan oleh penderita

gagal ginjal. Bau napas orang normal cenderung dideskripsikan seperti “blooming

chestnuts”. Bau mulut akibat masalah saluran pernapasan jarang terjadi.30

Pada penderita kanker yang sedang menjalani radioterapi akan mengalami

kekeringan pada mulutnya dan menimbulkan bau mulut. Pada penderita yang

sedang berdiet dan mengalami perubahan hormonal juga dapat mengalami

halitosis.29

2.2.2.3 Komponen Penyebab Halitosis

Terdapat sekitar 700 komponen berbeda yang terdeteksi dalam rongga

mulut manusia, dan terdapat tiga gas utama yang menghasilkan bau mulut, yaitu

volatile sulfur compounds (VSC), volatile organic compounds (VOC), nitrogen

containing gases (Amines).32 Komponen yang paling dominan yang menyebabkan

halitosis adalah volatile sulfur compounds (VSC).11

Istilah volatile atau menguap menjelaskan bahwa senyawa ini mudah

menguap walaupun pada suhu normal.29 VSC mengandung tiga bahan utama yaitu,

hidrogen sulfida (H2S) yang dihasilkan dari senyawa L-cysteine, methyl marcaptan

(CH3SH) yang dihasilkan dari senyawa L-methionine, dan dimetil sulfida ((CH3)2S)

yang dihasilkan oleh senyawa L-cistine.29,32

Bahan utama yang dikandung VSC adalah methyl marcaptan dan hidrogen

sulfida yang berasal dari intraoral, dan dimetil sulfida yang berasal dari ekstraoral.

19
Methyl marcaptan merupakan salah satu dari bahan utama yang dikandung VSC

yang merupakan penyebab utama terjadinya halitosis dibandingkan hidrogen

sulfida dan dimetil sulfida (tabel 2.1).14

Tabel 2.1 Jenis Bakteri Yang Menghasilkan Komponen Sulfur Volatil Intraoral

Dari Intraoral14

Bakteri Komponen Sulfur Volatil


P. intermedia

P. nigrescens Hidrogen Sulfida

T. denticola
P. gingivalis

P. intermedia Methyl Marcaptan

P. forsythensi

2.2.3 Klasifikasi Halitosis

Tanwir dan Momin dalam penelitiannya mengutip pernyataan dari Yaegaki

dan Coil pada tahun 2000 yang mengklasifikasikan halitosis ke dalam tiga kategori,

yaitu genuine halitosis, pseudo-halitosis dan halitophobia.33

2.2.3.1 Genuine Halitosis

Pada halitosis kategori ini dibedakan menjadi dua, yaitu halitosis fisiologis

dan halitosis patologis.

1. Halitosis fisologis

Halitosis muncul akibat proses pembusukan di dalam mulut. Tidak ada

penyakit spesifik atau kondisi patologis. Umumnya halitosis fisiologis

20
berhubungan dengan makanan yang dicerna dalam saluran pencernaan, seperti

bawang putih atau makanan pedas.33

2. Halitosis patologis

Halitosis patologis dibedakan menjadi intraoral dan ekstraoral. Pada

halitosis oral keluhan dapat terjadi disebabkan oleh keadaan status periodontal yang

buruk, kondisi patologis atau malfungsi dari jaringan mulut. Pada halitosis

ekstraoral bau tidak sedap berasal dari infeksi pada saluran pernapasan atau

gangguan sistemik, seperti diabetes mellitus yang tidak terkontrol, sirosis hati atau

penyakit ginjal.33

2.2.3.2 Pseudohalitosis

Pada keadaaan ini, bau tidak sedap umumnya tidak dirasakan oleh orang

lain, dan pada pemeriksaan tidak dijumpai ada nya bau tidak sedap yang jelas,

meskipun pasien mengeluh tentang keadaannya. 33

2.2.3.3 Halitophobia

Halitophobia merupakan permasalahan psikologis yang ditandai dengan

adanya asumsi penderita bahwa ia memiliki halitosis, meskipun sebelumnya telah

dilakukan pemeriksaan dan perawatan pada genuine halitosis dan pseudohalitosis.

Pasien dengan halitophobia perlu dilakukan rujukan ke psikiater.33

2.2.4. Cara Pemeriksaan Halitosis

Beberapa cara menguji halitosis yang biasa digunakan dalam penelitian:

1) Uji organoleptik

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan penciuman dari hidung

orang lain untuk menentukan bau mulut seseorang.29 Diagnosis halitosis dengan

pengukuran ini bersifat subjektif karena tergantung pada persepsi pemeriksa.

21
Persepsi pemeriksa terhadap bau yang dicium disesuaikan dengan pengukuran

organoleptik yang berskala nol sampai lima (tabel 2.2). 31

Tabel 2.2 Pengukuran Organoleptik 31

Nilai Kriteria Pengukuran

0 Tidak ada bau mulut

1 Ada bau mulut yang sulit terdeteksi

2 Ada bau mulut yang mengganggu

3 Bau mulut yang sedang

4 Bau mulut yang kuat

5 Bau mulut yang sangat menyengat

2) Menggunakan gas khromatografi

Gas khromatografi dipadukan dengan flame photometric detector yang

khusus mengukur langsung komponen VSC yang merupakan gas penyebab utama

halitosis. Oleh karena mesin gas khromatografi tidak praktis untuk penggunaan

klinis, saat ini telah diperkenalkan mesin gas khromatografi portable (gambar 2.2).

Gas khromatografi portable memiliki sensor gas semikonduktor yang sangat

sensitif terhadap komponen gas VSC dan dihubungkan dengan komputer sehingga

pasien dapat melihat langsung hasil pengukuran dalam bentuk grafik.31

22
Gambar 2.2
Gas khromatografi portable31

3) Menggunakan halimeter

Alat ini merupakan modifikasi gas khromatografi yang hanya khusus

mendeteksi senyawa sulfur yaitu volatile sulfur compounds (VSC), yang diketahui

merupakan penyebab bau mulut.29 Halimeter menggunakan sensor elektrokemikal

dan voltametrik yang akan menghasilkan sebuah sinyal bila terpapar dengan VSC

(gambar 2.3). Alat ini dilengkapi dengan sebuah pipa untuk menghubungkan udara

yang keluar dari mulut ke dalam alat tersebut dan memiliki tampilan digital yang

merekam konsentrasi VSC dalam satuan parts per billion.31 Individu dengan VSC

yang lebih besar dari 75 ppb, dianggap mempunyai masalah halitosis.29

Gambar 2.3
Halimeter34

23
Saat ini terdapat alat semi konduktor, hand held sensor gas dengan

menampilkan 6 level dengan salah satu merknya adalah Tanita breath checker

(Perusahaan Tanita, USA) yang dapat digunakan untuk mendeteksi bau mulut

(gambar 2.4 dan gambar 2.5). Bau mulut disebabkan oleh volatile sulfur

compounds. Alat ini merupakan monitor inovatif seukuran telapak tangan yang

dapat mendeteksi dan mengukur keberadaan substansi tersebut (VSC).35

Gambar 2.4
Tanita Breath Checker35

Cara menggunakan Tanita breath checker adalah sebagai berikut :35

1. Tarik penutup ke atas, sensor pada layar akan menyala secara otomatis.

Nomor pada layar akan menghitung mundur 5-1. Guncangkan alat secara

perlahan 4-5 kali untuk menghilangkan bau dan kelembapan yang tersisa.

2. Layar akan menampilkan ‘start’, maka bernapaslah ke arah sensor kurang

lebih sejauh 1 cm dari mulut sampai alat berbunyi ‘bip’ (selama kurang lebih

4 detik).

3. Skor halitosis akan ditampilkan dalam beberapa detik (gambar 2.6). Sensor

ditutup kembali, maka alat akan mati secara otomatis.

24
Gambar 2.5
Bagian-Bagian Alat Tanita Breath Checker36

Gambar 2.6
Simbol Lcd – Level Halitosis36

4) Uji BANA

Metode ini biasanya dilakukan di laboratorium dengan mengidentifikasi

produk yang dihasilkan oleh mikroorganisme secara in-vitro, seperti pengujian

enzim pada tes BANA.31 Bakteri penyebab penyakit periodontal yang dapat

menyebabkan bau mulut menghasilkan enzim yang akan mendegradasi benzoyl-D,

L-arginine-naphthylamide (BANA).29

25
5) Penggunaan kemiluminesens

Pada pemeriksaan ini sampel yang mengandung sulfur (VSC) dicampur

dengan senyawa merkuri yang akan menghasilkan fluoresens. Kelebihan cara ini

dibandingkan dengan halimeter adalah sensitivitas dan selektifitasnya yang lebih

baik, sehingga dapat mendeteksi sulfur walaupun hanya sedikit.29

2.3 Lanjut Usia (lansia)

2.3.1 Pengertian Lansia

Undang-Undang RI No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan menyatakan

bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun.1

Muhith dan Siyoto dalam buku Pendidikan Keperawatan Gerontik mengutip

beberapa pernyataan para ahli mengenai pengertian dari lansia, yakni Setianto pada

tahun 2004 menyatakan bahwa, seseorang dikatakan lansia apabila usianya 65

tahun ke atas.

Hawari pada tahun 2001 menyatakan bahwa lansia adalah keadaan yang

ditandai dengan kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan

terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya

kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual. BKKBN

pada tahun 1995 menyatakan bahwa lansia adalah individu yang berusia di atas 60

tahun, pada umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi

biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi.2

2.3.2 Klasifikasi Lansia

26
Dalam buku Pendidikan Keperawatan Gerontik karangan Muhith dan

Siyoto disebutkan beberapa klasifikasi lansia menurut para ahli yaitu:

Pengelompokkan usia menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro sebagai

berikut: 2

1) Usia dewasa muda (eldery adulthood) : 18/20 tahun – 25 tahun.

2) Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas : 25 tahun – 60/65 tahun

3) Lanjut usia (geriatric age)

Lanjut usia (geriatric age) terbagi menjadi :

1) Young old : 70 tahun – 75 tahun.

2) Old : 75 tahun – 80 tahun.

3) Very old : lebih dari 80 tahun.

Dra. Jos Masdani seorang psikolog dari Universitas Indonesia mengatakan

bahwa lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaaan dapat dibagi

menjadi empat bagian, yaitu: 2

1) Fase iuventus : antara 25 tahun – 40 tahun.

2) Fase verilitas : antara 40 tahun – 50 tahun.

3) Fase presenium : antara 55 tahun – 65 tahun.

4) Fase senium : antara 65 tahun hingga tutup usia.

World Health Organization (WHO) membagi siklus hidup lansia menjadi

empat golongan: 2

1) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

2) Lanjut usia (elderly) : usia 60-74 tahun.

3) Lanjut usia tua (old) : usia 60-75 dan 90 tahun.

4) Usia sangat tua (very old) : usia lebih dari 90 tahun.

27
Maryam, dkk mengutip pernyataan Depkes RI pada tahun 2003 mengenai

lima klasifikasi lansia yaitu: 37

1) Pralansia (prasenilis), seseorang yang berusia antara 45 – 59 tahun.

2) Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

3) Lansia resiko tinggi, seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau

seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

4) Lansia Potensial, lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau

kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.

5) Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga

hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

2.4 Kerangka Teori

Lansia

28
 Penurunan tingkat
kebersihan mulut. Faktor Ekstraoral: 12,
 Berkurangnya jumlah gigi. 29

 Sensitivitas mukosa oral 1. Makanan dan


menurun terhadap iritasi. minuman.
 Xerostomia8 2. Merokok
Faktor Intraoral: 3. Obat-obatan
12, 29 4. Penyakit sistemik
1. Kebersihan
mulut.
2. Penyakit
periodontal.
Halitosis11
3. Karies. Komponen penyebab
4. Xerostomia. halitosis11.12
5. Gigi tiruan

Terapi halitosis Non Alkohol15, 26


(Obat kumur)26
Obat Kumur
Chlorhexidine 15, 26
- Antimikroba.
- Antibakteri.

Gambar 2.7
Kerangka Teori

Keterangan :

Variabel yang diteliti 

Variabel yang tidak diteliti 


Pada lansia terjadi penurunan

tingkat kebersihan mulut, berkurangnya jumlah gigi, menurunnya sensitivitas

mukosa oral terhadap iritasi, dan xerostomia yang dapat menimbulkan halitosis.8

Halitosis dapat berasal dari intraoral, ekstraoral, dan komponen penyebab

halitosis.12, 29 Untuk mengatasi halitosis dapat digunakan obat kumur non alkohol

dengan kandungan chlorhexidine yang memiliki efek antimikroba dan

antibakteri.15,2

BAB 3

29
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Berkumur dengan Obat


Kumur non Alkohol

Skor Halitosis Skor Halitosis


Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan

Gambar 3.1
Kerangka Konsep

3.2 Identifikasi Variabel

3.2.1 Variabel bebas : Obat kumur non alkohol.

3.2.2 Variabel terikat : Skor halitosis pada lansia.

3.3 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

30
No. Variabel Definisi Variabel Alat Ukur Cara Pengukuran Hasil Ukur Skala
1. Skor Skor halitosis sebelum Tanita Breath 1. Tarik penutup ke 0 = Tidak ada Ordinal
halitosis berkumur dengan obat Checker atas, sensor pada bau mulut
sebelum kumur non alkohol layar akan menyala 1 = Ada sedikit
perlakuan yang mengandung secara otomatis. bau mulut yang
bahan aktif Nomor pada layar sulit terdeteksi
chlorhexidine akan menghitung 2 = Ada sedikit
mundur 5-1. bau mulut yang
Guncangkan alat mengganggu
secara perlahan 4-5 3 = Bau mulut
kali untuk yang sedang
menghilangkan bau 4 = Bau mulut
dan kelembapan yang kuat
yang tersisa. 5 = Bau mulut
2. Layar akan yang sangat
menampilkan menyengat
‘start’, maka E: Error
bernapaslah ke arah
sensor kurang lebih
sejauh 1 cm dari
mulut sampai alat
berbunyi ‘bip’
(selama kurang
lebih 4 detik).
3. Skor halitosis akan
ditampilkan dalam
beberapa detik.
Sensor ditutup
kembali, maka alat
akan mati secara
otomatis.

No. Variabel Definisi Variabel Alat Ukur Cara Pengukuran Hasil Ukur Skala

31
2. Skor Skor halitosis sesudah Tanita Breath 1. Tarik penutup ke 0 = Tidak ada Ordinal
halitosis berkumur dengan obat Checker atas, sensor pada bau mulut
sesudah kumur non alkohol layar akan menyala 1 = Ada sedikit
perlakuan yang mengandung secara otomatis. bau mulut yang
bahan aktif Nomor pada layar sulit terdeteksi
chlorhexidine akan menghitung 2 = Ada sedikit
mundur 5-1. bau mulut yang
Guncangkan alat mengganggu
secara perlahan 4-5 3 = Bau mulut
kali untuk yang sedang
menghilangkan bau 4 = Bau mulut
dan kelembapan yang kuat
yang tersisa. 5 = Bau mulut
2. Layar akan yang sangat
menampilkan menyengat
‘start’, maka E: Error
bernapaslah ke arah
sensor kurang lebih
sejauh 1 cm dari
mulut sampai alat
berbunyi ‘bip’
(selama kurang
lebih 4 detik).
3. Skor halitosis akan
ditampilkan dalam
beberapa detik.
Sensor ditutup
kembali, maka alat
akan mati secara
otomatis.

3.4 Definisi Konsep

32
Tabel 3.2 Definisi Konsep

No Variabel Definisi Variabel Alat Ukur Cara Pengukuran

1 Berkumur Kegiatan berkumur dengan Gelas ukur Memberikan subjek obat kumur non alkohol

dengan obat obat kumur non alkohol. pabrik. dengan kandungan chlorhexidine 0,2%

kumur non sebanyak 10 ml lalu berkumur selama 60

alkohol. detik.

3.5 Hipotesis Penelitian

Obat kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine gluconate 0,2%

dapat menurunkan skor halitosis pada lansia.

BAB 4

33
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis dan Desain Penelitian

1. Jenis penelitian : Penelitian eksperimental klinis.

2. Desain penelitian : Cross Sectional.

3. Uji coba yang dilakukan yaitu pre-test dan post-test.

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat : Panti Sosial Tresna Werdha Melania dan Yayasan Dana

Bantuan Jl. Brawijaya No.15, Kebayoran Baru Jakarta

Selatan

2. Waktu : Februari 2018.

4.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

4.3.1 Kriteria Inklusi :

1. Berusia 60-74 tahun.

2. Keadaan umum baik.

3. Subjek menyetujui informed consent.

4. Subjek bersedia mengikuti penelitian ini.

4.3.2 Kriteria Ekslusi :

1. Subjek tidak menyelesaikan penelitian.

2. Subjek tidak dapat hadir pada saat penelitian dilakukan.

4.4. Populasi dan Subjek Penelitian

34
1. Populasi : 30 subjek lansia di panti sosial

2. Subjek : 30 subjek yang memenuhi kriteria inklusi.

4.5. Jumlah Subjek Penelitian

Pengambilan subjek dilakukan secara quota sampling. Penentuan jumlah

subjek ditentukan dengan perhitungan rumus Slovin : 38

N
n =
1 + N e2

30
n =
1 + 30 (2%)2

30
n =
1.012

n = 29,6

Keterangan:

n : Jumlah subjek

N : ukuran populasi

d : persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan

subjek yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, sebesar 2%

Nilai n yang diperoleh adalah 29,6. Jumlah subjek dibulatkan menjadi 30

orang untuk mempermudah analisis data hasil penelitian.

4.6. Alat dan Bahan

35
4.6.1 Alat :

- Tanita breath checker

- Gelas ukur pabrik

- Masker

- Handscone

- Tissue

4.6.2 Bahan :

Obat kumur non alkohol (chlorhexidine 0,2%)

4.7. Cara kerja :

4.7.1 Persiapan subjek:

1) Subjek penelitian diberi penjelasan mengenai alur penelitian.

2) Subjek penelitian menandatangani formulir persertujuan penelitian

(informed consent).

3) Subjek penelitian diminta untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh

peneliti (anamnesis).

4) Subjek penelitian diukur skor halitosis awal dengan menggunakan Tanita

breath checker.

5) Subjek penelitian diinstruksikan untuk berkumur dengan takaran 10 ml obat

kumur non alkohol (chlorhexidine 0,2%) selama 60 detik.

6) Subjek penelitian diukur skor akhir setelah berkumur dengan obat kumur

non alkohol (chlorhexidine 0,2%).

4.7.2 Penggunaan Tanita breath checker :

36
1) Tarik penutup ke atas, sensor pada layar akan menyala secara otomatis.

Nomor pada layar akan menghitung mundur 5-1. Guncangkan alat secara

perlahan 4-5 kali untuk menghilangkan bau dan kelembapan yang tersisa.

2) Layar akan menampilkan ‘start’, maka bernapaslah ke arah sensor kurang

lebih sejauh 1 cm dari mulut sampai alat berbunyi ‘bip’ (selama kurang lebih

4 detik).

3) Skor halitosis akan ditampilkan dalam beberapa detik. Sensor ditutup

kembali, maka alat akan mati secara otomatis.

4.8. Analisis Data

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan untuk satu variabel atau

per variable. Data disajikan dalam bentuk persentase atau tabel distribusi frekuensi

dan pie chart. Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk menganalisis

hubungan dua variabel, satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Data-data yang

telah diperoleh dilakukan uji normalitas dengan Saphiro-Wilk untuk mengetahui

data terdistribusi normal atau tidak, kemudian dilakukan uji korelasi Spearman.

Uji korelasi Spearman berfungsi untuk mengetahui apakah terdapat

penurunan yang signifikan antara skor halitosis sebelum dan sesudah berkumur

menggunakan obat kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine pada

lansia di panti sosial.

4.9. Alur Penelitian

30 Subjek di panti sosial


.
37
Pengisian lembar informed consent

Subjek penelitian menjawab pertanyaan


yang diajukan oleh peneliti (anamnesis)

Pengukuran skor awal halitosis


menggunakan Tanita breath checker

Subjek penelitian diinstruksikan untuk


berkumur dengan obat kumur non alkohol
dengan kandungan chlorhexidine 0,2 % 10
ml selama 60 detik

Pengukuran skor akhir halitosis


menggunakan Tanita breath checker

Analisis data

Kesimpulan

Gambar 4.1
Alur Penelitian

BAB 5

38
HASIL PENELITIAN

Penelitian mengenai pengaruh obat kumur non alkohol terhadap penurunan

skor halitosis pada lansia di panti sosial telah dilakukan kepada 30 subjek lansia

yang sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Penelitian ini diawali

dengan pengambilan data subjek penelitian yang sebelumnya telah membaca dan

menyetujui lembar PSP (Persetujuan Sebelum Perlakuan), pengisian formulir

persetujuan penelitian (informed consent), identitas subjek penelitian, usia, dan

jenis kelamin.

Pengukuran skor halitosis awal dilakukan dengan menggunakan Tanita

breath checker sebelum subjek diberikan perlakuan, selanjutnya subjek diminta

untuk berkumur menggunakan obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine 0,2%, dan diakhiri dengan pengukuran skor halitosis akhir dengan

menggunakan Tanita breath checker setelah subjek diberikan perlakuan. Subjek

diinstruksikan untuk menggenggam Tanita breath checker dan meniup Tanita

breath checker sedekat mungkin sampai berbunyi “bip”. Hasil yang akurat bisa

didapatkan dengan mengguncangkan Tanita breath checker sebelum digunakan,

membersihkannya dan melakukan pengukuran sebanyak dua kali.

Hasil penelitian dicatat, dikumpulkan, dan dianalisis menggunakan program

Microsoft Excel 2011. Analisis dilakukan secara bivariat. Analisis data

menggunakan IBM SPSS 22 for Mac. Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi

dan pie chart.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Halitosis pada Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin

39
Jenis kelamin Frekuensi Persentase %

Laki-laki 1 3,3%

Perempuan 29 96,7%

Total 30 100%

JENIS KELAMIN

Laki-laki

Perempuan

29

Gambar 5.1
Distribusi Frekuensi Halitosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel dan gambar 5.1 dapat diketahui distribusi frekuensi jenis

kelamin 30 subjek penelitian yang telah diteliti, jumlah subjek penelitian yang

berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Subjek

penelitian yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 29 orang (96,7%),

sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 1 orang (3,3%).

Pada penelitian ini uji normalitas data yang digunakan adalah uji Saphiro-

Wilk karena subjek penelitian berjumlah kurang dari 50. Hasil uji normalitas skor

halitosis sebelum berkumur memiliki p=0,001 dan hasil uji normalitas skor halitosis

sesudah berkumur memiliki p=0,000, maka didapatkan hasil bahwa data

40
berdistribusi tidak normal karena p < 0,05, sehingga dilakukan uji kolerasi

Spearman untuk mengetahui pengaruh obat kumur non alkohol terhadap penurunan

skor halitosis.

Tabel 5.2 Hasil Uji Korelasi Spearman

Pvalue

Skor Halitosis Awal 0,000

Skor Halitosis Akhir

Tabel 5.2 menunjukkan dari hasil uji korelasi Spearman didapatkan skor

halitosis sebelum dan sesudah berkumur dengan obat kumur non alkohol dengan

kandungan chlorhexidine 0,2% pada subjek penelitian memiliki nilai p=0,000. P <

0,05, maka dapat disimpulkan bahwa skor halitosis sebelum dan sesudah berkumur

dengan obat kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine 0,2%

menunjukkan penurunan skor halitosis yang signifikan.

BAB 6

41
PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 30 subjek lansia di panti

sosial menunjukkan adanya penurunan skor halitosis sebelum dan sesudah

berkumur obat kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine 0,2%.

Perbedaan tersebut ditunjukkan oleh nilai probabilitas (Pvalue) yang diperoleh dari

hasil uji korelasi Spearman yaitu 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas yaitu 0,05.

Penurunan skor halitosis pada penelitian ini dapat terjadi karena

chlorhexidine merupakan antiseptik dan desinfektan yang mempunyai efek

bakterisidal dan bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan negatif.27 Pada

tinjauan pustaka telah disebutkan bahwa komponen paling dominan yang dapat

menyebabkan halitosis adalah VSC.11 Bahan utama yang dikandung VSC salah

satunya adalah methyl marcaptan yang dapat dihasilkan oleh bakteri P.gingivalis,

P.intermedia, dan P.forsythensi.14

Balgopal, dkk dalam ulasannya mengutip penelitian yang dilakukan oleh

Grenier pada tahun 1996 bahwa chlorhexidine dapat mengurangi perlekatan

P.gingivalis yang merupakan salah satu bakteri yang memproduksi komponen

penyebab timbulnya halitosis terhadap sel-sel epitel.26 Hal ini juga sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Sinaredi, dkk yang menunjukkan bahwa

chlorhexidine memiliki rerata diameter zona hambat lebih besar terhadap

P.gingivalis dibandingkan dengan obat kumur povidone iodine dan fluoride.17

Penelitian ini dapat membuktikan bahwa berkumur dengan obat kumur non alkohol

yang mengandung chlorhexidine 0,2% dapat mengurangi skor halitosis pada 30

42
orang subjek di panti sosial karena mampu menghambat perlekatan P.gingivalis

yang dapat memproduksi komponen yang menimbulkan halitosis.

Penyebab timbulnya halitosis antara lain juga dapat disebabkan karena

karies gigi yang timbul akibat gas berbau yang dihasilkan oleh bakteri anaerob pada

penderita karies. Telah diketahui bahwa Strepcoccus mutans adalah bakteri yang

berperan dominan dalam pembentukan plak gigi dan karies gigi, serta merupakan

salah satu faktor penyebab terjadinya halitosis.30 Beberapa responden mengaku

memiliki masalah gigi berlubang, dan dengan berkumur menggunakan obat kumur

non alkohol yang mengandung chlorhexidine 0,2%, terjadi penurunan skor halitosis

yang bermakna. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mevrayano,

dkk yang menunjukkan bahwa chlorhexidine memiliki rerata zona hambat lebih

besar dibandingkan dengan povidone iodine yaitu sebesar 19,4 mm. Povidone

iodine hanya memiliki rerata zona hambat sebesar 7,6 mm terhadap S.mutans.19 Hal

ini disebabkan chlorhexidine bekerja efektif terhadap bakteri gram positif

(S.mutans) karena pada dinding sel bakteri gram positif tidak dijumpai

lipopolisakarida yang mampu menahan molekul kationik dari chlorhexidine

sehingga membatasi efektivitas kerja dari chlorhexidine.17, 19

Efek bakterisidal dan bakteriostatik pada chlorhexidine dapat terjadi karena

chlorhexidine merupakan agent antimikrobial yang bekerja di dalam membran

sitoplasmik yang merupakan membran aktif dari substansi bakteri.26 Molekul

chlorhexdine memiliki muatan positif (kation) dan sebagian besar muatan molekul

bakteri adalah negatif (anion). Hal ini menyebabkan perlekatan yang kuat dari

chlorhexidine pada membran sel bakteri. Chlorhexidine menyebabkan perubahan

pada permeabilitas membran sel bakteri sehingga sitoplasma sel dan komponen sel

43
dengan berat molekul yang rendah keluar dari dalam sel menembus membran sel

sehingga menyebabkan kematian bakteri.17

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan

bahwa pengaruh berkumur obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine 0,2% terhadap halitosis di panti sosial menunjukkan penurunan skor

halitosis yang signifikan. Penurunan skor halitosis pada penelitian ini disebabkan

karena molekul chlorhexidine sebagai bahan aktif dalam obat kumur non alkohol

ini memiliki muatan positif (kation) yang dapat berikatan kuat dengan membran sel

bakteri yang bermuatan negatif (anion) yang menyebabkan sitoplasma sel dan

komponen sel dengan berat molekul rendah keluar dari dalam sel menembus

membran sel sehingga menyebabkan kematian pada bakteri, sehingga jumlah

bakteri akan berkurang, dan skor halitosis akan mengalami penurunan.

Penelitian mengenai pengaruh obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine 0,2% terhadap halitosis pada 30 subjek lansia di panti sosial

menunjukkan hasil yang baik. Hipotesis penelitian terbukti karena terjadi

penurunan skor halitosis yang signifikan setelah berkumur menggunakan obat

kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine 0,2%.

BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN

44
7.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai pengaruh berkumur menggunakan obat

kumur non alkohol dengan kandungan chlorhexidine 0,2% terhadap halitosis yang

dilakukan kepada 30 subjek lansia di panti sosial, dapat disimpulkan bahwa obat

kumur tersebut efektif dalam menurunkan skor halitosis. Hal ini dapat terjadi

karena molekul chlorhexidine sebagai bahan aktif dalam obat kumur non alkohol

ini memiliki muatan positif (kation) yang dapat berikatan kuat dengan membran sel

bakteri yang bermuatan negatif (anion). Ini mengakibatkan sitoplasma sel dan

komponen sel dengan berat molekul rendah keluar dari dalam sel menembus

membran sel, sehingga terjadi kematian bakteri, yang akan menyebabkan

pengurangan jumlah bakteri, dan skor halitosis akan mengalami penurunan.

7.2 Saran

Berdasarkan hasil peneltian ini, maka disarankan agar masyarakat terutama

lansia mulai memanfaatkan obat kumur non alkohol dengan kandungan

chlorhexidine 0,2% untuk menurunkan skor halitosis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI. Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang Usia


Lanjut. Undang - Undang Negara Republik Indonesia. 1998.

45
2. Muhith A, Siyoto S. Pendidikan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI;
2016. 1-6.

3. Badan Pusat Statistik. Penduduk Menurut Kelompok Umur, Daerah


Perkotaan/Pedesaan, dan Jenis Kelamin [Internet]. Data Sensus
Penduduk 2010.2010:1. Tersedia di: sp2010.bps.go.id/index.php/site/
tabelprint.

4. Suzman R, Beard J. Global Health and Aging. NIH Publ no 117737 [Internet].
World Health Organization. 2011;1(4):273–277. Available from:
http://links.jstor.org/sici?sici=0095

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Populasi Lansia Diperkirakan


Terus Meningkat Hingga Tahun 2020 [Internet]. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. 2013:1. Tersedia di:
http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=13110002

6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar


(RISKESDAS) 2013. Lap Nas 2013. 2013;1–384.

7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan KR. Riset Kesehatan Dasar.


Dep Kesehat Republik Indonesia. 2008;1–10.

8. Dharmautama M, Koyama AT, Kusumawati A. Tingkat Keparahan Halitosis


pada Manula Pemakai Gigitiruan. J Kedokt Gigi Dentofasial.
2008;7(2):108–13.

9. Soares L, Tinoco E. Prevalence and Related Parameters of Halitosis in General


Population and Periodontal Patients. OA Dent. 2014;25(2):1–7.

10. Cortelli JR, Dourado M, Barbosa S, Westphal MA. Halitosis: a Review of


Associated Factors and Therapeutic Approach. Oral Heal Braz Oral
Res Braz Oral Res. 2008;22(1):44–45.

11. Aylıkcı BU, Çolak H. Halitosis: From Diagnosis to Management. J Nat Sci Biol
Med. 2013;4(1):14–23.

12. Scully C, Greenman J. Halitosis (Breath Odor). Periodontol 2000. 2008;48:66–


75.

13. Youngnak-Piboonratanakit P, Vachirarojpisan T. Prevalence of Self-Perceived


Oral Malodor in a Group of Thai Dental Patients. J Dent Tehran Univ
Med Sci. 2010;7(4):196–197.

14. Gunardi I, Wimardhani YS. Oral probiotik: Pendekatan Baru Terapi Halitosis.

46
Indonesia J Dent. 2009;16(1):64–71.

15. Talumewo M, Mintjelungan C, Wowor M. Perbedaan Efektivitas Obat Kumur


Antiseptik Beralkohol dan non Alkohol Dalam Menurunkan Akumulasi
Plak. Pharmacon. 2015;4(4):1–8.

16. Laskaris G. Treatment of Oral Diseases a Concise Textbook. New York:


Thieme; 2005. 126-127.

17. Sinaredi BR, Pradopo S, Wibowo B. Daya antibakteri Obat Kumur


Chlorhexidine , Povidone iodine , Fluoride Suplementasi Zinc terhadap
Streptococcus Mutans dan P.Gingivalis. Dent J. 2014;47(4):212–214.

18. Farah CS, McIntosh L, McCullough MJ. Mouthwashes. Aust Prescr.


2009;32(6):162–163.

19. Mervrayano J, Bahar E. Perbandingan Efektivitas Obat Kumur yang


Mengandung Chlorhexidine dengan Povidone Iodine terhadap
Streptococcus mutans. Jurnal Kesehatan Andalas. 2015;4(1):168–71.

20. Asdar. Bahan Kemoterapeutik Sebagai Pengontrol Plak dan Gingivitis. Journal
of Dentomaxillofacial Sciene. 2007;6(1):2–8.

21. Husna A, Abral. Efektivitas Obat Kumur dalam Menghilangkan Bau Mulut
(Halitosis) Pada Perokok Aktif. POLNEP Repos. 2012;133–8.

22. Ristianti N, W JK, Marsono. Perbedaan Efektifitas Obat Kumur Herbal dan non
Herbal terhadap Akumulasi Plak di Dalam Rongga Mulut. Medali
Jurnal. 2013;2(1):31–6.

23. Yagiela D, Niedle. Pharmacology and Therapeutics for Dentistry. 5th ed. St.
Louis: Mosby; 2004. 886-887.

24. Marchetti, E., Mummolo, S., Di Mattia, J., Casalena, F., Di Martino, S., Mattei,
A., Marzo G. Efficacy of Essential Oil Mouthwash with and Without
Acohol: a 3-day plaque accumulation model. TrialsJournal.
2011;12(1):2–8.

25. Warongan MSJ, Anindita P S, Mintjelungan CN. Perbedaan Indeks Plak


Penggunaan Obat kumur Beralkohol Dan Non Alkohol Pada Pengguna
Alat Ortodontik Cekat. J e-GiGi. 2015;3(2):531.

26. Balagopal S, Arjunkumar R. Chlorhexidine: The Gold Standard Antiplaque


Agent. J Pharm Sci Res. 2013;5(12):271–272.

47
27. Patabang WA, Leman MA, Maryono J. Perbedaan Jumlah Pertumbuhan Koloni
Bakteri Rongga Mulut Sebelum dan Sesudah Menggunakan Obat
Kumur yang Mengandung Chlorheksidine. Pharmacon. 2016;5(1):26–
27.

28. Carranza F, Newman M. Carranza’s Clinical Periodontolgy. 9th ed.


Philadelphia: WB. Saunders; 2002. 618-619.

29. Anwar IA. Penyebab dan Penanganan Halitosis. Jurnal Ilmiah dan Teknologi
Kedokteran Gigi. 2007;4(1):1–6.

30. Tampubolon PAS. Penyebab dan Penatalaksaan Halitosis [Internet]. 2014.


Tersedia di: https://www.academia.edu/PenatalaksanaanHalitosis

31. Sondang P. Masalah Halitosis dan Penatalaksanaannya. Dentika Dent J.


2008;13(1):74–77.

32. Aydin M. How can We Understand Whether Halitosis Comes from Mouth or
Breath. MN Med Nobel. 2012;97–105.

33. Momin IA, Tanwir F. Halitosis. Pakistan Oral Dent J. 2011;31(2):304-305.

34. Baharvand M, Maleki Z, Mohammadi S, Alavi K, Moghaddam EJ. Assessment


of Oral Malodor: A Comparison of the Organoleptic Method with
Sulfide Monitoring. J Contemp Dent Pract. 2008;9(5):2.

35. Singh M, Bansal P, Kaur S. The Association of Periodontal Disease with Oral
Malodor Before and After Antibiotic Rinse Using FITSCAN® Breath
Checker: A Clinical Study. Dep Periodontol Oral Implantol.
2017;6(2):104.

36. Corporation T. Tanita Breath Checker Instruction Manual [Internet]. Arlington


Heights.2010.Tersedia di : https ://www.tanita.com

37. Maryam R, Fatma M, Rosidawati, Jubaedi A, Batubara I. Mengenal Usia Lanjut


dan Perawatannya. Jagakarsa: Salemba Medika; 2008. 33

38. Budiharto. Metodologi Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu Kedokteran


Gigi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.

LAMPIRAN 1

SURAT KETERANGAN LOLOS KAJI ETIK

48
LAMPIRAN 2

49
PENJELASAN SEBELUM PENELITIAN BAGI CALON
RESPONDEN

Dengan ini saya sampaikan permohonan kesediaan Saudara untuk


berpartisipasi pada penelitian saya mengenai pengaruh obat kumur non alkohol
terhadap halitosis pada lansia di panti sosial. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui dan menjelaskan mengenai pengaruh obat kumur non alkohol terhadap
halitosis pada lansia di panti sosial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi mengenai pengaruh obat kumur non alkohol dalam
mengurangi skor halitosis pada lansia.
Prosedur penelitian adalah sebagai berikut, penelitian ini dilakukan dengan
cara meminta anda untuk menjawab beberapa pertanyaan peneliti, kemudian
dilakukan pengukuran skor awal halitosis menggunakan Tanita breath checker,
selanjutnya anda diminta untuk berkumur dengan obat kumur non alkohol dengan
kandungan chlorhexidine 0,2 % 10 ml selama 60 detik. Pemeriksa kemudian
melakukan pengukuran skor akhir halitosis anda menggunakan Tanita breath
checker untuk mengetahui pengaruh obat kumur non alkohol terhadap penurunan
skor halitosis. Setelah mendapatkan penjelasan, jika anda setuju maka anda diminta
untuk menandatangani surat persetujuan (informed consent).
Menjadi bagian dari penelitian ini bersifat sukarela, saudara dapat menolak
jika tidak bersedia. Bila saudara bersedia ikut serta dalam pemeriksaan ini, dimohon
untuk menandatangani formulir persetujuan.

Hormat saya,

Peneliti

LAMPIRAN 3

50
FORMULIR PERSETUJUAN PENELITIAN
(Informed Consent)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi sampel
penelitian mengenai “Pengaruh Obat Kumur non Alkohol terhadap Halitosis
pada Lansia di Panti Sosial.”

Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :

Setelah mendapat penjelasan tentang maksud dan tujuan serta manfaat penelitian.
Dengan ini saya bersedia untuk mengikuti penelitian yang dilakukan oleh Atika
Putri Novianti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo
(Beragama) dengan penuh kesadaran tanpa paksaan dari siapapun.

Jakarta, ....................
Peneliti Partisipan

(…………………………) (…………………………….)

LAMPIRAN 4

LEMBAR PENELITIAN

51
Nama :

Usia :

Jenis kelamin :

Tabel 5 Tabel Frekuensi Skor Halitosis

SKOR HALITOSIS AWAL SKOR HALITOSIS AKHIR

Keterangan skor
dengan

menggunakan halimeter:

Skor 0 = Tidak terdeteksi halitosis

Skor 1 = Ada sedikit bau mulut yang sulit terdeteksi

Skor 2 = Ada sedikit bau mulut yang mengganggu

Skor 3 = Bau mulut yang sedang


Skor 4 = Bau mulut yang kuat

Skor 5 = Bau mulut yang sangat menyengat

LAMPIRAN 5

52
DATA SUBJEK PENELITIAN

NO. SUBJEK PENELITIAN SKOR HALITOSIS AWAL SKOR HALITOSIS AKHIR

1. No 4 2

2. Ka 2 0

3. Ar 3 2

4. Tu 2 1

5. Su 2 0

6. Fa 1 1

7. Sop 5 3

8. Nu 1 1

9. Uu 2 1

10. Sit 3 1

11. Um 3 1

12. D 3 1

13. Rod 2 1

14. Ros 2 1

15. Ros 1 0

16. Po 2 1

17. Ju 1 0

18. Ha 1 0

19. Mar 1 0

20. Mu 2 1

21. Ru 2 1

22. Mas 3 2

23. La 3 1

24. Ros 1 0

53
25. Tje 3 1

26. Sun 3 2

27. Sum 1 0

28. Cha 2 1

29. Be 3 2

30. Hut 1 0

LAMPIRAN 6

54
DOKUMENTASI

55
56
57
58