Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MERAIH KASIH ALLAH DENGAN


IHSAN

GURU PEMBIMBING :

FATKUR ROHMAN, S.Pd.I

NAMA KELOMPOK

1. WINDA REGITA CAHYANI


2. ANDRIANI
3. DITA ADI PRATAMA
4. SAIFUL ROHMAN
5. IRFAN ANDRIANSYAH

SMA NEGERI I DANDER


TAHUN PELAJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat,


taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah
ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada


junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para
sahabatnya.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih diantaranya kepada :

1. Bpk. Fatkur Rohman, S.Pd.I selaku guru PAI.

2. Semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini

Selanjutnya demi kesempurnaan penulis dalam menyelesaikan


makalah, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak sehingga dapat menyelesaikan dengan baik dan sempurna.

Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat menambah


wawasan bagi semua pihak sehingga dapat memetik isi yang
terkandung di dalamnya.

Dander, Februari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI ...............................................................................................................ii
BAB I ........................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ....................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ............................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 3
C. Tujuan Makalah ........................................................................................... 3
BAB II.......................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 5
A. Pengertian Ihsan..................................................................................... 5
B. Ruang Lingkup Ihsan ................................................................................... 7
1. Ihsan kepada Allah Swt. ....................................................................... 7
2. Ihsan kepada sesama makhluk ciptaan Allah Swt. ................... 8
C. Manfaat dan Hikmah Ihsan ..................................................................... 13
BAB III ...................................................................................................................... 14
PENUTUP ................................................................................................................. 14
Kesimpulan ........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target

seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita

sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba

yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang

sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah Subhanahu

Wa Ta’ala. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun sangat menaruh

perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada

satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Latar belakang terbuatnya makalah ini karena banyaknya seorang

muslim yang memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja,

yang seharusnya dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar

dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu

iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah

Salallahu ‘Alaihi Wassallam.

B. Rumusan Masalah

A. Apa pengertian ihsan

B. Apa saja ruang lingkupmihsan

C. Apa hikmah danmanfaat ihsan?

C. Tujuan Makalah

1. Memenuhi tugas PAI

2. Mempelajari dan mengetahui apa pengrtian ihsan

3
3. Mengetahui ruang lingkup ihsan

4. Mengetahui hikmah dan manfaat ihsan

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ihsan

Ihsan ( ‫ناسح‬I ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti

“kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti

seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia

tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut

membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang

manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu

orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta,

ilmu, kedudukan dan badannya.

Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan

Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan

itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang

sebagai bagian dari akidah dan bagian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini:

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…”

(al-Isra’: 7)

“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik

terhadapmu….” (al-Qashash:77)

Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan

yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk

Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

5
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target

seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita

sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.

َ ْ‫ يُحْ ِسنَُ أَح‬yang memiliki dua makna:


Ihsan adalah mashdar dari ََ‫سن‬

untuk membalas budi baik.

(a). Pertama, kata Ahsana itu bersifat transitif dengan sendirinya. Seperti

َ ْ‫ َكذَا أَح‬artinya adalah ُ‫س ْنت ُ َه‬


ucapan: َُ‫س ْنت‬ َّ ‫( َح‬aku membaguskannya) dan ‫( ت ُ َهُْْ َك َّمل‬aku

menyempurnakannya).

َُ‫سان‬
َ ْ‫اإلح‬
ِ ‫ن‬ َْ َ‫ن ت ََراَهُ َكأَنَّكََ للاََ ت َ ْعَبُ َدَ أ‬
َْ ِ ‫ن لَ َْم فَإ‬
َْ ‫اكََ َْيَر فَإِنَّ َهُ ت ََراَهُ تَ ُك‬

“Ihsan yaitu kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika

kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR.

Muslim, Kitab Iman 1/37)

Makna ini kembali kepada membaguskan ibadah dan menyempurnakannya;

melaksanakan ibadah sebagaimana yang dicintai oleh Allah dalam bentuk

yang paling sempurna, dengan merasakan muraqabah Allah didalamnya,

menghadirkan keagungan-Nya disaat memulai hingga mengakhirinya.

(b). Makna kedua adalah bersifat transitif dengan huruf jarr (‫ )إلى‬seperti ucapan

َ ْ‫فُالَنَ ِإلَى أَح‬


َُ‫س ْنت‬ artinya saya telah menyampaikan kebaikan atau manfaat

kepadanya. Jadi maknanya adalah menyampaikan berbagai macam manfaat

kepada makhluk, masuk kedalam makna ini berbuat baik (ihsan) kepada

hewan.

6
B. Ruang Lingkup Ihsan

Kepada siapa kita harus berlaku Ihsan? Dilihat dari objek nya (pihak-pihak

yang berhak mendapat perlakuan baik/Ihsan dari kita), kita harus berbuat

Ihsan kepada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan juga kepada seluruh

makhluk ciptaan-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut.

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu…".

(HR. Muslim).

Secara lebih rinci, pihak-pihak yang berhak mendapatkan Ihsan ialah sebagai

berikut:

1. Ihsan kepada Allah Swt.

Yaitu berlaku Ihsan dalam menyembah/beribadah kepada Allah Swt., baik

dalam bentuk ibadah khusus yang disebut ibadah mahdah (murni, ritual),

seperti salat, puasa, dan sejenisnya, ataupun ibadah umum yang disebut

dengan ibadah gairu mahdah (ibadah sosial), seperti belajar-mengajar,

berdagang, makan, tidur, dan semua perbuatan manusia yang tidak

bertentangan dengan aturan agama. Berdasarkan hadis tentang Ihsan di atas,

Ihsan kepada Allah Swt. mengandung dua tingkatan berikut ini.

a. Beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan melihat-Nya.

Keadaan ini merupakan tingkatan Ihsan yang paling tinggi, karena dia

berangkat dari sikap membutuhkan, harapan, dan kerinduan. Dia menuju

dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.

b. Beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt. melihatnya.


7
Kondisi ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama,

karena sikap Ihsannya didorong dari rasa diawasi dan takut akan hukuman.

Kedua jenis Ihsan inilah yang akan mengantarkan pelakunya kepada puncak

keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Swt., jauh dari motif riya'.

2. Ihsan kepada sesama makhluk ciptaan Allah Swt.

Dalam Q.S al-Qassash/28:77 Allah berfirman:

"…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat

baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Dari berbagai ayat dan hadis, berbuat kebajikan (Ihsan) kepada sesama

makhluk Allah Swt. meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya. Lebih

kongkritnya seperti penjelasan berikut:

a. Ihsan kepada kedua Orangtua.

Allah Swt. berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu

tidak menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu

bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya

atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali

janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan

janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka

perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua

dengan penuh kesayangan." dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah

mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku di waktu

kecil." (Q.S. al-Isra'/17:24)


8
Dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmizi, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah

saw. bersabda (artinya): "Keridaan Allah berada pada keridaan orangtua,

dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orangtua." (HR. at-Tirmizi).

Berbuat baik kepada kedua orangtua ialah dengan cara mengasihi,

memelihara, dan menjaga mereka dengan sepenuh hati serta memenuhi

semua keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan aturan Allah

Swt.. Mereka telah berkorban untuk kepentingan anak mereka sewaktu masih

kecil dengan perhatian penuh dan belas kasihan. Mereka mendidik dan

mengurus semua keperluan anak anak ketika masih lemah. Selain itu,

orangtua memberian kasih sayang yang tidak ada tandingannya. Jika

demikian, apakah tidak semestinya orangtua mendapat perlakuan yang baik

pula sebagai imbalan dari budi baiknya yang tulus itu? Sedangkan Allah Swt.

telah menegaskan dalam firman-Nya, "Tidak ada balasan untuk kebaikan

kecuali kebaikan (pula)" (Q.S. ar-Rahman/55:60).

b. Ihsan kepada Kerabat Karib.

Menjalin hubungan baik dengan karib kerabat adalah bentuk Ihsan kepada

mereka, bahkan Allah Swt. menyamakan seseorang yang memutuskan

hubungan silaturahmi dengan perusak di muka bumi. Allah Swt. berfirman:

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan

dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Q.S.

Muhammad/47:22).

Silaturahmi merupakan kunci mendapatkan keridaan Allah Swt. Sebab paling

utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah

karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam hadis qudsi, Allah Swt.


9
berfirman: "Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah

menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka,

barangsiapa yang menyambungnya, akan Kusambungkan pula baginya dan

barangsiapa yang memutuskannya, akan Kuputuskan hubunganKu

dengannya." (HR. at-Tirmizi).

c. Ihsan kepada Anak Yatim.

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan cara mendidiknya dan

memelihara hak-haknya. Banyak ayat dan hadis menganjurkan berbuat baik

kepada anak yatim, di antaranya adalah sabda Rasulullah Saw.: "Aku dan

orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya

menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya)." (HR. al-Bukhari, Abu Dawud, dan

at-Tirmizi).

d. Ihsan kepada Fakir Miskin.

Berbuat Ihsan kepada orang miskin ialah dengan memberikan bantuan

kepada mereka terutama pada saat mereka mendapat kesulitan. Rasulullah

bersabda, "Orang-orang yang menolong janda dan orang miskin, seperti

orang yang berjuang di jalan Allah." (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

e. Ihsan kepada Tetangga.

Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau

tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena

nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

10
Teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan,

pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma'had, dan

sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam kategori tetangga. Seorang

tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim

mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang

tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga,

sebagai muslim, dan sebagai kerabat.

Rasulullah Saw. bersabda: "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak

beriman." Para sahabat bertanya: "Siapakah yang tidak beriman, ya

Rasulullah?" Beliau menjawab: "Seseorang yang tidak aman tetangganya dari

gangguannya." (HR. al-Syaikhani).

Pada hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda, "Tidak beriman kepadaku

barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya

kelaparan, padahal ia megetahuinya."(HR. at-Tabrani).

f. Ihsan kepada Tamu

Iḥsān kepada tamu, secara umum adalah dengan menghormati dan

menjamunya. Rasulullah Saw. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah

dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya." (HR. Jama'ah, kecuali

Nasa'i). Tamu yang datang dari tempat yang jauh, termasuk dalam sebutan

ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan jauh). Cara berbuat Ihsan terhadap

ibnu sabil dengan memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara

kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta.

11
g. Ihsan kepada Karyawan/Pekerja

Kepada karyawan atau orang-orang yang terikat perjanjian kerja dengan kita,

termasuk pembantu, tukang, dan sebagainya, kita diperintahkan agar

membayar upah mereka sebelum keringat mereka kering (segera), tidak

membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak sanggup

melakukannya. Secara umum kita juga harus menghormati dan menghargai

profesi mereka.

h. Ihsan kepada Sesama Manusia

Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari

Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan

Muslim).

Wahai manusia, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai satu

sama lain dalam pergaulan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah

kemungkaran. Menunjuki jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang

bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan

tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.

i. Ihsan kepada Binatang

Berbuat Ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia

lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya di luar

kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya

jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan

menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta

menggunakan pisau yang tajam.


12
"…Maka apabila kamu membu**h hendaklah membu**h dengan cara yang

baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik

dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan

sembelihannya". (HR. Muslim).

j. Ihsan kepada Alam Sekitar

Alam raya beserta isinya diciptakan untuk kepentingan manusia. Untuk

kepentingan kelestarian hidup alam dan manusia sendiri, alam harus

dimanfaatkan secara bertanggungjawab. Allah Swt. berfirman: "…dan

berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,

kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

(Q.S. al-Qassas/28:77

C. Manfaat dan Hikmah Ihsan

"Kebaikan akan berbalas kebaikan", adalah janji Allah dalam al-Qur'an.

Bebruat Ihsan adalah tuntutan kehidupan kolektif. Karena tidak ada manusia

yang dapat hidup sendiri, maka Allah menjadikan saling berbuat baik sebagai

sebuah keniscayaan. Berbuat baik (Ihsan) kepada siapa pun, akan menjadi

stimulus terjadinya "balasan" dari kebaikan yang dilakukan. Demikianlah,

Allah Swt. Membuat sunah (aturan) bagi alam ini, ada jasa ada balas. Semua

manusia diberi "nurani" untuk berterima kasih dan keinginan

13
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

o Dalam Q.S. al-Baqarah/2:83 Allah Swt. memerintahkan Bani Israil agar

menyembah Allah Swt., berbuat baik (Ihsan) kepada kedua orangtua,

kerabat, anak-anak yatim, dan orang-oang miskin. Dan agar bertuturkata

yang baik kepada manusia, tetapi mereka tetap membangkang.

o Rasulullah menegaskan bahwa Allah Swt. menyuruh kita berlaku Ihsan

dalam segala hal dan kepada semua makhluk Allah Swt.

o Ihsan adalah berbuat baik dengan penuh keikhlasan, yang digambarkan

dalam hadis seakan-akan kita melihat Allah Swt., atau setidaknya merasa

dilihat oleh Allah Swt.

o Ihsan mencakup ibadah ritual kepada Allah Swt. dan berbuat baik kepada

semua makhluk hidup dengan ikhlas;

o Perbuatan Ihsan pasti akan mendapat balasan Ihsan juga, karena itu

adalah janji Allah Swt. yang tidak mungkin diingkari;

o Berbuat baik (Ihsan) kepada siapapun, akan menjadi sebab terjadinya

“balasan” dari kebaikan yang dilakukan, karena demikianlah Allah Swt.

Menjadikan aturan bagi makhluk-Nya (Sunnatullah), bahwa kebaikan akan

dibalas kebaikan juga.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://artikelpendidikanrpp.blogspot.com/2016/02/makalah-meraih-kasih-

allah-swt-dengan.html

https://sites.google.com/site/andrirohiman81/rangkuman-

pai/meraihkasihallahswtdenganihsan

https://www.jelinfo.net/2016/10/pengertian-ihsan-islam-hikmah-

manfaat.html

http://coretaanintan.blogspot.com/2018/04/makalah-agama-tentang-

ihsan.html

15

Anda mungkin juga menyukai