Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK 1

ETIKA KEPERAWATAN

Dosen Pembimbing:

Ns.Kalpana Kartika,M.Si

Disusun oleh:

OLIFVIA YOLANDA

WIDYA PUTRI

LIZA WIDYA SARI

GEVIE SUGESTI APRILLA

VENIL ANGGRIZA

ROPI MULIADI

PROGRAM STUDI DIPLOMA KEPERAWATAN

STIKES PERINTIS PADANG

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunianya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas dari DOSEN ”KONSEP TENTANG
NIALI,NORMA,dan ETIKA KEPERAWATAN”dengan tepat waktunya.Dengan adanya tugas ini
diharapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan
mahasiswa.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi
bantuan,dorongan,doa.Tidak lupa kami mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki
tugas kami ini,dikarenakan banyaknya kekurangan dalam mengerjakannya.

Bukit Tinggi,9 Oktober 2019


DAFTAR ISI

COVER................................................................................................................................

KATA PENGANTAR...........................................................................................................

DAFTAR ISI............................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...........................................................................................................


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN

1.1 Konsep nilai.....................................................................................................................


a) Pengertian nilai........................................................................................................
b) Nilai yang diperlukan seorang perawat........................................................
1.2 Konsep norma.......................................................................................................................
1.3 Konsep etika......................................................................................................................
a) Pengertian etika..................................................................................................
b) Tujuan etika...................................................................................
c) Macam-macam etika..............................................................................
d) Komponen etika...................................................................................
e) Etika dalam keperawatan.............................................................................

BAB 3 PENUTUP

1.1 Kesimpulan...................................................................................................................
1.2 Saran.......................................................................................................................
1.3 Daftar pustaka................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional
diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem
pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan
santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk
menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram,
terlindung tanpa merugikan kepentingannya, serta terjaminnya agar perbuatan yang tengah
dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak
asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat.

Manusia (khususnya Jawa) percaya garis hidupnya sudah ada yang mengatur, dan dengan itu
mereka menerima apa yang menjadi bagiannya dan melaksanakan apa yang menjadi bagiannya
itu. Dalam hal ini orang Jawa melaksanakan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya (darma).
Darma berarti kewajiban atau tugas hidup. Darma berhubungan dengan anggapan bahwa setiap
manusia entah kecil atau besar, banyak atau sedikit mempunyai tugasnya yang khas dalam
keseluruhan dan masing-masing berperan dalam penciptaan kerukunan, keselarasan,
perdamaian serta kemakmuran masyarakat.

Nilai-nilai(valves) merupakan hak-hak manusia dan pertmbangan etis yang mengatur perilaku
seseorng. Nilai merupakan milik setiap pribadi yang mengatur langkah-langkah yang
seharusnya yang di lakukan karena merupakan cetusan dari hati nurani yang dalam dan
diperoleh seseorang sejak kecil. Nilai di pengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan yang
dewasa ini mendapat perhatian kusus, terutama bagi perawat karena perkembangan peran
perawat menjadikan mereka menjadi lebih menyadari nilai dan hak orang lain serta dirinya
sendiri.

Norma adalah aturan-aturan atau pedoman sosial yang khusus mengenai tingkah laku, sikap,
dan perbuatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya.
Dari sudut pandang umum sampai seberapa jauh tekanan norma diberlakukan oleh
masyarakat,norma dapat di bedakan menjadi 5 yaitu, Norma sosial, Norma hukum, Norma
sopan santun, Norma agama, dan Norma moral. Ke limanya ini sangat bermakna dalam
kehidupan kita sehari – hari, dan juga berperan penting dalam mengatur segala sesuatu
perundang – undangan di indonesia. Khususnya hukum di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Menjelaskan pengertian konsep nilai dan hubungannya dengan keperawatan

2. Menjelaskan pengertian konsep norma dan hubungannya dengan keperawatan

3. Menjelaskan pengertian konsep etika dan hubungannya dengan keperawatan


1.3 Tujuan

1. Agar mahasiswa dapat memahami dan mempraktekkan konsep - konsep nilai, norma,
budaya dan agama kepada masyarakat

2. Agar pembaca dapat memahami konsep - konsep yang penting diperhatikan dalam
berhadapan dengan pasien
BAB 2
PEMBAHASAN

NILAI, NORMA dan ETIKA KEPERAWATAN

A. KONSEP NILAI

1.Pengertian Nilai

Nilai merupakan suatu keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide tingkah laku,
kebiasaan atau objek yang menyususn suatu dasar standar yang mempengaruhi tingkah laku.
Nilai-nilai berhubungan satu sama lain serta membentuk sistem nilai. Perawat juga tekah
menetapkan nilai dan harus mengembangkan kesadaran bagaimana sistem nilai mereka sendiri
akan mempengaruhi klien. Pemahaman sistem nilai akan memahami perawat bertindak secara
profesional.

Pengertian nilai menurut Iskandar J. (1992) dalam Sumijatun (2011), nilai-nilai dan
orientasi nilai mengacupada konsepsi tentang hal-hala tau karakteristik manusia yang
dikehendaki dan terpuji. Nilai dan orientasi nilai menampilkan gambaran tentang dunia yang
seharusnya dan dijadikan pedoman /cara orang-orang untuk melakukan tindakan secara
normal

Ada beberapa pengertian tentang nilai, yaitu sebagai berikut:


a. Nilai adalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh
seseorang sesuai denagn tututan hati nuraninya (pengertian secara umum)
b. Nilai adalah seperangkat keyakinan dan sikap-sikap pribadi seseorang tentang kebenaran,
keindahan, dan penghargaan dari suatu pemikiran, objek atau prilaku yang berorientasi
pada tindakan dan pemberian arah serta makna pada kehidupan seseorang (simon,1973).
c. Nilai adalah keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau
keinginan mengenai ide-ide, objek, atau prilaku khusus (Znowski, 1974)

Ciri-Ciri Nilai:

 Berkaitan dengan subyek.


 Membentuk dasar perilaku seseorang.
 Dipelajari sejak kecil oleh anak-anak di rumah.

Fungsi nilai :

 Nilai berfungsi sebagai filter untuk berbagai pengalaman dan hubungan yang dialami
manusia dalam suatu hari tertentu.
 Fungsi filter dalam nilai membantu seseorang untuk membuat banyak keputusan yang
penting dan memberikan rasa percaya diri pada seseorang dalam berhubungan dengan
orang lain.
 Nilai dapat dipelajari melalui observasi, petimbangan dan pengalaman (Hamilton, 1992)

Manfaat Nilai:

1.Sebagai kriteria dalam memilih tujuan


2. Sebagai kerangka patokan dalam tingkah laku sehari-hari
3. Sebagai arah dalam kehidupan masyarakat
4. Sebagai filter untuk berbagai pengalaman dan hubungan yang dialami manusia dalam
suatu hari tertentu
5. Membantu seseorang untuk membuat banyak keputusan yang penting dan
memberikan rasa percaya diri pada seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.

2.Nilai yang diperlukan perawat

a. Altruisme
Merupakan perilaku yang menggambarkan kepedulian dan kesejahteraan orang lain.
Sikap dari nilai altruisme yang ditampilkan perawat meliputi pemberian perhatian,
komitmen atau prinsip yang dipegang teguh oleh perawat untuk mempertahankan janji,
rasa iba, kemurahan hati, serta ketekunan.
Pada altruisme salah satu yang penting adalah sifat empati atau merasakan perasaan
orang lain di sekitar kita. Hanya altruisme timbal balik yang mempunyai dasar biologis.
Kerugian potensial dari altruisme yang dialami individu diimbangi dengan kemungkinan
menerima pertolongan dari individu lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa altruisme
merupakan bagian “sifat manusia” yang ditentukan secara genetika, karena keputusan
untuk memberikan pertolongan melibatkan proses kongnisi sosial komplek dalam
mengambil keputusan yang rasional (Latane&Darley, Schwartz, dalam Sears, 1991).
Perawat yang memiliki nilai yang baik pasti akan menggali metode dan
keterampilan yang diperlukan untuk memberdayakan asuhan yang efektif (Bishof &
Scudder, 1990). Mereka menunjukkan kepedulian terhadap klien dengan mendukung dan
menguatkan klien, sehingga klien dapat sembuh dari sakitnya, dapat mengatasi
kelemahannya, dan hidup lebih sehat. Mereka peduli dengan kesejahteraan klien. Kehadiran
kepedulian seringkali membantu proses penyembuhan (Bishof & Scudder, 1990).
b. Persamaan
Persamaan adalah mempunyai hak dan status yang sama, sikap yang dapat ditunjukkan
perawat yaitu menerima, adil atau tidak diskrinatif.

c. Empati
Adalah berusaha menempatkan diri pada seseorang yang bersangkutan sehingga dapat
merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang besangkutan tersebut. Empati berbeda
dengan simpati, sikap melibatkan perasaan terhadap sesuatu hal, sehingga tidak dapat lagi
berfikir objektif merupakan sikap simpati yang tidak seharusnya dimiliki oleh perawat.
Senyum dan rasa empati yang ditimbulkan setidaknya akan menjadi multivitamin dosage
tinggi yang tanpa antibiotik atau obat yang super keras akan menyembuhkan rasa
terpelentirnya hati seorang pasien yang sedang menderita penyakit sekeras apapun. Ada
hal yang tidak bisa di teliti secara ilmiah dan juga tidak harus dengan percobaan yang
mahal, ada yang timbul dari hati yaitu keikhlasan untuk menolong sesama.
d. Kebebasan
Kebebasan adalah memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri,
harapan, disiplin, serta kebebasan.
e. Keadilan
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang
lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan
dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum,
standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan.
f. Otonomi
Otonomi adalah kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri.
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
memutuskan. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat
keputusan sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang dihargai.
Prinsip otonomi ini adalah bentuk respek terhadap seseorang, juga dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak
kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesioanal
merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak hak pasien dalam membuat
keputusan tentang perawatan dirinya.

g. Non- Malefience
Non –malefience adalah tidak melukai atau tindak menimbulkan bahaya atau cidera
bagi orang lain.
h. Benefience
Benefience adalah hanya melakukan suatu yang baik, kebaikan, memerlukan
penegakan dari kesalahan atau kejahatan orang lain. Benefisiensi berarti hanya
mengerjakan sesuatu yang baik. Kebaikan juga memerlukan pencegahan dari kesalahan
atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri
dan orang lain. Kadang-kadang dalam situasi pelayanan kesehatan kebaikan menjadi konflik
dengan otonomi.
i. Kejujuran
Kejujuran adalah berarti dengan penuh dengan kebenaran nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berarti penuh dengan
kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan
kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip
veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi
pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada
klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani
perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan
untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan
atau adanya hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki
otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya.
Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

j. Fidelity
Prinsip fidelity dibutuhkan untuk kebutuhan individu mengharigai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai
janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati
janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan
perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat
adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan
meminimalkan penderitaan.

B.KONSEP NORMA

Norma adalah suatu tolok ukur untuk menilai sesuatu.

Norma berasal dari bahasa latin yakni “norma” yang berarti penyikut atau siku-siku, suatu alat
perkakas yang digunakan oleh tukang kayu. Dari sinilah kita dapat mengartikan norma sebagai
pedoman, ukuran atau kebiasaan. Jadi norma adalah sesuatu yang dipakai untuk mengatur
sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau
keburukan suatu perbuatan (K. Bertens, 2007).

Norma umum, menyangkut tingkah laku manusia sebagai keseluruhan terbagi menjadi tiga :

 Norma kesopanan atau etiket, hanya menjadi tolok ukur untuk menentukan apakah yang
kita lakukan itu sopan atau tidak.
 Norma hukum
 Norma moral, norma moral bisa bersifat positif atau negatif. Positif tampak sebagai
perintah yang harus dilakukan, sedangkan negatif tampak sebagai sebuah larangan
untuk melakukan sesuatu.
 Norma khusus, menyangkut aspek tertentu dari apa yang dilakykan oleh manusia.
Contohnya norma bahasa.

3.KONSEP ETIKA

1.Pengertian

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh
seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang
menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut
aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu: Baik
dan buruk,Kewajiban dan tanggung jawab.

2.Tujuan

Etika profesi keperawatan merupakan alut untuk mengukur perilaku moral dalam
keperawatan. Dalam penyusunan alat ukur ini, keputusan diambil berdasarkan kode etik
sebagai standar yang mengukur dan mengevaluasi perilaku moral perawat. Secara umum
tujuan etika profesi keperawatan adalah menciptakan dan mempertahankan kepercayaan
klien kepada perawat, kepercayaan di antara sesama perawat, dan kepercayaan masyarakat
kepada profesi keparawatan.

Sesuai dengan tujuan di atas, perawat ditantang untuk mengembangkan etika profesisecara
terus menerus agar dapat menampung keinginan dan masalah baru. Dan agar perawat
manjadi wasit untuk anggota profesi yang bertindak kurang professional atau merusak
keparcayaan masyarakat terhadap profesi keperawatan.

a) Menurut American Ethics Commision Bureau on Teaching, tujuan etika profesi


keperawatan adalah mampu:
b) Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam praktik keperawatan.
c) Membentuk strategi / cara dan menganalisis masalah moral yang terjadi dalam
praktik keperawatan.
d) Menghubungkan prinsip moral / pelajaran yang baik dan dapat dipertanggung
jawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan, sesuai dengan
kepercayaannya.

3.Macam-macam Etika

a. Etika Deskriptif

Etika deskriptif ialah etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan
pola perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai (Rahmaniyah, 2010: 66). Etika deskriptif ini termasuk bidang ilmu
pengetahuan empiris dan berhubungan erat dengan kajian sosiologi. Terkait dengan bidang
sosiologi, etika deskriptif berusaha menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan, dan
pengalaman moral dalam suatu kultur tertentu.

Etika deskriptif mungkin merupakan suatu cabang sosiologi, tetapi ilmu tersebut penting
bila kita mempelajari etika untuk mengetahui apa yang dianggap baik dan apa yang
dianggap tidak baik (Zubair, 1995: 93). Kaidah etika yang biasa dimunculkan dalam etika
deskriptif adalah adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-
tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Menurut Keraf, etika deskriptif
adalah:
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta
apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya
Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai
dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang
membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatannilai atau
tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan
manusia dapat bertindak secara etis (1991: 23).
Etika deskriptif dapat dibagi menjadi dua bagian: sejarah moral dan fenomenologi moral.

Sejarah moral adalah bagian etika deskriptif yang bertugas untuk meneliti cita-cita, aturan-
aturan dan norma-norma moral yang pernah diberlakukan dalam kehidupan manusia pada
kurun waktu dan suatu tempat tertentu atau dalam suatu lingkungan besar mencakup
bangsa-bangsa.

Sedangkan fenomenologi moral adalah etika deskriptif yang berupaya menemukan arti dan
makna moralitas dari berbagai fenomena moral yang ada. Fenomenologi moral tidak
berkomponen menyediakan petunjuk-petunjuk atau batasan-batasan moral yang perlu
dipegang oleh manusia. Fenomenologi moral tidak membahas apa yang dimaksud dengan
yang benar dan apa yang dimaksud dengan yang salah (Haris, 2007: 7).

b. Etika Normatif

Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung
diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral (Bertens, 2011: 19).
Etika normatif adalah etika yang mengacu pada norma-norma atau standar moral yang
diharapkan untuk mempengaruhi perilaku, kebijakan, keputusan, karakter individu, dan
struktur sosial (Rahmaniyah, 2010: 67). Etika normatif inilah yang sering disebut dengan
filsafat moral atau biasa juga disebut etika filsafat. Menurut Keraf, etika normatif adalah:

Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh
manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai
dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar
manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan
kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat (Keraf: 1991: 23)

Etika normatif dapat dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, etika normatif yang terkait dengan teori-teori nilai yang mempersoalkan sifat
kebaikan. Kedua, etika normatif yang berkenaan dengan teori-teori keharusan yang
membahas masalah tingkah laku (Haris, 2007: 8). Secara singkat dapat dikatakan, etika
normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan
dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktik. Kaidah yang sering muncul dalam
etika normatif, yaitu hati nurani, kebebasan dantanggung jawab, nilai dan norma, serta hak
dan kewajiban.

4.Komponen Etika

 Kebebasan dan Tanggung Jawab

Pembahasan masalah etika, mengambil objek material perilaku atau perbuatan manusia
yang dilakukan secara sadar. Dengan demikian maka etika harus melihat manusia sebagai
makhluk yang mempunyai kebebasan untuk berbuat dan bertindak sekaligus bertanggung
jawab terhadap perbuatan dan tindakan yang dilakukannya. Etika merupakan suatu
perencanaan menyeluruh yang mengaitkan daya kekuatan alam dan masyarakat dengan
bidang tanggung jawab manusiawi. Sedangkan tanggung jawab dapat dituntut atau
dipertanggungjawabkan apabila ada kebebasan. Dengan demikian, masalah kebebasan dan
tanggung jawab dalam etika merupakan sebuah keniscayaan.
Kebebasan bagi manusia pertama-tama berarti, bahwa ia dapat menentukan apa yang mau
dilakukannya secara fisik. Ia dapat menggerakkan anggota tubuhnya sesuai dengan
kehendaknya, tentu dalam batas-batas kodratnya sebagai manusia. Jadi kemampuan untuk
menggerakkan tubuhnya memang tidak terbatas. Kebebasan manusia bukan sesuatu yang
abstrak, melainkan konkret, sesuai dengan sifat kemanusiaannya (Suseno, 1987: 23).

Kebebasan dan tanggung jawab merupakan dua sisi mata uang etika yang harus ada. Jika
keduanya tidak ada, maka pembahasan etika juga tidak ada. Manusia mempunyai kebebasan
untuk berbuat dan seharusnya manusia itu juga mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Terdapat hubungan timbal balik antara kebebasan dan tanggung jawab, sehingga orang
yang mengatakan bahwa, manusia itu bebas, maka dia harus menerima konsekwensinya
bahwa manusia itu harus bertanggung jawab (Haris, 2007: 3). Maka dengan demikian,
dalam etika, tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab, begitu juga sebaliknya, tidak ada
tanggung jawab tanpa ada kebebasan.

 Baik dan Buruk

Dalam membahas etika sudah semestinya membahas tentang baik dan buruk. Baik dan
buruk bisa dilihat dari akibat yang ditimbulkan dari perbuatan baik maupun perbuatan
buruk. Apabila akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya itu baik, maka tindakan yang
dilakukan itu benar secara etika, dan sebaliknya apabila tindakannya berakibat tidak baik,
maka secara etika salah.

Nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal dan agama. Upaya akal dalam mengetahui mana
yang baik dan mana yang buruk tersebut dimungkinkan oleh pengalaman manusia juga.
Berdasarkan pengalaman tersebut, disamping ada nilai baik dan buruk yang temporal dan
lokal, akal juga mampu menangkap suatu perbuatan buruk, karena buruk akibatnya
meskipun dalam zat perbuatan itu sendiri tidaklah kelihatan keburukannya.

Demikian sebaliknya, ada perbuatan baik, karena baik akibatnya, meskipun dalam zat
perbuatan itu tidak kelihatan baiknya. Derajat keburukan tidak perlu sama, mungkin hanya
agak buruk, ada yang buruk benar, ada pula yang terlalu buruk; tetapi semuanya itu buruk
karena tidak baik. Ternyata buruk itu suatu pengertian yang negatif pula. Bahkan adanya
tindakan yang dinilai buruk, karena tiadanya baik yang seharusnya ada. Jadi bukan
tindakannya semata-mata yang memburukkannya (Poejawijatna, 2003: 38).

 Keutamaan dan Kebahagiaan

Keutamaan etika berkaitan dengan tindakan atau perilaku yang pantas dikagumi dan
disanjung. Tindakan yang mengandung keutamaan pantas dikagumi dan disanjung.
Tindakan seperti itu berada pada tataran yang jauh melampaui tataran tindakan yang vulgar
dan biasa. Karena itu keutamaan bersifat exellence (sesuatu yang unggul dan mengaumkan)
atau suatu kualitas yang luar biasa. Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
keutamaan dalam pembahasan etika adalah hal-hal yang terkait dengan kebaikan dan
keistimewaan budi pekerti.

Kebahagiaan hanya dapat dimiliki oleh makhluk-makhluk yang berakal budi, sebab hanya
mereka yang dapat merenungkan keadaannya, menyadari, serta mengerti kepuasan yang
mereka alami. Selain itu. Kebahagiaan adalah keadaan subjektif yang menyebabkan
seseorang merasa dalam dirinya ada kepuasan keinginannya dan menyadari dirinya
mempunyai sesuatu yang baik. Hal demikian ini, hanya akan disadari oleh makhluk yang
mempunyai akal budi. Oleh karena itu, hanya manusialah yang dapat merasakan
kebahagiaan yang sebenarnya (Haris, 2007: 60).

5.Etika dalam Keperawatan

1. Kode Etik Keperawatan

Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika
terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik
keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November
1989.

Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal. Bab 1, terdiri dari
empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan
masyarakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain. Bab 4, terdiri dari empat
pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan. Bab 5,
terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,
bangsa, dan tanah air.

Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association (ANA) adalah sebagai berikut.

 Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan


dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan status
sosial atau ekonomif atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.
 Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang
bersifat rahasia.
 Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam
oleh praktik seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis, atau ilegal.
 Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang
dijalankan masing-masing individu.
 Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
 Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi
dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima
tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
 Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan
profesi.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan
meningkatkan standar keperawatan.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina
kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.
 Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap
informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
 Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat
Iainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan publik.
2. Hubungan Etika dengan Praktek Keperawatan

Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat diperlukan untuk menempatkan etika,
nilai-nilai dan perilaku kesehatan pada posisinya. Perawat bisa menjadi sangat
frustrasi bila membimbing atau memberikan konsultasi kepada pasien yang
mempunyai nilai-nilai dan perilaku kesehatan yang sangat rendah. Hal ini
disebabkan karena pasien kurang memperhatikan status kesehatannya. Pertama-
tama yang dilakukan oleh perawat adalah berusaha membantu pasien untuk
mengidentifikasi etika dan nilai-nilai dasar kehidupannya sendiri.

Perawat memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang


berkualitas berdasarkan standar perilaku etika yang etis dalam praktek asuhan
keperawatan. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat
dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat. Perilaku yang
etis mencapai puncaknya bila perawat mencoba dan mencontoh perilaku
pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika.

Dalam hal ini, perawat seringkali menggunakan dua pendekatan yaitu :

a. Pendekatan berdasarkan Prinsip


Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam etika untuk
menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress
(1994) menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika antara lain :
 Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan
terhadap kapasitas otonomi setiap orang
 Menghindarkan berbuat suatu kesalahan
 Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat
dengan segala konsekuensinya
 Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.

b. Pendekatan berdasarkan Auhan Keperawatan.


Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam
etika mengarahkan banyak perawat untuk memandang “care” atau asuhan
sebagai fondasi dan kewajiban. Hubungan perawat dengan pasien
merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan, dimana memberikan
langsung perhatian khusus kepada pasien, sebagaimana dilakukan
sepanjang kehidupannya sebagai perawat. Perspektif asuhan memberikan
arah dengan cara bagaimana perawat dapat membagi waktu untuk dapat
duduk bersama dengan pasien, merupakan suatu kewajaran yang dapat
membahagiakan bila diterapkan berdasarkan etika.

Karakteristik perspektif dari asuhan menurut Taylor (1993) meliputi :

 Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan


 Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau
pasien sebagai manusia
 Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang
mengarah pada tanggung jawab profesional
 Mengingat kembali arti tanggung jawab moral yang meliputi kebajikan
seperti: kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih sayang, dan menerima
kenyataan.
BAB 3

PENUTUP

1.KESIMPULAN

Dalam upaya mendorong profesi keperawatan agar dapat diterima dan dihargai oleh
pasien, masyarakat atau profesi lain, maka mereka harus memanfaatkan nilai-nilai keperawatan
dalam menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran
profesionalnya. Dengan demikian perawat yang menerima tanggung jawab, dapat
melaksanakan asuhan keperawatan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti
bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi
jaminan bagi keselamatan pasen, penghormatan terhadap hak-hak pasen, akan berdampak
terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan .
Dan setiap perawat harus mampu untuk memahami nilai moral agar dalam bertindak tidak
salah

2.SARAN

Walaupun kami sadar bahwa makalah ini masih ada kesalahan dalam penulisan dan
atau masih ada materi yang kurang dalam makalah yang kami buat. Semonga makalah berjudul
konsep tentang nilai norma dan etika dalam etika keperawatan yang dijadikan pembelajaran
bagi kita semua.Kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K.2007. Etika . Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Dalami, Ermawati . 2002 . Etika Keperawatan . Trans Info Media : Jakarta

Drmodiharjo . 2006 . Pokok-pokok Filsafah Hukum . Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai