Anda di halaman 1dari 10

PEMERINTAH KABUPATEN JEPARA

DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS KEMBANG
Jalan Raya Jepara – Keling Km. 22 Kembang
Telp (0291) 7730050 Email puskesmaskembang22@gmail.com
Jepara Kodepos 59457

KEPUTUSAN KEPALA UPT PUSKESMAS KEMBANG


NOMOR 93 TAHUN 2019
TENTANG
RUJUKAN
KEPALA UPT PUSKESMAS KEMBANG,
Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan
dan keselamatan pasien puskesmas, perlu disusun
rujukan pasien baik yang gawat darurat maupun yang non
gawat darurat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
huruf a, untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan
sesuai kebutuhan pasien, bermutu dan memperhatikan
keselamatan pasien, maka perlu ditetapkan kebijakan
tentang rujukan dengan keputusan Kepala UPT
Puskesmas Kembang;
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan;
2. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2015
tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat
Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri
Dokter Gigi, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2016 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46
Tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik
Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat
Praktik Mandiri Dokter Gigi;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
44 Tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen Pusat
Kesehatan Masyarakat;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien;
7. Peraturan Menteri Kesehatan No 4 Tahun 2019 tentang
Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA UPT PUSKESMAS KEMBANG
TENTANG RUJUKAN.
Kesatu : Menetapkan Kebijakan Rujukan di puskesmas kembang,
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan Kepala
Puskesmas dan merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan keputusan ini.
Kedua : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan, apabila ada kekeliruan maka akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Kembang
Pada tanggal : 14 Januari 2019
KEPALA UPT PUSKESMAS KEMBANG,

Fitrin Miadianti
Lampiran I Keputusan Kepala UPT Puskesmas Kembang
Tentang : Rujukan
Nomor : 93 Tahun 2019
Tanggal : 14 Januari 2019

RUJUKAN
1. Prosedur Rujukan Pasien dari Puskesmas ke Puskesmas Rawat Inap/RS
A. Prosedur Klinis
 Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang medik untuk menentukan diagnosis utama dan
diagnosis banding.
 Memberikan tindakan stabilisasi sesuai kasus berdasarkan
Standar Prosedur Operasional (SPO).
 Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan dan memastikan
bahwa unit pelayanan tujuan dapat menerima pasien
 Untuk pasien gawat darurat harus didampingi tenaga kesehatan
yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
 Pasien (pada point 4) diantar dengan kendaraan ambulans dan
diserah terimakan oleh petugas, agar petugas dan kendaraan
pengantar tetap menunggu sampai pasien di IGD mendapat
kepastian pelayanan, apakah akan dirujuk atau ditangani di
fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
 Rujukan kasus yang memerlukan standar kompetensi tertentu
(spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tingkat I (Puskesmas)
dapat merujuk langsung ke rumah sakit rujukan yang memiliki
kompetensi tersebut.
B. Prosedur Administratif:
 Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan medis.
 Membuat rekam medis pasien.
 Mengidentifikasi kebutuhan/ pilihan pasien atau keluarga
pasien selama proses rujukan.
 Menjelaskan dan memberikan Informed Consent kepada pasien
(persetujuan/penolakan rujukan).
 Membuat surat rujukan pasien rangkap 2, lembar pertama
dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan.
Lembar kedua untuk arsip di puskesmas.
 Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
 Menyiapkan sarana transportasi.
 Menghubungi rumah sakit/puskesmas rawat inap yang akan
dituju dengan menggunakan sarana komunikasi dan
menjelaskan kondisi pasien.
 Pengiriman dan penyerahan pasien disertai surat rujukan ke
tempat rujukan yang dituju.
C. Prosedur Operasional menerima rujukan balik pasien.
1. Prosedur Klinis:
 Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh Rumah
Sakit yang terakhir merawat pasien tersebut.
 Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan
memantau kondisi klinis pasien sampai sembuh.
2. Prosedur Administratif:
Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat informasi tersebut
di buku register pasien rujukan, kemudian menyimpannya pada
rekam medis pasien yang bersangkutan dan memberi tanda
tanggal / jam telah ditindaklanjuti.
3. Prosedur Pengelolaan pasien di ambulans
 Pasien yang dirujuk didampingi oleh petugas kesehatan yang mampu

mengawasi dan antisipasi kegawatdaruratan.


 Di dalam ambulans tersedia sarana prasarana life saving (sesuai
kondisi pasien).
 Adanya komunikasi antar petugas yang ada di ambulans dengan
rumah sakit perujuk.
 Pengoperasian mobil ambulans sesuai aturan lalu lintas.
 Perkembangan dan tindakan yang diberikan terhadap pasien di dalam

ambulans dicatat dalam catatan perkembangan pasien/surat


rujukan.
4. Prosedur sistem informasi rujukan dari Puskesmas ke Puskesmas
Rawat Inap/Rumah Sakit:
 Surat Rujukan
Tersedia informasi tentang kerjasama dengan fasilitas rujukan
lain. Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas
kesehatan pengirim dan dicatat dalam surat rujukan pasien yang
dikirimkan ke dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain:
no rujukan, nama puskesmas/dokter keluarga, nama
kabupaten/kota, nama pasien yang dirujuk, status jaminan
kesehatan yang dimiliki pasien baik pemerintah maupun swasta,
diagnosa, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk
pemeriksaan penunjang diagnostik, kemajuan pengobatan, nama
dan tandatangan dokter/bidan yang memberikan pelayanan serta
keterangan tambahan yang dianggap perlu dan penting.
2. Prosedur Rujukan Gawat Darurat untuk Kasus KIA
Rujukan pada kasus KIA sangatlah sensitif karena menyangkut dua
nyawa, dimana pasien datang berdua dan haruslah kembali
minimal 2 orang atau lebih tidak boleh kurang. Sehingga kecepatan
rujukan sangat penting, terutama untuk kasus-kasus gawat
darurat. Pada awal kehamilan tenaga medis yang melakukan ANC
baik bidan maupun dokter umum di puskesmas harus memberikan
edukasi apakah ibu termasuk dalam kategori beresiko seperti
memiliki :
 Hiperemesis Gravidarum
 Hipertensi Dalam Kehamilan
 Hipertensi dalam kehamilan
 Pre-eklamsi
 Gejala dan Penyakit lain yang memerlukan manajemen khusus
 Sesak
 Riwayat Diabetes Melitus
 Memiliki Resiko HIV
 Demam Tinggi, dll
 Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai
usia kehamilan
 Kelainan kehamilan (hubungan yang abnormal antara janin dan
panggul)
 Gemelli
 Kelainan letak, posisi
 DKP (Disproporsi Kepala Panggul)
Apabila terdapat ibu hamil dengan kasus tersebut maka wajib bagi
puskesmas untuk mengedukasi ibu agar melakukan persalinan di
Rumah Sakit PONEK terdekat dari lokasi tinggal, tidak di
puskesmas, hal ini perlu dilakukan agar penanganan kegawatan
dapat segera diberikan.
Namun untuk kasus – kasus gawat darurat seperti
 Perdarahan pada kehamilan dini
o Abortus imminen
o Abortus inkompletus dan missed abortion
o Mola hidatidosa
o Kehamilan Ektopik
o Abortus kompletus
 Perdarahan Pada Trimester 3
 Perdarahan Ante Partum
o Abrupsio Plasenta
 Perdarahan Post Partum
o Atonia Uteri
o Retensi Plasenta
o Ruptur Perineum Derajat Iii –Iv Atau Robekan Serviks
 Hipertensi (PEB atau Eklampsia)
 Penyulit Pada Persalinan
o Tali Pusat Menumbung
o Fetal Distress
o Distosia Bahu
o Presentasi Majemuk
 Penyakit Lain Yang Mengancam Keselamatan Ibu Bersalin
o Sesak (Asma Serangan)
o Krisis Tiroid
o Demam Tinggi/Ketuban Pecah > 8 Jam
 Persalinan Pre-Term < 37 Minggu
 Partus Macet/Kemajuan Persalinan Tidak Normal
o Grafik Partograf Menunjukan Persalinan Mendekati Garis
Bertindak
o Persalinan Per Vaginam melalui Induksi Atau Stimulasi
o Persalinan Pervaginam Dengan Tindakan
Pada kasus-kasus gawat darurat tersebut puskesmas atau bidan
dapat segera merujuk ke Rumah Sakit PONEK terdekat untuk
segera dilakukan tindakan, tanpa perlu menelepon, dan Rumah
Sakit PONEK wajib melakukan tindakan pada pasien itu.
Pertimbangan untuk memilih Rumah Sakit PONEK adalah
 Jarak yang dekat
 Kompetensi serta kelengkapan peralatan rumah sakit
 Jaminan kesehatan yang dapat digunakan, apabila RS
PONEK tujuan bekerja sama dengan BPJS maka lebih baik
3. Prosedur Administratif rujukan KIA pada ibu yang diprediksi bermasalah:
 Puskesmas atau bidan melaporkan daftar ibu-ibu gawat darurat ke
CI pada PDCA.
 Dilakukan perencanaan persalinan di RS PONEK oleh tim rujukan.
Pertemuan perencanaan minimal dilakukan sebulan sekali,
sekaligus sebagai monitoring.
 Pada hari yang ditentukan ibu-ibu yang bermasalah diantar
sehingga ibu-ibu ini dapat sampai di rumah sakit dan mendapat
pelayanan. Di masyarakat perlu ada tim pengantar. Tim pengantar
ini sebaiknya didanai oleh masyarakat. Bidan desa akan
mengantar sampai ke rumah sakit dan melakukan serah terima.
 Setelah mendapat pelayanan persalinan di rumah sakit, ibu dan
bayi yang selamat akan kembali ke rumah dengan pengantaran
dari rumah sakit atau dijemput kembali oleh masyarakat.
 Dengan demikian Ibu-ibu yang termasuk ke dalam kelompok
bermasalah perlu mendapat rujukan terencana, karena merupakan
kasus yang telah diprediksi dapat menimbulkan komplikasi apabila
ditangani di fasilitas kesehatan primer atau oleh bidan.
 Ibu-ibu yang bermasalah dapat pula bersalin dengan normal,
apabila ternyata tidak terjadi komplikasi yang telah diprediksi
sebelumnya
4. Prosedur administratif Rujukan KIA pada ibu dengan kondisi Gawat
Darurat
 Puskesmas/bidan menerima ibu hamil yang akan bersalin.
 Apabila ternyata ada penyulit pada persalinan, maka
bidan/dokter penolong pertama harus memutuskan secara
cepat dan tepat untuk melakukan rujukan setelah dilakukan
stabilisasi.
 Pasien / ibu bersalin yang telah didiagnosis memiliki komplikasi
pada persalinan segera dipersiapkan untuk dirujuk ke rumah
sakit PONEK.
 Bidan menelpon atau SMS ke RS PONEK 24 jam dengan
merujuk pasien
5. Prosedur Rujukan di Unit Kesehatan Rawat Jalan Puskesmas ke Klinik
Rawat Jalan Rumah Sakit.
A. Prosedur Klinis
 Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang medik untuk menentukan diagnosis utama dan
diagnosis banding
 Apabila pasien memerlukan konsultasi kepada dr. Spesialis di
Rumah Sakit pasien diberi Inform consent untuk dilakukan
rujukan di Klinik Rawat Jalan Spesialis Rumah Sakit.
 Apabila setuju pasien diidentifikasi kebutuhan dan pilihan
pasien tentang rumah sakit tujuan.
B. Administratif
 Membuat rekam medis pasien.
 Mengidentifikasi kebutuhan/ pilihan pasien atau keluarga
pasien selama proses rujukan.
 Menjelaskan dan memberikan Informed Consent kepada pasien
(persetujuan/penolakan rujukan).
 Membuat surat rujukan pasien.
 Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
 Menyerahkan surat rujukan kepada pasien atau keluarga
pasien.
6. Prosedur rujukan pada pasien dengan kondisi sakit menetap
Pasien yang termasuk dalam kategori ini adalah pasien dengan
kondisi sakit menetap sehingga dikhawatirkan mobilisasi terlalu
banyak dapat memperburuk kondisinya tersebut. Contoh kondisi
pasien yang masuk didalam kategori ini adalah
 Pasien dengan penyakit kanker yang memerlukan kemoterapi

rutin
 Pasien dengan cacat tubuh menetap
 Pasien gagal ginjal kronis yang membutuhkan cuci darah
rutin
 Pasien lain dengan kondisi sakit menetap
Prosedur Administratif:
 Mencatat di buku register hasil pemeriksaan untuk arsip
sebagai pasien dengan kondisi tetap
 Pasien dapat dirujuk tanpa perlu datang ke puskesmas
7. Prosedur rujukan horizontal (Puskesmas ke Puskesmas)
Rujukan horizontal dilakukan pada kondisi tertentu dimana
puskesmas tidak memiliki kelengkapan yang seharusnya ada
didalam puskesmas seperti, reagen guna tes mantoux, pemeriksaan
rontgen thorax, pemeriksaan EKG pada saat kertas EKG habis
maupun rusak, pemeriksaan laboratorium darah pada saat reagen
habis, dll. Biaya untuk puskesmas rujukan akan diambil dari
kapitasi puskesmas yang merujuk.
8. Prosedur Merujuk Spesimen
 Pemeriksaan Spesimen dan Penunjang Diagnostik lainnya
dapat dirujuk apabila pemeriksaannya memerlukan peralatan
medik/teknik pemeriksaan laboratorium dan penunjang
diagnostik yang lebih lengkap. Spesimen dapat dikirim dan
diperiksa tanpa disertai pasien yang bersangkutan.
 Rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang
menerima rujukan spesimen tersebut harus mengirimkan
laporan hasil pemeriksaan spesimen yang telah diperiksanya.
Prosedur standar pengiriman rujukan spesimen dan
Penunjang Diagnostik lainnya
1. Prosedur Klinis:
 Menyiapkan pasien/spesimen untuk pemeriksaan lanjutan.
 Untuk spesimen, perlu dikemas sesuai dengan kondisi bahan
yang akan dikirim dengan memperhatikan aspek sterilitas,
kontaminasi penularan penyakit, keselamatan pasien dan orang
lain serta kelayakan untuk jenis pemeriksaan yang diinginkan.
 Memastikan bahwa pasien/spesimen yang dikirim tersebut
sudah sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan identitas
yang jelas (dilengkapi jam pengambilan).
2. Prosedur Administratif:
 Mengisi format dan surat rujukan spesimen/penunjang
diagnostik lainnya secara cermat dan jelas termasuk nomor
surat dan jaminan kesehatan baik pemerintah maupun swasta,
informasi jenis spesimen/penunjang diagnostik lainnya
pemeriksaan yang diinginkan, identitas pasien dan diagnosa
sementara serta identitas pengirim.
 Mencacat informasi yang diperlukan di buku register yang telah
ditentukan masing-masing intansinya.
 Mengirim surat rujukan spesimen/penunjang diagnostik lainya
ke alamat tujuan dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.
3. Prosedur Menerima Rujukan Spesimen
Prosedur standar menerima rujukan spesimen dan penunjang
diagnostik lainnya
 Prosedur Klinis
o Menerima dan memeriksa spesimen/penunjang diagnostik
lainnya sesuai dengan kondisi pasien/bahan yang diterima
dengan memperhatikan aspek: sterilisasi, kontaminasi
penularan penyakit, keselamatan pasien, orang lain dan
kelayakan untuk pemeriksaan.
o Memastikan bahwa spesimen yang diterima tersebut layak
untuk diperiksa sesuai dengan permintaan yang
diinginkan.
o Mengerjakan pemeriksaan laboratoris atau patologis dan
penunjang diagnostik lainnya dengan mutu standar dan
sesuai dengan jenis dan cara pemeriksaan yang diminta
oleh pengirim.
 Prosedur Administratif
o Meneliti isi surat rujukan spesimen dan penunjang
diagnostik lainnya yang diterima secara cermat dan jelas
termasuk nomor surat dan jaminan kesehatan baik
pemerintah maupun swasta, informasi pemeriksaan yang
diinginkan, identitas pasien dan diagnosa sementara serta
identitas pengiriman
o apabila spesimen yang diterima tidak layak, maka
spesimen tersebut dikembalikan.
o Mencacat informasi yang diperlukan di buku register /
arsip yang telah ditentukan masing-masing instansinya.
o Memastikan kerahasiaan pasien terjamin.
o Mengirimkan hasil pemeriksaan tersebut secara tertulis
dengan format standar masing-masing sarana kepada
pimpinan institusi pengirim.

Ditetapkan di : Kembang
Pada tanggal : 14 Januari 2019
KEPALA UPT PUSKESMAS KEMBANG,

Fitrin Miadianti