Anda di halaman 1dari 14

ISOLASI KERING

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi yang dibimbing oleh:

Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si. dan Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc.

Oleh:

Calista Dhea S. 180341617540


Sherina Nabila W. P. 180341617594
Setyaningrum Tri W. 180341617562
Suci Yana Lestari 180342618026
Verona Tri Nur J. 180341617541

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
ANALISIS VEGETASI METODE KUADRAT

A. TUJUAN
1. Mengetahui spesies hewan infauna yang ditemukan di kebun Biologi
Universias Negeri Malang
2. Mengetahui nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis
hewan infauna di kebun Biologi Universias Negeri Malang
3. Mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap nilai H,E,R jenis hewan tanah
yang ditemukan di kebun Biologi Universias Negeri Malang

B. DASAR TEORI
Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam
perbaikan kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah
tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan
makrofauna tanah. Makrofauna tanah mempunyai peranan penting dalam
dekomposisi bahan organik tanah dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan
merombak substansi nabati yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan
dalam bentuk kotoran (Arief, 2001). Fauna tanah merupakan salah satu komponen
ekosistem tanah yang berperan dalam memperbaiki struktur tanah melalui
penurunan berat jenis, peningkatan ruang pori, aerasi, drainase, kapasitas
penyimpanan air, dekomposisi bahan organik, pencampuran partikel tanah,
penyebaran mikroba, dan perbaikan struktur agregat tanah (Witt, 2004). Fauna
tanah menurut tempat hidupnya dibagi menjadi dua yaitu epifauna dan infauna
(Ross, 1965). Epifauna yaitu hewan yang hidup di permukaan tanah. Infauna yaitu
hewan yang hidup didalam tanah.

Variasi faktor abiotic pada lingkungan menyebabkan perbedaan komposisi


dan jenis infauna antara tanah di lingkungan satu dengan tanah di lingkungan lain.
Jenis-jenis infauna pada suatu lokasi dapat diketahui melalui isolasi kering. Isolasi
kering adalah salah satu metode untuk mendapatkan hewan tanah terutama untuk
jenis infauna. Metode ini memiliki kelebihan pada kesederhanaan
pengoperasiannya. Selain itu, hewan tanah yang diperoleh memiliki struktur tubuh
yang utuh, sehingga identifikasi lebih mudah dilakukan. Prinsip utama dalam
metode isolasi kering adalah adanya respon positif dan negative hewan tanah
terhadap sinar. Intensitas cahaya matahari menyebabkan perubahan suhu
lingkungan, sehingga merangsang hewan tanah untuk bergerak (Suin, 1989).
C. ALAT BAHAN
Alat:
1. Soil survey instrumen
2. Termometer tanah
3. Set modifikasi Barless eco 12
4. 5 Botol seranga/kelompok
5. Bak Plastik/ember
6. Cetok
7. Mikroskop stereo
8. Animal chamber
9. Jarum pentul
10. Kuas kecil

Bahan:
1. Plastik
2. Alkohol 70%
3. Kertas Label
4. Gelas aqua 5/kelompok
D. PROSEDUR KERJA

Diambil sampel tanah sebanyak 1 ember lalu dihomogenkan

Tiap kelompok mengambil sampel tanah sebanyak 1 gelas air mineral (± 100 ml)

Diletakkan set Barless Tulgren pada tempat terbuka [terpapar cahaya matahari]

Diletakkan sampel tanah pada set Barless dan diratakan secara perlahan

F.abiotik di ukur pada jam 07.00, 09.00, 12.00 WIB

Dibawa ke lab dan mengamati spesimen pada animal chamber dibawah


mikroskop

Mengidentifikasi spesies yang ditemukan

Menghitung jumlah hewan yang didapatkan


E. HASIL DATA

Sampel
No. Nama Spesies T1 T2 T3 T4 T5
∑ ∑ ∑ ∑ ∑
1. Scolopendra subspinipes 2
2. Euborellia annulipes 3
3. Neanura muscorum 4
4. Solenopsis geminate 6
5. Euborellia stali 4 1
6. Phalacus politus 1
7. Subulina sp 6
8. Pseudosinella csafordi 1
9. Lepidocyrtoides schott 1

T2

Nama Spesies Pi In Pi Pi.InPi H E R


Scolopendra subspinipes 0,4 - 0,91 - 0,364
Euborellia annulipes 0,6 - 0,511 - 0,306 0,67 0,967 0,622

T3

Nama Spesies Pi In Pi Pi.InPi H E R


Neanura muscorum 0,19 -1,661 -0,316
Solenopsis geminate 0,285 -1,256 -0,358
Euborellia stali 0,19 -1,661 - 0,316 1,495 0,929 1,313
Phalacus politus 0,048 -3,037 - 0,147
Subulina sp. 0,285 -1,256 - 0,358
T4

Nama Spesies Pi In Pi Pi.InPi H E R


Pseudosinella csafordi 1 0 0 0 0 0

T5

Nama Spesies Pi In Pi Pi.InPi H E R


Solenopsis geminate 0,5 - 0,69 - 0,345 0,69 0,996 1,443
Lepidocyrtoides schott 0,5 - 0,69 - 0,345

Tabel Faktor Abiotik

Faktor T1 T2 T3 T4 T5
Abiotik Pi Ssi Pi Pi Ssi Pi Pi Ssi Pi Pi Ssi Pi Pi Ssi Pi
Intensitas 198 265 443 198 265 443 198 265 443 198 265 443 198 265 443
cahaya x x x x x x x x x x x x x x x
(lux) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
pH 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7
Suhu (ºC) 27 30 36 27 29 37 27 29 36 27 30 39 27 30 38

Keterangan:
Pi : Pagi (pukul 06.00)
Ssi : Setengah siang (pukul 09.00)
Si : Siang (pukul 12.00)
F. ANALISIS DATA
Pada praktikum isolasi kering kami mengambil sampel tanah di pada 5
titik yang berbeda. Titik 1 dan 2 yaitu sampel tanah dari belakang gedung O4
FMIPA UM, titik 3 di dekat kandang kelinci, titik 4 di dekat kandang kambing,
dan titik 5 di belakang kanopi hijau FMIPA UM.
Pada titik 1 kami tidak menemukan adanya fauna tanah. Pada titik 2
kami menemukan fauna tanah sebanyak 2 spesies yaitu 2 ekor Scolopendra
subspinipes dan 3 ekor Euborellia annulipes. Indeks keragaman (H), kemerataan
(E) dan kekayaan pada tanah ini secara berurutan yaitu 0,67, 0,967 dan 0,622.
Pada titik 3 kami menemukan 5 spesies, diantaranya 4 ekor Neanura muscorum, 6
ekor Solenopsis geminate, 4 ekor Euborellia stali, 1 ekor Phalacus politus, 6 ekor
Subulina sp. Indeks keragaman (H), kemerataan (E) dan kekayaan pada tanah ini
secara berurutan yaitu 1,495, 0,929 dan 1,313. Pada titik 4 kami menemukan 1
spesies yaitu seekor Pseudosinella csafordi. Indeks keragaman (H), kemerataan
(E) dan kekayaan pada tanah ini yaitu 0. Pada titik 5 menemukan 2 spesies yaitu
seekor Lepidocyrtoides schott dan seekor Euborellia stali. Indeks keragaman (H),
kemerataan (E) dan kekayaan pada tanah ini secara berurutan yaitu 0,69, 0,996,
dan 1,443.
Faktor abiotik yang diukur pada praktikum isolasi kering ini yaitu pH,
intensitas cahaya, dan suhu. Pengukuran faktor abiotik dilakukan sebanyak 3 kali
yaitu pukul 06.00, 09.00, dan 12.00. Pengukuran tersebut menggunakan soil
survey instrument untuk mengukur suhu dan pH tanah, serta lux meter untuk
mengukur intensitas cahaya. Pada pengukuran pH, dari pukul 06.00, 09.00 sampai
12.00 tidak terjadi perubahan pH yaitu tetap 7. Pada pengukuran intensitas cahaya
saat pukul 06.00, 09.00 dan 12.00 secara berurutan yaitu 198x100 lux, 265x100
lux, dan 443x100 lux. Sedangkan pada pengukuran suhu, didapatkan bahwa pada
pukul 06.00 pada kelima titik yaitu 27ºC. Pada pukul 09.00 titik 1,4,5 yaitu 30ºC,
sedangkan pada titik 2 dan 3 yaitu 29ºC. Pada pukul 12.00 titik 1 dan 3 yaitu
36ºC, titik 2 yaitu 37ºC, titik 4 yaitu 39ºC dan titik 5 yaitu 38ºC.
G. PEMBAHASAN
Pada praktikum yang telah dilakukan mengenai isolasi kering,
didapatkan hasil bahwa pada jenis tanah pertama yang memiliki pH 7, intensitas
cahaya pada pagi hari 198x 100 lux suhunya 27℃, pada setengah siang intensitas
cahayanya 256x 100 lux, dan suhunya adalah 30℃, sedangkan pada siang hari
intensitas cahayanya adalah 443x 100 lux dan suhunya 36℃. Pada jenis tanah
pertama ini tidak ditemukan fauna tanah satupun sehingga tidak dapat
diperhitungkan nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis hewan
infauna pada jenis tanah pertama ini, hal ini dapat dikarenakan oleh ukuran fauna
tanah pada tanah jenis ini mungkin sangat kecil, sehingga pada saat dilakukan isolasi
kering menggunakan set barless, fauna tidak ikut tersaring karena ukurannya sangat
kecil (Santoso, 2007). Hal tersebut juga kemungkinan dikarenakan kesalahan
praktikan yang kurang teliti untuk mencari fauna yang berukuran sangat kecil untuk
diamati.
Pada pengamatan jenis tanah yang kedua, jenis tanah kedua memiliki
pH 7, intensitas cahaya pada pagi hari 198x 100 lux suhunya 27℃, pada setengah
siang intensitas cahayanya 256x 100 lux, dan suhunya adalah 29℃, sedangkan pada
siang hari intensitas cahayanya adalah 443x 100 lux dan suhunya 37℃. Pada jenis
tanah kedua ini ditemukan dua spesies yaitu Scolopendra subspinipes yang
berjumlah dua dan Euborellia annulipes yang berjumlah tiga. Sehingga didapatkan
nilai indeks keanekaragamannya 0,67 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman
jenis infauna pada tanah jenis dua rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah
kedua ini adalah 0,967 yang menunjukkan kemerataanspesies infauna pada tanah
jenis kedua ini tinggi. Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 0,622 yang
menunjukkan tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah kedua ini rendah. Pada
pengamatan jenis tanah yang ketiga, jenis tanah ketiga memiliki pH 7, intensitas
cahaya pada pagi hari 198x 100 lux suhunya 27℃, pada setengah siang intensitas
cahayanya 256x 100 lux, dan suhunya adalah 29℃, sedangkan pada siang hari
intensitas cahayanya adalah 443x 100 lux dan suhunya 36℃. Pada jenis tanah ketiga
ini ditemukan lima spesies yaitu Neanura muscorum yang berjumlah empat,
Solenopsis geminata yang berjumlah enam, Euborellia stali yang berjumlah empat,
Phalacrus politus yang berjumlah satu, dan Subulina sp. yang berjumlah enam.
Sehingga didapatkan nilai indeks keanekaragamannya 1,495 yang menunjukkan
bahwa keanekaragaman jenis infauna pada tanah jenis tiga ini sedang. Nilai indeks
kemerataan pada jenis tanah ketiga ini adalah 0,929 yang menunjukkan kemerataan
spesies infauna pada tanah jenis ketiga ini tinggi. Sedangkan nilai indeks kekayaan
jenisnya adalah 1,313 yang menunjukkan tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah
ketiga ini masih dapat dikatakan rendah. Pada pengamatan jenis tanah yang keempat,
jenis tanah keempat memiliki pH 7, intensitas cahaya pada pagi hari 198x 100 lux
suhunya 27℃, pada setengah siang intensitas cahayanya 256x 100 lux, dan suhunya
adalah 30℃, sedangkan pada siang hari intensitas cahayanya adalah 443x 100 lux
dan suhunya 39℃. Pada jenis tanah keempat ini ditemukan satu spesies yaitu
Pseudosinella maros yang berjumlah satu. Sehingga didpatkan nilai indeks
keanekaragamannya 0 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis infauna pada
tanah jenis empat rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah kedua ini adalah
0 yang menunjukkan kemerataan spesies infauna pada tanah jenis keempat tidak
dapat diukur. Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 0 yang menunjukkan
tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah keempat ini rendah. Pada pengamatan
jenis tanah yang kelima, jenis tanah kelima memiliki pH 7, intensitas cahaya pada
pagi hari 198x 100 lux suhunya 27℃, pada setengah siang intensitas cahayanya 256x
100 lux, dan suhunya adalah 30℃, sedangkan pada siang hari intensitas cahayanya
adalah 443x 100 lux dan suhunya 38℃. Pada jenis tanah kelima ini ditemukan dua
spesies yaitu Lepidocyrtoides schott yang berjumlah satu dan Solenopsis geminata
yang berjumlah satu. Sehingga didpatkan nilai indeks keanekaragamannya 0,69
yang menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis infauna pada tanah jenis kelima
rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah kelima ini adalah 0,996 yang
menunjukkan kemerataan spesies infauna pada tanah jenis kedua ini tinggi.
Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 1,443 yang menunjukkan tingkat
kekayaan jenis infauna pada tanah kelima ini rendah.
Hasil praktikum yang telah dilakukan telah sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa jika indeks nilai keanekaragaman jenis dan kekayaan jenis
rendah, maka nilai kemerataannya akan tinggi, karena indeks nilai kemerataan
berbanding terbalik dengan nilai indeks keanekaragaman dan kekayaan jenis
(Sugiyarto, 2003). Keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis fauna pada
beberapa jenis tanah umunya berbeda dikarenakan oleh factor abiotik pada setiap
jenis tanah berbeda. Hal tersebut telah sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
faktor lingkungan yang paling esensial bagi kesuburan dan perkembangan hidup
hewan tanah adalah temperatur, cahaya, kelembaban dan jumlah makanan yang
tersedia. Cahaya memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup
hewan tanah dan merupakan faktor yang sangat vital berhubungan dengan perilaku
untuk memberikan variasi morfologi dan fisiologi pada hewan tanah (Suwondo,
2007). Menurut Suin (1989), perkembangan hewan tanah tidak terlepas dari
pengaruh faktor biotik dan abiotik dari habitat tempat tinggalnya. Namun secara
garis besar faktor abiotik sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan
kepadatan suatu populasi serangga. Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi
suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lainnya juga ikut menentukan distribusi
vertikal hewan dalam tanah (Witt, 2004). Kehidupan hewan tanah, selain
ditentukan oleh struktur vegetasi, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor lain
seperti zat kimia dalam tanah, pH tanah, kandungan air tanah, iklim dan cahaya
matahari sehingga dapat menentukan kehadiran suatu jenis tertentu dari hewan tanah
dan kepadatan populasi hewan tanah. Faktor ketersediaan makanan juga menentukan
kepadatan dan distribusi hewan yang ada didalam tanah. Secara umum semakin
besar kedalaman tanah maka jumlah individu semakin sedikit disebabkan oleh
berkurangnya oksigen untuk pernapasan. Faktor lingkungan yang paling esensial
bagi kesuburan dan perkembangan hidup hewan tanah adalah temperatur, cahaya,
kelembaban dan jumlah makanan yang tersedia. Cahaya memiliki peranan yang
sangat penting dalam perkembangan hidup hewan tanah dan merupakan faktor yang
sangat vital berhubungan dengan perilaku untuk memberikan variasi morfologi dan
fisiologi pada hewan tanah (Suwondo, 2007). Umumnya fauna tanah mampu hidup
secara optimum pada suhu tanah kurang lebih 37℃, kelembaban tanah sedang, dan
pH tanah sekitar 7, sedangkan untuk intensitas cahaya, pada umumnya hewan tanah
akan merespon kenaikan intensitas cahaya apabila semakin naik dengan respon
berbagai macam tingkah laku yang berbeda setiap infauna (Rahmawati, 2006).
H. KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum isolasi kering, didapatkan kesimpulan sebagai


berikut:

1. Hewan infauna yang didapatkan di area kebun Biologi Universitas Negeri


Malang dengan menggunakan metode isolasi kering menggunakan barless set
yaitu Scolopendra subspinipes, Euborellia annulipes, Neanura muscorum,
Solenopsis geminate, Euborellia stali, Phalacrus politus, Subulina sp.,
Pseudosinella maros, dan Lepidocyrtoides schott.

2. Pada praktikum isolasi kering dengan metode barless set menggunakan bantuan
cahaya matahari didapatkan hasil Pada jenis tanah pertama ini tidak ditemukan
fauna tanah satupun sehingga tidak dapat diperhitungkan nilai indeks
keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis hewan infauna pada jenis tanah
pertama. Pada jenis tanah kedua didapatkan nilai indeks keanekaragamannya 0,67
yang menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis infauna pada tanah jenis dua
rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah kedua ini adalah 0,967 yang
menunjukkan kemerataanspesies infauna pada tanah jenis kedua ini tinggi.
Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 0,622 yang menunjukkan
tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah kedua ini rendah. Pada jenis tanah nilai
indeks keanekaragamannya 1,495 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman
jenis infauna pada tanah jenis tiga ini sedang. Nilai indeks kemerataan pada jenis
tanah ketiga ini adalah 0,929 yang menunjukkan kemerataan spesies infauna pada
tanah jenis ketiga ini tinggi. Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah
1,313 yang menunjukkan tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah ketiga ini
masih dapat dikatakan rendah. Pada jenis tanah keempat didpatkan nilai indeks
keanekaragamannya 0 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis infauna
pada tanah jenis empat rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah kedua ini
adalah 0 yang menunjukkan kemerataan spesies infauna pada tanah jenis keempat
tidak dapat diukur. Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 0 yang
menunjukkan tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah keempat ini rendah. Pada
jenis tanah kelima didpatkan nilai indeks keanekaragamannya 0,69 yang
menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis infauna pada tanah jenis kelima
rendah. Nilai indeks kemerataan pada jenis tanah kelima ini adalah 0,996 yang
menunjukkan kemerataan spesies infauna pada tanah jenis kedua ini tinggi.
Sedangkan nilai indeks kekayaan jenisnya adalah 1,443 yang menunjukkan
tingkat kekayaan jenis infauna pada tanah kelima ini rendah.

3. Faktor abiotik sangat banyak mempengaruhi nilai H, E, R jenis hewan tanah,


juga memengaruhi perkembangan dan kepadatan suatu populasi hewan tanah.
Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi suhu, kelembaban dan faktor
lingkungan lainnya juga ikut menentukan distribusi vertikal hewan dalam tanah.
Kehidupan hewan tanah, selain ditentukan oleh struktur vegetasi, tetapi juga
ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti zat kimia dalam tanah, pH tanah,
kandungan air tanah, iklim dan cahaya matahari sehingga dapat menentukan
kehadiran suatu jenis tertentu dari hewan tanah dan kepadatan populasi hewan
tanah
I. DAFTAR RUJUKAN

Rahmawati. 2006. Study Keanekaragaman Mesofauna Tanah Di Kawasan Hutan


Wisata Alam Sibolangit. www. Journal Fauna. Com.
Santoso, Edi. 2007. Metode Analisis Biologi Tanah. Bogor: Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Sugiyarto. 2003. Konservasi Makrofauna Tanah dalam Sistem Agroforestri,
(Online),
(http://pasca.uns.ac.id/wpcontent/uploads/2009/02/sugiyartokonservasi
makrofauna-tanah.pdf), diakses 24 April 2014.
Suin, N. N.. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. ITB. Bandung.
Suwondo. 2007. Dinamika Kepadatan dan Distribusi Vertikal Arthropoda Tanah
pada Kawasan Hutan Tanaman Industri. Jurnal Pilar Sains, 6 (2). (Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106208&val=5125),
diakses 24 April 2014.
Witt, B. 2004. Using soil fauna to improve soil health.
http://www.hort.agri.umn.edu/ h5015/97papers/witt.html
LAMPIRAN

Subulina sp Phalacrus politus Neanura muscorum

Euborellia annulipes Lepidocyrtoides schott Pseudosinella csafordi

Solenopsis geminate Scolopendra Euborellia stali


subspinipes