Anda di halaman 1dari 5

Pembahasan

Pada praktikum isolasi basah, kami mengamati fauna tanah khususnya


mikrofauna dan mesofauna yang berada di sekitar kebun Biologi FMIPA UM.
Kami mengambil 5 sampel tanah dari tempat yang berbeda. dari kelima sampel
tanah yang kami amati ditemukan 8 spesies fauna tanah yaitu Bilobella braunerae,
Dicranocentrus, Pheidole pallidula, Phalacrus politus, Onychiurus indicus, Spio
petiiboneae, Oniscus asellus, Phalacrus substriatus

Pada tanah 1 (T1) kami mengambil tanah di belakang gedung O4 di dekat


serasah daun. Kami mengambil 1 gelas plastik tanah yang kemudian kami
berlakukan isolasi basah, dari hasil isolasi tersebut ditemukan 1 spesies hewan saja
yaitu Bilobella braunerae yang berjumlah 1 buah. Bilobella braunerae termasuk
kedalam famili Neanuridae, famili ini mampu beradaptasi pada berbagai habitat
seperti tanah, serasah, humus, dibawah kulit kayu, di atas tanaman, di rumput, lahan
pertanian, epifit, lingkungan lembab dan batu-batuan, famili Neanuridae juga
merupakan salah satu famili yang persebarannya kosmopolit (Greenslade &
Farrow, 2008).

Pada tanah 2 (T2) yang berada di sebelah lokasi T1 tidak ditemukan adanya
spesies fauna tanah, hal ini bisa saja terjadi karena kesalahan kami pada saat
melakukan isolasi basah. Pada tanah 3 (T3) kami mengambil tanah yang bercampur
dengan kotoran kelinci, dari sampel T3 ini kami menemukan 4 spesies fauna tanah
yaitu Dicranocentrus sebanyak 3 hewan, Pheidole pallidula sebanyak 5 hewan,
Phalacrus politus sebanyak 8 hewan dan Onychiurus indicus sebanyak 3 hewan.
Dicranocentrus memiliki antena dengan 6 segmen dan dapat ditemukan diseluruh
wilayah tropis (Cipola, dkk., 2016). Spesies dari genus ini diketahui dapat
ditemukan di Indonesia, Papua Nugini dan Filipina (Greenslade & Farrow, 2008).
Spesies ke-2 adalah Pheidole pallidula, Pheidole sendiri merupakan genus semut
monofiletik dengan lebih dari 1.000 spesies yang masih ada, 138 subspesies yang
valid (Bolton 2014) dan ratusan spesies yang tidak disebutkan. Pheidole dapat
ditemukan di berbagai habitat di dunia (Bolton, 2014). Pheidole biasa memakan
artropoda mati, biji-bijian dan bahan makanan manusia (Holway et al, 2002).
Spesies ke-3 adalah Phalacrus politus yang biasa dikenal dengan istilah
kumbang dan dapat ditemukan di hampir semua tipe habitat, kumbang dapat
berperan sebagai pemangsa, pemakan tumbuhan, pemakan jamur dan sedikit yang
bersifat parasit. Habitat di bawah tanah, di atas pohon dan di atas daun (Borror &
Triplehorn, 2006). Spesies ke-4 adalah Onychiurus indicus, spesies ini termasuk
kedalam kelas Collembola yang merupakan organisme yang dikenal hidup di dalam
tanah dan dikelompokkan kedalam mesofauna (Borror & Triplehorn, 2006).
Spesies ini hidup biasanya memakan tumbuh-tumbuhan yang membusuk, jamur
atau bakteri. arthropoda, serbuk sari, alga dan bahan-bahan lainnya (Borror &
Triplehorn, 2006).

Tanah ke-4 (T4) diambil dari kandang kambing, ditemukan 1 spesies fauna
yaitu Spio petiiboneae sebanyak 2 buah. Spio petiiboneae merupakan spesies dari
filum annelida yang merupakan famili dari Polychaeta. Spio petiiboneae adalah
fauna yang memiliki tubuh bersegmen dengan panjang tubuh sekitar 20 mm
(Endrawati, dkk., 2014). Fauna ini banyak ditemukan ditempat lembab seperti
didalam pasir.

Tanah ke-5 (T5) kami ambil di belakang O4, kami menemukan 3 spesies
yaitu Pheidole pallidula sebanyak 3 hewan, Oniscus asellus sebanyak 5 hewan dan
Phalacrus substriatus sebanyak 4 hewan. Pheidole pallidula sama seperti yang
ditemukan di tanah 3. Oniscus asellus merupakan salah satu isopoda darat paling
umum ditemukan (Zidar et al, 2003). Oniscus asellus dapat ditemukan di segala
habitat, terutama di bawah batu dan kayu lapuk (Harding & Sutton, 2005). Spesies
Phalacrus substriatus seperti sebagian besar kumbang pada famili Phalacridae,
ketika dalam fase dewasa bertubuh kecil dan berwarna hitam mengkilat (Ingvarsson
& Olsson, 2006).

Tanah pertama dan tanah ke 4 hanya ditemukan 1 spesies, sehingga nilai


indeks keanekaragaman (H’), nilai kemerataan (E) dan nilai kekayaan (R) bernilai
0. Sedangkan dari sampel tanah kedua tidak ditemukan fauna tanah, jadi tidak
memiliki nilai indeks keanekaragaman (H’), nilai kemerataan (E) dan nilai
kekayaan (R). Pada tanah ketiga ditemukan 4 spesies, nilai indeks keanekaragaman
(H’) sebesar 1,295, nilai kemerataan (E) sebesar 0,938 dan nilai kekayaan (R)
sebesar 1,02. Pada tanah kelima ditemukan 3 spesies dan memiliki nilai indeks
keanekaragaman (H’) sebesar 0,99, nilai kemerataan (E) sebesar 0,901 dan nilai
kekayaan (R) sebesar 0,806.

Perkembangan hewan tanah tidak terlepas dari pengaruh faktor biotik


dan abiotik dari habitat tempat tinggalnya. Namun secara garis besar faktor
abiotik sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan kepadatan suatu
populasi serangga. Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi suhu,
kelembaban dan faktor lingkungan lainnya juga ikut menentukan distribusi
vertikal hewan dalam tanah (Suin, 1989). Selain faktor abiotik, faktor ketersediaan
makanan juga menentukan kepadapatan dan distribusi hewan yang ada di dalam
tanah, secara umum semakin besar kedalaman tanah maka jumlah individu akan
semakin sedikit karena kurangnya oksigen untuk respirasi (Suwondo, 2007).

Kesimpulan

1. spesies hewan infauna yang ditemukan di Kebun Biologi Universitas


Negeri Malang adalah Bilobella braunerae, Dicranocentrus, Pheidole
pallidula, Phalacrus politus, Onychiurus indicus, Spio petiiboneae, Oniscus
asellus, Phalacrus substriatus
2. Tanah pertama dan tanah ke 4 hanya ditemukan 1 spesies, sehingga nilai
indeks keanekaragaman (H’), nilai kemerataan (E) dan nilai kekayaan (R)
bernilai 0. Sedangkan dari sampel tanah kedua tidak ditemukan fauna tanah,
jadi tidak memiliki nilai indeks keanekaragaman (H’), nilai kemerataan (E)
dan nilai kekayaan (R). Pada tanah ketiga ditemukan 4 spesies, nilai indeks
keanekaragaman (H’) sebesar 1,295, nilai kemerataan (E) sebesar 0,938 dan
nilai kekayaan (R) sebesar 1,02. Pada tanah kelima ditemukan 3 spesies dan
memiliki nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 0,99, nilai kemerataan
(E) sebesar 0,901 dan nilai kekayaan (R) sebesar 0,806.
3. Faktor abiotik sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan
kepadatan suatu populasi serangga. Disamping ukuran pori-pori tanah,
distribusi suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lainnya juga ikut
menentukan distribusi vertikal hewan dalam tanah.
Daftar rujukan

Bolton B. 2014 An online catalog of the ants of the world. http://antcat.org [diakses
2020-02-19]

Borror, D.J.C. A. dan Triplehorn, N.F. J. 2006. Pengenalan Pelajaran Serangga.


Diterjemahkan dari An Introduction to the Study of Insect oleh Suetiyono
Partsoeddjono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Cipola, N.G., Oliveira, F.B.L., Morais, J.W. & Bellini, B.C. 2016. The
Heteromurini Absolon & Ksenemann (Collembola, Entomobryidae): a
review of the genera status and diagnoses, keys for species of Alloscopus
Börner and Heteromurtrella Mari Mutt and description of a new species.
Zootaxa, 4084 (2). ISSN 1175-5334

Endrawati, H., Riniatsih, I., & Finishia, T. 2014. Struktur Komunitas Polychaeta
pada Ekosistem Padang Lamun Alami dan Buatan di Perairan Pantai
Prawean Bandengan, Jepara. Journal of Marine Research, 3(4)

Greenslade, P. & Farrow, R. 2008. Coringa–Herald National Nature Reserve–


Identification of Invertebrates Collectted on the 2007 Invertebrate Survey.
Australia : XCS Consulting

Harding, P.T. & Sutton, S.L. 2005. Woodlife in Britain and Ireland: Distribution
and Habitat. Great Britain : Lavenham Press.

Holway D.A., Lach, L., Suarez, A.V., Ysutsui, N.D., Case, T.J. 2002. The causes
and consequences of ant invasions. Annual Review of Ecology and
Systematics 33: 181–233. doi: 10.1146/annurev.ecolsys.33.010802.150444

Ingvarsson, P.K. & Olsson, K. 2006. Hierarchical genetic structure and effective
population sizes in Phalacrus substriatus. Heredity 79: 153–161.

Suin, N. N.. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. ITB. Bandung

Suwondo. 2007. Dinamika Kepadatan dan Distribusi Vertikal Arthropoda


Tanah pada Kawasan Hutan Tanaman Industri. Jurnal Pilar Sains,6 (2)
Zidar, P., Kaschl, U.L., Drobne, D., Bozic, J. & Strus, J. 2003. Behavioural response
in paired food choice experiments with Oniscus asellus (Crustacea, Isopoda)
as an indicator of different food quality. Archives of Industrial Hygiene and
Toxicology, 54:177-181.