Anda di halaman 1dari 18

MANAJEMEN SUMBER DAYA ALAM DAN MANAJEMEN SUMBER

DAYA HUTAN

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Lingkungan yang dibina oleh
Dr. Sueb, M.Kes.
Disajikan pada Jumat, 21 Februari 2020

Disusun oleh:

Kelompok 4/ Offering B
Annisa’ Ihda Fajriyati 180341617589
Muhamad Arjuna Salim 180341617565
Sherina Nabila Wina 180341617594

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan kesehatan kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan makalah untuk Matakuliah Dasar Lingkungan. Penulis
ucapkan terima kasih kepada Dr. Sueb, M.Kes. yang telah mendidik dalam Matakuliah
Dasar Lingkungan, serta ucapan terima kasih kepada seluruh kerabat yang telah
membantu dalam proses penyelesaian makalah ini. Penulis sadar bahwa dalam makalah
ini masih banyak terdapat kesalahan yang harus diperbaiki, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga penulis dapat menghasilkan hasil
yang lebih baik kedepannya.

Malang, 20 Februari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

Daftar isi .................................................................................................................. 3


BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 4
1.1 Rumusan Masalah ......................................................................................... 5
1.2 Tujuan ............................................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 6
2.1 Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hutan ............................................... 6
2.2 Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam dan Hutan di indonesia ................ 8
2.3 Masalah Kerusakan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hutan ............ 10
BAB III PEMBAHASAN ...................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 Solusi Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Kelestarian Keanekaragaman
Hayati ................................................................................................................ 11
3.2 Manajemen Hutan untuk Mengatasi Kerusakan dan Penipisan Hutan. ...... 11
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 15
4.1 Simpulan ...................................................................................................... 15
4.2 Saran ............................................................................................................ 15
RUJUKAN ............................................................................................................ 16

3
PENDAHULUAN

Alam memiliki sumber daya yang sangat berlimpah [1]. Sumber daya alam
adalah sumber daya yang terkandung dalam bumi, air, dan yang dapat
didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia. Indonesia
sebagai salah satu negara yang memiliki sumber daya alam melimpah yang
merupakan negara kepulauan yang terletak di kawasan tropis antara dua benua
(Asia dan Australia) dan dua Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik)
yang terdiri atas sekitar 17.500 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 95.181
km. Wilayah Indonesia luasnya sekitar 9 juta km2 (2 juta km2 daratan, dan 7 juta
km2 lautan). Luas wilayah Indonesia ini hanya sekitar 1,3% dari luas bumi,
namun mempunyai tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi [2].
Potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia sangat terkait dengan keadaan
geografis alam Indonesia yang memungkinkan terbentuknya keragaman sumber
daya alam [3].
Selain sumber daya pangan dan bahan lainnya, di Indonesia juga
ditemukan sumber daya hutan dengan keragaman hayati yang sangat tinggi. Hutan
merupakan paru-paru serta tempat yang memberikan manfaat terbesar bagi dunia
baik langsung maupun tidak langsung, misalnya sumber oksigen bagi bumi,
tempat makhluk hidup tinggal, tempat menampung air dan sumber daya lain.
Sedangkan manfaat yang tidak langsung misalnya sebagai tempat pencegahan
erosi dan sebagai sumber keragaman hayati yang tidak ditemukan di tempat lain.
Peranan hutan sangatlah besar sehingga perlu untuk dikelola dan dilestarikan
dengan baik [4].
Eksploitasi sumber daya hutan secara berlebihan oleh manusia khususnya
penebangan pohon secara liar (Illegal Logging), merupakan kegiatan penebangan,
pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari
pihak setempat. Dampaknya mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan,
kehilangan pohon dalam jumlah besar, muculnya berbagai macam bencana alam
mulai dari banjir dan longsor [5]. Eksploitasi terhadap keragaman hayati,
penebangan liar, konversi kawasan hutan menjadi lahan lain, perburuan dan
perdagangan liar adalah beberapa faktor yang menyebabkan terancamnya
keragaman hayati. Penebangan liar tersebut terjadi di berbagai daerah di Indonesia

4
salah satunya di kawasan hutan lindung desa Plandirejo, kecamatan Bakung,
Kabupaten Blitar. Berdasarkan informasi yang telah didapatkan, terhitung 1.257
pohon dikawasan petak hutan Blitar telah menjadi sasaran pembalakan liar
(Illegal Logging) selama 8 bulan. Kerugian yang disebabkan jumlahnya mencapai
595 Juta Rupiah. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat maupun
pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan, maka dari itu kebanyakan
masyarakat melakukan penebangan secara terus-menerus tanpa melakukan
kegiatan penanaman kembali (reboisasi). Dengan kondisi demikian perlu
mengadakan program manajemen sumber daya hutan yang dapat dan melibatkan
interaksi antara pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung dalam
mengelola dan menjaga kelestarian hutan lindung tersebut [6].
1. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kami mengambil rumusan masalah mengenai
bagaimana manajemen sumber daya alam dan hutan melibatkan masyarakat dan
sumber daya alam yang ada, meliputi masalah sumber daya alam dan hutan,
bagaimana solusi untuk mengatasi kerusakan sumber daya alam dan hutan.
2. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberi pengetahuan mengenai manajemen
sumber daya alam dan hutan secara terpadu yang melibatkan masyarakat dan
sumber daya alam yang ada yang meliputi masalah sumber daya alam dan hutan
serta solusi untuk mengatasi kerusakan sumber daya alam dan hutan.

5
KAJIAN PUSTAKA

1. Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hutan


Sumber daya adalah potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur
dalam kehidupan, sedangkan sumber daya alam (SDA) berarti sesuatu yang ada di
alam yang berguna dan mempunyai nilai dalam kondisi dimana kita
menemukannya [7]. Menurut UU RI NO. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan, lingkungan adalah unsur yang terdiri atas sumber daya hayati dan
nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.
Syarat dari materi atau unsur dalam kehidupan yang dapat dikatakan
sebagai sumber daya apabila memenuhi 3 syarat yaitu sesuatu itu ada, dapat
diambil dan bermanfaat. Dari syarat yang didapat tersebut dapat dikelompokkan
lagi berdasarkan proses pemulihannya [7], yaitu:
1. Sumber daya alam yang tidak dapat habis (inexhaustible natural resources),
seperti: udara, energi matahari, dan air hujan.
2. Sumber daya alam yang dapat diganti atau diperbaharui dan dipelihara
(renewable resources), seperti: air di danau / sungai, kualitas tanah, hutan,
dan margasatwa
3. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources/
irreplaceable atau stock natural resources), seperti: batubara, minyak bumi,
dan logam.
Berdasarkan jenis SDA, yaitu:
1. SDA hayati (biotik): sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup,
misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba, dan manusia.
2. SDA nonhayati (abiotik): sumber daya alam yang berasal dari benda tak
hidup (bahan tambang, dll.)
Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya:
1. Sumber daya alam penghasil bahan baku adalah sumber daya alam yang
dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai
gunanya akan menjadi lebih tinggi. Contoh: hasil hutan, barang tambang,
hasil pertanian, dan lain-lain
2. Sumber daya alam penghasil energi adalah sumber daya alam yang dapat
menghasilkan atau memproduksi energi demi kepentingan umat manusia di

6
muka bumi. Misalnya: ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari,
minyak bumi, gas bumi dan lain sebagainya.
Salah satu sumber daya alam yang begitu potensial dan merupakan tumpuan
bagi keberlangsungan hidup suatu insan biologis adalah hutan. Hutan merupakan
rumah dan sekaligus bank yang mensuplai kebutuhan hidup mendasar dari faktor
biologis yang ada didalamnya termasuk manusia (masyarakat) [8]. Hutan adalah
sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan
lainnya. Kawasan semacam ini terdapat di wilayah yang luas di dunia dan
berfungsi sebagai penampung karbondioksida (carbondioxide sink), habitat
hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah
satu aspek biosfer bumi yang paling penting [8]. Hutan adalah bentuk kehidupan
yang tersebar di seluruh dunia.
Dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 pasal 5 sampai dengan pasal 9
tentang kehutanan, jenis hutan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu berdasarkan
status, fungsi, tujuan khusus, serta berdasarkan pengaturan iklim mikro, estetika
dan resapan air.
Hutan berdasarkan statusnya [9], hutan dibagi menjadi 2 yaitu:
 Hutan negara yaitu hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak
atas tanah.
 Hutan hak yaitu hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas
tanah.
Sedangkan berdasarkan fungsinya, hutan dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Hutan konservasi yang merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keragaman tumbuhan dan satwa
serta ekosistemnya. Hutan konservasi ini dibagi menjadi 3 yaitu:
 Kawasan hutan suaka alam, yaitu hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman
tumbuhan
 Kawasan hutan pelestarian alam yaitu hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan
secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

7
 Taman buru adalah kawasan hutan yang di tetapkan sebagai tempat wisata
berburu.
2. Hutan lindung yang merupakan kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur
tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah [10].
3. Hutan produksi yaitu adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.

2. Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam dan Hutan di Indonesia


Luas wilayah Indonesia yang tergolong besar berupa lahan yang masih belum
dimanfaatkan [11]. Banyak pulau yang masih belum berpenghuni sehingga
memungkinkan dapat dikembangkan dengan berbagai produk pertanian. Lahan
yang luas juga menarik para pengusaha untuk membuka perkebunan di berbagai
wilayah Indonesia. Selain lahan yang masih luas, Indonesia juga memiliki laut
yang luas dan garis pantai yang sangat panjang [12]. Laut dengan berbagai
sumber daya yang terkandung di dalamnya belum dimanfaatkan secara optimal
oleh penduduk. Sebagian penduduk Indonesia masih berorientasi ke darat.
Padahal potensi sumber daya laut, khususnya ikan, masih sangat berlimpah. Garis
pantai yang sangat panjang juga memungkinkan dikembangkannya budidaya
perikanan [12]. Sumber daya alam Indonesia yang beragam sudah dikenal oleh
bangsa lain sejak dulu. Bangsa India dan Cina sudah mengadakan hubungan
dagang dengan bangsa Indonesia sejak abad ke-2 Masehi [13]. Komoditas
perdagangan dari Indonesia yang terkenal antara lain emas, kayu cendana,
cengkih, lada, dan kapur barus [14]. Komoditas tersebut termasuk yang
diperdagangkan di pasaran internasional dengan nilai tinggi. Sementara bangsa
India dan Cina membawa barang dagangan berupa kain tenun, ukiran, dan barang
yang berbahan dari gading gajah [15].
Hutan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, luasnya mencapai 99,6
juta hektar atau 52,3% dari luas wilayah Indonesia [16]. Luas hutan yang besar
tersebut saat ini masih dapat dijumpai di Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan
Sumatra [17]. Di daerah Jawa, luas hutan telah berkurang karena terjadi alih

8
fungsi untuk pertanian dan permukiman penduduk. Sementara itu, alih fungsi
hutan menjadi pertanian dan perkebunan banyak dijumpai di Sumatra dan
Kalimantan [16].
Selain hutannya yang luas, hutan Indonesia juga menyimpan kekayaan flora
dan fauna atau keanekaragaman hayati yang sangat besar [16]. Bahkan, banyak di
antaranya merupakan spesies endemik atau hanya ditemukan di Indonesia, tidak
ditemukandi tempat lainnya seperti anoa, burung maloe, dan komodo [18]. Hasil
hutan sebenarnya tidak hanya sekadar kayu. Hutan tropis yang dimiliki Indonesia
juga menghasilkan buah dan obat. Namun demikian, hasil hutan yang banyak
dikenal penduduk adalah sebagai sumber kayu [17].
Terdapat 4.000 jenis kayu yang 267 jenis di antaranya merupakan kayu
yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Secara umum, jenis kayu dan sebarannya
adalah sebagai berikut [19].
 Kayu keruing, meranti, agathis dihasilkan terutama di Papua, Sulawesi, dan
Kalimantan.
 Kayu jati banyak dihasilkan di Jawa Tengah.
 Rotan banyak dihasilkan di Kalimantan, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
 Kayu cendana banyak dihasilkan di Nusa Tenggara Timur.
 Kayu rasamala dan akasia banyak dihasilkan di Jawa Barat.
Adapun fungsi dari hutan yaitu seperti berikut [16],
 Tempat menyimpan air hujan dan kemudian mengalirkannya ke sungai dan
danau sehingga pada musim kemarau tidak mengalami kekeringan.
 Tempat hidup bagi flora dan fauna yang menjadi sumber makanan dan obat
pada saat ini maupun pada masa yang akan datang.
 Mencegah terjadinya erosi atau pengikisan karena air hujan tidak langsung
jatuh ke tanah dan mengikis tanah yang subur.
 Menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida sehingga suhu bumi
terkendali.
 Sumber kehidupan bagi masyarakat, khususnya masyarakat sekitar hutan dari
produk yang dihasilkannya.

9
3. Masalah Kerusakan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hutan
Permasalahan mengenai pengelolaan sumber daya alam menjadi sangat
penting dalam pembangunan ekonomi pada masa kini dan yang akan datang [20].
Di lain pihak sumber daya alam tersebut telah banyak mengalami kerusakan,
terutama berkaitan dengan cara eksploitasinya guna mencapai tujuan bisnis dan
ekonomi. Dalam laporan PBB pada awal tahun 2000, telah diidentifikasi 5 jenis
kerusakan ekosistem yang terancam mencapai limitnya, yaitu meliputi ekosistem
kawasan pantai dan sumberdaya bahari, ekosistem lahan pertanian, ekosistem air
tawar, ekosistem padang rumput dan ekosistem hutan [21].
Kerusakan sumber daya alam di dalam ekosistem tersebut terjadi terutama
karena kekeliruan dalam pengelolaannya sehingga mengalami kerusakan yang
disebabkan karena terjadinya perubahan besar, yang mengarah kepada
pembangunan ekonomi yang tidak berkelanjutan [22]. Padahal sumber daya
tersebut merupakan pendukung utama bagi kehidupan manusia, dan karenanya
menjadi sangat penting kaitannya dengan kegiatan ekonomi dan kehidupan
masyarakat manusia yang mengarah kepada kecenderungan pengurasan
(depletion) dan degradasi (degradation) [23]. Kecenderungan ini baik dilihat dari
segi kualitas maupun kuantitasnya dan terjadi hampir di semua kawasan, baik
terjadi di negara maju maupun negara berkembang atau miskin.
Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang dapat meliputi: kerusakan
hutan, daerah aliran sungai (watershed), kehilangan keragaman biologi
(biodiversity), erosi tanah/lahan yang berlebihan, kerusakan lahan yang dicirikan
oleh meluasnya padang alang-alang, kelebihan tangkapan ikan (over fishing),
pencemaran udara, kemacetan lalu lintas di kota besar, yang di antaranya dapat
berdimensi lokal, regional maupun global [24].

10
4. Solusi Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Kelestarian
Keanekaragaman Hayati
Strategi dalam melindungi keragaman hayati bumi yang berharga tidak
akan dilaksanakan tanpa dukungan dari masyarakat mulai dari pejabat terpilih,
individu, warga dan kelompok yang lebih besar [25]. Ini juga akan menjadi
penting bagi individu untuk "memilih" dengan membeli produk dan jasa yang
tidak memiliki dampak yang merugikan pada keragaman hayati darat dan akuatik.
Beberapa ide yang dikemukakan adalah:
 Nilai ekonomi dari jasa ekologi yang penting yang disediakan oleh ekosistem
dunia perlu dimasukkan dalam harga barang dan jasa.
 Kita dapat mempertahankan keanekaragaman hayati terestrial dengan
melindungi daerah yang sangat terancam, memulihkan ekosistem yang rusak,
dan berbagi dengan spesies lain tanah yang kita tempati.
 Kami dapat mempertahankan keanekaragaman hayati perairan mendirikan
kawasan perairan yang dilindungi, pengelolaan pembangunan pesisir,
mengurangi polusi air, dan mencegah penangkapan ikan yang berlebihan.

5. Manajemen Hutan untuk Mengatasi Kerusakan dan Penipisan Hutan


Hutan dikelola untuk tujuan mengatasi kerusakan dan penipisan hutan
[26]. Pengelolaan hutan untuk tujuan produksi kayu, harus memperhatikan dan
mendukung (compatible) tujuan lain, seperti DAS, wildlife, rekreasi, dan lain
sebagainya. Pada beberapa kasus, penggunaan kawasan hutan bertentangan
(incompatible) dengan tujuan pengelolaan yang lain seperti pengelolaan areal
penggembalaan di dalam kawasan hutan dan terkadang tidak compatible dengan
pengelolaan hutan untuk tujuan produksi kayu. Hal ini mengharuskan pengelola
hutan membuat keputusan tentang prioritas penggunaan lahan hutan [27].
Manajemen hutan membutuhkan pengkajian dan aplikasi teknik analisis untuk
membantu memilih alternatif manajemen yang memberikan kontribusi terbaik
bagi pencapaian tujuan pengelolaan hutan [28].
Tujuan pengelolaan hutan sangat tergantung pada tujuan pemilik (negara)
hutan dan situasi ekonomi yang ada pada wilayah dimana hutan tersebut berada.
Pada kawasan hutan negara, tujuan pengelolaan hutan sangat ditentukan oleh

11
faktor politik dan tingkat kepentingan terhadap areal hutan [28]. Tingkat
kepentingan tersebut terkadang tidak dapat diukur dalam satuan ukuran nilai uang.
Pengelolaan hutan negara biasanya lebih banyak difokuskan pada perlindungan
tata air yang dibayar dengan kelestarian pasokan air, dan dikelola dengan tujuan
beragam [28]. Sedangkan hutan milik atau hak dikelola dengan tujuan untuk
menghasilkan barang dan jasa yang biasanya terfokus pada total produksi dan
total benefit yang dapat diperoleh dari lahan hutan tersebut [29].
Adapun pengelolaan hutan yang baik harus berpedoman pada empat hal yaitu
[28],
a) Keutuhan dan kelanjutan ekologi.
Preskripsi pengelolaan hutan harus mempertimbangkan berbagai fungsi
lingkungan maupun jasa yang diberikan oleh hutan antara lain, pemeliharaan
keanekaragaman hayati hutan, perlindungan daerah aliran sungai, pemeliharaan
fungsi daur ulang zat hara yang penting, perlindungan iklim mikro dan iklim
setempat, dan yang lainnya.
b) Penggunaan produk dan jasa hutan oleh manusia secara berkelanjutan dan
adil.
Preskripsi pengelolaan hutan mempertimbangkan ciri ekologi, faktor sosial
dan demografi, serta potensi ekonomi pada setiap unit manajemen. Biaya dan
manfaat ekonomi baik perlindungan maupun produksi hutan secara bersama
dipikul masyarakat setempat, sektor swasta, dan pemerintah.
c) Pengelolaan terpadu pada skala yang tepat.
Hutan dikelola dalam suatu kerangka perencanaan wilayah, pengambilan
keputusan dan pengelolaan yang memperhitungkan permukiman manusia di
sekitarnya, tanah pertanian, dan berbagai macam kegiatan ekonomi. Pertimbangan
ekologi dan sosial menentukan ukuran wilayah pengelolaan. Pemerintah,
masyarakat, swasta, dan kepentingan lain secara bersama merumuskan pilihan
pengelolaan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan baik pada
kawasan hutan maupun pada lahan masyarakat dan mengatasi masalah
penggunaan lahan.

12
d) Keikutsertaan yang adil dan bijaksana oleh semua pihak yang
berkepentingan.
Memberikan kewenangan dan hak atas informasi dan partisipasi kepada
semua pihak yang berkepentingan dalam proses perumusan keputusan
pengelolaan dan kebijakan kehutanan.
Berpedoman pada hal diatas, perlu adanya kerjasama antar semua
komponen yang menjalankan pengelolaan atau manajemen hutan secara terpadu.
Dalam hal ini yang paling berpengaruh secara signifikan adalah peran masyarakat
[28]. Pemikiran kehutanan masyarakat berkembang setelah kebijakan
industrialisasi kehutanan yang bersifat ekonomi-sentrik gagal. Hal ini ditandai
dengan tingginya laju degradasi hutan dan kemiskinan masyarakat di dalam dan
disekitar hutan. Kegagalan kebijakan industrialisasi kehutanan mendorong
terjadinya pergeseran paradigma pembangunan kehutanan, yaitu: dari state based
forest management ke community based forest management, dari timber oriented
ke forest ecosystem management, dari big scale business ke small owner scale
business, dari eksploitasi ke rehabilitasi dan konservasi, dari pendekatan sektoral
ke pendekatan regional (sistem), dan dari sistem pengelolaan yang seragam ke
sistem pengelolaan spesifik berdasarkan potensi lokal [30].
Kehutanan masyarakat (community forestry) adalah sistem pengelolaan
hutan yang berintikan partisipasi rakyat, artinya rakyat diberi wewenang
merencanakan dan merumuskan sendiri apa yang mereka kehendaki. Sedangkan
pihak lain menfasilitasi rakyat untuk dapat menumbuhkan bibit, menanam,
mengelola, dan melindungi sumberdaya hutan milik mereka, agar rakyat
memperoleh keuntungan maksimum dari sumberdaya hutan dan mengelolanya
secara berkelanjutan [26].
Keputusan Menteri Kehutanan No. 31/Kpts-II/2001. Intisari konsep
kehutanan masyarakat dari beberapa keputusan menteri tersebut adalah
membangun sistem pengelolaan hutan negara yang bertujuan untuk
memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokok hutannya.
Kebijakan terakhir pemerintah yang terkait dengan konsep kehutanan masyarakat
adalah Program Social Forestry. Di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No:
PP.01/Menhut-11/2004 dijelaskan pengertian Social Forestry adalah sistem

13
pengelolaan sumber daya hutan pada kawasan hutan negara atau hutan hak, yang
memberi kesempatan kepada masyarakat setempat sebagai pelaku dan atau mitra
utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya dan mewujudkan kelestarian
hutan. Dengan demikian, Program Social Forestry berisi upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat desa di dalam dan di sekitar hutan melalui suatu sistem
pengelolaan hutan yang menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama,
mitra kerja, dan sebagai pihak yang harus mendapat bagian kesejahteraan yang
memadai dari kegiatan pengelolaan hutan. Program Social Forestry
mengedepankan partisipasi masyarakat desa sebagai unsur utama dalam
pengelolaan hutan.
Social Forestry mengandung makna yaitu rangkaian kegiatan
pengembangan dan pengurusan hutan negara dan hutan hak yang dilakukan
sendiri oleh pemiliknya/masyarakat dengan fasilitasi dari semua stakeholder
terkait, serta memperhatikan prinsip pengusahaan hutan. Forestry mengandung
makna sebagai suatu tatanan sistem, sedangkan kata social mempunyai dimensi
yang beragam, yaitu [31],
a) Sosial dalam artian konsep perhutanan sosial mendukung integrasi
ekonomi, ekologi, dan kelestarian.
b) Sosial dalam hal keterpaduan dalam masyarakat. Fungsi kunci yang
berhubungan dengan sumber daya hutan seperti pengambilan keputusan,
pengawasan, pengelolaan, investasi, dan pemanfaatan hasil tidak
terkonsentrasi di tangan institusi pemerintah dan pemegang konsesi
(swasta) saja, akan tetapi terdistribusi ke masyarakat.
c) Sosial dalam hal ditetapkan secara sosial, yang berarti situasional dan
dinamis.
d) Sosial dalam hal suatu bentuk kehutanan yang menjadi acuan masyarakat
secara politis, sosial, institusional, dan ekonomis.

14
PENUTUP

Simpulan
Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber
daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan
ekosistem. Hutan diartikan sebagai suatu lapangan pertumbuhan pohon yang
secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta
lingkungannya dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.
Strategi dalam melindungi keragaman hayati bumi yang berharga tidak
akan dilaksanakan tanpa dukungan dari masyarakat bawah ke atas mulai dari
pejabat terpilih, dari individu, warga dan kelompok yang lebih besar. Hutan
dikelola untuk tujuan beragam, namun pada tujuan akhir untuk mendapatkan nilai
manfaat bersih total yang paling tinggi. Pengelolaan hutan untuk tujuan produksi
kayu, harus memperhatikan dan mendukung (compatible) tujuan lain, seperti
DAS, wildlife, rekreasi, dan lain sebagainya. Pada beberapa kasus, penggunaan
kawasan hutan bertentangan (incompatible) dengan tujuan pengelolaan yang lain
seperti pengelolaan areal penggembalaan di dalam kawasan hutan dan terkadang
tidak compatible dengan pengelolaan hutan untuk tujuan produksi kayu.
Saran
Untuk menambah pemahaman mengenai makalah ini, diaharapkan
pembaca lebih memiliki pada referensi terkini berupa berbagai buku teks, jurnal
nasional maupun internasional serta undang-undang maupun peraturan
pemerintah terkait topik bahasan, agar makalah yang ditulis dapat menjadi solusi
yang baik bagi permasalahan yang ada. Sebelum mengajak orang lain dalam
menerapkan manajemen sumber daya alam dan hutan, maka perlu adanya
penanaman dalam diri sendiri dalam kehidupan yang di mulai dengan langkah
kecil, seperti mengurangi diri dalam membuat limbah.

15
RUJUKAN

[1] J. Of and N. Resources, “Journal of natural resources,” Electron. Publ.,


2009.
[2] R. Lasabuda, “PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN
DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK
INDONESIA,” J. Ilm. PLATAX, 2013.
[3] C. Samekto and E. S. Winata, “Potensi Sumber Daya Air di Indonesia,” in
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Penyediaan Air Bersih untuk
Kabupaten/Kota di Indonesia, 2010.
[4] N. Karuniastuti, “Peranan hutan mangrove bagi lingkungan hidup,” Forum
Manaj., 2013.
[5] L. Tacconi, Illegal logging law enforcement, livelihoods and the timber
trade. 2012.
[6] F. Management, “Biodiversity Conservation in the Context of Tropical
Forest Management,” World, 2000.
[7] Jupri, “Sumber daya alam,” Sda Jurnal. 2015.
[8] R. L. Chazdon et al., “When is a forest a forest? Forest concepts and
definitions in the era of forest and landscape restoration,” Ambio, 2016.
[9] F. Land, “Chapter 4 forest land 2006,” Forestry, 2006.
[10] S. Kasim, “NILAI PENTING DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI
HUTAN LINDUNG WAKONTI DAS BAUBAU,” Agriplus, 2012.
[11] E. Nugraheni and N. Pangaribuan, “Pengelolaan lahan pertanian gambut
secara berkelanjutan,” Univ. Terbuka, Tangerang Selatan Univ. Pajajaran,
2008.
[12] M. Arief, G. Winarso, and T. Prayogo, “Kajian Perubahan Garis Pantai
Menggunakan Data Satelit Landsat Di Kabupaten Kendal,” Penginderaan
Jauh, 2011.
[13] D. A. N. F. Y. Mempengaruhi, K. D. Saputro, F. Ekonomi, and U. U.
Unud, “E-Jurnal EP,” Fak. Ekon. dan Bisnis Univ. Udayana ( Unud ), Bali ,
Indones. . Abstr. PENDAHULUAN Indones. merupakan negara
berkembang yang selalu ingin menciptakan kesempatan kerja dan

16
Meningkat. pertumbuhan Ekon. melalui usaha- usahanya dalam memban,
2013.
[14] S. Riswan, “KAJIAN BOTANI, EKOLOGI DAN PENYEBARAN
POHON CENDANA (Santalum album L.),” Ber. Biol., 2001.
[15] L. H. Inagurasi, “Komoditas Perdagangan di Pelabuhan Internasional
Samudra Pasai pada Masa Dulu dan Masa Kini,” Kapata Arkeol., 2017.
[16] MOEF, Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2018. 2018.
[17] “SEJARAH HUKUM PENGELOLAAN HUTAN DI INDONESIA,”
INTELEKTUALITA, 2015.
[18] E. G. Veatch et al., “Temporal shifts in the distribution of murine rodent
body size classes at Liang Bua (Flores, Indonesia) reveal new insights into
the paleoecology of Homo floresiensis and associated fauna,” J. Hum.
Evol., 2019.
[19] S. Saifudin and A. Fadlil, “SISTEM IDENTIFIKASI CITRA KAYU
BERDASARKAN TEKSTUR MENGGUNAKAN GRAY LEVEL
COOCURRENCE MATRIX (GLCM) DENGAN KLASIFIKASI JARAK
EUCLIDEAN,” SINERGI, 2015.
[20] S. Kaplan, “Human nature and environmentally responsible behavior,” J.
Soc. Issues, 2000.
[21] J. D. Sachs and A. M. Warner, “The curse of natural resources,” Eur. Econ.
Rev., 2001.
[22] F. Van Der Ploeg, “Natural resources: Curse or blessing?,” Journal of
Economic Literature. 2011.
[23] T. Gylfason, “Natural resources, education, and economic development,”
Eur. Econ. Rev., 2001.
[24] R. Hodler, “The curse of natural resources in fractionalized countries,” Eur.
Econ. Rev., 2006.
[25] J. Pretty, “Social Capital and the Collective Management of Resources,”
Science. 2003.
[26] L. Porter-Bolland, E. A. Ellis, M. R. Guariguata, I. Ruiz-Mallén, S.
Negrete-Yankelevich, and V. Reyes-García, “Community managed forests
and forest protected areas: An assessment of their conservation

17
effectiveness across the tropics,” For. Ecol. Manage., 2012.
[27] A. Wibowo and A. N. Gintings, “Degradasi dan Upaya Pelestarian Hutan,”
Membalik Kecenderungan Degrad. Sumber Daya Lahan dan Air, 2010.
[28] T. Knoke, “Forest management,” in Tropical Forestry Handbook, Second
Edition, 2016.
[29] E. Rametsteiner and M. Simula, “Forest certification - An instrument to
promote sustainable forest management?,” Journal of Environmental
Management. 2003.
[30] P. Newton et al., “Community forest management and REDD+,” For.
Policy Econ., 2015.
[31] C. C. Konijnendijk, “Adapting forestry to urban demands - Role of
communication in urban forestry in europe,” Landsc. Urban Plan., 2000.

18