Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN
Anak usia 0-6 tahun, sangat membutuhkan pendidikan dikarenakan pada usia tersebut
merupakan usia kritis bagi perkembangan dan pertumbuhan semua anak tanpa memandang dari
suku atau budaya mana anak itu berasal. Dimana pada masa itu adalah masa-masa titik tumbuh
otak yang sangat pesat sekali. Perkembangan otak anak menunjukkan pentingnya membentuk
syaraf-syaraf anak usia dini. Apabila seorang anak tidak meandapat gizi, nutrisi yang cukup,
interaksi yang baik, perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya, maka
pembentukkan itu akan berjalan kurang baik.
Pada masa usia ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial,
kesadaran emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat
dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan
anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai
tahap perkembangan.
Untuk itu, Pemakalah akan memberikan pengetahuan bagaimana caranya memberikan
kesehatan dan gizi yang tepat bagi anak usia dini agar proses perkembangan, pertumbuhan,
serta kecerdasan anak tidak mengalami gangguan yang bisa mengakibatkan gizi buruk,
kecerdasan mental kurang (idiot), berpenyakitan dan sebagainya yang bisa menghambat belajar
anak.

II. II. RUMUSAN MASALAH


A. Apa Pengertian Anak Sehat dan Dimensinya ?
B. Apa saja Gangguan-gangguan Kesehatan Anak ?
C. Apa Pengertian Gizi ?
D. Bagaimana Analisis Hubungan Gizi dengan Kesehatan dan Kecerdasan Anak ?

III. III. PEMBAHASAN


A. Pengertian Anak Sehat dan Dimensinya
Definisi sehat menurut UU No.9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan, sehat adalah
sehat badan, rohani (mental), dan sosial, bukan hanya sebatas dari penyakit-penyakit, cacat,
dan kelemahan. Kesehatan rohani atau jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembagan
fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang.1[1] Sedangkan kesehatan
jasmani yaitu kondisi yang memungkinkan pertumbuhan serta perkembangan badan. Sehat itu
bisa diartikan sebagai sehat jiwa dan raga.
Jadi, Anak Sehat merupakan suatu kondisi atau keadaan anak yang normal atau stabil, baik
fisik, mental, sosial, maupun ekonomi. Anak sehat itu adalah anak yang normal intelegensinya
yaitu IQ 80 ke atas, sehingga dapat masuk Sekolah Dasar biasa, bahkan yang lambat belajarnya
pun (slow learner) juga bisa masuk sekolah biasa. Berikut anak sehat dapat dilihat dari tingkat
intelegensianya (IQ). Di bawah ini adalah klasifikasi IQ yaitu sebagai berikut :
a) Lebih dari 140 : Genius
b) Antara 120-139 : Very Superior
c) Antara 110-119 : Superior
d) Antara 90-109 : Normal, rata-rata
e) Antara 80-89 : Subnormal, Bodoh (slow leaner)
f) Antara 70-79 : Garis Batas (borderline)
g) Antara 50-69 : Debil (dapat dididik dan dilatih)
h) Antara 30-40 : Embicil (tidak dapat dididik)
i) Kurang dari 30 : Idiot (tidak dapat dididik dan dilatih).
Anak sehat itu biasanya super aktif dalam tingkah lakunya maupun cara berkomunikasi, dia
lebih suka bergerak daripada diam, biasanya suka jahil terhadap teman-temannya. Jahil tersebut
merupakan proses perkembangan anak yang mempunyai rasa ingin tahunya sangat tinggi.
Disini ada beberapa ciri-ciri Anak Sehat, Menurut Departemen Kesehatan RI (1993), di
antaranya yaitu:
a) Tumbuh dengan baik, dapat dilihat dari naiknya berat badan dan tinggi badan secara teratur
dan proporsional.
b) Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.
c) Gesit, aktif dan gembira.
d) Mata bersih dan bersinar.
e) Nafsu makan baik.
f) Bibir dan lidah tampak segar.
g) Pernafasan tidak berbau.
h) Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering/kusam.
i) Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.2[2]
Bila batasan kesehatan yang terdahulu UU No.9 Tahun 1960 itu hanya mencakup 3 dimensi
atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial. Maka dalam pengertian anak sehat yang menurut
Undang-Undang No.23 Tahun 1992, disitu terdapat 4 kategori dimensi anak sehat, di antaranya
yaitu sebagai berikut:
1. Fisik (badan) yaitu tubuh atau raga yang sehat dan bebas dari penyakit.
2. Mental (jiwa) maksudnya adalah seseorang yang memiliki motivasi, perasaan, dan pemikiran
yang kuat dalam menjalani kehidupannya alias dapat mengontrol dirinya agar tetap stabil.
3. Sosial maksudnya adalah seseoarang yang selalu mampu menyesuaikan diri pada setiap
lingkungan sosial di sekitarnya.
4. Ekonomi maksudnya adalah produktivitas seseorang dalam hidupnya.3[3]
Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang itu tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental,
dan sosial saja, akan tetapi diukur juga dari aspek ekonomi atau produktivitasnya dalam arti
mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.

B. Gangguan-gangguan Kesehatan Anak


Gangguan kesehatan, walaupun hanya kecil dapat menghambat belajar anak. Misalnya
gangguan diare, diare akan membuat badan anak lemas dan tidak sedikit yang mengantarkan
mereka kepada kematian karena kekurangan cairan.
Selain itu, gizi yang buruk juga akan mengganggu kesehatan anak. Jika gizi yang buruk
terjadi pada anak usia dini, maka akan mengakibatkan terganggunya kinerja otak dan bahkan
mengurangi kapasitas kecerdasan anak. Bukan berarti makanan yang enak itu dapat memenuhi
gizi seimbang, akan tetapi makanan dengan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dengan kadar yang sesuai dengan kebutuhan
tubuh anak.4[4]
Kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi makanan. Tingkat konsumsi
makanan ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Susunan hidangan harus memenuhi
kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya. Konsumsi yang kurang baik
kualitasnya maupun kuantitasnya, makan yang berlebihan atau kekurangan makan maka akan
memberikan kondisi kesehatan dan gizi yang tidak seimbang sehingga akan muncul berbagai
penyakit, di antaranya penyakit gizi lebih (obesitas), penyakit gizi kurang, penyakit metabolik
bawaan, dan penyakit keracunan makanan.
Anak Balita pada umumnya merupakan kelompok umur yang paling sering menderita
akibat kekurangan gizi. Hal ini disebabkan karena anak Balita dalam periode transisi dari
makanan bayi beralih ke makanan orang dewasa, sering kali tidak lagi begitu diperhatikan dan
pengurusannya sering diserahkan kepada orang lain, dan belum tentu yang mengurusnya itu
mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik terutama dalam hal makanan.
Ada beberapa jenis gangguan yang sering terjadi pada anak usia dini di antaranya yaitu:

a. Makanan kurang atau kelebihan


Kekurangan zat makanan disebut defisiensi dan mengakibatkan tidak sehat bahkan sakit.
Kelebihan zat makanan juga menyebabkan berbagai penyakit. Kekurangan umumnya
mencakup protein dan karbohidrat, serta vitamin dan mineral. Sedangkan kelebihan umumnya
berkaitan dengan konsumsi lemak, protein, dan gula.
b. Gangguan psikis
Beberapa gangguan psikis pada anak adalah gangguan emosi, belajar, sosial, psikiatri,
dan khusus.
c. Gangguan sosial
Gangguan sosial terjadi karena tidak adanya keseimbangan diri dengan lingkungan di
sekitarnya.
d. Gangguan psikiatri yang timbul akibat faktor psikososial
Beberapa gangguan psikiatri yang dapat terjadi pada anak adalah gangguan dalam
hubungan dengan orang tua, gangguan dalam diri anak. Gangguan ini terjadi pada anak yang
memiliki kekurangan atau cacat. Gangguan dalam interaksi sosial, seperti anak bergaul dengan
keluarga dan orang lain di luar keluarganya.5[5]
Selain beberapa gangguan yang terjadi pada anak, juga sering muncul beberapa penyakit
yang berkaitan dengan kondisi fisiknya. Ada beberapa penyakit anak yang sering menyerang
sehingga perlu adanya pencegahan. Penyakit anak itu antara lain cacar air, demam berdarah,
polio, mengompol, disentri. Di antara beberapa penyakit yang sering menyerang anak, ada
salah satu penyakit yang setiap anak pasti akan mengalami penyakit tersebut entah itu sudah
berusia di atas enam tahun atau belum yaitu penyakit cacar air, dimana penyakit tersebut
menyerang ke seluruh tubuh anak. Selain itu, ada beberapa gejala yang timbul pada anak yang
sakit di antaranya pilek, suara serak, selera makan berkurang, muntah, kejang, dan nyeri.
Disini penulis akan memberi informasi sedikit agar anak usia dini bisa terhindar dari
berbagai gangguan-gangguan kesehatan dan juga terhindar dari berbagai penyakit, salah
satunya dengan cara pemeliharaan kesehatan bagi anak usia dini. Berikut penjelasannya.
Pemeliharaan Kesehatan Anak
Cara memelihara anak agar tidak terjadi penyakit yang dapat mengganggu belajar serta
kecerdasan anak adalah dengan menjaga kebersihan diri anak dan lingkungannya, imunisasi
tepat waktu, serta menjaga jenis makanan yang dikonsumsi.6[6] Dengan begitu, anak akan
selalu sehat dan bisa meraih prestasi.
Perawatan kesehatan pada anak usia dini dapat diawali dari pemberian makanan yang sehat
dan menjaga kebersihan. Pemberian makanan yang sehat dapat menjaga kesehatan, mendidik
anak sejak usia dini untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat. Makanan yang diberikan
kepada anak harus sesuai dengan kebutuhan gizi dan kebutuhan anak. Anak yang alergi
terhadap makanan tertentu, maka berikanlah makanan pengganti untuk memenuhi kebutuhan
nutrisinya. Banyak anak yang tidak menyukai makanan yang sehat seperti sayuran, sebagai
orang tua dan para guru harus bisa membuat sayuran menjadi makanan yang paling lezat bagi
anak. Misalnya, dalam memasak sayuran bisa dimodifikasi dengan zat makanan lain yang cita
rasanya dapat disukai anak.
Berbagai macam penyakit dapat diperoleh anak terutama anak usia 0-6 tahun. Masing-
masing penyakit memiliki ciri dan akibatnya. Gejala penyakit anak perlu diketahui guru agar
dapat memantau dan memberikan informasi kepada orang tua dalam rangka membantu orang
tua untuk pelayanan kesehatan anak. Guru perlu menjelaskan kepada anak mengenai berbagai
hal dalam pemeliharaan kesehatan, yaitu pemeliharaan kesehatan lingkungan, mata, telinga,
kulit, gigi, dan jasmani.
Hidup dengan budaya sehat perlu ditanamkan sejak dini, sejak anak sudah mulai dapat
menangkap dengan panca inderanya mengenai arti pentingnya memelihara dan menjaga
kesehatan.
C. Pengertian Gizi
Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab ghidza, yg berarti “makanan”. Sedangkan dari bahasa
Inggris kata “gizi” berasal dari kata ‘nutrition”, artinya sesuatu yang mempengaruhi proses
perubahan semua jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh, yang dapat mempertahankan
kehidupan.7[7]
Dalam arti luas, Gizi adalah elemen atau unsur yang terkandung dalam makanan, dimana
unsur-unsur itu dapat memberikan manfaat secara langsung bagi tubuh yang
mengkonsumsinya sehingga menjadi sehat. Seperti halnya karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral, dan air.8[8]
Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa
pertumbuhan. Di masa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan
makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.

Karakteristik Makanan Bergizi


Pada anak usia dini perlu dilatih dan diajarkan bagaimana memilih makanan yang baik dan
tidak. Makanan yang bergizi akan sangat membantu perkembangan fisik dan meningkatkan
kecerdasan anak. Sebaiknya, orang tua dan guru mengajarkan anak untuk melihat dan
mengenali berbagai macam makanan yang bergizi dan tidak. Jika seorang anak tidak
mendapatkan asupan makanan yang bergizi, maka tidak hanya menghambat perkembangan
otak dan fisik, akan tetapi bisa menyebabkan seorang anak terserang penyakit dan menghambat
proses belajarnya.
Gizi yang baik dikombinasikan dengan kebiasaan makan yang sehat selama masa balita
akan menjadi dasar bagi kesehatan yang bagus di masa yang akan datang. Pengaturan makanan
yang seimbang menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi untuk energi dan pertumbuhan si kecil.
Pengaturan makan yang baik juga dapat melindungi si kecil dari penyakit dan infeksi serta
membantu perkembangan mental dan kemampuan belajarnya.
Pengaturan makanan yang sehat untuk anak usia dini tidak sama dengan orang dewasa.
Kebutuhan sehari-hari anak akan energi (kalori) dan zat gizi lainnya sangat tinggi, terutama
sewaktu si kecil sudah mulai berjalan. Di masa ini ia menjadi lebih aktif dan tumbuh dengan
pesat. Namun, karena perut anak masih kecil, anak tidak dapat makan dalam jumlah besar
dalam sekali makan. Porsi makan untuk anak usia dini biasanya sepertiga sampai setengah dari
porsi orang dewasa. Karena, mereka juga membutuhkan makanan selingan yang bergizi di
antara 3 kali makanan utama. Anak perlu makan makanan yang mudah dicerna dan bergizi
tinggi. Ada 5 kelompok makanan yang bergizi, di antaranya yaitu:
1) Lemak dan Gula
Pengaturan makanan yang seimbang harus mengandung cukup lemak dan gula. Hindari
pemanis buatan. Berikanlah makanan olahan susu yang berlemak tinggi.
2) Daging dan alternatifnya
Setiap hari berikan 1 porsi daging, ikan, atau telur, atau 2 porsi tumbuh-tumbuhan, seperti
kacang-kacangan.
3) Makanan olahan susu
Setiap hari berikan sedikitnya 350 ml susu berkadar lemak tinggi atau 2 porsi keju atau yogurt.
4) Buah dan sayuran
Setiap hari berikan sedikitnya 4 porsi buah atau sayuran segar, kalengan, ataupun beku. Jus
buah dihitung sebagai 1 porsi walaupun diberikan lebih dari 1 kali.
5) Produk biji-bijian dan zat tepung
Setiap hari di setiap waktu makan berikan sedikitnya 1 porsi nasi, roti, jagung, sereal, ataupun
tumbuhan yang mengandung zat tepung. Hindari makanan yang terbuat dari biji-bijian yang
sangat kasar.9[9]
Dalam penelitian yang dilakukan Ernesto Pollitt dkk (1993) menyatakan bahwa pemberian
makanan yang sehat dan protein, akan mempengaruhi perkembangan kognitif selanjutnya.
Selain itu, apa yang anak makan juga ikut mempengaruhi irama pertumbuhan, ukuran badan
dan ketahanan terhadap penyakit (Brom dkk, 2005 dalam Santrock, 2007).
Menurut Santrock (2007: 157) pada umumnya masalah kesehatan yang sering dialami anak-
anak adalah kurang gizi, pola makan, kurang olah raga dan pelecehan. Seperti yang dinyatakan
dalam penelitian Pollitt dkk, bahwa gizi sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak.
Pola makan sangat berkaitan erat dengan hal ini. Maraknya makanan cepat saji dengan berbagai
variasi yang sangat menarik untuk anak seperti hotdog, pizza, hamburger dsb, menjadi kendala
tersendiri yang mempersulit pemenuhan kebutuhan gizi yang sehat. Perlu kreatifitas yang
tinggi bagi guru dan orang tua untuk mengemas makanan sehat yang menarik bagi anak
layaknya makanan cepat saji. Untuk itu cermatilah karakteristik makanan yang bergizi di
bawah ini:
 Mengandung berbagai unsur-unsur terpenting yang di butuhkan di dalam tubuh, seperti
karbohidrat, mineral, protein, vitamin, lemak, dan air.
 Makanan yang berasal secara alami, tidak adanya bahan kimia atau bahan lainnya yang dapat
membahayakan tubuh.

D. Analisis Hubungan Gizi dengan Kesehatan dan Kecerdasan Anak


Apa itu gizi? di dalam rumusan masalah yang ke-3 sudah dijelaskan bahwa gizi itu adalah
Unsur-unsur yang terkandung di dalam makanan, yang mana unsur-unsur tersebut memberikan
manfaat secara langsung bagi tubuh serta dapat mempertahankan kehidupan.
Apakah yang dimaksud dengan kesehatan? UU No.23 Tahun 1992 Bab 1 Pasal 1
menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 10[10] Setiap anak
berhak mendapatkan kesehatan untuk proses perkembangan dan pertumbuhannya. Karna
dengan kesehatan anak bisa melakukan apa yang dia mau, beraktivitas dengan lancar dan baik,
berfikir secara rasional, dan dapat berkonsentrasi dalam belajarnya. Untuk itu, kesehatan
sangatlah penting bagi anak usia dini bahkan mempengaruhi kecerdasan otak anak. Akan tetapi
bukan hanya setiap anak saja, orang dewasa juga memerlukan kesehatan yang baik untuk bisa
mendidik dan memberikan contoh yang baik mengenai pentingnya kesehatan dan menjaga
kebersihan bagi anak-anak mereka.
Apa itu kecerdasan? kecerdasan bisa diartikan dengan istilah intelegensi. Hampir semua
orang memiliki pemikiran mengenai apa yang diartikan sebagai kecerdasan atau intelegensi
misalnya “kecerdasan”, “kemengertian”, “kemampuan untuk berfikir”, “kemampuan untuk
menguasai”, “kecemerlangan sejak lahir”, dan sebagainya. Namun berbagai definisi tersebut
belum benar-benar memungkinkan kita untuk menentukan apakah, misalnya suatu perilaku
tertentu tergolong perilaku pandai atau tidak pandai.11[11] Menurut saya, kecerdasan itu
adalah tingkat pola pikir IQ yang mencapai di atas 140, yang disebut juga dengan genius.
Kesehatan dan gizi dapat diartikan sebagai suatu hal yang mendatangkan sehat atau
kebaikan dengan diberikan zat makanan yang dibutuhkan tubuh. Makanan bayi ASI merupakan
makanan utama, sedang lainnya sebagai makanan pelengkap. Anak usia 1 – 3 tahun sangat
rentan terhadap penyakit gizi. Mereka boleh diajari makan sendiri, dengan cara mencicipi
makanan yang lunak, tidak pedas dan tidak merangsang. Pemberian makanan manis pada anak
usia dini tidak boleh terlalu banyak supaya tidak terjadi karies (gigi berlubang), oleh karena itu
anak perlu belajar menggosok gigi. Pada usia 4 – 6 tahun kebutuhan nutrient anak relatif
kurang, sebab anak sudah bisa memilih makanan sendiri, untuk itu pengertian tentang nilai gizi
boleh diajarkan.
Kesehatan dan gizi anak sangat penting untuk diperhatikan sejak dini mulai dari dalam
kandungan. Kesehatan dan gizi itu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak serta kecerdasan otak anak. Anak yang mendapat gizi yang seimbang dan sehat akan
tumbuh menjadi manusia yang berkualitas dan cerdas. Sejak anak masih dalam kandungan
kesehatan dan gizi perlu diperhatikan, melalui ibunya. Sebab kondisi kesehatan dan gizi anak
walaupun masih dalam kandungan ibu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak.12[12] Cara mengusahakannya, antara lain dengan memberikan kebiasaan untuk
berdisiplin dalam makan, minum, serta menjaga kesehatan.
Seorang anak usia TK sedang mengalami tumbuh kembang yang amat pesat. Pada masa ini
proses perubahan fisik, emosi, dan sosial anak berlangsung dengan cepat. Proses ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor dari diri anak sendiri maupun lingkungannya. Gizi yang
diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan besar untuk kehidupan
anak tersebut. Seorang anak juga dapat mengalami defisiensi zat gizi yang berakibat pada
berbagai aspek fisik maupun mental. Pola makan kelompok masyarakat tertentu juga menjadi
pola makan anak. Jika menyusun hidangan untuk anak, perlu diperhatikan kebutuhan zat gizi
untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang. Kecukupan zat gizi ini berpengaruh terhadap
kesehatan dan kecerdasan anak.
Untuk itu, perlu diperhatikan betul-betul dalam memberikan makanan pada anak,
hendaknya makanan tersebut bisa menyehatkan dan memberi stimulus yang baik bagi
perkembangan anak. Kecerdasan anak itu bergantung pada kesehatan dan gizinya, antara gizi
dengan kesehatan dan kecerdasan itu saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya . Jika
pola makan tidak bergizi maka akan mengganggu kesehatan serta kecerdasan. Sebaliknya, Pola
makan yang bergizi akan meningkatkan kinerja otak yang baik, sedangkan kesehatan itu
membuat si anak dapat berkonsentrasi mengingat sesuatu dan bergerak aktif sehingga
menghasilkan anak yang cerdas.
Penyusunan Makanan Sehat
Menurut Sediaoetama (2000) fungsi zat gizi sebagai sumber energi atau tenaga,
menyokong pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh, mengatur metabolisme dan
berbagai keseimbangan dalam cairan tubuh (keseimbangan air, asam basa, dan mineral), serta
mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit. Ada berbagai jenis zat makanan yang
dibutuhkan tubuh di antaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral-mineral.
Air susu ibu (ASI) merupakan salah satu jenis makanan sehat. Bayi dapat diberikan susu
formula atau bubur halus setelah berusia 4 bulan atau diberikan secara bertahap sesuai dengan
kebutuhannya. Selanjutnya, setelah usia 6 bulan dapat diberikan nasi tim. Tim yang diberikan
sebaiknya diolah dengan memanfaatkan berbagai jenis makanan. Mulai dari sumber protein
hewani dan nabati, sumber karbohidrat, dan berbagai jenis sayuran. Sejak berusia 6 bulan
sebaiknya bayi mulai diperkenalkan berbagai makanan untuk melatih indra pengecapnya.
Dengan diberikan berbagai jenis makanan secara bergantian maka anak akan mengenal
berbagai macam rasa makanan. Untuk dapat menentukan makanan yang tepat, orang tua perlu
mengetahui kondisi anak.13[13]
Berapa banyak serat yang dibutuhkan anak usia dini?
Serat diperlukan karena untuk mencegah sembelit. Namun terlalu banyak serat dapat
membuat anak kekenyangan sehingga ia tidak mau makan makanan lain. Terlalu banyak
makanan yang berserat tinggi juga dapat menyebabkan diare dan mengganggu penyerapan
beberapa macam mineral, seperti zat besi.
Jika setiap hari si buah hati makan dengan berbagai biji-bijian, buah-buahan, sayur-
sayuran atau kombinasi bermacam roti tawar serta sereal, ia akan mendapat cukup serat.
Apakah si kecil perlu lemak?
Lemak merupakan sumber energi dan vitamin yang sangat besar bagi anak-anak dan juga
sumber asam lemak esensial. Asam lemak ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus
didapatkan dari luar melalui makanan. Sumber lemak yang paling baik didapat anak dari
makanan seperti susu berlemak tinggi atau keju, yang juga mengandung zat gizi penting
lainnya. Makanan seperti kripik dan biskuit, kaya akan lemak tetapi miskin zat gizi lainnya.
Jadi, batasilah pemberiannya, untuk daging, pilihlah yang tidak mengandung banyak gajih atau
lemak.
Susu rendah lemak ataupun susu krim sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak di bawah
5 tahun. Susu semi-krim dapat diberikan kepada anak mulai usia 2 tahun, hanya saja jika si
kecil sudah mendapat cukup energi (kalori) dari pengaturan makanan yang baik dan bervariasi.
Jika ragu dalam memberikan makanan tersebut, mintalah saran dari dokter atau petugas
kesehatan.
Suplemen vitamin
Jika makanan si kecil tidak cukup mengandung vitamin A, C, dan D, ia mungkin butuh
tambahan vitamin. Tetapi sebaiknya, konsultasikan dahulu dengan dokter tentang dosis yang
tepat. Terlalu banyak vitamin sama bahayanya dengan terlalu sedikit vitamin.
Kebutuhan akan zat besi dan seng
Kekurangan zat gizi dapat memperlambat pertumbuhan dan perkembangan balita. Cobalah
untuk memberikan makanan yang mengandung zat besi setiap hari kepada si buah hati. Untuk
meningkatkan penyerapan di usus, berikan makanan atau jus buah yang mengandung vitamin
C di setiap waktu makan.
Sumber zat besi yang baik adalah daging merah, ikan yang mengandung banyak minyak,
kerang-kerangan, sereal, roti, telur, buah yang dikeringkan (seperti kismis, cherry, kurma),
polong-polongan, jeruk, aprikot, serta sayuran hijau tua dan berdaun lebar (seperti kol dan
brokoli).
Seng dibutuhkan untuk sistem kekekalan tubuh dan pertumbuhan. Sumber seng yang
bagus adalah daging dan unggas, sereal, keju, telur dan polong-polongan.
Hindari memberi makanan atau minuman yang mengandung zat tanin, seperti teh, kepada
anak balita. Zat tanin dapat menghambat penyerapan zat besi dan seng.
Hindarilah memberikan makanan kepada anak balita, seperti:
a) Segala jenis kacang-kacang (terutama kacang tanah), popcorn, dan buah-buahan yang berbiji
kecil, karena dapat membuat si kecil tersedak.
b) Makanan atau minuman yang mengandung rempah, kecuali si kecil sudah terbiasa atau dia
yang memintanya sendiri.
c) Makanan yang terlalu asin, karena akan membuat si kecil merasa sangat haus.14[14]

[1] http://rike-rikeriwayanti.blogspot.com/2011/06/pelayanan-kesehatan-anak.html, di akses pada tanggal 22


maret 2012, pukul 09.17
[2]http://rike-rikeriwayanti.blogspot.com/2011/06/pelayanan-kesehatan-anak.html, di akses
pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.17
[3]http://azizahfathia.blogspot.com/2012/03/tugas-konsep-sehat-serta-dimensinya-dan.html#ixzz1qPFOFHMz,
di akses pada tanggal 28 maret 2012, pukul 17.31
[4]Zainal Aqib, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),
(Bandung: Nuansa Aulia, 2011), hlm. 29
[5] http://paudanakceria.wordpress.com/2010/05/12/kesehatan-dan-gizi/, di akses pada tanggal 22 maret 2012,
pukul 09.22
[6]Zainal Aqib, Op Cit, hlm. 29
[7] http://artikelterbaru.com/kesehatan/ilmu-kedokteran/pengertian-gizi-20112816.html, di
akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.15
[8] http://carapedia.com/pengertian_definisi_gizi_info2106.html, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul
08.48
[9] June Thompson, Pedoman Merawat Balita, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 6
[10] Danar Santi, Pendidikan Anak Usia Dini; Antara Teori dan Praktik, (Jakarta: Indeks,
2009), hlm.35
[11] Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm.
153
[12] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000),
hlm. 20
[13] http://paudanakceria.wordpress.com/2010/05/12/kesehatan-dan-gizi/, di akses pada
tanggal 22 maret 2012, pukul 09.22
15[14] June Thompson, Pedoman Merawat Balita, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 7