Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

MENGEMBANGKAN KISI-KISI DAN VALIDITAS INSTRUMEN

OLEH:

SATRI VANI KARISFA


19177022

DOSEN PEMBIMBING
Dr. ZULYUSRI M.P

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PASCASARJANA MIPA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah evaluasi proses dan hasil pembelajaran
biologi ini. Pembuatan makalah ini dengan tujuan agar mahasiswa dapat mengetahui
bagaimana mengembangkan kisi-kisi dan validitas instrumen.
Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membaca makalah ini.
Penulisan makalah ini tidak terlepas dari segala bentuk kekurangan, untuk itu dengan penuh
harapan penulis membutuhkan kritik, tanggapan dan sarannya kepada pembaca, demi
kebenaran dan untuk kepentingan bersama.

Padang, Februari 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belajar merupakan proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap
dan nilai yang positif. Prinsip dasar dari suatu pembelajaran yaitu meningkatkan atau
mengembangkan kemampuan atau potensi peserta didik baik dari segi kognitif, afektif dan
psikomotor atau yang lebih dikenal dengan kecedasan intelektual, emosional dan spiritual
serta skill secara optimal.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan
tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki
siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan
pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan
suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa.
Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana,
dalam hal apa dan bagian mana tujuan pendidikan sedah tercapai. Dalam melakukan
evaluasi terdapat bermacam langkah yang dilakukan. Salah satu langkah evaluasi ini yaitu
mendesain evaluasi. Dalam mendesain evaluasi ini, artinya tugas guru untuk membuat alat
evaluasi yang bertujuan untuk meninjau hasil belajar siswa, baik dari ranah kognitif , afektif,
dan psikomotor.
Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif dan/atau
informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif
atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes
obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benarsalah,menjodohkan dan pilihan ganda
dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan
gambar tabel. Untuk tes uraian yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes
uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur.
Soal-soal tes dibuat harus memiliki pertimbangan agar soal yang dibuat tidak terlalu
sulit, terlalu mudah dan membingungkan peserta didik ketika hendak menjawab soal-soal
tersebut. Penulisan suatu soal yang baik yang nantinya diharapkan mendapatkan hasil yang
memuaskan, maka soal yang kita buat harus bersama dengan membuat pokok bahasan. Sub
pokok bahasan yang terdapat dalam format penulisan soal dan tidak terlepas kepada format
kisi-kisi.
Kisi-kisi soal digunakan untuk menyiapkan suatu soal yang nantinya akan kita berikan
kepada anak didik, untuk menentukan berhasil dan tidaknya, maka perlu dipertanyakan dulu
karena kita belum dapat mengatakan bahwa soal kita ini sudah baik dan memenuhi syarat.
Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, seorang guru harus mengacu pada
pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang
disusun memenuhi syarat instrumen yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik,
yaitu valid (sah) dan reliable (dapat dipercaya).
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka batasan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Mengembangkan kisi-kisi instrumen
2. Validitas instrumen
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana langkah dalam mengembangkan kisi-kisi instrumen?
2. Bagaimana cara mengetahui serta mengukur validitas instrumen?
D. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui langkah dalam mengembangkan kisi-kisi instrumen.
2. Mengetahui cara mengetahui serta mengukur validitas instrumen.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengembangkan Kisi-Kisi Instrumen


1. Instrumen Penilaian
Instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat
dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data
mengenai suatu variabel. Dalam bidang pendidikan instrument digunakan untuk mengukur
prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh
terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar
mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu. Instrumen dapat dibagi
dua yakni:
a. Tes
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur
sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang telah ditentukan (Arikunto, 2010).
Tes ini terdiri dari beberapa bagian yaitu:
1) Tes uraian
Tes Uraian, yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan alat penilaian yang hasil
belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa
menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan,
memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan
menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut
kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
2) Tes objektif
Soal-soal bentuk objektif dikenal ada beberapa bentuk yakni:
a) Bentuk jawaban singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk
kata, bilangan, kalimat atau symbol. Ada dua bentuk jawaban singkat yaitu bentuk pertanyaan
langsung dan bentuk pertanyaan tidak langsung
b) Bentuk soal benar-salah
Bentuk soal benar-salah addalah bentuk tes yang soal-soalnya berupa pertanyaan
dimana sebagian dari pertanyaan yang benar dan pertanyaan yang salah
c) Bentuk soal menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri dari dua kelompok pertanyaan yang paralel yang
berada dalam satu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berupa soal-soal
dan sebelah kanan adalah jawaban yang disediakan. Tapi sebaiknya jumlah jawaban yang
disediakan lebih banyak dari soal karena hal ini akan mengurangi kemungkinan siswa
menjawab yang betul dengan hanya menebak.
d) Bentuk soal pilihan ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau
paling tepat.
b. Non Tes
Adapun yang termasuk dalam kelompok non-tes ialah skala sikap, skala penilaian,
pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya.
1) Observasi
Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan
mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang
dijadikan obyek pengamatan. Ada tiga jenis observasi, yakni:
a. Observasi langsung, adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses
yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
b. Observasi tidak langsung, adalah observasi yang dilakasanakan dengan menggunakan
alat seperti mikroskop utuk mengamati bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit.
c. Observasi partisipasi, adalah observasi yang dilaksanakan dengan cara pengamat
harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau
kelompok yang diamati
2) Wawancara
Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan
dengan Tanya jawab baik secara lisan, sepihak, berhadapan muka, walaupun dengan arah
serta tujuan yang telah dilakukan. Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terstruktur dan
wawanncara bebas. Dalam wawancara berstruktur kemungkinan jawaban telah di siapkan
sehingga siswa tinggal mengkategorikannya kepada alternative jawaban yang telah dibuat.
Keuntungannya ialah mudah di olah dan dianalisis untuk dibuat kesimpulan. Sedangkan untuk
wawancara bebas, jawaban tidak perlu disiapkan sehingga siswa bebas mengemukakan
pendapatnya. Keuntungannya ialah informasi lebih padat dan lengkap sekalipun kita harus
bekerja keras dalam menganalisisnya sebab jawabanya beraneka ragam.
3) Angket
Data yang dihimpun melalui angket biasanya data yang berkenaan dengan kesulitan-
kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mengikuti pelajaran.
4) Pemeriksaan dokumen
Untuk mengukur kemajuan belajar siswa dapat juga dilakukan dengan tanpa pengujian
tetapi dengan cara melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang
memuat informasi mengenai kapan siswa itu diterima di sekolah tersebut, darimana sekolah
asalnya, apakah siswa tersebut pernah tinggal kelas, apakah ia pernah meraih kejuaraan
sebagai siswa yang berprestasi di sekolahnya.

5) Skala
Skala adalah alat untuk mengukur sikap , nilai, minat dan perhatian, dll, yang disusun
dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan
nilai sesuatu dengan kriteria yang ditentukan.
a) Skala penilaian, Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh
seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik yang bermakna nilai. Titik
atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah, bisa
dalam bentuk huruf atau angka. Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah
kriteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban. Adanya
kriteria yang jelas akan mempermudah pemberian penilaian. Skala penilaian lebih tepat
digunakan untuk mengukur suatu proses, misalnya proses mengajar pada guru, siswa, atau
hasil belajar dalam bentuk perilaku seperti keterampilan, hubungan sosial siswa, dan cara
memecahkan masalah. Skala penilaian dalam pelaksanaannya dapat digunakan oleh dua orang
penilai atau lebih dalam menilai subjek yang sama. Maksudnya agar diperoleh hasil penilaian
yang objektif mengenai perilaku subjek yang dinilai.
b) Skala sikap, Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek
tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan
netral. Sikap pada hakikatnya dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang
dating kepada dirinya. Ada tiga komponen sikap yakni:
i. Kognitif, berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau
stimulus yang dihadapinya.
ii. Afektif, berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut.
iii. Psikomotor, berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah
pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu,
pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan
pernyataan negatif. Salah satu skala yang sering digunakan adalah Likert. Dalam skala Likert,
pernyataan-pernyataan yang diajukan baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh
subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, dan sangat tidak
setuju. Skor yang diberikan terhadap pilihan tersebut bergantung pada penilai asal
penggunaannya konsisten. Yang jelas, skor untuk pernyataan positif atau negatif adalah
kebalikannya.
2. Kisi-Kisi Instrumen Pembelajaran
Langkah awal sebelum membuat soal adalah membuat kisi-kisi instrument penilaian.
Format kisi-kisi instrumen penilaian dapat berbeda antara berbagai jenis instrumen yang
berbeda. Format kisi-kisi Skala Sikap bisa saja berbeda dengan format kisi-kisi Soal, dan
berbeda pula dengan format kisi-kisi pembuatan lembar observasi atau chek list.
Kisi-kisi adalah rencana dasar pembuatan satu set atau seperangkat instrumen
penilaian. Satu kisi-kisi dibuat hanya untuk satu objek tertentu yang akan diukur, karena itu
kita tidak dapat membuat kisi-kisi instrumen sekaligus untuk tiga ranah tujuan
pembelajaran. Satu kisi-kisi dibuat hanya untuk satu dimensi, dan untuk satu tujuan tertentu.
Dalam hal penulisan kisi-kisi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:
a) Sampel materi
Pemilihan sampel materi yang akan ditulis butir soalnya hendaknya dilakukan
dengan mengacu pada kompetensi yang ingin dicapai. Pemilihan sampel materi secara
representative dapat mewakili semua materi yang diajarkan selama proses pembelajaran.
Semakin banyak sampel materi yang dapat ditanyakan maka semakin banyak pula tujuan
pembelajaran yang dapat diukur. Dasar pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan
sampel materi adalah dasar pertimbangan keahlian.
b) Jenis tes
Pemilihan jenis tes yang digunakan berhubungan erat dengan jumlah sampel materi
yang dapat diukur, tingkat kognitif yang akan diukur, jumlah peserta tes, serta jumlah butir
soal yang akan dibuat. Ada dua jenis tes yang dapat digunakan sebagai alat ukur hasil belajar
peserta ujian, yaitu tes objektif dan tes uraian. Pemilihan jenis tes sangat terkait dengan tujuan
pembelajaran yang akan diukur.
c) Jenjang pengetahuan
Setiap kompetensi mempunyai penekanan kemampuan yang berbeda dalam
mengembangkan proses berfikir peserta ujian. Dengan demikian jenjang kemampuan berfikir
yang akan diujikan pun berbeda-beda. Jika tujuan suatu kompetensi lebih menekankan pada
pengembangan proses berfikir analisis, evaluasi dan kreasi, maka butir soal yang akan
digunakan dalam ujian harus dapat mengukur kemampuan tersebut, begitu juga sebaliknya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa kumpulan butir soal yang akan digunakan dalam ujian
harus dapat mengukur proses berfikir yang relevan dengan proses berfikir yang
dikembangkan selama proses pembelajaran. Dalam hubungan ini, kita mengenal ranah
kognitif yang dikembangkan oleh Bloom dkk yang kemudian direvisi oleh Krathwoll (2001).
Revisi Krathwoll terhadap tingkatan ranah kognitif adalah: ingatan (C1), pemahaman (C2),
penerapan (C3), analisis (C4), evaluasi (C5) dan kreasi (C6).
d) Tingkat kesukaran
Dalam menentukan sebaran tingkat kesukaran butir soal dalam set soal untuk ujian,
harus mempertimbangkan interpretasi hasil tes mana yang akan digunakan. Ada dua
pendekatan yang dapat digunakan dalam menginterpretasikan hasil tes, yaitu pendekatan
Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penilaian Acuan Norma (PAN). Dalam uji kompetensi,
interpretasi hasil tes yang digunakan berbasis kompetensi, maka pendekatan yang digunakan
adalah PAP.
e) Waktu ujian
Lamanya waktu ujian merupakan faktor pembatas yang harus diperhatikan dalam
membuat perencanaan tes. Lamanya waktu ujian (misalnya 90 menit) akan membawa
konsekuensi pada banyaknya butir soal yang harus dibuat. Jumlah butir soal yang akan
diujikan harus diperkirakan agar soal dapat diselesaikan dalam waktu 90 menit. Jumlah butir
soal tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit, untuk mengantisipasi peserta ujian
menjawab soal dengan cara menebak.
f) Jumlah butir soal
Penentuan jumlah butir soal yang tepat dalam satu kali ujian tergantung pada beberapa
hal, antara lain: penguasaan kompetensi yang ingin diketahui, ragam soal yang akan
digunakan, proses berfikir yang ingin diukur, dan sebaran tingkat kesukaran dalam set tes
tersebut. Pada uji kompetensi, waktu dan jumlah butir soal telah ditetapkan, sehingga
pembuat soal dapat memperkirakan tingkat kesulitan soal. Komponen-komponen sebuah kisi-
kisi adalah: Identitas, standar kompetensi/kompetensi dasar, materi pmbelajaran, indikator
soal, bentuk tes, nomor soal.
a. Tahapan Pengembangan Kisi-kisi Instrument dalam Pembelajaran
Adapun beberapa tahapan yang dilakukan dalam mengembangkan kisi-kisi instrument
dalam pembelajaran, adalah:
1) Tentukan tujuan membuat kisi-kisi, apakah kisi-kisi untuk membuat soal ujian semester,
untuk mengukur sikap siswa, atau yang lain.
2) Tentukan objek penilaian atau ruang lingkup materi yang akan diukur.
3) Rumuskan indikator-indikator dari masing-masing aspek yang akan diukur (jika belum
ada).
4) Tentukan aspek-aspek yang akan dimuat pada kisi-kisi.
5) Buat kisi-kisi instrumen, dengan jumlah butir instrumen sesuai alokasi waktu yang
tersedia.
Sesudah penyusunan tabel spesifikasi kisi-kisi instrumen maka untuk memperoleh
seperangkat soal tes diperlukan dua langkah yaitu : (i) menentukan bentuk soal, dan (ii)
menuliskan soal-soal tes.
a. Menentukan bentuk soal
Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan bentuk soal yaitu: waktu
yang tersedia dan sifat materi yang diteskan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan alokasi waktu tes adalah: Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan dalam
waktu 4-5 kali waktu pertemuan (45 menit) kira-kira memerlukan 15-20 menit, sedangkan
untuk pelajaran memerlukan waktu lebih kurang 5-10 menit. Menyelesaikan soal bentuk
objektif digunakan waktu yang diperlukan +½-1 menit untuk setiap butir tes. Untuk
menyelesaikan soal bentuk uraian waktu yang diperlukan tergantung dari berapa lama siswa
harus berfikir dan menulis jawaban.
b. Menuliskan soal-soal tes
Langkah terakhir dari penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes, langkah ini
merupakan langkah paling penting karena kegagalan dalam hal ini dapat berakibat fatal.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
1) Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2) Satu soal tidak boleh mengandung tafsiran ganda atau membingungkan
3) Cara memenggal kalimat atau meletakkan/menata kata-kata perlu sekali
diperhatikan agar tidak salah tafsir.
4) Petunjuk mengerjakan.
Guru yang baik akan selalu meningkatkan mutu tes yang digunakan. Oleh karena
menyusun tes itu sukar maka mereka disarankan untuk mengumpulkan saran-saran tesnya,
dan disertai dengan catatan mengenai soal-soal tersebut. Dengan cara demikian maka
keterampilan guru dalam menyusun tes akan meningkatkan dan memperoleh mutu tes yang
maksimal.
b. Contoh format kisi-kisi soal:
1) Pilihan ganda
Mata pelajaran :
Kelas/Semester :
Alokasi waktu :
Jumlah Soal :
Bentuk Soal :
No.urut Kompetensi Dasar Materi Indikator No.Urut Soal Bobot
Pokok

2) Unjuk kerja dengan daftar cek


Mata pelajaran :
Kelas/Semester :
Alokasi waktu :
Jumlah Soal :
Standar kompetensi :
Kompetensi Dasar :

No Aspek Yang Dinilai Skor

3) Unjuk kerja dengan skala rentang


Mata pelajaran :
Kelas/Semester :
Alokasi waktu :
Jumlah Soal :
Standar kompetensi :
Kompetensi Dasar :
No Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4 5

4) Kisi-kisi penilaian proyek


Mata pelajaran :
Kelas/Semester :
Alokasi waktu :
Jumlah Soal :
Standar kompetensi :
Kompetensi Dasar :
No Aspek Yang Dinilai Skor

5) Format kisi-kisi penilaian produk


Mata pelajaran :
Kelas/Semester :
Alokasi waktu :
Jumlah Soal :
Standar kompetensi :
Kompetensi Dasar :
No Aspek Yang Dinilai Skor

c. Pengembangan Kisi-kisi Instrumen Pembelajaran dalam Kompetensi


Pembelajaran.
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsistensi
sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta
didik.
1) Ranah Kognitif (pengetahuan)
Kognitif adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan semua aktivitas
mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang
memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan
merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan,
menilai, dan memikirkan lingkungannya.
Dalam mengembangkan kisi-kisi instrumen pada ranah kognitif ini, juga dibantu
dengan menggunakan daftar kerja operasional dalam ranah kognitif. Berbagai macam kata
kerja operasional yang digunakan untuk meninjau sejauh mana kemampuan siswa dalam
memahami suatu materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk soal, kemudian diujikan,
dan dari hasil tersebut dapat dilihat tingkat kemampuan siswa.
Tabel 1. Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif
Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Evaluasi
Mengutip Memperkirakan Menugaskan Menganalisis Mengabstraksi Membandingkan
Menyebutkan Menjelaskan Mengurutkan Mengaudit Mengatur Menyimpulkan
Menjelaskan Mengkategorikan Menentukan Memecahkan Menganimasi Menilai
Menggambar Mencirikan Menerapkan Menegaskan Mengumpulkan mengarahkan
Membilang Merinci Menyesuaikan Mendeteksi Mengkategorikan Mengkritik
Mengidentifikasi Mengasosiasikan Mengkalkulasi Mendiagnosis Mengkode Menimbang
Mendaftar Membandingkan Memodifikasi Menyeleksi Mengkombinasikan Memutuskan
Menunjukkan menghitung Mengklasifikasi Memerinci Menyusun Memisahkan
Memberi label Mengkontraskan Menghitung Menominasikan mengarang Memprediksi
Memberi indek Mengubah Membangun Mendigramkan Membangun Memperjelas
Memasangkan Mempertahankan Mengurutkan Mengorelasikan Mananggulangi Menugaskan
Menamai Menguraikan Membiasakan Merasionalkan Menghubungkan Menafsirkan
Menandai Menjalin Mencegah Menguji Menciptakan Mempertahankan
Membaca Membedakan Menggambarkan Mencerahkan Mengkreasikan memerinci
Menyadari Mendiskusikan Menggunakan Menjelajah Mengoreksi Mengukur
Menghafal Menggali Menilai Membagankan merancang Merangkum
Meniru Mencontohkan Melatih Menyimpulkan Merencanakan Membuktikan
Mencatat Menerangkan Menggali Menemukan Mendikte Memvalidasi
Mengulang Mengemukakan Mengemukakan Menelaah Meningkatkan Mengetes
Mereproduksi Mempolakan Mengadaptasi Memaksimalkan Memperjelas Mendukung
Meninjau Memperluas Menyelidiki Memerintahkan Memfasilitasi memilih
Memilih Menyimpulkan Mengoperasikan Mengedit Membentuk Memproyeksikan
Menyatakan Meramalkan Mempersoalkan Mengaitkan Merumuskan
Mempelajari Merangkum Mengkonsepkan Memilih Menggeneralisasi
Mentabulasi Menjabarkan Melaksanakan Mengukur Menggabungkan
Memberi kode Meramalkan Melatih Memadukan
Menelusuri Memproduksi Mentransfer Membatas
Menulis Memproses Mereparasi
Mengaitkan menampilkan
Menyusun Menyiapkan
Mensimulasikan Memproduksi
Memecahkan Merangkum
Melakukan Merekonstruksi
Mentabulasi

2) Ranah Afektif
Karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan.
Tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Penilaian afektif dilakukan oleh pendidik
melalui pengamatan terhadap perkembangan afeksi peserta didik. Ada 5 tipe karakteristik
yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral. Aspek afektif yang dominan
pada mata pelajaran sains terutama biologi meliputi ketelitian, ketekunan, dan kemampuan
memecahkan masalah secara logis dan sistematis.
Penyusunan instrumen observasi dalam ranah afektif ini tidak jauh berbeda dengan
ranah lainnya, yang meliputi menetapkan tujuan dan kisi-kisi. Penyusunan kisi-kisi ini
diawali dengan menentukan defini konseptual, mengembangkan definisi operasioanl
berdasarkan kompetensi dasar, menjabarkan menjadi sejumlah indikator, dan menulis
instrumen.
Selain itu, Menurut Fadli, (2011) juga menambahkan langkah-langkahdalam
mengembangkan kisi-kisi instrumen afektif yaitu sebagai berikut.
a) Merumuskan Tujuan Pengukuran Afektif. Pengembangan alat ukur sikap bertujuan
untuk mengetahui sikap siswa terhadap sesuatu objek, misalnya sikap siswa terhadap
kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sikap siswa terhadap sesuatu dapat positif atau
negatif.
b) Mencari Definisi Konseptual dari Afektif yang Akan Diukur. Pencarian definisi
konseptual dapat Anda lakukan dengan mencari pada buku-buku teks yang relevan.
c) Menentukan Definisi Operasional dari Setiap Afektif yang Akan Diukur. Penentuan
definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara pengukuran definisi
konseptual.
d) Menjabarkan Definisi Operasional menjadi Sejumlah Indikator. Indikator merupakan
petunjuk terukurnya definisi operasional. Dengan demikian indikator harus operasional
dan dapat diukur. Ketepatan pengukuran ranah afektif sangat ditentukan oleh
kemampuan penyusun instrumen (guru atau peneliti) dalam membuat atau merumuskan
indikator.
Dibawah ini merupakan kata kerja yang dapat digunakan dalam menyusun kisi-kisi
pada ranah afektif:
Tabel 2. Kisi-kisi instrumen ranah afektif
No Level Kata Operasional Contoh
1 Receive (menerima) Peserta Keterbukaan, Contoh pernyataan pada
didik memiliki keinginan kepedulian, perhatian, angket
memperhatikan suatu ketertarikan, berminat, Saya tertarik untuk menjadi
fenomena khusus atau dll anggota Biologi Study Club
stimulus, misalnya kelas, (BSC)
kegiatan, musik, buku, dan Saya selalu memperhatikan
sebagainya penjelasan guru biologi Saya
sulit memahami pelajaran
biologi.
Menurut saya, belajar biologi
sangat penting

2 Respond (menanggapi) Pada menjawab, membantu, Contoh pernyataan pada


tingkat ini peserta didik senang, menyesuaikan, angket:
tidak saja memperhatikan menyambut, Saya senang membaca buku
fenomena khusus tetapi ia membantu, melakukan, biologi. Saya selalu
juga bereaksi. dll membantu teman yang
kesulitan dalam pelajaran
biologi

3 Value (nilai) lengkap, menunjukkan, Contoh pernyataan pada


Valuing melibatkan membedakan, angket:
penentuan nilai, keyakinan menjelaskan, rendah, Saya membaca buku biologi
atau sikap yang bentuk, memulai, minimal 3 kali dalam
menunjukkan derajat mengundang, seminggu. Pelajaran biolo
internalisasi dan komitmen. bergabung,
membenarkan,
mengusulkan,
membaca, laporan,
pilih, berbagi, belajar,
bekerja, dll

4 Organize (mengatur) Pada mengatur, Contoh pernyataan pada


tingkat organization, nilai menggabungkan, angket:
satu dengan nilai lain membandingkan, Saya mengatur waktu khusus
dikaitkan, konflik antar nilai lengkap, membela, untuk belajar biologi di rumah
diselesaikan, dan mulai merumuskan,
membangun sistem nilai generalisasi,
internal yang konsisten. mengidentifikasi,
mengintegrasikan,
memodifikasi,
ketertiban,
mempersiapkan,
berhubungan,
mensintesis

5 Internalize bertindak, tampilan, Contoh pernyataan pada


(Menginternalisasi) pengaruh, angket:
mendengarkan, Pembelajaran biologi
mengubah, memberikan pengaruh positif
mempertunjukkan, terhadap pola hidup saya.
memenuhi syarat, Saya akan mengubah
merevisi, melayani, kebiasaan buruk yang
memecahkan, merusak lingkungan menjadi
verifikasi, dll kebiasaan untuk menjaga
lingkungan

6 Characterize (Karakter) Mencirikan Contoh pernyataan pada


Pada tingkat ini peserta menggolongkan lembar observasi:
didik memiliki sistem nilai menggambarkan Siswa menunjukkan sifat pola
yang mengendalikan memberi ciri hidup sehat setelah
perilaku sampai pada waktu menandakan mempelajari biologi Siswa
tertentu hingga terbentuk menunjukkan sifat membuang sampah pada
gaya hidup. tempatnya yang menandakan
bahwa siswa tersebut
mencintai lingkungan. Contoh
pernyataan pada angket:
Pelajaran biologi memberikan
saya pemahaman untuk lebih
mencintai lingkungan,
sehingga saya berkomitmen
untuk selalu menjaga
kebersihan lingkungan. Saya
berolah raga setiap hari yang
mencirikan saya menerapkan
pola hidup sehat

7 Wonder (Keingintahuan) Mengagumi Renungan Contoh pernyataan pada


bertanya-tanya angket:
Berpikir Heran Ingin Saya mengagumi betapa
tahu sempurnanya Tuhan
menciptakan sebuah
ekosistem Pembelajaran
biologi membuat saya merasa
lebih ingin tahu tentana alam.
Jika nilai biologi saya rendah,
saya akan berfikir untuk
mencari strategi belajar yang
lebih baik. Jika ada fenomena
biologi yang saya temui, saya
akan mencari tahu tentang
fenomena tersebut dari buku
atau bertanya pada orang.

8 Aspire (cita-cita) keinginan, harapan, Contoh pernyataan pada


tujuan, impian, angket:
motivasi Saya berharap pembelajaran
biologi akan semakin inovatif
dan kreatif. Saya belajar
biologi dengan rajin supaya
bisa menjadi peneliti bidang
biologi.

e) Menggunakan Indikator sebagai Acuan Menulis Pernyataan-pernyataan dalam


Instrumen. Penulisan instrumen atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan
skala pengukuran. Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala
Liekert. Kaidah-kaidah dalam merumuskan pernyataan-pernyataan dalam instrumen
afektif:
1. Hindari pernyataan yang mengarah pada peristiwa yang lalu.
2. Hindari pernyataan yang faktual.
3. Hindari pernyataan yang dapat ditafsirkan ganda.
4. Hindari pernyataan yang tidak berkaitan dengan afektif yang akan diukur.
5. Hindari pernyataan yang menyangkut keperluan semua orang atau pernyataan
yang tidak terkait dengan siapapun.
6. Upayakan kalimat pernyataan tersebut pendek, sederhana, jelas, dan langsung
pada permasalahannya.
7. Setiap pernyataan hanya mengandung satu pokok pikiran saja.
8. Hindari penggunaan kata asing atau lokal.
9. Hindari pernyataan negatif seperti tidak, kecuali, tanpa dan sejenisnya.
f) Meneliti Kembali Setiap Butir Pernyataan. Penelitian kembali instrumen yang selesai
ditulis sebaiknya dilakukan oleh orang yang memiliki banyak pengalaman dan minimal
dua orang. Kepada dua orang tersebut diberikan spesifikasi dari setiap butir (tujuan
pengukuran, definisi konseptual, definisi operasional, indikator, dan pernyataan yang
dibuat) dan rambu-rambu penulisan pernyataan yang baik. Kepada kedua penelaah
tersebut diminta untuk menilai kembali ketepatan instrumen afektif menggunakan
pengalaman keahlian masing-masing (expert judgment).
g) Melakukan Uji Coba. Perangkat instrumen yang telah ditelaah dan diperbaiki, disusun
dan diperbanyak untuk kemudian diujicobakan di lapangan. Tujuan uji coba adalah
untuk mengetahui apakah perangkat alat ukur tersebut sudah dapat memberikan hasil
pengukuran seperti yang kita inginkan.
h) Menyempurnakan Instrumen. Data yang diperoleh dari hasil uji coba selanjutnya kita
olah untuk memperoleh gambaran tentang validitas dan reliabilitas instrumen tersebut.
Berdasarkan data hasil uji coba kita akan dapat memperbaiki butir-butir pernyataan
yang dianggap lemah.
i) Mengadministrasikan Instrumenyang dimaksud dengan mengadministrasikan instrumen
adalah melaksanakan pengambilan data di lapangan.
3) Ranah Psikomotor
Menurut Arikunto (2010) psikomotor berhubungan dengan kata ”motor”, “sensory
motor”atau “perceptual-motor”. Dengan kata lain dapat diartikan ranah psikomotor ini
berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan gerakan tubuh atau bagian-
bagianya. Gerak yang dimaksud disini mulai dari gerak yang sederhana sampai yang lebih
komplit. Hamid (2009) menambahkan bahwa psikomotor merupakan ranah yang berkaitan
dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima
pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan
aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Keterampilan psikomotor ada enam tahap, yaitu gerakan refleks, gerakan dasar,
kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif. Mata
pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor ini adalah pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, biologi, dan keterampilan. Dengan kata
lain kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di
aula/ lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada
ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit jika dibandingkan dengan ranah
psikomotor.
Dalam penilaian ranah psikomotor ini juga digunakan suatu instrument. Sehingga
perlu dibuatkan kisi-kisi dalam ranah psikomotor ini. Kisi-kisi merupakan matriks yang
berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi merupakan acuan bagi penulis soal,
sehingga siapapun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan
tingkatkesulitannya relatif sama. Selain itu acuan yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi
psikmotor ini juga menggunakan kata-kata operasional, adapun bentuk kata kerja
operasional pada ranah psikomotor dapat dilihat dibawah ini:
Tabel 3. Kisi-kisi instrumen ranah Psikomotor
No Level Kata Operasional Contoh
1 Mengamati (observe) Terampil melakukan Contoh pernyataan pada lembar
pengamatan, memilih, observasi:
menjelaskan, Siswa terampil dalam
mendeteksi, mengamati sel pada mikroskop.
membedakan, Siswa terampil mengidentifikasi
mengidentifikasi, jenis daun berdasarkan
mengisolasi, dll bentuknya.

2 Bereaksi (react) Bereaksi, memberi Contoh pernyataan pada lembar


reaksi, berpengaruh, observasi:
menentang, dll Siswa langsung mengerjakan
tugas ketika guru memberikan
tugas.

3 Bertindak (act) menjelaskan, Contoh pernyataan pada lembar


mendemostrasikan, observasi:
melanjutkan, dll Siswa mendemonstrasikan
instruksi guru dengan benar pada
praktek biologi. Siswa
menjelaskan dengan benar
secara lisan dan
mendemostrasikan cara
mencangkok tanaman.

4 Mengadaptasi (adapt) mengadaptasi, Contoh pernyataan pada lembar


mengubah, mengatur observasi:
ulang, reorganisasi, Siswa terampil mengatur fokus
merevisi, bervariasi, dll pada mikroskop.
Siswa terampil menyiapkan
preparat basah untuk mengamati
sel.

5 Membuktikan Menunjukkan, Contoh pernyataan pada lembar


(authenticate) menampilkan, dll observasi:
Siswa terampil menunjukkan
adanya perbedaan antara sel
hewan dengan sel tumbuhan
melalui kegiatan praktkum.
Siswa mampu menampilkan
pembuktian adanya peristiwa
respirasi dan fotosintesis pada
tumbuhan
6 Menyelaraskan Mencocokkan, Contoh pernyataan pada lembar
(harmonize) mempadukan, observasi:
membuat jadi Siswa mampu mengerjakan
seimbang, berpadanan, praktikum dari perencanaa
dll

7 Memperbaiki (improvise) Mengubah, mengelola, Contoh pernyataan pada lembar


dll observasi:
Siswa mampu dan terampil
mengelola suatu lahan tandus
menjadi lahan yang subur.
Siswa mampu dan terampil
mengubah suatu ekosistem kecil
yang rusak menjadi ekosistem
yang baik.

8 Berinovasi (innovate). Perubahan yang baru, Contoh pernyataan pada lembar


memperbarui, observasi: Siswa menerapkan
menunjukkan sesuatu suatu pengembangan metode
yang baru, dll baru dalam membuktikan adanya
peristiwa fotosintesis.
B. ValiditasInstrumen
1. PengertianValiditas
Menurut Azwar (1997) validitas berasal dari kata validity yang artinya sejauhmana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau
instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat tersebut
menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud
dilakukannya pengukuran tersebut. Adapun alat yang digunakan dalam hal ini adalah kisi-kisi
soal ujian dan garis-garis besar program pengajaran (GBPP) yang berlaku serta sesuai dengan
yang diajarkan.
Dalam kaitannya dengan evaluasi belajar, validitas merupakan suatu proses yang
dilakukan oleh penyusun atau pengguna instrument (pembuat soal) untuk mengumpulkan data
secara empiris guna mendukung kesimpulan yang dihasilkan oleh skor. Dengan kata lain,
validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya.
Untuk menjadi valid, suatu instrumen tidak hanya konsisten dalam penggunaannya,
tetapi hal terpenting adalah harus mampu mengukur sasaran ukurnya. Artinya validitas
merupakan ciri instrumen terpenting. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan validitas
intrumen, baik secara langsung maupun tidak berhubungan dengan peningkatan validitas
instrumen itu sendiri. Untuk menjadi valid, suatu instrumen harus dikonstruksi dengan baik
dan mencakup materi yang benar-benar mewakili sasaran ukurnya. Validitas instumen bersifat
relatif terhadap situasi tertentu dan tergantung pada kondisi tertentu. Instrumen yang
mempunyai validitas tinggi terhadap tujuan atau kegunaan tertentu, tetapi bisa juga
mempunyai validitas sedang atau rendah terhadap tujuan lainnya.
Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Untuk dapat
menentukan apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas atau daya ketepatan
mengukur, dapat dilakukan dari dua segi, yaitu: dari segi tes itu sendiri sebagai suatu totalitas,
dan dari segi itemnya, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tes tersebut.
2. Macam-macam Validitas Instrumen atau Validitas Tes Hasil Belajar
Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman.
Dua hal inilah yang dijadikan dasar pengelompokkan validitas tes. Secara garis besar ada dua
macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris (Arikunto, 2010).
a. Validitas Logis
Istilah “validitas logis” mengandung kata “logis” berasal dari kata “logika”, yang
berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validias logis untuk sebuah instrumen
evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid
berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen
yang digunakan sudah dirancang dengan baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada.
Apabila ada instrumen yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrumen
atau berdasarkan ketentuan yang ada, maka secara logis sudah valid. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh
sesudah instrumen tersebut selesai disusun. Ada dua macam validitas logis, yaitu validitas isi
dan validitas konstruksi.
1) Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah
dilakukan penganalisisan, penelusuran, atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes
hasil belajar tersebut. Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi isi tes itu sendiri
sebagai alat pengukur hasil belajar, yaitu: sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur
hasil belajar siswa, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan
materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan (diujikan).
Materi atau bahan pelajaran pada umumnya tertuang dalam Garis-garis Besar Program
Pengajaran (GBPP), yang merupakan penjabaran dari kurikulum yang telah ditentukan, maka
validitas isi juga sering disebut validitas kurikuler. Dalam praktek, validitas isi dari suatu tes
hasil belajar dapat diketahui dengan jalan sebagai berikut ini:
1. Membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar, dengan tujuan
instruksional khusus yang telah ditentukan untuk masing-masing mata pelajaran;
apakah hal-hal yang tercantum dalam tujuan instruksional khusus sudah terwakili
secara nyata dalam tes hasil belajar tersebut ataukah belum. Jika penganalisisan secara
rasional itu menunjukkan hasil yang membenarkan tentang telah terceminnya tujuan
instruksional khusus itu di dalam tes hasil belajar, maka tes hasil belajar yang sedang
diuji validitas isinya itu dapat dinyatakan sebagai tes hasil belajar yang telah memiliki
validitas isi.
2. Menyelenggarakan diskusi panel. Dalam forum diskusi tersebut, para pakar yang
dipandang memiliki keahlian yang ada hubungannya dengan mata pelajaran yang
diujikan, diminta pendapat dan rekomendasinya terhadap isi atau materi yang
terkandung dalam tes hasil belajar yang bersangkutan. Hasil-hasil diskusi itu
selanjutnya dijadikan pedoman atau bahan acuan untuk memperbaiki dan
menyempurnakan isi atau materi tes hasil belajar tersebut.
2) Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Secara etimologis, kata “konstruksi” mengandung arti susunan, kerangka atau rekaan.
Dengan demikian, validitas konstruksi dapat diartikan sebagai validitas yan ditilik dari segi
susunan, kerangka atau rekaannya.
Adapun secara terminologis, suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang
telah memiliki validitas konstruksi, apabila: tes hasil belajar tersebut ditinjau dari segi
susunan, kerangka, atau rekaannya telah dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu
konstruksi dalam teori psikologis. Tentang istilah “konstruksi dalam teori psikologis” ini
perlu dijelaskan, bahwa para ahli di bidang psikologis mengemukakan teori yang menyatakan
bahwa jiwa dari seorang siswa itu dapat “dirinci” kedalam beberapa aspek atau ranah tertentu.
Benjamin S. Bloom misalnya merincinya dalam tiga aspek kejiwaan yaitu aspek kognitif
(cognitive domain), aspek afektif (afective domain), dan aspek psikomotorik (psychomotoric
domain).
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang
membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan
pembelajaran atau mengukur sesuatu sesuai dengan definisi yang digunakan. Validitas
konstruksi mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori,
yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrument.definisi atau konsep yang diukur berasal dari
teori yang digunakan. Oleh karena itu, harus ada pembahasan mengenai teori yang menjadi
dasr penentuan konstruk suatu instrument.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tes hasil belajar baru dapat dikatakan telah memiliki
validitas konstruksi apabila butir-butir soal atau item yang membangun tes tersebut benar-
benar telah dapat dengan secara tepat mengukur aspek-aspek berpikir (seperti: aspek kognitif,
aspek afektif, aspek psikomotorik, dan sebagainya) sebagaimana telah ditentukan dalam
tujuan instruksional khusus.
b. Validitas Empiris
Istilah “validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya pengalaman. Sebuah
instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman.
Validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan
ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman. Tes hasil
belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empirik apabila berdasarkan hasil analisis
yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan di lapangan, membuktikan bahwa hasil tes
hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya
diungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut .
Ada dua macam validitas empiris, yakni: validitas “ada sekarang” dan validitas
prediksi.
1) Validitas “ada sekarang” (Concurrent Validity)
Validitas “ada sekarang” juga sering dikenal sebagai validitas empiris atau validitas
pengamalan. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan
pengamalan yang telah diperoleh. Pengalaman dianggap sebagai sesuatu hal yang telah
lampau dan telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa
lampau itu pada saat sekarang ini sudah ada ditangan.
Dalam rangka menguji validitas “ada sekarang”, data yang mencerminkan pengalaman
yang diperoleh pada masa lampau itu, kita bandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh
sekarang ini. Jika hasil tes yang ada sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan hasil
tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu dapat
dikatakan telah memiliki validitas “ada sekarang” .
Contoh, misalnya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun saat
sekarang ini sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lampau
yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang
lalu.
2) Validitas Prediksi (Predictive Validity)
Validitas prediksi sering juga dikenal sebagai validitas ramalan. Validitas ramalan
dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes dapat
dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang akan terjadi
pada masa mendatang.
Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang
telah memiliki validitas ramalan ataukah belum, dapat ditempuh cara: mencari korelasi antara
tes hasil belajar yang sedang diuji validitas ramalannya dengan kriterium yang ada. Jika
diantara kedua variabel tersebut terdapat korelasi positif yang signifikan, maka tes hasil
belajar yang sedang diuji validitas ramalannya itu, dapat dinyatakan sebagai tes hasil belajar
yang telah memiliki daya ramal yang tepat, artinya: apa yang telah diramalkan, betul-betul
telah terjadi secara nyata dalam praktek.
Contoh, misalnya tes seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada sebuah
perguruan tinggi. Tes tersebut diharapkan mampu meramalkan keberhasilan studi para calon
mahasiswa dalam mengikuti program pendidikan di perguruan tinggi tersebut pada masa-
masa yang akan datang. Mereka yang dinyatakan lulus dalam tes seleksi itu, diramalkan kelak
akan menjadi mahasiswa yang sukses dalam mengikuti program pendidikan di perguruan
tinggi tersebut. Begitu pula halnya dengan mereka yang dinyatakan tidak lulus dalam tes
seleksi itu, diramalkan tidak akan memperoleh prestasi puncak dalam mengikuti program
pendidikan di perguruan tinggi tersebut, atau akan mengalami kendala dalam melaksanakan
studi.
3. Teknik Pengujian Validitas Tes Hasil Belajar
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam
arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan
untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan
oleh Karl Pearson (Arikunto, 2010).
Validitas instrumen dapat diketahui dengan jalan mencari korelasi hasil instrumen itu
dengan kriterium atau melakukan analisis butir. Untuk dapat menggunakan formula yang
tepat dalam menentukan validitas suatu instrumen maka perlu ditentukan terlebih dahulu tipe
data yang dikumpulkan melalui instrumen itu.
Apabila data yang didapat adalah data interval maka dapat digunakan rumus korelasi
Product Moment yaitu:
a. Rumus untuk skor kasar
𝑁𝛴𝑋𝑌 − (𝛴𝑋)(𝛴𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√{𝑁𝛴𝑋 2 − (𝛴𝑋)2 } {𝑁𝛴𝑌 2 − (𝛴𝑌 2 )}
Keterangan:
rxy = koefisien korelasi
X = Variabel X
Y = Variabel Y
b. Rumus skor deviasi
𝛴𝑋𝑌
𝑟𝑥𝑦 =
√(𝛴𝑋 2 )(𝛴𝑌 2 )
Keterangan:
rxy =koefisien korelasi
Σxy = jumlah perkalian deviasi masing-masing skorX dan Y
ΣX2 = jumlah kuadrat deviasi masing-masing skor X dari rata-rata X
ΣY2 = jumlah kuadrat deviasi masing-masing skor Y dari rata-rata Y
4. Cara menentukan validitas tiap butir soal
Tinggi rendahnya validitas soal secara keseluruhan berhubungan erat dengan validitas
tiap butir soal tersebut. Validitas butir soal dicari dalam hubungannya dengan skor total tiap
individu yang ikut serta dalam evaluasi.
Langkah-langkah yang ditempuh adalah:
a. Skor suatu instrumen dengan baik dan teliti. Untuk individu yang benar diberi angka 1,
sedangkan yang salah diberi angka 0.
b. Jumlahkan skor total untuk tiap individu.
Perhatikan contoh berikut:
Peserta ujian 8 orang dengan jumlah soal 10 buah. Hasil setelah di skor sebagai berikut:
Butir soal (X) Skor
Sampel total
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
(Y)
A 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 8
B 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 5
C 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 4
D 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 5
E 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 6
F 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 4
G 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 7
H 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8
Jumlah 5 5 5 3 7 6 4 4 4 4 47
Tabel 2. Skor peserta ujian
c. Gunakan rumus korelasi Product Moment
Tabel pesiapan untuk uji validitas soal nomor 5
Sampel X Y X2 Y2 XY
A 1 8 1 64 8
B 1 5 1 25 5
C 0 4 0 16 0
D 1 5 1 25 5
E 1 6 1 36 6
F 1 4 1 16 4
G 1 7 1 49 7
H 1 8 1 64 8
Jumlah 7 47 7 295 48
Tabel 3. Tabel pesiapan untuk uji validitas soal nomor 5
Selanjutnya masukkan ke dalam rumus:
𝑁𝛴𝑋𝑌 − (𝛴𝑋)(𝛴𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√{𝑁𝛴𝑋 2 − (𝛴𝑋)2 } {𝑁𝛴𝑌 2 − (𝛴𝑌 2 )}
8.48 − (8)(48)
𝑟𝑥𝑦 =
√{8.7 − (7)2 } {8.289 − (472 )}
15
𝑟𝑥𝑦 =
32,51
𝑟𝑥𝑦 = 0,461
r tabel pada dk = N-2 = 6, pada taraf signifikan 5% adalah 0,707, pada taraf signifikan 1%
adalah 0,804 (tabel nilai koefesien “r” product moment”).
Dengan memperhatikan koefisien korelasi yang didapat, jika rxy besar dari r tabel maka
butir soal tersebut valid, tetapi jika rxy lebih kecil dari r tabel maka butir soal tersebut tidak
valid. Berdasarkan contoh di atas maka butir soal nomor 5 tidak valid.
BAB III
PENUTUP

Instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat
dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data
mengenai suatu variable. Kisi-kisi adalah rencana dasar pembuatan satu set atau
seperangkat instrumen penilaian. Satu kisi-kisi dibuat hanya untuk satu objek tertentu yang
akan diukur, karena itu kita tidak dapat membuat kisi-kisi instrumen sekaligus untuk tiga
ranah tujuan pembelajaran. Satu kisi-kisi dibuat hanya untuk satu dimensi, dan untuk satu
tujuan tertentu. Validitas berasal dari kata validity yang artinya sejauhmana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen
pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat tersebut menjalankan
fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya
pengukuran tersebut
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Azwar, Saifuddin. 1997. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Liberty.

Fadli, Khafid Ulul. 2011. Penilaian Ranah Afektif.


(Online)http://kompak21.blogspot.com/2011/11/penilaian-ranah-afektif.html, diakses
Tanggal 15 Februari 2020.

Hamid, Huzaifah. 2009. Ranah Penilaian Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.(Online).


http://zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan-
psikomotorik, diakses tanggal 15 Februari 2020.