Anda di halaman 1dari 10

KELOMPOK 3

MAKALAH AQIDAH AKHLAK

GURU PEMBIMBING : IBU MINARNI

DISUSUN OLEH :

AULIA AZIZAH

ASNI RUSDANG

YOGI PRAMUDYA

MOH.WAHYUDI AP

EGAR

IMAM GHAZALI

TEGAR JULIANTO

INDRA ADHIYAKSA

FIRDHA MENTARI

TAHUN AJARAN 2019/2020


Kata Pengantar

Assalamu’alaikum.wr.wb

Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami menyelesaikan makalah ini dengan penuh
kemudahan tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan
dengan baik.Shalawat menyertai salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta
yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu mengenai Akhlak Pergaulan Remaja
dalam islam.Semoga Makalah ini dapat memberikan Wawasan yang lebih luas kepada
pembaca,walaupun dalam penulisannya masih banyak terdapat kekurangan.Kami mohon untuk
saran dan kritiknya.Terima Kasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb

PALU,22 FEBRUARY 2020

PENYUSUN
AKHLAK PERGAULAN REMAJA

E. Akhlak Dalam Pergaulan Remaja

1.Mengucapkan dan menjawab salam

A.Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam apabila bertemu
sebagaimana Allah berfirman:

‫ع َلى ك ُِل ش َْيءٍ َحسِيبًا‬ َّ َّ‫سنَ ِم ْنهَا أ َ ْو ُردُّو َها إِن‬


َ َ‫َّللاَ َكان‬ َ ْ‫َوإِذَا ُحيِيت ُ ْم بِت َ ِحيَّ ٍة َف َحيُّوا بِأَح‬
Artinya: dan apabila kamu dihormati dengan sesuatu (salam) penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan)
dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.(QS. An-Nisa 4: 86)

Atau apabila bertamu sebagaimana firman Allah:

‫علَى أ َ ْه ِلهَا ذَ ِل ُك ْم َخي ٌْر لَ ُك ْم َلعَلَّ ُك ْم تَذَك َُّرون‬ ُ ِ‫ستَأْن‬


َ ُ ‫سوا َوت‬
َ ‫س ِل ُموا‬ َ ‫يَا أَيُّهَا ا َّل ِذينَ آ َمنُوا ََل ت َ ْد ُخلُوا بُيُوتًا‬
ْ َ ‫غي َْر بُيُوتِ ُك ْم َحتَّى ت‬
Artinya: wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu
lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS An-Nur 24: 27)

B. Salam yang diucapkan minimal adalah “ Assalamu’alaikum” tetapi akan lebih baik dan
lebih besar pahalanya apabila diucapkan secara lebih lengkap.

C. Mengucapkan salam hukumnya sunat, tetapi menjawabnya wajib minimal dengan salam
yang seimbang. Allah SWT berfirman:

‫ع َلى ك ُِل ش َْيءٍ َحسِيبًا‬ َّ َّ‫سنَ ِم ْنهَا أ َ ْو ُردُّو َها ِإن‬


َ َ‫َّللاَ َكان‬ َ ْ‫َو ِإذَا ُح ِييت ُ ْم ِبت َ ِحيَّ ٍة َف َحيُّوا ِبأَح‬
Artinya: dan apabila kamu dihormati dengan sesuatu (salam) penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan)
dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.(QS. An-Nisa 4: 86)

D. Bila bertamu yang mengucapkan salam lebih dahulu adalah yang bertamu, tetapi untuk
bertemu yang lebih dahulu mengucapkan salam adalah yang berada diatas kendaraan kepada
yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang
banyak, dan yang lebih muda kepada yang lebih tua.

E. Salam tidak hanya diucapkan waktu saling bertemu, tapi juga tatkala mau berpisah.

F. Jika dalam rombongan, baik yang mengucapkan maupun yang menjawab salam boleh
hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut.
G. Rasulullah saw melarang orang islam mengucapkan dan menjawab salam ahlul kitab
(Yahudi dan Nasrani)
H. Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya. Salam yang
diajarkan islam adalah salam yang bersifat universal dan tidak terikat dengan waktu.
Bernilai tinggi karena mengandung do’a untuk mendapatkan keselamatan, rahmat dan
berkah dari Allah SWT. Universal karena berlaku untuk seluruh umat islam dimana saja
tanpa mengenal perbedaan bangsa, bahasa dan warna kulit.
2.Berjabat Tangan

Rasulullah Saw mengajarkan bahwa untuk lebih menyempurnakan salam dan menguatkan
tali ukhuah islamiyah, sebaiknya ucapan salam diikuti dengan berjabatan tangan
(bersalaman) tentu jika memungkinkan. Karena berjabatan tangan hukumnya sunah,
demikian pula berwajah seri (riang).[3] Rasulullah Saw bersabda:

‫يتفرقا ان قبل لهما غفر اال فحان فيتصا يلتقيان مسلمين ما‬

Artinya: tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu bersalaman, melainkan Allah akan
mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah. (HR Abu Daud, Tirmizi dan
lain-lain)

Anjuran untuk berjabatan tangan tidak berlaku antar pria dan wanita kecuali antara suami
isteri atau antara seseorang dengan mahramnya. Salah satu hikmah larangan tersebut adalah
sebagai tindakan preventif dari perbuatan yang lebih besar dosanya yaitu perzinaan.
Bersentuhan (walau hanya sebatas tangan) bisa menjadi pintu untuk memasuki kawasan
yang lebih berbahaya lagi.

Mungkin timbul pertanyaan, apakah menolak berjabat tangan itu tidak menimbulkan kesan
angkuh atau menyinggung perasaan orang lain? Penilaian sesorang terhadap sesuatu sangat
ditentukan oleh nilai atau norma yang menjadi pegangannya. Kalau nilai yang menjadi
ukuran bukan nilai islam, bisa jadi kesan seperti itu akan muncul. Tapi secara umum seorang
yang beragama akan menghormati orang lain yang teguh memegang norma agama dalam
kehidupannya.

3.Khalwat ( Berduaan)

Dalam pergaulan muda-mudi, perpaduan hati itu sering dicerminkan melalui tradisi pacaran.
Atau juga yang disebut dengan berkhalwat yang artinya adalah berdua-duaan antara pria dan
wanita yang tidak punya hubungan suami istri dan tidak pula mahram tampa ada orang
ketiga. Termasuk khalwat berdua-duaan ditempat umum yang antara mereka dengan
pasangan itu saling tidak kenal mengenal, atau saling kenal tapi tidak punya kepedulian atau
tidak punya kontak komunikasi sama sekali, sekalipun berada dalam area yang sama, seperti
dipantai, pasar, restoran, apalagi dibioskop dan tempat-tempat hiburan tertutup lainnya.

Kenapa rasulullah saw melarang berkhalwat? Apa bahayanya? Apakah tetap dilarang kalau
masing-masing saling mempercayai?

Dalam hadis yang melarang berkhalwat itu rasulullah menyebutkan bahwa syetan akan
menjadi oknum ketiga. Beliau bersabda:

‫ النساء والخلوة اياك‬. ‫بلينهما الشيطان ودخل اال بمراة رجل خال ما بيده نفسي والدي‬

Artinya: jauhilah berkhalwat dengan wanita. Demi Allah yang diriku berada dalam
genggaman-Nya, tidaklah berkhalwat seorang laki-laki dengan seorang wanita kecuali
syetan akan masuk diantara keduanya. (HR Thabrani)

Syetan akan selalu mencari peluang dan memamfaatkan segala kesempatan untuk
menjerumuskan anak cucu Nabi Adam as. Kalau dua manusia lawan jenis yang secara fitrah
saling memiliki ketertarikan seksual itu lupa dengan Allah, tidak akan ada lagi yang
mengingatkannya. Tapi kalau bersama-sama (tidak hanya berdua), bila ada dua lawan jenis
yang lupa dengan Allah, masih ada yang mengingatkannya.

Dalam banyak kasus muda-mudi mudah sekali jatuh kedalam perzinaan apabila sudah berdua-
duaan, perzinaan tidak hanya terjadi dirumah-rumah tetapi juga terjadi ditempat umum. Jadi
larangan berkhalwat adalah tindakan pencegahan supaya tidak terjatuh ke lembah dosa yang
lebih dalam lagi.

Dalam hadis lain Rasulullah Saw menjelaskan bahwa zina akan masuk lewat bermacam-
macam pintu. Melalui pandangan mata, pendengaran, pembicaraan, rabaan tangan dan ayunan
kaki. Artinya semua organ tubuh itu, kalau tidak dijaga dengan baik, apabila disalah gunakan,
akan menjadi pintu efektif untuk memasuki kawasan perzinaan.

4.Mencari teman yang baik

Dalam hal memilih teman perlu diketahui bahwasanya tidak setiap orang patut dijadikan
teman. Nabi Saw bersabda:

‫المرء على دين خليله فلينطر احدكم من يخا لل‬


Artinya: manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah sesorang dari kamu
melihat siapa yang akan dijadikan temannya

Dalam mencari/ memilih teman haruslah dipertimbangkan beberapa hal:


1. Ia harus seorang yang berakal
2. Berakhlak baik
3. Tidak fasik
4. Tidak melakukan bid’ah
5. Tidak berambisi atas keduniaan.

Oleh karena itu dikatakan bahwa memutuskan hubungan dengan orang dungu/ bodoh adalah
pendekatan kepada Allah. Begitu pula orang fasik, tidak ada mamfaatnya bila berteman
dengannya, karena siapa yang takut kepada Allah, ia tidak akan terus menerus melakukan
dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia tidak aman dari gangguannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ُ‫َو ََل ت ُ ِط ْع َم ْن أ َ ْغ َف ْلنَا قَ ْل َبهُ ع َْن ِذك ِْرنَا َوات َّ َب َع َه َواه‬


Artinya: dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari
mengingat kami serta menuruti hawa nafsunya. (QS. Al-Kahfi: 28)

F.Menghindari Perilaku Tercela


1.Meningkatkan Kadar Imtaq

Imtaq merupakan gabungan dari dua kata yakni kata Iman dan Taqwa yang masing-masing
memiliki pengertian tersendiri. IMTAQ merupakan bentuk prilaku manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan-Nya dan dengan sesama manusia.

Kata iman berasal dari bahasa arab, iman bentuk masdarnya dari kata kerja (‫ امن‬,‫ یؤمن‬,‫إمانا‬
(artinya percaya, setia, aman, melindungi dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.1 Pada
umumnya iman disini selalu dihubungkan dengan kepercayaan atau berkenaan dengan agama.
Iman sering juga dikenal dengan aqidah.

Adapun taqwa yang berasal dari bahasa Arab yakni (‫( التقوى‬yang artinya memelihara diri,
khauf/takut, menjaga diri, waspada, memenuhi kewajiban dll. Taqwa menurut Istilah adalah
menjaga sesuatu perbuatan maksiat dari Allah SWT.6 Firman Allah SWT, dalam Q.S. Al-
Jasiyah/ 45

Dengan demikian jelas dimensi keimanan dan ketaqwaan itu beriringan (bergandengan) satu
dengan yang lain. Kedua dimensi itu, secara konsisten disebutkan di dalam berbagai ayat yang
bertebaran di dalam Al-Qur’an

Beberapa cara yang dilakukan untuk meningkatkan kadar imtaq,yaitu :

1. Memperbaiki Shalat

Untuk bisa meningkatkan iman dan taqwa salah satu caranya adalah dengan memperbaiki
shalat. Shalat saja tidak cukup, melainkan membutuhkan shalat khusuk dan berkualitas.
Itulah shalat yang mencerminkan keimanan dan ketaqwaan

2.Mentadaburi Al-Quran

Darimana kita bisa meyakini dan memiliki ketaqwaan kepada Allah? Tentu saja sumbernya
adalah Al-Quran yang memberikan kita petunjuk. Untuk itu dalam meningkat iman dan
taqwa membaca sumbernya adalah jalan yang tepat. Dengan membaca Al-Quran bukan
berarti membaca teksnya, melainkan mentadaburi isinya

3.Berkumpul dengan Orang Shaleh

4.Membaca Buku-Buku Islam

5.Mempelajari Ilmu Pengetahuan

6.Mentadaburi Alam Semesta

7.Menjalankan Perintah Allah Secara Konsisten

8.Melakukan Evaluasi Diri

9.Tidak Terlena dengan Kehidupan Dunia

2.Meningkatkan Kualitas Akhlak dan Etika Bergaul


Ada beberapa cara dalam meningkatkan kualitas Akhlak :

1. Berbaik sangka

2. Bertaubat
3. Taati syariat agama

4. Berlaku baik dengan sesama

5. Adil

6. Benahi cara berpakaian sesuai dengan syariat agama

7. Ingat sejarah hidup Rasullulah

8. Bergaul dengan mereka yang berakhlak baik

9. Terima nasihat

10. Bertamu dengan sopan

3.Mengatur Waktu dengan Baik

Yang dimaksud dengan “manejemen waktu” dalam pengertian sederhana adalah “mengatur
waktu”. Manajemen pada prinsipnya adalah mengatur, mengorganisasikan, atau
memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk aktivitas dan tujuan yang
bermanfaat. Memang, jika kita mengacu kepada istilah “menajemen” dalam pengertian
sesungguhnya, tentu ada yang disebut: perencanaan, pelaksanaan, kontrol, dan evaluasi.
Dalam memanage waktu, memang seharusnya unsur-unsur itu diterapkan, namun kita bisa
menyebutnya di sini secara lebih longgar sebagai “seni mengatur waktu” dalam pengertian
bahwa meski ada unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi seperti itu, akan tetapi mengatur
waktu tidak boleh juga terlalu ketat. Oleh karena itu, kita menyebutnya sebagai seni mengatur
waktu, dan kita mencoba di sini untuk menghadirkannya dari tinjauan ajaran Islam.

Waktu merupakan hal yang sangat berharga. Orang Arab mengenal pepatah berikut:
Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka
(Waktu adalah seperti pedang, maka jika kamu tidak menebaskannya, ia yang akan
menebasmu)
Dalilnya Q.S Al Hasyr : 59 / 18
(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa/
orang merenungi apa yang telah dilakukan untuk hari esok)
Dalam memanage waktu, menarik sekali bahwa ternyata Nabi mengajar pembagian waktu
selama 24 jam menjadi 1/3 (8 jam), yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk
istirahat. Pertama, 8 jam kerja (katakanlah: masuk kerja jam 8, pulang jam 4 sore) adalah
waktu yang ideal dan sebanding dengan kekuatan tenaga manusia dan proporsional dikaitkan
dengan hak waktu untuk kegiatan lain. Kedua, istirahat dalam pengertian di atas (tidak melulu
tidur) selama 8 jam juga pembagian waktu yang ideal (katakanlah: tidur jam 21.00 [9 malam],
bangun jam 05.00 [subuh]). Ketiga, beribadah selama 8 jam adalah proporsi ideal yang
selama ini kurang kita perhatikan. Memang, harus dicatat bahwa pembagian ini tidak ketat,
dan begitu juga setiap kegiatan tidak monoton, seperti ketika kerja bisa diselingi dengan
istirahat dan shalat. Di samping itu, dalam Islam, memang kerja juga dipandang sebagai

ibadah selama didasarkan atas niat ibadah, bukan semata mengejar kebutuhan materi. Tapi,
memang proporsi waktu untuk ibadah selama ini terasa kurang, padahal kalau kita
memperhatikan dengan seksama pernyataan ayat berikut tampak bahwa proporsi antara
aktivitas duniawi bukanlah fifty-fifty (50%:50%), melainkan untuk akherat lebih banyak
dibandingkan untuk dunia: “dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagian) negeri akherat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan)
duniawi…” (Q.S. al-Qashash (28): 77)

 KESIMPULAN :

Dari pembahasan diatas tentang Akhlak dalam Pergaulan Remaja, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Mengucap dan menjawab salam
2. Berpacaran/ berkhalwat adalah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak punya
hubungan suami istri dan tidak pula mahram, hal ini sangat dilarang oleh rasulullah Saw.
3. Berjabat tangan, hukumnya adalah sunat, dianjurkan oleh Rasulullah untuk lebih
menyempurnakan salam.
4. Memilih teman, hendak lah dalam memilih teman itu mempertimbangkan beberapa hal :

1. Ia harus seorang yang berakal


2. Berakhlak baik
3. Tidak fasik
4. Tidak melakukan bid’ah
5. Tidak berambisi atas keduniaan.

Cara cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar imtaq :

1. Memperbaiki Shalat
2. Mentadaburi Al-Quran
3. Taati syariat agama
4. Berlaku baik dengan sesama
5. Adil
6. Benahi cara berpakaian sesuai dengan syariat agama
7. Ingat sejarah hidup Rasullulah
8. Bergaul dengan mereka yang berakhlak baik
9. Terima nasihat
10. Bertamu dengan sopan

Cara Meningkatkan Kualitas Akhlak :

1.Berbaik sangka

2. Bertaubat

3. Taati syariat agama

4. Berlaku baik dengan sesama

5. Adil

6. Benahi cara berpakaian sesuai dengan syariat agama

7. Ingat sejarah hidup Rasullulah

8. Bergaul dengan mereka yang berakhlak baik

9. Terima nasihat
10.Bertamu dengan sopan

Mengatur Waktu dengan Baik

Dalam memanage waktu, Islam mengajarkan adanya skala prioritas (fiqh al-awlawiyyah).
Misalnya, harus mendahulukan kewajiban daripada yang sunnat. Dalam waktu yang sempit,
misalnya, sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan sunat yang menyebabkan habisnya waktu
untuk mengerjakan yang wajib. Kata kunci dalam memanage segalanya, tidak hanya soal
ibadah, mungkin juga kuliah atau pekerjaan adalah “prioritas” (awlawiyyah). Jika studi/
kuliah merupakan prioritas pertama, maka waktu harus diberikan sebagian besarnya untuk
studi/ kuliah pula, sehingga kegiatan-kegiatan lain yang sifat sekunder berada di bawahnya
dalam skala prioritas. Mungkin banyak orang yang sudah berujar bahwa keberhasilan
bukanlah semata persoalan kecerdasan, sekalipun itu sangat menentukan, melainkan juha
persoalan memanage waktu.