Anda di halaman 1dari 12

Nama : INDAH

NIM : P17334117410

Kelas : D4 Tingkat 3

LAPORAN PRAKTIKUM KE-2 KIMIA KILINIK III

I. Judul Praktikum : Pemeriksaan Aktivitas Enzim Alanin


Aminotransferase
II. Tanggal Praktikum : Selasa/4 Februari 2020
III. Tujuan : Untuk mengetahui aktivitas enzim ALT
IV. Metode : Kinetik IFCC-Pembacaan Absorban
V. Prinsip : L-alanin beraksi dengan 2-oksaloglutarat
dengan bantuan enzim ALT membentuk piruvat
dan L-glutamat. Piruvat yang terbentuk akan
mereduksi NADH dengan bantuan enzim Laktat
De Hidrogenase (LDH) membentuk L-Laktat
dan NAD+.
Aktivitas katalitik ALT ditentukan dengan
mengukur penurunan absorban pada panjang
gelombang 340 nm, diukur pada
Fotometer/Spektrofotometer.

VI. Nilai Rujukan : a. Suhu 30oC


1) Laki-Laki : ≤ 30 IU/L
2) Perempuan : ≤ 25 IU/L
b. Suhu 37oC
1) Laki-Laki : ≤ 45 IU/L
2) Perempuan : ≤ 39 IU/L
VII. Dasar Teori :
Tes fungsi hati adalah sekelompok tes darah yang mengukur enzim atau protein
tertentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umumnya digunakan untuk membantu mendeteksi,
menilai dan memantau penyakit atau kerusakan hati. Pemeriksaan untuk fungsi hati biasanya tidak
menentukan etiologi pasti penyakit hati. Pemeriksaan ini hanya sebagai petunjuk apakah hati
normal atau sakit, dan apabila sakit, seberapa luas dan berat penyakitnya. Sebagai organ tubuh
yang memiliki banyak fungsi penting, seperti menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan
merombak nutrisi menjadi energi, hati memang sepatutnya selalu diperhatikan. Dalam
pemeriksaan fungsi hati, ada beberapa parameter yang harus diperhatikan, yaitu SGOT (Serum
Glutamat Oksaloasetat Transaminase) yang juga dinamakan AST (Aspartat Aminotransferase),
SGPT (Serum Glutamat Piruvat Transaminase) yang juga dinamakan ALT (Alanin
aminotransferase), bilirubin, gamma GT (Glutamat Transferase), ALP (Alkali Fosfatase),
Cholinesterase, Total Protein (rasio albumin/globulin).

Penilaian kadar enzim transaminase merupakan pemeriksaan yang sering digunakan


untuk mengukur level beberapa jenis enzim hati. Enzim tersebut berfungsi sebagai protein spesifik
yang membantu tubuh untuk memecahkan dan memetabolisme substansi yang diperlukan dengan
mengkatalisis reaksi transaminasi (Bernal & Wendon, 2013).

Enzim yang mengkatalisis pemindahan gugus amino secara reversibel antara asam
amino dan alfa-keto ialah enzim aminotransferase yang sering disebut juga dengan enzim
transaminase. Apabila terjadi gangguan fungsi hati, enzim aminotransferase di dalam sel akan
masuk ke dalam peredaran darah, karena terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga
kadar enzim aminotransferase dalam darah akan meningkat (Widman, 1989).

Enzim yang paling sering berkaitan dengan kerusakan hati adalah aminotransferase
yang mengkatalisis pemindahan revensibel satu gugus amino antara sebuah asam amino dan asam
alfa-keto, yang berfungsi dalam pembentukan asam-asam amino yang dibutuhkan untuk
menyusun protein di hati. Salah satunya adalah alanine aminotransferase (ALT) yang
memindahkan satu gugus amino antara alanin dan asam alfa-keto glutamate (Sacher RA, 2004).

Tes yang lazim dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kerusakan hati pada
umumya dilakukan berdasarkan deteksi kebocoran zat – zat tertentu dari sel hati ke dalam
peredaran darah. Sebagian besar dari tes tersebut merupakan tes yang mengukur aktivitas enzim
dalam serum atau plasma. Aktivitas enzim yang paling sering diukur adalah aktivitas enzim
transaminase ( Ali Sulaiman, 2007).

Enzim aminotransferase yang paling sering dihubungkan dengan kerusakan sel hati
adalah alanin aminotransferase (ALT) yang juga disebut serum glutamat piruvat transaminase
(SGPT). Hati adalah satu - satunya sel dengan konsentrasi SGPT yang tinggi, sedangkan ginjal,
otot jantung, dan otot rangka mengandung kadar SGPT sedang. SGPT dalam jumlah yang lebih
sedikit ditemukan di pankreas, paru, limpa, dan eritrosit. Dengan demikian, SGPT memiliki
spesifitas yang relatif tinggi untuk kerusakan hati (Ronald, 2004). Apabila terjadi kerusakan sel,
enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan ke dalam aliran darah. Pengukuran konsentrasi
enzim didalam darah dengan uji SGPT dapat memberikan informasi penting mengenai tingkat
gangguan fungsi hati. Aktivitas SGPT di dalam hati dapat di deteksi meskipun dalam jumlah
sangat kecil (Utami, 2009).

ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang utama banyak ditemukan


pada sel hati serta efektif dalam mendiagnosis destruksi hepatoselular.. Jika terjadi kerusakan hati,
enzim ALT akan keluar dari sel hati menuju sirkulasi darah. Kadar normal ALT darah 5-35 U/L.
Enzim ini juga ditemukan dalam jumlah sedikit pada otot jantung, ginjal, serta otot rangka. Kadar
ALT serum dapat lebih tinggi dari sekelompok transferase lainnya (transaminase), aspartate
aminotransferase (AST) atau serum glutamic oxatoacetic transaminase (SGOT), dalam kasus
hepatitits akut serta kerusakan hati akibat penggunaan obat dan zat kimia, dengan setiap serum
mencapai 200-400 U/L. SGPT digunakan untuk membedakan antara penyebab karena kerusakan
hati dan ikterik hemolitik. Kadar SGOT serum pada ikterik yang berasal dari hati hasilnya lebih
tinggi dari 300 unit, sedangkan yang bukan berasal dari hati hasilnya <300 unit. Kadar SGPT
serum biasanya meningkat sebelum tampak ikterik (Kee, 2007).

Kadar SGPT sering kali dibandingkan dengan kadar SGOT untuk tujuan diagnostik.
SGPT meningkat lebih khas dari pada SGOT pada kasus nekrosis hati dan hepatitis akut,
sedangkan SGOT meningkat lebih khas pada nekrosis miokardium (infark miokardium akut),
sirosis, kanker hati, hepatitis kronis, dan kongesti hati. Kadar SGPT ditemukan normal atau
meningkat sedikit pada kasus nekrosis miokardium. Kadar SGPT kembali lebih lambat ke kisaran
normal dari pada kadar SGOT pada kasus hati Peningkatan SGPT lebih lebih tinggi dari pada
SGOT pada kerusakan yang akut hal ini di sebabkan SGPT merupakan enzim yang hanya terdapat
pada sitoplasma sel hati, sebaliknya SGOT terdapat baik dalam sitoplasma maupun mitokondria
akan lebih meningkat dari SGPT pada kerusakan hati yang lebih dalam dari sitoplasma sel
(Speicher et al. dalam Dedy, 2008).

Enzim SGPT paling banyak ditemukan di dalam hati, sehingga untuk mendeteksi
penyakit SGPT dianggap paling lebih spesifik dibanding SGOT. Peningkatan kedua enzim selular
ini terjadi akibat pelepasan kedalam serum ketika jaringan mengalami kerusakan. Kenaikan kadar
enzim SGPT dalam serum dapat disebabkan oleh sel – sel yang banyak mengandung enzim
transaminase mengalami nekrosis atau hancur, sehingga enzim – enzim tersebut masuk dalam
peredaran darah akibatnya terjadi peningkatan kadar ALT. Pada kerusakan hati yang disebabkan
oleh keracunan atau infeksi, kenaikan SGOT dan SGPT dapat mencapai 20-100x nilai batas
normal tertinggi. Umumnya pada kerusakan hati yang menonjol ialah kenaikan SGPT (Sadikin
2002).

Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT Menurut (Sacher, 2004), kondisi yang dapat
meningkatkan SGPT dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Peningkatan SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitas obat atau
kimia)
2. Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan
empedu ekstra hepatik, sindrom Reye dan infark miokard (SGOT>SGPT)
3. Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec dan sirosis
biliaris

VIII. Alat : 1. Fotometer/Spektrofotometer


2. Clinipette 100 µl dan 1.000 µl
3. Tabung khan
4. Tip (kuning dan biru)
5. Tissue
IX. Bahan : 1. Sampel (serum)
2. Peraksi ALT, terdiri dari:
a. Tris buffer pH 7,5 (100 mmol/L)
b.L-alanin (240 mmol/L)
c. 2-oksaloglutarat (15 mmol/L)
d.NADH (0,18 mmol/L)
X. Cara Kerja 1. Pipet ke dalam tabung sebanyak 100 µl
serum
2. Tambahkan 1.000 µl larutan pereaksi
3. Campur sampai homogeny
4. Inkubasi selama 1 menit
5. Baca pada Fotometer dengan program
Absorban pada panjang gelombang 340
nm atau dapat menggunakan
spektrofotometer
XI. Hasil Pengamatan : 1. Menggunakan Fotometer Kenzamax I
(sampel Asri Faisal Ramadhan)
a. A0 = 1,499
b. A1 = 1,486
c. A2 = 1,471
d. A3 = 1,457
2. Menggunakan Fotometer Microlab
(Sampel Asri Faisal Ramadhan)
Hasil = 25,7 IU/L
XII. Perhitungan 1. Menggunakan Fotometer Kenzamax I
ΔA1/menit = A0 – A1
= 1,499 - 1,486
= 0,013

ΔA2/menit = A1 – A2
= 1,486 - 1,471
= 0,015

ΔA3/menit = A2 – A3
= 1,471 - 1,457
= 0,014

𝛥𝐴1 + 𝛥𝐴2 + 𝛥𝐴3


Aktivitas enzim = x 1746
3
0,013 + 0,015 + 0,014
= x 1746
3
0,042
= x 1746
3

= 24,4 IU/L

2. Menggunakan Microlab
Perhitungan sudah dilakukan di dalam
alat dengan rumus:
𝛥𝐴1 + 𝛥𝐴2 + 𝛥𝐴3
Aktivitas enzim = x 1746
3

Dan di dapatkan hasil sebagai berikut:


Aktivitas enzim = 25,7 IU/L

XIII. Pembahasan :
Pemeriksaan ALT dilakukan pada satu orang pasien menggunakan spektrofotometri
dengan metode kinetik (menurut IFCC), menggunakan dua Fotometer yaitu Kenzamax I dan
Microlab. Pada pasien dengan nama Asri Faisal Ramadhan diperoleh aktivitas enzim ALT
menggunakan Kenzamax I yaitu 24,4 IU/L, sedangkan dengan menggunakan Fotometer Microlab
didapatkan aktivitas enzim AST 15,5 IU/L.

Sampel yang diperoleh berasal dari mahasiswa semester VI dengan nama Asri Faisal
Ramadhan usia 20 tahun. Sampel yang digunakan berupa serum normal, tidak hemolisis, tidak
lipemik dan tidak ikterik. Pada hemolisis terjadi pemecahan membran eritrosit, sehingga dalam
proses tersebut dapat mengeluarkan enzim SGPT yang dalam keadaan normal terdapat dalam
eritrosit dan setelah eritrosit mengalami lisis enzim SGPT keluar ke cairan ekstraseluler, sehingga
dalam tes laboratorium menunjukkan peningkatan kadar SGPT yang dapat juga mengakibatkan
hasil test yang tidak akurat.

Hemolisis merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kadar SGPT,
karena hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam
medium sekelilingnya (plasma). Menurut Riswanto (2010), kerusakan membran sel eritrosit dapat
disebabkan oleh antara lain mengeluarkan darah dari spuit tanpa melepas jarum terlebih dahulu.
Hal tersebut dapat didukung oleh Anonim a (2008), penambahan larutan hipotonis, hipertonis
kedalam darah, penurunan tekanan keras pada permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia
tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah. Apabila sel
eritrosit pecah maka akan menyebabkan isi sel keluar, misalnya: enzim, elektrolit dan hemoglobin
sehingga tampak merah muda sampai merah pada serum.

Menurut Le Fever (1997) dan Ekawati (2009), SGPT merupakan enzim yang utama
banyak ditemukan pada sel hati serta efektif dalam mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim
ini dapat dijumpai dalam jumlah kecil pada darah, otot jantung, ginjal dan otot rangka. Ketika sel
hati rusak, enzim ini merembes ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan kadar SGPT
meningkat. Peningkatan kadar enzim dalam darah merupakan akibat adanya kerusakan sel yang
mengandung enzim atau adanya perubahan permeabilitas membran sel, sehingga makromolekul –
makromolekul dapat menembus dan terlepas ke dalam cairan ekstrasel (Widman, 1989).

Hemolisis dapat dideteksi secara visual dan penting untuk memperkirakannya dengan
analisis langsung. Tingkatan hemolisis juga ditentukan berdasarkan visual yaitu berdasarkan
kepekatan warna yang timbul. Menurut Adiga (2016) hemolisis dapat ditentukan berdasarkan
kadar hemoglobin yang terkandung dalam serum. Hemolisis dapat terjadi secara in vitro dan in
vivo. Menurut Gruyter (2008) hemolisis secara in vitro dapat disebabkan oleh:

1. Pengambilan darah pada daerah yang hematoma


2. Pemasangan torniquet terlalu lama
3. Penarikan syringe plunger terlalu cepat
4. Penggunaan jarum yang terlalu kecil
5. Pemindahan darah dari spuit ke tabung dilakukan dengan tekanan
6. Pengambilan darah menggunakan spuit yang tidak lancar dikarenakan pembuluh darah
tidak tertusuk sempurna
7. Darah terguncang-guncang
8. Langsung memusingkan spesimen tanpa didiamkan sesuai waktu yang disarankan

Pemeriksaan kadar SGPT menurut standar operasional prosedur dengan


menggunakan sampel serum namun ada yang menggunakan sampel plasma antikoagulan EDTA.
Serum pada dasarnya mempunyai komposisi yang sama dengan plasma, namun kandungan
fibrinogen dan faktor pembekuan II, V dan VII-nya telah hilang. Pada proses pembekuan darah
fibrinogen diubah menjadi fibrin maka serum tidak mengandung fibrinogen lagi tetapi zat-zat
lainnya masih tetap terdapat di dalamnya. Fibrinogen adalah protein dalam plasma darah yang
berubah menjadi fibrin sehingga menimbulkan pembekuan darah. Serum pada hakikatnya
mempunyai susunan yang sama seperti plasma, kecuali fibrinogen dan faktor pembekuan II, V,
VIII, XIII yang sudah tidak ada (Widmann, 1995). Penggunaan serum dalam kimia klinik lebih
luas dibandingkan penggunaan plasma. Hal ini disebabkan serum tanpa menggunakan
antikoagulan sehingga komponen - komponen yang terkandung di dalam serum tidak terganggu
aktifitas dan reaksinya. Kandungan yang ada pada serum adalah antigen, antibodi, hormon dan 6-
8% protein yang membentuk darah. Serum mengandung serotonin yang lebih tinggi dibandingkan
plasma karena terjadi pemecahan trombosit selama proses penggumpalan.

Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan SGPT

1. Faktor Pra Analitik


Tahap pra analitik adalah tahap persiapan awal, tahap ini sangat menentukan kualitas
sampel yang nantinya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan yang termasuk tahap pra
analitik yaitu:
a. Pemahaman intruksi dan pengisian formulir
b. Persiapan pasien sebelum uji laboratorium yaitu puasa 8-10 jam hanya bisa minum air
putih dan tidak beraktifitas berat, dapat meningkatkan kadar SGPT
c. Pengambilan sampel plasma dan serum harus dilakukan secara tepat, volume yang
sesuai, gunakan alat dan bahan yang benar berkualitas baik.
d. Komposisi antikoagulan yang tidak sesuai.
e. Hemolisis spesimen darah dapat mempengaruhi temuan laboratorium.
f. Injeksi per IM dapat meningkatkan kadar ALT serum.
g. Obat tertentu yang meningkatkan kadar ALT serum dapat mempengaruhi temuan
pengujian.
h. Komsumsi alcohol.
i. Salisilat yang dapat menyebabkan kadar serum positif atau negatif yang keliru
2. Faktor Analitik
Tahap analitik adalah tahapan pengerjaan pengujian sampel sehingga diperoleh hasil
pemeriksaan, yang termasuk faktor analitik yaitu : Kalibrasi alat laboratorium,
pemeriksaan sampel, kualitas reagen, ketelitian dan ketepatan.
3. Faktor Pasca Analitik Pasca analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan
untuk meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar-benar valid, yang
termasuk faktor pasca analitik yaitu : Pencatatan hasil pemeriksaan, interpretasi hasil dan
pelaporan hasil pemeriksaan

Obat-obatan dapat meningkatkan kadar pemeriksaan enzim, diantaranya antibiotic


(klindamisin, karbenisilin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin,
tetrasiklim), narkotika (meperidine/Demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa,
gunetidin), preparat digitalis, indometasin (indosin), salisilat, rimpafin, flurazepam (dalmane),
prophanolol (Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin. Aspirin dapat
meningkatkan atau menurunkan kadar.

Penyebab paling umum dari kenaikan-kenaikan yang ringan sampai sedang dari
enzim hati ini adalah fatty liver (hati berlemak), penyalahgunaan alcohol dan penyebab-penyebab
lain dari fatty liver termasuk diabetes mellitus dan kegemukan (obesity).

Dalam GPT reagen 1 terkandung tris buffer pH 7,5 yang berfungsi menstabilkan pH
selama reaksi sehingga aktivitas enzim GPT tetap berfungsi dengan baik karena kinerja enzim
sangat sensitif terhadap perubahan pH. Selain itu pada reagen 1 terkandung L-alanin dan LDH.

L-alanin berfungsi sebagai substrat asamamino yang akan direaksikan oleh


enzimGPT menjadi L-glutamat dan piruvatsementara LDH berperan dalam danmembantu dalam
mereduksi piruvat menjadilaktat. Setelah itu diinkubasi di suhuruangan. Setelah proses inkubasi
kemudianditambahkan GPT reagen 2, reagen 2 inimengandung 2-oxoketoglutarat yang
akan bereaksi dengan L-alanin menghasilkanLglutamat dan piruvat. Sedangkan
NADH berfungsi menjadi pengukur perubahan piruvat menjadi laktat. Dilanjutkan dengan
proses inkubasi selama 1 menit lalu diukurmenggunakan spektrofotometer UV
pada panjang gelombang 340 nm.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan hasil pemeriksaan ALT menggunakan


fotometer kenzamax I dengan sampel atas nama Asri Faisal Ramadhan (20 tahun) diperoleh hasil
aktivitas enzim sebesar 24,4 IU/L. Dari hasil tersebut dapat dilihat dengan nilai rujukan normal
ALT ≤ 45 IU/L (Untuk laki-laki dengan suhu 37°C), maka hasil masih berada pada rentang nilai
rujukan. Sedangkan hasil pemeriksaan ALT menggunakan Fotometer Microlab dengan sampel
yang sama yaitu atas nama Asri Faisal Ramadhan (20 tahun) diperoleh hasil aktivitas enzim
sebesar 25,7 IU/L. Dari hasil tersebut dapat dilihat dengan nilai rujukan normal ALT ≤ 45 IU/L
(Untuk perempuan dengan suhu 37°C), maka hasil tersebut masih berada pada rentang nilai
rujukan.

XIV. Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas enzim


ALT pada pasien Asri Faisal Ramadhan (20
tahun) menggunakan alat Fotometer Kenzamax
I didapatkan hasil 24,4 IU/L dimana hasil
tersebut masih terdapat di dalam rentang nilai
normal untuk laki-laki dengan suhu
pemeriksaan 37oC (≤ 45 IU/L).
Hasil yang didapatkan dengan menggunakan
alat Fotometer Microlab didapatkan hasil 25,7
IU/L dimana hasil tersebut masih terdapat di
dalam rentang nilai normal untuk perempuan
dengan suhu pemeriksaan 37oC (≤ 45 IU/L).
XV. Diskusi : Pasien dengan jenis kelamin perempuan. Dari
data sekunder (rekam medis) pasien dinyatakan
hepatitis B. Data hasil pemeriksaan sebagai
berikut:
a. SGOT = 343,3 U/L IU/L (meningkat
bermakna)
b. SGPT = 425 IU/L (meningkat
bermakna)
Keterangan : Peningkatan bermakna : kadar
enzim 2x atau >2x nilai normal

Pemeriksaan darah digunakan untuk


mengevaluasi hepar dapat menunjukkan
kerusakan sel hepar, kolestasis, dan fungsi
hepar. Kadar SGOT/SGPT yang meningkat
disebabkan oleh kerusakan hepatosit. Penyebab
utama peningkatan kadar SGOT/SGPT adalah
fatty liver, hepatitis virus, medication induced
hepatitis¸ hepatits autoimun dan penyakit hepar
alkoholik.
Pada kasus hepatitis B peningkatan kadar SGOT
dan SGPT yang bermakna disebabkan pasien
tersebut menderita Hepatitis Virus Akut dimana
kadar enzim SGOT dan SGPT akan meningkat
secara drastis pada infeksi virus Hepatitis B
akut, hal ini terjadi karena respon imunitas kuat
sehingga sel T yang bertanggung jawab untuk
melawan virus akan merusak sel-sel hati yang
ditinggali oleh virus. Akibatnya sel-sel yang
diserang tersebut menjadi hancur menyebabkan
enzim hati yang berada dalam intrasel tersebut
menjadi keluar ke peredaran darah sehingga
kadarnya dalam serum meningkat (Cahyono,
2010).
XVI. Daftar Pustaka : Hardani, M. (2018). Hubungan Hasil
Pemeriksaan Aspartate Transaminase Dan
Alanine Transaminase Terhadap Derajat
Keparahan Pasien Infeksi Dengue Di Rs Urip
Sumoharjo Bandarlampung.

Sari, I. (2017). PERBEDAAN KADAR SGPT


TERHADAP SAMPEL PLASMA EDTA DAN
SERUM (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Semarang).

Kahar, H. (2017). Pengaruh hemolysis terhadap


kadar serum glutamate pyruvate transaminase
(SGPT) sebagai salah satu parameter fungsi
hati. The journal of muhammadiyah medical
laboratory technologist, 2(1), 38.

Dosen Pembimbing Praktikan

Anda mungkin juga menyukai