Anda di halaman 1dari 21

Nama : INDAH

NIM : P17334117410

Kelas : D4 Tingkat 3

LAPORAN PRAKTIKUM KE-3 KIMIA KILINIK III

I. Judul Praktikum : Pemeriksaan Aktivitas Enzim Gamma


Glutamyl Transpeptidase
II. Tanggal Praktikum : Selasa/11 Februari 2020
III. Tujuan : Untuk mengetahui aktivitas enzim GGT
IV. Metode : Gamma Glutamil p-Nitroanilida / GPNA,
pembacaan absorban
V. Prinsip : Dalam suasana basa GGT mengkatalisis
reaksi L-Gamma Glutamil p-nitroanilida
dengan glisilglisin menjadi L-Gamma
Glutamil glisilglisin dan p-nitroanilida. P-
nitroanilida yang terbentuk sebanding
dengan aktivitas GGT yang ditentukan
dengan mengukur absorban peningkatan
peningkatan P-nitroanilida pada panjang
gelombang 405 nm, pada
fotometer/spektrofotometer.
VI. Nilai Rujukan : Suhu 37oC
1) Laki-Laki : 2-30 IU/L
2) Perempuan : 1-24IU/L
VII. Dasar Teori :
Tes fungsi hati adalah sekelompok tes darah yang mengukur enzim atau
protein tertentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umumnya digunakan untuk
membantu mendeteksi, menilai dan memantau penyakit atau kerusakan hati.
Pemeriksaan untuk fungsi hati biasanya tidak menentukan etiologi pasti penyakit hati.
Pemeriksaan ini hanya sebagai petunjuk apakah hati normal atau sakit, dan apabila
sakit, seberapa luas dan berat penyakitnya. Sebagai organ tubuh yang memiliki banyak
fungsi penting, seperti menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan merombak
nutrisi menjadi energi, hati memang sepatutnya selalu diperhatikan. Dalam
pemeriksaan fungsi hati, ada beberapa parameter yang harus diperhatikan, yaitu SGOT
(Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase) yang juga dinamakan AST (Aspartat
Aminotransferase), SGPT (Serum Glutamat Piruvat Transaminase) yang juga
dinamakan ALT (Alanin aminotransferase), bilirubin, gamma GT (Glutamat
Transferase), ALP (Alkali Fosfatase), Cholinesterase, Total Protein (rasio
albumin/globulin).

Enzim merupakan katalisator yang menjalankan reaksi tanpa langsung


ikut serta dalam reaksi tersebut. Semua reaksi yang dikatalisis oleh enzim menjalankan
fungsinya masing-masing. Enzim terdapat dalam sel dan darah. Terdapat berbagai
macam enzim dengan kadar yang rendah namun tidak diketahui fungsi fisiologisnya.
Keberadaan enzim dalam darah menunjukkan adanya sintesis maupun destruksi sel
secara terus-menerus. Jika kadar suatu enzim dalam darah meningkat maka ada
kerusakan sel yang mengandung enzim tersebut. Penurunan enzim dalam darah dapat
terjadi jika sel yang memproduksi enzim tersebut berkurang, ada hambatan dalam
sintesis protein, maupun adanya sekresi dan degradasi enzim yang meningkat (Susanti
& Fibriana, 2016).

Enzim plasma sebenarnya tempatnya di dalam sel, maka sel enzim


kadarnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadarnya di dalam darah. Enzim ini
dapat ditemukan di dalam darah karena dilepas oleh sel yang rusak atau sel yang mati.
Kadar enzim di dalam darah yang mengalami peningkatan berarti ada peningkatan
jumlah sel yang mati atau rusak, atau ada poliferasi sel (penambahan sel dalam jumlah
yang banyak (Djojodibroto, 2009).

Enzim GGT diproduksi di banyak jaringan, sebagian besar dibuat di


dalam organ hati dan dibawa oleh lipoprotein dan albumin. GGT juga ditemukan di
ginjal (terutama di tubulus renalis proksimal), paru, pankreas, usus, dan endotel
vaskuler. Kadar GGT serum dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: genetika, asupan
alkohol, lemak tubuh, lipid plasma, tekanan darah, kadar glukosa, kebiasaan merokok,
dan berbagai konsumsi obat, misalnya antikonvulsan dan obat-obatan yang
menginduksi enzim (Jiang, 2013 dalam Hairussa, 2014).

Konsentrasi GGT dalam serum dapat meningkat pada respons terhadap


obat dan racun Mekanisme yang biasa untuk efek ini adalah induksi enzim yang
menyebabkan peningkatan produksi dan pelepasan ke sirkulasi. Kadar GGT akan
menunjukkan penurunan yang signifikan satu hingga dua minggu setelah penghentian
agen penyebab (Hairussa, 2014).

Gamma Glutamyl Transferase (Gamma GT) adalah enzim yang dapat


memindahkan asam amino dan peptida ke dalam sel melalui membran sel dalam bentuk
gamma glutamil peptide. Enzim ini ditemukan dalam sitoplasma, namun dalam jumlah
yang yang lebih besar ditemukan di membran sel (Burtis, dkk., 2008). Gamma GT
terutama terdapat pada hati dan ginjal, namun pada jumlah yang lebih sedikit juga
ditemukan pada limpa, kelenjar prostat dan otot jantung (Kee,2008). Pemeriksaan
Gamma GT merupakan pemeriksaan yang sensitif untuk mendeteksi penyakit
hepatobiliar karena keberadaan enzim tersebut di dalam serum terutama berasal dari
hati dan saluran empedu. Kadar Gamma GT akan meningkat lebih awal dan tetap
meningkat selama terjadi kerusakan (Kee, 2008).

Siklus gamma glutamil menggambarkan peran GGT dalam pemindahan


asam amino serta menjaga ketersediaan asam amino sistein yang berperan secara
langsung dalam transfor glutathione ke dalam sel. Hidrolisis glutathione di
ekstraseluler oleh GGT yang akan memungkinkan sistein masuk ke dalam sel untuk
resintesis ulang menjadi glutathione. (Whitifield 2001).

Glutathione merupakan tripeptida yang mengandung asam glutamat,


sistein, dan glisin. GGT akan menghidrolisis ikatan γ-glutamil antara glutamat dan
glisin pada glutathione, yang akan diambil lebih lanjut oleh intraselular dengan adanya
kerja enzim sisteinil-glisin dipeptidase untuk selanjutnya digunakan sebagai prekursor
pada proses sintesis ulang glutathione.(Emdin, 2005)

Gamma Glutamyl Transferase (Gamma GT) berperan dalam siklus γ-


glutamil yang membantu transfer asam amino ke dalam sel. Asam amino ekstrasel akan
bereaksi dengan γ-glutamil-sisteinil-glisin dengan dikatalisis oleh enzim Gamma GT
yang berada di membrane sel. Terbentuklah asam γ-glutamilamino dan sisteinilglisin
dilepaskan. Sisteinilglisin akan dipecah menjadi sistein dan glisin, sedangakan
γglutamilamino melepaskan asam amino di dalam sel dan 5-oksoprolin. Asam amino
akan digunakan untuk kebutuhan sel dan 5-oksoprolin akan diubah menjadi glutamat.
Glutamat yang terbentuk akan bergabung dengan sistein menjadi γ-glutamilsistein. γ-
glutamilsistein bergabung dengan glisin dan membentuk glutation yang dapat
digunakan kembali (Marks, dkk., 2000).

Sisteinil-glisin merupakan pereduksi kuat ion Fe3+ menjadi Fe2+ di


ekstraseluler dan menghasilkan radikal bebas anion superoksida yang dengan cepat
dapat diubah menjadi H2O2. Aktivitas enzim GGT dapat memodulasi status redoks
dari protein golongan tiol pada permukaan sel dan menyebabkan peningkatan kadar
ROS dan peningkatan permeabilitas membran terhadap H2O2.(Ndreppepa,2016).

Struktur dan sifat kimia gamma-glutamyl transferase

GGT merupakan protein yang di produksi secara multigen, terdiri dari 7 gen dan
pseudogen. Hingga kini struktur protein yang tepat, pola ekspresi gen serta mekanisme
pengaturan GGT masih belum diketahui secara pasti. Secara molekuler merupakan
protein permukaan sel atau senyawa glikoprotein dengan berat molekul 68.000 dalton.
GGT memindahkan gugus ˠ- glutamyl dari glutathione dan konjugasi S nya serta
senyawa ˠ- glutamyl ke molekul penyerap ˠglutamil seperti asam amino dan H2O.(
Emdin 2005)

GGT memicu katabolisme glutathione dengan menyediakan pasokan


sistein untuk sel dan memelihara rasio glutathione intraseluler. Pada ekstrasel GGT
akan mendegradasi glutathione dengan menghidrolisis ikatan gammaglutamyl antara
glutamat dan sistein menghasilkan gugus cysteinyl-glycine.( Emdin 2005). Glutathione
memainkan peran penting dalam melindungi sel terhadap stres oksidatif dan GGT
dianggap penting dalam mempertahankan tingkat glutathione intraseluler yang
adekuat.(Whietfiel,2001)

Stres oksidatif terjadi didalam sistem selluler ketika produksi radikal


bebas melebihi kemampuan antioksidan didalam sel. Radikal bebas tidak terbuang
akan menyerang dan merusak protein, lipid dan asam nukleat hal ini akan
menyebabkan penurunan aktivitas biologik dan kehilangan kemampuan metabolisme
energi, transport, dan fungsi utama sel. Akumulasi dari proses ini akan menyebabkan
sel mati melalui mekanisme apoptosis atau nekrotik.(Wilcox et al, 2007)

Peningkatan aktivitas Gamma Glutamyl Transferase (Gamma GT)


sebagian besar disebabkan oleh penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar. Peningkatan
Gamma GT berkorelasi lebih baik terhadap obstruksi dan kolestasis daripada penyakit
hepatoseluler murni (Sacher dan McPherson, 2012).

Pemeriksaan Gamma GT tidak dapat digunakan sebagai parameter


tunggal untuk mendiagnosis kerusakan sel hati, sehingga diperlukan pemeriksaan lain
sebagai pembanding. Pemeriksaan Gamma GT perlu dilakukan karena Gamma GT
merupakan enzim yang sensitif terhadap kerusakan (Kee, 2008). Menurut Soemardjo,
dkk (1983) peningkatan aktifitas enzim Gamma Glutamyl Transferase (Gamma GT)
dalam serum dapat disebabkan oleh:
1. Kolestasis
Gamma GT dapat digunakan sebagai penguat arti diagnostik dari kenaikan
fosfatase alkali. Peningkatan fosfatase alkali yang diikuti dengan kenaikan
Gamma GT, menandakan bahwa kenaikan fosfatase alkali tersebut benar-benar
dari sistem heptobiliar.
2. Hepatitis akut
Hepatitis akut menyebabkan peningkatan Alanin Aminotransferase (ALT),
Aspartat Aminotranferase (AST) dan Gamma GT. Peningkatan Gamma GT
berkisar antara 5-12 harga normal tertinggi dan lebih lama kembali menjadi
normal.
Gamma glutamyl transpeptidase merupakan tes yang paling peka pada penyakit
hepatitis. Kadar serum meningkat (2 sampai 5 kali referensi) dengan kerusakan
sel hati karena hepatitis toksik atau menular (Vroon and Israili, 2000). Tes
gamma glutamyl transpeptidase tidak boleh dianggap sebagai indikator yang
sangat spesifik karena kadar gamma glutamyl transpeptidase bertahan lama
dalam masa penyembuhan pasien hepatitis (Kemenkes RI, 2010). Kolestasis
karena obstruksi empedu intrahepatik atau ekstrahepatik menyebabkan kadar
serum lebih tinggi (5 sampai 30 kali referensi). Peningkatan terjadi lebih awal
dan bertahan lebih lama dari pada alkali fosfatase pada kelainan kolestasis
(Vroon and Israili, 2000).
3. Alkoholisme dan penyakit hati karena alcohol
Gamma GT meningkat paling tinggi dibandingkan dengan enzim-enzim
yang lain pada penyakit hati karena alkohol. Individu yang mengonsumsi
alkohol dalam jumlah yang besar, akan terjadi kenaikan kadar Gamma GT
meskipun belum terjadi kerusakan penyakit hati alkoholik. Peningkatan kadar
Gamma GT terjadi setelah 12-24 jam konsumsi alkohol (Kee,2008).
GGT adalah satu enzim microsomal yang bertambah banyak pada
peminum alkohol. Alkohol bukan saja merangsang mikrosomal memproduksi
lebih banyak enzim ini, tetapi alkohol juga menyebabkan kerusakan sel hati
oleh karena metabolitnya yang menyebabkan peningkatan radikal bebas.
(Whitfield,2001) Pada peminum alkohol kerusakan sel hati oleh karena
metabolit alkohol yang juga menyebabkan stres oksidataif yang ditandai
dengan peningkatan pemakaian glutathione yang disertai peningkatan kadar
melondialdehid MDA.(Ndreepepa,2016)
GGT meningkat tinggi pada pecandu alkohol yang tidak menunjukkan
gejala penyakit hati. GGT yang tinggi secara statistik telah dikaitkan dengan
asupan alkohol, sehingga kadar GGT pada peminum alkohol mungkin
memerlukan rentang referensi yang terpisah dan lebih tinggi.(Whietfiel,2001)
GGT peka terhadap alkohol dan terdapat variasi nilai GGT pada populasi
umum oleh sebab itu diperlukan tes skrining dan intervensi awal dalam
mengurangi bias yang disebabkan oleh GGT pada populasi
umum.(Nagaya,1999)
4. Enzim gamma glutamyl transpeptidase dapat dilepaskan ke dalam sirkulasi dari
ginjal dan prostat, misalnya pada pasien dengan infark ginjal atau kanker
prostat. Pankreatitis dapat meningkatkan kadar gamma glutamyl transpeptidase
dalam serum (Kemenkes RI, 2010).

Peningkatan kadar Gamma GT juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat


fenitoin, fenobarbital, warfarin dan aminoglikosida. Pemakaian obat fenitoin
dan barbiturate dapat menyebabkan uji Gamma GT positif palsu (Kee, 2008)

Pemeriksaan kadar Gamma GT bertujuan untuk mendeteksi adanya


gangguan hepatoseluler, memantau kadar Gamma GT selama terjadi kerusakan hepar
dan selama pengobatan. Kadar Gamma GT juga digunakan sebagai pembanding
dengan pemeriksaan fungsi hati yang lain untuk menentukan disfungsi sel hati (Kee,
2008). Gamma GT bekerja dengan cara mengkatalisis kelompok glutamil dari peptide
ke akseptor (Burtis, dkk., 2008). Metode pemeriksaan Gamma GT adalah fotometri
menurut Szasz/Persijn dengan bahan pemeriksaan berupa serum (Diasys, 2015).
Prinsip pemeriksaan Gamma GT adalah dengan mengkatalisis pemindahan asam
glutamat ke akseptor seperti glisilglisin. Proses ini melepaskan 5-amino-2-
nitrobenzoate yang dapat diukur pada Panjang gelombang 405 nm. Peningkatan
absorbansi pada panjang gelombang ini menunjukkan aktivitas Gamma GT (Diasys,
2015).

VIII. Alat : 1. Fotometer/Spektrofotometer


2. Clinipette 100 µl dan 1.000 µl
3. Tabung khan
4. Tip (kuning dan biru)
5. Tissue
IX. Bahan : 1. Sampel (serum)
2. Peraksi GGT, terdiri dari:
a. Reagen 1 (buffer)
Glisilglisin (62 mmol/L)
TRIS buffer pH 8,1 (95
mmol/L)
b. Reagen 2 (Substrat)
L-G-glutamil p-nitroanilide
(2,0 mmol/L)
X. Cara Kerja 1. Pipet ke dalam tabung sebanyak 50
µl serum
2. Tambahkan 1.000 µl larutan
pereaksi
3. Campur sampai homogeny
4. Inkubasi selama 30 detik
5. Baca pada peningkatan absorban
pada Fotometer/Spektrofotometer
dengan program Absorban pada
panjang gelombang 405 nm
XI. Hasil Pengamatan : Menggunakan Fotometer Kenzamax I
(sampel Intan Dian Sawitri)
a. A0 = 0,848
b. A1 = 0,852
c. A2 = 0,856
d. A3 = 0,860
XII. Perhitungan Menggunakan Fotometer Kenzamax I
ΔA1/menit = A3 – A2
= 0,860 - 0,856
= 0,004

ΔA2/menit = A2 – A1
= 0,856 - 0,852
= 0,004

ΔA3/menit = A1 – A0
= 0,852 - 0,848
= 0,006

𝛥𝐴1 + 𝛥𝐴2 + 𝛥𝐴3


Aktivitas enzim = x
3

1746
0,004 + 0,004 + 0,006
= x 2121
3
0,004
= x 2121
3
= 9,89 IU/L
XIII. Pembahasan :
Pemeriksaan GGT dilakukan pada satu orang pasien menggunakan
spektrofotometri dengan Gamma Glutamil p-Nitroanilida / GPNA, pembacaan
absorban, menggunakan Fotometer yaitu Kenzamax I. Pada pasien dengan nama Intan
Dian Sawitri diperoleh aktivitas enzim GGT menggunakan Kenzamax I yaitu 9,89
IU/L.

Sampel yang diperoleh berasal dari mahasiswa semester VI dengan nama


Intan Dian Sawitri usia 20 tahun. Sampel yang digunakan berupa serum normal, tidak
hemolisis, tidak lipemik dan tidak ikterik. Menurut teori Lippi, dkk (2008) menyatakan
bahwa terjadi penurunanan hasil pemeriksaan aktivitas enzim Gamma GT pada serum
hemolisis yang dibandingkan dengan serum tidak hemolisis. Hemoglobin dalam serum
mempengaruhi hasil pemeriksaan aktivitas enzim Gamma GT. Semakin tinggi kadar
hemoglobin dalam serum maka hasil pemeriksaan aktivitas enzim Gamma GT semakin
turun. Hemoglobin merupakan protein berupa pigmen merah yang mengandung heme
dan globin. Heme mengandung glisin yang akan berperan sebagai inhibitor enzim
Gamma GT sehingga dapat menghambat kerja enzim (Sonntag, 1986). Glisin berperan
sebagai inhibitor non kompetitif untuk enzim Gamma GT (Ali, dkk.,217). Inhibitor non
kompetitif tidak mengubah sisi aktif enzim. Inhibitor ini bekerja dengan cara melekat
pada kompleks enzim substrat sehingga menghambat pembentukan produk (Sinaga,
2012).

Produk pemeriksaan aktivitas enzim Gamma GT yang dihambat oleh


glisin adalah Gamma-glutamyl-glycylglycine. Pembentukan produk tersebut
melepaskan 5-amino-2-nitrobenzoate, sehingga karena pembentukan produk dihambat,
maka 5-amino-2-nitrobenzoate yang dilepaskan juga sedikit. 5-amino-2-nitrobenzoate
diukur sebagai aktivitas enzim Gamma GT, sehingga pada serum hemolisis aktivitas
enzim Gamma GT mengalami penurunan.
Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian Lippi, dkk (2006) yang
berjudul “Influence of Hemolysis on Routine Clinical Chemistry Testing”. Lippi, dkk
(2006) menyatakan bahwa terjadi penurunan yang konsisten pada hasil pemeriksaan
aktivitas enzim Gamma GT dalam serum yang hemolisis. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian ini, dimana terjadi penurunan aktivitas enzim Gamma GT pada semua
variasi kadar hemoglobin dalam serum. Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian
Sonntag (1986) yang berjudul “Haemolysis as an Interference Factor in Clinical
Chemistry” yang menyatakan bahwa serum yang mengandung hemoglobin sebesar 1,7
g/l mengalami penurunan sebesar 0,99 U/L dibandingkan dengan hasil pemeriksaan
aktivitas enzim Gamma GT pada serum yang tidak hemolisis. Sampel yang digunakan
pada kedua penelitian tersebut sama dengan penelitian ini, yaitu serum. Perbedaanya
terletak pada teknik pembuatan serum hemolisis, dimana pada kedua penelitian
tersebut serum dibuat hemolisis dengan cara menambahkan serum hemolisis ke dalam
serum normal.

Berbeda dengan penelitian Koseoglu, dkk (2011) yang menyatakan


bahwa hemoglobin bebas meningkatkan aktivitas enzim Gamma GT dan Alanin
Aminotransferase sebesar 1,2 kali pada konsentrasi hemoglobin plasma 4,5 g/l. Hal ini
dapat disebabkan karena sampel yang digunakan berbeda. Penelitian Koseoglu
menggunakan plasma heparin, Bowen dan Remaley (2013) menyatakan bahwa
pengisian tabung heparin yang tidak penuh dapat menyebabkan peningkatan aktivitas
kreatin kinase dan Gamma GT.

Hemolisis dapat dideteksi secara visual dan penting untuk


memperkirakannya dengan analisis langsung. Tingkatan hemolisis juga ditentukan
berdasarkan visual yaitu berdasarkan kepekatan warna yang timbul. Menurut Adiga
(2016) hemolisis dapat ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin yang terkandung
dalam serum. Hemolisis dapat terjadi secara in vitro dan in vivo. Menurut Gruyter
(2008) hemolisis secara in vitro dapat disebabkan oleh:
1. Pengambilan darah pada daerah yang hematoma
2. Pemasangan torniquet terlalu lama
3. Penarikan syringe plunger terlalu cepat
4. Penggunaan jarum yang terlalu kecil
5. Pemindahan darah dari spuit ke tabung dilakukan dengan tekanan
6. Pengambilan darah menggunakan spuit yang tidak lancar dikarenakan
pembuluh darah tidak tertusuk sempurna
7. Darah terguncang-guncang
8. Langsung memusingkan spesimen tanpa didiamkan sesuai waktu yang
disarankan

Kadar GGT serum dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti (Jiang, 2013 dalam
Hairussa, 2014).

1. Genetika
2. Asupan alcohol
3. Lemak tubuh
4. Lipid plasma
5. Tekanan dara
6. Kadar glukosa
7. Kebiasaan merokok
8. Konsumsi obat, misalnya antikonvulsan dan obat-obatan yang menginduksi
enzim

Spesimen yang digunakan untuk uji laboratorium pemeriksaan gamma


glutamyl transpeptidase yaitu serum atau plasma heparin. Whole blood atau urin tidak
dianjurkan untuk digunakan sebagai sampel (Backman, 2011).

Serum merupakan bagian dari darah tanpa protrombin, faktor VIII, faktor
V dan fibrinogen, serum diperoleh dengan cara darah dimasukkan ke tabung dan
dibiarkan selama 15 menit maka darah akan membeku dan mengalami retraksi,
akibatnya terperas cairan dari dalam bekuan kemudian disentrifugasi dengan kecepatan
3000 rpm selama 15 menit (Pearce, 2000). Serum digunakan sebagai pengganti plasma
untuk mencegah pencemaran spesimen oleh antikoagulan yang mungkin
mempengaruhi hasil pemeriksaan. Serum menjadi sampel yang universal digunakan
untuk pemeriksaan kimiawi. Pengambilan sampel serum, sebaiknya hindari terjadinya
hemolisis (Sacher, 2004). Hemolisis menyebabkan enzim akan bercampur dengan
serum sehingga saat pemeriksaan akan memberikan hasil yang tidak sesuai (Backman,
2011).

Plasma merupakan bagian dari darah yang mengandung bahan-bahan


(protrombin, faktor VIII, faktor V dan fibrinogen) yang keluar dari jaringan. Plasma
darah dapat dipisahkan di dalam sebuah tabung berisi darah segar yang telah dibubuhi
zat antikoaglasi, plasma didapatkan dengan cara pemusingan 3000 rpm selama 15
menit sehingga plasma terpisah dari sel darah yang kemudian diputar sentrifugal
sampai sel darah merah mengendap di dasar tabung, sel darah putih akan berada
diatasnya dan membentuk lapisan buffycoat, plasma darah berada di atas lapisan
tersebut. Plasma darah masih mengandung fibrinogen (Dorlan, 2012).

Faktor yang Mempengaruhi Pemeriksaan Gamma Glutamyl Transpeptidase

1. Hemolisis
Hemolisis adalah pecahnya membran sel eritrosit disertai keluarnya zat-zat
yang terkandung didalamnya, misalnya enzim, elektrolit hemoglobin sehingga
serum atau plasma tampak kemerahan dan dapat menyebabkan kesalahan
dalam analisis (Kahar, 2017). Sampel yang hemolisa diakibatkan oleh beberapa
faktor yaitu: alat yang tidak disposable, pemindahan sampel tidak lewat dinding
tabung dan pencampuran darah yang kurang benar (Gaw, 2011). Hemoglobin
dapat menyebabkan hasil kadar gamma glutamyl transpeptidase palsu lebih
rendah, karena sampel dengan kondisi hemolisis tidak bisa digunakan untuk
pemeriksaan (Backman, 2011).
2. Ikterik Ikterik adalah suatu kondisi serum berwarna kuning coklat. Perubahan
warna dalam serum ini disebabkan karena adanya hiperbilirubinemia
(peningkatan kadar bilirubin dalam darah) (WHO,2002). Serum ikterik dapat
mempengaruhi pengukuran pada panjang gelombang 400-500 nm akibat warna
kuning coklat dari spesimen, sehingga tidak mampu dibaca oleh fotometer
(WHO, 2002).
3. Lipemik Serum lipemik adalah serum yang mengalami kekeruhan disebabkan
oleh peningkatan konsentrasi lipoprotein dan dapat terlihat dengan mata.
Kekeruhan serum ini disebabkan oleh akumulasi partikel lipoprotein, tidak
semua jenis lipoprotein menyebabkan kekeruhan. Partikel terbesar yaitu
kilomikron dengan ukuran 70-1000 nm yang merupakan penyebab utama
kekeruhan serum (Nicolac, 2013).
Lipemik merupakan peningkatan kadar lemak darah untuk sementara. Serum
lipemik yang keruh, putih seperti susu dapat disebabkan karena adanya
kontaminasi bakteri makanan yang baru dikonsumsi, terutama yang
mengandung lemak (WHO, 2002).
4. Suhu dan Waktu
Waktu paro (half life) gamma glutamyl transpeptidase di dalam darah adalah
kira-kira 3 hari. Pemeriksaan yang menggunakan sampel serum dan plasma
harus selesai dalam waktu 8 jam, jika lebih harus disimpan pada suhu +2°C
hingga +8°C. Pemeriksaan yang tidak selesai dalam waktu 48 jam, atau sampel
akan disimpan di luar dalam waktu 48 jam, sampel harus dibekukan pada -15°C
sampai -20°C. Sampel yang beku harus dicairkan hanya sekali. Analit
kerusakan dapat terjadi pada sampel yang berulang beku dan dicairkan
(Backman, 2011).
5. Obat – obatan Konsentrasi gamma glutamyl transpeptidase dalam serum akan
mengalami peningkatan produksi dan pelepasan enzim ke sirkulasi (Backman,
2011). Obat-obatan yang dapat menyebabkan kadar pemeriksaan gamma
glutamyl transpeptidase meningkat seperti, fenobarbital, fenitoin,
methaqualone, amylobarbitone, dichloralpenazone, quinalbarbitone, dan
nitrazepam (Backman, 2011).

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan hasil pemeriksaan GGT


menggunakan fotometer kenzamax I dengan sampel atas nama Intan Dian Sawitri (20
tahun) diperoleh hasil aktivitas enzim sebesar 9,89 IU/L. Dari hasil tersebut dapat
dilihat dengan nilai rujukan normal GGT 1-24 IU/L (Untuk perempuan dengan suhu
37°C), maka hasil masih berada pada rentang nilai rujukan.

XIV. Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas


enzim GGT pada pasien Intan Dian
Sawitri (20 tahun) menggunakan alat
Fotometer Kenzamax I didapatkan hasil
9,89 IU/L dimana hasil tersebut masih
terdapat di dalam rentang nilai normal
untuk perempuan dengan suhu
pemeriksaan 37oC (1-24 IU/L).
XV. Diskusi : Wanita, usia 78 tahun, datang dengan
keluhan perut membesar sejak 1 bulan
SMRS. Pasien menyatakan perut terasa
penuh dan nyeri dalam 2 hari terakhir
semakin menganggu aktivitas dan
istirahat pasien. Perut yang membesar
juga disertai dengan keluhan dada seperti
sesak, mual dan muntah. Mual dan
muntah juga sudah dirasakan sejak 1
bulan yang lalu dan hilang timbul. Muntah
kurang lebih 2 kali dalam sehari berisi
cairan dan makanan dengan jumlah
sekitar 3 sendok makan setiap kali
muntah. Pasien menyangkal ada muntah
bercampur darah atau muntah berwarna
kehitaman. Karena mual pasien
mengatakan nafsu makan menurun.
Pasien juga menyampaikan badan lemas
dan berat badan semakin menyusut.
Pasien juga mengeluh adanya bengkak
pada kedua kaki sejak 6 minggu SMRS
yang membuat pasien sulit berjalan.
Bengkak tidak berkurang ataupun
bertambah ketika berjalan ataupun
diistirahatkan. Riwayat trauma pada kaki
disangkal oleh pasien. Pasien juga
mengatakan pernah BAK berwarna pekat
seperti teh. BAB lunak berwarna hitam
seperti aspal, tanpa lendir sebanyak 2 kali
dalam sehari sekitar 2 minggu yang lalu.
Keluarga pasien mengatakan bahwa
pasien pernah mengalami sakit kuning 3
tahun yang lalu. Mata dan badan pun
terlihat menjadi kuning. Pada saat itu
pasien belum mengalami keluhan lain
sehingga pasien tidak pergi berobat. Pada
pemeriksaan fisik pasien didapatkan
keadaan umum tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis,tekanan darah
160/100 mmHg, nadi 80 x/menit, laju
napas 24x/ menit, suhu 36,8 °C, oedema
pretibialis, conjungtiva anemis, sklera
ikterik, auskultasi paru ronkhi(+),
abdomen simetris, cembung, dinding
perut tegang, nyeri tekan (+), lingkar perut
105cm, hepar tidak teraba, shifting
dullnes (+), ekstremitas oedema. Pada
pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb
10,5 gr/dl (normal: 12- 16 gr/dl), LED
30,3 mm/jam (normal: 0- 20 mm/jam),
leukosit 5300/ul, trombosit 134.000/ul
(normal: 150.000- 400.000/ul), GDS 394
mg/dl (normal: 70-200mg/dl), ureun 26
mg/dl, creatinin 0,96 mg/dl, asam urat
3,92 mg/dl, total protein 5,75 gr/dl,
abumin 3,1 gr/dl, globulin 2,65 gr/dl,
SGOT 29 u/l (normal: 6-25 u/l), SGPT 23
u/l, Gamma GT (GGT) 264 u/l (normal:
< 45 u/l), Bilirubin Total 1,11 mg/dl
(normal: < 1 mg/dl), Bilirubin Direk 0,47
mg/dl (normal: < 0,25 mg/dl), Bilirubin
Indirek 0,64 mg/dl.

Diagnosis pasien ini adalah sirosis hepatis


dekompensata e.c hepatitis B dengan
diagnosis tambahan diabetes meliitus tipe
2 dan hipertensi grade 2.
Pembahasan:
Pada pemeriksaan laboratorium dapat
diperiksa tes fungsi hati yang meliputi
aminotransferase, alkali fosfatase, gamma
glutamil transpeptidase, bilirubin,
albumin, dan waktu protombin. Nilai
aspartat aminotransferase (AST) atau
serum glutamil oksaloasetat transaminase
(SGOT) dan alanin aminotransferase
(ALT) atau serum glutamil piruvat
transaminase (SGPT) dapat menunjukan
peningkatan. AST biasanya lebih
meningkat dibandingkan dengan ALT,
namun bila nilai transaminase normal
tetap tidak menyingkirkan kecurigaan
adanya sirosis. Alkali fosfatase
mengalami peningkatan kurang dari 2
sampai 3 kali batas normal atas.
Konsentrasi yang tinggi bisa ditemukan
pada pasien kolangitis sklerosis primer
dan sirosis bilier primer.
Gammaglutamil transpeptidase (GGT)
juga mengalami peningkatan, dengan
konsentrasi yang tinggi ditemukan
pada penyakit hati alkoholik kronik.
Konsentrasi bilirubin dapat normal pada
sirosis hati kompensata, tetapi bisa
meningkat pada sirosis hati yang lanjut.
Konsentrasi albumin, yang sintesisnya
terjadi di jaringan parenkim hati, akan
mengalami penurunan sesuai dengan
derajat perburukan sirosis.
Pada kasus ini, pada pemeriksaan fungsi
hati ditemukan peningkatan kadar SGOT,
sedangkan SGPT dalam batas normal.
Selain itu, ditemukan juga peningkatan
bilirubin total, dan bilirubin direk.
Gamma- glutamil transpeptidase
(GGT) juga mengalami peningkatan
pada pasien ini. Pemeriksaan hematologi
pada pasien ini menunjukkan penurunan
kadar hemoglobin yang menunjukkan
adanya anemia ringan, yang kemungkinan
disebabkan oleh adanya perdarahan pada
saluran cerna. Selain anemia, ditemukan
juga penurunan kadar trombosit atau
trombositopenia pada pasien.

Kesimpulan:
Sirosis adalah suatu keadaan patologis
yang menggambarkan stadium akhir
fibrosis hepatik yang berlangsung
progresif. Penyebab tersering di Indonesia
kebanyakan disebabkan akibat hepatitis B
atau C.Penatalaksanaan kasus sirosis
hepatis dipengaruhi oleh etiologi dari
sirosis hepatis. Terapi yang diberikan
bertujuan untuk mengurangi progresifitas
dari penyakit.Prognosis sirosis sangat
bervariasi dan dipengaruhi oleh sejumlah
faktor, diantaranyaetiologi, beratnya
kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit
yang menyertai.
XVI. Daftar Pustaka : Rohmah, S., Anggraini, H., & Faruq, Z.
H. Perbedaan Kadar Gamma Glutamyl
Transpeptidase Serum dan Plasma
Heparin.
Khasanah, U. N., Supriyanta, B., &
Nuryani, S. (2019). PENGARUH
HEMOLISIS PADA SERUM TERHADAP
PEMERIKSAAN AKTIVITAS ENZIM
GAMMA GLUTAMYL
TRANSFERASE (Doctoral dissertation,
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).

Munawaroh, S. (2018). HUBUNGAN


KADAR GAMMA GLUTAMIL
TRANSFERASE (GGT) DENGAN
ALKALINE PHOSPHATASE (ALP)
PENDERITA KUSTA SELAMA
PENGOBATAN DI PUSKESMAS
BUARAN KABUPATEN
PEKALONGAN (Doctoral dissertation,
Universitas Muhammadiyah Semarang).
Munawaroh, S. (2018). HUBUNGAN
KADAR GAMMA GLUTAMIL
TRANSFERASE (GGT) DENGAN
ALKALINE PHOSPHATASE (ALP)
PENDERITA KUSTA SELAMA
PENGOBATAN DI PUSKESMAS
BUARAN KABUPATEN
PEKALONGAN (Doctoral dissertation,
Universitas Muhammadiyah Semarang).

Dosen Pembimbing Praktikan