Anda di halaman 1dari 2

Bila menikah adalah anjuran agama, mengapa atheis menikah?

Bertahun-tahun menjadi ateis, ada satu pertanyaan yang tidak pernah bosan ditanyakan oleh para teis,
yaitu pernikahan. Modus yang saya tangkap adalah sebetulnya mereka hanya ingin mengatakan kalau
menikah itu adalah anjuran agama. Dan karena pernikahan adalah hal agamis, bila ateis menikah maka
ateis tersebut sebetulnya juga menjalankan sebuah ajaran agama. Tapi apakah benar demikian?

Begitu banyak teis fanatik yang terobsesi dengan pertanyaan tentang pernikahan. Dan dari banyak
diskusi, saya menyimpulkan bahwa para fanatik ini berpikir bahwa pernikahan adalah satu hal yang
membuat manusia lebih mulia daripada makhluk lain. Sekilas mungkin ini benar, tapi bila kita lihat lebih
jauh, kita sama-sama tahu bahwa pernikahan itu tidak terbatas pada ritualnya.

Banyak manusia yang mementingkan ritual pernikahan akhirnya malah menjalani skenario-skenario
berikut: pernikahan tidak sehat, nikah tidak terencana matang, kekerasan dalam rumah tangga, menikah
untuk motif seksual, nikah-cerai dengan gampangnya, sistem talak, nikah cuma untuk membuat banyak
anak, poligini, bahkan pernikahan anak. Menurut saya, ini adalah hal-hal yang sangat rapuh, tidak sesuai
dengan moralitas universal saat ini, dan tidak bisa ditambal dengan ritual semulia apapun.

Lalu mengapa ateis menikah?

Ateis menikah karena banyak hal. Mengingat bahwa Tuhan tidak ada, maka alasan dan tujuan
pernikahan pun kembali kepada pasangan yang melakukannya. Ada yang menikah untuk legalitas
hukum, ada yang menikah sebagai jaminan hari tua, ada yang menikah karena tradisi, ada yang menikah
karena cinta, ada yang menikah untuk status anak, ada yang menikah karena ingin membina sebuah
keluarga, dan mungkin ada yang menikah karena alasan lain yang tidak saya ketahui. Apa pun itu, ateis
tidak menikah karena berpikir bahwa pernikahan itu dianjurkan oleh sebuah mitos yang kami tidak
percayai. Dan karena pernikahan ala agama tidak semuanya sesuai dengan nilai moral saat ini, maka
tidak seharusnya agama mewadahi sebuah pernikahan. Negaralah yang seharusnya mewadahi sebuah
lembaga pernikahan karena dialah yang memberi jaminan hukum kepada warganya yang menikah,
bukan agama.

Bagaimana dengan ateis yang memiliki pasangan namun tidak mau menikah?
Gervais & FallonSebagai seorang ateis, saya tidak percaya bahwa kebahagiaan dan tujuan hidup
ditentukan oleh sosok imajiner, orang tua di masa lalu, ataupun kode dalam sebuah buku yang berusia
ribuan tahun. Pernikahan bukanlah sebuah tujuan hidup yang mutlak, manusia bahkan bebas untuk
melakukan pernikahan maupun tidak. Dan dalam pemenuhan kebahagiaan, manusia bebas untuk
mencintai dan dicintai oleh siapapun, selama tidak merugikan orang lain. Inilah kenapa ateis tidak
menentang gay marriage, tapi menentang pernikahan di bawah umur. Inilah kenapa ateis tidak
menentang hubungan seksual di luar nikah, tapi menentang poligini dan kekerasan rumah tangga.

Seorang aktor-komedian asal Inggris yang juga seorang ateis aktif, Ricky Gervais, memilih untuk tidak
menikah. Saat ditanya, Rick menjawab,

Buat apa melakukan sebuah ritual di mata tuhan kalau tuhannya saja tidak ada? Kami juga memutuskan
untuk tidak punya anak, karena dunia ini udah terlalu banyak isinya.

Dan ya, “hubungan” Ricky Gervais dan pacarnya Jane Fallon ini sudah berjalan lebih dari 30 tahun, lebih
langgeng dari kebanyakan pernikahan lainnya. Luar biasa bukan?

Ada banyak alasan dan tujuan yang membuat seseorang memutuskan untuk menikah ataupun tidak
menikah. Saya tidak mengatakan bahwa ateis dijamin punya relationship yang lebih baik daripada teis,
namun tidak adanya kewajiban dan suruhan dalam pernikahan membuat seorang ateis lebih leluasa
untuk menimbang alasan yang dia miliki dengan lebih matang. Dan sebagai ateis yang hopelessly
romantic, menikah atau pun tidak, saya merasa bahwa cinta adalah satu alasan yang lebih indah
daripada ritual apa pun.