Anda di halaman 1dari 16

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI
Lahirnya istilah linguistik forensik sebagai cabang linguistik yang berfokus pada kajian bahasa
di ranah hukum telah menandai aktivitas kajian bahasa yang diterapkan dalam konteks hukum
di jaman modern. Pada masa awal kelahiran linguistik forensik, ilmu ini dihadapkan pada
permasalahan yang mempertanyakan bidang garapan atau objek kajian secara tegas dan jelas.
Linguistik forensik bersifat interdisiplin, yaitu ilmu yang menggabungkan dua bidang kajian,
dalam hal ini linguistik dan hukum, ke dalam satu kajian. Istilah forensik yang menempel pada
kata linguistik memberi nuansa makna bahwa cabang linguistik terapan ini memiliki kekhasan
sebagai ilmu yang mengkaji bahasa hukum. Secara etimologi, kata forensik berasal dari kata
forēns(is), yang berasal dari bahasa Latin dan bermakna “dari luar”. Kata itu sepadan dengan
kata forum yang berarti "tempat umum". Jika ditinjau dari proses pembentukan katanya
(proses morfologis), kata forēns(is) dibentuk dari kata forum yang suku kata (syllabi)
terakhirnya, yaitu ‘rum’, dilesapkan (deletion) pada saat digabungkan dengan akhiran infleksi
(–ensis), sehingga proses penggabungan itu membentuk kata forēns(is). Dalam bahasa
Indonesia, kata forensik dipahami dengan makna yang sangat khusus (sempit), yaitu (1)
‘cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penerapan fakta medis pada masalah
hukum’, dan (2) ‘Ilmu bedah yang berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang yang
ada kaitannya dengan kehakiman dan peradilan’. Makna kata forensik yang terdapat dalam
KBBI Edisi IV ini merupakan definisi yang mengalami penyempitan makna. Sebab, KBBI
hanya menempatkan forensik pada perspektif ilmu kedokteran dan bedah saja. Sebetulnya,
makna inti dari kata forensik adalah ‘yang ada kaitannya dengan kehakiman dan peradilan’;
perihal apa yang ada kaitannya dengan kehakiman dan peradilan itu, salah satu di antaranya
adalah linguistik, bukan kedokteran saja. Secara operasional, linguistik forensik dapat diartikan
sebagai penggunaan pengetahuan atau metodologi linguistik untuk memecahkan masalah
faktual yang terkait dengan sengketa hukum (Tiersma, 2010; Gibbons, 2003; Heydon, 2005).
Linguistik forensik berkembang melalui berbagai kajian yang dilakukan, baik secara
teoretis maupun praktis. Kajian teoretis yang dilakukan telah memunculkan beragam pemikiran
yang semakin melengkapi khasanah keilmuan linguistik forensik sebagai cabang ilmu yang

6
mapan. Sementara, kajian praktis, selain bermanfaat dalam menyelesaikan sengketa hukum,
berfungsi juga dalam merekontruksi pengetahuan baru mengenai linguistik forensik. Teori
bahasa yang selama ini berkembang dalam bingkai linguistik forensik dapat diandalkan untuk
mengatasi berbagai persoalan, baik itu persoalan yang terkait dengan bahasa sebagai alat
penyampai hukum, bahasa sebagai instrumen dalam proses penegakan hukum, dan bahasa
sebagai alat bukti kejahatan.
Tantangan besar yang dihadapi oleh para praktisi linguistik forensik, bukan terletak
pada persoalan yang terkait dengan keterandalan hasil kajian ilmu ini. Hal yang justru menjadi
tantangan terbesar linguistik forensik adalah kesiapan dan kemampuan para praktisi linguistik
forensik untuk menerapkan kajian linguistik ke dalam berbagai isu hukum yang terjadi di
masyarakat. Inisiatif yang dilakukan Eades (2005) merupakan bukti yang menunjukkan bahwa
hasil kajian linguistik dapat diandalkan dalam praktik hukum di suatu negara, yaitu dalam hal
mengidentifikasi kewarganegaraan seseorang. Hal tersebut dilakukan dengan cara menganalisis
aspek bunyi bahasa yang dilakukan melalui analisis fonologi. Kajian tersebut diperkenalkan
Eades (2005) untuk mengidentifikasi kewarganegaraan seseorang. Cara yang dikembangkan
Eades (2005) pada saat ini telah diterapkan sebagai prosedur baku di beberapa negara,
khususnya di beberapa negara Eropa yang menjadi destinasi para imigran dan pencari suaka
dari negara-negara Afrika dan Asia.
Berbeda dengan kajian yang dilakukan Eades (2005), Solan dan Tiersma (2005)
memberikan perhatian khusus terhadap masalah keterandalan hasil kajian identifikasi penutur
dan penulis anonim yang diduga sebagai pelaku kejahatan. Berdasarkan kedua ilustrasi tersebut,
pokok persoalan yang dialami para praktisi linguistik forensik, tidaklah terkait dengan
anggapan yang menyebutkan bahwa analisis linguistik tidak dapat diandalkan secara valid
untuk menangani isu-isu hukum yang terjadi di masyarakat, tetapi terkait dengan kemampuan
para praktisi linguistik forensik untuk menerapkan kajian bahasa dalam menyelesaikan
permasalahan hukum di tengah kehidupan masyarakat.
Beberapa ahli linguistik, memandang linguistik forensik sebagai bidang yang lebih
besar dibandingkan bahasa hukum. Namun demikian, sesungguhnya, hal tersebut tidaklah
tepat. Sebab, istilah forensik dalam konteks hukum merujuk kepada upaya yang dilakukan
seseorang untuk menyelesaikan masalah kriminal. Bahkan, istilah forensik sering digunakan
untuk merujuk pada upaya ilmiah yang ditempuh guna mengatasi masalah faktual yang terkait
dengan sengketa hukum. Atas dasar itu, perlu untuk ditegaskan bahwa dalam konteks ini, istilah
forensik tidak merujuk pada pengertian analisis hukum atau cara kerja hukum secara umum,

7
tetapi merujuk pada pengertian penerapan metode atau pengetahuan untuk menyelesaikan
permasalahan hukum dalam kehidupan masyarakat.
Isitlah forensik yang terdapat dalam linguistik forensik memiliki beban makna yang
berpusat pada kata linguistik, yang sering didefinisikan sebagai ilmu pengkajian bahasa secara
formal. Istilah linguistik sesungguhnya dapat dipahami untuk merujuk kepada berbagai jenis
kajian bahasa. Namun demikian, pada kenyataannya, istilah linguistik cenderung digunakan
untuk mengidentifikasi kajian bahasa secara formal, yaitu kajian yang dikaitkan dengan nama-
nama besar seperti Bloomfield dan Chomsky di Amerika Serikat, serta Roman Jacobson dan
Ferdinand de Sausure di Eropa. Dengan alasan tersebut, para ahli yang terlibat dalam kajian
bahasa hukum tidak pernah menganggap, bahkan tidak pernah merasa, bahwa kerja akademik
yang mereka lakukan adalah bagian dari sebuah tradisi yang dikembangkan di dalam linguistik
yang terlanjur dipahami sebagai kajian bahasa secara formal (struktural).
Pada intinya, linguistik forensik merupakan bagian penting terkait bahasa dan hukum.
Namun demikian, ilmu ini tidak diidentikkan sebagai satu disiplin yang luasnya melebihi
cakupan bahasa dan hukum. Perkembangan linguistik forensik sampai saat ini telah mengikis
permasalahan besar yang pada saat itu muncul dengan mempertanyakan cakupan bidang atau
objek kajian cabang ilmu ini secara spesifik. Penelitian yang dilakukan dengan objek kajian
bahasa dan hukum telah dilakukan secara intensif dalam beberapa dekade terakhir. Kajian
semacam ini telah membentuk tiga area bidang kajian yang dikenal di dalam linguistik forensik,
yaitu: (1) bahasa sebagai instrumen hukum (Marmor, 2013), (2) bahasa dalam proses
penegakan hukum (Cotterill, 2003), dan (3) bahasa sebagai alat bukti pidana (Tiersma, 2010).
Pandangan filasafat telah menunjukkan bahwa aspek ontologis dan epistimologis,
ketiga bidang kajian yang dikenal dalam linguistik forensik itu, secara substansif sangat
berbeda. Namun demikian, aspek aksiologis ketiganya bermuara pada satu kepentingan yang
sama, yaitu untuk penegakan hukum (law enforcement) demi terciptanya keadilan yang dicita-
citakan. Kajian linguistik forensik, sampai saat ini, semakin menunjukkan perkembangan kajian
bahasa dalam konteks penegakan hukum yang terjadi di sejumlah negara, khususnya di negara
maju yang memiliki komitmen tinggi terhadap proses penegakan hukum yang seadil-adilnya di
dalam kehidupan bernegara.
Sejarah lahirnya linguistik forensik menurut Gibbons (1996: h.290) selalu dikaitkan
dengan tindakan yang dilakukan oleh seorang profesor linguistik dari Inggris, Jan Svartvik,
yang berhasil menyelesaikan persoalan dalam konteks pemidanaan di negaranya. Kejadian itu
selalu dirujuk sebagai fakta sejarah yang menandai lahirnya lingusitik forensik di era modern.

8
Tindakan yang dilakukan Svartvik merupakan sebuah tugas yang diberikan Royal Comission,
setelah menerima banyaknya laporan terkait maraknya manipulasi alat bukti yang dibuat
penyidik di dalam proses pemidanaan.
Alat bukti yang dimanipulasi adalah pernyataan tersangka yang disusun penyidik di
dalam BAP (police investigation record) pada saat pemeriksaan dilaksanakan. Untuk
membuktikan dugaan itu, Svartvik menganalisis rekaman pemeriksaan polisi-tersangka. Hasil
analisis Svartvik berhasil membuktikan rekayasa yang dilakukan penyidik ketika memeriksa
seorang tersangka, yaitu Timothy John Evans, yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan.
Tersangka menolak pernyataan yang dijadikan polisi sebagai alat bukti di persidangan karena
pernyataan itu, selain tidak sesuai dengan pengakuan yang telah disampaikan Evabs di ruang
pemeriksaan, juga tidak menggambarkan detil peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Dalam analisisnya, Svartvik berhasil mendeteksi rekayasa dalam pernyataan yang
diklaim penyidik sebagai pernyataan tersangka. Analisis Svartvik mampu menunjukkan bahwa
pernyataan tersangka tidak natural karena ditemukan adanya ciri-ciri linguistik yang bersifat
manipulatif dalam pernyataan yang dituliskan penyidik di dalam BAP. Selain tidak memenuhi
ciri bahasa lisan, pernyataan itu ditulis berdasarkan kesimpulan sepihak yang dibuat penyidik.
Dengan kata lain, keterangan di dalam BAP bukan merupakan keterangan yang disampaikan
tersangka. Terungkapnya peristiwa itu berbuntut pada pembebasan tersangka dari segala
dakwaan yang disangkakan kepadanya.
Kisah lain mengenai pemanfaatan analisis bahasa di ranah hukum dikemukakan oleh
Shuy (1997) yang menyoroti kasus Ernesto Miranda di Amerika Serikat. Kasus yang terjadi
pada tahun 1963 ini menyeret nama Ernesto Miranda sebagai terdakwa yang telah dipidana
dengan hukuman 12 tahun penjara atas tuduhan perampokan bersenjata. Atas dakwaan itu,
Miranda mengajukan banding dengan menolak alat bukti yang diajukan penyidik di
persidangan. Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang diklaim penyidik sebagai
pernyataannya dan dijadikan sebagai alat bukti di persidangan, diperoleh dengan tindakan
intimidatif yang dilakukan selama pemeriksaan berlangsung. Atas dasar itu, Miranda menolak
keterangan yang disusun penyidik sebagai pernyatannya karena pernyataan tersebut tidak
menggambarkan pengakuan yang secara sukarela disampaikan oleh Miranda.
Shuy (1997: h.180) melaporkan bahwa berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap
hasil dan proses pemeriksaan polisi, ditemukan adanya bukti ketidakwajaran yang dilakukan
terhadap Miranda di dalam pemeriksaan perkaranya. Dalam hal ini, Shuy menemukan adanya
kesalahan prosedur yang dilakukan penyidik ketika memeriksa Miranda. Temuan analisis

9
menunjukkan bahwa persoalan ini dipicu karena penyidik dengan sengaja mengabaikan hak-
hak Miranda sebagai seorang tersangka, yaitu hak untuk diam dan hak untuk didampingi
pengacara selama pemeriksaan berlangsung. Hal tersebut, menurut Shuy, dilakukan agar
penyidik dapat mengarang pernyataan tersangka demi tertanganinya perkara tersebut dengan
cepat sehingga tersangka yang diduga sebagai pelaku perbuatan pidana ini dapat diseret ke
dalam penjara secepat-cepatnya.
Berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku di Amerika Serikat, tindakan yang
dilakukan penyidik itu merupakan pelanggaran berat sehingga dakwaan materil yang
disangkakan kepada terdakwa harus dibatalkan demi hukum. Hak tersangka di dalam proses
peradilan merupakan hak yang dijamin oleh Undang-undang secara mutlak. Atas dasar itu,
pengadilan banding akhirnya membebaskan Miranda dari segala tuntutan. Kisah ini
melambungkan istilah Miranda Rights sebagai hak seorang tersangka ketika terlibat dalam
pemeriksaan perkara pidana di Amerika Serikat.
Gibbons (1990: h.232) menyampaikan kisah lain tentang keberhasilan seorang ahli
sosiolinguistik yang menganalisis kasus hukum di Australia. Upaya yang dilakukan ahli itu
mampu membebaskan jeratan pidana yang disangkakan kepada seorang tersangka laki-laki.
Dengan menganalisis rekaman pemeriksaan yang dilakukan polisi terhadap seorang tersangka,
ahli menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan polisi cacat hukum. Hasil analisis
menegaskan bahwa pemeriksaan yang dilakukan polisi sangat merugikan tersangka. Hal itu
terjadi karena ketika memeriksa tersangka yang diketahui seorang Aborigin, penyidik
melakukan pemaknaan keliru terhadap kode bahasa Inggris yang digunakan si tersangka.
Analisis ahli menyimpulkan bahwa sistem bahasa yang digunakan polisi-tersangka di dalam
proses pemeriksaan berbeda. Akibatnya, penyidik banyak menuliskan pernyataan tersangka
dengan cara menafsirkan kode bahasa tersangka berdasarkan pemaknaan yang berlaku di dalam
sistem bahasa Inggris yang dikuasainya. Padahal, sistem bahasa penyidik dan tersangka berbeda
secara signifikan, sekalipun ditemukan adanya kesamaan kode (bentuk) yang mereka gunakan.
Akibatnya, penafsiran penyidik terhadap maksud tersangka dan terhadap apa yang
seharusnya diartikan tidak sesuai dengan pemaknaan yang berlaku dalam sistem bahasa si
tersangka. Walaupun penyidik mengklaim bahwa tersangka menggunakan kode bahasa yang
sama ketika berinteraksi di ruang pemeriksaan, Ahli berhasil memastikan bahwa sistem bahasa
penyidik-tersangka berbeda. Atas dasar itu, Ahli menegaskan, karena sistem bahasa yang
berbeda, proses pertukaran pesan di antara penyidik-tersangka tidak berjalan dengan baik dan
wajar. Dengan temuan itu, juri pengadilan di Australia memutuskan untuk membebaskan

10
tersangka dari jeratan hukum. Dalam kasus ini, penyidik semestinya tidak memaksakan
melakukan pemeriksaan kepada tersangka tanpa didampingi seorang penerjemah. Sebab,
penyidik pasti merasakan adanya kejanggalan yang muncul dalam bahasa yang digunakan si
tersangka ketika melakukan pemeriksaan.
Di Indonesia pemanfaatan ilmu bahasa untuk kepentingan hukum mulai menunjukkan
perkembangan yang positif. Dilibatkannya ahli bahasa di dalam proses peradilan pidana dalam
satu dekade terakhir, semakin banyak dilakukan. Keterlibatan ahli bahasa dalam persoalan
hukum di Indonesia tidak hanya terjadi pada urusan penanganan kasus pidana saja, tetapi juga
mulai dilibatkan sebagai pendamping dalam proses penyusunan perundang-undangan oleh
pihak legislatif. Kenyataan ini, tentu saja, menggambarkan kemajuan yang sangat positif
dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

B. HASIL YANG SUDAH DICAPAI


Hasil yang sudah dicapai dalam kurun 5 (lima) waktu terakhir melalui penelitian dengan fokus
terhadap bahasa yang digunakan penyidik di dalam proses pemeriksaan perkara pidana adalah
sebagai berikut.
1. Penelitian yang dilakukan Bachari, dkk. (2013) dengan judul “Analisis Pragmatik terhadap
Tuturan yang Berdampak Hukum (Studi Kasus dalam Pembuktian Perkara Pidana
Penipuan, Pemalsuan, dan Pencemaran Nama Baik yang Ditangani Satreskrim Polrestabes
Bandung)”. Penelitian tersebut telah mengungkap model pembuktian pidana penipuan,
pemalsuan, dan pencemaran nama baik berbasis teori pragmatik (analisis penggunaan
bahasa).
2. Penelitian yang dilakukan Aziz, E. A., dkk. (2013) dengan judul “Ancangan baru aplikasi
linguistik untuk sistem peradilan di Indonesia: Sebuah contoh penyiapan berita acara
pemeriksaan (BAP) oleh polisi versus pengakuan terperiksa”. Penelitian tersebut berhasil
memberikan masukan bagi penyidik untuk memanfaatkan ilmu bahasa (linguistik) di dalam
menyusun berita acara pemeriksaan.
3. Penelitian yang dilakukan Bachari, dkk. (2017) dengan judul “Wawancara Investigatif dan
Daya Bukti Berita Acara Pemeriksaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia”.
Penelitian tersebut telah mengungkap bagaimana penerapan teknik wawancara investigatif
yang diterapkan penyidik dapat berperan signifikan terhadap daya bukti berita acara
pemeriksaan yang merupakan alat bukti surat dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.

11
4. Penelitian yang dilakukan Bachari, dkk. (2018) dengan judul “Arah dan Ragam Pertanyaan
Penyidik dalam Pemeriksaan Perkara Pidana Anak yang Berkonflik dengan hukum”.
Penelitian ini telah mengungkap bagaimana arah dan ragam pertanyaan penyidik dalam
mengumpulkan informasi bernilai bukti dalam pemeriksaan perkara pidana anak yang
berkonflik dengan hukum.

C. STUDI PENDAHULUAN YANG TELAH DILAKSANAKAN


Penelitian tentang bahasa dan hukum yang merupakan cikal bakal kajian linguistik forensik
seperti yang kita kenal pada saat ini, sebenarnya, telah dilakukan di jaman Yunani Kuno, yaitu
ketika para ahli di dataran Eropa melakukan kajian mengenai lawmaking dan penulisan hukum
yang terjadi dalam konteks masyarakat Islandia. Di samping itu, salah satu karya representatif
lainnya terkait bahasa dan hukum telah ditulis oleh David Mellinkoff (1963). Buku tersebut,
secara sistematis, telah berhasil mendiskusikan sumber bahasa hukum dalam pengembangan
dan transmutasi bahasa hukum Ingris-Amerika.
Pada kurun waktu 1960-an, seiring dengan meluasnya perkembangan kajian linguistik,
ada banyak ahli sosiologi, psikologi, dan ahli hukum yang berperan penting dalam
mengembangkan kajian bahasa hukum. Mereka secara aktif terlibat dalam penelitian sebuah
ilmu baru yang bersifat terapan, yaitu linguistik forensik. Sekalipun kajian bahasa hukum telah
mulai dirintis pada abad pertengahan dan berkembang pada akhir 1960-an, sesungguhnya
penanda lahirnya linguistik forensik di jaman modern ditandai oleh terbentuknya organisasi
profesi yang bernama International Association of Forensic Linguists (IAFL). Organisasi yang
menghimpun para akademisi bahasa hukum tersebut dilakukan melalui sebuah kongres di
Bonn, Jerman, pada 1991.
Pada 1994, IALF untuk pertama kalinya menerbitkan The International Journal of
Speech, Language and the Law. Jurnal inilah yang memicu maraknya dilakukan kajian
linguistik forensik, khususnya di wilayah Eropa. Sebelum jurnal itu terbit, corak kajian bahasa
dan hukum lebis banyak dilakukan dalam bentuk analisis korpus bahasa hukum yang bersumber
dari praktik penegakkan hukum, baik di tingkat pengadilan maupun kepolisian. Jurnal yang
diterbitkan IALF ini semakin mengokohkan landasan keilmuan linguistik forensik yang
berkembang dengan pesat. Orientasi kajian linguistik forensik tidak lagi mengarah pada
masalah penggunaan bahasa dalam praktik hukum saja, tetapi mulai mengarah pada persoalan
bahasa yang digunakan di dalam proses penafsiran hukum, alat bukti kejahatan, dan analisis
anonimisasi.

12
Di masa awal penerbitannya, jurnal yang diterbitkan IALF ini banyak memuat artikel
hasil penelitian yang terkait dengan penggunaan bahasa di ruang sidang (language in the court).
Makalah itu berasal dari narasumber kongres IALF pertama yang dilaksanakan di Bonn,
Jerman. Waktu itu, jarang sekali artikel yang memuat hasil penelitian terkait klausul hukum
dalam wujud bahasa tulis (Gao, 2010: h.129). Sampai saat ini, para ahli linguistik forensik dari
berbagai negara mengembangkan linguistik forensik sebagai disiplin ilmu yang fungsional
karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat di setiap negara.

1. Penelitian terkait Bahasa sebagai Instrumen Hukum


Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk menyatakan maksud hukum, sekaligus untuk
mendokumentasikan hukum (Trosborg, 1997). Ada banyak penelitian yang mengambil objek
bahasa sebagai instrumen di dalam dokumen hukum. Penelitian yang dilakukan Trosborg
(1997) terkait retorika bahasa di dalam dokumen hukum (statuta dan perjanjian kontrak)
merupakan salah satu contoh penelitian bahasa yang diposisikan sebagai instrumen hukum.
Dalam penelitiannya itu, Trosborg (1997) menggunakan teori analisis wacana kritis untuk
mengungkap makna interpersonal sebagai wujud praktik sosial yang terdapat di dalam kedua
dokumen hukum yang diteliti, yaitu statuta dan surat perjanjian kontrak.
Penelitian yang dilakukan Barak (2005) merupakan penelitian yang menyajikan teori
interpretasi hukum komprehensif, yang ditulis oleh seorang hakim dan ahli teori hukum
terkemuka. Sampai dengan saat ini, para filsuf dan ahli hukum menerapkan teori penafsiran
yang berbeda dalam memahami konstitusi, undang-undang, peraturan, perjanjian, dan kontrak.
Barak (2005) berpendapat bahwa pendekatan alternatif, yaitu penerjemahan bertujuan,
memungkinkan para ahli hukum dan para ilmuwan untuk mendekati berbagai macam teks
hukum dengan cara yang sama, tapi tetap peka untuk mempertahankan perbedaan yang penting.
Selain itu, terlepas dari penerjemahan bertujuan yang diposisikan sebagai teori pemersatu, teori
ini tetap lebih unggul dibandingkan metode atau pendekatan penafsiran lain yang digunakan
untuk menangani setiap jenis teks hukum secara terpisah.
Barak (2005) menjelaskan penerjemahan bertujuan sebagai sebuah pendekatan untuk
menginterpretasi semua jenis teks hukum yang harus dimulai dengan menetapkan sebuah
konsep. Barak (2005) mengembangkan teori ini dengan para ilmuwan lainnya dengan
memperhatikan aplikasi praktisnya bagi masyarakat. Penelitian ini semakin memperkaya
khasanah pengetahuan terkait metode penafsiran teks hukum yang terlahir sebelumya, seperti
pendekatan berbasis teks (tekstual dan neotextualists) yang digagas Scalia (1989), pendekatan

13
penafsiran pragmatis yang dikembangkan Posner (1996), dan pendekatan filosofi hukum yang
dikembangkan Dworkin (1986). Dibandingkan dengan ketiga pendekatan yang lebih duli
diperkenalkan oleh para penulisnya sebagai sebuah pendekatan untuk menafsirkan teks hukum,
pendekatan yang diperkenalkan Barak (2005) memberikan kontribusi yang sangat besar bagi
para ahli hukum dan diandalkan juga sebagai pendekatan utama yang digunakan oleh para
tokoh hukum terkemuka dalam praktik di dunia peradilan.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan Tiersma (1999) merupakan penelitian penting
yang terkait dengan bahasa sebagai instrumen hukum. Dalam hal ini, Tiersma (1999) mampu
menjawab sejumlah permasalahan yang terkait dengan berbagai dokumen hukum, seperti
statuta, putusan pengadilan, perjanjian kontrak, yang bahasanya cenderung tidak dapat
dipahami. Melalui tinjauan sejarah bahasa hukum yang sangat dinamis, Tiersma (1999)
menjelaskan terjadinya fenomena ini secara gamblang. Dengan alasan yang dikemukakan
Tiersma (1999) kita dapat memahami mengapa pengacara ingin selalu berpegang teguh pada
bentuk bahasa semacam ini. Menurut Tiersma (1999) hal itu tidak harus menjadi ciri yang
membedakan sistem hukum dengan bidang yang lain sekaligus tak dapat dilepaskan dari bidang
hukum.

2. Penelitian Terdahulu Terkait Bahasa dalam Proses Penegakan Hukum


Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, ada banyak hasil hasil penelitian di bidang linguistik
forensik yang dibukukan. Buku Language in the Judicial Process yang diedit oleh Judith N.
Levi dan Anne Graffam Walker (1990) misalnya, merupakan contoh hasil penelitian mengenai
penggunaan bahasa di ruang sidang. Secara umum, buku yang memuat 12 bab ini menghimpun
hasil pemikiran yang menawarkan perspektif baru untuk menempatkan bahasa sebagai faktor
yang sangat berpengaruh di dalam persidangan.
Karya Roger W. Shuy (1993) yang berjudul Language Crimes-The Use and Abuse of
Language Evidence in the Courtroom merupakan buku yang ditulis berdasarkan hasil penelitian
panjang yang dilakukannya. Dengan memanfaatkan bahan yang berupa bukti penuntutan tindak
pidana di Amerika Serikat, Shuy (1993) menunjukkan analisis linguistik yang terbilang canggih
guna menginterpretasi percakapan lisan di dalam proses penegakan hukum di Amerika Serikat.
Karya Shuy (1993) banyak dirujuk sebagai role model analisis penggunaan bahasa di ruang
sidang seperti yang banyak dilakukan sampai saat ini.
Selanjutnya, buku yang berjudul Language and the Law (1999) karya John Gibbons
merupakan hasil penelitian tentang modus dan praktik penggunaan bahasa yang digunakan

14
dalam konteks penegakan hukum. Kajian dalam buku tersebut tidak hanya memeriksa situasi
berbeda yang timbul di dalam proses hukum, tetapi juga mengungkap masalah yang melekat
sebagai dampak dari adanya ambiguitas dan distorsi dalam penggunaan bahasa hukum. Selain
itu, buku ini memuat penjelasan mengenai konsekuensi terkait kendala budaya dalam hasil
terjemahan teks-teks hukum, kekuasaan penerjemah dalam kesaksian hukum, dan sumber
kompleksitas dalam draft hukum. Buku ini pun menyajikan pembahasan tentang hubungan
antara bahasa dan hukum yang terjadi di berbagai negara dengan latar budaya yang berbeda.
Terakhir, buku yang berjudul Just Words: Law, Language, and Power karya John M.
Conley dan William O’Barr (1990), berhasil menunjukkan persoalan mikro dinamika dalam
proses hukum yang dieksplorasi melalui kerangka analisis linguistik. Setiap bab dalam buku ini
menerapkan pendekatan berbasis linguistik untuk mengulas permasalahan dalam konteks
pemeriksaan korban dan saksi dalam kasus mediasi perceraian yang diperlakukan secara tidak
adil.

3. Penelitian Terdahulu Terkait Bahasa sebagai Alat Bukti Kejahtan


Aplikasi awal linguistik forensik di Amerika Serikat yang menempatkan bahasa sebagai alat
bukti kejahatan terkait dengan status merek dagang berupa kata atau frasa dalam satu
penggunaan bahasa. Kasus awal melibatkan perselisihan seputar aspek merek 'McDonald's',
sebuah merek rantai makanan cepat saji di Amerika Serikat. Dalam kasus ini, ahli bahasa yang
berperan adalah Genine Lentine dan Roger Shuy (Levi, 1994: h.5). Quality Inns International
mengumumkan niat untuk membuka rantai hotel ekonomis yang disebut 'McSleep'. Pemilik
'McDonald's' mengklaim bahwa awalan 'Mc' untuk banyak kata benda yang tidak dilindungi,
seperti 'Fries' dalam 'McFries' 'Nuggets' dalam 'McNuggets', dan lain-lain, melarang Quality
Inns untuk menggunakan awalan 'Mc'. Dalam kasus ini, penggugat tidak hanya mengklaim
kepemilikan secara implisit atas sebuah nama, namun juga atas asas morfologi, yaitu awalan
tertentu untuk setiap kata benda. Tampaknya, klaim itu secara inheren merupakan salah satu
formula untuk mengombinasikan dengan nama yang lain (Levi, 1994: h.5) dan inilah formula
perlindungan yang sedang digunakan. 'McDonald's' juga mengklaim bahwa merek dagang yang
mereka gunakan berasal dari sebuah proses menggabungkan kata-kata yang tidak dilindungi
dengan awalan 'Mc' dan telah menjalankan kampanye iklan yang menggambarkan hal ini.
Dalam bukti yang mereka tunjukkan, Lentine dan Shuy menjelaskan bahwa awalan 'Mc'
memiliki aplikasi komersial sebelumnya, dan bahwa 'McDonald's' tidak keberatan dengan hal-
hal tersebut, mereka tidak memiliki dasar untuk melakukannya dalam contoh saat ini. Meskipun

15
ada banyak bukti yang diajukan oleh Lentine dan Shuy, penilaian untuk penggugat dan Quality
International Inns tidak dapat meluncurkan rantai hotel ekonomis mereka di bawah merek
'McSleep'.
Di Australia, bahasa sebagai alat bukti kejahatan mulai ditemukan pada tahun 1980-an
dengan point membicarakan penerapan linguistik, khususnya sosiolinguistik, dalam masalah
hukum. Para ahli bahasa prihatin dengan hak individu dalam proses hukum, khususnya
kesulitan yang dihadapi oleh tersangka Aborigin saat ditanyai oleh polisi. Mereka dengan cepat
menyadari bahwa ungkapan-ungkapan seperti 'bahasa yang sama' itu terbuka untuk
dipertanyakan. Contoh penting dari hal ini adalah dialek yang diucapkan oleh banyak orang
Aborigin, yang dikenal dalam bahasa sehari-hari sebagai 'bahasa Inggris Aborigin', yang secara
salah dipikirkan oleh kebanyakan orang kulit putih Australia untuk menjadi bentuk bahasa
Inggris yang tidak tepat dituturkan oleh orang kulit putih. Jadi, saat ditanyai oleh polisi, orang
Aborigin membawa pemahaman dan penggunaan bahasa Inggris mereka sendiri, sesuatu yang
tidak selalu dihargai oleh para pembicara versi dominan bahasa Inggris, yaitu 'bahasa Inggris
kulit putih'. Lebih dari itu, mereka membawa gaya interaksi dan budaya masing-masing ketika
diwawancarai.
Gaya interaksi individual, jika dianggap berbeda dengan budaya dominan, mungkin
akan memaksa tanggapan terhadap pertanyaan secara khusus, bukan cara konfrontasi yang
dapat menyebabkan anggapan yang salah dari penanya bahwa tersangka sedang mengelak atau,
yang lebih buruk lagi, bahwa pengakuan tentang kesalahan telah disampaikan. Penelitian di
Australia lainnya berfokus pada bagaimana saksi dan terdakwa Aborigin memahami proses
hukum yang terlibat dalam pemeriksaan klaim tanah dan memeriksa dampak perbedaan lintas
budaya antara pemukim kulit putih dan orang Aborigin mengenai presentasi dan bahkan
laporan sebuah kasus. Dalam konteks ini Gibbons (1994: h.198) mengamati "sistem ... ...
seputar interogasi di ruang sidang yang asing bagi budaya Aborigin". Gibbons adalah penulis
dua buku besar tentang linguistik forensik, yaitu Language and the Law dan Forensic
linguistics: An introduction to language in the justice system. Dalam kedua buku tersebut,
Gibbons tidak hanya merangkum beberapa pengalamannya sendiri sebagai praktisi linguistik
forensik yang berperan dalam sebuah sistem pengadilan, namun juga menjelaskan sejarah
perkembangan linguistik forensic secara global.
Di Jerman, kasus awal mengenai bahasa hukum melibatkan dugaan fitnah yang
dilakukan oleh seorang penyewa di sebuah kompleks apartemen (Kniffka, 1981). Masalah yang
dipertaruhkan adalah apakah kata selir itu termasuk sebuah penghinaan. Ahli bahasa

16
menjelaskan bahwa bagi beberapa pembicara, kata itu mungkin lucu, karena ada pula cara untuk
saling berbicara satu sama lain sebagai lelucon, sementara yang lain mungkin menganggapnya
sebagai sebuah penghinaan: tidak mungkin mengatakan bahwa kata atau frasa tertentu, terhadap
diri sendiri adalah sebuah penghinaan, atau merupakan pencederaan secara verbal. Sebaliknya,
hubungan antara pembicara dan pendengar, konteks situasi, tingkat pendidikan pembicara perlu
diperhitungkan untuk mempertimbangkannya. Sebuah kata tidak memiliki satu makna yang
disetujui secara universal atau dimaknai tunggal oleh semua komunitas penutur bahasa tersebut.
Isu lain yang muncul pada masa-masa awal linguistik forensik di Jerman melibatkan atribusi
penulis, dan pengembangan metodologi untuk melakukan analisis linguistik forensik. Kasus
awal, yang dilaporkan oleh Kniffka (1981), menyangkut tesis saudara kembarnya yang
memiliki kinerja akademis jauh lebih rendah daripada tesis yang disampaikan pada saat ujian
terakhirnya. Kniffka (1981) berpendapat bahwa atribusi penulis dalam kasus ini tidak mungkin
terjadi karena bahasa yang digunakan pada dasarnya merupakan bahasa meta hukum dan tidak
mudah untuk menghubungkan penggunaan bahasa kepada seorang individu tertentu. Dia
menyarankan otoritas universitas untuk mengarahkan siswa melakukan ujian tertulis mengenai
tesisnya guna menguji pengetahuan siswa tersebut. Hal ini lebih objektif dilakukan daripada
mengandalkan perbandingan subjektif dengan pekerjaan siswa yang sebelumnya telah
diketahui.
Teori Tindak tutur
A. Dikotomi Konstantif dan Perforamtif
Pemikiran Austin (1962) yang dirangkum dalam How to Do Things With Words adalah
tonggak penting yang mempengaruhi perkembangan kajian pragmatik hingga saat ini. Buku
yang memuat secara detail hasil analisa penggunaan bahasa sehari-hari (ordinary language)
telah menandai perubahan arah kajian linguistik yang pada saat itu didonimasi pandangan
kelompok positivisme logis.
Ada dua bagian penting dari pemikiran Austin yang akan diungkap pada bagian ini,
yaitu terkait dikotomi tuturan konstantif-performatif, dan teori tindak tutur (Spech-Acts).
Austin adalah salah seorang filsuf bahasa yang sangat cermat dan teliti mengkaji bahasa
pragmatis. Menurutnya, dalam segala situasi, ketika berbicara atau berkomunikasi, kita tidak
hanya menyatakan kalimat saja, tetapi juga melakukan suatu tindakan. Latar belakang filosofis
teori ini sebenarnya merupakan perlawanan terhadap aliran yang dikembangkan oleh para filsuf
positivisme logis yang menyatakan bahwa sebuah tuturan atau pernyataan memiliki makna,

17
sejauh mendeskripsikan keadaan faktual dan berkorespondensi postif dengan realitas (Austin,
1962: h.2).
Formula yang digagas filsuf positivisme logis menyatkaan bahwa sebuah pernyataan
harus dapat diverifikasi benar-salahnya. Jika tidak, maka tuturan itu merupakan psuedo-
statements. Anggapan semacam ini oleh Austin disebut sebagai descriptive fallacy. Sebab, pada
kenyataanya, ada banyak tuturan yang tidak menggambarkan keadaan faktual tapi tetap
bermakna karena tuturan tersebut berkorespondensi dengan satu tindakan tertentu.
Sebuah kalimat yang dituturkan, pada kenyatannya, bukan sekadar mendeskripsikan
suatu hal, melainkan juga melakukan tindakan. Ketika tuturan telah dituturkan, ada kewajiban
dari si penutur untuk melakukan apa yang telah dikatakannya itu. Austin yang merupakan
seorang filsuf berlatar belakang filsafat moralis ini, sebenarnya ingin menggeser persoalan logis
ke persoalan etis. Karena bahasa logis dinilai gagal dan tidak dapat memecahkan persoalan
bahasa sehari-hari yang sangat beragam dan ekspresif.
Hal terpenting bagi Austin ialah proses komunikasi keseharian yang menyebabkan
sebuah tuturan memiliki perngaruh terhadap pendengar dan mengubah realitas sosial. Dalam
bahasa yang dituturkan, terdapat kuasa, pengalaman subjektif, serta moralitas yang bekerja di
baliknya. Bahasa bukan sekadar digerakkan oleh unsur knowledge atau statement yang dapat
diverifikasi berdasarkan keadaan faktual, yaitu dengan ukuran benar dan salah. Pada tahap itu,
Austin membedakan dua jenis tuturan ke dalam dua jenis, yaitu tuturan konstantif dan
performatif.
Klasifikasi yang dilakukan Austin terhadap dua jenis tuturan tersebut, sangatlah
menarik dan cukup terkenal pada masanya. Sebab, sebelumnya, karya para filsuf masih berkutat
untuk membedakan bahasa dengan kriteria bermakna atau tidak bermakna. Sementara Austin
sudah jauh meninggalkan hal tersebut, Austin tidak lagi membatasi analisis bahasa pada
persoalan makna kalimat. Austin mulai memikirkan faktor-faktor lain yang dapat berpengaruh
terhadap sebuah kata. Pemahaman terhadap perbedaan kalimat konstantif dan performatif ini
sangat penting. Sebab, kita terkadang tidak menyadari pada saat seperti apa harus menggunakan
tuturan konstantif dan pada kondisi seperti apa tuturan performatif harus kita gunakan. Untuk
mengetahui perbedaan antara tuturan konstantif dan performatif, berikut disajikan penjelasan
terkait perbedaan di antara keduanya.

1. Tuturan konstantif

18
Tuturan konstantif adalah kalimat yang digunakan untuk menjelaskan dan
mendeskripsikan fakta objektif. Sasaran tuturan ini ialah fakta yang berada di luar diri manusia.
Ketika hendak mengatakan tuturan konstantif, rujukan kita adalah keadaan faktual yang dapat
diverifikasi benar dan salahnya. Austin (1962: h. 3) tidak lagi melihat apakah sebuah kalimat
bermakna atau tidak, tetapi pada saat seperti apa sebuah tuturan termasuk ke dalam kategori
konstantif. Para filsuf positivisme logis telah mengandaikan bahwa bahasa dapat dianggap
bermakna karena menggambarkan realitas. Tuturan-tuturan yang digunakan untuk
mendeskripsikan fakta dan realitas ini, oleh Austin, disebut tuturan konstantif (constantive
utterance).
Austin menyetujui pandangan kelompok positivisme logis terkait tuturan konstatif,
yaitu meyakini bahwa tuturan mengandung informasi yang dapat diverifikasi kebenarannya
secara empiris atau berdasarkan pengalaman, dan dapat dibedakan sebagai pernyataan yang
bersifat logis atau tidak. Robinson (2006) mengumpamakan tuturan konstantif yang digagas
oleh Austin sebagai langauge as machine. Menurutnya, tuturan konstantif dapat bekerja karena
memiliki struktur dan sistem yang teratur dan juga logis, seperti halnya mesin. Bahasa bekerja
secara sistematis, dan memiliki aturan-aturan secara internal.
Tuturan konstantif adalah pernyataan atau asertif. Konstantif dapat menggambarkan
kebenaran atau kepalsuan bergantung pada fakta, dan hanya bisa dinilai dengan mengacu pada
fakta. Tuturan konstantif bisa berupa tuturan asertif, retrodiksi, deskriptif, aseptif, informatif,
konfirmatif, konkesif, disentif, disputatif, responsif, sugestif, dan supositif. Tuturan konstantif
berfungsi seperti berikut:
1. Memuat sebuah pesan.
2. Pesan dalam tuturan konstantif bisa dibandingkan dengan dunia nyata sehingga
dapat dinyatakan benar atau salahnya.
3. Tuturan konstantif yang gagal adalah salah, tidak jelas, dan tidak jelas
rujukannya.
Tuturan konstantif harus dapat mendeskripsikan realita secara objektif dan akurat
dengan struktur dan aturan-aturan yang bersifat logis dan sistematis. Contoh tuturan konstantif,
misalnya kalimat Rumah saya bercat merah. Ketika kita mengatakan kalimat tersebut, ada
sebuah deskripsi yang kita sampaikan mengenai warna rumah kita. Untuk membuktikan apakah
pernyataan tersebut benar atau salah, terlebih dulu harus dilihat apakah rumah itu benar
berwarna merah. Jika rumah kita benar berwarna merah, maka kalimat itu benar adanya. Namun
Austin tidak melihat kalimat tersebut bermakna atau tidak, Austin hanya melihat dan

19
berkepentingan dengan sejauh mana tuturan tersebut menginformasikan dan mendeskripsikan
sesuatu sehingga layak dikategorikan ke dalam tuturan konstantif.

a. Tuturan konstantif dan indikasi kebenaran


Kalimat yang mendeskripsikan suatu keadaan atau fakta oleh Austin disebut sebagai
tuturan konstantif, dan memiliki tiga indikasi logis untuk dapat mengatakan kebenaran tuturan
tersebut (Austin, 1962) yaitu entailment, implikasi, dan presupposisi.

1) Entailment
Entalment bermakna bahwa sebuah pernyataan dapat dikatakan benar jika kalimat
kedua mengikuti kalimat pertama atau kalimat pertama terkandung di dalam kalimat kedua.
Dengan kata lain, kalimat pertama harus didukung oleh kalimat kedua agar menjadi benar.
Austin mengilustrasikan entailment dengan contoh berikut Semua pria tersipu malu entailment
tuturan tersebut adalah Beberapa pria tersipu malu. Dalam hal ini, kita tidak bisa mengatakan
Semua pria tersipu malu tapi tidak semua pria tersipu malu. Bila premis mayornya adalah
Semua pria tersipu malu, maka tidak mungkin entailmentnya tidak semua pria tersipu malu.
Secara logis, entailment dinotasikan dengan kalimat ’if p entails q’. Misalnya, kalimat Jika
manusia mati entails Riko pasti mati. Sebab, Riko adalah manusia. Tidak bisa kita menuturkan
kalimat ‘Jika semua manusia mati, tetapi tidak semua manusia mati’. Jika hal tersebut terjadi,
maka kalimat tersebut dikatakan salah karena premis kedua menyangkal kebenaran yang
terkandung di dalam premis pertama. Hal seperti itu disebut sebagai kontradiksi.
Notasi ’if p entails q’, dapat dibalik menjadi ’if ~q entails ~p.’ Dengan demikian,
kalimat Jika manusia mati entails Riko pasti mati dapat menjadi Jika riko tidak mati, maka tidak
semua manusia mati. Tuturan tersebut adalah logis. Sebab, penyangkalan dilakukan setelah
verifikasi terhadap keadaan faktual. Dalam hal ini, ketika ditemukan ada seorang manusia yang
tidak mati, maka premis mayor dapat disangkal kebenarannya.

2) Implikasi
Berbeda dengan entailment, implikasi merupakan keyakinan kita sebagai seorang
penutur terhadap sebuah fakta yang terjadi. Ketika kita mengatakan Penyandera di Mall
Indonesia itu telah tewas ditembak polisi, maka kalimat tersebut memiliki implikasi bahwa kita,
sebagai penutur, mempercayai hal tersebut. Karena itu, kita menuturkannya. Kita tidak akan

20
mengatakan bahwa penyandera tersebut telah mati ditembak polisi, sementara diri kita sendiri
tidak meyakini kebenaran kalimat tersebut.
Dalam implikasi, proposisi kalimat tidak dapat ditukar. Penyangkalan terhadap
proposisi kedua tidak berarti bahwa proposisi pertama salah. Misalnya, ketika kita tidak yakin
bahwa penyandera di Mall Indonesia itu mati ditembak polisi, maka hal tersebut tidak
berimplikasi bahwa penyandera tersebut tidak mati ditembak polisi. Keyakinan yang kita miliki
belum tentu sesuai dengan realitas atau fakta. Oleh karena itu, dalam menyatakan tuturan
konstantif, kita harus melakukan pengecekan secara faktual terhdap tuturan tersebut, sehingga
kebenarannya dapat dipercaya.

21