Anda di halaman 1dari 12

Nama : Geril Jeneri

Bp : 1910841002

Kelas : ADP B

Mata kuliah : Azaz-azaz manajemen

Hubungan Manajemen dengan Ilmu lainnya Terutama dengan Ilmu Sosial

Pendekatan klasik terhadap manajemen dulunya dibangun pada gagasan bahwa jika
manajemen mampu merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan pekerjaan
dan organisasi dengan tepat, maka produktivitas akan meningkat. Pendekatan awal juga
menekankan aspek teknik pekerjaan, dengan mengorbankan aspek pribadi kerja. Oleh karena itu,
tidak mengherankan bahwa teori-teori yang dulu dikembangkan bertentangan dengan beberapa
dasar manajemen terdahulu. Dasar-dasar mengelola orang berkembang ke dalam dua cabang,
dengan titik berat yang berorientasi pada perilaku dan kemanusiaan. Satu cabang dikenal sebagai
hubungan antarmanusia (human relations); cabang ini popular pada 1940-an dan awal 1950-an.
Cabang kedua adalah ilmu perilaku (behavioral science) yang popular digunakan di awal tahun
1950-an dan sekarang mendapat banyak penekanan dalam bacaan-bacaan manajemen. (Gibson,
Donelly, dan Ivancevich, 1996:12)

Para penulis hubungan antarmanusia menyadarkan para manajer terhadap pentingnya


peran yang dimainkan oleh individu dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan dari sebuah
organisasi. Pendekatan hubungan antarmanusia menunjukkan bagaimana dasar pemikiran
tersebut sebaiknya dimodifikasi dalam pandangan berbeda dalam perilaku individu dan pengaruh
kelompok kerja atas individu- dan sebaliknya. Jadi, perumus teori hubungan antarmanusia
memusatkan pada lingkungan sosial sekitar pekerjaan, sementara penulis klasik sebagian besar
tadinya memusatkan pada lingkungan fisik. Bagi mahasiswa manajemen, perubahan hubungan
antarmanusia telah menghasilkan gagasan penting, riset-riset penemuan, dan nilai-nilai mengenai
peran individu dalam sebuah organisasi. (Gibson, Donelly dan Ivancevich, 1996:13)
1. Ilmu Psikologi
Adalah ilmu studi mengenai perilaku manusia. Banyak cabang psikologi umum telah
menyumbang konsep-konsep dan teori-teori yang bermanfaat bagi studi manajemen.
Sebagai contoh, psikologi sosial berkaitan dengan perilaku individu lain. Psikologi sosial
mempelajari bagaimana kelompok atau individu lain. Psikologi organisasi berhubungan
dengan perilaku dan sikap di dalam suatu kondisi organisasi. Psikologi organisasi
mempelajari pengaruh organisasi itu terhadap individu dan pengaruh individu terhadap
organisasi itu.
Buku-buku seperti buku Robert Levering, A Great Place to Work, menekankan
bagaimana pengaruh perkembangan psikologi telah terjadi. Daftar berbagai perusahaan
yang disebutkan dan penggunaan motivasi-pribadi, partisipasi, kualitas kehidupan kerja,
desain baru organisasi, pengembangan tim, pengayaan pekerjaan, dan teknik-teknik
psikologi dimuat dalam buku setebal 317 halaman tersebut. Apakah seorang manajer
harus menjadi psikologi dalam tahun 1990-an agar berhasil? Tidak! Akan tetapi, manajer
itu akan menjadi lebih siap dan lebih mampu menghadapi perubahan dan sifat kelompok
kerja tahun 1990-an, jika dia ingat beberapa pelajaran yang diajarkan dalam kuliah
pengantar psikologi.
2. Ilmu Sosiologi
Berupaya untuk memisahkan, mendefinisikan, dan menggambarkan perilaku manusia
dalam kelompok. Sosiologi berusaha untuk mengembangkan peraturan-peraturan dan
generalisasi terhadap sifat interaksi sosial, budaya, dan organisasi sosial manusia.
Satu sumbangan utama sosiologi terhadap pemikiran manajemen adalah perhatiannya
terhadap timbulnya kelompok, yang seringkali diperlakukan dalam bacaan manajemen
sebagai komponen informal dari berbagai organisasi. Sosiologi juga mempunyai minat
dalam organisasi formal, yang mereka dekati sebagai studi birokratis. Sosiolog
memusatkan pada perilaku birokrasi sebagaimana hubungan structural dalam organisasi
birokrasi. Sosiolog telah memberi para manajer pengetahuan yang berkenaan dengan
peran pemimpin dan pengikut dan bagaimana pola kekuasaan dan wewenang diterapkan
dalam organisasi. Tim, perkongsian, kepemilikan, dan keterpaduan adalah keinginan
karyawan sekarang.
Pada Johnsonville foods di Sheboygan, Wisconsin, penerapan prinsip-prinsip
sosiologi sangat mudah dilihat. Para pekerja dalam tim, tanpa hirarki yang jelas diatas
mereka, melakukan seluruh penarikan, pemecatan, dan evaluasi. Hasilnya adalah
persatuan semangat kekeluargaan, dan lingkungan kerja yang menyenangkan. Pada
beberapa dekade sosiolog telah memberikan pandangan dan gagasan mengenai
kelompok. Beberapa perusahaan penganut aliran lama masih menutup mata mereka dan
mengabaikan cerita sukses yang ada. Perusahaan seperti itu, yaitu perusahaan yang tidak
membiasakan diri dengan informasi yang berkaitan dengan sosiologi, mereka mungkin
tidak akan mampu bertahan beberapa tahun ke depan. (Gibson, Donnelly, dan Ivancevich
1996:16)
Pendekatan ini mengganggap manajemen sebagai sebuah sistim sosial atau secara
lebih spesifik, sebagai suatu sistim antar hubungan kulturil. Mashab ini berorientasi pada
ilmu sosiologi dan mempersoalkan pengidentifikasian berbagai kelompok sosial maupun
hubungan-hubungan kulturil mereka dan di samping itu, kelompok-kelompok tersebut
diintegrasi dalam sebuah sistim sosial lengkap.
Hal yang mendasari keyakinan mashab sosial ini adalah kebutuhan untuk
memecahkan berbagai macam pembatasan yang di hadapi oleh manusia dan lingkungan
mereka. Biasanya digunakan sebuah kesatuan sosial yang ideal, dimana manusia
berkomunikasi secara efektif satu sama lain, dan dimana mereka dengan sukarela
membantu kearah dicapainya tujuan umum.
Dalam banyak kasus, penghalang-penghalang berupa penghalang-penghalang yang
dihadapi oleh sebuah perusahaan tunggal hingga timbullah istilah “kelakuan organisasi”
(organization behaviour) untuk menyatakan bahwa approach tersebut telah digunakan
secara umum.
Kadang-kadang kesatuan yang dipersoalkan adalah seluruh entitas sosial. Apabila hal
itu dilakukan maka mashab tersebut dipengaruhi secara ekologis dan mempersoalkan
hubungan-hubungan antara 1.organisasi; 2. Lingkungan intern dan ekstern; 3. Kekuatan-
kekuatan yang menimbulkan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian.
Ada pihak yang berkeyakinan adanya mashab ekologi dalam bidang pemikiran
manajemen. Dimulainya dengan kesatuan-kesatuan dasar misalnya para pembeli,
mahasiswa, anggota tentara, kemudian ditambahkan elemen-elemen operasi guna
melaksanakan pencapaian tujuan-tujuan.
Biasanya sebuah kelompok sosial menimbulkan konflik, kohesi dan interaksi antara
anggota-anggotanya. Timbul perasaan-perasaan sosial, persepsi dan identifikasi maupun
reaksi-reaksi yang berpola kulturil yang kesemuanya menimbulkan problem-problem
pengendalian kekuasaan dan rekonsialisasi kepentingan-kepentingan. Kekuatan-kekuatan
tersebut tidak hanya terbatas hingga kepimpinan formal, hubungan-hubungan
organisatoris dan reaksi-reaksi kelompok, ataupun hanya terbatas hingga kekuatan-
kekuatan didalam sistim khusus tersebut. Mereka dipengaruhi oleh organisasi informal-
hubungan-hubungan kepemimpinan dan kelompok yang timbul sebagai akibat-akibat
adanya kekuatan-kekuatan sosial yang dapat membantu atau menghalangi tujuan-tujuan
resmi atau formal.
Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa mashab sosial menentukan interaksi serta kerja
sama manusia yang bersama-sama membentuk sebuah entitas sosial. Ia menggunakan
kelakuan organisasi maupun rasionil dan pengembangan pengertian yang didasarkan atas
penelitian-penelitian empiris. (G.R. Terry,1986:27-29)
Sebuah perspektif historis manajemen adalah penting karena memberikan sebuah
cara berpikir, sebuah cara untuk mencari pola dan mengerti tren-tren kepada para
eksekutif. Sebuah perspektif historis memberikan sebuah konteks atau lingkungan
dimana problem-problem sekarang didintepretasikan. Namun mempelajari sejarah bukan
hanya berarti mengurutkan peristiwa-peristiwa secara kronologi; artinya adalah
mengembangkan suatu pengertian dari pengaruh kekuatan-kekuatan sosial terhadap
organisasi. Mempelajari sejarah adalah suatu cara untuk mencapai pemikiran strategis,
melihat gambaran besar, dan memperbaiki keterampilan konseptual. Kita akan mulai
dengan menelaah bagaimana kekuatan-kekuatan sosial, politik, dan ekonomi telah
mempengaruhi organisasi dan praktik manajemen.
Kekuatan sosial (social forces) berhubungan dengan aspek-aspek sebuah budaya
yang member panduan dan mempengaruhi hubungan antarmanusia. Apa yang dihargai
orang-orang? Apa yang dibutuhkan mereka? Apakah standar perilaku antarmanusia?
Kekuatan-kekuatan ini membentuk apa yang dikenal sebagai kontrak sosial, yang
merupakan aturan-aturan dan persepsi umum yang tidak tertulis mengenai hubungan
antarmanusia dan antara karyawan dengan manajemen. Ungkapan seperti “seseorang
diukur dari kata-katanya” dan “kerja sehari untuk bayaran sehari” menyampaikan
persepsi-persepsi itu.
Sebuah kekuatan sosial yang menonjol dan mempengaruhi organisasi sekarang adalah
perubahan sikap, nilai-nilai, dan tuntutan dari para pekerja yang muda dan berpendidikan
tinggi. Dengan tingkat pengangguran yang rendah dan populasi yang menua, perusahaan-
peerusahaan berebut untuk memikat “para pekerja berpendidikan” terutama orang-orang
muda cerdas, berpendidikan, kreatif, dan menguasai komputer. Kekuasaan telah
berpindah kepada pekerja, bukan lagi organisasi, sehingga pekerja dapat membuat
tuntutan yang tak masuk akal. Para pekerja muda lulusan universitas tidak hanya
menginginkan pekerjaan; mereka ingin pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan
kesempatan untuk penemuan dan pemenuhan diri, selain gaji tinggi yang tinggi. pada
masa lalu, banyak orang berharap dapat menetap di sebuah perusahaan untuk sepanjang
karir mereka, sedangkan bagi para pekerja sekarang, berpindah-pindah kerja adalah
sebuah gaya hidup. (Richard L.Daft,2000:47)
3. Ilmu Antropologi
Mempelajari perilaku manusia yang berpengetahuan, meliputi seluruh perilaku sosial,
teknik, dan keluarga yang merupakan suatu bagian dari konsep luas yang dikenal sebagai
kebudayaan. Antropologi budaya, ilmu yang mencurahkan studi pada masyarakat dan
kebudayaan yang berbeda di dunia, penting bagi ilmu perilaku karena cara-cara individu
berperilaku, prioritas terhadap kebutuhan yang mereka usahakan untuk terpuaskan, dan
cara mereka memilih untuk memuaskannya merupakan seluruh fungsi budaya.
Fakta bahwa ekonom mendorong kepada manajer adalah bahwa masyarakat, bukan
mesin-mesin, merupakan kekuatan pendorong dibelakang pembangunan ekonomi. Dan
karena peningkatan jumlah pekerja wanita dan pekerja dilahirkan di luar negeri menjadi
suatu bagian utama dari kelompok kerja dalam beberapa tahun terakhir era 1990-an,
antropolog budaya menginformasikan manajer bahwa orang yang berbeda latar belakang
dan budaya harus diintegrasikan kedalam organisasi. Untuk menghindari kehilangan
pertumbuhan dan kekuatan ekonomi terhadap jepang, korea selatan, jerman, perancis, dan
negara lain, para manajer AS harus secara ilmiah mempelajari sumber daya manusia yang
bersedia untuk kesempatan kerja, pelatihan, dan pendidikan. Antropolog budaya memiliki
suatu kekayaan pengetahuan, pandangan, dan rekomendasi supaya manajer lama semakin
membutuhkan peranan antropologi.
Sementara psikologi dan sosiologi telah mempunyai pengaruh besar dalam
membentuk pemikiran manajemen, antropologi budaya telah memberikan sumbangan
berarti mengenai pengaruh budaya terhadap organisasi. Di masa datang, ketika
perusahaan-perusahaan memperluas aktivitasnya ke luar negeri, antropologi tidak
diragukan lagi juga akan member manajer pandangan bernilai ketika mereka berusaha
untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian
dalam lingkungan budaya yang berbeda. (Gibson, Donnelly dan Ivancevich, 1996:17)
Nilai, simbol, kepercayaan, dan bahasa. Nilai budaya dan kepercayaan seringkali tidak
dibicarakan; hal-hal tersebut bahkan dianggap remeh oleh orang-orang yang tinggal di
negara tertentu. Faktor budaya tidak selalu menimbulkan masalah bagi manajer jika
terdapat sedikit tumpang tindih antara budaya asli seorang manajer dan budaya negara
dimana bisnis akan dilakukan. Sebagai contoh, sebagian besar manajer AS menemukan
bahwa budaya dan tradisi di inggris serupa dengan budaya dan tradisi mereka. Orang-
orang di kedua negara berbicara dalam bahasa yang kuat di antara kedua negara. Ketika
manajer AS memulai operasi mereka di jepang atau Republik Rakyat China, sebagian
besar dari persamaan tersebut hilang.
Di jepang, kata hai berarti “ya” dalam percakapan, kata ini banyak digunakan orang
di AS seperti mengatakan “uh-huh”; kata ini menbuat suatu percakapan berjalan lancer
atau menunjukkan kepada siapa anda berbicaraa bahwa anda menaruh perhatian. Jadi
kapan”hai” berarti “ya” dan kapan ia berarti “uh-huh”? pertanyaan ini relative sulit untuk
dijawab. Jika seorang manajer AS bertanya kepada manajer jepang apakah ia setuju
dengan beberapa pengaturan perdagangan, manajer jepang mungkin akan berkata “hai”
yang bisa berarti “ya, saya setuju” atau “ya, saya mengerti,” atau “ya, saya
mendengarakan”. Banyak manajer AS menjadi frustrasi ketika bernegosiasi dengan orang
jepang karena mereka yakin bahwa orang jepang terus-menerus mengangkat persoalan
yang telah di selesaikan (manajer jepang mengatakan”ya”). Yang gagal dimengerti oleh
para manajer tersebut adalah bahwa “ya” tidak selalu berarti “ya”di jepang.
Perbedaan budaya antarnegara dapat memiliki dampak langsung terhadap praktik
bisnis. Bahasa pun dapat menjadi suatu faktor yang penting. Di luar penghalang yang
nyata dan jelas yang dialami oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang
berbeda, perbedaan yang halus juga dapat memainkan peran yang penting.
(Griffin,2020:145-147).
4. Ilmu Politik
Kekuatan politik (political forces) berhubungan dengan pengaruh institusi politik
dan hukum pada para karyawan dan organisasi. Kekuatan politik meliputi asumsi dasar
yang melatarbelakangi sistem politik, seperti keinginan untuk memerintah sendiri, hak
milik, hak kontrak, definisi keadilan, dan penentuan tidak bersalah atau bersalah atau
sebuah kejahatan. Akhir dari perang dingin dan penyebaran kapitalisme di seluruh dunia
adalah kekuatan politik yang akan mempengaruhi bisnis secara dramatis di tahun-tahun
mendatang. Gerakan baru-baru ini untuk membangun sebuah sistem pasar bebas di eropa
timur menekankan saling ketergantungan yang meningkat antar negara-negara di dunia.
Saling ketergantungan ini menuntut para manajer untuk berpikir dengan cara-cara lain. Di
samping itu, pemberdayaan di seluruh penduduk di penjuru dunia merupakan sebuah
kekuatan politik yang sangat besar. Kekuasaan disebarkan di dalam maupun antar negara
yang belum pernah terjadi sebelumnya. Masyarakat menuntut pelimpahan kekuasaan,
partisipasi, dan tanggung jawab di segala bidang kehidupan mereka, termasuk dalam hal
pekerjaan. Para manajer harus belajar untuk berbagi dan bukannya menimbun kekuasaan.
(Richard L.Daft,2000:48)
5. Ilmu Sejarah
Suatu kesadaran dan pemahaman mengenai perkembangan sejarah yang penting juga
penting bagi manajer kontemporer. Pemahaman konteks sejarah dari manajemen
menyediakan suatu rasa memiliki dan dapat membantu manajer menghindari kesalahan
yang dibuat orang lain. Sebagian besar kelas sejarah Amerika Serikat menghabiskan
waktu untuk mambahas perkembangan bisnis dan ekonomi di negara tersebut, termasuk
revolusi industry, awal gerakan tenaga kerja, depresi besar (great depression), dan juga
para industrialis besar amerika serikat seperti Cornelius Vanderbilt (jalan kereta api),
John D.Rockefeller (minyak), dan Andrew Carnegie (baja). Kontribusi mereka dan para
industrialis lainnya meninggalkan jejak yang mendalam bagi budaya kontemporer.
Banyak manajer juga menyadari bahwa mereka dapat memperoleh manfaat dari
pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah secara umum. Sebagai contoh, Ian
M.Ross dari AT&T Bell Laboratories menyebutkan bahwa The second world war yang
ditulis oleh Winston Churchill sangat mempengaruhi pendekatan kepemimpinannya.
Buku-buku lain yang sering disinggung oleh para manajer karena relevansinya dengan
masalah-masalah bisnis saat ini termasuk buku-buku klasik seperti Republic karya Plato.
Para manajer di Wells Fargo & Company dengan jelas mengakui nilai dari sejarah.
Sebagai contoh, perusahaan tersebut mengelola perpustakaan arsip yang lengkap, yang
berisi berbagai dokumen dan catatan perbankan lama mereka dan bahkan mempekerjakan
seorang sastrawan tetap perusahaan. Sebagai bagian dari organisasi dan pelatihan mereka,
manajer baru di Wells Fargo harus mengambil kursus agar mengenal sejarah bank
tersebut. Demikian pula halnya Polaroid, Shell Oil, Levi Strauss,Ford,Lioyds of London,
Disney, Honda, dan Unilever semua mempertahankan arsip-arsip mengenai masa lalu
mereka dan secara berkala membangkitkan citra dari masa lalu dalam program orientasi
dan pelatihan mereka, dalam kampanye iklan, dan dalam aktivitas hubungan masyarakat
lainnya. (Griffin,2002:37)
6. Ilmu Filsafat
Sebuah filsafat manajemen dapat dianggap sebagai suatu cara pemikiran manajemen.
Hal tersebut terdiri daripada sikap, keyakinan dan konsepsi-konsepsi seorang individu
attau kelompok tentang manajemen.
Tidak seorangpun dapat melakukan manajemen tanpa sesuatu filsafat manajemen
baik yang terimplikasi maupun yang bersifat implicit.
Seseorang manajer tidak dapat beroperasi dalam sesuatu vakum. Seseorang manajer
harus melaksanakan pemikiran, membuat keputusan-keputusan dan melakukan tindakan-
tindakan. Akibatnya adalah bahwa manajer tersebut membentuk sebuah pola penilaian,
pengukuran, tes-tes dan ia mempergunakan kriteria yang mengungkapkan motif-motif
sebenarnya, sasaran-sasaran yang ingin dicapai, hubungan-hubungan psikologis serta
sosial yang dianggap perlu, dan suasana ekonomi umum yang dikehendaki.
Apabila kita mengabaikan filsafat manajemen, maka berarti bahwa kita menyangkal
pendapat bahwa watak, emosi serta nilai-nilai mempengaruhi ide-ide seorang manajer
dan bahasas proses-proses mental dan psikologis seseorang mempengaruhi kelakuan
manajerial.
Penggunaan filsafat manajemen
Seseorang manajer yang memiliki dan menggunakan sebuah filsafat manajemen
memperoleh tiga macam keuntungan besar. Pertama-tama, hal tersebut membantu
mencapai bantuan effektif dari para pengikut. Orang-orang mengetahui apa yang di
inginkan oleh seorang manajer dan tindakan-tindakan umum apa yang kiranya akan
dilakukan olehnya. Mereka mengetahui mengapa pihak manajer bertindak dengan cara
tertentu dan mereka menaruh kepercayaan mengenai apa yang sedang dilakukan.
Kedua, hal tersebut menyediakan petunjuk-petunjuk dan suatu landasan bagi pemikiran
manajerial. Apabila kondisi-kondisi ilmiah serta sosial berubah dengan cepat, maka
terasa pentingnya sesuatu kumpulan pengetahuan dasar dan keyakinan-keyakinan yang
merupakan bagian daripada sebuah filsafat.
Ketiga, hal tersebut merupakan sebuah kerangka dengan apa seseorang manajer dapat
memperkembangkan pemikirannya. Dengan berlangsungnya waktu, macam-macam
filsafat manajemen telah berkembang dan meluas dan menyebabkan timbulnya filsafat-
filsafat baru ataupun dimodifikasi oleh pemikiran kontemporer saat itu. Ada manajer-
manajer yang sangat mementingkan individu dan mereka mempercayai setiap pekerja
dengan jalan menerapkan aturan-aturan dan pengawasan minimum, dan mereka bukan
saja mengusahakan agar supaya pekerjaan bagi setiap orang bukan saja berarti akan tetapi
pula menguntungkan dan setiap pekerja diserahkan tanggung jawab tertentu. (G.R
Terry,1986:49-50)
7. Ilmu Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari satu orang ke orang lain.
Apakah manajer tadi berkomunikasi? Yang terakhir ya dan yang pertama tidak.
Bagaimana dengan manajer kedua? Sebetulnya, dia berkomunikasi. Dia menyampaikan
informasi dan informasi telah diterima. Masalahnya adalah bahwa pesan yang
disampaikan dan pesan yang diterima tidak sama. Kata-kata yang diucapkan oleh manajer
dikaburkan oleh keributan.
Peran-peran interpersonal meliputi interaksi dengan supervisor, bawahan, manajer-
manajer selevel, dan pihak-pihak lain di luar organisasi. Peran-peran pembuatan
keputusan meminta manajer untuk mencari dan menggunakan informasi di dalam proses
pembuatan keputusan dan kemudian mengkomunikasikan keputusan-keputusan tersebut
kepada orang lain. Peran-peran informasional berfokus secara spesifik pada pengumpulan
dan penyebaran informasi.
Komunikasi juga berhubungan secara langsung dengan fungsi-fungsi manajemen
dasar, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian.
Pemindaian lingkungan, penginegrasian pandangan mengenai perencanaa waktu, dan
pembuatan keputusan, misalnya, semuanya memerlukan komunikasi. Delegasi,
koordinasi, serta pengubahan dan pengembangan organisasi juga memerlukan
komunikasi. Perancangan sistem balas jasa dan interaksi dengan bawahan sebagai bagian
dari fungsi kepemimpinan akan mustahil tanpa komunikasi. Dan komunikasi dibutuhkan
dalam pembentukan standar, pemantauan kinerja, dan pengambilan tindakan-tindakan
korektif sebagai bagian dari fungsi pengendalian. Jadi, jelas bahwa komunikasi
merupakan bagian yang melekat pada hampir semua aktivitas manajerial.
(Griffin,2002:105-106 jilid 2)
8. Ilmu Ekonomi
Menyangkut ketersediaan, produksi, dan distribusi sumberdaya dalam sebuah
masyarakat. Pemerintah, agen-agen militer, gereja, sekolah, dan organisasi bisnis dalam
setiap kemasyarakatan membutuhkan sumberdaya untuk mencapai tujuan mereka, dan
kekuatan ekonomi mempengaruhi alokasi dari sumber daya yang langka. Sumberdaya
dapat berupa manusia atau materi buatan dipabrikasi atau alami, fisik atau konseptual,
tapi sejalan dengan waktu jumlahnya langka dan harus dialokasikan di antara para
pemakai yang bersaing. Praktik dan perspektif manajemen sifatnya beragam sejalan
dengan waktu sebagai reaksi atas kekuatan sosial, politik dan ekonomi ini dalam
masyarakat yang lebih luas. (Richard L.Daft,2000:48)
Manajer global harus sadar tentang hal-hal ekonomi ketika melakukan bisnis di negara
lain. Yang pertama adalah memahami jenis sistem ekonomi di negara mana usaha itu di
jalankan. Dua jenis utama adalah ekonomi pasar dan ekonomi komando. Ekonomi pasar
adalah sesuatu dimana sumber daya terutama dimiliki dan dikontrol oleh sektor
perorangan. Ekonomi komando adalah sesuatu dimana keputusan ekonomi direncanakan
dari pemerintah pusat. Pada kenyataannya, tak ada ekonomi yang benar-benar ekonomi
pasar atau komando. Sebagai contoh, Amerika Serikat dan inggris adalah dua negara di
akhir spectrum pasar, tapi pemerintahan mereka hanya sedikit mengontrol. Walau begitu,
ekonomi Vietnam dan korea utara akan lebih dikomando. Lalu china, sebuah negara yang
ekonominya lebih dikomando, tapi sedang bergerak menjadi lebih berbasis pada pasar.
Mengapa manajer perlu mengetahui sistem ekonomi negara-negara? Karena hal ini
mempunyai potensi untuk membatasi keputusan dan tindakan. Hal ekonomi lainnya yang
perlu dipahami oleh manajer meliputi tingkat pertukaran mata uang, tingkat inflasi, dan
beragam kebijakan pajak.
Akibatnya, sangat berbeda-bedanya kebijakan perpajakan merupakan perhatian yang
besar bagi manajer global. Beberapa negara tuan rumah bersikap lebih membatasi
daripada negara asal organisasi itu. Negara-negara lain jauh lebih ringan kebijakannya.
Satu-satunya kapasitas ialah bahwa peraturan perpajakan itu berbeda-beda di berbagai
negara. Para manajer membutuhkan pengetahuan yang pasti tentang berbagai peraturan
perpajakan di negara tempat mereka beroperasi untuk meminimalkan kewajban pajak
keseluruhan perusahaan mereka. (Stephen P. Robbins dan Mary Coulter,2007:105-106).
DAFTAR PUSTAKA

Daft, Richard L.2000.Manajemen Edisi Kelima jilid 1 .Jakarta:Erlangga.


Griffin, Ricky W.2002.Manajemen Jilid 1 Edisi 7. Jakarta:Erlangga.
Terry,George R.1986.Asas-Asas Menejemen. Bandung: P.T Alumni.
Gibson, dkk.1996.Manajemen Edisi Kesembilan Jilid 1. Jakarta;Erlangga.
Griffin, Ricky W.2002.Manajemen Jilid 2 Edisi 7. Jakarta:Erlangga.
Robbins, Stephen P, dan Mary Coulter 2007. Manajemen Edisi Kedelapan Jilid
1.Indonesia:PT MACANAN