Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada pertemuan yang lalu telah diuraikan salah satu metode perhitungan harga pokok
produksi yang dikenal dengan nama metode full costing. Dalam metode tersebut, harga pokok
produksi dihitung dengan menjumlah semua unsur biaya produksi, baik biaya produksi yang
berpeilaku tetap maupun yang berperilaku variabel. Penentuan harga pokok produksi tersebut
tidak selalu dapat menghasilakan informasi akuntansi yang relevan dengan kebutuhan
manajemen. Untuk kepentingan perencanaan laba dan pengambilan keputusan jangka pendek,
manajemen memerlukan informasi biaya menurut perilakunya. Oleh karena itu timbul konsep
lain yang tidak memperhitungkan semua biaya produksi sebagi komponen harga produksi.
Metode perhitungan harga pokok produksi dan disebut dengan istilah metode variabel costing
atau dikenal dengan nama direct costing.

Dalam makalah ini dibahas metode variabel costing dengan diawali perbandingan
metode variabel costing dengan metode penentuan harga pokok produksi yang selama ini
lebih banyak dikenal: full costing. Perbandingan ini dimaksudkan untuk memahami dasar-
dasar pikiran yang melandasi variabel costing. Akan diakhiri dengan uraian manfaat
informasi akuntansi yang dihasilkan oeh metode variabel costing dan akuntansi biaya dengan
metode variabel costing, serta kelemahan metode variabel costing.

1.2 Rumusan Masalah

Makalah ini memuat rumusan masalah sebagai berikut:


1. Apa saja perbedaan metode full costing dengan metode variabel costing?
2. Bagaimana perhitungan laba rugi menurut metode variabel costing?
3. Bagaimana cara pengumpulan biaya dalam metode variabel costing?
4. Bagaimana cara penyajian laporan laba rugi kepada pihak luar perusahaan?
5. Apa saja manfaat informasi yang dihasilkan oleh metode variabel costing?
6. Apa saja kelemahan metode variabel costing?

1.3 Tujuan Pembuatan Makalah

Makalah ini memuat tujuan sebagai berikut:


1. Untuk mendeskripsikan apa saja perbedaan dari metode full costing dengan metode
variabel costing.
2. Untuk mendeskripsikan bagaimana perhitungan laba rugi menurut metode variabel
costing.
3. Untuk mendeskripsikan cara pengumpulan biaya dalam metode variabel costing.
4. Untuk mendeskripsikan cara penyajian laporan laba rugi kepada pihak luar perusahaan.
5. Untuk mendeskripsikan manfaat dari metode variabel costing.
6. Untuk mendeskripsikan kelemahan dari metode variabel costing.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERBANDINGAN METODE FULL COSTING DENGAN METODE VARIABEL


COSTING

Metode full costing maupun varibel costing merupakan metode penentuan harga pokok
produksi.Perbedaan pokok yang di ada di antara kedua metode tesebut adalah terletak pada
perlakuan terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap.Adanya perbedaan perlakuan
terhadap biaya produksi ini akan mempunyai akibat pada :(1) Perhitungan harga pokok
produksi dan (2) penyajian laporan laba rugi.

2.1.1 Perbedaan metode full Costing dengan metode Variable Costing Dintinjau dari
susdut penentuan harga poko produksi

Full Costing sering pula di sebut absortption atau conventionalCosting adalah metode
penentuan harga pokok produksi,yang membebankan seluruh biaya produksi,baik yang
berperilaku tetap maupun kepada variable produk.Harga pokok produksi Menurut metode full
Costing terdiri dari:

Biaya bahan baku Rpxx

Biaya tenaga kerja langsung xx

Biaya overhead pabrik tetap xx

Biaya overhead pabrik variable Rpxx

Harga pokok produk

Dalam metode full costing,biaya overhead pabrik,baik ytang berperilaku tetap maupun
variable,dibebankan kepada produk yang di produksi atas dasar taruf yang di tentukab di
muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya.Oleh
karena itu,biaya overhead pabrik akan tetap melekat pada hartga pokok persedian produk
dalam proses dan persedian produk jadi yang belum laku du jual,dan baru dianggap sebagai
biaya(unsure harga pokok penjualan)apabila produk jadi tersebut telah dijual.

Karena biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar terif yang di
tentukan di muka pada kapasitas normal,maka jiak dalam suatu periode biaya overhead pabrik
sesungguhnya berbeda dengan yang dibebankan tersebut,akan terjadi pembebanan overhead
lebih(overaplied factor overhead) atau pembebanan biaya overhead pabrik
kurang(underaplied factor overhead).Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut
belum laku dijual maka pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang tersebut di
gunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok produk yang masih dalam persedian
tersebut(baikmyangb berupa persedian produk dalam proses maupun produk jadi).Namun jika
dalam suatu periode akuntansi tidak terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang,maka

2
biaya overhead pabrik tetap tidak mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba rugi
sebelum produknya laku dijual.

Variabel Costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
membebankan biaya-biaya produksi variable costing terdiri dari

Biaya bahan baku Rpxx

Biaya tenaga kerja variable xx

Biaya overhead pabrik variable xx

Harga pokok produk Rpxx

Dalam metode variable costing,biaya overhead pabrik tetap diperlukan sebagai period
costs dan buka sebagai unsure hrga pokok produk,sehingga biaya overhead pabrik tetap
dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.Dengan demikian biaya overhead pabrik
tetap di dalam variable costing tidak melekat pada persedian produk yangb belum laku
dijual,tetapi langsung dianggap sebagai dalam periode terjadinya.

Metode full Costing menunda pembebana biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya
sampai saat produk yang bersangkutan di jual.Jadi biaya overhead pabrik yang terjadi,baik
yang berperilaku tetap maupun yang variable masih di anggap sebagai aktiva(karena melekat
pada persedian) sebelum persedian tersebut di jual.Sebaliknya metode variable Costing tidak
menyentujui penundaan pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut(atau dengan kata
lain tidak menyetujui pembebanan biaya overhead tetap kepada produk).

Menurut metode variable Costing,penundaan pembebanan suatu biaya hanya


bermanfaat jika dengan penundaan tersebut d harapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang
sama dalam periode yang akan dating.Sebagai contoh pada akhir tahun20X1 perusahaan
memiliki 100 kg produk dalam proses yang telah menelan biaya produksi sebagai berikut:

Biaya bahan baku Rp 5.000

Biaya tenaga kerja variable . 25..000

Biaya overhead pabrik variable 50.000

Biaya overhead pabrik tetap 30.000

Jumlah biaya produksi RP110.000

Biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang telah di konsumsikan dalam
pengolahan 100 kg produk tersebur baru dapat menyelesaikan 45%-nya,sedangkan bahan
baku Rp 5000 tersebut akan dapat meyelesaikan 100 kg produk tersebut menjadi produk
selesai.

3
Biaya bahan baku sebesar 5.000 tersebut di bebankan sebagai harga pokok produk
dalam proses dan melekat pada harga pokok persedian yang di cantumkan dalam neraca per
31 Desember 20X1, Biaya bahan baku tersebut tidak di bebankan sebagai biaya dalam tahun
20X1,tetapi ditunda pembebanannya dan pada tangga 31 Desember20X1 di anggap sebagi
aktiva.Dalam tahun 20X2 perusahaan tidak akan mengeluarkan biaya bahan baku untuk 100
kg persedian yang pada tanggal 31 Desember 20X1 masih dalam proses tersebut.Penundaan
pembebanannya biaya bahan baaku tersebut memang bermanfaat,karena penundaan biaya
tersebut dapat menghindarkan di keluarkannya biaya bahan baku untuk 100 kg produk dalam
proses tersebut dalam tahun 20X2 begitu pula biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik
variable.

Biaya overhead tetap merupakan biaya yang dalam jangka pendek tidak berubah
dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi.biaya tetap ini merupakan fungsi
waktu dan bukan merupakan fungsi produksi.Ada atau tidak ada produksi,biaya ini tetap
terjadi.Jadi penundaan pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut dan memperlakukan
biaya tersbut sebagai aktivita tidak bermanfaat,jika dalam periode yang akan datang biaya
overhead pabrik tetap tersebut akan tetap terjadi.Sebagai contoh,Jika baiay depresiasi mesin
(yang di hitung lurus dengan metode garis lurus)di perhitungkan kedalam harga pokok
produk,maka sebelum produk tersebut laku di jual biaya depresiasi ini masih melekat sebagai
harga pokok persedian.padahal dalam bulan berikutnya tetap akan di perhitungkan biaya
depresiasi sehingga menurut metode variable Costing penundaan pembebanan biaya
depresiasi ini (biaya tetap)tidak mempunyai manfaat,karena tidak dapat menghindari
pengeluaran biaya yang sama dalam periode yang akan datang

Dalam metode variable Costing biaya overhead pabrik tetap di perlakukan sebagai
period cost,yaitu biaya yang di bebankan di dalam periode terjadinya.Pengertian period cost
di dalam metode Full Costing dengan Variable Costing adalah berbeda.Full Costing
mengadakan pemisahan antara biaya produksi dengan period cost.Biaya produksi adalah
biaya yang dapat di identifikasikan dengan produk yang dihasilkan,sedangkan period adalah
biaya-biaya tidak ada hubungannya dengan produksi dan di bebankann sebagai biaya dalam
priode terjadinya.Biaya yang termasuk dalam period cost menurut Full Costing adalah biaya
pemasaran dan biaya administrasi dan umum(baik yang berperilaku tetap maupun variable)

Pengertian period cost dalam metode variable Costing berbeda dengan


FullCosting.Menurut metode Variabel Costing,period cost adalah biaya untuk

4
mempertahankan tingkat kapsitasitas tertentu guna memproduksi dan menjula produk.Dalam
metode Variabel Costing,period cost meliputi seluruh biaya tetap atau seluruh biaya kapasitas
(Capacity cost).Dengan demikian period cost menurut pengertian Variabel Costing adalalah
biaya yang dalam jangka pendek tidak berubah dalam hubungannya dengan perubahan
kegiatan yang meliputi:Biaya overhead pabrik tetap,biaya pamasaran tetap,biaya administrasi
dan umum tetap.

2.1.2.Perbedaan Full Costing dengan Merode Variabel Costing Ditinjau dari sudut
penyajian

Laporan laba Rugi

Ditinjau dari penyajian laporan laba rugi,perbedaan poko antara merode variable
Costing dengan Full costing adalah terletak pada klasifikasi pos-pos yang di sajikan dalam
laporan laba rugi tersebut.Laporan Laba rugi yang di susun dengan metode full costing
menitikberatkan pada penyajian unsure-unsur biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi-
fungsi pokok yang ada dalam perusahaan (function cost classcifation).Dengan demikian
Laporan Laba Rugi Metode Full Costing tampak pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1

Laoporan Laba Rugi Full Costing

Hasil Penjualan 500.000

Harga Pokok Penjualan(termasuk biaya ovberhead pabrik tetap) 250.000

Laba bruto 250.000

Biaya administrasi dan umum 50.000

Biaya pemasaran 75.000

125.000

Laba bersih 125.000

5
Laporan laba Rugi tersebut di atas menyajikan biaya-biaya menurut hubungan biaya
dengan fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur,yaitu fungsi produksi,pemasaran dan
fungsi administrasi dan umum.

Dilain pihak Laporan laba rugi metode Variabel Costing lebih menitikberatkan pada
penyajian biaya sesuai denga perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume
kegiatan(classification by cost behavior)

Gambar 5.2

Laporan laba rugi Variabel Costing

Hasil penjualan Rp 500.000

Di kurangi biaya-biaya variable:

Biaya produksi variable Rp150.000

Biaya pemasaran variable 50.000

Biaya administrasi dan umum variable 30.000

30.000

Laba konstribusi 270.000

Di kurangi biaya-biaya tetap

Biaya produksi tetap 100.000

Biaya pemasaran tetap 25.000

Biaya daministrasi dan umum tetap 20.000

145.000

Laba bersih Usaha 125.000

Dalam laporan laba rugi Variabel Costing tersebut di atas biaya tetap di sajikan dalam
satu kelompok tersendiri yang harus di tutup dari laba konstribusi yang di peroleh perusahaan
,sebelum timbul laba bersih.Dengan menyajika semua biaya tetap dalam satu kelompok

6
tersendiri dalam laporan laba rugi ini,manajemen dapat memusatkan perhatian pada perilaku
biaya tetap ini dan dapat melakukan pengawasan terhadap biaya tersebut,baik dalam
perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

2.2 PERHITUNGAN LABA RUGI MENURUT METODE VARIABEL COSTING

Berikut ini disajkam contoh perhitungan laba rugi menurut metode full costing dan metode
variabel costing untuk jangka waktu tiga bulan berturut – turut.
Contoh 1
PT. EL Sari memproduksi satu jenis produk. Data produksi dan biaya bulan Januari, Februari,
dan Maret 20x1. Disajikan pada gambar 5.3.

Gambar 5.3
Data produksi dan biaya PT. EL Sari bulan Januari, Februari dan Maret 20x1

Keterangan Januari Februari Maret Total

Persediaan awal 30 unit 40 unit 15 unit 30 unit


Produksi 200 165 165 530
Penjualan 190 190 165 545
Persdiaan Akhir 40 15 15 15
..................................................................................................................................................................
Harga Jual per Unit Rp 100 Rp. 100 Rp. 100
Biaya bahan baku per unit 20 20 20
Biaya tenaga kerja per unit 10 10 10
Biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya 1.700 1.700 1.700 Rp. 5100
Biaya overhead pabrik variabel sesungguhnya 800 660 600 2.120

Tarif biaya overhead pabrik per unit produk :


Tarif variabel 4 4 4
Tarif tetap 8 8 8

Biaya dministrasi & umum


Variabel per unit yang dijual 3 3 3
Tetap 400 400 400 1200
Biay pemasaran
Variabel per unit yang dijual 10 10 1 6.150
Tetap 1000 1000 1000 3.000

Total Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar unit produk yang di
hasilkan. Tarif biaya overhead pabrik dihitung atas dasar kapasitas produksi normal per bulan
sebanyak 200kg. Dengan taksiran biaya biaya overhead pabrik variabel sebesar Rp800 dan
biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp1.600 sebulan. Tarif standar biaya overhead pabrik
tersebut berasal dari perhitungan berikut ini:]

Tarif biaya overhead pabrik variabel: Rp800 : 200 =Rp4 per kg.

Tarif biaya overhead pabrik: Rp1.600 : 200 =Rp8 per kg.

7
Biaya produksi per unit menurut periode full costing dan variabel costing dihitung
seperti disajikan pada gambar 5.4.

Gambar 5.4
Harga pokok per unit Produk Menurut full costing dan variabel costing

Full costing Variabel costing

Biaya bahan baku Rp.20 Rp.20


Biaya tenaga kerja 10 10
Biaya overhead variabel 4 4
Biaya overhead pabrik tetap 8 -
Biaya produksi perunit Rp.42 Rp.34

2.2.1 Penjelasan Perbedaan Perhitungan Laba Rugi Metode Full Costing dengan
Metode Variabel Costing

Jumlah biaya overhead pabrik tetap per satuanyang dibebankan kepada produk adalah sebesar
c/b.dalam metode fullcosting,biayaoverhead pabrik tetap yang dibebankan kepada produk per
periode adalah sebesar hasil kali biaya overhead pabrik tetap persatuan produk [c/d]dengan
jumlah produk yang dijual dalam periode tersebut [a],metode variablecosting membedakan
seluruh biaya overhead pabrik tetap [c] kedalam periode terjadinya dan dipertemukan dengan
pendapatan [revenues]yang diperoleh dalam periode tersebut.dengan demikian selisih laba
rugi yang dihitung menurut metode fullcosting dan variablecosting dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Beban biaya overhead pabrik tetap menurut fullcosting [c/b] a
Beban biaya overhead pabrik tetap menurut variablecosting c
Selisih laba rugi menurut fullcosting dengan variablecosting c/b[a-b]
[c/b+a]+c=[c/b-a]-[cb/b]=c/b[a-b]

PT EL SARI

laporan laba rugi bulan januari,februari,maret 20x1

full costing Variabel costing

januari februari maret januari februari maret


[Rp] [RP] [RP] [RP] [RP] [RP]

8
190 190 165
volume penjualan[unit] 190 190 165 Hasil penjualan
variabel Xrp100 19,000 19,000 16,500
hasil penjualan volume xRP100 19,000 19,000 16,500

harga pokok penjualan biaya variabel

persediaan awal 1,260 1,680 630 persediaan awal


1,260 1,680 630
biaya bahan baku 4,000 3,300 3,300 biaya bahan baku
4,000 3,300 3,300
biaya tenaga kerja 2,000 1,650 1,630 biaya tenaga kerja
2,000 1,650 1,650
biaya overhead pabrik variabel 800 660 660 biaya
overhead pabrik variabel 800 660 660
biaya overhead pabrik tetap 1,600 1,320 1,320

harga pokok produk siap dijual 9,660 8,610 7,560 harga pokok
produk siap dijual 7,820 6,920 6,120
persediaan akhir 1,680 630 630 pesediaan akhir
1,360 510 510
Hg,Pk,penju.sebelum disesuaikan 7,980 7,980 6,930
harga pokok penjualan variabel 6,460 6,460 5,610
biaya overhead pabrik[lebih]

kurang dibebankan 100 380 380 biaya


administrasi&umum variabel 570 570 495
harga pokok penjualan biaya pemasaran
variabel 1,900 1,900 1,650
setelah disesuaikan 8,080 8,360 7,310

total biaya variabel


8,930 8,9307,775
laba bruto 10,920 10,640 9,190 laba kontribusi
10,070 10,070 8,745

biaya komersial biaya tetap

biaya administrasi dan umum biaya


overhead pabrik tetap 1,700 1,700 1,700
variabel 570 570 495 biaya adm&umum tetap
400 400 400
tetap 400 400 400 biaya pemasaran tetap
1,000 1,000 1,000
biaya pemasaran

variabel 1,900 1,900 1,650

9
tetap 1,000 1,000 1,000

jumlah biaya komersial 3,870 3,870 3,545 jumlah laba tetap


3,100 3,100 3,100
laba bersih 7,030 6,770 5,643 laba bersih
6,970 6,970 5,545

a. jika volume penjualan sama dengan volume produksi[a=b] maka c/b [a-b] hasilnya sama
dengan 0.dengan demikian laba atau rugi yang dihitung dengan fullcosting sama dengan
metode variablecosting.pada gambar 5.5 laporan lab rugi fullcosting bulan maret 20x1
menghasilkan laba sebesar RP5.645,yang sama jumlahnya dengan laba yang dilaporkan oleh
metode variablecosting.biayaoverhead pabrik tetap yang dibebankan kepada persediaan akhir
dalam metode fullcosting mempunyai akibat terhadap perhitungan laba rugi dalam rugi bulan
maret sebagai berikut:
biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada
persediaan awal [mengurangi laba bersih]=15Xrp8 RP120
biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada
persediaan akhir[menambah laba bersih]=15XRP8 120
selisih laba bersih metode fullcosting dengan metode variablecosting 0
jika persediaan akhir sama dengan persediaan awal maka laba bersih menurut metode
fullcosting akan sama dengan laba bersih menurut metode variablecosting,karna bagian
periodcosts[biaya overhead pabrik tetap] yang melekat pada persediaan awal yang
dibebankan sebagai biaya dalam periode sekarang sama dengan sebagian periodcosts yang
ditunda pembebanannya dalam periode sekrang.
b. jika volume penjualan lebih besar dari volume produksi [a>b],maka rumus c/b[a-b]
hasilnya positif,yang berarti metode fullcosting membebankan biaya overhead pabrik tetap
lebih besar jika dibandingkan dengan yang dibebankan dengan metode variablecosting,yang
mengakibatkan laba fullcosting lebih rendah dibandingkan laba variablecosting.dengan
demikian jika volume penjualan lebih besar dari volume produksi,metodefullcosting akan
menghasilkan perhitungan laba bersih rendah jika dibandingkan dengan variablecosting.pada
gambar 5.5 dalam bulan februari 20x1 metode fullcosting menghasilkan laba sebesar
RP6.770,yang lebih rendah RP200,dibandingkan dengan laba yabg dihasilkan oleh metode
variablecosting[RP6.970].perbedaan jumlah biaya overhead pabrik tetap yang dibebankan
kepada prsediaan awal dan persediaan akhir dalm metode fullcosting mempunyai akibat
terhadap prhitungan.laba rugi bulan februari sebagai berikut:
biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada
persediaan awal [mengurangi laba bersi]=40XRP8 RP320
biaya overhead pabrik yang melekat pada
persediaan akhir[menambah laba bersih]=15XRP8 120
selisih[lebih rendah]laba bersih metode fullcosting dari
metode variablecosting
RP200
jika persediaan akhir lebih kecil dari persediaan awal maka laba bersih menurut metode
fullcosting akan lebih kecil disbanding dengan laba bersih menurut metode
variablecosting,karna sebagian periodcosts yang melekat pada persediaan sekarang lebih
besar bila dibandingkan dengan sebagian periodcosts yang melekat pada persediaan akhir
yang ditunda pembebananya dalam periode sekarang.

10
c. jika volume penjualan lebih kecil dari volume produksi[a<b],maka rumus c/b[a-b]hasilnya
negative,yang berarti metode fullcosting membebankan biaya overhead pabrik tetap lebih
kecil jika dibandingkan dengan yang dibebankan dengan metode variablecosting yang
mengakibatkan laba fullcosting lebih tinggi dibandingkan dengan variablecosting.pada
gambar 5.5,dalam bulan januari 20x1 metode fullcosting menghasilkan laba RP7.050,yang
lebih besar RP80 dibandingkan dengan laba variablecosting [RP6.970].hal ini disebabkan
karna fullcosting menunda pembebanan overhead pabrik tetap dengan cara memperhitungkan
biaya tersebut kedalam persediaan akhir.perbedaanjumlah biaya overhead pabrik tetap yang
dibebankan sebagai biaya bulan januari dalam masing-masing metode tersebut adalah sebagai
berikut:
biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada
persediaan awal[mengurangi laba bersih]=30XRP8 RP240
biaya overhead pabrik yang melekat pada
persediaan akhir[menambah laba bersi]=40xRP8 RP320
selisih[lebih tinggi]laba bersih metode full
costing dari metode variablecosting RP80
Oleh karna fullcosting menunda pembebanan overhead pabrik tetap sebagai biaya dalam
bulan januari,maka akibatnya adalah laba bersih bulan januari menurut fullcosting lebih
tinggi RP80[RP7.050].jadi jika prsediaan akhir lebih besar dari persediaan awal maka laba
bersih menurut metode fullcosting lebih besar dibandingkan dengan laba bersi menurut
metode variablecosting,karna pembagian periodcosts yang melekat pada persediaan awal
yang dibebankan sebagai biaya dalam periode sekarang lebih kecil jika dibandingkan dengan
pembagian periodcosts yang melekat pada persedaan akhir yang ditunda pembyarannya
dalam periode sekarang.
2. Menurut metode fullcosting,dalam bulan januari pada terjadinya pembebanan kurang biaya
overhead pabrik sebesar Rp100 yang dihitung sebagai berikut:
Biaya overhead pabrik sesungguhnya[gambar 5.5]
Variable RP800
Tetap RP1.700
RP2.500
Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk
Variable 200XRP4 RP800
Tetap 1.600
2.400
Pembebanan kurang biaya overhead pabrik[underapplied] RP100
Dalam bulan februari 20x1 terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik sebesar RP380
yang dihitung sebagai berikut:
Biaya overhead pabrik sesunghnya[gambar 5.5]
Variable RP660
Tetap 1.700
RP2.360
Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk
Variable 165xRP4 RP660
Tetap 165XRP8 1.320
1.980
Pembebanan kurang biaya overhead pabrik[underapplied] RP380
Dalam bulan maret 20x1 terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik sebesar RP380
yang dihitung sebagai berikut:
Biaya overhead pabrik sesungguhnya[gambar 5.3]
Variable RP660

11
Tetap 1.700
RP2.360
Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk
Variable 165xRP4 RP660
Tetap 165xRP8 1.320
1.980
Pembebanan kurang biaya overhead pabrik[overapplied] RP380
3. bila volume penjualan konsultan dan volume produksi berubah,maka laporan laba rugi
variablecostingmenunjukanlabarugi yang konstan karna laba atau rugi tidak dipengaruhi oleh
perubahan persediaan,sedangkan laporan laba rugi fullcosting akan menunjukan laba atau
rugi yang berubah,karna dipengaruhi oleh perubahan persediaan.pada gambar 5.5 laporan
laba variablecosting bulan januari dan februari 20x1 menyajikan laba yang
konstan[RP6970].dilain pihak laporan rugi metode fullcosting bulan januari dan februari 20x1
menyajikan laba yang berubah [bulan januari sebesar RP7.050 dan bulan februari sebesar
RP6.770],meskipun tidak terjadi perubahan volume penjualan dan biaya per unit.

4.bila volume produksi konstan,kedua metode tersebut akan menunjukan laba yang berubah
sesuai dengan penjualanya,yaitu bila volume naik,maka laba akan naik dan sebaliknya.tetapi
perubahan laba dalam kedua metode tersebut tidak
sama,karnadidalamfullcosting,perubahandipengruhi oleh perubahan persediaan.pada gambar
5.5,produksi bulan februari dan maret tidak mengalami perubahan[165 unit per bulan].karna
bulan dalam bulan maret terjadi penurunan volume penjualan,maka baik metode fullcosting
maupun variablecosting menyajikan laba tersebut tidak sama antara kedua metode tersebut.

2.3 PENGUMPULAN BIAYA DALAM METODE VARIABEL COSTING

Menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan kegiatan, biaya dapat dibagi
menjadi 3 golongan: Biaya tetap, Biaya variabel, dan Biaya semi variabel. Biaya tetap adalah
biaya yang dalam kisar perubahan kegiatan tertentu tidak berubah dengan adanya perubahan
volume kegiatan, sedangkan Biayavariabel adalah Biaya yang berubah sebanding dengan
perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabela dalah biaya yang mengandung unsure tetap
dan unsure variabel , yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
Metode variabel costing diterapkan dalam akuntansi biaya, di dalam buku besar perlu
disediakan rekening-rekening control berikut ini:

Biaya Overhead Pabrik Variabel yang di bebankan .


Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya.
Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya tetap

Biaya Administrasi & Umum


Biaya Administrasi & Umum variabel
Biaya Administrasi & umum Tetap

Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran Variabel
Biaya Pemasaran Tetap

12
Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang di bebankan kepada produk atas dasar tarif
yang di tentukan di muka adalah sebagai berikut:

Barang dalam proses – Biaya Overhead Pabrik Rp XX


Biaya Overhead PabrikVariabel yang di bebankan RpXX

Jurnal untuk mencatat Biaya Overhead pabrik yang sesungguhnya adalah sebagai berikut:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya RpXX


Berbagai Rekening yang di kredit RpXX

Pada akhir periode akuntansi, Biaya overhead pabrik di analisis perilakunya (dengan
menggunakan metode regresi misalnya) untuk dipisahkan kedalam biaya overhead pabrik
tetap dan biaya overhead pabrik variabel. Berdasarkanan alisis tersebut, biaya overhead
pabrik sesungguhnya kemudian dipindahkan dari rekening biaya overhead sesungguhnya
kedalam rekening biaya overhead pabrik variable sesungguhnya dan biaya overhead overhead
pabrik tetap sesungguhnya. Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya
terjadi adalah sebagai berikut:

Biaya Overhead Pabrik Variabel Sesungguhnya RpXX


Biaya Overhead Pabrik tetap Sesungguhnya RpXX
Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya RpXX
Pencatatan Biaya pemasaran dan Biaya administrasi & umum serupa dengan
pencatatan biaya overhead sesungguhnya. Biaya pemasaran dan administrasi & umum yang
terjadi dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

Biaya Pemasaran RpXX


Biaya Administrasi & umum XX
Berbagai Rekening yang Dikredit RpXX

Pada akhir periode akuntansi, Biaya pemasaran dan administrasi & umum dianalisis
perilakunya untuk dipisahkan kedalam biaya yang berperilaku tetap dan biaya yang
berperilaku variabel. Berdasarkan analisis tersebut, biaya pemasaran kemudian dipindahkan
dari rekening biaya pemasaran kedalam rekening biaya pemasaran variable dan biaya
pemasaran tetap. Begitu pula dengan biaya administrasi dan umum. Jurnal untuk mencatat
biaya pemasaran dan biaya Administrasi & umum menurut perilakunya adalah sebagai
berikut:

Biaya pemasaran variable Rp XX


Biaya pemasaran tetap XX
Biaya Administrasi & umum Variabel XX
Biaya Administrasi & umum Tetap XX
Biaya Pemasaran RpXX
Biaya Administrasi & Umum XX

2.4 PENYAJIAN LAPORAN LABA RUGI KEPADA PIHAK LUAR PERUSAHAAN

13
Jika perusahaan menggunakan metode variable costing dalam akuntansi biayanya,
untuk menyajikan laporan laba rugi bagi kepentingan pihak lur perlu dilakukan perubahan
unsur biaya yang diperhitungkan ke dalam harga pokok persediaan produk dalam proses,
persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan.
Untuk mengubah laporan laba rugi metode variabel costing ke dalam laporan laba
rugi full costing, diperlukan tiga langkah perubahan berikut ini :
Langkah Pertama. Persediaan awal produk dalam proses dan persediaan awal
produk jadi ditambah harga pokoknya dengan biaya overhead pabrik tetap. Untuk itu perlu
diketahui jumlah biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi dalam periode akuntansi
sebelumnya. Jumlah ini dibagi dengan dasar pembebanan akan diperoleh biaya overhead
pabrik tetap per unit dasar pembebanan. Biaya overhead pabrik tetap per unit ini dikalikan
dengan kuantitas dasar pembebanan yang terdapat dalam persediaan awal akan diperoleh
tambahan harga pokok persediaan awal. Misalkan dalam contoh 1 di aras, total biaya
overhead tetap sesungguhnya PT Rimendi dalam tahun 20X1 berjumlah

PT Rimendi

Laporan Laba Rugi untuk Bulan Januari 20X1

Hasil penjualan Rp200.400


Biaya Variabel:
Persediaan Produk Dalam Proses Awal Rp 7.900
Biaya Produksi:
Biaya bahan baku 12.000
Biaya tenaga kerja 25.000
Biaya overhead pabrik 50.000
Rp 94.900
Persediaan produk dalam proses akhir 25.800
Harga pokok produksi Rp 69.100
Persediaan produk jadi akhir 19.000
Harga pokok penjualan sebelum adjusment biaya overhead pabrik Rp 50.100
Pembebanan lebih biaya overhead pabrik 4.000
Harga pokok penjualan sesungguhnya 46.100
Rp154.300
Biaya administrasi dan umum variabel Rp -
Biaya pemasaran variabel -
Laba kontribusi
- Rp 154.300
Biaya tetap:
Biaya overhead pabrik tetap Rp 49.000
Biaya administrasi & umum tetap 20.000
Biaya pemasaran tetap 26.000
Total biaya tetap 95.000

Laba bersih 59.300

14
Rp 599.850 dan dibebankan kepada produk atas dasar biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp
322.500, maka biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya adalah 186% (599.850 : 322.500)
dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian harga pokok persediaan produk dalam
proses awal dihitung harga pokoknya menurut full costing sebagai berikut:

Biaya produksi variabel yang melekat pada persediaan produk


dalam proses awal Rp 7.900
Tambahan biaya overhead pabrik tetap
186% x Rp 1.700 (biaya tenaga kerja langsung) 3.162
Harga pokok persediaan produk dalam proses Rp11.062
awal menurut metode full costing

Langkah kedua. Biaya produksi menurut variabel costing yang semula hanya
membebankan biaya produksi variabel saja perlu di-adjust dengan menambahkan biaya
overhead pabrik tetap sesungguhnya Rp 49.000.

Langkah ketiga. Persediaan akhir produk dalam proses dan persediaan akhir produk
jadi tambah harga pokoknya dengan biaya overhead pabrik tetap. Untuk itu biaya overhead
pabrik tetap sesungguhnya yang terjadi dalam periode akuntansi sekarang dibagi dengan
dasar pembebanan untuk menghitung biaya overhead pabrik tetap per unit dasar pembebanan.
Biaya overhead pabrik tetap per unit ini dikalikan dengan kuantitas dasar pembebanan yang
terdapat dalam persediaan akhir akan diperoleh tambahan harga pokok persediaan akhir.
Dalam contoh 1 di atas, total biaya overhead tetap sesungguhnya PT atas dasar biaya tenaga
kerja langsung sebesar Rp 25.000, maka biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya adalah
196% (49.000 : 25.000) dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian harga pokok
persediaan produk dalam proses akhir dan persediaan produk jadi akhir dihitung harga
pokoknya menurut full costing yang disajikan pada gambar 5.16.

Gambar 5.16
Perhitungan Harga Pokok Persediaan Produk Dalam Proses dan Persediaan Produk Jadi

Persediaan Produk Dalam Proses Akhir:

Biaya produksi variabel yang melekat pada persediaan produk dalam proses akhir Rp 25.800
Tambahan biaya overhead pabrik tetap 196% x Rp6.600 (biaya tenaga kerja langsung) 12.936

Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir menurut metode full costing Rp 38.736

Persediaan Produk Jadi Akhir:


Biaya produksi variabel yang melekat pada persdiaan produk jadi akhir Rp 19.000
Tambahan biaya overhead pabrik tetap 196% x Rp5.000 (biaya tenaga kerja langsung) 9.800

Harga pokok persediaan produk jadi akhir menurut metode full costing Rp 28.800

Laporan laba rugi metode full costing yang disusun dari modifikasi informasi yang
disajikan dalam laporan laba rugi variabel costing disajikan pada gambar 5.17.

Perbedaan laba metode variabel costing dengan laba metode full costing sebesar

15
Rp 19.574 (Rp 73.874 – Rp 54.300) dapat dijelaskan sebagai berikut:

Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan


produk dalam proses awal (mengurangi laba bersih): Rp 3.162
Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan produk
dalam proses akhir (menambah laba bersih) 196% x Rp 6.600= Rp 12.936
Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan
produk jadi akhir (menambah laba bersih): 196% x Rp 5.000= Rp 9.800
22.736
Laba bersih metode full costing lebih besar daripada laba
bersih metode variabel costing Rp 19.574

Gambar 5.17
Laporan Laba Rugi PT Rimendi Bulan Januari 20X1 yang Disajikan Menurut Metode Full
Costing

PT Rimendi
Laporan Laba Rugi untuk bulan Januari 20X1

Hasil penjualan Rp200.400


Biaya Variabel:
Persediaan Produk Dalam
Proses Awal Rp11.062
Biaya Produksi:
Biaya bahan baku 12.000
Biaya tenaga kerja 25.000
Biaya overhead pabrik variabel 50.000
Biaya overhead pabrik tetap 49.000
Rp147.062
Persediaan produk dalam proses akhir 38.736

Harga pokok produksi Rp108.326


Persediaan produk jadi akhir 28.800

Harga pokok penjualan sebelum adjustment biaya


overhead pabrik Rp79.526
Pembebanan lebih biaya overhead pabrik 4.000

Harga pokok penjualan sesungguhnya 75.526

Laba bruto Rp124.874

Biaya komersial:
Biaya administrasi & umum Rp25.000
Biaya pemasaran 26.000

Total biaya komersial 51.000

Laba bersih Rp 73.874

16
2.5 MANFAAT INFORMASI YANG DIHASILKAN OLEH METODE VARIABLE
COSTING

Dengan menyajikan informasi biaya yang dikelompokkan sesuai dengan perilakunya


dalam hubungannya dengan perubahan kegiatan perusahaan,laporan keuangan yang disusun
berdasar metode variable costing bermanfaat bagi manajemen untuk :
(1) Perencanaan laba jangka pendek
(2) Pengendalianbiaya
(3) Pembuatankeputusan.

2.5.1 Manfaat Informasi Variable Costing Dalam Perencanaan Laba Jangka Pendek
Untuk kepentingan perencanaan laba jangka pendek, manajemen memerlukan
informasi biaya yang dipisahkan menurut perilaku biaya dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan. Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya
perubahan volume kegiatan, sehingga hanya biaya variabel yang perlu dipertimbangkan oleh
manajemen dalam pengambilan keputusannya. Oleh karena itu, metode variable costing yang
menghasilkan laporan laba rugi yang menyajikan informasi biaya variabel yang terpisah dari
informasi biaya tetap dapat memenuhi kebutuhan manajemen untuk perencanaan laba jangka
pendek. Laporan laba rugi variable costing menyajikan dua ukuran penting, yaitu : (1) laba
kontribusi, dan (2) operating leverage. Cara perhitungan dua ukuran tersebut disajikan
padaGambar 5.18.

Gambar 5.18
Perhitungan Ratio LabaKontribusidanOperating Leverage :

HasilPenjualan Rp. 100 Ratio


BiayaVariabel 60Laba = 40 : 100
LabaKontribusi Rp. 40 Kontribusi
BiayaTetap Rp. 30Operating = 40 : 10
LabaBersih Rp. 10 Leverage

Perencanaan laba jangka pendek dilakukan oleh manajemen pada saat penyusunan
anggaran. Dalam proses penyusunan anggaran tersebut manajemen berkepentingan untuk
menguji dampak setiap alternatif yang akan dipilih terhadap laba perusahaan. Karena dalam
jangka pendek biaya tetap tetap tidak berubah, maka informasi yang relevan dengan
perencanaan laba jangka pendek adalah informasi yang berdampak terhadap hasil penjualan
dan biaya variabel, yang keduanya merupakan komponen untuk menghitung laba kontribusi
dan ratio laba kontribusi.

Misalnya dalam penyusunan anggaran, manajemen puncak mempertimbangkan


rencana untuk menaikkan harga jual produk sebesar 10% yang diperkirakan tidak akan
mengurangi kuantitas produk yang akan dijual. Jika biaya variabel dan biaya tetap tidak
mengalami perubahan, dampak kenaikan harga jual tersebut terhadap laba jangka pendek
dapat dengan mudah dihitung dengan cara menaikkan ratio laba kontribusi dengan presentase
kenaikan harga jual tersebut. Jikaratio laba kontribusi sebesar40% maka laba bersih akan naik
4% (40%x10%) dengan adanya rencana kenaikan harga jual sebesar 10% tersebut.

Dengan ratio laba kontribusi manajemen dapat dengan mudah mempertimbangkan


alternatif yang menyangkut biaya tetap. Jika misalnya ratio laba kontribusi sebesar 40% dan
manajemen puncak memperkirakan dengan menaikkan anggaran biaya iklan sebesar

17
Rp.11.000.000 akan menaikkan hasil penjualan sebesar Rp. 35.000.000. Alternatif ini dapat
diuji kelayakannya dengan perhitungan berikut ini:

Kenaikan laba kontribusi 40% x Rp. 35.000.000 Rp. 14.000.000


Kenaikan biaya iklan 11.000.000
Dampak kenaikan biaya iklan terhadap laba bersih Rp. 3.000.000

Dengan adanya pemisahan biaya tetap dan biaya variabel dalam laporan laba rugi metode
variable costing, hal ini memungkinkan manajemen melakukanan analisis hubungan antara
biaya, volume dan laba.
Contoh berikut ini menyajikan pemanfaatan informasi yang dihasilkan oleh metode variable
costing dalam analisis biaya, volume dan laba.

Contoh
PT El Sari merupakan perusahaan dagang sepatu. Laporan laba rugi yang diprediksikan untuk
tahun anggaran 20X1 disajikan pada Gambar 5.19.

Gambar 5.19
Laporan Laba Rugi yang Diprediksikan untuk Tahun Anggaran 20X1

Hasil penjualan 2.000 x Rp. 4.000


Rp8.000.000
Biaya Variabel:
Harga pokok penjualan :
2.000 x Rp. 2.500 Rp5.000.000
Komisi penjualan :
2.000 x Rp. 250 500.000
Jumlah biaya variabel 5.500.000
Laba Kontribusi
Rp2.500.000
Biaya Tetap:
Sewa toko Rp720.000
Gaji penjaga toko 200.000
Biaya iklan 100.000
Biaya tetap lain 50.000
Jumlah biaya tetap
1.070.000
Laba bersih
Rp1.430.000

Dalam tahun anggaran 20X1, manajemen puncak merencanakan kenaikan harga jual rata-rata
setiap pasang sepatu sebesar 25%, sedangkan komisi penjualan akan dihapuskan dan diganti
dengan penambahan gaji penjaga toko per bulan sebesar Rp200.000 per bulan, bagaimanakah
dampak rencana tersebut terhadap laba bersih perusahaan ?
Apabila dalam tahun anggaran 20X1 diharapkan biaya tetapnya tidak mengalami perubahan,
sedangkan manajemen puncak menghendaki laba bersih sebesar Rp2.000.000, berapakah
jumlah pasang sepatu yang harus dijual dalam tahun anggaran tersebut ?

18
Kedua macama alternatif tersebut dapat dievaluasi dengan mudah atas dasar
informasi yang dihasilkan oleh metode variable costing.
Rencana manajemen puncak tersebut akan mempunyai pengaruh terhadap laba bersih tahun
anggaran 20X1, seperti disajikan padaGambar 5.20.

Gambar 5.20
Laporan Laba Rugi Tahun Anggaran 20X1

Hasil penjualan 2.000 x Rp. 5.000


Rp10.000.000
Biaya Variabel:
Harga pokok penjualan :
2.000 x Rp. 2.500 Rp5.000.000
Komisi penjualan -
Jumlah biaya variabel 5.000.000
Laba Kontribusi
Rp5.000.000
Biaya Tetap:
Sewa toko Rp720.000
Gaji penjaga toko 400.000
Biaya iklan 100.000
Biaya tetap lain 50.000
Jumlah biaya tetap
1.270.000
Laba bersih
Rp3.730.000

Rencana penjualan dalam tahun anggaran 20X1 untuk memperoleh laba sebesar Rp 2.000.000
adalah:

Biaya tetap + Laba yang diinginkan = 1.070.000 + 2.000.000


Ratio Laba Kontribusi 2.500.000 / 8.000.000

= 3.070.000
0,3125

= Rp 9.824.000

Jadi apabila harga per pasang sepatu dalam tahun 20X1 sebesar Rp 4.000,
maka dalam tahun anggaran 20X1 harus dapat dijual 2.456 pasang sepatu (Rp 9.824.000 :
Rp4.000) untuk mendapat laba sebesar Rp 2.000.000.

Operating leverage merupakan suatu ukuran, pada tingkat volume penjualan


tertentu, persentase perubahan laba bersih yang diakibatkan oleh persentase perubahan
volume penjualan. Jika operating leverage sebesar 4, maka setiap 1 persen perubahan volume
penjualan akan mengakibatkan perubahan laba bersih sebesar 4% (1% x 4). Misalnya
manajemen puncak merencanakan menaikkan volume penjualan 10% untuk tahun anggaran
yang akan datang. Jika operating leverage pada tingkat volume penjualan yang dianggarkan

19
sebesar 7, maka kenaikkan volume penjualan sebesar 10% tersebut akan menghasilkan
kenaikan laba bersih sebesar 70% (10% x 7).

2.5.2 Manfaat Informasi Variabel Costing Pengendalian Biaya

Variable costing menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengendalikan period costs
dibandingkan informasi yang dihasilkan oleh full costing. Dalam full costing biaya overhead
pabrik tetap diperhitungkan dalam tarif biaya overhead pabrik dan dibebankan sebagai unsur
biaya produksi. Oleh karena itu manajemen kehilangan perhatian terhadap period costs (biaya
overhead pabrik tetap) tertentu yang dapat dikendalikan. Di dalam variable costing, period
costs yang terdiri biaya yang berperilaku tetap dikumpulkan dan disajikan secara terpisah
dalam laporan laba rugi sebagai pengurang terhadap laba kontribusi. Biaya tetap ini dapat
dikelompokkan ke dalam dua golongan: disccretionary fixed costs dan committed fixed costs.
Discretionary fixed costs merupakan biaya yang berperilaku tetap karena kebijakan
manajemen. Biaya ini dalam jangka pendek dapat dikendalikan oleh manajemen. Sebagai
contoh adalah biaya iklan yang ditetapkan sebesar Rp3.000.000 per bulan. Committed fixed
costs merupakan biaya yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen, dan organisasi pokok.
Perilaku committed fixed costs ini dapat ditentukan secara jelas dengan cara mengamati biaya
yang tetap terjadi )ika kegiatan perusahaan dihentikan sama sekali. Committed fixed costs
merupakan semua biaya yang tetap dikeluarkan, yang tidak dapat dikurangi guna
mempertahankan kemampuan perusahaan dalam memenuhi tujuan jangka panjang
perusahaan. Contoh committed fixed costs dalarn biaya depresiasi, sewa, asuransi, dan gaji
karyawan inti. Dalam jangka pendek committed fixed costs tidak dapat dikendalikan oleh
manajemen. Dengan dipisahkannya biaya tetap dalam kelompok tersendiri dalam laporan laba
rugi variable costing, manajemen dapat memperoleh informasi dicretionary fixed costs
terpisah dari committed fixed costs, sehingga pengendalian biaya tetap dalam jangka pendek
dapat dilakukan oleh manajemen.

2.5.3 Manfaat Informasi Variabel Costing dalam Pengambilan Keputusan

Variabel costingmenyajikan data yang bermanfaatuntukpembuatankeputusanjangkapendek


.Dalampembuatankeputusanjangkapendek yang menyakutmengenaiperubahan volume
kegiatan , period cost tidakrelevankarenatidakberubahdenganadanyaperubahan volume
kegiatan.variable costingkhususnyabermanfaatuntukpenentuanhargajualjangkapendek.
Contoh 4
PT Leona meproduksidanmenjualprodukA.biaya per satuanprodukAsebagaiberikut:
Biayabahanbaku RP.100
Biayatenagakerjavariabel RP.200
Biaya overhead pabrikvariabel RP.300
Biaya pemasaran dan administrasi variabel RP.250
Jumlah biaya variabel RP.850
Biaya tetap RP.150
Harga pokok produk A per satuan RP.1000

PT Leona menerima pesanan sebanyak 1000 satuan produk A diluar penjualan rutin. Harga
yang diminta oleh pemesan adalah RP 900 per satuan. Menurut metode full costing, harga
yang diminta oleh pemesan tersebut akan menghasilakan rugi bruto sebesar RP 100 per
satuan (900 – 1000), sehingga metode full costing pesanan khusus tersebut akan ditolak.
Namun jika pabrik mempunyai kapasitas yang belum dipakai , menurut metode variable

20
costing , pesanan tersebut akan diterima karena, pesanan khusus tersebut masih dapat
menghasilakan laba kontribusi sebeesar RP 50 persatuan ( 900 – 850).
Jika pesanan sebanyak 1000 satuan produk A tersebut diterima ,menurut metode variable
costing peruasahaan akan menerima tamabahan laba sebesar 1.000 x (900 – 850)= 50.000
.jika tetap diharapkan konstan ,berarti tambahan laba kontribusi tersebut akan menaikan laba
bersih sebesar RP 50.000.
Ditinjau dari sudut penetuan harga ,perbedaan pokok antara full costing dan variable costing
adalah terletak pada konsep penutpan biaya. Menurut metode full costing, harga harus dapat
menutup total biaya , termasuk biaya tetap didalamnya . Didalam metode variable costing ,
apabila harga jual tersebut telah menghasilkan laba kontribusi guna menutup biaya tetap
adalah lebih baik daripada harga jual yang tidak menghasilkan laba kontribusi sama sekali.

2.6 KELEMAHAN METODE VARIABEL COSTING


Setelah diuraikan manfaat informasi yang dihasilkan oleh metode variable costing,
berikut ini diuraikan kelemahan-kelemahan metode tersebut.

1. Pemisahan biaya-biaya variabel dan tetap sebenarnya sulit dilaksanakan karena jarang
sekali suatu biaya benar-beanar variabel atau benar-benar tetap. Suatu biaya
digolongkan sebagai suatu biaya variabel jika asumsi berikut ini dipenuhi.
a. Bahwa harga barang atau jasa tidak berubah
b. Bahwa metode dan prosedur produksi tidak berubah-ubah
c. Bahwa tingkat efisiensi tidak berflukuasi

Sedangkan biaya tetap dibagi menjadi 2 kelompok.

a. Biaya tetap yang dalam jangka pendek dapat berubah


b. Biaya tetap yang dalam jangka panjang konstan
2. Metode variable costingdianggap tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim,
sehingga laporan keuangan untuk kepentingan pajak dan masyarakat umum harus
dibuat atas dasar metode full costing. Menurut pendukung full costing, jika biaya
overbead pabrik tetap tidak diperhitungkan dalam harga pokok persediaan dan harga
pokok penjualan akan menghasilkan informasi harga pokok produk yang tidak wajar.
Biaya overbead pabrik tetap, seperti halnya dengan biaya overbead pabrik variabel
diperlukan untuk memproduksi dan oleh karena itu menurut metode full costing,
harus dibebankan sebagai biaya produksi.
3. Dalam metode variable costing, naik turunnya laba dihubungkan dengan perubahan-
perubahan dalam penjualan. Untuk perusahaan yang kegiatan usahanya bersifat
musiman, variable costing akan menyajikan kerugian yang berlebih-lebihan dalam
periode-periode tertentu, sedangkan dalam periode lainnya akan menyajikan laba yang
tidak normal.
4. Tidak diperhitungkan biaya overbead pabrik tetap dalam persediaan dan harga pokok
persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah, sehingga akan
mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisis keuangan.

BAB III

21
KESIMPULAN

Metode variabel costing merupakan metode alternatif untuk menghitung harga pokok
produksi disamping metod full costing yang diterima secara umum. Dengan dipisahkan
informasi biaya menurut perilaku dalam hubungannya dnegan perubahan volume kegiatan,
metode variabel costing mampu menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi manajemen
dalam perencanaan laba jangka pendek, pengendalian biaya tetap yang lebih baik, dan
pengambilan keputusan jangka pendek. Hal inin dimungkinkan karena dalam jangka pendek,
biaya tetap tidak relevan karena tiak terpengaruh oleh pengambilan keputusan yang dilakukan
oleh manajemen. Jika biaya tetap terpengaruh dalam pengambilan keputusan jangka pendek,
metode variabel costing dapat menyajikan dampak keputusan tersebut terhadap niaya tetap
dan laba.

DAFTAR PUSTAKA

22