Anda di halaman 1dari 12

KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Akuntansi Sektor Publik


Akuntansi sector public memiliki kaitan yang erat dengan penerapan dan perlakuan
akuntansi pada domain publik. Domain publik sendiri memiliki wilayah yang lebih luas dan
kompleks dibandingkan dengan sektor swasta. Keluasan wilayah publik tidak hanya disebabkan
luasnya jenis dan bentuk organisasi yang berada di dalamnya, akan tetapi juga karena
kompleksnya lingkungan yang mempengaruhi lembaga-lembaga publik tersebut. Jika dilihat dari
variabel lingkungan, sektor publik dipengaruhi oleh banyak faktor tidak hanya faktor ekonomi
saja, akan tetapi faktor politik, sosial, budaya, dan historis juga memiliki pengaruh yang
signifikan.
Istilah “sektor publik” memiliki pengertian yang bermacam-macam. Dari sudut pandang
ilmu ekonomi, sekor publik dapat dipahami sebagai suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan
dengan usaha untuk menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan hak publik.
Tugas dan fungsi sektor publik sebernarnya dapat juga dilakukan oleh sektor swasta.
Misalnya tugas untuk menghasilkan beberapa jenis pelayanan publik. Akan tetapi untuk tugas
tertentu, tidak dapat digantikan. Mislanya tugas birokrasi pemerintah.

B. Sifat dan Karakteristik Akuntansi Sektor Publik

Akuntansi digunakan baik pada sektor swasta maupun sektor publik untuk tujuan-tujuan
yang berbeda. Dalam beberapa hal, akuntansi Sektor Publik berbeda dengan akuntansi pada
sektor swasta. Perbedaan sifat dan karakteristik akuntansi tersebut disebabakan karena adanya
perbedaan lingkungan yang mempengaruhi.
Komponen lingkungan yang mempengruhi orgnisasi sektor publik meliputi faktor
ekonomi, politik, kultur dan demografi.
a. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain:

 Pertumbuhan ekonomi
 Tingkat inflasi
 Pertumbuhan pendapatan
perkapita
 Struktur produksi
 Tenaga kerja
 Arus modal dalam negri
 Nilai tukar mata uang
 Utang dan bantuan luar negeri
 Infrastruktur
 Teknologi
 Kemiskinan dan kesenjangan
ekonomi
 Sektor informal

b. Faktor Politik
Faktor politik yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain:
 Hubungan negara dan  Elit politik dan masa
masyarakat
 Legitimasi pemerintah  Jaringan internasional
 Tipe rezim yang berkuasa  kelembagaan
 Idiologi negara

c. Faktor Kultural
Faktor kultural yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain:
 Keragaman suku, ras, agama,  Karakteristik
bahasa, dan budaya masyarakat
 Sistem nilai dimasyarakat  Sosiologi
masyarakat
 Historis  Tingkat pendidikan

a. Faktor Demokrafi
Faktor demokrafi yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain:
 Pertumbuhan penduduk
 Struktur usia penduduk
 Migrasi
 Tingkat Kesehatan

C. Value For Money

Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang
mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu:
 Ekonomi: pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang
terendah. Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimlisir
input resources yang digunakan yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak
produktif.
 Efisiensi: pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunn output
yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan output
input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
 Efektifitas: tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara
sederhana efektifitas merupakan perbandingan dengan outcome dengan output.

Ketiga hal tersebut merupakan elemen pokok. Ditambah dengan dua elemen lain yaitu,
keadilan (equity) dan pemerataan atau kesetaraan (equality)
Keadilan (equity) mengacu pada adanya kesempatan sosial (social opportunity) yang sama
untuk mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas dan kesejahteraan ekonomi.
Selain keadilan, perlu dilakukan distribusi secara merata (equality), artinya penggunaan
uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja, ,elainkan
dilakukan secara merata.

Input
Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan suatu kebijakan,
program dan aktivitas. Contoh input adalah, dokter di rumah sakit. Input dapat dinyatakan secara
kuantitatif, misalnya jumlah dokter, jumlah guru dan sebagainya. Input dapat pula dinyatakan
dengan nilai uang. Masalah dalam pengukuran input terletak pada metode penentuan harga.

Output
Output merupakkan hasil yang dicapai dari suatu program, aktifitas, dan kebijakan.
Mengukur output lebih sulit dilakukan tertama untuk pelayanan sosial, seperti pendidikan,
keamanan dan kesehatan. Misalnya, output yang dihasilkan polisi adalah tegaknya hukum dan
peraturan atau rasa aman masyarakat. Akan tetapi bagaimana mengukur aoutpu tersebut?
Dikatakan bahwa ukuran output adalah turunnya angka kriminilitas, tetapi hal tersebut tidak
sepenuhnya benar karena turunnya angka kriminilitas dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
peran pendidikan, perbaikan ekonomi, dan sebagainya. Ringkasnya, output merupakan kenaikan
nilai atau nilai tambah.

Sasaran antara (Throughput)


Sasaran antara dapat digunakan sebagai alat ukur jika data output yang sesungguhnya
tidak tersedia. Analisis value for money memerlukan data input dan output yang memadai karena
value for money mempunyai kaitan erat dengan pengukuran input dan ouput. Jika tidak tersedia
data output yang lengkap maka analisis dapat dilakukan dengan menggunakan output antara
(intermediate output) atau indicator kinerja (performance indicator) sebagai alat ukur output.

Outcome
Outcome adalah dampak yang ditimbulkan dari suatu aktivitas tertentu. Outcome
seringkali dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang akan dicapai.
Penetapan dan pengukuran terhadap outcome seringkali lebih sulit dibandingkan
penetapan dan pengukuran terhadap input maupun output. Ada beberapa hal yang menyebabkan
mengapa outcome sulit ditetapkan dan diukur :
 Outcome seringkali tidak dapat diekspresikan dalam cara yang sederhana yang memudahkan
proses monitoring (pemantauan)
 Adanya masalah politik dalam proses penetapan outcome. Misal untuk mengubah pola
pembiayaan sektor publik sangat tergantung pada siapa yang berkuasa, bagaimana arah
kebijakan politiknya.
 Dalam penentuan outcome sangat perlu untuk mempertimbangkan dimensi kualitas. Jika
input sudah dapat diturunkan, output yang dihasilkan sudah meningkat, operasi sudah lebih
ekonomis dan efisien, tetapi apa yang dihasi. Value of Money dapat tercapai jika dengan
biaya input terkecil dan output yang dihasilkan maksimum dalam rangka mencapai tujuan
organisasi. Kampanye implementasi konsep value of money pada organisasi sektor publik
gencar dilakukan siring dengan meningkatnya tuntutan akuntanbilitas sektor publik dan
pelaksanaan good governance. Implementasi konsep value of money diyakini dapt
memperbaiki akuntanbilitas sektor publik dan memperbaiki kinerja sektor publik.
Manfaat implementasi konsep value of money pada organisasi sektor publik antara lain:
1. Meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepat
sasaran:
2. Meningkatkan mutu pelayanan publik
3. Menurunkan biaya pelayanan karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya penghematan
dalam penggunaan input;
4. Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik.
5. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (publik cost awarness) sebagai akar pelaksanaan
akuntabilitas publik.

D. Perbedaan dan Persamaan Sektor Publik dan Sektor Swasta

a. Perbedaan Sektor Publik dengan Sektor Swasta.


Perbedaan sifat dan karakteristik Sektor Publik dengan Sektor Swasta dapat dilihat
dengan membandingkan beberapa hal, yaitu:
1. Tujuan organisasi
2. Sumbber pembiayaan
3. Pola pertanggungjawaban
4. Struktur organisasi
5. Karakteristik anggaran
6. Stakeholder yang dipengaruhi
7. Sistem akuntansi yang digunakan

Perbedaan dan Persamaan Sektor Publik dan Sektor Swasta


Perbedaan Sektor publik Sektor swasta
Tujuan organisasi Non profit motive profit motive
Sumber pendanaan Pajak. Retribusi, utag obligasi Pembayaran internal: modal
pemerintah, laba sendiri, laba ditahan,
BUMN/BUMD, penjualan penjualan aktifa, pembiayaan
aset negara eksternal, utang ban, obligasi,
penerbitan saham.
Pertanggungjawaban Pertanggung jawaban kepada Pertanggung jawaban kepada
masyarakat (publik) dan pemegang saham dan kreditor
perlemen (DPR/DPRD)
Struktur organisasi Birokratis, kaku, dan hierarkis Fleksibel: datar, pramid,
lintas fungsional dsb
Karakteristik anggaran Terbuka untuk publik Tertutup untuk publik
Sistem akuntansi Cash accounting Accrual Accounting

1. Tujuan organisasi
Tujuan organisasi dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif. Tujuan kuantitatif dan kualitatif
tersebut masih dapat dipilah lagi menjadi tujuan yang bersifat finansial dan non finansial.
Tujuan yang bersifat kuantitatif misalnya pencapaian laba maksimum, penguasaan pansa
pasar, pertumbuhan organisasi, dan produktivitas.
Tujuan kualitatif misalnya efisiensi dan efektivitas organisasi, manajemen organisasi
yang tangguh, moral karyawan yang tinggi dan sebagainya.
Organisasi sektor publik berbeda dengan sektor swasta. Perbedaan yang menonjol
terletak pada tujuan untuk memperoleh laba. Pada sektor swasta terdapat semangat untuk
memaksimumkan laba (provit motive), sedangkan pada sektor publik tujuan utama orgnisasi
bukan untuk memaksimumkan laba tetapi memberi pelayanan publik (public service).

2. Sumber pembiayaan
Pembiayaan sektor publik berbeda dengan sektor swasta dalam hal bentuk, jenis, dan
tingkat resiko. Pada sektor publik sumber pendanaan berasal dari pajak dan retribusi, charging
for services, Laba perusahan milik negara. Pinjaman pemerintah berupa utang luar negri dan
obligasi pemerintah, dan lain-lain pendapatan yang sah yang tidak bertentangan dengan
peraturan perundangan yang telah ditetapkan.
Pada sektor swasta sumber pembiayaan dipisahkan menjadi pembiayaan dipisahkan
menjadi sumber pebiayaan internal dan sumber pembiayaan eksternal misalnya utang bank,
penerbitan obligasi, dan penerbitan saham untuk mendapatkan dana dari publik. Kebijakan
pemilihan struktur modal pada sektor swasta lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
Sedangkan pada sektor publik, keputusan pemilihan struktur pembiayaan tidak hanya
dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi semata, tetapi juga pertimbangan politik dan sosial.

3. Pola Pertanggungjawaban
Manajemen pada sektor swasta bertanggungjawab kepada pemilik perusahaan
(pemegang saham) dan kreditor atas dana yang diberikan. Pada sektor publik manajemen
bertanggung jawab kepada masyarakat karena sumber dana yang digunakan organisasi sektor
publik dalam rangka pemberian pelayanan publik berasal dari masyarakat (public funds).
Pertanggungjawaban vertikal (vertical account ability) adalah pertanggungjawaban atas
pengelolaan kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban pemerintah daerah
kepada pemerintah daerah atasan atau kepada pemerintah pusat, dan pemerintah pusat kepada
perlemen. Pertanggung jawaban horisontal (horizontal accountability) adalah pertanggung
jawaban kepada masyarakat luas. Kedua jenis pertanggungjawaban sektor publik tersebut
merupakan elemen penting dari proses akuntabilitas publik.

4. Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada sektor publik bersifat birokratis, kaku dan hierarkis, sedangkan
struktur organisasi pada sektor swasta lebih fleksibel. Salah satu faktor utama yang membedakan
sektor publik dan sektor swasta adalah adanya pengaruh politik yang sangat tinggi pada
organisasi sektor publik. Sektor publik memiliki fungsi yang lebih kompleks dibandingkan
sektor swasta. Fungsi sektor swasta adalah penyediaan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan
dan pemerintah konsumen. Sementara itu, pemerintah memiliki fungsi yang lebih luas meliputi:
a. Pertahanan dan keamanan (Hankam)
b. Perlindungan sumber daya alam dan sosial
c. Penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia
d. Hubungan luar negri
e. Manajemen ekonomi makro (kebijakan moneter dan fiskal)
f. Regulasi sektor publik
g. Pemberian barang dan pelayanan publik
h. Distribusi pendapatan dan kekayaan
i. Stabilisasi ekonomi dan politik

Terdapat beberapa alasan yang mendasar mengapa pemerintah berkepentingan untuk


melakukan intervensi, yaitu:
a. Adanya kegagalan pasar (market failure)
Kegagalan pasar yang disebabkan karena tidak berjalannya mekanisme pasar secara
sempurna, pasar yang tidak kompetentif, adanya monopili serta monopsoni. Kegagalan
pasar terjadi karena adanya informasi yang tidak sempurna (assymetry information) serta
ketidakpastian yang meungkinkan diperolehnya abnormal return bagi pihak yang
memiliki informasi yang lebih baik. Kegagalan pasar juga dapat terjadi karena adanya
eksternalitas yaitu keadaan sektor swasta (private benefist), atau ketika kerugian yang
diganggu publik lebih besar dari biaya perushaan (misalnya,polusi dan maslah
lingkungan lainnya). Adanya kegagaglan pasar sektor swasta tidk berarti pemerintah
harus menyediakan semua barang jasa yang menjadi kebutuhan publik. Masalah
kegagalan pasar dapat dibatasi dengan melakukan regulasi sektor swasta, pebuatan
kebajikan harga, pajak, dan subsidi. Akan tetapi harus diingat pulah bahwa sektor publik
dapat juga mengalami kegagalan, yaitu apa yang seringdiistilahkan dengan ”goverment
failure” kegagalan sektor publik dapat terjadi karena tidak adanya kepastian hukum,
KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), tidak adanya stabilitas politik, dan ketidak jelasan
arah dan kebajikan pembangunan.
b. Distribusi pendapatan dan ekayaan yang tidak merata.
Pemerintah berkepentingan untuk melakukn interpensi apabila pendapatan, kekayaan,
keterampilan, dan kemampuan terdistribusi secara tidak merata. Peroses mekanisme
pasar apabila dibiarkan berjalan bebas mempunyai kecendrungan memperkuat ketidak
merataan tersebut, karena prinsip survival of the fittest menyebabkan kelompok marginal
semakin terpinggirkan dan kehilangan posisi. Pemerintah berkepentingan untuk
menciptakan distribusi yang adil dan merata
c. Untuk menciptakan stabilitas dan pembangunan.
Sistem pasar selalu berusaha mencari titik equilibrium, akan tetapi pasar cenderung tidak
stabil. Oleh karena itu, pemerintah melakukan campur tangan untuk menstabilkan pasar,
meskipun terkadang campur tangan pemerintah menimbulkan efek negatif pada pasar.

5. Karakteristik anggaran dan stakeholder


Jika dilihat dari karakteristik anggaran, pada sektor publik rencana anggaran di
publikasikan kepada masyarakat secara terbuka untuk dikritisi dan didiskusikan. Anggaran
bukan sebagai rahasia negara. Sementara itu, anggaran pada sektor swasta bersifat tertutup bagi
publik karena anggaran merupakan rahasia perusahaan.

Perbedaan Stakeholder sektor publik dengan sektor swasta


Stakeholder sektor publik Stakeholder sektor swasta
Stakeholder ekstern Stakeholder ekstern
· Masyarakat pengguna jasa publik · Bank sebagai kreditor
· Masyarakat membayar pajak · Serikat buruh
· Perusahaan dan organisasi sosial ekonomi · Pemerintah
yang menggunakan pelayanan publik · Pemasok
sebagai input atas aktivitas organisasi · Distributor
· Bank sebagai kreditor pemerintah · Pelanggan
· Badan-badan internasional, seperti bank· Masyarakat
dunia · Serikat dagang
· Investor asing dan country analyst · Pasar modal
· Generasi yang akan datang
Stakeholder intern Stakeholder intern
· Lembaga negara · Manajemen
· Kelompok politik · Karyawan
· Manajemen publik · Pemegang saham
· Pegawai pemerintah

“Publik” dalam organisasi sektor publik memiliki makna yang berbeda dengan yang
dipahami oleh organisasi sektor swasta. Peringatan publik terkait dengan starkeholder organisasi.
Sektor publik memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sektor swasta, starkeholder pada
sektor publik lebih beragam dibandingan dengan sektor swasta.

6. Sistem Akuntansi
Perbedaan yang lain adalah sistem akuntansi yang digunakan. Sistem akuntansi yang
biasa digunakan pada sektor swasta adlah akuntansi berbasis akrual (accrual accounting).
Sedangkan pada sektor publik lebih banyak menggunakan sistem akuntansi berbasis kas (cash
accounting)

b. Persamaan Sektor Publik dan Sektor Swata


Meskipun sektor publik memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda dengan sektor
swasta, akan tetapi dalam beberapa hal terdapat persamaan, yaitu:
1. Kedua sektor, baik sektor publik maupun sektor swasta merupakan bagian integral dari
sistem ekonomi disuatu negara dan menggunakan sumber daya yang sama untuk mencapai
tujuan organisasi.
2. Keduanya menghadapi masalah yang sama, yaitu masalah kelanhkaan sumber daya (scarcity
of resources) sehingga baikk sektor publik mauun sektor swasta dituntuk untuk
menggunakan sumber daya organisasi secara ekonimos, efisien, dan efektif.
3. Poses pengadilan manajemen, termasuk manajemen keuangan pada dasranya sama dikedua
sektor. Kedua sektor sama-sama membutuhkan informasi yang handal dan relefan untuk
melaksanakan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganiasian, dan pengendalian.
4. Pada berapa hal, kedua sektor menghasilkan pruduk yang sama, misalnya: baik pemerintah
maupun swasta sama-sama bergerak dibidang transprtasi, pendidikan, kesehatan dsb.
5. Kedua sektor terkait pada peraturan perundangan dan ketentuan hukum yang di syaratkan.
E. Tujuan Akuntansi Sektor Publik

American accounting asosiation(1970) dalam Glynn(1993) menyatakan bahwa tujuan


akuntansi pada organisasi sektor publik adalah untuk:
1. Emberikan informasi yang diperlukan untuk mengolah secara tepat, efisien, ekonomis atas suatu
operasi dan alokasi sumber daya yang diercayakan kepada organisasi. Tujuan ini terkait dengan
pengadilan manjemen (management control)
2. Memberikan informasi yang memungkinkan bagi manajer untuk maleporkan pelaksanaan
tanggung jawab mengolah secara tepat dan efektif program dan penggunaan sumber daya yang
terjadi wewenangnya dan memungkinkan bagi pegawai pemerintah untuk melaporkan pada
publik atas operasi pemerintah dan penggunaan dan publi. Tujuan ini tekait dengan akuntabilitas
(accountability)

Akuntansi sektor publik terkait dengan tiga hal pokok yaitu, penyediaan informasi
pengadilan manajemen dan akuntansibilitas. Akuntansi sektor publik merupakan alat informasi
baik bagi peerintah sebagai manajemen mapun alat informasi bagi publik. Baik pemerintah,
informasi akuntansi digunakan bagi pengadilan manajemen mulai dari perencanaan strategik,
pembuatan program, penganggaran, avaluasi, kinerja, dan pelaporan kinerja.
Informasi akuntansi bermanfaat untuk pengambilan keputusan, terutama untuk embantu
manejer dalam melakukan alokasi sumber daya. Informasi akuntansi dapat digunakan untuk
menentukan biaya sesuatu program, proyek atau aktivitas serta kelayakannya baik secara
ekonomis dan teknis. Dengan informasi akuntansi, pemerintah dapat menentukan pelayanan
(cost of services) yang diberikan pada publik, menetapkan biaya standar, dan harga yang akan
dibebankan kepada publim atas suatu pelayanan (charging of sevices).
Informasi akuntansi dapat digunakan untuk membantu dalam pemilihan program yang
efektif dan ekonomis serta penilaian infestasi. Untuk melakukan pengukurn kinerja, pemerintah
melakukan informasi akuntansi terutama untuk menentukan indikator kinerja (perfomance
indicator) sebagai dasar penilaian kinerja.
Pada tahap akhir dari proses pengadilan manajemen akuntansi digunakan untuk mebuat
laporan keuangan sektor publik berupa laporan surplus/defisit pada pemerintah, laporan rugi/laba
dan aliran kas pada BUMN/BUMD, laporan pelaksanaan anggaran, laporan alokasi sumber dana,
dan neraca. Kuntansibilitas publik hendaknya dipahami bukan sekedar akuntansibilitas finansial
saja, akan tetapi juga akuntabilitas value for money, akuntansibilitas manajerial, akuntansibilatas
hukum, dan akuntabsibilitas politik.

F. Perkembangan Akuntansi Sektor Publik

Berbagai kritik mengenai peran organisasi sektor publik dalam pembangunan telah
mengalami perubahan yang dramatis. Pada tahun 1950-an dan 1960-an sektor publik memainkan
peran utama sebagai pembuat dan pelaksana strategi pembangunan. Istilah “sektor publik” mulai
dipakai pada tahun 1952.
Pada tahun 1970-an adanya kritikan dan serangan dari pendukung teori pembangunan
radikal menunjukkan kesan ingin mempertanyakan kembali peran sektor publik dalam
pembangunan. Sektor publik dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding dengan sektor
swasta dan bahkan dianggap mengganggu pembangunan ekonomi dan sosial itu sendiri, dengan
alasan sektor publik sering dijdikan sebagai sarang pemborosan dan inefisiensi ekonomi.
Kedudukan sektor publik bertambah lemah karena orientasi pembangunan lebih diarahkan pada
pembangunan sektor swasta dan cenderung mengabaikan pembangunan sektor publik.
Baru pada tahun 1980-an reformasi sektor publik dilakukan dinegara-negara industri
maju sebagai jawaban atas berbagai kritikan yang ada. Berbgai perubahan dilakukan. Untuk
memperbaiki kinerja sektor publik, perlu di adopsi beberapa praktik dan teknik manajemen yang
diterapkan di sekor swasta ke dlam sektor publik.
Dengan adanya perubahan pada sektor publi tersebut, terjadi pula perubahan pada
akuntansi sektor publik. Akuntansi sektor publik keudian mengikuti dan menyesuaikan diri
dengan perubahan perubahan yang terjadi. Pemerintah New Zaeland yang dianggap paling maju
dan sukses dalam menerapkan akuntansi berbasis akrual telah mengadosi sistem akuntansi
tersebut sejak tahun 1991 yang kemudian diikuti oleh Jepang, Itali, dan negara-negara Eropa
lainya, meskipun di Itali sistem tersebut kurang efektif dan kurang sukses. Tujuan
memperkenalkan sistem akuntansi akrual adalah untuk membantu meningkatkan transparasi dan
memperbaiki evektifitas sektor publik.
Kini muncul isu bahwa akuntansi sektor publik di negara berkembang mengalami
kebangkrutan. Namun hal tersebut dapat disangkal dengan negara-negara yang memiliki
kepercayaan publik tinggi seperti Malaysia, Taiwan, Thailand dan Korea Selatan.
Kontribusi sektor publik dapat memantu pembangunan nasional dan stabilitas publik.
Oleh karena itu perbaikan kinerja sektor publik terus dilakukan agar dapat tercipta good publik
and corporate govermance. Seiring dengan perbaikan sektor publik, akuntansi publik pun ikut
berkembang dengan pesat. Hal ini tampak pada dua dasawarsa terakhir, istilah "akuntabilitas
publik, value for money, reformasi sektor publik, privatisasi, good publik governance." yang
begitu cepat masuk ke kamus sektor publik.
Isu-isu sektor publik masih terus bermunculan misalnya isu perlunya dilakukan reformasi
akuntansi, auditing, sistem anajemen keuangan pubik, privatisasi perusahaan-perusahaan publik,
dan tuntutan dibuatnya laporan laporan keungan eksternal.

G. Akuntansi Sektor Publik dan Good Governance

Pengertian governance dapat diartikan sebagai cara mengelola urusan-urusan public.


World Bank memberikan definisi governance sebagai "te way state power is used in managing
economic and social resources for development of society". Sementara itu, United Nation
Development Program (UNDP) mendefinisikan Governance sebagai "the exercise of political,
economic, and administrative authority to manage a nation's affair at all levels".
Dalam hal ini World Bank lebih menenakankan pada cara pemerintah mengelola sumber
daya social dan ekonomi untuk kepentingan pembangunan masyarakat sedangkan UNDP lebih
menekankan aspek ekonomi, politik dan administrative dalam pengelolaan Negara.
Political governance mengacu pada proses pembuatan kebijakan (policy/ strategy
formulation). Economic governance mengacu pada proses pembuatan keputusan di bidang
ekonomi yang berimplikasi pada masalah pemerataan, penurunan kemiskinan dan peningkatan
kualitas hidup. Administrative governance mengacu pada sistem implementasi kebijakan.
Jika mengacu pada program World Bank dan UNDP, orientasi pembangunan sektor
publik adalah untuk menciptakan good governance. Pengertian Good governance sering
diartikan sebagai tata kelola pemerintahan yang baik. Sementara itu World Bank mendefinisikan
Good Governance sebagai suatu penyelenggaraan manejemen pembangunan yang solid dan
bertanggung jawab sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah
alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administatif,
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya,
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya
akencegahan korupsi baik secara politik maupun administatif, menjalankan disiplin anggaran
serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya akifias usaha.

Karakteristik Good Governance menurut UNDP,yaitu:


1. Participation. Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya.
Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta
berpartisipasi secara konstruktif.
2. Rule of law. Kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
3. Transparency. Transparasi dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi. Informasi
yang berkaitan dengan kepentingan public secara langsung dapat diperoleh yang
membutuhkan.
4. Responsiveness. Lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani
stakeholders.
5. Consensus orientation. Berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
6. Equity. Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan
dan keadilan.
7. Efficiency and effectiveness. Pengelolaan sumber daya public harus dilakukan secara
berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).
8. Accountability. Pertanggungjawaban kepada public atas setiap aktifitas yang dilakukan.
9. Trategic vision. Penyelenggaraan pemerintahan dan masyarakat harus memiliki visi jauh ke
depan.

Dari sembilan karakter tersebut, paling tidak terdapat 3 hal yang dapat diperankan oleh
akuntansi sektor publik yaitu pencipttaan transportasi, akuntanbilitas publik dan value for money
(economiy, efficiency dan effectiveness).
Untuk mewujudkan good public and corporate governance dalam rangka menciptakan
kesejahteraan masyarakat, maka diperlukan serangkaian revormasi di sektor publik. Dimensi
reforamsi sektor publik tersebut tidak saja sekedar perubahan format lembaga, akan tetapi
mencangkup pembaharuan alat-alat yang digunakan untuk mendukung berjalannya lembaga-
lembaga publik tersebut secara ekonomis, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.
Untuk mewujudkan good governance diperlukan reformasi kelembagaan dan reformasi
manajemen publik. Reformasi kelembagaan menyangkut pembenahan seluruh alat-alat
pemerintah di daerah baik struktur maupun instruktur. Diperlukan juga reformasi lanjutan
terutama yang terkait dengan sistem pengelolaan keuangan pemerintah daerah, yaittu:
1. Reformasi sistem penganggaran(budgeting reform)
2. Reformasi sistem akuntansi (accounting reform)
3. Reformasi sistem pemeriksaan (audit reform)
4. Reformasi sistem manajemen daerah (financial management reform)
Tuntutan pembaharuan sistem keuangan tersebut adalah agar pengelolaan uang rakyat (public
money) dilakukan secara transparan dengan mendasarkan konsep value for money sehingga
tercapai akuntabilitas publik (public accountibility)

H. Akuntabilitas Publik

Pengertian Akuntansi Publik


Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan
pertanggungjawaban,menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan
yang menjadi tanggungjawabnyakepada pihak yang memberikan amanah.
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas vertikal (vertical
accountability), danakuntabilitas horizontal (horizontal accountability).
Vertical accountability adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas
yang lebih tinggi,misalnya pertanggungjawaban unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah
daerah, kemudian pemerintahdaerah kepada pemerintah pusat, pemerintah pusat kepada MPR.
Horizontal accountability adalahpertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
Tuntunan akuntabilitas publik lebih menekankan pada akuntabilitas horisontal, tidak hanya
akuntabilitas vertikal.
Akuntabilitas merupakan konsep yang lebih luas dari stewardship. Stewardship mengacu
pada pengelolaan atas suatu aktivitas secara ekonomis dan efisien tanpa dibebani kewajiban
untuk melaporkan, sedangkan accountability mengacu pada pertanggungjawaban oleh seorang
steward kepada pemberi tanggung jawab.
Akuntabilitas publik yang dilakukan organisasi sektor publik terdiri atas empat dimensi
akuntabilitas yang mesti dipenuhi organisasi sektor publik (Ellwood, 1993).
1. Akuntabilitas kejujuran dan hukum
Akuntabilitas kejujuran dan hukum terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan,
sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum
dan peraturan lain yang disyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik.
2. Akuntabilitas Proses
Akuntabilitas Proses terkait dengan apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan
tugas sudah cukup baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajemen, dan prosedur administrasi. Akuntabilitas ini diterjemahkan melalui pemberian
pelayanan publik yang cepat, responsif, dan murah biaya. Pengawasan dan pemeriksaan
dapat dilakukan terhadap akuntabilitas proses, untuk dapat menghindari kolusi, korupsi dan
nepotisme.
3. Akuntabilitas Program
Akuntabilitas Program terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat
dicapai atau tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan
hasil yang optimal dengan biaya yang minimal.
4. Akuntabilitas Kebijakan
Akuntabilitas Kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah atas kebijakan yang
diambil terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas.
I. PRIVATISASI

Di Indonesia sendiri, masih banyak perusahaan milik negara (BUMN dan BUMD) yang
dijalankan secara tidak efisien. Inefisiensi yan di alami oleh BUMN dan BUMD antara lain
disebabkan adanya intervensi politik, sentralisasi, rent seeking behaviour, dan manajeen yang
buruk.
BUMN dan BUMD dalam era globalisasi akan menghadapi beberapa tekanan dan
tuntutan, yaitu:
 Regulation & political pressure, BUMN dan BUMD dituntuk untuk memberikan bagian laba
perusahaan kepada pemerintah.
 Social pressure, BUMN dan BUMD akan menghadapi tekanan yang semakin besar dari
masyarakat (konsumen) untuk menghasilkan produk yang murah dan berkualitas.
 Rent seeking behaviour, BUMN dan BUMD akan berhadapan dengan orang-orang yang
mencoba melakukan rent seeking, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
 Economic & efficiency, BUMN dan BUMD disisi lain dituntuk untuk ekonomi dan efisien
agar menjadi entitas bisnis yang profesional.

Privatisasi merupakan salah satu upaya mereformasi perusahaan publik untuk


meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan-perusahaan publik. Privatisasi perusahaan
publik memiliki fungsi ganda, yaitu mengurangi beban belanja publik, menaikkan pendapatan
negara, dan mendorong pembangunan swasta.

J. Otonomi Daerah

Perkembangan akuntansi sektor publik, kususnya di Indonesia semakin pesat seiring


dengan adanya era dalam pelaksanaan dalam otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Salah satu
ketetapan MPR yaitu Tap MPR nomor XV/MPR/1998 tentang “penyelenggaraan otonomi
daerah; pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilanserta
perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka negara kesatuan republik Indonsia”
merupakan landasan hukum bagi dikeluarkannya UU No.22 Tahun 1999 tentang pemerintah
daerah, dan UU No.25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan
daerah sebagai dasar penyelenggaraan otonomi daerah.
Misi utama kedua undang-undang tersebut adalah desentralisasi. Diharapkan untuk
menghasilkan dua manfaat nyata, yaitu:
1. Mendorong peningkatan partisipasi, prakarsa, dan kreativitas masyarakat dalam
pembangunan, serta mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan (keadilan) di seluruh
daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi yang tersedia di masing-masing
daerah
2. Memperbaiki alokasi sumber daya produktivitas melalui pergeseran peran pengambilan
keputusan publik ke tingkat pemerintah yang paling rendah yang memiliki reformasi yang
paling lengkap.