Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN

SISTEM INFORMASI KESEHATAN NASIONAL (SIKNAS)


Dosen Pengampu : Zuldefni, SKM., MPH

Kelompok 6 :
1. M. Said Farza 10011181823014
2. Ayu Yuslina 10011181823016
3. Dewa Rizqi Ashila R 10011281823051
4. Apri Rismawan 10011281823054
5. Elisa Rahma Putri 10011281823059
6. Nabila Khansa 10011281823061
7. Putri Rizki Fahradina 10011381823118

Kelas : IKM A 2018

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan
kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga kami diberi kesempatan yang luar biasa
ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang
“Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).” Shalawat serta salam tidak
lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi gung kita, yaitu Nabi Muhammad
SAW yang telah menyampaikan petunjuk ALLAH SWT.

Sekaligus pula kami menyampaikan rasa terimakasih yang


sebanyak-banyaknya untuk ibu Zuldefni, SKM., MPH selaku dosen mata kuliah
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang telah menyerahkan kepercayaannya
kepada kami guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami juga
menyampaikan terimakasih untuk seluruh pihak yang telah mendukung dalam
penyelesain makalah ini. Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya
makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan
sekaligus wawasan terkait Sistem Informasi Kesehatan Nasional.

Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan
banyak sekali kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami
mohon maaf dan benar-benar menanti kritik dan saran untuk kemudian dapat
kami revisi dan kami tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali kali lagi kami
menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa disertai saran yang
konstruktif.

Indralaya, November 2019

Kelompok 6

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang............................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 5
2.1. Pengertian.................................................................................................. 5
2.2. Konsep-Konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan..................6
2.3. Alur Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)............................ 7
2.4. Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)...................... 9
2.5. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia.........................9
2.6. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional saat ini................10
2.7. Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)......... 12
2.8. Tantangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).................14
2.9. Masalah Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).................... 14
2.10. Kendala Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).................. 15
2.11. Hambatan-Hambatan dalam Penerapan Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKNAS)..............................................................................18
2.12. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(Berdasarkan Periodenya).....................................................................19
BAB III PENUTUP...............................................................................................22
3.1 Kesimpulan...............................................................................................22
3.2 Saran......................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 23

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beberapa
provinsidi bawah koordinasi dari pemerintahan pusat. Dengan banyaknya
provinsitersebut, maka dalam proses untuk melihat derajat kesehatan dari
setiapindividu dalam populasi tersebut perlu sebuah sistem yang mendukung,
yaitu Sistem Informasi Kesehatan ". Sejak ditetapkannya Indonesia Sehat
2010 sebagi visi Kesehatan, maka Indonesia telah menetapkan pembaharuan
kebijakan dalam pembangunan kesehatan,yaitu paradigma sehat yang inti
pokoknya adalah menekankan pentingnya kesehatan sebagai hak asasi
manusia, kesehatan sebagai investasi bangsa dan kesehatan sebagai titik
sentral pembangunan nasional. Untuk mendukung keberhasilan pembaharuan
kebijakan pembangunan tersebut telah disusun Sistem Informasi Kesehatan
Nasional yang baru mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan
pembangunan kesehatan masa kini maupun untuk masa mendatang.
Seiring dengan era desentralisasi berbagai sistem informasi kesehatan
telah dikembangkan baik pemerintah pusat atau daerah, sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik daerah masing-masing. Selain melaksanakan
program pemerintah pusat melalui kementerian kesehatan, pemerintah daerah
juga diberikan otonomi untuk mengembangkan sistem informasinya, baik di
tingkat dinas kesehatan dan puskesmas mau pun rumah sakit. Dengan
demikian, maka pengembangan sistem informasi kesehatan nasional
(SIKNAS) diharapkan merupakan pengembangan sistem informasi kesehatan
yang menyeluruh dan terintegrasi di setiap tingkat administrasi kesehatan,
yang akan menghasilkan data/informasi yang akurat yang dapat menunjang
Indonesia Sehat. Pengembangan sistem informasi kesehatan tersebut harus
sejalan dengan kebijakan desentralisasi sebagaimana diatur dalam UU nomor
22 tahun 1999.

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) ?
2. Apa saja konsep-konsep pengembangan SIK ?
3. Bagaimana alur dari SIKNAS ?
4. Apa itu jaringan sistem informasi kesehatan nasional (SIKNAS)
5. Bagaimana perkembangan sistem informasi kesehatan di Indonesia ?
6. Bagaimana perkembangan sistem informasi kesehatan nasional saat
ini?
7. Bagaimana pengembangan sistem informasi kesehatan nasional
(SIKNAS) ?
8. Apa saja yang menjadi tantangan SIKNAS ?
9. Apa yang menjadi masalah dalam SIKNAS ?
10. Apa yang menjadi kendala dalam SIKNAS ?
11. Apa saja hambatan dari SIKNAS ?
12. Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dalam SIKNAS ?
1.3Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui SIK ( Sistem Informasi Kesehatan ).
2. Untuk memahami penerapan dan fungsi SIK (Sistem Informasi
Kesehatan).
3. Untuk mengetahui dan memahami perkembangan dari Sistem Informasi
Kesehatan Nasional (SIKNAS)
4. Untuk mengetahui informasi mengenai masalah, kendala dan hambatan
yang ada dalam SIKNAS
5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari SIKNAS

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) adalah sistem
informasi yg berhubungan dengan sistem-sistem informasi lain baik secara
nasional maupun internasional dalam rangka kerjasama yang saling
menguntungkan. Kerjasama diatur sedemikian rupa sehingga tidak
mengabikan kepentingan bangsa yang lebih luas dan rahasia-rahasia negara.
SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan
merupakan bagian dari sistem kesehatan. Oleh karena itu, SIK di tingkat
pusat merupakan bagian dari sistem kesehatan nasional, di tingkat
provinsimerupakan bagian dari sistem kesehatan provinsi, dan di tingkat
kabupaten atau kota merupakan bagian dari sistem kesehatan kabupaten atau
kota.SIKNAS di bagun dari himpunan atau jaringan sistem1sistem informasi
kesehtan provinsi dan sistem informasi kesehatan provinsi di bangun
darihimpunan atau jarngan sistem-sistem informasi kesehatan kabupaten atau
kota.
Adapun peraturan perundang-undangan yang menyebutkan SIK adalah:
1. Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan
strategi desentralisasi bidang kesehatan. Desentralisasi pelayanan
publik merupakan salah satu langkah strategis yang cukup populer
dianut oleh negara-negara di Eropa Timur dalam rangka mendukung
terciptanya good governance. Salah satu motivasi utama diterapkan
kebijaksanaan ini adalah bahwa pemerintahan dengan sistem
perencanaan yang sentralistik seperti yang telah dianut sebelumnya
terbukti tidak mampu mendorong terciptanya suasana yang kondusif
bagi partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan pembangunan.
Tumbuhnya kesadaran akan berbagai kelemahan dan hambatan yang
dihadapi dalam kaitannya dengan struktur pemerintahan yang
sentralistik telah mendorong dipromosikannya pelaksanaan strategi
desentralisasi.

5
2. Keputusan Mentri Kesehatan Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang
petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi
kesehatan kabupaten kota. Salah satu yang menyebabkan kurang
berhasilnya Sistem Informasi Kesehatan dalam mendukung upaya-upaya
kesehatan adalah karena SIK tersebut dibangun secara terlepas dari
sistem kesehatan. SIK dikembangkan terutama untuk mendukung
manajemen kesehatan. Pendekatan sentralistis di waktu lampau juga
menyebabkan tidak berkembangnya manajemen kesehatan di unit-unit
kesehatan di daerah.
2.2. Konsep-Konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan
Sistem informasi kesehatan harus dibangun untuk mengatasi kekurangan
maupun ketidakkompakan antar badan kesehatan. Dalam melakukan
pengembangan sistem informasi secara umum, ada beberapa konsep yang
harus dipahami oleh para pengembang atau pembuat rancang bangun.
Konsep konsep tersebut antara lain :
1. Sistem Informasi Tidak Identik dengan Sistem Komputerisasi
Pada dasarnya sistem informasi tidak bergantung kepada
penggunaan teknologi komputer. Sistem informasi yg menggunakan
teknologi komputer dalam implementasinya disebut sebagai sistem
informasi berbasis komputer (computer based information system). Isu
penting yang mendorong pemanfaatan teknologi komputer atau
teknologi informasi dalam sistem informasi suatu organisasi adalah
sebagai berikut :
a. Pengambilan keputusan yg tidak di landasi dg informasi
b. Informasi yg tersedia tidak relevan
c. Informasi yg ada, tidak dimanfaatkan oleh manajemen
d. Informasi yg ada, tidak tepat waktu
e. Terlalu banyak informasi
f. Informasi yg tersedia, tidak akurat
g. Adanya duplikasi data
h. Adanya data yg pemanfaatanya tidak fleksibel

6
2. Sistem informasi oragnisasi adalah suatu sistem yg dinamis
Dinamika sistem informasi dalam suatu organisasi sangat di
tentukan oleh dinamika perkembangan organisasi tersebut. Oleh karena
itu perludisadari bahwa pengembangan sistem informasi tidak pernah
berhenti.
3. Sistem informasi sebagai Suatu Sistem harus mengikuti siklus hidup
sistem
Seperti lahir, berkembang, mantap dan akhirnya mati atau berubah
menjadi sistem yang baru. Oleh karena itu, sistem informasi memilikiumur
layak guna. Panjang pendeknya umur layak guna sistem informasitersebut
ditentukan diantaranya oleh:
a. Perkembangan organisasi tersebut
b. Perkembangan teknologi informasi
c. Perkembangan tingkat kemampuan pengguna (user ) sistem informasi.
2.3. Alur Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)

Gambar 1 Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

7
Terdapat 7 komponen yang saling terhubung dan saling terkait dengan
adanya jaringan SIKNAS, yaitu
1. Sumber data manual
2. Sumber data komputerisasi
3. Sistem informasi dinas kesehatan
4. Sistem informasi pemangku kepentingan
5. Bank data kesehatan nasional
6. Pengguna data oleh Kemetrian Kesehatan
7. Pengguna data
KOMPONEN SIKNAS
1. Sumber daya manual
Fasilitas pelayanan kesehatan yang masih memakai sistem manual
akan melakukan pencatatan, penyimpanan dan pelaporan berbasis
kertas .
2. Sumber daya komputerisasi
Fasilitas pelayanan kesehatan dengan komputerisasi online, data
individual langsung dikirim ke Bank Data Kesehatan Nasional dalam
format yang telah ditentukan.
3. Sistem informasi dinas kesehatan
Laporan yang masuk ke dinkes kabupaten/kota dari semua fasilitas
kesehatan (kecuali milik pemerintah provinsi dan pemerintah pusat)
berupa laporan softcopy dan laporan hardcopy. Laporan hardcopy
dientri ke dalam aplikasi SIKDA generik. Laporan softcopy diimpor ke
aplikasi SIKDA Generik, selanjutnya semua bentuk laporan diunggah ke
Bank Data Kesehatan Nasional.
4. Sistem informasi pemangku kepentingan
Sistem informasi yang dikelola oleh pemangku kepentingan terkait
kesehatan. Mekanisme pertukaran data terkait kesehatan dengan
pemangku kepentingan di semua tingkatan dilakukan dengan mekanisme
yang disepakati.

8
5. Bank data kesehatan nasional
Didalamnya tercakup semua data kesehatan dari sumber data
(fasilitas kesehatan).
6. Penggunaan Data oleh Kementerian Kesehatan .
Data yang ada dalam bank data kesehatan nasional dimanfaatkan
oleh unit program di Kemkes dan UPTnya, dan Dinkes dan UPTnya.
7. Pengguna data
Pengguna data dapat mengakses infokes pada bank data kes. website
Kemkes.
2.4. Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Jaringan SIKNAS adalah sebuah koneksi/jaringan virtual sistem
informasi kesehatan elektronik yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan
dan hanya bisa diakses bila telah dihubungkan. Jaringan SIKNAS merupakan
infrastruktur jaringan komunikasi data terintegrasi dengan menggunakan
Wide Area Network (WAN), jaringan telekomunikasi mencakup area yang
luas sertadigunakan untuk mengirim data jarak jauh antara Local Area
Network (LAN) yang berbeda, dan arsitektur jaringan lokal komputer lainnya.
Pengembangan jaringan komputer (SIKNAS) online ditetapkan melalui
keputusan Mentri Kesehata (KEPMENKES) No. 837 Tahun 2007.
2.5. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Masing-masing era Sistem Informasi Kesehatan memiliki karakteristik
yang berbeda sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman
(kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi– TIK).
1. Era Manual (sebelum 2005)
Aliran data terfragmentasi. Aliran data dari sumber data (fasilitas
kesehatan) ke pusat melalui berbagai jalan. Data dan informasi dikelola dan
disimpan oleh masing-masing Unit di Departemen Kesehatan.
 Bentuk data : agregat.
 Sering terjadi duplikasi dalam pengumpulan data.
 Sangat beragamnya bentuk laporan.
 Validitas diragukan.
 Data sulit diakses.

9
 Karena banyaknya duplikasi, permasalahan kelengkapan dan
validitas, maka data sulit dioah dan dianalisis.
 Pengiriman data masih banyak menggunakan kertas sehingga tidak
ramah lingkungan.
2. Era Transisi (2005 – 2011)
 Komunikasi data sudah mulai terintegrasi (mulai mengenal prinsip 1
pintu, walau beberapa masih terfragmentasi).
 Sebagian besar data agregat dan sebagian kecil data individual.
 Sebagian data sudah terkomputerisasi dan sebagian masih manual.
 Keamanan dan kerahasiaan data kurang terjamin.
3. Era Komputerisasi (mulai 2012)
 Pemanfaatan data menjadi satu pintu (terintegrasi).
 Data 10ias10ic101010 (disagregat).
 Data dari Unit Pelayanan Kesehatan langgsung diunggah (uploaded)
ke bangk data di pusat (e-Helath).
 Penerapan teknologi m-Health dimana data dapat langsung diunggah
ke bank data.
 Keamanan dan kerahasiaan data terjamin (memakai secure login).
 Lebih cepat, tepat waktu dan efisien.
 Lebih ramah lingkungan.
2.6. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) saat
ini
Pengembangan sistem informasi kesehatan sebenarnya telah dimulai
PELITA I melalui sistem informasi kesehatan nasional pada kantor wilayah
kementerian kesehatan (KemenKes RI; 2007) semenjak diterapkannya
kebijakannya-kebijakan desentralisasi kesehatan, berbagai kalangan menilai
bahwa sistem informasi kesehatan. Kementerian kesehatan selalu
mengeluh bahwa input data dari propinsi, kabupaten/kota sangat berkurang.
Di sisi lain beberapa daerah mengatakan bahwa penerapan sistem inormasi
kesehatan semenak era desentralisasi member dampak yang lebih baik. Hal
ini ditunjukkan dengan semakin tingginya motivasi dinas kesehatan untuk
mengembangkan SIK, semakin banyak puskesmas yang memiliki computer,

10
tersedianya jaringan LAN di dinas kesehatan mapun teknologi informasi
lainnya. Adanya desentralisasi ini pula, mengakibatkan pencatatan dan
pelaporan sebagai produk dari era sentralisasi menjadi overlaps hal ini tentu
saja menjadi beban bagi kabupaten.kota. melalui keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 511 tahun 2002 tentang kebijakan
strategi pengembangan SIKNAS dan Nomor 932 tahun 2002 tentang
petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem informasi kesehatan daerah di
kabupten/kota dikembangkan beragai strategi, yaitu :
1. Integrasi dan simplifkasi pencatatan dan pelaporan yan ada;
2. Penetapan dan pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan;
3. Fasilitasi pengembangan sistem-sistem informasi kesehatan daerah;
4. Pengembangan teknologi dan sumber daya;
5. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk managemen dan
pengambilan keputusan
6. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk masyarakat.
Selanjutnya, pada melalui keputusan menteri kesehatan RI Nomor 837
tahun 2007 tentang pengembangan jaringan computer online SIKNAS di
rencanakan beberapa 11ias11ic1111 dalam setiap tahunnya; yaitu :
1. Terselenggaranya jaringan komunikasi data terintegrasi antara 80 %
dinas kesehatan kabupaten/kota dan 100 % dinas provinsi dengan
kementerian kesehatan pada tahun 2007.
2. Terselenggaranya jaringan komunikasi data online terintegrasi antara
90 % dinas kesehatan kabupaten/kota, 100 % dinas kesehatan provinsi,
100 % rumah sakit pusat, 100 % unit pelaksana teknis (UPT) pusat
dengan kementerian kesehatan tahun 209.
3. Terselenggaranya jaringan komunikasi data online terintegrasi antara
seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, rumah
sakit pusat, dan UPT pusat kementeri an kesehatan pada tahun 2010.
Dari beberapa hal tersebutlah, maka pemerintah daerah pun berupaya
mengembangkan sistem informasi yang sesuai dengan keunikan dan
karakteristiknya.Pengembangan sistem informasi kesehatan daerah melalui
software atau web. Seperti SIMPUS, SIMRS, SIKDA dan sebagainya.

11
2.7. Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
merupakan pengembangan sistem informasi kesehatan yang menyeluruh dan
terintegrasi di setiap tingkat administrasi kesehatan, yang akan menghasilkan
data informasi yang akurat yang dapat menunjang Indonesia Sehat.
Pengembangan sistem informasi kesehatan tersebut harus sejalan dengan
kebijakan desentralisasi sebagaimana diatur dalam UU nomor 22 tahun 1999,
yang antara lain kewenangannya dalam sistem in!ormasi kesehatan adalah
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan penyelenggaraan sistem
informasi kesehatan kabupaten/kota
2. Pemerintah Propinsi melakukan bimbingan dan pengendalian, dan penyel
enggaraan sistem informasi kesehatan propinsi.
3. Pemerintah pusat membuat kebijakan nansional, bimbingan pengendalian
dan penyelenggaraan sistem informasi kesehatan nasional
SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan
merupakan bagian dari Sistem Kesehatan. Oleh karena itu, Sistem Informasi
Kesehatan di tingkat pusat merupakan bagian dari Sistem Kesehatan
Nasional,di tingkat Provinsi merupakan bagian dari Sistem kesehatan provinsi,
dan ditingkat Kabupaten/Kota merupakan bagian dari Sistem Kesehatan
kabupaten/kota. SIKNAS dibangun dari himpunan atau jaringan Sistem1siste
m Informasi Kesehatan Provinsi dan Sistem Informasi Kesehatan Provinsi di
bangun dari himpunan atau jaringan Sistem-sistem informasi kesehatan
kabupaten/kota. Disetiap tingkat, system informasi kesehatan juga merupakan
jaringan yang memiliki pusat jaringan dan anggota-anggota jaringan.
Untuk mewujudkan Sistem Informasi Kesehatan yang diharapkan,
sampai saat ini masih dijumpai sejumlah permasalahan yang bersifat klasik
antara lain:
1. Sistem Informasi Kesehatan masih terfragmentasi
2. Sebagian besar daerah belum memiliki kemampuan memadai
3. Pemanfaatan data dan informasi oleh manajemen belum optimal

12
4. Pemanfaatan data dan informasi kesehatan oleh masyarakat kurang
berkembang
5. Pemanfaatan teknologi telematika belum optimal
6. Dana untuk pengembangan Sistem Informasi Kesehatan terbatas
7. Kurangnya tenaga purna waktu untuk Sistem Informasi Kesehatan
Indonesia Sehar akan tercapai dengan baik apabila didukung oleh
tersedianya data dan informasi yang akurat dan disajikan secara cepat dan
tepat waktu. Atau dengan kata lain, pencapaian Indonesia sehst
memerlukan dukungan informasi yang dapat diandalkan (reliable). Atas
dasar pertimbangan tersebut, maka visi Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKNAS) adalah INFORMASI KESEHATAN ANDAL 2010
(Reliable Health Information 2010).
Untuk dapat mewujudkan visi tersebut, maka misi dari pengembangan
Sistem Informasi Kesehatan Nasional adalah :
1. Mengembangkan pengelolaan data yang meliputi pengumpulan,
penyimpanan, pengolahan, dan analisis data.
2. Mengembangkan pengemasan data dan informasi dalam bentuk bankdata,
profil kesehatan, dan kemasan-kemasan informasi khusus.
3. Mengembangkan jaringan kerja sama pengelola data dan informasi
kesehatan.
4. Mengembangkan pendayagunaan data dan informasi kesehatan.
Dijajaran kesehatan terdapat berbagai macam sub system informasi yang
selama ini belum terintegrasi dengan baik dalam suatu SIKNAS. Oleh karena
itu, maka strategi pertama yang perlu dilakukan dalam rangka pengembangan
SIKNAS adalah pegintegrasian sistem-sistem informasi tersebut. Pngertian
integrasi hendaknya dicermati oleh sebab di dalamnya tidak terkandung
maksud mematikan/menyaturkan semua system informasi yang ada. Yang
disatukan hanyalah system-sistem informasi yang lebih efisien bila digabung.
Terhadap system-sistem informasi lainnya, pengintegrasian lebih berupa
pengembangan (1) pembagian tugas, tanggung jawab dan otoritas-otoritas
serta (2) mekanisme saling-hubung. Dengan integrasi ini diharapkan semua
system informasi yang ada akan bekerja secara terpadu dan sinergis

13
membentuk suatu SIKNAS pembagian tugas dan tanggung jawab akan
memungkinkan data yang dikumpulkan memiliki kualitas dan validitas yang
baik. Otoritas akan menyebabkan tidak adanya duplikasi dalam pengumpulan
dara, sehingga tidak akan terdapat informasi yang berbeda-beda mengenai
suatu hal.(sumber: SIKNAS dan BANK DATA disajikan SEKJEN di
Bidakara).
2.8. Tantangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Pelaksanaan SIKNAS di era desentralisasi bukan menjadi lebih baik
tetapi malah berantakan. Hal ini dikarenakan belum adanya infrastruktur
yang memadai di daerah dan juga pencatatan dan pelaporan yang ada
(Produk Sentralisasi) banyak overlaps sehingga diraxakan sebagai beban oleh
daerah.
2.9. Masalah Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Melihat Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Indonesia, maka kita
bisa menilai bahwa penerapannya masih cukup kurang. Khususnya
untuk Surveilans yang berfungsi untuk menggambarkan segala situasi yang
adakhususnya perkembangan penyakit sehingga berpengaruh terhadap
derajat kesehatan setiap individu di dalam populasi yang ada. Perkembangan
dan masalah sistem informasi kesehatan antara lain :
1. Upaya kesehatan
Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami
peningkatan. Namun pada daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, serta
pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah.
2. Pembiayaan Kesehatan
Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke
tahun,namun psersentase terhadap seluruh APBN belum meningkat.
3. Sumber Daya Manusia Kesehatan
Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)
Kesehatan belum memadai. Baik jumlah, jenis, maupun kualitas tenaga
kesehatan yang dibutuhkan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan masih
belummerata. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.

14
4. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Makanan
Pasar sediaan farmasi masih di dominasi oleh produksi domestik,
sementara itu bahan baku impor mencapai 85 %dari kebutuhan.
DiIndonesia terdapat 9.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai
efek pengobatan, dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan
sebagai bahan baku. Penggunaan obat nasional belum dilaksanakan di
seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, masih banyak pengobatan yang
dilakukan tidak sesuai dengan Formularium.
5. Manajemen dan Informasi Kesehatan
Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah
belumsinkron. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah
menerapka kebijakan desentralisasi. Data dan informasi kesehatan untuk
perencanaan tidak tersedia tepat waktu. Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKNAS) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat
kabupaten kota namun belum dimanfaatkan. Hasil penelitian kesehatan
belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan
perencanaan program. Surveilans belum dilaksanakan secara
menyeluruh.
2.10. Kendala Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Indonesia belum berjalan secara
optimal. SIK sebagai bagian fungsional dari Sistem kesehatan yang
komprehensif belum mampu berperan dalam memberikan informasi yang
diperlukan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat Sistem
Kesehatan, mulai dari Puskesmas di Tingkat Kecamatan sampai dengan
Kementrian Kesehatan di Tingkat Pusat. Hal tersebut disebabkan karena
Informasi kesehatan saat ini masih terfragmentasi, belum dapat diakses
dengan cepat, tepat, setiap saat dan belum teruji keakuratan dan validitasnya.
Padahal informasi tersebut sangat penting dan diperlukan keberadaannya
dalam menentukan arah kebijakan dan strategi perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan kesehatan nasional.

15
Pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan masih belum didukung
oleh data yang kuat, Pengelolaan sistem informasi yang baik dapat
mendukung tersedianya data dan informasi kesehatan yang valid yang dapat
mendukung dalam penentuan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai
bidang seperti yang tercantum dibawah ini :
1. Peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas sarana dan prasarana pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan, terutama pada daerah dengan aksesibilitas
relatif rendah.
2. Perbaikan dan penanggulangan gizi masyarakat dengan fokus utama pada
ibu hamil dan anak hingga usia 2 tahun.
3. Pengendalian penyakit menular, terutama TB, malaria, HIV/AIDS, DBD
dan diare serta penyakit zoonotik, seperti kusta, frambusia, filariasis,
schistosomiasis.
4. Pembiayaan dan efisiensi penggunaan anggaran kesehatan, serta
pengembangan jaminan pelayanan kesehatan.
5. Peningkatan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan untuk
pemenuhan kebutuhan nasional serta antisipasi persaingan global yang
didukung oleh sistem perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan
secara sistematis dan didukung oleh peraturan perundangan.
6. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, mutu, dan penggunaan obat.
7. Manajemen kesehatan dan pengembangan di bidang hukum dan
administrasi kesehatan, penelitian dan pengembangan kesehatan,
penapisan teknologi kesehatan dan pengembangan sistem informasi
kesehatan.
Peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan tanggung
jawab pemerintah daerah. Namun dikarenakan kebijakan dan standar
pelayanan bidang kesehatan masing-masing pemerintah daerah berbeda-beda,
maka sistem informasi kesehatan yang dibangun pun berbeda pula. Perbedaan
tersebut menimbulkan berbagai permasalahan dalam pengelolaan Sistem
Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) secara umum, diantaranya :

16
1. Akurasi data tidak terjamin
2. Kontrol dan verifikasi data tidak terlaksana dengan baik.
3. Ketidakseragaman data dan informasi yang diperoleh.
4. Adanya keterlambatan dalam proses pengiriman laporan kegiatan
puskesmas/rumah sakit/pelaksana kesehatan lainnya, baik itu ke Dinas
Kesehatan maupun ke Kementrian Kesehatan sehingga informasi yang
diterima sudah tidak up to date lagi.
5. Proses integrasi data dari berbagai puskesmas/rumah sakit/pelaksana
kesehatan lainnya sulit dilakukan karena perbedaaan tipe data dan format
pelaporan.
6. Informasi yang diperoleh tidak lengkap dan tidak sesuai dengan
kebutuhan manajemen di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi maupun di
tingkat Kementrian Kesehatan.
7. File data tersimpan secara terpisah,
8. Proses data dilakukan secara manual dan komputer sehingga
menyebabkan tidak mudah dalam akses, informasi yang dihasilkan
lambat dan tidak lengkap.
Selain itu Puskesmas sebagai pelaksana kesehatan terendah, mengalami
kesulitan dalam melakukan pelaporan, dengan banyaknya laporan yang harus
dibuat berdasarkan permintaan dari berbagai program di Kementrian
Kesehatan, dimana data antara satu laporan dari satu program dengan laporan
lain dari program lainnya memiliki dataset yang hampir sama, sedangkan
aplikasi untuk membuat berbagai laporan tersebut berbeda-beda. Sehingga
menimbulkan tumpang tindih dalam pengerjaannya, yang menghabiskan
banyak sumberdaya dan waktu dari petugas puskesmas.
Melihat berbagai kondisi diatas maka dibutuhkan suatu Sistem Informasi
Kesehatan untuk digunakan di daerah (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) yang
sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak, mulai dari tingkat
Puskesmas hingga ke Kementrian Kesehatan dengan standar minimum atau
disebut Sistem Informasi Kesehatan Daerah Generik (SIKDA Generik).

17
Sistem informasi kesehatan yang mampu menampilkan informasi secara
cepat, akurat dan terkini sesuai dengan kebutuhan berbagai pihak dalam
pengambilan keputusan manajemen.
2.11. Hambatan-Hambatan dalam Penerapan Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKNAS)
Melihat Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Indonesia, maka kita
bisa menilai bahwa penerapannya masih cukup kurang. Khususnya untuk
Surveilans yang berfungsi untuk menggambarkan segala situasi yang ada
khususnya perkembangan penyakit sehingga berpengaruh terhadap derajat
kesehatan setiap individu di dalam populasi yang ada.
Sebagai contoh misal gambaran Sistem Informasi Pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan. Timbul berbagai permasalahan
tetrkait penerapan Sistem Informasi kesehatan, disana digambarkan bahwa
masih ditemukannya beberapa puskesmas yang tidak sesuai dalam proses
pencatatan dan pendataan. Terbukti dengan masih adanya 5 Puskesmas yang
tidak menggunakan komputer dari 19 Puskesmas yang ada.
Tidak hanya masalah tersebut saja, yang menjadi penghambat atas
penerapan SIK (Sistem Informasi Kesehatan) di Dinas Kesehatan Kabupaten
Kutai Timur, Propinsi Kalimantan. Melainkan masih banyak sekali masalah
yang timbul, yaitu :
1. Untuk mengakses data sulit karena terpisah antara program.
2. Adanya perbedaan data antar bagian dengan data yang sama, misalnya
jumlah bayi.
3. Sulitnya menyatukan data karena format laporan yang berbeda-beda.
4. Adanya pengambilan data yang sama berulang-ulang dengan format yang
berbeda-beda dari masing-masing bagian.
5. Waktu untuk mengumpulkan data lebih lama, sehingga pengolahan dan
analisis data sering terlambat.
6. Pimpinan sulit mengambil keputusan dengan cepat dan akurat karena data
berbeda dan keterlambatan laporan.
Jadi, apabila melihat dari penjabaran di atas maka bisa disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang sering menghambat SIK (Sistem Informasi

18
Kesehatan) yang bersifat daerah (SIKDA) maupun nasional (SIKNAS)
berdasarkan gambaran di Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi
Kalimantan adalah faktor geografis (tempat dan lokasi), human resources
medical atau tenaga kesehatan, infrastruktur pendukung (komputer, software,
dan lain-lain), dan kebijakan mengenai SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan
Daerah) maupun SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional).
2.12. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(Berdasarkan Periodenya)
2.12.1 Kelebihan
1. Peranan SIK dalam Sistem Kesehatan
Menurut WHO, Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu
dari 6 “building blocks” atau komponen utama dalam Sistem Kesehatan
di suatu negara. Keenam komponen (iasic blocks) Sistem Kesehatan
tersebut ialah :
1. Servis Delivery (Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan)
2. Medical product, vaccines, and technologies (Produk Medis, vaksin,
dan Teknologi Kesehatan)
3. Health Workforce (Tenaga Medis)
4. Health System Financing (Sistem Pembiayaan Kesehatan)
5. Health Information System (Sistem Informasi Kesehatan)
6. Leadership and Governance (Kepemimpinan dan Pemerintahan)
2. SIK di dalam Sistem Kesehatan Nasional Indonesia
Sistem Kesehatan Nasional Indonesia terdiri dari 7 subsistem, yaitu :
1. Upaya Kesehatan
2. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
3. Pembiayaan Kesehatan
4. Sumber Daya Mansuia (SDM) Kesehatan
5. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan
6. Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan
7. Pemberdayaan Masyarakat
Di dalam Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari
sub sistem ke 6 yaitu : Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan.

19
Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan merupakan subsistem
yang mengelola fungsi-fungsi kebijakan kesehatan, adiminstrasi
kesehatan, informasi kesehatan dan ias kesehatan yang memadai dan
mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan nasional agar
berdaya guna, berhasil gunam dan mendukung penyelenggaraan keenam
subsitem lain di dalam Sistem Kesehatan Nasional sebagai satu kesatuan
yang terpadu.
3. Manfaat Sistem Informasi Kesehatan
Begitu banyak manfaat Sistem Informasi Kesehatan yang dapat
membantu para pengelola program kesehatan, pengambil kebijakan dan
keputusan pelaksanaan di semua jenjang administrasi (kabupaten atau
kota, propvinsi dan pusat) dan sistem dalam hal berikut :
1. Mendukung manajemen kesehatan
2. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
3. Mengintervensi masalah kesehatan berdasarkan prioritas
4. Pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan kesehatan
berdasarkan bukti (evidence-based decision)
5. Mengalokasikan sumber daya secara optimal
6. Membantu peningkatan efektivitas dan efisiensi
7. Membantu penilaian transparansi
2.12.2 Kekurangan
Permasalahan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Permasalahan mendasar Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
saat ini antara lain :
a. Faktor Pemerintah
 Standar SIK belum ada sampai saat
 Pedoman SIK sudah ada tapi belum seragam
 Belum ada rencana kerja SIK nasional
 Pengembangan SIK di kabupaten atau kota tidak seragam
b. Fragmentasi
Terlalu banyak sistem yang berbeda-beda di semua jenjang
administasi (kabupaten atau kota, provinsi dan pusat), sehingga terjadi

20
duplikasi data, data tidak lengkap, tidak valid dan tidak iasic dengan
pusat.
Kesenjangan aliran data (terfragmentasi, banyak hambatan dan
tidak tepat waktu) Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa :
Puskesmas harus mengirim lebih dari 300 laporan dan ada 8 macam
software RR sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu
tinggi. Hal ini dianggap tidak efektif dan tidak efisien, format
pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum standar
secara nasional.
c. Sumber daya masih minim

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem Informasi Kesehatan di tingkat Pusat merupakan bagian dari
Sistem Kesehatan Nasional, di tingkat Provinsi merupakan bagian dari
Sistem Kesehatan Provinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota merupakan bagian
dari Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota. SIKNAS dibangun dari himpunan
atau jaringan Sistem-sistem Informasi Kesehatan Provinsi dan Sistem
Informasi Kesehatan Provinsi dibangun dari himpunan atau jaringan
Sistem-sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengembangan jaringan
komputer Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) online ini telah
ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan (KEPMENKES) No. 837
Tahun 2007. SIKNAS ONLINE mempunyai tujuan untuk mengintegrasikan
semua komunikasi data yang terfragmentasi ke dalam suatu jaringan serta
menghapus hirarki antar instansi.
3.2 Saran
1. Sudah selayaknya dimanfaatkan dengan maksimal apa yang dilakukan
oleh Depkes dengan menyediakan jaringan beserta kelengakapannya
kepada Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota di seluruh Indonesia.
Banyak manfaat yang bisa diraih dengan adanya fasilitas tersebut.
Komunikasi dan informasi yang makin intensif dan lancar tentunya
antara Depkes Pusat dengan Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kab/kota,
juga antar Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia. Mari manfaatkan
semua fasilitas itu dengan harapan akan dapat meningkatkan jaringan
dan komunikasi data terintegrasi di bidang kesehatan.
2. Perlunya dilakukan kajian mengenai kendala-kendala yang dihadapi
dalam pelaksanaan sistem informasi kesehatan
3. Kebutuhan data dan informasi merupakan kebutuhan daerah, maka
sebaiknya sistem informasi yang dikembangkan disesuaikan dengan
kebutuhan dan karakteristik daerah

22
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. SIKNAS dan SIKDA. Diakses : 03 November 2019 (17.00 WIB).
https://bidankomunitas.files.wordpress.com/2012/01/siknas-sikda-monev-si-
2014.pdf
Edu, Academia. 2015. Tugas Makalah SIK. Diakses : 03 November 2019 (19.10
WIB). https://www.academia.edu/19639255/TUGAS_MAKALAH_sik
Edu, Academia. 2019. SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional). Diakses :
03 November 2019 (18.23 WIB). https://www.academia.edu/5312688/
SIKNAS_Sistem_Informasi_Kesehatan_Nasional_
Edu, Academia. 2014. Contoh Makalah SIK Perkembangan SIKNAS. Diakses :
03 November 2019 (19.16 WIB). https://www.academia.edu/8338296/
contoh_MAKALAH_SIK_PERKEMBANGAN_SIKNAS

23

Anda mungkin juga menyukai