Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“AL-JARH WA AT-TA’DIL”

Disusun Oleh :
Kelompok 2
1. Denny Ardiansah
2. Desi Aurelia Putri
3. Diah Ayu Pengukir
4. Diah Putri Afifah
5. Dio Arief Abdillah
6. Feri Kurniasandi
7. Haidila Rahmah

Kelas : XI AGAMA 2
Guru Pembimbing : Drs. Kasim

KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 1 OKU TIMUR
SUMATERA SELATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT


karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Al-Jarh Wa At-Ta’dil” ini tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan tentang Al-Jarh Wa At-
Ta’dil. Kami mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing Bapak Drs. Kasim
yang telah memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini serta kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini. Kritik dan saran dari
pembaca sangat penulis harapkan terhadap makalah ini agar ke depannya makalah ini
menjadi lebih baik lagi.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca semua, amin.

Belitang, Januari 2020

Penulis,
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................ 2

BAB II PRODUKSI KERAJINAN DENGAN INSPIRASI BUDAYA LOKAL


A. Pengertian al-Jarh dan at-Ta’dil ................................................ 3
B. Manfaat Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.. .......................................... 3
C. Syarat-syarat Bagi Orang yang Menta’dil-kan dan
Men-tajrih-kan ........................................................................... 4
D. Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil ...... 4
E. Macam-macam Keaiban Rawi................................................... 4
F. Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil............................... 5
G. Lafadz-lafadz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil ................................. 6
H. Metode untuk Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Rawi dan
Masalah-masalahnya ................................................................. 9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................ 11
B. Saran .......................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kedudukan hadits (al-Sunnah) sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an
sudah tidak diperselisihkan lagi oleh para ulama. Berhujjah dengan hadits sahih jelas
tidak diperdebatkan lagi, bahkan demikianlah yang semestinya. Namun bagaimana
menentukan kesahihan suatu hadits merupakan kajian yang sederhana. Suatu hal yang
pasti ada jarak waktu yang panjang antara masa kehidupan Rasulullah dengan masa
penulisan dan pembukuan suatu hadits.
Untuk meneliti kesahihan suatu hadis dalam ilmu hadis dikembangkan dua
cabang ilmu yakni ilmu hadits riwayat, yang objek kajiannya ialah bagaimana
menerima, menyampaikan kepada orang lain, memindahkan dan mendewankan
dalam diwan hadis. Dalam menyampaikan dan mendewankan hadis dinukilkan dan
dituliskan apa adanya, baik mengenai matan maupun sanadnya. Ilmu ini tidak
membicarakan hal ikhwal sifat perawi yang berkenaan dengan ‘âdil, dhâbithat au
fasik yang dapat berpengaruh terhadap sahih tidaknya suatu hadis. Perihal perawi
merupakan objek kajian ilmu hadits dirayah. Karena kedudukan perawi sangat
penting dalam menentukan kesahihan suatu hadis, maka ilmu hadis dirayah
membahas secara khusus keadaan perawi. Jalan untuk mengetahui keadaan perawi itu
adalah melalui ilmu “al- Jarh wa al-Ta’dil’.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian al-Jarh dan al-Ta’dil ?
2. Apakah manfaat dari ilmu Al-jarh wa At-ta’dil ?
3. Apa Syarat-syarat bagi orang yang menta’dil-kan dan men-tajrih-kan ?
4. Bagaimana kemunculan dan perkembangan ilmu Al-jarh wa At-ta’dil?
5. Sebutkan macam-macam keaiban rawi ?
6. Bagaimana Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil?
7. Bagaimana lafadz-lafadz ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil?
8. Bagaimana metode untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi dan
masalah-masalahnya?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian al-Jarh dan al-Ta’dil.
2. Untuk mengetahui manfaat dari ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.
3. Untuk mengetahui syarat-syarat bagi orang yang menta’dil-kan dan men-
tajrih-kan.
4. Untuk mengetahui kemunculan dan perkembangan ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.
5. Untuk mengetahui macam-macam keaiban rawi.
6. Untuk mengetahui pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil.
7. Untuk mengetahui lafadz-lafadz ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil.
8. Untuk mengetahui metode untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi
dan masalah-masalahnya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian al-Jarh dan al-Ta’dil


Al-jarh secara bahasa: isim mashdar yang berarti luka yang mengalirkan darah
atau sesuatu yang dapat menggugurkan ke’adalahan seseorang. Al-jarh menurut
istilah: yaitu terlihatnya sifat pada seorang perawi yang dapat menjatuhkan
ke’adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur
riwayatnya atau melemahkannya hingga kemudian ditolak. At-Tajrih yaitu
memberikan sifat kepada seorang perawi dengan sifat yang menyebabkan pendhaifan
riwayatnya atau tidak diterima riwayatnya.
Al-‘Adlu secara bahasa yaitu apa yang lurus dalam jiwa, lawan dari durhaka,
dan seorang yang ‘adil artinya kesaksiannya diterima dan At-Ta’dil artinya
mensucikannya dan membersihkannya. Al-‘Adlu menurut istilah yaitu orang yang
tidak nampak padanya apa yang dapat merusak agamanya dan perangainya, maka
oleh sebab itu diterima beritanya dan kesaksiannya apabila memenuhi syarat-syarat
menyampaikan hadis. At-Ta’dil yaitu pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang
mensucikannya, sehingga nampak ke’adalahannya, dan diterima beritanya.
Maka ilmu al-Jarh dan al-Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat
yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penta’dilannya dengan memakai kata-
kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.

B. Manfaat Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil


Ilmu al-jarh wa at-ta’dil bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan
seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. Kalaulah ilmu al-jarh
wa at-ta’dil ini tidak dipelajari dengan seksama, paling tidak ,akan muncul penilaian
bahwa seluruh orang yang meriwayatkan hadis dinilai sama. Padahal perjalanan hadis
semenjak Nabi Muhammad SAW, sampai dibukukan mengalami perjalanan yang
begitu panjang dan diwarnai oleh situasi dan kondisi yang tidak menentu.
Jika tidak mengetahui benar atau salahnya sebuah riwayat kita akan
mencampuradukkan antara hadis yang benar-benar dari rosullullah dan hadis yang
palsu (maudhu’). Dengan mengetahui ilmu al-jarh wa at-ta’dil, kita juga akan bisa
menyeleksi mana hadis sahih, hasan ataupun hadis dhoif, terutama dari segi kualitas
rawi, bukan dari matannya.
C. Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Menta’dil-kan dan Men-tajrih-kan.
Ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta’dil-kan (mu’addil) dan orang
yang men-jarah-kan(fajrih),yaitu ;
1. Berilmu pengetahuan
2. Takwa
3. Wara’ ( orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat-syubhat,
dosa-dosa kecil dan makruhat-makruhat)
4. Jujur
5. Menjauhi fanatik golongan
6. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta’dil-kan dan untuk men-takhrij-kan.

D. Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil


Eksistensi Al-jarh wa At-ta’di dalam kritik sanad hadis berfungsi sebagai
tolok ukur dan timbangan bagi seorang perawi apakah hadis yang diriwayatkannya itu
diterima atau ditolak. Permasalahan Al-jarh wa At-ta’dil, al Khathib menyatakan
bahwa sebenarnya Al-jarh wa At-ta’dil tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya
periwayatan dalam islam itu sendiri. Al Naisaburi juga mengatakan bahwa generasi
pertama yang telah memperkenalkan azaz dan kaedah Al-jarh wa At-ta’dil adalah
generasi sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Zaid bin Thabit, dimana mereka
menyeleksi, memberikan nilai negatif dan positif dan membahas riwayat-riwayat
yang sahih dan tidak sahih.
Pembahasan mengenai Al-jarh wa At-ta’dil pada tahap berikutnya
mengalami perkembangan yang demikian pesat. Pada abat ke-2 muncul tokoh-tokoh
Al-jarh wa At-ta’dil diantaranya adalah : Ma’mar, Hisyam Al-DIstiwai, Al-Auza’i,
Al- Tsauri, Hammad Ibn Salamah dan Al-Laits Ibn Sa’ad. Pada penghujung periode
terakhir abad ke-2 itu juga muncul tokoh-tokoh seperti : Yahya Ibn Sa’id Al-Qattan
dan Abdurrahman Ibn Mahdi.
Perkembangan ilmu Al-jarh wa At-ta’dil yang menggembirakan ini tidak
lepas dari perhatian umat terhadap hadis, yang demi menjaga validitasnya,
penyeleksian terhadap para pembawa berita tersebut mutlak dilakukan dengan ketat
berdasarkan metode dan semua ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.

E. Macam-macam Keaiban Rawi


1. Bid’ah (melakukan tindakan tercela, di luar ketentuan syari’at)
2. Mukhalafah (melaini dengan periwayatan orang yang lebih tsiqah)
3. Ghalath (banyak kekeliruan dalam periwayatan)
4. Jahalatu’l-Hal (tidak di kenal identitasnya)
5. Da’wa’l-inqhitha’ (di duga keras sanadnya tidak bersambung)
6. Metode untuk Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Rawi serta Masalah-
Masalahnya
Jumlah Orang yang dipandang cukup untuk men-ta’dil-kan dan men-tajrih-
kan rawi-rawi
1. Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun dalam soal riwayat.
Demikian pendapat kebanyaakan fuqoha Madinah.
2. Cukup seorang saja dalam soal riwayat bukan dalm soal syahadah. Sebab,
bilangan tersebut tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadis, maka tidak
pula disyaratkan dalam men-ta’di-lkan dan men-tajrih-kan rawi. Berlainan
dalam soal syahadah.
3. Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.
Adapun kalau ke-adilan-nya itu diperoleh atas dasar pujian orang banyak atau
dimashurkan oleh ahli-ahli ilmu, tidak diperlukan lagi orang yang menta,dilkan
(muzakky=mua’dil). Seperti Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal , Al-Laits,
Ibnu Mubarak, Sya’aibah, Ishak, dan lain-lain .

F. Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil


Terkadang, pernyataan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta’dil terhadap
orang yang sama bisa saling bertentangan. Sebagian men-tajrih-kan, sebagian lain
men-ta’dil-kan. Bila keadaannya seperti itu, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang
keadaan sebenarnya. Dalam masalah ini, para ulama terbagi dalam beberapa
pendapat, sebagai berikut :
1. Al-jarh harus didahulukan secara mutlak, walaupun jumlah mu’adilnya lebih
banyak daripada jarh-nya. Sebab jarih tentu mempunyai kelebihan ilmu yang
tidak diketahui oleh mu’adil, dan kalau jarih dapat membenarkan mu’adil
tentang apa yang diberitakan menurut lahirnya saja, sedangkan jarih
memberitakan urusan batiniah yang tidak diketahui oleh si mu’adil. Inilah
pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama’.
2. Ta’dil didahulukan daripada jarh, bila yang men-ta’dil-kan lebih banyak
karena banyaknya yang men-ta’dil bisa mengukuhkan keadaan rawi-rawi
yang bersangkutan. Menurut Ajjaj al Khathib, pendapat ini tidak bisa
diterima, sebab yang men-ta’dil, meskipun lebih banyak jumlahnya tidak
memberitahukan apa yang menyanggah pernyataan yang mentajrih.
3. Bila jarh dan ta’dil bertentangan, salah satunya tidak bisa didahulukan,
kecuali dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya, yakni
keadaan dihentikan sementara, sampai diketahui mana yang lebih kuat di
antara keduanya.
4. Tetap dalam ta’arudh bila tidak ditemukan yang men-tajrih-kan.

G. Lafadz-lafadz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil


Lafadz-lafadz yang digunakan untuk men-tajrih-kan dan men-ta’dil-kan itu
bertingkat. Menurut Ibnu Hatim, Ibnu Shalah, dan Imam An-Nawawy, lafadz-lafadz
itu disusun menjadi 4 tingkatan, menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqy
menjadi 5 tingkatan, sedangkan Ibnu Hajar menyusunnya menjadi 6 tingkatan[7],
yaitu sebagai berikut :
1. Tingkatan pertama, segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam
keadilan, dengan menggunakan lafadz-lafadz af’alu al-ta’dil atau ungkapan
lain yang mengandug pengertian sejenis :
‫اوثق الناس‬ = orang yang paling tsiqat, orang yang
paling kuat hafalannya.
‫اثبت الناس حفظا وعدالة‬ = orang yang paling mantap hafalan dan
keadilannya.
‫الىه المنتهى في الثبت‬ = orang yang paling menonjol keteguhan
hatinya dan akidahnya.
‫ثقة فوق ثقة‬ = orang yang tsiqat melebihi orang
tsiqat.
2. Tingkatan kedua, memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat
yang menunjukkan keadilan dan ke-dhabit-annya, baik sifatnya yang
dihubungkan itu selafadz (dengan mengulangnya) maupun semakna,
misalnya:
‫ثبت ثبت‬ = orang yang teguh (lagi) teguh, yaitu teguh dalam
pendiriannya.
‫ثقة ثقة‬ = orang yang tsiqah (lagi) tsiqah, yaitu yang sangat dipercaya.

‫حجة حجة‬ = orang yang ahli (lagi) petah lidahnya.

‫ثبت ثقة‬ = orang yang teguh (lagi) tsiqah, yaitu teguh dalam
pendiriannya dan kuat hafalannya.
‫حافظ حجة‬ = orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya.

‫ضابط متقن‬ = orang yang kuat ingatannya (lagi) meyakinkan ilmunya.


3. Tingkatan ketiga, menunjukkan keadilan dengan suatu lafadz yang
mengandung arti ‘kuat ingatan’, misalnya:
‫ثبت‬ = orang yang teguh (hati-hati lildahnya).

‫متقن‬ = orang yang meyakinkan ilmunya.

‫ثقة‬ = orang yang tsiqah.


‫حافظ‬ = orang yang hafidz (kuat hafalannya).
‫حجة‬ = orang yang petah lidahnya.
4. Tingkatan keempat,menunujkkan keadilan dan ke-dhabit-an, tetapi dengan
lafadz yang tidak mengandung arti ‘kuat ingatan dan adil’ (tsiqah), misalnya:
‫صدوق‬ = orang yang sangat jujur

‫ماء مون‬ = orang yang dapat memegang amanat

‫ال باء س به‬ = orang yang tidak cacat


5. Tingkatan kelima, menunjukkan kejujuran rawi, tetapi tidak diketahui ke-
dhabit-an, misalnya :
‫محلة الصدق‬ = orang yang berstatus jujur.

‫جيد الحديث‬ = orang yang baik haditsnya.

‫حس الحديث‬ = orang yang bagus haditsnya.

‫مقارب الحديث‬ = orang yang haditsnya berdekatan dengan hadits lain


yang tsiqah.
6. Tingkatan keenam, menunujukka arti ‘mendekati cacat’. Seperti sifat-sifat
tersebut di atas yang diikuti dengan lafadz “Insya Alla”, atau lafadz tersebut
di-tashir-kan (pengecilan arti), atau lafadz itu dikaitkan dengan suatu
pengharapan, misalnya:
‫صدوق ان شاءهللا‬ = orang yang jujur, insya Allah

‫فالن ارجو بان ال باء س به‬ = orang yang diharapkan tsiqah

‫فالن صويلج‬ = orang yang sedikit keshalihannya

‫فالن مقبول حديثة‬ = oranng yang diteruma hadits-haditsnya


Para ahli ilmu mempergunakan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi-
rawi yang di-ta’dil-kan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai
hujjah. Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta’dil-kan menurut tingkatan kelima
dan keenam hanya dapat ditulis, dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh
hadits periwayat lain.

Kemudian, tingkatan dan lafadz-lafadz untuk men-tajrih rawi-rawi, yaitu ;


1. Tingkatan pertama, menunjuk pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya
dengan menggunakan lafadz-lafadz yang berbentuk af’alu al ta’dil atau
ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenisnya, misalnya :
‫اوضع الناس‬ = orang yang paling dusta

‫اكذب الناس‬ = orang yang paling bohong

‫اليه المنتهى في الوضع‬ = orang yang paling menonjol kebohongannya


2. Tingkatan kedua, menunjukkan sangat cacat dengan menggunakan lafadz-
lafadz berbentuk sighat muballaghoh, misalnya :
‫ = كذاب‬orang yang pembohong
‫ = وضاع‬orang yang pendusta
‫ = دجال‬orang yang penipu
3. Tingkatan ketiga, menunjuk kepada tuduhan dusta, bohong atau sebagainya,
mislanya :
‫فالن متهم بالكذب‬ = orang yang dituduh bohong

‫او متهم بالوضع‬ = orang yang dituduh dusta

‫فالن فيه النظر‬ = orang yang perlu diteliti

‫فالن ساقط‬ = orang yang gugur

‫فالن ذاهب الحديث‬ = orang yang haditsnya telah hilang

‫فالن متروك الحديث‬ = orang yang ditinggalkan haditsnya


4. Tingkatan keempat, menunjukkan sangat lemahnya, misalnya:
‫مطروح الحديث‬ = orang yang dilempar haditsnya

‫فالن ضعيف‬ = orang yang lemah

‫فالن مردود الحديث‬ = orang yang ditolak haditsnya


5. Tingkatan kelima, menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi
mengenai hafalannya, misalnya:
‫فالن اليحتج به‬ = orang yang tidak dapat dibuat hujjah haditsnya

‫فالن مجهول‬ = orang yang tidak dikenal haditsnya

‫فالن منكر الحديث‬ = orang yang mungkar haditsnya

‫فالن مضطرب الحديث‬ = orang yang kacau haditsnya

‫فالن واه‬ = orang yang banyak duga-duga

6. Tingkatan keenam, menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjuk


kelemahannya, tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan adil, misalnya:
‫ضعف حديثه‬ = orang yang di-dha’if-kan haditsnnya

‫فالن مقال فيه‬ = orang yang diperbincangkan

‫فالن فيه خلف‬ = orang yang disingkiri

‫فالن لين‬ = orang yang lunak

‫فالن ليس بالحجة‬ = orang yang tidak dapat digunakan hujjah haditsnya

‫فالن ليس بالقوي‬ = orang yang tidak kuat


Orang yang di-tajrih menurut tingkat pertama sampai dengan tingkat keempat,
haditsnya tidak dapat dibuat hujjah sama sekali. Adapun orang-orang yang di-tajrih-
kan menurut tingkatan kelima dan keenam, haditsnya masih dapat diapakai sebagai
i’tibar (tempat pembanding).

H. Metode untuk Mengetahui Keadilan dan Kecacatan Rawi dan Masalah-


Masalahnya
Keadilan seorang perawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketetapan.
1. Dengan kepopuleran dikalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai
orang yang adil (bisy-syuhrah).
2. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah), yaitu ditetapkan sebagai rawi
yang adil yang semula rawi yang di-ta’dil-kan itu belum terkenal sebagai rawi
yang adil.
Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan
oleh :
1. Seorang rawi yang adil. Jadi, tidak perlu dikaitkan dengan banyaknya orang
yang men-ta’dil-kan sebab jumlah itu tidak menjadi syarat untuk penerimaan
riwayat hadis.
2. Setiap orang yang dapat diterima periwayatannya, bai laki-laki maupun
perempuan, baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui
sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.
Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui 2
jalan :
1. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawi dalam keaibannya. Seorang rawi
yang sudah dikenal sebagai seorang rawi yang sudah dikenal sebagai orang
yang fasik atau pendusta dikalangan masyarakat, tidak perlu lagi dipersoalkan.
Cukuplah kemasyhuran itu sebagai jalan untuk menetapkan kecacatannya.
2. Berdasarkan pen-tajrih-an dari seorang yang adil, yang mengetahui sebab-
sebab dia cacat. Demikian ketetapan yang dipegang muhaditsin, sedangkan
menurut para fuqoha, sekurang-kurangnya harus di tajrih oleh dua orang laki-
laki yang adil.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu jarh adalah kecacatan pada perawi hadist disebabkan oleh sesuatu yang
dapat merusak keadilan atau kedabitan perawi. Jadi ilmu jarh adalah ilmu yang
mempelajari seluk-beluk para perawi hadits yang meliputi perkataan dan perbuatan
dalam mendapatkan dan menjaga hadits. Ilmu ta’dil adalah lawan dari al- jarh, yaitu
pembersihan atau pensucian perawi dan ketetapan, bahwa ia adil atau dabit.
Pernyataan bahwa seorang perawi bersih dari sifat-sifat yang membuat riwayatnya
ditolak. Sehingga dengan ta’dil ini riwayatnya bisa diterima dikalangan umat Islam.

B. Saran
Dengan mempelajari kedua ilmu ini, maka jelaslah para perawi yang bisa
diterima riwayatnya tanpa ada keraguan lagi. Mudah-mudahan makalah sederhana ini
dapat dijadikan referensi bagi para peminat hadits dalam menentukan sikap pada
sebuah hadits. Tentunya makalah ini masih banyak kekurangan dengan kedhaifan
penulis. Untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan dan saran yang sangat
membantu penyempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini dapat berguna
bagi kita semua umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Al Qaththan, Syaikh Manna’. 2005. Pengantar Studi Ilmu Hadits. Jakarta : Pustaka
Al-Kautsar.

Rahman, Fatchur. 1974. Ikhtisar Musthalahul Hadits. Bandung : PT. Alma’arif.

Solahudin. M., & Agus Suyadi. 2009. Ulumul Hadis. Bandung : CV. Pustaka Setia.

Sumbulah, Umi. 2008. Kritik Hadis Pendekatan Historis Metodologis. Malan g: UIN-
Malang Press.

Lhienaa, “Al-Jarh wa Al-Ta’dil Hadits”,


(http://catatanbolpoint.wordpress.com/2011/10/31/al-jarh-wa-al-tadil-hadits/),
31 Senin Okt 2011. Diakses 29 Januari 2020.

http://kuliahtarbiyah.blogspot.com/2011/02/ilmu-aljarh-wa-attadil.html), 12 Februari
2011. Diakses 29 Januari 2020

Anda mungkin juga menyukai