Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas izin, kuasa dan
perlindunganNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ KOMUNIKASI
TERAPEUTIK PADA GANGGUAN PENDENGARAN ”.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi
Keperawatan yang diberikan kepada kami oleh Dosen kami tercinta, Agar kami dapat
mengetahui serta memahami cara menyusun makalah dengan benar dan agar dapat
mengembangkan ilmu yang telah kami peroleh.
Kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih belum
sempurna. Oleh karena itu kami mohon saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan
makalah ini .
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen Komunikasi
Keperawatan. Selaku guru yang memberikan tugas ini juga yang telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk membuat makalah ini dan semua bentuk bimbingan serta pengajarannya yang
kami terima dalam menyelesaikan penulisan makalah ini.

Samarinda, 20 Februari 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. ..1


DAFTAR ISI ............................................................................................ ..2
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 3
A. Latar Belakang ............................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 3
C. Tujuan ......................................................................................... 4
D. Manfaat ....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 5


A. Definisi Komunikasi..................................................................... 5
1. Fase-Fase Dalam Komunikasi Terapeutik ............................. 5
2. Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi ................................ 6
B. Gangguan Pendengaran ................................................................ 7
1. Definisi Gangguan Pendengaran ........................................... 7
2. Gejala Gangguan Pendengaran .............................................. 8
3. Penyebab gangguan pendengaran .......................................... 9
4. Pencegahan Terhadap Gangguan Pendengaran ..................... 10
5. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Komunikasi Pada Pasien
Gangguan Pendengaran ......................................................... 11
6. Teknik Komunikasi Gangguan Pendengaran ........................ 11

BAB III PENUTUP ................................................................................... 13


A. Kesimpulan .................................................................................. 13
B. Saran ............................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini profesi perawat semakin marak.banyak yang membutuhkan tenaga perawat.
Baik di Rumah sakit, balai pengobatan maupun di puskesmas. Untuk menjadi perawat yang
profesional dibutuhkan keterampilan dari segi kemampuan komunikasi ataupun skill dalam
merawat pasien. Agar tujuan bisa tercapai, perlu adanya komunikasi yang lancar antara pasien
dengan perawat. Komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut komunikasi secara terapeutik.
Tujuan dari komunikasi ini adalah membantu pasien untuk mengurangi beban perasaan
dan pikiran serta mengurangi keraguan pada diri pasien. Agar pasien lebih terbuka sehingga
proses penyembuhan dapat berjalan secara efektif.
Komunikasi juga dapat dilakukan oleh penderita buta dan tuli, dengan mengtahui tehnik
komunikasi dapat mengtahui maksut dan tujuan seseorang yang mengalami gangguan
pendengaran dan penglihtan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan kmunikasi terapeutik ?


2. Apa yang dimaksud dengan gangguan pendengaran ?
3. Apa Gejala – gejala pada gangguan pendengaran?
4. Apa penyebab dari gangguan pendengaran?
5. Bagaimana upaya pencegahan terhadap gangguan pendengaran?
6. Apa hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi dengan klien gangguan
pendengaran?
7. Apa tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan untuk berkomunikasi pada klien dengan
gangguan pendengaran ?

3
C. TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan :


1. Mengetahui Apa yang dimaksud dengan gangguan pendengaran
2. Mengetahu gejala-gejala gangguan pendengaran
3. Mengetahu penyebab gangguan pendengaran
4. Mengetahui upaya pencegahan terhadap gangguan pendengaran
5. Mengetahui apa hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi dengan klien
gangguan pendengaran
6. Mengetahui apa tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan untuk berkomunikasi pada
klien dengan gangguan pendengaran

D. MANFAAT

1. Bagi Perawat dapat dijadikan alternative untuk memahami berbagai macam peran perawat
berkaitan dengan gangguan pendengaran yang di anjurkan untuk pasien dengan berbagai kondisi.
2. Makalah ini juga dapat dijadikan bahan penelitian para peneliti untuk diteliti lebih lanjut.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI KOMUNIKASI

Komunikasi Terapeutik (Heri P, 1994) Adalah Komunikasi yang direncanakan secara sadar,
bertujuan & kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.

Tujuan :

1. Membantu klien untuk memperjelas & mengurangi beban perasaan & pikiran serta dapat
mengambil tindakan untuk mengubah situasi yg ada bila klien percaya padaa hal yg
diperlukan.

2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif &
mempertahankan kekuatan egonya.

3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik & dirinya sendiri.

Fase – fase dalam komunikasi terapeutik :


Fase komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat pasien terdiri dari 4 fase yaitu :
a. Fase Pra-Interaksi
 Gali perasaan, fantasi dan rasa takut dalam diri sendiri
 Analisis kekuatan dan keterbatasan professional diri sendiri
 Kumpulkan data tentang pasien jika memungkinkan
 Rencanakan untuk pertemuan pertama dengan pasien

b. Fase perkenalan / orientasi


 Tetapkan alasan pasien untuk mencari bantuan
 Bina rasa percaya
 Gali pikiran, perasaan, dan tindakan – tindakan pasien
 Identifikasi masalah pasien

5
 Tetapkan tujuan dengan pasien
 Rumuskan bersama kontrak yang bersifat saling menguntungkan

c. Fase kerja
 Gali stressor yang relevan
 Tingkatkan pengembangan penghayatan dan penggunaan mekanisme koping pasien
yang konstruktif
d. Fase terminasi
 Bina realitas tentgang perpisahan
 Tinjau kemajuan terapi dan pencapaian tujuan – tujuan
 Gali secara timbal balik perasaan penolakan

Factor – factor penghambat komunikasi :


1) Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi. Kurang cakap berbicara ( terutama di depan
umum ), berbicara tersendat – sendat, menyebabkan pendengar menjadi jengkel dan tidak
sabar.
2) Sikap yang kurang tepat. Seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas, sambil duduk
diatas meja akan memberi kesan kurang baik bagi siswanya.
3) Kurang pengetahuan. Seorang yang kurang pengetahuannya jarang membaca atau
mendengarkan radio atau televisi. Akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembicaraan
orang lain.
4) Kurang memahami system social.
5) Prasangka yang tidak beralasan.
6) Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lancer bila jarak antara komunikator dengan reseptor
berjauhan.
7) Tidak ada persamaan persepsi.
8) Indera yang rusak.
9) Berbicara yang berlebihan. Berbicara berlebihan sering kali akanmengakibatkan
penyimpangan dari pokok pembicaraan.

6
B. GANGGUAN PENDENGARAN

1. DEFINISI
Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya
disebabkan oleh faktor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran
bisa dikatakan terganggu jika sinyal suara gagal mencapai otak.
Proses pendengaran terjadi ketika gendang telinga bergetar akibat gelombang suara yang
masuk ke liang telinga. Getaran kemudian dilanjutkan ke telinga tengah melalui tiga tulang
pendengaran yang dikenal dengan nama osikel (terdiri dari tulang malleus, incus, stapes). Osikel
akan memperkuat getaran untuk dilanjutkan menuju rambut-rambut halus di dalam koklea, di
mana koklea akhirnya mengirim sinyal melalui saraf pendengaran ke otak.
Biasanya gangguan pendengaran berkembang secara bertahap, tapi hilangnya
pendengaran bisa muncul tiba-tiba. Suara-suara yang memiliki tingkat kebisingan hingga 79
desibel masih bisa dikategorikan aman bagi telinga manusia.
Menurut WHO, sampai tahun 2015, sekitar 360 juta orang di seluruh dunia menderita
gangguan pendengaran. Sementara, ada sekitar 1,1 miliar orang di dunia berisiko menderita
gangguan pendengaran akibat cara penggunaan alat pemutar musik yang membahayakan
pendengaran.
Ada tiga jenis utama dari gangguan pendengaran:

 Gangguan pendengaran konduktif terjadi dari masalah di liang telinga. Gendang telinga
atau telinga tengah tidak dapat mengirimkan suara secara efektif ke telinga bagian dalam.
Masalah ini dapat disebabkan oleh infeksi telinga, tumor, atau benda (seperti
penumpukan lilin) di telinga.
 Kehilangan pendengaran sensorineural seringkali disebabkan oleh kerusakan sel-sel
rambut di telinga bagaian dalam. Penyebab potensial lainnya termasuk kerusakan pada
saraf atau otak 8. Jenis gangguan pendengaran sering disebabkan oleh usia-terkait
perubahan saraf dan sel-sel sensorik dari telinga bagian dalam.
 Gangguan pendengaran campuran adalah kombinasi dari gangguan pendengaran
konduktif dan sensorineural, yang berarti bahwa mungkin ada kerusakan di telinga luar
atau tengah, serta di telinga bagian dalam (koklea) atau saraf pendengaran. Kehilangan

7
pendengaran campuran dapat disebabkan oleh cedera kepala, infeksi kronis, atau kelainan
bawaan.

Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering
digunakan adalah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang di keluarkan
orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi
sangat penting bagi klien, sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan
gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

2. GEJALA GANGGUAN PENDENGARAN

Beberapa tanda dan gejala awal gangguan pendengaran adalah:

 Meminta orang lain untuk mengulang perkataannya.


 Selalu kelelahan atau stres, karena harus berkonsentrasi saat mendengarkan.
 Menarik diri dari pembicaraan.
 Kesulitan mendengar dering telepon atau bel pintu.
 Menghindari beberapa situasi sosial.
 Kesulitan mendengarkan perkataan orang lain secara jelas, khususnya ketika berdiskusi
dengan banyak orang atau dalam keramaian.
 Kesulitan mendengarkan konsonan
 Mendengarkan musik atau menonton televisi dengan volume suara lebih keras dari orang
lain.
 Kesulitan menentukan arah sumber suara.

Gejala-gejala gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak sedikit berbeda dengan orang
dewasa. Beberapa gejala gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak adalah:

 Tidak kaget saat mendengar suara nyaring.


 Untuk bayi di bawah 4 bulan, tidak menoleh ke arah sumber suara.
 Tidak bisa menyebutkan satu kata pun saat berusia satu tahun.

8
 Menyadari kehadiran seseorang ketika ia melihatnya, namun acuh saat dipanggil
namanya.
 Lambat saat belajar bicara atau tidak jelas ketika berbicara.
 Menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya.
 Sering berbicara dengan lantang atau menyetel volume TV keras-keras.
 Memperhatikan orang lain untuk meniru sesuatu yang diperintahkan, karena ia tidak
mendengar sesuatu yang diinstruksikan.

3. PENYEBAB GANGGUAN PENDENGARAN

 Usia. Pada lansia, struktur di telinga menjadi kurang elastis. Rambut-rambut halus rusak
dan kurang mampu merespon gelombang suara. Gangguan pendengaran dapat
berkembang selama beberapa tahun.
 Suara keras. Paparan suara keras – misalnya, dari alat-alat listrik, pesawat terbang,
senjata api, atau dari mendengarkan musik keras pada earphone dapat merusak sel-sel
rambut di koklea. Parahnya kerusakan tergantung pada tingkat kenyaringan suara dan
lamanya mendengar suara tersebut.
 Infeksi telinga. Saat infeksi telinga terjadi, cairan menumpuk pada bagian telinga
tengah. Biasanya gangguan pendengaran karena infeksi telinga, bersifat ringan dan
sementara. Namun, jika infeksi telinga tidak diobati, mereka dapat menyebabkan
gangguan pendengaran berat dan jangka panjang.
 Lubang pada gendang telinga. Infeksi telinga, suara keras, trauma kepala, atau tekanan
kuat di telinga saat terbang dalam pesawat atau melakukan scuba diving dapat membuat
lubang di gendang telinga – membran yang memisahkan saluran telinga dan telinga
bagian tengah. Ini biasanya menyebabkan kehilangan pendengaran ringan atau sedang
kecuali ada beberapa masalah lain.
 Penyakit atau infeksi. Campak, gondok, meningitis, dan penyakit Meniere adalah
contoh-contoh beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
 Tumor. Tumor, baik yang jinak maupun ganas dapat menyebabkan gangguan
pendengaran yang parah. Ini termasuk neuroma akustik (schwannoma vestibular) dan

9
meningioma. Orang yang memiliki tumor mungkin juga mengalami mati rasa atau
kelemahan pada wajah dan dering di telinga.
 Sebuah benda asing di telinga. Ketika benda terjebak di telinga, mereka dapat
memblokir pendengaran. Kotoran telinga – substansi, tebal lengket yang biasanya
mencegah bakteri dan zat asing lainnya dari memasuki telinga – kadang-kadang dapat
menumpuk dan mengeras di telinga, mematikan kemampuan untuk mendengar.
 Cacat telinga. Beberapa orang dilahirkan dengan struktur telinga yang tidak normal,
yang mencegah mereka dapat mendengar dengan baik
 Trauma. Cedera seperti patah tulang tengkorak atau gendang telinga tertusuk dapat
menyebabkan gangguan pendengaran yang parah.
 Obat-obatan. Beberapa jenis obat, termasuk kelas aminoglikosida antibiotik
(streptomycin, neomisin, kanamisin), aspirin, obat kemoterapi (cisplatin, carboplatin),
Vicodin (dalam jumlah besar), antibiotik makrolida (eritromisin) dapat menyebabkan
gangguan pendengaran. Kadang-kadang efek ini bersifat sementara dan pendengaran
akan kembali setelah Anda berhenti minum obat, tetapi dalam banyak kasus gangguan
pendengaran menjadi permanen.
 Gen. Para ilmuwan telah mengidentifikasi gen tertentu yang membuat orang lebih rentan
terhadap gangguan pendengaran yang parah, terutama yang berkaitan dengan usia
gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran genetik sering dimulai dengan gangguan
pendengaran yang didiagnosis saat lahir

4. PENCEGAHAN TERHADAP GANGGUAN PENDENGARAN

a. Gunakanlah pelindung pendengaran, jika berada di lingkungan yang memiliki tingkat


kebisingan tinggi gunakanlah pelindung pendengaran seperti penutup telinga. Alat ini
juga bisa digunakan saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti memotong rumput.
b. Waspadai kebisingan, kapan pun waktunya usahakan untuk mengecikan volume radio,
televisi atau speaker.

10
c. Berhati-hatilah menggunakan earphone. Jika menggunakan earphone maka aturlah
volume agar tidak terlalu keras, jika orang yang disebelah Anda bisa mendengar suara
dari earphone maka volumenya sudah terlalu keras.
d. Berikan waktu bagi telinga untuk beristirahat, semakin sering seseorang terpapar suara
maka bisa mempengaruhi gangguan pendengaran, bahkan suara dengan volume rendah
sekalipun jika terpapar dalam jangka waktu lama bisa jadi berbahaya. Untuk itu berilah
waktu bagi telinga untuk beristirahat dengan berada di dalam ruangan yang tenang.
e. Periksalah telinga secara teratur, tes pendengaran dan pemeriksaan telinga sebaiknya
menjadi kegiatan kesehatan yang rutin, karena semakin cepat gangguan diketahui maka
penanganannya akan menjadi lebih mudah dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

5. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM KOMUNIKASI PADA PASIEN


GANGGUAN PENDENGARAN

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi dengan klien yang mengalami
gangguan pendengaran adalah sebagai berikut.
 Periksa adanya bantuan pendengaran dan kaca mata
 Kurangi kebisingan
 Dapatkan perhatian klien sebelum memulai pembicaraan
 Berhadapan dengan klien dimana ia dapat melihat mulut anda
 Jangan mengunyah permen karet
 Bicara pada volume suara normal, jangan berteriak
 Susun ulang kalimat jika klien salah mengerti
 Sediakan penerjemah bahasa isyarat jika diindikasikan

11
6. TEKNIK KOMUNIKASI GANGGUAN PENDENGARAN

 Orientasikan kehadiran diri anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di
depan klien.
 Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk
memudahkan klien membaca gerak bibir anda.
 Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan klien dan pertahankan sikap tubuh dan
mimik wajah yang lazim.
 Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu misalnya makanan
atau permen karet.
 Gunakan bahasa pantomim bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
 Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan.
 Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam
bentuk tulisan atau gambar (symbol).

12
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya disebabkan
oleh faktor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran bisa
dikatakan terganggu jika sinyal suara gagal mencapai otak.
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan
ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi
dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi
klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat
ditangkap oleh indra visualnya.

B. SARAN

Diharapkan makalah ini dapat dijadikan suatu refrensi atau informasi bagi mahasiswa
keperawatan khususnya dan kalangan umum untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mohon
maaf bila banyak kekurangan dalam makalah ini dan mohon kritik dan saran yang membangun.

13
DAFTAR PUSTAKA

Afnuhazi ,Ridhyalla. 2014. Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan Jiwa. Gosyen


Publishing, Jakarta.

Asmuji. 2012. Manajemen Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Damaiyanti, Mukhrifah. 2010. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan. Jakarta:


EGC.

Firdaus & Fakhry. 2018. Gangguan Pendengaran pada Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta:
Deepublish.

Kristanto, Vigih Hery. 2018.Pedoman Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Deepublish.

14