Anda di halaman 1dari 11

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PERSONIL SATUAN KHUSUS

BAINTELKAM POLRI MELALUI KEGIATAN KONTRA INTELIJEN DALAM


RANGKA MENCEGAH PENYEBARAN RADIKALISME GUNA MENCIPTAKAN
SITUASI YANG KONDUSIF

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia masih menjadi perhatian


pimpinan Polri, dikarenakan selalu menimbulkan kerugian yang berdampak
kepada gangguan stabilitas keamanan nasional. Masyarakat menjadi resah
dan takut akan aksi terorisme tersebut yang dilakukan oleh para pelaku teror.

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merupakan jaringan organisasi


teroris yang belakangan menjadi dalang dibalik setiap aksi tindak pidana kasus
terorisme di Indonesia. ISIS sendiri di Indonesia dideklarasikan pada tanggal
16 Maret 2014 di Bundaran HI dengan H. Chep Hermawan diba’iat sebagai
Presiden ISIS Regional Indonesia.

Adanya perubahan metode pelaku tindak pidana kasus terorisme dari


kelompok besar menjadi penggunaan sel-sel kecil dalam melakukan serangan
kini menjadi strategi yang semakin sering dijalankan organisasi terkait
terorisme sebagai upaya untuk menjaga keamanan jaringan mereka.
Penggunaan sel-sel kecil pelaku tindak pidana kasus terorisme tersebut
banyak memanfaatkan lembaga pendidikan, dalam hal ini yayasan pondok
pesantren sebagai penyebaran paham radikal dalam merekrut para
pengikutnya.

Beberapa tahun terakhir para pelaku tindak pidana kasus Terorisme di


Indonesia terindikasi berasal dari beberapa Yayasan Pondok Pesantren, antara
lain Nurul Haq dan Hendi Albar (Pelaku terorisme penembakan anggota Polsek
Pondok Aren Agustus 2013) berasal dari Ponpes Nurussalam Ciamis, Afif alias

1
Sunakin (Pelaku Terorisme Bom Sarinah 14 Januari 2016) pernah menjadi
santri di Ponpes Ibnu Mas’ud Bogor, Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Syukri
(Pelaku terorisme Bom Kampung Melayu 24 Mei 2017) pernah menjadi Santri
di Ponpes Ibnu Mas’ud Bogor.

Selain para pelaku tindak pidana kasus terorisme di Indonesia beberapa


orang mencoba bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah namun berhasil
dideportasi di Bandara Changi Singapura pada tanggal 21 Februari 2016
antara lain Untung Sugema, Mukhlis Rofiq, Risno, Muhammad Mufid yang
merupakan santri dan pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud Bogor, serta terakhir
tewasnya Haft Saiful Rasul (13 tahun) mantan santri Ponpes Ibnu Mas’ud
Bogor yang tewas di Suriah pada 1 September 2017.

Dengan banyaknya pelaku yang terlibat dalam tindak pidana kasus


terorisme yang berasal dari Pondok Pesantren sehingga dapat diindikasikan
bahwa Pondok Pesantren akhir-akhir ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal
sebagai pusat penyebaran radikalisme yang berujung terjadinya aksi terorisme
di Indonesia.

2. Identifikasi Masalah / Persoalan

Keberadaan Satuan Khusus (Satsus) di Baintelkam telah ada sejak 2007


hingga sekarang, namun optimalisasi tugas dan kontribusinya dalam bidang
terorisme dirasa masih perlu ditingkatkan dan dimanajemen lebih baik agar
mendapatkan hasil yang maksimal. Beberapa permasalahan terkait
pelaksanaaan tugas Satsus Baintelkam dalam pencegahan radikalisme yang
berujung terjadinya aksi terorisme adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana meningkatkan kemampuan kontra intelijen personil Satsus


Baintelkam Polri?
b. Bagaimana meningkatkan kemampuan Satsus Baintelkam Polri guna
mencegah penyebaran radikalisme?

2
3. Ruang Lingkup Masalah

Tulisan NKP dengan judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN


PERSONIL SATUAN KHUSUS BAINTELKAM POLRI MELALUI KEGIATAN
KONTRA INTELIJEN DALAM RANGKA MENCEGAH PENYEBARAN RADIKALISME
GUNA MENCIPTAKAN SITUASI YANG KONDUSIF” akan dibatasi
pembahasannya pada peningkatan kemampuan kontra intelijen dan metode
kerja personil Satsus Baintelkam guna mencegah penyebaran radikalisme di
Yayasan Pondok Pesantren.

4. Maksud dan Tujuan

a. Maksud

Selain sebagai salah satu syarat kelulusan untuk masuk


pendidikan SIP Intelkam T.A 2017, penulisan ini bermaksud
memberikan masukan terkait peningkatan kemampuan kontra intelijen
dan metode kerja personil Satsus Baintelkam guna mencegah
penyebaran radikalisme di Yayasan Pondok Pesantren, sehingga dapat
meminimalisir aksi tindak pidana kasus terorisme di Indonesia.

b. Tujuan

1) Untuk meningkatkan kualitas personil Satsus Baintelkam dalam


kegiatan kontra intelijen.
2) Untuk mencegah penyebaran radikalisme di Yayasan Pondok
Pesantren.
3) Untuk menekan perkembangan terorisme di Indonesia.
4) Memberikan rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat dari
ancaman terorisme sesuai dengan tugas Polri sebagai Pelindung,
Pengayom dan Pelayan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kondisi saat ini

Jumlah personil Satsus Baintelkam berjumlah 54 orang (1 orang Kasat,


4 orang Kanit, 49 orang anggota yang terdiri dari 11 orang BKO Direktorat, 3
BKO pada BIN dan 4 orang Penetran) yang dalam pelaksanaan tugasnya
adalah melaksanakan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang sudah
disusun sebelumnya, terlibat pelaksanaan operasi yang diselenggarakan oleh
Direktorat Baintelkam Polri juga melaksanakan perintah khusus / atensi dari
pimpinan Baintelkam Polri. Satsus Baintelkam Polri dibagi kedalam 4 (empat)
bidang tugas yaitu Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Keamanan Negara,
namun dalam pelaksanaan tugasnya tidak berdasarkan bidang masing-masing
sehingga setiap personil tidak mempunyai keahlian yang bersifat spesifik.
Personil Satsus Baintelkam Polri yang sudah mendapatkan Pendidikan
Pengembangan Spesialis (Dikbangspes) Kontra Intelijen berjumlah 2 (orang)
sehingga kemampuan Kontra Intelijen personil Satsus Baintelkam Polri dinilai
masih dinilai minim. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Satsus Baintelkam Polri
sebagian besar dalam bentuk kegiatan penyelidikan sehingga kegiatan kontra
intelijen perlu ditingkatkan.
Pelaku aksi tindak pidana kasus terorisme yang terjadi belakangan ini
sebagian besar berasal dari Yayasan Pondok Pesantren sehingga perlu
dilaksanakan kegiatan kontra intelijen dalam mencegah penyebaran
radikalisme khususnya di Yayasan Pondok Pesantren guna meminimalisir aksi
terorisme di Indonesia. Satsus Baintelkam Polri yang dianggap sebagai ujung
tombak Baintelkam Polri dinilai masih minim perannya dalam kegiatan
pencegahan tersebut sehingga perlu ditingkatkan lagi kemampuan dan
kegiatan kontra intelijen dalam mencegah penyebaran radikalisme.

4
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi

a. Faktor Internal

1) Kekuatan

a) Pada umumnya Personil Satsus Baintelkam Polri mampu


mengimplementasikan teknik dan taktik intelijen secara
baik.
b) Personil Satsus Baintelkam Polri memiliki spesialisasi
tugas penetrasi sehingga bersifat siap pakai untuk tugas-
tugas penyusupan yang bersifat strategis.
c) Personil Satsus Baintelkam Polri memiliki memiliki
kemampuan kerjasama tim yang bagus sehingga dalam
pelaksanaan tugas bersifat unit tidak akan mengalami
kendala.

2) Kelemahan

a) Personil Satsus Baintelkam Polri yang sudah dibekali


Dikbangspes kontra intelijen masih sedikit.
b) Pelaksanaan kegiatan kontra intelijen yang dilaksanakan
oleh Personil Satsus Baintelkam Polri dinilai masih minim.
c) Minimnya Personil Satsus Baintelkam Polri yang
menguasai bidang terorisme.
d) Banyaknya personil Satsus Baintelkam Polri yang bertugas
di luar (11 orang BKO Direktorat, 3 BKO pada BIN dan 4
orang Penetran).

b. Faktor Eksternal

5
1) Peluang

a) Adanya dukungan dari Pemerintah dan masyarakat dalam


memberantas penyebaran radikalisme.
b) Adanya dukungan anggaran yang diberikan sehingga
sangat membantu dalam setiap pelaksanaan kegiatan.

2) Hambatan

a) Banyaknya tugas rutin dan tugas khusus yang sebagian


besar dalam bentuk kegiatan penyelidikan harus
dilaksanakan oleh Satsus Baintelkam Polri sehingga
menyebabkan kemampuan kontra intelijen setiap personil
Satsus Baintelkam Polri tidak mampu dimaksimalkan.
b) Minimnya tugas dalam bentuk kegiatan kontra intelijen
yang dilaksanakan kemampuan kontra intelijen setiap
personil Satsus Baintelkam Polri tidak terasah dan teruji.

3. Kondisi yang diharapkan

Keberadaan Satsus Baintelkam Polri yang diharapkan menjadi ujung tombak


oleh pimpinan Baintelkam Polri tidak hanya sebatas melaksanakan kegiatan
penyelidikan, namun mampu melaksanakan kegiatan kontra intelijen guna
mencegah penyebaran radikalisme sehingga mampu meminimalisir terjadinya
aksi terrorisme yang dapat menimbulkan akibat dan dampak yang sangat
besar terhadap stabiitas keamanan Negara serta ketakutan dimasyarakat. Aksi
terorisme tidak mungkin dihilangkan namun setidaknya dapat diminimalisir
dengan mencegah penyebaran radikalisme di Indonesia dengan kegiatan
kontra intelijen.

6
BAB III
PEMECAHAN MASALAH

Dalam bab ini dituliskan beberapa poin berisi ide / konsep tentang mencegah
penyebaran radikalisme di Indonesia. Rencana aksi sebagai langkah pemecahan
masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Dalam rangka meningkatkan kemampuan kontra intelijen personil Satsus


Baintelkam Polri.

Perlu diperbanyak jumlah personil Satsus Baintelkam Polri untuk


mengikuti Pendidikan Pengembangan Spesialis (Dikbangspes) Kontra Intelijen
dan pelibatan personil Satsus Baintelkam Polri dalam pelaksanaan kegiatan
operasi Kontra Radikal yang dilaksanakan oleh Direktorat agar diperbanyak,
guna meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan kegiatan kontra
Intelijen.

2. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Satsus Baintelkam Polri guna


mencegah penyebaran radikalisme.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam melaksanakan kegiatan kontra


intelijen dalam rangka mengambil alih Masjid Ramadhan Bekasi Selatan pada
20 April 2014 yang dikuasai oleh kelompok radikal yang berafiliasi ISIS
pimpinan Syamsudin Uba sehingga ditetapkan sebagai Masjid Raya Bekasi
Selatan yang kepengurusannya dikuasai oleh Pemkot setempat serta
penutupan dan pembubaran Yayasan Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Bogor
pada pelaksanaan Operasi Kresna Quick Win Program 4 Tahap IV Tahun 2017
yang diindikasikan sebagai tempat penyebaran radikalisme hal tersebut
dibuktikan dengan ada beberapa santri dan pengurus yang terlibat dalam aksi
tindak pidana kasus terorisme.
Metode rencana aksi dalam rangka mencegah penyebaran radikalisme
adalah dengan cara melakukan kegiatan kontra intelijen terhadap tempat

7
yang sudah diindikasikan sebagai tempat penyeberan radikalisme. Dengan
melaksanakan kegiatan kontra intelijen terhadap tempat penyebaran tersebut
yang mengakibatkan pengambilalihan atau penutupan tempat tersebut, para
pelaku akan kesulitan menemukan tempat untuk menyebarkan radikalisme
sehingga dapat meminimalisir terjadinya aksi tindak pidana kasus terorisme di
Indonesia.
Pada pengambilalihan Masjid Ramadhan Bekasi Selatan yang dikuasi
oleh kelompok radikal yang berafiliasi ISIS pimpinan Syamsudin Uba, Penulis
beserta unit yang sudah diperintahkan oleh pimpinan terlebih dahulu
melakukan koordinasi dengan Polsek setempat (Polsek Bekasi Selatan) selain
dalam rangka pulbaket juga meminta difasilitasi dengan Aparatur
Pemerintahan setempat (Kecamatan dan Kelurahan) serta para ormas islam
dan kepemudaan yang menolak faham radikal. Setelah difasilitasi unit
selanjutnya melaksanakan penggalangan dan penyebaran isu terhadap
Aparatur Pemerintahan setempat dan Ketua Ormas Islam dan Kepemudaan
dengan tujuan melakukan pengambilalihan Masjid Ramadhan yang dianggap
sebagai tempat penyebaran radikalisme. Kemudian setelah penggalangan
berhasil dilaksanakan selanjutnya menentukan teknis pengambilalihan Masjid
Bekasi Selatan dengan cara mengerahkan massa ormas dalam jumlah yang
besar di luar Masjid sebagai tekanan psikologis kepada kelompok tersebut,
sedangkan para Aparatur Pemerintahan dan Ketua Ormas melakukan
penekanan kepada tokoh radikal di dalam Masjid guna menandatangani
kesepakatan pergantian pengurus Masjid kepada pengurus yang sudah
siapkan oleh Aparatur Pemerintahan setempat sehingga pengambilalihan
Masjid Ramadhan menjadi Masjid Raya Bekasi Selatan berhasil.
Sedangkan peristiwa pembubaran dan penutupan Yayasan Pondok
Pesantren Ibnu Mas’ud Bogor, Penulis yang terlibat Ops QW Program 4 Tahap
IV Tahun 2017 melaksanakan metode aksi yang hampir sama, hanya lebih
memanfaatkan penolakan masyarakat sekitar yang sudah merasa risih dengan
keberadaan Ponpes Ibnu Mas’ud, bahkan sebagian besar warga yang merasa
emosi, telah siap jika digerakkan untuk mengusir Ponpes dari Desa Sukajaya.
Hal tersebut disebabkan ketertutupan lingkungan Ponpes serta banyaknya

8
aparat keamanan yang menyelidik dan mendatangi Ponpes dalam rangka
mencari orang-orang yang terkait dengan pelaku terror, sehingga warga
khawatir dicap negatif oleh masyarakat luar sebagai sarang teroris. Adapun
tahapan yang dilakukan oleh unit adalah dengan melaksanakan koordinasi
dengan Satuan IK Polres dan Polsek setempat agar difasilitasi dengan Muspika
dan Aparatur Desa setempat. Setelah difasilitasi unit melaksanakan
penggalangan konstruktif dengan tujuan menutup / membubarkan Ponpes
Ibnu Mas’ud Bogor dengan tidak melanggar hukum yang berlaku. Berdasarkan
informasi yang diperoleh Ponpes Ibnu Mas’ud anti dengan hormat dan pasang
bendera merah-putih, kemudian Unit mendesak kepada Aparatur Desa agar
memberikan surat himbauan pemasangan bendera merah-putih dalam rangka
memperingati HUT Kemerdekaan RI namun pihak Ponpes Ibnu Mas’ud
menolak sehingga Unit melaksanakan kontra dengan cara memasang bendera
merah-putih, umbul-umbul dan spanduk berisi penolakan terhadap
radikalisme di sekitar Ponpes Ibnu Mas’ud. Adanya peristiwa pembakaran
umbul-umbul merah-putih oleh pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud dimanfaatkan
oleh Unit untuk mengerahkan Muspika masuk ke dalam Ponpes Ibnu Mas’ud
dalam rangka klarifikasi peritiwa tersebut. Selain memanfaatkan Muspika dan
Paratur Desa juga mengerahkan warga sekitar agar melakukan aksi unjuk
rasa menuntut penutupan dan pembubaran ponpes Ibnu Mas’ud sehingga
terjadilah penandatanganan penutupan dan pembubaran Ponpes Ibnu Mas’ud
oleh pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud, yang menjadi pemberitaan media
nasional selama beberapa hari.
Dengan demikian, dalam pelaksanaan kegiatan kontra intelijen guna
mencegah penyebaran radikalisme, tahapan yang harus dilaksanakan adalah
sebagai berikut :
1. Melaksanakan koordinasi dengan Satuan Kewilayahan setempat.
2. Melaksanakan penggalangan konstruktif terhadap Aparatur dan
masyarakat setempat.
3. Menentukan teknis pelaksanaan kontra intelijen terhadap sasaran.

9
4. Mengkondisikan pada saat pelaksanaan kegiatan kontra intelijen
terhadap sasaran dan melihat peluang yang dapat dimanfaatkan guna
mendapat hasil yang maksimal.
5. Tetap melakukan pemantaun paska pelaksanaan kegiatan kontra
intelijen tersebut.
Yang perlu digarisbawahi dalam pelaksanaan kontra intelijen adalah
pelaksana jangan sampai menampakan keberadaannya pada saat tahapan
pelaksanaan kontra terhadap sasaran. Pelaksana hanya berada dibelakang
Aparatur / kelompok massa yang berhubungan langsung dengan sasaran.

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia masih menjadi perhatian


pimpinan Polri, dikarenakan selalu menimbulkan kerugian yang
berdampak kepada gangguan stabilitas keamanan nasional.
b. Adanya perubahan metode pelaku tindak pidana kasus terorisme dari
kelompok besar menjadi penggunaan sel-sel kecil dalam melakukan
serangan kini menjadi strategi yang semakin sering dijalankan
organisasi terkait terorisme.
c. Beberapa tahun terakhir para pelaku tindak pidana kasus Terorisme di
Indonesia terindikasi berasal dari beberapa Yayasan Pondok Pesantren,
sehingga adanya pemanfaatan Yayasan Pondok Pesantren sebagai
tempat penyebaran radikalisme.
d. Keberadaan Satuan Khusus (Satsus) di Baintelkam Polri telah ada sejak
2007 hingga sekarang, namun optimalisasi tugas dan kontribusinya
dalam bidang terorisme dirasa masih perlu ditingkatkan lebih baik agar
mendapatkan hasil yang maksimal.

10
e. Kegiatan kontra intelijen dinilai sebagai cara yang paling tepat dalam
mencegah penyebaran radikalisme di Indonesia, namun Satsus
Baintelkam Polri masih minim dalam melaksanakan kegiatan kontra
intelijen khususnya dalam rangka mencegah penyebaran radikalisme.
f. Masih minimnya kemampuan Personil Satsus Baintelkam Polri dalam
melaksanakan kegiatan kontra intelijen perlu ditingkatkan guna
mencegah penyebaran radikalisme di Indonesia.

2. Saran

a. Perlu diperbanyaknya jumlah personil Satsus Baintelkam Polri dalam


mengikuti Pendidikan Pengembangan Spesialis (Dikbangspes) Kontra
Intelijen di Pusdik Intelkam Soreang guna meningkatkan kemampuan
Kontra Intelijen.
b. Agar pelibatan personil Satsus Baintelkam Polri dalam pelaksanaan
operasi kegiatan Kontra Radikal yang dilaksanakan oleh Direktorat
diperbanyak, agar kemampuan dalam melaksanakan kegiatan kontra
Intelijen semakin teruji dan terasah.

11