Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

STASE MATA
OCULI DEXTRA EROSI KORNEA

Pembimbing :
dr. Awang WimboYuwono, Sp. M.

Disusun Oleh :
Prima Ufiyantama Afta Sakria
1913020022

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER PROGRAM PROFESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus ujian yang berjudul:

“Oculi Dextra Erosi Kornea”

Yang disusun oleh:


Prima Ufiyantama Afta Sakria
1913020022

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:


dr. Awang Wimbo Yuwono, Sp.M

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
Periode 30 Oktober 2019 – 02 November 2019

Salatiga, Oktober 2019


Pembimbing

dr. Awang Wimbo Yuwono, Sp.M

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya yang begitu besar
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan kasus ujian yang “Oculi
Dextra Erosi Kornea” pada kepaniteraan klinik Ilmu Mata di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Salatiga.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak
yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini, terutama kepada
dr. Awang Wimbo Yuwono, Sp.M selaku pembimbing yang telah memberikan waktu dan
bimbingannya sehingga laporan kasus ujian ini dapat terselesaikan.

Penulis berharap laporan kasus ujian ini dapat menambah pengetahuan dan
memahami lebih lanjut mengenai “Oculi Dextra Erosi Kornea” serta salah satunya
untuk memenuhi tugas yang diberikan pada kepaniteraan klinik Ilmu Mata di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Salatiga.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan kasus ujian ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu, segala kritik dan saran dari semua pihak yang
membangun guna menyempurnakan makalah ini sangat penulis harapkan.
Demikian yang penulis dapat sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak.

Salatiga, Oktober 2019

Penulis

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... 2


KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 7
2.1 Definisi ..................................................................................................... 7
2.2 Epidemiologi ............................................................................................ 7
2.3 Etiologi ..................................................................................................... 8
2.4 Faktor Resiko ........................................................................................... 9
2.5 Patofisiologi............................................................................................ 10
2.6 Penegakkan Diagnosis ............................................................................ 11
2.7 Penatalaksanaan ...................................................................................... 13
2.8 Komplikasi ............................................................................................. 14
2.9 Prognosis ................................................................................................ 14
BAB III LAPORAN KASUS................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

4
BAB I
PENDAHULUAN
Erosi kornea merupakan cedera mata yang paling umum dan mungkin
salah satu yang paling diabaikan. Ini terjadi karena gangguan pada integritas epitel
kornea atau karena permukaan kornea terkikis sebagai akibat dari kekuatan fisik
eksternal (Verma, 2019).
Erosi kornea biasanya sembuh dengan cepat, tanpa gejala sisa yang serius.
Akibatnya, erosi kornea sering dianggap sebagai konsekuensi kecil. Namun,
keterlibatan kornea yang lebih dalam, infeksi, atau penyembuhan yang buruk
dapat menyebabkan ketidakteraturan epitel kornea atau pembentukan bekas luka
di dalam stroma (Verma, 2019).
Erosi kornea terjadi dalam situasi apa pun yang menyebabkan kompromi
epitel. Contohnya termasuk penyakit kornea atau epitel (misalnya, mata kering),
cedera kornea superfisial atau cedera mata (misalnya, akibat benda asing),
paparan sinar ultraviolet, dan pemakaian lensa kontak (Verma, 2019).
Insidensi terjadinya erosi kornea di dunia adalah 1,57% setiap tahunnya.
Erosi kornea cukup umum terjadi di negara Inggris, mencapai 12-13% kasus baru
setiap tahunnya. Erosi kornea merupakan salah satu penyebab tersering dari
keluhan mata merah setelah konjungtivitis dan perdarahan subhemoragik dan
menjadi penyebab tersering kondisi mata yang datang ke unit gawat darurat. Hal
ini disebabkan oleh karena rasa nyeri yang hebat akibat kerusakan epitel kornea
sehingga mengganggu produktivitas dan kenyamanan pasien. Kondisi erosi
kornea lebih banyak terjadi pada pasien dengan usia produktif dan pekerja
automotif (Willmann & Melanson, 2018).
Data mengenai prevalensi kejadian erosi kornea maupun trauma mata di
Indonesia masih sangat terbatas. Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit
Mata Cicendo Bandung tahun 2011 didapatkan adanya kejadian trauma mata pada
188 anak usia 0-14 tahun. Ditemukan pula ada 22 kasus trauma mata dengan luka
terbuka dan 170 mata dengan luka tertutup (Laila, 2015).

5
Defek spontan pada epitel kornea dapat terjadi tanpa cedera segera atau
karena benda asing. Mata yang telah mengalami erosi traumatis sebelumnya atau
mata yang memiliki kelainan mendasar epitel kornea cenderung mengalami
masalah ini. Diagnosis erosi kornea dapat dikonfirmasikan dengan pemeriksaan
slitlamp dan pemberian fluorescein. Antibiotik topikal profilaksis diberikan pada
pasien dengan lecet akibat lensa kontak, yang berisiko lebih tinggi untuk ulkus
kornea yang terinfeksi, tetapi banyak dokter darurat telah berhenti menggunakan
agen ini untuk cedera ringan. Penambalan mata merupakan tindakan tradisional,
tetapi tidak didukung oleh penelitian dan tidak boleh dilakukan pada pasien
dengan risiko tinggi infeksi mata. Pereda nyeri itu penting diberikan pada kasus
erosi kornea (Verma, 2019).

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Erosi kornea merupakan trauma tumpul pada kornea yang mengenai
lapisan epitel sehingga menyebabkan rasa nyeri hebat pada mata. Erosi
kornea dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme, seperti trauma langsung,
benda asing, lensa kontak, dan erosi berulang. Erosi kornea merupakan
salah satu penyebab tersering dari keluhan mata merah setelah
konjungtivitis dan perdarahan subhemoragik dan menjadi penyebab
tersering kondisi mata yang datang ke unit gawat darurat (Ilyas, 2014).
2.2 Epidemiologi
Insidensi terjadinya erosi kornea di dunia adalah 1,57% setiap
tahunnya. Erosi kornea cukup umum terjadi di negara Inggris, mencapai 12-
13% kasus baru setiap tahunnya. Erosi kornea merupakan salah satu
penyebab tersering dari keluhan mata merah setelah konjungtivitis dan
perdarahan subhemoragik dan menjadi penyebab tersering kondisi mata
yang datang ke unit gawat darurat. Hal ini disebabkan oleh karena rasa nyeri
yang hebat akibat kerusakan epitel kornea sehingga mengganggu
produktivitas dan kenyamanan pasien. Kondisi erosi kornea lebih banyak
terjadi pada pasien dengan usia produktif dan pekerja automotif (Willmann
& Melanson, 2018).
Data mengenai prevalensi kejadian erosi kornea maupun trauma mata
di Indonesia masih sangat terbatas. Pada penelitian yang dilakukan di
Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung tahun 2011 didapatkan adanya
kejadian trauma mata pada 188 anak usia 0-14 tahun. Ditemukan pula ada
22 kasus trauma mata dengan luka terbuka dan 170 mata dengan luka
tertutup (Laila, 2015).

7
2.3 Etiologi
Etiologi erosi kornea dapat terbagi menjadi empat klasifikasi, yaitu
trauma eksternal, benda asing, penggunaan lensa kontak, dan erosi berulang.
Erosi kornea dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme, seperti trauma
langsung, benda asing, lensa kontak, dan erosi berulang. Luka traumatik
dapat disebabkan oleh kuku jari, atau dari objek eksternal seperti alat,
ranting, ataupun bahan kimiawi (BMJ Best Practice, 2018). Erosi kornea
dibagi menjadi empat klasifikasi berdasarkan etiologinya, yaitu:
a. Trauma Eksternal
Trauma eksternal dapat berasal dari trauma mekanis pada mata dari
objek luar, seperti ranting, kosmetik berupa maskara, dan jari kuku
(BMJ Best Practice, 2018).
b. Benda Asing
Benda asing yang terletak di bawah kelopak mata atau lapisan luar
kornea seperti pecahan kaca, debu, atau karat (benda asing) juga dapat
menyebabkan terjadinya erosi kornea (BMJ Best Practice, 2018).
c. Penggunaan Lensa Kontak
Trauma dapat disebabkan oleh ukuran lensa kontak yang tidak
sesuai, terlalu sering dipakai, sudah mengalami dehidrasi, atau kotor.
Penggunaan lensa kontak sepanjang malam juga dapat menyebabkan
terjadinya erosi. Penggunaan lensa kontak yang terlalu lama dapat
menyebabkan tidak cukupnya transmisi oksigen ke kornea sehingga
terjadi deskuamasi permukaan epitelium. Akibatnya, terjadi edema pada
kornea yang menyebabkan defek pada epitel (BMJ Best Practice,
2018).
d. Erosi Berulang
Luka ini dapat terjadi secara spontan tanpa adanya trauma atau
benda asing, namun akibat kerusakan struktur epitelium pada trauma
sebelumnya (BMJ Best Practice, 2018).

8
2.4 Faktor Resiko
Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya erosi
kornea adalah sebagai berikut :
a. Trauma Terkait Olahraga
Erosi kornea terjadi biasanya pada pemain sepak bola. Selain itu,
terdapat 1 dari 10 pemain basket juga dapat terkena erosi kornea yang
disebabkan oleh trauma akibat jari lawan atau siku lawan pada mata
pasien (Verma, 2019).
b. Tindakan Medis terkait Mata
Operasi kelopak mata dapat menjadi salah satu faktor risiko
terjadinya erosi kornea melalui trauma jahitan pada permukaan kelopak
bagian konjungtival atau tarsus secara tidak sengaja. Kornea dan bola
mata sebaiknya harus dijaga pada saat diseksi kelopak dan saat
penjahitan. Selain itu, ekstraksi benda asing konjungtiva juga dapat
menyebabkan komplikasi erosi kornea (Verma, 2019).
c. Anestesi
Anestesi umum dapat menyebabkan erosi kornea dengan
prevalensi hingga 44%. Adanya penurunan produksi air mata selama
anestesi umum dan proptosis dapat menyebabkan kekeringan pada
kornea sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya erosi kornea
(Verma, 2019).
d. Penyakit Saraf
Penyakit yang menyerang saraf kelopak mata, misalnya Bell’s
palsy, akan menyebabkan air mata tidak bisa diratakan ke seluruh mata.
Hal ini bisa menyebabkan mata menjadi kering dan teriritasi sehingga
berisiko terkena erosi kornea, keratitis, atau ulkus kornea (Verma,
2019).

9
2.5 Patofisiologi
Erosi kornea adalah defek pada permukaan kornea yang terbatas pada
lapisan yang paling dangkal, epitel, dan tidak menembus membran
Bowman. Dalam beberapa kasus, konjungtiva bulbar juga terlibat. Lecet
kornea terjadi akibat trauma fisik atau kimia. Cedera kornea yang parah juga
dapat melibatkan lapisan stroma yang lebih dalam dan lebih tebal, dalam
situasi ini, istilah laserasi kornea dapat digunakan (Verma, 2019).
Respons konjungtiva terhadap luka kornea telah diketahui sejak 1944,
ketika Mann pertama kali mengamati bahwa erosi kornea perifer sembuh
dengan meluncurnya sel limbal untuk menutupi defek epitel. Respons ini
dibagi menjadi 2 fase: (1) respons epitel limbal, yang merupakan sumber sel
batang epitel kornea yang baru, dan (2) respons epitel konjungtiva itu
sendiri (Verma, 2019).
Dalam keadaan normal, epitel limbal bertindak sebagai penghalang
dan memberikan tekanan yang mencegah migrasi sel epitel konjungtiva ke
kornea. Seperti sisa permukaan tubuh, konjungtiva dan kornea berada dalam
keadaan pergantian yang konstan. Sel-sel epitel kornea terus menerus
ditumpahkan ke kolam air mata, dan mereka secara bersamaan diisi ulang
oleh sel-sel yang bergerak secara terpusat dari limbus dan di anterior dari
lapisan basal epitel. Pergerakan dari lapisan basal ke lapisan permukaan
relatif cepat, membutuhkan 7-10 hari. Namun, pergerakan dari limbus ke
pusat kornea lambat dan mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Selama penyembuhan lesi kornea, sel-sel epitel kornea menjadi rata, mereka
menyebar, dan mereka bergerak melintasi defek sampai mereka
menutupinya sepenuhnya. Proliferasi sel, yang tidak tergantung pada
migrasi sel, dimulai sekitar 24 jam setelah cedera. Stem cell dari limbus
juga merespons dengan berproliferasi untuk memunculkan sel anak yang
disebut sel penguat sementara. Sel-sel ini bermigrasi untuk menyembuhkan
cacat kornea dan berkembang biak untuk mengisi kembali area yang terluka.
Sel konjungtiva dapat bermigrasi ke limbus atau kornea untuk
membantu mengisi area luka. Penyembuhan luka epitel kornea tidak
lengkap sampai epitel yang baru diregenerasi dengan kuat menempelkan
dirinya ke membran Bowman yang mendasarinya (Verma, 2019).

10
2.6 Penegakkan Diagnosis
a. Anamnesis
Erosi kornea perlu dicurigai apabila pasien datang dengan keluhan
nyeri pada mata, mata berair, mata merah, sensitif terhadap cahaya, dan
terutama terdapat riwayat trauma pada mata. Onset keluhan terjadi secara
tiba-tiba. Pasien juga dapat mengalami blefarospasme, sensasi benda
asing, dan tajam penglihatan menurun. Meskipun pasien dapat mengingat
trauma spesifik yang dialami, namun erosi kornea juga dapat disebabkan
oleh trauma minimal, seperti menggosok-gosok mata terlalu berlebihan.
Tanyakan apakah ada penggunaan lensa kontak pada pasien, riwayat
pekerjaan dan lingkungan pekerjaan pasien, dan apakah keluhan sudah
terjadi berulang (Wipperman & Dorsch, 2013 ; Shahid, 2013).
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya eritema
konjungtiva, pembengkakan kelopak mata, mata berair, blefarospasme,
dan defek kornea. Pemeriksaan fisik disertai dengan pemeriksaan eversi
kelopak mata untuk melihat adanya benda asing dan pemeriksaan tajam
penglihatan (Wipperman & Dorsch, 2013 ; Shahid, 2013).
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
dengan pewarnaan fluorescein, slit lamp biru kobalt atau lampu
ultraviolet. CT scan orbita dapat dilakukan bila dicurigai terdapat trauma
penetrasi ke bola mata atau benda asing intraokular (Wipperman &
Dorsch, 2013 ; Shahid, 2013).
Anestesi topikal (yaitu proparacaine, tetracaine) dapat
memfasilitasi pemeriksaan slit-lamp. Fotofobia berat yang menyebabkan
blepharospasm mungkin memerlukan agen sikloplegik (cyclopentolate
[Cyclogyl], homatropine) 20-30 menit sebelum pemeriksaan (Verma,
2019).

11
Lakukan penanaman dan pemeriksaan fluorescein dengan cahaya
biru kobalt. Fluorescein secara permanen dapat menodai lensa kontak
lunak. Jangan lupa melepas lensa kontak apa pun sebelum mengoleskan
noda (Verma, 2019).
Fluorescein diaplikasikan menggunakan aplikator strip kertas yang
basah dengan saline dan ditempatkan dengan lembut di atas fornix
inferior. Setelah pasien berkedip, pewarna menyebar di atas kornea.
Fluorescein menodai membran dasar yang telah terkena kerusakan epitel
kornea. Hal ini menyebabkan erosi tampak hijau-kuning menggunakan
cahaya biru kobalt atau lampu Wood (Verma, 2019).

Gambar 2.1 Erosi kornea tampak sebagai area kuning-hijau ketika diwarnai dengan
fluorescein dan dilihat dengan cahaya biru.

12
Gambar 2.2 Erosi Kornea dengan Pewarnaan Fluoresein
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan erosi kornea adalah meredakan rasa nyeri dan
mempercepat penyembuhan melalui pencegahan infeksi. Erosi kornea
paling sering disebabkan oleh karena adanya trauma akibat benda asing.
Oleh karena itu, penatalaksanaan yang segera dilakukan adalah pengambilan
benda asing untuk mencegah skar permanen dan penurunan penglihatan.
Penatalaksanaan obat-obatan dapat diberikan :
a. Antibiotik topikal profilaksis (Neosporin, Kloramfenikol dan
Sulfasetamid, Floxa)
Antibiotik diperlukan untuk mencegah terjadi infeksi sekunder.
b. Cycloplegics topikal
Bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan fotofobia pada pasien
dengan erosi besar sampai penyembuhan mereka hampir selesai.
Pemberian Atropine 1% pada kasus yang berat, Hematropine 5% pada
kasus sedang dan Cyclopentolate 1% untuk pasien dengan erosi yang
ringan
c. Salep pelumas yang lembut atau salep hipertonik selama 6-8 minggu
untuk mengurangi potensi erosi berulang. Salep agen hiperosmotik
(natrium klorida 5%) setiap malam sebagai tetes hipertonik harian
selama 60 hari harus dipertimbangkan.

13
d. Analgetik (Asam Mefenamat)
e. Vitamin B dan C untuk memacu sintesis kolagen
Untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, mata ditutup, agar
pertumbuhan epitel tidak terganggu oleh kedipan, mencari kemungkinan
adanya benda asing yang masih terdapat di mata dengan membalik palpebra
superior ke arah atas. Pada erosi kornea, tidak boleh diberikan steroid,
karena steroid dapat menghambat penyembuhan epitel, menambah
aktifnya kolagenase, selain itu juga dapat memudahkan terjadinya infeksi
jamur maupun virus karena daya tahan kornea menurun akibat steroid.
Pasien yang berada pada lingkungan yang berisiko, seperti pekerja logam, besi,
dan otomotif diedukasi untuk menggunakan safety goggle. Pasien dengan erosi
kornea yang tidak menggunakan lensa kontak dan tidak mengenai aksis
visual, dapat ditata laksana tanpa harus melakukan follow up. Namun,
apabila pasien mengalami erosi yang cukup luas dan mengenai aksis visual
sebaiknya follow up ke dokter setelah 2 hari pengobatan. Penggunaan lensa
kontak setelah penyembuhan erosi kornea sebaiknya dikonsultasikan
kembali ke dokter. Apabila terdapat keluhan yang semakin memberat,
adanya discharge purulen, perubahan pada tajam penglihatan, ataupun tidak
membaiknya keluhan dalam 24-48 jam, sebaiknya pasien kembali untuk
evaluasi ulang (Verma, 2019 ; BMJ Best Practice, 2018).

2.8 Komplikasi
Komplikasi erosi kornea jarang terjadi apabila segera ditangani
dengan baik. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah komplikasi infeksi
atau alergi terhadap pengobatan yang diberikan. Beberapa penyakit yang
dapat terjadi akibat erosi kornea yang tidak ditangani adalah keratitis
bakterialis, ulkus kornea, iritis traumatik, dan sindrom erosi berulang.
Apabila sudah terjadi keratitis bakterialis dan tidak tertangani dengan baik,
pasien dapat mengalami penurunan penglihatan yang permanen
(Wipperman & Dorsch, 2013 ; BMJ Best Practice, 2018).
2.9 Prognosis
Prognosis erosi kornea sangat baik apabila segera ditangani
(Wipperman & Dorsch, 2013 ; BMJ Best Practice, 2018)

14
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama : Tn. H
No RM : 13-14-242045
Umur : 65 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat :Jl. Aliwijayan II 4/3, Mangunsari, Sidomukti,
Salatiga
Agama : Islam
Tanggal MRS : 25 Oktober 2019
3.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama
Mata kanan terkena ranting bambu
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan keluhan mata kanan terkena ranting bambu . Kejadian
tersebut dialami pasien sejak 1 minggu yang lalu. Pasien merasakan
nyeri dan berair di mata kanan. Kemudian pasien datang ke Poli Mata
RSUD Salatiga. Keluhan lain seperti mual dan muntah disangkal.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat sakit mata yang lain di sangkal.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan hal serupa dalam keluarga disangkal.
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Dalam pengobatan pasien menggunakan BPJS.

3.3 Pemeriksaan Fisik

15
Status Generalis
 Keadaan umum : Tampak sakit
 Kesadaran : Compos mentis
 Tekanan Darah : 136/71 mmHg
 Nadi : 92 x/menit
 Pernafasan : 22 x/menit
 Suhu : 36,6° C
Status Oftamologis
Oculus Dextra Oculus Sinistra
Visus 6/20 C+1,50 X 90o 6/15 C+1,00 X 90o
6/7 6/7
Kedudukan bola mata Orthoforia
Gerakan bola mata

Segmen anterior
Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Palpebra superior Hiperemis (-) edema Hiperemis (-) edema
(-) (-)
Palpebra inferior Hiperemis (-) edema Hiperemis (-) edema
(-) (-)
Konjungtiva tarsus superior Papil (-) folikel (-) Papil (-) folikel (-)
Konjungtiva tarsus inferior Papil (-) folikel (-) Papil (-) folikel (-)
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva Injeksi konjungtiva (-)
(+) siliar (+) siliar (-)
Kornea Jernih, tidak Jernih, keratic
ditemukan corpus presipitat (-)
alienum, defek (+)
Bilik mata depan Dalam, jernih Dalam, jernih
Iris Coklat, reguler Coklat, reguler
Pupil Bulat, RC (+) Bulat, RC (+)
Lensa Jernih Jernih

3.4 Pemeriksaan Penunjang

16
Pemeriksaan Slit Lamp

3.5 Diagnosis
Oculi dextra erosi kornea
3.6 Terapi
- Cendo Fenicol 0,25 % eye drop 6x1 gtt OD

- Protagenta eye drop 6x1 gtt OD

17
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas HS, Yulianti SR. 2014. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit
Fakulas Kedokteran Universitas Indonesia.
Laila W. Characteristics and management of pediatric ocular trauma.
Ophthalmology Indonesia. 2015:74-79
MJ Best Practice. Corneal Abrasions. 2018. [cited 2019 October 27]. Available
from: https://bestpractice.bmj.com/topics/en-us/500
Shahid M. Corneal abrasion: assessment and management. InnovAIT.
2013;6(6):551-554.
Verma A, Khan FH. Corneal Abrasion.2019.[ cited 2019 October 27 ]. Available
from: https://emedicine.medscape.com/article/1195402-overview
Wipperman JL, Dorsch JN. Evaluation and management of corneal abrasions.
American Academy of Family Physicians. 2013; 87(2):115-122.
Willmann D, melanson SW. Corneal Injury. StatPearls NCBI. 2017:1-5

18