Anda di halaman 1dari 6

A.

Tujuan
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui mengenai komposisi dari contoh
benih dan untuk mengidentifikasi bermacam-macam benih serta benda-benda mati
dalam contoh benih.

B. Latar Belakang
Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah
tentang kepositifafn fisik komponen-komponen benih termasuk persentase berat dari
benih murni (pure seed), benih tanaman lain, biji-biji herba (weed seed) dan kotoran –
kotoran pada masa benih.

Pengujian merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan.


Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan
nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian
benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk
mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis –
jenis yang akan dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat
untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih.

Pemurnian varietas dilaksanakan apabila dikhawatirkan suatu varietas yang


telah lama beredar sudah tidak murni lagi atau terkontaminasi, sehingga
karakterisitiknya tidak sesuai lagi atau terkontaminasi, sehingga karakteristiknya tidak
sesuai lagi dengan deskripsi dari varietas tersebut. Dengan demikian kegiatan
pemurnian arietas merupakan suatu usaha pengembalian mutu sesuai dengan keadaan
varietas yang baku bagi varietas yang sudah lama dilepas, atau kemantapan sifat-sifat
unggul suatu varietas lokal yang belum dilepas, namun sudah tersebar/ digemari/
dominan disuatu daerah.

C. Tinjauan Pustaka
Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi
non benih & serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya
kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%). Pengujian kemurnian benih
adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni,
benihtanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga
komponen benih tersebut. tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan
komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot
benih (Heddy, 2000).
Dalam pengujian kemurnian, contoh benih (contoh pengujian) dipisahkan
menjadi empat komponen yaitu benih murni, benih tanaman/ varietas lain, biji gulma
dan benda-benda mati (kotoran benih).

Uji kemurnian benih sebaiknya merupakan uji yang pertama kali dilakukan.
Benih murni yang diperoleh itu baru kemudian dipakai untuk uji yang lain, yaitu
presentase kadar air dan viabilitas benih. Hal ini dilakukan karena nilai yang ingin
diperoleh adalah nilai dari benih murni, bukan dari benih campuran (Kuswanto, 1997).

Dalam pengertian benih murni termasuk semua varietas dari species yang
dinyatakan berdasarkan penemuan dengan uji laboratorium. Yang termasuk ke dalam
kategori benih murni dari suatu species adalah benih masak dan utuh, benih yang
berukuran kecil, mengerut tidak masak, benih yang telah berkecambah sebelum diuji
dan pecahan benih yang ukurannya lebih besar dari separuh benih yang sesungguhnya,
asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih itu termasuk ke dalam species yang
dimaksud (Justice, 1990).

Benih species lain, komponen ini mencakup semua benih dari tanaman
pertanian yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji. Benih
gulma mencakup semua benih ataupun bagian vegetatif tanaman yang termasuk dalam
kategori gulma. Juga pecahan gulma yang berukuran setengah atau kurang dari
setengah ukuran yang sesungguhnya tetapi masih mempunyai embrio. Bahan lain atau
kotoran, termasuk semua pecahan benih yang tidak memenuhi persyaratan baik dari
komponen benih murni, benih species lain maupun benih gulma, partikel-partikel
tanah, pasir, sekam, jerami dan bagian-bagian tanaman seperti ranting dan daun
(Sutopo, 1984).

D. Metode Praktikum

1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum “Kemurnian Benih” dilaksanakan pada tanggal 15
November 2019 bertempat di Laboratorium Produksi Fakultas Pertanian
Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

2. Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut:

a. Benih padi
b. Timbangan
c. Alat penghembus benih
d. Pembagi mekanis
e. Tempat contoh benih
f. Kaca pembesar

3. Cara Kerja
Pelaksanaan dan pengamatan praktikum ini adalah sebagai berikut:

a. Ambil contoh benih secara acak dengan pembagi mekanik beberapa


kali sampai cukup representatif.
b. Timbanglah 400 gram benih padi dan dari benih tersebut ambil 40
gram untuk dijadikan sebagai contoh pengujian.
c. Benih sebanyak 40 gram tersebut dipisah-pisahkan atas 4
komponen diatas, kemudian masing-masing komponen ditimbang
(dengan ketentuan bahwa bila contoh benih antara 10 s.d 99 gram
maka penimbangan harus sampai ketelitian 2 decimal).
d. Untuk mengetahui identitas dari benih tanaman lain atau varietas
lain, selisih contoh benih yang 360 gram diperiksa kembali dan
kemudian dijumlahkan dengan benih tanaman lain/ varietas lain
yang diperoleh dari contoh 40 gram, sehingga diketahui jumlah
butir benih tanaman lain/ varietas lain.
e. Tiap komponen yang diperoleh dari contoh 40 gram dinyatakan
dalam persentase dan perhitungannya tidak berdasarkan berat
contoh pengujian semula melainkan berdasarkan jumlah berat
masing-masing komponen.
f. Selisih berat antara contoh pengujian semula dengan jumlah berat
ke 4 komponen harus kurang dari 1%. Komponen yang kurang dari
0,05% dinyatakan sebagai “trace” (jumlah yang sangat sedikit).

E. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
Dari pengamatan yang sudah dilakukan, didapatkan hasil sebagai
berikut yaitu:

a. Berat awal pengujian 4 komponen = 40 gram.


b. Berat benih murni = 34,7 gram.
c. Berat benih tanaman/ varietas lain = 0 gram.
d. Berat biji gulma = 0 gram.
e. Berat kotoran benih = 5,04 gram.

Maka persentase perhitungan masing-masing komponen benih adalah


sebagai berikut:
Berat benih 34,7 gram
a. % Benih murni = x 100% = x 100% = 86,7%.
Berat awal 40 gram
Berat benih 0 gram
b. % Benih tanaman/ varietas lain = x 100% = 40 gram x
Berat awal
100% = 0%.
Berat biji 0 gram
c. % Biji gulma = Berat awal x 100% = 40 gram x 100% = 0%.
Berat benih 5,04 gram
d. % Kotoran benih = x 100% = x 100% =
Berat awal 40 gram
12,6%.

Selisih berat antara berat semula dengan jumlah berat ke-4 komponen
adalah:
Berat awal – Berat ke-4 komponen

= 40 gram – (Berat benih murni + berat benih tanaman/ varietas lain +


berat biji gulma + Berat kotoran benih)
= 40 gram – (34,7 gram + 0 gram + 0 gram + 5,04 gram)
= 40 gram – 39,74 gram
= 0,26 gram.

Persentase antara berat semula dengan jumlah berat ke-4 komponen


adalah:
Selisih berat benih 0,26 gram
x 100% = x 100% = 0,65%.
Berat awal 40 gram

2. Pembahasan
Analisa kemurnian benih merupakan kegiatan menelaah kepositifan
fisik benih dari empat komponen yaitu benih murni, benih tanaman lain,
biji gulma dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari
ketiga komponen tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk
menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh
benih yang mewakili lot benih.

Setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan


penampakan morfologi. "Semua benih tanaman lain dan kotoran benih
dipisahkan." Setelah dilakukan analisis kemudian dilakukan penimbangan
pada setiap komponen tersebut (Kartasapoetra, 2004).
Penentuan kemurnian dilakukan untuk mengetahui komposisi contoh
benih yang diuji, yang mencerminkan komposisi kelompok benih yang
diwakilinya. Contoh kerja dipisah- pisahkan ke dalam komponen benih
murni, benih tanaman lain dan kotoran fisik lainnya. Kemurnian
ditentukan berdasarkan persentase berat masing-masing komponen
terhadap berat awal contoh kerja. Pemurnian benih bertujuan; 1)
membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi
dan bahan-bahan pengotor. 2) memilih benih murni dari benih-benih yang
kecil, berwarna tidak normal,dan benih-benih yang tidak sehat lainnya
(Rudi, 2010).

Rumus untuk menghitung persentase benih murni, benih tanaman lain,


biji gulma dan kotoran benih adalah (% Benih) = Berat benih / Berat awal
x 100%. Dari rumus tersebut diperoleh kadar kemurnian benih sebesar
86,7%, kadar benih tanaman lain sebesar 0%, kadar biji gulma sebesar 0%
dan kadar kotoran benih sebesar 12,6%.

Diperoleh persentase antara berat semula dengan jumlah berat ke-4


komponen adalah 0,65%, sehingga komponen-komponen tersebut tidak
dinyatakan sebagai trace (jumlah yang sangat sedikit).

Menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN), persyaratan mutu di


laboratorium meliputi kadar kemurnian benih dengan batas minimum 98%,
benih tanaman lain dengan batas maksimum sebesar 0%, biji gulma 0%
dan kotoran benih 2%.

Karena kadar kemurnian benih 86,7% < 98% dan kadar kotoran benuh
12,6% > 2% maka benih yang diuji tidak memenuhi standar.

F. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa:

1. Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi non


benih/ serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya
kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%).
2. Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan
memisahkan empat komponen benih murni, benih tanaman lain, biji gulma dan
kotoran benih yang selanjutnya dihitung persentase dari keempat komponen
benih tersebut.
3. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni,
benih lain dan kotoran benih dari contoh benih yang mewakili lot benih.
4. Karena kadar kemurnian benih 86,7% < 98% dan kadar kotoran benih 12,6% >
2% maka benih yang diuji tidak memenuhi standar.

G. Daftar Pustaka
Harjadi, S.S. 1979. Pengantar Agronomi. Jakarta: Gramedia.
Heddy, G. 2000. Biologi Pertanian. Jakarta: Rajawali Press.
Justice, Oren L. dan Louis N.B. 1990. Prinsip Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta:
CV. Rajawali.
Kamil, J. 1984. Teknologi Benih. Bandung: Angkasa Raya.

Kartasapoetra, dkk. 1992. Teknologi Benih, Pengolahan Benih dan Tanaman


Praktikum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Yogyakarta: Andi.

Pujiasmanto, B. 2000. Dasar Dasar Teknologi Benih. Surakarta: Universitas Sebelas


Maret.

Rudi, P. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan


Tumbuhan. Bogor: Agriculture Lands.
Sutakaria. 1975. Penyakit Benih dan Uji Kesehatan Benih. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Sutopo, L. 1984. Teknologi Benih. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Anda mungkin juga menyukai